You are on page 1of 41

MAKALAH

DHF (Dengue Hemmorhagic Fever)

Untuk memenuhi tugas Keperawatan Dewasa II


Dosen Pembimbing :
Ns. Niken Safitri Dyan, S.Kep, MSi.Med

Disusun Oleh :
Kelompok 1
Ainur Muhti Ashari (22020114130106)

Aryani Wahyuningsih (22020114120013)

Bekti Wulandari (22020114120038)

Nadia Khurotul Aini (22020114130128)

Khirza Maulida Fitri (22020114130134)

Septina Dwi Astutik (22020114130077)

Sulistyaningrum (22020114120047)

Hanifah Dian (22020114120077)

JURUSAN KEPERAWATAN
UNIVERSITAS DIPONEGORO
SEMARANG
2016
Daftar isi
BAB I.........................................................................................................................................3
PENDAHULUAN......................................................................................................................3
1. Latar Belakang...........................................................................................................................3

2. RUMUSAN MASALAH.................................................................................................................3

3. TUJUAN......................................................................................................................................4

BAB II........................................................................................................................................5
ISI...............................................................................................................................................5
A. Pengertian.................................................................................................................................5

B. Prevalensi...................................................................................................................................5

C. Etiologi DHF...............................................................................................................................7

D. Patofisiologi DHF......................................................................................................................10

E. KLASIFIKASI DHF.......................................................................................................................12

F. MANIFESTASI KLINIS.................................................................................................................12

G. PEMERIKSAAN..........................................................................................................................14

H. PENATALAKSANAAN.................................................................................................................17

I. KOMPLIKASI.............................................................................................................................25

J. ASUHAN KEPERAWATAN PADA KLIEN DENGAN DHF................................................................26

BAB III.....................................................................................................................................41
PENUTUP................................................................................................................................41
1. KESIMPULAN............................................................................................................................41

2
BAB I

PENDAHULUAN

1. Latar Belakang
Dengue hemorrhagic fever (DHF) atau yang disebut demam berdarah dengue
(DBD), sejak ditemukan pertama kali pada tahun 1968 sampai sekarang, sering kali
menjadi penyebab kematian terutama pada anak, remaja dan dewasa. Berdasarkan
hasil data dari Dinas kesehatan di Semarang sendiri pada 2010 mengalami
peningkatan. Penderita Demam Berdarah Dengue (DBD) di Semarang sekitar 4.642
kasus, 17 penderita diantaranya meninggal dunia (Dinkes,2010). Penyakit demam
berdarah merupakan penyakit menular yang disebabkan oleh virus dengue yang
masuk bersama darah yang dihisapnya. Di dalam tubuh nyamuk itu virus dengue akan
berkembang biak dengan cara membelah diri dan menyebar diseluruh bagian tubuh
nyamuk.
Tanda dan gejala pada penyakit demam berdarah ini timbul secara mendadak
berupa suhu tinggi, nyeri pada seluruh tubuh, nyeri di belakang kepala hebat, suara
serak, batuk epitasis serta disuria, lemah, nafsu makan berkurang dapat juga disertai
muntah. Masa tunas 3-15 hari, tetapi rata-rata 5-8 hari. Pada penyakit demam
berdarah yang berkelanjutan dapat menimbulkan terjadinya Dengue Syok Syndrome
(DSS), bahkan kematian demam berdarah (DHF) sangat beresiko. Berdasarkan hasil
data dari Dinas kesehatan di Semarang sendiri pada 2010 lalu bisa mencapai 5.557
penderita dengan mayoritas penderita dari kalangan anak usia 5-14 tahun (sumber:
Seputar Indonesia, 2011). Dalam memberikan asuhan keperawatan, perawat dapat
berperan memonitor tanda-tanda perdarahan, memonitor tanda-tanda syok
hipovolemik, mampu melakukan rehidrasi, mampu menganalisa hasil laborat yang
signifikan terhadap DHF. Dalam makalah ini akan dibahas mengenai konsep DHF.

2. RUMUSAN MASALAH
a. Apa pengertian dari DHF?
b. Apa ciri-ciri seseorang yang terkena DHF?
c. Bagaimana bisa terjadi DHF?
d. Bagaimana penatalaksanaan DHF?
e. Bagaimana mengkaji pasien dengan DHF?
f. Bagaimana asuhan keperawatan pasien dengan DHF?

3
3. TUJUAN
Tujuan dari penulisan makalah ini adalah untuk mengetahui
mengenai DHF mulai dari definisi, penyebab, penatalaksanaan, hingga
asuhan keperawatan, sehingga mampu mengaplikasikannya.

4
BAB II

ISI

A. Pengertian
Dengue Hemmorhagic Fever (DHF) adalah penyakit infeksi yang disebabkan
oleh virus dengue dengan tanda dan gejala demam, nyeri otot, nyeri sendi disertai
lekopenia, ruam, limfadenopati, trombositopenia (Rohim, 2004).

Deman berdarah dengue (DBD) adalah penyakit demam akut dengan ciri-ciri
demam, manifestasi perdarahan dan mengakibatkan renjatan yang dapat menyebabkan
kematian (Arif Mansjoer, 2000)

DHF/DBD adalah suatu penyakit yang disebablan oleh virus dengue yang
tergolong arbovirus dan masuk ke dalam tubuh penderita melalui gigitan nyamuk aedes
aegypti yang betina (Suiadi, 2001)

B. Prevalensi
Sekitar 2,5 milyar (2/5 penduduk dunia) mempunyai resiko untuk terkena infeksi
virus Dengue. Lebih dari 100 negara tropis dan subtropis pernah mengalami letusan
demam berdarah. Kurang dari 500.000 kasus setiap tahun di rawat di RS dan ribuan
orang meninggal (Mekadiana, 2007).

Pada bulan januari 2009, penderita DHF di Jawa Tengah sebanyak 1706 orang.
Sedangkan kasus DHF yang terjadi di beberapa kota di Jawa Tengah sampai pertengahan
2009 sebanyak 2767 orang 73 diantaranya meninggal (Lismiyati, 2009). Sebagian pasien
DHF yang tidak tertangani dapat mengalami Dengue Syok Sindrom yang dapat
menyebabkan kematian. Hal ini dikarenakan pasien mengalami deficit volume cairan
akibat meningkatnya permeabilitas kapiler pembuluh darah sehingga darah menuju
keluar pembuluh.

Sebagai akibatnya hampir 35% paien DHF yang terlambat ditangani di RS


mengalami syok hipovolemik hingga meninggal. Saat ini angka kejadian DHF di RS
semakin meningkat, tidak hanya pada kasus anak, tetapi pada remaja dan juga dewasa.
Oleh karena itu diharapkan perawat memiliki ketrampilan dan pengetahuan yang cukup
dalam memberikan asuhan keperawatan pada pasien dengan DHF. Ketrampilan yang

5
sangat dibutuhkan adalah kemampuan untuk mengidentifikasi tanda-tanda syok dan
kecepatan dalam menangani pasien yang mengalamim Dengue Syok Sindrom (DSS).

Sejak pertama kali ditemukan, jumlah kasus menunjukkan kecenderungan


meningkat. Baik dalam jumlah maupun luas wilayah yang terjangkau dan secara
sporadik selalu terjadi Kejadian Luar Biasa (KLB). KLB terbesar terjadi pada tahun
1998, dengan Insiden Rate (IR) 35,19 per 100.000 penduduk dan Case Fatality Rate
(CFR) 2%. Pada tahun 1999 IR menurun menjadi 10,17 per 100.000 penduduk, namun
tahun-tahun berikutnya IR cenderung meningkat. Pada tahun 2000 IR 15,99 per 100.000
penduduk, tahun 2001 IR 21,66 per 100.000 penduduk, tahun 2002 IR 19,24 per 100.000
penduduk, tahun 2003 IR 23,87 per 100.000 penduduk. Dalam periode Januari April
2004, terjadi letusan KLB di 188 kabupaten/kota dari 12 provinsi dengan jumlah kasus
53.719 kasus dan 590 orang meninggal dengan CFR 1,1%. Adapun 12 provinsi yang
terjadi letusan Universitas Sumatera Utara KLB adalah Nanggroe Aceh Darussalam
(NAD), Banten, DKI Jakarta, Jawa Barat, Jawa Tengah, DI Yogyakarta, Jawa Timur,
Kalimantan Selatan, Sulawesi Selatan, Bali, NTB dan NTT (Depkes RI, 2004).

