You are on page 1of 8

Seminar NaSeminar Nasional Ke III

FakultasTe Fakultas Teknik Geologi Universitas Padjadjaran

Penelitian Biogeokimia Batubara Peringkat Rendah Formasi Sajau Di


Cekungan Berau Untuk memahami Pembentukan Gas Metana
Batubara Di Cekungan Berau, Kalimantan Utara
Ahmad Helman Hamdani1,
1
Universitas Padjadjaran , Jalan Raya Bandung- Sumedang Km. 21 Jatinangor, 10560
Jawa Barat
Email :ahmad_helman_pgp@yahoo.com

Abstrak
Telah dilakukan penelitian biogeokimia batubara peringkat rendah dari Formasi Sajau di
Cekungan Berau, Kalimantan Utara; yang merupakan penelitian geologi yang diintergasikan
dengan penelitian kimia dan mikrobiologi. Hasil penelitian menunjukkan bahwa batubara
Formasi Sajau menunjukkan tingkat kematangan yang rendah (Ro < 0.5%); dengan
didominasi kandungan maseral huminite; dan memiliki kandungan hidrogen yang tinggi.
Penelitian kandungan isotop karbon gas metana batubara menunjukkan bahwa gas metana
batubara terbentuk secara biogenic (biogenic gas). Analisa isotop karbon menunjukkan
bahwa gas metana batubara di Formasi Sajau terbentuk dengan cara fermentasi asetat dan
reduksi karbon dioksida. Penelitian komunitas mikroba menjelaskan adanya keragaman
mikroba yang mempunyai kemampuan untuk menghasilkan gas metana batubara dari
batubara peringkat rendah Formasi Sajau.

Kata Kunci : Biogeokimia, batubara, peringkat rendah, Formasi Sajau, Cekungan Berau

1. Pendahuluan pada saat ini mulai berkembang pemikiran


penggunaan energi non-konventional, salah
Meningkatnya permintaan sumber satunya adalah gas metana dalam batubara
energi, terutama minyak dan gas bumi; serta (GMB) sebagai sumber energi. Pada saat ini
kekhawatiran yang berkembang terhadap GMB telah menjadi sumber energi yang
efek pemanasan global dimana terjadi penting di dunia dan salah satunya adalah di
peningkatan yang tajam emisi gas rumah kaca Amerika Serikat (Harpalani and Shimin,
(GRK) antropogenik mengakibatkan 2013); sedangkan negara lainnya seperti
perubahan iklim yang berimplikasi buruk Australia, Kanada. China, India dan Selandia
terhadap berbagai kegiatan hidup manusia. Baru sudah mulai melakukan eksplorasi gas
Hasil analisis International Energi Agency metana pada skala besar di berbagai cekungan
(IEA) menunjukkan kepada situasi bumi yang utama batubara, dan sedang mendekati
suram, dimana diproyeksikan pada tahun produksi komersial (Kong et al., 2011).
2030 kelak akan terjadi peningkatan ekonomi Sejumlah penelitian yang telah
negara-negara berkembang berpacu dengan dilakukan di Cekungan Berau (Gambar.1 )
peningkatan kebutuhan energi negara-negara Kalimantan Utara telah menemukan adanya
industri yang terus beranjak naik mencapai potensi kandungan GMB dalam batubara
40% dari kebutuhan saat ini. Untuk peringkat rendah (sub bituminous) di
mengantisipasi kemungkinan buruk yang Formasi Latih yang berumur Miosen Tengah
timbul akibat adanya krisis energi global (Nana Suwarna dan Bambang Hermanto,
(doomsday) di masa depan; maka di dunia
Peran Geologi dalam Pengembangan Pengelolaan Sumber Daya Alam dan Kebencanaan
Seminar NaSeminar Nasional Ke III
FakultasTe Fakultas Teknik Geologi Universitas Padjadjaran

