You are on page 1of 23

REFERAT

GANGGUAN BIPOLAR

Disusun Oleh:

Pembimbing:

FAKULTAS KEDOKTERAN
UNIVERSITAS ISLAM SULTAN AGUNG
SEMARANG
2017

BAB I

1

PENDAHULUAN

Gangguan bipolar adalah gangguan yang lebih jarang dibandingkan dengan gangguan
depresif berat. Prevalensi gangguan bipolar di Indonesia hanya sekitar 2% sama dengan
prevalensi skizofrenia. Prevalensi antara laki-laki dan wanita sama besar. Onset gangguan
bipolar adalah dari masa anak-anak (usia 5-6 tahun) sampai 50 tahun atau lebih. Rata-rata usia
yang terkena adalah usia 30 tahun. Gangguan bipolar cenderung mengenai semua ras.

Kriteria utama untuk klasifikasi gangguan afektif dipilih berdasarkan alasan praktis, yaitu
untuk memungkinkan gangguan klinis yang lazim ditemukan mudah diidentifikasi. Episode
tunggal dibedakan dari gangguan bipolar dan gangguan yang multiple lainnya oleh karena
sebagian besar dari pasien hanya mengalami satu episode penyakit dan keparahan ditonjolkan
oleh karena implikasinya bagi terapi dan penyediaan pelayanan yang berbeda tingkatannya.
Pembedaan antara kelas keparahan yang berbeda masih merupakan masalah ; ketiga kelas yaitu
ringan, sedang, dan berat ditentukan di sini oleh karena banyak klinisi menginginkannya.

Istilah ‘mania’ dan ‘depresi berat’ digunakan dalam klasifikasi ini untuk menunjukkan
kedua ujung yang berlawanan dalam spectrum afektif ;‘hipomania’digunakan untuk
menunjukkan suatu keadaan pertengahan tanpa waham, halusinasi atau kekacauan menyeluruh
dari aktivitas normal, yang sering (meskipun tidak semata-mata) dijumpai pada pasien yang
berkembang ke arah mania atau dalam penyembuhan dari mania.

2

yang dikenal dengan rapid cycling. 12q23-q24. terdapat kemungkinan 50-75 persen anaknya menderita Gangguan mood. Beberapa studi berhasil membuktikan keterkaitan antara Gangguan bipolar dengan kromosom 18 dan 22. Jika kedua orangtua menderita Gangguan bipolar. BAB II TINJAUAN PUSTAKA 2. stress kehidupan yang berat dan berkepanjangan. Penurunan gangguan bipolar juga ditunjukkan oleh fakta bahwa kira-kira 50 persen pasien Gangguan bipolar memiliki sekurangnya satu orangtua dengan suatu Gangguan mood.2 ETIOLOGI Penyebab gangguan bipolar multifaktor. Episode mania yang ekstrim dapat menunjukkan gejala-gejala psikotik seperti waham dan halusinasi. Sebagai contoh. hipomanik. stress yang menyakitkan. Setiap episode dipisahkan sekurangnya dua bulan tanpa gejala penting mania atau hipomania. paling sering Gangguan depresif berat. dan banyak lagi faktor lainnya. sanak saudara derajat kedua (sepupu) lebih kecil kemungkinannya dari pada sanak saudara derajat pertama. Faktor Genetik Penelitian keluarga telah menemukan bahwa kemungkinan menderita suatu gangguan mood menurun saat derajat hubungan kekeluargaan melebar. namun masih belum dapat diselidiki lokus mana dari kromosom tersebut yang benar-benar terlibat. Tetapi pada beberapa individu. 1. Beberapa diantaranya yang telah diselidiki adalah 4p16. Jika satu orangtua menderita gangguan bipolar. gejala depresi dan mania dapat bergantian secara cepat. dan campuran. terdapat kemungkinan 25 persen bahwa anaknya menderita suatu Gangguan mood. 3 . 2. depresi. Secara psikososial dikaitkan dengan pola asuh masa kanak-kanak. biasanya rekuren serta dapat berlangsung seumur hidup. Secara biologis dikaitkan dengan faktor genetik dan gangguan neurotransmitter di otak.1 DEFINISI Gangguan bipolar (GB) merupakan gangguan jiwa yang bersifat episodik dan ditandai oleh gejala-gejala manic.

