You are on page 1of 17

GEOLOGI BATUBARA

Seam-subseam

Singkapan tambang dinding tinggi yang memperlihatkan lapisan batubara rider, di Cekungan Barito,
Kalimantan Selatan.

Sejumlah sub-seam batubara yang terletak di atas seam batubara Formasi Warukin, Cekungan Asem-
Asem, di Kabupaten Tanah Bumbu, Kalimantan Selatan.

Karakter Batuan Atap (Roof) dan Batuan Alas (Floor)

Karakter batuan atap/tudung dan batuan alas penting dalam penambangan batubara, sebab
kestabilan atap dan lantai berdampak pada keselamatan dan biaya operasional.

Pada banyak kasus, batuan lantai (alas) lapisan batubara adalah batulempung atau serpih
yang terendapkan pada lingkungan subaqueous daerah limpah banjir purba atau laguna
tempat pohon berada.

Material ini akan sangat mengganggu dalam proses penambangan, karena bisa melengkung
atau mendorong ketika batubara ditambang.
Setelah pengendapan gambut dan kerangka fasies berakhir, fasies pengendapan masih
memengaruhi karakteristik endapan batubara.

Sifat mekanis pengendapan yang berbeda menghasilkan tekanan, rekahan, dan lipatan
kompaksi yang berbeda.

Batuan alas/lantai seam batubara Formasi Sinamar yang terdiri atas batulumpur.

Batuan tudung dan alas lapisan batubara Sangkarewang terdiri atas batulempung abu-abu gelap
Formasi Sangkarewang.

Geometri alur purba bergantung pada banyak faktor pengontrol yang penting:

Sumber sedimen,

curah hujan,

gradien,

umur, dan

tataan pengendapan

Geometri ini juga dapat bervariasi lokasinya dalam delta (Horne, 1979).
Pada penampang tegak, bentuk endapan alur purba lentikular dan tebalnya bervariasi.

Alur purba biasanya mempunyai dasar bergelombang sebagai akibat torehan pada lapisan
sedimen yang mengalasinya.

Lapisan silang-siur jenis festoon sering hadir pada bagian bawah alur purba fluviatil yang
mengandung batupasir.

Lapisan batupasir yang berstruktur gelembur gelombang adalah indikator lingkungan energi
yang lebih rendah, biasanya terjadi pada bagian atas alur purba fluviatil (Horne, 1979).

Alur purba dengan isian alur yang ditinggal (abandoned channel fill) terdiri atas serpih,
batupasir, dan/atau batubara.

Alur purba denganpengisi alur aktif (active channel fill) paling sering terisi dengan
batupasir yang berbutir menghalus ke atas.

Secara mendatar dan di bagian atas alur purba, batupasir biasanya menjemari dengan
batulanau, serpih, batulumpur, dan batubara.

Beberapa alur purba mengandung konglomerat alas yang terdiri atas kerakal dan kerikil
siderit, serpih, dan kepingan batubara.

Struktur sedimen channelling pada lapisan A Formasi Balikpapan, Cekungan Kutai, Kalimantan Timur.

Tepian alur purba merupakan lokasi yang paling berbahaya pada suatu pertambangan
bawah tanah (McCulloch, 1977; McCabe dan Pascoe, 1978).

Banyak yang terluka dan meninggal karena jatuhnya atap pada tepian alur purba.

Peralatan kontrol di permukaan tanah biasanya perlu dimodifikasi pada daerah dekat alur
purba.

Baut harus dipasang pada litologi yang cocok dan tidak pada strata lemah yang
mengalasinya.
Pada tepian alur purba, dasarnya sering terlihat menurun dari batuan tudung dan
memotong perlapisan sedimen dan batubara.

Namun, alur purba di bawah permukaan karakternya dapat bervariasi.

Daerah torehan alur purba adalah area lapisan batubara yang tererosi oleh alur yang
menindihnya.

