You are on page 1of 20

BAB I

PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang


Luka bakar dapat mengakibatkan masalah yang kompleks, yang dapat
meluas melebihi kerusakan fisik yang terlihat pada jaringan yang terluka
secara langsung. Masalah kompleks ini mempengaruhi semua sistem tubuh
dan beberapa keadaan yang mengancam kehidupan.
Dua puluh tahun lalu, seorang dengan luka bakar 50% dari luas permukaan
tubuh dan mengalami komplikasi dari luka dan pengobatan dapat terjadi
gangguan fungsional, hal ini mempunyai harapan hidup kurang dari 50%.
Sekarang, seorang dewasa dengan luas luka bakar 75% mempunyai harapan
hidup 50%, dan bukan merupakan hal yang luar biasa untuk memulangkan
pasien dengan luka bakar 95% yang diselamatkan. Pengurangan waktu
penyembuhan, antisipasi dan penanganan secara dini untuk mencegah
komplikasi, pemeliharaan fungsi tubuh dalam perawatan luka dan tehnik
rehabilitasi yang lebih efektif semuanya dapat meningkatkan rata-rata harapan
hidup pada sejumlah pasien dengan luka bakar serius.

I.2 Rumusan Masalah


Bagaimana definisi, etiologi, patogenesis, diagnosis dan penatalaksanaan
luka bakar ?

I.3 Tujuan
Mengetahui definisi, etiologi, patogenesis, diagnosis dan penatalaksanaan
luka bakar.

1
BAB II
TINJAUAN PUSTAKA

2.1 Definisi
Luka bakar adalah trauma yang disebabkan oleh termis, elektris, khemis
dan radiasi yang mengenai kulit, mukosa, dan jaringan yang lebih dalam
(Syamsuhidayat, 2007).

2.2 Etiologi
Beberapa penyebab luka bakar menurut Syamsuhidayat (2007) adalah
sebagai berikut:
a. Luka bakar suhu tinggi (thermal burn)
Benda panas: padat, cair, udara/uap
Api
Sengatan matahari/ sinar panas
b. Luka bakar bahan kimia (chemical burn), misalnya asam kuat dan basa
kuat.
c. Luka bakar sengatan listrik (electrical burn), misalnya aliran listrik
tegangan tinggi.
d. Luka bakar radiasi (radiasi injury)
2.3 Patofisiologi

2.4 Fase Luka Bakar


Untuk mempermudah penanganan luka bakar maka dalam perjalanan
penyakitnya dibedakan dalam 3 fase: akut, subakut dan fase lanjut. Namun
demikian pembagian fase menjadi tiga tersebut tidaklah berarti terdapat garis
pembatas yang tegas diantara ketiga fase ini. Dengan demikian kerangka berpikir
dalam penanganan penderita tidak dibatasi oleh kotak fase dan tetap harus
terintegrasi. Langkah penatalaksanaan fase sebelumnya akan berimplikasi klinis
pada fase selanjutnya (Sunarso, 2008).

2
a. Fase akut
Disebut sebagai fase awal atau fase syok. Dalam fase awal penderita
akan mengalami ancaman gangguan airway (jalan nafas), breathing
(mekanisme bernafas), dan circulation (sirkulasi). Gangguan airway tidak
hanya dapat terjadi segera atau beberapa saat setelah terbakar, namun masih
dapat terjadi obstruksi saluran pernafasan akibat cedera inhalasi dalam 48-
72 jam pasca trauma. Cedera inhalasi adalah penyebab kematian utama
penderita pada fase akut
Pada fase akut sering terjadi gangguan keseimbangan cairan dan
elektrolit akibat cedera termal yang berdampak sistemik.
b. Fase sub akut
Berlangsung setelah fase syok teratasi. Masalah yang terjadi adalah
kerusakan atau kehilangan jaringan akibat kontak dengan sumber panas.
Luka yang terjadi menyebabkan :
Proses inflamasi dan infeksi
Problem penutupan luka dengan titik perhatian pada luka yang tidak
berepitel luas atau pada struktur atau organ fungsional
Keadaan hipermetabolisme
c. Fase lanjut
Fase lanjut akan berlangsung hingga terjadinya maturasi parut akibat
luka dan pemulihan fungsional. Problem yang muncul pada fase ini adalah
penyakit berupa sikatrik yang hipertrofik, keloid, gangguan pigmentasi,
deformitas dan kontraktur.