noradrenalin. otak akan bekerja secara harmonis. Terdapat perbedaan gambaran otak antara kelompok sehat dengan penderita bipolar. Beberapa bahan kimia di dalam otak dan tubuh memiliki peranan yang penting dalam mengendalikan emosi kita. 18q22-q23. tirosin hidroksilase. Penelitian terbaru menemukan gen lain yang berhubungan dengan penyakit ini yaitu gen yang mengekspresi brain derived neurotrophic factor (BDNF). jika neurotransmitter ini berada pada tingkat yang normal. Faktor Biologis Kelainan di otak juga dianggap dapat menjadi penyebab penyakit ini. Seperti diketahui. peneliti mulai menduga adanya hubungan neurotransmitter dengan Gangguan bipolar. Melalui pencitraan magnetic resonance imaging (MRI) dan positron-emission tomography (PET). dan 21q22. dan serotonin transporter (5HTT). ternyata penderita sindrom Down (trisomi 21) beresiko rendah menderita Gangguan bipolar. didapatkan jumlah substansia nigra dan aliran darah yang berkurang pada korteks prefrontal subgenual. amygdale. maka dapat dipastikan komunikasi antar saraf tidak berjalan lancar. Blumberg dkk dalam Arch Gen Psychiatry 2003 pun menemukan volume yang kecil pada amygdale dan hippocampus. cathecol-ometiltransferase (COMT). BDNF adalah neurotropin yang berperan dalam regulasi plastisitas sinaps. yaitu neurotransmitter yang berfungsi sebagai pembawa pesan komunikasi antar neuron di otak. Neurotransmitter tersebut adalah dopamine. 4 . dan perlindungan neuron otak. Terdapat tiga penelitian yang mencari tahu hubungan antara BDNF dengan Gangguan bipolar dan hasilnya positif. 2. dan hippocampus merupakan bagian dari otak yang terlibat dalam respon emosi (mood dan afek). serotonin. Gen yang mengatur BDNF terletak pada kromosom 11p13. Yang menarik dari studi kromosom ini. neurogenesis. Penelitian lain menunjukkan ekspresi oligodendrosit-myelin berkurang pada otak penderita bipolar. Bila jumlah oligodendrosit berkurang. Sejak ditemukannya beberapa obat yang berhasil meringankan gejala bipolar. Gen-gen yang berhubungan dengan neurotransmitter tersebut pun mulai diteliti seperti gen yang mengkode monoamine oksidase A (MAOA). oligodendrosit menghasilkan membran myelin yang membungkus akson sehingga mampu mempercepat hantaran konduksi antar saraf. BDNF diduga ikut terlibat dalam mood. Korteks prefrontal. Tak hanya itu.18 sentromer. Dalam otak terdapat substansi kimiawi.

Dua teori terakhir tentang hubungan dopamine dan depresi adalah 5 . Ini dibuktikan dengan efek besar yang telah diberikan oleh Serotonin-Specific Reuptake Inhibition dalam pengobatan depresi. Pada penggunaan obat yang menurunkan kadar dopamin seperti reserpine dan pada penyakit yang mengalami penurunan dopamin seperti Parkinson disertai juga dengan gejala depresi. Kekurangan neurotransmiter serotonin. Korelasi yang dinyatakan oleh penelitian dasar antara regulasi turun (down-regulation) reseptor adrenergic-beta dan reseptor antidepresen klinik kemungkinan merupakan bagian data yang paling memaksakan yang menyatakan adanya peranan langsung sistem noradrenergic dalam depresi. serotonin dan dopamin merupakan neurotransmitter yang paling berperan dalam patofisiologi gangguan mood. amphetamine dan bupropion menurunkan gejala depresi. urin. Sejumlah besar penelitian telah melaporkan berbagai kelainan di dalam metabolit amin biogenik di dalam darah. NOREPINEFRIN. Dopamin juga diperkirakan memiliki peranan dalam menyebabkan depresi. norepinefrin dan dopamin dapat menyebabkan depresi. Pada pasien yang bunuh diri memiliki konsentrasi metabolit serotonin yang rendah di cairan serebrospinalnya. Penurunan serotonin dapat menimbulkan depresi. karena aktivasi dari reseptor tersebut mengakibatkan penurunan jumlah norepinefrin yang dilepaskan. Data menunjukkan aktivitas dopamin yang menurun pada depresi dan meningkat pada mania. Amin biogenik. Presipnatik reseptor adrenergic juga berlokasi di neuron serotonergik dan mengatur jumlah serotin yang dilepaskan. bukti-bukti mengarahkan juga pada disregulasi asetil-kolin dalam gangguan mood. Dari amin biogenik. SEROTONIN. Di samping itu. DOPAMIN. jika neurotransmiter ini berlebih dapat menjadi penyebab gangguan manik. Obat- obat yang meningkatkan konsentrasi dopamine seperti tyrosine. norepinefrin. Selain itu antidepresan trisiklik dapat memicu mania. Bukti-bukti lainnya yang juga melibatkan presinaptik reseptor adrenergic-alfa2 dalam depresi. Pada penggunaan antidepresen jangka panjang terjadi penurunan jumlah tempat ambilan kembali serotonin di trombosit. Data yang dilaporkan paling konsisten dengan hipotesis bahwa gangguan mood adalah berhubungan dengan disregulasi heterogen pada amin biogenic. Serotonin adalah neurotransmitter aminergic yang paling sering dihubungkan dengan depresi. Di satu sisi. dan cairan serebrospinalis pada pasien dengan gangguan mood.

