You are on page 1of 9

Tanin

Tanin merupakan salah satu senyawa yang termasuk ke dalam golongan polifenol
yang terdapat dalam tumbuhan, mempunyai rasa sepat dan memiliki kemampuan
menyamak kulit. Tanin terdapat luas dalam tumbuhan berpembuluh, dalam
angiospermae terdapat khusus dalam jaringan kayu (Harborne, 1987). Tanin
merupakan senyawa organik yang terdiri dari campuran senyawa polifenol kompleks,
dibangun dari elemen C, H, dan O serta sering membentuk molekul besar dengan
berat molekul lebih besar dari 2000 (Risnasari, 2001). Senyawa-senyawa tanin
termasuk suatu golongan senyawa yang berasal dari tumbuhan yang sejak dahulu kala
digunakan untuk merubah kulit hewan menjadi kedap air, dan awet (Manitto, 1992).
Tanin disebut juga asam tanat dan asam galotanat. Tanin dapat tidak berwarna sampai
berwarna kuning atau coklat. Asam tanat yang dapat dibeli di pasaran mempunyai
BM 1701 dan kemungkinan besar terdiri dari sembilan molekul asam galat dan
sebuah molekul glukosa. Beberapa ahli pangan berpendapat bahwa tanin terdiri dari
katekin, leukoantosianin, dan asam hidroksi yang masing-masing dapat menimbulkan
warna bila bereaksi dengan ion logam (Winarno, 1992). Berdasarkan strukturnya,
tanin dibedakan menjadi dua kelas yaitu tanin terkondensasi (condensed tannins) dan
tanin-terhidrolisiskan (hydrolysable tannins). Tanin memiliki peranan biologis yang
kompleks. Hal ini dikarenakan sifat tanin yang sangat kompleks mulai dari
pengendap protein hingga pengkhelat logam. Maka dari itu efek yang disebabkan
tanin tidak dapat diprediksi. Tanin juga dapat berfungsi sebagai antioksidan biologis
(Manitto, 1992). Salah satu fungsi tanin dalam tumbuhan adalah sebagai penolak
herbivora karena rasanya yang pahit (Harborne, 1987).
Menurut Manitto (1992), sifat fisika kimia dari tanin adalah sebagai berikut :
1. Jika dilarutkan kedalam air akan membentuk koloid dan memiliki rasa asam
dan sepat
2. Jika dicampur dengan alkaloid dan glatin akan terjadi endapan
3. Tidak dapat mengkristal
4. Mengendapkan protein dari larutannya dan bersenyawa dengan protein
tersebut sehingga tidak dipengaruhi oleh enzim protiolitik.
5. Merupakan senyawa kompleks dalam bentuk campuran polifenol yang sukar
dipisahkan sehingga sukar mengkristal
6. Tanin dapat diidentifikasikan dengan kromotografi
7. Senyawa fenol dari tanin mempunyai aksi astringensia, antiseptik dan pemberi
warna
Steroid/Triterpenoid
Steroid adalah senyawa organic bahan alam yang dihasilkan oleh organisme
melalui metabolit sekunder, senyawa ini banyak ditemukan pada jaringan hewan dan
tumbuhan. Steroid merupakan senyawa organik lemak sterol tidak terhidrolisis yang
merupakan hasil reaksi dari turunan terpena atau skualena. Steroid mempunyai
kerangka dasar triterpena asiklik. Ciri umum steroid ialah sistem empat cincin yang
tergabung. Cincin A, B dan C beranggotakan enam atom karbon, dan cincin D
beranggotakan lima. Steroid terdiri atas beberapa kelompok senyawa dan
penegelompokan ini didasarkan pada efek fisiologis yang diberikan oleh masing-
masing senyawa. Kelompok kelompok itu adalah sterol, asam asam empedu,
hormon seks, hormon adrenokortikoid, aglikon kardiak dan sapogenin. Ditinjau dari
segi struktur molekul, perbedaan antara berbagai kelompok steroid ini ditentukan oleh
jenis substituen R1 , R2 dan R3 yang terikat pada kerangka dasar karbon. sedangkan
perbedaan antara senyawa yang satu dengan yang lain pada suatu kelompok tertentu
ditentukan oleh panjang rantai karbon R1, gugus fungsi yang terdapat pada substituen
R1, R2, dan R3, jumlah serta posisi gugus fungsi oksigen dan ikatan rangkap dan
konfigurasi dari pusat-pusat asimetris pada kerangka dasar karbon tersebut (Hanani et
al., 2005). Dahulu steroida dianggap sebagai senyawa yang hanya terdapat pada
hewan tetapi sekarang ini makin banyak senyawa steroida yang ditemukan dalam
tumbuhan (fitosterol). Fitosterol merupakan senyawa steroida yang berasal dari
tumbuhan. Senyawa fitosterol yang biasa terdapat pada tumbuhan tinggi yaitu
sitosterol, stigmasterol dan kampesterol (Harborne, 1987).
