You are on page 1of 30

LAPORAN KASUS

GENERAL ANESTESI PADA TINDAKAN HERNIOTOMY PASIEN
LAKI-LAKI USIA 2 TAHUN DENGAN HERNIA INGUINALIS
LATERALIS SINISTRA REPONIBLE DI RSUD KARANGANYAR

Diajukan Untuk Memenuhi Persyaratan
Pendidikan Program Profesi Dokter Stase Anestesi
Fakultas Kedokteran Universitas Muhammadiyah Surakarta

Pembimbing :
dr. Damai Suri, Sp.An

Diajukan Oleh:
Chika Klarissa
J510165050

FAKULTAS KEDOKTERAN
UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH SURAKARTA
2017

LEMBAR PENGESAHAN

CASE REPORT

GENERAL ANESTESI PADA TINDAKAN HERNIOTOMY PASIEN LAKI-
LAKI USIA 2 TAHUN DENGAN HERNIA INGUINALIS LATERALIS
SINISTRA REPONIBLE DI RSUD KARANGANYAR

Diajukan Oleh :
Chika Klarissa
J510165050

Telah disetujui dan disahkan oleh Bagian Program Pendidikan Profesi Fakultas
Kedokteran Universitas Muhammadiyah Surakarta
Pada hari , April 2017

Pembimbing :
dr. Damai Suri, Sp.An (..................................)

Dipresentasikan di hadapan :
dr. Damai Suri, Sp.An (..................................)

Disahkan Ketua Program Profesi :
dr. Dona Dewi N (.................................)

BAB I
STATUS PASIEN

I. IDENTITAS PASIEN
Nama : An. S
No.RM : 37.XX.XX
Jenis Kelamin : Laki-laki
Masuk Tgl : 4 April 2017
Umur : 2 tahun
Pekerjaan :-
Agama : Islam
Alamat : Mojogedang, Karanganyar
Dokter Anestesi : dr. Damai Suri, Sp.An

Dokter Obsgyn : dr. Haryono, Sp.B

II. Anamnesa :
a. A (Alergy)
Tidak ada alergi terhadap obat-obatan, makanan dan asma.
b. M (Medication)
Tidak sedang menjalani pengobatan
c. P (Past Medical History)
Riwayat DM (-), hipertensi (-), sakit yang sama dan riwayat operasi (-)
d. L (Last Meal)
Pasien puasa > 6 jam
e. E (Elicit History)
Seorang pasien anak laki-laki usia 2 tahun datang ke RSUD
Karanganyar dengan keluhan benjolan pada scrotum kiri. Kondisi
umum pasien baik, kesadaran pasien Compos Mentis.

III. Keluhan Utama : Benjolan pada scrotum kiri.

IV. Riwayat Penyakit Sekarang :
Seorang pasien anak laki-laki usia 2 tahun datang ke RSUD Karanganyar
dengan keluhan benjolan pada scrotum kiri. Namun benjolan dapat
dimasukkan kembali. Benjolan muncul 6 bulan yang lalu ketika pasien
berumur 1,5 tahun. Benjolan tidak disertai dengan keluhan nyeri. Kondisi
umum pasien naik, kesadaran pasien Compos Mentis.

V. Anamnesis Sistemik
Neuro : Sensasi nyeri baik, gemetaran (-), sulit tidur (-)
Kardio : Nyeri dada (-), dada berdebar-debar (-)
Pulmo : Sesak napas (-), batuk lama (-)
Abdomen : Diare (-), kembung (-), konstipasi (-)
Urologi : BAK (dbn) dan BAB(dbn), panas (-)
Muskolo : Nyeri (-)

VI. Riwayat Penyakit Dahulu
 Riwayat penyakit yang sama : disangkal
 Riwayat Alergi : disangkal
 Riwayat Asma : disangkal

Riwayat Operasi dan Anastesi Disangkal IX. kering .Frekuensi Nadi : 121x/ menit . sklera ikterik (-). pembesaran kelenjar limfe (-) Thorak Paru : Inspeksi: pergerakan dinding dada simetris Palpasi : fremitus simetris. peningkatan JVP (-). Rhonki (-/-) Jantung : Inspeksi: ictus cordis tidak tampak Palpasi : ictus cordis tidak kuat angkat Perkusi : redup Auskultasi : Bunyi jantung I dan II murni reguler. Laboratorium . Riwayat Penyakit Keluarga  Riwayat penyakit serupa : disangkal  Riwayat Asma : disangkal  Riwayat Alergi : disangkal  Riwayat Hipertensi : disangkal  Riwayat Diabetes : disangkal  Riwayat penyakit jantung : disangkal VIII.merah odem (+).  Riwayat Mondok : disangkal  Riwayat Hipertensi : disangkal  Riwayat Diabetes : disangkal  Riwayat penyakit jantung : disangkal VII. Murmur (-). krepitasi (-) Perkusi : sonor Auskultasi : Suara dasar vesikuler (+/+) Wheezing (-/-).Frekuensi Nafas : 20 x/ menit . Pemeriksaan Fisik 1) Status Generalis Keadaan Umum : Baik Kesadaran : Compos Mentis Vital Sign : .Suhu : 36. dipsneu (-) pernapasan cuping hidung (-) Leher : Retraksi supra sterna (-). Gallop (-) Ekstremitas : hangat.6 o C Berat badan : 10 kg Kepala : Konjungtiva pucat (-). PEMERIKSAAN FISIK A. Pemeriksaan penunjang 1. nyeri (+) X.

