You are on page 1of 139

MODUL PENDAMPINGAN

PELAYANAN SOSIAL LANJUT USIA

KEMENTERIAN SOSIAL RI
DIREKTORAT JENDERAL REHABILITASI SOSIAL
DIREKTORAT PELAYANAN SOSIAL LANJUT USIA
2014
MODUL PENDAMPINGAN
PELAYANAN SOSIAL LANJUT USIA

KEMENTERIAN SOSIAL RI
DIREKTORAT JENDERAL REHABILITASI SOSIAL
DIREKTORAT PELAYANAN SOSIAL LANJUT USIA
2014

Modul Pendampingan Pelayanan SLU | i


ii | Modul Pendampingan Pelayanan SLU
KATA PENGANTAR
Disusunnya buku ini sebagai pedoman Pelayanan Sosial Lan-
jut Usia untuk membantu semua Lembaga / masyarakat yang
melaksanakannpelayanan sosial lanjut usia untuk meningkatkan
kompetensi dan pemahaman mengenai hakekat pendampingan
sosial terhadap lanjut usia miskin.
Mudul Pendampingan Sosial Lanjut Usia Terlantar dalam Pro-
gram Asistensi Sosial Lanjut Usia (Aslut) disusun untuk membantu
pendamping sosial yang menjalankan program asistensi lanjut usia
bagi lanjut usia miskin
Modul Pendampingan Pelayanan Sosial Lanjut Usia dalam
Situasi kedaruratan disusun untuk membantu para Pekerja Sosial
sebagai pendamping sosial lanjut usia dalam situasikedaruratan.
Modul Pendamping Sosial Lanjut Usia dalam LKS untuk mem-
bantu para Pekerja Sosial sebagai pendamping sosial lanjut usia
dalam setting LKS atau yang sukarela dan atau TKSM.
Modul Pendamping Sosial Lanjut Usia melalui Perawatan di
Rumah disusun untuk membantu pekerja sosial/sukarela/TKSM
sebagai pendamping lanjut usia.
Semoga buku ini dapat memberikan pengetahuan yang lebih
luas kepada pembaca. Walaupun buku ini memiliki kelebihan
dan kekurangan, kami tetap membutuhkan kritik dan saran dari
pembaca yang membangun. Terima kasih.

Jakarta, 2014
Direktorat Pelayanan Sosial Lanjut Usia.

Tutiek Haryati

Modul Pendampingan Pelayanan SLU | iii


iv | Modul Pendampingan Pelayanan SLU
DAFTAR ISI
Daftar Isi............................................................................. iii

TERLANTAR (ASLUT)
A. DESKRIPSI RINGKAS.......................................................... 3
B. TUJUAN PEMBELAJARAN.................................................. 4
C. POKOK BAHASAN.............................................................. 4
D. BAHAN PEMBELAJARAN .................................................. 5
E. PROSES PEMBELAJARAN................................................... 13
F. METODE PEMBELAJARAN................................................. 15
G. PRINSIP- PRINSIP PEMBELAJARAN.................................... 16
H. ALAT BANTU ..................................................................... 17
I. EVALUASI PEMBELAJARAN................................................ 17
J. DAFTAR PUSTAKA.............................................................. 18

MODUL PENDAMPINGAN PELAYANAN SOSIAL


LANJUT USIA DALAM SITUASI KEDARURATAN
A. DESKRIPSI RINGKAS.......................................................... 21
B. TUJUAN PEMBELAJARAN.................................................. 22
C. POKOK BAHASAN.............................................................. 23
D. BAHAN PEMBELAJARAN BIMBINGAN TEKNIS .................. 23
E. PROSES PEMBELAJARAN................................................... 32
F. METODE PEMBELAJARAN................................................. 33
G. PRINSIP- PRINSIP PEMBELAJARAN.................................... 34
H. ALAT BANTU ..................................................................... 35
I. EVALUASI PEMBELAJARAN................................................ 36
J. DAFTAR PUSTAKA.............................................................. 37

Modul Pendampingan Pelayanan SLU | v


MODUL PENDAMPINGAN SOSIAL
LANJUT USIA DALAM LKS
A. DESKRIPSI RINGKAS.......................................................... 41
B. TUJUAN PEMBELAJARAN.................................................. 42
C. POKOK BAHASAN.............................................................. 42
D. BAHAN PEMBELAJARAN .................................................. 43
E. PROSES PEMBELAJARAN................................................... 53
F. METODE PEMBELAJARAN................................................. 53
G. PRINSIP- PRINSIP PEMBELAJARAN ................................... 55
H. ALAT BANTU...................................................................... 56
I. EVALUASI PEMBELAJARAN................................................ 56
J. DAFTAR PUSTAKA.............................................................. 58

MODUL PENDAMPINGAN SOSIAL


LANJUT USIA DALAM DAY CARE SERVICES
(PELAYANAN HARIAN LANJUT USIA)
A. DESKRIPSI RINGKAS.......................................................... 61
B. TUJUAN PEMBELAJARAN................................................. 63
C. POKOK BAHASAN............................................................. 64
D. BAHAN PEMBELAJARAN/ BIMBINGAN............................ 65
E. PROSES PEMBELAJARAN.................................................. 80
F. METODE PEMBELAJARAN................................................ 82
G. PRINSIP- PRINSIP PEMBELAJARAN................................... 83
H. ALAT BANTU..................................................................... 84
I. EVALUASI PEMBELAJARAN............................................... 84
J. DAFTAR PUSTAKA............................................................. 85

vi | Modul Pendampingan Pelayanan SLU


MODUL PENDAMPINGAN
USAHA EKONOMI PRODUKTIF (UEP)
BAGI LANJUT USIA
A. DESKRIPSI RINGKAS.......................................................... 89
B. TUJUAN PEMBELAJARAN.................................................. 90
C. POKOK-POKOK BAHASAN.................................................. 90
D. BAHAN PEMBELAJARAN BIMBINGAN TEKNIS................... 90
E. PROSES PEMBELAJARAN .................................................. 96
F. METODE PEMBELAJARAN................................................. 96
G. PRINSIP- PRINSIP PEMBELAJARAN ................................... 98
H. ALAT BANTU...................................................................... 99
I. EVALUASI PEMBELAJARAN................................................ 99
J. DAFTAR PUSTAKA.............................................................. 100

MODUL PENDAMPINGAN SOSIAL


LANJUT USIA MELAUI PERAWATAN DI RUMAH
(HOME CARE)
A. DESKRIPSI RINGKAS.......................................................... 103
B. TUJUAN PEMBELAJARAN.................................................. 105
C. POKOK BAHASAN.............................................................. 106
D. BAHAN PEMBELAJARAN/BIMBINGAN ............................. 107
E. PROSES PEMBELAJARAN................................................... 125
F. METODE PEMBELAJARAN................................................. 126
G. PRINSIP- PRINSIP PEMBELAJARAN.................................... 127
H. ALAT BANTU ..................................................................... 129
I. EVALUASI PEMBELAJARAN................................................ 129
J. DAFTAR PUSTAKA.............................................................. 130

Modul Pendampingan Pelayanan SLU | vii


viii | Modul Pendampingan Pelayanan SLU
MODUL PENDAMPINGAN SOSIAL
LANJUT USIA TERLANTAR DALAM PROGRAM
ASISTENSI SOSIAL LANJUT USIA TERLANTAR
(ASLUT)

KEMENTERIAN SOSIAL RI
DIREKTORAT JENDERAL REHABILITASI SOSIAL
DIREKTORAT PELAYANAN SOSIAL LANJUT USIA
2014

Modul Pendampingan PSLU | 1


2 | Modul Pendampingan PSLU
MODUL PENDAMPINGAN SOSIAL
LANJUT USIA TERLANTAR DALAM PROGRAM
ASISTENSI SOSIAL LANJUT USIA TERLANTAR
(ASLUT)

A. DESKRIPSI RINGKAS
Lanjut usia terlantar dan kondisi sakit berat memperoleh
asistensi sosial yang diawali dengan Uji Coba Program
Jaminan Sosial Lanjut Usia (JSLU) selama 5 (lima) tahun sejak
tahun 2006, tahun 2011 dicanangkan sebagai program
nasional dengan sasaran sebanyak 13.250 orang yang tersebar
di 33 provinsi 190 kabupaten/ kota. Menanggapi situasi ini,
pada tahun 2012 nama Program Jaminan Sosial Lanjut Usia
(JSLU) berubah menjadi Program Asistensi Sosial Lanjut Usia
Telantar (ASLUT). Bersamaan dengan perubahan nama pro-
gram ini, terjadi peningkatan jumlah dan sebaran lokasi
penerima program dari 13.250 orang di 33 provinsi 190
kabupaten/kota pada tahun 2011 menjadi 26.500 orang pada
tahun 2012 yang tersebar di 33 Provinsi 359 Kabupaten/Kota.
Tahun 2013 jumlah penerima ASLUT sebanyak 26.500 tersebar
di 33 Provinsi 359 Kabupaten/Kota; kecamatan 1.188; desa
3.039.
Dalam konteks inilah pendamping sosial perlu pembekalan
pengetahuan, ketrampilan dan sikap dasar yang benar dan
tepat tentang pendampingan sosial lanjut usia dalam Pro-
gram ASLUT. Pembekalan itu dirancang dalam bimbingan
teknis bagi pendamping sosial Program ASLUT.

Modul Pendampingan PSLU | 3


B. TUJUAN PEMBELAJARAN
1. Tujuan umum
Modul ini ditujukan untuk membantu pendamping sosial
program ASLUT dalam meningkatkan kompetensinya
dalam pendampingan sosial terhadap lansia terlantar,
sehingga pendamping sosial lansia ini diharapkan
memiliki pengetahuan, keterampilan dan sikap dasar yang
benar dan tepat tentang ruang lingkup, tujuan dan prinsip-
prinsip dasar dalam pendampingan sosial lansia.

2. Tujuan khusus
Meningkatkan kompetensi peserta sehingga mereka
memiliki pemahaman, keterampilan dan sikap yang
menyangkut:
a. Substansi dan konteks pendampingan lanjut usia
dalam situasi kedaruratan
b. Tahap dan proses pendampingan
c. Tehnik pendampingan
d. Peran dan Tugas Pendampingan
e. Etika dan Panduan Pendampingan
f. Evaluasi Program Pendampingan Lansia dalam Situasi
Kedaruratan

C. POKOK BAHASAN
1. Substansi dan konteks pendampingan lanjut usia dalam
program ASLUT
2. Tahap dan proses pendampingan sosial lansia
3. Teknik pendampingan sosial lansia
4. Peran dan Tugas Pendamping
5. Etika dan Panduan Pendampingan
6. Evaluasi program pendampingan lanjut usia dalam situasi
kedaruratan

4 | Modul Pendampingan PSLU


D. BAHAN PEMBELAJARAN
1. Substansi dan konteks pendampingan sosial lanjut usia
dalam program ASLUT
Asistensi Sosial Lanjut Usia Telantar (ASLUT) adalah salah
satu bentuk perlindungan sosial untuk membantu lanjut
usia telantar agar mereka dapat terpenuhi kebutuhan
dasar hidupnya secara layak. Pendampingan adalah
proses kegiatan yang dilakukan oleh pendamping dalam
meningkatkan kemampuan lanjut usia sehingga mampu
memelihara taraf kesejahteraan sosialnya. Adapun
kegiatan yang dilakukan meliputi :
a. Memberikan kemudahan bagi lanjut usia dalam
menerima dana bantuan.
b. Pendampingan pemanfaatan bantuan (memantau
dan membimbing) pemakaian dana bantuan.
c. Bimbingan Psikososial kepada lanjut usia agar mampu
melaksanakan keberfungsian sosialnya dalam
lingkungan masyarakat.

Pendamping Program ASLUT adalah seseorang yang


ditugaskan untuk melaksanakan fungsi pendampingan
seperti memberikan bimbingan psikososial, pelayanan dan
advokasi sosial dalam pelaksanaan dan pemanfaatan
dana ASLUT.
Pendamping sosial Program ASLUT harus memenuhi
kriteria dan persyaratan sebagai berikut :
Kriteria Pendamping :
a. Memiliki komitmen dan berjiwa sebagai relawan,
tanggung jawab sosial, motivasi dan disiplin dalam
melaksanakan tugasnya.

Modul Pendampingan PSLU | 5


b. Memiliki moralitas yang baik dan diakui oleh
masyarakat, serta mampu berkomunikasi dan
menjalin relasi sosial yang harmonis dengan berbagai
pihak di lingkungannya.
Persyaratan Pendamping :
a. Diutamakan penduduk desa/kelurahan setempat,
tidak berstatus sebagai Pegawai Negeri Sipil (PNS)/
Kepala Desa, dan diharapkan berpengalaman sebagai
berikut:
1) Tenaga Kesejahteraan Sosial (TKS)
2) Pekerja Sosial Masyarakat (PSM)
3) Pengurus Karang Taruna/Karang Lansia
4) Pengurus Organisasi Sosial/keagamaan
5) Kader Posyandu
6) Pengurus PKK
b. Diusulkan berdasarkan hasil musyawarah warga
setempat
c. Diutamakan berpendidikan SLTA/sederajat
d. Diutamakan mampu mengoperasikan komputer atau
mampu menggunakan mesin tik manual
e. Dibuatkan Surat Keputusan berdasarkan Surat
Keputusan Kepala Dinas/ Instansi Sosial Provinsi
Selain pendamping ada juga petugas yang disebut
koordinator. Adapun kriteria dan persyaratan koordinator
adalah sebagai berikut :

Kriteria Koordinator :
a. Memiliki komitmen, dan berjiwa sosial tinggi,
tanggung jawab sosial, motivasi dan disiplin dalam
melaksanakan tugasnya.

6 | Modul Pendampingan PSLU


b. Memiliki moralitas yang baik, mampu mengkoordinir,
bertanggung jawab sosial, disiplin dalam
menjalankan tugasnya.

Persyaratan Koordinator :
a. Berstatus Pegawai Negeri Sipil pada instansi/ Dinas
Sosial Provinsi/Kabupaten/Kota.
b. Pangkat/Golongan minimal Penata Muda / IIIa.
c. Dibuatkan SK berdasarkan Surat Keputusan Kepala
Instansi/Dinas Sosial Provinsi atau Pimpinan
Koordinator yang bersangkutan.

Selain pendamping dan koordinator, kita juga perlu


memahami kriteria dan persyaratan Penerima ASLUT :
1. Kriteria Penerima ASLUT
Diutamakan bagi lanjut usia yang berusia 60 tahun
ke atas, dengan kondisi sakit menahun, dan hidupnya
sangat tergantung pada bantuan orang lain, atau
hidupnya hanya bisa berbaring di tempat tidur (bed-
ridden) sehingga tidak mampu melakukan aktivitas
sehari-hari, tidak memiliki sumber penghasilan,
miskin dan telantar. Atau lanjut usia yang berusia di
atas 70 tahun, yang tidak memiliki sumber
penghasilan, miskin dan telantar.

Persyaratan Penerima ASLUT


1) Terdata dan ditetapkan sebagai penerima pro-
gram Asistensi Sosial Lanjut Usia Terlantar
berdasarkan usulan secara berjenjang.
2) Memiliki KTP/surat keterangan domisili/ Kartu
Keluarga dan surat keterangan miskin yang
dikeluarkan oleh Kepala Desa/Lurah setempat.

Modul Pendampingan PSLU | 7


3) Melampirkan foto diri terakhir seluruh tubuh yang
menggambarkan kondisi kemiskinannya,
keterlantarannya dan ketidakberdayaannya
ukuran postcard.

2. Tahapan dan Proses Pendampingan


a. Tahap Pra Persiapan
1) Penyiapan kerangka penyelenggaraan
pendampingan baik dari segi administrasi
maupun teknis.
2) Membuat kesepakatan pendampingan dengan
calon penerima ASLUT yang akan didampingi.
3) Penyusunan bahan-bahan pendampingan.
4) Menyusun rencana dan materi Pendampingan
ASLUT.
5) Pelaksanaan pendampingan.
6) Mendayagunakan seoptimal mungkin sumber
daya lokal dan mengadakan pendekatan kepada
masyarakat setempat, sehingga masyarakat
bersedia memberi dukungan, dalam pelaksanaan
pendampingan ASLUT.

b. Tahap Persiapan
1. Pendataan lanjut usia
2. Pendataan Anggota /Keluarga Lanjut Usia
3. Pendataan Lingkungan
4. Pendataan sumber pendukung
5. Pengolahan dan analisis data / masalah
6. Penyusunan rencana pemecahan masalah

8 | Modul Pendampingan PSLU


c. Tahap Pelaksanaan Pendampingan dan Perawatan
Tahap ini merupakan pelaksanaan dari rencana yang
telah disusun dan disetujui oleh pihak-pihak yang
berkepentingan (lanjut usia, keluarga, pendamping).

d. Tahap Evaluasi dan Pelaporan


Evaluasi dilakukan untuk mengetahui apakah rencana
telah dilaksanakan dan berjalan lancar dan berhasil
atau mengalami hambatan. Dalam hal ini dapat
diketahui faktor pendukung dan faktor penghambat
serta cara mengatasi hambatan tersebut, serta
membuat laporan pelaksanaan kegiatan
pendampingan secara berkala dan berjenjang.

e. Tahap Terminasi
Pada tahap ini, proses pendampingan dapat diakhiri
setelah diadakan pertimbangan berdasarkan hasil
evaluasi.

3. Teknik Pendampingan
a. Teknik Pertemanan (companionship),
b. Teknik Asistensi Asuhan Diri (personal care),
c. Teknik Konsultasi (counselling),
d. Teknik Kerumahtanggaan (housekeeping),
e. Teknik Fasilitasi Urusan Pribadi (personal activity), dan
f. Teknik Rujukan (referral).

4. Peran dan Tugas Pendamping


a. Bersama-sama dengan koordinator membantu dan
turut bertanggung jawab terhadap kelancaran
pencairan dana bantuan ASLUT.

Modul Pendampingan PSLU | 9


b. Melaksanakan bimbingan bila terjadi kasus lanjut usia,
mendampingi penerima, keluarga untuk mengambil
bantuan Program ASLUT ke lembaga penyalur terdekat
dengan membawa Surat Kuasa dari penerima.
c. Memantau dan membimbing pemanfaatan dana
ASLUT sesuai dengan tujuan program.
d. Mengikuti pertemuan pendamping untuk tukar
menukar informasi dan berbagi pengalaman dalam
melaksanakan pendampingan.
e. Membuat laporan hasil pendampingan pelaksanaan
program ASLUT secara periodik ke Dinas/Instansi
Sosial Kab/Kota.
f. Berkoordinasi dan berkonsultasi dengan Dinas/
Instansi Sosial Prop/Kab/Kota serta aparat Desa/
Kelurahan setempat.
g. Melaksanakan kunjungan rumah (home visit) secara
berkala minimal 4 (empat) kali dalam satu bulan dan
membuat laporan perkembangan kondisi fisik dan
sosial penerima ASLUT.

5. Etika dan panduan pendamping


a. Berpenampilan sederhana, rapi, ramah dan sopan.
b. Mampu menempatkan diri dalam situasi apapun.
c. Mampu berkomunikasi khususnya dengan lansia
yang didampingi.
d. Menghormati agama yang dianut lanjut usia.
e. Mengendalikan diri dari kebiasaan yang membahayakan
lanjut usia (merokok, minum alkohol, dll).
f. Tidak menerima hadiah apapun yang diberikan lanjut
usia/ keluarganya.
g. Tidak melakukan kecurangan dan atau peminjaman
uang kepada lanjut usia dan keluarga.

10 | Modul Pendampingan PSLU


h. Tidak ikut dalam bentuk transaksi apapun yang
menyangkut / atas nama lanjut usia.
i. Tidak diperkenankan melakukan hubungan pribadi
yang melanggar norma agama dan adat istiadat
setempat.
j. Menggunakan Tanda Pengenal (ID) selama
melakukan pendampingan lanjut usia.

6. Evaluasi Pendampingan
a. Evaluasi Pendampingan
Evaluasi Pendampingan merupakan rangkaian
kegiatan penilaian dan pengukuran terhadap seluruh
kegiatan pendampingan dari tahap perencanaan,
pelaksanaan kegiatan, dan terminasi , untuk
mengetahui apakah rencana telah dilaksanakan dan
berjalan lancar dan berhasil atau mengalami
hambatan. Dalam hal ini dapat diketahui faktor
pendukung dan faktor penghambat serta cara
mengatasi hambatan tersebut.

b. Tujuan Evaluasi
Tujuan evaluasi adalah untuk mengetahui
pelaksanaan pendampingan, hambatan dan menilai
keberhasilan pelaksanaan pendampingan ASLUT
sebagai bahan acuan dalam penyempurnaan program
dan kebijakan lebih lanjut.
Sasaran evaluasi pendampingan adalah para
pendamping ASLUT, yang meliputi :
1) Proses pendampingan
2) Frekuensi pendampingan
3) Materi Pendampingan
4) Keluaran dan Hasil pendampingan

Modul Pendampingan PSLU | 11


c. Waktu
Evaluasi dilaksanakan secara berkala baik mingguan,
bulanan, triwulan, semester, tahunan maupun pada
saat yang dibutuhkan. Dari kegiatan evaluasi ini dapat
diperoleh informasi kesesuaian atau penyimpangan-
penyimpangan dalam mencapai tujuan, hambatan-
hambatan yang dihadapi serta perubahan-perubahan
yang diperlukan untuk perbaikan pendampingan
ASLUT dan bahan penyusunan kebijakan selanjutnya.

d. Pelaksana
1) Kementerian Sosial, melakukan evaluasi
pendampingan secara nasional untuk
menentukan kebijakan program ASLUT sebagai
bahan pengembangan program kedepan.
2) Dinas/ Instansi Sosial Provinsi, melakukan
evaluasi pendampingan ASLUT dengan cakupan
tingkat Provinsi yang meliputi Kab/Kota penerima
program ASLUT.
3) Dinas/ Instansi Sosial Kab/Kota, melakukan
evaluasi pendampingan ASLUT dengan cakupan
tingkat Kab/Kota yang meliputi Kec, Kel dan Desa.
Hasil evaluasi pendampingan yang dilakukan
oleh Dinas/ Instansi Sosial Prop/ Kab/Kota
digunakan sebagai masukan kepada Kementerian
Sosial bagi penyempurnaan pelaksanaan
pendampingan ASLUT selanjutnya.

