You are on page 1of 1

Pada praktikum distortion analyzer, dilakukan percobaan dengan input berupa

amplitudo dengan range frekuensi yang berbeda. Bentuk gelombang yang digunakan dalam
praktikum ini berbentuk sinus, segitiga, dan kotak. Dalam keadaan idealnya sebuah
gelombang sinyal, penggunaan masukan sinyalnya berbentuk sinus, segitiga, dan kotak
dimana di hubungkan dengan perangkat elektronik yang mempunyai gelombang output yang
sama atau diperbesar. Namun nyatanya, bentuk gelombang keluaran tidak sama persisis
dengan bentuk gelombang masukan sehingga gelombang mengalami distorsi.

Distorsi terjadi akibat dihubungkannya input dengan distortion analyzer yang


fungsinya mengukur total harmonik distorsi hingga dibawah 1% dari fundamental frekuensi
antara 5Hz hingga 600 kHz dengan harmonik mencapai frekuensi 3MHz.

Pada keluaran memperlihatkan harmonik harmonik sinyal dari frekuensi dasar pada
bentuk gelombang keluaran, dan distorsi resultante. Karena sinyal yang tidak ideal memiliki
banyak frekuensi harmonisa.

Jika frekuensi yang muncul semakin banyak, maka sinyal tersebut makin tidak
sempurna. Distorsi suatu sinyal juga dapat bertambah dikarenakan adanya suatu proses.
Semakin besar amplitudo menyebabkan nilai tegangan rms (Vrms) yang dihasilkan semakin
kecil dan menambah cacat pada tampilan suatu sinyal atau distorsi di dalam suatu sinyal.