You are on page 1of 24

BAB 1

STATUS PASIEN
1.Identitas Pasien
Nama : Ny. Ernawati
Usia : 21 tahun
Pekerjaan : IRT
Alamat : Sabak
Nama Suami : Tn. Reza Pahlevi
Usia Suami : 18 tahun
Pekerjaan : Buruh
MRS : 23 Agustus 2011, jam.08.40 WIB

I. Keluhan Utama
Os datang dengan keluhan nyeri perut dan mulas,sejak sore kemarin. Os mengaku
hamil, dan os datang ingin diperiksa untuk operasi SC (Sectio Caesarea).

II. Keluhan Tambahan : os merasa pusing dan lemas dikarenakan mual dan muntah

III. Riwayat Penyakit Sekarang :


Os datang dengan keterangan G1P0A0, gravida 36 37 minggu, kala I inpartu fase
laten, JTH intrauterin dengan presentasi bokong.Os datang dengan keluhan nyeri perut
yang menjalar ke pinggang, sejak sore kemarin , dan dari anamnesis diketahui bahwa :
- Os merasakan adanya gerakan janin aktif
- Os merasakan sesak (terasa penuh di bagian atas, dan gerakan terasa lebih banyak
pada bagian bawah)
- Perdarahan (-)
- Keluar cairan pervaginam (-)

- Pusing (+) , mual/muntah (+),

- Pandangan kabur (-), kejang (-)

- Imunisasi TT I dan TT II (lengkap)

1
- Belum pernah dilakukan pemeriksaan USG sebelumnya.

V. Riwayat Penyakit Dahulu

- Riwayat diurut (+).


- Riwayat hipertensi (-)
- Riwayat penyakit jantung (-)
- Riwayat operasi (-)
- Riwayat kista ovarium sebelumnya (-)
- Riwayat penyakit keluarga (-)
- Riwayat Sosial/Obstetri
HPHT : 05 12 2010
TP : 12 09 2011
UK : 36 37 minggu
Diagnosa : G1P0A0 Gravida 36 37 minggu, kala 1 inpartu fase laten JTH intrauterin
dengan presentasi bokong

Riwayat Persalinan : Ini (belum pernah sebelumnya)

Riwayat Perkawinan : Os menikah 1 kali dan sudah berlangsung selama 6 tahun.


Riwayat Kontrasepsi : Os mengaku pernah menggunakan kontrasepsi suntik, pil,
tidak teratur.

VI. Pemeriksaan Fisik


KU : Baik
Kesadaran : Compos Mentis
TD : 120/80 mmHg
FN : 78 x/menit
FP : 20x/menit
TB : 148 cm
BB : 52 Kg (kenaikan 11 kg, sebelumnya 41 kg)
Suhu : 36,3C
Mata : ka -/- , si -/-

2
Leher : dbn
Paru : rhonki (-), wheezing (-)
Jantung : murmur (-), gallop (-)
Abdomen : pembesaran (+), striae ( +)
Ekstremitas: oedema ()

VIII . Status Obstetri/Ginekologi

Pada pemeriksaan luar, didapat :

Leopold I : T.FUT pertengahan proceccus xyphoideus-umbilikus, kepala


Leopold II : punggung di perut kanan, dan
ekstremitas di perut kiri.
Leopold III : teraba bokong janin (presentasi bokong).
Leopold IV : masuk PAP 4/5
TFU : 30 cm
TBJ : 3239 gr.
DJJ : 148x/menit
His : 3 x 10 selama 25

Periksa Dalam
23 Agustus 2011 01.00
- Portio: tipis
- Pembukaan : 9 cm
- Ketuban (-)
- Presentasi : bokong
- Penurunan: kepala di Hodge I.

