You are on page 1of 13

TATA LAKSANA

SYOK ANAFILATIK
SISTEM IMUN
Sistem Imun atau ketahanan tubuh terdiri atas Sistem Imun nonspesifik
(natural/innate) dan spesifik (adaptive/acquired)

SISTEM IMUN

NON SPESIFIK

FISIK/MEKANIK LA R U T SELULAR

Kulit Asam lambung


Selaput Lendir Lisozim
Biokimiawi SPESIFIK
Silia Laktoferin
Batuk Asam neuraminat
Bersin
Komplemen
Interferon HUMORAL / SELULAR /
Humoral SEL B SEL T
C Reactive
Protein (CRP)
ANTIBODI
Antibodi atau Imunoglobulin yang beredar dalam tubuh meupakan golongan protein yang
dibentuk oleh sel plasma yang berasal dari proliferasi sel B akibat adanya rangsangan antigen.
Di dalam tubuh terdapat 5 jenis imunoglobulin (lg) yaitu : IgG, IgM, IgA, IgE dan IgD.

IgG merupakan komponen utama Ig serum (75% dari semua Ig)


IgM dibentuk paling dahulu pada rangsangan antigen daripada IgG. Oleh karena itu
kadar IgM yang tinggi merupakan petunjuk adanya infeksi dini
IgA ditemukan sedikit dalam serum tetapi kadarnya lebih tinggi dalam cairan sekresi
saluran nafas, saluran cerna, saluran kemih, air mata, keringat, ludah dan air susu ibu.
Pada umumnya IgG, IgM dan IgA berperan pada imunitas terhadap infeksi
IgD ditemukan dalam kadar yang sangat rendah dengan fungsi yang belum jelas
IgE ditemukan juga dalam serum dengan jumlah yang sangat sedikit. Pada umumnya
IgE tidak di bentuk dalam tubuh. Tetapi pada orang alergi IgE dibentuk terhadap
berbagai bahan yang ada dalam lingkungan hidup sehari-hari termasuk obat-obatan
REAKSI HIPERSENSITIVITAS
1. REAKSI HIPERSENSITIVITAS TIPE 1
Reaksi tipe 1 disebut juga reaksi cepar, atau reaksi anafilatik atau reaksi alergi,
timbul segera
sesudah badan terkapar dengan bahan yang sama untuk kedua kalinya atau lebih.
Alergen yang masuk tubuh menimbulkan dibentuknya IgE
Contoh : Asma, Bronkial, Rinitis alergi, dermattis atopik, sebagian urtikaria dan syok
anafilatik
2. REAKSI HIPERSENSITIVITAS TIPE II
Reaksi tipe II, disebut juga reaksi sitotoksik, terjadi karena dibentuknya antibodi
jenis IgG atau IgM terhadap terhadap antigen yang merupakan sel penjamu (Host).
Contoh : Destruksi sel darah merah akibat reaksi transfusi dan penyakit anemia
hemolitik akibat obat.
3. REAKSI HIPERSENSITIFITAS TIPE III
Reaksi tipe III disebut reaksi kompleks imun, terjadi akibat penimbunan kompleks
antigen-antibodi dalam jaringan dan pembuluh darah. Antibodi disini biasanya jenis
IgG.
Contoh : Artritis reumatoid dan Glomerulonefritis
4. REAKSI HIPERSENSITIVITAS TIPE IV
Reaksi tipe IV tidak melibatkan Ig tetapi melibatkan sel T.
Contoh : Dermatitis kontak, Reaksi tuberkulin dan Reaksi granulomata.
REAKSI ANAFILAKTIK
PENGERTIAN REAKSI ANAFILAKTIK

Reaksi Anafilaktik harus dibedakan dari syok anafilaktik dan reksi


Anafilaktoid
Reaksi Anafilaktik adalah : reaksi antara antibodi dan alergennya
(Imunologig) yang menimbulkan penyakit alergi atau penyakit
hipersensitivitas tipe I yang tidak disertai dengan syok.
Syok anafilatik : merupakan salah satu manifestasi reaksi
anafilaktik yang berat dengan tanda tanda kolaps vaskuler.
Reaksi anafilaktoid : adalah reaksi yang gejalanya sama dengan
reaksi anafilaktik tetapi tidak berdasarkan atas reaksi antara antibodi
dan antigen (non imunologik)
ETIOLOGI REAKSI ANAFILAKTIK
Berbagai macam antigen dapat menyebabkan reaksi anafilaktik. Antigen tersebut
dapat berupa antigen lengkap seperti protein , poliasakarid atau hapten yang harus
diberikatan dulu dengan protein tubuh. Contoh hapten adalah penisilin.
Masuknya antigen ke dalam tubuh dapat melalui pemberian per oral, topikal,
inhalasi, atau parenteral. Penisilin merupakan salah satu obat yang dapat menimbulkan
reaksi anafilaktik melalui ke empat cara masuk tadi.
Berbagai jenis obat, makanan, gigitan serangga dapat menimbulkan reaksi
anafilaktik.
Jenis obat yang paling sering menimbulkan reaksi anafilaktik yang disertai dengan
syok adalah :