yang berpengaruh pada reuptake dopamine dan serotonin. bahkan tanpa adanya stressor eksternal. Calcium channel blocker yang digunakan untuk mengobati mania dapat mengganggu reguasi kalsium di neuron. 3.disfungsi jalur dopamin mesolimbik dan hipoaktivitas reseptor dopamine tipe 1 (D1) yang ditemukan pada depresi. Hasil akhir perubahan tersebut adalah menyebabkan seseorang berada pada resiko yang lebih tinggi untuk menderita Gangguan mood selanjutnya. Gangguan regulasi kalsium ini dapat menyebabkan transmisi glutaminergik yang berlebihan dan iskemia pembuluh darah. Agen lain yang dapat memperburuk mania termasuk L-dopa. episode manic dan episode hippomanic. Beberapa penelitian menyatakan bahwa sistem pembawa kedua( second messenger ) seperti adenylate cyclase. phosphatidylinositol dan regulasi kalsium mungkin memiliki relevansi dengan penyebab gangguan mood. Perubahan bertahan lama tersebut dapat menyebabkan perubahan keadaan fungsional berbagai neurotransmitter dan sistem pemberian signal intraneuronal. Faktor neurokimiawi lain. 2. Faktor Lingkungan Penelitian telah membuktikan faktor lingkungan memegang peranan penting dalam Gangguan perkembangan bipolar. Perubahan mungkin termasuk hilangnya neuron dan penurunan besar dalam kontak sinaptik. 6 . Faktor lingkungan yang sangat berperan pada kehidupan psikososial dari pasien dapat menyebabkan stress yang dipicu oleh faktor lingkungan.3 GEJALA KLINIS Terdapat tiga pola gejala dasar pada Gangguan bipolar yaitu. Obat-obatan yang mempengaruhi siste neurotransmitter seperti kokain akan memperparah mania. episode depresi. Neurotransmiter lain seperti GABA dan peptida neuroaktif seperti vasopresin dan opiat endogen juga berperan dalam patofisiologi gangguan mood. Stress yang menyertai episode pertama dari Gangguan bipolar dapat menyebabkan perubahan biologik otak yang bertahan lama.

tiga atau lebih gejala berikut (empat atau lebih bila hanya mood iritabel) yaitu:  Waham kebesaran atau terlalu percaya diri (Inflated self-esteem or grandiosity)  Berkurangnya kebutuhan tidur  Cepat dan banyaknya pembicaraan  Lompatan gagasan atau pikiran berlomba  Perhatian mudah teralih  Peningkatan energy dan hiperaktivitas psikomotor  Meningkatnya aktivitas bertujuan (social. adanya keinginan untuk keluar rumah. serta adanya Gangguan fungsi sosial dan pekerjaan. Pasien memiliki. boros.Paling tidak terdapat 3 atau lebih gejala-gejala berikut ini : 7 . hospitalisasi untuk melindungi pasien dan orang lain. waham atau perilaku atau pembicaraan aneh) dan tidak memerlukan hospitalisasi. seksual. Pasien hipomania tidak memiliki gambaran psikotik (halusinasi. a) Episode manic: Paling sedikit satu minggu (bisa kurang. investasi tanpa perhitungan yang matang) Gejala yang derajatnya berat dikaitkan dengam penderitaan. atau iritabel. b) Episode hipomanic ditandai oleh gejala-gejala berikut : Penderita mengalami suasana perasaan yang meningkat (elasi). atau mudah marah (iritabel) setidaknya selama 4 hari. ekspansif. pekerjaan dan sekolah)  Tindakan-tindakan sembrono (ngebut. secara menetap. gambaran psikotik. Pasien hipomania kadang sulit didiagnosa sebab beberapa pasien hipomania justru memiliki tingkat kreativitas dan produktivitas yang tinggi. bila dirawat) pasien mengalami mood yang elasi.

penurunan berat badan yang signifikan dan selera. d) Episode Campuran 8 . c) Episode depresif ditandai dengan gejala-gejala berikut : Karena sebab yang sama selama 2 minggu. dengan paling tidak terdapat gejala perasaan depresi atau ditandai dengan kehilangan kesenangan atau perhatian. setidaknya pada seseorang terdapat 5 atau lebih gejala berikut ini : Perasaan depresi/tertekan. hipersomnia atau insomnia. penurunan perasaan senang dan minat pada hampir semua aktivitas. preokupasi dengan kematian atau bunuh diri. Gejala-gejala tersebut menyebabkan kerusakan dan distress. retardasi psikomotor atau agitasi. penderita memiliki rencana untuk bunuh diri atau telah melakukan bunuh diri tersebut. kehilangan energi atau kelemahan. Gangguan suasana perasaan tersebut bukan disebabkan oleh penyalahgunaan zat atau karena gangguan medis lain. penurunan daya konsentrasi. tempat kerja atau seksual • mulai melakukan aktivitas dengan resiko tinggi terhadap konsekuensi yang menyakitkan. • Perasaan kebesaran atau mengagumi diri sendiri • gangguan tidur • nada suara tinggi • flight of ideas • menghilangkan bukti kekacauan pikiran • agitasi psikomotor di rumah.

