You are on page 1of 286

Pengantar Redaksi

IKIP PGRI Bali merupakan salah satu institusi yang berkonsentrasi pada ilmu
pendidikan. Dinamika ilmu pendidikan amatlah pesat. Oleh karena itu diperlukan wadah untuk
menghimpun dan mempublikasikan perkembangan ilmu pendidikan itu. Berdasarkan kesadaran
dan komitmen civitas akademika, IKIP PGRI Bali berhasil mewujudkan idealisme ilmiahnya
melalui Widyadari yang terbit dua kali dalam setahun, yakni April dan Oktober. Apa yang ada
ditangan pembaca yang budiman saat ini merupakan Widyadari Nomor 22 Tahun XVIII Oktober
2017.
Widyadari ini memiliki makna tersendiri. Penerbitan edisi ini disebarkan baik secara
internal di Kampus IKIP PGRI Bali, dan juga disebarkan pada alumni beserta komunitas
akademika yang luas. Widyadari kali ini memuat artikel ilmiah dari dosen dilingkungan IKIP PGRI
Bali dan alumni IKIP PGRI Bali. Adanya sumbangan dari alumni kampus IKIP PGRI Bali
diharapkan memperluas cakrawala ilmiah komunitas akademika.
Semoga penerbitan Widyadari ini menjadi wahana yang baik untuk membangun
atmosfer akademika. Akhirnya, sumbangan pemikiran, kritik, dan saran dari pembaca diharapkan
dapat memperbaiki terbitan edisi selanjutnya.

Redaksi

i
DEWAN REDAKSI WIDYADARI
Penasehat : 1. Pembina YPLP PT IKIP PGRI BALI (Drs. Dewa Putu Tengah)
: 2. Ketua YPLP PT IKIP PGRI BALI (Drs. I Gst. Bgs. Artha negara, SH.,M.Pd.)
: 3. SekretarisYPLP PT IKIP PGRI BALI ( I Gusti Ngurah Oka, SH)

Penanggung Jawab : Rektor IKIP PGRI Bali (Dr. I Made Suarta, SH., M.Hum)

Redaksi
Ketua : Dr. I Made Darmada, M. Pd.
Sekretaris : Putu Firmani, SE.
Bendahara : I Ketut Sudana, SE., MM.

Anggota
1. Prof. Dr. I Gusti Putu Surya Dharma, SU., M.Si.(UNY)
2. Prof. Dr. Ida Bagus Yudha Triguna, M.Si (UNHI)
3. Prof. I Nyoman Wedakusuma, M.S. (UNUD)
4. Dr. Putu Panji Sudira, M.P.(UNY)
5. Drs. I Ketut Donder, M.Fil., Ph.D (IHD)
6. Drs. Pande Wayan Bawa, M.Si (IKIP PGRI BALI)
7. Drs. Dewa Putu Juwana, M.Pd (IKIP PGRI BALI)
8. Dr. Drs. I Wayan Citrawan, M.Pd (IKIP PGRI BALI)
Penyunting Bahasa Indonesia
Dr. I Wayan Suardiana, M. Hum (UNUD)
Dr. I Wayan Gunartha, M.Pd (IKIP PGRI BALI)
Dr. I Nengah Arnawa, M.Hum (IKIP PGRI BALI)
Dr. A.A Gde Alit Geria, M.Si (IKIP PGRI BALI)

Penyunting Bahasa Inggris
Ni Luh Gede Liswahyuningsih, S.S., M.Hum (lis_mymail@yahoo.com)
Ni Made Milati, S.S., M.Hum (mila_bec@yahoo.com)
Komang Gede Purnawan, S.S. (komanggedepurnawan@yahoo.com

Sirkulasi
1. Dr. Drs. I Wayan Adnyana, MM.,M.Erg.
2. Rd. I Ketut Yarsama, M.Hum.
3. Drs. I Made Alit, M.Pd.
4. Dra. Ni Nyoman Parmini, M.M.
5. Drs. I Nyoman Wage, M.Si.

Administrasi
1. Komang Erawati, S.Pd.
2. Ni Luh Putu Yesi Anggreni, S.Pd.
3. Ni Luh Maryanti, S.Pd.
4. I Made Wisnu Saputra, SH.
5. Evi Listiani.

ii
DAFTAR ISI

PENGANTAR REDAKSI ....................................................................... i

DAFTAR ISI ............................................................................................... iii

PENERAPAN BIMBINGAN BELAJAR DENGAN TEKNIK TUTOR
TEMAN SEBAYA UNTUK MENINGKATKAN MOTIVASI BELAJAR SISWA
KELAS XI TKI 1SMK PGRI 1 DENPASAR TAHUN PELAJARAN 2016/2017
Kadek Suhardita ……………………………………………..……………….. 1

KESATUAN TEKNIK TATA PENTAS DAN TARI DALAM SENI
PERTUNJUKKAN
I Wayan Mastra ............................................................................................... 10

ANALISIS MANAJEMEN WAKTU, MINAT BELAJAR, DAN KEHADIRAN
TERHADAP PRESTASI BELAJAR MAHASISWA SENI RUPA IKIP PGRI
BALI
Ini Putu Sri Windari .................................................................................... 32

KEBERTAHANAN STRUKTUR DAN RAGAM GERAK TARI PENDET
SEBAGAI SENI PERTUNJUKAN DI DESA PELIATAN UBUD GIANYAR
Luh Putu Pancawati .................................................................................... 43

LONTAR : ASET BUDAYA BALI DAN SAKRAL-RELIGIUS
Anak Agung Gde Alit Geria ..................................................................................... 53

KOMPARASI KARAKTERISTIK BUTIR TES PILIHAN GANDA DITINJAU
DARI TEORI TES KLASIK
Imam Suseno ................................................................................................. 63

PROGRAM BIMBINGAN DAN KULTURAL UNTUK MENGEMBANGKAN
KECERDASAN KULTULAR
Putu Agus Semara Putra Giri ...................................................................................... 75

PENGEMBANGAN PEMBELAJARAN MATEMATIKA PEUBAH BANYAK
DENGAN PENDIDIKAN MATEMATIKA REALISTIK BERORIENTASI
BLENDED LEARNING
I Wayan Sumandya ................................................................................................... 88

PENERAPAN STRATEGI PEMBELAJARAN DIFERENSIASI PROGRESIF
BERBANTUAN LKS DALAM UPAYA MENINGKATKAN AKTIVITAS DAN
HASIL BELAJAR MATEMATIKA PESERTA DIDIK KELAS X SMA N 7
DENPASAR TAHUN PELAJARAN 2014/2015
I Komang Sukendra ...................................................................................... 100

PENINGKATAN PRESTASI BELAJAR IPS MELALUI TUGAS INDIVIDU
DALAM KERJA KELOMPOK MENGGUNAKAN PEMBELAJARAN
MASTERY LEARNING
Ni Made Merta ...................................................................................................

iii
OPTIMALISASI MODEL PEMBELAJARAN BERCAKAP-CAKAP DALAM
PEMBELAJARAN TEMATIK UNTUK MENINGKATKAN PRESTASI BELAJAR
I Made Karang ................................................................................................... 122

PENERAPAN MODEL PEMBELAJARAN SAINS TEKNOLOGI
MASYARAKAT (STM) UNTUK MENINGKATKAN PRESTASI BELAJAR SISWA
I Putu Murtiasa .................................................................................................. 135

MODEL PEMBELAJARAN EKSPOSITORY DALAM MENINGKATKAN
PRESTASI BELAJAR SD NEGERI 5 KEDEWATAN
I Made Parwata ................................................................................................ 151

IMPLEMENTASI MODEL PEMBELAJARAN INQUIRI SD NEGERI 3 PELIATAN
Ni Luh Silawati ................................................................................................ 164

PENERAPAN MODEL EKSPOSITORY UNTUK MENINGKATKAN PRESTASI
BELAJAR IPS SISWA DASAR
Ni Made Sudarmini .................................................................................. 176

PENINGKATAN PRESTASI BELAJAR DENGAN MODEL CTL
MENGGUNAKAN PENERAPAN 3W AND HOW
Ni Wayan Tirta ................................................................................................ 188

APLIKASI MODEL PEMBELAJARAN CTL UNTUKMENINGKATKAN
PRESTASI BELAJAR BAHASA INDONESIA SISWA SEKOLAH DASAR
I Wayan Dangin ................................................................................................ 203

PLURALISME KULTURAL DALAM KONTEKS DINAMIKA SASTRA Indonesia
MODERN
I Kadek Adhi Dwipayana ................................................................................... 213

KARAKTERISASI MORFOLOGIS Trichoderma sp. isolat JB DAN DAYA
ANTAGONISME TERHADAP PATOGEN PENYEBAB PENYAKIT REBAH
KECAMBAH (Sclerotium rolfsii Sacc.) PADA TANAMAN TOMAT
I Wayan Suanda, Ni Wayan Ratnadi ....................................................................... 226

STUDI TEKS BABAD DALEM TARUKAN (PERSPEKTIF PENDIDIKAN AGAMA
HINDU)
I Made Dharmawan ................................................................................... 236

PENERAPAN MODEL PEMBELAJARAN PROBLEM SOLVING SEBAGAI
UPAYA MENINGKATKAN PRESTASI BELAJAR IPA SISWA KELAS VIB SD
NEGERI 1 PEMECUTAN SEMESTER I TAHUN PELAJARAN 2016/2017
I Made Arka ............................................................................................... 251

SENI LUKIS TRADISIONAL PENGOSEKAN : KONTINUITAS DAN
PERUBAHAN
Ni Putu Laras Purnamasari ……………………………………………… 261

iv

NOMOR 22 TAHUN XVIII Oktober 2017
ISSN 1907-3232

PENERAPAN BIMBINGAN BELAJAR DENGAN TEKNIK
TUTOR TEMAN SEBAYA UNTUK MENINGKATKAN MOTIVASI BELAJAR
SISWA KELAS XI TKI 1SMK PGRI 1 DENPASAR
TAHUN PELAJARAN 2016/2017

KADEK SUHARDITA

ABSTRAK
His study aims to improve the motivation of students in class XI TKI 1 SMK PGRI 1
Denpasar Lesson Year 2016/2017, with the application of tutoring with peer tutoring
techniques. The subjects of this study were students of class XI TKI 1, which amounted to 30
students, but who had low learning motivation which amounted to eight (8) people, because
students are often late to class, pay less attention to the lessons and play during the teaching
and learning process.
This study was conducted in 2 cycles, during which action was monitored by a
monitoring questionnaire, while the results were monitored by questionnaire. The results of
this study indicate an increase in learning motivation in students who experience low learning
motivation. Increased motivation to learn is as follows: From the initial motivation, to the
first cycle of learning motivation increased by 20.98% and 21.74% from cycle I to cycle II.
Based on the results of the study can be concluded that can improve student learning
motivation. For that teacher BK can use tutoring with peer tutor techniques as an alternative
to improve student learning motivation.

Keywords: Tutoring, Peer Tutor and Learning Motivation

A. PENDAHULUAN
Motivasi merupakan salah satu faktor psikologis yang sangat penting bagi siswa
untuk menempuh pendidikan tersebut, dengan adanya motivasi yang kuat, individu akan
berusaha untuk melakukan kegiatan belajar dalam rangka mencapai tujuannya, artinya tujuan
belajar pun akan tercapai dengan baik bila individu termotivasi untuk melakukan usaha untuk
mencapai tujuan belajar tersebut, ini berarti motivasi dapat berpengaruh terhadap prestasi
belajarnya. Bila dikaitkan dengan belajar berarti motivasi merupakan kondisi psikologis
yang dapat mendorong individu untuk melakukan perbuatan belajar, dimana bila motivasinya
tinggi, maka usaha belajarnya akan tinggi, dan hal ini akan berpengaruh terhadap prestasi
belajarnya. Pencapaian hasil belajar siswa dapat saling berbeda satu dengan yang lain. Hal ini
terjadi karena perbedaan kemampuan yang dimiliki siswa, salah satu diantaranya adalah
perbedaan dalam motivasi belajar, diantara para siswa ada yang memiliki motivasi tinggi, dan
ada juga yang memiliki motivasi rendah dalam belajarnya atau kesulitan belajar yang dialami

1


JURNAL PENDIDIKAN
INSTITUT KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN (IKIP) PGRI BALI

oleh siswa dapat disebabkan karena dua faktor, ada yang berasal dari faktor internal seperti
kemampuan inteligensi atau tingkat kecerdasan keadaan kesehatan atau psikologi. Sedangkan
faktor eksternal seperti keadaan lingkungan sekolah, rumah dan masyarakat. Inilah yang
menyebabkan terjadinya perbedaan dalam prestasi. Bagi siswa yang memliki motivasi tinggi
dalam belajar, mereka akan lebih giat dan semangat dalam belajar sehingga dengan usaha dan
semangat belajar yang tinggi itu, mereka akan dapat mencapai hasil belajar yang baik, begitu
sebaliknya siswa yang memiliki motivasi belajarnya negatif atau rendah, mereka akan
melakukan aktivitas belajar dengan tidak bersemangat, sehingga mereka akan mencapai hasil
belajar yang rendah di bawah kemampuan dan di bawah harapan sekolah. Siswa-siswa seperti
ini disebut dengan siswa yang mengalami motoivasi belajar rendah. Berdasarkan hasil
pemantauan yang dilakukan terhadap siswa kelas XI TKI 1 SMK PGRI 1 Denpasar Tahun
Pelajaran 2016/2017 terdapat beberapa siswa yang memiliki motivasi belajar rendah secara
umum tidak menunujukkan semangat belajar yang baik. Informasi yang diperoleh baik dari
kepala sekolah maupun guru pembimbing yang digali diketahui bahwa rata-rata siswa kelas
XI TKI 1 motivasi belajar rendah ditunjukkan dengan nilai yang rendah, dari 30 siswa yang
ada di kelas XI TKI 1 ada 8 orang siswa yang memiliki motivasi belajar rendah dengan
kategori laki-laki. Dari penggalian informasi didapatkan kenyataan bahwa delapan siswa
tersebut sering terlambat masuk sekolah, motivasi belajar rendah, minat belajar rendah, tidak
bergairah dalam mengikuti pelajaran di kelas, semangat belajar yang kurang, bahkan juga
sering tidak masuk sekolah.
Apabila masalah ini tidak ditangani secara tepat penyebabnya siswa akan terlambat dalam
pelajaran, nilainya selalu di bawah rata-rata juga akan gagal dalam belajarnya. Untuk
mengantisipasi kemungkinan tersebut, banyak upaya yang sudah dilakukan oleh guru untuk
meningkatkan motivasi belajar siswa seperti menyiapkan materi dengan baik, digunakan
metode yang bervariasi, diberikan tugas tambahan, tetapi hasilnya tetap saja rendah.
Kemungkinan upaya yang dilakukan tersebut tidak menyentuh permasalahan yang
sebenarnya, sehingga upaya tersebut menjadi tidak berhasil. Bimbingan belajar sangat
penting diberikan karena di bimbingan belajar guru pembimbing bisa merubah teknik
belajarnya supaya siswa yang memiliki motivasi belajar rendah menjadi aktif di kelas, bisa
menyarankan dalam proses belajar diberikan teknik tutor teman sebaya dengan teknik ini
siswai yang memiliki motivasi belajar rendah mungkin mereka akan mau berbagi kepada
temannya dan menanyakan hal-hal yang kurang mengerti karena dengan temannya mereka
mungkin akan nyaman belajar dan lebih leluasa mengeluarkan pendapatnya dan dengan cara
teknik ini siswa yang menjadi tutor dapat mengulang dan menjelaskan kembali materi
2


NOMOR 22 TAHUN XVIII Oktober 2017
ISSN 1907-3232

sehingga menjadi lebih memahaminya. Berdasarkan latar belakang tersebut di atas, akan
dilakukan penelitian dengan judul: Penerapan Bimbingan Belajar dengan Teknik Tutor
Teman Sebaya untuk Meningkatkan Motivasi Belajar Siswa Kelas XI TKI 1 SMK PGRI 1
Denpasar Tahun Pelajaran 2016/2017

A. KAJIAN TEORI
2.1 Pengertian Bimbingan Belajar

Bimbingan belajar adalah “bantuan yang diberikan untuk membantu siswa-siswa baik
yang mengalami masalah belajar, maupun semua siswa agar memiliki kebiasaan dan
semangat belajar yang baik.’’ (Prayitno, 1997: 65 ). Bimbingan belajar adalah proses bantuan
yang diberikan untuk menghindari dan mengatasi kesulitan-kesulitan siswa di dalam
memperoleh pengetahuan, sikap, dan keterampilan di sekolah ataupun di luar sekolah agar
terjadi perubahan tingkah laku kearah tujuan pendidikan, (Suindre, 1988: 4).

Selanjutnya Sunaryo Kartadinata, (1996: 31) yang menjelaskan bahwa bimbingan
belajar ialah suatu proses bantuan yang diberikan kepada individu untuk dapat mengatasi
masalah-masalah yang dihadapinya dalam belajar, agar setelah melakasanakan kegiatan
belajar mengajar mereka dapat mencapai hasil yang lebih baik sesuai kemampuan, bakat, dan
minat yang dimilikinya masing-masing.

2.2 Prinsip-Prinsip Bimbingan Belajar Menurut Sunaryo Kartadinata, (2004: 241)
menyatakan bahwa ada empat prinsip-prinsip bimbingan belajar yaitu sebagai berikut:
(1) Bimbingan belajar diberikan kepada semua siswa,
(2) Bimbingan belajar yang diberikan guru hendaknya disesuaikan dengan masalah serta
faktor-faktor yang melatar belakanginya,
(3) Bimbingan belajar merupakan tanggung jawab semua guru serta staf sekolah lainnya,
(4) Bimbingan belajar dapat diberikan dalam situasi belajar di kelas, di laboratorium dan
sebagainya.
2.3 Pengertian Tutor Teman Sebaya
Menurut kamus besar bahasa Indonesia (1995: 10), tutor adalah orang yang member
pelajaran (membimbing) kepada seseorang atau sejumlah kelompok kecil siswa. Sedangkan
Reny Maslim (1998:87), menyatakan tutor merupakan orang-orang pilihan yang karena
kepinterannya dan kemampuannya diberi tanggung jawab untuk memberikan penjelasan
terhadap sesuatu. Selanjutnya menurut Djamarah (2002: 29), tutor teman sebaya adalah

3


JURNAL PENDIDIKAN
INSTITUT KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN (IKIP) PGRI BALI

pembelajaran yang terpusat pada siswa, dalam hal ini siswa belajar dari siswa lain yang
memiliki setatus umur yang sama atau usia yang sama, kematangan atau harga diri yang tidak
jauh dari dirinya sendiri.

