You are on page 1of 30

BAB I

PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang

Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan (KTSP) merupakan salah satu


kurikulum yang pernah digunakan dalam dunia pendidikan di Indonesia. Dalam
KTSP dan kurikulum yang lainnya, Bahan ajar merupakan bagian penting dalam
pelaksanaan pendidikan disekolah. Melalui bahan ajar, guru akan lebih mudah dalam
melaksanakan pembelajaran dan siswa akan lebih terbantu dan mudah dalam belajar.
Bahan ajar dapat dibuat dalam berbagai bentuk sesuai dengan kebutuhan dan
karakteristik materi ajar yang akan disajikan. Dalam PP nomor 19 tahun 2005 pasal
20, disyaratkan bahwa guru diharapkan mengembangkan materi pembelajaran, yang
kemudian dipertegas melalui Peraturan Menteri Pendidikan Nasional (Permendiknas)
nomor 41 tahun 2007 tentang standar proses, yang antara lain mengatur tentang
perencanaan proses pembelajaran yang mensyaratkan bagi pendidik pada satuan
pendidikan untuk mengembangkan rencana pelaksanaan pembelajaran (RPP).

Di Sekolah Menengah Atas (SMA), berbagai bahan ajar digunakan oleh guru,
antara lain: materi ajar tertulis (Buku teks), Materi ajar dengar (kaset atau radio),
materi ajar interaktif (kombinasi materi ajar audio dan visual misalnya video). Buku
teks sebagai contoh, merupakan bahan ajar yang sangat sering digunakan oleh para
guru bahkan buku teks sudah menjadi bagian yang tidak terpisahkan dari proses
belajar-mengajar di dalam kelas. Akan tetapi, materi ajar tersebut tidak selalu cocok
dengan keadaan kelas atau dengan kurikulum itu sendiri. Oleh sebab itu, penelaahan
materi ajar sangat diperlukan untuk mengetahui isi dari materi ajar yang akan
dibawakan di dalam kelas. Dalam makalah ini, akan dibahas mengenai penelaahan
materi ajar Bahasa Inggris berdasarkan Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan
(KTSP) di tingkat Sekolah Menengah Atas.

1
1.2 Rumusan Masalah

Berdasarkan latar belakang yang telah dijelaskan sebelumnya, dalam makalah


ini akan dibahas mengenai penelaahan materi ajar tertulis (buku teks) pada mata
pelajaran Bahasa Inggris di Sekolah Menengah Atas (SMA) yang berjudul
Functional English for Senior High School terbitan PT. Tiga Serangkai.

2
BAB II

ACUAN TEORI

2.1 Hakikat Materi Ajar

2.1.1 Pengertian Materi Ajar atau Bahan Ajar

Muhaimin (2008) mengungkapkan bahwa materi ajar atau bahan ajar adalah
segala bentuk bahan yang digunakan untuk membantu guru/instruktur dalam
melaksanakan kegiatan pembelajaran. Sedangkan menurut Abdul Majid, bahan ajar
adalah segala bentuk bahan, informasi, alat dan teks yang digunakan untuk membantu
guru/instruktor dalam melaksanakan kegiatan belajar mengajar. Bahan yang
dimaksud bisa berupa tertulis maupun bahan yang tidak tertulis. Sementara itu,
Abdul Majid (2007) mengungkapkan bahwa Bahan ajar atau materi kurikulum
(curriculum material) adalah isi atau muatan kurikulum yang harus dipahami oleh
siswa dalam upaya mencapai tujuan kurikulum. Sejalan dengan pendapat Muhaimin
dan Abdul Majid, Direktorat Pembinaan Sekolah Menengah Atas (2008:6),
menerangkan bahwa bahan ajar adalah segala bentuk bahan yang digunakan untuk
membantu guru/ instruktur dalam melaksanakan kegiatan belajar mengajar di kelas.
Bahan yang dimaksud bisa berupa bahan tertulis maupun bahan tidak tertulis. Dari
ketiga pendapat mengenai materi ajar/bahan ajar di atas, dapat disimpulkan bahwa
materi ajar atau juga yang dikenal sebagai bahan ajar adalah komponen yang
membantu guru atau instruktur untuk melaksanakan proses belajar-mengajar dalam
kelas, yang dapat berupa komponen tertulis maupun tidak tertulis.

Materi ajar atau Bahan Ajar merupakan salah satu komponen yang penting
dalam proses belajar-mengajar. Dengan adanya bahan ajar, baik guru maupun siswa
akan terbantu selama proses belajar-mengajar berlangsung di dalam kelas. Guru akan
memiliki standard dan pedoman dalam menyampaikan materi, sedangkan siswa akan

3
terbantu dari segi pemahaman secara tertulis atau tidak tertulis. Dengan demikian,
materi ajar sangat tidak bisa dipisahkan dengan pelaksaan pendidikan di sekolah.

2.1.2 Komponen Materi Ajar

Pannen dan Purwanto (2001) menyatakan bahwa materi ajar atau bahan ajar
terdiri atas dua komponen. Komponen tersebut antara lain: (1) tinjauan matakuliah
dan (2) pendahuluan setiap bab, penyajian dalam setiap bab, penutup setiap bab,
daftar pustaka, dan senarai. Setiap komponen mempunyai subbab komponen sendiri
yang saling berintegrasi satu sama lain.

Di sisi lain, Kementerian Pendidikan Nasional (2008) memberikan cakupan


bahan ajar, meliputi (1) judul, (2) materi pembelajaran, (3) standar kompetensi, (4)
kompetensi dasar, (5) indikator, (6) petunjuk belajar, (7) tujuan yang dicapai, (8)
informasi pendukung, (9) latihan, (10) petunjuk kerja, dan (11) penilaian. Sementara
itu, Sulistyowati (2009) menyatakan bahwa komponen bahan ajar terdiri atas: (1)
petunjuk belajar (petunjuk siswa/guru), (2) kompetensi yang akan dicapai, (3) content
atau isi materi pembelajaran, (4) informasi pendukung, (5) latihan-latihan, (6)
petunjuk kerja, dapat berupa lembar kerja, (7) evaluasi, dan (8) respon atau balikan
terhadap hasil evaluasi.