Darah Rutin Nilai Nilai normal Satuan .

5–5. Hb 11.9 12.0 – 9.0 – 10. 0-42 mg/dL GDS 107 70 – 150 mg/dL Creatinin 0.0-1.9 50-70.0 % Basofil 0.50 – 5.0– 40.00 g/dL Ht 38.00 – 16.5-0.0 32-37 g/dL Gran 70. 0-46 mg/dL SGPT .7 3.9 mg/dL Ureum 38 10-50 mg/dL HbsAg NR NR 2.9 0 . Foto Rontgen Expertise foto thorax: Cor dan pulmo dalam batas normal Arcus aorta normal Dinding arcus aorta normal Struktur dan bentuk tulang normal Kesan : thorax dalam batas normal XI.0 % Eosinofil 3.3 25. TERAPI Pro Herniotomy XIII.8 0.0 % Limfosit 23.50 10^6/uL MCV 84.4 37 – 47 Vol% Leukosit 7.0 % Monosit 1.96 82 – 92 fL MCH 26.2 0.0 % SGOT .54 4.2 27 – 31 Pg MCHC 31. PERJALANAN PENYAKIT . DIAGNOSIS Hernia inguinalis lateralis sinistra reponible XII.29 5.0 10^3/uL Trombosit 203 150 – 300 mm3 Eritrosit 4.

Tanggal S O A P .

jari dextra di jari kelingking santagesik kelingking -puasakan tangan kanan -siapkan keluar terfiksasi kassa op darah steril 12/7/2016 Pasien KU: Baik. rembesan darah (+) XIV.injeksi lari.xx.5 ceftriaxon ditabrak manus Status Lokalis : luka .injeksi baru RR:22x digiti V S:36.6 kelingking dextra tangan kanan. 11/7/2016 Pasien KU : baik. foto rontgen dan Vital sign terlampir. CM Open -infuse RL TD:110/70 mengatakan fraktur 20tpm N:80x/menit .xx Diagnosa pra bedah : Hernia inguinalis lateralis sinistra reponible . Hasil laboratorium. Kegawatan Bedah : (-) Derajat ASA : II Rencana tindakan anastesi : General anastesi XV. Open - megaku Kesadaran : CM fraktur pelaksana TD : 110/70 nyeri pada digiti V an op N : 80x jari RR: 20x manus Suhu : 36. LAPORAN ANASTESI Nama : An. KONSUL ANASTESI Seorang laki-laki usia 2 tahun dengan diagnosis hernia inguinalis lateralis sinistra yang akan dilakukan tindakan operasi herniorepair pada tanggal 4/4/2017 . S Jenis kelamin : Laki-laki Umur : 2 tahun No RM : 37.

Persiapan Operasi a. Di ruang persiapan a. Monitoring : Tanda vital selama operasi tiap 5 menit. Cek persetujuan operasi dan identitas penderita b. Rencana Anestesi 1. Jenis Anestesi : General Anestesi (Face Mask) 3. Pakaian pasien diganti pakaian operasi c. Maintenance : O2. Instruksi Pasca Anestesi . N2O. Lama puasa ≥ 6 jam e. Cairan : Ringer laktat 11. cairan. Cek obat dan alat anestesi f. Posisi terlentang C. Premedikasi : -granisetron -ranitidin -Midazolam 4. perdarahan. Tindakan Anestesi 1. dan produksi urin. Pasien masih sadar dan ada refleks setelah operasi. Persetujuan operasi tertulis ( + ) b. Perawatan pasca anestesi di ruang pulih sadar/ruang pindah 13. Pasien diperbolehkan pindah ruang (keluar dari ruangan operasi) bila Aldrete score > 8 . Induksi : Recofol 9. Puasa ≥ 6 jam 2. kedalaman Anestesi. 12. Post-Operasi Setelah operasi selesai nasal canul yang di pasang di pasien dilepas karena pasien akan di pindahkan ke ruang pemulihan atau recovery room.A. Sevoflurance 2 vol % 10. Pemeriksaan tanda-tanda vital d. Transfusi sebelumnya : tidak pernah transfusi darah B.

awasi respirasi. Pasien dirawat di ruang pindah dalam posisi supine. Aldrete Score Pasien dapat keluar dari RR apabila sudah mencapai skor Aldrete >8 (delapan). nadi. tidak ada muntah. Anjuran untuk bed rest 24 jam 7. bising usus (+). D. Awasi keadaan umum. boleh diberi makan dan minum secara bertahap 4.1 . Setelah pasien sadar. Bila nyeri bertambah. konsultasi ke bagian anestesi. 2. Bila tidak ada mual. perdarahan setiap 15 menit selama 2 jam post operasi. oksigen 2 liter/menit. TANDA KRITERIA SCORE Gerakan  Dapat menggerakan 2 keempat ekstremitas 1  Dapat menggerakan kedua ekstremitas  Tidak dapat 0 menggerakan ekstremitas Pernafasan  Bernapas dalam dan 2 kuat serta batuk  Bernapas berat atau 1 dispneu  Perlu bantuan nafas 0 atau apneu Tekanan darah  Sama dengan nilai awal 2 +20%  Berbeda lebih dari 20. Setelah pemulihan pasca anestesi pasien di rawat di bangsal sesuai dengan bagian operator. pasien dipindahkan ke ruangan 1. Infuse : Ringer Laktat 15gtt/menit 3.

