You are on page 1of 33

BAB I

PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang

Metalurgi diartikan sebagai Ilmu dan teknologi pemerolehan sampai


pengolahan logam yang mencakup tahapan dari pengolahan bijih mineral,
pemerolehan ( ekstraksi ) logam, sampai ke pengolahannya untuk menyesuaikan
sifat-sifat dan perilakunya sesuai dengan yang dipersyaratkan dalam pemakaian
untuk pembuatan produk rekayasa tertentu.

Berdasarkan tahap rangkaian kegiatannya, metalurgi dibedakan menjadi


dua jenis, yaitu metalurgi ekstraksi dan metalurgi fisika. Metalurgi ekstraksi
yang banyak melibatkan proses-proses kimia baik temperatur rendah dengan cara
pelindian maupun pada temperatur tinggi dengan proses peleburan untuk
menghasilkan logam dengan kemurnian tertentu, dinamakan juga metalurgi
kimia. Meskipun sesungguhnya metalurgi kimia itu sendiri mempunyai
pengertian lebih luas, antara lain mencakup juga pemanduan logam dengan
logam lain atau logam dengan bahan bukan logam, beberapa aspek proses
perusakan logam (korosi) dan cara-cara penanggulangannya, pelapisan logam
secara elektrolit, dll. Adapun proses-proses dari ekstraksi metalurgi / ekstraksi
logam itu sendiri, antara lain adalah pyrometalurgy ( proses ekstraksi yang
dilakukan pada temperature tinggi ), hydrometallurgy ( proses ekstraksi pada
temperature yang relative rendah dengan cara pelindian oleh media cairan ), dan
electrometallurgy ( proses ekstraksi yang melibatkan penerapan prinsip
elektrokimia, baik pada temperatur rendah maupun temperature tinggi ).
Untuk mendapatkan emas murni, perlu dilakukan beberapa tahapan, yang dimulai

dari proses penambangan, pengolahan, peleburan sampai proses pemurnian. Makalah

ini akan membahas proses ekstraksi metalurgi dari emas.

1.2 Maksud dan Tujuan

Adapun maksud dan tujuan dari penulisan ini adalah untuk mengetahui dan
memahami proses-proses ekstraksi mineral / konsentrat, proses pemurnian dan
peleburan emas.

1.3 Batasan Masalah

Dalam makalah ini masalah yang akan dibahas terbatas pada materi atau
teori mengenai proses pemurnian dan peleburan emas.

1.4 Metode Penulisan

Metode yang digunakan dalam penulisan ini adalah metode literatur, dimana
bahan-bahan penulisan berasal dari buku-buku pedoman, materi kuliah, maupun
sumber lain yang masih berkaitan dengan permasalahan yang akan dibahas.
BAB II
TINJAUAN UMUM
2.1 Emas
Emas merupakan unsur kimia yang memiliki nama kimia Aurum dengan simbol
Au dan tergolong ke dalam jenis logam transisi. Emas merupakan logam yang lunak,
mengkilap, berat, dapat ditempa dan ulet. Selain itu, emas juga memiliki daya
konduksi yang tinggi, tahan terhadap oksidasi (tahan korosi) dan juga tahan terhadap
temperatur yang tinggi. Emas merupakan unsur kimia yang relatif inert dan stabil,
tidak bereaksi dengan zat kimia lain, hanya dapat dilarutkan oleh klor, fluorin, dan
aquaregia.

2.1.1 Sifat Fisika Emas


Fase : Padat
Massa jenis : 19.3 g/cm (sekitar suhu kamar)
17.31 g/cm (cair pada titik lebur)
Titik lebur : 1337.33 K (1064.18 C, 1947.52 F)
Titik didih : 3129 K (2856 C, 5173 F)
Kalor peleburan : 12.55 kJ/mol
Kalor penguapan : 324 kJ/mol
Kapasitas kalor : (25 C) 25.418 J/(molK)
Emas sebenarnya termasuk dalam salah satu unsur logam mulai yang
memiliki sifat lunak, kuning, memiliki berat, berkilau dan mudah dibentuk.
Emas memiliki sifat alami yang tidak akan mengalami reaksi bila dicampur
dengan jenis logam lain. Hal inilah yang membuat emas menjadi salah satu
jenis logam mulia.
Kadar ukuran berat emas biasanya dinyatakan dalam ukuran gram.
Kandungan kadar emas dalam sebuah logam emas dinyatakan dalam bentuk
karat. Karat menjadi salah satu ukuran untuk menilai jumlah kadar emas yang
terkandung. Emas murni memiliki nilai 24 karat.
Jumlah nilai karat emas yang diakui adalah 24K, 23K, 22K, 21K, 20K, 19K,
dan 18K.
Ada beberapa jenis emas yang bisa kita lihat sesuai dengan warna. Beberapa
diantaranya adalah:
Emas biru (campuran emas dan besi)
Emas hijau( campuran emas dengan perak dan tembaga)
Emas Pink (campuran emas, tembaga dan perah)
Emas Putih (campuran emas dengan nikel, tembaga, seng, timah dan
mangan)
Emas kuning ( campuran emas dengan perak dan tembaga)