Ada kalanya simtom psikotik tidak serasi dengan mood. dan episode depresi bergantian dengan sangat cepat dalam beberapa hari. Siklus Ultra Cepat Mania. Misalnya. Gejala psikotik yang paling sering yaitu:  Halusinasi (auditorik. Paling sedikit satu minggu pasien mengalami episode mania dan depresi yang terjadi secara bersamaan. Kadang-kadang gejala cukup berat sehingga memerlukan perawatan untuk melindungi pasien atau orang lain. pembicaraan cepat. insomnia derajat berat. social dan pekerjaan. hipomania. grandiositas. hipomania. waham kejar dan kadang-kadang bingung. iritabel. dan riwayat penyesuaian social pramorbid yang buruk. pasien dengan symptom psikotik hampir selalu memerlukan obat anti psikotik di samping anti depresan atau anti mania atau mungkin memerlukan terapi antikonvulsif untuk mendapatkan perbaikan klinis. Seseorang dengan siklus cepat jarang mengalami bebas gejala dan biasanya terdapat hendaya berat dalam hubungan interpersonal atau pekerjaan. dapat disertai gambaran psikotik. Pasien dengan Gangguan bipolar sering didiagnosis sebagai skizofrenia. visual. dan mengganggu fungsi personal. Sindrom Psikotik Pada kasus berat. waham kebesaran sering terjadi pada episode mania sedangkan waham nihilistic terjadi pada episode depresi. Adanya ciri-ciri psikotik yang memiiki penerapan terapi yang penting. serangan panic. agitasi. hiperseksualitas. Gejala dan hendaya lebih berat bila dibandingkan dengan siklotimia dan sangat sulit diatasi. atau mania – dalam satu tahun. ide bunuh diri. menangis. Ciri psikotik biasanya merupakan tanda prognosis yang buruk bagi pasien dengan Gangguan bipolar. pasien mengalami gejala psikotik. 9 . marah. Faktor berikut ini telah dihubungkan dengan prognosis yang buruk seperti: durasi episode yang lama. disosiasi temporal antara Gangguan mood dan gejala psikotik. atau bentuk sensasi lainnya)  Waham Misalnya. Siklus Cepat Siklus cepat yaitu bila terjadi paling sedikit empat episode – depresi. mood tereksitasi (lebih sering mood disforik).

Episode depresi dan hipomanik tidak diperlukan untuk diagnosis tetapi episode tersebut sering terjadi.  Gangguan bipolar YTT Gejala-gejala yang dialami penderita tidak memenuhi kriteria Gangguan bipolar I dan II.5 2. Diagnosis ditegakkan berdasarkan criteria yang terdapat dalam DSM-IV atau ICD-10. Pembagian menurut DSM-IV: 1.  Siklotimia Adalah bentuk ringan dari Gangguan bipolar.  Gangguan bipolar II Terdapat satu atau lebih episode hipomanik atau episode depresif mayor tanpa episode manik.2. Gejala-gejala tersebut berlangsung tidak lama atau gejala terlalu sedikit sehingga tidak dapat didiagnosa Gangguan bipolar I dan II. The Present State Examination (PSE) dapat pula digunakan untuk mengidentifikasi symptom sesuai dengan ICD-10. Gangguan bipolar digolongkan menjadi 4 kriteria:  Gangguan bipolar I Terdapat satu atau lebih episode manik. Informasi dari keluarga sangat diperlukan.2. Salah satu instrumen yang dapat digunakan untuk mengidentifikasi symptom Gangguan bipolar adalah The Structured clinical Interview for DSM-IV (SCID).4 KRITERIA  Berdasarkan DSM-IV. Terdapat episode hipomania dan depresi yang ringan yang tidak memenuhi kriteria episode depresif mayor.5 DIAGNOSIS Keterampilan wawancara dibutuhkan untuk menegakkan diagnosis. Gangguan mood bipolar I 10 .

pernah mengalami satu kali episode manik. Sebelumnya. Saat ini dalam episode manic B. Gangguan mood bipolar I. Gejala-gejala tidak disebabkan efek fisiologik langsung zat atau kondisi medic umum D.  Gangguan mood bipolar I. paling sedikit. D. Hanya mengalami satu kali episode manic dan tidak ada rwayat depresi mayor sebelumnya. Gangguan waham.  Gangguan mood bipolar I. Tidak bertumpang tindih dengan skizofrenia. Saat ini dalam episode campuran 11 . Episode mood pada kriteria A dan B bukan skizoafektif dan tidak bertumpang tindih dengan skizofrenia. atau dengan Gangguan psikotik yang tidak dapat diklasifikasikan. Gejala mood menyebabkan penderitaan yang secara klinik cukup bermakna atau menimbulkan hendaya dalam social. Gejala mood menyebabkan penderitaan yang secara klinik cukup bermakna atau menimbulkan hendaya dalam social. B. C. Gangguan waham. episode manic sekarang ini A. atau campuran. pekerjaan dan aspek fungsi penting lainnya. episode campuran saat ini A. pekerjaan dan aspek fungsi penting lainnya. skizofreniform. atau dengan Gangguan psikotik yang tidak dapat diklasifikasikan. C. episode manic tunggal A. skizofreniform. depresi. skizoafektif. E. Gejala-gejala tidak disebabkan oleh efek fisiologik langsung zat atau kondisi medik umum.