2.4 Ciri-Ciri Pembelajaran Tutor Teman Sebaya

Dalam Dirjen Dikdasmen (2005: 46), ciri-ciri pembelajaran digunakan model tutor
teman sebaya adalah sebagai berikut:
1. Siswa bekerja dalam kelompok dengan teman sebayanya untuk menuntaskan materi
belajarnya.
2. Kelompok dibentuk dari siswa yang memiliki kemampuan tinggi, sedang dan rendah.
3. Bilamana mungkin anggota kelompok berasal dari ras, budaya, suku, jenis kelamin
berbeda-beda.
4. Penghargaan lebih berorientasi kelompok dari pada individu
2.5 Pengertian Motivasi Belajar
Motivasi adalah sesuatu yang sangat penting dalam manusia berbuat, dengan adanya
motif yang kuat dari individu yang cukup berusaha untuk mencapai tugas yang telah
ditentukan. Sehubungan dengan prestasi belajar maka motivasi belajar seseorang dalam
belajar akan mempengaruhi keberhasilan belajar yang diperolehnya.

Motivasi berasal dari kata motif yang berarti dorongan. Motivasi dalam belajar berarti
“dorongan atau daya penggerak yang membuat kegiatan belajar terjadi”. (Sedanayasa , 2007 :
21 dalam Ngurah Widana).

Menurut Noehi Nasution (dalam Ngurah Widana, 2002: 22) mengemukakan motivasi
adalah kondisi psikologis yang mendorong seseorang untuk melakukan sesuatu. Jadi kondisi
psikologis yang mendorong seseorang untuk belajar.

B. METODOLOGI PENELITIAN
3.1 Pendekatan Penelitian
Teknik pendekatan yang digunakan dalam penelitian ini adalah pendekatan penelitian
tindakan kelas. Wardani (2007 : 2.4) mengemukakan bahwa PTK adalah penelitian
bimbingan konseling yang dilakukan oleh guru BK pada siswa yang bermasalah melalui
refleksi diri, dengan tujuan untuk memperbaiki kinerjanya sebagai guru sehingga motivasi
belajar siswa meningkat.

4

NOMOR 22 TAHUN XVIII Oktober 2017
ISSN 1907-3232
3.2 Teknik Analisis Data
Untuk mengetahui perubahan prilaku berupa peningkatan motivasi belajar dipantau
dengan kuesioner motivasi belajar, untuk melihat seberapa besar manfaat bimbingan
kelompok yang diberikan untuk meningkatkan motivasi belajar, untuk itu data hasil
penyebaran kuesionar setelah bimbingan belajar terakhir dianalisis teknik yang dipergunakan
adalah teknik kuantitatif yaitu penganalisisan data yang diperoleh melalui penggambaran
kata-kata atau kalimat disiapkan menurut kategori untuk memperoleh kesimpulan (Suharsimi
Arikunto, 1992: 200) dan Sudiasa, (1997: 19)
3.3 Sasaran Perbaikan
Sasaran perbaikan adalah siswa kelas XI TKI 1 SMK PGRI 1 Denpasar Tahun
Pelajaran 2016/2017 yang memiliki motivasi belajar yang rendah yang berjumlah 8 orang
siswa.
3.4 Setting dan Subjek Penelitian
Setting dan Subjek yang dikenai tindakan dalam penelitian ini adalah siswa kelas XI
TKI 1 SMK PGRI 1 Denpasar Tahun Pelajaran 2016/2017
3.5 Prosedur Penelitian
Jenis penelitian yang dilaksanakan adalah Penelitian tindakan yaitu untuk
mengembangkan motivasi belajar siswa kelas XI TKI 1 SMK PGRI 1 Denpasar Tahun
Pelajaran 2016/2017. Penelitian ini dirancang dalam 2 (dua) siklus. Setiap siklus dalam
rencana ini terdiri dari empat tahapan kegiatan, yaitu : 1). perencanaan tindakan, 2). tahapan
pelaksanaan, 3). tahapan evaluasi, dan 4). refleksi yang berulang secara siklus.
C. HASIL PENELITIAN
Pada pembahasan sub hasil penelitian ini, akan dijelaskan hal-hal sebagai berikut : (1)
hasil tindakan tahap pertama, dan (2) hasil tindakan tahap kedua.
4.1 Hasil Tindakan Tahap I (Siklus I)
. Berdasarkan hasil tindakan dan hasil pemantauan siklus I dapat dilukiskan, terjadi
peningkatan motivasi belajar yang dijadikan kasus dalam penelitian ini. Peningkatan tersebut
disajikan pada tabel 1berikut
Tabel 1 Peningkatan Motivasi Belajar Siswa
Kelas XI TKI 1 SMK PGRI 1 Denpasar Tahun Pelajaran 2016/2017

5
JURNAL PENDIDIKAN
INSTITUT KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN (IKIP) PGRI BALI

Lebih jelasnya peningkatan yang terjadi dapat dilihat pada grafik di bawah ini:

Grafik 01
Peningkatan Kemampuan Motivasi Belajar Siswa Kelas XI TKI 1 SMK PGRI 1 Denpasar
Tahun Pelajaran 2016/2017 awal dan siklus I

4.2 Hasil Tindakan Tahap II (Siklus II)
Dalam pembahasan sub hasil tindakan tahap kedua ini dibahas secara berurutan
mengenai : (1) implementasi tindakan, (2) implementasi observasi dan evaluasi dan (3)
refleksi.
Adapun hasil yang diperoleh setelah siklus dua adalah sebagai berikut:
Tabel 2
Peningkatan Motivasi Belajar Siswa
Kelas XI TKI 1 SMK PGRI 1 Denpasar Tahun Pelajaran 2016/2017

Lebih jelasnya peningkatan yang terjadi dapat dilihat pada grafik di bawah ini:
Grafik 02
Peningkatan Kemampuan Motivasi Belajar Siswa
Kelas XI TKI 1 SMK PGRI 1 Denpasar Tahun Pelajaran 2016/2017 Sebelum Tindakan,
Setelah Tindakan Siklus I dan II

6


NOMOR 22 TAHUN XVIII Oktober 2017
ISSN 1907-3232

Terlihat bahwa perkembangan motivasi belajar siswa XI TKI 1 SMK PGRI 1 Denpasar
Tahun Pelajaran 2016/2017, setelah di berikan tindakan pada siklus kedua ini para siswa yang
diberi bantuan motivasi belajarnya meningkat cukup signifikan. Kisar peningkatan motivasi
belajar siswa tersebut berada di antara 7,40 % sampai 40, 32 %. Jika dilihat secara kelompok,
rata-rata peningkatan motivasi siswa tersebut sebesar 21.74 %.
D. PEMBAHASAN
Berdasarkan hasil penelitian diketahui bahwa motivasi belajar siswa dapat meningkat
setelah diberikan layanan bimbingan belajar dengan teknik tutor teman sebaya dengan
digunakan sebuah diskusi. Ini menunjukan bahwa bimbingan belajar efektif untuk membantu
siswa meningkatkan motivasi belajar siswa. Dalam hal ini dapat di petik manfaat bahwa bila
bimbingan belajar digunakan secara tepat dalam membantu siswa meningkatkan motivasi
belajarnya, akan nampak hasilnya dengan segera. Proses dalam bimbingan belajar ini
membantu siswa untuk mengubah prilaku belajar yang kurang baik, kurang bergairah dalam
mengikuti pelajaran, sering terlambat masuk kelas, kebiasaan belajar yang kurang baik
terutama motivasi belajarnya. Dari hasil evaluasi yang dilaksanakan selama dua siklus telah
terjadi peningkatan terhadap motivasi belajar siswa kelas XI TKI 1 SMK PGRI 1 Denpasar
Tahun Pelajaran 2016/2017. Hal ini disebabkan adanya keseriusan, motivasi rangsangan
(stimulus) dan konsentrasi siswa dalam mengikuti bimbingan belajar. Berdasarkan hasil
tersebut dapat dikatakan bahwa bimbingan belajar mempunyai dampak yang positif pada
siswa yang mengalami motivasi belajar yang rendah. Karena dalam proses bimbingan belajar
dengan teknik tutor teman sebaya dengan sebuah diskusi digunakan cara-cara interaktif saling
tukar pikiran, gagasan, pengalaman untuk membahas masalah bersama-sama, dan dinamika
kelompok dapat tercapai. Berdasarkan kenyataan tersebut, sangatlah tepat bimbingan belajar
dengan teknik tutor teman sebaya dikembangkan untuk memberi layanan konseling kepada
siswa melalui interaktif yang dinamis dalam suasana kelompok. Dari hasil analisis data
secara kuantitatif menunjukan motivasi belajar siswa meningkat berkisar antara 20,98 %
sampai 21,74 %. Hal ini menunjukan bahwa bimbingan belajar dengan teknik tutor teman
sebaya telah berhasil dilaksanakan untuk membantu meningkatkan motivasi belajar siswa
kelas XI TKI 1 SMK PGRI 1 Denpasar Tahun Pelajaran 2016/2017 yang mengalami
motivasi belajar rendah.

7


JURNAL PENDIDIKAN
INSTITUT KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN (IKIP) PGRI BALI

E. SIMPULAN DAN SARAN
5.1. Simpulan
Penelitian ini bertujuan untuk meningkatkan motivasi belajar siswa kelas XI TKI 1
SMK PGRI 1 Denpasar Tahun Pelajaran 2016/2017, dengan penerapan bimbingan belajar
dengan teknik tutor teman sebaya. Subjek penelitian ini adalah siswa kelas XI TKI 1, yang
berjumlah 30 orang siswa, namun yang memiliki motivasi belajar rendah yang berjumlah
sebanyak delapan (8) orang, karena siswa sering terlambat masuk kelas, tidak memperhatikan
pelajaran dan bermain pada saat proses belajar mengajar.
Penelitian ini dilaksanakan dalam 2 siklus, selama pemberian tindakan dipantau
dengan kuesioner pemantauan, sedangkan hasilnya dipantau dengan kuesioner. Hasil
penelitian ini menunjukan adanya peningkatan motivasi belajar pada siswa yang mengalami
motivasi belajar rendah. Peningkatan motivasi belajar adalah sebagai berikut: Dari motivasi
awal, ke siklus I terjadi peningkatan motivasi belajar sebesar 20,98% dan 21,74% dari siklus
I ke siklus II. Berdasarkan hasil penelitian dapat disimpulkan bahwa dapat meningkatkan
motivasi belajar siswa. Untuk itu guru BK dapat menggunakan bimbingan belajar dengan
tektik tutor teman sebaya sebagai alternatif untuk meningkatkan motivasi belajar siswa.

DAFTAR PUSTAKA

Guru dengan Hasil Belajar Siswa di SDN 1 Tontayuo Kecamatan Batudaa Pantai Kabupaten
Gorontalo (tugas akhir studi ).
Baliteacher.blogspot.com. 2010. Pembelajaran- dengan- methode- tutor- teman. Tersedia:
http://baliteacher.blogspot.com/2010/02/pembelajaran-dengan-methode-tutor-
teman.html# (di akses pada tanggal 7-11-2012)
Blog.tp.ac.id. 2012. Pengertian-bimbingan-belajar-dalam-psikologi-menu. (di akses pada
tanggal 7-11-2012)
Dantes, I Nyoman. 1986. Variasi Penelitian dan Perumusan asumsi. Singaraja: FKIP Unud.
Dimyati, Mujiono. 2006. Belajar dan Pembelajaran. Cetakan kedua. Jakarta: PT.
Departemen Pendidikan dan Kebudayaan.
Dossuwanda.wordpress.com. 2012. Penggunaan Metode Tutor Sebaya Tersedia:
http://dossuwanda.wordpress.com/Penggunaan Metode Tutor Sebaya (contoh Proposal
PTK). (di akses pada tanggal 7-11-2012).

8


NOMOR 22 TAHUN XVIII Oktober 2017
ISSN 1907-3232

Ekowati, Endang. 2004. Model-Model Pembelajaran Inovatif Sebagai Solusi Mengakhiri
Dominasi Pembelajaran Guru. Makalah Workshop Rencana Program dan
Implementasi Life Skill SMA Jawa Timur tahun 2004.
Hackz zone (Ryano). 2010. Motivasi Belajar Aspek-aspek. html. Di akses pada tanggal.7-11-
2012.
Kamus Besar Bahasa Indonesia. 1995. Upaya Peningkatan Motivasi Belajar Matematika
Melalui Pembentukan Tugas Kelompok dengan Pendamping Tutor Teman Sebaya.
Tidak diterbitkan.
Kariani.1997. Pengantar Pendidikan. Jakarta: PT. Grafindo
Margantu, 42k. blospot com. 201. Langkah-langkah Bimbingan Bekajar. Di akses tanggal 7-
11-2012
Maryanto. 2012. Langkah-langkah Bimbingan Bekajar. Di akses tanggal 7-11-2012
Muliasih nyoman. 2009. Bimbingan Konseling behavioral untuk mengembangkan
motivasi belajar.(tugas akhir studi). Tidak diterbitkan.
Nasution. 2003. Berbagai Pendekatan dalam Proses Belajar dan Mengajar. Jakarta: Bumi
aksara.
Oemar Hamalik. 1980. Metoda Belajar dan Kesulitan Belajar. Bandung : Tarsito.
Sardiman. 2011. Interaksi dan motivasi belajar mengajar. Jakarta: Rajawali pers.
Sewandra wayan dkk.1987. Layanan bimbingan belajar (tidak diterbitkan). Singaraja.
Suahrsimi, Arikunto dkk. 2002. Penelitian Tindakan Kelas. Jakarta : PT Bumi Aksara.
Sudiasa. 1997. Laporan Penilaian Peningkatan motivasi belaja. Singaraja: STKIP Singaraja.
Suka Buana dan Ida bagus. 2007. Upaya peningkatan motivasi belajar matematika melalui
pemberian tugas kelompok dengan pendamping tutor teman sebaya. (tugas akhir
setudi/tesis). Tidak diterbitkan.
Tadjab. 1979. Ilmu Jiwa Pendidikan. Bandung: CV Ilmu
The Lian Gie. 1980. Cara Belajar Efisien. Yogyakarta. Gajah Mada University Press.
Wardani. 2007. Penelitian Tindakan Kelas. Jakarta : Universitas terbuka.
Widana NNgurah, I gst. 2008. Penggunaan Bimbingan Belajar dalam Meningkatkan Minati
Belajar.(tugas akhir setudi). Tidak diterbitkan.

9


JURNAL PENDIDIKAN
INSTITUT KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN (IKIP) PGRI BALI

KESATUAN TEKNIK TATA PENTAS DAN TARI
DALAM SENI PERTUNJUKKAN

Oleh
I Wayan Mastra

ABSTRACT
In this era, the popularity of Dance and Dance Technique is still well received and
quite appreciated by the arts. This preservation is only not present in artistic performances,
but has penetrated and ingrained the people of Indonesia especially Bali, which leads to the
quality of art appeal at the Bali Arts Festival (PKB) held annually. The Unity of Dance and
Dance Technique is interesting to be studied because in its popularity it is precisely for art
bellwether rarely reveal adequately, thus need to get more serious attention to be studied its
truth for public interest. After doing more observation, it turns out many students put this
knowledge aside. With this statement is clearly not obedient to the Vision and Mission of
Drama, Dance and Music Studies Program IKIP PGRI Bali, that is in education generally
expect the output can be quality. Therefore it could seize the art market in today's
increasingly tough society. For that need to be improved the ability of the students as the next
generation of the nation more seriously deepens on it, to the form, function, meaning for the
public interest. Being a problem formula is:
1. Why do many students of Drama, Dance and Music Arts Studies Program not touched on
the engineering knowledge in their thesis?
2. What is the function of the unity of dance and performance techniques in the performing
arts?

Keywords: Importance of Knowledge of Performing Art and Dance in performing arts.

