You are on page 1of 7

BAGIAN ILMU KESEHATAN THT-KL REFERAT

OKTOBER
2017
ANATOMI DAN FISIOLOGI
LARING

Disusun Oleh :

Febby Dahlia P (10542 0085 09)

Nurul Mustika U (10542 0415 12)

Pembimbing :
dr. Faridah Muhammad, Sp.THT

(Dibawakan Dalam Rangka Tugas Kepaniteraan Klinik Pada


Bagian Ilmu Kesehatan THT-KL)

FAKULTAS KEDOKTERAN
UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH MAKASSAR
2017
BAB I kartilago kornikulata, kartilago kuneiformis, dan kartilago
tritisea. Kartilago krikoid dihubungkan dengan kartilago tiroid
EMBRIOLOGI DAN ANATOMI LARING oleh ligamentum krikotiroid berupa lingkaran.2,4
Batas atas rongga laring ialah aditus laring, batas
bawahnya ialah bidang yang melalui pinggir bawah kartilago
krikoid. Batas depannya ialah epiglotis, batas belakang ialah
I.1 Embriologi Laring m. aritenoid transversus dan lamina kartilago kriroid, batas
Seluruh sistem pernafasan merupakan hasil lateralnya adalah kartilago arytenoid, konus elastikus dan
pertumbuhan faring primitif. Pada saat embrio berusia 3,5 arkus kartilago krikoid.2,5
minggu suatu alur yang disebut laringotrakeal groove tumbuh Dengan adanya lipatan mukosa pada ligamentum
dalam embrio pada bagian ventral foregut. Alur ini terletak vokale dan ligamentum ventrikulare, maka terbentuklah plika
disebelah posterior dari eminensia hipobronkial dan terletak vokalis (pita suara asli) dan plika ventrikularis (pita suara
1
lebih dekat dengan lengkung ke IV daripada lengkung ke III. palsu). Bidang antara plika vokalis kiri dan kanan, disebut
Selama masa pertumbuhan embrional ketika tuba rima glotis, sedangkan antara kedua plika ventrikularis,
yang single ini menjadi dua struktur, tuba yang asli mula-mula disebut rima vestibuli. Plika vokalis dan plika ventrikularis
mengalami obliterasi dengan proliferasi lapisan epitel, membagi rongga laring dalam 3 bagian, yaitu vestibulum
kemudian epitel diresopsi, tuba kedua dibentuk dan tuba laring, glotik, dan subglotik.2,3,4
pertama mengalami rekanulisasi. Berbagai malformasi dapat Vestibulum laring ialah rongga laring yang terdapat
terjadi pada kedua tuba ini, misalnya fistula trakeoesofageal. di atas plika ventrikularis. Daerah ini disebut supraglotik.
Pada maturasi lanjut, kedua tuba ini terpisah menjadi esofagus Antara plika vokalis dan plika ventrikularis, pada tiap sisinya
1 disebut ventrikulus laring Morgagni. Daerah subglotik adalah
dan bagian laringotrakeal.
rongga laring yang terletak di bawah plika vokalis.2,3
Pembukaan laringotrakeal ini adalah aditus laringeus
Mukosa di daerah subglotik merupakan jaringan ikat
primitif dan terletak diantara lengkung IV dan V. Aditus laring
jarang, yang disebut konus elastikus. Keistimewaan jaringan
pada perkembangan pertama berbentuk celah vertikal yang
ini ialah, bila terangsang mudah terjadi edema dan akan
kemudian menjadi berbentuk T dengan tumbuhnya
terbentuk jaringan granulasi bila rangsangan berlangsung
hipobrachial eminence yang tampak pada minggu ke 3 dan
lama.2,6
kemudian akan tumbuh menjadi epiglottis. Sepasang aritenoid
yang tampak pada minggu ke 5 dan pada perkembangan
selanjutnya sepasang massa aritenoid ini akan membentuk
tonjolan yang kemudian akan menjadi kartilago kuneiforme
dan kartilago kornikulata. Kedua aritenoid ini dipisahkan oleh
incisura interaritenoid yang kemudian berobliterasi. Ketika
ketiga organ ini tumbuh selama minggu ke 5 7, lumen laring
mengalami obliterasi, baru pada minggu ke 9 kembali
terbentuk lumen yang berbentuk oval. Kegagalan
pembentukan lumen ini akan menyebabkan atresia atau
stenosis laring. Plika vokalis sejati dan plika vokalis palsu Gambar 1. Posisi Laring.7
1
terbentuk antara minggu ke 8 10.

