You are on page 1of 13

LAPORAN PENDAHULUAN

PRAKTIK KEPERAWATAN KELUARGA
(Ny. D dengan Diabetes Melitus)

Di Susun oleh :
ELIZABETH MEISYA.S
2213041

PROGRAM STUDI ILMU KEPERAWATAN
SEKOLAH TINGGI ILMU KESEHATAN
JENDERAL ACHMAD YANI
YOGYAKARTA
2017

2) The dyad family : Keluarga yang terdiri dari suami dan istri (tanpa anak) yang hidup bersama dalam satu rumah. seperti nuclear family disertai: paman.A. 6) The single parent family : Keluarga yang terdiri dari satu orang tua (ayah atau ibu) dengan anak. Macam-macam tipe keluarga Keluarga merupakan salah satu bagian dari bidang garap dunia keperawatan. oleh karena itu supaya perawat bisa memberikan asuhan keperawatan dengan tepat. hal ini terjadi biasanya . 3) Keluarga usila : Keluarga yang terdiri dari suami dan istri yang sudah tua dengan anak yang sudah memisahkan diri. 4) The childless family : Keluarga tanpa anak karena terlambat menikah dan untuk mendapatkan anak terlambat waktunya yang disebabkan karena mengejar karier/pendidikan yang terjadi pada wanita. 2. istri dan anak. atau ikatan lain. Teori Keluarga 1. dibawah asuhan seorang kepala keluarga dan makan dari satu periuk (Setiawati. keponakan. orang tua (kakek-nenek). Definisi Keluarga merupakan satu kelompok atau sekumpulan manusia yang hidup bersama sebagai satu kesatuan unit masyarakat yang terkecil dan biasanya tidak selalu ada hubungan darah. ikatan Perkawinan. Tradisional 1) The Nuclear family (keluarga inti) : Keluarga yang terdiri dari suami. 2008). a. perawat harus memahami tipe keluarga yang ada. Mereka hidup bersama dalam satu rumah. tante. 5) The extended family : Keluarga yang terdiri dari dari tiga generasi yang hidup bersama dalam satu rumah.

melalui proses perceraian. 11) The single adult living alone/single adult family : Keluarga yang terdiri dari orang dewasa yang hidup sendiri karena pilihannya atau perpisahan (perceraian atau ditinggal mati).dll). 3) Commune family : Beberapa pasangan keluarga (dengan anaknya) yang tidak ada hubungan saudara yang hidup bersama dalam satu rumah. 8) Multigenerational family : Keluarga dengan beberapa generasi atau kelompok umur yang tinggal bersama dalam satu rumah. 2) The stepparent family : Keluarga dengan orang tua tiri. sosialisasi anak dengan melalui aktivitas kelompok/membesarkan anak bersama. televisi. tetapi salah satu kota tersebut sebagai tempat tinggal dan orang tua yang bekerja di luar kota bisa berkumpul pada anggota keluarga pad saat ”weekend”. Non-Tradisional 1) The unmarried teenage mother : Keluarga yang terdiri dari orang tua (terutama ibu) dengan anak dari hubungan tanpa nikah. kamar mandi. . sumber dan fasilitas yang sama. 4) The nonmarital heterosexsual cohabiting family : Keluarga yan ghidup bersamaberganti-ganti pasangan tanpa melalui pernikahan. 9) Kin-network family : Beberapa keluarga inti yang tinggal dalam satu rumah atau saling berdekatan dan saling menggunakan barang-barang dan pelayanan yang sama (contoh: dapur. 7) Commuter family : Kedua orang tua bekerja di kota yang berbeda. 10) Blended family : Duda atau janda (karena perceraian) yang menikah kembali dan membesarkan anak dari perkawinan sebelumnya. kematian dan ditinggalkan (menyalahi hokum pernikahan). b. telepon. pengalaman yang sama.