IX. Pemeriksaan Penunjang


Laboratorium : - Sel darah putih : 7.400/mm3 ( normal)

- Sel darah merah : 4.480.000/mm3 (normal)


- Hemoglobin : 12,9 g/dl (normal)
- Trombosit : 225.000/mm3 (normal)
- Hematokrit : 0,183 % ( normal)

3
Diagnosis :
Ibu : G1P0A0 Gravida 36- 37 minggu inpartu kala 1 fase laten
Bayi : JTH intrauterin dengan presentasi bokong (letak sungsang)
Tindakan : SC (Sectio Caesarea) elektif

X. Penatalaksanaan
P : -Informed consent

Berikan Asuhan sayang Ibu

Observasi KU dan TTV

Observasi TD dan DJJ

Os dipersiapkan untuk operasi SC (Sectio Caesarea)

XI. TATALAKSANA OPERASI


- Waktu : 24 Agustus 2011 jam 09.00 WIB
- Operator : dr. Panggayuh, SpOG
- Langkah Langkah Operasi:
1. Stadium narkose
2. Dilakukan irisan Vanenstil
3. Dinding perut dibuka lapis demi lapis
4. SBR dibuka , dilebarkan secara tajam
5. Bokong bayi dilahirkan
6. Bayi dilahirkan preabdominal
7. Suction mulut dan hidung bayi
8. Plasenta dilahirkan preabdominal lengkap
9. SBR dan dinding perut ditutup lapis demi lapis
10. Instruksi Post operasi :
- Os boleh minum bertahap
- Tidur pakai bantal
- Celocit 2 x 750 mg

4
- Alinamin F 2 x 1 amp
- Rolac 2 amp/ kolf
- Caltrofem supp 2x1

XII. DIAGNOSIS POST OPERASI

-Ibu : P1 A0 post op SC atas indikasi presentasi bokong

(letak sungsang)

- Neonatus : JK () perempuan, BB 3100 gram, PB : 50 cm

XIII. FOLLOW UP

-25 Agustus 2011 (Post Op SC hari I)

S: Nyeri luka operasi

O: KU : sedang, TD : 120/ 80 mmHg,

S/N : 36,2 C /82x /i

A : Post Op SC hari 1

P : - informed consent

- observasi KU dan TTV

- asuhan sayang ibu

- memberikan injeksi pada pasien sesuai advis dokter

- 26 Agustus 2011 (Post Op SC Hari Ke 2)

S : Nyeri luka operasi

O : KU : baik. TD : 110/ 70 mmHg,

S/N : 36,1 C /80x /i

A : Post Op SC hari ke 2

P : - informed consent

5
- observasi KU dan TTV

- asuhan sayang ibu

- memberikan injeksi pada pasien sesuai dengan advis (lanjut terapi dokter)

- 27 Agustus 2011 (Post Op SC hari ke 3)

S: Nyeri luka operasi

O: KU : sedang, TD : 120/ 80 mmHg,

S/N : 36,2 C /82x /i

A : Post Op SC hari 3

P : - informed consent

- observasi KU dan TTV

- asuhan sayang ibu

- memberikan injeksi pada pasien (lanjut terapi dokter)

6
BAB II

TINJAUAN PUSTAKA

DEFINISI

Persalinan sungsang adalah persalinan untuk melahirkan janin yang membujur dalam
uterus dengan bokong atau kaki pada bagian bawah dimana bokong atau kaki akan
dilahirkan terlebih dahulu daripada anggota badan lainnya.

Letak sungsang terjadi dalam 3-4% dari persalinan yang ada. Terjadinya letak sungsang
berkurang dengan bertambahnya umur kehamilan. Letak sungsang terjadi pada 25% dari
persalinan yang terjadi sebelum umur kehamilan 28 minggu, terjadi pada 7% persalinan yang
terjadi pada minggu ke 32 dan terjadi pada 1-3% persalinan yang terjadi pada kehamilan aterm.

ETIOLOGI

1. Prematuritas karena bentuk rahim relatif kurang lonjong, air ketuban masih banyak dan
kepala anak relatif besar
2. Hidramnion karena anak mudah bergerak.
3. Plasenta previa karena menghalangi turunnya kepala ke dalam pintu atas panggul.
4. Panggul sempit
5. Kelainan bentuk kepala: hidrocephalus, anencephalus, karena kepala kurang sesuai
dengan bentuk pintu atas panggul.