Berdasarkan kedua pendapat tersebut, dapat disimpulkan bahwa komponen


bahan ajar terdiri atas (1) identitas mata kuliah, meliputi judul, materi, kompetensi,
indikator, tujuan (2) petunjuk belajar, meliputi petunjuk untuk mahasiswa dan guru,
(3) isi materi pembelajaran, (4) informasi pendukung, (5) latihan-latihan, lembar
kerja, (6) penilaian, (7) respon/ refleksi.

4
2.1.3 Jenis-jenis Materi Ajar

Secara singkat, Mulyasa (2006) mengemukakan bahwa jenis-jenis materi ajar


antara lain:

1. Bahan cetak seperti; modul, buku , LKS, brosur, hand out, leaflet, wallchart

2. Audio Visual seperti; video/ film,VCD

3. Audio seperti; radio, kaset, CD audio, PH

4. Visual; foto, gambar, model/ maket

5. Multi Media; CD interaktif, computer Based, Internet


Dengan kata lain, materi ajar tidak hanya berupa materi yang bersifat tertulis,
tetapi juga ada yang bersifat Audio, Visual, Audio Visual ataupun yang menggunakan
multimedia.

2.2 Fungsi Materi Ajar

Bahan ajar memiliki fungsi strategis bagi proses pembelajaran yang dapat
membantu guru dan siswa dalam kegiatan pembelajaran, sehingga guru tidak terlalu
banyak menyajikan materi. Di samping itu, bahan ajar dapat menggantikan sebagian
peran guru dan mendukung pembelajaran individual. Hal ini akan memberi dampak
positif bagi guru, karena sebagian waktunya dapat dicurahkan untuk membimbing
belajar siswa. Dampak positifnya bagi siswa, dapat mengurangi ketergantungan pada
guru dan membiasakan belajar mandiri. Hal ini juga mendukung prinsip belajar
sepanjang hayat (life long education).

5
Sulistyowati (2009) mengemukakan bahwa penggunaan bahan ajar berfungsi
sebagai:

1. Pedoman bagi guru yang akan mengarahkan semua aktivitasnya dalam


proses pembelajaran, sekaligus merupakan substansi kompetensi yang
seharusnya diajarkan kepada siswa.

2. Pedoman bagi siswa yang akan mengarahkan semua aktivitasnya dalam


proses pembelajaran, sekaligus merupakan substansi kompetensi yang
seharusnya dipelajari/dikuasainya.

3. Alat evaluasi pencapaian atau penguasaan hasil pembelajaran.

Selain itu, Greene dan Petty (1981), merumuskan beberapa peranan dan
kegunaan buku ajar sebagai berikut :

1. Mencerminkan suatu sudut pandang yang tangguh dan modern mengenai


pengajaran serta mendemontrasikan aplikasi dalam bahan pengajaran yang
disajikan.

2. Menyajikan suatu sumber pokok masalah atau subject matter yang kaya,
mudah dibaca dan bervariasi, yang sesuai dengan minat dan kebutuhan para
siswa, sebagai dasar bagi program-program kegiatan yang disarankan di mana
keterampilan-keterampilan ekspresional diperoleh pada kondisi yang
menyerupai kehidupan yang sebenarnya.

3. Menyediakan suatu sumber yang tersusun rapi dan bertahap mengenai


keterampilan-keterampilan ekspresional.

6
4. Menyajikan (bersama-sama dengan buku manual yang mendampinginya)
metode-metode dan sarana-sarana pengajaran untuk memotivasi siswa.

5. Menyajikan fiksasi awal yang perlu sekaligus juga sebagai penunjang bagi
latihan dan tugas praktis.

6. Menyajikan bahan atau sarana evaluasi dan remedial yang serasi dan tepat
guna.

Dengan demikian, fungsi bahan ajar sangat akan terkait dengan kemampuan
guru dalam membuat keputusan yang terkait dengan perencanaan (planning),
aktivitas-aktivitas pembelajaran dan pengimplementasian (implementing), dan
penilaian (assessing).

2.3 Perbedaan Materi Ajar dan Buku Teks

Terdapat beberapa perbedaa antara materi ajar/bahan ajar dan buku teks.
Kemendiknas (2008) memberikan definisi bahwa bahan ajar merupakan bahan atau
materi pembelajaran yang disusun secara sistematis yang digunakan guru dan siswa
dalam KBM, sedangkan buku teks merupakan sumber informasi yang disusun
dengan struktur dan urutan berdasar bidang ilmu tertentu. Dari pernyataan diatas,
secara singkat dapat disimpulkan bahwa buku teks merupakan bagian dari materi ajar
itu sendiri.

Menurut Panen dan Purwanto (2001) bahan ajar berbeda dengan buku teks.
Perbedaan antara bahan ajar dengan buku teks tidak hanya terletak pada format, tata
letak dan perwajahannya, tetapi juga pada orientasi dan pendekatan yang digunakan
dalam penyusunannya. Buku teks biasanya ditulis dengan orientasi pada struktur dan
urutan berdasarkan bidang ilmu (content oriented) untuk dipergunakan oleh dosen
atau guru dalam mengajar (teaching oriented). Sangat jarang buku teks dipergunakan

7
untuk belajar mandiri, karena memang tidak dirancang untuk itu. Dengan demikian,
penggunaan buku teks memerlukan dosen atau guru yang berfungsi sebagai
penterjemah yang menyampaikan isi buku tersebut bagi peserta didik.