warna kulit merah (2) Dengan skor 10 ini. ada reaksi 1 terhadap rangsang  Tidak sadar. ikterus. . Tekanan darah sama dengan awal +20% (2) 4. 50% dari nilai awal  Berbeda lebih dari 50% 0 dari nilai awal Kesadaran  Sadar penuh 2  Tidak sadar. Bernapas dalam dan kuat (2) 3. Dapat menggerakkan keempat ekstremitas (2) 2. dan lain. didapatkan skornya 10. tidak ada 0 reaksi terhadap rangsangan Warna kulit  Merah 2  Pucat. pasien telah dapat dipindahkan dari ruang recovery ke ruangan ruang Kanthil 2 yaitu bangsal di RSUD Karanganyar sebelum dapat pulang ke rumah.1 lain 0  Sianosis Keterangan:Score > 8 boleh keluar dari RR Sedangkan pada pasien . Skor didapatkan dari 1. Kesadaran sadar penuh (2) 5.

perbandingan pria:wanita pada hernia indirect adalah 7:1.1 B.2: a Lemahnya dinding rongga perut. Hernia femoralis kejadiaanya kurang dari 10% dari semua hernia tetapi 40% dari itu muncul kasus emergensi dengan inkaserasi atau strangulasi. EPIDEMIOLOGI Tujuh puluh lima persen dari semua kasus hernia di dinding abdomen muncul disekitar lipatan paha. Dapat sejak lahir atau didapat kemudian dalam hidup b Akibat dari pembedahan sebelumnya c Kongenital . Hernia kongenital tidak sempurna . Hernia indirect lebih banyak daripada hernia direct yaitu 2:1. dan isi hernia. Hernia femoralis lebih sering terjadi pada lansia dan laki-laki yang pernah menjalani operasi hernia inguinal. DEFINISI Hernia merupakan protrusi atau penonjolan isi suatu rongga melalui defek atau bagian yang lemah dari dinding yang bersangkutan. Hernia terdiri atas cincin. BAB II TINJAUAN PUSTAKA A.2. Pada hernia abdomen. .3 C. Hernia kongenital sempurna Bayi sudah menderita hernia karena adanya defek pada tempat- tempat tertentu. isi perut menonjol melalui defek atau bagian lemah dari lapisan muskulo-aponeurotik dinding perut. Hernia sisi kanan lebih sering terjadi daripada di sisi kiri. kantong. ETIOLOGI Penyebab terjadinya hernia adalah1.

c. Pintu hernia: merupakan bagian locus minoris resistance yang dilalui kantong hernia. Tekanan intraabdominal yang tinggi. . Pada orang kurus terjadinya hernia karena jairngan ikatnya yang sedikit. misalnya hernia incisional. b. Tidak semua hernia memiliki kantong. sedangkan pada orang gemuk disebabkan karena jaringan lemak yang banyak sehingga menambah beban jaringan ikat penyokong. Distensi diding abdomen karena peningkatan tekanan intaabdominal . Kantong hernia. menangis) d Aquisial adalah hernia yang bukan disebabkan karena adanya defek bawaan tetapi disebabkan oleh faktor lain yang dialami manusia. Bayi dilahirkan normal (kelainan belum tampak) tapi mempunyai defek pada tempat-tempat tertentu (predisposisi) dan beberapa bulan (0-1 tahun) setelah lahir akan terjadi melalui defek tersebut karena dipengaruhi oleh kenaikan tekanan intraabdominal (mengejan. hernia adiposa. Merokok . Diabetes mellitus D. Isi hernia: berupa organ atau jaringan yang keluar melalui kantong hernia. Konstitusi tubuh. d. Pada hernia abdominalis berupa peritoneum parietalis. yaitu pada pasien yang sering mengejan pada saat buang air besar atau buang air kecil. Leher hernia: bagian tersempit kantong hernia. Penyakit yang melemahkan dinding perut . antara lain: . BAGIAN HERNIA Bagian-bagian dari hernia menurut: a. batuk. . hernia internalis. dan jaringan penyangga usus (omentum). ovarium. misalnya usus. .

b Hernia ireponibel: Bila isi kantong tidak dapat direposisi kembali ke dalam rongga perut.. hernia umbilikalis. Ini biasanya disebabkan oleh perlekatan isi kantong pada peritoneum kantong hernia. c. berarti isi kantong terperangkap. yaitu: kondisi prostrusi (penonjolan) organ intestinal masuk ke rongga melalui defek atau bagian dinding yang tipis atau lemah . ada beberapa klasifikasi hernia yang dibagi berdasarkan regionya. Hernia strangulata: bila isi hernia terjepit oleh cincin hernia. KLASIFIKASI HERNIA Menurut sifat dan keadaannya hernia dibedakan menjadi3: a Hernia reponibel: bila isi hernia dapat keluar masuk. tidak ada keluhan nyeri atau gejala obstruksi usus. d. hernia femoralis.E. Hernia inkarserata: bila isi hernia terjepit oleh cincin hernia. tidak dapat kembali ke dalam rongga perut disertai terjadinya gangguan pasase usus. isi kantong terperangkap dan terjadi gangguan pasase usus serta gangguan vaskularisasi sehingga dapat terjadi nekrosis. a Hernia Inguinalis. Usus keluar jika berdiri atau mengedan dan masuk lagi bila berbaring atau didorong masuk perut. yaitu: hernia inguinalis. Menurut Erickson (2009) dalam Muttaqin 2011. dan hernia skrotalis.