I.2 Anatomi Laring


Laring merupakan bagian yang terbawah dari saluran
napas bagian atas dan terdapat sepanjang vertebra servikalis
IV - VI. Bentuknya menyerupai limas segitiga terpancung,
dengan bagian atas lebih besar daripada bagian bawah. Batas
atas laring adalah aditus laring, sedangkan batas bawahnya
ialah batas kaudal kartilago krikoid.2,3 Lokasi laring dapat
ditentukan dengan inspeksi dan palpasi dimana didapatkannya
kartilago tiroid yang pada pria dewasa lebih menonjol kedepan
dan disebut Prominensia Laring atau disebut juga Adams
apple atau jakun.4
Bangunan kerangka laring tersusun dari satu tulang,
yaitu tulang hioid, dan beberapa buah tulang rawan. Tulang
hioid berbentuk seperti huruf U, yang permukaan atasnya
dihubungkan dengan lidah, mandibula, dan tengkorak oleh
tendo-tendo dan otot-otot. Sewaktu menelan, kontrasi otot-otot
ini akan akan menyebabkan laring tertarik ke atas, sedangkan
bila laring diam, maka otot-otot ini bekerja untuk membuka Gambar 2. Laring potongan sagital dan coronar 8
mulut dan memantu menggerakkan lidah. Tulang rawan yang
menyusun laring adalah kartilago epiglotis, kartilago aritenoid,
I.2.1 Struktur Penyangga Laring melekat ligamentum krikoaritenoid, otot krikoaritenoid
lateral dan di bagian belakang melekat otot
krikoaritenoid posterior.3-6
b. Kartilago tiroid (Cartilago thyroidea)
Kartilago tiroid dihubungkan dengan kartilago krikoid
oleh ligamentum krikotyroid. Merupakan tulang rawan
laring yang terbesar, terdiri dari dua lamina yang bersatu
di bagian depan dan mengembang ke arah belakang.
Kartilago tiroid terletak di bagian proksimal kelenjar
tiroid, biasanya di sebut dengan jakun. Biasanya
berukuran lebih besar dan lebih menonjol pada laki-laki
akibat hormon yang di ekskresi saat pubertas. Kedua
lamina tersebut merupakan lamina Kartilago hyaline
yang bertemu di linea mediana anterior menjadi sebuah
tonjolan disebut dengan Adams apple/ commum
adamum/ prominentia piriformis (jakun). Pinggir
posterior tiap lamina menjorok ke atas membentuk cornu
superior dan ke bawah membentuk cornu inferior. Pada
permukaan luar lamina terdapat line oblique sebagai
tempat melekatnya otot sternothyroideus,
otot thyrohyoideeus, dan otot constrictor pharyngis
inferior.3,5,6
c. Kartilago epiglotis
Epiglotis atau kartilago epiglotis adalah katub kartilago
elastis yang merupakan lipatan tulang rawan berbentuk
daun dan menonjol keatas dibelakang dasar lidah yang
melekat pada tepian anterior kartilago tiroid. Kartilago
ini merupakan kartilago yang paling atas pada laring,
yang keseluruhannya di lapisi oleh membran mukosa.
Epiglottis dewasa umumnya sedikit cekung pada bagian
posterior. Namun pada anak dan sebagian orang dewasa,
epiglottis jelas melengkung dan disebut epiglottis omega
atau juvenilis. Epiglotis adalah tulang rawan yang
berfungsi sebagai katup pada pita suara (laring) dan
tabung udara (trakea), yang akan menutup selama proses
menelan berlangsung. 3 - 6
d. Kartilago aritenoid (Cartilago arytenoidea)
Merupakan Kartilago kecil yang terdiri dari dua buah
dan berbentuk pyramid yang terletak di belakang dari
Gambar 3. Kartilago Laring 8 laring pada pinggir atas lamina
kartilago krikoid. Kartilago aritenoid membentuk