2.1.2 Sifat Kimia Emas


Emas murni sangat mudah larut dalam KCN, NaCN, dan Hg (air raksa).
Emas merupakan unsur siderophile (suka akan besi), dan sedikit chalcophile
(suka akan belerang). Karena sifatnya ini maka emas banyak berikatan dengan
mineral-mineral besi atau stabil pada penyangga besi (magnetit/hematit).
Emas biasanya dipadukan dengan logam yang lain untuk menjadikannya lebih
keras.
Emas merupakan penghantar listrik yang baik, dan tidak dipengaruhi oleh
udara.
Emas murni mengandung antara 8% dan 10% perak, tetapi biasanya
kandungan tersebut lebih tinggi. Paduan awalnya dengan kandungan perak
yang tinggi disebut dengan elektrum. Apabila jumlah perak bertambah,
warnanya menjadi lebih putih.
Paduan dengan tembaga menghasilkan logam berwarna kemerahan, paduan
besi berwarna hijau, dan paduan aluminum berwarna ungu.

Di Bumi, umumnya emas ditemukan dalam bentuk logam (native) yang terdapat
di dalam retakan-retakan batuan kwarsa dan dalam bentuk mineral. Emas juga
ditemukan dalam bentuk emas alluvial yang terbentuk karena proses pelapukan
terhadap batuan-batuan yang mengandung emas (gold-bearing rocks), serta dalam
bentuk sulfida dimana Au terendapkan atau terjebak di dalam mineral-mineral
sulfida. Emas juga ada dalam bentuk endapan dalam hydrothermal veins dalam
tanah. Emas sering ditemukan dalam penambangan bijih perak (Ag) dan tembaga
(Cu).

Proses pengolahan emas dapat dilakukan dengan konsentrasi gravitasi atau


ekstraksi. Beberapa metode ekstraksi emas dari bijihnya adalah hidrometalurgi,
pirometalurgi dan elektrometalurgi.

2.2 Hidrometalurgi
Hidrometalurgi adalah proses ekstraksi, recovery, dan pemurnian dari logam
melalui proses-proses menggunakan larutan aqueous. Logam-logam tersebut dapat
dimurnikan dalam bentuk lain seperti oksida dan hidroksida. Proses Hidrometalurgi
dapat digunakan untuk:

Memproduksi larutan yang memiliki kemurnian logam tertentu yang yang cukup
tinggi, dan dapat diproduksi lebih lanjut melalui proses elektrolisis, contohnya
yaitu tembaga (Cu), seng (Zn), nikel (Ni), emas (Au), dan perak (Ag).
Memproduksi senyawa murni yang dapat digunakan untuk menghasilkan logam
murni dengan metode lain. Contohnya menggunakan alumina murni untuk
menghasilkan aluminium dengan metode smelting.
Dapat digunakan untuk daur ulang logam dari scrap, slag, sludge, anode slime,

Gambar 2. 1 Diagram Alir Proses Hidrometalurgi Secara Umum

dan lain-lain.

Pada umumnya, proses hidrometalurgi terdiri dari:

1. Leaching (Pelindian)
2. Konsentrasi dan pemurnian larutan
3. Recovery
Proses pemurnian larutan dilakukan sebelum proses recovery dari larutan hasil
pelindian. Pemurnian ini bertujuan untuk mendapatkan konsentrasi logam berharga
yang lebih tinggi di dalam larutan tersebut sehingga logam berharga dapat
diendapkan dengan lebih efektif. Metode-metode pemurnian yang umum dilakukan
yaitu proses adsorpsi dengan karbon aktif, adsorpsi dengan ion exchange resins,
ektraksi dengan pelarut (menggunakan pelarut organik), dan presipitasi dengan logam
(sementasi).
Proses ekstraksi emas yang paling umum dilakukan yaitu:

Liquation Separation
Merupakan pemisahan pencairan, dimana proses pemisahan dilakukan dengan cara
memanaskan mineral di atas titik leleh logam, sehingga cairan logam akan
terpisahkan dari pengotornya. Sifat-sifat yang perlu diperhatikan adalah densitas dan
temperatur leleh dari logam yang akan dipisahkan.
Amalgamasi
Merupakan proses ekstraksi emas dengan cara mencampur bijih emas dengan merkuri
(Hg). Produk yang terbentuk adalah ikatan antara emas- perak dengan merkuri yang
dikenal sebagai amalgam (Au-Hg). Amalgamasi merupakan proses ekstraksi emas
yang sederhana dan murah, tetapi penggunaan merkuri sangat beracun. Karena
adanya masalah lingkungan dari proses Amalgamasi, maka penggunaan proses ini
semakin berkurang.
Sianidasi
Sianidasi atau leaching sianida adalah proses pelarutan selektif oleh sianida dimana
hanya logam-logam tertentu yang dapat larut, seperti Au, Ag, Cu, Fe, Hg, Zn, dan
lain-lain. Kelemahan metode sianidasi adalah proses berjalan sangat lambat dan
menggunakan natrium sianida yang beracun. Metode sianidasi akan dibahas lebih
lanjut.

Kelebihan dari proses hidrometalurgi adalah dapat mengolah bijih dengan kadar
logam yang rendah, dapat memisahkan logam yang mirip (seperti Ni dan Co), dapat
dilakukan dalam operasi skala kecil dan mudah untuk diperbesar, modal yang
dibutuhkan lebih kecil dibandingkan dengan pirometalurgi, dan penanganan material
dalam hidrometalurgi lebih mudah, dapat dengan menggunakan pompa dan alat
transportasi berat.

