You are on page 1of 18

LAPORAN PENDAHULUAN DAN STRATEGI PELAKSANAAN

ASUHAN KEPERAWATAN PADA PASIEN DENGAN GANGGUAN JIWA


HARGA DIRI RENDAH

OLEH :

I KETUT GEDE ADI SUARTAMA PUTRA

NIM. P07120015075

POLITEKNIK KESEHATAN KEMENKES DENPASAR

PRODI DIV JURUSAN KEPERAWATAN TK.III / SEMESTER V

2017
LAPORAN PENDAHULUAN ASUHAN KEPERAWATAN PADA
PASIEN DENGAN GANGGUAN JIWA HARGA DIRI RENDAH

I. KONSEP DASAR HARGA DIRI RENDAH


A. Pengertian Harga Diri Rendah
Konsep diri adalah semua ide, pikiran, kepercayaan dan pendirian
yang diketahui individu tentang dirinya dan mempengaruhi individu dalam
berhubungan dengan orang lain (Stuart & Sundeen, 2013).
Seseorang yang dikatakan mempunyai konsep diri negatif jika ia
meyakini dan memandang bahwa dirinya lemah, tidak berdaya, tidak dapat
berbuat apa apa, tidak kompeten, gagal, malang dan kehilangan daya
tarik terhadap hidup. Orang dengan konsep diri negatif akan cenderung
bersikap pesimistik terhadap kehidupan dan kesempatan yang
dihadapinya. Konsep diri terdiri atas komponen-komponen berikut ini :
1) Citra tubuh (Body Image)
Citra tubuh (Body Image) adalah kumpulan dari sikap individu yang
disadari dan tidak disadari terhadap tubuhnya. Termasuk persepsi masa
lalu dan sekarang, serta perasaan tentang ukuran, fungsi, penampilan,
dan potensi. Yang secara berkesinambungan dimodifikasi dengan
persepsi dan pengalaman yang baru (Stuart & Sundeen, 2013).
2) Ideal Diri (Self Ideal)
Ideal diri adalah persepsi individu tentang bagaimana ia harus
berperilaku sesuai dengan standar, aspirasi, tujuan atau nilai personal
tertentu (Stuart & Sundeen, 2013).
3) Identitas Diri (Self Identifity)
Identitas diri adalah kesadaran akan diri sendiri yang bersumber
dari observasi dan penilaian, yang merupakan sintesa dari semua aspek
konsep diri sebagai suatu kesatuan yang utuh (Stuart dan Sundeen,
2013).

4) Peran Diri (Self Role)

2
Serangkaian pola perilaku yang diharapkan oleh lingkungan sosial
berhubungan dengan fungsi individu di berbagai kelompok sosial.
Peran yang diterapkan adalah peran dimana seseorang tidak
mempunyai pilihan. Peran yang diterima adalah peran yang terpilih
atau dipilih oleh individu (Stuart & Sundeen, 2013).
5) Harga Diri (Self Esteem)
Harga diri adalah penilaian individu tentang nilai personal yang
diperoleh dengan menganalisa seberapa baik perilaku seseorang sesuai
dengan ideal diri. Harga diri yang tinggi adalah perasaan yang berakar
dalam penerimaan diri tanpa syarat, walaupun melakukan kesalahan,
kekalahan, tetap merasa sebagai seorang yang penting dan berharga
(Stuart & Sundeen, 2013)
Gangguan harga diri rendah adalah evaluasi diri dan perasaan tentang
diri atau kemampuan diri yang negatif yang dapat secara langsung atau
tidak langsung diekspresikan (Towsend, 2012). Harga diri rendah
merupakan keadaan dimana individu mengalami evaluasi diri yang negatif
mengenai diri atau kemampuan diri (Carpenito, L.J, 2006)
Dari pendapat-pendapat diatas dapat dibuat kesimpulan, harga diri
rendah adalah suatu perasaan negatif terhadap diri sendiri, hilangnya
kepercayaan diri dan gagal mencapai tujuan yang diekspresikan secara
langsung maupun tidak langsung, penurunan diri ini dapat bersifat
situasional maupun kronis atau menahun.
Gangguan harga diri yang disebut harga diri rendah dapat terjadi
secara:
1. Harga diri rendah situasional yaitu terjadi trauma yang tiba-tiba.
Misalnya harus operasi, kecelakaan, dicerai suami, putus
sekolah, putus hubungan kerja, perasaan malu karena sesuatu
(korban perkosaan, dituduh KKN, dipenjara tiba-tiba). Pada
klien yang dirawat dapat terjadi harga diri rendah karena:
a. Privasi yang kurang diperhatikan, misalnya: pemeriksaan
fisik yang sembarangan, pemasangan alat yang tidak sopan