2.5 Diagnosis
Diagnose luka bakar didasarkan pada:
a. Luas luka bakar
b. Derajat (kedalaman) luka bakar
c. Lokalisasi
d. Penyebab
2.5.1 Luas Luka Bakar
Wallace membagi tubuh atas 9% atau kelipatan 9 yang terkenal dengan
nama rule of nine atau rule of Wallace:
a. Kepala dan leher : 9%
b. Lengan masing-masing 9% : 18%
c. Badan depan 18% : 36%

3
d. Tungkai masing-masing 18% : 36%
e. Genetalia perineum : 1%
Total : 100 %

Gambar 1. Luas luka bakar berdasarkan Wallace


Rumus rule of nine dari Wallace tidak digunakan pada anak dan bayi
karena luas relatif permukaan kepala anak jauh lebih besar dan luas relatif
permukaan kaki lebih kecil. Oleh karena itu, digunakan rumus 10 untuk
bayi, dan rumus 10-15-20 dari Lund and Browder untuk anak.

4
Gambar 2. Luas luka bakar pada anak.
Untuk mengkaji beratnya luka bakar harus dipertimbangkan beberapa
faktor antara lain:
a. Persentasi area (luasnya) luka bakar pada permukaan tubuh
b. Kedalaman luka bakar
c. Anatomi/lokasi luka bakar
d. Umur penderita
e. Riwayat pengobatan yang lalu
f. Trauma yang menyertai atau bersamaan
2.5.2 Derajat Luka Bakar
Kedalaman kerusakan jaringan akibat luka bakar tergantung pada derajat
panas, sumber, penyebab dan lamanya kontak dengan tubuh penderita.
Dahulu Dupuytren membagi atas 6 tingkat, sekarang lebih praktis hanya
dibagi 3 tingkat/derajat, yaitu sebagai berikut:

a. Luka bakar derajat I:


Kerusakan terbatas pada lapisan epidermis (surperfisial), kulit
hiperemik berupa eritema, tidak dijumpai bullae, terasa nyeri karena
ujung-ujung saraf sensorik teriritasi. Penyembuhan terjadi secara spontan
tanpa pengobatan khusus.

Gambar 3. Derajat I luka bakar

5
b. Luka bakar derajat II
Kerusakan meliputi epidermis dan sebagian dermis, berupa reaksi
inflamasi disertai proses eksudasi. Terdapat bullae, nyeri karena ujung-ujung
saraf sensorik teriritasi, dibedakan atas 2 (dua) bagian:
a. Derajat II dangkal/superficial (IIA)
Kerusakan mengenai bagian epidermis dan lapisan atas dari
corium/dermis. Organ organ kulit seperti folikel rambut, kelenjar
sebecea masih banyak. Semua ini merupakan benih-benih epitel.
Penyembuhan terjadi secara spontan dalam waktu 10-14 hari tanpa
terbentuk sikatrik.
b. Derajat II dalam/deep (IIB)
Kerusakan mengenai hampir seluruh bagian dermis dan sisa sisa
jaringan epitel tinggal sedikit. Organ-organ kulit seperti folikel rambut,
kelenjar keringat, kelenjar sebacea tinggal sedikit. Penyembuhan terjadi
lebih lama dan disertai parut hipertrofi. Biasanya penyembuhan terjadi
dalam waktu lebih dari satu bulan.

