You are on page 1of 2

Validitas. Bagi tes apa pun, pertanyaan paling dasar adalah validitas.

Banyak studi lidasi atas tes-tes


proyek berhadapan dengan validasi terkait kriteria secara bersamaan (concurrent). Kebanyakan studi ini
membandingkan kinerja kontras, seperti kelompok diagnostik atau kelompok pekerjaan. Akan tetapi,
sebagaimana ditunjukkan dalam kaitan dengan norma-norma kelompok-kelompok ini sering berbeda
dalam hal hal lain, seperti atau an. Peneliti lain dalam validitas konkuren pada dasarnya telah
menggunakan teknik pencocokan di mana deskripsi kepribadian yang berasal dari catatan-catatan tos
dibandingkan dengan deskripsi tentang orang yang sama, yang diambil dari riwayat kasus, wawancara
psikiatris, atau catatan perilaku jangka panjang Beberapa studi telah meneliti validitas prediktif terhadap
kriteria, seperti keberhasilan dalam pelatihan khusus, kinerja pekerjaan, atau respons terhadap
psikoterapi. Ada ondongan yang makin kuat untuk meneliti validitas konstruk dari instrumen proyektif
dengan menguji hipotesis-hipotesis khusus yang mendasari penggunaan dan interpretasi tiap t validasi
yang diterbitkan tentang teknik-teknik proyektif ebagian besar studi tidaklah konklusif karena
kekurangan prosedural dalam kendali eksperimental analisis statistik atau keduanya. Beberapa
kekurangan metodologis bisa memberikan ng menghasilkan bukti rious evidence of validity), yang dalam
hal ini adalah kontaminasi kriteria atau data tes demikian, penilai kriteria bisa mempunyai pengetahuan
tentang kinerja responden emikian pula, penguji bisa mendapatkan isyarat tentang ciri-ciri reponden
dari percakapan dengannya selama penyelenggaraan tes atau dari riwayat Kendali yang lazim untuk
jenis kasus dan yang disebut belakangan itu dalam studi validasi adalah dengan sumber-sumber nontes
lainnya penentu kontaminasi yang tidak memiliki informasi yang tidak memiliki kontak dengan
responden dan protokol tes. apa pun tentang responden, selain dari apa yang termuat dalam
berhubungan hli klinis berpendapat bahwa analisis proyektif dan tidak untuk menginterpr tes klinis
validasi dengan cara instrumen instrumen ini digunakan dalam pra melakukan umber umum lain dari
data validitas palsu adalah gagalnya besar atau 1966). Karena jumlah tanda diagnostik potensial maka
unsur-unsur yang dapat diskor, bisa dihasilkan dari kebanyakan tes proyektif, itu secara kebetulan
sangat mudah untuk mendapatkan rangkaian tanda semacam ang benar-benar dapat membedakan
antara kelompok-kelompok kriteria. Akan tetapi, validitas kunci penentuan skor semacam itu akan
diterapkan pada sampel-sampel baru. kesalahan yang lebih halus diilustrasikan oleh ketepatan
stereotipe rnyataan-pernyataan deskriptif tertentu, seperti yang mungkin terjadi dalam bisa berlaku
secara luas pada orang umumnya atau pada anak-anak muda, atau pada pasien rumah sakit, atau pada
kategori orang apa pun yang diambil oleh penelitian tertentu.23 Kecocokan antara kriteria dan data tes
dalam kaitan dengan pernyataan seperti itu akan menghasilkan kesan palsu. dalam kaitan dengan
validitas. Diperlukan pemeriksaan atas kesalahan ini, seperti kriteria atas ukuran kecocokan antara
evaluasi tes atas satu responden dan evaluasi responden lain dalam kategori yang sama. Ukuran ini akan
mengindikasikan tingkat cokan palsu yang dihasilkan dari ketepatan stereotipe dalam kondisi-kondisi
penelitian tertentu (lihat, misalnya, Silverman, 1959) Sumber kesalahan umum lainnya, yang muncul dari
sikap bersandar pad pengalaman klinis dalam validasi atas tanda-tanda diagnostik, adalah yang oleh
menerangkan nama validasi ilusi (illusory validation)". Fenomena ini bisa penggunaan instrumen dan
sistem tanda-tanda diagnostik secara berkesinambungan, yang bagiannya, temuan-temuan validitas