Berikut ini tabel perbedaan antara bahan ajar dan buku teks.
Bahan Ajar Buku Teks
1. Menimbulkan minat baca 1. Mengamsumsikan minat dari
pembaca
2. Ditulis dan dirancang untuk peserta 2. Ditulis untuk pembaca
didik
3. Dikemas untuk proses instruksional 3. Dirancang untuk dipasarkan secra
luas
4. Menjelaskan tujuan instruksional 4. Belum tentu menjelaskan tujuan
instruksional
5. Disusun berdasarkan pola belajar 5. Disusun secara linier
yang fleksibel
6. Struktur berdasarkan kebutuhan 6. Struktur berdasarkan logika bidang
pesrta didik dan kompetensi akhir ilmu
yang akan dicapai
7. Mengakomodasi kesulitan peserta 7. Tidak mengantisipasi kesukaran
didik belajar peserta didik
8. Memberi rangkuman 8. Belum tentu memberi rangkuman
9. Gaya penulisan komunikatif dan 9. Gaya penulisan naratif tetapi tidak
semi formal komunikatif
10. Kepadatan berdasarkan kebutuhan 10. Sangat padat
peserta didik
11. Mempunyai mekanisme untuk 11. Tidak memiliki mekanisme untuk
mengumpulkan umpan balik dari mengumpulkan umpan balik dari
peserta didik pembaca
12. Memberikan kesempatan pada 12. Belum tentu memberikan latihan
peserta didik untuk berlatih

8
13. Menjelaskan cara mempelajari 13. Tidak selalu ada penjelasan cara
bahan ajar mempelajari

2.4 Pendekatan Materi Ajar

Ada beberapa pendekatan yang biasa digunakan untuk memudahkan proses


belajar-mengajar di dalam kelas. Pendekatan-pendekatan itu antara lain: pendekatan
kontekstual, komunikatif, keterampilan proses, dan masih banyak lagi. Berikut ini
adalah penjelasan mengenai beberapa pendekatan yang banyak digunakan dalam
pembelajaran:
Pendekatan Kontekstual
Pembelajaran kontekstual merupakan suatu konsep belajar dimana guru
menghadirkan situasi dunia nyata kedalam kelas dan mendorong siswa
membuat hubungan antara pengetahuan yang dimilikinya dengan penerapan
dalam kehidupan mereka sebagai anggota kelurga dan masyarakat (Nurhadi,
2003:4).
Pembelajaran kontekstual adalah konsep belajar yang membantu guru
mengaitkan antara materi yang diajarkannya dengan situasi dunia nyata siswa
dan mendorong siswa membuat hubungan antara pengetahuan yang dimilikinya
dengan penerapannya dalam kehidupan mereka sehari-hari, dengan melibatkan
tujuh komponen utama pembelajaran kontekstual, yakni: kontruktivisme,
bertanya, inkuiri, masyarakat belajar, pemodelan dan penilaian autentik
(Trianto, 2008:20).
Pendekatan Komunikatif
Pendekatan komunikatif adalah suatu pendekatan yang bertujuan untuk
membuat kompetensi komunikatif sebagai tujuan pembelajaran bahasa, juga
mengembangkan prosedur-prosedur bagi pembelajaran empat keterampilan

9
berbahasa (menyimak, membaca, berbicara, dan menulis), mengakui dan
menghargai saling ketergantungan bahasa. Pendekatan ini lahir akibat
ketidakpuasan para praktisi atau pengajar bahasa atas hasil yang dicapai oleh
metode tata bahasa terjemahan, yang hanya mengutamakan penguasaan kaidah
tatabahasa, mengesampingkan kemampuan berkomunikasi sebagai bentuk akhir
yang diharapkan dari belajar bahasa (Iskandarwassid dan Sunendar 2009:55). Jadi,
pendekatan komunikatif ingin menekankan fungsi bahasa sebagai alat komunikasi
dalam proses interaksi antarmanusia. Komunikasi di sini juga bisa berupa
komunikasi lisan maupun tertulis.
Pendekatan komunikatif merupakan pendekatan yang berlandaskan pada
pemikiran bahwa kemampuan menggunakan bahasa dalam berkomunikasi
merupakan tujuan yang harus dicapai dalam pembelajaran bahasa. Jadi
pembelajaran yang komunikatif adalah pembelajaran bahasa yang memungkinkan
peserta didik memiliki kesempatan yang memadai untuk mengembangkan
kebahasaan dan menunjukkan dalam kegiatan berbahasa baik kegiatan produktif
maupun reseptif sesuai dengan situasi nyata, bukan situasi buatan yang terlepas dari
konteks.
Pendekatan komunikatif memiliki ciri-ciri sebagai berikut (Iskandarwassid
dan Sunendar 2009:55-56):
a. Acuan berpijaknya adalah kebutuhan peserta didik dan fungsi bahasa;
b. Tujuan belajar bahasa adalam membimbing peserta didik agar mampu
berkomunkasi dalam situasi yang sebenarnya;
c. Silabus pengajaran harus ditata sesuai dengan fungsi pemakaian bahasa;
d. Peranan tatabahasa dalam pengajaran bahasa tetap diakui;
e. Tujuan utama adalah komunikasi yang bertujuan;
f. Peran pengajar sebagai pengelola kelas dan pembimbing peserta didik
dalam berkomunikasi diperluas; dan
g. Kegiatan belajar harus didasarkan pada teknik-teknik kreatif peserta didik
sendiri, dan peserta didik dibagi dalam kelompok-kelompok kecil.

10
Pendekatan Keterampilan Proses
Pendekatan proses adalah suatu pendekatan pengajaran memberi
kesempatan kepada siswa untuk ikut menghayati proses penemuan atau penyusunan
suatu konsep sebagai suatu keterampilan proses. Pendekatan proses dalam
pembelajaran dikenal pula sebagai keterampilan proses, guru menciptakan bentuk
kegiatan pengajaran yang bervariasi, agar siswa terlibat dalam berbagai pengalaman
(Sagala, 2010:74). Selanjutnya pada pertengahan abad ke-20 pendekatan proses
dikembangkan menjadi pendekatan keterampilan proses (Poedjiadi, 2005:78).
Menurut Hamalik (2009:149) Pendekatan keterampilan proses ialah
pendekatan pembelajaran yang bertujuan mengembangkan sejumlah kemampuan
fisik dan mental sebagai dasar untuk mengembangkan kemampuan yang lebih
tinggi pada diri siswa. Kemampuan-kemampuan fisik dan mental tersebut pada
dasarnya telah dimiliki siswa meskipun masih sederhana dan perlu diransang agar
menunjukkan jati dirinya. Dengan mengembangkan keterampilan-keterampilan
memproses perolehan, anak akan mampu menemukan dan mengembangkan sikap
dan nilai yang dituntut.