12 | Modul Pendampingan PSLU


E. PROSES PEMBELAJARAN

Pokok Peran
No. Waktu
Bahasan Fasilitator Peserta
1. Perkenalan 20 mnt - -
2. Penyajian Fasilitator Peserta mengikuti
Pokok-pokok menyajikan penyajian, tanya
bahasan setiap pokok jawab pada setiap
bahasan akhir sesi masing-
masing pokok
bahasan
3. Tanya Jawab Fasilitator Peserta menjawab
memfasilitasi berbagai pertanyaan
tanya jawab yang berkaitan
dengan dengan
mengajukan substansi dan
pertanyaan konteks
yang berkaitan pendampingan sosial
dengan Program ASLUT,
substansi dan ruang lingkup
konteks pendampingan,
pendampingan kerangka kerja
sosial Program pendamping sosial
ASLUT, ruang Program ASLUT
lingkup
pendampingan
, kerangka
kerja
pendamping
sosial Program
ASLUT

Modul Pendampingan PSLU | 13


4. Diskusi Fasilitator Peserta melakukan
Kelompok membagi diskusi Kelompok 1
peserta latihan membahas dan
ke dalam tiga melakukan role
kelompok. playing tentang
tahapan dan proses
pendampingan.
Kelompok 2
membahas dan
melakukan role
playing mengenai
mekanisme kerja
pendamping
Kelompok 3
membahas dan
melakukan role
playing mengenai
kiat-kita bermitra
dalam pendampingan
home care lansia
5. Diskusi Fasilitator Peserta melakukan
Pleno memfasilitasi diskusi pleno
diskusi pleno mengenai hasil kerja
mengenai hasil setiap kelompok
kerja setiap
kelompok
6. Refleksi/Pem 30 mnt Fasilitator -
bulatan memberikan
masukan
mengenai
kesimpulan
akhir dan
memberikan
pembulatan
hasil diskusi
secara
keseluruhan

14 | Modul Pendampingan PSLU


F. METODE PEMBELAJARAN
1. Ceramah
Penyajian konsep-konsep tentang home care, ruang
lingkup pendampingan sosial dalam home care dan
kerangka kerja pendamping sosial home care, yang
berfungsi untuk mengenalkan konsep yang abstrak dan
pemberian informasi. Ceramah berlangsung secara
interaktif, artinya tercipta interaksi antara fasilitator
dengan peserta berupa tanya jawab, baik selama ceramah
berlangsung maupun setelah ceramah berakhir.

2. Tanya jawab
Tanya jawab digunakan untuk menghargai motivasi
pribadi peserta. Prinsip pendekatan andragogi antara lain:
tidak menganggap peserta sebagai orang yang tidak tahu
tentang topik yang sedang dibahas.

3. Diskusi
Diskusi kelompok; dilakukan ketika peserta mendalami
suatu materi yang dilakukan sesama peserta latihan
dalam kelompok.
Metode ini berpusat pada peserta bimbingan teknis,
dimana dapat dilakukan bervariasi dari situasi yang tidak
terstruktur sampai kepada situasi yang terstruktur. Melalui
diskusi kelompok akan dicapai perubahan pada peserta
bimbingan teknis dalam aspek motivasi, emosi dan sikap.

4. Pembahasan Kasus
Metode ini digunakan untuk meningkatkan kemampuan
peserta bimbingan teknis dalam asesmen kebutuhan/
masalah, analisis masalah, serta pemecahan masalah.

Modul Pendampingan PSLU | 15


5. Permainan Peran
Metode ini dilakukan ketika peserta untuk menghayati
suatu persoalan dengan memainkan peran-peran yang
telah direncanakan sesuai dengan topik yang sedang
dibahas.

G. PRINSIP- PRINSIP PEMBELAJARAN


Prinsip-prinsip pembelajaran dalam menggunakan modul ini
sebagai berikut :
1. Kesiapan
Fasilitator memiliki kesiapan sebelum menyampaikan
materi bimbingan teknis dengan mempersiapkan dan
membaca bahan-bahan yang akan disajikan.

2. Partisipasi
Fasilitator dan peserta terlibat secara aktif dalam proses
pembelajaran baik dalam mengajukan pertanyaan,
melaksanakan tugas-tugas terstruktur maupun dalam
mengembangkan metode dan materi bimbingan teknis.

3. Demokrasi
Bimbingan teknis bersifat terbuka dan setara di mana
seluruh peserta bimbingan teknis memiliki hak yang sama
dalam mengemukakan argumentasinya secara aktif dan
terbuka.

4. Kapabilitas
Fasilitator memiliki kapasitas yang memadai dalam
menguasai materi bimbingan teknis. Peserta memiliki
kompetensi dasar yang diperlukan sesuai dengan
bimbingan teknis yang diikutinya.

16 | Modul Pendampingan PSLU


5. Penggunaan Alat Bantu
Proses pembelajaran hendaknya disertai dan didukung
oleh alat bantu bimbingan teknis yang memadai seperti
audio visual dan multi media untuk memudahkan
pencapaian tujuan bimbingan teknis.

6. Praktis
Mata diklat hendaknya diarahkan agar konsep-konsep
teoritis dapat merespon kondisi-kondisi praktis di
lapangan.

H. ALAT BANTU
1. Buku dan Modul,
2. LCD Projector,
3. OHP,
4. Flipchart,
5. Spidol,
6. Kertas Plano,
7. Papan-tulis,
8. Sound-system,
9. Berbagai alat peraga yang sesuai,
10. Film (VCD) tentang program pemberdayaan fakir miskin.

I. EVALUASI PEMBELAJARAN
Evaluasi merupakan kegiatan yang perlu dilaksanakan pada
setiap bimbingan teknis. Aspek-aspek yang dievaluasi pada
bimbingan teknis ini adalah :
1. Evaluasi reaksi
Evaluasi ini merupakan respon atau tanggapan peserta
terhadap proses pembelajaran dan penyelenggaraan
bimbingan teknis.

Modul Pendampingan PSLU | 17


2. Evaluasi Belajar
Evaluasi dilakukan untuk mengetahui perubahan atau
peningkatan terhadap aspek-aspek pengetahuan, sikap
dan keterampilan peserta.

3. Evaluasi Perilaku
Evaluasi dilakukan untuk mengetahui perubahan tingkah
laku peserta selama dan setelah proses bimbingan
teknis.

4. Evaluasi Hasil
Evaluasi dilakukan setelah bimbingan teknis berakhir
untuk mengetahui pemanfaatan hasil bimbingan teknis
terhadap kinerja di dalam organisasi, produktifitas
organisasi dan kelompok pendamping (masyarakat).
Adapun evaluasi yang digunakan dalam bimbingan teknis
ini adalah evaluasi proses dan evaluasi hasil.

Evaluasi tersebut meliputi :


Kemampuan peserta dalam menjelaskan pengertian
ASLUT, pendampingan lanjut usia selama mengikuti
aktifitas di ASLUT.
Kemampuan peserta dalam menyebutkan prinsip-
prinsip metoda pekerjaan sosial dengan masyarakat.
Kemampuan peserta dalam mengutarakan metode,
teknis, tahapan dan proses pendampingan sosial.
Kemampuan peserta dalam menerapkan secara
contoh tentang metode, teknik, tahapan dan proses
pendampingan ASLUT.

Daftar Pustaka
Pedoman ASLUT (2013). Dirktorat Pendampingan sosial Lanjut
Usia, Ditjen Rhabilitasi Sosial, Kementerian Sosial RI.
18 | Modul Pendampingan PSLU
MODUL PENDAMPINGAN PELAYANAN
SOSIAL LANJUT USIA DALAM SITUASI
KEDARURATAN

KEMENTERIAN SOSIAL RI
DIREKTORAT JENDERAL REHABILITASI SOSIAL
DIREKTORAT PELAYANAN SOSIAL LANJUT USIA
2014

Modul Pendampingan PSLU | 19


20 | Modul Pendampingan PSLU
MODUL PENDAMPINGAN PELAYANAN
SOSIAL LANJUT USIA DALAM SITUASI
KEDARURATAN

A. DESKRIPSI RINGKAS
Lanjut Usia merupakan kelompok usia yang rentan akan
perubahan kondisi dan situasi yang disebabkan adanya
perubahan kondisi fisik, sosial dan psikologis. Sehingga hal
ini akan mengakibatkan adanya resiko sosial. Menurut
Undang-Undang Nomor 24 Tahun 2007 tentang
penanggulangan bencana menegaskan bahwa
penyelenggaraan penanggulangan bencana diperlukan
perlindungan terhadap kelompok rentan seperti anak,
penyandang cacat dan lanjut usia.
Kedaruratan adalah situasi darurat baik yang diakibatkan oleh
bencana maupun bukan bencana yang menyebabkan kerugian
harta benda, pengungsian, terbatasnya akses terhadap
bantuan kemanusiaan, rusaknya struktur keluarga dan sosial,
terkikisnya nilai-nilai tradisional, terbatasnya akses terhadap
layanan dasar seperti kesehatan dan perlindungan yang dapat
menyebabkan kegagalan dalam memberikan perlindungan
terhadap lanjut usia dari kekerasan, perlakuan salah,
eksploitasi, dan penelantaran, ketidak berdayaan.
Pelayanan Sosial Kedaruratan bagi Lanjut Usia adalah
perlindungan lanjut usia dari dampak bencana, kekerasan,
perlakuan salah, eksploitasi, ketidak berdayaan dan
penelantaran.
Bencana adalah peristiwa atau rangkaian peristiwa yang
mengancam dan mengganggu kehidupan dan penghidupan
masyarakat yang disebabkan, baik oleh faktor alam dan atau

Modul Pendampingan PSLU | 21


non alam maupun faktor manusia yang mengakibatkan
timbulnya korban jiwa manusia, kerusakan lingkungan,
kerugian harta benda dan dampak psikologis.
Bencana alam adalah bencana yang diakibatkan oleh
peristiwa atau serangkaian peristiwa yang disebabkan oleh
alam antara lain berupa gempa bumi, tsunami, gunung
meletus, banjir, kekeringan, angin topan, dan tanah longsor.
Dalam konteks inilah, pelayanan sosial kedaruratan bagi lanjut
usia merupakan tindakan yang mendesak dan tepat untuk
menyelamatkan nyawa, menjamin perlindungan dan
memulihkan kesejahteraan para lanjut usia dalam situasi
darurat baik akibat terjadinya bencana maupun oleh sebab
lain. Akibat dari bencana itu, lanjut usia kehilangan tempat
tinggal, harta, bahkan harus kehilangan nyawa, dan/atau
kehilangan satu atau lebih anggota badan atau kehilangan
fungsi anggota badan, mengalami trauma atau tekanan
mendalam bahkan dapat mengakibatkan gangguan jiwa dalam
situasi darurat yang memerlukan pelayanan segera.

B. TUJUAN PEMBELAJARAN
1. Tujuan umum
Modul ini ditujukan untuk membantu peserta bimbingan
teknis pendamping sosial lansia, yakni para pekerja sosial
sebagai pendamping lansia terlantar dalam situasi
kedaruratan, dalam meningkatkan pemahaman mengenai
hakekat pendampingan sosial terhadap lansia dalam
situasi kedaruratan, sehingga setelah mengikuti
bimbingan teknis pendamping sosial lansia ini diharapkan
mereka memiliki pengetahuan, ketrampilan dan sikap
dasar yang diperlukan dalam pendampingan kelompok
lansia terlantar dalam situasi kedaruratan.

22 | Modul Pendampingan PSLU


2. Tujuan khusus
Meningkatkan kompetensi peserta sehingga mereka
memiliki pemahaman, keterampilan dan sikap yang
menyangkut:
a. Substansi dan konteks Pendampingan Lansia dalam
Situasi Kedaruratan
b. Tahap dan proses pendampingan
c. Teknik pendampingan
d. Peran dan Tugas Pendamping
e. Etika dan Panduan Pendampingan
f. Evaluasi Program Pendampingan Lansia dalam Situasi
Kedaruratan
C. POKOK BAHASAN
1. Substansi dan konteks Pendampingan Lansia dalam
Situasi Kedaruratan
2. Tahap dan proses pendampingan
3. Teknik pendampingan
4. Peran dan Tugas Pendamping
5. Etika dan Panduan Pendampingan
6. Evaluasi Program Pendampingan Lansia dalam Situasi
Kedaruratan
D. BAHAN PEMBELAJARAN BIMBINGAN TEKNIS
1. Substansi dan Konteks Pendampingan
Kegiatan pendampingan merupakan aktivitas timbal balik
dimana pendamping dan yang didampingi dalam hal ini
lanjut usia, secara bersama-sama mencari solusi atas
masalah yang dihadapi maupun sumber daya yang ada
disekitarnya untuk membantu mengatasi situasi
kedaruratan yang dihadapi lanjut usia.
Kegiatan pelayanan sosial kedaruratan bagi lanjut usia
meliputi :

Modul Pendampingan PSLU | 23


a. Penyelamatan dan evakuasi lanjut usia korban
bencana ke tempat penampungan sementara dengan
menekankan pada upaya penyelamatan dan
perlindungan.

b. Pemulihan kondisi fisik berupa pemberian


pengobatan dan atau perawatan, bantuan makanan
dan lauk pauk, serta pakaian untuk lanjut usia baik
sebagai korban bencana maupun oleh sebab lain.
Bantuan makanan dan perawatan fisik sangat
diperlukan oleh para lanjut usia yang mengalami luka
fisik, mental, fisik dan/atau mental untuk kemudahan
beraktivitas dan upaya meningkatkan kemampuan
fisik serta psikisnya.

c. Pemulihan kondisi psikologis lanjut usia, melalui:


Konseling
Konseling merupakan suatu proses antar pribadi
dimana satu orang dibantu oleh satu orang
lainnya untuk meningkatkan pemahaman dan
kecakapan menemukan masalahnya.

Bimbingan Psikososial
Bimbingan psikososial yang dilakukan pada lanjut
usia yang berada dalam situasi darurat
dimaksudkan untuk menata dan menstrukturkan
kembali kepribadian dengan lingkungan
sosialnya agar mereka dapat mencapai tahap
keberfungsian sosial secara optimal.

24 | Modul Pendampingan PSLU


d. Pemulihan Kondisi Sosial
Kegiatan pemulihan kondisi sosial dimaksudkan agar
para lanjut usia tetap tidak kehilangan relasi sosialnya
baik dengan sesama lanjut usia maupun dengan
lingkungan sosial lainnya.

e. Intervensi Krisis
Intervensi krisis bertujuan untuk memberikan
sebanyak mungkin dukungan mental dan bantuan lain
kepada lanjut usia dan keluarganya, dalam rangka
memungkinkan orang yang ditolong mendapatkan
kembali keseimbangan psikologis.

f. Advokasi
Tujuan Advokasi untuk lanjut usia membantu lanjut
usia mendapatkan dan atau menegakkan hak-hak
lanjut usia dalam menerima pelayanan kesejahteraan
sosial. Adapun bentuk advokasi yang dapat dilakukan
bagi lanjut usia dalam situasi kedaruratan dapat
berupa;
Bantuan Hukum; memberikan pendampingan
kepada lanjut usia yang berkaitan dengan masalah
hukum.
Pendampingan dan atau perawatan Lanjut Usia.
Beberapa lanjut usia hidup dengan bantuan perawat
atau pengasuh dalam menjalani kehidupannya sehari-
hari.

g. Mediasi
Dilakukan dengan cara menghubungkan lanjut usia yang
berada dalam situasi darurat dengan sistem sumber.

Modul Pendampingan PSLU | 25


h. Rujukan
Pelayanan rujukan dilakukan jika karena sesuatu
sebab memerlukan tindakan atau pelayanan yang
lain. Rujukan diberikan sesuai dengan kebutuhan dan
persetujuan lanjut usia yang bersangkutan maupun
keluarganya, jika masih ada. Beberapa tempat yang
dapat dijadikan rujukan bagi pendamping lanjut usia,
antara lain :
Panti Sosial atau Lembaga Kesejahteraan Sosial,
baik milik pemerintah maupun masyarakat.
Pusat Pelayanan Trauma Lanjut Usia (Trauma
Center) yaitu suatu lembaga/unit pelayanan
sosial baik milik pemerintah maupun masyarakat
yang memberikan pelayanan dan perlindungan
sosial bagi lanjut usia yang mengalami trauma
baik fisik dan atau psikis maupun kepada
keluarganya.
Lembaga pemberi bantuan pengobatan seperti
Puskesmas, rumah sakit maupun lembaga/
yayasan yang bisa memberikan pelayanan
kesehatan apabila lanjut usia dalam kondisi sakit
yang sangat membutuhkan pertolongan dan
bantuan dengan segera.
Pemberian bantuan baik yang menjadi program
pemerintah maupun bantuan dari donor atau
pihak pribadi/lembaga non pemerintah yang
peduli. Dalam pelaksanaan rujukan berupa
pemberian bantuan, hendaknya para lanjut usia
juga dibantu dalam pemenuhan syarat
administrasi yang dibutuhkan seperti pengurusan
surat-surat dari RT/RW dan Kelurahan setempat.

26 | Modul Pendampingan PSLU


2. Tahapan dan Proses Pendampingan
Tahapan Kegiatan pelayanan sosial saat kondisi
kedaruratan meliputi :
a. Survey
b. Pendataan
c. Asesmen
d. Penyusunan Rencana Intervensi
e. Pelaksanaan Intervensi
f. Evaluasi
g. Terminasi
h. Bimbingan Lanjut

Selanjutnya, proses pendampingan lanjut usia dalam


situasi kedaruratan, meliputi:
a. Informasi Awal
Diterimanya informasi awal tentang lanjut usia dalam
situasi darurat dari masyarakat, media massa dan
sumber informasi lainnya yang dapat
dipertanggungjawabkan.
b. Pendataan
Pengumpulan data dan informasi antara lain tentang
identitas dan kondisi lanjut usia untuk mengetahui
tingkat kedaruratan.
c. Identifikasi
Untuk mengetahui atau mengenal lebih lanjut kondisi
lanjut usia baik disebabkan kejadian bencana,
perlakuan salah, penelantaran, eksploitasi,
diskriminasi maupun tindak kekerasan terhadap lanjut
usia.

Modul Pendampingan PSLU | 27


d. Registrasi
Mencatat dan mendokumentasikan lanjut usia yang
memerlukan perlindungan khusus.
e. Asesmen
Untuk mengungkapkan dan memahami permasalahan
lanjut usia secara individual/kelompok yang mencakup
masalah yang sedang dialami, kebutuhan-
kebutuhannya, dan potensi yang masih dimiliki lanjut
usia dan keluarganya.

f. Koordinasi
Untuk menjalin kerja sama dan membentuk jaringan
dengan pihak terkait dalam memberikan pelayanan
sosial lanjut usia dalam situasi darurat.

3. Teknik Pendampingan
Teknik yang digunakan oleh pendamping lanjut usia dalam
situasi kedaruratan antara lain :
a. Teknik Pertemanan. Pendamping membutuhkan waktu
yang lama untuk mengajak lanjut usia sebagai teman
bicara. Teknik ini dapat digunakan agar lansia
memiliki kepercayaan dalam membuka segala
permasalahan.
b. Teknik Validitas.
c. Pendamping mengklarifikasi prilaku lansia.
d. Teknik Bimbingan Psikososial, teknik ini bertujuan
untuk katarsis mental, pengurangan kesedihan,
kedukaan,peningkatan rasa percaya diri,harga diri
termasuk aktualisasi diri kepada orang sekitar
lingkungannya.

28 | Modul Pendampingan PSLU


e. Teknik Konsultasi (counselling). Teknik Konsultasi
yaitu melakukan konsultasi dan konseling terhadap
lanjut usia yang dibutuhkan untuk meringankan beban
psikis dan mental lansia yang dikarenakan kondisi
kedaruratan yang dialaminya.
f. Teknik pengalihan dimana pendamping berusaha
mengalihkan perhatian para lanjut usia dari situasi
kedaruratan yang dihadapi dengan melakukan
kegiatan-kegiatan tertentu, terutama yang disenangi
oleh para lanjut usia seperti bernyanyi, memasak
bersama, pengajian ataupun lain sebagainya.

