You are on page 1of 21

Pendahuluan

Sebuah buku menarik telah saya baca. The Fabric of the Cosmos. Sebuah
komentar mengatakan Another Hawking, only better untuk sang penulis. Dialah
Brian Greene dari Columbia University yang juga penulis The Elegant Universe
yang menjadi best seller. Tidak hanya buku, sebuah tiga episode film berjudul sama,
The Elegant Universe diproduski oleh NOVA dan PBS dan bisa di tonton online di
internet. Bagi yang lebih menyukai menonton film ketimbang membaca buku, Film ini
sangat bagus dan lebih mudah dimengerti. Rasa takjub saya kepada alam semesta
bertambah dan membuat saya berpikir panjang.

Sempat saya angkat sedikit tulisan saya ke sebuah mailing list di internet, dan
mendapatkan banyak tanggapan. Sungguh sebuah topik yang sangat serius dan
menggugah siapa pun untuk ikut serta dalam diskusi panjang dan meluas hingga
kepada agama.

Tulisan ini merupakan rangkuman dari beberapa buku fisika yang saya baca namun
saya berusaha untuk menggunakan bahasa yang sederhana agar mudah dimengerti
dan berharap bisa menjadi sebuah referensi sederhana bagi siapa pun.

Fisika Klasik
Perjalanan kita dimulai dari sebuah kecelakaan di masa lampau yang menimpa
kepala seorang pemikir terkenal. Sebuah apel jatuh dari pohonnya dan memberi ide
kepada Isaac Newton. Ide apel yang jatuh ini merupakan awal popularitas gaya atau
forsa (force) gravitasi yang diperkenalkan Newton. Forsa gravitasi-lah yang
menyebabkan apel jatuh. Forsa ini pula lah yang menyebabkan planet melintas pada
orbitnya mengelilingi matahari. Karya Isaac Newton mengenai forsa gravitasi dalam
bukunya yang tekenal Principia of Mathematica masih digunakan orang hingga
sekarang untuk meluncurkan roket mengelilingi bulan dan mengirimkan rover ke
planet Mars.

Newton berhasil merubah pandangan orang. Gaya tarik-menarik yang tak terlihat itu
bisa dihitung dan menjadi nyata dalam aplikasinya. Gravitasi adalah sebuah forsa
fundamental di alam ini. Walaupun demikian Newton belum bisa menjawab apakah
gravitasi tersebut.

Fisika Relativitas Umum


Dr. Albert Einstein
Dari sebuah kantor paten di Swiss, ilmuwan muda, Albert
Einstein menyelidiki cahaya. Ia menemukan bahwa cahaya merambat dengan
kecepatan sangat tinggi dan tidak ada satu obyek pun yang mampu bergerak
melebihi kecepatan cahaya. Kecepatan cahaya adalah konstan dan sama di mana
saja di alam semesta ini. Einstein memperkenalkan kepada dunia sebuah konsep
dan cara berpikir baru mengenai ruang-waktu.

Dalam menyelidiki ini, Einstein menemukan bahwa sebuah benda massif di alam
semesta seperti bintang atau matahari kita, melengkungkan ruang. Anda bisa
membayangkan sebuah bola bowling di atas permukaan trampoline. Karet
trampoline melendut atau melengkung ke bawah karena massa bola bowling.
Kemudian bila sebuah bola yang lebih kecil dan lebih ringan massanya, misal bola
tennis, digelindingkan di samping bola bola bowling menyeberangi permukaan
trampoline, maka lintasan bola tennis akan membelok dikarenakan permukaan karet
trampoline yang melengkung. Einstein menemukan apa yang disebut forsa gravitasi.

Lintasan planet yang mengelilingi matahari sebenarnya adalah lintasan planet yang
bergerak lurus namun terlengkungkan oleh ruang yang melengkung dikarenakan
massa matahari di dekatnya.

Lalu apa yang terjadi bila tiba-tiba matahari lenyap? Menurut Newton, planet-planet
akan kehilangan forsa gravitasi dari matahari dan seketika itu pula melanjutkan
gerak lurusnya menjauh dari matahari. Ilustrasi yang benar namun tidak seluruhnya
tepat. Einstein menambahkan bahwa cahaya memerlukan waktu 8 menit untuk
mencapai bumi. Jika tiba-tiba matahari lenyap, maka kelengkungan ruang yang
disebabkan massa matahari akan kembali ke kondisi ruang yang rata. Dengan kata
lain anda bisa membayangkan permukaan trampoline yang menjadi rata kembali
ketika bola bowling diangkat, atau permukaan air yang beriak kemudian tenang
kembali. Sebuah riak gelombang terjadi dari pusat lokasi matahari. Gelombang forsa
gravitasi ini merambat dengan kecepatan yang sama dengan kecepatan cahaya.
Sehingga Einstein mengemukakan bahwa planet bumi tidak akan langsung
meninggalkan orbitnya sebelum 8 menit, yaitu waktu yang dibutuhkan oleh forsa
gravitasi untuk mencapai bumi dari matahari.

Einstein menerbitkan teori Relativitas Umum. Forsa gravitasi berhasil dijelaskan.


Hingga kini, Relativitas umum merupakan teori yang mampu dengan baik
menjelaskan pergerakan benda-benda massif di alam semesta seperti planet,
matahari, dan galaksi. Teori relativitas menjelaskan alam semesta dalam ukuran
besar. Einstein meyakini bahwa alam semesta berperilaku teratur seperti yang
diamati dikarenakan mematuhui hukum-hukum fisika. Tuhan tidak bermain dadu,
ucapnya.

Einstein membuka wawasan tentang bagimana orang seharusnya melihat ruang dan
waktu. Ruang dan waktu bagaikan sebuah fabric atau lembaran kain yang
membentang. Ruang-waktu dapat mengkerut, meregang, terpilin dan terdistorsi oleh
medan gravitasi dari benda massif.

Fisika Quantum
Mulai dari sini tulisan saya akan lebih rumit untuk diikuti, saya pun menemukan
kesulitan dalam menuliskannya. Kehadiran Einstein yang cemerlang dan teorinya
yang memukau membangkitkan semangat seluruh fisikawan teoretis diseluruh
dunia. Gagasan-gagasan baru diajukan dalam waktu yang hampir bersamaan. Pada
kesempatan ini saya hanya akan menyinggung yang penting-penting saja.