2.5 Hakikat KTSP


Berdasarkan dari buku Mulyasa (2006) tentang Kurikulum Tingkat Satuan
Pendidikan (KTSP), berikut merupakan informasi mengenai KTSP.
2.5.1. Pengertian KTSP
KTSP merupakan singkatan dari Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan, yang
dikembangkan sesuai dengan satuan pendidikan, potensi dan karakteristik sekolah/
daerah, sosial budaya masyarakat setempat, dan karakteristik peserta didik. Sekolah
dan komite sekolah mengembangkan kurikumum tingkat satuan pendidikan dan

11
silabus berdasarkan kerangka dasar kurukulum dan standar kompetensi lulusan, di
bawah supervisi dinas kabupaten/kota yang bertugas di bidang pendidikan.
KTSP merupakan upaya untuk menyempurnakan kurikulum agar lebih
familiar dengan guru, karena mereka banyak dilibatkan sehingga diharapkan
memiliki tanggungjawab yang memadai. Penyempurnaan kurilulum yang
berkelanjutan merupakan keharusan agar sistam pendidikan nasional selalu relevan
dan kompetitif. Hal itu juga sejalan dengan Undang-Undang Nomer 20 Tahun 2003
tentang Sisdiknas pasal 35 dan 36 yang menekankan perlunya peningatan standar
nasional pendidikan sebagai acuan kurikulum secara berencana dan berkala dalam
rangka mewujudkan tujuan pendidikan nasional.

2.5.2. Konsep Dasar KTSP


Dalam Standar Nasional Pendidikan (SNP PAsal 1, ayat 15) dikemukakan
bahwa Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan (KTSP) adalah kurikulum operasional
yang disusun dan dilaksanakan oleh masing-masing satuan pendidikan. Penyusunan
KTSP dilakukan oleh satuan pendidikan dengan memperhatikan dan berdasarkan
standar kompetensi serta kompetensi dasar yang dikembangkan oleh Badan Standar
Nasional Pendidikan (BNSP).
KTSP disusun dan dikembangkan berdasarkan Undang-Undang Nomer 20
Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional pasal 36 ayat 1), dan 2) sebagai
berikut.
1) Pengembangan kurikulum mengacu pada Standar Nasional Pendidikan untuk
mewujudkan Tujuan Pendidikan Nasional
2) Kurikulum pada semua jenjang dan jenis pendidikan dikembangkan dengan
prinsip diversifikasi sesuai dengan satuan pendidikan, potensi daerah dan
peserta didik.
KTSP merupakan strategi pengembangan kurikulum untuk mewujudkan
sekolah yang efektif, produktif dan berprestasi. KTSP merupakan paradigm baru
pengembangan kurikulum, yang memberikan otonomi luas pada setiap satuan
pendidikan, dan pelibatan masyarakat dalam rangka mengefektifkan potensi belajar
mengajar di sekolah. Otonomi diberikan agar setiap satuan pendidikan dan sekolah

12
memiliki keleluasaan dalam mengelola sumber daya, sumber dana, sumber belajar
dan mengalolasikannya sesuai prioritas kebutuhan, serta lebih tanggap terhadap
kebutuhan setempat.
Dalam KTSP pengembangan kurikulum dilakukan oleh guru, kepala sekolah,
serta komite sekolah dewan pendidikan. Badan ini merupakan lembaga yang
ditetapkan berdasarkan musyawarah dari pejabat daerah setempat, komisi pendidikan
pada dewan perwakilan rakyat daerah (DPRD), pejabat pendidikan daereah, kepala
sekolah, tenaga kependidikan, perwakilan orangtua peserta didik dan tokoh
masyarakat. Lembaga inilah yang menetapkan segala kebijakan sekolah berdasarkan
ketentuan-ketentuan tentang pendidikan yan berlaku. Selanjutnya komite sekolah
perlu merumuskan dan menetapkan visi, misi dan tujuan sekolah dengan berbagai
implikasinya terhadap program kegiatan operasional untuk mencapai tujuan sekolah.

2.5.3. Tujuan KTSP


Secara umum tujuan diterapkannya KTSP adalah untuk mendirikan dan
memberdayakan satuan pendidikan melalui pemberikan kewenangan (otonomi)
kepada lembaga pendidikan dan mendorong sekolah tnuk melakukan pengambilan
keputusan secara partisipatif dalam pengembangan kurikulum.
Secara khusus tujuan diterapkanya KTSP adalah untuk:
1. Menignkatkan mutu pendidikan melalui kemandirian dan inisiatif sekolah
dalam mengembangkan kurikulum, mengelola dan memberdayakan sumber
daya yang tersedia
2. Meningkatkan kepedulian warga sekolah dan masyarakat dalam
pengembangan kurikulum melalui pengambilan keputusan bersama
3. Menignkatkan kompetensi yang sehat antar satuan pendidikan tentang kualitas
pendidikan yang akan dicapai.
Memahami tujuan di atas, KTSP dapat dipandang sebagai suatu pola
pendekatan baru dalam pengembangan kurikulum dalam konteks otonomi daerah
yang sedang digulirkan dewasa ini. Oleh karena itu, KTSP perlu dterapkan oleh setiap
satuan pendidikan, terutama berkaitan dengan tujuan hal sebagai berikut:

13
1. Sekolah lebih mengetahui kekuatan, kelamahan, peluang, dan ancaman bagi
dirinya sehingga dia dapat mengoptimalkan pemanfaatan sumber daya yang
tersedia untuk memajukan lembaganya
2. Sekolah lebih mengetahui kebutuhan lembaganya, khususnya input
pendidikan yang akan dikembangkan dan didayagunakan dalam proses
pendidikan sesuai dengan tingkat perkembangan dan kebutuhan peserta didik.
3. Pengambilan keputusan yang dilakukan oleh sekolah lebih cocok untuk
memenuhi kebutuhan sekolah karena pihak sekolahlah yang paling tahu apa
yang terbaik bagi sekolahnya
4. Keterlibatan semua warga sekolah dan masyarakat dalam pengembangan
kurikulum menciptakan transparasi dan demokrasi yang sehat, serta lebih
efisien dan efektif bilamana dikontrol oleh masyarakat setempat
5. Sekolah dapat bertanggungjawab tentang mutu pendidikan masing-masing
kepada pemerintah, orang tua peserta didik, dan masyarakat pada umumnya,
sehingga dia akan berupaya semaksimal mungkin untuk melaksanakan dan
mencapai sasaran KTSP
6. Sekolah dapat melakukan persaingan yagn sehat dengan sekolah lain untuk
meningkatkan mutu pendidikan melalui upaya inovatif dengan dukungan
orang tua peserta didik, masyarakat dan pemerintah daerah setempat.
7. Sekolah dapat secara cepat merespon aspirasi masyarakat dan lingkungan
yang berubah dengan cepat, serta mengakomodasinya dalam KTSP.