PREVALENSI

Letak sungsang terjadi dalam 3-4% dari persalinan yang ada. Terjadinya letak
sungsang berkurang dengan bertambahnya umur kehamilan. Letak sungsang terjadi
pada 25% dari persalinan yang terjadi sebelum umur kehamilan 28 minggu, terjadi
pada 7% persalinan yang terjadi pada minggu ke 32 dan terjadi pada 1-3% persalinan
yang terjadi pada kehamilan aterm.

7
PATOFISIOLOGI

Letak janin dalam uterus bergantung pada proses adaptasi janin terhadap ruangan
dalam uterus. Pada kehamilan sampai kurang lebih 32 minggu, jumlah air ketuban
relatif lebih banyak, sehingga memungkinkan janin bergerak dengan leluasa. Dengan
demikian janin dapat menempatkan diri dalam presentasi kepala, letak sungsang atau
letak lintang.

JENIS JENIS LETAK SUNGSANG

1. Presentasi bokong (frank breech) / bokong murni (50-70%). Pada presentasi bokong
akibat ekstensi kedua sendi lutut, kedua kaki terangkat ke atas sehingga ujungnya terdapat
setinggi bahu atau kepala janin. Dengan demikian pada pemeriksaan dalam hanya dapat
diraba bokong.

2.Presentasi bokong kaki sempurna ( complete breech ) ( 5-10%). Pada presentasi bokong
kaki sempurna disamping bokong dapat diraba kaki.

3. Presentasi bokong kaki tidak sempurna dan presentasi kaki ( incomplete or footling ) (
10-30%). Pada presentasi bokong kaki tidak sempurna hanya terdapat satu kaki di
samping bokong, sedangkan kaki yang lain terangkat ke atas. Pada presentasi kaki bagian
paling rendah adalah satu atau dua kaki

4. Presentasi lutut, dibagi atas :

Lutut sempurna, dimana kedua lutut teraba waktu pemeriksaan dalam.

Letak lutut tidak sempurna, dimana hanya salah satu lutut yang teraba pada waktu
pemeriksaan

DIAGNOSIS

Diagnosis letak sungsang pada umumnya tidak sulit:

1. Pada pemeriksaan luar, di bagian bawah uterus tidak dapat diraba bagian yang keras
dan bulat, yakni kepala, dan kepala teraba di fundus uteri.
2. Kadang-kadang bokong janin teraba bulat dan dapat memberi kesan seolah-olah
kepala, tetapi bokong tidak dapat digerakkan semudah kepala.

8
3. Seringkali wanita tersebut menyatakan bahwa kehamilannya terasa lain daripada
kehamilannya yang terdahulu, karena terasa penuh di bagian atas dan gerakan terasa
lebih banyak di bagian bawah.
4. Denyut jantung janin pada umumnya ditemukan setinggi atau sedikit lebih tinggi
daripada umbilikus.
5. Apabila diagnosis letak sungsang dengan pemeriksaan luar tidak dapat dibuat, karena
misalnya dinding perut tebal, uterus mudah berkontraksi atau banyaknya air ketuban,
maka diagnosis ditegakkan berdasarkan pemeriksaan dalam. Apabila masih ada
keragu-raguan, harus dipertimbangkan untuk melakukan pemeriksaan ultrasonografik
atau M.R.I. ( Magnetic Resonance Imaging ).
6. Setelah ketuban pecah, dapat diraba lebih jelas adanya bokong yang ditandai dengan
adanya sakrum, kedua tuber ossis iskii, dan anus. Bila dapat diraba kaki, maka harus
dibedakan dengan tangan. Pada kaki terdapat tumit, sedangkan pada tangan
ditemukan ibu jari yang letaknya tidak sejajar dengan jari-jari lain dan panjang jari
kurang lebih sama dengan panjang telapak tangan.
7. Pada persalinan lama, bokong janin mengalami edema, sehingga kadang-kadang sulit
untuk membedakan bokong dengan muka.
Pemeriksaan yang teliti dapat membedakan bokong dengan muka karena jari yang
akan dimasukkan ke dalam anus mengalami rintangan otot, sedangkan jari yang
dimasukkan ke dalam mulut akan meraba tulang rahang dan alveola tanpa ada
hambatan. Pada presentasi bokong kaki sempurna, kedua kaki dapat diraba disamping
bokong, sedangkan pada presentasi bokong kaki tidak sempurna, hanya teraba satu
kaki di samping bokong.