Kemampuan menambang di bawah suatu alur purba bergantung pada derajat torehan dan
perlengkapan penambangan minimum.

Pada skenario terburuk, batubara dapat tererosi secara total atau terpotong.

Alur purba di bawah seam batubara cenderung membentuk struktur tinggian setempat,
sedangkan alur purba dalam batuan tudung membentuk struktur rendahan dalam seam
batubara.

Kemiringan yang tajam pada beberapa alur purba dapat menyebabkan timbulnya tingkatan
kesukaran pada peralatan penambangan.

Ilustrasi yang menggambarkan bermacam fitur ditemukan di sekitar alur purba. Ilustrasi ini
menggambarkan sebuah alur purba yang telah mengerosi lapisan-lapisan sebelumnya yang berbutir
halus.

Lipatan dan Lapisan Miring

Gambut terakumulasi di daerah yang berelief dan bergradien rendah,

Melalui waktu geologi, gambut tersebut terkubur di dalam cekungan sedimen dan
membentuk lapisan batubara yang dapat terlipat oleh aktivitas tektonik.

Tipe lipatan beragam, misalnya :

lipatan terbuka lebar dengan sedikit kemiringan sampai ke struktur sempit dan

tertutup yang dicirikan oleh kemiringan curam atau lapisan terbalik.


Struktur lipatan berupa antiklin, sinklin, kubah, dan monoklin.

Struktur lipatan diakibatkan oleh deformasi dan nendatan pada batuan sedimen lunak.

Lipatan biasanya terbentuk secara tektonis atau melalui kompaksi berbeda.

Endapan batubara dengan kemiringan landai adalah ideal bagi penambangan.

Secara struktural, endapan batubara di daerah berstruktur kompleks, sering berupa kokas
berkualitas tinggi.

Di sejumlah cekungan, operasi penambangan berlokasi pada cabang struktur utama.

Karena itu, kegiatan penambangan berada pada lapisan dengan arah kemiringan sama.

Penambangan dapat dilakukan pada lapisan yang mendatar sampai tegak atau terbalik.

Kemiringan lapisan akan menentukan jenis perlengkapan yang digunakan, dan harus
mempertimbangkan daya ban berjalan.

Kemiringan maksimum 15% (13.50) pada umumnya dapat diterima untuk operasi yang
efisien dan aman dengan perlengkapan ban karet.

Instalasi ban berjalan biasanya tidak melebihi kemiringan 20% (180).

Singkapan dinding tinggi lapisan batubara Sawahlunto pada antiklin di pertambangan batubara
Ombilin. Catatan: pertambangan batubara bawah tanah tradisional yang dilakukan oleh masyarakat
setempat dalam upaya mendapatkan endapan batubara (Foto: Koleksi UPO PTBA).
Struktur monoklin berkemiringan menengah pada lapisan batubara yang disisipi oleh tonstein tebal,
di pertambangan batubara Kili Suci, Cekungan Bengkulu.

Struktur monoklin berkemiringan terjal pada lapisan batubara Formasi Kiliran, pertambangan
batubara Karbindo, Sumatra Barat.

Kekar (Joints)

Kekar pada batuan pembawa batubara adalah fitur penting yang harus dipertimbangkan
selama perencanaan dan perancangan pertambangan.

Pengkajian yang terperinci pada penampilan kekar termasuk frekuensi dan orientasi, serta
hubungannya dengan struktur lain (misalnya cleat, sesar, dan lain-lain) merupakan hal
penting untuk :

pengevaluasian karakteristik batuan dalam pertambangan bawah permukaan dan


pertambangan permukaan,

pada penentuan hidrodinamika dan konsentrasi gas metana.

Kekar adalah retakan yang tidak mempunyai gerakan signifikan.


Kekar terjadi secara paralel dengan frekuensinya yang bervariasi dan dapat menembus
bagian lapisan batuan.

Tataan kekar berarah seragam dan banyak batuan pembawa batubara mengandung lebih
dari satu tataan kekar.