Triterpenoid adalah senyawa yang kerangka karbonnya berasal dari enam satuan
isoprena dan secara biosintesis diturunkan dari hidrokarbon C30 asiklik, yaitu
skualen. Senyawa tersebut mempunyai struktur siklik yang relatif kompleks,
kebanyakan merupakan suatu alkohol, aldehid atau asam karboksilat. Triterpenoid
adalah senyawa tanpa warna, berbentuk kristal, sering kali bertitik leleh tinggi dan
aktif optik, dapat dibagi atas 4 kelompok senyawa yaitu triterpen sebenarnya, steroid,
saponin dan glikosida jantung. Uji kualitatif yang banyak digunakan ialah reaksi
Liebermann-Burchard (asam asetat anhidridaH2SO4 pekat) yang kebanyakan
triterpena dan steroida memberikan warna hijau biru (Harborne, 1987).
Kuinon
Kuinon adalah senyawa berwarna dan mempunyai kromofor dasar seperti
kromofor pada benzokuinon, yang terdiri atas dua gugus karbonil yang berkonjugasi
dengan dua ikatan rangkap karbo-karbon. Untuk tujuan identifikasi kuinon dapat
dibagi atas empat kelompok yaitu: benzokuinon, naftokuinon, antrakuinon dan
kuinon isoprenoid. Tiga kelompok pertama biasanya terhidroksilasi dan bersifat fenol
serta mungkin terdapat dalam bentuk gabungan dengan gula sebagai glikosida atau
dalam bentuk kuinol (Harborne, 1987). Sifat fisika dan kimia kuinon yaitu merupakan
senyawa yang berbentuk kristal, berwarna kuning, mudah terbakar, berbau tajam,
beracun, dapat menyebabkan iritasi pada kulit, sedikit larut dalam air dan larut dalam
alkali, eter dan alkohol (Basri, 1996).
PEMBAHASAN
5.1 Sambiloto (Andrographis paniculata Ness)
5.1.1. Alkaloid
Uji alkaloid ini bertujuan untuk mengetahuin golongan alkaloid yang
terdapat pada tanaman sambiloto (Andrographis paniculata Ness). Langkah
pertama yang dilakukan adalah 5g serbuk sambiloto dilarutkan dalam ammonia
dan digerus dalan kurs porselin. Penambahan larutan amonia bertujuan untuk
melarutkan senyawa alkaloid agar dapat terpisah dari simplisia. Alkaloid yang
bersifat polar akan larut dalam amonia yang juga bersifat polar. Hal ini sesuai
dengan prinsip like dissolve like. Amonia digunakan sebagai pelarut karena
amonia mangandung atom N dimana alkaloid juga mengandung atom N
sehingga kelarutannnya menjadi lebih besar. Selain itu, amonia juga berfungsi
untuk memutus ikatan glikosida pada alkaloid. Ikatan glikosida adalah ikatan
karbon dioksida (1 karbon dalam atom) dimana 1 karbon terikat pada 2 gugus
OR dan cara pemutusan ikatan glikosida adalah dengan penambahan ammonia
dimana H dari NH3 akan masuk menggantikan R pada OR. Kloroform
berfungsi untuk melarutkan ikatan glikosida yang terputus akibat penambahan
ammonia. Prinsip yang mendasari adalah like dissolve like. Karena sifat
kloroform yang semipolar, selain bisa melarutkan senyawa polar kloroform
juga bisa melarutkan senyawa non polar seperti glikosida. (Fessenden, 1999).
Penambaahan HCl dilakukan dengan proses ekstraksi agar alkaloid dapat
terdistribusi secara optimal dalam larutan HCl yang bersifat polar. Ekstraksi
dilakukan sebanyak 2 kali agar alkaloid terdistribusi sepenuhnya pada HCl.