2.2.1 Leaching
Leaching adalah proses pelarutan selektif dari logam berharga dari konsentrat
atau bijih dengan cara mengontakkan dengan larutan. Pengotor akan tetap dalam
bentuk padatan dan dapat dipindahkan langsung menuju waste dump. Leaching dapat
dilakukan pada tekanan udara normal atau tekanan udara tinggi, pada temperatur
kamar ataupun temperatur tinggi. Leaching reagent yang biasa digunakan:

Acid, contoh H2SO4, HCl, HNO3


Base,contoh NaOH
Salt, contoh NaCN
Organic Solution
Leaching agent yang sering digunakan yaitu larutan sianida, yang terbuat dari
NaCN. Sianida akan melarutkan Au dan juga logam lainnya seperti Ag, Fe, Cu, Hg,
dan lainnya .

Pemilihan leaching reagent didasarkan pada jenis mineral bijih, kadar logam
berharga dalam bijih, harga, kemudahan dalam material handling, selektivitas dari
reagen, dapat atau tidaknya reagen tersebut untuk digunakan kembali, korosif atau
tidak terhadap reaktor, dan peraturan pemerintah yang berlaku yang berkaitan dengan
isu pencemaran lingkungan. Dalam leaching emas, sampai saat ini reagen yang
paling banyak digunakan adalah sianida (CN-), walaupun sianida sangat beracun dan
dapat mencemari lingkungan.
Dalam proses leaching emas dengan menggunakan sianida (proses sianidasi), reaksi
yang terjadi yaitu:
4 Au + 8 CN - + O2 + 2 H20 = 4 Au(CN)2- + 4 OH -

Faktor-faktor yang mempengaruhi perolehan dari proses leaching:

Ukuran partikel bijih


Semakin kecil ukuran bijih maka semakin cepat proses leaching, karena luas kontak
antara bijih dengan leaching reagent semakin luas.
Karakteristik bijih (Mineralogi)
Mineralogi dari bijih menentukan variasi operasi proses yang dilakukan.
Mineralogi itu sendiri dipengaruhi oleh komposisi bijih dan tekstur permukaannya.

Gambar 2. 2 Mekanisme Reaksi Sianidasi

(CN-)

Pada umumnya, mineral akan bereaksi lebih cepat jika ada cacat yang terbentuk dari
kristal yang berukuran kecil dalam butirannya. Jika terdapat pengotor dalam kisi
mineral, seperti mineral semi-konduktor sulfida (seperti Fe dalam sphalerite), dapat
mempengaruhi kinetika reaksi. Porositas bijih juga mempengaruhi laju leaching,
semakin porous bijih, maka semakin cepat laju leaching.
Tipe-tipe bijih emas yang digunakan dalam leaching:
1. Bijih oksida
Merupakan bijih dimana material pembentuk bijihnya telah teroksidasi atau
lapuk. Oksidasi atau proses hidrotermal yang terjadi menyebabkan
penghancuran struktur batu, yang menimbulkan peningkatan permeability dari
bijih tersebut. Bijih oksida cukup mudah untuk di-leaching, dapat menghasilkan
recovery yang cukup tinggi dengan proses heap leaching langsung dari bijih
hasil run of mine, dengan ukuran bijih yang cukup besar.
2. Bijih silver-rich
Meskipun emas selalu berasosiasi dengan perak, jika kandungan perak tinggi (>
10 g/ton) dan emas berbentuk electrum dalam bijih tersebut, maka diperlukan
proses untuk memodifikasi sifat bijih tersebut. Semakin tinggi reaktivitas perak
maka akan mempengaruhi perolehan emas dalam proses flotasi, leaching, dan
proses recovery yang dilakukan. Electrum dapat menurunkan laju kinetika
pelarutan karena dapat membentuk silver sulphide layer dengan ketebalan 1 - 2
m, yang dapat menghalangi interaksi larutan sianida dengan emas dan perak
dalam bijih, dan menurunkan perolehan emas dan perak dari bijih.
3. Bijih sulfida
Pada bijih sulfida, emas menempel di dalam matriks bijih sulfida, seperti bijih
besi sulfida seperti pyrite (FeS), marcasite (FeS2), dan pyrrhotite (Fe(1-x)Sx),
arsen sulfida seperti arsenopyrite, orpiment (As2S3), dan realgar (As2S2),
tembaga sulfida seperti chalcopyrite (CuFeS2), chalcocite (Cu2S), dan covellite
(CuS), dan antimoni sulfida seperti aurostibnite (AuSb3) dan stibnite (Sb2S3).
Bijih sulfida tidak reaktif terhadap oksidasi dalam proses leaching dengan
sianida, sehingga sulit untuk meliberasi emas dari bijih sulfida dan
membutuhkan waktu yang lebih lama dibandingkan bijih oksida.
4. Bijih carbonaceous
Bijih carbonaceous adalah bijih yang mengandung komponen carbonaceous
yang dapat menyerap emas yang telah terlarut dalam proses leaching, dan
menyebabkan penurunan recovery emas dalam proses sianidasi. Bijih emas tipe
carbonaceous membutuhkan pre-treatment sebelum dilakukan sianidasi.
Temperatur
Semakin tinggi temperatur maka aktivitas dan kecepatan difusi dari reaksi akan
meningkat. Tetapi, dengan meningkatnya temperatur, akan berpengaruh juga terhadap
kandungan dissolved oxygen (DO), yaitu akan menyebabkan penurunan DO.
Temperatur optimal leaching emas yaitu pada suhu 85 oC.
Durasi leaching
Semakin lama leaching, maka perolehan akan meningkat. Tetapi juga harus dilihat
seberapa efektif proses yang berlangsung setelah proses leaching sudah cukup lama
(laju produksi menurun).
Waktu tinggal
Waktu tinggal adalah lamanya slurry bercampur dengan sianida di dalam tangki
pelindihan. Waktu tinggal tergantung pada ukuran tanki pelindihan dan laju aliran ke
tangki. Karena volume tanki pelindihan adalah tetap, waktu tinggal semata-mata
bergantung pada laju aliran ke sirkuit.