4. Peran, Tugas dan Fungsi Pendamping


a. Peran Pendamping antara lain
1) Fasilitator yaitu pihak yang memungkinkan atau
membantu klien, dalam hal ini adalah lanjut usia,
untuk mencapai kondisi yang diharapkan.
2) Mediator yaitu pendamping diharapkan berperan
sebagai mediator/penengah dalam situasi
kedaruratan yang dihadapi oleh para lanjut usia,
seperti saat situasi darurat yang terjadi karena
konflik dengan keluarga, dimana pendamping
diharapkan mampu menengahi lanjut usia dan
keluarganya.
3) Pelindung yaitu pendamping diharapkan
berperan untuk melindungi para lanjut usia yang
diakibatkan oleh efek situasi darurat ataupun
kondisi darurat susulan.
4) Advokator yaitu memberikan advokasi atas
masalah yang dialami lanjut usia.
5) Asessor.

Modul Pendampingan PSLU | 29


b. Tugas pendamping antara lain
1) Membantu memenuhi berbagai kebutuhan lanjut
usia seperti kebutuhan fisiologis dan dasar,
maupun kebutuhan lainnya seperti rasa aman,
rasa disayang/dicintai dan lainnya.
2) Membantu mencarikan solusi dan jalan keluar dari
setiap permasalahan yang dihadapi oleh para
lanjut usia terkait situasi kedaruratan, seperti
masalah kesehatan.
3) Mempersiapkan kondisi lanjut usia untuk kembali
kepada kehidupan kesehariannya pasca kondisi
darurat.
4) Melakukan pendampingan dan atau pertemanan
dalam situasi darurat atau bencana dalam
pengungsian melalui berbagai macam kegiatan
untuk pengisian waktu luang. Bentuk kegiatan
yang bisa dilakukuan seperti: membaca solawat,
menyanyi, melukis, konseling, keterampilan,
upaya usaha yang dapat menghasilkan dan
bermanfaat bagi lanjut usia yang bersangkutan.
5) Pemulihan yaitu melakukan berbagai kegiatan
untuk memenuhi kebutuhan lanjut usia,
mengatasi kesulitan dan membantu
memecahkan masalah yang dihadapi lanjut usia

c. Fungsi pendamping antara lain


1) Fungsi pencegahan yaitu melakukan berbagai
kegiatan pencegahan yang diperlukan agar dapat
terhindar dalam situasi kedaruratan.
2) Fungsi mengatasi kesulitan dan memecahkan
masalah yang dihadapi saat lansia dihadapi
dalam situasi kedaruratan.

30 | Modul Pendampingan PSLU


3) Fungsi pengembangan yaitu melakukan berbagai
kegiatan untuk menjaga dan meningkatkan
kemampuan lanjut usia dalam melakukan aktivitas
sehari-hari atau menyalurkan hobbi dan bakatnya.

5. Etika dan Panduan


Etika yang perlu diperhatikan oleh pendamping Pelayanan
Sosial Lanjut Usia dalam situasi kedaruratan:
a. Menghargai hak-hak lanjut usia
b. Tidak menghakimi
c. Bersikap tidak menilai
d. Tidak memberikan stigma (destigmatisasi)
e. Tidak mengucilkan
f. Pelayanan yang cepat dan tepat
g. Pelayanan yang bersifat komprehensif dan wholistic
h. Menghargai adat istiadat setempat
i. Tidak membesar-besarkan masalah (dedramatisasi)
6. Evaluasi Pendampingan
Evaluasi bertujuan untuk mengetahui apakah rencana
telah dilaksanakan dan berjalan lancar dan berhasil
atau mengalami hambatan. Dalam hal ini dapat
diketahui faktor pendukung dan faktor penghambat
serta cara mengatasi hambatan tersebut.
Sasaran dalam tahapan evaluasi ini yaitu pendamping
dan para lanjut usia sebagai penerima layanan.
Waktu pelaksanaan evaluasi bisa dilakukan sesuai
kebutuhan, karena dalam kedaruratan, akan banyak
ditemukan hal-hal yang kadang sulit diprediksi,
sehingga perubahan dan perbaikan bisa dilakukan
sesuai kebutuhan.

Modul Pendampingan PSLU | 31


Pelaksana tahapan evaluasi adalah Kementerian
Sosial bersama Dinas/Instansi Sosial Provinsi/
Kabupaten/Kota yang bertujuan untuk menemukan
ada tidaknya kekurangan dalam kegiatan
pendampingan lanjut usia dalam kondisi kedaruratan
sehingga dapat menjadi bahan perbaikan untuk
penyusunan kebijakan kedepannya.

E. PROSES PEMBELAJARAN

Peran
No. Pokok Bahasan Waktu
Fasilitator Peserta
1. Perkenalan 20 mnt - -
2. Penyajian Fasilitator menyajikan Peserta mengikuti
Pokok-pokok setiap pokok bahasan penyajian, tanya jawab
bahasan pada setiap akhir sesi
masing-masing pokok
bahasan
3. Tanya Jawab Fasilitator memfasilitasi Peserta menjawab
tanya jawab dengan berbagai pertanyaan
mengajukan pertanyaan yang berkaitan dengan
yang berkaitan dengan substansi dan konteks
substansi dan konteks pelayanan
pelayanan pendampingan pendampingan sosial
lansia dalam situasi lansia dalam situasi
kedaruratan Usia, ruang kedaruratan, ruang
lingkup pendampingan, lingkup pendampingan,
kerangka kerja kerangka kerja
pendamping sosial lansia pendamping sosial
dalam situasi kedaruratan lansia dalam situasi
kedaruratan

32 | Modul Pendampingan PSLU


4. Diskusi Fasilitator membagi Peserta melakukan
Kelompok peserta latihan ke dalam diskusi Kelompok 1
tiga kelompok. membahas dan
melakukan role playing
tentang tahapan dan
proses pendampingan.
Kelompok 2 membahas
dan melakukan role
playing mengenai
mekanisme kerja
pendamping Kelompok 3
membahas dan
melakukan role playing
mengenai kiat-kita
bermitra dalam
pendampingan sosial
lansia dalam situasi
kedaruratan
5. Praktek Fasilitator mendampingi Mencari data-data yang
Lapangan peserta ke lapangan akan dijadikan bahan
diskusi
6.. Diskusi Pleno Fasilitator memfasilitasi Peserta melakukan
diskusi pleno mengenai diskusi pleno mengenai
hasil kerja setiap kelompok hasil kerja setiap
kelompok
7. Refleksi/Pembul 30 mnt Fasilitator memberikan -
atan masukan mengenai
kesimpulan akhir dan
memberikan pembulatan
hasil diskusi secara
keseluruhan

F. METODE PEMBELAJARAN
1. Ceramah
Penyajian konsep-konsep tentang pelayanan sosial lanjut
Usia, ruang lingkup pendampingan sosial dalam kerangka
kerja pendamping sosial untuk lanjut Usia, yang berfungsi
untuk mengenalkan konsep yang abstrak dan pemberian
informasi. Ceramah berlangsung secara interaktif, artinya
tercipta interaksi antara fasilitator dengan peserta berupa
tanya jawab, baik selama ceramah berlangsung maupun
setelah ceramah berakhir.

Modul Pendampingan PSLU | 33


2. Tanya jawab
Tanya jawab digunakan untuk menghargai motivasi
pribadi peserta. Prinsip pendekatan andragogi antara lain:
tidak menganggap peserta sebagai orang yang tidak tahu
tentang topik yang sedang dibahas.

3. Diskusi
Diskusi kelompok : dilakukan ketika peserta mendalami
suatu materi yang dilakukan sesama peserta latihan
dalam kelompok.
Metode ini berpusat pada peserta bimbingan teknis,
dimana dapat dilakukan bervariasi dari situasi yang tidak
terstruktur sampai kepada situasi yang terstruktur. Melalui
diskusi kelompok akan dicapai perubahan pada peserta
bimbingan teknis dalam aspek motivasi, emosi dan sikap.
4. Pembahasan Kasus
Metode ini digunakan untuk meningkatkan kemampuan
peserta bimbingan teknis dalam asesmen kebutuhan/
masalah, analisis masalah, serta pemecahan masalah.
5. Permainan Peran
Metode ini dilakukan kepada peserta untuk menghayati
suatu persoalan dengan memainkan peran-peran yang
telah direncanakan sesuai dengan topik yang sedang
dibahas.
6. Praktek Kerja Lapangan
Metode observasi ini dilakukan langsung kepada Klien /
WBS/ Lansia.

34 | Modul Pendampingan PSLU


G. PRINSIP- PRINSIP PEMBELAJARAN
Prinsip-prinsip pembelajaran dalam menggunakan modul ini
sebagai berikut :
1. Kesiapan
Fasilitator memiliki kesiapan sebelum menyampaikan
materi bimbingan teknis dengan mempersiapkan dan
membaca bahan-bahan yang akan disajikan.

2. Partisipasi
Fasilitator dan peserta terlibat secara aktif dalam proses
pembelajaran baik dalam mengajukan pertanyaan,
melaksanakan tugas-tugas terstruktur maupun dalam
mengembangkan metode dan materi bimbingan teknis.

3. Demokrasi
Bimbingan teknis bersifat terbuka dan setara di mana
seluruh peserta bimbingan teknis memiliki hak yang sama
dalam mengemukakan argumentasinya secara aktif dan
terbuka.
4. Kapabilitas
Fasilitator memiliki kapasitas yang memadai dalam
menguasai materi bimbingan teknis. Peserta memiliki
kompetensi dasar yang diperlukan sesuai dengan
bimbingan teknis yang diikutinya.
5. Penggunaan Alat Bantu
Proses pembelajaran hendaknya disertai dan didukung
oleh alat bantu bimbingan teknis yang memadai seperti
audio visual dan multi media untuk memudahkan
pencapaian tujuan bimbingan teknis.

Modul Pendampingan PSLU | 35


6. Praktis
Mata diklat hendaknya diarahkan agar konsep-konsep
teoritis dapat merespon kondisi-kondisi praktis di
lapangan.

H. ALAT BANTU
1. Buku dan Modul
2. LCD Projector
3. OHP,
4. Flipchart
5. Spidol
6. Kertas Plano
7. Papan-tulis,
8. Sound-system,
9. Berbagai alat peraga yang sesuai
10. Film (VCD) tentang program pemberdayaan fakir miskin

I. EVALUASI PEMBELAJARAN
Evaluasi merupakan kegiatan yang perlu dilaksanakan pada
setiap bimbingan teknis. Aspek-aspek yang dievaluasi pada
bimbingan teknis ini adalah:
1. Evaluasi Reaksi
Evaluasi ini merupakan respon atau tanggapan peserta
terhadap proses pembelajaran dan penyelenggaraan
bimbingan teknis.

2. Evaluasi Belajar
Evaluasi dilakukan untuk mengetahui perubahan atau
peningkatan terhadap aspek-aspek pengetahuan, sikap
dan keterampilan peserta.

36 | Modul Pendampingan PSLU


3. Evaluasi Perilaku
Evaluasi dilakukan untuk mengetahui perubahan tingkah
laku peserta selama dan setelah proses bimbingan
teknis.

4. Evaluasi Hasil
Evaluasi dilakukan setelah bimbingan teknis berakhir
untuk mengetahui pemanfaatan hasil bimbingan
teknis terhadap kinerja di dalam organisasi, produktifitas
organisasi dan kelompok dampingan (masyarakat).
Adapun evaluasi yang digunakan dalam bimbingan teknis
ini adalah evaluasi proses dan evaluasi hasil.

Evaluasi tersebut meliputi:


Kemampuan peserta dalam menjelaskan pengertian
lansia, situasi kedaruratan, dan pendampingan sosial
lansia dalam situasi kedaruratan.
Kemampuan peserta dalam menyebutkan prinsip-prinsip
metoda pekerjaan sosial dengan masyarakat.
Kemampuan peserta dalam mengutarakan metode,
teknis, tahapan dan proses pendampingan sosial lansia
dalam situasi kedaruratan.
Kemampuan peserta dalam menerapkan secara contoh
tentang metode, teknik, tahapan dan proses
pendampingan lansia dalam situasi kedaruratan.

Modul Pendampingan PSLU | 37


DAFTAR PUSAKA
Kemeterian Sosial RI.(2013). Pedoman Pelayanan Sosial Lanjut
Usia Dalam Situasi Darurat. Jakarta, Kementerian Sosial RI.
Schder,R.L & Lester,L (2001),Social Work Advocay;A New Frame-
work for action.United States: Brooks/Cole Publishing Company.
UNHCR. (2002). Buku Pegangan Kedaruratan. Edisi Kedua. UNHCR
Zastrow, C.(1998). Introduction To Social Work and Social Welfare
(7 th). Pasific Grove. Clifornia: Brooks/ Cole Publishing Co.

38 | Modul Pendampingan PSLU


MODUL PENDAMPINGAN SOSIAL
LANJUT USIA DALAM LKS

KEMENTERIAN SOSIAL RI
DIREKTORAT JENDERAL REHABILITASI SOSIAL
DIREKTORAT PELAYANAN SOSIAL LANJUT USIA
2014

Modul Pendampingan PSLU | 39


40 | Modul Pendampingan PSLU
MODUL PENDAMPINGAN SOSIAL
LANJUT USIA DALAM LKS

A. DESKRIPSI RINGKAS
Dalam upaya Penangangan Kesejahteraan Sosial Lanjut Usia
sebagaimana tercantum dalam UU No.13 tahun 1998, baik
untuk lanjut usia yang potensial maupun non potensial,
disebutkan bahwa Lanjut Usia berhak mendapatkan pelayanan
sosial sesuai dengan kebutuhan dan permasalahan yang
dialaminya. Kemudian Undang-undang nomor 11 tahun 2009
tentang Kesejahteraan Sosial pasal 38 (1) menyebutkan bahwa
Masyarakat mempunyai kesempatan yang seluas-luasnya
untuk berperan dalam penyelenggaraan kesejahteraan sosial,
Kemudian pada pasal 38 (2) ditegaskan, bahwa
penyelenggaraan kesejahteraan sosial dari unsur masyarakat
diantaranya adalah melalui LKS ( Lembaga Kesejahteraan
Sosial) Organisasi Sosial.
Dari data keseluruhan LKS sebanyak : 30.655, dari Jumlah
tersebut yang bergerak dalam pelayanan sosial lanjut dalam
kisaran 282 LKS dengan melayani 8.500 lansia, jumlah ini
masih belum sebanding dengan populasi lanjut usia yang
semakin meningkat, sebagian besar kondisi LKS Lanjut Usia
mapan secara finansial.
Berdasarkan kenyataan tersebut Kementerian Sosial
mengkoordinasilkan melalui Program Asistensi Sosial melalui
Lembaga Kesejahteraan Sosial dalam bentuk pemberian bantuan
sosial disalurkan kepada lanjut usia yang dibina melalui LKS lanjut
usia yang memberikan pelayanan bagi lanjut usia.

Modul Pendampingan PSLU | 41


B. TUJUAN PEMBELAJARAN
1. Tujuan umum
Modul ini ditujukan untuk membantu peserta bimbingan
teknis pendamping sosial lansia, yakni para pekerja sosial
sebagai pendamping lansia terlantar dalam setting LKS,
maupun pekerja sosial sebagai pendamping lansia
terlantar dan tidak potensial yang bersifat sukarela atau
TKSM, dalam meningkatkan pemahaman mengenai
hakekat pendampingan sosial terhadap lansia terlantar
dan tidak potensial, dalam setting LKS. Sehingga, setelah
mengikuti bimbingan teknis pendamping sosial lansia ini
diharapkan mereka memiliki pengetahuan mengenai
ruang lingkup, tujuan dan prinsip-prinsip dasar dalam
pendampingan,khususnya pendampingan kelompok
lansia terlantar dan tidak potensial dalam setting LKS.
2. Tujuan khusus
Meningkatkan kompetensi peserta sehingga mereka
memiliki pemahaman, keterampilan dan sikap yang
menyangkut :
a. Substansi dan konteks Pendampingan Lansia dalam
LKS
b. Persyaratan dan Kriteria Pendamping
c. Peran dan Tugas sebagai Pendamping
d. Metode dan teknik Pendampingan
e. Tahapan atau Proses Pendampingan lansia dalam LKS
f. Panduan Praktis Pendampingan

C. POKOK BAHASAN
1. Substansi dan konteks Pendampingan Lansia dalam LKS
2. Pengertian, Persyaratan dan Kriteria dan Kerangka Kerja
Pendamping

42 | Modul Pendampingan PSLU


3. Peran dan Tugas sebagai Pendamping
4. Metode dan teknik Pendampingan
5. Tahapan atau Proses Pendampingan lansia dalam LKS
6. Panduan Praktis Pendampingan
D. BAHAN PEMBELAJARAN
1. Substansi dan konteks Pendampingan Lansia dalam
LKS
LKS sebagai suatu perkumpulan sosial yang dibentuk
masyarakat baik berbadan hukum maupun yang tidak
berbadan hukum yang berfungsi sebagai sarana
partisipasi masyarakat dalam menyelenggarakan
kesejahteraan sosial, seperti Yayasan/LSM/Orsos/Panti
sosial dan sebagainya. LKS Lanjut Usia hadir dan
diperlukan karena kondisi faktual bertambahnya jumlah
para LANSIA yang memerlukan bantuan pelayanan melalui
LKS. Dengan demikian LKS Lanjut Usia hadir sebagai
layanan pengganti keluarga dan masyarakat, yang
diperlukan jika kedua institusi ini tidak lagi mampu dan
layak melakukan layanan dan pendampingan lanjut usia.
2. Pengertian, Persyaratan dan Kriteria dan Kerangka
Kerja Pendamping
a. Pendamping adalah seseorang dari anggota dari
lembaga tersebut atau petugas yang mempunyai
kompetensi yang didapat melalui bimbingan teknis
untuk memberikan bimbingan dan perawatan lansia
didalam lembaga tersebut agar lansia dapat
menjalankan fungsi sosial secara normatik.

Modul Pendampingan PSLU | 43


b. Siapa saja yang dapat menjadi pendamping
1. Pekerja sosial
2. Pramu sosial
3. Pengasuh
4. Relawan sosial

c. Apa syarat menjadi calon pendamping LKS


Berusia minimal 20 tahun
Sehat jasmani dan Rohani dan dibuktikan dengan
surat keterangan kesehatan dari dokter
Pendidikan minimal Sekolah Menengah Lanjutan
Pertama (SLTP)/ sederajat
Mempunyai perhatian dan kepedulian terhadap
lanjut usia
Mempunyai pengalaman mendampingi ataupun
merawat lanjut usia
Sering berkomunikasi dan berinteraksi dengan
lanjut usia
Bersedia dan sanggup mengikuti pelatihan/
pemantapan petugas pendamping lanjut usia
(elderly service)
Menandatangani surat pernyataan sebagai
pendamping dan bersedia melaksanakan kontrak
kerja pendampingan
Jangka waktu dan status pendamping ditentukan
oleh masing-masing lembaga

d. Apa etika seorang pendamping ?


Berpenampilan sederhana, rapi, ramah dan sopan
Memiliki keperdulian sosial yang tinggi
Mampu menempatkan diri dalam situasi apapun

44 | Modul Pendampingan PSLU


Mampu berkomunikasi dengan baik dan mudah
diterima oleh lansia
Menghormati agama yang dianut lanjut usia
Mengendalikan diri dari kebiasaan yang
membahayakan lanjut usia (merokok, minum
alkohol, judi dll)
Memahami hak hak perlindungan lansia (HAM)
Tidak menerima hadiah apapun yang diberikan
lanjut usia/ keluarganya
Tidak melakukan kecurangan dan atau
peminjaman uang kepada lanjut usia dan
keluarga
Tidak ikut dalam bentuk transaksi apapun yang
menyangkut / atas nama lanjut usia
Tidak diperkenankan melakukan hubungan
pribadi yang melanggar norma agama dan adat
istiadat setempat
Menggunakan Tanda Pengenal (ID) selama
melakukan pendampingan lanjut usia

3. Peran dan Tugas Pendamping Lansia dalam LKS


a. Peran
1) Memandirikan sesuai dengan kemampuan lanjut
usia itu sendiri
2) Melaksanakan prinsip prinsip pendampingan
3) Melakukan komunikasi (berbicara/mendengar
dan mengetahui bahasa tubuh)
4) Memperhatikan kesehatan, kebersihan,
keamanan dan kenyamanan lanjut usia
5) Melatih pergerakan tubuh / olah raga
6) Memperhatikan kondisi lanjut usia di tempat tidur
(lama dan jadwal tidur)

Modul Pendampingan PSLU | 45


b. Fungsi
1) Fungsi pencegahan, yaitu melakukan berbagai
kegiatan untuk mencegah agar lanjut usia tidak
mengalami kesulitan atau masalah.
2) Fungsi pemulihan, yaitu melakukan berbagai
kegiatan untuk memenuhi kebutuhan, mengatasi
kesulitan, dan memecahkan masalah yang
dialami lanjut usia.
3) Fungsi pengembangan, yaitu melakukan
berbagai kegiatan untuk menjaga dan atau
meningkatkan kemampuan lanjut usia dalam
melakukan berbagai aktivitas sehari-hari atau
menyalurkan hobi dan bakat.
4) Fungsi Terminasi yaitu memberikan informasi
Pelayanan pemulangan atau kembali ke keluarga.