Penyakit DBD telah menyebar luas ke seluruh wilayah Provinsi Sumatera Utara
sebagai Kejadian Luar Biasa ( KLB ) dengan angka kesakitan dan kematian yang relatif
tinggi. Berdasarkan data di wilayah Provinsi Sumatera Utara terdapat 8 daerah endemis
DBD, yaitu ; Kota Medan, Kabupaten Deli Serdang, Kota Binjai, Kabupaten Langkat,
Kabupaten Asahan, Kota Tebing Tinggi, Kota Pematang Siantar dan Kabupaten Karo.
Angka kejadian DBD di Propinsi Sumatera Utara dalam lima tahun terakhir terus
meningkat, tahun 2005 terjadi 3.790 kasus dengan kematian 68 orang, tahun 2006 terjadi
2.222 kasus dengan kematian 34 orang, tahun 2007 terjadi 4.427 kasus dengan kematian
41 orang, tahun 2008 terjadi 4.401 kasus dengan kematian 50 orang dan tahun 2009
terjadi 4.705 kasus dengan kematian 58 orang (Dinkes.Provinsi Sumut, 2010).

Dalam kurun waktu dua bulan (Januari - Pebruari 2010), dilaporkan sebanyak 10
orang meninggal dan 877 lainnya dirawat akibat terjangkit DBD di berbagai daerah di
Sumatera Utara. Berdasarkan data yang diperoleh di Dinas Kesehatan Provinsi Sumatera
Utara, kasus DBD terbanyak dilaporkan dari Kota Medan yakni 197 dirawat dan 1 orang
meninggal. Kemudian, Deli Serdang 170 dirawat dan 3 orang meninggal, Pematang
Siantar 129 dirawat dan 5 orang meninggal serta Tanjung Balai 9 dirawat dan 1 orang
meninggal. Kecamatan yang ada di Kota Medan semuanya sudah merupakan daerah

6
endemis DBD. Kecamatan Medan Helvetia, Medan Johor, Medan Sunggal, Medan Kota,
Medan Baru, Medan Amplas, Medan Denai, Medan Selayang, Medan Perjuangan dan
Medan Petisah merupakan sepuluh kecamatan yang paling tinggi kasusnya. Adapun
angka kejadian DBD di Kota Medan dalam lima tahun terakhir adalah sebagai berikut :
tahun 2005 terjadi 1.960 kasus dengan kematian 24 orang, tahun 2006 terjadi 1.376 kasus
dengan kematian 20 orang, tahun 2007 terjadi 1.917 kasus dengan kematian 18 orang,
tahun 2008 terjadi 1.545 kasus dengan kematian 14 orang dan tahun 2009 terjadi 1.940
kasus dengan kematan 18 orang ( Dinkes Kota Medan, 2009).

C. Etiologi DHF

Menurut WHO (1999), Penyebab dari Dengue adalah virus dengue, yang
termasuk bagian dari kelompok Flavivirus. Ada empat tipe virus dengue yang dikenal,
yaitu DEN 1, DEN 2, DEN 3 dan DEN 4. Meskipun keempat tipe memiliki antigen
tertentu, antibodi yang melawan masing-masing antigen tersebut hanya dapat
menetralisir tipe antigen yang sama. Epidemik periodik berhubungan dengan timbulnya
serotipe yang berbeda.

Virus dengue ditransmisikan oleh nyamuk yang termasuk dalam kelompok Aedes.
Merupakan jenis nyamuk kecil yang menghisap darah dari manusia sebagai sumber
makanannya. Nyamuk Aedes lebih dominan menghisap darah pada manusia dan daripada
menghisap darah binatang. Nyamuk tersebut cenderung menggigit setiap saat dan
biasanya ditemukan di tempat-tempat yang gelap contohnya pada semak belukar di
samping rumah penduduk. Nyamuk tersebut bertelur di air yang bersih atau di sekitar
rumah (dalam pot bunga, tempat penampungan air, dll).

Menurut Hadinegoro (2000), Virus dengue disebarkan dari manusia satu ke


manusia yang lain melalui nyamuk genus Aedes, contohnya Aedes aegypti dan Aedes
albopictus. Aedes aegypti tersebar di daerah tropis dan subtropics sehingga menjadikan
nyamuk tipe ini sebagai vektor utama. Nyamuk ini berukuran kecil jika dibandingkan
dengan nyamuk lain, biasanya berukuran 3-4 mm. Warna tubuh hitam dengan bintik-
bintik putih pada seluruh tubuh dan kepalanya, dan juga memiliki lingkaran-lingkaran
putih pada kaki. Dada pada nyamuk tersebut memiliki warna corak tertentu yaitu
dominan dengan warna putih dan sayapnya bersisik serta transparan. Nyamuk betina

7
Aedes aegypti mengigit pada waktu siang hari dengan aktivitas puncak pada pagi dan
petang. Dalam pertumbuhan dan perkembangan hidupnya mulai fase telur hingga
menjadi dewasa, nyamuk Aedes Aegypti memerlukan waktu sekitar 10-12 hari. Hanya
nyamuk betinalah yang menggigit dan menghisap darah manusia untuk mematangkan
telurnya. Sedangkan nyamuk Aedes Aegypti jantan biasanya hanya menghisap sari
tumbuh-tumbuhan. Nyamuk Aedes Aegypti betina dapat bertahan hidup hingga 2
minggu dan dapat terbang menempuh jarak sejauh 40-100 m.

Faktor resiko pada DHF:

1. Lingkungan
a. Sumber air yang digunakan
Air yang ditampung dan tidak berhubungan langsung dengan tanah merupakan
tempat perindukan yang potensial bagi vektor DHF (Suhardiono, 2005).
b. Kualitas tempat penampungan air
Tempat penampungan air yang berjentik lebih besar kemungkinan terjadinya DHF
dibandingkan dengan tempat penampungan air yang tidak berjentik (Suhardiono,
2005).
c. Kebersihan lingkungan
Kebersihan halaman dari kaleng/ ban bekas, tempurung, dan lain- lain juga
merupakan faktor risiko terjadinya DHF (Suhardiono, 2005).
2. Pengetahuan dan sikap manusia (masyarakat):
Pengetahuan dan sikap manusia (masyarakat) yang tidak mengetahui tentang
tanda/ gejala, cara penularan, dan pencegahan penyakit DHF mempunyai risiko
terkena penyakit DHF. Dengan demikian upaya peningkatan, pengetahuan mengenai
tanda/ gejala, cara penularan, dan pencegahan serta pemberantasan penyakit DHF
perlu mendapat perhatian utama agar masyarakat lebih berperan aktif untuk
melakukan pembersihan sarang nyamuk (Suhardiono, 2005).
3. Perilaku dan sosial budaya masyarakat
Kebiasaan menggantungkan pakaian dalam rumah merupakan habitat
kesenangan nyamuk Aedes Aegypti (Suhardiono, 2005).
4. Densitas larva
Keberadaan kontainer di lingkungan rumah sangat berperan dalam kepadatan
jentik Aedes, karena semakin banyak kontainer akan semakin banyak tempat
perindukan dan akan semakin padat populasi nyamuk Aedes. Semakin padat
populasi nyamuk Aedes, maka semakin tinggi pula risiko terinfeksi virus DHF
dengan waktu penyebaran lebih cepat sehingga jumlah kasus penyakit DHF
cepat meningkat (Maria, dkk, 2013).
5. Kepadatan hunian rumah