James Clerk Maxwell

Listrik (electricity) adalah sebuah forsa. Magnet juga febuah forsa. Orang
menemukan bahwa listrik dan magnet adalah relevan, keduanya saling
berpengaruh. James Clerk Maxwell berhasil menggabungkan kedua forsa tersebut
menjadi sebuah forsa fundamental alam lainnya selain forsa gravitasi, yaitu forsa
Electromagnetic (EM). Forsa EM dihasilkan oleh alam setiap saat, bahkan setiap
partikel membawa muatan listrik yang mempengaruhi secara signifikan interaksi
antar pertikel.

Maxwell mengirimkan sebuah paper kepada Einstein untuk dipublikasikan. Maxwell


meyakini bahwa selain forsa gravitasi yang merambat pada dan melengkungkan
ruang, forsa EM juga demikian, dan forsa EM memerlukan ruang untuk merambat.
Tapi dimana? Untuk menjawab ini maka Maxwell mengusulkan sebuah dimensi
ruang tambahan agar Forsa EM tersebut dapat merambat. Einstein menerima ide
Maxwell ini. Diterimanya sebuah dimensi ruang tambahan adalah sebuah
momentum awal manusia dalam mengkoreksi cara pandang terhadap alam. Lalu,
dimana letak dimensi tambahan ini? Mengapa kita tidak melihatnya?

Ilmuan lain, Kaluza dan Klein mengusulkan bahwa dimensi extra itu sangat kecil.
Bayangkan saja bila anda melihat sebuah kawat listrik dari jauh. Anda melihat kawat
tersebut sangat kecil bagaikan sebuah tali yang memiliki panjang saja tanpa lebar.
Namun bila kita melihat dari jarak yang sangat dekat, misalkan dari pandangan
seekor semut, maka seekor semut itu dapat bergerak maju, mundur serta berputar
ke kanan dan ke kiri di badan kawat listrik tersebut. Inilah dimensi extra yang tak
tampak tesebut. Kaluza-Klein mengusulkan bahwa dimensi extra berukuran sangat
kecil di setiap titik lokasi pada ruang. Karena terlalu kecil maka ia tak terlihat.

Einstein terinspirasi oleh forsa EM ini dan meyakini bahwa untuk mengerti alam ini
secara fundamental maka forsa Gravitasi harus bisa disatukan dengan forsa EM.
Sebuah penggabungan atau unification. Sejak saat itu seluruh hidupnya dihabiskan
untuk menemukan sebuah rumusan tunggal yang mampu menjelaskan forsa
gravitasi dan EM.

Sementara itu Neils Bohr memperkenalkan model atomnya yang diterima dengan
baik, yaitu bahwa atom terdiri dari inti, inti terbentuk dari proton yang bermuatan
positif dan neutron yang bermuatan netral, di sekitar inti mengorbit electron yang
bermuatan negatif.

Di sinilah orang mulai berpikir pada semesta yang sangat kecil. Untuk mengerti
perilaku alam semesta secara keseluruhan, maka orang harus mengerti interaksi
antar partikel. Penelitian ini menghantarkan orang pada alam sub-atomic. Disinilah
lahirnya fisika quantum.
Jika Teori Relativitas menjelaskan alam semesta dalam ukuran besar, maka fisika
quantum menjelaskan alam semesta dalam ukuran sangat kecil.

Namun terjadi sebuah kontradiksi. Pada ukuran alam yang sangat kecil ini, gravitasi
bagaikan tidak punya gigi. Maksudnya, forsa gravitasi tidak memiliki peran sama
sekali dalam reaksi antar partikel. Malahan, fisikawan berhasil menemukan forsa
fundamental lainnya, yaitu forsa nuklir Kuat (Strong Nuclear Force) yang merekatkan
inti atom pada tempatnya, dan forsa nuklir lemah (Weak Nuclear Force) yang
menyebabkan peluruhan atom atau radiasi.

Sejauh ini telah ditemukan seluruh forsa fundamental alam. Mereka adalah forsa
gravitasi, forsa electromagnetic, forsa nuklir kuat dan forsa nuklir lemah. Ditinjau dari
kekuatan energi-nya, maka forsa nuklir kuat adalah yang terkuat. Ini telah dibuktikan
dengan dibuatnya bom atom. Peledakan bom atom adalah sebuah pelepasan energi
forsa nuklir kuat yang disebabkan oleh pemisahan partikel pada inti atom.
Pemecahan inti atom ini membuat luruhnya (radiasi) atom yang energi-nya (energi
forsa nuklir lemah) masih dapat dideteksi hingga sekarang.

Forsa gravitasi adalah yang terlemah di antara ketiganya. Bila dibandingkan dengan
forsa EM saja, maka forsa EM trilyunan kali lebih kuat. Forsa Gravitasi hanya dapat
dirasakan pada benda-benda ber-massa sangat besar seperti planet dan bintang.
Pada alam quantum, forsa gravitasi tidak memiliki pengaruh, karena kekuatan forsa
ini terlalu kecil untuk diperhitungkan.

Sebuah dilema dan masalah serius bagi fisikawan. Unification mengalami kendala.

Pada kesempatan lain, Roger Penrose dan Stephen Hawking mendalami sebuah
fenomena alam, yaitu keruntuhan bintang. Sebuah bintang dapat runtuh bila setiap
partikel yang membentuknya kehilangan energi. Electron yang kehabisan energi
akan jatuh ke inti atom. Ukuran atom mengkerut sangat signifikan sehingga ukuran
bintang itu pun mengkerut ke ukuran yang sangat kecil. Namun demikian, forsa
gravitasi tidak berubah. Singkatnya, pada ukuran yang sangat kecil ini, forsa
gravitasi sangat kuat. Ruang terlengkungkan ke ukuran tak hingga.

Demikian kuatnya forsa gravitasi hingga cahaya pun tidak dapat lolos. Bila cahaya
tidak dapat lolos, maka kita tidak mungkin bisa melihat bintang runtuh tersebut.
Keberadaan bintang runtuh ini hanya dapat dilihat dengan memperhatikan daerah
hitam gelap di langit yang memiliki gravitasi kuat. Oleh kerenanya bintang runtuh
lebih sering disebut lubang hitam (black hole).

Cahaya, atau partikel cahaya yang disebut photon yang jatuh ke dalam lubang hitam
tidak akan dapat lolos. Namun pada jarak tertentu dari inti lubang hitam dimana
forsa gravitasi tidak terlalu kuat sehingga cahaya masih dapat bertahan untuk tidak
jatuh namun terlalu lemah untuk bisa lolos, maka cahaya tersebut hanya dapat
melayang-layang di situ. Jarak ini disebut horizon peristiwa (event horizon).
Dinamakan demikian karena dipercayai jika cahaya berhenti bergerak, maka waktu
setempat ikut berhenti.