Dua atau lebih tataan kekar disebut sistem.

Singkapan kekar yang terbentuk dengan baik pada batupasir berlapis tebal sampai pejal, yang
menindih batubara Sawahlunto di bagian utara lapangan batubara Ombilin, Sumatra Barat. Kekar
terlihat kurang jelas pada endapan berbutir lebih halus, tapi umumnya berkembang dengan baik
pada batupasir.

Cleat adalah retakan vertikal atau hampir vertikal pada lapisan batubara.

Cleat sering hadir berupa pasangan ortogonal dan jika dikombinasikan dengan bidang
lapisan, akan menyebabkan batubara mempunyai retakan bongkah.

Cleat yang sistematik disebut face cleat, sedangkan tataan yang kurang sistematik disebut
butt cleat.

Face cleat pada umumnya berbentuk linier sampai curvilinier dan membentuk tataan paralel
sampai subparalel yang dapat berkembang ekstensif secara regional.

Butt cleat pada umumnya membentuk tataan garis paralel yang tegaklurus pada face cleat.

Permukaan cleat biasanya licin, tapi juga dapat bergurat (striated).


Face dan butt cleats yang cukup rapat dalam singkapan batubara di Cekungan Bengkulu.

Pada tambang batubara, kehadiran cleat harus dipertimbangkan dengan cermat dalam tata
letak penambangan, karena berkaitan dengan kemantapan rib/pillar dan jenis peralatan
yang akan digunakan.

Orientasi cleat pada kebanyakan cekungan batubara berarah sejajar terhadap sistem
kekar yang dominan, meskipun frekuensi cleat umumnya lebih tinggi dari pada kekar.

Orientasi, letak, celah, dan karakteristik cleat lainnya bisa berubah akibat tekanan sekitar
struktur lokal dan tubuh batuan sedimen (sesar, alur purba, dan lain lain).

Meskipun batubara mengalami diagenesis, celah cleat umumnya tetap terbuka.

Cleat bisa berfungsi sebagai jalur migrasi air, namun juga berfungsi sebagai saluran
mineralisasi.

Mineral yang umum mengisi celah cleat adalah kalsit, pirit, dan sejumlah mineral lempung.

Cermin sesar adalah permukaan yang sangat mengkilap dan/atau bergores yang terbentuk
sebagai hasil pergerakan tektonik atau kompaksi diferensial batuan sedimen.

Cermin sesar lazim terdapat pada lapisan pembawa batubara, juga pada bidang lemah yang
menga- lami kenaikan tekanan.

Cermin sesar dapat ditemukan sepanjang :

kekar,

cleat,

sesar, dan

fitur struktur sedimen lain,


serta terdapat pada semua tipe batuan;

namun umumnya terdapat pada tipe batuan berbutir halus seperti batulumpur dan serpih.

Retakan yang tersesarkan sering beranalogi dengan longsoran.

Laird drr. (1985) membedakan dua tipe cermin sesar pada endapan batubara.

Tipe pertama disebut cermin sesar kompaksi, terbentuk pada lapisan berbutir halus dekat
unit batupasir.

Jenis kedua disebut cermin sesar struktural, memperlihatkan deformasi lebih tinggi karena
tekanan yang lebih intensif.

Cermin sesar struktural terbentuk dekat dan di bawah alur purba pada kedalaman lebih dari
450 m dan di bawah pengaruh tekanan horizontal tinggi.

Cermin sesar struktural mempunyai spektrum genesis yang lebih luas.

Cermin sesar struktural yang menggalur atau bergurat merupakan bukti episode terakhir
pergerakan.

Karena cermin sesar adalah bidang lemah, mereka potensial menjadi bidang yang rusak.

Bergantung pada kondisi geologi dan konfigurasi parit, retakan cermin sesar yang miring ke
arah parit merupakan bidang lemah yang potensial rusak.