yaitu: hernia inguinalis lateralis yang isinya masuk ke dalam skrotum secara lengkap. Predisposisi terjadinya hernia inguinalis adalah terdapat defek atau kelainan berupa sebagian dinding rongga lemah. Hernia femoralis umumnya dijumpai pada perempuan tua. Materi yang masuk lebih sering adalah usus halus. Penyebab pasti hernia inguinalis terletak pada lemahnya dinding. peningkatan tekanan intraabdomen (kegemukan. b Hernia Femoralis. dan rektus lateral. Hernia ini terjadi ketika jaringan fasia dari dinding abdomen di area umbilicus mengalami kelemahan. dari cincin inguinalis. posterior oleh fasia umbilicus. batuk yang kuat dan kronis. tetapi bisa juga merupakan suatu jaringan lemak atau omentum. yaitu: suatu penonjolan (prostrusi) ketika isi suatu organ abdominal masuk melalui kanal anterior yang dibatasi oleh linea alba. d Hernia Skrotalis. yaitu: suatu penonjolan organ intestinal yang masuk melalui kanalis femoralis yang berbentuk corong dan keluar pada fosa ovalis di lipat paha. Insidensinya pada perempuan kira-kira 4 kali lelaki. . mengedan akibat sembelit. c Hernia Umbilikus. Hernia ini harus cermat dibedakan dengan hidrokel atau elevantiasis skrotum. dll). akibat perubahan struktur fisik dari dinding rongga (usia lanjut).

maka kanalis inguinalis yang kanan lebih sering terbuka. bersin yang kuat dan mengangkat barang-barang berat. karena rosesus tidak berobliterasi maka akan timbul hernia inguinalis lateral kongenital. kanal yang terbuka ini akan menutup pada usia 2 bulan. karena adanya perbedaan proses perkembangan alat reproduksi pria dan wanita semasa janin. Akibat semakin banyaknya usus yang masuk cincin hernia menjadi sempit dan menimbulkan gangguan penyaluran isi usus. Bila kanal terbuka terus. sehingga isi rongga perut tidak dapat melalui kanalis tersebut. Namuan karena daerah ini merupakan locus minoris resistance. Kanal yang sudah tertutup dapat terbuka kembali dan timbul hernia inguinalis lateralis karena terdorongnya sesuatu jaringan tubuh dan keluar melalui defek tersebut. asites.F. Biasanya hernia pada orang dewasa ini terjadi karena dengan bartambahnya umur. kehamilan. Akhirnya menekan dinding rongga yang telah melemas akibat trauma. terjadi desensus vestikulorum melalui kanal tersebut. Timbulnya edema bila terjadi nekrosis. Potensial komplikasi terjadi perlekatan antara isi hernia dengan dinding kantong hernia sehingga isi hernia tidak dapat dimasukkan kembali. hipertrofi prostat. Penurunan testis akan menarik peritoneum ke daerah scrotum sehingga terjadi tonjolan peritoneum yang disebut dengan prosesus vaginalis pritonea. amka timbul hidrokel. Pada bulan ke-8 dari kehamilan. Pada orang tua kanalis tersebut telah menutup. Bila bayi lahir umumnya prosesus telah mengalami obliterasi. . dan kelainan kongenital dan dapat terjadi pada semua.2 Bila prosesus terbuka sebagian. karena yang kiri turun terlebih dahulu dari yang kanan. Tetapi dalam beberapa hal sering belum menutup.2 Pria lebih banyak dari wanita.1. Terjadi penekanan terhadap cincin hernia. mengejan. PATOFISIOLOGI HERNIA INGUINALIS LATERALIS Kanalis inguinalis dalam kanal yang normal pada fetus. maka pada keadaan yang menyebabkan tekanan intraabdominal meningkat seperti batuk-batuk kronik. Dalam keadaan normal. Bila terjadi penyumbatan dan perdarahan akan timbul perut kembung. obesitas. organ dan jaringan tubuh mengalami proses degenerasi.

konstipasi.2 G. Bila inkaserata dibiarkan. hernia kanan diperiksa dengan tangan kanan. penderita disuruh batuk. bila ada benjolan masukkan dulu. jari ke-4 hernia femoralis. jari ke-3 hernia inguinalis medialis. bila impuls disamping jari hernia inguinalis medialis. Pemeriksaan Finger test  menggunakan jari ke 2 atau jari ke 5. dimasukkan lewat skrotum melalui anulus eksternus ke kanal inguinal.4 . Pemeriksaan Ziemen test  posisi berbaring. Bila impuls diujung jari berarti hernia ingunalis lateralis.4 . maka lama kelamaan akan timbul edema sehingga terjadi penekanan pembuluh darah dan terjadi nekrosis. Pemeriksaan fisik . penderita disuruh batuk bila rangsangan pada jari ke-2 hernia ingunalis lateralis.muntah. DIAGNOSIS a.

