You are on page 1of 18

AVICENNA TELAH LAHIR

Di sini pemilik mempunyai angan-angan untuk membantu konsumen agar lebih mudah mencari
tugas berbagai judul ASKEB,, ide tersebut pertama muncul karena seorang istri yang menjadi
mahasiswa kebidanan di suatu universitas swasta yang ada di kab jombang, yang setiap waktu
mengerjakan tugas untuk membuat ASKEB Semoga dengan adanya berbagai judul ASKEB ini
bisa membantu semua orang yang membutuhkannya... amin jazakumulloh khairon khatsiron
assalammualaikum warohmatullohi wabarakatu....

Rabu, 02 Maret 2011


ASKEB PLASENTA LETAK RENDAH

ASUHAN KEBIDANAN PADA IBU HAMIL PATOLOGIS DENGAN

PLASENTA LETAK RENDAH TERHADAP NY. W Di RB. TAHUN 2009


PLASENTA LETAK RENDAH

PENGERTIAN

Dikutip dari Prof. Sulaiman Sastrowinata. Obstetri Fisiologi. 1983. Bandung. Berdasarkan
pendapat beliau plasenta letak rendah (Low Lying Placenta) adalah tepi plasenta berada 3 4 cm
diatas pinggir pembukaan. Pada pemeriksaan dalam tidak teraba. Dan plasenta yang
implantasinya rendah tapi tidak sampai keostium uteri internum.

MASALAH

Manurut penulis buku-buku Amerika Serikat secara sederhana rahim berbentuk segitiga terbalik
atau bisa juga dibayangkan seperti daun waru (claver) terbalik dengan tangkai dari bawah.
Bagian tangkai ini berbentuk seperti tabung atau corong (dikenal sebagai leher rahim) dengan
ujung terbuka (dikenal sebagai mulut rahim).

Normalnya plasenta terletak dari bagian fundus (bagian puncak atau atas rahim). Bisa agak kekiri
atau kekanan sedikit, tetapi tidak sampai meluas kebagian bawah apalagi menutupi jalan lahir.
Patahan jalan lahir ini adalah ostium uteri internum (disingkat OVI, yaitu mulut rahim bila
dilihat dari bagian dalam rahim). Kalau dilihat dari luar dari arah vagina disebut ostium uteri
eksternum.

Perdarahan pada kehamilan harus dianggap sebagai kelainan yang berbahaya. Perdarahan pada
kehamilan muda disebut keguguran atau abortus, sedangkan pada kehamilan tua disebut
perdarahan antepartum. Plasenta previa merupakan salah satu penyebab utama perdarahan
antepartum pada trimester ketiga.

Dikutip dari Prof. Dr. Rustam Mochtar, MPH. Sinopsis Obstetri. 1998, Jakarta. Plasenta previa
adalah plasenta yang letaknya abnormal yaitu pada segmen bawah uterus sehingga dapat
menutupi sebagian atau seluruh pembukaan jalan lahir. Pada kehamilan 28 minggu atau lebih
kematian ibu disebabkan karena perdarahan uteri atau karena DIC (Disseminated Intravaskuler
Coagulapathy)

Sedangkan mordibilitas/kesakitan ibu dapat disebabkan karena komplikasi tindakan seksio


sesarea seperti infeksi saluran kencing pneumonia post operatif dan meskipun jarang dapat
terjadi embolisasi cairan amnion terhadap janin plasenta meningkatkan insiden kelainan
kongenital dan pertumbuhan janin terganggu sehingga bayi yang dilahirkan memiliki berat yang
kurang dibandingkan dengan bayi yang lahir dari ibu yang tidak menderita plasenta previa.

KLASIFIKASI

Menurut penulis buku-buku Amerika Serikat tali pusat berhubungan dengan plasenta biasanya
ditengah keadaan ini biasanya disebut dengan Insersia Sentralis. Letak plasenta umumnya berada
didepan/dibelakang dinding uterus. Agak keatas kearah fundus uteri hal ini fisiologis karena
permukaan bagian atas korpus uteri lebih luas, sehingga lebih banyak tempat untuk
berimplantasi. Bila diteliti benar maka plasenta sebenarnya berasal dari sebagian besar dari
bagian janin, yaitu Villi Korealis yang berasal dari korion dan sebagian kecil dari ibu yang
berasal dari desidua basalis.