1. Antibiotik (penisilin, streptomisin)


2. Salisilat dan Derivatnya
3. Preparat besi
4. Vaksin
5. Anti Bisa Ular (ABU)
GAMBARAN KLINIS

Gambaran Klinis reaksi anafilaktik sangat bervariasi, dapat


ringan tetapi juga berat sampai menyebabkan kematian.
Gejala gejala syok anafilaktik sering disertai dengan gejala
reaksi hipersensitif lain. Manifestasinya tergantung pada cara masuk
antigen atau benda asing, jumlah yang diabsorbsi dan tingkat
hipersensitifitas (kerentanan). Kebanyakan (95%) reaksi akan timbul
dalam 5 60 menit setelah pemberian intramuskuler (I.m) atau
subkutan (s.c) Dengan suntikan intravena (I.v) gejala permulaan sudah
dapat terlihat dalam 2 10 mrnit.
Apabila gejala timbul lebih dini, biasanya gambaran klinisnya
lebih berat dan penderita meninggal dalam waktu 16 120 menit
setelah mendapatkan suntikan.
Gejala-gejala reaksi anafilaktik pada umumnya dapat dibagi dalam gejala Prodromal,
Kardiovaskuler, Pulmoner, Saluran cerna dan kulit.

1. Gejala Prodromal
Gejala prodromal biasanya berupa :
- Perasaan tidak enak - Lemah
- Gatal di hidung dan palatum - Bersin
- Kuping berdengung - Dada rasa tertekan
Semua gejala prodromal merupakan gejala dini gangguan kardiovaskuler atau gastrointestial atau
kulit. Gejala ini merupakan gejala yang penting , karena dapat menimbulkan syok atau kegagalan
pernafasan atau kedua-duanya
2. Gejala Kardiovaskuler
Gejala kardiovaskuler dapat berupa :
- Takikardi - Palpitasi
- Hipotensi (dapat syok sampai meninggal)
(bagi puskesamas dengan perawatan yang memiliki alat EKG, gambaran EKG menunjukkan
gelombang T mendatar atau terbalik, mungkin dijumpai fibrilaris atrium bahkan infark jantung)
3. Gejala Pulmoner
Gejala pulmoner didahului oleh :
- Rinitis - Bersin - Gatal hidung dan palatum
Hal tersebut dapat diikuti spasme bronkus yang berat dengan/tanpa batuk, edema larings yang
menimbulkan sesak, anoksia dan apnoe. Jika penderita tidak ditolong segera dapat meninggal.
4. Gejala Gastrointestinal
Gejala Gastro intestinal dapat berupa :
- Nausea - Muntah - Sakit perut dan diare
kadang gejala gastrointestinal dan pulmoner timbul bersamaan sehingga secara serentak penderita
akan mengeluh sesak, suara serak, disfagia, nausea, dan rasa tercekik yang hebat yang
menyebabkan penderita bertambah panik.
5. Gejala Kulit
- Rasa gatal
- Urtkaria
- Angioedema
- Pucat
- Mengompol (kadang-kadang)
- Atau langsung syok

DIAGNOSIS
Reaksi Anafilaktik mudah ditegakkan bila ada hubungan yang jelas antara masuknya alergen dan
gejala klinis. Bila hubungan tidak jelas perlu dilakukan anamnesa dan pemeriksaan gejala klinis
secara teliti.
LANGKAH-LANGKAH PENCEGAHAN DAN
PENATALAKSANAAN SYOK ANAFILAKTIK
A. PENCEGAHAN
Mencegah terjadinya syok adalah lebih baik daripada mengobati. Hal-hal yang perlu
diperhatikan sebelum pemberian obat adalah sebagai berikut :
1. Informasi dan persetujuan (Inform concern)
a. Penjelasan tentang kemungkinan terjadinya anafilaktik syok
b. Menanyakan tentang riwayat alrgi dan menjelaskan alternatif pengobatan, tes
kulit dan masa observasi dengan bahasa yang mudah dimengerti
c. Apabila pasien atau keluarganya telah menyetujui, baru dilakukan tindakan
medis.
2. Indikasi Pemberian obat
3. Riwayat Alergi
4. Obat alternatif
5. Tes kulit
6. Cara pemberian obat
7. Keadaan obat
8. Rujukan
9. Observasi
10. Pemberian bertahap
11. Obat Penawar dan alat yang harus disediakan