(Markham, 1988).
Filtrat (lapisan HCl) diambil untuk diuji kandungan alkaloidnya, karena
diperkirakan golongan alkaloid banyak terdapat didalam lapisan HCl. Filtrat
tersebut dibagi menjadi 2 bagian untuk diuji kandungan alkaloidnya. Filtrat
pertama ditambahkan pereaksi Dragendroff yang mengandung ion Bi3+ dan HI,
dimana uji positif jika terbentuk endapan merah bata. Filtrat kedua
ditambahkan dengan pereaksi mayer yang mengandung Hg2+ dan KI. Uji
positif jika terbentuk putih (Harbone, 1977).
Hasil uji dinyatakan positif bila dengan pereaksi Dragendorff terbentuk
endapan merah jingga. Kemudian, terbentuknya endapan putih kekuningan
dengan pereaksi Meyer dan terbentuknya endapan cokelat dengan pereaksi
Wagner (Harborne dalam Priyanto, 2012).
Berdasarkan hasil percobaan, filtrat I yang diteteskan dengan pereaksi
Dragendorff terbentuk endapan merah bata yang menandakan bahwa sampel
positif mengandung alkoloid dan filtrat II yang diteteskan dengan pereaksi
Meyer tidak mengalami perubahan yang menandakan bahwa sampel negatif
mengandung alkanoid. Dapat disimpulkan bahwa herba sambiloto
mengandung alkaloid. Hal ini sesuai dengan literature. Menurut Yusron et al
(2005), sambiloto mengandung saponin, falvonoid, alkaloid dan tanin.
5.1.2. Saponin
Uji saponin ini bertujuan untuk mengetahuin golongan saponin yang
terdapat pada tanaman sambiloto (Andrographis paniculata Ness). Langkah
pertama yang dilakukan adalah 5g serbuk sambiloto dididihkan dalam 100ml
air selama 5 menit. Tujuan pendidihan ini adalah untuk memperbesar kelarutan
saponin dalam air. Penyaringan dilakukan dalam keadaan panas, hal ini
dilakukan agar kandungan saponin tidak berkurang bila suhu menurun atau
untuk menjaga kestabilan saponin. Penyaringan ini bertujuan untuk
memisahkan saponin dari simplisia dan senyawa lain yang terkandung
didalamnya seperti alkaloid, steroid, flavonoid. Filtrat yang dihasilkan
kemudian dikocok secara vertikal hingga terbentuk busa selama 10 detik.
Selanjutnya diteteskan asam klorida 2N untuk menjaga kestabilan busa. Uji
positif untuk saponin adalah dengan terbentuknya busa yang stabil. Saponin
dapat larut dalam air karena adanya gugus hidrofil (OH) yang dapat
membentuk ikatan hidrogen dengan molekul air (Fessenden, 1999).
Dalam percobaan ini memberikan hasil yang positif karena setelah dikocok
terbentuk busa setinggi 5cm selama >10 menit dan busa tidak hilang setelah
diteteskan HCl 2N pada larutan tersebut. Hal ini menunjukan bahwa sambiloto
mengandung saponin. Hal ini sesuai dengan literature. Menurut Yusron et al
(2005), sambiloto mengandung saponin, falvonoid, alkaloid dan tanin.
5.1.3. Flavonoid
Uji flavonoid ini bertujuan untuk mengetahuin golongan flavonoid yang
terdapat pada tanaman sambiloto (Andrographis paniculata Ness). Langkah
pertama yang dilakukan adalah filtrat dari larutan Saponin diambil setengah
dari total larutan Saponin (ml) ditambahkan serbuk Mg. Pada proses
penambahan ini terjadi reaksi eksoterm yaitu reaksi yang melepaskan panas
yang ditandai dengan terbentuknya gelembung-gelembung gas dan pelepasan
kalor pada permukaan tabung reaksi. Gelembung gas yang terbentuk ini adalah
gas H2. Produk yang dihasilkan adalah MgCl2 dan H2. Penambahan
amilalkohol berfungsi untuk melarutkan flvonoid. Hal ini disebabkan flavonoid
merupakan senyawa polar sehingga amilalkohol yang juga bersifat polar
mampu memisahkan flavonoid dari senyawa senyawa yang bersifat non
polar, misalnya kuinon (Markham, 1988).