1. PENDAHULUAN
Pada umumnya, setiap ada kemauan dalam berakcivitas terlebih lagi dalam
kebutuhan yang mendesak akan selalu dibuntuti oleh hambatan-hambatan yang dapat
menghantui diri manusia yang membuat rasa tidak nyaman dan aman. Apalagi bertindak
dengan sengaja membuat kesalahan, akan tidak menutup kemungkinan mengundang keadaan
yang semakin parah lagi. Untuk itu sesuai dengan ajaran orang tua bijak; “Song bedudae
titinan cening, apang bedik salahe”. Punya arti bahwa manusia kecil dalam melangkah harus
dengan hati-hati, sebagimana dimaksud pernyataan itu yakni lubang kecilpun harus pakai
jembatan pula supaya kelancaran dalam tujuan bisa diraih, (walaupun tidak sempurna
mukin). Dengan arti lain, sebenar-benarnya kita dapat berbuat sengaja dan tidak sengaja
sudah pasti ada saja kelemahannya. Pendidikan seperti ini kiranya sejalan dengan pendapat I
Nyoman Sadwika, (2015:20) mengarah ke pendidikan karakter, melalui telaahannya dari

10


NOMOR 22 TAHUN XVIII Oktober 2017
ISSN 1907-3232

Bambang Yudhoyono dalam rangka Hari Pendidikan Nasional Mei 2010, bahwa pendidikan
karakter pada generasi muda sekarang perlu dibina dan ditingkatkan lagi, karena sangat
penting dalam membangun kehidupan manusia. Hal ini ditambahkan oleh Ni Luh Gede
Liswahyuningsih (2014:14) tentang bahasa, sebagai alat komunikasi di era globalisai sangat
penting juga diterjemahkan. karena setiap Negara memiliki bahasa masing-masing dan setiap
bangsa di dunia memiliki kontruksi gramaltikanya masing-masing yang perlu juga mendapat
perhatian serius. Hal senada diungkapkan oleh Putu Agus Permanamiarta (2013:57), bahwa
maju mundurnya daya tangkap anak mengenai bahasa sangat ditentukan oleh factor
lingkungan formal dan in formal. Nengah Arnawa melengkapi, pembelajaran bahasa melalui
pendekatan komunikatif realistis yang memungkinkan siswa dapat terampil berbahasa. Yakni
berpegang pada 8 prinsip dasar, salah satu diantaraya adalah “pembelajar akan belajar bahasa
dengan baik bila ia diperlakukan sebagai induvidu yang memiliki kebutuhan dan minat”
(Nengah Arnawa,2016:8 dalam Azies dan Alwasiah 1996). Nyoman Astawan, (2016:29)
berkesimpulan, untuk memperoleh hasil yang maksimal diperlukan kajian yang lebih luas dan
mendalam berdasarkan teori yang valid. Pendapat teori ini setara dengan bahasa dalam
istilah seni, sebagai kearifan local Indonesia banyak yang perlu ditata untuk keperluan
generasi, yang seakan-akan tidak memiliki kebutuhan dan niat untuk memupuk dirinya.
Sebagai alasan mereka salah satunya adalah literatur buku teknik tata pentas di IKIP PGRI
Bali kurang memadai. Maka dari itu tidak sedikit mereka bertindak tidak mengikut sertakan
pengetahuan teknik tata petas dalam pembentukan skripsi seninya, yang dapat disebut pula
lemahnya pendidikan karakter pada mahasiswa itu sendiri. Atas pengertian tersebut pada
kesempatan ini peneliti terasa terpanggil untuk mengadakan penelitian mendalam untuk dapat
mengetehi kelemahan mahasiswa tersebut. Dalam rangkaian mengkaji permasalahan itu ada
beberapa metodo digunakan yaitu: metodo; pengumpulan data, memilih, menganalisis
sehingga bisa terwujud pengetahuan yang valid untuk kepentingan mahasiswa, yang
bermanfaat sebagai pedoman penyajian maupun pengkajian seni.
Selanjutnya beruraiantasi pada pengertian di atas bahwa teknik tata pentas dan tari
dalam seni pertunjukan dapat dicermati mempunyai fungsi ganda yaitu: sebagai menambah
pengetahuan mahasiswa dan sebaagai pedoman cerminan kehidupan manusia.
(1) Sebagai menambah pengetahuan mahasiswa adalah, dengan ada niat mahasiswa untuk
memupuk dirinya menjadi calon pendidik dan telah konskwen pada Visi dan Misi
Lembaga, hendaknya mau memperdalam pengetahuan ini dan diterapkan pada bahasan
skripsinya (terutama membahas seni pertunjukan).

11


JURNAL PENDIDIKAN
INSTITUT KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN (IKIP) PGRI BALI

(2) Sebagai pedoman cerminan kehidupan manusia, yaitu dimana kesatuan dari kedua
elemen teknik tata pentas, tari dan seni pertunjukan dapat dijadikan pedoman cerminan
kehidupan manusia. Sebagai salah satu contoh peneliti angkat adalah elemen elemen
teknik tata pentas, yakni mengenai penegertian dan fungsinya: (1); tata lampu (lighting),
tidak hanya untuk asal menerangi panggung dan actor, tetapi dalam kehidupan dapat
diartikan sebagai menghilangkan kegelapan. (2); dekorasi (seceneri) adalah tidak berlaku
pada sekedar sebagai hiasan panggung, merubah suasana serta mendukung penampilan
di tempat pentas, tetapi bisa diartikan dalam kehidupan selalu berfariasi; (3) tata suara
(sound system) dalam panggung tdak hanya untuk memperkeras dan memperkecil
suara/bunyi, tetapi bisa berati sebagai menata alat komunikasi manusia; (4)
perlengkapan-perlengkapan pada panggung dan actor, tidak berlaku sebagai penunjang
kekurangan-kekurangan dalam pertunjukan saja, tapi bisa berarti sebagai mengantisifasi
dalam kehidupan yang penuh dengan tidak kepastian harus disikapi dengan bijak.
Berdasarkan kajian ini, menjadi penting sebuah pengetahuan dijadikan landasan hidup.
Pengetahuan yang berarti pada seni adalah pengetahuan yang dapat bisa meghidupi seni,
serta tidak mengendaki diperkeruh dan dihadang oleh kemajuan jaman yang dapat
merugugikan seni.
Untuk itu diperlukan lagi metode dijadikan alat untuk memecahkan masalah tersebut.
Metodo-metode yang dianggap tepat untuk penumpulan data di lapangan adalah berdasarkan
atas teknik “tri anggulasi”, yakni berdasarkan tiga sumber data diperoleh di lapangan, yaitu:
melalui putaka, wawancara serta pengalaman yang bukan sedikit sumbangannya dalam
mengkaji penelitian ini.
Berfokus pada teknik tata pentas dan tari dalam seni pertunjukan, punya elemen-
elemen dasar masing-masing. Dengan adanya perpaduan unsur elemen kedua tersebut,
(antara elemen-elemen teknik tata pentas dan tari) maka dapat berfungsi untuk seni
pertunjukan. Atau dalam pertunjukan tari tidak lepas dengan pendukung-pendukung lainnya).
Adapun tujuan dari hasil peneliian ini diharapkan bisa bermanfaat untuk materi
perkuliahan yang akan disampaikan pada mahasiswa khususnya Program studi Seni Tari,
dimana di dalamnya membahas tentang cara penataan panggung (diluar diri manusia). Inti
pengertian di atas, dalam seni pertunjukan selalu mengharapkan agar berhasil sesuai dengan
rencana, rencana ini dapat terwujud dengan baik apabila ditunjang atau ditopang oleh sarana-
prasarana yang memadai.
Menggaris bawahi dari pengertian tersebut bahwa menata suatu rencana yang valid,
terlebih dulu diawali oleh teknik yang dapat dijadikan alat lebih mudah untuk memecahkan
12


NOMOR 22 TAHUN XVIII Oktober 2017
ISSN 1907-3232

suatu masalah. Tentang minimnya kualitas teknik tata pentas yang valid pada Skripsi
mahasiswa tetap menjadi tanggung jawab Lemaga yang patuh pada VISI dan MISI Program
studi Seni Tari, IKIP PGRI Bali, yakni hasil lulusan S-I, mengharap pencapaian keluaran
dapat lebih maju, dan melalui penguasaan IFTEK dapat menunjang kemajuan itu. Dengan
hasil penelitian ini kiranya dapat dijadikan dasar awal untuk kepentingan mahasiswa tentang
cara mendeskripsikan teknik tata pentas dan tari dalam seni pertunjukan.

2. METODE PENELTIAN
2.1 Subyek Penelitian
Subyek penelitian ini adalah mahasiswa Program Stadi Pendidikan Seni Tari banyak
tidak memenuhi standardrisasi dalam tugas akhir karya ilmiahnya, yakni mengesampingkan
pengetahuan kesatuan teknik pentas dan tari dalam seni pertunjukan, Sehingga keutuhan
bentuk dalam bahasannya tidak valid. Apabila hal tersebut sering terjadi kiranya tidak
menutup kemungkinan kemunduran akan terulang kembali, hanya dengan patuh kepada guru
(tiru dan digugu) menjadi salah satu syarat mahasiswa untuk mengimpun pengetahuan
sebagai pedoman proses studi lanjut.
2.2 Obyek Penelitian
Obyek penelitian ini adalah Kesatuan Teknik Tata Pentas dan Tari Dalam Seni
Pertunjukan, yang dapat dijadikan sebagai memupuk nilai pengetahuan mahasiswa dan
kehidupan seni pentas itu sendiri, serta sebagai cerminan kehidupan manusia, Teknik tata
pentas adalah suatu cara penataan di atas panggung untuk meenunjang pertunjukan
berstandarisasi baik formal maupun non formal. Dimana obyektersebut, mempunyai elemen-
elemen masing-masing dikemas dalam sebuah pertunjukan. Jadi hubungan antara kedua
elemen-elemen (dasar-dsar) tersebut takterisahkan adanya. Tempat penelitian ini dilakukan
pada Program studi Seni Drama, Tari dan Musik, Fakultas Bahasa dan Seni IKIP PGRI Bali.
Sejak tahun 2013 sampai kini.
2.3 Rancangan Penelitian
Penelitian ini menggunakan rancangan atau pendekatan kualitatif dan kuantitatif.
Pendekatan kualitatif yaitu membahas budaya melalui wawancara kepada ahli pada
bidangnya, sehingga dalam pembahasan ini banyak kata-kata tertuang dijadikan ungkapan
bermakna. Kuantitatif adalah tertuang dalam hitungan-hitungan teknik tata pentas dan tari
kedalam bentuk tabel yang akan terurai dibawah nanti.

13


JURNAL PENDIDIKAN
INSTITUT KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN (IKIP) PGRI BALI

2.4 Setting Penelitian
Bermula dari tahun 2013, peneliti dalam pengumpulan data di lapangan realita yang
didapat di Lembaga adalah pengalaman yang berharga yang didasari oleh kewajiban tugas
sebagai pembimbing Akademik, memvalidasi, membimbing skripsi, dan menguji karya
ilmiah mahaiswa bidang studi Pendidikan Seni Drama, Tari dan Musik (SENDRATASIK)
IKIP PGRI Bali, yang penyelenggaraannya pada setahun sekali. Pada penemuan
pengumpulan data tersebut bukan sedikit mahasiswa dalam mendeskrisikan karya ilmiah
(sebagai tugas akhirnya) banyak mengesampingkan pengetahuan teknik tata pentas. Dengan
realita itu peneliti dapat menyikapi dengan menggunakan metode observasi, dilanjutkan
dengan menggunakan metode teknik pengumpulan data “tri anggulasi”, (berdasarkan buku,
wawancara dan pengalaman yang bukan sedikit sumbangan terhadap bahasan penelitian ini).
Sebagai mengungkap hasil penelitian dilakukan.
3. LANDASAN TEORI
Dalam penelitian ini ada tiga (3) teori yang digunakan sebagai memecahkan suatu
masalah, yaitu: Teori Strukturak Fungsional, Teori Estetika dan Teori Religi. (1) Teori
struktural fungsional untuk membedah bentuk teknik tata pentas dan tari, yang sebagain
besar pencapaian hasil mulai awal ciptaannya sampai bentuk pertunjukan saling
ketergantungan, saling berkaitan secara sifinikan dalam pencapaian stabilitas menyeluruh
(George ritzer-Douglas J. Goodman,2004:128). (2) Teori estetika untuk membahas fungsi
teknik tata pentas dan tari dalam seni pertunjukan, yang penekanannya pada unsur-unsur
penataan untuk mendapat tanggapan estetis (I Da Bagus Triguna1987:23). Sedangkan (3)
Teori religi, adalah untuk membedah makna yang terkandung dalam teknik tata pentas dan
tari dalam seni pertunjukan (Kauntjaraningrat 1987: 80-82). Makna itu pada kajian ini adalah
merupakan kajian yang mengarah sebuah kepercayaan agama Hindu di Bali menjadi salah
satu pengikat seni budya (I Wayan Dibia,2012) dalam Seminar Nasional untuk Seni
Pariwisata ISI Denpasar. Disamping sebagai pengikat seni budaya, yang pasti di dalamnya
tercermin unsur-unsur simbol gambar atau huruf yang dipakai untuk bisa vokus
berkonsentrasi. Dadalam hal ini vokus konsentrasi dimaksud sebagai simbol gambar atau
huruf yang dipakai dalam pendokumentasian lagu-lagu daerah Bali (I Nyoman Rembang
1971:5) yang disebut dengan notasi lagu. Yang menggunakan huruf-huruf Bali sebagai
tuntunan bernyanyi.
3.1 Ruang Lingkup Penelitian
Dengan mempertimbangkan beberapa hal, maka penelitian ini terbatas pada
pengkajian pengetahuan teoritis tentang Teknik Tata Pentas dan Tari di dalam seni
14


NOMOR 22 TAHUN XVIII Oktober 2017
ISSN 1907-3232

pertunjukan. Yang dapat diberi judul “Kesatuan Teknik Tata Pentas dan Tari Dalam Seni
Pertunjukan”. Dimana tujuan utama penelitian ini bervokus pada penguasaan pendeskripsian

tata teknik pentas yang berstandarisasi dalam skripsi siswa. Dan teknik tata pentas dan tari
dalam seni pertunjukan punya arti yang bermakna konteks dengan kehidupan manusia. sebab
dalam empat unsur yang terkait terdapat makna yang berarti perlu diungkap kebenarannya.
Seperti telah disinggung di atas bahwa pengetahuan teori penyajian tari ini merupakan
kesatuan isi atau unsur-unsur Teknik Tata Pentas dan Tari. Untuk jelasnya akan disusun
dalam bentuk tabel seperti dibawah nanti.
Contoh Foto Teknik Tata Pentas Dan Tari Dalam Seni Pertunjukan Di Panggung Arda
Candra Art Sentere-Denpasar Bali (Koleksi I Wayan Mastra, 3 Juli 2017)
4. PEMBAHASAN
Untuk mendapatkan jawaban dari perumusan masalah di atas mengenai kurangnya
menyinggung tentang pengetahuan teknik pentas oleh mahasiswa pada pengkajian skripsinya,
maka perlu penliti terlebih dulu terangkan mengenai pengertian bentuk teknik tata pentas
dan tari dalam seni pertunjukan itu sendiri. Dapat diawali dengan bentuk fungsi panggung,
bagian-bagiannya serta tempat penonton sebagai pelengkapnya.
4.1 Panggung Sebagai Landasan Unsur-Unsur Teknik Tata Pentas
Panggung atau stage adalah tempat utama aktor menunjukan kebolehannya untuk
berektting, panggung juga dapat diinterfertasikan sebagai alam manusia dalam sekuv kecil
untuk beraktivitas. Panggung pada dasarnya dapat dibagi dua yaitu (1) bentuk panggung
proscenium (tertutup) dan (2) bentuk panggung arena (terbuka).
1). Panggung proscenium adalah berbentuk melengkung atau segi empat yang ada
pada tepi depan panggung, beratap dan dikelilingi oleh pembatas berupa tembok
atau alat lainnya. Dilengkapi oleh Pramana Padmodarmaja, (1983:44) adalah

15


JURNAL PENDIDIKAN
INSTITUT KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN (IKIP) PGRI BALI

berasal dari bahasa Yunani, yaitu dinding yang memisahkan auditorium dengan
panggung, itulah disebut dengan “proscenium). Bentuk panggung ini mempunyai
satu arah depan saja, dengan itu akan baik dilihat dari satu arah hadap depan
penonton pula (berhadapan). Selanjutnya ketentuan panjang-lebarnya sudah
mempunyai ukuran tertentu, serta tempat penonton disiapkan juga sedemikian
rupa. Tempat jalan keluar masuk actor diaharahkan pada sisi sebelah kanan dan
kiri yang disebut dengan “settwing”. Kemudian tidak ketinggalan pula
diantaranaya telah disiapkan tenda atau layar tertentu sebagai dekor, untuk
menutupi actor, mengelabui penonton dan pergantian suasana bisa dicapai.
2). Panggung arena adalah panggung mempunyai ketentuan tertentu atau rata dengan
tanah dilakukan pada tempat terbuka atau di lapangan, jenis panggung ini
umumnya akan lebih menarik untuk pementasan yang bersifat kerakyatan yang
menghendaki unsur-unsur kebebasan.
4.1.1 Unsur-Unsur Panggung
Yang disebut dengan unsur-unsur adalah dasar-dasar teknik tata pentas yang
diterapkan di atas panggung untuk pencapaian standarisasi dlam pertunjukan. Dasar-dasar
tersebut menurut pendapat I Gede Sukraka, (1986:12) dalam bukunya “Pengantar Produksi
Tari”. Ada empat (4) unsur atau elemen mendasar dalam penataan panggung yaitu: sceneri,
lighting ,sound system dan perlengkapan-perlengkapan.
1). Dekorasi (sceneri) berasal dari kata latin, artinya hiasan latar belakang (back
round). Berfungsi dan tujuannya adalah, memberikan suasana, menunjang
pemeran untuk memberikan keadaan lingkungan dimana berada, memberikan
lokasi pemeran dimana berada.
2). Tata lampu (Lighting) dalam perkembangannya banyak jenis, warna, permainan
dan penempatannya, yang intinya untuk menerangi dan menyinari pada bagian-
bagian tertentu yang disesuaikan dengan idea penata. Fungsinya; mengadakan
pilihan yang ditonjolkan; mengungkapkan bentuk; membuat gambar wajar;
memberikan suasana. Ada dua macam lampu, yaitu lampu biasa dan lampu
khusus untuk seni pertunjukan.
3). Tata suara (sound system), adalah bunyi yang teratur. Ada lima (5) kualitas suara
yaitu: motif suara yang dapat menimbulkan rasa (texture); Tinggi rendahnya
suara (intonasi); penekanan suara pada kata-kata yang penting (strees);
Pengucapan suara lebih cepat dan lambat/lembut (pacing); Tekanan kata pada
suku kata (aceen).
16


NOMOR 22 TAHUN XVIII Oktober 2017
ISSN 1907-3232

Macam-macam alat suara disebut mikropon, yaitu mikropon yang dapat
dipergunakan dari segala penjuru (mikropon umi); Mikropon yang bisa
dipergunakan dari depan dan belakang (bidirectional); mikropon yang baik
dipergunakan dari depan (undirektional); Mikropon lantai adalah mikropun yang
dipasang di lantai; Mikropon yang dipasang dibaju disebut mikropon lapal;
mikropon yang bisa dipanjang-pendekan disebut mikropon boom.
Teknik penggunaan mikropon ada empat (4), yakni : off mike; on mike; comimg
on mike; going of mike.
4). Perlengkapan-perlengkapan, yaitu dapat dipilah menjadi dua (2) adalah
perlengkapan panggung dan perlengkapan tari. Untuk kelancaran proses ini bisa
dicapai dan dituju kepada orang yang berkopoten khusus membidanginya, dan
menyukai bidang tersebut.
4.1.2 Sifat-Sifat Panggung
Ada tiga (3) sifat-sifat panggung yaitu:
1). Panggung remanen, adalah jenis panggung yang bisa dibongkar pasang yang
bersifat sementara, untuk praktisnya penggunaan alat ini ditata demikian rupa.
2). Panggung semi remanen, yaitu panggung berbentuk setengah jadi, dimana penata
dekor dan lain-lainnya hanya bisa menata bagian-bagian tertentu saja untuk dapat
merubah suasana pertunjukan.
3). Panggung permanen, adalah bentuk arsitekturnya sudah ditata sedemikian rupa,
sehingga walaupun diberi fariasi hanya bisa dilakukan beberapa segi saja. Guna
untuk mendapatkan suasana beda dari sebelumnya, bentuk panggung tersebut
harus ditutupi dengan dekorasi berbeda. Contoh pada pagelaran dramatari kalosal
setiap tahun oleh IKIP PGRI Bali di panggung arena Arda Candara Ardsentre-
Denpasar.
4.1.3 Komposisi Panggung
Komposisi panggung secara garis besarnya dapat dipilah menjadi tiga, yaitu bagian
belakang, bagian tengah, dan bagaian depan. Adapun asfek-asfek komposisi atau ketentuan
komposisi pada panggung dan komposisi tari antara lain; keseimbangan, selang-seling,
bergantian, berurutan dan terpecah. Menurut kepercayaan Jawa pada bentuk panggung
tradisi dapat dirinci menjadi Sembilan titik pusat, yakni setiap bagian komposisi (belakang,
tengah dan depan panggung) masing-masing ada tiga titik global, sehingga menjadi Sembilan
jumlah keseluruhannya. Demikian pula dalam dalam kepercayaan Hindu Bali jumlah

