You are on page 1of 7

BAB I

PENDAHULUAN

A. Latar Belakang

Menurut WHO, sehat diartikan sebagai suatu keadaan sempurna baik

fisik, mental dan sosial serta bukan saja keadaan terhindar dari sakit maupun

kecacatan. WHO (2009) memperkirakan terdapat 450 juta jiwa diseluruh dunia

yang mengalami gangguan mental, sebagian besar dialami oleh orang dewasa

muda antara usia 18-21 tahun, hal ini dikarenakan pada usia tersebut tingkat

emosional masih belum terkontrol.

Kesehatan jiwa menurut Undang – Undang No 18 tahun 2014, kondisi

dimana seorang individu dapat berkembang secara fisik, mental, spritual, dan

sosial sehingga individu tersebut menyadari kemampuan sendiri, dapat

mengatasi tekanan, dapat bekerja secara produktif dan mampu memberikan

kontribusi untuk komunitasnya. Makna kesehatan jiwa mempunyai sifat yang

harmonis dan memperhatikan segi kehidupan manusia dan cara berhubungan

dengan orang lain. Dari pengertian diatas dapat disimpulkan bahwa

kesehatan jiwa adalah suatu kondisi perasaan sejahtera secara subyektif,

suatu penilaian diri tentang perasaan mencakup aspek konsep diri, kebugaran

dan kemampuan pengendalian diri. Indikator mengenai keadaan sehat

mental/psikologis/jiwa yang minimal adalah individu tidak merasa tertekan atau

depresi (Sujono Riyadi, 2009).

Menurut Undang - Undang No. 18 Tahun 2014 gangguan jiwa

didefinisikan sebagai keadaan adanya gangguan pada fungsi kejiwaan, fungsi

1

gangguan somatoform. pasien gangguan jiwa ringan hingga berat di Jawa Barat mencapai 465. gangguan skizotipal dan gangguan waham.975 orang naik signifikan dari 2012 sebesar 296. 2007). dan perilaku psikomotorik. termasuk bicara. kemauan. retardasi mental. Menurut (Stuart & Sundeen. gangguan suasana perasaan. gangguan neurotik.emosi. salah satu gangguan jiwa yang banyak terjadi adalah skizofrenia yang menduduki peringkat ke-4 (empat) dari 10 (sepuluh) besar penyakit terberat di seluruh dunia. gangguan kepribadian dan perilaku masa dewasa. terdapat 1 juta pasien gangguan jiwa berat dan 19 juta pasien gangguan jiwa ringan di Indonesia. sindrom perilaku yang berhubungan dengan gangguan fisiologis dan faktor fisik. skizofrenia menyerang manusia usia muda antara 15 hingga 30 tahun. gangguan perkembangan psikologis. gangguan perilaku dan emosional dengan onset masa kanak dan remaja. tetapi serangan kebanyakan terjadi pada usia 40 tahun ke atas.943 orang. skizofrenia. Diperkirakan penderita skizofrenia sebanyak 1% dari jumlah manusia . 2 kejiwaan meliputi : proses berpikir . Di Jawa Barat jumlah penderita gangguan jiwa naik sekitar 63% . Skizofrenia bisa menyerang siapa saja tanpa mengenal jenis kelamin. Macam-macam gangguan jiwa : Gangguan jiwa organik dan simtomatik. Dalam beberapa kasus. Yang paling menonjol pada gangguan jiwa ialah gejala-gejala yang psikologik dari unsur psikis. maupun tingkat sosial ekonomi. Data Riskesdas 2013 menyebutkan. Prevalensi gangguan jiwa di Indonesia diperkirakan akan terus bertambah seiring dengan meningkatnya beban hidup yang dihadapi oleh masyarakat Indonesia. Dari data riset kesehatan dasar (Riskesdas) Departemen Kesehatan tahun 2014 menyebutkan.

12 April 2016. kekacauan alam pikir. Dari beberapa gejala positif skizorenia diatas terdapat gaduh.id - Selasa. pikiran penuh dengan kecurigaan atau seakan-akan ada ancaman terhadap dirinya. eliminasi dan mobilisasi). gaduh. bicara dengan semangat dan gembira berlebihan. mondar- mandir. perawatan diri.10-penyakit-gangguan-kejiwaan. sukar diajak bicara. gelisah. agresif dan curiga gejala-gejala tersebut termasuk tanda dan gejala Resiko Perilaku Pekerasan.go. pasif dan apatis. mondar-mandir. suka melamun (day dreaming). kebutuhan harga diri dan aktualisasi diri. Gejala-gejala skizofrenia dapat dibagi dalam 2 (dua) kelompok yaitu gejala positif dan gejala negatif. gelisah. kebutuhan rasa aman nyaman . 3 yang ada dibumi (http://www. pendiam. Dampak pada kebutuhan dasar manusia pada pasien dengan resiko perilaku kekerasan yang . Sedangkan gejala negatif meliputi : menarik diri atau mengasingkan diri (withdrawl). menarik diri dari pergaulan sosial. baik pada diri sendiri maupun orang lain (Yosep. kehilangan konsentrasi. Resiko perilaku kekerasan merupakan kerusakan interaksi sosial yang akan memberikan dampak terhadap kebutuhan dasar manusia diantaranya. Menurut Abraham Maslow gangguan kerusakan interaksi sosial akan memberikan dampak terhadap kebutuhan dasar manusia diantaranya : kebutuhan fisiologis (Kebutuhan nutrisi. tidak dapat diam. gejala positif meliputi : halusinasi. agresif. sulit dalam berpikir abstrak. 2010). tidak mau bergaul atau kontak dengan orang lain. kebutuhan istirahat dan tidur. delusi atau waham. Resiko perilaku kekerasan adalah suatu keadaan dimana seorang melakukan tindakan yang dapat membahayakan secara fisik.artikel.kebutuhan rasa cinta dam mencintai.