Menurut Browne, klasifikasi plasenta previa didasarkan atas terabanya jaringan plasenta melalui
pembukaan jalan lahir pada waktu tertentu, yaitu:

1. Plasenta Previa Totalis

Bila plasenta menutupi seluruh jalan lahir pada tempat implantasi jelas tidak mungkin bayi
dilahirkan in order to vaginam (normal/spontan/biasa), karena risiko perdarahan sangat hebat.

2. Plasenta Previta Parsialis

Bila hanya sebagian/separuh plasenta yang menutupi jalan lahir. Pada tempat implantasi inipun
risiko perdarahan masih besar dan biasanya tetap tidak dilahirkan melalui pervaginam.

3. Plasenta Previa Marginalis

Bila hanya bagian tepi plasenta yang menutupi jalan lahir bisa dilahirkan pervaginam tetapi
risiko perdarahan tetap besar.

4. Low Lying Placenta (Plasenta Letak Rendah)

Lateralis plasenta atau kadang disebut juga plasenta berbahaya tempat implantasi beberapa
millimeter atau cm dari tepi jalan lahir risiko perdarahan tetap ada, namun bisa dibilang kecil,
dan bisa dilahirkan pervaginam dengan aman. Pinggir plasenta berada kira-kira 3 atau 4 cm
diatas pinggir pembukaan, sehingga tidak akan teraba pada pembukaan jalan lahir.

ETIOLOGI
Menurut Prof. Dr. Rustam Mochtar, MPH. Sinopsis Obstetri. 1998. Jakarta.

Beberapa faktor dan etiologi dari plasenta previa tidak diketahui. Tetapi diduga hal tersebut
berhubungan dengan abnormalitas dengan asal dari vaskularisasi endometrium yang mungkin
disebabkan oleh timbulnya parut akibat trauma operasi/infeksi.

Perdarahan berhubungan dengan adanya perkembangan segmen bawah uterus pada trimester
ketiga. Plasenta yang melekat pada area ini akan rusak akibat ketidakmampuan segmen bawah
rahim. Kemudian perdarahan akan terjadi akibat ketidakmampuan segmen bawah rahim untuk
berkonstruksi secara adekuat. Faktor risiko plasenta previa termasuk:

a. Riwayat plasenta previa sebelumnya.

b. Riwayat seksio sesarea.

c. Riwayat aborsi.

d. Kehamilan ganda.

e. Umur ibu yang telah lanjut, wanita lebih dari 35 tahun,

f. Multiparitas, apalagi bila jaraknya singkat. Secara teori plasenta yang baru berusaha mencari
tempat selain bekas plasenta berikutnya.

g. Adanya gangguan anatomis/tumor pada rahim.

Sehingga mempersempit permukaan bagi penempatan plasenta.

h. Adanya jaringan rahim pada tempat yang bukan seharusnya. Misalnya dari indung telur
setelah kehamilan sebelumnya atau endometriosis.

i. Adanya trauma selama kehamilan.

j. Sosial ekonomi rendah/gizi buruk patofisiologi dimulai dari usia kehamilan 30 minggu segmen
bawah uterus akan terbentuk dan mulai melebar serta menipis.

k. Mendapat tindakan Kuretase.

Dengan bertambah tuanya kehamilan, segmen bawah uterus akan lebih melebar lagi dan serviks
mulai membuka.

Apabila plasenta tumbuh pada segmen bawah uterus, pelebaran segmen bawah uterus dan
pembukaan serviks tidak dapat diikuti oleh plasenta yang melekat disitu tanpa terlepasnya
sebagian plasenta dari dinding uterus.
Pada saat itu mulailah terjadi perdarahan. Darah yang keluar berwarna merah segar, berlainan
dengan darah yang disebabkan oleh solusio plasenta yang berwarna kehitam-hitaman.

Sumber perdarahannya adalah sinus uterus yang sobek karena terlepasnya plasenta dari dinding
uterus atau karena robekan sinus marginalis dari plasenta.

PATOLOGI

Perdarahan tidak dapat dihindari karena ketidakmampuan serabut otot segmen bawah uterus
untuk berkontraksi menghentikan perdarahan itu, tidak sebagaimana serabut otot uterus yang
menghentikan perdarahan pada kala III dengan plasenta yang letaknya normal.

Makin rendah letak plasenta, makin dini perdarahan terjadi. Oleh karena itu, perdarahan pada
plasenta previa totalis akan terjadi lebih dini daripada pada plasenta letak rendah yang mungkin
baru berdarah setelah persalinan dimulai.

Anamnesis perdarahan jalan lahir pada kehamilan setelah 28 minggu berlangsung tanpa rasa
nyeri, berwarna merah segar, tanpa alasan terutama pada multigravida.