4 b.000/mm3 . Serum elektrolit meningkat . Pemeriksaan Thumb test  anulus ditekan dengan ibu jari dan penderita disuruh mengejan. Leukosit > 10. bila keluar benjolan berarti hernia inguinalis medialis.000 – 18. bila tidak keluar benjolan berarti hernia inguinalis lateralis. Pemeriksaan radiologis . Pemeriksaan penunjang ..

undescenden testis c. DIAGNOSIS BANDING a. Kista limfatikus f. epididimitis. Konservatif a) Reposisi (memasukkan hernia ke tempat semula) Hanya dapat dilakukan pada hernia reponibilis dengan menggunakan kedua tangan. Nodus limfatikus e. b) Suntikan Dilakukan setelah reposisi berhasil dengan menyuntikkan cairan sklerotik berupa phenol dan alkohol di daerah sekitar hernia agar jaringan di sekitar kantung hernia tadi mengalami sklerosis dan fibrosis sehingga akan menyempitkan kantung hernia dan akhirnya isi hernia tidak dapat lagi masuk ke dalam kantung hernia tersebut. retroperitoneal sarcoma. Keganasan : limfoma. Pemeriksaan ultrasonografi juga berguna untuk membedakan hernia incaserata dari suatu nodus limfatikus patologis atau penyebab lain dari suatu massa yang teraba di inguinal. Aneurisma artery femoralis d. H. . Hematoma i. testis ectopic. c) Sabuk hernia . torsio testis. metastasis. hidrokel. Tangan yang satu melebarkan leher hernia sedangkan tangan yang kedua memasukkan isi hernia melalui leher hernia tadi.Diberikan pada pasien yang melolak operasi . Kista sebasea g. tumor testis b. CT scan dapat digunakan untuk mngevaluasi pelvis untuk mencari adanya hernia obturator. PENATALAKSANAAN 1. . Psoas abses h. Penyakit testis primer: varicocele. Ascites I.

tetapi belum terjadi iskemik dan gangren pada isi hernia. Meskipun tekhnik operasi dapat bermacam-macam tekhnik bassini dan shouldice paling banyak digunakan. . Kantong hernia dipisahkan dari m. . Bentuk sabuk seperti kepala ular diletakkan tepat di pintu hernia. Dilakukan untuk hernia incarserata di mana pasien sudah tidak dapat flatus/ defekasi dan terlihat tanda-tanda ileus.Untuk herna irreponibilis operasi dapat dilakukan elektif/ terencana.2 . Operatif Merupakan penanganan hernia yang paling baik dan dapat dilakukan pada semua jenis hernia baik hernia reponibilis.1. Speed operasi (operasi yang harus segera setelah diagnosis ditegakkan dengan cara melihat keadaan umum). Herniotomy Insisi 1-2 cm diatas ligamentum inguinal dan aponeurosis obliqus eksterna dibuka sepanjang canalis inguinalis eksterna. Teknik operasi liechtenstein dengan menggunakan mesh diatas defek mempunyai angka rekurensi yang rendah. Pemakaian dalam jangka waktu lama berdefek tidak baik yaitu menyebabkan pintu hernia semakin lebar dan pemakaian yang tidak puas. strangulasi maupun incarserata.Pemakaian sabuk sebaiknya setelah reposisi berhasil.creamester secara hati-hati sampai ke kanalis inguinalis internus. . Untuk hernia irreponibilis harus dilakukan segera 2x24 jam setelah diagnosa. Pada anak-anak cukup hanya melakukan herniotomy dan tidak memerlukan herniorrhapy. . .1. kantong hernia dibuka. lihat isinya dan kembalikan ke kavum abdomen kemudian hernia dipotong. irreponibilis. .2 . 2. Herniorrhapy Dinding posterior di perkuat dengan menggunakan jahitan atau non-absorbable mesh dengan tekhnik yang berbeda-beda. Jenis Operasi: .

atrofi testis dan rekurensi hernia umumnya dapat diatasi. Prognosis baik jika infeksi luka. ukuran hernia serta kondisi dari isi kantong hernia. PROGNOSIS Tergantung dari umur penderita. obstruksi usus segera ditangani. Hernioplasty merapatkan conjoint tendo ke ligamentum inguinale dan mengaitkan kedua struktur tadi maksudnya adalah LMR hilang/ tertutup dan dinding perut menjadi lebih kuat. . . Penyulit pasca bedah seperti nyeri pasca herniorraphy.8 . J.

berikan tranfusi darah. 7. Pemulihan Anestesi  Segera setelah operasi.05 – 0. 8.10 mg/kgBB  Fentanyl : 1-2 µg/kgBB 6. Premedikasi Diberikan secara intravena pra induksi dengan obat-obat sebagai berikut:  Midazolam : 0. Penatalaksanaan Anestesi dan Reanimasi  Penilaian status pasien  Evaluasi status generalis dengan pemeriksaan fisik dan penunjang yang lain sesuai dengan indikasi 4. Persiapan Pra Operatif  Persiapan rutin 5. Pilihan Anestesi Anestesi umum inhalasi (imbang) dengan pemasangan Face Mask. berikan oksigen 100%  Bersihkan dan bebaskan jalan napas jalan nafas  Ekstubasi dilakukan setelah pasien nafas spontan dan adekuat serta jalan nafas sudah bersih 9. Batasan Tindakan anestesi yang dilakukan pada operasi herniotomy 2. sesuai dengan tata laksana pasca anestesi  Perhatian khusus pada periode ini adalah ancaman depresi nafas akibat nyeri dan kompresi luka operasi  Pasien dikirim kembali keruangan setelah memenuhi kriteria pengeluaran General Anestesia . hentikan aliran obat anesthesia.Tata Laksana Anestesi dan Reanimasi 1. Pasca bedah/anestesi  Dirawat diruang pulih. Terapi Cairan dan Tranfusi Diberikan cairan pengganti perdarahan apabila perdarahan yang terjadi < 20 % dari perkiraan volume darah dan apabila > 20%. Masalah anestesi dan Reanimasi  Ancaman depresi nafas akibat manipulasi napas  Perdarahan luka operasi 3.