8
Kepadatan penghuni adalah perbandingan jumlah penghuni dengan luas
rumah dimana berdasarkan standar kesehatan adalah 10m2/ penghuni, semakin
luas lantai rumah maka semakin tinggi pula kelayakan hunian sebuah rumah
Kepadatan penduduk yang tinggi dan jarak rumah yang sangat berdekatan
membuat penyebaran penyakit DHF lebih intensif di wilayah perkotaan dari pada
wilayah pedesaan karena jarak rumah yang berdekatan memudahkan nyamuk
menyebarkan virus dengue dari satu orang ke orang lain yang ada di sekitarnya
(Lestari, 2007).
6. Ventilasi rumah
Pemakaian kawat kasa pada ventilasi rumah adalah salah satu upaya
untuk mencegah penyakit DHF. Pemakaian kawat kasa pada setiap lubang
ventilasi yang ada dalam rumah bertujuan agar nyamuk tidak masuk ke dalam
rumah dan menggigit manusia. Ventilasi dan jendela rumah dikatakan memenuhi
syarat kesehatan bila pada lubang ventilasi terpasang jaring-jaring atau kawat kasa
sehingga memiliki resiko lebih kecil untuk nyamuk dapat masuk ke dalam rumah
(Maria, dkk, 2013).
7. Kelembaban
Kelembaban merupakan salah satu faktor yang berpengaruh terhadap
tingkat kenyamanan penghuni suatu rumah. Kondisi kelembaban udarah dalam
ruangan dipengaruhi oleh musim, kondisi udara luar, kondisi ruangan yang
kebanyakan tertutup. Suatu daerah akan menjadi potensial untuk penularan DHF
apabila didukung oleh faktor lingkungan misalnya kelembaban (Boesri dan
Boewono, 2008).
8. Suhu
Keberhasilan perkembangan nyamuk Aedes aegypti ditentukan oleh
tempat perindukan yang dibatasi oleh temperatur tiap tahunnya dan perubahan
musimnya. Salah satu faktor lingkungan yang mempengaruhi perkembangbiakan
jentik nyamuk Aedes aegypti adalah suhu udara. Nyamuk Aedes aegypti sangat
rentan terhadap suhu udara. Dalam waktu tiga hari telur nyamuk telah mengalami
embriosasi lengkap dengan temperatue udara 25 -30C. Namun telur akan mencoba
menetas 7 hari pada air dengan suhu 16C. Telur nyamuk ini akan berkembang
pada air dengan suhu udara 20-30C (Yudhastuti dan Vidiyani, 2005).

D. Patofisiologi DHF

9
Virus dangue diinjeksi oleh nyamuk Aedes ke aliran darah. Virus ini secara
tidak langsung juga mengenai sel epidermis dan dermis sehingga menyebabkan sel
langerhans dan keratinosit terinfeksi. Sel-sel yang terinfeksi ini bermigrasi ke nodus
limfe, dimana makrofag dan monosit kemudian direkrut dan menjadi target infeksi
berikutnya. Selanjutnya, terjadi amplifikasi infeksi dan virus tersebar melalui darah
(viremia primer). Viremia primer ini menginfeksi makrifag jaringan beberapa organ
seperti limfe, sel hati, sel stromal, sel endotel, dan sumsum tulang. Infeksi makrofag,
hepatosit dan sel endotel mempengaruhi hemostasis dan respon imun pejmau terhadap
virus dangue. Bersamaan dengan tingginya kadar virus dalam darah, trombositopenia,
serta disfungsi trombosit, keempat faktor ini menyebabkan peningkatan kerapuhan
kapiler yang bermanifestasi sebagai peteki, memar dan perdarahan mukosa saluran cerna.
Pada waktu yang bersamaan, infeksi menstimulasi berkembangnya antibodi
spesifik dan respon imun seluler terhadap virus dengue. Antibodi spesifik (IgM) ini
bereaksi silang dengan endoteliosit, plasmin, dan trombosit memperkuat peningkatan
permeabilitas vaskular dan koagulopati. Sedangkan, antibodi IgM berperan dalam
peningkatan jumlah titer virus pada infeksi sekunder.
Respon imunn seluler yang timbul berupa stimulasi sel T yang dapat bereaksi
silang dan sel T regulator. Sel T yang bereaksi silang akan memperlambat bersihan virus
dan memproduksi sitokin pro-inflamasi dan mediator lainnya. Tingginya jumlah
mediator ini menginduksi perubahan pada sel endotel sehingga menyebabkan
koagulopati dan kebocoran plasma.
Infeksi sekunder oleh serotipe yang berbeda memicu peningkatan aktivitas
antibodi spesifik terhadap infeksi pertama. Antibodi ini memediasi serotipe virus dengue
lain untuk berikatan dengan reseptor Fc-gamma pada makrofag sehingga saat virus
berada dalam makrofag tidak dapat dicerna dengan baik. Akibatnya, virus semakin
bereplikasi dan infeksi berlanjut. Infeksi makrofag dalam ini mengaktivasi Th dan Tc
untuk memproduksi limfokin dan interferon gamma.
Manifestasi terjadi DHF ialah meningginya permeabilitas dinding pembuluh darah,
menurunnya volume plasma, terjadinya hipotensi, trombositopenia dan diatesis
hemoregic. Pada kasus berat, renjatan terjadi secara akut nilai hematokrit meningkat
bersamaan dengan hilangnya plasma melalui endotel dinding pembuluh darah pada
penderita dengan renjatan berat, volume plasma dapat menurun sampai lebih 30%.
Renjatan hipovolemik yang terjadi sebagai akibat kehilangan plasma, bila tidak segera
diatasi dapat mengakibatkan anoksia jaringan, asidosis metabolic dan kematian. Kelainan
10
yang paling sering ditemukan ialah perdarahan di kulit berupa ptekie, perdarahan di
saluran pencernaan, paru, dan jaringan periodrenal, hati membesar, terdapat perlemakan,
yang disertai perdarahan atau sarang nekrosis hemoregik (IKA-FKUI, 2005:610).

Nyamuk menginfeksi
virus dengue

Masuk ke pembuluh darah


Virus masuk aliran darah
otak melalui aliran darah
Mekanisme sehingga mempengaruhi
tubuh melawan hipotalamus
viremia
virus

Komplemen antigen Suhu tubuh meningkat


Peningkatan antibodi meningkat
asam lambung
Pelepasan peptida
Mual, muntah
Pembebasan histamin

Peningkatan permeabilitas
dinding pembuluh darah Plasma banyak
mengumpul pada jaringan
intersitial tubuh
Kebocoran plasma

Perdarahan ekstraseluler

Syok hipovolemik

11
E. KLASIFIKASI DHF
Menurut WHO (1986) dalam Oktri Hastuti (2008) , penyakit DBD ini
dibagi/diklasifikasikan menurut berat ringannya penyakit, yaitu :
1. Derajat I
Disebut serajat I apabila terdapat tanda-tanda demam disertai gejala-gejala yang
lain, seperti : mual, muntah, sakit pada ulu hati, pusing, nyeri otot, dan lain-lain,
tanpa adanya perdarahan spontan dan bila dilakukan uji tourniquet menunjukkan
hasil positif (+) terdapat bintik-bintik merah. Selain itu, pada pemeriksaan
laboratorium menunjukkan tanda-tanda hemokonsentrasi dan trombositopenea.
2. Derajat II
Disebut derajat II apabila terdapat tanda-tanda dan gejala seperti yang terdapat
pada DBD derajat I disertai adanya perdarahan spontan pada kulit ataupun tempat
lain (gusi, mimisan , dan lain-lain)
3. Derajat III
Disebut derajat III apabila telah terdapat tanda-tanda shock, yaitu dari pengukuran
nadi didapatkan hasil cepat dan lemah, tekanan darah menurun, penderita gelisah,
dan tampak kebiru-biruan pada sekitar mulut, hidung dan ujung-ujung jari.
4. Derajat IV
Disebut derajat IV apabila penderita telah jatuh pada keadaan shock, penderita
kehilangan kesadaran dengan nadi tak teraba dan tekanan darah tidak terukur.
Kondisi seperti ini disebut DSS (Dengue Shock Syndrome). Penderita berada
dalam keadaan kritis dan memerlukan perawatan yang intensif di ruang ICU.