empiris pada ini, negatif. Dalam seri klasik tentang eksperimen untuk menguji fenomena Chapman &
Chapman (1967) menyajikan rangkaian bentuk gambar man yang serupa dengan yang didapat dalam
Machover aw-a-Person Test Siswa memberikan respons dalam kaitan de stereotipe menunjukkan bahwa
mereka selama ini tidak didukung yang telah ada sebelumn kepada udah mata yang tidak lazim
berkaitan dengan mereka. Contohnya, mer tentang inteligensii yang lebar dengan keprihatinan
dterapkan secara atrium seperti ini adaiah contoh d dikutip efek Barium" yang tentang kejantanan.
Bukan hanya bahwa interpretasi ini tak terkait dengan asosiasi oleh peserta iuga eksperimen men lainn
perubahan di bawah asosiasi budaya terstereotipe erbukti bertahan membangun yang berlawanan.
yang harapan apriori Dengan kata lain, mempertahankan bertentangan ketika validasi ilusi adalah
contoh mekanisme yang mendasari bertahannya ayul. Kita cenderung memerhatikan dan mengambil
apa pun yang sesuai deng harapan kitas kita enderung mengabaikan serta pun yan berteutangan denga
harapan kita. Mekanisme ini sesungguhnya bisa mengganggu dan dalam rangka oleh ahli-ahli klinis yang
berkait erat dengan sistem diagnostik tertentu. Penelitian al Chapman & Chapman dengan DLA-P telah
diperkuat oleh studi serupa dengan Rorschach dan dengan Incomplete sentences Blank (Chapman &
Chapman, 1969 Golding & Rorer, 2: Starr & Katkin, 1969) percobaan bisa memberikan efek sebaliknya
berupa perkiraan yang terlalu rendah atas aliditas sebagai diagnostik. Secara luas diakui, misalnya,
bahwa kategori tradisional, klasifikasi eperti schizophrenia atau gangguan dipersonalisasi, menampilkan
en atas Bangguan gangguan yang sesungguhnya terwujud pada diri riteria Karenanya, iika gori diagnostik
digunakan sebagai tidak meyakinkao. a untuk memeriks validitas tes kepribadian, hasil-hasil negatifnya
Demikian pula, kegagalan memprediksi kriteria pekerjaan bisa lebih dari penguji atas ciri-ciri yang
diperlukan untuk pekerjaan yang sedang dipertimbangkan. Bila kriteria semacam ini digunakan
erupakan ukuran yang sahih atas ciri-ciri kepribadian yaug hendak diukur, namun ciri-ciri ini tidak
relevan bagi keberhasilan dalam situasi kr yang dipilih jumlah penggana tes ma banyak menekankan
pentingnya prinsip holistik dan pririsip integratif dalam penilaian kepribadian, seperti penggunaan pola
ura da tahet kontekstual. Banyak di antara para pengguna tes memvalidasi indikator indikato us mi
diagnostik yang berasal dari korelasi yang tidak signifikan bisa k dimungkinkannya pola hubungan yang
kompleks di antara leh banyaknya temuan-temuan ang oleh para ahli klinis dirasakan agresi dalam
fantasi dalam perilaku terselubung. iri kepribadian seiring takut akata hukuman agresi tinggi dalam fatita
Harrison, 1965 ang

Dengan demikian, tidak adanya korelasi berarti antara ungkapan agresi dalam riwayat TAT dan dalam
perilaku yang jelas pada sampel acak individu-individu itu konsisten dengan karena hubungan bisa pada
sejumlah orang dan negatif pada orang lain. Akan tetapi, yang jelas kekurangan korelasi semacam itu
juga konsisten dengan hipotesis bahwa tes itu tidak memiliki validitas sama sekali dalam mendeteksi
tendensi tendensi agresif. Tentu saja, yang dibutuhkan adalah studi studi lebih banyak, yang
menggunakan rancangan eksperimental kompleks, yang memungkinkan analisis atas kondisi-kondisi,
yang di dalamnya tiap asumsi dapat diterapkan. Hipotesis Proyektif. Asumsi tradisional yang
menyangkut teknik-te proyektif teknik adalah bahwa respons-respons individu terhadap stimuli ambigu
yang disajikan kepadanya mencerminkan atribut kepribadian yang penting dan relatif bertahan.
Meskipun jelas bahwa respons tes proyek bisa dan memang mencerminkan gaya respons serta ciri ciri
individu, badan penelitian yang besar dan sedang tumbuh