Tulang rawan yang menyusun laring adalah : persendian dengan kartilgo krikoid disebut artikulasi
kartilago epiglotis, kartilago tiroid, kartilago krikoid, kartilago krikoaritenoid, sehingga dapat terjadi gerakan meluncur
aritenoid, kartilago kornikulata, kartilago kuneiformis dan dari medial ke lateral dan rotasi. Masing- masing
kartilago tritisea. kartilago aritenoid memiliki apex di bagian atas dan basis
Tulang rawan pada laring ada yang sepasang dan ada yang di bagian bawahnya. Dimana bagian apex nya ini akan
tunggal. Yang sepasang antara lain kartilago aritenoid, menyangga dari kartilago coeniculata, sedangkan pada
kartilago kornikulata, kartilago kuneiformis. Sedangkan yang bagian basis nya bersendi dengan kartilago krikoid. Pada
hanya berjumlah satu buah yaitu kartilago epiglotis, kartilago basis nya terdapat dua tonjolan yaitu prosesus vokalis
tiroid, kartilago krikoid. anterior yang menonjol horizontal ke depan merupakan
a. Kartilago krikoid (Cartilago cricoidea) perlekatan dari ligamentum Vocale, dan prosesus
Merupakan kartilago yang berbentuk cincin utuh, terletak muskularis lateralis yang menonjol ke lateral dan
di belakang kartilago tiroid dan merupakan tulang rawan merupakan perlekatan dari otot crycoarytenoideus
paling bawah dari laring. Kartilago ini mempunyai arcus lateralis et posterior. 3,5,6
anterior yang sempit dan lamina posterior yang e. Kartilago kornikulata (Cartilago corniculata)
lebar. Pada bagian lateral nya ada facies articularis Kartilago kornikulata melekat pada bagian ujung
sirkular yang akan bersendi dengan cornu inferior kartilago aritenoid dan kartilago juga disebut kartilago
kartilago tiroid. Sedangkan di bagian atasnya terdapat santorini. Kartilago ini bersendi dengan cartilaginis
facies articularis yang akan bersendi dengan basis arytenoidea dan plica aryepiglottica. 3,6
kartilago aritenoid. Di setiap sisi tulang rawan krikoid f. Kartilago kuneiformis (Cartilago cuneiformis)
Kartilago ini juga disebut dengan kartilago wrisberg dan b. Tensor Eksternus : M.
merupakan kartilago kecil berwarna kuning yang Krikotiroideus
terdapat di dalam plica aryepiglottica.3,6 Mempunyai fungsi untuk menegangkan pita suara. Pada
orang tua, m. tensor internus kehilangan sebagian
I.2.2 Struktur Otot Laring tonusnya sehingga pita suara melengkung ke lateral
Otot-otot yang menyusun laring terdiri dari otot-otot mengakibatkan suara menjadi lemah dan serak.3,4
ekstrinsik dan otot-otot intrinsik.Otot atau muskulus ekstrinsik
adalah otot yang bekerja pada laring secara keseluruhan,
sedangkan otot intrinsik bekerja pada bagian-bagian tertentu
yang berhubungan dengan pita suara.2
a. Otot-otot Ekstrinsik
Otot-otot ekstrinsik laring ada yang terletak di
atas tulang hioid (suprahioid) atau disebut juga otot-otot
elevetor, seperti musculus digastrikus, musculus
geniohioid, musculus stilohioid dan musculus milohioid.
Sedangkan otot-otot ekstrinsik laring yang terletak di
bawah tulang hioid (infrahioid) atau otot-otot depresor
ialah musculus sternohioid, musculus omohoid dan m.
Tirohioid. Otot ekstrinsik suprahioid akan menarik laring
ke bawah dan yang infrahioid akan menarik ke bagian
atas.2,5