PERTOLONGAN PERSALINAN PADA KEHAMILAN SUNGSANG

A.PERSALINAN SUNGSANG SECARA PERVAGINAM

1 Persalinan spontan, janin dilahirkan dengan kekuatan dan tenaga ibu sendiri
Bracht
2 Manual aid atau ekstraksi bokong parsial. Setelah bokong lahir spontan sebatas
umbilikus, lengan dan kepala dimanipulasi untuk melahirkan bayi
3 Ekstraksi bokong, janin dilahirkan seutuhnya dengan memakai tenaga penolong

Persalinan spontan pervaginam (spontan Bracht)

9
Terdiri dari 3 tahapan :

Fase lambat pertama:

- Mulai dari lahirnya bokong sampai umbilikus (scapula).

Fase cepat:

- Mulai lahirnya umbilikus sampai mulut.

- kepala janin masuk panggul oklusi pembuluh darah talipusat antara kepala dengan
tulang panggul sirkulasi uteroplasenta terganggu.

Fase lambat kedua:

- Mulai lahirnya mulut sampai seluruh kepala.Tidak boleh dilakukan secara tergesa-
gesa untuk menghidari dekompresi kepala yang terlampau cepat yang dapat
menyebabkan perdarahan intrakranial.

>.Tehnik pertolongan sungsang spontan BRACHT

1. Setelah bokong nampak di vulva dengan penampang sekitar 5 cm.

2. Suntikkan 5 unit oksitosin i.m

3. Dengan menggunakan tangan yang dilapisi oleh kain setengah basah, bokong janin dipegang
sedemikian rupa sehingga kedua ibu jari penolong berada pada bagian belakang pangkal paha dan
empat jari-jari lain berada pada bokong janin (gambar 1)

4. Pada saat ibu meneran, dilakukan gerakan mengarahkan punggung anak ke perut ibu ( gerak
hiperlordosis )sampai kedua kaki anak lahir .

5. Setelah kaki lahir, pegangan dirubah sedemikian rupa sehingga kedua ibu jari sekarang berada pada
lipatan paha bagian belakang dan keempat jari- jari berada pada pinggang janin .

10
-

EKSTRAKSI PARSIAL PADA PERSALINAN SUNGSANG PERVAGINAM (manual


aid)

PERSALINAN BAHU DAN LENGAN

Pegangan pada panggul anak sedemikian rupa sehingga ibu jari penolong
berdampingan pada os sacrum dengan kedua jari telunjuk pada krista iliaka anterior
superior ; ibu jari pada sakrum sedangkan jari-jari lain berada didepan pangkal paha
(gambar 3) .

Dilakukan traksi curam kebawah sampai menemui rintangan (hambatan) jalan lahir.

Selanjutnya bahu dapat dilahirkan dengan menggunakan salah satu dari cara-cara
berikut:

11
1. Lovset.

2. Klasik.

3. Mller

Tehnik pertolongan persalinan bahu cara MELLER:

Bokong dipegang dengan pegangan femuropelvik.

Dengan cara pegangan tersebut, dilakukan traksi curam bawah pada tubuh janin
sampai bahu depan lahir (gambar 9 ) dibawah arcus pubis dan selanjutnya lengan
depan dilahirkan dengan mengait lengan depan bagian bawah.

Setelah bahu dan lengan depan lahir, pergelangan kaki dicekap dengan tangan kanan
dan dilakukan elevasi serta traksi keatas (gambar 10),, traksi dan elevasi sesuai arah
tanda panah) sampai bahu belakang lahir dengan sendirinya. Bila tidak dapat lahir
dengan sendirinya, dilakukan kaitan untuk melahirkan lengan belakang anak (inset
pada gambar 10) .