dengan menggunakan diri sendiri dan terapi keperawatan jiwa (komunikasi terapeutik dan terapi modalitas keperawatan kesehatan jiwa) Tuntutan dan masalah hidup yang semakin meningkat serta perkembangan teknologi yang pesat menjadi stressor pada kehidupan manusia. Sedangkan menurut (Suliswati. Jika individu tidak mampu melakukan koping dengan adaptif. jiwa. . 4 paling menonjol adalah kebutuhan istirahat dan tidur dikarenakan klien terus merasa kesal dan ingin marah-marah Menurut ANA dalam Riyadi (2009) Kesehatan jiwa yang selaras meliputi kesehatan badan. perilaku. Jika kondisi tersebut berlangsung secara terus menerus akan menimbulkan beban mental dan mengakibatkan terjadinya gangguan jiwa. Sedangkan keperawatan jiwa merupakan satu bidang spesialistik praktik keperawatan yang menerapkan teori periaku manusia sebagai ilmunya dan penggunaan diri sendiri secara terapeutik sebagai kiatnya. ilmu keperawatan jiwa pada manusia sepanjang siklus kehidupan dengan respon psiko-sosial yang maladaptif yang disebabkan oleh gangguan bio-psiko-sosial.). 2005) keperawatan jiwa adalah pelayanan kesehatan profesional yang didasarkan pada ilmu. Sebaliknya jika individu tersebut menggunakan cara yang salah dalam menyesuaikan dengan kehidupannya maka akan menjadikan stressor dalam diri. dan sosial yang tidak hanya dapat diukur dari kesejahteraan dan kebutuhan yang dimilikinya saja. Berbagai tuntutan dan persaingan hidup akan membutuhkan kematangan dan mampu menyesuaikan diri terhadap suatu kondisi dalam kehidupannya. maka individu beresiko mengalami gangguan jiwa. keluarga dan lingkungan.

maka rumusan masalah dalam studi kasus ini adalah “Asuhan Keperawatan Pada Ny. Tujuan umum Penulis memperoleh gambaran dan pengalaman langsung serta mampu memahami dan memberikan asuhan keperawatan jiwa pada klien dengan masalah : Resiko Perilaku Kekerasan. meliputi aspek bio-psiko-sosio dan spiritual. Melakukan pengkajian pada klien dengan masalah : Resiko Perilaku Kekerasan di ruang Cendrawasih Rumah Sakit Jiwa Provinsi Jawa Barat . 5 Gangguan jiwa merupakan gangguan pikiran. 2. perasaan atau tingkah laku seseorang menimbulkan penderitaan dan terganggunya fungsi sehari-hari. Berdasarkan ilmu pengetahuan dan keterampilan yang telah didapat selama pendidikan. A Dengan Resiko Perilaku Kekerasan Pada Skizofrenia Paranoid Di Ruang Merpati Rumah Sakit Jiwa Provinsi Jawa Barat ?” C. Tujuan Khusus Penyusunan studi kasus ini bertujuan agar penulis dapat melakukan asuhan keperawatan melalui pendekatan dengan proses keperawatan yaitu : a. TUJUAN 1. Rumusan Masalah Berdasarkan latar belakang di atas. B.

Manfaat teoritis Secara teori penulis mengharapkan hasil dari studi kasus ini dapat menambah wawasan tentang asuhan keperawatan jiwa khususnya pada klien dengan masalah : Resiko Perilaku Kekerasan dan dapat menambah pengetahuan yang lebih bermanfaat. Merumuskan diagnosa keperawatan pada klien dengan masalah : Resiko Perilaku Kekerasan di ruang Cendrawasih Rumah Sakit Jiwa Provinsi Jawa Barat c. 6 b. Melaksanakan tindakan keperawatan pada pada klien dengan masalah : Resiko Perilaku Kekerasan di ruang Cendrawasih Rumah Sakit Jiwa Provinsi Jawa Barat e. D. Manfaat Studi Kasus 1. Mendokumentasikan asuhan keperawatan pada pada klien dengan masalah : Perilaku Kekerasan di ruang cendrawasih Rumah Sakit Jiwa Provinsi Jawa Barat. . Melakukan evaluasi pada klien dengan masalah : Resiko Perilaku Kekerasan di ruang Cendrawasih Rumah Sakit Jiwa Provinsi Jawa Barat f. Merencanakan tindakan keperawatan pada pada klien dengan masalah: Resiko Perilaku Kekerasan di ruang Cendrawasih Rumah Sakit Jiwa Provinsi Jawa Barat d.

c. d. Manfaat praktis a. dengan pendekatan proses keperawatan. Bagi penulis Studi kasus ini untuk menambah gambaran dan pengalaman secara langsung dalam memberikan asuhan keperawatan jiwa pada klien dengan masalah : Resiko Perilaku Kekerasan. Bagi STIKes Budi Luhur Hasil studi kasus ini diharapkan dapat menjadi bahan bacaan dan salah satu referensi yang bermanfaat dan memberikan informasi kepada mereka yang ingin mengetahui tentang asuhan keperawatan jiwa pada klien dengan masalah : Resiko Perilaku Kekerasan. 7 2. . Bagi Studi Kasus Selanjutnya Hasil studi kasus ini dapat dijadikan salah satu referensi yang dapat bermanfaat sebagai bahan informasi untuk studi kasus selanjutnya. Bagi Rumah Sakit Jiwa Provinsi Jawa Barat Hasil studi kasus ini diharapkan dapat menjadikan informasi dan masukan yang berguna dalam asuhan keperawatan jiwa khususnya pada klien dengan masalah : Resiko Perilaku Kekerasan. b.