Singularitas dan Penciptaan Alam Semesta


Saya rasa perlu untuk meninjau bahasan ini. Tujuan akhir fisika adalah untuk
mengerti perilaku alam semesta, bagaimana terciptanya dan untuk apa diciptakan.
Pertanyaan terakhir terdengar seperti keinginan manusia untuk mengerti pikiran
Tuhan. Namun apabila memang Tuhan menciptakan alam ini dengan alasan
khusus, maka jawabannya tentu saja dengan harus menjawab terlebih dahulu
pertanyaan bagaiman alam semesta ini diciptakan.

Penrose memberi ide kepada Hawking mengenai asal-usul alam semesta. Ditambah
dengan Sebuah pengamatan mengenai alam semesta yang mengembang,
menyimpulkan bahwa suatu saat di masa lampau, alam semesta ini berukuran
sangat kecil. Hawking menegaskan bahwa alam semesta ini berawal dari sebuah
titik tunggal sangat kecil. Sebuah singularitas.

Singularitas berasal dari kata singular atau sebuah kondisi tunggal. Di titik awal
terbentuknya ruang-waktu ini, seluruh forsa fundamental alam seharusnya masih
berupa satu forsa tunggal. Kemudian seperti halnya ledakan bom nuklir, pecahnya
sebuah forsa tunggal ini menjadi empat forsa alam menghasilkan ledakan yang
Maha dahsyat, yang disebut Big Bang.

Big Bang adalah peristiwa penciptaan alam semesta ini. Sebuah peristiwa
terpecahnya sebuah forsa tunggal menjadi 4 forsa fundamental.

Alam mengembang hingga sekarang dan membentuk bintang dan planet.

Penemuan lubang hitam bagaikan melihat Big Bang dari arah terbalik. Lubang hitam
adalah singularitas. Maka untuk mengerti bagaimana alam semesta ini diciptakan,
adalah dengan menggabungkan keempat forsa yang ada. Sampai hingga fase ini,
manusia sudah berhasil menggabungkan forsa EM dengan forsa nuklir lemah
menjadi forsa elektrolemah (Electroweak Force). Juga elektrolemah digabungkan
dengan forsa nuklir kuat menghasilkan sebuah framework yang diyakini sebagai
model standard (Standard Model) dari sebuah teori pamungkas yang mampu
menjelaskan asal usul alam semesta dalam sebuah teori tunggal; Teori Segala
Hal, atau Theory of Everything (TOE)

Relativitas VS Quantum
Lubang hitam adalah sebuah momok bagi fisika saat itu. Dikala mereka melupakan
forsa gravitasi karena dinilai terlalu lemah, di depan mata mereka terpampang
peristiwa nyata mengenai penyatuan forsa-forsa tersebut ke dalam sebuah
singularitas. Bagaimana sebuah obyek berukuran tak-hingga kecilnya menghasilkan
gravitasi begitu besarnya? Bagaimana menjelaskan mekanika lubang hitam ini?

Teori Relativitas tidak berlaku di alam berukuran quantum karena pada teori ini forsa
gravitasi sangat berperan dan hanya melibatkan benda-benda besar. Teori fisika
quantum mampu menjelaskan alam sangat kecil ini namun ia tidak bisa melibatkan
forsa gravitasi.

Kesimpulannya, fisika runtuh di lubang hitam. Benar-benar sebuah lubang hitam


yang sangat gelap karena tidak ada satu pun perangkat ilmu yang mampu
menjelaskannya.

Strings Theory
Agak kembali sedikit ke masa lampau, saat hampir semua fisikawan berbondong-
bondong menyelidiki fisika quantum, ada sebagian kecil, mungkin boleh dikatakan,
satu atau dua orang saja yang tersisa dari seluruh ilmuwan yang ada di dunia ini
yang tidak mengikuti jejak rekan-rekan yang lainnya.

Saat semua orang beranggapan bahwa wujud atom dan partikel berbentuk
menyerupai titik atau bola, maka sebagian kecil ilmuwan ini menemukan
kemungkinan lain dari persamaan matematis yang membawa mereka pada ide liar
bahwa kesalahan fisika selama ini terletak pada bentuk. Kita telah keliru
memandang partikel berbentuk bola. Mereka menemukan bahwa pertikel berbentuk
tali atau string.

Lalu apa implikasinya jika pertikel fundamental berbentuk string?

String berukuran sangat kecil, yaitu berjuta-juta kali lebih kecil dari quark. Untuk
membayangkan ukuran string yang sangat kecil ini, bayangkanlah bila sebuah atom
adalah tata surya kita, maka sebuah string berukuran sebuah pohon di bumi. String
super kecil ini yang saking kecilnya dianggap hanya memiliki panjang saja (satu
dimensi-ruang) bergetar dan variasi getarannya itulah yang menghasilkan apa yang
kita amati sebagai partikel-partikel. Para pengusung teori string ini mengatakan
bahwa string adalah satu-satu nya bahan dasar pembentuk ruang dan waktu. Yang
kita amati sebagai beraneka ragam partikel itu sebenarnya adalah hasil variasi getar
string-string yang sama.
Dengan demikian maka perhitungan atau persamaan matematikanya menjadi
berubah sama sekali. Alam fisika quantum yang tadinya mengabaikan forsa gravitasi
sekarang dapat menerima forsa gravitasi tersebut sebagai bagian dari persamaan
matematisnya. Atau boleh dikatakan telah ditemukan forsa gravitasi di alam
quantum. Fisika relativitas dan fisika quantum berhasil disatukan. Teori string diduga
kuat sebagai teori pamungkas yang dicari, sebuah teori tunggal yang mampu
menjelaskan perilaku alam semesta ini; sebuah teori segala hal.

Bagaimana hal ini bisa terjadi? Bagaimana forsa gravitasi ditemukan dalam
persamaan matematika fisika quantum? Untuk menyinggung ini, perlu kita kilas balik
sedikit sekelumit sejarah panjang perkembangan teori string.

Teori string tidak terjadi dalam semalam saja. Diawali di tahun 1968, oleh seorang
fisikawan muda asal Italy, Gabriele Veneziano, sekarang bekerja untuk CERN, yang
mempelajari persamaan matematis yang menjelaskan forsa nuklir kuat.
Ditemukannya persamaan ini membuka jalan pada penelitian forsa tersembunyi di
inti atom. Kemudian penelitian menggugah ilmuwan lainnya, Leonard Suskind dari
Stanford University yang melihat bahwa persamaan tersebut mengindikasikan
sesuatu yang tersembunyi, sebuah partikel yang memiliki struktur internal yang bisa
melendut dan meregang. Partikel ini bukan berbentuk titik atau bola, namun
berbentuk string yang secara alami bergerak lentur. Temuannya ini sempat tidak
mendapat tanggapan dari fisikawan lainnya.

