You are on page 1of 6

CAIRAN PLEURA

PENDAHULUAN

Pada keadaan normal, rongga pleura yang berada antara pleura viseralis, dan parietalis mengandung
hanya sedikit cairan, yaitu kurang lebih 1-10 ml. cairan pleura berfungsi sebagai pelicin gesekan antara
permukaan kedua pleura pada waktu pernafasan. Pleura adalah membran tipis yang terdiri dari dua
lapisan yaitu pleura viseralis yang membungkus paru dan pleura paerietalis yang melapisi rongga dada.

Efusi pleura merupakan suatu keadaan akumulasi cairan pleura abnormal dalam ronjgga pleura akibat
transudasi atau eksudasi berlebihan. Efusi pleura dibagi menjadi dua kelompok besar menurut jenis
cairan pleura, yaitu bentuk efusi eksudat.

Pengelompokkan jenisj efusi pleura ini penting untuk mengenali penyebabnya. Penyebab efusi eksudat
adalah infeksi Mycobacterium tuberculosis, sedangkan efusi transudat disebabkan oleh penyakit non
infeksi, misalnya jantung dan sirosis hati.

Perbedaan antara proses transudasi dan eksudasi, yaitu :

1. Transudasi : Akumulasi cairan akibat proses non-inflamasi atau bukan radang di dalam rongga pleura.
Biasanya, kondisi ini disebabkan oleh kelainan pada tekanan normal di dalam paru, seperti perubahan
tekanan hidrostatik atau tekanan koloid, atau penimbunan cairan yang bukan disebabkan oleh
perubahan permeabilitas pembuluh darah.

2. Eksudasi : Akumulasi cairan akibat proses inflamasi didalam rongga serosa yang ditandai dengan
perubahan permeabilitas membran pada permukaan pleura atau akibat bertambahnya permeabilitas
pembuluh darah terhadap protein.

Indikasi pengambilan cairan pleura (Hardjoeno,2007)

1. Untuk mengetahui penyebab efusi (transudasi atau eksudasi).

2. Untuk mengurangi gejala klinik. Jj

3. Untuk mengurangi cairan di dalam rongga pleura, karena akan diganti dengan obat yang dimasukkan
ke dalam rongga tersebut.

Ciri-ciri eksudat spesifik :

1. Warna (karakteristik purulen : putih-kuning; hemoragis : merah ; dsb)

2. Keruh

3. Berat jenis >1,018 (1,018-1,030)


4. Ada bekuan, atau membeku dalam waktu cepat

5. Bau tidak khas. Infeksi kuman anaerob/E.coli (bau busuk)

6. Protein >3 g% ( tes rivalta positif)

7. Glukosa << plasma

8. Lemak mungkin positif (infeksi tuberculosit)

9. Jumlah leukosit banyak

10. Jenis sel >polinuklear

11. Bakteri (+)

Ciri-ciri transudat spesifik :

1. Warna agak kekuningan

2. Jernih

3. Berat jenis <1,018 (1,006-1,015)

4. Tak ada bekuan, atau membeku lambat/dalam jangka waktu lama

5. Bau tidak khas

6. Protein <2,5 g% (tes rivalta negatif)

7. Glukosa = plasma

8. Lemak negatif

9. Jumlah leukosit sedikit

10. Jenis sel >mononuklear

11. Bakteri (-)

PEMERIKSAAN MAKROSKOPIS
Volume

Pra-analitik

Prinsip : Volume transudat dan eksudat diukur dengan gelas ukur dan hasilnya dibaca setinggi miniskus
bawah.

Alat : Gelas ukur

Analitik

Prosedur :

1 . Tuang cairan kedalam gelas ukur

2 . Lihat volume cairan yang terlihat pada gelas ukur (miniskus bawah)

Pos t-analitik

Interpretasi hasil : Makin banyak cairan pleura menandakan tingkat kerusakan.

Warna dan Kejernihan

Pra-analitik

Prinsip : Warna cairan diamati secara visual dengan cahaya terang

Alat : Tabung reaksi

Analitik

Prosedur :

1. Masukan cairan kedalam tabung reaksi

2. Amati warna cairan secara visual dan kejernihan cairan dengan latar belakang cahaya

Post-analitik

Interpretasi hasil :

1. Transudat : Kuning muda

2. Eksudat : Berbeda-beda, bergantung pada penyebabnya

a. Kuning : Bilirubin

b. Merah : Darah

c. Putih-Kekuningan dan Keruh : Pus


d. Putih susu : Kilus

Interpretasi hasil kejernihan :

1. Transudat : Jernih

2. Eksudat : Agak keruh

Bau

Pra-analitik

Prinsip : Cairan dibaui dengan indra penciuman (hidung)

Alat : Beaker glass

Analitik

Prosedur :

1. Masukkan cairan kedalam beaker glass

2. Dekatkan kearah hidung dan kibaskan tangan ke arah hidung

Post-analitik

Interpretasi hasil :

1. Transudat : Tidak berbau

2. Eksudat : Berbau

Bekuan

Pra-analitik

Prinsip : Fibrinogen yang ada didalam sampel dapat menyebabkan sampel membeku

Alat : Beaker glass

Analitik

Prosedur :

1. Masukkan sampel kedalam beaker glass.

2. Ambil cairan dengan pipet tetes.


3. Keluarkan cairan dengan pipet tetes.

4. Jika cairan bisa dikeluarkan dengan pipet tetes berarti bekuan (-).

5. Jika cairan sulit dikeluarkan dengan pipet tetes berarti bekuan (+).

6. Adanya bekuan dinyatakan dengan : renggang, berkeping, berbutir, sangat halus.

Post-analitik

Interpretasi hasil :

1. Transudat : (-) tidak terjadi bekuan

2. Eksudat : (+) terjadi bekuan

Berat Jenis

Pra-analitik

Prinsip : Berat jenis cairan dilihat pada tangkai urinometer setinggi miniskus bawah

Alat : Urinometer (bila cairan banyak) atau refaktometer (bila cairan sedikit), gelas ukur

Analitik

Prosedur :

1. Masukkan cairan kedalam beaker glass.

2. Tuang cairan kedalam gelas ukur sebanyak 40-50 ml.

3. Masukkan urinometer kedalam gelas ukur.

4. Baca berat jenis pada skala urinometer setinggi miniskus bawah.

Post-analitik

Interpretasi hasil :

1. Transudat : 1,006-1,015

2. Eksudat : 1,018-1,030

DAFTAR PUSTAKA
Bakti,Fajar Kurniawan. 2015. KIMIA KLINIK PRAKTIKUM ANALIS KESEHATAN. Jakarta : EGC Buku
Kedokteran