pH
Bila Natrium Sianida ditambahkan ke air, molekul sianida lepas dari bagian sodium.

NaCN Na+ + CN-

Tergantung pada kadar pH lumpur, sianida dapat bereaksi dengan hidrogen di dalam
air untuk membentuk gas yang mematikan.

CN- + H2O HCN + OH-

(Sianida Bebas + Air Gas Sianida Hidrogen + Kaustik Soda)


Pada reaksi di atas, bila pH slurry rendah, reaksi akan bergeser ke kanan. Bila pH
slurry tinggi, reaksi akan bergeser ke kiri. Maka kadar pH harus tinggi untuk
mencegah terbentuknya gas HCN yang mematikan, serta untuk memaksimalkan
ketersediaan sianida untuk proses pelindihan. Untuk itulah Lime slurry ditambahkan
ke Leach Feed Hopper dengan laju yang dikontrol berdasarkan pH dalam tangki

Gambar 2. 3 Pengaruh pH Terhadap Konsentrasi Sianida

leaching. Terdapat juga untuk penambahan lime slurry secara manual untuk tangki
leach No.1 dan / atau tank leach No.3. Persentase HCN yang dihasilkan berkaitan
dengan pH ditunjukkan pada diagram di bawah ini:

pH minimal yang digunakan dalam pengolahan bijih emas di PTAR sekitar 10.5-11.
Intensitas agitasi
Pelarutan emas biasanya terjadi berdasarkan fenomena perpindahan massa pada
sianidasi, dan lajunya dipengaruhi oleh ketebalan lapisan difusi dan karakteristik
pencampuran (kehomogenan) dari bulk solution. Pada slurry leaching, ketebalan
lapisan difusi juga dapat diperkecil dengan cara mencampurkan solid dan solution
dengan agitasi menggunakan alat mekanik (impeller) atau udara. Dengan
meningkatkan derajat melalui agitasi pada campuran tersebut maka kecepatan larut
emas akan meningkat secara signifikan karena ketebalan lapisan difusi berkurang dan
juga akan meningkatkan kehomogenan slurry dalam bulk solution.
Densitas slurry (% solid)
Jika % solid terlalu tinggi dengan waktu tinggal yang sama maka recovery Au dan Ag
akan menurun. Jika % solid terlalu rendah maka pemakaian sianida akan berlebih,
dan akan menyebabkan proses menjadi tidak ekonomis. Jika terlalu tinggi, maka
tekanan parsial oksigen akan berkurang sehingga menyebabkan konsentrasi dissolved
oxygen (DO) menurun. Densitas yang digunakan dalam PTAR sebesar 50 % - 55%.

Penggunaan oksidator
Umumnya dengan adanya oksidator, maka reaksi akan semakin cepat. Saluran-
saluran penambahan oksigen yang masing-masing dilengkapi dengan rotameter
pengukur aliran yang dapat disetel memungkinkan oksigen yang mengandung gas
masuk ke slurry melalui O2 Sparges. Air Sparges (pipa baja) dipasang pada setiap
tangki untuk mengalirkan oksigen atau udara yang mengandung gas ke lumpur.
Sparges memanjang ke bawah ke dalam lumpur sehingga gas dapat dilepaskan di
bawah puncak bilah-bilah agitator.

Ada beberapa tipe teknik leaching, yaitu:

Leaching in Place (in situ leaching)