2006), dan dalam batubara peringkat rendah terbentuk pada batubara tipe bituminous
(lignite sub bituminous) Formasi Sajau (Rice, 1993).
yang berumur Pliosen Pleistosen Bawah Batubara merupakan batuan sedimen
(Hamdani, 2012). Namun demikian, yang sangat kaya bahan organik kompleks
bagaimana proses terjadinya gas metana dan sumber karbon untuk biodegradasi
batubara tipe biogenik di batubara peringkat mikroba di dalam GMB; disamping itu
rendah di cekungan Berau masih terbatas dan batubara sebagai material batuan sedimen
bersifat parsial. padat namun mengandung pori-pori yang
banyak berukuran lebih kecil dari skala
micron menyebabkan batubara mempunyai
luas permukaan yang luas; dengan demikian
mampu menyerap dan menyimpan gas lebih
besar ( 6 s/d 7 kali) dibandingkan dengan
batuan reservoir gas konvensional (batupasir,
atau batugamping). Sehingga dalam sistem
enegi gas metana diklasifikasikan sebagai
unconventional gas.
Sebagai batuan reservoir GMB,
batubara merupakan akifer pembawa air yang
baik dan dan akan membentuk lingkungan
yang memungkinkan aktivitas mikroba
berlangsung dengan baik. Penelitian dari
;Strapo et al. , 2008, 2011) menunjukkan
bahwa air dalam jumlah besar yang
mengandung populasi mikroba terkait dengan
pembentukan metana. Konsorsium
metanogen hidup dalam sampel batubara dan
menggunakan volatile materi dalam batubara
Gambar 1. Lokasi daerah penelitian di Cekungan untuk menghasilkan metana.
Berau, Kalimantan Utara
Gas metana batubara biogenik terjadi
2. Gas Metana Batubara (GMB) oleh adanya reduksi bakteri dari CO2,
Gas metana dalam batubara (GMB) menghasilkan methanogens, dan selanjutnya
yang diserap oleh ruang antarmuka bakteri anaerobik menggunakan H2 yang
permukaan batubara, merupakan gas alam tersedia untuk mengkonversi asetat dan CO2
non-konvensional yang dihasilkan dan menjadi metana sebagai produk samping dari
disimpan sendiri oleh batubara yang metabolismenya. Sejumlah methanogens
dikendalikan oleh multi-faktor. Pada awal membuat amina, sulfida, dan methanol untuk
proses pembatubaraan (coalification) pada memproduksi metane. Aliran air dibawah
batubara peringkat rendah (lignite permukaan dapat memperbaharui aktivitas
subbituminus) akibat proses degradasi bakteri, sehingga gas biogenik dapat
mikroba terhadap unsur organik dalam berkembang hingga tahap akhir. Pada saat
batubara akan terbentuk gas metana biogenik. penimbunan maksimum terjadi, temperatur
Dengan meningkatnya kematangan batubara maksimum pada lapisan batubara mencapai
berkaitan dengan meningkatnya tekanan dan 40-90C; kondisi ini sangat ideal untuk
temperatu, maka gas metana termogenik akan pembentukan bakteri metana. Apabila air
tanah turun, maka tekanan pada reservoir

Peran Geologi dalam Pengembangan Pengelolaan Sumber Daya Alam dan Kebencanaan
Seminar NaSeminar Nasional Ke III
FakultasTe Fakultas Teknik Geologi Universitas Padjadjaran

