You are on page 1of 11

BAB I

PENDAHULUAN

A. Latar belakang
Indonesia merupakan Negara yang memiliki masyarakat yang pluralistik dan
memiliki beragam adat dan kebudayaan membuat eksistensi hukum menjadi semakin
diutamakan dalam menciptakan aturan-aturan yang dapat diterima serta adil bagi
seluruh rakyat Indonesia.
Sedikit flashback pada zaman orde baru tidak banyak aturan hukum yang
memihak kepada rakyat diciptakan, tetapi lebih banyak aturan hukum yang
melindungi kepentingan penguasa dan pengusaha. Akibat dari politik pembangunan
sehingga menimbulkan ketimpangan antara pemabangunan ekonomi dan
pembangunan hukum.
Pembangunan hukum selama masa Orde Baru digunakan sebagai alat penopang
dan pengaman pembangunan nasional yang secara kasar telah direduksi hanya
sebagai proses pertumbuhan ekonomi semata. Pranata-pranata hukum di masa
tersebut lebih banyak dibangun dengan tujuan sebagai sarana legitimasi kekuasaan
pemerintah, pemerintah dan aparatnya memilik kekuasaan mutlak, bukan hanya
dalam mengelola dan mengarahkan tujuan pembangunan, tetapi juga memiliki
kekuasaan dalam mengatur kehidupan social, budaya dan politik bangsa Indonesia.
Hukum hanya dijadikan sebagai sarana untuk memfasilitasi pertumbuhan ekonomi,
dan sebagai sarana untuk memfasilitasi proses rekayasa social.
Untuk itu eksistensi hukum saat ini di Indonesia diharapkan dapat mewujudkan
pembangunan yang berkesinambungan sehingga dapat mewujudkan tujuan bernegara
yakni:
1. untuk mencapai tujuan bersama dan mencegah terjadinya konflik, negara harus
melaksanakan penertiban, menjadi stabilisator;
2. mengusahakan kesejahteraan dan kemakmuran rakyat;
3. pertahanan, menjaga kemungkinan serangan dari luar;
4. menegakkan keadilan, melalui badan-badan pengadilan
Tujuan di atas hanya dapat terwujud jika pembangunan di Indonesia terlaksana
dengan baik dari berbagai aspek terutama pembangunan ekonomi dan pendidikan,
tentunya jika aturan-aturan yang ada tidak inkonsistensi satu sama lain.
1
B. Rumusan Masalah
Adapun rumusan masalah pada makalah ini yaitu:
1. Bagaimana peran Hukum dalam mewujudkan pembangunan nasional?
2. Bagaimana permasalahan pembangunan dalam kaitannya dengan sistem hukum
di Indonesia dan pemecahan masalah sehingga menciptakan pembangunan yang
berkesinambungan?