17


JURNAL PENDIDIKAN
INSTITUT KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN (IKIP) PGRI BALI

Sembilan tersebut disebut konsep Nawa Sanga, yaitu Sembilan penjuru arah mata angin.
Setiap penjuru punya Dewanya masing-masing.
Dalam komposisi panggung ada enam (6) aspek standarisasi (pictorial) yang
mendapat perhatian yaitu, aspek (1) unity (keutuhan) kesatuan menyeluruh. (2) Kontras
(dinamika) atau ketidak samaan itu menarik., (3) Fariasi (keaneka ragaman), (4) Saling
ketergantungan (koherencee), (5) Neraca timbangan (balance) atau berimbang, (6) Penguatan
titik berat (impasir).
4.2 Fungsi Panggung Sebagai Tempat Pertunjukan
Pengertian panggung sebagai tempat pertunjukan tari adalah segala kreatifitas
dilakukan aktor mesti panggung atau tempat pijak diutamakan terlebih dulu sebagai
menunjukan kebolehannya (beraktting) yang sudah lengkap dengan unsur-unsur teknik tata
pentasnya. Pemanfaatan panggung di Indonesia (terkecuali) adalah megaarah kekeadaan
panggung, yaitu sebagaian besar sebagai tempat pertunjukannya dilakukan di halaman
terbuka (posisinya rata dengan tanah (datar). Begitu juga dengan keadaan tempat pentas atau
panggung di Bali disebut kalangan, sebagian besar memanfaatkan tempat pentas yang rata
dengan tanah (datar). Adapun struktur penyajiannya disebut dengan pedum karang, artinya
dalam tempat kreatifitas aktor yang dibentuk dan diminid sedemikian rupa (tanpa jarak
dengan penonton), sehingga tujuan komunikatif terhadap penonton bisa terjangkau. Dalam
deskripsi struktur tari pada perkembangannya sekarang disebut “pola lantai” atau garis-garis
lantai yang dialui penari. Jadi apabila penari sedang berada di atas panggung dialah mengolah
panggung itu sendiri, sehingga bisa tercapai tujuan nilai seni pertunjukan yang memenuhi
standarisasi. Secara umum dalam seni pertunjukan ada tiga kreteria untuk menentukan
kesuksesannya,yaitu actor, stage dan penonton. Jadi ketiga kreteria tersebut sangat
menentukan pertunjukan itu sendiri.
4.2.1 Pertunjukan Tari
Pengertian seni pertunjukan adalah ekpresi jiwa manusia yang indah dipertontonkan
kepada masyarakat banyak, melalui kemasan klasik tradisional Bangsawan maupun klasik
tradisional kerakyatan dan Teknik tata pentas sebagai alat penunjang utamanya. Seni tari
adalah ekpresi jiwa manusia dituangkan pada gerak-gerak ritmis dan indah. Seni pertunjukan
adalah bersifat sementara ( I Wayan Rai S, 1986) dalam makalahnya disampaikan pada
seminar Seni Pertunjukan di Arda Candara-Denpasar. Walaupun demikian seni ini tetap
lestari berkat dukungan masyarakat, adat dan agama sebagai pengikatnya. Seni pertunjukan
banyak jumlahnya, salah satunya adalah seni tari Pendet Penyambutan bermula dari
perkembangan dari tari pendet umum yang digunakan sebagai tari wali maupun sebagai
18


NOMOR 22 TAHUN XVIII Oktober 2017
ISSN 1907-3232

tarian hiburan. pelakunya perempuan yang dapat dilakukan dengan berkelompok, struktur
penyajian pendek. Maka dari itu dalam perkembangan selanjutnya menjadi sebuah tari
penyambutan untuk kepentingan pariwisata lestari sampai sekarang.
Karena tari ekpresinya menampilkan keindahan gerak bisa dilakukan dengan mendiri
(tunggal) dan berkelompok, maka lebih tepat beruraiantasi pada elemen-elemen estetis dalam
komposisi tari oleh Sudarsono,(1982:4-5)) bukunya Komposisi Tari, menjelaskan ada
delapan (8) sebagai panutan dalam penari kelompok, yaitu: Pengertian gerak, pola lantai,
desain atas, desain dramatik, komposisi kelompok, dinamika, dan tema. Untuk diketahui
bahwa tari dan musik tidak bisa dipisahkan dalam penyajiannya, oleh I Wayan Senen,
(1082/1983:1) melengkapi; ada sembilan (9) elemen estetis dalam musik tari, adalah
mencakup: ritme, tempo, keseimbangan, dinamika, melodi, harmoni, timbre nada (warna
nada), ruang dan bentuk (form). Dalam pengkombinasian kedua elemen antara tari dan musik
yang tentu dalam proses ciptaannya dilakukan secara bersama-sama. Dengan itu keselarasan
akan dicapai, contohnya beberapa jenis tari klasik yang sudah mapan kebenarannya, yaitu
seperti berbagai jenis tari pelegongan Bali salah satunya adalah tari Pendet, tari Kelono
Topeng dan tari Serimpi (Jawa). Namun tidak hanya sampai di situ sebenarnya kesatuan
musik tari, tapi dapat dicermati lebih dalam bahwa terwujudnya tari dalam penyajiannya
terdapat gerak mendominir tari yang disebut dengan fungsi musik sebagai “pengiring tari”.
Yaitu gerak memberi aba-aba terhadap musik. Salah satu contoh adalah tari Baris, topeng,
rangda, barong maupun tari bondres dan kecak (Bali). Contoh yang lainnya adalah tari
Kelono Topeng, Jatilan dan Cakilan (Jawa), dalam beberapa bagiannya tidak selalu diikat
oleh patokan kesatuan tari dan musik, tetapi pada bagian tertentu adalah gerak memberi aba-
aba musik.
Terpilihnya tari pendet sebagai obyek bahasan seni di sini karena bentuk garapannya
padat dan punya isi serta penuh makna. Baik sebagai tari dasar, tari sakral, tari profan
maupun struktur bentuk penyajiannya simpel (pendek) serta konteks dengan penguasaan
umum mahasiswa. Untuk itu dapat dijadikan rujukan tari sebagai obyek deskripsi seni yang
praktis dan mudah difahami mahasiswa.
4.3 Tempat Penonton (Auditorium)
Dalam panggung proscenium terdapat tempat khusus untuk penonton posisinya ada di
depan stage yang mempunyai jarak teretntu, bentuk komposisinya meninggi ke belakang
(berundak-undak). Ada ketentuan khusus untuk ini adalah jumlah kursi disesuaikan dengan
kavasitas beasar ruangan, ukuran jarak kursi, kualitas kursi, jalan keluar-masuk penonton,

19


JURNAL PENDIDIKAN
INSTITUT KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN (IKIP) PGRI BALI

kamar belakang dan kebutuhan akustik ruangan serta keidealan atap bangunan. Yang dibahas
di sini adalah ketentuan ukuran jarak kursisi, yaitu (1) ukuran dari dasar lantai depan stage
(kursi pertama 2-3 m. panjang belakang 2-2,5 x lebar ruang pentas, baris kursi belakang
dalam lebar pentas 7m. maka auditorium tidak boleh lebih dari 18m. Jarak antara kursi satu
dengan lainnya kurang dari 75 cm. lebar tempat duduk 50 cm (termasuk bagian kursi).
Pengaturan tempat yang disediakan tersebut adalah supaya penonton bisa betah menonton
dan santun adanya.
4.4 Fungsi Seni Pertunjukan Tari
Seni pertunjukan di Indonesia mempunyai banyak fungsi. (Edi Sedyawati, 1986).
Khusus fungsi seni pertunjukan Bali dapat dipilah menjadi tiga, yaitu seni wali
(sacral), seni Bebali dan seni Balih-balihan (I Made Bandem..). Seni wali adalah seni
diperuntukan persembahan kepada Tuhan dalam manifestasinya sebagi wujud para Dewa dan
penempatannya pada ruang yang telah disucikan, serta menggunakan sarana upacara. Seni
bebali adalah seni kebeadaannya setengah berfungsi sebagi tari wali dan setengah lagi untuk
hiburan. Contohnya tari topeng Sida Karya lengkap dengan ceritranya. Sedangkan fungsi tari
balih-balihan yaitu khusus sebagai tari hiburan saja. Seperti tari Joged Bumbung dan
sejenisnya. Pemilahan fungsi seni tesebut dikaranakan untuk memberi batas bentuk
penyajiannya yang sering rancu di masyarakat Bali. I Made Darmada, (2015) menyampaikan
pada Dorasi Ilmiahnya, bahwa hasil seni kreatif sesokorang harus diharahkan pada fungsi
yang lebih luas, yaitu bisa menambah depisa Negara/Daerah. Kedua pengertian ini andaikan
siklus yang berulang-ulang dilakukan, yang berujung pada pelestarian seni itu sendiri.

5. TEKNIK TATA PENTAS DAN TARI DALAM SENI PERTUNJUKAN
Teknik tata pentas dan tari menjadi jelas apabila dipertunjukan, sangatlah mudah
untuk difahami bahwa setiap pertunjukan tari di atas pentas tidak tertinggalkan alat-alat
sebagai penunjang nilai estetisnya. Realita ini tak satupun pertunjukan tari tanpa
menggunakan alat atau sarana lainnya untuk pencapaian tujuan sukses. Seperti, tata lampu,
dekorasi, sound system maupun sarana lainnya. Salah satu misalkan salah satu nya tata lampu
bisa berfungsi untuk menyinari dan disinari maunpun untuk mempertegas suasana. Yang
intinya terwujudnya teknik tata pentas dan tari pada seni pertunjukan tidak bisa lepas dengan
faktor-pfaktor penopang atau pendukungnya yang dapat terwujudnya seni pertunjukan
tersebut. Adapun sebagai hubungan yang dimaksud di sini adalah antara lain; panggung
sebagai tempat atau halaman kebebasan penari berektting, untuk dapat memperjelas unsur-
unsur penataan yang perlu mendapat perhatian lohis, yaitu kesatuan keutuhan pertunjukan tari
20


NOMOR 22 TAHUN XVIII Oktober 2017
ISSN 1907-3232

di atas pentas. Keutuhan itu menyangkut: (1) pada delapan unsur elemen-elemen estetis tari,
(2) empat elemen-elemen pada teknik tata pentas, (3) tiga dasar kreteria pada seni
pertunjukan (pemain, tempat dan penonton). Jadi inti dasar perpaduan inilah yang dikemas
kedalam pertunjukan, sehingga tercipta standarisasi estetis yang bermuara pada untuk
pemenuhan selera masyarakat luas.

6. FUNGSI KESATUAN TEKNIK TATA PENTAS DAN TARI DALAM SENI
PERTUNJUKAN
Setelah dikaji peneliti dapatkan fungsi kesatauan Teknik Tata Pentas dan Tari dapat
dibagi dua (2), yaitu (1) sebagai menambah ilmu pengetahuan mahasiswa dan (2) sebagai
tuntunan cerminan kehidupan manusia.
1). Sebagai menambah ilmu pengetahuan, adalah dengan berlandaskan teori
mahasiswa dapat lebih memperlancar mempraktikannya.
2). Sebagai tuntunan cerminan nilai kehidupan manusia, diimaksud dengan
pengertian ini adalah bahwa semmua unsur elemen teknik tata pentas dapat
dijadikan sebuah nilai kehidupan seni pertunjukan dan nilai kehidupan aktivitas
manusia, yakni:
2.1 Tata lampu (lighting), dalam dalam panggung adalah intinya untuk dapat
menerangi dan menyinari bagaian-bagian tertentu. Dalam pengertian yang
lebih luas adalah kehidupan manusia memerlukan sinar atau keterangan
untuk dapat berbuat dengan lancar. Sinar dalam pengetahuan adalah
pendidikan itu sendiri, sinar dalam kepercayaan yaitu Sang-hyang Widi
Tuhan yang maha kuasa. Untuk itu sinar yang dapat menerangi diri manusia
keseharian itulah dapat disebut sinar sejati, untuk manusia lebih leluasa bisa
beraktivias banyak.
2.2 Dekorasi (sceneri), yang berarti hiasan latar belakang paggung. Dengan ini
dapat diinterfetasikan sebelum menghias panggung manusialah dihias
dirinya lebih awal, sebab manusia sebagai pelaku awal pemrekarsa dari
kegiatan tersebut. Dengan arti lain sebelum menghias orang lain, hiaslah
diri sendiri dulu sehingga orang menjadi lebih percaya adanya. Menurut
Gunadha, (2013:..) bukunya “Politih Hindu” Bahwa hidup ini selalu
dibubuhi dengan hiasan atau fariasi hidup yang perlu dicari dan tidak bisa
dilepaskan dari kehidupan untuk mendapatkan kebahagiaan. Hiasan dalam

21


JURNAL PENDIDIKAN
INSTITUT KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN (IKIP) PGRI BALI

seni adalah untuk pencapaian bentuk yang indah perlu ada kretaria yang
berarti dalam bentuk tersebut. Tujuannya disamping untuk memenuhi
tuntutan emosi seniman, tetapi juga untuk menghindari kejenuhan atau
kebosanan dalam penampilan. Penampilan tersebut dalam seni adalah
mencerminkan jiwa sesokorang. Untuk penampilan yang berstsndarisasi
perlu adanya pengetahuan tersendiri serta disesuaikan dengan situasi dan
kondisi setempat. Begitu juga diri manusia memerlikan hiasan dalam
penampilan, karena menggambarkan cerminan dari diri manusia.
2.3 Tata suara (sound system), yaitu penataan suara atau bunyi dalam
panggung. Suara dalam hidup manusia adalah sebagai alat komonikasi. Ada
suara (vocal) yang dapat menyenangkan hati dan ada suara yang dapat
menyakitkan hati. Yang dapat menyenangkan hati adalah vocal yang ditata
memenuhi kretaria penilaian estetis pada tujuan tertentu. Sedangkan suara
atau vokal yang dapat menyakiti hati adalah vocal yang tidak teratur. Dalam
ajaran agama Hindu, vocal atau kata-kata tersebut termasuk nomor urut dua
dari ajaran kepercayaan“Tri Kaya Parisuda”. Dengan itu manusia dapat
tertuntun hidup lebih berarti apabila patuh terhadap ajaranNya. Kata I Made
Wianta (2012) seorang seniman lukis di rumahnya, kata-kata yang
menyakitkan hati jauh lebih jelek dari pada luka di badan. Yang
realisasinya luka bisa sembuh apabila diobati, tetapi sakit hati akan seumur
hidup diingat dan rasa balas dendampun tumbuh, serta mendoakan orang
tersebut lebih jelek dari dirinya. Dengan demikian kata-kata dalam
kehidupan ini perlu dijaga kebenarannya.
2.4 Perlengkapan-perlengkapan, adalah dapat diinterfertasikan sebagai
mengantisifasi sesuatu hal yang ditidak dikendaki. Dalam hal ini seni
(rumit) yang sering tidak terduga terjadi keteledoran-keteledoran pada
dirinya, walaupun seniman lebih deminan pada olah rasa, maka dari itu
perlu adanya alat bantu berupa catatan-catan yan sangat berarti dalam
kegiatan itu. Maka anatara rasa dan logika semestinya dapat dipadukan
dengan kepastian untuk mendapatkan tujuan yang tidak terduga atau tidak
diinginkan bersama.
Inilah yang dimaksud peneliti, bahwa dalam ke empat unsur elemen-elemen teknik
tata pentas dan tari sebagai pemerlakunya di atas pentas, dapat dijadikan sebuah nilai
kehidupan ganda. Yang diberi judul “Kesatuan Teknik Tata Pentas Dan Tari Dalam Seni
22


NOMOR 22 TAHUN XVIII Oktober 2017
ISSN 1907-3232

Pertunjukan”. Dapat diinterfertasikan juga sebagai sebuah nilai kehidupan yang perlu
dijadikan gambaran beraktivitas.

7. ANALISIS TEKNIK TATA PENTAS DAN TARI DALAM SENI
PERTUNJUKAN
Setelah dicermati dan pengkajian pengertian di atas, bahwa teknik tata pentas dan tari
menyatu dalam penyajiannya seperti salah satu bentuk tari Pendet Penyambutan yang umum
di Bali sebagai obyek kajian, diberi judul “Teknik Struktur Penyajian Tari Pendet
Penyambutan”, yang dapat dilakukan oleh seorang diri (tunggal), maka terbentuklah sebuah
hasil terapan deskripsi seperti tabel di bawah ini:

Penyajian Teknik Struktur Tari Pendet Penyambutan

No/Struktur/peralihan/ Pola Lantai Hit.Gerak/Musi Notasi/Irama Lighting Keterangan
Tandang k gerak

1 2 3 4 5 6

I. Pengawit

1.1 Introdusi Kosong 3X8 (gongan) ueueoeuiaiae 75 % Pn. siap di
1.2 Pose/motif gerak o semua tempat.
lampu

.u.u.e.e.a.e.(
u)

1.3 Pepeson V 3x8(gongan) .a.u.o. (u), 100% Mulai gr.
(I). Semua milpil ke
lampu dalam
panggung
bawa bokor.

II. Pengawak V 3x8(gongan) .u.a.e.u.e.o.e Sda. Angsel agem
.(u) (II). kanan

23


JURNAL PENDIDIKAN
INSTITUT KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN (IKIP) PGRI BALI

2.1 Agem kanan V Sda. Sda. Ngunjal
angkihan,ngeli
er,seledet
kanan,2X.

2.2 peralihan 1x8(gongan) u.a.e.u.e.o.e. Sda. Angsel
(u).o.i.e.(o) rangkap,
ngeseh,piles
kiri dorong
kiri.