2.5.4. Landasan Pengembangan KTSP


Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan dilandasi oleh undang-undang dan
peraturan pemerintah sebagai berikut
1. Undang-Undang Nomor 20 Tahun 2003 tentnag Sisdiknas
Dalam Undang-Undang Sisdiknas dikemukakan bahwa Satandar
Nasional Pendidikan (SNP) teridiri atas standar isi, proses, kompetensi lulusan,
tenaga kependidikan, sarana dan prasarana, pengelolaan, pembiayaan dan

14
penilaian pendidikan yang harus ditingkatkan secara berencana dan berkala.
SNP digunakan sebagai acuan pengembangan kurikulum, tenaga kependidikan,
sarana dan prasarana, pengelolaan dan pembiayaan. Pengembangan standar
nasional pendidikan serta pemantauan dan pelaporan pencapaiannya secara
nasional dilaksanakan oleh suatu badan standarisasi, penjaminan dan
pengendalian mutu pendidikan.

2. Peraturan Pemerintah Nomor 19 Tahun 2005


Peraturan Pemerintah No. 19 Tahun 2005 adalah peraturan tentang
standar Nasional Pendidikan (SNP). SNP merupakan criteria minimal tentang
system pendidikan di seluruh wilayah hokum Negara Kesatuan Republik
Indonesia. Dalam peraturan tersebut dikemukakan bahwa kurikulum adalah
seperangkat rencana dan pengaturan mengenai tujuan, isi dan bahan pelajaran
serta cara yang digunakan sebagai pedoman penyelenggaraan kegiatan
pembelajaran untuk mencapai tujuan pendidikan tertentu. Dalam peraturan
tersebut dikemukakan bahwa KTSP adalah kurikulum operasional yang
dikembangkan berdasarkan standar kompetensi lulusan (SKL) dan standar isi.

3. Peraturan Menteri Pendidikan Nomor 22 Tahun 2006


Peraturan Menteri Pendidikan Nasional No. 22 Tahun 2006 mengatur
tentang standar isi untuk satuan Pendidikan Dasar dan Menengah yang
selanjutnya disebut Standar Isi, mencakup lingkup materi minimal dan tingkat
kompetensi minimal untuk mencapai kompetensi lulusan minimal pada jenjang
dan jenis pendidikan tertentu.

4. Peraturan Menteri Pendidikan Nasional Nomor 23 Tahun 2006


Peraturan Menteri Pendidikan Nasional no. 23 Tahun 2006 mengatur
Standar Kompetensi Lulusan untuk satuan pendidikan dasar dan menengah
digunakan sebagai pedoman penilaian dalam menentukan kelulusan peserta
didik. Standar Kopetensi Lulusan meliputi standar kompetensi lulusan minimal
satuan pendidikan dasar dan menengah, standar kompetensi lulusan minimal

15
mata pelajaran dan standar kompetensi lulusan minimal mata pelajaran, yang
akan bermuara pada kompetensi dasar.

5. Peraturan Menteri Pendidikan Nasional Nomor 24 Tahun 2006


Peraturan Menteri Pendidikan Nasional No. 24 Tahun 2006 mengatur
tentang pelaksanaan SKL dan Standar isi. Dalam peraturan ini dikemukakan
bahwa satuan pendidikan dasar dan menengah mengembangkan dan
menetepkan kurikulum tingkat satuan pendidikan dasar dan menengah sesuai
kebutuhan satuan pendidikan yang bersangkutan, berdasarkan pada:
a. Undang-Undang No. 20 Tahun 2003 tentnag Sistem Pendidikan Nasional
Pasal 36 sampai dengan Pasal 38
b. Peraturan Pemerintah No. 19 Tahun 2005 tentang standar nasional
pendidikan pasal 5 sampai dengan pasal 18 dan pasal 25 sampai pasal 27
c. Peraturan Menteri Pendidikan Nasional No. 23 Tahun 2006 tentang
standar kompetensi lulusan untuk satuan pendidikan dasar dan menengah

2.5.5. Karakteristik KTSP


KTSP merupakan bentuk operasional pengembangan kurikulum dalam
konteks desentralisasi pendidikan dan otonomi daerah, yang akan memberikan
wawasan baru terhadap system yang sedang berjalan salama ini. Karakteristik KTSP
bisa diketahui antara lain dari bagaimana sekolah dan satuan pendidikan dapat
mengoptimalkan kinerja, proses pembelajaran, pengelolaan sumber belajar,
profesionalisme tenaga kependidikan, serta system penilaian. Berdasarkan uraian di
atas dapat dikemukakan beberapa karakteristik KTSP sebagai berikut:
1. Pemberian Otonomi Luas Kepada Sekolah dan Satuan Pendidikan
KTSP memberikan otonomi luas kepada sekolah dan satuan pendidikan,
disertai seperangkat tanggungjawab untuk mengembangakan kurikulum sesuai
dengan kondisi setempat. Selain itu sekolah dan satuan pendidikan juga
diberkan kewenangan untuk mengali dan engelola sumber dana sesuai dengan
prioritas kebutuhan.

2. Partisipasi Masyarakat dan Orangtua yang Tinggi

16
Dalam KTSP, pelaksanaan kurikulum didukung oleh partisipasi
masyarakat dan orangtua peserta didik yang tinggi, bukan hanya mendukung
sekolah melalui bantuan keuangan, tetapi melalui komite sekolah dan dewan
pendidikan merumuskan serta mengembangkan program-program yagn dapat
meningkatkan kualitas pembelajaran.

3. Kepemimpinan yang Demokratis dan Profesional


Dalam KTSP, pengembangan danpelaksanaan kurikulum didukung oleh
adanya kepemimpinan sekolah yang demokratis dan professional. Kepala
sekolah dan guru-guru sebagai tenaga pelaksana kurikulum merupakan orang-
orang yang memiliki kemampuan dan integritas professional. Kepala sekolah
adalah manajer pendidikan professional yang direkrut komite sekolah untuk
mengelola segala kegiatan sekolah berdasarkan kebijakan yang ditetapkan.