John H. Schwarz dan Michael B. Green (Pictures from NOVA)

Adalah seorang fisikawan yang melanjutkan penelitian mengenai string ini, di tahun
1973, yaitu John H. Schwarz dari California Institute of Technology, mengemukakan
bahwa jika string ini benar, maka string akan mampu menjelaskan banyak misteri
alam ini. Schwarz berhasil menarik perhatian para ilmuwan dunia dan orang mulai
banyak bergabung mendalami teori radikal ini.

Namun teori string mengalami kendala besar. Yaitu terdapat beberapa anomali pada
perhitungan atau persamaan matematisnya. Pertama, teori string melibatkan sebuah
partikel bermassa nol dan partikel tachyon, yaitu partikel yang bergerak lebih cepat
dari kecepatan cahaya. Telah disinggung sebelumnya bahwa Teori Relativitas tidak
membenarkan adanya obyek yang bergerak melebihi kecepatan cahaya. Teori string
sekali lagi nyaris turun pamor.

Michael B. Green dari Cambridge University bergabung dengan Schwarz untuk


mengkaji dan membedah persamaan matematis teori string ini lebih dalam. Di tahun
1984 Mereka berhasil meniadakan anomali tersebut. Mereka menemukan bahwa
partikel aneh yang menjadi momok teori ini sebenarnya adalah graviton yaitu
partikel untuk forsa gravitasi. Peristiwa sangat bersejarah ini dikenal sebagai salah
satu yang menggemparkan dunia. Schwarz dan Green menemukan forsa gravitasi
dalam persamaan mereka. Mereka berhasil gemilang meniadakan anomali.

Lebih banyak lagi orang ikut bergabung melanjutkan perjuangan Schwarz dan Green
hingga kemudian sebuah kendala besar dihadapi mereka kembali, yaitu:

1. Teori string melibatkan dimensi extra.


Seperti yang kita kenali bersama bahwa kita hidup di alam dengan 3 dimensi-
ruang yaitu panjang, lebar, dan tinggi ditambah 1 dimensi waktu menjadikan
total = 4 dimensi ruang-waktu. Namun string harus bergerak di lebih dari 3
dimensi ruang itu. String harus bergerak di 9 dimensi ruang. Sehingga
menurut teori string, alam yang kita tempati ini sebenarnya memiliki 10
dimensi ruang waktu.

Lalu dimana ke-enam dimensi ruang lainnya? Mengapa kita tidak bisa melihat
atau merasakannya? Sekali lagi Kaluza dan Klein mengajukan bahwa 6
dimensi ruang ini berukuran sangat kecil sehingga tidak bisa teramati.

Namun kemudian orang mulai menerima kehadiran dimensi ektra ini karena
memang HARUS ada dimensi extra di alam ini bagi string untuk wujud.
Dimensi extra adalah sebuah temuan fenomenal.

2. Terdapat 5 teori string.


Ini merupakan masalah besar. Bagaimana sebuah teori segala hal hadir
dalam 5 variasi? Setiap teori sama-sama benar namun memiliki perbedaan
mendasar pada persamaan matematisnya.

Strings / M-Theory
Edward Witten (Picture from NOVA)

Barulah Pada tahun 1995, pada


konvensi fisika sedunia, seorang fisikawan yang kemudian menjadi sangat terkenal,
yaitu Edward Witten, dari Institute for Advance Study, mempublikasikan papernya.
Edward Witten dijuluki sebagai orang tercerdas di planet bumi ini dan mendapat
julukan the true successor of Einstein, ia berhasil menggabungkan ke-lima teori
string menjadi sebuah teori tunggal yaitu M-Theory.
Witten mengemukakan bahwa kelima teori string itu sebenarnya hanyalah ragam
cara melihat suatu hal yang sama. Kita bagaikan berada dalam ruangan gelap gulita
dan saling meraba seekor gajah yang sama di depan kita. Sebagian meraba
kepalanya, sebagian meraba kakinya, sebagian meraba belalainya dan sebagian
meraba badannya, begitu Edward Witten memberikan penerangan di dalam
ruangan, barulah orang menyadari bahwa sebenarnya mereka semua meraba
seekor gajah yang sama.

Penerangan yang dibawa oleh Witten dalam M-Theory nya ini adalah dengan
menghadirkan sebuah dimensi ruang tambahan ke dalam hitungan matematis teori
string. Seluruh persamaan menjadi klop dan semuanya mejadi masuk akal. Kini
alam kita diyakini oleh string/M-theory memiliki 10 dimensi ruang menjadikannya
total 11 dimensi ruang-waktu.

Edward Witten tidak menyebutkan kepanjangan dari M itu.

Braneworlds
M-theory mengemukakan bahwa:

1. String merupakan tali super kecil yang memiliki panjang saja (1 dimensi)
dengan kedua ujungnya terbuka (open loop).
2. Terdapat string yang melar hinga memiliki panjang dan lebar (2-dimensi),
membentuk membrane (disingkat, brane) atau sebuah lembaran super tipis.
Kita sebut ini sebagai 2-brane. Sedangkan string 1 dimensi disebut dengan 1-
brane.
3. Kedua ujung string 1-brane harus melekat / bertumpu pada 2-brane.

Perbedaan signifikan terjadi setelah hadirnya M-Theory adalah bahwa orang mulai
meninggalkan gambaran dimensi extra yang terpilin sangat kecil itu. M-Theory
memberi gambaran pada kemungkinan yang berlawanan, yaitu bahwa dimensi-
ruang extra itu berukuran sangat besar. Kita mungkin hidup di alam semesta 3
diemensi-ruang yang berada di dalam sebuah dimensi-ruang yang lebih besar lagi.
Bahwa alam semesta kita berupa membrane 3 dimensi ruang atau 3-brane, dan
alam 3-brane kita berada di dalam alam berdimensi lebih tinggi yaitu alam 4
dimensi-ruang atau 4-brane.

Agar lebih mudah mengerti konsep membrane ini, bayangkanlah bahwa layar
televisi anda adalah sebuah dunia dua dimensi. Pemain film di dalam televisi hidup
di alam dengan 2 dimensi-ruang saja (hanya memiliki dimensi panjang dan lebar)
mereka tidak memiliki dimensi ruang ke-tiga. Mereka tidak tau dan tidak
menyadarinya. Jarak antara mata anda ke layar televisi adalah sebuah dimensi-
ruang ke-tiga yang tidak dimiliki alam dalam televisi itu. Atau boleh saya dikatakan
bahwa untuk menemukan dimensi extra, maka makhluk yang hidup di dimensi layar
televisi harus keluar dari layar televisi tersebut.