2.3 Agem kiri 2x8(gongan) .o.e.i.o.i.a.i.( Sda. Kebalikan
o).u.i.a.(u) no.2.1

2.4 peralihan .u.a.i.o.e.o.e. Sda. Kebalikan dari
(u) gerak no.2.2.

2.5 Ngegol V 3x8 (gongan) Sda. Sda. Gr.ngegol,
setiap hit. 4
berbeda arah
dan terakhir
kembali ke
depan.

2.6 Peralihan V 1x8 (gongan) .u.a.i.a.u.u.a. Sda. Gr.angsel
e.i.u.e.i.o.u.a rangkap,ngese
.e.(u) (I) h,ngelung
kanan,ngelung
kiri

2.7 ngelung V 1x8 (gongan) .i.u.a.i.u.o.a. Sda. Setiap hit.
(u) Empat seledet
kiri dan kanan.

2.8 peraliahan V 1x8 (gongan) Sda Sda. Angsel

24


NOMOR 22 TAHUN XVIII Oktober 2017
ISSN 1907-3232

rangkap,
dilanjutkan gr.
milpil

2.9 gr.luk penyalin V 3x8 (gongan) Sda Sda. Gr. Milpil
membentuk
angka delapan.

2.10 peralihan V 1X8(gongan). .u.i.u.e.i.e.o. Sda. Angsel
a.(u)(I) tunggal,ngeseh
,agem
kanan,ngeteg
2X

III.Penyuwud V 3X8(gongan). Sda Sda. Gr. Milpil
sambil nabur
bunga setiap
hit.Empat,
dilanjutkan
berjalan keluar
panggung

3.1 penutup V 1X8(gongan) uuu….e.a.e. Lp.turun Gerak telah
u….eiouae mati berakhir.
(u) semua.

Keterangan:
A. Simbol-Simbol (Gambar) Dalam Kolom:
1. V = simbol penari
2. …. = proses penari
3. ( ) = tanda pukulan gong
4. Sda. = singkatan kata, Sama Dengan di Atas
5. a,i,u,e,o = pengganti aksara Bali, dibaca: nang,ning,nug,neng,nong.
6. Huruf tanpa jarak berbunyi cepat

25


JURNAL PENDIDIKAN
INSTITUT KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN (IKIP) PGRI BALI

B. Strutur Kolom:
1). Struktur adalah susunan atau komposisi (paileh) dalam bahasa Bali. Yang pertama
disebut “pepeson” kedua, disebut “pengawak” dan ke tiga disebut “penyuwud” atau
penutup. Itulah dijadikan pedoman utama dalam struktur tari Bali.
1.1 Pengawit (Inroduksi) adalah merupakan pendahuluan sebelum tari dimulai,
digunakan musik instrumentalia, di Bali disebut music “kebyar”.
1.2 Pose (motif gerak), yaitu sikap gerak yang tidak berubah (sikap pokok gerak
sebagai standarisasi dalam tari Bali). Sedangkan pengertian ragam gerak tari
adalah rangkaian dari beberapa motif gerak, yang biasa digunakan untuk
menyambung gerak pokok (penghubung, peralihan), “tandang” (Bali). Sendhi
(Jawa). Jadi lebih tepat kiranya untuk pendeskripsian dalam pola lantai adalah
“motif”, bukan ragam. Kareana istilah ragam sudah mengarah ke rangkaian atau
gabungan gerak itu sendiri (Ny. Suharti,1972).
2). Pola Lantai, adalah garis-garis lantai yang dilakukan oleh penari, garis ini tampak
jelas apabila dilakukan oleh penari kelmpok. Pada dasarnya ada dua garis yang
dominan dilakukan oleh penari, yaitu garis lurus dan garis lengkung. Masing-masing
garis punya filisofi dan kesan mendalam, yakni garis lurus mempunyai arti tegar pada
pendirian, mempunyai kesan kuat pantang menyerah dan berkesan kaku. Garis
lengkung punya arti tercurah dan berkesan lemah atau lembut dan menyatu.
3). Hitungan Musik, sebagai iringan tari yang dimaksud adalah dalam bentuk musik tari
khususnya tari klasik, mempunyai hitungan tertentu yang gamlang diteliti sebagi
pedoman pendeskripsian ilmiah (hit. Genap 4 atau 8). Maka dengan ini seorang
peneliti yang baik, apabila kurang memahami notasi musik akan tetapi bisa
menghitung musik dengan ukuran instrumen jublag, jegogan, kemong, kempul dan
gong sebagai ukuran yang paling global yang sesuai dengan motif dan ragam tari yang
ditampilkan. Berdasarkan penelitian lapangan, untuk lebih mudah untuk mengingat
lagu dan menghitungnya apabila menggunakan “lirik lagu”.
4). Irama Musik, yaitu alunan suara atau gending yang ukuran kalimatnya lebih panjang
dari ukuran gending atau pupuh, dan mempunyai cengkok tersendiri. Irama tersebut
berkaitan dengan tempo yang dimainkan. Dalam bahasan ini ada dua tempo atau
irama yang digunakan, irama cepat disebut irama satu (I); irama lambat ditulis degan
angka dua (II). Yang mana ukuran cepat-lambatnya irama lagu umumnya di Bali tidak
mempunyai istilah sebutan yang pasti, untuk dapat memahami pembahasan ini
peneliti meminjam istilah dari musik diatonis yang terdapat pada lagu Nasional (lagu
26


NOMOR 22 TAHUN XVIII Oktober 2017
ISSN 1907-3232

wajib) Garuda Pancasila bertempo cepat, disebut matt 4 1/4. Untuk irama pelan
(irama (II) peneliti menggunakan ukuran detikan jarum jam.
5). Property, adalah alat yang digunakan menari, salah satunya bokor dengan hiasannya
dapat digabung pada kolom keterangan nomor urut enam.
6). Tata Lampu, dalam bentuk penyajian tari tidak banyak menggunakan permainan
lampu, karena lebih menonjolkan gerak-gerak estetis (heroik). Penataan lampu yang
umum dipakai adalah sifat kualitas cahaya Hart Light (cahaya keras/spot) dan cahaya
Soft (cahaya lembut) yang disebut flood. Nama jenis lampu Fresnel dan PAR
(Parabolic Aluminized Reflector), dapat menghasilkan penyinaran keseluruh ruangan
yang bersifat warna netral. Begitulah yang terjadi pada pertunjukan tari khususnya
tari Pendet Penyambutan.
7). Keterangan ragam dan motif tari Pendet Penyambutan
Istilah dalam seni khususnya seni tari serta bagian-bagiannya mempunyai nama
sebutan tersendiri, yakni sulit dihindari karena kurang tepat dibahasa Indonesiakan
seluruhnya, dengan demikian istilah tari tetap menjadi pedoman dalam mengungkap gerak,
motif maupun istilah lainnya yang ada pada pertunjukan tari itu sendiri.
Adapun istilah-istilah yang dimaksud motif/ragam gerak pada tarai Pendet
Penyambutan di atas adalah sebagai berikut:
1. Agem = sikap pokok gerak
2. Seledet = mata mendelik melirik ke samping
ersama dagu.
3. Ngelung = tangan kanan/kiri melambai
4. Ngejer = kaki nekuk sambil menggetar
5. Ngegol = gerak pinggul serta kepala kekiri dan
kekanan bergantian,dan rendah.
6. Milpil = sama dengan gerak ngegol, hanya
temponya lebih cepat.
7. Nabur = melempar bunga.
8. Bokor = alat digunakan menari.
9. Angsel Tunggal = angkatan kaki, melaui rendah,gajul
sebagai penyangga badan

27


JURNAL PENDIDIKAN
INSTITUT KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN (IKIP) PGRI BALI

10. Angsel rangkap = sama pengertiannya dengan angsel di atas, hanya dilakukan
dengan dua kali. Baik kaki kanan maupun yang kiri
(bergantian).
11. Ngelier = dari posisi agem,muka serta mata
mengecil dan membesar
12. Ngeseh = pala/pundak bergerak cepat.
13. Pengawit = awal mulainya tarian, yang umum di
Bali menggunakan musik kebyar.
14. Pepeson = mulainya tarian, biasanya dibatasi oleh
irama lagu.
15. Pengawak = bagian tengah atau bagian isi dari pada bentuk tarian, juga
dibatasi oleh irama lagu. Gaian ini biasanya bentuknya lebih
panjang dari baian pepeson dan bagaian penyuwud.
16. Penyuwud = bagain berakhirnya suatu tarian, biasanya irama lagu semakin
menurun seiring dengan gerak dilakukan.
17. Ngeteg = kestualam pengertianan entakan gajul (mengarah kesamping),
dengan kepala.
18. Piles = putaran gajul ke depan, dengan badan
merendah (aed).
19. Ngunyal angkihan = dalam posisi sikap pokok, menarik
nafas (naik-turun).

Dengan mengetahui kesatuan hubungan teknik pentas dan tari dalam
seni pertunjukan terwujud dan terbentulah sebuah pendeskripsian ini Yang kiranya
dapat bermanfaat untuk pertunjukan formal amaupun non formal.

8. HASIL
8.1 Makna Kesatuan Teknik Tata Pentas dan Tari Dalam Seni Pertunjukan
Makna kesatuan teknik tata pentas dan tari dalam seni pertunjukan mempunyai tiga
(3) makna, yaitu (1) makna religius, (2) makna estetis dan (3) makna pelestarian.
1). Makna religius, yaitu dengan keterikatan tari dengan agama Hindu di Bali maka
tetap hidup subur tarian Bali, yakni melalui mantra, sarana suci dan tempat telah
disediakan yang telah memadai. Dengan adanya pertunjukan tari mampu

28


NOMOR 22 TAHUN XVIII Oktober 2017
ISSN 1907-3232

mempengaruhi dan membangkitkan rasa religius bagi orang penggelut seni dalam
melakukan persembahyangan bersama.
2). Makna estetis, yaitu dengan pemenuhan kreteria teknik dan semua elemen dikemas
dalam bentuk baru, cinta kasih tulus iklas (tanpa pamerih) pada pujaanNya,
dengan ini bisa menumbuhkan rasa indah. Dengan ada rasa indah atau nyaman
maka tumbuhlah lagi keindahan-keindahan kreatif lainnya.
3). Makna pelestarian, yaitu pelestarian seni pertunjukan dalam deskripsi mahasiswa
Program studi SENDRATASIK IKIP PGRI Bali harus tampil bersinergi dengan
lingkungan lembaga setempat, dan terpenting pendukung seni seperti adat,
masyarakat dan agama tetap bisa mewadahi seni, sehinga lestarilah kemampuam
mahasiswa yang yang dapat memadai. Dan selain ini banyak lagi bisa
menentukan pelestarian seni Indonesia khususnya Bali.

9. PENUTUP
9.1 SIMPULAN
Dari semua paparan di atas dapat disimpulkan bahwa Teknik Tata Pentas dan Tari
dalam seni pertunjukan sangat penting bagi kehidupan. dalam seni pertunjukan, yang
mencakup elemen-elemen atau unsur-unsur di dalam panggung seperti dekorasi, tata lampu,
sound system dan perlengkapan-perlengkapan. Demikian pula tari yang lebih nampak di
panggug memilki elemen estetis yang dapat dibentuk menjadi kesatuan utuh dalam seni
pertunjukan. Kedua unsur- unsur tersebut saling kait mengait dalam pencapaian keedialan
sebuah pertunjukan. Tanpa kehadiran unsur itu berarti pertunjukan kurang sempurna, atau
tanpa bermakna. Khususnya tari dari satu sisi fisik sebagai gerak estetis dengan istilah lain
hanya menampilkan keindahan-keindahan gerak saja melaui elemen-elemen komposisinya,
untuk itu perlu ada penopang seperti unsur-unsur tersebut di atas untuk mendapat penampilan
yang mempunyai standarisasi dalam seni pertunjukan.
Selanjutnya khusus untuk pendeskripsian Skipsi mahasiswa yang kurang
sempurna pada kajian seninya, kurang tepat kiranya mengesampingkan (memunggungi)
pengetahuan ini, apaila kejadian tersebut tetap terulang maka akan tidak sesuai dengan VISI
dan MISI IKIP PGRI Bali menutamakan kelulusan yang bermutu. Untuk mendukung
program ini dari hasil kajian di atas, peneliti dapat contohkan sebuah deskripsi singkat
sebagai pedoman penyusunan Teknik Tata Pentas profesional untuk mahasiswa seperti
terdapat pada lembar tabel di atas. Dan selanjutnya tidak ketinggalan pula bahwa teknik tata

29


JURNAL PENDIDIKAN
INSTITUT KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN (IKIP) PGRI BALI

pentas dan tari dalam seni pertunjukan dapat dijadikan cerminan sebagai pedoman nilai
kehidupan yang perlu mendapat perhatian khusus.
Keseluruhan arti pengertian tersebut di atas adalah membahas makna “seni”, yang
besar artinya buat kehidupan manusia. Oleh Made Suharta, (2016) Rektor IKIP PGRI
menyebutnya dengan singkat dan jelas, tujuan mempelajari seni adalalah dapat untuk
“memperhalus jiwa”.

9.2 SARAN-SARAN
Bagi pengajar tari atas nama Lembaga, hendaknya juga ikut rasa memiliki
pengetahuan ini, sehingga dalam penerapannya mempunyai standarisasi yang valid. Dengan
ikut rasa memiliki berarti telah ikut mendukung FISI Dan MISI Program Studi
SENDRATASIK IKIP PGRI Bali.
Bagi siswa seni Drama, Tari dan Musik, hendaknya tidak mencari jalan pintas untuk
mendapatkan ilmu pengetahuan, karena berakibat merugikan diri sendiri.
Bagi Perpustakaan, hendaknya pula megeleksi buku-buku yang diperlukan
mahasiswa, sebagai buku paduan-rujukan untuk melengkap deskripsi mahasiswa.

DAFTAR PUSTAKA

Arnawa I Nengah. 2016. Desain Kurikulum Dan Perencanaan Bahasa Bali Dalam Lembaga
pendidikan. Denpasar: Fakultas Pendidikan Bahasa Dan Seni IKIP PGRI Bali.Jurnal
Pendidikan Dan Seni “Stelistetika”. ISSN 2089-8460.
Astawan Nyoman. 2016. Morfofonologis Prefiks Nasal Bahasa Bali. Denpasar: Fakultas
Pedidikan Bahasa Dan Seni IKIP PGRI Bali. Jurnal Pendidikan Dan Seni
“Stelistetika”. ISSN 2089-8460.
Agus Permanamiarta Putu.2013 Pemerolehan Bahasa Kedua Dalam Lingkungan Keluarga
Pada Anak Usia 3 Tahun. Denpasar: Fakultas Pendidikan Bahasa Dan Seni IKIP
PGRI Bali. Jurnal Pendidikan Dan Seni “Stelistetika,ISSN 2089-8460.
Bandem I Made. 2012. Pendidikan Tari Di Indonesia. Denpasar: ISI Denpasar.
Darmada I Made, 2015. Orasi Ilmiah Wisuda IKIP PGRI Bali di Hotel Grend Bali Beact –
Sanur. Denpasar: IKIP PGRI Bali.
Gunadha I Da Bagus. 2012. Politik Hindu. Denpasar: UNHI Denpasar. Denpasar: Tesis
UNHI Denpasar
30


NOMOR 22 TAHUN XVIII Oktober 2017
ISSN 1907-3232

Kaya I Wayan dan Sudra I Nyoman.1984. Tata Teknik Pentas. Denpasar: SMKI Denpasar.
Kontjaraningrat, 1970. Teori Kebudayaan. Jakarta: Pendidian Dan Kebudayaan.
Liswahyuningsih Ni Luh Gede.2014.Sintactic Analysis Of Locative Prepoional Phrase In
English- Indonesian Text With Reference To “The Voyagers” And Its Tranlation
“Sebuah Sandiwara: Para Penjelajah. Denpasar: Fakultas Pendidikan Bahasa Dan
Seni IKIP PGRI Bali. Jurnal Pendidikan Dan Seni “Stilistetika”, ISSN 2089-8460
Pramana Padmodarmaya,1983. Tata Dan Teknik Pentas Untuk SMKI. Jakarta: Departemen
Pendidikan dan Kebudayaan Direktoral Jendral Pendidikan Dasar Dan Menengah.
Direktorat Pendidikan Menegah dan Kejuruan, Proyek Pengadaan Buku Pendidikan
Menengah dan Kejuruan.
Rai. S I Wayan.2012. Perunjukan Seni Untuk Pariwisata Bali. Denpasar: P&K Provinsi Bali.
Rembang, I Nyoman. 1987. Pendokumentasian Gending-Gending Tabuh Lelambataan Bali
Klasik Derah Bali. Denpasar: Departemen Pendidikan Dan Kebudayaan Provinsi
Bali.
Suarta I Made. 2016. Sambutan Wisuda Sarjana XXXVI di Hotell Grend Bali Bech-Sanur.
Denpasar: IKIP PGRI Bali.
Sudarsono. 1971 Tari-Tarian Indonesia I. Yogyakarta: ASTI Yogyakarta.
Sukreraka I Gde. 1986. Pengantar Produksi Tari.Denpasar: ASTI Denpasar.
Senen I Wayan. 1982/1983. Elemen-Elemen Musik Tari. Yogyakarta: Proyek Pengembangan
Institut Kesenian Indonesia Di Jakarta. Yogyakarta: ASTI Yogyakarta.
Sadwika I Nyoman, 2015. Jurnal Pendidikan Bahasa dan Seni. Denpasar:Fakultas Pendidikan
Bahasa Dan Seni IKIP PGRI Bali. Jurnal Pendidikan Dan Seni “Stelestika”,ISSN
2089-460.
Suharti Ny. 1972. Tari Putri Klasik Gaya Yogyakarta. Yogyakarta: ASTI Yogyakarta.
Tebok Suetedjo. 1983. Diktat Komposisi Tari I. Yogyakarta: ASTI Yogyakarta.