Banyaknya perdarahan tidak dapat dilihat dan dinilai dari anamnesa, melainkan dari pemeriksaan
hematokrit. Pemeriksaan luar bagian terbawah janin biasanya belum masuk pintu atas panggul.
Sering disertai dengan kelainan letak janin, seperti letak lintang atau letak sungsang.

TANDA DAN GEJALA

Menurut Departemen Kesehatan RI. 1996. Jakarta.

Gejala Utama

Perdarahan yang terjadi bisa sedikit atau banyak. Perdarahan yang berwarna merah segar, tanpa
alasan dan tanpa rasa nyeri.

Gejala Klinik

a. Perdarahan yang terjadi bisa sedikit atau banyak. Perdarahan yang terjadi pertama kali
biasanya tidak banyak dan tidak berakibat fatal. Perdarahan berikutnya hampir selalu lebih
banyak dari sebelumnya. Perdarahan pertama sering terjadi pada triwulan ketiga.

b. Pasien yang datang dengan perdarahan karena plasenta previa tidak mengeluh adanya rasa
sakit.

c. Pada uterus tidak teraba keras dan tidak tegang.

d. Bagian terbanyak janin biasanya belum masuk pintu atas panggul dan tidak jarang terjadi letak
janin letak janin (letak lintang atau letak sungsang)
e. Janin mungkin masih hidup atau sudah mati, tergantung banyaknya perdarahan, sebagian besar
kasus, janinnya masih hidup.

DIAGNOSIS

Untuk mendiagnosis perdarahan diakibatkan oleh plasenta previa diperlukan anamnesis dan
pemeriksaan obstetrik. Dapat juga dilakukan pemeriksaaan hematokrit. Pemeriksaan bagian luar
terbawah janin biasanya belum masuk pintu atas panggul.

Apabila presentasi kepala, biasanya kepalanya masih terapung diatas pintu atas panggul atau
mengolah kesamping dan sukar didorong kedalam pintu atas panggul.

Menurut Prof. Dr. Rustam Mochtar. 1998. Jakarta.

Sering disertai dengan kelainan letak janin, seperti letak lintang atau letak sungsang.
Pemeriksaan inspekulo bertujuan untuk mengetahui apakah perdarahan berasal dari ostium uteri
eksternum atau dari kelainan serviks atau vagina seperti erosro porsionis uteri, karsinoma
porsionis uteri polipus serviks uteri, varises vulva dan trauma.

Apabila perdarahan berasal dari ostium uteri eksternum adanya plasenta previa harus dicurigai.

Membandingkan diagnosis plasenta dengan solusio plasenta.

PLASENTA PREVIA

SOLUSIO PLASENTA

Perdarahan

Alasan

Uterus

Janin

Merah, segar

Tidak ada

Lemas

Tanpa nyeri

- Bagian terbawah, belum masuk PAP


- Ada kelainan

- Kebanyakan masih hidup

Merah tua, kehitaman

Ada faktor predisposisi

Tegang

Nyeri

- Kebanyakan telah mati

Anamnesis

1. Perdarahan

a. Kapan mulai perdarahan. Berapa usia kehamilan?

b. Apakah jumlah perdarahan sedikit atau banyak?

2. Rasa sakit

a. Apakah ibu mengeluh sakit?

b. Diperut daerah mana ibu merasa sakit?

c. Kapan mulainya sakit terasa?

d. Apakah derajat sakit terasa ringan atau berat?

3. Perabaan uterus

Apakah perabaan uterus terasa lunak atau keras dan tegang?

4. Masalah pada kehamilan sebelumnya


Apakah ibu mengalami masalah pada kehamilan sebelumnya?

5. Kondisi janin

Apakah ibu masih merasakan gerakan janin?

Pemeriksaan Fisik

Dikutip dari Prof Dr.Rustam Mochtar,MPH,Sinopsis Obsestri,1998,Jakarta

Pada pemeriksaan fisik melakukan pemeriksaan tanda-tanda vital yaitu kesadarannya, tekanan
darah, nadi, pernafasan dan suhu badan. Tanda-tanda yang menunjukkan adanya renjatan
(keadaan syok) seperti penurunan kesadaran, tekanan darah yang rendah, nadi yang cepat serta
keringat dan ujung-ujung anggota gerak yang dingin akibat perdarahan.