2
BAB II
PEMBAHASAN

A. Pengertian Hukum dan Pembangunan
1. Hukum
Hukum merupakan seperangkat kaidah,norma serta nilai-nilai yang tercermin
dalam masyarakat yang menentukan apa yang boleh dan yang tidak dibolehkan
untuk dilaksanakan. Dalam pandangan Prof.Achmad Ali (Menguak Tabir
Hukum, 30) hukum dimanifestasikan dalam wujud:
1) Hukum sebagai kaidah (hukum sebagai sollen); dan
2) Hukum sebagai kenyataan (hukum sebagai sein).
Selanjutnya beliau menambahkan bahwa yang utama adalah hukum sebagai
kenyataan dimana memuat keseluruhan kaidah social yang diakui berlakunya
oleh otoritas tertinggi yang ada dalam masyarakat tersebut. Oleh karena itu
definisi hukum menurut Prof. Achmad Ali yaitu: “Hukum adalah seperangkat
kaidah atau ukuran yang tersusun dalam suatu sistem yang menentukan apa yang
boleh dan tidak boleh dilakukan oleh manusia sebagai warga dalam kehidupan
bermasyarakatnya. Hukum tersebut bersumber baik dari masyarakat sendiri
maupun dari sumber lain yang diakui berlakunya oleh otoritas tertinggi dalam
masyarakat tersebut, serta benar-benar diberlakukan oleh warga masyarakat
(sebagai satu keseluruhan) dalam kehidupannya. Jika kaidah tersebut dilanggar
akan memberikan kewenangan bagi otoritas tertinggi untuk menjatuhkan sanksi
yang sifatnya eksternal.” Berdasarkan pandangan di atas maka kita dapat
menggambarkan bagaimana hukum itu menjadi sangat penting untuk mengatur
tatanan kehidupan bernegara. Akan tetapi hal tersebut dirasa tidak mudah ketika
kita mengkaji hukum itu dalam kenyataanya di masyarakat. Prof.Mochtar
Kusumaatmadja, dalam bukunya yang berjudul Fungsi dan Perkembangan
Hukum dalam Pembangungan Nasional yang dikutip dalam buku Prof.Achmad
Ali (Menguak Tabir Hukum, 47): “kesulitan dalam menggunakan hukum sebagai
suatu alat untuk mengadakan perubahan-perubahan masyarakat ialah harus sangat
berhati-hati agar tidak timbul kerugian bagi masyarakat.” Oleh karena itu kajian
hukum sebagai kenyataan dalam masyarakat memiliki persoalan yang lebih
kompleks karena melibatkan keseluruhan aspek lain dari kehidupan manusia. Jika
3
demikian bagaimana hukum bisa diketahui berhasil atau tidak dalam suatu
masyarakat. Tentunya harus diketahui dulu indikatornya. Prof.Achmad Ali (
Menguak Teori Hukum dan Teori Peradilan, 236) menjelaskan bahwa
keberhasilan hukum indikatornya adalah mampu tidaknya hukum mewujudkan
“harmonisasi” di antara warga masyarakat, dan ketika harmonisasi telah
terwujud, maka itu dianggap perwujudan dari ide keadilan, juga kedamaian
senantiasa melahirkan kemanfaatan bagi masyarakat sebagai suatu totalitas.
2. Pembangunan
Pembangunan adalah semua proses perubahan yang dilakukan melalui upaya-
upaya secara sadar dan terencana. Beberapa ahli di bawah ini memberikan
definisi tentang pembangunan,1 yakni:
 (Riyadi dan Deddy Supriyadi Bratakusumah, 2005). Portes (1976)
mendefenisiskan pembangunan sebagai transformasi ekonomi, sosial dan
budaya. Pembangunan adalah proses perubahan yang direncanakan untuk
memperbaiki berbagai aspek kehidupan masyarakat.
 (Johan Galtung) Pembangunan merupakan suatu upaya untuk memenuhan
kebutuhan dasar manusia, baik secara individual maupun kelompok, dengan
cara-cara yang tidak menimbulkan kerusakan, baik terhadap kehidupan sosial
maupun lingkungan sosial.
 (Nugroho dan Rochmin Dahuri, 2004) Pembangunan dapat diartikan sebagai
`suatu upaya terkoordinasi untuk menciptakan alternatif yang lebih banyak
secara sah kepada setiap warga negara untuk memenuhi dan mencapai
aspirasinya yang paling manusiawi.
 Siagian (1994) memberikan pengertian tentang pembangunan sebagai “Suatu
usaha atau rangkaian usaha pertumbuhan dan perubahan yang berencana dan
dilakukan secara sadar oleh suatu bangsa, negara dan pemerintah, menuju
modernitas dalam rangka pembinaan bangsa (nation building)”.