F. MANIFESTASI KLINIS
Menurut (Palupi, 2004) setelah masa inkubasi yang berlangsung antara 4-6 hari
(rata-rata 3-14), berbagai gejala awal biasa yang tidak spesifik seperti sakit kepala,
sakit punggung dan malaise menyeluruh menyeluruh mungkin dialami. Secara tipikal,
permulaan Demam pada orang dewasa terjadi tiba-tiba, dengan peningkatan suhu
tubuh yang cukup tajam disertai dengan menggigil dan terkadang juga disertai dengan
sakit kepala yang parah dan kemerahan pada wajah. Dalam 24 jam, nyeri retroorbital
mungkin akan dirasakan terutama jika mata bergerak atau ditekan, demikian juga
dengan fotofobia, sakit punggung, dan nyeri otot serta persendian/tulang tangan dan
kaki.
Gejala umum lainnya meliputi anoreksia dan berubahnya sensasi pengecap,
konstipasi, nyeri kolik, dan nyeri tekan perut, nyeri tarikan di bagian pangkal paha,
12
sakit tenggorok, dan depresi menyeluruh. Gejala ini memiliki tingkat keparahan yang
berbeda dan biasanya berlangsung selama beberapa hari.
1. Demam : suhu tubuh biasanya mencapai 390C sampai 400C , dan demam mungkin
bersifat bifasik yang berlangsung sekitar 5-7 hari.
2. Ruam kulit : kemerahan atau bercak-bercak merah yang menyebar dapat terlihat
pada wajah, leher, dan dada selama separuh pertama periode demam dan ruam
yang jelas yang kemungkinan makulopapular ataupun menyerupai bentuk demam
skarlatina akan muncul pada hari ketiga tau keempat. Menjelang akhir periode
demam atau tepat setelah fase defervesens, ruam di seluruh tubuh mulai
menghilang secara bertahap dan kumpulan bintik merah yang terlokalisasi akan
muncul di daerah punggung kaki, di tungkai dan di lengan serta tangan.
Pertemuan ruam dan bintik merah ditandai dengan bidang-bidang bulat yang pucat
dan menyebar pada kulit normal. Ruam terkadang disertai gatal.
3. Perdarahan kulit : hasil uji tourniquet yang positif dan/atau petekia.
4. Perjalanan penyakit : durasi dan tingkat keparahan relatif DF berbeda
antarindividu dalam suatu epidemi, begitu pula antara epidemi yang satu dengan
lainnya. Masa pemulihan dapat berlangsung singkat tanpa ada ciri khas yang
menyertai, tetapi mungkin juga berlangsung lama. Pada orang dewasa, masa
pemulihan tersebut terkadang berlangsung sampai beberapa minggu dan mungkin
disertai dengan astenia dan depresi yang sangat nyata. Bradikardia juga sering
terjadi di masa ini. Komplikasi perdarahan seperti epistaksis, gusi berdara,
perdarahan gastrointestinal, hematuria, dan hipermenorhi mungkin menyertai
epidemi DF. Dalam beberapa epidemi perdarahan yang parah terkadang dapat
mengakibatkan kematian. Demam dengue dan manifestasi perdarahan harus
dibedakan dengan demam berdarah dengue.

G. PEMERIKSAAN
1. Pemeriksaan Fisik
a. Anamnesa
Klasifikasikan Demam untuk Demam Berdarah Dengue, hanya jika: demam 2
sampai dengan 7 hari
TANYAKAN:

13
1) Apakah demam mendadak tinggi dan terus-menerus?
2) Apakah ada bintik merah di kulit atau perdarahan dari hidung/ gusi?
3) Apakah muntah?
Jika YA:
1) Apakah sering?
2) Apakah muntah dengan darah atau seperti kopi?
3) Apakah berak berwarna hitam?
4) Apakah ada nyeri ulu hati atau anak gelisah?

Perlu dilakukan:

1) Penilaian status mental


2) Penilaian status hidrasi
3) Penilaian status hemodinamik
4) Penilaian adanya takipneu/asidosis respirasi/efusi pleura
5) Penilaian abdomen, hepatomegali, ascites
6) Pemeriksaan ruam dan manifestasi perdarahan lainnya
7) Tes tourniquet (ulangi jika sebelumnya negatif)

b. Lihat dan Raba


Periksa tanda-tanda syok:
1) Ujung ekstremitas teraba dingin dan nadi sangat lemah/ tidak teraba
Lihat adanya:
1) Perdarahan dari hidung/ gusi
2) Bintik perdarahan di kulit (petekie)
Jika sedikit dan tidak ada tanda lain dari DBD: lakukan uji torniket, jika
mungkin

2. Pemeriksaan Penunjang
a. Laboratorium

Pemeriksaan darah yang rutin dilakukan untuk menapis pasien


tersangka demam dengue adalah melalui pemeriksaan kadar hemoglobin,
hematokrit, jumlah trombosit dan hapusan darah tepi untuk melihat adanya
limfositosis relative disertai gambaran limfosit plasma biru.
Diagnosis pasti didapatkan dari hasil isolasi virus dengue (cell culture)
ataupun deteksi antigen virus RNA dengue dengan teknik RT-PCR (Reserve
Transcriptase Polymerase Chain Reaction), namun karena teknik yang lebih
rumit, saat ini tes serologis yang mendeteksi adanya antibody spesifik
terhadap dengue berupa antibody total, IgM maupun IgG.
Parameter Laboratoris yang dapat diperiksa antara lain :
14
1) Leukosit
Dapat normal atau menurun. Mulai hari ke-3 dapat ditemui
limfositosis relative (>45% dari total leukosit) disertai adanya limfosit
plasma biru (LPB) > 15% dari jumlah total leukosit yang pada fase syok
akan meningkat. Jumlah leukosit normal, tetapi biasanya menurun
dengan dominasi sel neutrofil. Selanjutnya pada fase akhir demam,
jumlah leukosit dan sel neutrofil bersama-sama menurun sehingga
jumlah sel limfosit secara relatif meningkat. Peningkatan jumlah sel
limfosit atipikal atau limfosit plasma biru (LPB) >4% di daerah tepi
dapat dijumpai pada hari ketiga sampai hari ketujuh. Limfosit atipik ini
merupakan sel berinti satu (mononuklear) dengan struktur kromatin
halus dan agak padat, serta sitoplasma yang relatif lebar dan berwarna
biru tua. Oleh karenanya disebut limfosit plasma biru (LPB). Limfosit
plasma biru ini sudah dapat ditemukan sejak hari ketiga terjadinya panas,
dan merupakan penunjang diagnosis DBD.

2) Trombosit
Umumnya terdapat trombositopenia pada hari ke 3-8.
Trombositopenia terjadi sebelum ada peningkatan hematokrit dan terjadi
sebelum suhu turun. Jumlah trombosit 100.000/mm 3. Biasanya
ditemukan antara hari ketiga sampai ketujuh. Pemeriksaan trombosit
perlu diulang sampai terbukti bahwa jumlah trombosit dalam batas
normal atau menurun. Pemeriksaan dilakukan pertama saat pasien
diduga menderita DBD, bila normal maka diulang pada hari ketiga
sakit, tetapi bila perlu diulangi setiap hari sampai suhu turun.
3) Hematokrit
Kebocoran plasma dibuktikan dengan ditemukannya peningkatan
hematokrit 20% dari hematokrit awal, umumnya dimulai pada hari ke-
3 demam. Nilai hematokrit adalah besarnya volume sel-sel eritrosit
seluruhnya didalam 100 mm3 darah dan dinyatakan dalam %.
Peningkatan nilai hematokrit menggambarkan hemokonsentrasi selalu
dijumpai pada DBD, merupakan indikator yang peka akan terjadinya
kebocoran plasma, sehingga perlu dilakukan pemeriksaan hematokrit
15
secara berkala. Pada umumnya penurunan trombosit mendahului
peningkatan hematokrit.
4) Hemostasis
Dilakukan pemeriksaan PT, APTT, Fibrinogen, D-Dimer, atau FDP
pada keadaan yang dicurigai terjadi perdarahan atau kelainan pembekuan
darah.
5) Protein/albumin
Dapat terjadi hipoproteinemia akibat kebocoran plasma.
6) SGOT/SGPT (serum alanin aminotransferase): dapat meningkat.
7) Ureum, Kreatinin: bila didapatkan gangguan fungsi ginjal.
8) Elektrolit: sebagai parameter pemantauan pemberian cairan.
9) Golongan darah: dan cross macth (uji cocok serasi): bila akan diberikan
transfusi darah atau komponen darah. Imuno serologi dilakukan
pemeriksaan IgM dan IgG terhadap dengue. IgM: terdeksi mulai hari ke
3-5, meningkat sampai minggu ke-3, menghilang setelah 60-90 hari.
IgG: pada infeksi primer, IgG mulai terdeteksi pada hari ke-14, pada
infeksi sekunder IgG mulai terdeteksi hari ke-2. Uji yang lebih modern
adalah enzyme linked immunosorbent assay (ELISA), immunoblot dan
immunochromatography Metode ELISA biasanya menggunakan plat
yang dilapisi antibodi poliklonal yang umumnya diperoleh dengan
menyuntik virus Dengue pada mencit dan diambil serumnya. Antibodi
ini akan menangkap antigen Dengue baik dalam bentuk kompleks
dengan antibodi (IgM atau IgG) atau sendiri, tanpa ikatan apa-apa.
10) Uji III: Dilakukan pengambilan bahan pada hari pertama serta saat
pulang dari perawatan, uji ini digunakan untuk kepentingan survei.
(WHO, 2006).

3. Pemeriksaan radiologis
Pada foto dada didapatkan efusi pleura, terutama pada hemitoraks kanan
tetapi apabila terjadi perembesan plasma hebat, efusi pleura dapat dijumpai
pada kedua hemitoraks. Pemeriksaan foto rontgen dada sebaiknya dalam posisi
lateral dekubitus kanan (pasien tidur pada sisi badan sebelah kanan). Asites
dan efusi pleura dapat pula dideteksi dengan pemeriksaan USG. (WHO, 2006).