4. Metode dan Teknik


a. Metode Pendampingan
1) Metode bimbingan sosial perseorangan langsung
kepada masing-masing lanjut usia
2) Metode bimbingan sosial berkelompok
3) Metode bimbingan sosial mengembangkan dan
mengorganisasikan masyarakat
a) Perencanaan sosial untuk mengembangkan
layanan sosial lansia di LKS
b) Mengoptimalkan aksi sosial untuk tujuan
pemberdayaan LKS lansia
c) Pengembangan masyarakat setempat di sekitar
LKS dan daerah asal lansia

46 | Modul Pendampingan PSLU


b. Teknik yang digunakan dalam pendampingan LKS
Teknik Pekerjaan sosial (Tat wam Asih),
Teknik Asistensi Asuhan Diri (personal care),
Teknik Konsultasi (counselling),
Teknik Kerumahtanggaan (housekeeping),
Teknik Fasilitasi Urusan Pribadi (personal
activity), dan
Teknik Rujukan (referral),
Teknik Pembekalan Kerohanian.

5. Tahapan atau Proses Pendampingan


a. Tahap Pra Persiapan
1) Penyiapan kerangka penyelenggaraan
pendampingan baik dari segi administrasi
maupun teknis.
2) Penyusunan bahan sosialisasi.
3) Menyusun rencana dan materi sosialisasi tentang
Pendampingan dan perawatan lanjut usia di
lingkungan lembaga.
4) Pelaksanaan sosialisasi.

b. Tahap Persiapan
1. Penerimaan/ pengisian instrumen
2. Pendataan sumber pendukung
3. Pengolahan dan analisis data / masalah
4. Penyusunan rencana pemecahan masalah

c. Tahap pelaksanaan pendampingan dan perawatan


Tahap ini merupakan pelaksanaan dari rencana yang
telah disusun dan disetujui oleh pihak-pihak yang
berkepentingan (lanjut usia, keluarga, pendamping).

Modul Pendampingan PSLU | 47


d. Tahap Evaluasi
Evaluasi dilakukan untuk mengetahui apakah rencana
telah dilaksanakan dan berjalan lancar dan berhasil
atau mengalami hambatan. Dalam hal ini dapat
diketahui faktor pendukung dan faktor penghambat
serta cara mengatasi hambatan tersebut.

e. Tahap Terminasi
Pada tahap ini, proses pendampingan dapat diakhiri
setelah diadakan pertimbangan berdasarkan hasil
evaluasi.

SKEMA
PENDAMPINGAN DAN PERAWATAN
LANJUT USIA DI LKS
Input pendampingan:
Adanya tenaga Proses:
pendamping terlatih Identifikasi
(sosial) untuk masalah
pendampingan lansia Kesepakatan
dilembaga mengatasi
Adanya tenaga masalah
Kesehatan (dokter dan lansia dengan
perawat Puskesmas) keluarga
yang dapat memfasilitasi (peran dan
pelayanan ramah lanjut fungsi unit Output
usia (konsep wilayah yang terlibat)
puskesmas) Penyusunan Lansia
Adanya disiplin ilmu rencana sehat dan
terkait lainnya yang kegiatan dan mandiri
dapat memberikan implementasi
pelayanan pelayanan
(komplementer) pada lansia
Populasi lansia yang dilembaga
terus meningkat Monev
datransisi epidemiologi
penyakit infeksi ke
penyakit degeneratif.

48 | Modul Pendampingan PSLU


6. Panduan Praktis Pendampingan dalam LKS
a. Apa yang harus dilakukan pendamping terhadap
lansia yang sakit, cacat , dimensia dan mengalami
masalah psikososial?
1) Merawat Lanjut Usia Yang sakit
Dalam melaksanakan pendampingan dan
perawatan dalam LKS, pendamping dapat
menjalankan fungsi sebagai pramusosial,
pengasuh dan pekerja sosial dengan tugas
sebagai berikut :
Memeriksakan lanjut usia kepada dokter atau
petugas kesehatan di Puskesmas, Rumah
Sakit atau dokter praktik untuk mendapat
diagnosis dan pengobatan;
Memberikan obat untuk diminum sesuai
dosis yang telah ditetapkan;
Membimbing lanjut usia agar dapat
mengikuti aturan yang dianjurkan dokter atau
petugas kesehatan;
Mendampingi lanjut usia yang sakit dengan
memberikan motivasi agar timbul rasa
optimisme untuk cepat sembuh dari
penyakitnya;
Memberikan bantuan perawatan kebersihan
tubuh selama sakit.

2) Merawat Lanjut Usia Penyandang Cacat


Memeriksakan lanjut usia kepada dokter atau
ahli yang berkompeten di bidang kecacatan
untuk mendapat diagnosis dan saran tindak
lanjut mengenai tata cara merawat lanjut
usia;

Modul Pendampingan PSLU | 49


Membimbing agar dapat mengikuti aturan
yang dianjurkan dokter atau ahli yang
berkompeten dengan derajat kecacatannya;
Mendampingi dengan memberikan motivasi
agar timbul rasa optimisme untuk dapat
mewujudkan potensi dirinya;
Memberikan bantuan perawatan kebersihan
tubuh selama lanjut usia tersebut belum
mampu melakukannya sendiri.

3) Merawat Lanjut Usia Yang Dimensia (bed rid-


den )
Memeriksakan kepada dokter atau ahli yang
berkompeten untuk mendapat diagnosis dan
saran tindak lanjut mengenai tata cara
merawat lanjut usia yang Dimensia;
Membimbing agar dapat mengikuti aturan
yang dianjurkan dokter atau ahli yang
berkompeten;
Mendampingi dengan hati dan penuh kasih
sayang agar ia merasa mendapat perhatian
dari lingkungan sekitarnya;
Memberikan bantuan perawatan kebersihan
tubuh selama menjalani kehidupan di akhir
hayatnya.

4) Merawat Lansia yang mengalami masalah


psikososial
Pendampingan psikososial, meliputi kegiatan
mendampingi lanjut usia yang menderita
traumatik dan mengadakan rujukan psikososial.

50 | Modul Pendampingan PSLU


a. Mendampingi Lansia Yang Mengalami
Tekanan Traumatik
Pendamping hanya membantu agar dapat
diawasi tindakannya atau sedapat mungkin
anggota keluarga dapat dimotivasi untuk
bertindak mengawasi dan membantu
meringankan gejala traumatik yang diderita
dengan tugas sebagai berikut :
Periksakan kepada dokter dan ahli yang
berkompeten di bidang terapi psikososial,
untuk mendapat diagnosis dan
pengobatan serta bimbingan yang sesuai
dengan gangguan traumatik yang
diderita;
Memberikan obat untuk diminum sesuai
dosis yang telah ditetapkan;
Membimbing agar dapat mengikuti
aturan dan larangan yang dianjurkan
dokter dan ahli yang berkompetensi di
bidang terapi psikososial;
Mendampingi dengan cara memberikan
motivasi agar timbul rasa optimisme
untuk cepat sembuh dari trauma yang
dideritanya;
Memberikan bantuan perawatan diri
apabila yang bersangkutan tidak atau
belum dapat melakukannya sendiri.

Modul Pendampingan PSLU | 51


b. Mengadakan Rujukan Psikososial
Bagi Lanjut Usia yang memerlukan
perawatan medis dan rehabilitasi
psikososial, para pendamping mempunyai
tugas :
Merujuk ke Rumah Sakit dan/atau
Trauma Center untuk mendapat
perawatan medis dan rehabilitasi
psikososial dari dokter dan ahli
psikososial;
Mengunjungi secara berkala, selama ia
menjalani perawatan dari dokter dan ahli
psikoterapi;
Mengurus pengembalian ke rumahnya,
setelah proses pengobatan medis dan
rehabilitasi psikososial dinyatakan
selesai.

52 | Modul Pendampingan PSLU


E. PROSES PEMBELAJARAN
Peran
No. Pokok Bahasan Waktu
Fasilitator Peserta
1. Perkenalan 20 mnt - -
2. Penyajian Pokok- Fasilitator menyajikan setiap Peserta mengikuti penyajian,
pokok bahasan pokok bahasan tanya jawab pada setiap akhir
sesi masing-masing pokok
bahasan
3. Tanya Jawab Fasilitator memfasilitasi tanya Peserta menjawab berbagai
jawab dengan mengajukan pertanyaan yang berkaitan
pertanyaan yang berkaitan dengan
dengan substansi dan konteks substansi dan konteks
pelayanan dalam LKS lanjut pelayanan dalam LKS lanjut
Usia, ruang lingkup Usia, ruang lingkup
pendampingan, kerangka kerja pendampingan, kerangka kerja
pendamping dalam LKS pendamping dalam LKS lanjut
Usia
4. Diskusi Kelompok Fasilitator membagi peserta Peserta melakukan diskusi
latihan ke dalam tiga kelompok. Kelompok 1 membahas dan
melakukan role playing tentang
tahapan dan proses
pendampingan. Kelompok 2
membahas dan melakukan role
playing mengenai mekanisme
kerja pendamping Kelompok 3
membahas dan melakukan role
playing mengenai kiat-kita
bermitra dalam pendampingan
dalam LKS lanjut Usia lansia
5. Praktek Lapangan Fasilitator mendampingi peserta Mencari data-data yang akan
ke lapangan dijadikan bahan diskusi
6.. Diskusi Pleno Fasilitator memfasilitasi diskusi Peserta melakukan diskusi
pleno mengenai hasil kerja pleno mengenai hasil kerja
setiap kelompok setiap kelompok
7. Refleksi/Pembulat 30 mnt Fasilitator memberikan -
an masukan mengenai kesimpulan
akhir dan memberikan
pembulatan hasil diskusi secara
keseluruhan

F. METODE PEMBELAJARAN
1. Ceramah
Penyajian konsep-konsep tentang dalam LKS lanjut Usia,
ruang lingkup pendampingan sosial dalam LKS dan
kerangka kerja pendamping sosial dalam LKS lanjut Usia,
yang berfungsi untuk mengenalkan konsep yang abstrak

Modul Pendampingan PSLU | 53


dan pemberian informasi. Ceramah berlangsung secara
interaktif, artinya tercipta interaksi antara fasilitator
dengan peserta berupa tanya jawab, baik selama ceramah
berlangsung maupun setelah ceramah berakhir.
2. Tanya jawab
Tanya jawab digunakan untuk menghargai motivasi
pribadi peserta. Prinsip pendekatan andragogi antara lain:
tidak menganggap peserta sebagai orang yang tidak tahu
tentang topik yang sedang dibahas.
3. Diskusi
Diskusi kelompok; dilakukan ketika peserta mendalami
suatu materi yang dilakukan sesama peserta latihan
dalam kelompok.
Metode ini berpusat pada peserta bimbingan teknis,
dimana dapat dilakukan bervariasi dari situasi yang tidak
terstruktur sampai kepada situasi yang terstruktur. Melalui
diskusi kelompok akan dicapai perubahan pada peserta
bimbingan teknis dalam aspek motivasi, emosi dan sikap.
4. Pembahasan Kasus
Metode ini digunakan untuk meningkatkan kemampuan
peserta bimbingan teknis dalam asesmen kebutuhan/
masalah, analisis masalah, serta pemecahan masalah.
5. Permainan Peran
Metode ini dilakukan kepada peserta untuk menghayati
suatu persoalan dengan memainkan peran-peran yang
telah direncanakan sesuai dengan topik yang sedang
dibahas.
6. Praktek Kerja Lapangan
Metode observasi ini dilakukan langsung kepada Klien /
WBS/ Lansia.

54 | Modul Pendampingan PSLU


G. PRINSIP- PRINSIP PEMBELAJARAN
Prinsip-prinsip pembelajaran dalam menggunakan modul ini
sebagai berikut :
1. Kesiapan
Fasilitator memiliki kesiapan sebelum menyampaikan
materi bimbingan teknis dengan mempersiapkan dan
membaca bahan-bahan yang akan disajikan.

2. Partisipasi
Fasilitator dan peserta terlibat secara aktif dalam proses
pembelajaran baik dalam mengajukan pertanyaan,
melaksanakan tugas-tugas terstruktur maupun dalam
mengembangkan metode dan materi bimbingan teknis.

3. Demokrasi
Bimbingan teknis bersifat terbuka dan setara di mana
seluruh peserta bimbingan teknis memiliki hak yang sama
dalam mengemukakan argumentasinya secara aktif dan
terbuka.

4. Kapabilitas
Fasilitator memiliki kapasitas yang memadai dalam
menguasai materi bimbingan teknis. Peserta memiliki
kompetensi dasar yang diperlukan sesuai dengan
bimbingan teknis yang diikutinya.

5. Penggunaan Alat Bantu


Proses pembelajaran hendaknya disertai dan didukung
oleh alat bantu bimbingan teknis yang memadai seperti
audio visual dan multi media untuk memudahkan
pencapaian tujuan bimbingan teknis.

Modul Pendampingan PSLU | 55


6. Praktis
Mata diklat hendaknya diarahkan agar konsep-konsep
teoritis dapat merespon kondisi-kondisi praktis di
lapangan.

H. ALAT BANTU
1. Buku dan Modul,
2. LCD Projector,
3. OHP,
4. Flipchart,
5. Spidol,
6. Kertas Plano,
7. Papan-tulis,
8. Sound-system,
9. Berbagai alat peraga yang sesuai,
10. Film (VCD) tentang program pemberdayaan fakir miskin.

I. EVALUASI PEMBELAJARAN
Evaluasi merupakan kegiatan yang perlu dilaksanakan pada
setiap bimbingan teknis. Aspek-aspek yang dievaluasi pada
bimbingan teknis ini adalah :
1. Evaluasi Reaksi
Evaluasi ini merupakan respon atau tanggapan peserta
terhadap proses pembelajaran dan penyelenggaraan
bimbingan teknis.

2. Evaluasi Belajar
Evaluasi dilakukan untuk mengetahui perubahan atau
peningkatan terhadap aspek-aspek pengetahuan, sikap
dan keterampilan peserta.

56 | Modul Pendampingan PSLU


3. Evaluasi Perilaku
Evaluasi dilakukan untuk mengetahui perubahan tingkah
laku peserta selama dan setelah proses bimbingan
teknis.
4. Evaluasi Hasil
Evaluasi dilakukan setelah bimbingan teknis berakhir
untuk mengetahui pemanfaatan hasil bimbingan
teknis terhadap kinerja di dalam organisasi, produktifitas
organisasi dan kelompok dampingan (masyarakat).
Adapun evaluasi yang digunakan dalam bimbingan teknis
ini adalah evaluasi proses dan evaluasi hasil.
Evaluasi tersebut meliputi :
Kemampuan peserta dalam menjelaskan pengertian LKS,
pendampingan sosial.
Kemampuan peserta dalam menyebutkan prinsip-prinsip
metoda pekerjaan sosial dengan masyarakat.
Kemampuan peserta dalam mengutarakan metode,
teknis, tahapan dan proses pendampingan sosial.
Kemampuan peserta dalam menerapkan secara contoh
tentang metode, teknik, tahapan dan proses
pendampingan LKS.

J. DAFTAR PUSTAKA
Zastrow, Charles H. (2000), Introduction to Social Work and
Social Welfare, Pacific Grove: Brooks/Cole.
Kementrian Sosial Republik Indonesia Direktorat Pelayanan
Sosial Lanjut Usia Pedoman Asistensi Sosial Lanjut Usia melalui
Lembaga Kesejahteraan Sosial (LKS).
Kajian Pustaka tentang pendampingan pekerja sosial
http:eprints.uny.ac.id/../ BAB% 202%20-%200 ( mbah goggle).

Modul Pendampingan PSLU | 57


58 | Modul Pendampingan PSLU
MODUL PENDAMPINGAN SOSIAL
LANJUT USIA DALAM DAY CARE SERVICES
(PELAYANAN HARIAN LANJUT USIA)

KEMENTERIAN SOSIAL RI
DIREKTORAT JENDERAL REHABILITASI SOSIAL
DIREKTORAT PELAYANAN SOSIAL LANJUT USIA
2014

Modul Pendampingan PSLU | 59


60 | Modul Pendampingan PSLU
MODUL PENDAMPINGAN SOSIAL
LANJUT USIA DALAM DAY CARE SERVICES
(PELAYANAN HARIAN LANJUT USIA)

A. DESKRIPSI RINGKAS
Keberhasilan pembangunan nasional berdampak terhadap
meningkatnya usia harapan hidup. Data Badan Pusat Statistik
(BPS) menunjukkan bahwa usia harapan hidup masyarakat
Indonesia dari tahun ke tahun mengalami peningkatan. Pada
tahun 1990 menjadi 59,8 tahun, tahun 2000 meningkat menjadi
64,5 tahun dan pada tahun 2020 diperkirakan menjadi 71,1
tahun. Berdasarkan data Population Reference Bureu, World
Population Data Sheet 2010 (Profil Kesehatan Indonesia,
2009), usia harapan hidup untuk Indonesia adalah 71 tahun.
Data dari lembaga kesehatan dunia (WHO, 2011)
menyebutkan angka harapan hidup penduduk Indonesia setiap
tahunnya terus meningkat. Apabila tahun 2010 angka
harapan hidup usia diatas 60 tahun mencapai 20,7 juta or-
ang kemudian naik menjadi 36 juta orang tahun 2012. Kenaikan
tersebut akan terus bertambah hingga mencapai 71 juta or-
ang pada tahun 2050. Kondisi ini berimplikasi terhadap
meningkatnya jumlah orang yang berusia diatas 60 tahun
(lanjut usia).
Lanjut usia (lansia) seiring bertambah usia mengalami
perubahan dan kemunduran fungsi tubuh. Implikasi dari
perubahan tersebut adalah kebutuhan lansia yang semakin
kompleks. Kebutuhan tersebut mencakup beberapa aspek
kehidupan, yang antara lain aspek fisik, psikis, sosial dan
spiritual yang upaya pemenuhannya dipengaruhi oleh proses
menua, struktur keluarga ( keluarga besar menjadi keluarga
inti ).

Modul Pendampingan PSLU | 61


Kondisi masyarakat khususnya di perkotaan terjadi perubahan
dalam struktur dan komposisinya. Keluarga besar yang di
dalamnya terdapat ayah, ibu, anak-anak dan kakek / nenek
berubah menjadi keluarga inti. Sehingga banyak lansia yang
tinggal sendiri. Konsekuensinya adalah lansia sering
mengalami kesepian. Kondisi ini akan mempengaruhi kualitas
hidup lansia seperti : gangguan kesehatan, stress, kesedihan
dan bahkan keputusasaan. Maka perlu adanya terobosan
untuk mengantisipasi agar lansia rawan potensial tidak
menjadi potensial.
Memperhatikan fenomena di atas pemerintah melalui
Kementerian Sosial mengembangkan program day care ser-
vices atau Program Pelayanan Harian Lanjut Usia (PHLU).
Pelayanan ini merupakan suatu model pelayanan sosial lanjut
usia yang mana lanjut usia datang ke lokasi PHLU yang
dilaksanakan secara profesional dalam waktu terbatas (tidak
lebih dari 8 jam) tidak menginap serta tidak memisahkan
lanjut usia dari keluarga dan masyarakatnya. PHLU ini
diharapkan sebagai alternatif pelayanan yang tepat dalam
mempertahankan dan mengembangkan keberfungsian sosial
lanjut usia serta merespon kebutuhan dan permasalahan
lanjut usia secara memadai guna mewujudkan kesejahteraan
sosial lanjut usia. Di samping itu, PHLU diharapkan dapat
membantu pemenuhan kebutuhan lanjut usia yang tidak dapat
diberikan oleh keluarganya.
Model pelayanan harian mulanya dikembangkan di panti-panti
sosial lanjut usia, karena dianggap bahwa pada umumnya
panti mempunyai sarana untuk pelaksanaan kegiatan
pelayanan harian lanjut usia dan memperluas jangkauan
pelayanan panti, sekaligus agar masyarakat dapat mengetahui
tentang aktivitas yang ada didalam panti, dan penerima

62 | Modul Pendampingan PSLU


manfaat panti dengan peserta PHLU dapat berinteraksi. Namun
setelah dilaksanakan uji coba ternyata dimasyarakatpun dapat
dikembangkan model PHLU. Pelaksanaan PHLU telah
diselenggarakan sejak tahun 2005 dan sampai dengan saat
ini berjalan dengan baik.

B. TUJUAN PEMBELAJARAN
1. Tujuan umum
Modul ini ditujukan untuk membantu peserta bimbingan
teknis pendamping sosial lansia di PHLU, yakni para
pekerja sosial, care giver, relawan sebagai pendamping
lansia dalam setting PHLU, maupun pekerja sosial sebagai
pendamping lansia potensial yang bersifat sukarela
dalam meningkatkan pemahaman mengenai hakekat
pendampingan sosial terhadap lansia potensial, dalam
setting PHLU. Sehingga, setelah mengikuti bimbingan
teknis pendamping sosial lansia ini diharapkan mereka
memiliki pengetahuan mengenai ruang lingkup, tujuan
dan prinsip-prinsip dasar dalam pendampingan,khususnya
pendampingan kelompok lansia potensial dalam setting
PHLU.