Sampai tahap ini apakah anda sudah bisa membayangkannya? Sekarang coba
bayangkan alam semesta kita adalah layar televisi tersebut. Televisi dengan 3
dimensi ruang. Maka jarak antara pengamat lain di luar televisi ke layar televisi itu
adalah dimensi ruang ke-empat yang tidak dimiliki oleh alam kita. Alam di luar alam
kita adalah sebuah alam semesta yang memiliki 4 dimensi-ruang.

Sekarang bayangkan bila alam semesta dengan 4 dimensi-ruang itu adalah sebuah
layar televisi. Maka jarak antara pengamat lain di luar televisi ke layar televisi itu
adalah dimensi ruang ke-lima yang tidak dimiliki oleh alam 4 dimensi-ruang.

Demikian seterusnya.

Marilah kita lanjutkan membayangkan dengan cara yang sama ke alam semesta
kita.

Alam semesta kita yaitu 3-brane berada di membrane yang lebih tinggi; 4 brane.
Atau boleh saya katakan alam 3-brane kita dibungkus oleh alam 4-brane. M-Theory
mengatakan bahwa alam 3-brane kita memiliki kemungkinan exist berdampingan
dengan alam 3-brane lainnya (parallel universe). Ada berapa banyak parallel
universe? Tidak ada yang tau.

Lalu dimana dimensi 5, 6, 7, 8, 9, dan 10?


Mari kita lanjutkan lagi membayangkannya. Bila alam 3-brane dibungkus alam 4-
brane, maka:
Alam 3-brane dibungkus oleh alam 4-brane (lapis 1)
Alam 4-brane dibungkus oleh alam 5-brane (lapis 2)
Alam 5-brane dibungkus oleh alam 6-brane (lapis 3)
Alam 6-brane dibungkus oleh alam 7-brane (lapis 4)
Alam 7-brane dibungkus oleh alam 8-brane (lapis 5)
Alam 8-brane dibungkus oleh alam 9-brane (lapis 6)
Alam 9-brane dibungkus oleh alam 10-brane (lapis 7)

Alam semesta kita dibungkus oleh alam lainnya yang berdimensi-ruang lebih tinggi.
Dan di setiap membrane terdapat parallel universe.

String terbuka (opened-loop string) yang kedua ujungnya tertambat pada membrane. (Picture from
NOVA)

Graviton
M-Theory diterima luas sebagai teori elegan dengan keindahan matematika tingkat
tinggi. Inilah sebuah wujud pencapaian peradaban manusia terkini.

Untuk melengkapi pemaparan saya, saya akan singgung sedikit lagi kelanjutan atau
perkembangan dari teori ini.

String tertutup (closed-loop string) (Picture from NOVA)

String dipercaya memiliki bentuk open-


loop atau kedua ujungnya terbuka dan menumpu pada membrane lain. Namun
diyakini ada pula string dengan ujungya saling bertautan (besambung) sehingga
membentuk closed-loop. Dengan ujung yang tidak bebas ini maka string jenis ini
tidak bisa bertumpu pada membrane. Jenis string seperti ini bebas melayang ke
ruang mana saja dan menyebrang ke membrane lain. String dengan closed-loop ini
adalah Graviton.

Masih ingat forsa gravitasi yang dianggap paling lemah diantara forsa yang lainnya?
Dengan sifat graviton yang bebas itu maka forsa gravitasi sesungguhnya sangat
kuat, bahkan mungkin sama kuatnya dengan forsa Electromagnetic. Ia tampak
lemah karena sebagian kekuatan forsa gravitasi mampu menyebrang ke brane
lainnya dengan bebas.

Graviton adalah satu-satunya partikel saat ini yang diyakini bebas bergerak
menyebrang ke membrane lainnya. Forsa lainnya tidak bisa meninggalkan suatu
membrane. Sehingga tidak mungkin kita bisa melihat alam brane lain atau parallel
universe karena cahaya tidak dapat keluar dari membrane. Forsa nuklir kuat, forsa
nuklir lemah, Electromagnetic dan cahaya terperangkap di dalam sebuah
membrane.

Satu hal yang menjadi perhatian dunia adalah membuktikan keberadaan string
melalui percobaan laboratorium. String adalah teori elegan yang belum terbukti
melalui experimen. Namun dengan syarat yang ditentukan oleh teori ini sendiri,
terbuka peluang untuk membuktikannya dan upaya pembuktian ini menjadi prioritas
utama. Antara lain adalah sedang berjalannya usaha bersama antara
Massachusetts Institute of Technology (MIT) dengan California Intitute of
Technology (CIT) dan didanai oleh The National Science Foundation membangun
sebuah Observatory raksasa yang bukan berbasis cahaya maupun radio, melainkan
berbasis forsa gravitasi. Harapannya adalah terdeteksinya graviton yang muncul
semerta-merta membawa signature dari alam semesta membrane lain. Wahana ini
dinamakan Laser Interferometer Gravitational Wave Observatory (LIGO). Juga
direncanakan untuk dibangun Versi luar angaksa dari LIGO, adalah Laser
Interferometer Space Antenna (LISA).

Ilustrasi Graviton bergerak meninggalkan membrane (picture source: NOVA)

Usaha lainnya sedang dilakukan Fermilab, sebuah laboratorium di Illinois yang


memiliki atom smasher, yaitu sebuah Akselerator Partikel yang berfungsi untuk
mempercepat inti atom hydrogen dalam suatu lintasan sepanjang 4 mil untuk
kemudian ditabrakkan dengan inti atom Hydrogen lain ujung lintasan. Inti atom yang
ditabrakkan akan terpecah dan menghasilkan siraman partikel-partikel yang lebih
kecil. Sebelum M-Theory, ilmuwan hanya berusaha mengindentifikasi siraman
partikel-partikel baru tersebut, namun kali ini mereka berusaha mendeteksi partikel
graviton yang muncul saat terjadi tabrakan. Namun graviton akan muncul hanya
sekejap karena graviton yang berdiri sendiri akan langsung menyeberang ke
membrane lain. Graviton yang muncul dan hilang hanya dalam sekejap ini tidak
akan memberi kesempatan pengamat untuk mendeteksinya. Untuk mengatasi ini
maka pendeteksian graviton ditandai dengan absen-nya partikel tersebut sesaat
setelah tabrakan.