Disebut juga solution mining. Leaching dilakukan dimana bijih
ditemukan, tanpa adanya transportasi. Durasi leaching dapat
berlangsung selama berbulan-bulan atau tahunan. Diaplikasikan
untuk bijih kadar rendah. Syarat agar bisa dilakukan in situ leaching
yaitu bijih memiliki sifat permeable dan berada di tempat yang non-
permeable. Metode yang dilakukan yaitu spraying method dan
injection method.
Heap Leaching
Pada heap leaching, bijih yang diremukkan ditumpuk pada liners
yang bersifat impermeable, seperti HDPE, aspal, dan concrete.
Leaching agent disemprotkan pada tumpukan dan terjadi perkolasi
menembus tumpukan (tidak ada pemisahan solid-liquid). Kemudian
Pregnant Leach Solution dikumpulkan pada PLS pond. Durasi
leaching 3-12 bulan. Proses-proses pada heap leaching yaitu
peremukan bijih, agglomerasi (tidak selalu dibutuhkan), penumpukan
bijih pada leach pad, penyiraman dengan leaching agent dan
sirkulasi pada tumpukan bijih, pengumpulan PLS, recovery dari
logam berharga, dan regenerasi leaching agent.
Tipe-tipe leach pad yaitu reusable on/off pad, permanent pad, dan
valley fill heap. Pada on/off pad, dilakukan proses stacking, leaching,
dan pembersihan tumpukan. Leach pad dapat digunakan kembali.
Luas tumpukan pada on/off pad tidak terlalu besar. Bijih yang telah
di-leaching ditumpuk pada sebuah tempat dan dapat dibuang. Pada
permanent pad, leach pad tidak dapat digunakan kembali untuk
leaching berikutnya. Dilakukan reklamasi setelah satu siklus leaching
selesai. Membutuhkan luas tumpukan yang lebih besar. Pada valley
fill, lembah-lembah alami digunakan untuk penumpukan bijih dan
leaching. Leach pad dilapisi dengan material impermeable, seperti
geomembrane, concrete, aspal, dan clay (lempung).
Percolation / Vat Leaching
Sesuai untuk bijih yang porous, tidak lengket dan tidak menimbulkan
masalah dalam saluran-saluran fluida. Mempunyai medium yang
berfungsi sebagai filter, seperti kerikil, pasir, atau material lain.
Ukuran tangki besar, dan biasanya dilapisi karet, polimer, atau beton
untuk proteksi dari korosi. Durasi pelindian adalah selama berhari-
hari. Keuntungan dari proses ini yaitu tidak perlu adanya
penggerusan dan juga proses pemisahan solid-liquid.
Atmospheric Agitation Leaching
Atmospheric agitation leaching memanfaatkan proses agitasi untuk
mempercepat laju leaching. Sebelum leaching, bijih diremukkan
terlebih dahulu untuk liberasi logam berharga dari pengotornya.
Durasi leaching berlangsung selama beberapa jam. Biasanya modal
yang dibutuhkan untuk atmospheric agitation leaching lebih tinggi
dibandingkan dengan heap leaching dan percolation leaching, karena
dibutuhkan instrumen alat untuk proses agitasi, seperti agitator,
reactor atau tank. Ada 2 metode agitasi, yaitu prenumatical dan
mechanical. Pneumatical memanfaatkan injeksi udara untuk proses
agitasi, sedangkan mechanical memanfaatkan impeller yang berputar
dengan menggunakan motor. Dalam prosesnya, agitation tank dapat
terbuka atau tertutup (untuk mengurasi penguapan solution).
Pressure Leaching
Teknik leaching ini menggunakan temperatur tinggi (di atas 100 oC)
dan tekanan serta reaktor bertekanan (autoclave). Laju leaching dari
proses pressure leaching lebih cepat dibandingkan metode leaching
lainnya di atas.
Gambar 2. 4 Pneumatical Agitator (kiri) dan Mechanical Agitator (kanan)

2.4 Elektrometalurgi
Elektrometalurgi merupakan proses ekstraksi dan pemurnian logam dengan
menggunakan energi listrik. Proses ekstraksi dan pemurnian logam meliputi
electrowinning dan electrorefining yang dilakukan baik dalam larutan aqueous
maupun dalam lelehan garam. Selain ekstraksi dan pemurnian logam, aplikasi proses
elektrometalurgi juga meliputi proses pelapisan logam seperti electroplating,
anodisasi, baterai, fuel cell, dan pengendapan logam dari ionnya untuk pengendalian
lingkungan (environmental remediation).

Proses ekstraksi logam dengan electrowinning merupakan proses pengendapan logam


untuk mengambil kembali logam dari larutan hasil leaching dengan cara elektrolisis,
yaitu dengan proses reduksi dan oksidasi. Dalam proses tersebut, digunakan anoda
dan katoda. Reaksi umum yang terjadi pada anoda dan katoda yaitu:

Anoda : 2 H2O = O2 + 4H+ + 4e

Katoda : Au+ + e = Au

Pada proses electrowinning, kedua reaksi tersebut terjadi pada saat bersamaan. Reaksi
reduksi terjadi di katoda dan reaksi oksidasi terjadi di anoda. Umumnya digunakan
anoda yang inert, seperti paduan Pb dan Pt. Jumlah katoda pada proses

Gambar 2. 5 Skematik Sel Elektrowinning


electrowinning lebih banyak daripada anoda, yaitu katoda = anoda + 1. Arus dan
voltase yang digunakan dihitung dengan menggunakan persamaan Nerst. Produk dari
electrowinning adalah lumpur dengan kadar logam berharga yang tinggi, yang
selanjutnya dapat dilebur. Kehilangan panas, hambatan elektrolit, evolusi gas di
anoda menjadi faktor yang dapat meningkatkan konsumsi energi. Dari reaksi yang
terjadi di katoda, tipikal tegangan operasi berkisar antara 2 - 5 Volt, energy yang
dikonsumsi 2 3.5 kWH/kg deposit, dengan efisiensi arus sebesar 80 90%.