rumatan dan bangun dari anestesi diantaranya :  Meredakan kecemasan dan ketakutan  Mengurangi sekresi kelenjar ludah dan bronkus  Mengurang mual dan muntah pasca bedah  Mengurangi isi cairan lambung  Membuat amnesia  Memperlancar induksi anestesi  Meminimalkan junmlah obat anestesi  Mengurangi reflek yang membahayakan. Dosis premedikasi dewasa 0. Sebelum pasien dibedah sebaiknya dilakukan kunjungan pasien terlebih dahulu sehingga pada waktu pasien dibedah pasien dalam keadaan bugar. Persiapan prabedah yang kurang memadai merupakan faktor terjadinya kecelakaan dalam anestesia.025-0. Tujuan kunjungan praanestesi adalah untuk mengurangi angka kesakitan operasi. mengurangi biaya operasi dan meningkatkan kualitas pelayanan kesehatan. Midazolam merupakan suatu golongan imidazo-benzodiazepin dengan sifat yang sangat mirip dengan golongan benzodiazepine. . Sebelum pasien diberi obat anestesi. induksi dan pemeliharaan anestesi. 1. midazolam bekerja cepat karena transformasi metabolitnya cepat dan lama kerjanya singkat. Efek obat timbul dalam 2 menit setelah penyuntikan. Dibandingkan dengan diazepam.05 mg/kgBB. disesuaikan dengan umur dan keadaan pasien.10 mg/kgBB. dosis harus ditentukan secara hati-hati. Tindakan anestesi dilakukan dengan menghilangkan nyeri secara sentral disertai hilangnya kesadaran dan bersifat pulih kembali atau reversible.07-0. Dosis lazim adalah 5 mg. Pada orang tua dan pasien lemah dosisnya 0. Pada pasien orang tua dengan perubahan organik otak atau gangguan fungsi jantung dan pernafasan. Obat Premedikasi a. Midazolam Midazolam adalah obat induksi tidur jangka pendek untuk premedikasi. langkah selanjutnya adalah dilakukan premedikasi yaitu pemberian obat sebelum induksi anestesi diberi dengan tujuan untuk melancarkan induksi.

Efek sampingnya terjadi perubahan tekanan darah arteri. Dosis tinggi fentanil menimbulkan kekakuan yang jelas pada otot lurik.5 mcg/kgBB).25-0. Efek ini di antagonis oleh nalokson. b. Obat ini tersedia dalam bentuk larutan untuk suntik dan tersedia pula dalam bentuk kombinasi tetap dengan droperidol. termasuk sufentanil (0. Opioid dosis tinggi yang deberikan selama operasi dapat menyebabkan kekakuan dinding dada dan larynx. Ranitidin . meski juga dapat digunakan sebagai anelgesi pasca operasi. dengan demikian dapat mengganggu ventilasi secara akut. Fentanyl Fentanyl merupakan salah satu preparat golongan analgesik opioid dan termasuk dalam opioid potensi tinggi dengan dosis 100-150 mcg/kgBB. suatu opioid yang poten dan sangat cepat onsetnya. tetapi secara tidak bermakna diperpanjang masanya atau diperkuat oleh droperidol. telah digunakan untuk meminimalkan depresi pernapasan residual. sebagaimana meningkatnya kebutuhan opioid potoperasi berhubungan dengan perkembangan toleransi akut. yang mungkin disebabkan oleh efek opioid pada tranmisi dopaminergik di striatum. Maka dari itu. c. umumnya hanya sedikit. dosis fentanyl dan sufentanil yang lebih rendah telah digunakan sebagai premedikasi dan sebagai suatu tambahan baik dalam anestesi inhalasi maupun intravena untuk memberikan efek analgesi perioperatif. yaitu suatu neuroleptik yang biasanya digunakan bersama sebagai anestesi IV. Efek euphoria dan analgetik fentanil diantagonis oleh antagonis opioid. Fentanyl biasanya digunakan hanya untuk anestesi. denyut nadi dan pernafasan. Lamanya efek depresi nafas fentanil lebih pendek dibanding meperidin. Sebagai analgesik. Bahkan sekarang ini telah ditemukan remifentanil. potensinya diperkirakan 80 kali morfin. Fentanyl dan droperidol (suatu butypherone yang berkaitan dengan haloperidol) diberikan bersama-sama untuk menimbulkan analgesia dan amnesia dan dikombinasikan dengan nitrogen oksida memberikan suatu efek yang disebut sebagai neurolepanestesia.