Melahirkan lengan menunjuk

Nuchal Arm

Yang dimaksud dengan keadaan ini adalah bila pada persalinan sungsang, salah satu
lengan anak berada dibelakang leher dan menunjuk kesatu arah tertentu.

Pada situasi seperti ini, persalinan bahu tidak dapat terjadi sebelum lengan yang
bersangkutan dirubah menjadi didepan dada.

12
Melahirkan lengan menjungkit

Yang dimaksud dengan lengan menjungkit adalah suatu keadaan dimana pada
persalinan sungsang pervaginam, posisi lengan anak lurus disamping kepala.

Keadaan ini menyulitkan berlangsungnya persalinan spontan pervaginam.

Cara terbaik untuk mengatasi keadaan ini adalah melahirkan lengan anak dengan cara
LOVSET atau dengan melahirkan lengan yang menjungkit melalui bagian depan
(dada) anak.

PERSALINAN KEPALA

Pertolongan untuk melahirkan kepala pada presentasi sungsang dapat dilakukan


dengan berbagai cara :

13
Cara MOURICEAU

Cara PRAGUE TERBALIK

1.Cara Mouriceau

Tubuh anak diletakkan diatas lengan anak, seolah anak menunggang kuda.

Belakang leher anak dicekap diantara jari telunjuk dan jari tengah tangan yang lain.

Assisten membantu dengan melakukan tekanan pada daerah suprasimfisis untuk


mempertahankan posisi fleksi kepala janin.

Traksi curam bawah terutama dilakukan oleh tangan yang dileher.

CARA PRAGUE TERBALIK

Dilakukan bila occiput dibelakang (dekat dengan sacrum) dan muka janin menghadap
simfisis.

Satu tangan mencekap leher dari sebelah belakang dan punggung anak diletakkan
diatas telapak tangan tersebut.

Tangan penolong lain memegang pergelangan kaki dan kemudian di elevasi keatas
sambil melakukan traksi pada bahu janin sedemikian rupa sehingga perut anak
mendekati perut ibu.

Dengan larynx sebagai hypomochlion kepala anak dilahirkan.

14
EKSTRAKSI TOTAL PADA PERSALINAN SUNGSANG PERVAGINAM

Persalinan sungsang pervaginam dimana keseluruhan proses persalinan anak


dikerjakan sepenuhnya oleh penolong persalinan.

Jenis ekstraksi total :

Ekstraksi bokong

Ekstraksi kaki

1. EKSTRAKSI BOKONG
Tindakan ini dikerjakan pada letak bokong murni dengan bokong yang sudah berada
didasar panggul.
Tehnik :
Jari telunjuk penolong yang sesuai dengan bagian kecil anak dimasukkan jalan lahir
dan diletakkan pada lipat paha depan anak. Dengan jari tersebut, lipat paha dikait.
Untuk memperkuat kaitan tersebut, tangan lain penolong mencekap pergelangan
tangan yang melakukan kaitan dan ikut melakukan traksi kebawah.
Bila dengan traksi tersebut trochanter depan sudah terlihat dibawah arcus pubis, jari
telunjuk tangan lain segera mengait lipat paha belakang dan secara serentak
melakukan traksi lebih lanjut untuk melahirkan bokong.

Setelah bokong lahir, bokong dipegang dengan pegangan femuropelvik dan janin
dilahirkan dengan cara yang sudah dijelaskan pada ekstraksi bokong parsialis.

2. EKSTRAKSI KAKI

Setelah persiapan selesai, tangan penolong yang sesuai dengan bagian kecil anak
dimasukkan secara obstetris kedalam jalan lahir, sedangkan tangan lain membuka
labia.

15
Tangan yang didalam mencari kaki dengan menyelusuri bokong pangkal paha
sampai belakang lutut (fosa poplitea) dan kemudian melakukan fleksi dan abduksi
paha janin sehingga sendi lutut menjadi fleksi.

Tangan yang diluar (dekat dibagian fundus uteri) mendekatkan kaki janin untuk
mempermudah tindakan mencari kaki janin tersebut diatas.