yang saling merasa telah saling menikah satu dengan yang lainnya. dan bertanggung jawab membesarkan anaknya. 5) Gay and lesbian families : Seseorang yang mempunyai persamaan sex hidup bersama sebagaimana ”marital pathners”.fungsi aktif berguna untuk pemenuhan kebutuhan psikososial. hidup berdekatan satu sama lain dan saling menggunakan barang-barang rumah tangga bersama. Fungsi dan peran keluarga a. berbagi sesuatu termasuk sexsual dan membesarkan anak. 10) Homeless family : Keluarga yang terbentuk dan tidak mempunyai perlindungan yang permanen karena krisis personal yang dihubungkan dengan keadaan ekonomi dan atau problem kesehatan mental. Fungsi keluarga 1) Fungsi afektif Fungsi afektif berhubungan erat dengan fungsi internal keluarga yang merupakan basis kekuatan krluarga. pada saat orang tua anak tersebut perlu mendapatkan bantuan untuk menyatukan kembali keluarga yang aslinya. 7) Group-marriage family : Beberapa orang dewasa yang menggunakan alat-alat rumah tangga bersama. pelayanan. 6) Cohabitating couple : Orang dewasa yang hidup bersama diluar ikatan pernikahan karena beberapa alasan tertentu. 2) Fungsi sosialisasi Fungsi mengembangkan dan tempat melatih anak untuk berkehidupan sosial sebelum meninggalkan rumah untuk berhubungan dengan orang lain di luar rumah. . 3. 8) Group network family : Keluarga inti yang dibatasi oleh set aturan/nilai-nilai. 9) Foster family : Keluarga menerima anak yang tidak ada hubungan keluarga/saudara di dalam waktu sementara.

sebagai anggota dari kelompok sosialnya serta sebagai anggota dari kelompok sosialnya serta sebagai anggota masyarakat dari lingkungannya. sebagai kepala keluarga. b) Peranan ibu Sebagai istri dan ibu dari anak-anaknya. b. berperan sebagai pencari nafkah. Berbagai peranan yang terdapat di dalam keluarga adalah sebagai berikut : a) Peranan ayah Ayah sebagai suami dari istri dan anak-anak. 3) Fungsi reproduksi Keluarga berfungsi untuk meneruskan keturunan dan menambah sumber daya manusia. 5) Fungsi perawatan kesehatan Keluarga juga berperan atau berfungsi untuk melaksanakan praktek asuhan kesehatan . pendidik. pakaian. dan tempat tinggal.peran formal bersifat eksplisit yaitu setiap kandungan struktur peran kelurga. 4) Fungsi ekonomi Fungsi ekonomi merupakan fungsi keluarga untuk memenuhi kebutuhan seluruh anggota seperti memenuhi kebutuhan makanan. pelindung dan pemberi rasa aman. pelindung dan sebagai salah satu kelompok dari peranan sosialnya serta sebagai anggota masyarakat dari lingkungannya. .yaitu untuk mencegah terjadinya gangguan kesehatan dan atau merawat anggota keluarga yang sakit. ibu mempunyai peranan untuk mengurus rumah tangga. sebagai pengasuh dan pendidik anak-anaknya. Peran keluarga 1) Peran.peran formal Peran.

Nilai-nilai keluarga Nilai merupakan suatu system. B. sosial. Mellitus berasal dari bahasa latin yang bermakna manis atau madu. dan spiritual. pengharmonis. sikap dan kepercayaan yang secara sadar atau tidak. mempersatukan anggota keluarga dalam satu budaya. Nilai keluarga juga merupakan suatu pedoman bagi perkembangan norma dan peraturan.kebutuhan emosional individu dan atau untuk menjaga keseimbangan dalam keluarga. dibagi. Masalah Kesehatan 1. dan ditularkan dengan tujuan untuk menyelesaikan masalah. Budaya adalah kumpulan dari pola perilaku yang dapat dipelajari. c) Peranan anak Anak-anak melaksanakan peranan psikosial sesuai dengan tingkat perkembangannya baik fisik. 2009). .peran informal bersifat implisit biasanya tidak tampak ke permukaan dan dimainkan hanya untuk memenuhi kebutuhan. Penyakit diabetes melitus dapat diartikan individu yang mengalirkan volume urine yang banyak dengan kadar glukosa tinggi. Definisi Diabetes berasal dari bahasa Yunani yang berarti “mengalirkan atau mengalihkan” (siphon). pendamai. menurut masyarakat berdasarkan system nilai dalam keluarga. 4. penguat. Diabetes melitus adalah penyakit hiperglikemia yang ditandai dengan ketidakadaan absolute insulin atau penurunan relative insensitivitas sel terhadap insulin (Corwin. mental. 2) Peran-peran informal Peran. disamping itu juga ibu dapat berperan sebagai pencari nafkah tambahan dalam keluarganya. Norma adalah pola perilaku yang baik.misalnya: pendorong.