3
(pencukuran pubis, pemasangan kateter, pemeriksaan
perineal).
b. Harapan akan struktur, bentuk, dan fungsi tubuh yang tidak
tercapai karena dirawat/sakit/penyakit.
c. Perlakuan petugas kesehatan yang tidak menghargai,
misalnya berbagai pemeriksaan dilakukan tanpa penjelasan,
tanpa persetujuan. Kondisi ini banyak ditemukan pada klien
gangguan fisik.
2. Harga diri rendah kronik, yaitu perasaan negative terhadap diri
telah berlangsung lama, yaitu sebelum sakit atau dirawat. Klien
mempunyai cara berpikir yang negative. Kejadian sakit dan
dirawat akan menambah persepsi negative terhadap dirinya.
Kondisi ini mengakibatkan respon yang maladaptive, Kondisi
ini dapat ditemukan pada klien gangguan fisik yang kronis atau
pada klien gangguan jiwa (NANDA NIC-NOC, 2015)
B. Rentang Respon
Menurut Stuart dan Sundeen (2013) respon individu terhadap konsep
dirinya sepanjang rentang respon konsep diri yaitu adaptif dan maladaptif.
1. Respon Adaptif
Yaitu respon individu dalam penyesuaian masalah yang dapat
diterima oleh norma norma sosial dan kebudayaan.
2. Respon Maladaptif
Yaitu respon individu dalam penyesuaian masalah yang tidak
dapat diterima oleh norma norma sosial dan kebudayaan.

Respon Adaptif Respon Maladaptif

Aktualisasi Konsep Harga Kerancuan Depersonalis


diri diri positif diri rendah identitas asi

Stuart dan Sundeen (2013) mengatakan:

4
a) Aktualisasi adalah pernyataan diri positif tentang latar belakang
pengalaman nyata yang sukses diterima.
b) Konsep diri adalah individu mempunyai pengalaman yang positif
dalam beraktualisasi diri.
c) Harga diri rendah adalah transisi antara respon konsep diri adaptif
dengan konsep diri maladaptif.
d) Kekacauan identitas adalah kegagalan individu dalam kemalangan
aspek psikososial dan kepribadian dewasa yang harmonis.
e) Dipersonalisasi adalah perasaan yang tidak realistis terhadap diri
sendiri yang berhubungan dengan kecemasan, kepanikan serta tidak
dapat membedakan dirinya dengan orang lain.

C. Etiologi
1. Faktor Predisposisi
Berbagai faktor penunjang terjadinya perubahan dalam konsep diri
seseorang, Faktor ini dapat dibagi sebagai berikut:
a. Faktor yang mempengaruhi harga diri.
Pengalaman masa kanak-kanak dapat merupakan faktor
kontribusi pada gangguan atau masalah konsep diri. Anak sangat
peka terhadap perlakuan dan respon orang tua. Orang tua yang
kasar, membenci dan tidak menerima akan mempunyai keraguan
atau ketidakpastian. Anak yang tidak menerima kasih sayang maka
anak tersebut akan gagal mencintai dirinya dan menggapai cinta
orang lain. Individu yang kurang mengerti akan dan tujuan
kehidupan akan gagal menerima tanggungjawab untuk diri sendiri.
ia akan tergantung pada orang lain dan gagal mengembangkan
kemampuan sendiri. Ia mengingkari kebebasan mengekspresikan
sesuatu, termasuk kemungkinan berbuat kesalahan dan menjadi
tidak sabar, kasar dan banyak menuntut diri sendiri. Ideal diri yang
ditetapkan tidak dapat dicapai.

b. Faktor yang mempengaruhi penampilan peran.