Gambar 4. Derajat II luka bakar


c. Luka bakar derajat III
Kerusakan meliputi seluruh tebal kulit dan lapisan yang lebih dalam
sampai mencapai jaringan subkutan, otot dan tulang. Organ kulit
mengalami kerusakan, tidak ada lagi sisa elemen epitel. Tidak dijumpai
bullae, kulit yang terbakar berwarna abu-abu dan lebih pucat sampai
berwarna hitam kering. Terjadi koagulasi protein pada epidermis dan

6
dermis yang dikenal sebagai esker. Tidak dijumpai rasa nyeri dan hilang
sensasi karena ujung-ujung sensorik rusak. Penyembuhan terjadi lama
karena tidak terjadi epitelisasi spontan.

Gambar 5. Derajat III luka bakar

3.5.3 Kriteria Berat Ringan luka bakar


Kriteria berat ringannya luka bakar menurut American Burn Association
yakni :
a. Luka Bakar Ringan.
- Luka bakar derajat II <15 %
- Luka bakar derajat II < 10 % pada anak anak
- Luka bakar derajat III < 2 %
b. Luka bakar sedang
- Luka bakar derajat II 15-25 % pada orang dewasa
- Luka bakar derajat II 10 20% pada anak anak
- Luka bakar derajat III < 10 %
c. Luka bakar berat
- Luka bakar derajat II 25 % atau lebih pada orang dewasa
- Luka bakar derajat II 20 % atau lebih pada anak anak.
- Luka bakar derajat III 10 % atau lebih
-Luka bakar mengenai tangan, wajah, telinga, mata, kaki dan
genitalia/perineum.
- Luka bakar dengan cedera inhalasi, listrik, disertai trauma lain.

7
2.6 Penatalaksanaan
Prinsip terapi pada luka bakar dibedakan menjadi dua:
a. Terapi fase akut
1. Hentikan dan hindarkan kontak langsung dengan penyebab luka bakar.
2. Menilai keadaan umum penderita: adanya sumbatan jalan nafas, nadi,
tekanan darah dan kesadaran (ABC)
- Bila terjadi obstruksi jalan nafas: Bebaskan jalan nafas
- Bila terjadi shock: segera infuse (grojog) tanpa memperhitungkan
luas luka bakar dan kebutuhan cairan (RL).
- Bila tidak shok: segera diinfus sesuai dengan perhitungan
kebutuhan cairan.
3. Perawatan luka
- Luka dicuci dan dibersihkan dengan air steril dan antiseptic
- Bersihkan luka dengan kasa atau handuk basah, inspeksi tanda-
tanda infeksi, keringkan dengan handuk bersih dan re-dress pasien
dengan menggunakan medikasi topikal. Luka bakar wajah
superficial dapat diobati dengan ointment antibacterial. Luka
sekitar mata dapat diterapi dengan ointment antibiotik mata topical.
Luka bakar yang dalam pada telinga eksternal dapat diterapi
dengan mafenide acetat, karena zat tersebut dapat penetrasi ke
dalam eschar dan mencegah infeksi purulen kartilago.
- Obat- obat topical yang digunakan untuk terapi luka bakar seperti:
silver sulfadiazine, contoh Silvaden, Burnazine, Dermazine, dll.
- Kulit yang terkelupas dibuang, bulae (2-3 cm) dibiarkan
- Bula utuh dengan cairan > 5 cc dihisap, < 5 cc dibiarkan
Bula sering terjadi pada jalur skin graft donor yang baru dan pada
luka yang ungraft. Membrane basal lapisan epitel baru kurang
berikatan dengan bed dari luka bakar. Struktur ini dapat mengalami
rekonstruksi sendiri dalam waktu beberapa bulan dan menjadi
bullae. Bulla ini paling baik diterapi dengan dihisap dengan jarum
yang bersih, memasang lagi lapisan epitel pada permukaan luka,
dan menutup dengan pembalut adhesif. Pembalut adhesive ini
dapat direndam.
- Pasien dipindahkan ke tempat steril
- Pemberian antibiotic boardspectrum bersifat profilaksis.
- Berikan analgetik untuk menghilangkan nyeri dan antacid untuk
menghindari gangguan pada gaster.
- Berikan ATS untuk menghindari terjadinya tetanus