16
H. PENATALAKSANAAN
1. Monitor perjalanan penyakit DHF
Parameter yang harus dimonitor mencakup:
a. Keadaan umum, nafsu makan, muntah, perdarahan, dan tanda dan gejala lain
b. Perfusi perifer sesering mungkin karena sebagai indikator awal tanda
syok, serta mudah dan cepat utk dilakukan
c. Tanda vital: suhu, nadi, pernapasan, tekanan darah, diperiksa minimal setiap 2-
4 jam pada pasien non syok & 1-2 jam pada pasien syok
d. Pemeriksaan hematokrit serial setiap 4-6 jam pada kasus stabil dan lebih
sering pada pasien tidak stabil/ tersangka perdarahan.
e. Diuresis setiap 8-12 jam pada kasus tidak berat dan setiap jam pada
pasien dengan syok berkepanjangan / cairan yg berlebihan.
f. Jumlah urin harus 1 ml/kg berat badan/jam ( berdasarkan berat badan ideal)

2. Indikasi pemberian cairan intravena


a. Pasien tidak dapat asupan yang adekuat untuk cairan per oral atau muntah
b. Hematokrit meningkat 10%-20% meskipun dengan rehidrasi oral
c. Ancaman syok atau dalam keadaan syok

3. Protokol pemberian cairan sebagai komponen utama penatalaksanaan DBD


dewasa mengikuti 5 protokol, mengacu pada protokol WHO. Protokol ini terbagi
dalam 5 kategori, sebagai berikut:
a. Penanganan tersangka DBD tanpa syok

b. Pemberian cairan pada tersangka DBD dewasa di ruang rawat

17
c. Penatalaksanaan DBD dengan peningkatan hematokrit >20%

18
d. Penatalaksanaan perdarahan spontan pada DBD dewasa
1) Perdarahan spontan : epistaksis yang tak terkendali, perdarahan saluran
pencernaaa, saluran kencing, otak atau tersembunyi sebanyak 4-5
ml/kgbb/jam
2) Pemberian cairan seperti protokol di atas
3) Pemeriksaan tanda vital dan jumlah urin sesering mungkin
4) Hb, Hmt, AT diulang tiap 4-6 jam

e. Tatalaksana sindroma syok dengue pada dewasa

19
20
4. Penatalaksanaan DHF berdasarkan fase perjalanan penyakit:
a. Fase demam
Pada fase demam, dapat diberikan antipiretik + cairan rumatan / atau cairan
oral apabila anak masih mau minum, pemantauan dilakukan setiap 12-24 jam
1) Simtomatis
a) Antipiretik dapat diberikan, dianjurkan pemberian parasetamol bukan
aspirin
b) Diusahakan tidak memberikan obat-obat yang tidak diperlukan
(misalnya antasid, anti emetik) untuk mengurangi beban detoksifikasi
obat dalam hati.
c) Kortikosteroid diberikan pada DBD ensefalopati apabila terdapat
perdarahan saluran cerna kortikosteroid tidak diberikan.
d) Antibiotik diberikan untuk DBD ensefalopati
2) Supportif
a) Cairan: cairan pe oral + cairan intravena rumatan per hari + 5% defisi
b) Diberikan untuk 48 jam atau lebih
c) Kecepatan cairan IV disesuaikan dengan kecepatan kehilangan
plasma, sesuai keadaan klinis, tanda vital, diuresis, dan hematokrit

21
b. Fase kritis
Pada fase kritis pemberian cairan sangat diperlukan yaitu kebutuhan rumatan +
deficit, disertai monitor keadaan klinis dan laboratorium setiap 4-6 jam.

c. DBD dengan syok berkepanjangan (DBD derajat IV)


1) Cairan: 20 ml/kg cairan bolus dalam 10-15 menit, bila tekanan darah sudah
didapat cairan selanjutnya sesuai algoritma pada derajat III
2) Bila syok belum teratasi: setelah 10ml/kg pertama diulang 10 ml/kg,
dapat diberikan bersama koloid 10-30ml/kgBB secepatnya dalam 1
jam dan koreksi hasil laboratorium yang tidak normal
3) Transfusi darah segera dipertimbangkan sebagai langkah selanjutnya
(setelah review hematokrit sebelum resusitasi)
4) Monitor ketat (pemasangan katerisasi urin, katerisasi pembuluh darah
vena pusat / jalur arteri)
5) Inotropik dapat digunakan untuk mendukung tekanan darah
Apabila jalur intravena tidak didapatkan segera, coba cairan elektrolit
per oral bila pasien sadar atau jalur intraoseus. Jalur intraoseus dilakukan
dalam keadaan darurat atau setelah dua kali kegagalan mendapatkan jalur
vena perifer atau setelah gagal pemberian cairan melalui oral. Cairan
intraosesus harus dikerjakan secara cepat dalam 2-5 menit.
d. Pendarahan hebat

22
1) Apabila sumber perdarahan dapat diidentifikasi, segera hentikan.
Transfusi darah segera adalah darurat tidak dapat ditunda sampai
hematokrit turun terlalu rendah. Bila darah yang hilang dapat dihitung,
harus diganti. Apabila tidak dapat diukur, 10 ml/kg darah segar atau 5
ml/kg PRC harus diberikan dan dievaluasi.
2) Pada perdarahan saluran cerna, H2 antagonis dan penghambat pompa
proton dapat digunakan.
3) Tidak ada bukti yang mendukung penggunaan komponen darah seperti
suspense trombosit, plasma darah segar/cryoprecipitate. Penggunaan
larutan tersebut ini dapat menyebabkan kelebihan cairan.
e. DBD ensefalopati
DBD ensefalopati dapat terjadi bersamaan dengan syok atau tidak.
1) Ensefalopati yang terjadi bersamaan dengan syok hipovolemik, maka
penilaian ensefalopati harus diulang setelah syok teratasi
a) Apabila kesadaran membaik setelah syok teratasi, maka kesadaran
menurun atau kejang disebabkan karena hipoksia yang terjadi pada
syok
b) Pertahankan oksigenasi jalan napas yg adekuat dengan terapi oksigen
2) Jika ensefalopati terjadi pada DBD tanpa syok dan masa krisis sudah
dilewati maka:
a) Cegah / turunkan peningkatan tekanan intrakranial dengan:
i) Memberikan cairan intravena minimal untuk
mempertahankan volume intravaskular, total cairan intravena
tidak boleh >80% cairan rumatan
ii) Ganti ke cairan kristaloid dengan koloid segera apabila
hematokrit terus meningkat dan volume cairan intravena
dibutuhkan pada kasus dengan perembesan plasma yang
hebat.
iii) Diuretik diberikan apabila ada indikasi tanda dan gejala
kelebihan cairan
iv) Posisikan pasien dengan kepala lebih tinggi 30 derajat.
v) Intubasi segera untuk mencegah hiperkarbia dan melindungi
jalan napas.

23
vi) Dipertimbangkan steroid untuk menurunkan tekanan
intrakranial, dengan pemberian deksametasone 0,15mg/kg berat
badan/dosis intravena setiap 6-8 jam.
b) Menurunkan produksi ammonia
i) Berikan laktulosa 5-10 ml setiap 6 jam untuk menginduksi
diare osmotik.
ii) Antibiotik lokal akan mengganggu flora usus maka tidak
diperlukan pemberian
c) Pertahankan gula darah 80-100 mg/dl, kecepatan infus glukosa yang
dianjurkan 4-6 mg/kg/jam.
d) Perbaiki asam basa dan ketidakseimbangan elektrolit
e) Vitamin K1 IV dengan dosis:umur < 1tahun: 3mg, <5 tahun: 5mg, >5
tahun:10mg.
f) Anti kejang phenobarbital, dilantin, atau diazepam IV sesuai indikasi.
g) Transfusi darah, lebih baik PRC segar sesuai indikasi. Komponen
darah lain seperti suspense trombosit dan plasma segar beku tidak
diberikan karena kelebihan cairan dapat meningkatkan tekanan
intrakranial.
h) Terapi antibiotik empirik apabila disertai infeksi bacterial
i) Pemberian H2 antagonis dan penghambat pompa proton untuk
mencegah perdarahan saluran cerna.
j) Hindari obat yang tidak diperlukan karena sebagai besar obat
dimetabolisme di hati
3) Hemodialisis pada kasus perburukan klinis dapat dipertimbangkan
f. Fase Recovery
Pada fase penyembuhan diperlukan cairan rumatan atau cairan oral, serta
monitor tiap 12-24 jam.