turun, pada saat itu GMB bermigrasi menuju metanogen. Produksi GMB dapat diting-
reservoir dari sumber lapisan batubara. katkan dan diperbaharui dengan me-
Perulangan kejadian ini merupakan regenerasi manfaatkan aktivitas mikroba untuk
dari gas biogenik. Kejadian ini dipicu oleh mendegradasi molekul organik dan mengkon-
naiknya air tanah atau lapisan batubara yang versi molekul menjadi metan.
tercuci oleh air. Hal tersebut yang memberi- Penelitian ini bermaksud untuk
kan indikasi bahwa GMB merupakan energi mengetahui konsorsium bakteri metanogen
yang dapat terbaharui. Dalam hal eksploitasi dan proses pembentukan gas metana batubara
GMB, dapat dijelaskan bahwa di dalam tipe biogenik di batubara peringkat rendah
lapisan batubara banyak terdapat rekahan Formasi Sajau dengan metoda biogeokimia;
(cleat), yang terbentuk ketika berlangsung yang mengintegrasikan penelitian mikro-
proses pembatubaraan. Melalui rekahan itulah biologi, geologi dan kimia.
air dan gas mengalir di dalam lapisan
batubara. Adapun bagian pada batubara yang
dikelilingi oleh rekahan itu disebut dengan 2. Geologi Cekungan Berau
matriks (coal matrix), tempat dimana
kebanyakan GMB menempel pada pori-pori Daerah penelitian termasuk ke dalam
yang terdapat di dalamnya. bagian Cekungan Berau (beberapa peneliti
menyebutkan sebagai sub-Cekungan Berau);
Batubara peringkat rendah Formasi yang merupakan bagian blok yang stabil dari
Sajau di Cekungan Berau, didominasi oleh Cekungan Tarakan Besar (Lentini and
lignit dengan subordinat subbituminous, Darman, 1996; Noon et al., 2003; Hidayati et
mempunyai kandungan air yang tinggi, al., 2007), terletak di bagian timuirlaut pulau
disusun oleh material organik yang kaya Kalimantan. Secara fisiografi Cekungan
unsur seperti liptinit dan huminit ( Hamdani, Berau di batasi di bagian selatan - tenggara
et al., 2013); sehingga batubara peringkat oleh Punggungan Suikerbrood, Tinggian
rendah tersebut dapat berperan sebagai batuan Mangkalihat /Peninsula dan sepanjang sungai
induk yang sangat baik untuk produksi gas Berau, serta sesar mendatar mengiri dengan
metana biogenik. arah NW-SE (Mangkalihat Fault) yang
Bakteri sangat berperan penting dalam merupakan kepanjangan dari sesar Palu Koro
pembentukan GMB tipe biogenic, misalnya yang memisahkannya dengan Cekungan
bakteri syntrophic. Bakteri Syntrophic Kutai dan Cekungan Muara; ke arah bagian
melakukan fermentasi dengan mendegradasi barat Cekungan Berau dibatasi oleh Tinggian
molekul organik dari batubara menjadi asam Sekatak - Berau yang tersusun oleh batuan
organik dan asam lemak yang digunakan Pre-Tersier; sementara itu ke arah utara di
sebagai substrat untuk bakteri metanogen. batasi oleh sesar mendatar mengiri dari
Beberapa jenis bakteri lain yang terlibat Maratua Fault dan di utara oleh Tinggian
dalam pembentukan GMB yaitu, bakteri Latong yang memisahkan dengan Cekungan
homoacetogenic, bacteri acetolastic dan Tidung; serta cekungan ini membuka
metylotrophic. Dalam kondisi aerobik, membentuk busur ke arah barat berbatasan
molekul organik dari batubara yang dengan CekunganTarakan
dihidrolisis oleh aktivitas enzim ekstraseluler Tatanan geologi daerah penelitian
dari bakteri penghasil molekul, seperti Daerah Sajau dan sekitarnya, cekungan Berau
fumarat, isoprenoid dan alkana rantai telah diteliti oleh Situmorang R.L. dan
panjang, moekul ini menurunkan asam asetat, Burhan (1995), Delmar Mining (2005). Peta
asam lemak, metanol, hidrogen dan CO2 dan geologi permukaan yang disusun oleh
digunakan sebagai substrat untuk bakteri Situmorang R.L. dan Burhan (1995) pada

Peran Geologi dalam Pengembangan Pengelolaan Sumber Daya Alam dan Kebencanaan
Seminar NaSeminar Nasional Ke III
FakultasTe Fakultas Teknik Geologi Universitas Padjadjaran

Lembar Tanjung Redeb menunjukkan arah Pengukuran isotop karbon (13C) dan
antiklin dan sinklin di Cekungan Berau isotop hidrogen (D) gas metana dilakukan
berarah NW-SE dan NNW-SSE, dan arah untuk menentukan cara terbentuknya gas
sesar normal NNW SSE. Sedangkan metana.
urutan stratigrafi dari yang tertua hingga
muda adalah : Formasi Sembakung, Formasi
Birang, Formasi Latih, Formasi Labanan dan
Formasi Domaring / Sajau; yang diendapkan
sejak Eosen Awal s/d Pleistosen.
Formasi Sajau yang menjadi objek
penelitian merupakan formasi pembawa
batubara berumur Pleistosen dengan
ketebalan 775 m. Terdiri atas perselingan
batulempung, batulanau, batupasir, konglo-
merat dan lapisan batubara. Formasi Sajau
diendapkan di lingkungan fluvial dan delta.