31


JURNAL PENDIDIKAN
INSTITUT KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN (IKIP) PGRI BALI
ANALISIS MANAJEMEN WAKTU, Analisis
MINAT Manajemen
BELAJAR, DAN KEHADIRAN TERHA-
Waktu,
DAP PRESTASI BELAJAR MAHASISWA SENI RUPA IKIP PGRI BALI
Minat Belajar, dan Kehadiran Terhadap Prestasi Belajar
Mahasiswa
NI PUTU Seni Rupa
SRI WINDARI, IKIP
S.Pd, PGRI BALI
M.Pd
Program Studi Pendidikan Seni Rupa,
Fakultas Pendidikan Bahasa dan SRI
NI PUTU Seni,WINDARI
IKIP PGRI Bali
e-mail: Putusriwindari1@gmail.com
ABSTRACT
This observational createdAbstrak by using correlation descritive metode with using
quantitative observation metode, like research about perseption of fine art students of
IKIP PGRI BALI. The variable that is linked with this research is leaning
This observational
achievement (Y),created by using
with using correlation descritive
a questionnaire instrument metode withisusing
where usedquantitative
to filter
observation metode, like research about perseption of fine art students
dependent variables such as time management (X1), learning interest (X2), and of IKIP PGRI BALI. The
variable that is linked
attendance withwith
(X3), thisanalysis
researchunit is leaning achievement
are 22 persons (Y), with
of students using a questionnaire
as population.
instrument where Quantitative
is used to filter dependent variables such as time
analysis with using double linear regression is shownmanagement (X1),
thatlearning
there
interest (X2),
are (1)andthere
attendance (X3), with
is a positive analysis and
contribution unit significant
are 22 persons timeofmanagement
students as population.
for learning
Quantitative analysis with
achievement using
by using double of
equation linear regression
regression line is
Ŷ =shown
30,250 that there are
+ 0,262X (1)Fcaunt
1 with there is =a
positive contribution and significant
1,160 (p < 0,05) time management
with correlation about 0,234for (p learning
< 0,05) ;achievement by using equation
where constribution 5,5% ;
of regression
SE 0,055%; (2) there is a positive contribution and significant of learning interestabout
line Ŷ = 30,250 + 0,262X1 with Fcaunt = 1,160 (p < 0,05) with correlation for
0,234 (p learning
< 0,05) ;achievement
where constribution
by using5,5% ; SE of
equation 0,055%; (2) there
regression line Ŷis=a positive
51,323 +contribution
0,214X2 with and
significant
Fcaunt = 1,892 (p < 0,05) correlation 0,294 (p < 0,05); constribution 8,6%; SE =
of learning interest for learning achievement by using equation of regression line Ŷ
51,323 +0,086%;
0,214X2(3)with thereFcaunt = 1,892constribution
is a positive (p < 0,05) and correlation
significant0,294
of (p < 0,05); for
attendance constribution
learning
8,6%; SEachievement
0,086%; (3)bythere usingis equation
a positiveofconstribution
regression line andŶ significant
= 27,791 +of attendance
0,334X3 withfor learning
Fcount =
achievement
3,128by(pusing equation
< 0,05), of regression
correlation 0,368 line
(p <Ŷ0,05)
= 27,791 + 0,334X3
constribution with SE
13,5% Fcount = 3,128
0,135%; and(p
< 0,05), (4)
correlation
there is a0,368 (p <contribution
positive 0,05) constribution 13,5% SE
and significant time0,135%; and (4)learning
management, there is interest,
a positive
contribution
and and significant
attendance for time management,
learning achievement learning interest,
by using and attendance
equation of regression for line Ŷ
learning
=30,145
achievement + 0,183X
by using equation
1 + 0,203X
of +
regression
2 0,268Xline3 with
Ŷ F
=30,145
count =
+ 1,779
0,183X1> F + (α
0,203X2
table = 0,05)=
+ 4,30
0,268X3
and =(α1,779
with Fcount = 0,01) = 7,95
> Ftable (α = and0,05)=(p<0,05),
4,30 andcorrelation
(α = 0,01) 0,478
= 7,95 with p < 0,05,
and (p<0,05), with
correlation
0,478 withconstribution about
p < 0,05, with 22,9%.
constribution about 22,9%.

Key words : Time Management,
Keywords Learning Interest,
: Time Management, Attendance,
Learning Interest,Learning Achievement
Attendance, Learning
Achievement

I . PENDAHULUAN

I.I Latar Belakang Masalah

Pembelajaran dimaknai sebagai suatu kegiatan yang didalamnya terdapat proses
pemberian atau penerimaan pengetahuan, ketrampilan, sikap dan nilai. Pendidik sebagai
pemberi pengetahuan atau ketrampilan perlu memahami berbagai cara, gaya, tanggapan dan
sikap peserta didik dalam proses belajar untuk memastikan pembelajaran yang bermakna.
Kegiatan pembelajaran tersebut diarahkan untuk mengembangkan kemampuan mengetahui,
memahami, melakukan sesuatu, hidup dalam kebersamaan, dan mengaktualisasikan diri yang
32


NOMOR 22 TAHUN XVIII Oktober 2017
ISSN 1907-3232

harus dilakukan melalui pembelajaran yang (1) berpusat pada peserta didik, (2)
mengembangkan kreativitas, (3) menciptakan kondisi yang menyenangkan dan menantang,
(4) menyediakan pengalaman belajar yang beragam, (5) menciptakan keseimbangan
pengembangan moral, keindahan, logika dan kesehatan jasmani.

Kampus merupakan suatu lembaga pendidikan yang memberikan kesempatan luas
kepada mahasiswa untuk merealisasikan diri sehingga dapat mencapai tingkat perkembangan
yang optimal. Dalam proses pendidikan mahasiswa tidak terlepas dari belajar yang
memerlukan minat belajar, sikap disiplin waktu, serta kehadiran dalam perkuliahan. Belajar
merupakan bagian integral dari suatu proses belajar baik di dalam kelas maupun di luar kelas.

Pendidikan adalah suatu usaha yang dilakukan secara sadar dengan sengaja untuk
mengubah tingkah laku manusia baik secara individu maupun kelompok untuk
mendewasakan manusia melalui upaya pengajaran dan latihan (Sugihartono, dkk. 2007: 5).
Tujuan pendidikan adalah untuk meningkatkan kualitas manusia seperti SDM yang baik dan
dapat bersaing dengan yang lain.

Menurut Harjanto (2008:75) menyatakan bahwa: "Sistem instruksional merupakan
suatu langkah-langkah pengembangan dan pelaksanaan pengajaran sebagai suatu sisitem
dalam rangka untuk mencapai tujuan yang diharapkan secara efektif dan efisien". Dalam
proses pendidikan, kegiatan belajar mengajar merupakan aktivitas yang paling utama, hal ini
membuktikan bahwa berprestasi tidaknya suatu pencapaian tujuan pendidikan banyak
tergantung pada proses pembelajaran yang dialami oleh peserta didik. Keaktifan peserta didik
dalam proses pembelajaran akan menyebabkan interaksi yang tinggi antara dosen dengan
mahasiswa. Hal ini akan mengakibatkan suasana kelas menjadi segar dan kondusif, dimana
masing - masing mahasiswa dapat melibatkan kemampuannya semaksimal mungkin.
Aktivitas yang timbul dari mahasiswa akan mengakibatkan pula terbentuknya pengetahuan
dan keterampilan yang akan mengarah pada peningkatan prestasi belajar.

Berdasarkan riset yang dilakukan Jithendra M. Mishra dan Prabhakara Mishra
dalam Timpe (2002:11) menyimpulkan ada lima bidang utama yang tidak boleh
ditinggalkan dalam pengelolaan waktu atau manajemen waktu. Pertama, kesadaran bahwa
sebagain besar waktu yang dihabiskan bersifat kebiasaan; kedua, bahwa penentuan sasaran
pribadi sangat penting bagi manajemen yang benar; ketiga, prioritas harus dikategorikan dan
dikaji; keempat, bahwa komunikasi yang baik dan benar sangat esensial; kelima, bahwa
menangguhkan mungkin merupakan halangan terbesar bagi pengelolaan waktu.
33


JURNAL PENDIDIKAN
INSTITUT KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN (IKIP) PGRI BALI

II. LANDASAN TEORI
2.1 Manajemen Waktu
Manajemen waktu menurut Marion E.Haynes (2210: 5) adalah seperti halnya
manajemen sumber daya lain, mengandalkan analisis dan perencanaan. Guna memahami dan
menerapkan prinsip manajemen waktu, seseorang harus mengetahui bukan hanya
menggunakan waktu, tetapi juga masalah yang dihadapi dalam menggunakannya secara
efektif disertai penyebabnya. Dari uraian di atas maka dapat disimpulkan bahwa manajemen
waktu adalah kemampuan seseorang untuk mengalokasikan waktu yang dimiliki dan sumber
daya (yang terbatas) untuk tujuan yang dikehendaki oleh mahasiswa yaitu prestasi belajar
ekonomi yang memuaskan. Dengan demikian dapat disimpulkan manajemen waktu adalah
kemampuan untuk mengalokasikan waktu dan sumber daya untuk mencapai tujuan,
konsentrasi pengelolaan waktu tetapi lebih cenderung pada bagaimana memanfaatkan waktu,
pengelolaan terhadap waktu dalam proses kegiatan pembelajaran selama 6 hari atau
seminggu untuk menyelesaikan pengwasan terhadap penggunaan waktu dalam usaha
peningkatan keprofesionalan.
2.2 Minat Belajar
Minat adalah bentuk dari motivasi intrinsik. Pengaruh positif minat akan membuat
seseorang tertarik untuk bereksperimen seperti merasakan kesenangan, kegembiraan dan
kesukaan (Hidi dan Derson, Ormrod, 2203). Minat merupakan dorongan dari dalam diri
seseorang yang mampu membuat seseorang ingin merasakan hal-hal yang menyenangkan.
Seseorang yang memiliki minat terhadap apa yang dipelajari lebih dapat mengingatnya dalam
jangka panjang dan menggunakannya kembali sebagai sebuah dasar untuk pembelajaran di
masa yang akan datang (Garner, Ormrod, 2203). Dengan adanya minat, mampu memperkuat
ingatan seseorang terhadap apa yang telah dipelajarinya, sehingga dapat dijadikan sebagai
fondasi seseorang dalam proses pembelajaran di kemudian hari. Berdasarkan beberapa
pengertian tersebut di atas, maka dapat simpulkan bahwa kehadiran adalah suatu
kecenderungan dari dalam diri individu yang menyebabkan individu tersebut mempunyai
sikap, berkeinginan untuk belajar serta ketekunan dan mempunyai dorongan terhadap objek
tertentu tanpa ada yang menyuruh dalam mengikuti pembelajaran, dorongan atau keinginan
yang tinggi dalam hal pemusatan perhatian terhadap kegiatan belajar melalui interaksi dengan
lingkungannya dan akan menimbulkan perubahan perilaku.
2.3 Kehadiran
Kehadiran mahasiswa adalah kehadiran dan keikutsertaan secara fisik dan mental
terhadap aktivitas kampus pada jam-jam efektif di kampus. Menurut Griffin teori kehadiran
34


NOMOR 22 TAHUN XVIII Oktober 2017
ISSN 1907-3232

sosial (Social Presence Theory) ialah kedekatan seseorang dengan orang lain yang
bergantung dari media apa yang digunakan untuk berinteraksi. Semakin tinggi kualitas
interaksi yang didapat dari pemilihan media, maka semakin baik juga kedekatan
interpersonalnya. Kehadiran dan ketidakhadiran mahasiswa di kampus dianggap merupakan
masalah penting dalam pengelolaan mahasiswa di kampus, karena hal ini sangat erat
hubungannya dengan prestasi belajar mahasiswa. Di samping itu, kehadiran dan
ketidakhadiran mahasiswa di kampus merupakan gambaran tentang ketertiban suatu kampus.
Dengan demikian kehadiran adalah pendidikan bukan sekadar penyerapan ilmu pengetahuan,
melainkan lebih jauh membutuhkan keterlibatan aktif secara fisik dan mental dalam
prosesnya, maka kehadiran secara fisik di kampus tetap penting apapun alasannya, dan
bagaimanapun canggihnya teknologi yang dipergunakan.

2.4 Prestasi belajar

Menurut Sumadi Suryabrata (2206: 297), prestasi dapat pula didefinisikan sebagai
berikut : “nilai merupakan perumusan terakhir yang dapat diberikan oleh mahasiswa
mengenai kemajuan/prestasi belajar mahasiswa selama masa tertentu”. Jadi, prestasi adalah
hasil usaha mahasiswa selama masa tertentu melakukan kegiatan. Menurut S. Nasution
(1996: 17) menyatakan bahwa prestasi belajar adalah kesempurnaan yang dicapai seseorang
dalam berfikir, merasa dan berbuat. Prestasi belajar dikatakan sempurna apabila memenuhi
tiga aspek yaitu kognitif, afektif dan psikomotor, sebaliknya dikatakan kurang memuaskan
apabila belum mampu memenuhi target ketiga kategori tersebut.
Dari definisi tersebut dapat disimpulkan bahwa pengertian dari prestasi belajar ialah
hasil usaha, belajar yang menunjukkan ukuran kecakapan yang dicapai dalam bentuk nilai,
tingkat keberhasilan dalam proses pembelajaran, penguasan pengetahuan, kemampuan
kebiasaan, keterampilan, sikap dalam mengikuti proses pembelajaran yang dapat dibuktikan
dengan hasil tes serta evaluasi dan evaluasi dapat memperlihatkan tentang tinggi atau
rendahnya prestasi belajar.

III. METODE PENELITIAN

3.1. Rancangan Penelitian

Penelitian ini termasuk penelitian ex post facto yang berbentuk korelasional.
Termasuk penelitian ex post facto karena variabel bebas dalam penelitian ini tidak dikontrol
secara langsung dan telah terjadi atau telah ada sebelumnya atau karena tidak dapat

35


JURNAL PENDIDIKAN
INSTITUT KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN (IKIP) PGRI BALI

dimanipulasi. Adapun tergolong penelitian korelasional adalah karena penelitian yang
dilakukan bermaksud mengetahui korelasi antara manajemen waktu dengan prestasi belajar,
korelasi minat belajar dengan prestasi belajar, korelasi kehadiran dengan prestasi belajar dan
secara bersama-sama korelasi antara manajemen waktu, minat belajar, dan kehadiran dengan
prestasi belajar mahasiswa seni rupa IKIP PGRI BALI.

3.2 Populasi dan Sampel Penelitian

Dalam penelitian ini digunakan populasi terhingga, yakni seluruh anggota populasi
menjadi subjek penelitian yang berjumlah 22 orang Mahasiswa seni rupa IKIP PGRI BALI.
Dengan perkataan lain bahwa populasi yang berjumlah 22 orang ditetapkan sebagai subjek
penelitian.

3.3 Variabel Penelitian

Dalam penelitian ini akan diteliti empat variabel yaitu 3 variabel bebas dan 1
variabel terikat. Ketiga variabel bebas itu adalah : (1) variabel manajemen waktu, (2) variabel
minat belajar, dan (3) variabel kehadiran. Variabel terikatnya adalah prestasi belajar.

IV. HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN

4.1 Deskripsi Hasil Penelitian
Untuk mendapatkan gambaran mengenai karakteristik distribusi skor dari masing-
masing variabel, berikut disajikan skor tertinggi, skor terendah, harga rerata, simpangan baku
varian median, modus, histogram dan kategori masing-masing variable yang diteliti. Untuk
memudahkan mendiskripsikan masing-masing variable, dibawah ini disajikan rangkuman
statistik deskriptif seperti pada tabel 4.1 di bawah ini.
Tabel 4.1 Rangkuman Statistik dari Variabel analisis manajemen waktu, minat belajar,
kehadiran terhadap prestasi belajar.
x1 x2 x3 y

N Valid 22 22 22 22

Missing 0 0 0 0

Mean 47,82 40,00 44,82 42,77

Median 50,00 39,50 46,00 43,50

36


NOMOR 22 TAHUN XVIII Oktober 2017
ISSN 1907-3232

Mode 50 38 48 39a

Std. Deviation 3,333 5,127 4,102 3,728

Variance 11,108 26,286 16,823 13,898

Range 11 20 13 13

Minimum 39 27 37 36

Maximum 50 47 50 49

Sum 1052 880 986 941

Keterangan:

X1 : Analisis Manajemen waktu

X2 : Minat belajar

X3 : Kehadiran

Y : Prestasi belajar

Uji normalitas sebaran data dengan menggunakan uji Kolmogorov-Smirnov (Lilifors
Significance Correction) yang dikenakan terhadap skor manajemen waktu, minat belajar,
kehadiran, dan prestasi belajar. Dari hasil perhitungan dengan menggunakan program SPSS
22 for Windows diperoleh hasil seperti tampak pada Tabel 4.10 di bawah ini.

Tabel 4.10 Rekapitulasi Hasil Pengujian Normalitas Sebaran Data dengan Uji
Kolmogorov-Smirnov Taraf Signifikansi α=0,05

Tests of Normality

Kolmogorov-Smirnova Shapiro-Wilk

Statisti
c df Sig. Statistic df Sig.

x1 0,335 22 0,000 0,711 22 0,000

37


JURNAL PENDIDIKAN
INSTITUT KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN (IKIP) PGRI BALI

x2 0,130 22 0,200* 0,941 22 0,205

x3 0,159 22 0,155 0,905 22 0,038

Y 0,134 22 0,200* 0,956 22 0,418

Uji Korelasi Parsial Variabel analisis manajemen waktu (X1), Minat belajar (X2), dan
Kehadiran (X3) secara bersama-sama terhadap prestasi belajar (Y).

Korela dk
Koefisien
si thitung Signifikansi. (N-m- Keterangan
Parsial Korelasi
1)

r1 y − 23 0,174 0,750 0,463 22 Signifikan

r2 y −13 0,-301 -1,337 0,198 22 Signifikan

r3 y −12 0,303 1,349 0,194 22 Signifikan

V. Simpulan Dan Saran

5.1 Simpulan

Beberapa temuan yang diperoleh dari penelitian ini adalah sebagai berikut.