24
I. KOMPLIKASI
Komplikasi DHF menurut Smeltzer dan Bare (2002) adalah perdarahan,
kegagalan sirkulasi, Hepatomegali, dan Efusi pleura.
1. Perdarahan
Perdarahan pada DHF disebabkan adanya perubahan vaskuler, penurunan
jumlah trombosit (trombositopenia) <100.000/ mm dan koagulopati,
trombositopenia, dihubungkan dengan meningkatnya megakoriosit muda
dalam sumsum tulang dan pendeknya masa hidup trombosit. Tendensi
perdarahan terlihat pada uji tourniquet positif, peteke, purpura, ekimosis,
dan perdarahan saluran cerna, hematemesis dan melena.
2. Kegagalan sirkulasi
DSS (Dengue Syok Sindrom) biasanya terjadi sesudah hari ke 27,
disebabkan oleh peningkatan permeabilitas vaskuler sehingga terjadi
kebocoran plasma, efusi cairan serosa ke rongga pleura dan peritoneum,
hipoproteinemia, hemokonsentrasi dan hipovolemi yang mengakibatkan
berkurangnya aliran balik vena (venous return), prelod, miokardium volume
sekuncup dan curah jantung, sehingga terjadi disfungsi atau kegagalan
sirkulasi dan penurunan sirkulasi jaringan. DSS juga disertai dengan
kegagalan hemostasis mengakibatkan perfusi miokard dan curah jantung
menurun, sirkulasi darah terganggu dan terjadi iskemia jaringan dan
kerusakan fungsi sel secara progresif dan irreversibel, terjadi kerusakan sel
dan organ sehingga pasien akan meninggal dalam 12-24 jam.
3. Hepatomegali
Hati umumnya membesar dengan perlemahan yang berhubungan dengan
nekrosis karena perdarahan, yang terjadi pada lobulus hati dan sel-sel kapiler.
Terkadang tampak sel netrofil dan limposit yang lebih besar dan lebih
banyak dikarenakan adanya reaksi atau kompleks virus antibody.
4. Efusi pleura
Efusi pleura karena adanya kebocoran plasma yang mengakibatkan
ekstravasasi aliran intravaskuler sel hal tersebut dapat dibuktikan dengan
adanya cairan dalam rongga pleura bila terjadi efusi pleura akan terjadi
dispnea, sesak napas.

25
J. ASUHAN KEPERAWATAN PADA KLIEN DENGAN DHF

1. PENGKAJIAN
Berikut merupakan data-data yang biasanya terdapat pada pasien DHF.
a. Data subyektif
Data subyektif yang sering ditemukan pada pasien DHF antara lain adalah:
Klien merasa lemah
Klien mengatakan badannya terasa panas dan demam selama 2-7 hari
Klien mengatakan sakit kepala
Klien mengatakan tidak nafsu makan, mual, muntah, merasa haus dan
sakit saat menelan
Klien mengatakan merasa nyeri ulu hati
Klien mengatakan merasa nyeri pada otot atau sendi, pegal-pegal pada
seluruh tubuh
Klien mengatakan susah BAB (sembelit) dan tinja berwarna hitam
b. Data obyektif
Data obyektif yang sering dijumpai pada penderita DHF antara lain:

Wajah tampak kemerahan (flushing)

Mukosa mulut kering, pendarahan gusi, lidah kotor

Epistaksis (pendarahan pada hidung/mimisan)

Hyperemia pada tenggorokan

Suhu tubuh tinggi (mencapai 380 C atau lebih) dengan fase kritis

Tubuh menggigil

Tampak bintik merah pada kulit (petekie), uji torniquet (+)

Ekimosis (bercak perdarahan di bawah kulit berwarna biru)

Hematoma (kumpulan darah di luar pembuluh darah)

Hematemesis (muntah darah)

Syok (renjatan) ditandai nadi cepat dan lemah (takikardi)

Nafas dangkal

Penurunan tekanan darah

Ekstremitas dingin

sianosis perifer

Nyeri tekan pada epigastrik

Pada palpasi teraba adanya pembesaran hati dan limpa

Melena (feses berwarna hitam)
c. Data penunjang
Pemeriksaan laboratorium digunakan untuk menegakkan diagnosa DHF
antara lain:
1. Pada pemeriksaan urin akan ditemukan albuminuria ringan (lebih dari 300
mg/hari)
2. Pada pemeriksaan darah akan dijumpai:
Pemeriksaan Hasil
Ig G Positif
Trombosit 100.000/ mm3
Hb Meningkat (nilai normal pria dewasa adalah 12.5 18 gr
26
% dan untuk wanita dewasa adalah 11.5 16.5 gr %)
> 20% (nilai normal pria dewasa adalah 40 - 54 % dan
Hematokrit
untuk wanita dewasa adalah 37 - 54 %)
Natrium < 135 144 mEq/L
Klorida < 97 - 106 mEq/L
SGOT > 35 U/L
SGPT > 35 U/L
Ureum > 25 mg/dl
pH < 7,35
PaCO2 < 35-40 mmHg
HCO3 < 22 mEq/L
Leukosit 4000/ mm3
Netrofil < 36%
Eosinofil Hilang
Basofil >2%
Monosit > 11 %
Limfosit > 45 %

3. Foto thorak mungkin dijumpai efusi pleura


4. USG didapatkan hepatomegali dan splenomegaly

2. ANALISA DATA
Tanggal /
No Data Fokus Masalah Etiologi
Jam
1. Minggu, 21 Ds : Hipertermi Proses penyakit
Februari
Klien merasa lemah
2016 / 10.00
Klien mengatakan
WIB
badannya terasa panas dan
demam selama 2-7 hari
Klien mengatakan sakit
kepala
Klien mengatakan merasa
nyeri pada otot atau sendi,
pegal-pegal pada seluruh

27
tubuh
Do :

Wajah tampak kemerahan
(flushing)

Mukosa mulut kering

Suhu mencapai 380 C atau
lebih

Tubuh menggigil

Tampak bintik merah pada
kulit (petekie), uji torniquet
(+)

Ekimosis (bercak
perdarahan di bawah kulit
berwarna biru)

Nadi cepat dan lemah
(takikardi)

Nafas dangkal

Penurunan tekanan darah

Ekstremitas dingin

Ig G positif
2. Minggu, 21 Ds : Ketidakseimbangan Asupan yang
Februari nutrisi kurang dari tidak mencukupi
Klien merasa lemah
2016 / 10.00 kebutuhan
Klien mengatakan sakit
WIB
kepala
Klien mengatakan tidak
nafsu makan, mual, muntah,
dan sakit saat menelan
Do :

Mukosa mulut kering,
pendarahan gusi, lidah
kotor

Hyperemia pada
tenggorokan

Hematemesis (muntah
darah)
3. Minggu, 21 Ds : Resiko syok Perdarahan
Februari hipovolemik hebat
Klien merasa lemah
2016 / 10.30
Klien mengatakan mual,
WIB
muntah, merasa haus
28
Do :

Mukosa mulut kering

Epistaksis (pendarahan
pada hidung/mimisan)

Hematemesis (muntah
darah)

nadi cepat dan lemah
(takikardi)

Nafas dangkal

Penurunan tekanan darah

Ekstremitas dingin

sianosis perifer

Melena (feses berwarna
hitam)

Trombosit 100.000/ mm3

Hematokrit > 20%
4 Minggu, 21 Ds : Kekurangan Kehilangan
Februari volume cairan cairan secara
Klien merasa lemah
2016 / 10.30 aktif
Klien mengatakan merasa
WIB
haus
Do :

Mukosa mulut kering,

nadi cepat dan lemah
(takikardi)

Suhu mencapai 380 C atau
lebih

Nafas dangkal

Penurunan tekanan darah

Ekstremitas dingin

peningkatan hematocrit
5. Ds : Defisiensi Kurangnya
pengetahuan informasi
Klien mengatakan tidak
(proses penyakit,
nafsu makan, mual, muntah, diet, perawatan dan
merasa haus dan sakit saat obat-obatan)
menelan
Klien mengatakan
badannya terasa panas dan
demam selama 2-7 hari
Klien mengatakan sakit
kepala

29
Do :

6. Ds : Intoleransi aktivitas Kelemahan


umum
Klien mengatakan tubuhnya
terasa lemah
Do :