Dimana M merupakan logam yang akan diendapkan, seperti Zn, Cu, Ni


Electrorefining merupakan proses pemurnian logam secara elektrolisis. Logam yang
akan dimurnikan dicor sebagai anoda. Logam yang akan dimurnikan dilarutkan dari
anoda dan diendapkan kembali di katoda. Contohnya adalah pemurnian Ni,
pemurnian Cu, pemurnian Au dan Ag dari bullion.

Gambar 3. 6 Skematik Sel Elektrorefining


Anoda: M(impure) = Mn+ + ne
Katoda : Mn+ + ne = M(pure)

Esel = 0, karena reaksi anoda adalah kebalikan dari reaksi di katoda. Tegangan sel dan
kebutuhan energi listrik lebih kecil secara signifikan daripada tegangan sel dan
kebutuhan energi listrik pada proses electrowinning.

Massa logam yang dilarutkan atau diendapkan di anoda dan katoda berdasarkan
Hukum Faraday yaitu:

I t efisiensi arus
m
n F
dimana:
m= massa logam yang diendapkan atau dilarutkan di elektroda (gram)
I= arus listrik (A)
T= waktu (detik)
n= jumlah elektron yang terlibat reaksi
F= konstanta Faraday = 96485 Coulomb / ekivalen

Efisiensi arus (C.E) :

C.E.
massa aktual I for deposition
massa teoritik
x100% C.E x100%
I applied

Konsumsi energi (E):


E=VxIxt
dimana:
E = konsumsi energi (kWH/ kg deposit)
V = tegangan sel (Volt)
I = arus (A)
t= waktu (jam)

Efisiensi tegangan (V.E):

Tegangan Operasi
Tegangan operasi adalah kontribusi dari overpotential-overpotential selama
elektrolisis, seperti overpotensial karena tahanan elektrolit dan koneksi-koneksi
listrik. Tipikal tegangan operasi < 0,5V, konsumsi energi <0,5 kWh/kg deposit,
efisiensi arus: 90 99%.

Tegangan operasi = tegangan dekomposisi + overpotensial


Tegangan dekomposisi (Ed)
Ed = -Eanoda (red) + Ekatoda (red)

Overpotensial (h) atau tegangan lebih dapat diakibatkan oleh:

Polarisasi aktivasi
Polarisasi konsentrasi akibat kekurangan konsentrasi ion logam
yang diendapkan di muka katoda
Hambatan ohmic elektrolit
Hambatan penghantar listrik (bus bar)
Evolusi gas di katoda dan anoda : H2, O2, Cl2

Efisiensi Energi (E.E):

E. E C.E x V. E
Vdekomposisi
V .E x 100%
Vaktual
BAB III

PROSES PENGOLAHAN DAN EKSTRAKSI

III.1 Metode Pereduksian Ukuran Bijih Emas.

Metode Pengolahan Bijih Emas dengan Proses Sianidasi dapat dilihat

pada gambar ore processing dibawah ini . Batuan yang mengandung emas dan

perak dibawa dari tambang menuju stockpile kemudian dilakukan crushing

dan screening.

1. Crushing dan Screening

Umumnya mineral yang ada dalam bijih kadarnya masih rendah

dengan distribusi yang heterogen. Maka untuk mengatasi hal tersebut

dilakukan penghancuran/crushing. Crushing adalah suatu proses yang

bertujuan untuk melibrasi mineral yang diinginkan agar terpisah dari


mineral pengotor yang lain menggunakan alat crusher atau 6.5 inchi

(ukuran kasar).

Selanjutnya bijih dilakukan screening, yaitu pengayakan yang

dilakukan terhadap suatu material untuk memperoleh ukuran-ukuran

tertentu, berdasarkan besarnya lubang ayakan. Adapun tujuan dari

screening adalah : untuk mendapatkan ukuran butir dari material yang

seragam, untuk memenuhi persyaratan dalam proses konsentrasi, dan

untuk keperluan industri. Ilustrasi dapat dilihat pada Gambar 3.6.

GAMBAR 3.1

CRUSHER DAN ALAT SCREENING

2. Milling
Bijih emas yang telah dilakukan screening selanjutnya dimasukkan

ke dalam mill feederball mill (Gambar 3.3) , sehingga diperoleh ukuran

-74 m = -200 mesh, dengan persen solid 40%, yaitu 40 % solid dan 60 %

cair.

GAMBAR 3.2

BALL MILL

III.2. Metode Ekstraksi Bijih Emas dengan Proses Sianidasi.

Proses ini disebut juga dengan proses kombinasi antara hidro dan

elektrometalurgi. Proses ini memerlukan suatu reagen kimia dan aplikasi dari

elektrokimia dalam pemisahan konsentrat dengan emas murni. Dalam

elektrokimia memerlukan elektroda.

Elektroda harus memiliki sifat-sifat :

a. Konduktor listrik yang baik.


b. Potensial yang terbentuk di sekitar elektroda harus rendah.

c. Tidak mudah bereaksi dengan metal yang lain dan tidak membentuk

campuran yang dapat mengganggu proses elektrolisa.

Bila elektroda itu padat, ada syarat tambahan agar proses elektrolisa

berlangsung memuaskan, yaitu harus :

a. Mudah diperoleh atau disiapkan dengan murah.

b. Tahan korosi dalam zat larut.

c. Stabil, kuat dan tidak mudah terkikis (resistance to abrasion).

d. Harus murah harganya.