Karena lumpur padat jauh lebih siap daripada pasir, batuan sedimen kaya akan lempung
yang lebih lemah dan dekat ke tubuh pasir rentan terhadap deformasi batuan sedimen
lunak, sebagai akibat tekanan diferensial.

Bidang rusak yang terbentuk pada batuan sedimen lunak dan pergerakan minor
menimbulkan permukaan mengkilap pada cermin sesar.

Cermin sesar kompaksi paling lazim pada pertambangan yang mengandung sekuen yang
dekat atau menindih siquen alur purba.

Retakan cermin sesar kompaksi berbentuk linier sampai curvilinier dan cenderung sering
sejajar dengan posisi unit batupasir (Greb, 1991).

Batuan cenderung jatuh sepanjang permukaan mengkilap karena perekatan yang buruk.

Cermin sesar struktural juga bisa terdapat pada tepian alur purba.

Bila digabungkan dengan faktor lain, cermin sesar struktural atau kompaksi meningkatkan
kondisi buruk pada tepi alur.

Daerah ini rentan terhadap rusaknya atap dan konsekuensinya menyebabkan orang terluka
atau meninggal di dalam pertambangan bawah tanah.
Permukaan batubara yang tercerminsesarkan atau terabak mengindikasikan pergerakan pada
permukaan retakan. Lokasi: Pertambangan batubara Arantiga di Cekungan Bengkulu, dekat suatu
intrusi.

Permukaan retak cermin sesar yang mengilap pada batubara Formasi Muara Enim, di tambang
batubara Air Laya, Sumatra Selatan. Lapisan batubara diasumsikan mengalami tekanan intensif.

Sesar

Proses tektonik seperti sesar dan lipatan memodifikasi endapan batubara.

Menguraikan sejarah tektonik suatu wilayah dan mengidentifikasi lokasi dan karakter sesar
merupakan tantangan yang menarik.

Sesar adalah rumpang dalam lapisan tempat blok yang berhadapan mengalami pergerakan.

Ada banyak klasifikasi sesar di dalam literatur, yang didasarkan pada rezim tekanan genetis
dan/atau konfigurasi geometris.

Sesar dalam endapan batubara diakibatkan oleh proses tektonik, kompaksi sedimen, dan
pembakaran.

Batuan sedimen pembawa batubara dapat berstruktur sederhana atau mempunyai sejarah
deformasi yang rumit.
Sesar normal/turun dalam singkapan batubara Air laya, Tanjungenim, Cekungan Sumatra Selatan.

Lapisan batubara tersesarkan pada Formasi Warukin, Cekungan Barito, Kalimantan Selatan.
Photograph/Foto: Heryanto, 2004.

Zone sesar sungkup pada batubara Tanjung berumur Tersier yang mengalami tekanan,
memperlihatkan deformasi kompresional intensif. Zone sesar berupa tipe sesar naik.

Endapan batubara yang mengalami deformasi kompresional intensif dapat membentuk


struktur sesar impresif (Hammond, 1988 dan Mallet drr. 1988; dalam Papp drr.,1998).
Pada endapan ini, sesar naik menyebabkan pengulangan lapisan batubara se- hingga
terbentuk ketebalan anomali (misalnya penebalan tektonis).

Sebaliknya pelukatan (pelepasan) lapisan sepanjang sesar naik dapat menghasilkan daerah
lowong/ tanpa batubara.

Selain akibat proses tektonik dan kompaksi, sesar dapat pula terbentuk pada lapisan
pembawa batubara karena pembakaran lapisan batubara tebal.

Hilangnya lapisan batubara menghasilkan kekosongan yang menjadi tempat jatuhnya lapisan
yang menindihnya.

Walaupun sering sangat terbreksikan, bidang sesar dapat diidentifikasi pada lapisan yang
terbakar.

Batuan yang kaya akan lempung kadang-kadang berubah karena lapuk atau terdegradasi
oleh reaksi dengan air yang masuk selama proses penambangan dan/atau karena
penyaringan oleh air.