2. Tujuan khusus
Meningkatkan kompetensi peserta sehingga mereka
memiliki pemahaman, keterampilan dan sikap yang
menyangkut :
a) Substansi dan konteks pelayanan sosial lansia dalam
setting PHLU
b) Ruang Lingkup Pendampingan Sosial Lansia dalam
setting PHLU
c) Kerangka kerja pendamping sosial lansia dalam set-
ting PHLU
d) Meningkatkan kualitas pelayanan terhadap lanjut usia
Modul Pendampingan PSLU | 63
C. POKOK BAHASAN
1. Substansi dan konteks:
a) Makna PHLU
b) Manfaat PHLU
c) Alasan diperlukan PHLU
d) Tujuan penyelenggaan PHLU
e) Sasaran pelayanan PHLU

2. Ruang Lingkup Pendampingan Sosial dalam PHLU:


a) Pengertian pendampingan PHLU (lihat pedoman
PHLU)
b) Prinsip pendampingan PHLU
c) Jangka waktu pelaksanaan pendampingan
d) Tahapan dan proses pendampingan PHLU
e) Teknik yang digunakan dalam pendampingan PHLU

3. Kerangka kerja pendamping sosial dalam PHLU:


a) Pengertian dan identitas pendamping
b) Syarat dan kriteria pendamping PHLU
c) Etika dan panduan pendamping PHLU
d) Pengetahuan dasar pendamping PHLU
e) Hak, kewajiban dan tanggung jawab pendamping
PHLU
f) Tugas, peran dan fungsi pendamping PHLU (utamakan
peran pendamping)
g) Mekanisme kerja pendamping
h) Mitra kerja pendamping

64 | Modul Pendampingan PSLU


D. BAHAN PEMBELAJARAN/ BIMBINGAN
1. Substansi dan Konteks PHLU
a) Apa yang disebut dengan PHLU
PHLU adalah Suatu model pelayanan sosial yang
disediakan bagi lanjut usia, bersifat sementara,
dilaksanakan pada siang hari di dalam atau di luar
panti dalam waktu tertentu (maksimal 8 jam), dan
tidak menginap, yang dikelola oleh Pemerintah atau
masyarakat secara profesional.

b) Apa manfaat PHLU


Sebagai alternatif pelayanan yang tepat dalam
mempertahankan dan mengembangkan
keberfungsian sosial lanjut usia serta merespon
kebutuhan dan permasalahan lanjut usia secara
memadai guna mewujudkan kesejahteraan sosial
lanjut usia. Di samping itu, PHLU diharapkan dapat
membantu pemenuhan kebutuhan lanjut usia yang
tidak dapat diberikan oleh keluarganya.

c) Mengapa PHLU diperlukan


Lansia memerlukan pelayanan sosial profesional
untuk memenuhi kebutuhannya. Namun saat ini belum
semua terpenuhi terutama bagi lansia yang potensial
dan masih tinggal bersama keluarga.

d) Apa tujuan penyelenggaraan PHLU :


1) Meningkatnya kemampuan lanjut usia untuk
menyesuaikan diri terhadap proses perubahan
dirinya secara fisik, mental dan sosial.
2) Terpenuhinya kebutuhan dan hak lanjut usia agar
mampu berperan dan berfungsi di masyarakat
secara wajar.
Modul Pendampingan PSLU | 65
3) Meningkatnya peran serta keluarga dan
masyarakat dalam pendampingan dan perawatan
di PHLU.
4) Terciptanya rasa aman, nyaman dan tentram bagi
lanjut usia, dengan tetap tinggal bersama
keluarga dengan tetap dapat mengikuti aktifitas
di PHLU.

2. Ruang Lingkup Pendampingan PHLU


a) Prinsip pelayanan
1) Promote Independent Living, memberi
kesempatan kepada lanjut usia untuk hidup
dalam lingkungan keluarganya selama mungkin.
2) Self determination, menentukan nasib sendiri/
tidak ada rasa keterpaksaan.
3) Respect Personal Culture and Life Style,
menghormati budaya dan agama masing-masing
4) Confidentiality, menjaga kerahasiaan.
5) Safety, memiliki rasa aman.
6) Empowerment, Pemberdayaan masyarakat
7) Flexibility, bila sewaktu-waktu lanjut usia
ataupun keluarga memerlukan pendampingan,
bisa menghubungi pendamping.
8) Sustainability, kesinambungan pelayanan perlu
dipertahankan.

b) Prinsip Pendampingan
Terdapat 11 prinsip yang perlu diperhatikan, yaitu :
1) Hak azasi dan Kehormatan
Semua hak azasi dan kehormatan berlaku bagi
kelompok lanjut usia. Dalam hidupnya lanjut usia
telah berkontribusi bagi pembangunan, oleh

66 | Modul Pendampingan PSLU


karena itu berhak pula untuk menikmati kemajuan
pembangunan yang dicapai pada saat ini.
2) Individualisasi
Lanjut usia tidak sama satu dengan lainnya,
setiap lanjut usia mempunyai keunikan sendiri.
Oleh sebab itu, kepada setiap lanjut usia perlu
diperhatikan kebutuhan, kepribadian serta
kekhususan masing-masing.
3) Kemandirian
Lanjut usia perlu dijamin agar dapat mandiri
dalam mendapat pelayanan yang sesuai
kebutuhannya, seperti pelayanan kesehatan,
jaminan pemeliharaan dalam bidang sosial,
ekonomi, transportasi, kegiatan, perumahan,
kesejahteraan sosial sehingga mereka
mempunyai kemandirian.
4) Hak menentukan diri sendiri
Lanjut usia berhak memilih untuk tinggal bersama
keluarga atau dirumah sendiri dengan tetap
memperoleh kesempatan mengakses pelayanan
sosial untuk memelihara kesehatan, hobi,
aktifitas dan kemandirian tanpa ada tekanan dari
keluarga atau pendamping.
5) Keluarga sebagai mitra / pendukung lansia
Pelayanan bagi lanjut usia dapat diberikan di
rumahnya sendiri, karena dengan tinggal
bersama keluarga atau di rumahnya sendiri,
lanjut usia tersebut lebih bahagia dan sejahtera.
Namun dalam beberapa hal lansia memerlukan
fasilitas khusus untuk memelihara kesehatan dan
aktifitas pengisian waktu luang. PHLU adalah
upaya untuk memenuhi kebutuhan tersebut.

Modul Pendampingan PSLU | 67


6) Aksesibilitas
Pelayanan masyarakat di berbagai bidang
diusahakan untuk dapat dicapai dengan mudah
oleh lanjut usia seperti pelayanan kesehatan,
tempat rekreasi, fasilitas pendidikan dan lain-
lain. Bila mungkin mereka dibebaskan dari biaya
pelayanan. Dalam hal tersebut sebagian fasilitas
sudah memberi kebebasan atau potongan/
keringanan.
7) Mengikutsertakan Lanjut usia (Engaging the Eld-
erly)
Mendorong ikatan antar generasi, semua
anggota keluarga, tetangga, masyarakat serta
lanjut usia, agar semuanya saling membantu
untuk meningkatkan kesejahteraan lanjut usia.
Mendorong lanjut usia untuk membantu generasi
muda serta berperan sebagai kakek atau nenek
asuh yang bijaksana dan penuh keteladanan.
8) Penggunaan bahasa lanjut usia
Pendamping harus mampu memahami bahasa
isyarat lanjut usia, baik bahasa tubuh, verbal, dan
psikologis yang dirasakan oleh lanjut usia. Jika
setiap Pendamping mampu menguasai bahasa
isyarat mereka, maka akan mempermudah
menempatkan dirinya sebagai teman ngobrol/
curhat, sehingga proses pendampingan dilakukan
maksimal. (perlu materi khusus tentang tehnik
komunikasi dengan lansia).
9) Produktivitas
Berbagai kegiatan yang dapat memberikan
kesempatan bagi lanjut usia untuk produktif perlu
difasilitasi sehingga tidak memberi peluang

68 | Modul Pendampingan PSLU


untuk menganggur dan menarik diri dari
kehidupan bermasyarakat, terkecuali bagi mereka
yang kondisinya tidak memungkinkan.
10) Perawatan diri sendiri dan keluarga
Dengan mengikuti kegiatan PHLU, pendamping
dapat mengajak lansia merawat diri sendiri
secara teratur dan disiplin serta dapat mengajak
pula keluarganya.
11) Pelibatan masyarakat
Setiap pendampingan lanjut usia di daycare ser-
vices diperlukan pelibatan masyarakat. Warga
diperankan sebagai sumber dukungan sosial, jika
keluarga tidak mampu melaksanakan fungsi
sosialnya bagi lanjut usia karena berbagai faktor.
Sumber dukungan yang dapat diperoleh dari
masyarakat antara lain penyediaan fasilitas
sosial yang menjamin pendampingan berjalan
lancar, jaminan keamanan dalam pendampingan,
dan lain-lain.

3. Kerangka Kerja Pendamping PHLU


a) Bagaimana proses pendampingan ?
Pendampingan PHLU merupakan suatu proses
kegiatan yang diawali dengan identifikasi kebutuhan
/ minat, membantu lansia mengakses / memenuhi
kebutuhan yang tersedia di PHLU secara terencana
dan berkesinambungan. Evaluasi dilakukan setiap
saat (proses) dan diakhir kontrak pelayanan (akhir).
b) Berapa lama pelaksanaan pendampingan?
Lamanya proses pendampingan PHLU, antara 6 8
jam per hari selama 5 hari dalam sepekan. Terminasi
atau pengakhiran pelayanan bila lansia
mengundurkan diri atau meninggal dunia.

Modul Pendampingan PSLU | 69


c) Bagaimana tahapan dan Proses pendampingan?
1) Tahap promosi dan orientasi
- Memperkenalkan lembaga dan PHLU kepada
berbagai pihak untuk lebih mengenal Pro-
gram dan lembaga PHLU melalui penyuluhan,
penyebaran liflet, brosur dan pemberitaan
media masa.
- Menjelaskan kepada calon peserta tentang
prosedur penerimaan, jenis pelayanan dan
lain lain.
- Menjalin hubungan antara calon peserta,
keluarga dan masyarakat.
- Mengumpulkan data calon peserta.

2) Tahap penerimaan dan seleksi


- Menerima permohonan dan melakukan
seleksi
- Melakukan Penerimaan dan Registrasi
- Menjalin kontak dan kontrak pelayanan
antara petugas dengan peserta.
- Menginformasikan tata tertib pelayanan
kepada peserta dan keluarganya.

3) Tahap pemberian Pelayanan :


Tahapan pemberian pelayanan adalah sebagai
berikut:
- Identifikasi, dilakukan untuk mengetahui
potensi dan minat yang ada pada peserta
- Rencana Intervensi, menyusun perencanaan
kegiatan yang akan diberikan
- Intervensi, melaksanakan kegiatan yang
sesuai dengan potensi dan minat peserta

70 | Modul Pendampingan PSLU


4) Tahap monitoring, evaluasi dan pelaporan
Kegiatan monitoring, evaluasi, dan pelaporan
dilaksanakan untuk mengetahui:
- Proses dan hasil pelaksanaan pemberian
pelayanan.
- Perkembangan fisik, Sosial, Emosional, Men-
tal spiritual dan Intelektual.
- Keberhasilan dan hambatan pelayanan.
- Menyusun laporan kegiatan yang
dilaksanakan oleh peserta.

5) Tahap Terminasi pelayanan


Terminasi dapat dilakukan karena beberapa hal :
- Lanjut usia memutuskan untuk berhenti
menjadi peserta
- Lanjut Usia pindah tempat tinggal
- Lanjut Usia Meninggal Dunia
- Diberhentikan karena alasan tertentu

SKEMA
PENDAMPINGAN LANJUT USIA DI PHLU
Input pendampingan: Proses:
Adanya tenaga Identifikasi
pendamping terlatih masalah
(sosial) untuk Kesepakatan
pendampingan lansia mengatasi
PHLU masalah
Adanya tenaga Kesehatan lansia
(dokter dan perawat) Penyusunan
Adanya disiplin ilmu terkait rencana
lainnya yang dapat kegiatan dan
memberikan pelayanan implementasi
(relawan/instruktur) pelayanan Output
Populasi lansia yang terus pada usila
meningkat dan PHLU Lansia
membutuhkan fasilitas MONEV sehat dan
pengisian waktu luang (proses dan mandiri
serta pemeliharaan hasil)
kesehatan

Modul Pendampingan PSLU | 71


d) Teknik apa saja yang digunakan dalam
pendampingan?
1) Teknik Pertemanan (companionship), menjadikan
lansia sebagai teman akan membuat lansia lebih
nyaman dan mengurangi hambatan /barier dalam
berkomunikasi
2) Teknik Asistensi Asuhan Diri (personal care),
mendampingi lansia dalam melakukan aktifitas
harian secara mandiri untuk menimbulkan rasa
percaya diri
3) Teknik Konsultasi (counselling), memberikan
waktu untuk mendengarkan keluh kesah lansia
tanpa harus selalu memberikan komentar atau
solusi
4) Teknik Rujukan (referral). Menyerahkan
tanggungjawab penyelesaian masalah kepada
yang lebih ahli dan fasilitas sesuai kebutuhan.
5) Tekni entrepreneurship

e) Metode
Jenis pelayanan dapat dilaksanakan melalui berbagai
kegiatan yang disesuaikan dengan kondisi lembaga
penyelengara sesuai dengan minat dan kebutuhan
lanjut usia.
Berikut ini contoh contoh kegiatan yang dapat
dilaksanakan yaitu :
1) Biologis :
- Makanan tambahan
- Pemeriksaan Kesehatan (dalam bentuk
pengukuran tekanan darah, timbangan berat
badan, dll)
- Kebugaran dalam bentuk senam, fitnes

72 | Modul Pendampingan PSLU


2) Psikologis
- Konseling
- Terapi psikososial (pedoman bimbingan
psikososial)

3) Sosial
- Hiburan
- Rekreasi
- Perpustakaan
- Ketrampilan (pengisian waktu luang,)
- Anjangsana
- Bhakti Sosial
- Kunjungan ke rumah
- Seminar
- Saresehan
- Advokasi
- Dinamika Kelompok
- Bimbingan sosial (pedoman bimbingan
sosial)
- Peringatan hari besar Nasional
- Kegiatan usaha ekonomi produktif (UEP)

4) Spiritual
- Bimbingan Ibadah
- Pembinaan kerohanian
- Pengajian
- Pembinaan mental
- Lomba bidang kerohanian

Modul Pendampingan PSLU | 73


4. Kerangka Kerja Pendamping PHLU
a) Siapa yang dimaksud dengan pendamping
Pendamping PHLU adalah seseorang yang karena
keahliannya memberikan pelayanan lansia di PHLU.
Kompetensi di dapat melalui pelatihan untuk
memberikan bimbingan dan pendampingan lanjut
usia di PHLU agar dapat menjalankan fungsi
sosialnya secara wajar.
b) Siapa saja yang dapat menjadi pendamping PHLU
Pendamping bisa terdiri dari unsur : pekerja
sosial,perawat, relawan dan lain-lain, yang memenuhi
persyaratan yang telah ditentukan.

c) Apa syarat menjadi calon pendamping


1) Minimal berusia 20 tahun.
2) Sehat secara fisik, mental dan sosial yang
dibuktikan dengan surat keterangan kesehatan).
3) Pendidikan formal minimal SLTP/sederajat.
4) Mempunyai perhatian dan kepedulian terhadap
lanjut usia.
5) Di utamakan mempunyai pengalaman
mendampingi ataupun merawat lanjut usia
6) Sering berkomunikasi dan berinteraksi dengan
lanjut usia.
7) Bersedia dan sanggup mengikuti pelatihan/
pemantapan petugas pendamping lanjut usia di
PHLU
8) Menandatangani surat pernyataan sebagai
pendamping dan bersedia melaksanakan kontrak
kerja pendampingan,
9) Jangka waktu dan status pendamping ditentukan
oleh masing-masing penyelenggara.

74 | Modul Pendampingan PSLU


d) Apa etika seorang pendamping ?
1) Berpenampilan sederhana, rapi, ramah dan sopan
2) Mampu menempatkan diri dalam situasi apapun.
3) Mampu berkomunikasi
4) Menghormati suku, agama dan ras lanjut usia
5) Mengendalikan diri dari kebiasaan yang
membahayakan lanjut usia (merokok, minum
alkohol, dll).
6) Menggunakan Tanda Pengenal (ID) selama
melakukan pendampingan lanjut usia

e) Fungsi dan peran pendamping


1) Fungsi pendamping adalah:
Fungsi pencegahan, yaitu melakukan
berbagai kegiatan untuk mencegah agar
lanjut usia tidak mengalami stress dan
kepikunan.
Fungsi pemulihan, yaitu melakukan berbagai
kegiatan untuk meningkatkan fungsi sosial
lansia dalam keluarga dan masyarakat.
Fungsi pengembangan, yaitu melakukan
berbagai kegiatan untuk menjaga dan atau
meningkatkan kemampuan lanjut usia dalam
melakukan berbagai aktivitas sehari-hari atau
menyalurkan hobi dan bakat.
2) Peran pendamping dapat dikelompokkan :
Memandirikan sesuai dengan kemampuan
lanjut usia itu sendiri
Melaksanakan prinsip prinsip
pendampingan
Melakukan komunikasi (berbicara/
mendengar dan mengetahui bahasa tubuh).

Modul Pendampingan PSLU | 75


Memperhatikan kesehatan, kebersihan,
keamanan dan kenyamanan lanjut usia.
Asistensi dalam kegiatan di PHLU
Membantu memenuhi kebutuhan dasar
lansia selama mengikuti PHLU
Melatih pergerakan tubuh / olah raga

f) Siapa yang menjadi sasaran program pelayanan PHLU


1) Sasaran Langsung
Lanjut usia potensial yang tinggal sendiri,
bersama keluarga, baik keluarganya sendiri
maupun keluarga pengganti;
Pra lansia yang sudah berusia 56 tahun

2) Sasaran Tidak Langsung


Keluarga
Keluarga dengan lansia mandiri dan
memerlukan fasilitasdan sarana pengisian
waktu luang bagi lansianya di siang hari.
Masyarakat
Dalam rangka pemenuhan kebutuhan dan
mengatasi hambatan lanjut usia diperlukan
peran serta dan penerimaan masyarakat .
Kelembagaan yang ada di masyarakat
Lembaga lokal seperti RW atau kantor
kelurahan sangat diharapkan untuk
menggerakan masyarakat memanfaatkan
dan atau memberikan dukungan berupa
fasilitasi serta tenaga penyelenggara PHLU
diwilayahnya.

76 | Modul Pendampingan PSLU


g) Apa yang harus dilakukan saat terjadi gangguan
kesehatan atau masalah psikososial?
1) Merawat Lanjut Usia yang Sakit
Memeriksakan lanjut usia kepada dokter atau
petugas kesehatan yang tersedia di PHLU,
bila perlu atas persetujuan keluarga / lansia
dirujuk di Puskesmas, Rumah Sakit atau
dokter praktik untuk mendapat diagnosis dan
pengobatan
Memberikan obat untuk diminum sesuai
dosis yang telah ditetapkan oleh dokter
2) Merawat Lansia yang mengalami masalah
psikososial
Pendampingan psikososial, meliputi kegiatan
mendampingi lanjut usia yang menderita
traumatik dan mengadakan rujukan psikososial.
Mendampingi Lansia Yang Mengalami
Tekanan atau Kecemasan
Pendamping hanya membantu
menenangkan, mendampingi (ditemani),
didengarkan keluhannya dan diberi
dukungan.
Mengadakan Rujukan Psikososial
Bagi Lanjut Usia yang memerlukan
perawatan medis dan rehabilitasi
psikososial, para pendamping mempunyai
tugas :
- Merujuk ke Rumah Sakit dan/atau
Trauma Center untuk mendapat
perawatan medis dan rehabilitasi
psikososial dari dokter dan ahli
psikososial atas persetujuan keluarga
dan lansia
Modul Pendampingan PSLU | 77
- Mengunjungi secara ke rumah, selama
ia menjalani perawatan dari dokter dan
ahli psikoterapi
- Memastikan lansia kembali kelingkungan
keluarga setelah menjalani program
terapi oleh ahli

h) Bagaimana mekanisme kerja pendamping ?


Mekanisme kerja pendamping terhadap lanjut usia,
lembaga yang menugaskan maupun mitra
kelembagaan serta pemerintah dapat dilihat pada
skema berikut ini :

SKEMA 1.
Keterkaitan bebagai pihak dalam pendampingan lanjut usia

RUMAH SAKIT
PSTW
PUSKESMAS
PEMERINTAH
SETEMPAT

KEMSOS
PETUGAS LANJUT USIA &
PENDAMPING DINSOS

KELUARGA MASYARAKAT
LANJUT USIA &
Private Sector

Keterangan :
= hubungan langsung
= hubungan dukungan
= saling koordinasi

78 | Modul Pendampingan PSLU


a. Pelayanan terhadap lanjut usia sesuai dengan
kebutuhan lanjut usia yang didampingi.
b. Mendorong keluarga lanjut usia untuk mendukung
aktifitas lansia di PHLU
c. Menjalin hubungan kerja dengan Puskesmas
untuk rujukan perawatan medis
d. Menjalin hubungan kerja dengan pemerintah
setempat dan lembaga-lembaga lainnya untuk
berperan dalam pemberian fasilitas yang
dibutuhkan lanjut usia
e. Menjalin hubungan kerja dengan instansi
pemerintah, swasta dan LSM
f. Mempertanggung-jawabkan seluruh kegiatan
yang dilakukan tenaga pendamping terhadap
lanjut usia maupun kegiatan-kegiatan yang
berhubungan dengan mitra kerja kepada lembaga
penugasan.

i) Dengan siapa saja pendamping dapat bekerjasama/


bermitra?
1) Kerjasama dengan keluarga
Menjalin hubungan kerja (komunikasi) dengan
keluarga adalah hal yang paling penting
dilakukan. Dalam hal ini keluarga turut dilibatkan
dalam pelaksanaan pendampingan, terutama
mendukung kebutuhan lansia saat dirumah.
2) Membentuk jaringan kemitraan dengan pihak
terkait
Dalam melakukan tugas pendampingan lanjut
usia di rumah maka perlu dibentuk jaringan
kemitraan dengan pihak terkait (pengandil).