Elektrolit harus memiliki sifat-sifat :

a. Memiliki daya hantar ion yang tinggi.

b. Tidak mudah terurai atau bereaksi (high chemical stability).

c. Memiliki daya larut yang tinggi bagi metal yang diinginkan.

Peralatan yang biasa dipakai electric arc furnace.

Proses pengambilan atau pemisahan emas yang paling sederhana adalah

pendulangan, yang dapat langsung memperoleh pasir emas. Pada umumnya

proses pengambilan atau pemisahan emas dilakukan dengan penambahan

reagent kimia. Proses ini sering kita sebut ekstraksi. Proses ekstraksi dapat
dibagi menjadi dua, yaitu : amalgamasi dan sianidasi dan kombinasi

keduanya.

Pemilihan proses pemilahan pada dasarnya banyak dipengaruhi oleh

penelitian mineralnya. Dari hasil penelitian mineral akan dapat diketahui

antara lain : derajat liberasi emas, distribusi ukuran emas, mineral-mineral

pengotor dan sebagainya.

Apabila terlihat adanya bijih sulfida, telurida, atau karbon besar

kemungkinan bijih adalah refraktori. Dari penelitian mineral akan dilihat pula

perlu tidaknya preparasi bijih. Dan kalaupun diperlukan akan dapat

diperkirakan sejauh mana tingkatannya. Untuk tingkatannya bijih emas di PT.

ANTAM menggunakan metoda sianidasi.

III.2.1 Proses Sianidasi

Proses ini dipilih jika ukuran emas cukup halus (<100#). Untuk

emas yang berukuran kasar akan memerlukan waktu pelarutan yang

cukup lama dalam larutan sianid hingga proses kurang ekonomis.

Adapun proses sianidasi adalah suatu proses yang berdasarkan

pelarutan yang selektif dari emas, perak, atau senyawanya dalam

larutan encer sianid (0,08-0,1). Dari alkali metal atau alkali tanah

dengan aerasi. Flowset sianidasi yang dipraktikkan di PT. ANTAM

dapat dilihat pada Gambar 3.3.


GAMBAR 3.3

FLOWSET SIANIDASI

1. Unit pelarutan

Senyawa sianid yang biasa digunakan dalam proses sianidasi

adalah sodium sianid (NaCN). Konsentrasi sianid ini

dipertahankan konstan dengan cara memeriksa contoh setiap

periode tertentu. Proses pelarutan terjadi dengan kehadiran oksigen

bebas dalam larutan dengan kondisi pH 11 12. Penambahan

oksigen dengan cara memompakan udara kedalam pulp yang

berasal dari kompresor.


Sebagai pengatur pH digunakan kapur yang ditambahkan pada saat

bijih digiling diunit miling. Reaksi pelarutan berjalan menurut

reaksi Elsner sebagai berikut :

4Au + 8NaCN + O2 + 2H2O ------ 4 NaAu(CN)2 + 4NaOH

4Ag+ 8NaCN + O2 + 2H2O ------ 4 NaAg(CN)2 + 4NaOH

Disamping itu reagen-reagen yang diperlikan untuk pelarutan

logam emas dan perak tersebut maka ditambahkan juga litharge

(PbO) fungsinya untuk mempercepat pelarutan logam Ag yang

berupa sulfida perak juga untuk mengurangi adanya NaCN yang

termakan oleh sebagian sulfida yang berasal dari mineral-mineral

yang ada dalam bijih.

2. Unit Filtrasi.

Pemisahan larutan kaya dari ampasnya dilakukan dengan

filtrasi. Peralatan filter yang digunakan adalah tipe batch proses

butter filter yang bertujuan memisahkan filtrat yang mengandung

logam emas dan perak terlarut dari pertikel-partikel solid batuan

sisa. Proses filtrasi untuk pengambilan air kaya ini bergantian

dengan proses pencuciannya, sehingga partikel solid batuan sisa

yang dihasilkan benar-benar bersih dari kandungan air kaya.

Sedangkan filtrat berupa air kaya dan air pencucian dipompakan ke


thickner II. Ampas pasir residu dari hasil filtrasi diolah lebih lanjut

dengan flotasi untuk mendapatkan konsentrat timbal dan

konsentrat seng.

3. Proses Presipitasi

Proses presipitasi ada dua macam yaitu merill crowe dan prose

karbon aktif.

a. Meril Crowe.

Proses ini adalah suatu proses dimana logam emas dan

perak yang berupa senyawa komplek dalam larutan NaCN,

dibebaskan dan ditangkap dengan mempergunakan serbuk seng

sebagai reagen. Berikut ini diberikan prosesnya :

Larutan air kaya produk yang ditampung dalam rich

solution tank dipompakan ke clarifier untuk dibersihkan

sehingga larutan air kaya tersebut jernih bebas dari kotoran

berupa partikel-partikel solid yang masih ada yang akan

mengganggu proses. Kemudian dilakukan proses deareation

pada larutan air kaya karena proses reaksi presipitasi terjadi

dalam kondisi dimana larutan tidak mengandung oksigen

bebas, kemudian ditambahkan serbuk seng dan dipompakan ke

kantong-kantong filter.
Reaksi kimia yang terjadi merupakan reksi pendesakan

logam emas dan perak dari senyawa kompleks oleh logam seng

menurut deret clenel diman kemudian karena gaya

elektromotive, logam emas dan perak menempel pada serbuk

seng yang berlebih dan tertinggal dalam kantong filter. Reaksi

sebagai berikut :