B. Hakekat Hukum dan Pembangunan
Penegasan yang dikemukakan oleh Prof.Achmad Ali (Menguak Teori Hukum
dan Teori Peradilan, 207) bahwa hakikat hukum merupakan hubungan timbal balik
dari tiga komponen yakni struktur, substansi, dan kultur hukum serta tambahan unsur
oleh beliau yakni profesionalisme dan kepemimpinan yang saling terkait dengan
4
fungsi dan tujuan hukum. ketika komponen tersebut dipisahkan satu sama lain maka
munculah istilah “penyakit hukum” dan inilah ciri kegagalan hukum. Oleh karena itu
dengan penyatuan komponen-komponen tersebut hukum Timur yang diwakili salah
satunya oleh Jepang bertujuan untuk menghasilkan putusan yang bersifat “win win
solution” dan berbeda proses hukum Barat yang sifatnya “win or lose” di antara
pihak yang terlibat dalam suatu proses hukum. Lalu bagaimana hakikat
pembangunan hukum di Indonesia?
Drs. M. Sofyan Lubis, SH. (Persepsi Hukum dan Pembangunan, artikel hukum)
beliau menyimpulkan bahwa hakikat Pembangunan Hukum adalah bagaimana
merubah perilaku manusia ke arah kesadaran dan kepatuhan hukum terhadap nilai-
nilai yang hidup dan diberlakukan dalam masyarakat. Tegasnya membangun perilaku
manusia dan masyarakat harus di dalam konteks kehidupan masyarakat berbangsa
dan bernegara dimana mereka mengerti dan bersedia menjalankan kewajiban
hukumnya sebagai warganegara dan mengerti tentang bagaimana menuntut hak-hak
yang dijamin secara hukum dalam proses hukum itu sendiri. Dalam konteks ini jelas
pembangunan tidak dapat dipisahkan dari kesadaran dan kepatuhan manusia atau
masyarakat terhadap nilai-nilai hukum. Pembangunan hukum harus dilakukan secara
simultan dengan perencanaan pembangunan lainnya yang dilaksanakan dalam proses
perencanaan pembangunan suatu bangsa secara global, karena sasaran akhir (goal
end) perencanaan pembangunan adalah “prilaku manusia” yang mematuhi nilai-nilai
pembangunan itu sendiri. Pembangunan hukum harus dilakukan secara simultan dan
sinergi dengan aspek pembangunan lainnya. Tanpa seperti itu ia menjadi utopia,
sehingga hukum hanya bisa dipatuhi oleh masyarakat di dalam system pemerintahan
yang otoriter.