Fermilab (Picture source: NOVA)

Hal serupa akan disusul oleh sebuah atom smasher raksasa yang sedang dalam
tahap pembangunan yang memiliki kekuatan 7 kali lebih besar dibandingkan dengan
yang dimiliki Fermilab. Atom smasher dan Akselerator Partikel raksasa ini adalah
milik CERN, Swiss.
Large Hadron Collider (LHC) milik CERN, akselerator partikel terbesar di dunia
(Picture source: NOVA)

Jutaan dollar telah dikeluarkan untuk pembangunan alat-alat raksasa tersebut dan
mereka saling berlomba sebagai yang pertama kali menemukan graviton. Jika
graviton ditemukan, maka teori string kukuh dan benar dengan seluruh impllikasinya;
braneworlds yang meggambarkan alam semesta kita ini berlapis dengan 11 dimensi
ruang-waktu adalah benar. Dan alam semesta ini bisa terjelaskan dengan sebuah
teori tunggal, Theory of Everything.

Membranes (Picture from NOVA)

Zero-Brane
Perkembangan lain dari String/M-Theory adalah munculnya sekelompok ilmuwan
yang menemukan kejanggalan atas statement bahwa string adalah satu-satunya
ingredient atau bahan dasar pembentuk ruang dan waktu. Pertanyaan mereka
adalah, jika string perlu ruang dan waktu untuk bergetar dan bergerak, bagaiman
bisa mereka dinobati sebagai bahan dasar pembentuk ruang-waktu?

Jikapun harus ada bahan dasar yang paling fundamental yang membentuk ruang-
waktu, maka entity ini haruslah tidak terikat oleh ruang-waktu, atau space-less and
time-less entity . Entity semacam ini tidak mungkin berbentuk string, melainkan
sebuah titik tanpa dimensi atau berdimensi nol; Zero-Brane Entity. Usulan ini patut
mendapat perhatian karena usulan ini meng-klaim bahwa string bukanlah bahan
fundamental pembentuk ruang waktu.

Zero-Brane yang berbentuk titik tanpa dimensi ini haruslah teratur menandai setiap
titik pada ruang namun tidak terikat oleh ruang. Titik-titik teratur bagai grid. Teori ini
dikenal sebagai Matrix Theory. M sebagai Matrix dari M-theory.

Kesimpulan
Sampailah saya pada bab kesimpulan yang saya persiapkan untuk menyimpulkan
serta memberi pendapat atau usulan kepada pembaca sebagai bahan pemikiran
dan diskusi.

Dulu Stephen Hawking pernah bertanya, jika ruang dan waktu akan hancur suatu
saat nanti dalam sebuah kehancuran besar atau Big Crunch maka dimana letak
Tuhan? Hawking mendapat julukan atheis (tidak percaya Tuhan). Namun saya pun
pernah menanyakan hal serupa. Seorang teman memperingatkan saya agar berhati-
hati dan menghindari diri dari kekafiran. Tapi saya yakin kita adalah manusia ciptaan
Tuhan yang diberi karunia otak yang berkemampuan mempertanyakan pertanyaan
tersebut. Lalu kenapa harus jadi kafir karenanya?

Keyakinan dan rasa ingin tau saya, saya salurkan dengan mempelajari ilmu-ilmu
kebatinan, fisika, serta melakukan wawancara kepada beberapa pemuka agama.
Kesimpulan yang saya dapat adalah yang tertuang di dalam tulisan saya ini.

Orang mengatakan bahwa Tuhan itu lebih besar dari alam semesta ini. Ia tidak
mungkin hancur oleh ciptaanNya sendiri. Benar! Saya setuju, lalu tentunya ada
penjelasan logis yang menempatkan Tuhan di posisi yang Maha Besar itu.

Di alam semesta yang kita tempati ini, kita hidup di sebuah planet bernama bumi.
Bumi dan planet-planet lannya mengorbit mengelilingi matahari. Ini sebuah tata-
surya. Tata surya kita ini adalah satu dari milyaran tata surya lain dalam sebuah
galaksi yang bernama bima sakti. Galaksi Bima sakti adalah satu dari milyaran
galaksi lain dalam sebuah cluster galaksi. Dan cluster galaksi tersebut merupakan
satu dari milyaran cluster galaksi lainnya. Seluas itulah alam semesta kita. Dan Bumi
bagai sebuah debu yang sangat kecil. Perjalanan ilmu pengetahuan manusia telah
melawati tapal batas alam semesta ini dan sekarang sedang berusaha
menyeberang ke alam semesta lainnya yang berdimensi lebih.

Mampukah manusia menembus hingga 10-braneworlds (alam semesta paling


tertinggi)? Apakah kita akan menemukan Tuhan di sana?

Ada ketentuan yang telah saya singgung di atas; Tuhan tidak mungkin terbelenggu
oleh ciptaanNya sendiri. Tuhan tidak mungkin berada di dalam salah satu-pun ruang
membrane/braneworlds. Tuhan tentunya juga tidak mungkin terikat oleh waktu
yang diciptakannya sendiri. Tuhan adalah sebuah entity yang terbebas dari ruang
dan waktu. Tuhan pastilah menguasai sebuah realm dimana ruang dan waktu tidak
relevant; The Zero-Brane Entity.

Lain-lain
Ide untuk kajian-kajian lain memenuhi kepala saya saat itu, seperti; Bagaimana
manusia bisa menyeberang ke alam brane lain sedangkan cahaya saja tidak mampu
menembusnya? Bagaimana Malaikat hilir mudik dengan mudahnya dari satu brane
ke brane yang lainnya Seberapa kuasanyakah manusia untuk bisa menguasai itu
semua?

Dibawah ini adalah hasil diskusi saya bersama rekan-rekan saya;

Tidak ada partikel yang mampu pergi ke alam brane lain selain graviton. Bilapun
mungkin ada partikel lain yang memiliki string tertutup (closed-loop), saat ini kita
tidak mengetahuinya. Tapi katakanlah demikian, maka untuk bisa menyeberang ke
alam brane lain adalah dengan cara membungkus diri kita dengan graviton. Teman
saya memberi ide mungkin kita harus berubah wujud dulu menjadi suatu zat dengan
string tertutup, barulah kita bisa pergi ke brane lain. Atau mungkin zat inilah yang
disebut sebagai ruh? Ruh adalah sebuah zat dengan string tertutup? Ini berarti
bahwa untuk pergi ke brane lain kita harus mati dulu?