2NaAu(CN)2 + Zn ------- Na2Zn(CN)4 + 2Au

2NaAg(CN)2 + Zn ------- Na2Zn(CN)4 + 2Ag

b. Carbon in Leach

Emas diadsorbsi oleh karbon aktif apabila bijih masih

mengandung carbonaceous material yang dapat mengadsorb emas

dalam larutan dan ikut terbuang keampas dengan reaksi sebagai

berikut :

2Au(CN)2 + Ca +2 + 2C Ca[C-Au(CN)2]2

- Elution

Elusi adalah proses pelepasan emas dan perak dari karbon

dengan menggunakan zat katalisator yaitu PbNO3. Fungsi dari

katalisator ini adalah untuk menyerap zat pengotor dan untuk

mempercepat reaksi. Proses yang terjadi yaitu :


inorganic fouling.

2CN + O2 + H2O + 4OH 2CO3 + 2NH3

Ca2+ + CO3 2- CaCO3

hidrochloric acid washing

2+
CaCO3 + 2HCl Ca + 2Cl + CO2 + H2O

2 Ca[C-Au(CN)2]2 + 4H+ 2 Ca2+ + 2Ca[C-Au(CN)2 ]+

4HCN

elution
+

C-Au(CN)2 + NaCN Na + Au(CN)2 + C

C-OH + OH C-O + H2O

- Electrowinning

Yaitu proses penyerapan Au dan Ag dari larutan menjadi

padat melalui proses elektrolisis.

Anoda : 2OH O2 + H2 + 2e

Katoda : 2 Au(CN)2 + 2e 2Au + 4CN

Overall : 2 Au(CN)2 + 2OH 2Au + O2 + 4CN

III.3 Pemurnian
Proses pemurnian emas dilakukan dengan cara elektrorefining. Emas

yang akan dimurnikan baik dari hasil pengolahan amalgamasi maupun

Cyanidasi, untuk dapat dicetak menjadi anode harus memenuhi persyaratan

kadar emas paling rendah\95%. Apabila kandungan emas Belem memenuhi

kandungan tersebut, maka perlu dilakukan proses pretreatment agar kandungan

emas dapat ditingkatkan sesuai dengan persyaratan.

Proses pemurniannya akan melalui jalar yang lebih panjang, pertama-

tama presipitat akan dilebur untuk memisahkan logam mulia (Au, Ag) dari

ganguenya terhadap metal yang dihasilkan dari peleburan dilebur lagi untuk

dicetak menjadi anode.

Anode yang kaya akan kandungan perak diproses dalam sel elktrolisa

perak. Perak akan larut dalam elektrolit dan kemudian diendapkan pada katode

sebagai perak murni, sedangkan emasnya tidak larut dan membentuk slime.
GAMBAR 3.4

FLOWSET PEMURNIAN

Dalam sel elktrolisa emas dalam anode akan larut kedalam elektrolit

yang selanjutnya diendapkan dalam katode yang dibuat dari plat tipis emas

murni. Elktrolit dalam sel pemurnian emas dalam larutan amas florida dengan

konsentrasi tertentu. Apabila emas yang diendapkan sudah cukup banyak dan

katode sudah tebal, maka katode diangkat dari cell, dicuci dan dilebur. Emas

murni yang dihasilkan menghasilkan 99,99 % emas. Emas murni ini dilebur dan

dicetak sebagai emas balok atau bar dengan standar industri bahan baku

tertentu.

III.4. Produk Akhir

Disamping mengolah dan memurnikan presipitat, PT. Antam

memurnikan dan melakukan lebur cap barang rongsokan emas, perak dan

platina. Selain itu, unit logam mulia menghasilkan barang atau logam industri
seperti patri emas, jarum uji, larutan penyepuh, perhiasan, medali emas, dan

perak, emas paladium dan lempengan perak.

III.5 Pengolahan Limbah Dengan Cyanide Dectruction Plant.

Yaitu proses pengolahan limbah hasil pengolahan bijih emas dimana

sianida yang merupakan tailing diolah kembali agar tidak membahayakan

lingkungan. Sianida padat yang telah diproses selanjutnya digunakan sebagai

bahan pengisi pada tambang, sedangkan air yang didapat diproses lagi untuk

selanjutnya digunakan kembali dalam proses milling.

GAMBAR 3.5

ALAT CYANIDE DECTRUCTION PLANT

CN- + H2O2 CNO + H2O

Cu2+ sebagai catayst ; 5CN + 5H2O2 + Cu + 4OH 5CNO + 2Cu(OH)2

+ 5H2O. Ilustrasi dapat dilihat pada Gambar 3.4.


Skema pengolahan bijih emas dapat memberikan kemudahan dalam

pemahaman dan skema tersebut dapat dilihat pada Gambar 3.6 sebagai berikut :

ORE PROCESSING
Crushing and Screening

Milling

Leaching

Carbon in Leach
Tailing
Treatment
Elution
Tailing Back
Dam Filling
Electrowinning

Smelting CN Destruction
Plant Stope

GAMBAR 3.6

ORE PROCESSING