Peran sesuai dengan jenis kelamin sejak dulu sudah diterima
oleh masyarakat misalnya wanita dianggap kurang mampu, kurang

5
mandiri,kurang objektif dan kurang rasional dibandingkan pria.
Pria dianggap kurang sensitif, kurang hangat kurang ekspresif
disbanding wanita. Sesuai dengan standar tersebut, jika wanita atau
pria berperan tidak seperti lazimnya, maka dapat menimbulkan
konflik didalam diri maupun hubungan sosial Misalnya, wanita
yang sacara tradisional harus tinggal di rumah saja, jika ia mulai
keluar rumah untuk sekolah atau kerja akan menimbulkan masalah.
Konflik peran dan peran yang tidak sesuai muncul dari faktor
biologis dan harapan masyarakat terhadap wanita atau pria. Peran
yang berlebihan muncul pada wanita yang mempunyai sejumlah
peran.
c. Faktor yang mempengaruhi identitas diri
Orang tua yang selalu curiga pada anak akan menyebabkan
kurang percaya diri pada anak. anak akan ragu apakah yang ia pilih
tepat, jika tidak sesuai dengan keinginan orang tua maka timbul
rasa bersalah.Kontrol orang tua yang tetap pada anak remaja akan
menimbulkan perasaan benci anak pada orang tua. teman sebaya
merupakan faktor lain yang mempengaruhi identitas. Remaja ingin
diterima, dibutuhkan,diinginkan dan dimiliki oleh kelompoknya
(Keliat, 2006).
2. Faktor Presipitasi
Masalah khusus tentang konsep diri disebabkan oleh situasi yang
dihadapi individu dan individu yang tidak mampu menyelesaikan
masalah.Stressor yang mempengaruhi harga diri dan ideal diri adalah
penolakan dan kurang penghargaan diri dari orang tua yang berarti:
pola asuh anak tidak tepat misalnya: terlalu dilarang, dituntut,
persaingan dengan saudara, kesalahan dan kegagalan yang terulang,
cita-cita yang tidak dapat di capai, gagal tanggung jawab terhadap diri
sendiri (Stuart dan Sundeen, 2013). Stresor pencetus dapat berasal dari
sumber internal atau eksternal sebagai berikut:
a. Trauma seperti penganiayaan seksual dan psikologis atau
menyaksikan peristiwa yang mengancam kehidupan

6
b. Ketegangan peran berhubungan dengan peran atau posisi yang
diharapkan dan individu mengalaminya sebagai frustasi. Ada
tiga jenis transisi peran:
1) Transisi peran perkembangan adalah: perubahan normatif
yang berkaitan dengan pertumbuhan. Perubahan ini
termasuk tahap perkembangan dalam kehidupan individu
atau keluarga dan norma-norma budaya, nilai-nilai serta
tekanan untuk menyesuaikan diri.
2) Transisi peran situasi terjadi dengan bertambah atau
berkurangnya anggota keluarga melalui kelahiran atau
kematian.
3) Transisi peran sehat-sakit terjadi akibat pergeseran dari
keadaan sehat ke keadaan sakit. Transisi ini dapat
dicetuskan oleh kehilangan bagian tubuh, Perubahan
ukuran, bentuk, penampilan atau fungsi tubuh, perubahan
fisik yang berhubungan tumbuh kembang normal dan
prosedur medis dan keperawatan (Stuart, 2013).

D. Tanda dan Gejala


Stuart (2013) mengemukakan tanda dan gejala apabila seseorang
memiliki harga diri rendah:
1. Mengkritik diri sendiri dan orang lain
2. Penurunan produktivitas
3. Destruktif yang diarahkan pada orang lain
4. Gangguan dalam berhubungan
5. Rasa diri penting yang berlebihan
6. Perasaan tidak mampu
7. Rasa bersalah
8. Mudah tersinggung atau marah berlebihan
9. Perasaan negatif tentang dirinya sendiri
10. Ketegangan peran yang dirasakan
11. Pandanangan hidup yang pesimis
12. Keluhan fisik
13. Pandangan hidup yang bertentangan
14. Penolakan terhadap kemampuan personal
15. Destruktif terhadap diri sendiri
16. Pengurangan diri
17. Menarik diri secara sosial
18. Penyalahgunaan zat
19. Menarik diri dari realitas