1) Terdapat kontribusi yang positif dan signifikan manajemen waktu terhadap prestasi belajar
mahasiswa seni rupa IKIP PGRI BALI melalui persamaan garis regresi Ŷ = 30,250 +
0,262X1dengan Fhitung = 1,160 (p < 0,05). Variabel manajemen waktu memberikan kontribusi
sebesar 5,5% terhadap prestasi belajar mahasiswa seni rupa IKIP PGRI BALI.

2) Terdapat kontribusi yang positif dan signifikan minat belajar terhadap prestasi belajar
mahasiswa seni rupa IKIP PGRI BALI melalui persamaan garis regresi Ŷ = 51,323 +
0,214X2 dengan Fhitung = 1,892 (p < 0,05). Variabel minat belajar memberikan kontibusi
sebesar 8,6% terhadap prestasi belajar mahasiswa seni rupa IKIP PGRI BALI.

3) Terdapat kontribusi yang positif dan signifikan kehadiran terhadap prestasi belajar mahasiswa
seni rupa IKIP PGRI BALI melalui persamaan garis regresi Ŷ = 27,791 + 0,334X3 dengan
Fhitung = 3,128 (p < 0,05). Variabel kehadiran memberikan kontribusi sebesar 13,5% terhadap
prestasi belajar mahasiswa seni rupa IKIP PGRI BALI.

38


NOMOR 22 TAHUN XVIII Oktober 2017
ISSN 1907-3232

4) Terdapat kontribusi yang positif dan signifikan manajemen waktu, minat belajar, dan
kehadiran secara bersama-sama terhadap prestasi belajar mahasiswa seni rupa IKIP PGRI
BALI melalui persamaan garis regresi Ŷ =30,145 + 0,183X1 + 0,203X2 + 0,268X3 dengan
Fhitung = 1,779 dengan kontribusi sebesar 22,9%.

5.2 Implikasi

Mencermati kesimpulan yang dikemukakan, dapat diketahui gambaran nyata bahwa
variabel prediktor yang diteliti baik secara sendiri-sendiri maupun simultan memberikan
kontribusi yang positif dan signifikan terhadap prestasi belajar mahasiswa seni rupa IKIP
PGRI BALI. Untuk itu, upaya peningkatan dan penajaman dampak dari variabel-variabel
prediktor tersebut layak diberikan perhatian dan penekanan serta skala prioritas. Berdasarkan
hasil penelitian dapat dinyatakan bahwa manajemen waktu, minat belajar, dan kehadiran dapat
dimanfaatkan untuk meningkatkan prestasi belajar mahasiswa seni rupa IKIP PGRI BALI. Atas
dasar itu, maka variabel-variabel manajemen waktu, minat belajar, dan kehadiran mesti terus
ditingkatkan dengan berbagai daya dan upaya.

Adapun implikasi dari hasil penelitian ini sebagai berikut :

1. Mencermati hasil penelitian manajemen waktu dapat dijadikan pedoman bagi
pengambil kebijakan dalam meningkatkan prestasi akademik dengan cara meningkatkan
sumber daya manusia.
2. Meningkatkan minat belajar mahasiswa lebih ditekankan pada pengalaman berupa
wawasan keilmuan sesuai dengan perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi,
sehingga dosen dapat menyelaraskan antara kurikulum dan realitas di lapangan.
3. Kehadiran berpengaruh positif terhadap kesuksesan yang ditandai dengan sikap
disiplin, rasa ingin selalu berbenah diri, dan rasa tanggung jawab terhadap tugas-tugas yang
diberikan dosen.

5.3 Saran

Penelitian ini menemukan bahwa variabel manajemen waktu, minat belajar, dan kehadiran
berkontribusi positif dan signifikan terhadap prestasi belajar. Artinya, ketiga variabel bebas
tersebut dapat memprediksi keberhasilan prestasi belajar mahasiswa seni rupa IKIP PGRI
BALI. Untuk itu, dapat disarankan beberapa hal antara lain :

39


JURNAL PENDIDIKAN
INSTITUT KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN (IKIP) PGRI BALI

(1) Bagi mahasiswa
Agar selalu meningkatkan diri melaksanakan perkuliahan dengan bersungguh-sungsuh,
meningkatkan disiplin dalam perkuliahan, mengikuti perkuliahan dengan minat belajar yang
didorong dengan keinginan untuk meningkatkan pengetahuan agar nantinya berguna dan
mampu bersaing dalam dunia kerja serta lebih meningkatkan kehadiran dalam proses
perkuliahan sebagai cerminan sikap disiplin dan taat dalam peraturan yang berlaku.

(2) Bagi Dosen
Sebagai informasi dan referensi diri untuk selalu berupaya meningkatkan mutu di
bidang pendidikan, meningkatkan keberhasilan dalam proses pembelajaran yang sejalan
dengan peningkatan kompetensi profesional dosen.

(3) Praktisi

Menambah pengetahuan dan pengalaman peneliti dalam pengembangan ilmu
manajemen waktu, minat belajar, kehadiran terkait dengan peningkatan prestasi belajar
mahasiswa seni rupa IKIP PGRI BALI.

40

NOMOR 22 TAHUN XVIII Oktober 2017
ISSN 1907-3232
DAFTAR PUSTAKA

Abdul Jawwad, M. Ahmad. 2006a. Manajemen Waktu. (terjemahan Khozin Abu Faqih).
Bandung: Syaamil Cipta Media.
Aqib, Zainal. 2002. Profesional Guru Dalam Pembelajaran. Surabaya : Cendekia.
Arinkunto, Suharsimi. 2006. Prosedur Penelitian: Suatu Pendekatan Praktek, Jakarta: PT. Rineka
Cipta.
Brian Tracy. 2006. Manajer Sukses.Jakarta: Pustaka Delapratasa.
Bruce W. Tuckman. 1978. Conducting Educational Research, second edition.San Diego:
Harcoun Brace Jovanovich, Publishers.
Cronin, Joseph dan Steven A. Taylor. 1994. Servery Versus Serqual: Journal of management.
Nomor edisi x.
Dedi Supriadi. 2006. Satuan Biaya Pendidikan Dasar dan Menengah. Bandung: Rosda.
Direktorat Tenaga Kependidikan. 2005. Standar Kompetensi Dosen.Jakarta: BP Cipta Jaya.
Gafni, R., & Geri, N. 2010. Time management; Procrastination tendency in individual and
collaborative tasks.
Hasibuan, Malayu S.P. 1996. Manajemen Dasar, Pengertian dan Masalah. Jakarta: Raja Grafindo
Persada.
Idris, Zahara. 1981. Dasar-dasar Kependidikan. Padang: Angkasa Raya.
Milles MB dan AM Huberman. 1992. Analisis Data Kuantitatif. Jakarta : Universitas
Indonesia.
Mulyana, Imam. 2007. Manajemen Waktu, http://id. Shvoong. Com/books/ Manajemen. Sun, 26
Agustus 2007
Raka Joni T.. 1981. Wawasan kependidikan Jakarta: Depdikbud.
Sugiyono, Metode Penelitian Kuantitatif Kualitatif Dan R&D, (Bandung: Alfabeta, 2008), Deni
Darmawan, Metode Penelitian Kuantitatif, (Bandung: Remaja Rosdakarya Offest, 013)
Suharsimi Arikunto, Manajemen penelitian, (Jakarta: Rineka Cipta, 2010)
Suhartini dan Romy Gustiansyah, Analisis Motivasi Kehadiran Mahasiswa Fakultas Ekonomi
Universitas Islam Indoneisa (Pendekatan Teori Pengharapan)
Sadili Samsudin.2006. Manajemen Sumber Daya Manusia. Bandung: CV Pustaka
Sugiyono. 2009. Metode Penelitian Pendidikan Pendekatan kuantitatif, Kualitatif,
dan R & D. Bandung: CV Alpfabeta.
Sutopo, H.B. 2002. Memahami Penelitian Kualitatif. Surakarta: Sebelas Maret

41
JURNAL PENDIDIKAN
INSTITUT KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN (IKIP) PGRI BALI

University Press.
Syaiful Sagala. 2002. Administrasi Pendidikan Kontemporer. Bandung : CV
Alfabeta.
Toni Bush dan Marianne Coleman. 2006, Manajemen Strategis Kepemimpinan
Pendidikan (terjemahan). Gowok Yogyakarta: IRCiSoD.
Ferrari, R. J., & Mc Cown, W. 1994. Procrastination tendencies among obsessive-compulsives
and their relatives. Journal of clinical psychology, 50, 2, 162-167.
Gafni, R., & Geri, N. 2010.Time management; Procrastination tendency in individual and
collaborative tasks.
Kirana, A. 2008. Hubungan antara Efikasi Diri dan Dukungan Sosial dengan Prestasi Akademik
Mahasiswa Fakultas Psikologi Universitas Muhammadiyah Surakarta.
Slameto. 2003. Belajar dan Faktor-faktor yang Mempengaruhinya. Jakarta: Bina Aksara. Tu’us,
T.2004. Peran Disiplin Pada Perilaku dan Prestasi Siswa. Jakarta: Grasindo.
Winkel, W.S. 2006. Psikologi Pendidikan dan Evaluasi Belajar. Jakarta: Gramedia
Macan, 1990. Time Manajemen: Test of proses Model. American Journal of Health Studies;
2000; 16, 1; ProQuest Research Librarypg.
Rahardi.N 2009. Manajemen Waktu untuk Mahasiswa. http://www.topcities.com Diakses pada
tanggal 28 mei 2012.

42

NOMOR 22 TAHUN XVIII Oktober 2017
ISSN 1907-3232

KEBERTAHANAN STRUKTUR DAN RAGAM GERAK TARI PENDET SEBAGAI
SENI PERTUNJUKAN DI DESA PELIATAN UBUD GIANYAR

Luh Putu Pancawati

ABSTRACT
The island of art is an area as well as a culture that has a diverse range of religious
performing arts where each region has a different custom from the context of its presentation.
The dance is a cultural richness of the nation sourced from the root of the right tradition that
raises the love of the nation's artistic arts, especially the art of dance until now still interesting
in The eyes of the world and is a tourist destination with exsotis Balinese dance movements
are hereditary and then transformed into every generation of his era. Khasanah or the ins and
outs of dance is actually very important for artists and dance artists who are involved in the
life of dance art in general, Dance art requires the support or presence of other art such as
sound art (vocals, instrumental). Literary art, art painting carving and so on.
In ancient times it seemed that the relationship of dance with nature and the
surrounding creatures was done sincerely to gain certain powers for example many dances
using the taking motion of nature such as dance pendet peliatan also took the movement from
nature they believed by dancing eventually their mutual will will be achieved in terms of
rhythmic movements, Expect the rain to fall from the sky they are happy to dance-a kind of
emotional spark, from dancing themselves into groups, in pairs and then further on and
finally there is a dance of entertainment after they live peacefully, as a spirited spiritual meal
to meet the needs of birth dance performances, Function, dance as entertainment, from
various performing arts that we studied the Pendet dance in Ubud peliatan village which is
still maintained both the range of motion and srtukturnya because this Pendet dance has two
functions there are dance pendet as a guardian dance and there as se Ni performances will
come dance where we studied is a dance pendet as a performance art that outlines the
meaning of dance pendet according Maestro I Gusti Raka Rasmi and mother Ni Wayan Roti
former senior dancer dance pendet as dance performances, fashion and makeup pendet dance,
The function of dance Pendet creation of wayan rindi, 1950, economic function, cultural
preservation function, communication function, range of motion, goal insight, theoretical
base, type and source of last data conclusions and suggestions.

Keywords: Pendet Dance, Structural Defense and Motion Variety

PENDAHULUAN
Latar Belakang
Bali yang sering dijuluki sebagai pulau kesenian adalah satu daerah sekaligus wilayah
budaya yang memiliki beraneka ragam warisan seni pertunjukan keberagamaan seni
pertunjukan Bali ,yang dijiwai oleh prinsip desa nawa cara dimana setiap wilayah memiliki
kebiasaan berbeda ,terlihat bukan saja dari wujud fisik dan kandungan estetisnya melainkan
juga dari konteks penyajianya .Tari merupakan salah satu kekayaan budaya bangsa

43


JURNAL PENDIDIKAN
INSTITUT KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN (IKIP) PGRI BALI

bersumber pada akar tradisi yang dapat menimbulkan sikap dasar terhadap penanaman nilai
dan norma-norma akan kecintaan seni budaya bangsa .Kesenian bali khususnya seni tari
hingga kini masih tetap menarik di mata dunia .Sementara itu di Bali sendiri seni tari masih
tetap dipentaskan sesuai dengan fungsinya baik sebagai tari wali ,tari bebali, maupun tari
balih balihan . Bali sebagai daerah tujuan wisata dengan exsotis gerak tari Bali yang
merupakan satu seni budaya yang turun temurun (tradisi ),yang harus ditransformasikan ke
setiap generasi di jamanya dengan memotifasi diri untuk lebih disiplin dan serius lagi
mempelajarinya tanpa menghilangkan akar tradisi yang ada sehingga tidak sampai pemilik
kebudayaan sendiri belajar jauh ke luar negeri .
Tari merupakan bahan studi tahap permulaan untuk memperoleh pengetahuan dasar
tentang khazanah kehidupan seni tari.Khasanah ataupun seluk beluk mengenai seni tari
sebenarnya sangat penting bagi para seniman dan seniwati tari atau seniman dan seni wati
lainya dan bagi mereka yang terlibat dalam kehidupan seni tari pada umumnya .Di satu pihak
seni tari membutuhkan dukungana atau kehadiran seni yang lain seperti seni suara
(vocal,instrumental ),seni sastra ,seni lukis ,seni ukir dan sebagainya .Dilain pihak ada pula
kesenian yang membutuhkan kehadiran seni tari itu sendiri ,mengingat fungsi tari di
masyarakat Indonesia masih dianggap penting ,maka sudah pada waktunya hal itu
dibicarakan melalui program –program kegiatan tertentu .Di jaman dahulu Nampak
hubungan tari dengan alam dan makhluk sekitarnya dilakukan dengan sunguh-sungguh untuk
mendapatkan kekuatan tertentu contohnya banyak tarian mengunakan gerakan mengambil
dari alam contoh : kijang rebut muring,sayar soyor dan nuduk bungan tunjung .Pada
masyarakat jaman dahulu tari sebagai sarana atau media untuk mencapai suatu kebutuhan
mereka sangat percaya dengan menari akhirnya kemauan mereka bersama akan tercapai
dalam hal gerakan yang ritmis ,mengharapkan hujan turun dari langit untuk kesuburan tanah
dan tanaman mereka dengan panen yang bagus mereka bergembira ria menari nari-nari
sebagai cetusan emosi ,dari menari sendiri menjadi berkelompok ,berpasangan,kemudian
berkembang lebih lanjut dan akhirnya ada yang menjadi tari hiburan (sosial dance) setelah
mereka hidup tentram terasa pula kekurangan factor kelengkapan hiburan sebagai santapan
rohani di kala senggang .Untuk memenuhi kebutuhan ini lahirlah tari pertunjukan dengan
kaidah –kaidah yang sangat bersahaja.sehingga lahirlah factor –faktor tari menurut fungsinya
yaitu ;tari sebagai upacara ,,hiburan dan tari sebagai pertunjukan .dari berbagai seni
pertunjukan yang kami teliti yaitu tari Pendet sebagai seni pertunjukan masih dipertahankan
struktur dan ragam geraknya di desa Peliatan Ubud - Gianyar oleh sebab peneliti sangat

44


NOMOR 22 TAHUN XVIII Oktober 2017
ISSN 1907-3232

tertarik karenat tari pendet didesa peliatan memang ada beberapa perbedaan dengan tari
pendet yang lainya baik itu dari segi gerakanya dan juga penataan kostumnya

WAWASAN TUJUAN PENELITIAN
Tujuan penelitian ini yang dipaparkan ada dua yaitu : tujuan umum dan tujuan khusus.
1.Tujuan umum penelitian ini adalah untuk mengetahui hakikat dari pertunjukan tari
pendet yang dipentaskan baik itu dalam upacara maupun dalam tari penyambutan yang
merupakan salah satu budaya bali yang sampai saat ini masih eksis dipertunjukan ,sehingga
dapat diketahui nilai yang terkandung di dalamnya dan dapat dijadikan cerminan dan
pedoman bagi masyarakat Hindu .
2.Tujuan khusus penelitian ini berusaha untuk dapat menjawab permasalahan –
permasalahan yang dimunculkan pada penelitian ini dan untuk mengetahui sejauh mana seni
pertunjukan tari pendet di desa peliatan –ubud –Gianyar .

LANDASAN TEORI
1.Teori Estetika ,estetika adalah suatu ilmu yang mempelajari segala sesuatu yang
berkaitan dengan keindahan .pengertian keindahan dianggap mempunyai arti sama dengan
nilai estetika ,tetapi memiliki penerapan yang agak berbeda kalau dahulu dianggap sesuatu
indah itu karena memiliki cirri-ciri keindahan tertentu sehingga mendapat predikat indah
misalnya dari segi bentuknya ,warnanya dalam arti nilai estetika ,sesuatu disebut indah
karena menyangkut ukuran-ukuran nillai tertentu ,keindahan dari suatu karya buatan manusia
dapat memberikan rasa kesenangan dan kepuasan dengan penikmatnya .dalam hal ini tari
pendet peliatan sebuah tarian yang mempunyai nilai estetika apabila gerakan –gerakan dalam
tarian itu mengandung unsure-unsur ekpresi dari senimanya dan bermakna bagi
pengamatnya.
2.Teori Fungsional struktural ,menurut teori ini masyarakat merupakan suatu sistem
sosial yang terdiri dari atas bagian –bagian atau elemen yang saling terkait dan saling
menyatu dalam keseimbangan .Teori Fungsional Struktur pada dasarnya menekankan pada
keteraturan dimana konsep utamanya adalah fungsi akibat-akibat yang dapat diamati yang
menuju adaptasi atau penyesuaian dalam suatu system ,disfungsi adalah suatu akibat-akibat
yang tidak dapat berfungsi secara normal atau akibat yang bersifat negative ,fungsi yang tidak
diharapkan ,fungsi manifest adalah fungsi yang diharapkan ,keseimbangan adalah suatu

45


JURNAL PENDIDIKAN
INSTITUT KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN (IKIP) PGRI BALI

keadaan yang berimbang dalam menyelesaikan suatu masalah ,Sebaliknya jika tidak
fungsional maka struktur itu tidak aka nada atau akan hilang dengan sendirinya.

