You are on page 1of 5

BAB I

PENDAHULUAN

PT. Arutmin Indonesia adalah salah satu perusahaan batubara yang terdapat di
Kalimantan Selatan, yang didirikan pada tahun 1972, kegiatan eksplorasi dilakukan
pada tahun 1973 sampai dengan 1978 (pemetaan regional), tahun 1984 sampai
dengan 1987 pemetaaan eksplorasi, tahun 1989 sampai dengan 1990 pemboran
detail, dan pada tahun 1990 kegiatan konstruksi mulai dilaksanakan, sedangkan
kegiatan penambangan batubara Satui dilaksanakan pada tahun 1990. Karena adanya
penambang liar pihak PT. Arutmin Indonesia merasa dirugikan, sehingga diperlukan
suatu penertiban pertambangan liar batubara di wilayah Polda Kalsel. Dengan
pertimbangan bahwa dalam rangka upaya penanggulangan penambangan batubara
tanpa ijin (Peti) dikeluarkannya surat perintah No. Pol : SPRIN/ 52/ I/
2003 dengan pola Kemitraan antara PT. Arutmin Indonesia dengan Puskoppolda
Kalsel. Nota kesepakatan kerjasama antara PT. Arutmin Indonesia dengan
Puskoppolda Kalsel di areal Perjanjian Karya Pengusahaan Pertambangan Batubara
(PKP2B) milik PT. Arutmin Indonesia di wilayah DU 322/ Kalsel. Puskoppolda
bergerak di bidang pertambangan batubara mulai 16 Juli 2002.

1.1. Latar Belakang


Pembangunan berwawasan lingkungan merupakan konsep pembangunan yang
memperhitungkan aspek lingkungan dalam mencapai keberhasilan pembangunan.
Pembangunan akan terganggu pada kondisi lingkungan yang rusak. Seiring dengan
laju peningkatan kebutuhan akan energi juga akan semakin meningkat.karena sumber
cadangan gas dan energi semakin menipis, maka diperlukan sumber energi yang baru
yang lebih mudah dalam pemakaiannya dan ekonomis.
Pengembangan usaha disektor pertambangan skala kecil disamping dapat
meningkatkan pendapatan nasional, juga diharapkan dapat menjamin pemerataan
pendapatan masyarakat. Dengan demikian pengembangan usaha tersebut tidak hanya

1
2

berupa peningkatan pertumbuhan ekonomi, tetapi juga sekaligus dapat mencegah,


bahkan mempersempit jurang pemisah antara yang kaya dan miskin.
Berdasarkan Undang-Undang Nomor 11 tahun 1967, pasal 5 mengatakan
bahwa yang berhak melaksanakan usaha pertambangan di Indonesia disamping
perusahaan-perusahaan Negara, daerah dan perusahaan swasta nasional juga
termasuk koperasi.
Sistem penambangan yang diterapkan oleh Puskoppolda adalah sistem
tambang terbuka Open Pit Mine dengan metode " Back Filling Digging Methode"
yang kegiatan penambangannya meliputi : pembukaan lokasi tambang dan
pembersihan lahan, pengupasan lapisan tanah penutup, penggalian dan
pengangkutan batubara dari " pit ke ROM stockpile ", pengangkutan batubara dari "
ROM stockpile ke crushing plant " dikerjakan kepada kontraktor PT. Thiees,
sebagai kontraktor yang beroperasi diwilayah Kuasa Pertambangan PT. Arutmin
Indonesia.
Metode "Back Filling Digging Methode" dilakukan karena wilayah tambang
pit Gatotkaca terdiri dari 6 lapisan ( Multiple Seam ) diantaranya : SU , SM 2, SL 1,
SL 2, SL 3, SL 3L lapisan tersebut mempunyai kemiringan + 28 - 450. Para
penambang di Pit Gatotkaca hanya mengambil 3 lapisan, yaitu : SM2, SL2 dan SL3.
Tahap awal dari kegiatan penambangan adalah pembabatan hutan yang merupakan
vegetasi yang menutupi overburden dari cadangan batubara yang akan diambil.
Adapun vegetasi yang menutupi overburden sebagian besar adalah tanaman keras
yaitu pohon mahoni dan kayu ulin yang berdiameter 90 Cm
Pengupasan tanah penutup bertujuan untuk membersihkan endapan batubara
yang akan digali dari pengotor yang menutupi permukaan sehingga akan
mempermudah dalam pekerjaan penggalian.
Kemudian dilakukan penggalian tanah penutup. Alat yang akan digunakan
dalam pekerjaan ini adalah Buldozer, Dump truck dan Excavator. Karena sempitnya
lahan, keterbatasan alat, maka cara penambangan mereka tidak baik. Bahkan 1 (satu)
alat Excavator dapat digunakan untuk semua kegiatan termasuk pengupasan,
penggalian dan pemuatan. Kegiatan pemuatan lapisan tanah penutup salah satunya
dilakukan dengan menggunakan alat muat Excavator dengan, metode pemuatan
yang digunakan adalah frontal cut, sedangkan kegiatan pengangkutan hasil
3

pembongkaran batubara menggunakan truck angkle Nissan Turbo dengan kapasitas


15 Ton.

1.2. Ruang Lingkup Penelitian


Dalam penelitian ini penulis hanya membatasi permasalahan pada teknis
penambangan terhadap hasil pembongkaran batubara dengan menganalisa geometri
tambang terbuka yang diterapkan dan hasil yang diperoleh saat ini.