2. tonsil. Oxtercid (Cefuroxime) Cefuroxim (Oxtercid) adalah obat antibiotik golongan sefalosporin yang digunakan untuk menghentikan pertumbuhan bakteria.Onset ranitidin 10-15 menit (i. e. dosis dewasa 50 mg ampul iv. Tetapi waktu transit saluran cerna memanjang sehingga dapat terjadi konstipasi. Granisetron dieliminasi dengan cepat dari tubuh. Cefuroxime dapat digunakan baik sebelum atau sesudah operasi tertentu untuk mencegah infeksi. 750 mg-1. Dalam suatu penelitian kombinasi antara Granisetron dosis kecil yang diberikan sesaat sebelum ekstubasi trakhea ditambah Dexamethasone yang diberikan saat induksi anestesi merupakan suatu alternatif dalam mencegah muntah selama 0-2 jam setelah ekstubasi trakhea daripada ondansetron dan dexamethasone. bronkus. Ranitinin terikat pada protein plasma hanya sebesar 15%. telinga. bila kecepatan pengosongan basal rendah. Eliminasi lewat ginjal sebesar 70% tanpa mengalami perubahan. Granisetrone Merupakan suatu antiemetik selektif serotonin 5-HT3 reseptor yang sangat efektif yang dapat menekan mual dan muntah karena sitostatika misalnya cisplatin dan radiasi.durasi 8-12 .5gr iv atau im tiap 8 jam selama 5-10 hari. mengobati infeksi pada sinus. Dosis yang biasanya diberikan untuk premedikasi dosis tunggal 3mg dan maksimal pemberian 9 mg/hari. . Granisetron mempercepat pengosongan lambung. Merupakan obat golongan AH2 blocker yang bekerja dengan menghambat histamine untuk dapat terikat pada reseptor H2 sehingga terjadi penurunan produksi asam lambung dan peningkatan pH di gaster. Metabolisme obat ini terutama secara hidroksilasi dan konjugasi dengan glukonida atau sulfat dalam hati. Waktu paruhnya berkisar antara 2-3 jam. Obat Induksi Profofol Propofol adalah obat anestesi intravena yang bekerja cepat dengan karakter recovery anestesi yang cepat tanpa rasa pusing dan mual-mual.v) . Dosis dewasa 250-500 mg po 2x sehari. d. kulit. faring. kandung kemih.

bradikardia. N2O N2O (gas gelak. dosis rumatan 0. dan beratnya 1. Pada pasien yang berumur diatas 55 tahun dosis untuk induksi maupun maintanance anestesi itu lebih kecil dari dosis yang diberikan untuk pasien dewasa menyebabkan depolarisasi. dinitrogen monoksida) diperoleh dengan memanaskan ammonium nitrat sampai 240°C (NH4 NO3 2H2O + N2O) N2O dalam ruangan berbentuk gas tak berwarna.01 mg/kgBB sampai 0. . durasinya selama 20-45 menit dan dapat meningkat menjadi 2 kali lipat pada suhu 250 C.5-0. Gas ini bersifat anestesik lemah. sehingga pemberiannya harus disertai obat vagolitik seperti atropin dosis 0.5 kali berat udara. hanya menghalangi asetilkolin menempatinya. tetapi analgesinya kuat.2-0.1 mg/kgBB. Pada anestesi inhalasi jarang digunakan sendirian. Dosis rumatan 500ug/kgBB/menit infuse. Profofol merupakan cairan emulsi minyak-air yang berwarna putih yang bersifat isotonik dengan kepekatan 1% (1ml=10 mg) dan mudah larut dalam lemak. Profopol menghambat transmisi neuron yang dihantarkan oleh GABA.01-0. sehingga sering digunakan untuk mengurangi nyeri menjelang persalinan. Pemberian anestesi dengan N2O harus disertai O2 minimal 25%.6 mg/kgBB. Maintanance a. Dosis sedasi 25-100ug/kgBB/menit infuse.02 mg/kgBB atau glikopirolat 0. Dosis induksi 1-2 mg/kgBB. Penawar pelumpuh otot bersifat muskarinik menyebabkan hipersalivasi. laughling gas. keringatan. tak terbakar.3 mg/kgBB pada dewasa. hipermotilitas usus dan pandangan kabur. kejang bronkus. nitrous oxide.08 mg/kgBB) atau obat antikolinergik lainnya. sehingga asetilkolin dapat bekerja. Propofol adalah obatanestesi umum yang bekerja cepat yang efek kerjanya dicapai dalam waktu 30 detik.005-0. tak iritasi. Antikolinesterase yang paling sring digunakan ialah neostigmin dengan dosis (0. 3. bau manis. Penawar pelumpuh otot atau antikolinesterase bekerja pada sambungan saraf-otot mencegah asetilkolin-esterase bekerja.04-0. sehingga asetilkolin tidak dapat bekerja. Dosis awal 0. kecepatan efek kerjanya 1-2 menit.

jarang menyebabkan aritmia.tetapi dikombinasi dengan salah satu anestesi lain seperti halotan dan sebaagainya. Penggunaan dalamane stesi umumnya dipakai dalam kombinasi N2O : O2 yaitu 60% : 40%. obstruksi. Dosis untuk mendapatkan efek analgesik digunakan dengan perbandingan 20% : 80%. tetapi belum ada laporan membahayakan terhadap tubuh manusia. untuk induksi 80% : 20%. Efek terhadap sistem saraf pusat seperti isofluran dan belum ada laporan toksik terhadap hepar. pneumomediastinum. berikan O2 100% selama 5-10 menit. Setelah pemberian dihentikan sevofluran cepat dikeluarkan oleh badan. Pada akhir anestesi setelah N2O dihentikan. sehingga digemari untuk induksi anestesi inhalasi disamping halotan. baralime). Sevoflurane Sevofluran (ultane) merupakan halogenasi eter. Induksi dan pulih dari anestesi lebih cepat dibandingkan dengan isofluran. 70% : 30%. emboli udara dan timpanoplasti. . N2O sangat berbahaya bila digunakan pada pasien pneumothorak. Baunya tidak menyengat dan tidak merangsang jalan napas. Untuk menghindari terjadinya hipoksia difusi. maka N2O akan cepat keluar mengisi alveoli. Walaupun dirusak oleh kapur soda (soda lime. b. Efek terhadap kardiovaskuler cukup stabil. sehingga terjadi pengenceran O2 dan terjadilah hipoksia difusi. dan pemeliharaan 70% : 30%.