D. skizofreniform. atau aspek fungsi penting lainnya. paling sedikit. pernah mengalami satu episode manic atau campuran C. paling sedikit. Gejala-gejala tidak disebabkan efek fisiologik langsung zat atau kondisi medik umum 12 . B. atau Gangguan psikotik yang tidak diklasifikasikan D. dan dengan Gangguan psikotik yang tidak dapat diklasifikasikan. Sebelumnya. episode depresi saat ini A. episode hipomanik saat ini A. paling sedikit.  Gangguan mood bipolar I. Gejala-gejala tidak disebabkan efek oleh fisiologik langsung zat atau kondisi medik umum E. Saat ini dalam episode depresi mayor B. depresi atau campuran C. pernah mengalami episode manik. Episode mood pada kriteria A dan B tidak dapat dikategorikan skizoafektif dan tidak bertumpang tindih dengan skizofrenia. Episode mood pada kriteria A dan B tidak dapat dikategorikan sebagai skizoafektif dan tidak bertumpang tindih dengan skizofrenia. Gejala mood menyebabkan penderitaan yang secara klinik cukup bermakna atau menimbulkan hendaya dalam social.  Gangguan mood bipolar I. pernah mengalami episode manik dan campuran C. Gangguan waham. dan dengan Gangguan psikotik yang tidak dapat diklasifikasikan. Saat ini dalam episode hipomanik B. Gangguan waham. Sebelumnya. skizifreniform. skizofreniform. pekerjaan atau aspek fungsi penting lainnya D. pekerjaan. Gejala mood menyebabkan penderita yang secara klinik cukup bermakna atau hendaya social. Sebelumnya. Gangguan waham. Episode mood pada kriteria A dan B tidak dapat dikategorikan sebagai skizoafektif dan tidak bertumpang tindih dengan skizofrenia.

episode manik. kecuali durasi. Criteria. memenuhi kriteria untuk manik. Gejala mood menyebabkan penderitaan yang secara klinik cukup bermakna atau menimbulkan hendaya dalam social. pekerjaan. atau aspek fungsi penting lainnya. pekerjaan. 3. Gangguan waham. Gangguan Siklotimia A. episode campuran. atau aspek fungsi penting lainnya. Episode mood pada kriteria A dan B tidak dapat dikategorikan sebagai skizoafektif dan tidak bertumpang tindih dengan skizofrenia. C. hipomanik. E. Tidak ada episode depresi mayor.  Gangguan mood bipolar I. pernah mengalami satu episode manik atau campuran. atau dengan Gangguan psikotik yang tidak dapat diklasifikasikan di tempat lain. D. saat ini. C. Sebelumnya. selama dua tahun Gangguan tersebut 13 . B. Untuk anak-anak dan remaja durasinya paling sedikit satu tahun. Ganggguan Mood Bipolar II Satu atau lebih episode depresi mayor yang disertai dengan paling sedikit satu episode hipomanik. Paling sedikit selama dua tahun. Selama periode dua tahun di atas penderita tidak pernah bebas dari gejala-gejala pada kriteria A lebih dari dua bulan pada suatu waktu. terdapat beberapa periode dengan gejala-gejala hipomania dan beberapa periode dengan gejala-gejala depresi yang tidak memenuhi criteria untuk Gangguan depresi mayor. Episode Yang tidak dapat diklasifikasikan saat ini A. skizofreniform. campuran atau episode depresi. B. 2. paling sedikit. Gejala mood menyebabkan penderitaan yang secara klinik cukup bermakna atau menimbulkan hendaya dalam social.

0 Gangguan Afektif Bipolar. Gejala-gejala tidak disebabkan oleh efek fisiologik langsung zat atau kondisi medic umum F.  Pembagian menurut PPDGJ III: F31 Gangguan Afek bipolar  Gangguan ini tersifat oleh episode berulang (sekurang-kurangnya dua episode) dimana afek pasien dan tingkat aktivitasnya jelas terganggu. E. dan pada waktu lain berupa penurunan afek disertai pengurangan energi dan aktivitas (depresi). Catatan: setelah dua tahun awal. skizofreniform. pekerjaan atau aspek fungsi penting lainnya. gangguan waham. episode manic tunggal (F30) F31.  Termasuk: gangguan atau psikosis manik-depresif Tidak termasuk: Gangguan bipolar. pada waktu tertentu terdiri dari peningkatan afek disertai penambahan energi dan aktivitas (mania atau hipomania). Gejala-gejala di atas menyebabkan penderitaan yang secara klinik cukup bermakna atau menimbulkan hendaya dalam social. Episode manik biasanya mulai dengan tiba-tiba dan berlangsug antara 2 minggu sampai 4-5 bulan. dan 14 . Episode Klinik Hipomanik  Episode yang sekarang harus memenuhi criteria untuk hipomania (F30). atau dengan Gangguan psikotik yang tidak dapat diklasifikasikan. Gejala-gejala pada criteria A bukan skizoafektif dan tidak bertumpangtindih dengan skizofrenia. siklotimia dapat bertumpang tindih dengan manic atau episode campuran (diagnosis GB I dan Gangguan siklotimia dapat dibuat) atau episode depresi mayor (diagnosis GB II dengan Gangguan siklotimia dapat ditegakkan) D. episode depresi cenderung berlangsung lebih lama (rata-rata sekitar 6 bulan) meskipun jarang melebihi 1 tahun kecuali pada orang usia lanjut. Yang khas adalah bahwa biasanya ada penyembuhan sempurna antar episode. Kedua macam episode itu seringkali terjadi setelah peristiwa hidup yang penuh stress atau trauma mental lainnya (adanya stress tidak esensial untuk penegakan diagnosis).