4. Tim-Kerja yang Kompak dan Transparan


Dalam KTSP, keberhasilan pengembangan kurikulum dan pemelajaran
didukung oleh kinerja team yang kompak dan transparan dari berbagai pihak
yang terlibat dalam pendidikan. Dalam dewan pendidikan dan komite sekolah
misalnya, pihak-pihak yang terlibat bekerja sama secara harmonis sesuaidengan
posisinya masing-masing utnuk mewujudkan suatu sekolah yang dapat
dibanggakan oleh semua pihak.

17
BAB III

PEMBAHASAN

3.1 Identitas Materi Ajar


Judul Buku : Functional English for Senior High School
Pengarang : Bambang Sugeng dan Noor Zaimah
Penyunting : Eko Priyo Purnomo
Penata Letak : Winardi
Desainer Sampul : Fajar Cahyawan
Ilustrasi : Daru Sukamto, Kusdirgo
Nama Percetakan : PT. Tiga Serangkai Pustaka Mandiri

18
Tempat Terbit : Solo
Cetakan ke :-
Tahun : 2007
Ditujukan untuk : Sekolah Menengah Atas/ Madrasah Aliyah
Kelas : XII (Sembilan)

3.2 Telaah Isi dan Pesan KTSP


Secara umum, buku ini telah mencakup semua ranah yang harus dilengkapi
dalam Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan (KTSP). Ranah-ranah yang
dimaksudkan antara lain: Kognitif(Pengetahuan), Afektif (Sikap) dan Psikomotor
(Keterampilan) siswa di dalam proses belajar-mengajar. Hal ini dibuktikan dengan
kesesuian isi materi yang ada pada bahan ajar dengan pembahasan yang harus
dibawakan oleh guru berdasarkan kurikulum yang berlaku pada saat itu. Selain itu,
beberapa aspek yang harus dipenuhi dalam pembelajaran Bahasa Inggris seperti
aspek Reading, Writing, Listening, Speaking dan Structure, juga dimuat dan dikemas
dengan sangat baik sehingga guru dan murid akan terbabntu selama proses
pembelajaran berlangsung.
Seperti yang dituliskan oleh penulis di belakang buku, buku yang mengacu
pada KTSP ini mewadahi pengetahuan yang bernuansakan social budaya dan
diintegrasikan dengan berbagai ilmu multidisipliner. Didukung dengan pembelajaran
berbagai keterampilan fungsional dengan ragam tingkat formalitas yang berbeda dan
aplikatif baik di dalam maupun di luar dunia pendidikan, serta mengoptimalkan
pencapaian linguistic, competence, sociocultural competence, actional dan strategic
competence. Pengorganisasian materin selain disesuaikan dengan konteks yang akrab
degan dunia realitas siswa, juga diselaraskan dengan minat dan karakteristik
psikologis siswa usia SMA/MA tanpa meninggalkan aspek fun and meaningful
learning.

19
3.2.1 Kesesuaian Materi Ajar dan KTSP
Berikut ini adalah tabel yang menunjukkan telaah isi dalam hal ini kesesuaian
silabus yang terdapat pada KTSP dengan materi ajar (dalam hal ini buku Functional
English for Senior High School).
Standar Kompetensi Dasar Sesuai Tidak Keterangan
Kompetensi Sesuai
Mendengarkan
1. Memahami 1.1 Merespons makna dalam Tercantum
makna dalam teks percakapan transaksional di buku
percakapan paket
(to get things done) dan
transaksional dan
interpersonal interpersonal
resmi dan (bersosialisasi) resmi dan
berlanjut dalam berlanjut (sustained)
konteks secara akurat, lancar, dan
kehidupan sehari- berterima dalam konteks
hari kehidupan sehari-hari dan
melibatkan tindak tutur:
mengusulkan, memohon,
mengeluh, membahas
kemungkinan atau
melakukan sesuatu, dan
memerintah
Berbicara
3. Mengungkapkan
makna dalam teks
percakapan
transaksional dan 3.1 Mengungkapkan makna
interpersonal dalam percakapan
resmi dan transaksional (to get
berlanjut dalam things done) dan
konteks interpersonal
kehidupan sehari-
(bersosialisasi) resmi dan
hari
berlanjut (sustained)
secara akurat, lancar, dan
berterima dalam konteks
kehidupan sehari-hari dan
melibatkan tindak tutur:
mengusulkan, memohon,
Mendengarkan
mengeluh, membahas
1. Memahami
makna dalam teks kemungkinan atau
percakapan melakukan sesuatu, dan
transaksional dan memerintah
interpersonal
resmi dan

20
berlanjut dalam
konteks
kehidupan sehari- 1.2 Merespons makna dalam
hari
percakapan transaksional
(to get things done) dan
interpersonal
(bersosialisasi) resmi dan
berlanjut (sustained)
secara akurat, lancar, dan
berterima dalam konteks
kehidupan sehari-hari dan
Berbicara melibatkan tindak tutur:
3. Mengungkapkan mengakui kesalahan,
makna dalam teks berjanji, menyalahkan,
percakapan menuduh,
transaksional dan mengungkapkan
interpersonal keingintahuan dan hasrat,
resmi dan
dan menyatakan berbagai
berlanjut dalam
konteks sikap
kehidupan sehari-
hari

3.2 Mengungkapkan makna


dalam percakapan
transaksional (to get
things done) dan
interpersonal
(bersosialisasi) resmi dan
Mendengarkan berlanjut (sustained)
2. Memahami secara akurat, lancar, dan
makna dalam teks berterima dalam konteks
fungsional
kehidupan sehari-hari dan
pendek dan
monolog melibatkan tindak tutur:
berbentuk mengakui kesalahan,
narrative, berjanji, menyalahkan,
explanation, dan menuduh,
discussion dalam mengungkapkan
konteks
keingintahuan dan hasrat,
kehidupan sehari-
hari dan menyatakan berbagai
sikap
Berbicara
4. Mengungkapkan
makna dalam teks
fungsional 2.1 Merespons makna dalam
pendek dan