Setelah lutut fleksi, pergelangan kaki anak dipegang diantara jari II dan II , kemudian
dituntun keluar vagina.

Komplikasi yang mungkin terjadi :

1. Sufokasi

2. Prolaps tali pusat

3. Asfiksia

4. Kerusakan jaringan otak

5. Fraktur pada tulang tulang bayi

6.Cedera pleksus brakialis, hematome otot otot

PERTOLONGAN PERSALINAN SUNGSANG DENGAN SECTIO CAESAREA

-Persalinan letak sungsang dengan seksio caesarea sudah tentu merupakan cara yang terbaik
ditinjau dari janin. Banyak ahli yang mengatakan bahwa persalinan letak
sungsangbpervaginam, memberi trauma yang sangat berarti bagi janin, dimana gejala gejala
akan tampak baik pada waktu persalinan maupun kemudian hari.

Namun hal ini, bukan berarti bahwa semua letak sungsang harus dilahirkan per abdominam.
Untuk melakukan penilaian apakah letak sungsang dapat melahirkan pervaginam atau
perabdominam terkadang sulit.

Zatuchni dan Andros telah membuat suatu indeks prognosis untuk menilai lebih tepat apakah
persalinan dapat dilahirkan per vaginam atau per abdominam, sebagai berikut :

16
SKOR 0 1 2
Paritas Primigravida Multigravida
Usia Kehamilan >39 minggu 38 minggu <37minggu
Taksiran Berat Janin >3620 gram 3176 3620 gram <3176 gram
Riwayat Presbo Tidak pernah Satu kali Dua kali/>
Dilatasi Serviks < 2cm 3 cm > 4cm
Station (turunnya) -3cm -2cm <-1cm

Jika skor Zatuchni Andros, rendah yakni (</= 4), maka sebaiknya pertolongan persalinan kita
lakukan dengan Sectio Caesarea.

PROGNOSIS

Prognosis lebih buruk dibandingkan persalinan pada presentasi belakang kepala.

Prognosa lebih buruk oleh karena:

Perkiraan besar anak sulit ditentukan sehingga sulit diantisipasi terjadinya peristiwa after
coming head (kepala lahir menyusul)

Kemungkinan ruptura perinei totalis lebih sering terjadi.

SEBAB KEMATIAN ANAK

1.Talipusat terjepit saat fase cepat.

2.Perdarahan intrakranial akibat dekompresi 3.Mendadak waktu melahirkan kepala anak pada
fase lambat kedua.

4.Trauma collumna vertebralis.

5. Prolapsus tali pusat

KOMPLIKASI

Pada letak sungsang yang persisten, meningkatnya komplikasi berikut harus diantisipasi:
1. Morbiditas dan mortalitas perinatal dari persalinan yang sulit.
2. Berat badan lahir yang rendah pada persalinan preterm, hambatan pertumbuhan, atau
keduanya.

17
3. Prolaps tali pusat.
4. Plasenta previa.
5. Kelainan fetus, neonatus, dan bayi.
6. Anomali uterus dan tumor.
7. Multipel fetus
8. Intervensi operatif, khususnya seksio sesarea

18
BAB III

ANALISA KASUS

- Apakah Diagnosis pada pasien ini sudah tepat ?


Diagnosis pada pasien ini sudah tepat yaitu: G1P0A0 gravida 36 -37 minggu, kala I
fase laten, JTH intrauterin dengan presentasi bokong. Hal ini dikarenakan:
Pada anamnesis diketahui ibu merasa penuh pada bagian atas, dan gerakan terasa
lebih banyak pada bagian bawah. Selanjutnya pada pemeriksaan luar , didapat :
Leopold I: bagian teratas janin yaitu teraba kepala ( dimana teraba bagian keras, dan
bulat )
Leopold III : bagian terbawah janin yaitu teraba bagian bulat dan lunak yaitu bokong.
Selanjutnya pada pemeriksaan inspekulo, tampak, bokong murni (frank breech) di
jalan lahir.
Hal ini relevan dengan referensi yang ada yakni dikatakan bahwa pada pemeriksaan
luar, di bagian bawah uterus tidak dapat diraba bagian yang keras dan bulat (kepala),
dan kepala teraba di fundus uteri. Selain itu seringkali ibu mengeluh merasa sesak
atau penuh pada bagian atas, dan gerakan lebih aktif pada bagian bawah.