Pemeriksaan Obstetri

Dikutip dari Prof Dr.Rustam Mochtar,MPH,sinopsis Obsestri,1998,Jakarta

1. Tentukan besar uterus apakah sesuai dengan usia kehamilan?

2. Tentukan rahim lemas atau keras (tegang)?

3. Tentukan adanya His dan bagaimana kondisi ibu?

4. Periksa kondisi janin: jumlahnya, letaknya, presentasinya dan sudah masuk pintu atas panggul
atau belum, taksiran beratnya janin hidup, gawat atau mati?

5. Lihat daerah vulva (diluar vagina), apakah ada perdarahan. Bila ada perdarahan, berapa
banyak jumlah perdarahan? Bagaimana warnanya?

Dilarang melakukan pemeriksaan pervaginam (periksa dalam).

Pada diagnosis didapatkan implantasi plasenta di dinding posterior uterus lebih sering daripada
di bagian anterior dan plasenta yang berimplantasi di korpus posterior lebih sering bermigrasi ke
fundus daripada plasenta yang berimplantasi di anterior, walaupun pertumbuhan otot polos
dinding anterior dan posterior sama. Pergerakan tampaknya lebih besar di dinding uterus
posterior karena dindingnya lebih panjang.

Wanita dengan riwayat abortus mempunyai risiko plasenta previa 4 kali lebih besar dibanding
wanita dengan tanpa riwayat abortus dan terdapat hubungan bermakna faktor risiko abortus
dengan plasenta previa.

Plasenta previa terjadi pada wanita yang pernah mengalami kuretase, diduga disrupsi
endometrium atau luka endometrium merupakan predisposisi terjadinya kelainan implantasi
plasenta. Plasenta previa lebih sering pada wanita multipara, karena jaringan parut uterus akibat
kehamilan berulang. Jaringan parut menyebabkan tidak adanya persediaan darah ke plasenta
sehingga plasenta menjadi lebih tipis dan mencakup daerah uterus yang lebih luas.

Konsekuensi perlekatan plasenta yang luas ini adalah meningkatnya risiko penutupan ostium
uteri internum. Plasenta letak rendah terjadi karena endometrium bagian fundus belum siap
menjadi tempat implantasi pada kehamilan yang sering. Pada riwayat seksio sesarea dapat terjadi
plasenta letak rendah karena implantasi awal plasenta tidak dianterior sehingga dalam
perkembangannya tidak normal.

Plasenta mengalami perubahan, dari perubahan inilah bisa tejadi plasenta berpindah atau lebih
tepatnya bergeser secara relatif menjauhi jalan lahir, seolah-olah bergerak ke atas. Itulah
sebabnya sebelum masuk trimester terakhir, sektar 28 minggu/7 bulan dibiarkan saja dulu asal
tidak terjadi perdarahan yang tidak bisa dikendalikan. Diharapkan setelah 7 bulan bisa berpindah
ke implantasi normal.

Diagnosis ditegakkan dengan adanya gejala-gejala klinis dan beberapa pemeriksaan: menurut
Vicky Chapman. 2006. Jakarta :

1. Anamnesis

a. Gejala pertama yang membawa pasien ke dokter atau rumah sakit adalah perdarahan pada
kehamilan setelah 28 minggu atau pada kehamilan lanjut (trimester III).

b. Sifat perdarahannya tanpa sebab (couseless), tanpa nyeri (painless) dan berulang (recurrent).

c. Perdarahan timbul sekonyong-konyong tanpa sebab apapun, kadang perdarahan terjadi


sewaktu bangun tidur pagi hari tanpa disadari tampat tidur sudah penuh darah. Perdarahan
cenderung berulang dengan volume yang lebih banyak dari sebelumnya.

Sebab dari perdarahan adalah karena ada plasenta dan pembuluh darah yang robek karena:

1. Terbentuknya segmen bawah rahim.


2. Terbentuknya ostium atau oleh manipulasi intravaginal atau rektal.

Sedikit atau banyaknya perdarahan tergantung pada besar dan banyaknya pembuluh darah yang
robek dan plasenta yang lepas. Biasanya wanita mengatakan banyaknya perdarahan dalam
berapa kain sarung, berapa gelas dan adanya darah-darah beku (stosel)

2. Infeksi

a. Dapat dilihat perdarahan yang keluar pervaginam

Banyak, sedikit, darah beku.

b. Kalau telah berdarah banyak maka ibu kelihatan pucat/anemis.