7
20. Khawatir

E. Pohon Masalah
Isolasi sosial (menarik diri) --------------------------- Akibat

HARGA DIRI RENDAH --------------------------- Core Problem

Koping Individu Tidak Efektif --------------------------- Penyebab

Perilaku yang berhubungan dengan harga diri rendah adalah


mengkritik diri sendiri atau orang lain, gangguan dalam berhubungan, rasa
diri penting berlebihan, perasaan tidak mampu, rasa bersalah, mudah
tersinggung, atau berlebihan, perasaan takut mengenal tubuhnya
ketegangan peran yang dirasakan, pandangan hidup yang pesmis, keluhan,
pandangan hidup yang berlebihan, penolakan terhadap kemampuan sosial,
perguruan dan menjauh diri secara sosial, pengurungan diri, menaruh diri
secara sosial, penyalahgunaan zat (Stuart dan Sundeen, 2013)
E. Penatalaksanaan Medis
Menurut Hawari (2001), terapi pada gangguan jiwa skizofrenia
dewasa ini sudah dikembangkan sehingga penderita tidak mengalami
diskriminasi bahkan metodenya lebih manusiawi daripada masa
sebelumnya. Terapi yang dimaksud meliputi:
1. Psikofarmaka
Adapun obat psikofarmaka yang ideal yaitu yang memenuhi syarat
sebagai berikut:
a) Dosis rendah dengan efektifitas terapi dalam waktu yang cukup
singkat
b) Tidak ada efek samping kalaupun ada relative kecil

8
c) Dapat menghilangkan dalam waktu yang relative singkat, baik
untuk gejala positif maupun gejala negative skizofrenia
d) Lebih cepat memulihkan fungsi kogbiti
e) Tidak menyebabkan kantuk
f) Memperbaiki pola tidur
g) Tidak menyebabkan habituasi, adikasi dan dependensi
h) Tidak menyebabkan lemas otot.
Berbagai jenis obat psikofarmaka yang beredar dipasaran yang hanya
diperoleh dengan resep dokter, dapat dibagi dalan 2 golongan yaitu
golongan generasi pertama (typical) dan golongan kedua (atypical).Obat
yang termasuk golongan generasi pertama misalnya chlorpromazine HCL,
Thoridazine HCL, dan Haloperidol. Obat yang termasuk generasi kedua
misalnya : Risperidone, Olozapine, Quentiapine, Glanzapine, Zotatine, dan
aripiprazole.
2. Psikoterapi
Therapy kerja baik sekali untuk mendorong penderita bergaul lagi
dengan orang lain, penderita lain, perawat dan dokter. Maksudnya supaya
ia tidak mengasingkan diri lagi karena bila ia menarik diri ia dapat
membentuk kebiasaan yang kurang baik. Dianjurkan untuk mengadakan
permainan atau latihan bersama. (Maramis,2005).
3. Therapy Kejang Listrik ( Electro Convulsive Therapy)
ECT adalah pengobatan untuk menimbulkan kejang granmall secara
artificial dengan melewatkan aliran listrik melalui elektrode yang dipasang
satu atau dua temples. Therapi kejang listrik diberikan pada skizofrenia
yang tidak mempan denga terapi neuroleptika oral atau injeksi, dosis terapi
kejang listrik 4-5 joule/detik. (Maramis, 2005).
4. Keperawatan
Biasanya yang dilakukan yaitu Therapi modalitas/perilaku merupakan
rencana pengobatan untuk skizofrrenia yang ditujukan pada kemampuan
dan kekurangan klien.Teknik perilaku menggunakan latihan keterampilan
sosial untuk meningkatkan kemampuan sosial. Kemampuan memenuhi
diri sendiri dan latihan praktis dalam komunikasi interpersonal. Therapi
kelompok bagi skizofrenia biasanya memusatkan pada rencana dan
masalah dalam hubungan kehidupan yang nyata.
Therapy aktivitas kelompok dibagi empat, yaitu therapy aktivitas
kelompok stimulasi kognitif/persepsi, theerapy aktivitas kelompok

9
stimulasi sensori, therapi aktivitas kelompok stimulasi realita dan therapy
aktivitas kelompok sosialisasi (Keliat dan Akemat, 2005). Dari empat jenis
therapy aktivitas kelompok diatas yang paling relevan dilakukan pada
individu dengan gangguan konsep diri harga diri rendah adalah therapy
aktivitas kelompok stimulasi persepsi. Therapy aktivitas kelompok (TAK)
stimulasi persepsi adalah therapy yang mengunakan aktivitas sebagai
stimulasi dan terkait dengan pengalaman atau kehidupan untuk
didiskusikan dalam kelompok, hasil diskusi kelompok dapat berupa
kesepakatan persepsi atau alternatif penyelesaian masalah.(Keliat dan
Akemat, 2005).