1.3. Tujuan Penelitian


1 Mengamati proses penambangan yang diterapkan saat ini.
2 Membuat usulan perbaikan teknis penambangan.
3 Mengamati produktivitas alat mekanis dengan teknis penambangan yang
diusulkan.
4 Membandingkan produktivitas alat mekanis dengan teknis penambangan yang
diterapkan saat ini dan teknis penambangan yang diusulkan.

1.4. Perumusan Masalah


Pada pengamatan yang dilakukan di lapangan ditemukan adanya cara penambangan
yang salah, dimana 1 (satu) alat excavator digunakan untuk pengupasan, perataan
jalan, penggalian dan pemuatan. Selain itu juga pembuangan tanah penutup dibuang
diatas permukaan tanah dimana dibawahnya ada batubaranya.. Dengan perubahan
geometri tambang terbuka diharapkan adanya perubahan, sehingga kita dapat
membuat hubungan geometri dalam lubang bukaan dengan cepat dan
menguntungkan.

1.5. Metode Penelitian


Metode penelitian yang digunakan pada penelitian ini ialah penelitian langsung di
lapangan, yaitu terdiri dari :
1. Observasi Lapangan
Pengamatan terhadap kondisi dan keadaan di lapangan serta kegiatan
penambangan, kemudian dilakukan pengumpulan data dari instansi terkait dan
4

literatur-literatur yang terkait serta data atau arsip perusahaan yang mendukung
pekerjaan penelitian.

2. Perumusan Masalah
Menentukan permasalahan yang akan dibahas dalam kaitanya dengan tujuan
penelitian dan mengelompokannya sesuai dengan data-data yang diperlukan.
Beberapa poin permasalahan yang akan diselesaikan, yaitu :

a. Menentukan batas penambangan berdasarkan hasil dari konsep studi dan data
geologis yang baru. Gambar akan dibuat 3 (tiga) dimensi yang
memperlihatkan metode penambangan yang dipakai termasuk jalan masuk ke
tambang, batas akhir lereng dan lain-lain pemotongan final high wall.

b. Penilaian secara kritis mengenai parameter rancangan pit termasuk (tinggi


dan lebar jenjang, sudut lereng yang diperkenankan, metode kerja, tanjakan
jalan dan tempat pembuangan).

c. Perencanaan penambangan yang lebih detail dengan cara membagi atas blok-
blok termasuk di dalamnya lebar jenjang, tanggul pengaman pada jenjang.
Ukuran blok akan bervariasi dari kecil sampai besar.

d. Kalkulasi volume tanah penutup yang akan dibuang dan termasuk lokasi
pembuangan (di luar dan di dalam tambang) tergantung metode penambangan
yang digunakan.

e. Menentukan jadwal operasi, menentukan kapasitas produksi dan kapasitas


alat berat, sebaiknya data tersebut dimasukkan dalam database.

3. Pengambilan Data
Pada tahap pengambilan data, pokok-pokok pekerjaan yang dilakukan antara lain
adalah :
a). Survey Data Instansi
Pengumpulan data dari instansi terkait yang hasilnya dapat berupa data angka
atau peta mengenai keadaan daerah penelitian, peta topografi, keadaan
geologi umum daerah penelitian, sebaran endapan bahan galian batu andesit
setempat dan pemanfaatan lahan serta data lainnya yang mendukung
pekerjaan penelitian.
5

b). Pengamatan Lapangan


Pengamatan dan pencatatan secara langsung di lapangan terhadap kegiatan
penambangan (geometri lubang bukaan, produksi over burden dan batubara
hasil pembongkaran).
Data-data yang diperlukan dalam tahap pengambilan data langsung di
lapangan antara lain :
Kondisi tambang dan cara penambangan
Kondisi lingkungan sekitar daerah penambangan
Alat mekanis yang digunakan
Produksi alat mekanis
4. Pengolahan dan Analisa Data
Pengolahan dan analisa data yang ada untuk mendapatkan pemecahan dari
permasalahan yang dibahas kemudian melakukan perhitungan-perhitungan
terhadap alternatif pemecahan masalah sehingga dapat menyelesaikan
permasalahan yang dibahas.
5. Kesimpulan
Sebagai rekomendasi kepada perusahaan untuk menyelesaikan permasalahan di
lapangan yang terkait dengan hasil penelitian ini.

1.6. Manfaat Penelitian


Manfaat dari penelitian ini adalah dapat digunakan sebagai acuan dalam
melakukan aktivitas penambangan di daerah tersebut.