Gambar 4. Otot-otot pada Leher. Pada gambar dapat dilihat


otot Entrinsik supra dan infra hioid.8

b. Otot-otot Intrinsik Gambar 5. Otot Intrinsik pada Laring.8


Otot-otot instrinsik yang terletak di bagian lateral
laring ialah musculus krikoaritenoid lateral, musculus I.2.3 Persarafan Laring
tiroepiglotika, musculus vokalis, musculus tiroaritenoid, Laring dipersarafi oleh cabang-cabang n. vagus, yaitu
musculus ariepiglotika dan musculus krikotiroid. n. Laringeus superior dan n. Laringeus inferior. Kedua saraf
Sedangkan otot-otot instrinsik yang terletak di bagian ini merupakan campuran saraf motorik dan sensorik.2,5
posterior laring adalah musculus aritenoid transversum, a. Nervus laringis superior
musculus aritenoid oblik, musculus krikoaritenoid Mempersarafi otot Krikotiroid, sehingga memberikan
posterior.2,3 sensasi pada mukosa laring di bawah pita suara. Saraf ini
Otot-otot intrinsik terbagi atas 2 fungsi, yaitu: mula-mula terletak di atas otot Konstriktor faring medial,
1. Otot-otot adduktor: di sebelah medial arteri Karotis interna dan eksterna,
Mm. Interaritenoideus transversal kemudian menuju ke kornu mayor tulang hioid, dan
dan oblik, M. Krikotiroideus, M. setelah menerima hubungan dengan ganglion servikal
Krikotiroideus lateral. Berfungsi superior, membagi diri dalam 2 cabang, yaitu ramus
untuk menutup pita suara. eksternus dan internus. 2
Ramus eksternus berjalan pada permukaan luar
2. Otot-otot abduktor: otot Konstriktor faring inferior dan menuju ke otot
M. Krikoaritenoideus posterior. Krikotiroid. Ramus eksterna merupakan suplai motorik
Berfungsi untuk membuka pita suara.2 untuk satu otot saja, yaitu otot krikotiroideus.2,4
3. Otot-otot tensor: Ramus internus tertutup oleh otot Tirohioid
a. Tensor Internus : M. terletak di sebelah medial arteri Tiroid superior,
Tiroaritenoideus dan M. Vokalis menembus membran hiotiroid, dan bersama-sama arteri
Laringeus superior menuju ke mukosa laring. Ramus atau
Cabang interna ini mengurus persarafan sensorik b. Arteri laringis inferior
valekula, epiglottis, sinus piriformis dan seluruh mukosa Merupakan cabang dari a. Tiroid inferior dan
laring superior interna tepi bebas korda vokalis sejati.2,4 bersama-sama dengan n. Laringis inferior berjalan ke
b. Nervus laringis inferior belakang sendi krikotiroid, masuk laring melalui daerah
Merupakan lanjutan dari nervus Rekuren setelah saraf itu pinggir bawah dari m. Konstriktor faring inferior.
memberikan cabangnya menjadi ramus kardia inferior. Di dalam laring arteri itu bercabang-cabang , mempendarahi
Nervus rekuren merupakan cabang dari nervus vagus. mukosa dan otot serta beranastomosis dengan a. Laringis
N. rekuren kanan akan menyilang a. Subklavia superior. Pada daerah setinggi membran krikotiroid a. Tiroid
kanan dibawahnya, sedangkan n. Rekuren kiri akan superior juga memberikan cabang yang berjalan mendatari
menyilang arkus aorta. sepanjang membran itu sampai mendekati tiroid. Kadang-
Nervus laringis inferior berjalan diantara kadang arteri ini mengirimkan cabang yang kecil melalui
cabang-cabang a. Tiroid inferior, dan melalui permukaan membran krikotiroid untuk mengadakan anastomosis dengan
mediodorsal kelenjar tiroid akan sampai pada permukaan a. Laringis superior. Vena laringis superior dan vena laringis
medial m. Krikofaring. Di sebelah posterior dari sendi inferior letaknya sejajar dengan a. Laringis superior dan
krikoaritenoid, saraf ini bercabang dua menjadi ramus inferior dan kemudian bergabung dengan vena tiroid superior
anterior dan posterior. Ramus anterior akan dan inferior. Vena-vena laring mengikuti arteri-arteri larynx,
mempersarafi otot-otot intrinsik bagian lateral, vena laryngea superior biasanya bermuara pada vena thyroidea
sedangkan ramus posterior mempersarafi otot-otot superior, lalu bermuara ke dalam vena jugularis interna.Vena
intrinsik laring bagian superior dan mengadakan laryngea inferior bermuara pada vena thyroidea inferior. 2,4
anastomosis dengan n. Laringis superior ramus
internus. 2,4