II. KONSEP ASUHAN KEPERAWATAN


A. Pengkajian Keperawatan
1. Identitas klien meliputi Nama, umur, jenis kelamin, tanggal
dirawat, tanggal pengkajian, nomor rekam medis
2. Faktor predisposisi merupakan factor pendukung yang meliputi
factor biologis, factor psikologis, social budaya, dan factor genetic
3. Faktor presipitasi merupakan factor pencetus yang meliputi sikap
persepsi merasa tidak mampu, putus asa, tidak percaya diri, merasa
gagal, merasa malang, kehilangan, rendah diri, perilaku agresif,
kekerasan, ketidak adekuatan pengobatan dan penanganan gejala
stress pencetus pada umunya mencakup kejadian kehidupan yang
penuh dengan stress seperti kehilangan yang mempengaruhi
kemampuan individu untuk berhubungan dengan orang lain dan
menyebabkan ansietas.
4. Psikososial yang terdiri dari genogram, konsep diri, hubungan
social dan spiritual
5. Status mental yang terdiri dari penampilan, pembicaraan, aktifitas
motorik, alam perasaan, afek pasien, interaksi selama wawancara,
persepsi, proses pikir, isi pikir, tingkat kesadaran, memori, tingkat
kosentrasi dan berhitung, kemampuan penilaian, dan daya tilik diri.

10
6. Mekanisme koping: koping yang dimiliki klien baik adaptif
maupun maladaptive
7. Aspek medic yang terdiri dari diagnose medis dan terapi medis.
8. Analisa data
a. Koping Individu Tidak Efektif
DS: - Klien memlih diam untuk menyelesaikan masalahnya
DO: - Klien suka menyendiri
- Klien tampak pendiam
b. Harga diri rendah
DS: - Adanya ungkapan yang menegatifkan diri
- Mengatakan pandangan hidup yang pesimis
- Merasa tidak mampu melakukan sesuatu
- Mengeluh tidak mampu melakukan peran dan fungsi
sebagaimana mestinya
- Ungkapan mengkritik diri sendiri, mengejek dan
menyalahgunakan diri sendiri
DO:- Kontak mata kurang, sering menunduk,
- Mudah marah dan tersinggung
- Menarik diri
- Menghindar dari orang lain
c. Isolasi sosial dengan menarik diri
DS: - Ungkapan yang terbatas ya tidak tahu
DO: - Tidak adanya kontak mata
- Selalu menundukkan kepala
- Berdiam diri di kamar
- Afek tumpul, menyendiri
- Menolak diajak berbincang-bincang
-
B. Diagnosa Keperawatan
1. Harga diri rendah kronis

11
C. Intervensi Keperawatan

TGL/ DIAGNOSA TUJUAN KRITERIA HASIL INTERVENSI RASIONAL


JAM KEP.
Gangguan TUM : Setelah diberikan askep Bina hubungan saling Hubungan saling percaya
Konsep Diri : Klien dapat selama ... menit dalam ..x percaya dengan merupakan dasar untuk
Harga Diri berhubungan pertemuan diharapkan TU dan mengungkapkan prinsip kelancaran hubungan
Rendah dengan orang lain TUK dapat tercapai dengan komunikasi therapeutic : interaksi selanjutnya.
Kronis secara optimal. kriteria hasil : 1. Sapa klien dengan ramah
1. Ekspresi wajah bersahabat
dan baik secara verbal dan
2. Menunjukan rasa senang
TUK 1 : 3. Ada kontak mata non verbal.
Klien dapat 4. Mau berjabat tangan, mau 2. Perkenalkan diri dengan
membina hubungan menyebut nama, mau sopan.
3. Tanyakan nama lengkap
saling percaya menjawab salam
5. Mau duduk berdampingan klien dan nama panggilan
dengan perawat yang disukai klien.
6. Mau mengutarakan masalah 4. Jelaskan tujuan pertemuan.
5. Jujur dan menepati janji.
yang dihadapi.
6. Tunjukkan sikap empati
dan menerima klien apa
adanya.
7. Beri perhatian pada klien
dna perhatikan kebutuhan