3. Palpasi Abdomen

a. Janin sering belum cukup bulan. Jadi fundus uteri masih rendah.

b. Sering dijumpai kesalahan letak janin.

c. Bagian terbawah janin belum turun, apabila letak kepala, biasanya kepala masih goyang atau
terapung (floating) atau mengolak di atas pintu atas panggul.

d. Bila cukup pengalaman (ahli), dapat dirasakan suatu bantalan pada segmen bawah rahim,
terutama pada ibu yang kurus.

4. Pemeriksaan Inspekulo

Dengan memakai spekulum secara hati-hati dilihat darimana asal perdarahan. Apakah dari dalam
uterus atau dari kelainan serviks vagina, varises pecah.

5. Pemeriksaan radio-isotop

a. Plasentografi jaringan lunak (soft tissue placentography) oleh Stevenson. 1934, yaitu membuat
foto dengan sinar roentgen lemah untuk mencoba melokalisir plasenta. Hasil foto dibaca oleh
ahli radiology yang berpengalaman.

b. Sitografi, mula-mula kandung kemih dikosongkan, lalu dimasukkan 40 cc larutan NaCl


12,5%, kepala janin ditekan kearah pintu atas panggul, lalu dibuat foto. Bila jarak kepala dan
kandung kemih berselisih lebih dari 1 cm, maka terdapat kemungkinan plasenta previa.

c. Plasentografi Indirek, yaitu membuat foto seri lateral dan antero posterior yaitu ibu dalam
posisi berdiri atau duduk setengah berdiri, lalu foto dibaca oleh ahli radiologi berpengalaman
dengan cara menghitung jarak diantara kepala-simfisis dan kepala promontorium.

d. Anteriografi, dengan memasukkan zat kontras kedalam arterifemordis karena plasenta sangat
kaya akan pembuluh darah. Maka ia akan banyak menyerap zat kontras, ini akan jelas terlihat
dalam foto dan juga lokasinya.

e. Amniografi, dengan memasukkan zat kontras kedalam rongga amnion, lalu dibuat foto dan
dilihat dimana terdapat daerah kosong (diluar janin) dalam rongga rahim.

f. Radio-isotop palsentografi dengan menyuntikkan zat radio aktif. Biasanya RISA (Radio
Iodinated Serum Albumin) secara intravena lalu diikuti dengan detector GMC.

6. Ultrasonografi

Penentuan lokasi plasenta secara ultrasonografi sangat tepat dan tidak dapat menimbulkan
bahaya radiasi terhadap janin. Cara ini sudah mulai banyak dipakai di Indonesia.
7. Pemeriksaan dalam

Adalah senjata dan cara paling akhir yang paling ampuh dibanding obstetrik untuk diagnosis
plasenta previa.

Walaupun ampuh namun kita harus berhati-hati, karena bahayanya juga sangat besar.

a. Bahaya pemeriksaan dalam

a.1 Dapat menyebabkan perdarahan yang sangat hebat. Hal ini sangat berbahaya bila sebelumnya
kita tidak siap dengan pertolongan segera. Dalam buku-buku disebut sebagai membangunkan
harimau tidur (to awake a sleeping tiger).

a.2 Terjadi infeksi.

a.3 Meimbulkan his dan kemudian terjadilah partus prematurus.

b. Teknik dan persiapan pemeriksaan dalam.

b.1 Pasang infus dan persiapkan donor darah.

b.2 Kalau dapat, pemeriksaan dilakukan dikamar bedah, dimana fasilitas operasi segera telah
tersedia.

b.3 Pemeriksaan dilakukan secara hati-hati dan secara lembut (with ladys hand).

b.4 Jangan langsung masuk kedalam kanalis servikalis, tetapi raba dulu bantalan antara janin dan
kepala janin pada forniks (anterior dan posterior) yang disebut uji forniks (fornices test).

b.5 Bila ada darah beku dalam vagina, keluarkan sedikit-sedikit dan pelan-pelan.

c. Kegunaan pemeriksaan dalam pada perdarahan antepartum.

c.1 Menegakkan diagnosa apakah perdarahan oleh plasenta previa atau oleh sebab-sebab lain.

c.2 Menentukan jenis klasifikasi plasenta previa, supaya dapat diambil sikap dan tindakan yang
tepat.

d. Indikasi pemeriksaan dalam pada perdarahan antepartum:

d.1 Perdarahan banyak, lebih dari 500 cc.

d.2 Perdarahan yang sudah berulang-ulang (recurrent).

d.3 Perdarahan sekali, banyak, dan Hb dibawah 8 gr%


Kecuali bila persediaan darah ada dan keadaan sosial-ekonomi penderita baik.

d.4 His telah mulai dan janin sudah dapat hidup diluar rahim (viable).