Dampak sesar tegak kadang-kadang lebih kecil daripada pengeluaran gas dan/atau air.

Air lazim bergerak sepanjang bidang sesar, gouge, dan retakan terkait.

Air ini sering mengurangi integritas atap pertambangan bawah tanah atau dinding tinggi
pertambangan permukaan dan meningkatkan kerusakan.

Sesar pembawa air juga dapat memengaruhi pemasukan air ke pertambangan dan diketahui
menyebabkan banjir pada pertambangan bawah tanah atau pertambangan permukaan.

Jatuhan batuan (rock falls) dan longsoran (landslides) sering terjadi dalam lapisan pembawa
batubara.

Litologi, } sangat mempengaruhi

kejenuhan air, } kerentanan longsor.

kemiringan lereng }

Longsor dapat terjadi secara alamiah atau dapat disebabkan oleh penambangan atau
aktivitas konstruksi permukaan lainnya.

Dampak longsor bisa beragam, misalnya :

memutus akses ke lokasi pertambangan atau

memengaruhi fasilitas pertambangan.

Longsor juga dapat memutus jalur kereta api dan membatasi pengapalan batubara.

Intrusi
Banyak lapangan batubara berasosiasi baik dengan intrusi batuan beku maupun batuan
sedimen yang menerobos ke dalam formasi pembawa batubara.

Intrusi tersebut bentuk dan litologinya beragam.

Batuan Beku

Intrusi batuan beku andesitis, basaltis, dan dioritis yang berupa dike dan retas lempeng
menerobos ke dalam formasi pembawa batubara.

Intrusi ini di Bukit Kendi dan Air Laya, lapangan batubara Tanjung Enim, memengaruhi
kualitas batubara sampai mencapai peringkat semi-antrasit, yang mempunyai nilai kalori
lebih daripada 7000 kcal/kg.

Begitu pula batubara di sebagian Cekungan Bengkulu, Sumatra, dan Murungraya di


Cekungan Barito, Kalimantan, yang terkena terobosan batuan beku, menunjukkan kenaikkan
peringkat mencapai semi-antrasit.

Retas lempeng mempunyai kecenderungan menerobos lebih dari satu lapisan.

Hal ini juga dapat mempunyai efek meningkatkan kualitas batubara secara lokal, sehingga pada
keadaan tertentu menarik bagi eksploitasi.

Intrusi batuan beku dalam bentuk retas lempeng menerobos lapisan batubara Formasi Muaraenim,
di Bukit Kendi, lapangan batubara PTBA, Sumatra Selatan.
Retas lempeng andesitis yang menerobos batubara di daerah batubara Bukit Bara Utama, Cekungan
Bengkulu, Sumatra.

Tubuh intrusi andesitis tersingkap dekat Sungai Barito, di lapangan batubara Murungraya,
Cekungan Barito Utara, Kalimantan.

Intrusi Batuan Andesit di Daerah Suban, Tanjungenim, Sumatra Selatan, yang mengakibatkan
kenaikkan nilai kalori batubara ( 7300-8500 kcal/kg).
Menurut Stach drr. (1982) temperatur intrusi batuan beku bisa mencapai 1000 derajat
Celsius atau lebih pada saat injeksi, sehingga menghasilkan perubahan pada lapisan
batubara.

Pada umumnya, semakin tinggi temperatur pemanasan semakin besar pula perubahan sifat
batubara.

Selanjutnya, intrusi bahan cair panas ke dalam lapisan batubara menghasilkan kerucut
batubara dan juga menghilangnya zat terbang karena panas.

Batubara yang terpengaruh panas dikenal dengan berbagai istilah, misalnya kokas alam,
kokas geologi, dan batubara bakar.

Secara fisik, batubara tersebut kusam, padat, dan keras, serta kadang-kadang memiliki kekar
heksagonal yang tegak lurus pada permukaan kontak.