dan  Harus ada sekurang-kurangnya satu episode afektif lain (hipomanik. atau campuran di masa lampau F31. manik. depresif atau campuran) di masa lampau F31.2).  Harus ada sekurang-kurangnya satu episode afektif lain (hipomanik. manik. dan  Harus ada sekurang-kurangnya satu episode afektif hipomanik.4 gangguan afektif bipolar. Episode Kini Depresif Ringan atau Sedang  Episode yang sekarang harus memenuhi kriteria untuk episode depresi ringan (F32. depresif. F31.1). episode kini depresif berat tanpa gejala psikotik  Episode yang sekarang harus memenuhi kriteria untuk episode depresif berat tanpa gejala psikotik (F32.3 Gangguan Afektif Bipolar. depresif. manik.2). Episode Kini Manik dengan gejala psikotik  Episode yang sekarang harus memenuhi kriteria untuk mania dengan gejala psikotik (F30. dan  Harus ada sekurang-kurangnya satu episode afektif hipomanik. atau campuran) di masa lampau. atau campuran) di masa lampau. manik. Episode kini Manik Tanpa Gejala Psikotik  Episode yang sekarang harus memenuhi kriteria untuk mania tanpa gejala psikotik (F30. F31. manik . atau campuran di masa lampau 15 .2 Gangguan Afektif Bipolar.1 Gangguan afektif Bipolar.1). dan  Harus ada sekurang-kurangnya satu episode afektif lain (hipomanik.0) atau pun sedang (F32.

3). intoksikasi obat.dan  Harus ada sekurang-kurangnya satu episode afektif hipomanik. atau campuran dimasa lampau F31. depres if atau campuran) F31.6 DIFFERENTIAL DIAGNOSIS Terdapat beberapa gangguan mental lainnya yang memiliki gejala yang sama dengan gangguan bipolar seperti skizofrenia. dan telah berlangsung sekurang-kurangnya 2 minggu).7 PENATALAKSANAAN 16 . Episode Kini Depresif Berat dengan Gejala Psikotik  Episode yang sekarang harus memenuhi kriteria untuk episode depresif berat dengan gejala psikotik (F32. kini dalam Remisi  Sekarang tidak menderita gangguan afektif yang nyata selama beberapa bulan terakhir ini.7 Gangguan Afektif Bipolar. manik. 2. dan depresif yang tercampur atau bergantian dengan cepat (gejala mania/hipomania dan depresif yang  sama-sama mencolok selama masa terbesar dari episode penyakit yang sekarang.5 Gangguan Afektif Bipolar. atau campuran di masa lampau F31.8 Gangguan Afektif Bipolar Lainnya F31.F31.9 Gangguan Afektif Bipolar YTT 2. gangguan skizofreniform. manik. skizoafektif. hipomanik. manik atau campuran di masa lampau dan ditambah sekurang-kurangnya satu episode afektif lain (hipomanik. dan  Harus ada sekurang-kurangnya satu episode afektif hipomanik.6 Gangguan Afektif Bipolar Campuran  Episode yang sekarang menunjukkan gejala-gejala manik. manik. dan gangguan kepribadian ambang. tetapi pernah mengalami sekurang-kurangnya satu episode afektif hipomanik.

Sebaliknya. Percobaan bunuh diri yang serius dan idea spesifik dengan rencana menghilangkan bukti. Berbahaya bagi orang lain Penderita gangguan bipolar dapat mengancam nyawa orang lain. Hendaya Berat Adakalanya depresi yang dialami terlalu dalam. 17 . Namun. memerlukan observasi yang ketat dan perlindungan pencegahan. ii. dimana obat psikotropik dapat dimonitor dan diobservasi. iii. seseorang dengan depresi moderat yang masih dapat bekerja. iv. Kondisi medis yang harus dimonitor Contohnya penderita gangguan jiwa yang disertai gangguan jantung harus berada di lingkungan medis. penderita ini memiliki gejala yang berat namun memiliki tingkat pengendalian dan lingkungan hidup yang stabil. seseorang dengan depresi yang ekstrim dan menunjukkan perilaku bunuh diri memerlukan/mengindikasikan pengobatan rawat inap. b) Rawat inap parsial atau program perawatan sehari Secara umum. Contoh.Penentuan Kegawatdaruratan Pengobatan dari gangguan bipolar secara langsung terkait pada fase dari episodenya. diobati sebagai pasien rawat jalan. bahaya bagi penderita bisa datang dari aspek lain dari penyakit. sehingga ia berencana untuk membunuh anaknya untuk membebaskan mereka dari kesengsaraan dunia. dan derajat keparahan fase tersebut. Berbahaya untuk diri sendiri Pasien yang terutama dengan episode depresif. contohnya seorang penderita yang mengalami depresi yang berat meyakini bahwa dunia itu sangat suram/gelap. seperti depresi atau manik. sehingga orang tidak dapat melakukan fungsinya sama sekali. dapat terlihat dengan resiko yang signifikan untuk bunuh diri. a) Rawat Inap i. contohnya seorang penderita depresi yang tidak cukup makan beresiko kematian. meninggalkan orang seperti ini sendirian sangat berbahaya dan tidak menyembuhkannya.