Dalam percobaan ini memberikan hasil yang positif karena larutan berubah
menjadi warna merah. Hal ini menunjukan bahwa sambiloto mengandung
flavonoid. Hal ini sesuai dengan literature. Menurut Yusron et al (2005),
sambiloto mengandung saponin, falvonoid, alkaloid dan tanin.
5.1.4. Tanin
Uji tanin ini bertujuan untuk mengetahuin golongan tanin yang terdapat
pada tanaman sambiloto (Andrographis paniculata Ness). Langkah pertama
yang dilakukan adalah filtrat dari larutan Saponin diambil setengah dari total
larutan Saponin (ml) dididihkan selama 5 menit. Tujuan pendidihan ini adalah
untuk memperbesar kelarutan tanin dalam air (Fessenden, 1999). Kemudian
dilakukan pendinginan untuk mengendapkan senyawa-senyawa pengotor yang
tidak larut pada suhu rendah, misalnya saponin. Selanjutnya adalah
penyaringan yang bertujuan untuk memisahkan tanin dari simplisia dan
senyawa lain yang terkandung didalamnya seperti alkaloid, steroid, flavonoid.
Larutan/filtrat dibagi menjadi 2 bagian.
Filtrat pertama ditambahkan FeCl3 1%. Penambahan FeCl3 berfungsi
sebagai sumber atom pusat, dimana tanin merupakan ligan yang membutuhkan
atom pusat untuk membentuk kompleks yang stabil, sehingga terbentuklah
kompleks antara atom pusat Fe3+ dengan ligan tanin. Uji positif yaitu terbentuk
larutan berwarna cokelat kehitaman Filtrat kedua ditambahkan dengan gelatin
dan pereaksi steasny, untuk mengujji keberadaan tanin katekat. Tanin katekat
merupakan kelompok tanin yang tidak dapat terhidrolisis dan merupakan
polimer kondensasi katekin. Uji positif adalah terbentuk endapan putih merah
muda. Penambahan gelatin berfungsi untuk menunjukan adanya keberadaan
tanin tertentu yaitu tanin katekat. Kemudian ditambahkan pereaksi steasny.
Pereaksi steasny akan menunjukan keberadaan tanin katekat tanpa tanin
dibentuk terlebih dahulu menjadi senyawa kompleks dengan Fe3+ (Markham,
1988).
Dalam percobaan ini memberikan hasil yang positif karena larutan setelah
diteteskan FeCl3 1% dan gelatin mengalami perubahan yaitu larutan menjadi
warna hitam dan terbentuk endapan putih merah muda. Hal ini menunjukan
bahwa sambiloto mengandung tannin dan tannin katekat. Hal ini sesuai dengan
literature. Menurut Yusron et al (2005), sambiloto mengandung saponin,
falvonoid, alkaloid dan tanin.
5.1.5. Kuinon
Uji kuinon ini bertujuan untuk mengetahuin golongan kuinon yang terdapat
pada tanaman sambiloto (Andrographis paniculata Ness). Langkah pertama
yang dilakukan adalah 5g serbuk sambiloto didihkan dalam 50ml air selama 5
menit. Tujuan pendidihan ini adalah untuk memperbesar kelarutan kuinon
dalam air. Selanjutnya dilakukan pendinginan pada temperatur kamar yang
bertujuan untuk mengendapkan pengotor (misalnya alkaloid, saponin dan
kuinon) yang tidak larut pada suhu rendah. Setelah itu larutan disaring untuk
memisahkan residu kencur dari filtrat yang diperkirakan terdapat kuinon.
Filtrat hasil penyaringan ditambahkan NaOH. Penambahan NaOH berfungsi
untuk mendeprotonasi gugus fenol pada kuinon sehingga terbentuk ion enolat.
Ion enolat tersebut akan mampu mengadakan resonansi antar elektron pada
ikatan rangkap , karena terjadinya resonansi ini ion enolat dapat menyerap
cahaya tertentu dan memantulkan warna (Fessenden, 1999).
Dalam percobaan ini memberikan hasil yang negatif karena larutan tidak
menunjukkan adanya perubahan warna. Hal ini menunjukan bahwa sambiloto
tidak mengandung kuinon. Hal ini sesuai dengan literature. Menurut Yusron et
al (2005), sambiloto mengandung saponin, falvonoid, alkaloid dan tanin.