Pengaruh Plasenta Previa terhadap kehamilan

Dikutip dari Prof Dr.Rustam Mochtar,MPH,Sinopsis Obsestri,1998,Jakarta Karena dihalangi


oleh plasenta maka bagian terbawah janin tidak terfiksir kedalam pintu atas panggul, sehingga
terjadilah kesalahan-kesalahan letak janin, letak kepala mengapung, letak sungsang letak lintang.

Sering terjadi partus prematurus karena adanya rangsangan koagulan darah pada serviks. Selain
itu jika banyak plasenta yang lepas kadar progesterone turun dan dapat terjadi His. Juga lepasnya
plasenta sendiri dapat merangsang his. Dapat juga karena pemeriksaan dalam.

Pengaruh Plasenta Previa Terhadap Partus

Menurut Prof Dr.Srwono Prawirodihardjo.SpOG,1997,Jakarta

1. Letak janin yang tidak normal, menyebabkan partus akan menjadi patologis.

2. Bila pada plasenta previa lateralis, ketuban pecah atau dipecahkan dapat terjadi prolaps
funikuli.

3. Sering dijumpai inersia primer.

4. Pardarahan.

Komplikasi Plasenta Previa

Menurut Prof.Dr.Sarwono Prawirohardjo.SpOG,1997,Jakarta.

1. Prolaps tali pusat.

2. Prolaps plasenta.

3. Plasenta melekat, sehingga harus dikeluarkan manual dan kalau perlu dibersihkan dengan
kerokan.

4. Robekan-robekan jalan lahir karena tindakan.

5. Perdarahan post portum.

6. Infeksi karena perdarahan yang banyak.

7. Bayi premature atau lahir mati.


PENANGANAN

Menurut Prof. Dr. Sarwono Prawirohardjo.SpOG. 1997. Jakarta.

1. Penanganan Pasif

a. Perhatian

Tiap-tiap perdarahan triwulan ketiga yang lebih dari show (perdarahan inisial), harus dikirim ke
rumah sakit tanpa dilakukan manipulasi apapun. Baik rektal apalagi vaginal (Eastmon).

b. Apabila pada penilaian baik, perdarahan sedikit, janin masih hidup belum inpartu, kehamilan
belum cukup 37 minggu atau berat badan janin dibawah 2500 gr, maka kehamilan dapat
dipertahankan, istirahat dan pemberian obat-obatan seperti spasmolitika, progestin atau
progesterone, observasi dengan teliti.

c. Sambil mengawasi periksa golongan darah dan menyiapkan donor transfusi darah, bila
memungkinkan kehamilan dipertahakan setua mungkin supaya janin terhindar dari prematuritas.

d. Harus diingat bahwa bila dijumpai ibu hamil tersangka plasenta previa rujuk segera ke rumah
sakit dimana tedapat fasilitas operasi dan transfusi darah.

e. Bila kekurangan darah, berikanlah transfusi darah dan obat-obatan penambah darah.

2. Cara Persalinan

Faktor-faktor yang menentukan sikap atau tindakan persalinan mana yang akan dipilih adalah:

a. Jenis plasenta previa.

b. Perdarahan : banyak, atau sedikit tetapi berulang-ulang.

c. Keadaan umum ibu hamil.

d. Keadaan janin : hidup, gawat atau meninggal.

e. Pembukaan jalan lahir.

f. Paritas atau jumlah anak hidup.

g. Fasilitas penolong dan rumah sakit.

Setelah memperhatikan faktor-faktor diatas, ada 2 pilihan persalinan yaitu:

1. Persalinan Pervaginam
a. Amniotomi

Amniotomi atau pemecahan selaput ketuban adalah cara yang terpilih untuk melancarkan
persalinan pervaginam.

Indikasi amniotomi pada plasenta previa:

b.1 Plasenta previa lateralis atau marginalis atau letak rendah, bila telah ada pembukaan.

b.2 Pada primigravida dengan plasenta previa lateralis atau marginalis dengan pembukaan 4 cm
atau lebih.

b.3 Plasenta previa lateralis/marginalis dengan janin yang sudah meninggal.

Keuntungan amniotomi:

a. Bagian terbawah janin yang berfungsi sebagai tampon akan menekan plasenta yang berdarah
dan perdarahan berkurang atau berhenti.

b. Partus akan berlangsung lebih cepat.

c. Bagian plasenta yang berdarah dapat bebas mengikuti cincin gerakan dan regangan segmen
bawah rahim, sehingga tidak ada lagi plasenta yang lepas.