Hal ini merupakan satu dari banyak alasan bagi para praktisi setuju dengan ambivalensi penderita tentang pengobatan. penderita dengan depresi berat yang berpikir akan bunuh diri tapi tidak berencana untuk melakukannya dan dapat memiliki tingkat motivasi yang tinggi bila diberi banyak dukungan interpersonal. namun mereka juga menyangkal memerlukannya. Kembali secara langsung ke pekerjaan seringkali sulit bagi penderita dengan gejala yang berat. Hal ini merupakan bagian dari psikoterapi. Memonitor dan mendukung pemberian obat. c) Rawat jalan Pengobatan rawat jalan memiliki 4 tujuan utama. Dukungan kelompok bagi penderita dan keluarga memiliki arti penting yang sangat luar biasa. kekuatan sekumpulan orang yang peduli membantu mempertahankan gejala penderita dalam keadaan minimum dan membantu penderita tinggal dan diterima di masyarakat. Kuncinya adalah mendapatkan keuntungan dan mencegah efek samping. iv. situasi yang mungkin memicu kekambuhan. Oleh karena itu. Seiring perjalanan waktu. terutama sepanjang hari dan dengan bantuan dan keterlibatan dari keluarga. harus dibantu untuk mengarahkan perasaan mereka dan membantu mereka untuk mau melanjutkan pengobatan. Rawat inap parsial juga menjembatani untuk bisa segera kembali bekerja. Membangun sekumpulan orang yang peduli. dan peran pengobatan yang penting. Pengobatan membuat perubahan yang luar biasa. Keluarga harus selalu berada di rumah setiap malam dan harus peduli terhadap penderita. iii. Mereka harus sadar dan waspada terhadap bahaya penyalahgunaan zat. Stressor ini dapat berasal dari keluarga atau pekerjaan. Edukasi. i. Mencari stressornya dan mencari cara untuk menanganinya.Contohnya. dan rawat inap parsial memberi dukungan dan hubungan interpersonal. dan bila terkumpul dapat mendorong penderita menjadi depresi. Mereka mengetahui bahwa obat membantu dan mencegah mereka untuk dirawat inap. ii. Penderita memiliki rasa yang bertentangan dengan pengobatan mereka. 18 . Klinisi harus membantu edukasi bagi penderita dan keluarga tentang penyakit bipolar.

edukasi. masalah endokrin. psikoterapi adalah salah satu terapi yang efektif untuk gangguan bipolar. Cognitive behavioral therapy (CBT) membantu penderita gangguan bipolar untuk mengubah pola pikir dan perilaku negative. Terapi ini memberikan dukungan. komplikasi sistem urinari. infeksi. juga dapat menstabilkan manik dan depresi yang ekstrim. penderita gangguan bipolar akan mengalami lebih sedikit periode manik dan depresi. Beberapa jenis psikoterapi yaitu: 1. 19 . dan petunjuk untuk seorang dengan gangguan bipolar. aripiprazole dan olanzapine.Keadaan kesehatan tubuh penderita gangguan bipolar juga harus diperhatikan oleh para praktisi. Antipsikosis atipikal seperti ziprasidone. quetiapine. Antidepresan dan ECT juga dapat digunakan untuk episode depresi akut (contoh. kini juga sering digunakan untuk menstabilkan manik akut. dan gangguan keseimbangan elektrolit. Obat ini bekerja dengan cara menstabilkan mood penderita (sesuai namanya). termasuk keadaan kardiovaskular. bahkan untuk menstabilkan mood pada depresi bipolar. diabetes. Farmakoterapi a) Terapi Farmakologi Pengobatan yang tepat tergantung pada stadium gangguan bipolar yang dialami penderita. risperidone. agitasi. Pengalaman klinis menunjukkan bahwa jika diterapi dengan obat mood stabilizer. seperti gejala psikotik. agresi. terapi pemeliharaan/maintenance dan pencegahan juga harus diberikan. Selanjutnya. Antipsikosis atipikal semakin sering digunakan untuk episode manik akut dan sebagai mood stabilizer. depresi berat). b) Terapi Non Farmakologi Psikoterapi Disamping pengobatan medikamentosa. Pilihan obat tergantung pada gejala yang tampak. dan gangguan tidur.