3. Metodologi Penelitian
3.1. Pengambilan contoh Gambar 1. Lokasi pengambilan contoh air formasi,
batubara dan gas batubara di Formasi Sajau, Cekungan
Pada penelitian ini telah dilakukan Berau, Kalimantan Utara
pengambilan contoh air formasi, batubara dan
gas metana pada Formasi Sajau di tiga (3)
blok tambang batubara; yakni Blok Kasai
(SH-101), Blok Mangkupadi (CH-34) dan 4. Hasil dan Pembahasan
Blok Tanah Kuning (NH-15) yang terletak di
Cekungan Berau, Kaltara ( Gambar 1). 4.1. Kimia Air
Analisa kimia air yang dilakukan di
Percontoh air formasi digunakan untuk
laboratorium Succofindo, Balikpapan; diketahui
percobaan mikrobiologi untuk meng- bahwa didominasi oleh kandungan yang tinggi
identifikasi komunitas bakteri metanogenik. dari konsentrasi klorida dan sodium bikarbonat.
Percobaan kultur dilakukan dengan Sedangkan konsentrasi magnesium, calcium dan
menggunakan air formasi yang diambil dari potassium kecil.
pemboran eksplorasi yang dicampur dengan
substrat batubara dari berbagai seam A, B dan Tabel 1. Hasil analisa Kimia Air Formasi
Coal Exploration Wells
K dari lokasi SH-101, CH-34 dan NH-15 Parameters Units SH-101 CH-34 NH-15
Temperature 0 C 33.0 32.0 32.0
Adapun pada contoh batubara dilakukan
pH 7.0 6.8 6.8
analisa petrografi orgamik untuk mengetahui Salinity mg.L-1 962.8 1102.6 1029.6
komposisi maseralnya. Pengukuran proksimat Conductivity mScm-1 3.2 2.1 3.6
dan ultimat dilakukan untuk menentukan Carbonate alkalinity mg.L-1 nd nd nd
kualitas batubara. Bicarbonate alkalinity mg.L-1 1027.4 973.6 826.6
Sulfate mg.L-1 2.5 3.7 3.1
Chloride mg.L-1 475.2 481.6 429.6
Analisa geokimia organik pada fraksi Calcium mg.L-1 8.1 11.9 9.1
aromatik ditujukan untuk mengetahui Magnesium mg.L-1 7.2 8.6 6.4
Sodium mg.L-1 681.2 726.4 612.7
komposisi biomarker fraksi aromatik .
Potasium mg.L-1 58.2 98.4 63.8

Peran Geologi dalam Pengembangan Pengelolaan Sumber Daya Alam dan Kebencanaan
Seminar NaSeminar Nasional Ke III
FakultasTe Fakultas Teknik Geologi Universitas Padjadjaran

Dengan memperhatikan tabel di atas maka oleh aktivitas mikroba yang terdapat dalam
kisaran komposisi dan konsentrasi kimia air air (Strapo et al. 2008 ; Midgley et al.
formasi di daerah penelitian dapat menjadi 2010;Strapo et al. 2011).
tempat proses pertumbuhan bakteri
methanogen untuk berkembang dengan baik.
4.3. Polisiklik Aromatik