Modul Pendampingan PSLU | 79


Adapun pengandil yang dimaksud adalah :
a. RT/RW dan Kelurahan untuk administrasi
kependudukan
b. Pemerintah, Pemerintah Daerah Provinsi dan
Kabupaten/Kota serta Instansi terkait (antara
lain Dinas Sosial dan Dinas Kesehatan).
c. Relawan.
d. Puskesmas untuk pemeriksaan kesehatan
dan Rumah Sakit untuk rujukan
e. Rumah Sakit. Umum
f. Rumah Sakit Jiwa
g. Klinik Geriatri
h. Dunia Usaha (CSR)
i. Asosiasi-asosiasi profesi terkait.
j. Perguruan Tinggi
k. Lembaga Bantuan Hukum
l. Lembaga Swadaya Masyarakat./ Orsos
orsos (PKK/PSM/BKL/PMI)
m. PSTW (bila penyelenggara PHLU bukan
PSTW)

E. PROSES PEMBELAJARAN
Peran
No. Pokok Bahasan Waktu
Fasilitator Peserta
1. Perkenalan 20 - -
mnt
2. Penyajian Pokok- Fasilitator Peserta
pokok bahasan menyajikan mengikuti
setiap pokok penyajian, tanya
bahasan jawab pada
setiap akhir sesi
masing-masing
pokok bahasan

80 | Modul Pendampingan PSLU


3. Tanya Jawab Fasilitator Peserta
memfasilitasi menjawab
tanya jawab berbagai
dengan pertanyaan yang
mengajukan berkaitan dengan
pertanyaan yang substansi dan
berkaitan dengan konteks
substansi dan pelayanan PHLU,
konteks ruang lingkup
pelayanan PHLU, pendampingan,
ruang lingkup kerangka kerja
pendampingan, pendamping
kerangka kerja PHLU
pendamping
PHLU

4. Diskusi Kelompok Fasilitator Peserta


membagi peserta melakukan
latihan ke dalam diskusi Kelompok
tiga kelompok. 1 membahas dan
melakukan role
playing tentang
tahapan dan
proses
pendampingan.
Kelompok 2
membahas dan
melakukan role
playing mengenai
mekanisme kerja
pendamping
Kelompok 3
membahas dan
melakukan role
playing mengenai
kiat-kita bermitra
dalam
pendampingan
PHLU lansia
5. Diskusi Pleno Fasilitator Peserta
memfasilitasi melakukan
diskusi pleno diskusi pleno
mengenai hasil mengenai hasil
kerja setiap kerja setiap
kelompok kelompok
6. Refleksi/Pembulatan 30 Fasilitator -
mnt memberikan
masukan
mengenai
kesimpulan akhir

Modul Pendampingan PSLU | 81


F. METODE PEMBELAJARAN
1. Ceramah
Penyajian konsep-konsep tentang PHLU, ruang lingkup
pendampingan sosial dalam PHLU dan kerangka kerja
pendamping sosial PHLU, yang berfungsi untuk
mengenalkan konsep yang abstrak dan pemberian
informasi. Ceramah berlangsung secara interaktif, artinya
tercipta interaksi antara fasilitator dengan peserta berupa
tanya jawab, baik selama ceramah berlangsung maupun
setelah ceramah berakhir.

2. Tanya jawab
Tanya jawab digunakan untuk menghargai motivasi
pribadi peserta. Prinsip pendekatan andragogi antara lain:
tidak menganggap peserta sebagai orang yang tidak tahu
tentang topik yang sedang dibahas

3. Diskusi
Diskusi kelompok; dilakukan ketika peserta mendalami
suatu materi yang dilakukan sesama peserta latihan
dalam kelompok.
Metode ini berpusat pada peserta bimbingan teknis,
dimana dapat dilakukan bervariasi dari situasi yang tidak
terstruktur sampai kepada situasi yang terstruktur. Melalui
diskusi kelompok akan dicapai perubahan pada peserta
bimbingan teknis dalam aspek motivasi, emosi dan sikap.

4. Pembahasan Kasus
Metode ini digunakan untuk meningkatkan kemampuan
peserta bimbingan teknis dalam asesmen kebutuhan/
masalah, analisis masalah, serta pemecahan masalah.

82 | Modul Pendampingan PSLU


5. Permainan Peran
Metode ini dilakukan ketika peserta untuk menghayati
suatu persoalan dengan memainkan peran-peran yang
telah direncanakan sesuai dengan topik yang sedang
dibahas.

G. PRINSIP- PRINSIP PEMBELAJARAN


Prinsip-prinsip pembelajaran dalam menggunakan modul ini
sebagai berikut :
1. Kesiapan
Fasilitator memiliki kesiapan sebelum menyampaikan
materi bimbingan teknis dengan mempersiapkan dan
membaca bahan-bahan yang akan disajikan.
2. Partisipasi
Fasilitator dan peserta terlibat secara aktif dalam proses
pembelajaran baik dalam mengajukan pertanyaan,
melaksanakan tugas-tugas terstruktur maupun dalam
mengembangkan metode dan materi bimbingan teknis.
3. Demokrasi
Bimbingan teknis bersifat terbuka dan setara di mana
seluruh peserta bimbingan teknis memiliki hak yang sama
dalam mengemukakan argumentasinya secara aktif dan
terbuka.
4. Kapabilitas
Fasilitator memiliki kapasitas yang memadai dalam
menguasai materi bimbingan teknis. Peserta memiliki
kompetensi dasar yang diperlukan sesuai dengan
bimbingan teknis yang diikutinya.
5. Penggunaan Alat Bantu
Proses pembelajaran hendaknya disertai dan didukung
oleh alat bantu bimbingan teknis yang memadai seperti
audio visual dan multi media untuk memudahkan
pencapaian tujuan bimbingan teknis.

Modul Pendampingan PSLU | 83


6. Praktis
Mata diklat hendaknya diarahkan agar konsep-konsep
teoritis dapat merespon kondisi-kondisi praktis di
lapangan.

H. ALAT BANTU
1. Buku dan Modul
2. LCD Projector
3. OHP,
4. Flipchart
5. Spidol
6. Kertas Plano
7. Papan-tulis,
8. Sound-system,
9. Berbagai alat peraga yang sesuai
10. Film (VCD) tentang program pemberdayaan fakir miskin

I. EVALUASI PEMBELAJARAN
Evaluasi merupakan kegiatan yang perlu dilaksanakan pada
setiap bimbingan teknis. Aspek-aspek yang dievaluasi pada
bimbingan teknis ini adalah:
1. Evaluasi reaksi
Evaluasi ini merupakan respon atau tanggapan peserta
terhadap proses pembelajaran dan penyelenggaraan
bimbingan teknis.
2. Evaluasi Belajar
Evaluasi dilakukan untuk mengetahui perubahan atau
peningkatan terhadap aspek-aspek pengetahuan, sikap
dan keterampilan peserta.
3. Evaluasi Perilaku
Evaluasi dilakukan untuk mengetahui perubahan tingkah
laku peserta selama dan setelah proses bimbingan
teknis.
84 | Modul Pendampingan PSLU
4. Evaluasi Hasil
Evaluasi dilakukan setelah bimbingan teknis berakhir
untuk mengetahui pemanfaatan hasil bimbingan teknis
terhadap kinerja di dalam organisasi, produktifitas
organisasi dan kelompok dampingan (masyarakat).
Adapun evaluasi yang digunakan dalam bimbingan teknis
ini adalah evaluasi proses dan evaluasi hasil.

Evaluasi tersebut meliputi:


Kemampuan peserta dalam menjelaskan pengertian
PHLU, pendampingan lansia selama mengikuti aktifitas
di PHLU
Kemampuan peserta dalam menyebutkan prinsip-prinsip
metoda pekerjaan sosial dengan masyarakat.
Kemampuan peserta dalam mengutarakan metode,
teknis, tahapan dan proses pendampingan sosial
Kemampuan peserta dalam menerapkan secara contoh
tentang metode, teknik, tahapan dan proses
pendampingan PHLU

DAFTAR PUSTAKA
Zastrow, Charles H. (2000), Introduction to Social Work and
Social Welfare, Pacific Grove: Brooks/Cole
Kementerian Sosial RI (2011), Pedoman Pelayanan Harian
Lanjut Usia

Modul Pendampingan PSLU | 85


86 | Modul Pendampingan PSLU
MODUL PENDAMPINGAN
USAHA EKONOMI PRODUKTIF (UEP)
BAGI LANJUT USIA

KEMENTERIAN SOSIAL RI
DIREKTORAT JENDERAL REHABILITASI SOSIAL
DIREKTORAT PELAYANAN SOSIAL LANJUT USIA
2014

Modul Pendampingan PSLU | 87


88 | Modul Pendampingan PSLU
MODUL PENDAMPINGAN
USAHA EKONOMI PRODUKTIF (UEP)
BAGI LANJUT USIA

A. DESKRIPSI RINGKAS
Peran masyarakat dalam penyelenggaraan kesejahteraan
sosial lanjut usia secara simultan mengalami perkembangan
yang sangat pesat pada akhir-akhir ini. Pesatnya pelayanan
kesejahteraan sosial yang di selenggarakan oleh masyarakat
di berbagai lapisan menunjukkan, bahwa penyediaan
pelayanan sosial lanjut usia merupakan tanggung jawab
pemerintah dan masyarakat.
Salah satu upaya nyata untuk meningkatkan kesejahteraan
sosial terhadap lansia adalah meningkatkan investasi sosial
lanjut usia. Investasi Sosial dimaksud diberikan dalam bentuk
pemberian tambahan modal usaha kepada para lanjut usia
yang produktif, sehat dan aktif. Tujuan dari pemberian
tambahan modal Usaha Ekonomi Produktif (UEP) terhadap
lansia adalah untuk memberikan kesempatan kepada lanjut
usia agar lebih produktif dan dapat meningkatkan usahanya
sebagai penopang kehidupannya.
Mengingat pentingnya peranan pendamping dalam
pemberian UEP kepada lanjut usia, maka diperlukan seorang
pendamping sebagai motivator dan pembimbing guna
kelancaran pelaksanaan UEP. Seorang pendamping berasal
dari unsur masyarakat yang ada di sekitar tempat tinggal lanjut
usia yang menjadi dampingannya.
Sehubungan dengan hal tersebut diatas, maka diperlukan
Modul Pendampingan Usaha Ekonomis Produktif bagi lanjut
usia sebagai bahan pembekalan pelaksanaan tugas di
lapangan.

Modul Pendampingan PSLU | 89


B. TUJUAN PEMBELAJARAN
1. Tujuan Umum
Peserta bimbingan teknis diharapkan dapat memahami,
dan melaksanakan pendampingan, sesuai tugas pokok dan
fungsinya guna keberhasilan pelaksanaan investasi
sosial.

2. Tujuan Khusus
a. Peserta dapat menjelaskan dan memahami substansi
dan konteks pendampingan lansia melalui kegiatan
UEP, ruang lingkup kegiatan pendampingan, tahapan
dan proses serta teknis dan peran pendampingan;
b. Peserta dapat menerapkan keterampilan dan sikap
sebagai pendamping UEP lansia,
mengimplementasikan peran dan fungsinya serta
tahap dan proses pendampingan UEP lansia;
c. Peserta dapat merancang disain / format dan
instrumen pendampingan pengembangan investasi
melalui kegiatan UEP lansia.
C. POKOK-POKOK BAHASAN
1. Substansi dan Konteks pendampingan
2. Persyaratan dan Kriteria Pendamping
3. Tahapan dan Proses Pendampingan
4. Cara dan Strategi Praktis Pendampingan
5. Peran dan tugas pendamping
6. Panduan Pendampingan UEP Lansia
7. Evaluasi
D. BAHAN PEMBELAJARAN BIMBINGAN TEKNIS
1) Substansi dan Konteks Pendampingan
Dalam melaksanakan kegiatan pendampingan seorang
pendamping dapat mempersiapkan diri dengan

90 | Modul Pendampingan PSLU


mempunyai jiwa sosial serta memiliki kemampuan untuk
mengembangkan wira usaha agar para lansia yang sudah
mulai menurun kemampuannya dalam mengelola
kegiatan usaha dapat diberikan motivasi dan bimbingan
oleh seorang pendamping. Oleh karena itu keberadaan
seorang pendamping sangat dibutuhkan dalam
pengembangan UEP lanjut usia.

2) Persyaratan dan Kriteria Pendamping UEP Lansia


Dalam rangka meningkatkan dan mengembangkan serta
keberlangsungan untuk suatu usaha bagi lansia diperlukan
seorang pendamping. Pelaksanaan kegiatan usaha lansia
perlu didampingi oleh seorang pendamping sebagai
tempat untuk berkonsultasi tentang usaha yang
dijalankannya.
Oleh karena itu ada beberapa persyaratan integritas yang
harus dimiliki oleh seorang pendamping, yaitu :
a) Kepedulian yang tinggi dan empati kepada lansia
yang didampinginya.
b) Semangat dan wawasan kewirausahaan.
c) Keterampilan dan pengalaman teknis serta sikap
yang positif dan mendukung kewirausahaan.
d) Kejujuran dan tanggung jawab terhadap klien lanjut
usia dan keluarga yang menjadi binaannya.
e) Kemampuan mengelola dan mengkoordinasikan
kegiatan usaha lansia binaannya.
f) Bersedia dan sungguh sungguh mendampingi dan
membimbing usaha ekonomi produktif yang dilakukan
para lansia.
g) Pendidikan minimal SLTA.

Modul Pendampingan PSLU | 91


Sedangkan lansia yang didampingi untuk melakukan
kegiatan usaha ekonomi produktif (UEP) harus memiliki
kriteria - kriteria sbb :
a) Seseorang yang sudah berusia 60 tahun sebagaimana
diatur dalam Undang-Undang Nomor 13 tahun 1998
Tentang Kesejahteraan Lanjut Usia.
b) Lansia yang mempunyai motivasi untuk
melaksanakan kegiatan usaha serta yang sudah
memiliki emberio usaha.
c) Lansia yang mempunyai keinginan untuk
meningkatkan dan mengembangkan usahanya.
d) Adanya dukungan dari keluarga.

3) Tahapan dan Proses Pendampingan


Seorang pendamping dalam melakukan tugasnya harus
mempunyai kemampuan yang lebih untuk mengkoordinir
lansia yang mempunyai usaha. Hal ini dimaksudkan agar
seorang pendamping dapat mengarahkan usaha lansia
secara terarah dan terukur agar mendapatkan
keberhasilannya. Adapun proses tahapan seorang
pendamping untuk membuat kemajuan usaha lansia
adalah sebagai berikut :
a) Melakukan perkenalan dan pendekatan awal terhadap
siapa diri pendamping, apa yang perlu didampingi dan
hal-hal yang harus menjadi kewajiban dan
tanggungjawab bersama dalam pendampingan UEP
b) Mendata dan melakukan asesmen kebutuhan dan
masalah pendampingan.
c) Merencanakan dan memilih jenis usaha dan tahapan
pendampingan.
d) Melakukan pendampingan secara terprogram.

92 | Modul Pendampingan PSLU


e) Mengkomunikasikan dan mensosialisasikan
substansi, proses dan hasil pendampingan kepada
para pihak yang berkepentingan.
f) Melakukan pengendalian, supervisi dan pemantauan
pendampingan.
g) Menyusun dan menyampaikan serta
mendiseminasikan laporan pendampingan.
h) Melakukan evaluasi.
i) Menyiapkan terminasi, atau penghentian
pendampingan jika sudah diperlukan dan sesuai
tahapan yang telah ditetapkan.
j) Menyiapkan dan mengimplementasikan rujukan
pendampingan berupa dukungan masyarakat dan
institusi yang lebih luas.
k) Mengimplementasikan terminasi.

4) Cara dan Strategi Praktis Pendampingan


Seorang Pendamping dalam melaksanakan tugasnya
harus mempunyai strategi agar dapat berhasil dalam
mengelolanya. Ada beberapa cara yang dapat dilakukan
oleh seorang pendamping untuk meningkatkan kemajuan
usaha para lansia yang diantaranya adalah :
a. Melakukan diskusi kelompok kepada binaannya untuk
membicarakan perkembangan usahanya.
b. Melakukan bimbingan teknis kepada para lansia
tentang cara mengelola usaha yang baik.
c. Melakukan konsultasi kepada mitra usaha.
d. Membimbing dan membantu pengelolaan keuangan
kegiatan usaha lansia.

Modul Pendampingan PSLU | 93


5) Peran dan Tugas Pendamping
Sebagai seorang pendamping peran dan tugas kemajuan
usaha para binaannya sangat bergantung kepadanya.
Oleh karena itu seorang pendamping dituntut untuk dapat
mendampingi para binaannya setiap saat. Ada beberapa
peran pendamping agar para lansia dapat meningkat
usahanya diantaranya adalah:
1. Rutin mengadakan pertemuan dan menjalin
silaturrahim sebagai sarana konsultasi para lansia
yang mempunyai usaha.
2. Giat memotivasi dan menginspirasi untuk memberi
semangat kepada lansia agar terus menjalankan
usahanya.
3. Membuka jejaring kerja kepada dunia usaha luar
sebagai pengembangan usaha yang dikelola
binaannya.
4. Sering melakukan pembinaan dan bimbingan serta
pemantauan terhadap binaannya yang mempunyai
usahanya.
5. Ulet dan giat mencarikan bapak angkat atau mitra
usaha bagi kegiatan usaha lansia.

6) Panduan Praktis Pendampingan


Dalam melaksanakan tugasnya sehari hari seorang
pendamping menjadi sosok yang dapat dijadikan panutan
oleh para binaannya. Oleh karenanya, seorang
pendamping dalam bertindak harus mencerminkan
seorang pemimpin yang baik. Ada beberapa hal yang tidak
boleh dilakukan oleh seorang pendamping diantaranya :
a. Seorang pendamping UEP dilarang mencari
keuntungan pribadi dari lansia yang dibinanya.

94 | Modul Pendampingan PSLU


b. Seorang pendamping tidak boleh menentukan harga
yang dapat mengurangi keuntungan lansia binaannya
demi mendapatkan keuntungan pribadi.
7) EVALUASI
Indikator keberhasilan seorang pendamping dalam
mengembangkan usaha binaannya, dapat dilihat dari
semakin berkembang serta mendapat dukungan yang kuat
dari masyarakat sekitar. Disamping itu evaluasi
merupakan sarana yang tidak kalah pentingnya akan
keberhasilan usaha tersebut. Oleh karena itu seorang
pendamping berkewajiban melakukan evaluasi dan
pemantauan terhadap kegiatan usaha yang dilakukan
oleh binaannya yang bertujuan untuk mengetahui
perkembangan usahanya. Evaluasi tersebut dimaksudkan
juga untuk memastikan apakah kegiatan usaha lansia
yang bersangkutan berjalan sesuai dengan rencana dan
ketentuan yang telah disepakati.
Evaluasi harus dilaksanakan 1 minggu 2 kali secara
berkelanjutan dan terarah serta menjadi tanggung jawab
seorang pendamping. Adapun aspek-aspek yang perlu
dievaluasi adalah :
a) Tentang pemilihan jenis usaha serta keberadaan
tempat usaha.
b) Cara pembelanjaan barang-barang yang akan
diproduksi dan dijual.
c) Pengelolaan uang hasil penjualan yang harus dibantu
oleh pendamping.
d) Teknis pelaksanaan kegiatan investasi sosial melalui
program UEP lansia selalu dimonitor oleh pendamping
maupun keluarga lansia.

Modul Pendampingan PSLU | 95


Kalau semua ini dapat berjalan dengan beriringan, maka
secara umum keberhasilan seorang pendamping lansia
dalam kegiatan UEP ini dapat dikatakan berhasil apabila
sbb:
1) Jika seorang lansia merasa bahagia karena mmpunyai
kegiatan usaha yang penghasilannya dapat menopang
kehidupan sehari-hari.
2) Lansia dapat hidup lebih mandiri tanpa bergantung
bantuan orang lain.
3) Lansia dapat membantu kehidupan anak-anak nya
bahkan cucu mereka.
4) Adanya dukungan dari anggota keluarga.