Setelah ketuban dipecahkan diberikan oksitosin drip 25,5 satuan dalam 500 cc dekstrosa 5%.

b. Memasang Cunam Willet Gausz

Cara:

b.1 Kulit kepala janin diklem dengan cunam willet gauss.

b.2 Cunam diikat dengan kain kasa atau tali dan diberi beban kira-kira 50 100 gr / satu bata
seperti katrol.

b.3 Dengan jalan ini diharapkan perdarahan berhenti dan persalinan diawasi dengan ketat.

c. Versi Braxton Hicks

Versi dilakukan pada janin letak kepala, untuk mencari kaki supaya dapat ditarik keluar. Bila
janin letak sungsang atau letak kaki, menarik kaki keluar akan lebih mudah. Kaki diikat dengan
kain kasa, dikatrol dan diberi beban seberat 50 100 gr (satu batu bata).

d. Menembus plasenta diikuti dengan versi Braxton Hicks atau Wilet Gausz.

Sekarang tidak dapat dilakukan karena bahaya perdarahan yang banyak. Menembus plasenta
dilakukan pada plasenta previa sentralis.

e. Metreutynter.

Memasukkan kantong karet yang diisi udara atau air sebagai tampon, sekarang tidak dilakukan.

Persalinan perabdominan, dengan seksio sesarea.

Indikasi seksis sesarea pada plasenta previa:

1. Semua plasenta previa sentralis, janin hidup atau meninggal.

Semua plasenta previa sentralis, posterior, karena perdarahan yang sulit dikontrol dengan cara-
cara yang ada.

2. Semua plasenta previa lateralis posterior, karena perdarahan yang sulit dikontrol dengan cara-
cara yang ada.

3. Semua plasenta previa dengan perdarahan yang banyak dan tidak berhenti dengan tindakan-
tindakan yang ada.

4. Plasenta previa dengan panggul sempit, letak lintang.

Perdarahan pada bekas insersi plsenta (placental bed) kadang-kadang berlebihan dan tidak dapat
diatasi dengan cara-cara yang ada, jika hal ini dijumpai tindakannya adalah:

a. Bila anak belum ada, untuk menyelamatkan alat reproduktif dilakukan ligasi arteries
hipogastrika.

b. Bila anak sudah ada dan cukup, yang baik dilakukan adalah histerektomi.

Lebih lengkap disini: ASKEB PLASENTA LETAK RENDAH | kumpulan askep askeb |
download KTI Skripsi | asuhan keperawatan kebidanan
http://terselubung.cz.cc/
Diposkan oleh aangcoy13 di 22:10
Kirimkan Ini lewat EmailBlogThis!Berbagi ke TwitterBerbagi ke Facebook

0 komentar:

Poskan Komentar

Posting Lebih Baru Posting Lama Beranda


Langgan: Poskan Komentar (Atom)