Penurunan tekanan darah

Nafas dangkal

Sianosis perifer

7. Ds : Nyeri Proses penyakit


Klien mengatakan merasa
nyeri ulu hati
Klien mengatakan merasa
nyeri pada otot atau sendi,
pegal-pegal pada seluruh
tubuh

Do :
Nyeri tekan pada epigastric
8. Ds : Ansietas Ancaman
kematian
klien mengatakan tubuhnya
merasa lemah

Klien mengatakan tidak


nafsu makan(anoreksia)

Klien mengatakan merasa


mual ingin muntah

Do :
Penurunan tekanan darah

Mukosa mulut klien tampak


kering

30
3. PRIORITAS DIAGNOSA:
a. Hipertermi berhubungan dengan proses penyakit (00007).
b. Ketidakseimbangan nutrisi kurang dari kebutuhan berhubungan dengan asupan yang
tidak mencukupi (00002).
c. Kekurangan volume cairan berhubungan dengan kehilangan cairan secara aktif
(00027).
d. Nyeri b.d proses penyakit (00133)
e. Resiko syok hipovolemik berhubungan dengan Perdarahan hebat (00205).
f. Intoleransi aktivitas b.d kelemahan umum (00092)
g. Ansietas b.d ancaman kematian (00146)
h. Defisiensi pengetahuan (proses penyakit, perawatan dan obat-obatan) b.d kurangnya
informasi (00126)

31
DIAGNOSA
NO TUJUAN DAN KRITERIA HASIL INTERVENSI
KEPERAWATAN
1 Hipertermi berhubungan Setelah dilakukan asuhan keperawatan klien a. Observasi tanda-tanda vital: suhu, nadi,TD,
dengan proses penyakit diharapkan tidak mengalami demam dengan pernafasan setiap 3 jam
(00007). kriteria hasil:
(Rasional: sebagai acuan keadaan umum klien)
- TTV dalam keadaan normal
- warna kulit tidak pucat/sianosis b. Anjurkan pasien untuk banyak minum air putih
- tidak ada nyeri otot
- tidak ada flushing, petekia, ekimosis (Rasional: Peningkatan suhu tubuh
- Mukosa mulut normal mengakibatkan penguapan tubuh meningkat
sehingga perlu diimbangi dengan asupan cairan
yang banyak)
c. Berikan kompres air hangat (pada daerah axilla
dan lipatan paha
(Rasional: Kompres hangat akan mempercepat
menurunkan suhu tubuh)
d. Anjurkan pasien untuk tidak memakai selimut atau
pakain tebal
(Rasional: Pakaian yang tipis akan membantu
mengurangi penguapan)
e. Kaji saat timbulnya demam
(Rasional: Untuk mengidentifikasi pola demam
pasien)
2 Ketidakseimbangan nutrisi Setelah dilakukan asuhan keperawatan a. Kaji keluhan mual, sakit menelan dan muntah
kurang dari kebutuhan diharapkan kebutuhan nutrisi klien terpenuhi yang dialami pasien
berhubungan dengan asupan dengan kriteria hasil:
(Rasional:untuk menentukan intervensi
yang tidak mencukupi - Klien tidak merasa lemah
32
(00002) - peningkatan nafsu makan selanjutnya dalam intake makanan)
- tidak terdapat mual, muntah, dan sakit saat b. Lakukan pengukuran berat badan pasien
menelan
- Mukosa mulut kembali normal (Rasional: Untuk mengetahui status gizi pasien)
c. Berikan makan yang mudah ditelan seperti: bubur,
tim dan dihidangkan saat masih hangat
(Rasional: meningkatkan asupan makanan karena
mudah ditelan)
d. Berikan makanan dalam porsi yang kecil dan
frekuensi yangs sering
(Rasional: Untuk menghindari mual dan muntah)
e. Kaji makanan yang disukai klien
(Rasional: untuk meningkatkan nafsu makan)
f. Kolaborasi dengan tenaga kesehatan lain untuk
pemberian makanan parenteral (jika intake peroral
tidak adekuat)
(Rasional: bermanfaat meningkatkan asupan
nutrisi)
g. Kolaborasi pemberian antasida
(Rasional: membantu mengurangi mual dan
muntah)
3 Kekurangan volume cairan Setelah dilakukan asuhan keperawatan a. Observasi tanda-tanda vital: suhu, nadi,TD,
berhubungan dengan diharapkan kebutuhan cairan klien terpenuhi pernafasan setiap 3 jam
kehilangan cairan secara aktif dengan kriteria hasil:
(Rasional: sebagai acuan keadaan umum klien)
(00027)
33
- Klien tidak merasa lemah dan kehausan b. Anjurkan pasien untuk minum

- Mukosa mulut tidak kering (Rasional: Asupan cairan diperlukan untuk


menambah volume cairan)
- TTV normal c. Kaji tanda dan gejala dehidrasi/ hipovolemik
- hematocrit normal (riwayat muntah, diare, kehausan, turgor jelek
(Rasional: Untuk mengetahui penyebab deficit
volume cairan)
d. Kaji perubahan keluaran urin
(Rasional: Untuk mengetahui keseimbangan
cairan)
e. Berikan cairan intravena sesuai dengan program
dokter
(Rasional: menormalkan keadaan cairan tubuh
secara cepat)
4. Nyeri b.d proses penyakit Setelah dilakukan tindakan asuhan keperawatan a. Kaji tingkat nyeri yang dialami klien dengan
(00133) diharapkan nyeri klien dapat hilang dengan memberikan rentang neri (0-10).
kriteria hasil :
(Rasional: untuk mengetahui skala nyeri klien)
- Nyeri klien dapat berkurang atau hilang
b. Kaji faktor-faktor yang mempengaruhi reaksi klien
- Rasa nyaman klien terpenuhi terhadap nyeri.
(Rasional: dengan mengetahui faktor-faktor yang
- Klien melaporkan kesejahteraan fisik dan
mempengaruhi nyeri klien diharapkan perawat
psikologis dapat melakukan intervensi yang sesuai dengan
masalah klien)
c. Berikan posisi yang nyaman, usahakan situasi

34
ruangan yang tenang.
(Rasional: untuk mengurangi rasa nyeri)
d. Alihkan perhatian klien dari rasa nyeri (Distraksi)
(Rasional: dengan mengalihkan perhatian klien
diharapkan klien dapat beralih ke hal lain sehingga
dapat mengurangi rasa nyeri klien)
e. Kolaborasi dengan dokter untuk pemberian obat
analgesik
(Rasional: dengan berkolaborasi dengan dokter
diharapkan klien mendapat obat analgesik yang
sesuai untuk mengurangi rasa nyeri)
5. Resiko syok hipovolemik Setelah dilakukan asuhan keperawatan a. Observasi tanda-tanda vital: suhu, nadi,TD,
berhubungan dengan diharapkan klien tidak mengalami syok pernafasan setiap 3 jam
Perdarahan hebat (00205)
hipovolemik dengan kriteria hasil: (Rasional: sebagai acuan keadaan umum klien)
- TTV normal b. Monitor keadaan umum pasien
- Klien tidak merasa lemah
- Klien tidak mual dan muntah (Rasional: memantau kondisi pasien selama masa
- Mukosa mulut tidak kering perawatan terutama saat terjadi pre syok atau
- Tidak epistaksis, hematemesis, sianosis syok)
perifer, melena c. Monitor tanda-tanda pendarahan
(Rasional: Pendarahan yang cepat diketahui dapat
segera diatasi sehingga tidak sampai ke tahap syok
hipovolemik akibat pendarhan hebat)
6. Intoleransi aktivitas b.d Setelah dilakukan asuhan keperawatan a. Kaji keluhan klien
kelemahan umum (00092) diharapkan klien dapat melakukan aktivitas (Rasional: untuk mengidentifikasi keluhan-

35
secara mandiri dengan kriteria hasil : keluhan klien)
- Klien mampu melakukan aktivitas secara
b. Kaji hal-hal yang mampu dan tidak mampu
mandiri setelah demam sembuh dilakukan oleh klien.
- TTV normal
- Klien dapat mengelola energi untuk (Rasional: untuk mengetahui tingkat
ketergantungan klien dalam memenuhi
memulai dan menyelesaikan aktivitas kebutuhannya)
c. Berikan bantuan kepada klien untuk memenuhi
kebutuhan aktivitasnya sehari-hari
(Rasional: pemberian bantuan diharapkan ketika
kondisi klien melemah maka perawat dapat
memenuhi kebutuhannya)
d. Berikan bantuan pada klien untuk mandiri sesuai
dengan perkembangan kemajuan fisiknya
(Rasional: untuk melatih kemandirian klien agar
tidak mengalami ketergantungan pada orang lain)
e. Berikan penjelasan tentang hal-hal yang dapat
membanatu dan meningkatkan kekuatan fisik
klien.
(Rasional: agar klien termotivasi untuk kooperatif
selama proses perawatan terutama untuk
meningkatkan kekuatan fisik klien)
f. Letakkan barang-barang yang mudah dijangkau
klien
(Rasional: untuk membantu klien dalam
memenuhi kebutuhannya tanpa mengandalkan