21
monolog teks fungsional pendek
berbentuk resmi dan tak resmi yang
narrative, menggunakan ragam
explanation, dan
bahasa lisan secara akurat,
discussion dalam
konteks lancar, dan berterima
kehidupan sehari- dalam konteks kehidupan
hari sehari-hari

Mendengarkan
2. Memahami
makna dalam teks
fungsional
pendek dan
monolog
4.1 Merespons makna dalam
berbentuk
teks fungsional pendek
narrative,
resmi dan tak resmi yang
explanation, dan
menggunakan ragam
discussion dalam
bahasa lisan secara akurat,
konteks
lancar, dan berterima
kehidupan sehari-
dalam konteks kehidupan
hari
sehari-hari

Berbicara
4. Mengungkapkan
makna dalam teks
fungsional
2.2 Merespons makna dalam
pendek dan
monolog teks monolog yang
berbentuk menggunakan ragam
narrative, bahasa lisan secara akurat,
explanation, dan lancar, dan berterima
discussion dalam dalam konteks kehidupan
konteks sehari-hari dalam teks
kehidupan sehari-
berbentuk: narrative,
hari
explanation, dan
discussion

Membaca
5. Memahami
makna teks
fungsional
pendek dan teks
tulis esai
berbentuk 4.2 Mengungkapkan makna
narrative, dalam teks monolog yang
explanation, dan menggunakan ragam
discussion dalam bahasa lisan secara akurat,

22
konteks lancar, dan berterima
kehidupan sehari- dalam konteks kehidupan
hari dan untuk sehari-hari dalam teks
mengakses ilmu
berbentuk: narrative,
pengetahuan
explanation, dan
discussion
Menulis
6. Mengungkapkan
makna dalam teks
tulis monolog
yang berbentuk
narrative, 5.1 Merespons makna dalam
explanation, dan
teks fungsional pendek
discussion secara
akurat, lancar, resmi dan tak resmi yang
dan berterima menggunakan ragam
dalam konteks bahasa tulis secara akurat,
kehidupan sehari- lancar, dan berterima
hari dalam konteks kehidupan
sehari-hari dan untuk
mengakses ilmu
pengetahuan

Membaca
5. Memahami
makna teks 6.1 Mengungkapkan makna
fungsional dalam teks fungsional
pendek dan teks
pendek resmi dan tak
tulis esai
berbentuk resmi yang menggunakan
narrative, ragam bahasa tulis secara
explanation, dan akurat, lancar, dan
discussion dalam berterima dalam konteks
konteks kehidupan sehari-hari
kehidupan sehari-
hari dan untuk
mengakses ilmu
pengetahuan

Menulis 5.2 Merespons makna dan


6. Mengungkapkan
langkah retorika dalam
makna dalam teks
tulis monolog esai yang menggunakan
yang berbentuk ragam bahasa tulis secara
narrative, akurat, lancar, dan
explanation, dan berterima dalam konteks
discussion secara kehidupan sehari-hari dan

23
akurat, lancar, untuk mengakses ilmu
dan berterima pengetahuan dalam teks
dalam konteks berbentuk narrative,
kehidupan sehari-
explanation, dan
hari
discussion

6.2 Mengungkapkan makna


dan langkah retorika
dalam teks monolog
dengan menggunakan
ragam bahasa tulis secara
akurat, lancar, dan
berterima dalam konteks
kehidupan sehari-hari
dalam teks berbentuk
narrative, explanation,
dan discussion

Kurikulum KTSP tingkat SMA kelas XII semester 1 memiliki Enam Standar
Kompetensi. Berdasarkan tabel di atas, Functional English for Senior High School
kelas XII sesuai dengan silabus KTSP yang berlaku hanya saja materi-materi yang
ada di buku tidak secara berurutan dengan silabus.

3.3 Cakupan Materi


Sama seperti mata pelajaran Bahasa Indonesia, Bahasa inggris pun juga
mempunyai wacana yang disajikan mencakup ruang lingkup yang dinyatakan di
dalam standar isi berupa empat aspek keterampilan berbahasa yaitu
mendengarkan/menyimak (Listening), berbicara (Speaking), membaca (Reading), dan
menulis (Writing) Serta Structure mulai dari pengenalan konsep sesuai dengan
tuntutan yang ada di Standar Kompetensi (SK) maupun Kompetensi Dasar pelajaran
Bahasa Inggris untuk tingkat SMA.

Cakupan Integratif
Terdapat pada halaman 63-70, serta pada halaman 133-138

24
Cakupan Deskrit
a. Aspek Speaking
- Halaman 3-5
o Melakukan Role Play mengenai Memberikan dan Meminta
Saran, serta Memberitahukan Orang Lain untuk Melakukan
Sesuatu.
- Halaman 24
o Menggunakan Ekspresi Mengkritik Sesuatu
- Halaman 49
o Menggunakan ekspresi Mengakui Kesalahan dan membuat
janji
- Halaman 75
o Menggunakan ekspresi Meminta Orang Lain untuk Melakukan
Sesuatu
- Halaman 96
o Menggunakan ekspresi Meminta Motivasi dari Orang Lain
- Halaman 110
o Menggunakan ekspresi Menyalahkan dan enuduh
- Halaman 121
o Menggunakan ekspresi Penasaran

b. Aspek Listening
- Halaman 6, 23, 44, 56, 99, 120
o Merespon makna transaksional dari pembicaraan
- Halaman 73
o Merespon makna transaksional dan mencari gambar berdasarkan
pembicaraan
- Halaman 109
o Merespon makna ideational dan membuat akhir sebuah cerita

c. Aspek Reading
- Halaman 7, 17

25
o Mengidentifikasi makna dari teks dan mengetahui sistematika dari
Explanation Text
- Halaman 32
o Mengidentifikasi makna dari teks dan mengetahui sistematika dari
Review text
- Halaman 56
o Mengidentifikasi makna dari teks dan mengetahui sistematika dari
News Item
- Halaman 76
o Mengidentifikasi makna dari teks dan mengetahui sistematika dari
Exposition text
- Halaman 105
o Mengidentifikasi makna dari teks dan mengetahui sistematika dari
Narrative text
- Halaman 124
o Mengidentifikasi makna dari teks dan mengetahui sistematika dari
Discussion text
d. Aspek Writing
- Halaman 13
o Menuliskan Explanation Text berdasarkan Flow Chart
- Halaman 21
o Menuliskan paragraph menggunakan gaya penulisan formal
- Halaman 42
o Menuliskan paragraph berdasarkan diagram
- Halaman 60
o Menuliskan Diary tentang Mengakui Kesalahan
- Halaman 83
o Menuliskan Surat Pribadi, Pesan dan Memo
- Halaman 90
o Menuliskan berbagai jenis surat
- Halaman 109
o Menuliskan Narrative Text
- Halaman 119
o Menuliskan Discussion text