Yang terbayangkan, entity dengan dimensi lebih sedikit (misalkan alam 3 dimensi-
ruang kita), bila pergi ke alam yang berdimensi lebih banyak (misal alam berdimensi-
ruang 4) akan kekurangan substance dan tidak akan berwujud di alam tersebut.
Seperti cara membayangkan alam di dalam televisi yang orang di dalamnya keluar
ke alam 3 dimensi, maka bagaimana bentuk orang yang hanya memiliki 2 dimensi
itu berada di alam 3 dimensi ini?. Kita bisa bayangkan ia hanya akan berwujud
lembaran sangat tipis dan tidak mungkin bisa exist di alam ini.

Begitu pula kita apabila ingin pergi ke alam brane lain yang lebih tinggi, maka tidak
mungkin kita pergi utuh dengan jasad kita seperti apa adanya. Maka usulan yang
terdengar paling tepat adalah dengan berubah wujud terlebih dulu menjadi zat yang
mampu exist di alam brane manapun.

Dan katakanlah kita mampu berubah wujud menjadi zat netral tersebut, apakah kita
masih bisa pergi ke Zero-Brane? Tidak. Mengapa? Karena zat kita itu akan masih
memerlukan ruang dan waktu untuk exist.

Saya meyakini bila manusia menguasai braneworlds, maka manusia menguasai dan
menyatu dengan alam. Pada tingkat kedewasaan seperti ini, seharusnya tingkat
kebijaksanaan manusia sudah mencapai kesempurnaan yang diperlukan untuk
bersatu dengan alam ini di semua tingkat brane. Tidak ada lagi dinding pemisah
antara yang fisik dan yang metafisik. Manusia akan mampu mendengar tawa
bintang, tangisan pohon, serta percakapan semut termasuk keluhan batu-batuan.
Manusia akan memimpin alam ini secara total.
Teori String
7/25/2015

0 Comments

Kita hidup di alam semesta yang rumit dan kerumitan itu justru membuat kita penasaran. Kita
penasaran tentang waktu dan dikepala kita dipenuhi dengan berbagai pertanyaan: mengapa
kita hidup di dunia ini, dari mana kita dan dunia ini berasal, terbuat dari apakah dunia ini.
Kita beruntung karena hidup di zaman saat ilmu pengetahuan berkembang pesat untuk
memanjakan rasa penasaran kita, salah satunya teori String yang mencari tahu apa yang
membentuk dunia ini.

Jadi, terbuat dari apakah sebenarnya dunia ini?

Sejauh ini, ilmu pengetahuan sudah cukup berkembang untuk meneliti komposisi subatomik
alam semesta dan memberinya nama Standard Model (Acuan Standard). Acuan ini
menjelaskan kepada kita tujuh belas partikel dasar) pembentuk dunia dan isinya serta energi-
energi yang bekerja di dalamnya. Ketujuh belas partikel itu terhimpun ke dalam dua
kelompok: femion dan boson. Femion terbagi menjadi dua partikel dan keduanya masing-
masing memiliki enam building block.

Fermion adalah partikel dasar pembentuk materi. Ordinary matter (materi pada umumnya)
terbuat dari sekumpulan atom yang terdiri dari tiga elemen dasar: electron (elektron) yang
mengitari nucleus (inti atom) dan nucleus yang terdiri dari neutron dan proton. Electron
merupakan partikel lepton dan tidak dapat dipecah lagi, sementara neutron terbuat dari satu
up quark dan dua down quark dan proton terbuat dari satu down quark dan dua up quark.
Ilmu pengetahuan juga mengenal apa yang dinamakan four fundamental forces (empat gaya
dasar), yaitu empat gaya yang selalu ada di setiap bagian dari alam semesta. Keempatnya
ialah gravity (gaya gravitasi), electromagnetism (gaya elektromagnetis), weak (gaya lemah)
dan strong (gaya kuat). Masing-masing gaya dihasilkan oleh sekelompok partikel boson yang
berfungsi sebagai carrier (pembawa gaya) dan mediator (mediator interaksi). Berikut ini
perinciannya:

Semua gerak-gerik dan karakteristik building block dan gaya itu dijelaskan di dalam Standard
Model dengan tingkat ketelitian mendekati sempurna. Hanya satu kekurangan di dalam
Standard Model: gaya gravity. Ilmuwan mengakui bahwa gaya yang paling kita kenali ini
adalah yang paling sulit untuk diteliti dan dijelaskan. Mereka sudah bertahun-tahun mencoba
mengatasi salah satu masalah di fisika teoritis, yaitu formulasi quantum theory of gravity
(teori quantum gravitasi).

Sejak beberapa dekade yang lalu, teori string digadang-gadang sebagai kandidat kuat dari
microscopic theory of gravity (teori mikroskopis gravitasi) yang menjelaskan gaya gravity
dari cara pandang mikroskopis. Di samping itu, teori string juga mencoba menjadi salah satu
dari theory of everything (teori segalanya), yaitu teori yang mencoba untuk memberikan
gambaran lengkap, terpadu dan konsisten dari struktur dasar alam semesta.

Konsep dasar dari teori string cukup sederhana: semua partikel dasar, fermion maupun boson,
sebenarnya hanyalah wujud-wujud yang berbeda dari sebuah object yang dinamakan string.
String adalah sebuah tabung massa-energi yang tampak seperti dawai. Panjang rata-rata string
adalah planck length (1,61619926 10 pangkat -33 cm). Ukuran itu sangat kecil dan jauh
melampaui kemampuan instrumen penelitian terbaik zaman sekarang.

Ada dua jenis string: open string dan closed string. Open string memiliki dua endpoint
(ujung), seperti dawai gitar yang ditarik lurus. Closed string tidak memiliki endpoint, seperti
dawai gitar yang kedua ujungnya disatukan hingga melingkar. Energi yang dimilikinya
membuat string bergetar membentuk osilogram. Osilogram ini yang kemudian menjadi
sebuah partikel. Osilogram yang berbeda membentuk partikel yang berbeda.

Mungkin hal yang paling menakjubkan dari teori string adalah konsep dasarnya. Kita bisa
melihat dengan jelas kaitan teori ini dengan Standard Model. Namun, kita belum bisa
mengatakan kebenaran teori string. Dewasa ini, ilmuwan belum berhasil meneliti secara
langsung objek utama teori ini karena alasan yang telah disebutkan tadi: ukuran string.
Kenyataannya, teori string masih dalam tahap perkembangan dan belum bisa dijadikan theory
of everything. Kita telah mengetahui konsep dasarnya, tapi kita belum melihat citra
keseluruhannya.