Sediakan obat dan alat untuk mengatasi syok dalam bentuk satu paket yang terdiri
dari
a. Adrenalin 1 : 1000..5 Ampul
b. Antihistamin 2 Ampul
c. Kortikosteroid 5 Ampul
d. Aminofilin 240 mg / 10ml 2 Ampul
e. Dopamin 5 Ampul
f. Cairan Infus Glukosa 5% / RL 4 botol
g. Spuit 3 cc 2 Buah
h. Infus set 2 Set
i. Plester ukuran 0,5 Inci 1 Rol
j. Gunting kecil 1 Buah
k. Kapas Alkohol Secukupnya
l. Tangki Oksigen 1 Buah
m. Torniket 1 Buah
n. Tensi meter 1 buah
o. Stetoscope 1 Buah
PENATALAKSANAAN ANAFILAKTIK SYOK
- Baringkan penderita dengan posisi terlentang diatas alas yang keras dan rata dan
tinggukan tungkai 30-45 derajat
- Apabila terdapat henti jantung dan nafas, segera lakukan resusitasi
- Awasi gejala prodromal , saluran nafas, nadi, kesadaran dan tekanan darah sesering
mungkin
- Berikan 0,25 cc Adrenalin SC dan diulang setiap 15 manit menurut berat ringannya
gejala. Bila terjadi syok yang mengancam berikan adrenalin 0,3 0,5 cc IM. Bila tidak
ada kelainan irama jantung, dapat diberikan adrenalin 1 : 100000 (0,1cc dalam 9,9cc
NaCl) sebanyak 10cc IV perlahan-lahan dalam waktu 5-10 menit pada umumnya untuk
mengatasi anafilaktik syok diperlukan sekitar 1,4cc Adrenalin (0,25 0,3 cc setiap kali
suntikan) bila tekanan sistolik telah mencapai 90-100 mmHg maka penyuntikan ulang
adrenalin tidak perlu dilakukan terlalu cepat, dan sebaiknya diopservasi dulu selama 5-
10 menit.
- Cairan infus segera diberikan bersamaan dengan pemberian adrenalin.
- Vasopresor (dopamin) sebanyak 0,3-1,2 mg/Kg BB/Jam diberikan dalam cairan infus
apabila tekanan darah belum mencapai 90-100 mmHg atau syok belum teratasi.
- Antihistamin oral diberikan setiap 6 jam selama 48 jam terutama bila ada urtikaria atau
angioedema. Antihistamin IM diberikan dalam dosis tunggal 1-2 mg/KgBB tergantung
dari berat ringannya gejala. ANTIHISTAMIN BUKANLAH PENGGANTI
ADRENALIN.
- Kortikosteroid diberikan untuk mencegah terjadinya reaksi lambat selama 48 72 jam.
- Aminofilin diberikan sebanyak 4 7 mg / Kg BB IV yang diencerkan dalam 10 cc
glukosa 5% dan diberikan secara perlahan-lahan selama 10-15 menit. Bila diperlukan
bisa diberikan per infus dengan dosis 0,2 1,2 mg/Kg BB/ Jam
- Walaupun syok sudah teratasi mengingat adanya reksi lambat yang tidak diinginkan
maka penderita perlu diobservasi selama 12 jam. Dalam keadaan gawat penderita syok
anafilaktik tidak boleh dirujuk ke rumah sakit tanpa melalui tahapan-tahapan seperti
diatas, karena dapat meninggal dalam perjalanan.
- Apabila harus dirujuk ke rumah sakit maka penderita harus dikawal oleh dokter atau
perawat yang terampil pananggulangan gawat darurat, denganposisi terlentang dan
tungkai diangkat setinggi 30-45 derajat, infus dan oksigen harus tetap terpasang dan
persediaan obat-obatan emergensi harus disediakan di dekat penderita