2. Diabetes mellitus tak tergantung insulin (DMTTI) Secara pasti penyebab dari DM tipe II ini belum diketahui. Kecenderungan genetic ini ditentukan pada individu yang memililiki tipe antigen HLA (Human Leucocyte Antigen) tertentu. HLA merupakan kumpulan gen yang bertanggung jawab atas antigen tranplantasi dan proses imun lainnya 2) Faktor imunologi Pada diabetes tipe I terdapat bukti adanya suatu respon autoimun. factor genetic diperkirakan memegang peranan dalam proses terjadinya resistensi insulin. Insulin mula-mula mengikat dirinya kepada reseptor-reseptor permukaan sel tertentu. b. Ini merupakan respon abnormal dimana antibody terarah pada jaringan normal tubuh dengan cara bereaksi terhadap jaringan tersebut yang dianggapnya seolah-olah sebagai jaringan asing. sebagai contoh hasil penyelidikan menyatakan bahwa virus atau toksin tertentu dapat memicu proses autoimun yang dapat menimbulkan destuksi sel β pancreas. Diabetes mellitus tergantung insulin (DMTI) 1) Faktor genetic Penderita diabetes tidak mewarisi diabetes tipe I itu sendiri tetapi mewarisi suatu presdisposisi atau kecenderungan genetic kearah terjadinya diabetes tipe I. Pada awalnya tampak terdapat resistensi dari sel-sel sasaran terhadap kerja insulin. Diabetes Melitus tak tergantung insulin (DMTTI) penyakitnya mempunyai pola familiar yang kuat. Etiologi a. DMTTI ditandai dengan kelainan dalam sekresi insulin maupun dalam kerja insulin. 3) Faktor lingkungan Faktor eksternal yang dapat memicu destruksi sel β pancreas. kemudian terjadi reaksi intraselluler yang meningkatkan transport glukosa .

diantaranya adalah: 1) Usia (resistensi insulin cenderung meningkat pada usia di atas 65 tahun). Manifestasi klinik a. c. 4) Kelompok etnik 3. Kelainan kulit seperti gatal –gatal. Polifagia (peningkatan rasa lapar). d. Kesemutan akibat terjadinya neoropati. Hal ini dapat disebabkan oleh berkurangnya jumlah tempat reseptor yang responsif insulin pada membran sel. e. tetapi terkadang dapat timbul pada masa kanak-kanak. Akibatnya terjadi penggabungan abnormal antara komplek reseptor insulin dengan system transport glukosa. Kelemahan tubuh. 2) Obesitas. f. Kadar glukosa normal dapat dipertahankan dalam waktu yang cukup lama dan meningkatkan sekresi insulin. Polydipsia (peningkata rasa haus). Faktor risiko yang berhubungan dengan proses terjadinya DM tipe II. 1995 cit Indriastuti 2008). menembus membran sel. Rasa lelah dan kelemahan otot akibat gangguan aliran darah dan ketidakmampuan sel untuk merubah glukosa menjadi energi. terutama dijumpai pada orang dewasa. tetapi pada akhirnya sekresi insulin yang beredar tidak lagi memadai untuk mempertahankan euglikemia (Price. Pada pasien dengan DMTTI terdapat kelainan dalam pengikatan insulin dengan reseptor. Diabetes Melitus tipe II disebut juga Diabetes Melitus tidak tergantung insulin (DMTTI) atau Non Insulin Dependent Diabetes Melitus (NIDDM) yang merupakan suatu kelompok heterogen bentuk-bentuk Diabetes yang lebih ringan. Poliurea (peningkatan pengeluaran urin). b. bisul. g. 3) Riwayat keluarga. .