8
- Pasang catheter folley untuk memantau produksi urine pasien
- Pasang NGT (Nasogastric tube), untuk menghindari ileus paralitic.
b. Terapi fase pasca akut
- Perawatan luka
- Eschar escharectom (Eschar : jaringan kulit yang nekrose,
kuman yang mati, serum, darah kering)
- Gangguan AVN distal karena tegang (compartment syndrome)
escharotomi atau fasciotomi
- Kultur dan sensitivity test antibiotika Antibiotika diberikan
sesuai hasilnya
- Dimandikan tiap hari atau 2 hari sekali
- Kalau perlu pemberian Human Albumin
- Keadaan umum penderita
Dilihat keadaan umum penderita dengan menilai beberapa hal seperti
kesadaran, suhu tubuh, dan sirkulasi perifer. Jika didapatkan
penurunan kesadaran, febris dan sirkulasi yang jelek, hal ini
menandakan adanya sepsis.
- Diet dan cairan
2.6.1 Penanganan Pernapasan
Trauma inhalasi merupakan faktor yang secara nyata memiliki kolerasi
dengan angka kematian. Kematian akibat trauma inhalasi terjadi dalam
waktu singkat 8 sampai 24 jam pertama pasca operasi. Pada kebakaran
dalam ruangan tertutup atau bilamana luka bakar mengenai daerah muka /
wajah dapat menimbulkan kerusakan mukosa jalan napas akibat gas, asap
atau uap panas yang terhisap. Edema yang terjadi dapat menyebabkan
gangguan berupa hambatan jalan napas karena edema laring. Trauma panas
langsung adalah terhirup sesuatu yang sangat panas, produk produk yang
tidak sempurna dari bahan yang terbakar seperti bahan jelaga dan bahan
khusus yang menyebabkan kerusakan dari mukosa lansung pada
percabangan trakheobronkhial.
Keracunan asap yang disebabkan oleh termodegradasi material alamiah
dan materi yang diproduksi. Termodegradasi menyebabkan terbentuknya
gas toksik seperti hydrogen sianida, nitrogen oksida, hydrogen klorida,
akreolin dan partikel partikel tersuspensi. Efek akut dari bahan kimia ini
menimbulkan iritasi dan bronkokonstriksi pada saluran napas. Obstruksi
jalan napas akan menjadi lebih hebat akibat adanya tracheal bronchitis dan

9
edem. Efek intoksikasi karbon monoksida (CO) mengakibatkan terjadinya
hipoksia jaringan. Karbon monoksida (CO) memiliki afinitas yang cukup
kuat terhadap pengikatan hemoglobin dengan kemampuan 210 240 kali
lebih kuat disbanding kemampuan O2. Jadi CO akan memisahkan O2 dari
Hb sehingga mengakibatkan hipoksia jaringan. Kecurigaan adanya trauma
inhalasi bila pada penderita luka bakar mengalami hal sebagai berikut.
a. Riwayat terjebak dalam ruangan tertutup.
b. Sputum tercampur arang.
c. Luka bakar perioral, termasuk hidung, bibir, mulut atau tenggorokan.
d. Penurunan kesadaran termasuk confusion.
e. Terdapat tanda distress napas, seperti rasa tercekik. Tersedak, malas
bernafas atau adanya wheezing atau rasa tidak nyaman pada mata atau
tenggorokan, menandakan adanya iritasi mukosa.
f. Adanya takipnea atau kelainan pada auskultasi seperti krepitasi atau
ronhi.
g. Adanya sesak napas atau hilangnya suara.
Bilamana ada 3 tanda / gejala diatas sudah cukup dicurigai adanya
trauma inhalasi. Penanganan penderita trauma inhalasi bila terjadi distress
pernapasan maka harus dilakukan trakheostomi. Penderita dirawat diruang
resusitasi instalasi gawat darurat sampai kondisi stabil.