- Mengapa pada pasien ini kita lakukan tindakan Sectio Caesarea (SC) ?
Pada pasien ini dilakukan tindakan Sectio Caesarea karena dari penilaian dan
perhitungan berdasarkan ZA (Zatuhcni Andros) Score , didapat ZA skor pada pasien
ini : 3, dengan indikasi sebagai berikut:
- Paritas : ibu primigravida, skor : 0
- Usia Kehamilan : 37 minggu, skor : 2
- TBJ : 3239 gram, skor : 1
- Riwayat presbo : tidak pernah, skor : 0
- Dilatasi serviks : < 2cm, skor : 0
- Station (turunnya) : - 3 cm, skor : 0

19
Berdasarkan referensi yang ada , diketahui bahwa jika skor Zatuchni Andros, rendah
yakni (< / = 4), maka tindakan pertolongan persalinan yang sebaiknya kita lakukan
yaitu SC (Sectio Caesarea).

- Bagaimana komplikasi yang terjadi terhadap janin pada kasus ini ?


Adapun prognosis pada kasus ini, mengarah baik ( dubia ad bonam) dimana
sehubungan dengan referensi yang ada dikatakan bahwa pada persalinan letak
sungsang pervaginam, menyebabkan resiko traumatik yang sangat berarti bagi janin
yang mungkin terjadi pada persalinan per vaginam , diantaranya;
- Sufokasi
-Asfiksia fetalis
-Kerusakan jaringan otak
- Fraktur pada tulang tulang janin
Akan tetapi pada kasus ini, karena pertolongan persalinan dilakukan perabdominam (
Sectio caesarea),dengan bantuan indeks prognosis untuk menilai lebigh tepat apakah
dengan persalinan pervaginam atau dengan persalinan perabdominam, maka resiko
resiko trauma dan penyulit yang dikhawatirkan terjadi pada persalinan per vaginam
dapat diminimalisir.

20
21
DAFTAR PUSTAKA

1. Cuningham, F.G. Obstetri William Vol 1. Edisi 2. Jakarta : EGC. 2006.

2. Wiknjosastro H, Ilmu Kebidanan, Edisi kedua Cetakan Ketiga,


Yayasan Bina Pustaka Sarwono Prawirohardjo, Jakarta, 1999, halaman 432-442
3. James R. Scott, Philip. J. Disaia ; Buku Saku Obstetri dan Ginekologi ; Widya
Medika ; Jakarta 1995.
4. Hacker NF, Moore JG, Esensial Obstetri dan Ginekologi, alih bahasa : Edi N,
Yunita C (ed). Penerbit Hipokrates, Jakarta, 2001
5. Letak Sungsang. Diunduh dari : http://www.scribd.com/doc/29229881/Letak
Sungsang. diakses tanggal 7 Maret 2011
6. Saifuddin, Abdul Bari, dkk. Ilmu Kebidanan, edisi 4, Cetakan Kedua, Jakarta,
Yayasan Bina Pustaka Sarwono Prawirohardjo, 2009.
7. Mochtar, Rustam, Sinopsis Obstetri, Edisi 2, Jilid 1, Jakarta, EGC, 2004.

22
LETAK SUNGSANG
LAPORAN KASUS
Stase Obstetri dan Ginekologi
Periode 20 Agustus 29 Oktober 2011

OLEH:
Vina Ariesta Dewi Bakaruddin, S.ked
G1A106031

Pembimbing
dr. ADE PERMANA Sp.OG

KEPANITERAAN KLINIK SENIOR STASE OBSTETRI DAN GINEKOLOGI


FAKULTAS KEDOKTERAN UNJA RSUD RADEN MATTAHER

23
JAMBI 2011

24