Family-focused therapy melibatkan anggota keluarga. 20 . Jadwal aktivitas fisik yang reguler harus dibuat. bila aktivitas fisik ini berlebihan dengan peningkatan respirasi dapat meningkatkan kadar litium serum dan menyebabkan toksisitas litium. namun juga kualitas hidupnya. Aktivitas Penderita dengan fase depresi harus didukung untuk melakukan olahraga/aktivitas fisik. Penderita dianjurkan untuk tidak merubah asupan garam. Terapi ini juga memfokuskan pada komunikasi dan pemecahan masalah. Psychoeducation mengajarkan pada penderita gangguan bipolar mengenai penyakit yang mereka derita beserta dengan penatalaksanaannya. 3. Namun. Baik aktivitas fisik dan jadwal yang reguler meupakan kunci untuk bertahan dari penyakit ini. Tujuan edukasi harus diarahkan tidak hanya langsung pada penderita. karena peningkatan asupan garam membuat kadar litium serum menurun dan menurunkan efikasinya. Fakta menunjukkan edukasi tidak hanya meningkatkan ketahanan dan pengetahuan mereka tentang penyakit. sedangkan mengurangi asupan garam dapat meningkatkan kadar litium serum dan menyebabkan toksisitas. tidak ada diet khusus yang dianjurkan. Terapi ini membantu penderita mengenali gejala awal dari episode baik manik maupun depresi sehingga mereka bisa mendapatkan terapi sedini mungkin Diet Terkecuali pada penderita dengan monoamine oxidase inhibitors (MAOIs). 2. Edukasi Terapi pada penderita gangguan bipolar melibatkan edukasi awal dan lanjutan. Interpersonal and social rhythm therapy membantu penderita gangguan bipolar meningkatkan hubungan sosial dengan orang lain dan mengatur aktivitas harian mereka. namun juga melalui keluarga dan sistem disekitarnya.

masalah kesehatan (organik) yang rendah. pemikiran untuk bunuh diri yang rendah. oMembantu penderita mengidentifikasi dan mengatasi stressor di dalam kehidupannya. adanya bukti keadaan depresif.Pada 7% dari semua pasien gangguan bipolar I tidak menderita gejala rekurensi. gambaran depresif diantara episode manic dan depresi. 45% mengalami episode berulang. Kira-kira 40% dari semua pasien menderita lebih dari 10 episode. oMemberi informasi tentang bagaimana cara memonitor penyakit terutama tanda awal. Kira-kira 40%-50% pasien gangguan bipolar I memiliki episode manik Kedua dalam waktu dua tahun setelah episode pertama. Semua faktor ini merujuk ke prognosis bagus. Pengenalan terhadap adanya perubahan memudahkan langkah-langkah pencegahan yang baik. pengetahuan komprehensif mengenai penyakit ini dan efeknya. Indikator prognosis yang baik adalah sebagai berikut : fase manic (dalam durasi pendek). Faktor-faktor yang membuat prognosis menjadi lebih buruk antara lain : Riwayat kerja yang buruk. gambaran psikotik yang rendah. PROGNOSIS Prognosis tergantung pada penggunaan obat-obatan dengan dosis yang tepat. kesehatan fisik. 21 . jenis kelamin laki-laki. dan gejala. Akan tetapi prognosis pasien gangguan bipolar I lebih buruk dibandingkan dengan pasien dengan gangguan depresif berat. pemunculan kembali. dan 40% menderita gangguan kronis( menetap ). oPenjelasan biologis tentang penyakit harus jelas dan benar. penyalahgunaan alkohol. Kira-kira 50 – 60 % penderita BP I dapat dikontrol dengan litium terhadap gejalanya. walaupun angka rata-rata adalah 9 episode. oInformasi tentang kemungkinan kekambuhan penyakitnya. Hal ini mengurangi perasaan bersalah dan mempromosikan pengobatan yang adekuat. Pasien mungkin memiliki 2 sampai 30 episode manik. gambaran psikotik. Onset terjadi pada usia yang lanjut. hubungan positif dengan dokter dan therapist.

Dalam: Diagnostic and StatisticalManual of Mental Disorders. Mood Disorders. DSM-IV-TR. 22 . American Psychiatric Association. BAB III DAFTAR PUSTAKA 1. Washington DC. 2005. 4thEd. Text Revision.

Ravani L. The prospective course of rapid-cycling bipolar disorder: findings from the STEP-BD. Spagnolli S. Am J Psychiatry. Bizzarri JV. Dell’Osso L. Sbrana A. The spectrum of substance abuse in bipolar disorder: reasons for use.Gangguan Afektif Bipolar.Saddok BJ. 5. Gonnelli C. Wisniewski S. Goodwin FK.William & Wilkin. Dr. Rucci P. 3. Endicott J.Jakarta 2003 23 .Synopsis of psychiatry. 2007 6. Miklowitz DJ. Oxford University Press:New York.1988. Gyulai L. (2007) Manic-Depressive Illness: Bipolar Disorders and Recurrent Depression.Maslim Rusdi.Diagnosis Gangguan jiwa PPGDJ III Buku Saku.USA. Araga M. Second Edition. Miyahara S. Jamison KR.Baltimore. Bipolar Disord. Doria MR. 4. Cassano GB. Schneck CD. Raimondi F. Allen MH. sensation seeking and substance sensitivity. Massei GJ. Sachs GS. 2008 Mar. Thase ME. Kaplan HI.Mood Disorder.2.