Gambar 7. Vaskularisasi Laring.8

I.2.5 Sistem Limfatik Laring


Pembuluh limfa untuk laring banyak, kecuali daerah
lipatan vokal. Disini mukosanya tipis dan melekat erat dengan
ligamentum vokale. Di daerah lipatan vokal pembuluh limfa
dibagi dalam golongan superior dan inferior.
Pembuluh eferen dari golongan superior berjalan lewat
lantai sinus piriformis dan a.laringis superior, kemudian ke
atas dan bergabung dengan kelenjar dari bagian superior rantai
servikal dalam. Pembuluh eferen dari golongan inferior
berjalan kebawah dengan a.laringis inferior dan bergabung
Gambar 6. Persarafan Laring dengan kelenjar servikal dalam dan beberapa diantaranya
menjalar sampai sejauh kelenjar supraklavikular.2-6
I.2.4 Vaskularisasi Laring
Pendarahan untuk laring terdiri dari 2 cabang, yaitu a.
Laringis superior dan a. Laringis inferior.

a. Arteri laringis superior


Merupakan cabang dari a. Tiroid
superior. Arteri laringitis superior berjalan agak mendatar
melewati bagian belakang membran hioid bersama-sama
dengan cabang internus dari n. Laringis superior
kemudian menembus membran ini untuk berjalan ke
bawah di submukosa dari dinding lateral dan lantai dari
sinus piriformis, untuk memperdarahi mukosa dan otot-
otot laring. Gambar 8. Sistem Limfatik daerah Leher8
BAB II vokalis sebagai akibat kontraksi otot-otot ekspirasi. Nada
dasar yang dihasilkan dapat dimodifikasi dengan berbagai
FISIOLOGI LARING cara. Otot intrinsik laring (dan krikotiroideus) berperan
penting dalam penyesuaian tinggi nada dengan mengubah
Walaupun laring biasanya dianggap sebagai organ bentuk dan massa ujung-ujung bebasa korda vokalis sejati dan
penghasil suara, namun ternyata mempunyau tiga Fungsi tegangan korda itu sendiri. Otot ekstra laring juga dapat ikut
Utama berperan. Demikian pula karena posisi laring manusia yang
1. Proteksi jalan napas lebih rendah. maka sebagian faring, disamping rongga hidung
2. Respirasi dan sinus paranasalis dimanfaatkan untuk perubahan nada
3. Fonasi yang dihasilkan laring. Semuanya ini dipantau melalui suatu
Kenyataannya ,secara filogenetik, laring mula-mula mekanisme umpan balik yang terdiri dari telinga manusia dan
berkembang sebagai suatu spingter yang melindungi saluran suatu sistem dalam laeing sendiru yang kurang
pernapasan, sementara perkembangan suara, merupakan dimengerti.Sebaliknya, kekerasan suara pada hakekatnya
peristiwa yang terjadi belakangan. proporsional dengan tekanan aliran udara subglotis yang
Perlindungan Jalan napas selama aksi menelan terjadi menimbulkan gerakan korda vokalis sejati. Dilain pihak,
melalui berbagai mekanisme berbeda. Aditus laringus sendiri berbisik diduga terjadi akibat lolosnya udara melalui komisura
tertutup oleh kerja sfingter dari otot tiroaritenoideus dalam posterior diantar aritenoid yang terabduksi tanoa gerakan
plika arepiglotika sab korda vokalis palsu, disamping adikus korda vokalis sejati.
korda vokalis sejati dan aritenoid yang ditimbulkan oleh otot Tiap penyakit yanng mempengaruhi kerja otot
intrinsik laring lainnya. Evaluasi laring dibawah pangkal lidah intrinsik dan ekstrinsik laring ( paralisis saraf, trauma,