E. PROSES PEMBELAJARAN
No Pokok Bahasan Waktu PERAN
(menit) Fasilitator Peserta
1. Pendahuluan 45 penyaji Penangap, pemberi
umpan-balik
2. Pendampingan UEP lansia: 225 Penyaji, pengarah Penanggap, pemain
substansi, kriteria dan sosiodrama/peragaan sosiodrama/peragaan
persyaratan, tahapan,
peran dan tugas dan
sebagainya
3. Pengakhiran 135 Penyaji, fasilitator Ko-fasilitator,
narasumber

F. METODE PEMBELAJARAN
Pada prinsipnya metode pembelajaran harus partisipasitif dan
variatif disesuasikan dengan konteks dan situasi
pembelajarannya. Berikut metode pembelajaran yang
dipergunakan :
1. Ceramah
Penyajian konsep-konsep monitoring yang berfungsi untuk
mengenalkan konsep yang abstrak dan pemberian
informasi. Ceramah berlangsung secara interaktif, artinya

96 | Modul Pendampingan PSLU


tercipta interaksi antara fasilitator dengan peserta berupa
tanya jawab, baik selama ceramah berlangsung maupun
setelah ceramah berakhir.

2. Tanya jawab
Tanya jawab digunakan untuk menghargai motivasi
pribadi peserta. Prinsip pendekatan andragogi antara lain:
tidak menganggap peserta sebagai orang yang tidak tahu
tentang topik yang sedang dibahas.

3. Diskusi
Metode ini berpusat pada peserta bimbingan teknis,
dimana dapat dilakukan bervariasi dari situasi yang tidak
terstruktur sampai kepada situasi yang terstruktur. Melalui
diskusi kelompok akan dicapai perubahan pada peserta
bimbingan teknis dalam aspek motivasi, emosi dan sikap.

4. Pembahasan Kasus
Metode ini digunakan untuk meningkatkan kemampuan
peserta bimbingan teknis dalam asesmen kebutuhan/
masalah, analisis masalah, serta pemecahan masalah.

5. Visualisasi
Metode ini bermanfaat bagi peserta bimbingan teknis
dalam peningkatan kemampuan penghayatan,
pemahaman, kritisi, serta refleksi diri melalui media
tayang.

Modul Pendampingan PSLU | 97


G. PRINSIP- PRINSIP PEMBELAJARAN
Pembelajaran dijalankan dengan mengedepankan prinsip-
prinsip antara lain:
1. Keterpaduan
Pembelajaran harus mementingkan keterpaduan antara
berbagai komponen: fasilitator dengan peserta; materi
dengan alat dan media pembelajaran; metode yang satu
dengan metode yang lain.

2. Tidak Menggurui
Prinsip Tidak menggurui mengandung konotasi bahwa baik
fasilitator maupun peserta belajar ada dalam relasi setara,
tidak bersifat perintah dan instruksi yang memaksa atas
satu isu pembelajaran tertentu, serta mendiktekan
kepentingan sendiri kepada pihak lain dan mengklaim
kebenaran hanya ada di salah satu pihak saja; Belajar
dilakukan secara persuasif, menggugah minat peserta
belajar.

3. Belajar dari Pengalaman


Prinsip belajar dari pengalaman diwujudkan dengan
menggali dan mengembangkan kemampuan analisis
belajar peserta diklat berdasarkan refleksi dan
pemaknaannya terhadap pengalamann diri sendiri dan
orang lain. Ini sesuai dengan semboyan Pengalaman
adalah guru yang terbaik. Belajar dari pengalaman juga
diwujudkan dalam pemberian kesempatan yang seluas-
luasnya kepada peserta belajar untuk belajar sendiri
melalui pengalamannya atas praktek/pelaksanaan tugas/
kegiatannya (learning by doing).

98 | Modul Pendampingan PSLU


H. ALAT BANTU
1. Piranti Keras : kursi dan meja belajar,ruang diskusi papan
tulis, perangkat multimedia seperti komputer, LCD,
kamera, alat perekam dan audiovisual lainnya.

2. Piranti lunak : modul dan materi belajar yang ada dalam


buku-buku, dokumen hasil praktikum lapangan, laporan-
laporan diklat, program-program, materi dan modul
pembelajaran dari komputer dan internet, dan sebagainya.

3. Kertas-kertas lembar kerja.

4. Intrumen-instrumen studi kasus atau alat ukur/skala


pencapaian tujuan, pencapaian tugas dan sebagainya.

I. EVALUASI PEMBELAJARAN
Evaluasi merupakan kegiatan yang perlu dilaksanakan dalam
setiap bimbingan teknis. Aspek-aspek yang dievaluasi dalam
bimbingan teknis meliputi:
1. Evaluasi reaksi (reaction evaluation).
Evaluasi ini merupakan respon atau tanggapan peserta
terhadap proses pembelajaran dan penyelenggaraan
diklat.
2. Evaluasi belajar (learning evaluation).
Evaluasi dilakukan untuk mengetahui perubahan atau
peningkatan terhadap aspek-aspek pengetahuan, sikap
dan keterampilan peserta.
3. Evaluasi perilaku ( behavior evaluation).
Evaluasi dilakukan untuk mengetahui perubahan tingkah
laku peserta selama dan setelah proses bimbingan teknis.

Modul Pendampingan PSLU | 99


4. Evaluasi hasil (result evaluation).
Evaluasi dilakukan setelah bimbingan teknis berakhir
untuk mengetahui pemanfaatan hasil bimbingan teknis
alumni peserta, terhadap peningkatan kinerja dan
produktivitasnya didalam organisasi atau dalam keadaan
nyata di lapangan.

DAFTAR PUSTAKA
1. Irwansyah, SH dari Yayasan Al Amanah Jakarta Pusat.
2. Ilyas Saefulloh dari Yayasan Bhakti Karya Manunggal
(SANTIYAMA) Kota Tasikmalaya.
3. Hj. Rusmini Oon Mardani dari Yayasan Al Madiniyah Jakarta
Barat.
4. H. Ono Suharno Rd dari Yayasan Sri Asih Jakarta Pusat.

100 | Modul Pendampingan PSLU


MODUL PENDAMPINGAN SOSIAL
LANJUT USIA MELAUI PERAWATAN DI RUMAH
(HOME CARE)

KEMENTERIAN SOSIAL RI
DIREKTORAT JENDERAL REHABILITASI SOSIAL
DIREKTORAT PELAYANAN SOSIAL LANJUT USIA
2014

Modul Pendampingan PSLU | 101


102 | Modul Pendampingan PSLU
MODUL PENDAMPINGAN SOSIAL
LANJUT USIA MELAUI PERAWATAN DI RUMAH
(HOME CARE)

A. DESKRIPSI RINGKAS
Peningkatan usia harapan hidup yang diiringi dengan
penurunan angka kelahiran dan kematian Undang-undang nomor
13 tahun 1998 tentang kesejahteraan lanjut usia dan Undang-
undang nomor 39 tahun 1999 tentang Hak Azasi Manusia,
mengamanatkan bahwa negara mengetahui dan menjamin hak
azasi manusia tanpa terkecuali, termasuk penduduk lanjut usia.
Usaha pemerintah dalam mewujudkan lanjut usia sejahtera
dilakukan melalui berbagai program/kegiatan pengembangan
model bekerjasama dengan lembaga lintas sektor maupun lintas
program antara pemerintah dengan organisasi sosial, pemerintah
dan masyarakat secara bersama-sama. Namun kenyataan
menunjukkan masih banyak lanjut usia belum mendapatkan
perlindungan layanan sosial baik fisik maupun non-fisik.
Pelayanan sosial yang dilakukan selama ini adalah sistim
dalam panti seperti Panti Sosial Tresna Werdha (PSTW) dan sistem
luar panti sepert UEP, ASLUT Day Care dan Home Care.
Keterbatasan jumlah PSTW yang memberikan pelayanan kepada
lanjut usia sehingga masih sangat sedikit target layanan terhadap
lanjut yang memperloleh pelayanan. Pelayanan lanjut usia makin
dikembangkan dengan berbagai alternatif model lainnya antara
lain model pendampingan dan perawatan lanjut usia di rumah
(home care). Ciri utama model pelayanan pola home care adalah
pemegang peran utama dalam perawatan dan pendampingan di
rumah dilakukan oleh anggota keluarga itu sendiri. Dalam hal tidak
adanya anggota keluarga yang dapat melakukan fungsi perawatan

Modul Pendampingan PSLU | 103


dan pendampingan, maka dapat dilakukan oleh anggota
masyarakat yang tinggal dilingkungan yang sama dengan lanjut
usia.
Untuk menyatukan pemahaman para pendamping dalam
melakukan pendampingan dan perawatan lanjut usia di rumah
secara terencana, terarah, terpadu dan tepat sasaran, maka
diperlukan modul yang dapat mengarahkan pendamping dalam
melakukan tugasnya sesuai dengan kebutuhan layanan lanjut usia.
Identifikasi permasalahan lanjut usia di rumah mencakup :
1. Masalah aksesibilitas, terutama kebiasaan sehari-hari, yakni
pengertian terhadap rutinitas keberhasilan dan kesehatan
pribadinya.
2. Masalah insekuritas terutama akibat kesendirian, kerawanan
terhadap gangguan keamanan, keterlantaran dan pelecehan.
3. Keterbatasan anggota keluarga dalam memberikan layanan
kebutuhan lanjut usia sehari-hari seperti :
a. Kebutuhan dasar (ADL) mencakup hal-hal seperti:
1). Mandi
2). Berpakaian/mengganti pakaian
3). Menyisir rambut
4). Buang air besar/kecil
5). Menahan kotoran
6). Berpindah tempat misalnya bangun tidur/beristirahat
7). Berjalan
9). Makan

b. Kebutuhan sehari-hari (Instrumental Activities of Daily


Living) mencakup hal-hal seperti :
1). Menggunakan alat komunikasi seperti telepon
2). Bepergian
3). Berbelanja

104 | Modul Pendampingan PSLU


4). Menyiapkan makanan
5). Melakukan pekerjaan di rumah
6). Minum obat
7). dll
Dalam hal ini, keluarga seringkali tidak mampu merawat lanjut
usia dalam keadaan; sakit, cacat, lemah dan pikun/dimensia dan
korban kekerasan (lanjut usia traumatik).

B. TUJUAN PEMBELAJARAN
1. Tujuan umum
Modul ini ditujukan untuk membantu peserta bimbingan
teknis pendamping sosial lansia, yakni para pekerja
sosial/relawan sebagai pendamping lansia dalam
pendampingan home care, maupun pekerja sosial/
relawan sebagai pendamping lansia yang bersifat
sukarela atau TKSM, dalam meningkatkan pemahaman
mengenai hakekat pendampingan sosial terhadap lansia,
dalam setting home care. Sehingga, setelah mengikuti
bimbingan teknis pendamping sosial lansia ini diharapkan
mereka memiliki pengetahuan mengenai ruang lingkup,
tujuan dan prinsip-prinsip dasar dalam pendampingan,
khususnya pendampingan kelompok lansia dalam
pendampingan home care.

2. Tujuan khusus
Meningkatkan kompetensi peserta sehingga mereka
memiliki pemahaman, keterampilan dan sikap yang
menyangkut:
a. Substansi dan konteks pendampingan lansia dalam
home care.

Modul Pendampingan PSLU | 105


b. Ruang Lingkup Pendampingan Sosial Lansia dalam
home care.
c. Kerangka kerja pendamping sosial lansia dalam home
care.

C. POKOK BAHASAN
1. Substansi dan konteks:
a. Makna home care
b. Manfaat home care
c. Alasan diperlukan home care
d. Tujuan penyelenggaraan home care
e. Sasaran pelayanan home care

2. Ruang Lingkup Pendampingan Sosial di rumah (home


care)
a. Pengertian Pendampingan home care
b. Prinsip pendampingan home care
c. Jangka waktu pelaksanaan pendampingan
d. Tahapan dan proses pendampingan home care
e. Teknik yang digunakan dalam pendampingan home
care

3. Kerangka kerja pendamping sosial dalam home care


a. Pengertian dan identitas pendamping
b. Syarat dan kriteria pendamping home care
c. Etika dan panduan pendamping home care
d. Pengetahuan dasar pendamping home care
e. Hak, kewajiban dan tanggung jawab pendamping
home care
f. Tugas, peran dan fungsi pendamping home care
(utamakan peran pendamping)
g. Mekanisme kerja pendamping
h. Mitra kerja pendamping
106 | Modul Pendampingan PSLU
D. BAHAN PEMBELAJARAN/BIMBINGAN
1. Substansi dan Konteks Home Care
a. Apa yang disebut dengan Home Care
Home Care adalah bentuk pelayanan pendampingan
dan perawatan lanjut usia di rumah sebagai wujud
perhatian terhadap lanjut usia dengan
mengutamakan peran masyarakat berbasis keluarga.

b. Apa manfaat Home Care ?


Pelayanan lanjut usia di rumah sangat membantu
lanjut usia yang mempunyai hambatan fisik, mental
dan sosial, termasuk memberikan dukungan dan
pelayanan untuk hidup mandiri, sehingga mengurangi
beban pendamping, baik dari anggota keluarga,
teman, kerabat maupun tetangga yang membantu
memenuhi kebutuhannya.

c. Mengapa Home Care diperlukan


Karena keluarga yang seharusnya merupakan pranata
sosial pertama dan utama dalam mewujudkan lanjut
usia sejahtera, tidak dapat melaksanakan fungsinya
untuk memberikan perlindungan dan pelayanan
kepada lanjut usia. Dalam hal tidak adanya anggota
keluarga yang dapat menjalankan fungsi
pendampingan, maka dapat melibatkan anggota
masyarakat yang tempat tinggalnya sama dengan
lingkungan lanjut usia yang memerlukan
pendampingan ataupun perawatan di rumah.

Modul Pendampingan PSLU | 107


d. Apa tujuan penyelenggaraan Home Care
1) Meningkatnya kemampuan lanjut usia untuk
menyesuaikan diri terhadap proses perubahan
dirinya secara fisik, mental dan sosial.
2) Terpenuhinya kebutuhan dan hak-hak lanjut usia
agar mampu berperan dan berfungsi di
masyarakat secara wajar.
3) Meningkatnya peran serta keluarga dan
masyarakat dalam pendampingan dan perawatan
lanjut usia di rumah.
4) Terciptanya rasa aman, nyaman dan tentram bagi
lanjut usia, baik di rumah maupun di lingkungan
sekitarnya.

2. Ruang Lingkup Pendampingan Home Care


a. Prinsip pelayanan
Promote Independent Living, memberi
kesempatan kepada lanjut usia untuk hidup
dalam lingkungan keluarganya selama mungkin.
Selft determination, menentukan nasib sendiri/
tidak ada rasa keterpaksaan.
Respect Personal Culture and Life Style,
menghormati budaya dan agama masing-masing
Confidentiality, menjaga kerahasiaan.
Safety, memiliki rasa aman.
Empowerment, Pemberdayaan masyarakat
Flexibility, bila sewaktu-waktu lanjut usia
ataupun keluarga memerlukan pendampingan,
bisa menghubungi pendamping.
Sustainability, kesinambungan pelayanan perlu
dipertahankan.

108 | Modul Pendampingan PSLU


b. Prinsip Pendampingan
Terdapat 11 prinsip yang perlu diperhatikan, yaitu :
Hak azasi dan Kehormatan.
Semua hak azasi dan kehormatan berlaku bagi
kelompok lanjut usia. Dalam hidupnya lanjut usia
telah berkontribusi bagi pembangunan, oleh
karena itu berhak pula untuk menikmati kemajuan
pembangunan yang dicapai pada saat ini.

Individualisasi
Lanjut usia tidak sama satu dengan lainnya,
setiap lanjut usia mempunyai keunikan sendiri,
oleh sebab itu, kepada setiap lanjut usia perlu
diperhatikan kebutuhan, kepribadian serta
kekhususan masing-masing.

Kemandirian
Lanjut usia perlu dijamin agar dapat mandiri
dalam berbagai bidang, seperti pelayanan
kesehatan, jaminan pemeliharaan dalam bidang
sosial, ekonomi, transportasi, kegiatan,
perumahan, kesejahteraan sosial, terutama bila
mereka terkena kecacatan, sehingga mereka
mempunyai kemandirian.

Hak menentukan diri sendiri


Lanjut usia berhak turut menentukan kebijakan
pemerintah dalam bidang pelayanan kesehatan
dan sosial, terutama bagi mereka yang sudah tua
dan cacat.

Modul Pendampingan PSLU | 109


Keluarga sebagai sumber pemecahan.
Pelayanan bagi lanjut usia dapat diberikan di
rumahnya sendiri, karena dengan tinggal bersama
keluarga atau di rumahnya sendiri, lanjut usia
tersebut lebih bahagia dan sejahtera. Lingkungan
keluarga digunakan sebagai sumber pemecahan
masalah yang dirasakan oleh lanjut usia.
Aksesibilitas
Pelayanan masyarakat di berbagai bidang
diusahakan untuk dapat dicapai dengan mudah
oleh lanjut usia seperti pelayanan kesehatan,
tempat rekreasi, fasilitas pendidikan dan lain-
lain. Bila mungkin mereka dibebaskan dari biaya
pelayanan. Dalam hal tersebut sebagian fasilitas
sudah memberi kebebasan atau potongan/
keringanan.
Mengikutsertakan Lanjut usia (Engaging the Eld-
erly)
Mendorong ikatan antar generasi, semua
anggota keluarga, tetangga, masyarakat serta
lanjut usia, agar semuanya saling membantu
untuk meningkatkan kesejahteraan lanjut usia.
Mendorong lanjut usia untuk membantu generasi
muda serta berperan sebagai kakek atau nenek
asuh yang bijaksana dan penuh keteladanan.

Penggunaan bahasa lanjut usia


Pendamping harus mampu memahami bahasa
lanjut usia, baik bahasa tubuh, verbal, dan
psikologis yang dirasakan oleh lanjut usia. Jika
setiap Pendamping mampu menguasai bahasa

110 | Modul Pendampingan PSLU


mereka, maka akan mempermudah
menempatkan dirinya sebagai teman ngobrol/
curhat, sehingga proses pendampingan dilakukan
maksimal.

Produktivitas
Berbagai kegiatan yang dapat memberikan
kesempatan bagi lanjut usia untuk produktif perlu
difasilitasi sehingga tidak memberi peluang
untuk menganggur dan menarik diri dari
kehidupan bermasyarakat, terkecuali bagi mereka
yang kondisinya tidak memungkinkan.

Perawatan diri sendiri dan keluarga


Menyertakan lanjut usia dalam upaya
pemeliharaan kesehatan dirinya serta membantu
keluarga yang ada anggota lanjut usia, agar
mereka aktif merawat lanjut usia di rumah.

Pelibatan masyarakat
Setiap pendampingan lanjut usia di lingkungan
keluarga diperlukan pelibatan masyarakat. Warga
diperankan sebagai sumber dukungan sosial, jika
keluarga tidak mampu melaksanakan fungsi
sosialnya bagi lanjut usia karena berbagai faktor.
Sumber dukungan yang dapat diperoleh dari
masyarakat antara lain penyediaan fasilitas
sosial yang menjamin pendampingan berjalan
lancar, jaminan keamanan dalam pendampingan,
dan lain-lain.

Modul Pendampingan PSLU | 111


3. Kerangka Kerja Pendamping Home Care
a. Bagaimana proses pendampingan ?
Pendampingan dan perawatan lanjut usia di
lingkungan keluarga merupakan suatu proses
kegiatan yang terencana dan berkesinambungan,
mulai dari sosialisasi sampai terminasi, sebagai
upaya membantu lanjut usia, keluarga dan
masyarakat dalam rangka memenuhi kebutuhan
lanjut usia yang bersangkutan.

b. Berapa lama pelaksanaan pendampingan?


Lamanya proses pendampingan dan perawatan,
tergantung pada kesepakatan kerja antara
pendamping dengan lembaga yang menugaskannya,
kecuali lanjut usia meninggal dunia atau memutuskan
hubungan sebelum berakhirnya kesepakatan/masa
penugasan.

c. Bagaimana tahapan dan Proses pendampingan?


Tahap Pra Persiapan
1. Penyiapan kerangka penyelenggaraan
pendampingan baik dari segi administrasi
maupun teknis.
2. Penyusunan bahan sosialisasi.
3. Menyusun rencana dan materi sosialisasi tentang
Pendampingan dan perawatan lanjut usia di
lingkungan keluarga.
4. Pelaksanaan sosialisasi.
5. Mendayagunakan seoptimal mungkin sumber
daya kearifan lokal/kearifan lokal dan
mengadakan pendekatan kepada tokoh
masyarakat setempat, sehingga masyarakat

112 | Modul Pendampingan PSLU


bersedia memberi dukungan seperti penyediaan
tempat kegiatan, pertemuan, koordinasi, baik
bagi lanjut usia maupun bagi petugas
pendamping, termasuk rekruitmennya.

Tahap Persiapan
1. Pendataan lanjut usia
2. Pendataan Anggota /Keluarga Lanjut Usia
3. Pendataan Lingkungan
4. Pendataan sumber pendukung
5. Pengolahan dan analisis data / masalah
6. Penyusunan rencana pemecahan masalah

Tahap pelaksanaan pendampingan dan perawatan


Tahap ini merupakan pelaksanaan dari rencana yang
telah disusun dan disetujui oleh pihak-pihak yang
berkepentingan (lanjut usia, keluarga, pendamping).

Tahap Evaluasi
Evaluasi dilakukan untuk mengetahui apakah rencana
telah dilaksanakan dan berjalan lancar dan berhasil
atau mengalami hambatan. Dalam hal ini dapat
diketahui faktor pendukung dan faktor penghambat
serta cara mengatasi hambatan tersebut.

Tahap Terminasi
Pada tahap ini, proses pendampingan dapat diakhiri
setelah diadakan pertimbangan berdasarkan hasil
evaluasi.