2.6.2 Penanganan Sirkulasi


Pada luka bakar berat / mayor terjadi perubahan permeabilitas kapiler
yang akan diikuti dengan ekstrapasi cairan (plasma protein dan elektrolit)
dari intravaskuler ke jaringan interfisial mengakibatkan terjadinya
hipovolemik intra vaskuler dan edema interstisial. Keseimbangan tekanan
hidrostatik dan onkotik terganggu sehingga sirkulasi kebagian distal
terhambat, menyebabkan gangguan perfusi/sel/jaringan/organ. Pada luka
bakar yang berat dengan perubahan permeabilitas kapiler yang hampir
menyeluruh, terjadi penimbunan cairan massif di jaringan interstisial
menyebabkan kondisi hipovolemik. Volume cairan intravaskuler mengalami
deficit, timbul ketidakmampuan menyelenggaraan proses transportasi
oksigen ke jaringan. Keadaan ini dikenal dengan sebutan syok. Syok yang
timbul harus diatasi dalam waktu singkat, untuk mencegah kerusakan sel

10
dan organ bertambah parah, sebab syok secara nyata bermakna memiliki
korelasi dengan angka kematian. Beberapa penelitian membuktikan bahwa
penatalaksanaan syok dengan metode resusutasi cairan konvensional
(menggunakan regimen cairan yang ada) dengan penatalaksanaan syok
dalam waktu singkat, menunjukkna perbaikkan prognosis, derajat kerusakan
jaringan diperkecil (pemantauan kadar asam laktat), hipotermi dipersingkat
dan koagulatif diperkecil kemungkinannya, ketiganya diketahui memiliki
nilai prognostic terhadap angka mortalitas.
2.6.3 Resustasi Cairan
BAXTER formula
Hari Pertama :
Dewasa : Ringer Laktat 4 cc x berat badan x % luas luka bakar per 24 jam
Anak : Ringer Laktat: Dextran = 17 : 3
2 cc x berat badan x % luas luka ditambah kebutuhan faali.
Kebutuhan faali :
< 1 Tahun : berat badan x 100 cc
1 3 Tahun : berat badan x 75 cc
3 5 Tahun : berat badan x 50 cc
jumlah cairan diberikan dalam 8 jam pertama.
diberikan 16 jam berikutnya.
Hari kedua
Dewasa : hari I
Anak : diberi sesuai kebutuhan faali
Menurut Evans - Cairan yang dibutuhkan :
1. RL / NaCl = luas combustio % X BB/ Kg X 1 cc
2. Plasma = luas combustio % X BB / Kg X 1 cc
3. Pengganti yang hilang karena penguapan D5 2000 cc
Hari I 8 jam X
16 jam X
Hari II hari I
Hari ke III hari ke I

11
2.6.4 Perawatan Luka Bakar
Setelah keadaan umum membaik dan telah dilakukan resusitasi cairan
dilakukan perawatan luka. Perawatan tergantung pada karakteristik dan
ukuran dari luka. Tujuan dari semua perawatan luka bakar agar luka segera
sembuh rasa sakit yang minimal.
Setelah luka dibersihkan dan didebridement, luka ditutup. Penutupan
luka ini memiliki beberapa fungsi: pertama dengan penutupan luka akan
melindungi luka dari kerusakan epitel dan meminimalkan timbulnya koloni
bakteri atau jamur. Kedua, luka harus benar-benar tertutup untuk mencegah
evaporasi pasien tidak hipotermi. Ketiga, penutupan luka diusahakan
semaksimal mungkin agar pasien merasa nyaman dan meminimalkan
timbulnya rasa sakit
Pilihan penutupan luka sesuai dengan derajat luka bakar. Luka bakar
derajat I, merupakan luka ringan dengan sedikit hilangnya barier
pertahanan kulit. Luka seperti ini tidak perlu di balut, cukup dengan
pemberian salep antibiotik untuk mengurangi rasa sakit dan melembabkan
kulit. Bila perlu dapat diberi NSAID (Ibuprofen, Acetaminophen) untuk
mengatasi rasa sakit dan pembengkakan. Luka bakar derajat II
(superfisial ), perlu perawatan luka setiap harinya, pertama-tama luka
diolesi dengan salep antibiotik, kemudian dibalut dengan perban katun dan
dibalut lagi dengan perban elastik. Pilihan lain luka dapat ditutup dengan
penutup luka sementara yang terbuat dari bahan alami (Xenograft (pig skin)
atau Allograft (homograft, cadaver skin) atau bahan sintetis (opsite,
biobrane, transcyte, integra). Luka derajat II (dalam) dan luka derajat III,
perlu dilakukan eksisi awal dan cangkok kulit (early exicision and
grafting ).
2.6.5 Nutrisi
Penderita luka bakar membutuhkan kuantitas dan kualitas yang berbeda
dari orang normal karena umumnya penderita luka bakar mengalami
keadaan hipermetabolik.
Kondisi yang berpengaruh dan dapat memperberat kondisi
hipermetabolik yang ada adalah:

12
Umur, jenis kelamin, status gizi penderita, luas permukaan tubuh,
massa bebas lemak.
Riwayat penyakit sebelumnya seperti DM, penyakit hepar berat,
penyakit ginjal dan lain-lain.
Luas dan derajat luka bakar
Suhu dan kelembaban ruangan ( memepngaruhi kehilangan panas
melalui evaporasi)

Aktivitas fisik dan fisioterapi

Penggantian balutan

Rasa sakit dan kecemasan

Penggunaan obat-obat tertentu dan pembedahan.

Penatalaksanaan nutrisi pada luka bakar dapat dilakukan dengan


beberapa metode yaitu : oral, enteral dan parenteral. Untuk menentukan
waktu dimulainya pemberian nutrisi dini pada penderita luka bakar, masih
sangat bervariasi, dimulai sejak 4 jam pascatrauma sampai dengan 48 jam
pascatrauma.

2.7 Permasalahan Pasca Luka Bakar


Setelah sembuh dari luka, masalah berikutnya adalah jaringan parut yang
dapat berkembang menjadi cacat berat. Kontraktur kulit dapat mengganggu
fungsi dan menyebabkan kekakuan sendi atau menimbulkan cacat estetik
yang buruk sekali sehingga diperlukan juga ahli ilmu jiwa untuk
mengembalikan kepercayaan diri.
Permasalahan-permasalahan yang ditakuti pada luka bakar:
Infeksi dan sepsis
Oliguria dan anuria
Oedem paru
ARDS (Adult Respiratory Distress Syndrome )
Anemia
Kontraktur

13
Kematian

2.8 Komplikasi
Gagal ginjal akut
Gagal respirasi akut
Syok sirkulasi
Sepsis

2.9 Prognosis
Prognosis pada luka bakar tergantung dari derajat luka bakar, luas
permukaan badan yang terkena luka bakar, adanya komplikasi seperti infeksi,
dan kecepatan pengobatan medikamentosa. Luka bakar minor dapat sembuh
5-10 hari tanpa adanya jaringan parut. Luka bakar moderat dapat sembuh
dalam 10-14 hari dan mungkin menimbulkan luka parut. Luka bakar mayor
membutuhkan lebih dari 14 hari untuk sembuh dan akan membentuk jaringan
parut. Jaringan parut akan membatasi gerakan dan fungsi. Dalam beberapa
kasus, pembedahan diperlukan untuk membuang jaringan parut.