12
dasar klien
TUK 2 :
Klien dapat Setelah diberikan askep selama
mengidentifikasi ... menit dalam ..x pertemuan
1. Diskusikan kemampuan
kemampuan dan diharapkan TU dan TUK dapat
dan aspek positif yang
aspek positif yang tercapai dengan kriteria hasil :
1. Klien dapat menyebutkan dimiliki klien. 1. Mendiskusikan tingkat
dimilikinya
aspek positif dan kemampuan klien seperti
kemampuan yang dimiliki menilai realitas, control
klien diri atau integritas ego
2. Aspek positif keluarga.
2. Setiap bertemu hindarkan diperlukan sebagai dasar
3. Aspek positif lingkungan
dari memberi nilai negatif. asuhan keperawatannya.
yang dimiliki klien.
2. Reinforcement positif
TUK 3 :
akan meningkatkan
Klien dapat 3. Usahakan memberikan
harga diri klien.
menilai kemampuan pujian yang realistik.
3. Pujian yang realistik
Setelah diberikan askep selama
yang digunakan
tidak menyebabkan klien
... menit dalam ..x pertemuan
melakukan kegiatan
diharapkan TU dan TUK dapat
hanya karena ingin
tercapai dengan kriteria hasil :
1. Klien menilai kemampuan mendapatkan pujian.
yang dapat digunakan di
1. Diskusikan dengan klien
RSJ

13
2. Klien menilai kemampuan kemampuan yang masih 1. Keterbukaan dan
TUK 4 :
yang dapat digunakan dapat dilakukan dalam pengertian tentang
Klien dapat
dirumah pasien. sakit. kemampuan yang
menetapkan dan
dimiliki adalah prasarat
merencanakan
Setelah diberikan askep selama 2. Keterbukaan dan untuk berubah.
kegiatan sesuai
2. Pengertian tentang
... menit dalam ..x pertemuan pengertian tentang
dengan kemampuan
kemampuan yang masih
diharapkan TU dan TUK dapay kemampuan yang dimiliki
yang dimiliki
dimiliki klien
tercapai dengan kriteria hasil : adalah prasarat untuk
1. Klien memiliki kemampuan memotivasi untuk tetap
berubah.
yang akan dilatih, mempertahankan
2. Klien mencoba sesuai
penggunaannya.
1. Rencanakan bersama klien
jadwal harian
aktifitas yang dapat 1. Membentuk individu
dilakukan setiap hari sesuai yang bertanggung jawab
dengan kemampuan: terhadap dirinya sendiri.
kegiatan mandiri, kegiatan
dengan bantuan sebagaian,
kegiatan yang
membutuhkan bantuan
total.
2. Tingkatkan kegiatan sesuai
Setelah diberikan askep selama

14
TUK 5 : ... menit dalam ..x pertemuan dengan toleransi kondisi 2. Klien perlu bertindak
Klien dapat
diharapkan TU dan TUK dapat klien. secara realistik dalam
melakukan kegiatan 3. Beri contoh pelaksanaan
tercapai dengan kriteria hasil : kehidupannya.
sesuai kondisi sakit 1. Klien melakukan kegiatan kegiatan yang boleh 3. Contoh perilaku yang
dan kemampuannya yang telah dilatih, dilakukan klien. dilihat klien akan
2. Klien mampu melakukan
memotivasi klien untuk
beberapa kegiatan secara
melaksanakan kegiatan.
mandiri
1. Beri kesempatan pada klien
untuk mencoba kegiatan
1. Memberikan kesempatan
yang telah direncanakan.
Setelah diberikan askep selama kepada klien mandiri
... menit dalam ..x pertemuan dapat meningkatkan
diharapkan TU dan TUK dapat motivasi dan harga diri
2. Beri pujian atas
TUK 6 : tercapai dengan kriteria hasil : klien.
Klien dapat keberhasilan klien 2. Reinforcement positif
1. Keluarga memberi
memanfaatkan dapat meningkatkan
dukungan dan pujian,
sistem pendukung 3. Diskusikan kemungkinan harga diri klien.
2. keluaraga memahami jadwal
3. Memberikan kesempatan
yang ada pelaksanaan di rumah.
kegiatan harian klien
kepada klien untuk tetap
melakukan kegiatan yang
biasa dilakukan.