Modul Pendampingan PSLU | 113


SKEMA
PENDAMPINGAN DAN PERAWATAN
LANJUT USIA DI LINGKUNGAN KELUARGA
Input pendampingan:
Adanya tenaga Proses:
pendamping terlatih Identifikasi
(sosial) untuk masalah
pendampingan lansia Kesepakatan
dirumah mengatasi
Adanya tenaga masalah
Kesehatan (dokter dan lansia dengan
perawat Puskesmas) keluarga
yang dapat memfasilitasi (peran dan
pelayanan ramah lanjut fungsi unit Output
usia (konsep wilayah yang terlibat)
puskesmas) Penyusunan Lansia
Adanya disiplin ilmu rencana sehat dan
terkait lainnya yang kegiatan dan mandiri
dapat memberikan implementasi
pelayanan pelayanan
(komplementer) pada usila
Populasi lansia yang dirumah
terus meningkat Monev
datransisi epidemiologi
penyakit infeksi ke
penyakit degeneratif.

4. Tehnik apa saja yang digunakan dalam pendampingan?


a. Teknik Pertemanan (companionship),
b. Teknik Asistensi Asuhan Diri (personal care),
c. Teknik Konsultasi (counselling),
d. Teknik Kerumahtanggaan (housekeeping),
e. Teknik Fasilitasi Urusan Pribadi (personal activity),
dan
f. Teknik Rujukan (referral).

2. Kerangka Kerja Pendamping Home Care


a. Siapa yang dimaksud dengan pendamping
Pendamping Home Care adalah seseorang dari
anggota keluarga atau warga masyarakat yang

114 | Modul Pendampingan PSLU


mempunyai kompetensi yang didapat melalui
pelatihan untuk memberikan bimbingan dan
perawatan lanjut usia di rumah agar lanjut usia dapat
menjalankan fungsi sosialnya secara wajar.

b. Siapa saja yang dapat menjadi pendamping Home


care
Pendamping bisa terdiri dari unsur : anggota keluarga/
masyarakat, Pekerja Sosial Masyarakat (PSM), Karang
Taruna (KT), Kader Posyandu, Anggota PKK, Anggota
Majlis Talim, dan lain-lain, yang memenuhi
persyaratan yang telah ditentukan dan telah
mengikuti pelatihan pendampingan.

c. Apa syarat menjadi calon pendamping


Minimal berusia 20 tahun.
Sehat secara fisik, mental dan sosial yang
dibuktikan dengan surat keterangan kesehatan).
Pendidikan formal minimal SLTP/sederajat.
Mempunyai perhatian dan kepedulian terhadap
lanjut usia.
Bersedia dan sanggup mengikuti pelatihan/
pemantapan petugas pendamping lanjut usia di
rumah (elderly home care service).
Menandatangani surat pernyataan kesanggupan
sebagai pendamping.
Jangka waktu dan status pendamping ditentukan
oleh masing-masing penyelenggara.

Modul Pendampingan PSLU | 115


d. Apa etika seorang pendamping ?
Berpenampilan sederhana, rapi, ramah dan sopan.
Mampu menempatkan diri dalam situasi apapun.
Mampu berkomunikasi.
Menghormati agama yang dianut lanjut usia.
Mengendalikan diri dari kebiasaan yang
membahayakan lanjut usia (merokok, minum
alkohol, dll).
Tidak menerima hadiah apapun yang diberikan
lanjut usia/ keluarganya.
Tidak melakukan kecurangan dan atau
peminjaman uang kepada lanjut usia dan
keluarga.
Tidak ikut dalam bentuk transaksi apapun yang
menyangkut / atas nama lanjut usia.
Tidak diperkenankan melakukan hubungan
pribadi yang melanggar norma agama dan adat
istiadat setempat.
Menggunakan Tanda Pengenal (ID) selama
melakukan pendampingan lanjut usia.

e. fungsi dan peran pendamping


1) Fungsi pendamping adalah:
Fungsi pencegahan, yaitu melakukan
berbagai kegiatan untuk mencegah agar
lanjut usia tidak mengalami kesulitan atau
masalah.
Fungsi pemulihan, yaitu melakukan berbagai
kegiatan untuk memenuhi kebutuhan,
mengatasi kesulitan, dan memecahkan
masalah yang dialami lanjut usia.

116 | Modul Pendampingan PSLU


Fungsi pengembangan, yaitu melakukan
berbagai kegiatan untuk menjaga dan atau
meningkatkan kemampuan lanjut usia dalam
melakukan berbagai aktivitas sehari-hari atau
menyalurkan hobi dan bakat.
2) Peran pendamping dapat dikelompokkan:
Memandirikan sesuai dengan kemampuan
lanjut usia itu sendiri.
Melaksanakan prinsip prinsip
pendampingan.
Melakukan komunikasi (berbicara/
mendengar dan mengetahui bahasa tubuh).
Memperhatikan kesehatan, kebersihan,
keamanan dan kenyamanan lanjut usia.
Melatih pergerakan tubuh / olah raga.
Memperhatikan kondisi lanjut usia di tempat
tidur (lama dan jadwal tidur).
f. Siapa yang menjadi sasaran program pelayanan
Home Care
1) Sasaran Langsung
Lanjut usia yang tinggal sendiri, atau tinggal
bersama keluarga, baik keluarganya sendiri
maupun keluarga pengganti;
mengalami hambatan, seperti yang sakit,
penyandang cacat, uzur.

2) Sasaran Tidak Langsung


Keluarga,
Pemeran utama dalam membantu memenuhi
kebutuhan lanjut usia, baik dari segi fisik,
mental maupun sosial.

Modul Pendampingan PSLU | 117


Masyarakat
Dalam rangka pemenuhan kebutuhan dan
mengatasi hambatan lanjut usia diperlukan
peran serta dan penerimaan masyarakat.
Kelembagaan yang ada di masyarakat
Lembaga lokal seperti RT dan RW sangat
diharapkan untuk menggerakan masyarakat
dan memfasilitasi berbagai kegiatan lanjut usia.

g. Apa yang harus dilakukan pendamping terhadap


lansia yang sakit, cacat , uzur dan mengalami
masalah psikososial?
1. Merawat Lanjut Usia Yang sakit
Dalam melaksanakan pendampingan dan
perawatan di rumah, pendamping dapat
menjalankan fungsi sebagai pramuwerdha/
pramurukti/ pramulansia dengan tugas sebagai
berikut :
Memeriksakan lanjut usia kepada dokter atau
petugas kesehatan di Puskesmas, Rumah
Sakit atau dokter praktik untuk mendapat
diagnosis dan pengobatan.
Memberikan obat untuk diminum sesuai
dengan petunjuk dokter/petugas kesehatan;
Membimbing lanjut usia agar dapat
mengikuti aturan yang dianjurkan dokter atau
petugas kesehatan.
Mendampingi lanjut usia yang sakit dengan
memberikan motivasi agar timbul rasa
optimisme untuk cepat sembuh dari
penyakitnya.
Memberikan bantuan perawatan kebersihan
tubuh selama sakit.
118 | Modul Pendampingan PSLU
2. Merawat Lanjut Usia Penyandang Cacat
Memeriksakan lanjut usia kepada dokter atau
ahli yang berkompeten di bidang kecacatan
untuk mendapat diagnosis dan saran tindak
lanjut mengenai tata cara merawat lanjut
usia;
Membimbing agar dapat mengikuti aturan
yang dianjurkan dokter atau ahli yang
berkompeten dengan derajat kecacatannya;
Mendampingi dengan memberikan motivasi
agar timbul rasa optimisme untuk dapat
mewujudkan potensi dirinya;
Memberikan bantuan perawatan kebersihan
tubuh selama lanjut usia tersebut belum
mampu melakukannya sendiri.

3. Merawat Lanjut Usia Yang Uzur (bed ridden)


Memeriksakan kepada dokter atau ahli yang
berkompeten untuk mendapat diagnosis dan
saran tindak lanjut mengenai tata cara
merawat lanjut usia yang uzur;
Membimbing agar dapat mengikuti aturan
yang dianjurkan dokter atau ahli yang
berkompeten;
Mendampingi dengan penuh kasih sayang
agar ia merasa mendapat perhatian dari
lingkungan sekitarnya;
Memberikan bantuan perawatan kebersihan
tubuh selama menjalani kehidupan di akhir
hayatnya.

Modul Pendampingan PSLU | 119


4. Merawat Lansia yang mengalami masalah
psikososial
Pendampingan psikososial, meliputi kegiatan
mendampingi lanjut usia yang menderita
traumatik dan mengadakan rujukan psikososial.
a. Mendampingi Lansia Yang Mengalami
Tekanan Traumatik
Pendamping hanya membantu agar dapat
diawasi tindakannya atau sedapat mungkin
anggota keluarga dapat dimotivasi untuk
bertindak mengawasi dan membantu
meringankan gejala traumatik yang diderita
dengan tugas sebagai berikut :
Membawa lansia ke puskesmas
terdekat, untuk mendapat diagnosis dan
pengobatan serta bimbingan yang sesuai
dengan gangguan traumatik yang
diderita;
Membantu memberikan obat untuk
diminum sesuai dengan petunjuk dokter;
Membimbing agar dapat mengikuti
aturan dan larangan yang dianjurkan
dokter dan ahli yang berkompetensi di
bidang terapi psikososial;
Mendampingi dengan cara memberikan
motivasi agar timbul rasa optimisme
untuk cepat sembuh dari trauma yang
dideritanya;
Memberikan bantuan perawatan diri
apabila yang bersangkutan tidak atau
belum dapat melakukannya sendiri.

120 | Modul Pendampingan PSLU


b) Mengadakan Rujukan Psikososial
Bagi Lanjut Usia yang memerlukan
perawatan medis dan rehabilitasi
psikososial, para pendamping mempunyai
tugas :
Merujuk ke Puskesmas dan/atau Trauma
Center untuk mendapat perawatan
medis dan rehabilitasi psikososial dari
dokter dan ahli psikososial;
Mengunjungi secara berkala, selama ia
menjalani perawatan dari dokter dan ahli
psikoterapi;
Mengurus pengembalian ke rumahnya,
setelah proses pengobatan medis dan
rehabilitasi psikososial dinyatakan
selesai.

H. Bagaimana mekanisme kerja pendamping ?


Mekanisme kerja pendamping terhadap lanjut usia,
lembaga yang menugaskan maupun mitra
kelembagaan serta pemerintah dapat dilihat pada
skema berikut ini :

Modul Pendampingan PSLU | 121


SKEMA 1.
Keterkaitan bebagai pihak dalam
pendampingan lanjut usia

LEMBAGA
RUMAH SAKIT PENUGASAN
PMI BKL PEMERINTAH
SETEMPAT
PUSKESMAS KOORDINATOR
LAPANGAN/KASUS

ORSOS
( PKK, PSM)
PETUGAS
PENDAMPING

KELUARGA
LANJUT USIA LANJUT USIA

Keterangan :
= hubungan langsung
= hubungan kerja/rujukan
= saling koordinasi

a. Pelayanan terhadap lanjut usia sesuai dengan


kebutuhan lanjut usia yang didampingi.
b. Mendorong keluarga lanjut usia untuk
mendampingi serta memenuhi kebutuhan lanjut
usia.
c. Menjalin hubungan kerja dengan Puskesmas
untuk rujukan perawatan medis.
d. Menjalin hubungan kerja dengan pemerintah
setempat dan lembaga-lembaga lainnya untuk
berperan dalam pemberian fasilitas yang
dibutuhkan lanjut usia.

122 | Modul Pendampingan PSLU


e. Menjalin hubungan kerja dengan instansi
pemerintah seperti : PMI, BKKBN program-pro-
gram yang ditujukan kepada lanjut usia maupun
keluarganya.
f. Menjalin hubungan kerja dengan organisasi sosial
lainnya seperti PKK, PSM untuk ikut serta secara
aktif dalam pelayanan terhadap lanjut usia.
g. Mempertanggung-jawabkan seluruh kegiatan
yang dilakukan tenaga pendamping terhadap
lanjut usia maupun kegiatan-kegiatan yang
berhubungan dengan mitra kerja kepada lembaga
penugasan.
h. Dalam menumbuhkan dan mengembangkan
jejaring, seorang pendamping senantiasa
berkoordinasi dengan koordinator lapangan dan
lembaga tempat yang bersangkutan ditugaskan.

2. Dengan siapa saja pendamping dapat bekerjasama/


bermitra?
a. Kerjasama dengan keluarga
Menjalin hubungan kerja (komunikasi) dengan
keluarga adalah hal yang paling penting dilakukan.
Dalam hal ini keluarga turut dilibatkan dalam
pelaksanaan pendampingan, terutama dalam hal
petugas pendamping berhalangan.

b. Membentuk jaringan kemitraan dengan pihak terkait


Dalam melakukan tugas pendampingan lanjut usia
di rumah maka perlu dibentuk jaringan kemitraan
dengan pihak terkait (pengandil).

Modul Pendampingan PSLU | 123


Adapun pengandil yang dimaksud adalah :
1) RT/RW dan Kelurahan untuk administrasi
kependudukan,
2) Pemerintah, Pemerintah Daerah Propinsi dan
Kabupaten/Kota serta Instansi terkait (antara lain
Dinas Sosial dan Dinas Kesehatan),
3) Relawan,
4) Puskesmas untuk pemeriksaan kesehatan dan
Rumah Sakit untuk rujukan,
5) Rumah Sakit Umum,
6) Rumah Sakit Jiwa,
7) Klinik Geriatri,
8) Dunia Usaha (CSR),
9) Asosiasi-asosiasi profesi terkait,
10) Perguruan Tinggi,
11) Lembaga Bantuan Hukum,
12) Lembaga Swadaya Masyarakat./ Orsosorsos
(PKK/PSM/BKL/PMI, Karang Taruna (KT),
Posyandu, PKK, Majlis Talim, dan lain-lain),
13) PSTW.

124 | Modul Pendampingan PSLU


E. PROSES PEMBELAJARAN
Peran
No. Pokok Bahasan Waktu
Fasilitator Peserta
1. Perkenalan 20 mnt - -
2. Penyajian Pokok- Fasilitator menyajikan Peserta mengikuti
pokok bahasan setiap pokok bahasan penyajian, tanya jawab
pada setiap akhir sesi
masing-masing pokok
bahasan
3. Tanya Jawab Fasilitator Peserta menjawab
memfasilitasi tanya berbagai pertanyaan
jawab dengan yang berkaitan dengan
mengajukan substansi dan konteks
pertanyaan yang pelayanan home care,
berkaitan dengan ruang lingkup
substansi dan konteks pendampingan,
pelayanan home care, kerangka kerja
ruang lingkup pendamping home care
pendampingan,
kerangka kerja
pendamping home
care

4. Diskusi Kelompok Fasilitator membagi Peserta melakukan


peserta latihan ke diskusi Kelompok 1
dalam tiga kelompok. membahas dan
melakukan role playing
tentang tahapan dan
proses pendampingan.
Kelompok 2 membahas
dan melakukan role
playing mengenai
mekanisme kerja
pendamping Kelompok
3 membahas dan
melakukan role playing
mengenai kiat-kita
bermitra dalam
pendampingan home
care lansia

Modul Pendampingan PSLU | 125


5. Diskusi Pleno Fasilitator Peserta melakukan
memfasilitasi diskusi diskusi pleno mengenai
pleno mengenai hasil hasil kerja setiap
kerja setiap kelompok kelompok
7 Simulasi 30 mnt Fasilitator menfasilitasi Peserta melakukan
simulasi mengenai simulasi mengenai
pelaksanaan pelaksanaan
pendampingan pendampingan
6. Refleksi/Pembula 30 mnt Fasilitator memberikan -
tan masukan mengenai
kesimpulan akhir dan
memberikan
pembulatan hasil
diskusi secara
keseluruhan

F. METODE PEMBELAJARAN
1. Ceramah
Penyajian konsep-konsep tentang home care, ruang
lingkup pendampingan sosial dalam home care dan
kerangka kerja pendamping sosial home care, yang
berfungsi untuk mengenalkan konsep yang abstrak dan
pemberian informasi. Ceramah berlangsung secara
interaktif, artinya tercipta interaksi antara fasilitator
dengan peserta berupa tanya jawab, baik selama ceramah
berlangsung maupun setelah ceramah berakhir.
2. Tanya jawab
Tanya jawab digunakan untuk menghargai motivasi
pribadi peserta. Prinsip pendekatan andragogi antara lain:
tidak menganggap peserta sebagai orang yang tidak tahu
tentang topik yang sedang dibahas.
3. Diskusi
Diskusi kelompok; dilakukan ketika peserta mendalami
suatu materi yang dilakukan sesama peserta latihan
dalam kelompok.

126 | Modul Pendampingan PSLU


Metode ini berpusat pada peserta bimbingan teknis,
dimana dapat dilakukan bervariasi dari situasi yang tidak
terstruktur sampai kepada situasi yang terstruktur. Melalui
diskusi kelompok akan dicapai perubahan pada peserta
bimbingan teknis dalam aspek motivasi, emosi dan sikap.

4. Simulasi
Simulasi dilakukan peserta untuk melatih cara melakukan
pendampingan dan perawatan lansia.

5. Pembahasan Kasus
Metode ini digunakan untuk meningkatkan kemampuan
peserta bimbingan teknis dalam asesmen kebutuhan/
masalah, analisis masalah, serta pemecahan masalah.

6. Permainan Peran
Metode ini dilakukan ketika peserta untuk menghayati
suatu persoalan dengan memainkan peran-peran yang
telah direncanakan sesuai dengan topik yang sedang
dibahas.

G. PRINSIP- PRINSIP PEMBELAJARAN


Prinsip-prinsip pembelajaran dalam menggunakan modul ini
sebagai berikut :
1. Kesiapan
Fasilitator memiliki kesiapan sebelum menyampaikan
materi bimbingan teknis dengan mempersiapkan dan
membaca bahan-bahan yang akan disajikan.

Modul Pendampingan PSLU | 127


2. Partisipasi
Fasilitator dan peserta terlibat secara aktif dalam proses
pembelajaran baik dalam mengajukan pertanyaan,
melaksanakan tugas-tugas terstruktur maupun dalam
mengembangkan metode dan materi bimbingan teknis.
3. Demokrasi
Bimbingan teknis bersifat terbuka dan setara di mana
seluruh peserta bimbingan teknis memiliki hak yang sama
dalam mengemukakan argumentasinya secara aktif dan
terbuka.
4. Kapabilitas
Fasilitator memiliki kapasitas yang memadai dalam
menguasai materi bimbingan teknis. Peserta memiliki
kompetensi dasar yang diperlukan sesuai dengan
bimbingan teknis yang diikutinya.
5. Penggunaan Alat Bantu
Proses pembelajaran hendaknya disertai dan didukung
oleh alat bantu bimbingan teknis yang memadai seperti
audio visual dan multi media untuk memudahkan
pencapaian tujuan bimbingan teknis.
6. Praktis
Mata diklat hendaknya diarahkan agar konsep-konsep
teoritis dapat merespon kondisi-kondisi praktis di
lapangan.

128 | Modul Pendampingan PSLU


H. ALAT BANTU
1. Buku dan Modul
2. LCD Projector
3. OHP,
4. Flipchart
5. Spidol
6. Kertas Plano
7. Papan-tulis,
8. Sound-system,
9. Berbagai alat peraga yang sesuai
10. Film (VCD) tentang program pemberdayaan fakir miskin

I. EVALUASI PEMBELAJARAN
Evaluasi merupakan kegiatan yang perlu dilaksanakan pada
setiap bimbingan teknis. Aspek-aspek yang dievaluasi pada
bimbingan teknis ini adalah:
1. Evaluasi Reaksi
Evaluasi ini merupakan respon atau tanggapan peserta
terhadap proses pembelajaran dan penyelenggaraan
bimbingan teknis.

2. Evaluasi Belajar
Evaluasi dilakukan untuk mengetahui perubahan atau
peningkatan terhadap aspek-aspek pengetahuan, sikap
dan keterampilan peserta.

3. Evaluasi Perilaku
Evaluasi dilakukan untuk mengetahui perubahan tingkah
laku peserta selama dan setelah proses bimbingan
teknis.

Modul Pendampingan PSLU | 129


4. Evaluasi Hasil
Evaluasi dilakukan setelah bimbingan teknis berakhir
untuk mengetahui pemanfaatan hasil bimbingan teknis
terhadap kinerja di dalam organisasi, produktifitas
organisasi dan kelompok dampingan (masyarakat).
Adapun evaluasi yang digunakan dalam bimbingan teknis
ini adalah evaluasi proses dan evaluasi hasil.

Evaluasi tersebut meliputi:


Kemampuan peserta dalam menjelaskan pengertian
home care, pendampingan sosial home care dan
pendamping sosial home care.
Kemampuan peserta dalam menyebutkan prinsip-
prinsip metoda pekerjaan sosial dengan masyarakat.
Kemampuan peserta dalam mengutarakan metode,
teknis, tahapan dan proses pendampingan sosial
home.
Kemampuan peserta dalam menerapkan secara
contoh tentang metode, teknik, tahapan dan proses
pendampingan home care.

J. DAFTAR PUSTAKA
Zastrow, Charles H. (2000), Introduction to Social Work and
Social Welfare, Pacific Grove: Brooks/Cole.

130 | Modul Pendampingan PSLU