4.2. Maseral dan Kualitas Batubara Analisa biomarker fraksi aromatik


pada contoh batubara ditampilkan dalam
Hasil pengamatan petrografi organik, tabel 3. Secara umum konsetrasi polisiklik
pengukuran proksimat dan ultimat contoh aromatic cukup signifikan dalam batubara.
batubara untuk seam A, B dan K Senyawa tri-tetra aromatic pentacyclic telah
ditampilkan dalam tabel 2. diketahui banyak ditemukan dalam berbagai
Tabel 2. Komposisi Maseral dan Analisa contoh batubara peringkat rendah dan
Proksimat dan Ultimat merupakan rombakan dari triterpenoid.
Coal Seam Senyawa A-ring opened isohexyl alky
Parameters Units A B K aromatic, seperti 8-isopropyl-1, 62-
Komposisi Maseral dimethylnaphthalene dan methylated 8-
Huminit % 84.32 72.08 81.46
Liptinit % 12.90 11.97 14.52 isopropyl-2, 4-dimethyl-1-(4-methylpentyl)
Inertinit % 2.68 15.10 3.10 naphthalene telah teridentifikasi dalam fraksi
Mineral Matter % 7.12 2.30 4.26 aromatik. Senyawa-senyawa tersebut berasal
Kualitas Batubara (proksimat)
Total Moisture % adb 52.35 54.32 50.48
dari phyllocladane (Stefanova, et al., 2002).
Inheren Moisture % arb 16.75 14.32 15.21 Penelitian geokimia organik batubara
Karbon Tertambat % adb 40.37 43.65 41.17
Zat Terbang % adb 39.26 39.14 39.44
Formasi Sajau pada fraksi aromatik
Abu % adb 3.62 2.89 6.10 menunjukkan adanya kandungan senyawa
Total Sulfur % adb 1.24 1.02 1.94 polisiklik aromatic yang mudah terbakar
Kualitas Batubara (ultimat) seperti fluoranthene, benzo-[b]fluoranthene,
Karbon % daf 62.13 67.2 71.28
Hidrogen % daf 7.27 8.15 6.27 benzo[k]fluoranthene, ben-zo[a] anthracene;
Nitrogen % daf 1.82 1.28 1.35 memungkinkan batubara tipe lignite lebih
Sulfur % daf 1.55 1.23 2.46 mudah terurai dibandingkan dengan tipe
Oxygen % daf 27.23 22.14 18.64
batubara yang tinggi peringkatnya.
Tabel 3. Komposisi Polisiklik aromatic
Dari tabel 2 terlihat bahwa maseral
Compound A B K
huminit mendominasi komposisi maseral Phenathrenes
pada semua seam batubara Formasi Sajau Phenanthrene-4a-trimethyl-7 - 4.9 -
Phenanthrenone-4a-trimethyl 2.51 8.16 -
(coal seam A, B dan K). Sedang kelompok 4-Methyl Phenanthrene 45.22 72.62 31.61
maseral liptinit menunjukkan jumlah yang 2,5-Dimethyl Phenanthrene 1.25 0.71 3.35
lebih besar dibandingkan maseral inertinit. Naphthalene
1(2H) Napthalenone, 8- trimethyl 4.16 5.46 -
Dengan memperhatikan komposisi 8-isopropyl -tetrahydronaphthalene - 3.16 -
8-isopropyl,1, 6 dimethylnaphthalene - 5.44 -
huminit yang besar dan inertnit yang kecil; 1-Benzylnaphthalene 8.26 13.17 12.90
menunjukkan bahwa unsure organik dalam 1,4-Dibuthyl-tetrahydro Naphthalene 4.81 5.96 -
2,6-Dimethyl-3-octyl-Naphthalene 12.29 48.16 -
batubara Formasi Sajau mempunyai 5,1-decylundency tetrahydro Naphtha- 4.16
kecenderungan akan lebih mudah 6.43 9.01
lene
terbiodegradasi oleh mikroba methanogens. Fluoranthene
Benzene(k) fluoranthene 61.81 67.54 90.92
Hal ini juga ditunjang dengan kandungan air Quinones
yang tinggi (50,48 54.32%), akan me- Benzo(a)anthracen-7,12-dion 17.28 8.0 23.11
mudahkan proses pembentukan gas metana

Peran Geologi dalam Pengembangan Pengelolaan Sumber Daya Alam dan Kebencanaan
Seminar NaSeminar Nasional Ke III
FakultasTe Fakultas Teknik Geologi Universitas Padjadjaran