melindungi laring lebih lanjut dengan mendorong epiglotis pembedahan), atau massa pada korda vokalis sejati( misalnya,
dan Plika ariepglotika kebawah menutup aditus. struktur ini paralisis saraf, trauma, pembedahan) akan mempengaruhi
mengalihkan makanan ke lateral,menjauhi aditus laringis dan fungsi laring, akibatnya akan terjadi ganguan menelan ataupun
masuk ke sinus piriformis,selanjutnya ke introitus esofagi. perubahan suara.
Relaksasi Otot krikofaringeus yang terjadi bersamaan 1. Fungsi Fonasi.
mempermudah jalan makanan ke esofagus sehingga tidak Pembentukan suara merupakan fungsi laring yang paling
masuk ke laring. Disamping itu, respirasi juga dihambat kompleks. Suara dibentuk karena adanya aliran udara respirasi
selama proses menelan melalui struktur refleks yang yang konstan dan adanya interaksi antara udara dan pita suara.
diperantarai reseptor pada mukosa daerah supraglotis. Hal ini Nada suara dari laring diperkuat oleh adanya tekanan udara
mencegah inhalasi makanan atau saliva. pernafasan subglotik dan vibrasi laring serta adanya ruangan
Pada binatang seperti rusa, epiglotis menjulur ke resonansi seperti rongga mulut, udara dalam paru-paru, trakea,
superior dan menyentuh permukaan nasalis palatum mole. faring, dan hidung. Nada dasar yang dihasilkan dapat
Konfogurasi demikian memungkinkan pernapasan bersamaan dimodifikasi dengan berbagai cara. Otot intrinsik laring
pada saat makan, sehingga binatang ini masih dapat menghidu berperan penting dalam penyesuaian tinggi nada dengan
dan melindungi dirinya selama makan. Demikian Pula pada mengubah bentuk dan massa ujung-ujung bebas dan tegangan
bayi, posisi laring lebih tinggi memungkinkan kontak antara pita suara sejati. Ada 2 teori yang mengemukakan bagaimana
epiglotis dengan permukaan posterior palatum mole. Maka suara terbentuk :
bayi-bayi dapat bernapas selama laktasi tanpa masuknya a. Teori Myoelastik Aerodinamik.
makanan ke jalan napas. Selama ekspirasi aliran udara melewati ruang glotis
Selam Respirasi, tekanan intratoraks dikendalikan dan secara tidak langsung menggetarkan plika vokalis. Akibat
oleh berbagai derajat penutupan korda vokalis sejati. kejadian tersebut, otot-otot laring akan memposisikan plika
Perubahan tekanan ini membantu sistem jantung seperti juga vokalis (adduksi, dalam berbagai variasi) dan menegangkan
ia juga mempengaruhi pengisian dan pengosongan jantung dan plika vokalis. Selanjutnya, kerja dari otot-otot pernafasan dan
paru.Selain itu, bentuk korda vokalis palsu dan sejati tekanan pasif dari proses pernafasan akan menyebabkan
memungkinkan laring berfungsi sebagai katup tekanan bila tekanan udara ruang subglotis meningkat, dan mencapai
menutup . Memungkinkan peningkatan tekanan intratorakal puncaknya melebihi kekuatan otot sehingga celah glotis
yang diperlukan untuk tindakan mengejan misalnya terbuka. Plika vokalis akan membuka dengan arah dari
mengangkat berat atau defekasi. Pelepasan tekanan secara posterior ke anterior. Secara otomatis bagian posterior dari
mendadak menimbulkan batuk yang berguna untuk ruang glotis yang pertama kali membuka dan yang pertama
mempertahankan ekspansi alveoli terminal dari paru dan kali pula kontak kembali pada akhir siklus getaran. Setelah