3.4 Teknik Penyajian Materi

26
Di dalam buku ini, pendekatan yang digunakan didalam penyusunannya ada
pendekatan Komunikatif. Hal ini sejalan dengan penjelasan pada Bab 2 bahwa
pendekatan komunikatif adalah suatu pendekatan yang memiliki tujuan untuk
membuat kompetensi komunikatif sebagai tujuan pembelajaran bahasa, juga
mengembangkan prosedur-prosedur bagi pembelajaran empat keterampilan berbahasa
(menyimak, membaca, berbicara, dan menulis). Pendekatan ini juga memberikan
kesempatan kepada siswa untuk aktif terlibat secara fisik, mental, intelektual, dan
emosional dengan harapan siswa memperoleh pengalaman belajar secara maksimal,
baik dalam ranah kognitif, afektif maupun psikomotor.

3.5 Media

Media pengajarannya dalam perkembangannya sudah sampai kepada


teknologi pendidikan. Fungsi media pengajaran untuk memperjelas materi yang
disampaikan kepada siswa. Jenis media pengajaran dapat beraneka ragam mulai dari
benda aslinya, gambarnya, duplikatnya. Media pengajaran dalam buku teks ini
menggunakan beberapa media yaitu:
1. Rangkuman dalam kotak.
2. Kolom info yang diberi nama jeda info
3. Gambar
4. Tabel
5. Contoh-contoh wacana
Media-media tersebut merupakan media yang sudah tercantum di dalam buku
ini. Akan tetapi, penambahan media lain seperti Video atau Pemutar suara seperti
Radio dapat menambah daya tarik siswa selama proses pembelajaran berlangsung.

27
BAB IV

PENUTUP

4.1 Kesimpulan
Dari pemaparan di atas mengenai buku teks ini, maka dapat disimpulkan
bahwa buku teks Functional English for Senior High School ini memiliki kriteria-
kriteria yang dibutuhkan dan sudah sesuai dengan Kurikulum Tingkat Satuan
pendidikan (KTSP). Dengan menyajikan materi menggunakan bahasa yang lugas dan
komunikatif yang sangat cocok untuk anak tingkat SMA/MA. Materi yang disajikan
memiliki empat aspek keterampilan bahasa yaitu mendengarkan/menyimak
(Listening), berbicara (Speaking), membaca (Reading) dan menulis (Writing).

4.2 Saran
Penulis mengharapkan kepada rekan-rekan pengajar sekalian untuk lebih
memperhatikan materi ajar yang akan digunakan dalam proses belajar-mengajar di
dalam kelas sebab materi ajar akan menjadi salah satu faktor yang cukup penting
dalam menuntaskan sasaran-sasaran yang ingin dicapai.

28
Selain itu, Penulis mengharapkan makalah ini dapat memberikan alternatif
penunjang dalam pembuatan makalah lainnya lainnya khususnya telaah buku teks.
Penulis menyadari bahwa dalam penelitian ini banyak sekali kekurangannya, maka
diharapkan pada makalah selanjutnya dapat lebih mengembangkan makalah ini
dengan lebih baik.

DAFTAR PUSTAKA

Depdiknas. 2008 Panduan Pemgembangan Bahan Ajar


http://smpn1pasarkemis.files.wordpress.com diakses pada tanggal 5 Januari
2015)

Diknas. 2004. Pedoman Umum Pemilihan dan Pemanfaatan Bahan Ajar Jakarta:
Ditjen Dikdasmenum

Greene dan Petty. 1981. Developing Language Skill in The Elementary Schools,
(Boston : Alyn and Bacon Inc.), hlm. 540-2.

Hamalik, Oemar. 2009. Kurikulum dan Pembelajaran. Jakarta: Bumi Aksara.

Iskandarwassid dan Dadang Sunendar. 2009. Strategi Pembelajaran Bahasa.


Bandung: Remaja Rosdakarya.

Kemdiknas. 2008. Sosialisasi KTSP: Pengembangan Bahan Ajar. Jakarta: Kemdiknas


RI.

Majid, Abdul. 2007 perencanaan Pembelajaran Bandung: PT. Remaja Rosdakarya

29
Muhaimin, 2009. Modul Wawasan Pengembangan Bahan Ajar bab V Malang: LKP2-
I

Mulyasa, E. 2006. Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan. Bandung: Rosda.

_________. 2006. Kurikulum Yang Disempurnakan. Bandung: PT Remaja


Rosdakarya.

Nurhadi. 2003. Pendekatan Kontekstual. Jakarta: Departemen Pendidikan Nasional.

Pannen, P., Purwanto. 2001. Penulisan Bahan Ajar. Jakarta: Dirjen Dikti Depdiknas
Poedjiadi, Anna. 2005. Sains Teknologi Masyarakat Model Pembelajaran
Kontekstual Bermuatan nilai. Bandung: Remaja Rosda Karya.

Prastowo, Andi. 2011. Panduan Kreatif Membuat Bahan Ajar Inovatif (menciptakan
metode pembelajaaran yang menarik dan menyenangkan). Yogyakarta: Diva
Press.

Prof.Dr.Suyono, M.Pd dan Drs.Hariyanto, M.S. 2012. Belajar dan Pembelajaran.


Bandung: Remaja rodaskarya

Sagala, Syaiful. 2010. Konsep dan Makna Pembelajaran. Bandung: Alfabeta

Sulistyowati, E. 2009. Bahan Ajar, (Online), (endahsulistyowati.wordpress.com/


/apakah-perbedaan-bahan-ajar-dan-sumber-belajar/, diakses 21 Maret
2010).

Trianto. 2007. Model-Model Pembelajaran Inovatif Berorientasi Konstruktifistik.


Jakarta: Prestasi Pustaka.

30