36
orang lain)
7. Ansietas b.d ancaman Setelah dilakukan asuhan keperawat diharapkan a. Kaji rasa cemas yang dialami klien dan keluarga
kematian (00146) klien tidak merasa cemas atau cemas dapat (Rasional: untuk mengetahui tingkat kecemasan
berkurang dengan kriteria hasil: yang dialami klien dan keluarga)
- Kecemasan klien dapat berkurang b. Jalin hubungan saling percaya dengan pasien dan
- Mempertahankan kenyaman psikologis keluarga
- Mengungkapkan sikap penuh harapan
(Rasional: agar klien dan keluarga bersikap
terbuka kepada perawat)
c. Tunjukan sikap empati kepada klien
(Rasional: diharapkan dengan memberikan sikap
empati klien dan keluarga merasa di[erhatikan
dengan sungguh-sungguh)
d. Beri kesempatan klien dan keluarga untuk
mengungkapkan rasa cemasnya
(Rasional: untuk meringankan beban pikiran klien
dan keluarga)
e. Berikan keyakinan pada klien bahwa tim
kesehatan berusaha memberikan pertolongan yang
terbaik pada klien.
(Rasional: sikap positif tim keshatan diharapkan
dapat membantu menurunkan kecemasan klien)
f. Berikan kesempatan keluarga untuk mendampingi
klien secara bergantian.
(Rasional: diharapkan klien dapat merasa lebih

37
tenang dengan adanya keluarga yang menemani)
8. Defisiensi pengetahuan Setelah dilakukan asuhan keperawatan a. Kaji tingkat pengetahuan klien dan keluarga
(proses penyakit, perawatan diharapkan pengetahuan klien dan keluarga tentang penyakit DBD

dan obat-obatan) b.d tentang penyakit,perawatan dan penggunaan (Rasional: untuk mengetahui sejauh mana
pengetahuan klien maupun keluarga tentang
kurangnya informasi obat dapat bertambah dengan kriteria hasil: penyakit demam berdarah serta mengetahui
- Pengetahuan klien dan keluarga tentang
(00126) kebenaran tentang pengetahuan klien dan
proses penyakit, perawatan dan obat keluarga)
bertambah b. Jelaskan tentang proses penyakit, eperawtan pada
- Klien dan keluarga dapat mencerminkan klien dengan bahasa yang mudah dimengerti oleh
kembali tentang pengetahuan yang telah klien dan keluarga
diberikan. (Rasional: agar informasi dapat diterima dengan
mudah dan tepat sehingga tidak menimbulkan
kesalahpahaman)
c. Jelaskan prosedur yang dilakukan dan manfaat
bagi klien
(Rasinal: dengan mengetahui prosedur dan
manfaat klien dan keluarga diharapkan lebh
kooperatif dan kecemasan menurun)
d. Beri kesempatan pada klien dan keluarga untuk
menanyakan hal-hal yang ingin diketahui
berhubungan dengan penyakit
(Rasional: untuk memfasilitasi dan diharapkan
klien lebih kooperatif selama masa perawatan dan
penyembuhan)

38
BAB III

PENUTUP

1. KESIMPULAN
Dengue Hemmorhagic Fever (DHF) adalah penyakit infeksi yang disebabkan
oleh virus dengue dengan tanda dan gejala demam, nyeri otot, nyeri sendi disertai
lekopenia, ruam, limfadenopati, trombositopenia. Virus dangue diinjeksi oleh nyamuk
Aedes ke aliran darah. Virus ini secara tidak langsung juga mengenai sel epidermis
dan dermis sehingga menyebabkan sel langerhans dan keratinosit terinfeksi.
Komplikasi yang mungkin muncul adalah perdarahan, efusi pleura, hepatomegali, dan
kegagalan sirkulasi.

39
Daftar Pustaka :

Rohim, Abdul. 2004. Ilmu Penyakit Anak, Diagnosis dan Penatalaksanaan. Jakarta : Salemba
Medika.

Mansjoer arif, dkk. 2000. Kapita Selekta Kedokteran. Edisi 3. Jilid 2. Media Aesculapius.
Jakarta

Depkes RI. 2004. Demam Berdarah Dengue. Jakarta: Depkes RI.

Dinkes propinsi sumatera utara. 2007. Data Kasus Demam Berdarah Dengue (DBD) Per
Kab/Kota.

Dinkes Kota Medan. 2009. Data Kasus Demam Berdarah Dengue (DBD).

Suriadi & Yuliani, Rita. 2001. Buku Pegangan Praktek Klinik : Asuhan Keperawatan pada
Anak. Sagung Seto : Jakarta.

Oktri Hastuti.(2008). Demam Berdarah Dengue: Penyakit & Cara Pencegahannya (Edisi
ke5). Yogyakarta : Penerbit Kanisius.

Palupi Widyastuti.(2004). Pencegahan dan Pengendalian Dengue dan Demam Berdarah


Dengue : Panduan Lengkap (Edisi ke-1). Jakarta : EGC.

Sutedjo, AY. Mengenal penyakit melalui hasil pemeriksaan laboratorium. Yogyakarta :


Medika Fakultas Kedokteran UGM. 2007.

Suwandono Agus, Nurhayati, Ida Parwati, dkk. Perbandingan nilai diagnostic trombosit,
leukosit, antigen NS1, dan antibodi IgM antidengue. Jurnal Indonesian Medical
Association Volum 61 Hal 8. 2011.
Herdman, T.H. & Kamitsuru, S. (Eds.). (2014). NANDA International Nursing Diagnoses:
Definitions & Classification, 20152017. Oxford: Wiley Blackwell.
McCloskey, Bulechek. (2013) . Nursing Interventions Classification (NIC). Sixth Edition.
Mosby : St. Louis.
Moorhead, Sue et al. (2012). Nursing Outcome Classification (NOC). Fifth Edition. Mosby :
St. Louis.

40
World Health Organization Regional Office for South East Asia. Prevention and
Control of Dengue and Dengue Haemorrhagic Fever : Comprehensive
Guidelines. New Delhi : WHO.1999

Halstead CB. Dengue hemorrhagic fever: two infections and antibody dependent
enhancement, a brief history and personal memoir . Rev Cubana Med Trop
2002; 54(3):h.171-79

World Health Organization Regional Office for South East Asia. Dengue Net
Implementation in the Americans : Report of a WHO/PHO/CDC Meeting.
Puerto Rico : WHO.2003

World Health Organization-South East Asia Regional Office. Comprehensive


Guidelines for Prevention and Control of Dengue and Dengue Hemorrhagic
Fever. India: WHO; 2011.p.1-67

WHO. Dengue for Diagnosis, treatment, prevention and control. 2009:1-146

Suhardiono. (2005). Sebuah analisis faktor risiko perilaku masyarakat terhadap


kejadian demam berdarah dengue (DBD) di Kelurahan Helvetia Tengah,
Medan, tahun 2005. Jurnal Mutiara Kesehatan Indonesia, 1(2), 48-65.

Maria, I., Ishak, H., & Selomo, M. (2013). Faktor risiko kejadian demam berdarah
dengue (dbd) di Kota Makassar tahun 2013. 1-11

Lestari, K. (2007). Epidemiologi dan Pencegahan Demam Berdarah Dengue di


Indonesia. Farmaka. 5(3) hal 12-29

Boesri, H.,& Boewono, D.T. (2008). Situasi Nyamuk Aedes Aegypti dan
Pengendaliannya di Daerah Endemis Demam Berdarah Dengue di Kota
salatiga. Media Litbang Kesehatan. 18(2) hal 78-82

Yudhastuti, R., & Vidiyani, A. (2005). Hubungan kondisi lingkungan, kontainer,


dan perilaku masyarakat dengan keberadaan jentik nyamuk aedes aegypti di
daerah endemis demam berdarah dengue Surabaya. Jurnal Kesehatan
Lingkungan, 1(2), hal.170-182

41