Defisiensi insulin juga akan menggangu metabolisme protein dan lemak yang menyebabkan penurunan berat badan. Gejala lainnya mencakup kelelahan dan kelemahan. proses ini akan terjadi tanpa hambatan dan lebih lanjut akan turut menimbulkan hiperglikemia. Sebagai akibat dari kehilangan cairan berlebihan. Di samping itu glukosa yang berasal dari makanan tidak dapat disimpan dalam hati meskipun tetap berada dalam darah dan menimbulkan hiperglikemia posprandial (sesudah makan). pasien akan mengalami peningkatan dalam berkemih (poliuria) dan rasa haus (polidipsia). Mata kabur 4. Keadaan ini dinamakan diuresis osmotik. namun pada penderita defisiensi insulin. Disamping itu akan terjadi pemecahan lemak yang mengakibatkan peningkatan produksi badan keton yang merupakan produk samping pemecahan lemak. Pasien dapat mengalami peningkatan selera makan (polifagia). akibat menurunnya simpanan kalori. Dalam keadaan normal insulin mengendalikan glikogenolisis (pemecahan glukosa yang disimpan) dan glukoneogenesis (pembentukan glukosa baru dari dari asam-asam amino dan substansi lain). Ketika glukosa yang berlebihan di ekskresikan ke dalam urin. h. Hiperglikemi puasa terjadi akibat produkasi glukosa yang tidak terukur oleh hati. akibatnya glukosa tersebut muncul dalam urin (glukosuria). Luka atau bisul yang tidak sembuh-sembuh. Patofisiologi Pada diabetes tipe satu terdapat ketidakmampuan untuk menghasilkan insulin karena sel-sel beta pankreas telah dihancurkan oleh proses autoimun. ekskresi ini akan disertai pengeluaran cairan dan elektrolit yang berlebihan. Jika konsentrasi glukosa dalam darah cukup tinggi maka ginjal tidak dapat menyerap kembali semua glukosa yang tersaring keluar. i. Badan keton merupakan asam .

Meskipun terjadi gangguan sekresi insulin yang merupakan ciri khas DM tipe II. Meskipun demikian. Karena itu ketoasidosis diabetik tidak terjadi pada diabetes tipe II. Diabetes tipe II. keadaan ini terjadi akibat sekresi insulin yang berlebihan dan kadar glukosa akan dipertahankan pada tingkat yang normal atau sedikit meningkat. Resistensi insulin pada diabetes tipe II disertai dengan penurunan reaksi intrasel ini. namun masih terdapat insulin dengan jumlah yang adekuat untuk mencegah pemecahan lemak dan produksi badan keton yang menyertainya. Pada diabetes tipe II terdapat dua masalah utama yang berhubungan dengan insulin yaitu resistensi insulin dan gangguan sekresi insulin. Namun demikian. Dengan demikian insulin menjadi tidak efektif untuk menstimulasi pengambilan glukosa oleh jaringan. Untuk mengatasi resistensi insulin dan untuk mencegah terbentuknya glukosa dalam darah. jika sel-sel beta tidak mampu mengimbangi peningkatan kebutuhan akan insulin. mual. Pemberian insulin bersama cairan dan elektrolit sesuai kebutuhan akan memperbaiki dengan cepat kelainan metabolik tersebut dan mengatasi gejala hiperglikemi serta ketoasidosis. Pada penderita toleransi glukosa terganggu. koma bahkan kematian. nafas berbau aseton dan bila tidak ditangani akan menimbulkan perubahan kesadaran. Diet dan latihan disertai pemantauan kadar gula darah yang sering merupakan komponen terapi yang penting. maka kadar glukosa akan meningkat dan terjadi diabetes tipe II. Normalnya insulin akan terikat dengan reseptor khusus pada permukaan sel. diabetes tipe II yang tidak terkontrol dapat . Sebagai akibat terikatnya insulin dengan resptor tersebut. harus terdapat peningkatan jumlah insulin yang disekresikan. Ketoasidosis yang diakibatkannya dapat menyebabkan tanda-tanda dan gejala seperti nyeri abdomen. muntah.yang menggangu keseimbangan asam basa tubuh apabila jumlahnya berlebihan. hiperventilasi. terjadi suatu rangkaian reaksi dalam metabolisme glukosa di dalam sel.