14
BAB III
PENUTUP

3.1 Kesimpulan
Luka bakar adalah trauma yang disebabkan oleh termis, elektris, khemis
dan radiasi yang mengenai kulit, mukosa, dan jaringan yang lebih dalam.
Beberapa penyebab luka bakar menurut Syamsuhidayat (2007) adalah suhu
tinggi, bahan kimia, sengatan listrik, dan radiasi. Untuk mempermudah
penanganan luka bakar maka dalam perjalanan penyakitnya dibedakan dalam 3
fase: akut, subakut dan fase lanjut. Diagnose luka bakar didasarkan pada luas
luka bakar, derajat (kedalaman) luka bakar, lokalisasi dan penyebab. Prinsip
terapi pada luka bakar dibedakan menjadi dua yaitu terapi fase akut dan terapi
pasca akut. Adapun terapi fase akut meliputi menghindari kontak dengan
faktor penyebab, menilai keadaan umum penderita dan melakukan perawatan
luka. Sedangkan terapi pasca akut yaitu perawatan luka, menilai keadaan
umum pasien, diet dan cairan untuk menghindari timbulnya komplikasi.
Komplikasi yang terjadi misalnya gagal ginjal akut, gagal nafas akut, syok
sirkulasi, dan sepsis.

15
BAB IV
LAPORAN KASUS

STATUS PASIEN
I. IDENTITAS PASIEN
Nama : Supriadi
Usia : 41 tahun
Jenis Kelamin : laki-laki
Alamat : Desa Bangun Rejo Dusun II
Status : Menikah
Pekerjaan : Wiraswasta
Suku : Jawa
Agama : Islam
Masuk Rumah Sakit : 11/09/2015

II. ANAMNESE
Keluhan Utama : Luka bakar tersetrum listrik
Riwayat Penyakit Sekarang : Pasien datang diantar oleh temannya
dengan keluhan luka bakar akibat tersetrum listrik, hal ini dialami pasien
pada saat pasien sedang bekerja mengelas besi, pasien tiba-tiba tersandung
kabel yang ada didekatnya akibatnya pasien mengalami luka bakar listrik
di perut, dada, leher dan telapak tangan kanan. Pasien juga mengalami
sesak nafas, dan terlihat gelisah menahan rasa sakit saat tiba di rumah
sakit.
Riwayat Penyakit Dahulu : Tidak dijumpai
Riwayat Pengobatan : Tidak dijumpai
Riwayat Penyakit Keluarga : Tidak dijumpai

III. PEMERIKSAAN FISIK


Kesadaran : Compos mentis
Vital Sign :
TD : 140/100 mmHg
RR : 20 x/menit
HR : 90 x/menit

16
T : 36,8 0 C

Status Generalisata
a.Pemeriksaan Kepala
Mata : Conj. palpebra inferior pucat (-), sklera ikterik (-), pupil
isokor, Refleks cahaya (+/+) Oedema dikedua mata (+)
Hidung : SDN, oedema disekitar nasal
Bibir : Mukosa bibir basah , sianosis (-)
Gigi : SDN
b. Pemeriksaan Leher :
JVP 2cm H2O ( dalam batas normal ), pembesaran KGB (-), terdapat luka
bakar grade II
c. Axilla :
Pembesaran KGB axilla (-)
d.Pemeriksaan Thoraks :
a. Paru-paru
Depan
Inspeksi : Simetris fusiformis, luka bakar grade II
Palpasi : Stem fremitus kanan = kiri.
Perkusi : Sonor kedua lapangan paru
Auskultasi : Suara pernapasan : vesikuler
Suara tambahan : (-)

Belakang
Inspeksi : Simetris fusiformis
Palpasi : Stem fremitus kanan = kiri
Perkusi : Sonor kedua lapangan paru
Auskultasi : Suara pernapasan : vesikuler
Suara tambahan : (-)
b. Jantung
Inspeksi : Ictus cordis tidak tampak
Palpasi : Ictus cordis tidak teraba
Perkusi
- Batas jantung kanan : ICS IV linea parasternal Dextra
- Batas jantung kiri : ICS V midclavikularis sinistra
- Batas jantung atas : ICS II linea parasternal sinistra
- Pinggang jantung : ICS III parasternal sinistra
Auskultasi : Bunyi jantung I dan II normal, reguler
e. Pemeriksaan Abdomen
Inspeksi : Simetris, distensi (-), lika bakar grade II
Palpasi : Soepel, tidak teraba massa, defans muscular
(-), nyeri tekan (-)
Perkusi : Tympani