membersihkan sekret atau partikel makanan yang berakhir terjadi pelepasan udara, tekanan udara ruang subglotis akan
dalan aditus laringis, selain semua mekanisme proteksi lain berkurang dan plika vokalis akan kembali ke posisi saling
yang disebutkan diatas . mendekat (kekuatan myoelastik plika vokalis melebihi
Namun, pembentukan suara agaknya merupakan kekuatan aerodinamik). Kekuatan myoelastik bertambah
fungsi laring yang paling kompleks dan paling baik diteliti. akibat aliran udara yang melewati celah sempit menyebabkan
Penemuan sistem pengamatan serat optik dan stroboskop gang tekanan negatif pada dinding celah (efek Bernoulli). Plika
dapat dikoordinasikan dengan freukensi suara sangat vokalis akan kembali ke posisi semula (adduksi) sampai
membantu dan memahami fenomena ini. Korsa vokalis sejati tekanan udara ruang subglotis meningkat dan proses seperti di
yang teraduksi, kini diduga berfungsi sebagai suatu alat bunyi atas akan terulang kembali.9,10
pasif yang bergetar akibat udara yang dipaksa antara korda
b. Teori Neuromuskular. lidah, kemudian makanan terdorong ke bawah dan terjadi
Teori ini sampai sekarang belum terbukti, pembukaan faringoesofageal.
diperkirakan bahwa awal dari getaran plika vokalis adalah saat Laring menutup untuk mencegah makanan atau minuman
adanya impuls dari sistem saraf pusat melalui N. Vagus, untuk masuk ke saluran pernafasan dengan jalan menkontraksikan
mengaktifkan otot-otot laring. Menurut teori ini jumlah impuls orifisium dan penutupan laring oleh epiglotis. Epiglotis
yang dikirimkan ke laring mencerminkan banyaknya / menjadi lebih datar membentuk semacam papan penutup
frekuensi getaran plika vokalis. Analisis secara fisiologi dan aditus laringeus, sehingga makanan atau minuman terdorong
audiometri menunjukkan bahwa teori ini tidaklah benar (suara ke lateral menjauhi aditus laring dan maduk ke sinus
masih bisa diproduksi pada pasien dengan paralisis plika piriformis lalu ke hiatus esofagus. 9
vokalis bilateral). 10 7. Fungsi Batuk
2. Fungsi Proteksi. Bentuk plika vokalis palsu memungkinkan laring
Benda asing tidak dapat masuk ke dalam laring berfungsi sebagai katup, sehingga tekanan intratorakal
dengan adanya reflek otot-otot yang bersifat adduksi, sehingga meningkat. Pelepasan tekanan secara mendadak menimbulkan
rima glotis tertutup. Pada waktu menelan, pernafasan berhenti batuk yang berguna untuk mempertahankan laring dari
sejenak akibat adanya rangsangan terhadap reseptor yang ada ekspansi benda asing atau membersihkan sekret yang
pada epiglotis, plika ariepiglotika, plika ventrikularis dan merangsang reseptor atau iritasi pada mukosa laring. 10
daerah interaritenoid melalui serabut afferen N. Laringeus 8. Fungsi Ekspektorasi.
Superior. Sebagai jawabannya, sfingter dan epiglotis menutup. Dengan adanya benda asing pada laring, maka sekresi
Gerakan laring ke atas dan ke depan menyebabkan celah kelenjar berusaha mengeluarkan benda asing tersebut. 11
proksimal laring tertutup oleh dasar lidah. Struktur ini 9. Fungsi Emosi.
mengalihkan makanan ke lateral menjauhi aditus dan masuk Perubahan emosi dapat meneybabkan perubahan