4.4. Isotop Karbon dan Hidrogen GMB Tabel 5. Komposisi Mikroba Pada Kultur dengan
Substrat batubara Formasi Sajau
Hasil pengukuran fraksi isotop karbon
13 Substrat Batubara
( C) dan isotop hidrogen (D) contoh gas
SeamA Seam B Seam K
metana batubara ditunjukkan pada tabel 4. Tipe Mikroba
(CH-34)
(CH-101) (NH-15)
Tabel 4. Komposisi Isotop karbon dan hidrogen % OTU % OTU % OTU
Methanospirillum 2 6 4
Fraksi Isotop Methanobacterium 5 3 2
Lokasi Seam
13C- CH4() D-CH4 () Methanosarcina 55 4 6
CH-101 A -53.18 -315 Methanosaeta 11 58 62
SH-101 B -52,41 -308 Clostridia 6 9 4
CH-53 A -65.18 -210 Deltaproteobacteria 4 8 5
CH-34 B -62.54 -205 Spirochates 1 2 6
NH-15 K -55.16 -198 Synergistia 3 3 5
Unclassified 5 2 3

Analisa karbon isotop (13C) dan isotop hidrogen


(D ) yang dilakukan dari contoh gas metana, Dari hasil percobaan yang telah dilakukan
etana dari 3 (tiga) seam batubara menunjukkan dapat dijelaskan bahwa dalam kultur air
kisaran 13C dengan kisaran 52,41 sampai formasi dan substrat batubara Formasi Sajau
dengan -65,18 dan kisaran D 315 s/d 198; menunjukkan adanya keragaman komunitas
yang mengindikasikan bahwa gas tersebut dan jumlah kelimpahan bakteria dan archea
terbentuk berasal dari proses fermentasi dan
di dalam kultur. Kelompok bakteria terdiri
reduksi karbon dioksida (Whiticar, 1996) oleh
aktivitas bakteria (Gambar 2). dari Bacteroides (3 - 8% OTU), Delto-
proteobacteria (4-8% OTU), Synergistia (1-
5% OTU), Spirochaetes (1- 6%, OTU
sedangkan komunitasnya archea terdiri dari
Methanosarcina (4 - 55% OTU ), Methano-
bacterium (2-5% OTU) , Methanosaeta (11 -
62 % OTU).
Keragaman komposisi dan konsentrasi
mikroba yang ditunjukkan pada contoh
menunjukkan bahwa contoh kultur air
formasi dengan substrat batubara seam B dan
seam K menunjukkan dominasi kandungan
Methanosaeta (>50%) . Hal ini berkaitan
dengan proses terbentuknya gas metana
dalam jalur reduksi CO2. , sebagaimana
tercermin dalam pengukuran isotop karbon
Gambar 2. Plot data isotop karbon dan deuterium gas dan hidrogen gas metana (gambar 2). Pada
metana batubara Formasi Sajau dari Seam A, B dan C contoh batubara seam A (SH-101) lebih
dari 5 (lima) sumur eksplorasi. didominasi kandungan Methanosarcina
(55%) dimana gas metana pada sumur SH-
101 terbentuk melalui proses fermentasi
4.5. Percobaan Kultur Mikroba asetat. (Gambar 2).
Hasil percobaan kultur mikroba pada
contoh air formasi dengan substrat batubara
ditemapilkan dalam tabel 5.

Peran Geologi dalam Pengembangan Pengelolaan Sumber Daya Alam dan Kebencanaan
Seminar NaSeminar Nasional Ke III
FakultasTe Fakultas Teknik Geologi Universitas Padjadjaran