5.1.6. Steroid/Triterpenoid
Uji steroid/triterpenoid ini bertujuan untuk mengetahuin golongan
steroid/triterpenoid yang terdapat pada tanaman sambiloto (Andrographis
paniculata Ness). Langkah pertama yang dilakukan adalah 5g serbuk
sambiloto dimaserasi dengan dengan 20ml eter selama 15 menit dan disaring.
Tujuan maserasi adalah mengeluarkan atau mengekstrak steroid/triterpenoid
yang terkandung dalam simplisia. Larutan yang telah dimaserasi kemudian
disaring dengan tujuan untuk memisahkan residu kencur dari filtrat. Filtrat
yang diperoleh kemudian diuapkan. Penguapan berfungsi untuk
menghilangkan pelarut eter yang tersisa pada filtrat. Residu yang diperoleh dari
penguapan kemudian ditambah dengan asam asetat anhidrat dimana asam
asetat anhidrat akan bereaksi dengan steroid melalui reaksi asetilasi
menghasilkan kompleks asetil steroid. Penambahan H2SO4 pekat bertujuan
untuk mendekstruksi kompleks asetil steroid. Uji positif terhadap steroid
adalah jika terbentuk larutan berwarna biru. Sedangkan uji positif terhadap
triterpenoid adalah jika terbentuk kristal/endapan berwarna merah kecoklatan
(Fessenden, 1999).
Dalam percobaan ini memberikan hasil yang negatif karena larutan tidak
menunjukkan adanya perubahan warna dan terbentuknya endapan. Hal ini
menunjukan bahwa sambiloto tidak mengandungsteroid/triterpenoid. Hal ini
sesuai dengan literature. Menurut Yusron et al (2005), sambiloto mengandung
saponin, falvonoid, alkaloid dan tanin.
Andersen, M dan Markham, K.R. 2006. Flavonoids. New York: Taylor & Francis Group
Basri, S. 1996. Kamus Kimia. Jakarta: Rineka Cipta
Farnsworth, N. R. 1966. Biological and Phytochemical Screening of Plants. Journal Pharmacist
and Science Vol. 55(3) Hal. 225-276
Grotewold, E. 2006. The Science of Flavonoid. United States of America: Springer
Gunawan, D dan Mulyani, S. 2004. Ilmu Obat Alam (Farmakognosi) Jilid I. Jakarta: Penerbit
Penebar Swadaya
Hanani, E et al. 2005. Identifikasi senyawa antioksidan dalam spons Callyspongia sp. dari
Kepulauan Seribu. Majalah Ilmu Kefarmasian 2(3): 127-133
Harborne, J.B. 1987. Metode Fitokimia Edisi II. Bandung: ITB
Harborne, J. B. 1996. Metode Fitokimia. Bandung: Penerbit ITB
Herbert, R.B. 1995. Biosintesis Metabolit Sekunder Edisi Kedua. Semarang: IKIP Press
Leswara. 2005. Radiofarmasi. Jakarta: Ari Cipta
Manitto, P. 1992. Biosintesis Produk Alami. New York: Ellis Horwood Limited
Praptiwi, Harapini, M. dan Chairul. 2007. Uji Aktivitas Antimalaria Secara InVivo Ekstrak Ki
Pahit (Picrasma javanica) pada Mencit yang Diinfeksi Plasmodium Berghei. Biodiversitas
8(2): 111-113
Rahway. 1960. The Merk Index : An Encyclopedia of Chemical Drugs and Biologicals. New
Jersey: Merk Index Co Ink
Risnasari, I. 2001. Pemanfaatan Tanin Sebagai Bahan Pengawet Kayu (Skripsi). Medan:
Universitas Sumatera Utara
Robinson, T. 1995. Kandungan Organik Tumbuhan Tinggi Edisi VI. Bandung: Penerbit ITB
Trease, G.E., and Evans, W.C. 1983. Pharmacognosy. London: Bailliere Tindall
Waller, G. R., dan Nowacki, E. K. 1978. Alkaloid biology and metabolism in plants. New York:
Plenum Press
Winarno, F. G. 1992. Kimia Pangan dan Gizi. Jakarta: Gramedia
Winarno, F. G. 1992. Kimia Pangan dan Gizi. Jakarta: Gramedia
Zuhra, dkk. 2008. Aktivitas Antioksidan Senyawa Flavonoid Dari Daun Katuk (Sauropus
androgonus (L) Merr). Jurnal Biologi Sumatera Vol. 3 No. 1