infeksi vagina atau pandangan yang kabur (jika kadra glukosanya sangat tinggi). Data penunjang a. Diabetes tipe II paling sering terjadi pada penderita diabetes yang berusia lebih dari 30 tahun dan obesitas. luka pada kulit yang lama sembuh-sembuh. iritabilitas. tes toleransi glukosa > 200 mg/dl. Jika gejalanya dialami pasien. maka awitan diabetes tipe II dapat berjalan tanpa terdeteksi. gejala tersebut sering bersifat ringan dan dapat mencakup kelelahan. poliuria. 2 jam setelah pemberian glukosa. Glukosa darah: gula darah puasa > 130 ml/dl. polidipsi. 5. Akibat intoleransi glukosa yang berlangsung lambat (selama bertahun-tahun) dan progresif. menimbulkan masalah akut lainnya yang dinamakan sindrom hiperglikemik hiperosmoler nonketoik (HHNK). .

. c.b. fosfor sering menurun. Urine: gula dan aseton positif k. h. infeksi pernafasan dan infeksi luka. Aseton plasma (keton) positif secara mencolok. f. Elektrolit: Na mungkin normal. Ureum/kreatinin: mungkin meningkat atau normal i. Osmolalitas serum: meningkat tapi biasanya < 330 mOsm/I e. Gas darah arteri: menunjukkan Ph rendah dan penurunan HCO3 g. Trombosit darah: Ht meningkat (dehidrasi). Asam lemak bebas: kadar lipid dan kolesterol meningkat d. meningkat atau menurun. leukositosis dan hemokonsentrasi merupakan respon terhadap stress atau infeksi. Insulin darah: mungkin menurun/ tidak ada (Tipe I) atau normal sampai tinggi (Tipe II) j. K normal atau peningkatan semu selanjutnya akan menurun. Kultur dan sensitivitas: kemungkinan adanya ISK.

Mc Closkey. 2009. 2008. EGC: Jakarta. 2007.J. T. Jilid 1 edisi 3. Ahmadi. Psikologi Sosial. A. Nursing Interventions Classification (NIC) Second Edition. C. H. PT Alumni :Bandung.2007. 2012. 2010. Jakarta Brunner & Suddarth. 2008.J. EGC : Jakarta. J Dengan Efusi Pleura dan Diabetes Mellitus Di Bougenvil 4 RSUP dr Sardjito Yogyakarta. Santosa. Buku Saku Patofisiologi. New Jersey: Upper Saddle River Rab. Prima Medika: Jakarta. . L. 2008. Sosiologi Keluarga. Liberty. Panduan Diagnosa Keperawatan NANDA 2005-2006. Nursing Outcomes Classification (NOC) Second Edition. Laporan Asuhan Keperawatan Pada Ny.. 2009. Carpenito. Bandung Indriastuti. Universitas Gajah Mada: Yogyakarta. 2013. Ilmu Sosial Dasar. EGC : Jakarta. New Jersey: Upper Saddle River Khairuddin. Aplikasi pada Praktik Klinis. 1996. Yogyakarta Mansjoer. Agenda Gawat Darurat (Critical Care). Buku Ajar keperawatan medikal bedah. Na. Refika Aditama. Johnson. EJ. Kapita Selekta Kedokteran. et all. H. Rineka Cipta. Budi. Gerungan. DAFTAR PUSTAKA Abu. A dkk.. Corwin. 2007. et all. W. 3 Edisi Revisi. edisi 8 vol 3. Media Aesculapius: Jakarta. M. Diagnosa Keperawatan.