BIODATA
aangcoy13
Lihat profil lengkapku

GRAFIK KEMAJUAN PENGUNJUNG

32288

DATA ASKEB TERBARU


2011 (535)
o Desember (77)
askep FIBRO ADENOMA MAMMAE
Askep trauma kapitis
ASUHAN KEPERAWATAN PADA PASIEN DENGAN OBSTRUKSI
US...
ASUHAN KEPERAWATAN PASIEN GASTRITIS PADA LANSIA
ASUHAN KEPERAWATAN KLIEN DENGAN ULKUS PEPTIKUM
Asuhan Keperawatan KLIEN dengan ARDS (Adult Respir...
PENGKAJIAN KASUS TRAUMA
askep TRAUMA THORAKS
askep Serosis Hepatis
askep VOMITUS / MUNTAH
ASKEP pada Anak ASD, VSD, KOARTASIO AORTA dan Bron...
askep Kelainan Jantung : VSD
ASKEP MORBILI penyakit virus akut
Askep Appendisitis
ASUHAN KEPERAWATAN PADA KLIEN DENGAN PERITONITIS
ASKEP MORBILI/CAMPAK PADA ANAK
ASKEP Kongesti
Askep osteoporosis
askep Kelenjar Hipotalamus DAN Kelenjar hipofisis
Askep OMA dan Mastoiditis
ASKEP KLIEN Dermatitis Alergi
Asuhan keperawatan pedikulosis Tautan
Askep morbili
ASKEP PERILAKU KEKERASAN
MANAJEMEN DALAM KEPERAWATAN
FORMAT DOKUMENTASI KEPERAWATAN
ASKEP SECTIO CAESARIA
KONSEP DASAR PEMENUHAN KEBUTUHAN ELIMINASI URINE
ALAT REPRODUKSI WANITA DAN FUNGSINYA
FISIOLOGI PROSES PERSALINAN NORMAL
ASKEP SINDROM NEFROTIK PADA NY
ASUHAN KEPERAWATAN PADA KLIEN DENGAN PPOM
MOBILISASI PEMENUHAN KEBUTUHAN AKTIFITAS
ASUHAN KEPERAWATAN KLIEN DENGAN STROKE
ASKEP SINDROM NEFROTIK
KDM TEKNIK MEMANDIKAN PASIEN DI TEMPAT TIDUR
KOMUNIKASI DENGAN PASIEN TAK SADAR
ASUHAN KEPERAWATAN GERONTIK DENGAN RHEMATOID
ARTHI...
ASUHAN KEPERAWATAN ATRESIA ESOFAGUS
ASUHAN KEPERAWATAN PYLONEPHRITIS
KOMUNIKASI DENGAN PASIEN ANAK
ASUHAN KEPERAWATAN BATU GINJAL
askep ATELEKTASIS (ATELECTASIS)
Askep Decomp. Cordis n
Askep Stroke Non Hemoragik (SNH)
ASKEP DENGAN FRAKTUR HUMERUS
Askep Aritmia
LIPOMA - BENJOLAN LEMAK
askep Askep Sifilis
askep Encephalitis (Radang Otak)
o November (64)
o Oktober (76)
o September (24)
o Agustus (53)
o Juli (46)
o Juni (65)
o Mei (20)
o April (63)
o Maret (47)
ASKEP HIPERTENSI
ASKEP DIABETES MELLITUS
ASKEP STOMATITIS (SARIAWAN)
ASKEP SINUSITIS
ASKEP ABLASIO BLASTOMA
ASKEP EPILEPSI
ASKEP APENDISITIS ( USUS BUNTU )
ASKEP KATARAK
ASKEP MENINGITIS
Asuhan Keperawatan Pasien dengan Malaria
ASKEP KOMUNITAS KELUARGA DENGAN ARTRITIS REMATOID
...
kb suntik.
Asuhan Kebidanan dengan Multigravida Letak Sungsan...
AKSEPTOR KB SUNTIK CYCLOFEM
ASUHAN KEPERAWATAN PADA PASIEN DENGAN GANGGUAN
PRE...
ASUHAN KEPERAWATAN KLIEN DENGAN STROKE
askep hisprung
askep scabies
ASKEP Pterigyum
ASUHAN KEPERAWATAN KLIEN LUKA BAKAR
Askep Ca Colon
ASKEP DIABETES MELLITUS
ASUHAN KEPERAWATAN PADA GANGGUAN SISTEM
PENGLIHATA...
asal mula Ibnu Sina (AVICENNA)
ASUHAN KEPERAWATAN PADA ANAK DENGAN THPOID
PENGARUH KOMPETENSI BIDAN DI DESA TERHADAP
PELAYAN...
ASUHAN KEPERAWATAN PADA KLEIN DENGAN HNP (HERNIA
N...
ASUHAN KEPERAWATAN HERNIA
Asuhan Keperawatan HNP
ASKEB KB PATOLOGI
Askeb Hiperemesis Gravidarum
ASKEB PLASENTA LETAK RENDAH
askeb- AKSEPTOR KB SUNTIK CYCLOFEM
ASKEP Hidrosefalus (Hidrocephalus)
Askep Mola Hidatidosa
Askeb Kista Ovarium
Askep AsfiKsia Neonatorum
ASKEP DIARE PADA ANAK
FORMAT ASKEB INC
ASKEP PNEUMONIA
ASKEB POST PARTUM / NIFAS
ASKEB BAYI DENGAN IMUNISASI
ASKEP KANKER SERVIKS
IBU HAMIL DENGAN ANEMIA SEDANG
ASUHAN KEBIDANAN IBU BERSALIN DENGAN LETAK
SUNGSAN...
GANGGUAN PERSEPSI SENSORI: HALUSINASI PENDENGARAN
ASKEB ANAK DENGAN THYPOID
SEMUA WILAYAH ADA DI SINI

KALENDER INDONESIA

JANGAN DI LIHAT DOSA

Template Picture Window. Diberdayakan oleh Blogger.