15
1. Beri pendidikan kesehatan 1. Mendorong keluarga
pada keluarga tentang cara untuk mampu merawat
merawat klien dengan klien mandiri di rumah.
harga diri rendah.
2. Bantu keluarga
memberikan dukungan
2. Support system keluarga
selama klien dirawat.
akan sangat
mempengaruhi dalam
mempercepat proses
3. Bantu keluarga
penyembuhan klien.
menyiapkan lingkungan 3. Meningkatkan peran
rumah. serta keluarga dalam
merawat klien di rumah.

16
D. Implementasi
Pelaksanaan atau implementasi perawatan merupakan tindakan dari rencana
keperawatan yang disusun sebelumnya berdasarkan prioritas yang telah dibuat dimana
tindakan yang diberikan mencakup tindakan mandiri dan kolaboratif. Pada situasi
nyata sering impelmentasi jauh berbeda dengan rencana, hal ini terjadi karena perawat
belum terbiasa menggunakan rencana tertulis dalam melaksanakan tindakan tindakan
keperawatan yang biasa adalah rencana tidak tertulis yaitu apa yang dipikirkan,
dirasakan, itu yang dilaksanakan. Hal ini sangat membahayakan klien dan perawat
jika berakibat fatal dan juga tidak memenuhi aspek legal. Sebelum melaksanakan
tindakan yang sudah direncanakan, perawat perlu memvalidasi dengan singkat apakah
rencana perawatan masih sesuai dan dibutuhkan klien sesuai kondisi saat ini. Setelah
semua tidak ada hambatan maka tindakan keperawatan boleh dilaksanakan. Pada saat
akan dilaksanakan tindakan keperawatan maka kontrak dengan klien dilaksanakan.
Dokumentasikan semua tidakan yang telah dilaksanakan beserta respon klien (Keliat,
2006,).

E. Evaluasi
Evaluasi merupakan proses berkelanjutan untuk menilai aspek dari tindakan yang
dilakukan secara terus menerus terhadap respon pasien evaluasi adalah hasil yang
dilihat dan perkembangan persepsi pasien pertumbuhan perbandingan perilakunya
dengan kepribadian yang sehat.Evaluasi dilakukan dengan pendekatan SOAP:
S : Respon subyektif pasien terhadap keperawatan yang telah dilaksanakan
O : Respon objektif pasien terhadap keperawatan yang dilaksanakan
A : Analisa ulang atas data subyektif dan objektif untuk menyimpulkan apakah
masih tetap atau masuk giliran baru.
P : Perencanaan untuk tindak lanjut berdasarkan hasil analisa pada respon pasien.

DAFTAR PUSTAKA

17
Carpenito, Lynda Juall.2006.Buku Saku Diagnosa Keperawatan Edisi 8. Jakarta: EG
Hawari, D. 2001. Pendekatan Holistik Pada Gangguan Jiwa Skizofrenia. Jakarta: EGC
Keliat, Budi Anna dkk. 2006. Proses Keperawatan Kesehatan Jiwa. Jakarta: EGC.
Keliat & Akemat. 2005. Keperawatan Jiwa: terapi aktivitas kelompok. Jakarta: EGC.
Maramis, W.F. 2005. Catatan Ilmu Kedokteran Jiwa. Surabaya: Airlangga University
Press
NANDA NIC-NOC. 2015. Aplikasi Asuhan Keperawatan Berdasarkan Diagnosa
Medis & NANDA NIC-NOC. Jogjakarta: Mediaction Jogja.
Stuart, G. W. dan Sundeen, S.J. 2013. Buku Saku Keperawatan Jiwa. Edisi 3. Jakarta :
EGC
Townsend, Mary C. 2012. Buku Saku Diagnosa Keperawatan Pada Keperawatan
Psikiatri: Pedoman Untuk Pembuatan Rencana Keperawatan. Jakarta: EGC

18