5. Kesimpulan Lentini M. R. and Darman R.; (1996). Aspect


Dari pembahasan tersebut di atas of the Neogene Tectonic History and
dapat disimpulkan bahwa gas metana Hydrocarbon Geology of the Tarakan
batubara yang didapat dari batubara Formasi Basin. 25 th Proceeding Indonesian
Sajau terbentuk melalui dua jalur yakni Petroleum Association : p 241-251.
fermentasi asetat dan reduksi karbon Midgley et al. (2010). Characterisation of a
dioksida. Selain itu dari percobaan kultur microbial community associated with a
menunjukkan adanya aktivitas aktif dari deep, coal seam methane reservoir in the
mikroba dalam proses pembentukan gas Gippsland Basin, Australia.Int.J. Coal
metana batubara. Geol. 82:232239.
Pustaka Nana Suwarna, Bambang Hermanto,(2006).
Delmar Mining, 2005. Laporan Eksplorasi Coalbed methane potential and coal
Batubara Konsesi PT. Delmar Mining, Di characteristics in the Lati region, Berau
Kabupaten Bulungan, Kalimantan Timur basin, East Kalimantan. Jurnal Geologi
(tidak dipublikasikan) Indonesia 1 no. 1: 19-30

Hamdani A.H., (2012). The Application of Noon Stephen , John Harrington, Herman
High Resolution Sequence Stratigraphy Darman. (2003). The Tarakan Basin, East
to the Sajau (Pliocene) Coal Distribution Kalimantan : Proven Neogene Fluvio-
in Berau Basin, Northeast Kalimantan Deltaic, Prospective Deep-Water and
Paleogene Plays in A regional
Stratigraphic Context. 29th Proceedings
Hamdani A.H., Sunardi E., Yoga A.S, (2013). Indonesian Petroleum Association. p.16.
Petrographical characteristics and
environmental characteristics and deposi- Rice, D. D., (1993) . Composition and Origin
tional environment of Sajau Coal Forma- of Coalbed Gas. In: Law, B.E., Rice, D.D.
tion in Berau Basin, East Kalimantan. (Eds.), Hydrocarbons from coal.
ICFS 10, University of Leeds, United American Association of Petroleum
Kingdom, p. 19. Geologists Studies in Geology 38. 159-
184.
Harpalani and Shimin, (2013). Coalbed
Methane: Important Source of Natural Situmorang, R.L., and Burhan, G., (1995).
Gas Resource. 47th US Rock Mechanics Geological Map of the Tanjungredeb
Geomechanics Symposium, San Fransisco Quadrangle, Kalimantan, scale 1:250.000.
Geological Research and Development
Hidayati, S., Guritno, E., Argenton, A., Ziza,
Centre, Bandung.
W., Campana, I. D., 2007. Re-visited
structural framework of the Tarakan Sub- Stefanova, M., Oros, D.R., Otto, A.,
Basin northeast Kalimantan Indonesia. Simoneit, B.R.T., (2002). Polar aromatic
31st Proceeding Indonesian Petroleum biomarkers in theMiocene MaritzaEast
Association : 255-269. lignite, Bulgaria. Org. Geochem. 33,
Kong Chai Chen, Irawan S, Chow W.S., 10791091
Salem Q. T., (2011). Preliminary Study Strapo D, Picardal FW, Turich C, Schaper-
on Gas Storage Capacity and Gas-in-Place doth I, Macalady JL, Lipp JS,Lin YS,
for CBM Potential in Balingian Coalfield, Ertefai TF, Schubotz F, Hinrichs KU,
Sarawak Malaysia . International Journal Mastalerz M, Schimmelmann A. (2008).
of Applied Science and Technology 1 No. Methane producing microbial community
2: 82 94.

Peran Geologi dalam Pengembangan Pengelolaan Sumber Daya Alam dan Kebencanaan
Seminar NaSeminar Nasional Ke III
FakultasTe Fakultas Teknik Geologi Universitas Padjadjaran

in a coal bed of the Illinois Basin. Appl


Environ Microbiol 74:24242432
StrapocD, et al. 2011. Biogeochemistry of
coal-bed methane. Annu. Rev. Earth
Planet. Sci. 39:617656.
Whiticar, M.J. (1996). Stable isotope
geochemistry of coals, humic kerogens
and related natural gases. International
Journal of Geology 71. 358-370.

Peran Geologi dalam Pengembangan Pengelolaan Sumber Daya Alam dan Kebencanaan