Jadi, teori string sejauh ini masih merupakan prediction (prediksi) dan hypothesis (hipotesis).
Masih ada beberapa teori lainnya yang juga mencoba untuk menjadi theory of everything,
contohnya teori M dan teori superstring. Akan tetapi, sekali lagi, teori-teori itu masih
merupakan prediction dan hypothesis.
LEPTON QUARK
Posted on Januari 12, 2015 by Skeptical Inquirer

Rate This

Apakah partikel terkecil di alam semesta?

Sampai sekarang semua guru yang saya kenal menyebutkan kalau partikel terkecil adalah Proton,
Elektron dan Neutron, yang masing-masing mewakili muatan positif, negatif dan netral. Tapi
ternyata sejak awal tahun 1900-an kata Quantum sudah digunakan untuk menyebut partikel
terkecil yang merupakan satuan yang lebih kecil dari Proton dan Neutron yang menyusun mereka,
Quantum merupakan satuan yang mewakili partikel penyusun atom sampai partikel pembawa gaya.

(sumber gambar)

Quark dan Lepton adalah partikel dasar penyusun materi yang memiliki rasa masing-masing, yang
dibagi menjadi 3 generasi, masing-masing generasi disusun dalam satu kolom, dan barisnya disusun
berdasarkan kemiripan muatannya. Sedangakn pada kolom keempat adalah Gauge Boson yang
merupakan partikel pembawa gaya, atau partikel virtual yang mengarahkan gaya atau interaksi antar
partikel.
Di semesta kita, terutama daerah sekitar galaxy tempat kita tinggal, partikel penyusunnya
hampir semuanya terdiri dari Materi Generasi Pertama (kolom pertama dari kiri).

Untuk Proton, terdiri dari 3 Quark, yaitu dua buah Quark Naik (Up Quark) dan satu buah
Quark Turun (Down Quark), seperti yang kita lihat pada tabel, Naik memiliki muatan 2/3 e (e
= elementary charge/muatan partikel dasar) dan Turun memiliki muatan -1/3 e, sehingga
ketika membentuk proton akan membentuk muatan 1 e. (2/3 e + 2/3 e + (-1/3 e) = 1 e)

Lalu Neutron, sama-sama terdiri dari 3 Quark, yaitu sebuah Quark Naik dan dua buah Quark
turun, dan menghasilkan muatan 0, atau netral.

Berbeda dengan Proton dan Neutron, Elektron sudah merupakan partikel dasar yang tidak
terdiri dari partikel lagi. Elektron sudah memiliki muatan -1 e, sehingga dapat berpasangan
dengan Proton untuk membuat muatan netral.

Sedangkan Elektron Neutrino, mungkin yang tidak pernah disebut oleh guru fisika & kimia,
adalah pasangan dari Elektron tetapi memiliki muatan netral, yang menurut saya merupakan
partikel yang cukup istimewa, ia tidak berinteraksi dengan Quark, Gluon, Photon dan Higgs
(penjelasan Boson di bawah), sehingga tidak mampu kita lihat dan kita rasakan, padahal pada
setiap reaksi nuklir peluruhan Beta (selalu terjadi di Bintang termasuk matahari, juga
sebagian kecil di bumi) selalu memuntahkan Elektron Neutrino, dan setiap detik tubuh kita
ditembus hingga ribuan elektron neutrino setiap detiknya, tetapi kita sama sekali tidak bisa
merasakannya.

Setiap Quark dan Lepton memiliki anti-partikelnya masing-masing. Dimana bentuk dan
massanya sama tetapi memiliki muatan yang terbalik, misalnya Anti-Elektron atau yang biasa
disebut Positron, adalah Elektron yang memiliki muatan 1 e, dan misalnya Anti-Proton yang
terdiri dari dua Anti-Naik dan sebuah Anti-Turun yang menghasilkan muatan -1 e. Dan anti
parrikel memang ada di semesta walau jumlahnya sangat sedikit.

Beralih dari partikel penyusun materi, kini ke partikel pembawa gaya, yaitu Boson. Aneh
memang jika dipikirkan, bagaimana mungkin gaya merupakan suatu partikel juga? Tetapi
pada mekanika quantum memang begitulah adanya.

Pertama yang saya bahas adalah Photon, yaitu partikel pembawa gaya elektromagnetis antara
partikel yang bermuatan. Photon juga disebut sebagai partikel cahaya karena pada frekuensi
tertentu Photon di deteksi oleh mata sebagai cahaya yang digunakan untuk melihat.

Lalu Boson W+, W & Z, yang merupakan partikel yang membawa gaya interaksi lemah
antar partikel berbeda.
Dimana W (Weak interaction) memberikan interaksi antar partikel yang berbeda rasa, boson
W juga memberikan efek perubahan rasa (muatan dan karakter) dari partikel karena memiliki
muatan, yaitu misalnya Quark Naik (yang bermuatan 2/3 e) yang luruh menjadi Quark Turun
(yang bermuatan -1/3 e) yang dibarengi dengan adanya W (yang bermuatan -1 e). Yang
kemudian Boson W tersebut luruh menjadi Elektron dan Elektron-Antineutrino. Ini yang
menyebabkan peluruhan nuklir beta, yang membuat Proton (Naik-Naik-Turun) menjadi
Neutron (Naik-Turun-Turun) dan menghasilkan ekstra elektron dan elektron-antineutrino.
Reaksi ini terjadi di Matahari ketika empat buah inti Hidrogen yang terdiri dari sebuah proton
bersatu menjadi inti Helium yang terdiri dua buah proton dan dua neutron.
Sedangkan boson Z (Zero charge weak interaction) adalah boson yang tidak memiliki muatan seperti
boson W dan tidak mempengaruhi perubahan rasa, hanya mempengaruhi momentumnya saja.

Lalu untuk Gluon, adalah partikel pembawa interaksi kuat antar quark, Gluon juga yang
mempengaruhi Quark pada Proton, Neutron bisa terikat hingga membentuk suatu inti atom.

Sedangkan Boson Higgs, adalah boson yang tidak termasuk dalam kategori Gauge Boson.
Boson ini menjawab mengapa partikel bisa memiliki massa, sedangkan interaksi lemah dan
interaksi kuat yang disebabkan oleh boson W dan Z jaraknya sangatlah pendek dan Gluon
hanyalah bekerja pada inti atom (quark). Higgs keberadaannya ada dimana-mana, termasuk
di ruang hampa, disana hanya ada higgs. Tetapi Higgs sangat tidak stabil, dan akan langsung
luruh menjadi partikel lain (faktanya, bisa luruh menjadi partikel apapun dari Boson, Lepton
dan Quark).