C. Peran Hukum dalam pembangunan Nasional serta permasalahan
pembangunan di Indonesia
1. Peran hukum dalam pembangunan nasional
Pembangunan yang komprehensif bukan hanya memperhatikan hanya
dari aspek ekonominya saja melainkan juga harus memperhatikan hak-hak azasi
manusia, keduanya tidak dalam posisi yang berlawanan, dan dengan demikian
pembangunan akan mampu menarik partisipasi masyarakat. Hal ini menjadi
bertambah penting karena bangsa kita berada dalam era globalisasi, artinya harus
5
bersaing dengan bangsa-bangsa lain. Hukum yang kondusif bagi pembangunan
sedikitnya mengandung lima kwalitas : stability, predictability, fairness,
education, dan kemampuan meramalkan adalah prasyarat untuk berfungsinya
sistim ekonomi. Perlunya predictability sangat besar di negara-negara dimana
masyarakatnya untuk pertama kali memasuki hubungan-hubungan ekonomi
melampaui lingkungan social tradisionil mereka. Stabilitas juga berarti hukum
berpotensi untuk menjaga keseimbangan dan mengakomodasi kepentingan-
kepentingan yang saling bersaing. Aspek keadilan (fairness) seperti persamaan di
depan hukum, standar sikap pemerintah, adalah perlu untuk memelihara
mekanisme pasar dan mencegah birokrasi yang berkelebihan.
2. Permasalahan Pembangunan di Indonesia terkait Masalah Hukum
Pada dasarnya pembangunan hukum mempunyai makna bahwa adanya
pembuatan pembaharuan terhadap materi-materi hukum agar dapat sesuai dengan
kebutuhan masyarakat saat sekarang. Akan tetapi pada kenyataannya ada saja
materi-materi hukum yang tidak sesuai dengan kabutuhan masyarakat. Hal
tersebut tidak bisa dipungkiri berhubung Indonesia merupakan Negara dengan
penduduk yang terbilang banyak dan memiliki ragam budaya di setiap daerah.
Tentunya hal tersebut berkaitan juga dengan adat dan budaya yang masih melekat
erat. Namun demikian yang menjadi inti dari permasalahan sistem hukum di
Indonesia adalah berkaitan dengan substansi hukum, struktur hukum, dan budaya
hukum. Substansi Hukum (Legal Substance) Pembenahan substansi hukum
merupakan upaya menata kembali materi hukum melalui peninjauan dan
penataan kembali peraturan perundang-undangan untuk mewujudkan tertib
perundang-undangan dengan memperhatikan asas umum dan hirarki perundang-
undangan dan menghormati serta memperkuat kearifan lokal dan hukum adat
untuk memperkaya sistem hukum dan peraturan melalui pemberdayaan
yurisprudensi sebagai bagian dari upaya pembaruan materi hukum nasional.
Struktur Hukum (Legal Structure) Pembenahan terhadap struktur hukum lebih
difokuskan pada penguatan kelembagaan dengan meningkatkan profesionalisme
hakim dan staf peradilan serta kualitas sistem peradilan yang terbuka dan
transparan; menyederhanakan sistem peradilan, meningkatkan transparansi agar
peradilan dapat diakses oleh masyarakat dan memastikan bahwa hukum
diterapkan dengan adil dan memihak pada kebenaran; memperkuat kearifan lokal
6
dan hukum adat untuk memperkaya sistem hukum dan peraturan melalui
pemberdayaan yurisprudensi sebagai bagian dari upaya pembaruan materi hukum
nasional.
Dalam kaitannya dengan pembenahan struktur hukum ini, langkah-
langkah yang diterapkan adalah:
 Menumbuhkan kembali kepercayaan masyarakat pada sistem hukum dan
kepastian hukum.
 Penyelenggaraan proses hukum secara transparan dan dapat
dipertanggungjawabkan (akuntabilitas).
 Pembenahan dan peningkatan sumber daya manusia di bidang hukum.

3. Budaya Hukum (Legal Culture)
Unsur yang ketiga dalam arah kebijakan sistem hukum nasional adalah
meningkatkan budaya hukum antara lain melalui pendidikan dan sosialisasi
berbagai peraturan perundang-undangan. Hal ini bertujuan untuk menumbuhkan
kembali budaya hukum yang sepertinya semakin terdegradasi. Apatisme dan
menurunnya tingkat appresiasi masyarakat pada hukum dewasa ini sudah sangat
mengkhawatirkan, maraknya kasus main hakim sendiri, pembakaran para pelaku
kriminal, pelaksanaan sweeping oleh sebagian anggota masyarakat bahkan di
depan aparat penegak hukum merupakan gambaran nyata semakin menipisnya
budaya hukum masyarakat. Sehingga konsep dan makna hukum sebagai
instrumen untuk melindungi kepentingan individu dan sosial hampir sudah
kehilangan bentuknya yang berdampak pada terjadinya ketidakpastian hukum
melalui proses pembenaran perilaku salah dan menyimpang bahkan hukum
sepertinya hanya merupakan instrumen pembenar bagi ”perilaku salah”, seperti
sweeping yang dilakukan oleh kelompok massa, oknum aparat yang membacking
orang atau kelompok tertentu, dan lain sebagainya. Tingkat kesadaran masyarakat
terhadap hak, kewajibannya, dan hukum sangat berkaitan dengan (antara lain)
tingkat pendidikan dan proses sosialisasi terhadap hukum itu sendiri. Di lain
pihak kualitas, profesionalisme, dan kesadaran aparat penegak hukum juga
merupakan hal mutlak yang harus dibenahi. Walaupun tingkat pendidikan
sebagian masyarakat masih kurang memadai, namun dengan kemampuan dan
profesionalisme dalam melakukan pendekatan dan penyuluhan hukum oleh para
7
praktisi dan aparatur ke dalam masyarakat, sehingga pesan yang disampaikan
kepada masyarakat dapat diterima secara baik dan dapat diterapkan apabila
masyarakat menghadapi berbagai persoalan yang terkait dengan hak dan
kewajibannya serta bagaimana menyelesaikan suatu permasalahan sesuai dengan
jalur hukum yang benar dan tidak menyimpang.