Intrusi batuan beku, seperti dike dan retas lempeng, memutus kesinambungan lapisan
batubara, dan kadang-kadang dapat membatasi perkembangan penambangan.

Intrusi tersebut juga dapat merintangi bermigrasinya metana, sehingga membatasi ukuran
reservoir batubara.

Dike umumnya berkemiringan terjal, tabular, dan diskordan, sementara retas lempeng
konkordan terhadap lapisan.

Panas tubuh batuan beku dalam, termasuk dike dan retas lempeng yang lebih dangkal dapat
meningkatkan kualitas batubara pada tingkat regional maupun lokal (Williamson, 1967;
Beeson, 1980).

Kenaikan kualitas ini selaras dengan nilai panas batubara yang lebih tinggi, yang pada
penambangan menunjukkan nilai harga batubara yang lebih tinggi.

Komposisi dike dan retas lempeng bergantung pada komposisi kimia magma, dan pada skala
yang lebih kecil, adanya kontribusi kandungan batuan induk.

Umumnya magma diinjeksikan sepanjang bidang lemah, seperti sesar dan kekar.

Karakteristik dan dimensi intrusi dapat bervariasi, bisa lateral atau vertikal.

Seam batubara yang tebal secara mekanis lebih lemah daripada lapisan pembawa batubara
lainnya, sehingga lapisan batubara tebal tersebut siap mengakomodasi magma selama
penerobosan.

Xenolit (inklusi batuan induk), kokas, dan grafit kadang-kadang ditemukan pada retas
lempeng dan dike.

Batuan Sedimen

Batuan sedimen yang dekat kontak dengan panas karena intrusi batuan beku akan sangat
keras.
Kontak antara intrusi batuan beku dan batuan sedimen bisa :

tajam dan planar, atau dapat juga

berupa diffuse,

celah,

rekahan, dan

retakan.

Tubuh intrusi dapat terkontaminasi oleh bahan karbonan.

Intrusi batuan sedimen :

hadir dalam bentuk beragam, serta diskordan,

mengganggu lapisan pembawa-batubara.

litologi beragam,

mode penerobosan yang sangat berbeda, dan

pada banyak kasus menyerupai intrusi batuan beku.

Intrusi sedimen dikategorikan sebagai berikut:

dike, retas lempeng, dan pipa yang juga disebut tiang batuan (rock spars), clastic dikes,
sandstone dikes, stone dikes ,

urat batulempung yang juga disebut dike batulempung, longsoran batulempung (clay slip),
punggung kuda (horse backs), longsoran lumpur (mud slips), dan lain-lain

batuan sedimen pengisi retakan.

Karena intrusi sering terdiri atas batuan keras dan mengganggu lapisan batubara, mereka
dapat berdampak terhadap proses penambangan batubara.

Ketiga jenis tubuh intrusi batuan sedimen tersebut terdiri atas batupasir dengan sedikit
batulumpur dan batulanau (Lindberg drr. 1983).

Sudut kemiringan dike batuan sedimen bisa beragam, namun sudut terjal jauh lebih lazim.

Penerobosan dapat horizontal, dan disebut retas lempeng, yang berfungsi sebagai parting
batuan.

Retas lempeng ganda dengan jarak antara 5 - 10 cm, dalam seam batubara dapat meluas ke
samping sampai 100 m (Hardie dan Fleck, 1991).

Perlapisan bersusun (graded bedding) dan konglomerat alas mengindikasikan bahwa


endapan jenuh air mengalir melalui bukaan-bukaan pada lapisan gambut, di beberapa korok
(dike) silisiklastik.
Selama penambangan, tepian alur purba kadang-kadang dapat terlihat sangat mirip dengan
intrusi sedimen.

Korok sedimen ini dapat mengganggu kemenerusan lapisan batubara, karena kadang-kadang
berperan sebagai penghalang terhadap air dan gas.