ke sinus piriformis lalu ke introitus esofagus. 10 fungsi laring, misalnya pada waktu menangis, kesakitan,
3. Fungsi Respirasi. menggigit dan ketakutan. 11
Pada waktu inspirasi diafragma bergerak ke bawah
untuk memperbesar rongga dada dan M. Krikoaritenoideus
Posterior terangsang sehingga kontraksinya menyebabkan DAFTAR PUSTAKA
rima glotis terbuka. Proses ini dipengaruhi oleh tekanan
parsial CO dan O arteri serta pH darah. Bila pO tinggi akan 1. Lee K.J. Chapter 11 : Embriology of the Larynx. In;
2 2 2 Essential Otolaryngology and Head and Neck Surgery.
menghambat pembukaan rima glotis, sedangkan bila pCO 8th Edition. McGraw-Hill 2003. P: 8-9.
2
tinggi akan merangsang pembukaan rima glotis. Hiperkapnia 2. B. Hermani, Syahrial M. Hutauruk. Disfonia. Dalam :
dan obstruksi laring mengakibatkan pembukaan laring secara Buku Ajar Ilmu Kesehatan Telingan Hidung Tenggorok
reflektoris, sedangkan peningkatan pO arterial dan Kepala & Leher. Edisi VI. Fakultas Kedokteran
2
Universitas Indonesia. Jakarta 2010. Hal 231-4.
hiperventilasi akan menghambat pembukaan laring. Tekanan
3. Taufik Ali and Staff Members of Otorhinolaryngology
parsial CO darah dan pH darah berperan dalam mengontrol
2 Department Faculty of Medicine. In : Essentials Of
posisi pita suara10 Otorhinolaryngology. 1st Edition. Mansoura University.
4. Fungsi Sirkulasi. Egypt 2007. P:148-51.
Pembukaan dan penutupan laring menyebabkan 4. Cohen, J.I. Anatomi dan Fisiologi Laring. Dalam Adam
penurunan dan peninggian tekanan intratorakal yang Boies Higler. Buku Ajar Penyakit THT. Edisi VI. EGC.
berpengaruh pada venous return. Perangsangan dinding laring Jakarta 2002. Hal 370-7.
terutama pada bayi dapat menyebabkan bradikardi, kadang- 5. Woodson Gayle E. Upper Airway Anatomi & Function.
kadang henti jantung. Hal ini dapat karena adanya reflek In: Bailey Byron J. Head & Neck Surgery
kardiovaskuler dari laring. Reseptor dari reflek ini adalah Otolaryngology. Vol 2. 3rd Edition. Lipincott Williams
baroreseptor yang terdapat di aorta. Impuls dikirim melalui N. & Wilkins Publisher. Philadelphia 2001. P: 336-8.
Laringeus Rekurens dan Ramus Komunikans N. Laringeus 6. Lee K.J. Chapter 15 : The Larynx. In; Essential
Superior. Bila serabut ini terangsang terutama bila laring Otolaryngology and Head and Neck Surgery. 3rd
dilatasi, maka terjadi penurunan denyut jantung. 10 Edition. McGraw-Hill. P: 1-13.
5. Fungsi Fiksasi. 7. Betts J Gordon, Desaix Petter, Johnson Eddie et all.
Berhubungan dengan mempertahankan tekanan Chapter 22: The Respiratory System. In: OpenStax.
intratorakal agar tetap tinggi, misalnya batuk, bersin dan Anatomy and Physiology. Rice University. Huston,
mengedan. 11 Texas. 2017. P: 1036.
6. Fungsi Menelan. 8. Putz R and Pabs R. In : Sobotta. Atlas of Human
Terdapat 3 (tiga) kejadian yang berhubungan dengan Anatomy. Vol 1. 14th Edition. Urban & Fischer.
laring pada saat berlangsungnya proses menelan, yaitu : Munchen, Jena. 2006. P : 77, 118, 122, 125-27, 129.
Pada waktu menelan faring bagian bawah (M. Konstriktor
Faringeus Superior, M. Palatofaringeus dan M. Stilofaringeus)
mengalami kontraksi sepanjang kartilago krikoidea dan
kartilago tiroidea, serta menarik laring ke atas menuju basis