8
BAB III
PENUTUP

A. Kesimpulan
Dari pembahasan sebelumnya maka tim penyusun dapat menyimpulkan:
1. Bahwa Hukum merupakan pilar utama yang memiliki peran sangat penting dalam
pembangunan nasional. Hal ini tentunya pada tataran kondusif tidaknya hukum
yang berlaku. Indikator yang menentukan hukum itu kondusif adalah manakala
memenuhi lima kulalitas yakni stability, predictability, fairness, education, dan
kemampuan meramalkan adalah prasyarat untuk berfungsinya sistim ekonomi.
Perlunya predictability sangat besar di negara-negara dimana masyarakatnya
untuk pertama kali memasuki hubungan-hubungan ekonomi melampaui
lingkungan social tradisionil mereka. Stabilitas juga berarti hukum berpotensi
untuk menjaga keseimbangan dan mengakomodasi kepentingan-kepentingan
yang saling bersaing. Aspek keadilan (fairness) seperti persamaan di depan
hukum, standar sikap pemerintah, adalah perlu untuk memelihara mekanisme
pasar dan mencegah birokrasi yang berkelebihan
2. Inti dari permasalahan sistem hukum di Indonesia adalah berkaitan dengan
substansi hukum, struktur hukum, dan budaya hukum.
1) Substansi Hukum (Legal Substance)
Pembenahan substansi hukum merupakan upaya menata kembali materi
hukum melalui peninjauan dan penataan kembali peraturan perundang-
undangan.
2) Struktur Hukum (Legal Structure)
Pembenahan terhadap struktur hukum lebih difokuskan pada penguatan
kelembagaan dengan meningkatkan profesionalisme hakim dan staf
peradilan.
3) Budaya Hukum (Legal Culture)
Unsur yang ketiga dalam arah kebijakan sistem hukum nasional adalah
meningkatkan budaya hukum antara lain melalui pendidikan dan sosialisasi

9
berbagai peraturan perundang-undangan. Hal ini bertujuan untuk
menumbuhkan kembali budaya hukum yang sepertinya semakin terdegradasi.
4) Tingkat kesadaran masyarakat terhadap hak, kewajibannya, dan hukum
sangat berkaitan dengan (antara lain) tingkat pendidikan dan proses sosialisasi
terhadap hukum itu sendiri.

B. Saran
Pembangunan yang merupakan indikator “hidupnya” sebuah Negara hanya
akan bermanfaat bagi masyarakat jika ada aturan yang menjadi landasan utama.
Aturan tersebut pun bisa berjalan lancar jika masyarakat ikut berpartisipasi di
dalamnya. Tentunya hal ini membutuhkan sosialisasi yang dilakukan secara terus
menerus mengingat budaya yang beragam di Indonesia. Harapan tim penyusun
pemerintah lebih memperhatikan aspek kebudayaan dalam membentuk suatu aturan
yang menunjang pembangunan yang berkesinambungan.

10
DAFTAR PUSTAKA

http://musakkirdegas.blogspot.co.id/2013/04/hukum-dan-pembangunan_11.html

Diakses Pada Tanggal: 27 Oktober 2017

11