17
Auskultasi : Peristaltik (+) normal
f. Ekstremitas Atas : Terdapat luka bakar pada telapak tangan kanan
Ekstremitas Bawah : Dalam batas normal
g.Genitalia
Inguinal : pembesaran KGB (-)

IV.DIAGNOSA KERJA DAN DIAGNOSA BANDING


Diagnosa Kerja :
Electric Burn Grade II 19 % (Combustio)

V.RENCANA TINDAKAN
Rencana Debridement Luka
Sabtu tanggal 12/09/2015 jam 11.30 WIB

VI.PEMERIKSAAN PENUNJANG
Laboratorium Tanggal 11/09/2015
Darah Rutin :
Pemeriksaan Hasil Nilai Normal Satuan
Hemoglobin 14.9 12-16 gr/dl
Eritrosit 4,7 3.9-5.6 10 ^ 6 ul
Leukosit 7.700 4000-11000 /ul
Hematokrit 41.6 36-47 %
Trombosit 202.000 150000-450000 mm3
Index Eritrosit :
Pemeriksaan Hasil Nilai Normal Satuan
MCV 87,9 80-96 fL
MCH 31,4 27-31 Pg
MCHC 35,8 30-34 %

Hitung Jenis Leukosit :


Pemeriksaan Hasil Nilai Normal Satuan
Eosinofil 1 1-3 %
Basofil 0 0-1 %
N. Stab 0 2-6 %
N. Seg 57 53-75 %
Limfosit 37 20-45 %
Monosit 5 4-8 %

18
Fungsi Hati :
Pemeriksaan Hasil Nilai Normal Satuan
Bilirubin total 0,49 0,3-1 mg/dL
Bilirubin direct 0,29 < 0,25 mg/dL
SGOT/ASAT 24 < 40 u/L
SGPT/ALAT 16 < 40 u/L

Elektrolit :
Na 141 135-155 mEq/L
K 3,0 3.5-5.5 mEq/L
Cl 106 98-106 mEq/L
Karbohidrat :
Glucosa
Adrendom
172 < 140 mg/dL

Terapi
-O2 2-3 L/i
-IVFD RL cor 2 fls 20 gtt/i bila urin cukup
-Inj. Ketorolac 1gr/8 jam
-Inj. Ranitidin/12 jam
-Irigasi NaCl
-Burnazin Zalf
-Ceftriaxon 1g/ 12jam
-Pasang Kateter

19
DAFTAR PUSTAKA

Gallagher JJ, Wolf SE, Herndon DN. Burns. In: Townsend CM, Beauchamp RD,
Evers BM, Mattox KL. Editors. Sabiston Textbook of Surgery. 18 th Ed.
Philadelphia: Saunders Elsevier. 2008.
Gibran NS. Burns. In: Mulholland MW, Lillemoe KD, Doherty GM, Gerard M,
Ronald V, Upchurch GR. Editors. Greenfields Surgery: Scientific
Principles and Practice. 4th Ed. Philadelphia: Lippincott Williams and
Wilkins. 2006.
Klein MB. Thermal, Chemical and Electrical Injuries. In: Thorne CH, Beasley
RW, Aston SJ, Bartlett SP, Gurtner GC, Spear SL. Editors. Grab and
Smiths Plastic Surgery. 6th Ed. Philadelphia: Lippincott Williams and
Wilkins. 2007.
R Sjamsuhidajat. Wim De Jong. 2007. Buku Ajar Ilmu Bedah Penerbit Buku
Kedokteran. EGC.

Rue, L.W. & Cioffi, W.G. 1991. Resuscitation of thermally injured patients.
Critical Care Nursing Clinics of North America, 3(2),185
Wachtel & Fortune 1983, Fluid resuscitation for burn shock. In T.L. Wachtel et al
(Eds.), Current topic in burn care (p. 44). Rockville,MD: Aspen Publisher,
Inc.

20