Untuk maintenance selama operasi berlangsung diberikan N2O 50%. dan warna kulit 2 (merah muda).5 mg/kgBB) (intravena). O2 50%. Jadi Aldrete Score pada pasien ini adalah 10 sehingga dapat untuk pindah ke bangsal. Status fisik pada pasien ini dimasukkan ke dalam ASA II (pasien dengan kelainan sistemik ringan sampai dengan sedang akibat kelainan bedah atau proses patofisiologus. supaya dapat bekerja dengan aman. Monitoring secara elektronik membantu ahli anestesi mengadakan observasi pasien lebih efisien secara terus menerus. Pada kasus ini Aldrete Score-nya yaitu aktivitas motorik 2 (keempat ekstremitas dapat digerakkan). Selama operasi berlangsung juga tetap diberikan cairan intravena RL. dilakukan monitoring perioperasi untuk membantu ahli anestesi mendapatkan informasi fungsi organ vital selama perioperasi. Selanjutnya dilakukan tindakan preoksigenasi dengan Oksigen masker 4 liter/menit. dilakukan tindakan suction dan reoksigenasi dengan Oksigen 2-3 liter/menit. pernapasan 2 (bernapas tanpa hambatan). angka mortalitas 16%). dan Sevoflurane 2 vol % dengan cara inhalasi dengan mesin anestesia. pasien dapat dipindahkan ke bangsal. . Induksi anestesia dilakukan dengan pemberian propofol 20 mg (2 – 2.05-0. sirkulasi 2 (tekanan darah dalam kisaran <20% sebelum operasi). yang segera setelah itu dilakukan pemasangan Face Mask. Selama operasi berlangsung.1 mg/kgBB) intravena. kesadaran 2 (sadar penuh). Pada pasien ini diberikan premedikasi berupa midazolam 1 mg (0. dan hasil pemeriksaan fisik untuk mengetahui keadaan umum pasien dan memastikan apakah operasi dapat dilakukan. Pasien dipindah ke ruang pemulihan dan dilakukan observasi sesuai skor Aldrete. Bila pasien tenang dan Aldrete Score ≥ 8 dan tanpa nilai 0. BAB III PEMBAHASAN Diagnosis Pre op hernia inguinalis lateralis sinistra reponible didapatkan dari anamnesis. catatan rekam medic pasien. Setelah operasi selesai. Teknik general anestesi inhalasi pada pasien ini dilakukan atas pertimbangan lama waktu operasi yang relatif lama. yaitu sekitar 45 menit.

Di ruang pemulihan (recovery room) vital sign pasien dalam batas normal dan nilai aldrette score mencapai 10 sehingga pasien bisa dipindahkan ke bangsal. Dari pemeriksaan fisik terdapat benjolan pada scrotum kiri yang dapat dimasukkan kembali. ranitidin. Berdasarkan klasifikasi status fisik pasien pra-anestesi menurut American Society of Anesthesiologist. BAB IV KESIMPULAN Seorang Laki-laki usia 2 tahun dengan hernia inguinalis lateralis sinistra reponible. ondansetron dan dilakukan general anestesi dengan teknik face mask menggunakan induksi recofol. Pemeliharaan pada pasien menggunakan O2. Pasien diberikan premedikasi berupa midazolam. fentanyl. pasien digolongkan dalam ASA II. . dan sevoflurance. N2O.

Omoigui. Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia: Jakarta. Kapita Selekta Kedokteran. Mansjoer A. Roesli Thaib. 1998. Petunjuk Praktis Anestesiologi edisi ketiga. Sunatrio. DAFTAR PUSTAKA Himendra. Cetakan keenam : Media Aesculapius – FK UI. Teori Anestesiologi:Yayasan Pustaka Wina:Bandung. Bagian Anestesiologi dan Terapi Intensif. SA. Anaesthesia And Intensive Care Medicine 9:4. Dachlan. A.2007. S. Cetakan pertama. Diunduh dari: http://www. Jakarta : Universitas Udayana Indeks. Bagian Anestesiologi dan Terapi Intensif. Obat-obatan Anastesia. Buku Ajar Ilmu Anasthesia dan Reanimasi. ANESTESIOLOGI . Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia: Jakarta.pdf Latief. 2004.dkk. Muhiman. R. EGC : Jakarta. KA. Jaideep J Pandit. Triyanti K. Mangku G.com/downloads/basic_sciences_articles/iv- anaesthetic-agents/intravenous-anaesthetic-agents.philippelefevre. 2007. 2010. Dahlan. . 1997. Suryadi. 2007. Et all (editor). Intravenous Anaesthetic Drug. Wardhani WI.