JENIS DAN SUMBER DATA
1.Jenis data
Jenis data dalam penelitian ini adalah data kualitatif karena datanya berupa kata-kata
,kalimat yang dideskripsikan ,Data merupakan bagian terpenting dari setiap kegiatan
penelitian ,dalam kegiatan kualitatif ,seorang peneliti harus mampu mengimplementasikan
semua bagian yang bisa dipercaya dari informasi yang diketahui serta tidak akan
menimbulkan kontrksi dengan interpretasi yang disajikan dalam penelitian ini ada data
tambahan seperti dokume-dokumen, tulisan foto dan sebagainya
2.Sumber Data sumber
Data dapat dibagi menjadi dua bagian yaitu data primer dan data sekunder .data
primer adalah data yang diperoleh dari informasi ,dsn data hasil observasi langsung di
lapangan .Data penelitian ini yang akan diangkat nilai-nilai pendidikan dalam agama hindu
dalam pertunjukan tari pendet ,sedangkan data sekunder adalah data yang diperoleh dari
dokumen-dokumen,tulisan ,laporan hasil penelitian dan juga dari buku-buku tentang obyek
penelitian.Perolehan data bersumber dari masyarakat desa peliatan secara langsung dan dari
bahan-bahan dokumen yang didapatkan dari perpustakaan ,berkaitan dengan sumber data
,yang diperoleh secara langsung dari masyarakat baik yang dilakukan melalui wawancara
,observasi merupakan data primer .selanjutnya data yang diperoleh dari bahan-bahan
kepustakaan disebut data sekunder

PEMBAHASAN
1. Pengertian Tari Pendet
Pendet atau memendet adalah tari upacara yang dilakukan oleh sejumlah penari yang
membawa sesaji untuk menyongsong atau menyambut turunya para dewa dari khayangan
.Pada tahun 1950, I wayan Rindi menciptakan tari pendet “Puja Astuti “ yang dapat
dipentaskan untuk mengawali suatu pertunjukan atau menyambut kedatangan para tamu .Tari
pendet memiliki pola-pola gerak yang lebih dinamis dari pada tari Rejang dan dibawakan
oleh penari wanita, baik secara berkelompok atau berpasangan .Di beberapa tempat tari
pendet ditampilkan setelah tari Rejang dengan mengambil tempat di halaman pura .Para
penari mengenakan pakaian upacara ,masing –masing membawa sangku ,kendi cawan ,dan
perlengkapan sesajen lainnya .Tarian ini biasanya dilakukan di halaman pura menghadap ke
46


NOMOR 22 TAHUN XVIII Oktober 2017
ISSN 1907-3232

tempat suci (pelinggih ).Tari upacara sejenis yang juga dibawakan oleh penari wanita ,baik
berpasangan atau berkelompok ,adalah tari gabor
Penuturan Maestro I Gusti Raka Rasmi yang masih mengajar anak anak di desa
peliatan tari pendet dan Ibu Ni Wayan Roti adalah seorang mantan penari senior dari banjar
kalah tahun 1960 an sudah lama aktif ngayah menari memendet dalam setiap odalan di pura
dalem peliatan bahkan sampai sekarang tetap menari ,menuturkan gerakan dalam tari pendet
peliatan ini sederhana pelan dan halus tapi ada saatnya lebih keras sehingga membuat
menjadi lebih terbuka untuk bisa ditarikan oleh siapapun meskipun gerakanya sederhana akan
tetapi hitungan yang sulit .Sudah kebiasaan menari dengan irama dan temponya tetapi dalam
pependetan ini gerakanya di mulai setelah suara kajar hingga membuat selalu bergerak
mendahului kalau masyarakat yang tidak punya dasar menari memang sulit terutama pada
posisi agem (dasar pokok tubuh tari bali harus posisi badan cengked keras sehingga
membentuk lekukan tubuh yang indah . Bentuk tari pendet peliatan biasanya dipertunjukan
oleh empat atau enam orang penari tetapi sekarang jaman sudah semakin maju bisa lebih dari
sepuluh dan ditampilkan di depan pura jabe tengah dan ini hanya sebagai tari pertunjukan
untuk ditontonkan karna ini bukan tari sakral tetapi memang mempunyai cirri-ciri yang
berbeda dari tari pendet di daerah lain dengan memiliki struktur dan susunan yang masih
tetap dipertahankan seperti adanya pepeson, pengawak, pengecet dan pekaad ,bahkan tari
pendet peliatan sudah sejak lama melanglang buana keeropah dan sering dipentaskan untuk
pariwisata sampai sekarang. Adapun bentuk tari pendet peliatan masih klasik sama seperti
dahulu hingga sekarang kebetulan penari yang dituakan masih hidup jadi mereka masih
mempertahankan struktur dan ragam geraknya dan hamper dipentaskan dua atau tiga kali
dalam seminggu untuk pariwisata dan setiap odalan di pura dalem gede juga dipentaskan
sebagai seni pertunjukan bersama sekaha gong gumita sari peliatan
2.Tari Pendet Sebagai Tari Pertunjukan
Sesuai dengan fungsinya tari pendet untuk pertunjukan di bali khususnya di peliatan
harus juga memperhatikan kaidah –kaidah seni pertunjukan .Faktor penonton disini tidak
boleh dilupakan di samping di lain pihak memuaskan yang mempertunjukan .tarian pendet ini
sering dipentaskan pada panggung terbuka atau tertutup ,panggung modern ataupun
panggung tradisional .jika ditinjau dari sejarah perkembangan tari pendet ini mengalami
perkembangan yang sama dengan daerah-daerah lainya di Indonesia khususnya di Bali ,yakni
beberapa tari-tarian upacara dan tari hiburan berubah fungsi menjadi tari pertunjukan .
3.Busana Dan Tata Rias Tari Pendet Peliatan

47


JURNAL PENDIDIKAN
INSTITUT KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN (IKIP) PGRI BALI

Kalau busananya menggunakan kemben dan atasnya tapih menggunakan sabuk prade
dan selibah melilit di badan sedangkan tatariasnya sama seperti tatarias putri dengan hiasan
bunga mitasi sandat dan jempaka, bunga jepun dan mawarmerah menggunakan antol atau
rambut panjang .Iringan musiknya tari pendet bukan hanya sekedar iringan tetapi merupakan
parner tari yang tidak boleh ditinggalkan ,sehingga harus betul-betul digarap agar tercapai
keharmonisan dimana menggunakan iringan dengan seperangkat gambelan gong kemyar .
4.Musik Iringan Tari Pendet Peliatan
Biasanya diiringi oleh seperangkat alat gambelan Bali yaitu Gong Kebyar, iringan tari
pendet tidak terpancing dengan jenis gong itu saja ,akan tetapi bisa diiringi dengan jenis
gambelan angklung dan jenis gambelan yang lainya,lamanya waktu sangat berpengaruh pada
lamanya iringan musik ,Waktu yang digunakan dalam sajian tari pendet adalah kurang
lebihnya sepuluh menit dari awal mulainya tari pendet sampai dengan berakhirnya .Waktu
yang berkaitan dengan tempo (cepat dan lambat ) dibuat bervariasi ,artinya tempo iringan
disesuaikan dengan tempo cepat ,Tempo lambat terdapat pada gerak agem kanan ,agem kiri
dan pada saat duduk yang diikuti dengan gerak tabor bunga ,Tempo sedang terwujud pada
gerak ngumbang ditempat diikuti perubahan arah adap ,tempo cepat dapat terlihat pada gerak
ngumbang memutar ,nyeregseg memutar dan gerak tabur bunga maju mundur .
5. Fungsi Tari Pendet Tari Pendet Ciptaan I Wayan Rindi Th 1950
sebagai tontonan telah merebut hati masyarakat pada jamanya itu amat popular di Bali
sebagai tari tontonan (balih-balihan) Dari jaman jepang hingga tahun 1960 dimana ciptaanya
biasa dipentaskan untuk tontonan dan hiburan, fungsi tari sebagai tontonan yang
dipentingkan disini adalah keindahan bentuk tari dan nilai seninya .
6.Fungsi Ekonomi
Sebagai hasil ciptaan yang berbobot dan diterima di segala zaman ,sang pencipta terus
hingga kini.Hal itu akan memberikan arti ekonomi bagi pekarya seni yang terlibat di
dalamnya .seperti para pelatih tari ,para penari kursus –kursus tari kerajinan membuat
pakaian tari dan sebagainya kesemuanya dapat meningkatkan kesejahteraan .seperti tari
pendet peliatan hampir setiap minggu dua atau tiga kali pentas untuk pariwisata ini
menunjukan perekonomian sudah maju
7.Fungsi Pelestarian Budaya
Sekalipun mengandung pembaharuan pola-pola gerak baru sebagai kreativitas ,tetapi
sumber pokoknya adalah digali dari nilai-nilai tradisi yang telah ada dengan sendirinya ikut
melestarikan seni budaya Bali .Hal ini sesuai dengan kreativitas yang merupakkan suatu
usaha memelihara kehidupan budaya .
48


NOMOR 22 TAHUN XVIII Oktober 2017
ISSN 1907-3232

8.Fungsi komunikasi dan diplomasi kebudayaan
Para penari pemeran pendet peliatan telah dikirim pemerintah atau pribadi ke berbagai
Negara seperti Eropa, Jepang, India dan lain sebagainya sebagai duta seni dalam
mengakrabkan hubungan antar Negara dan diplomasi sehingga menarik perhatian wisatawan
untuk mengunjungi Bali dengan budayanya yang unik
9.Ragam Gerak Tari Pendet Peliatan
Pepeson :
a. Baru keluar mengunakan gerakan ngumbang saling tukar menukar .ngasel,ngeseh
piles kanan agem kanan.
b. Agem kanan (yang di kanan) agem kiri ( yang dikiri),naik turun seledet, aguk, tutup
kaki kanan ileg-ileg kekiri,ke kanan ngeseh kanan ngeseh kiri piles kanan
c. Ngotag ,luk nerudut tayung kaki kiri ,nyeregseg kanan kiri masuk barisan menjadi
satu sambil nyeledet.
d. Ngeseh kanan jalan yang di kiri ke kiri yang di kanan ke kanan nyalud kanan ngembat
kanan
Pengawak :
a) Ngeseh kedua pala,tangan kiri ditekuk diikuti badan gerakan patah patah ,lirik tangan
kiri gerakan seperti nyidi ,nyalud kiri tayung kanan ,nyeregseg ke kiri ke kanan
,nyalud kanan,ngembat kiri.
b) Gerakan sama cumin nyalud kanan nyeregseg kanan kekananke kiri ,nyalud kiri
ngembat kiri pengawak ke dua
c) Ngeseh kedua pala ,tangan kiri ditekuk diikuti badan gerakan patah patah ,lirik tangan
kiri gerakan seperti nyidi , nyalud ,kiri tayung kanan ,nyeregseg ke kiri ke kanan
,nyalud kanan ngembat kiri .(pengawak ke tiga )
d) Gerakan samping kiri sambil jongkok diikuti tangan kiri ,gerakan samping kanan
sambil jongkok diikuti tangan tangan kanan dilakukan tiga kali kemudian nyeleyong
tiga kali .ngunde sambil nyeregseg mata nelik kekanan kekiri ngeseh piles kanan
peralihan
Pengecet :
a. Gerakan ngegol berlawan arah dengan yang dikiri sambil kebelakang kedepan bolak
balik kemudian bertemu mearas arasan ,noleh tangan kiri mengikuti gambelan
,nyeleyog kanan,kiri .meipok ipok lagi

49


JURNAL PENDIDIKAN
INSTITUT KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN (IKIP) PGRI BALI

b. Gerakan ngeteb kaki kanan ,langsung jalan 2 kali saling tukar tempat,kemudian
kakikiri diangkat sambil miles berbaris sejajar kemudian tabur bunga di lakukan dua
kali.
c. Kemudian melakukan gerakan berputar ke blakang dua kali dan membentuk huruf V
setelah itu lakukan gerakan pengecet lagi kemudian sama seperti diatas cuman waktu
gerakan saling tukar penari menuju ke belakang kemudianngeseh kebelakang putar
kedepan dorong kanan ,dorong kiri nyakup bawa.
Pakaad :Gerakan nyakup bawa

SIMPULAN DAN SARAN
Simpulan :
Berdasarkan uraian diatas tentang tari pendet sebagai seni pertunjukan sebagai tari pengiring
upacara bukan tari sakral dapat diambil kesimpulan sebagai berikut :
1. Tari pendet peliatan merupakan tari yang dibawakan oleh muda mudi yang penting
berkeinginan tetapi dengan perkembangan jaman sekarang banyak ibu-ibu PKK yang
berpartisipasi ikut serta
2. Tari pendet peliatan yang diteliti didesa peliatan merupakan seni bali-balihan meliputi
jenis-jenis kesenian yang lebih menonjolkan nilai-nilai entertainment dan estetis yang
pertunjukannya lebih bersifat dan bersuasana sekuler,kesenian ini dapat dipentaskan
kapan dan dimana saja tanpa ada batas waktu yang mengikat.
3. Tari pendet peliatan berfungsi sebagai media pendidikan nonformal ,karena dengan
pertunjukan masyarakat sangat senang melihat gemulainya para penari apalagi tamu
manca Negara menonton yang senyum penari penuh memikau para tamu dan penuh
arti akan menyebabkan para tamu asing terpesona melihatnya
4. Tari pendet peliatan bertungsi sebagai tari pembukaan (welcome dance) yang
memupuk bakat seni merupakan seni pertunjukan yang memiliki keindahan
,bentuknya masih klasik sama seperti dahulu sampai sekarang kebetulan penari
pertamanya masih hidup jadi mereka masih mempertahankan struktur dan ragam
geraknya dan itupun hampir dipentaskansetiap dua atau tiga kali dalam seminggu di
Puri Agung Gunung Sari Peliatan .
SARAN :
1. Diharapkan tari pendet tetap dijaga keberadaanya di tengah-tengah masyarakat tapi
masih terbuka untuk mengupayakan untuk pelestarianya

50


NOMOR 22 TAHUN XVIII Oktober 2017
ISSN 1907-3232

2. Diharapkan dapat disosialisasikan pada seluruh masyarakat Bali khususnya bagi
lembaga pemerintahan yang mempunyai kewenangan dalam bidang kebudayaan
sehingga dapat dijadikan informasi keberikutnya.
3. Diharapkan masyarakat desa peliatan terutama para seniman tetap berkreatif
menuangkan profesinya kepada generasi penerusnya supaya tidak generasi penerus
tidak terhanyut dengan pengaruh-pengaruh globalisasi.
4. Diharapkan tari pendet tetap bisa memberikan kesejahtraan masyarakat desa peliatan
tentunya tidak lepas dari pakem –pakem yang sudah ada .

DAFTAR PUSTAKA

Arini,AA Ayu Kusuma .2006.Tari Legong Kraton Peliatan.Tari Kekebyaran ciptaan I
Nyoman Kaler

Arini,NI Ketut.2012.Teknik Tari Bali.Denpasar.

Bandem,I Made.1992. Sakral Dan Sekurel Tari Bali Dalam Transisinya .Denpasar:STSI
Denpasar

Bandem,I Made dan Fredrik Eugene deBoer.Kaja dan Kelod Tarian Bali dalam Transisi.

Bandem.I Made .1989 .Ensklopedi Tari Bali.

Baryl de Zoete and Walter Spies.2002.Dance &Drama In Bali: Singapore

Dibia ,I wayan dalamSeminar tari 29 April 2015.

Dibia,I wayan .2009.Taksu Dalam Seni Dan Kehidupan Bali.

Djelantik ,A.A.M.1999.Estetika Sebuah Pengantar .Bandung : Masyarakata Seni
Pertunjukan Bandung .

Djayus ,Nyoman.Maret 1976.Teori-Teori Bali

51


JURNAL PENDIDIKAN
INSTITUT KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN (IKIP) PGRI BALI

Hardi Nawawi.1993.Metode Penelitian Bidang Sosial .Yogyakarta:Universitas Gaja Mada

Koentjaraningrat.1987.Manusia dan kebudayaan di Indonesia .Jakarta: Djambatan.

Kamus Besar Bahasa Indonesia Pusat bahasa Edisi Keempat.2008.Departemen
Pendidikan Nasional ,Penerbit PT Gramedia Pusaka Utama ,Jakarta.
Ritzer George ,2003.Sosiologi Ilmu Pengetahuan Berparadigma Ganda,Jakarta : PT Raja
Grafinda Persada.

Soedarsono,1977.Estetika Sebuah Pengantar Bagi studi Tari.Yogyakarta:Akedemi Seni Tari
Indonesia.

Widi,Restu Kartiko.2010.Asas MetodelogiPenelitian Langkah Demi Langkah Pelaksanaan
Penelitian.

Endraswara,s. 2003.Metodologi Penelitian Kebuda Mada universitas Press Tari Indonesia.

Widi,Restu Kartiko.2010.Asas MetodelogiPenelitian Langkah Demi Langkah Pelaksanaan
Penelitian.

Endraswara,s. 2003.Metodologi Penelitian Kebuda Mada universitaS Press

52


NOMOR 22 TAHUN XVIII Oktober 2017
ISSN 1907-3232

LONTAR:
ASET BUDAYA BALI DAN SAKRAL-RELIGIUS

Oleh:
Anak Agung Gde Alit Geria

ABSTRACT
In Bali, the tradition of writing on the rontal has been going on since the past.
Thousands of lontar are inherited in Bali, written on a leaf (palm) leaf with a very simple
maintenance system before getting a touch of philology and codicology. in the past rontal is
very much appreciated by the Rakawi as a means of pouring sacred advices, in the form of
the teaching of manners and life alive. A number of lontar mentions the term tal (rontal) as a
powerful and durable writing material. Lontar tradition in Bali is supported by sufficient raw
materials available, to the tradition of writing lontar and lontar reading activities.
Lontar is more viewed as a sacred, archaic, and sacred-religious. Cultivating the world of
papyrus, must have adequate moral-spiritual and religious knowledge and consecrated
inwardly. In general, Balinese society has seen oral tradition in pervading lontar content. The
new tradition is not only used in copying to new lontar, but there is a dynamic creativity that
is arc-artistic. The existence of the Bali Simbar program has brought a new era to the
development of the lontar culture in the direction of new traditions, without neglecting the
longstanding tradition of the noble.

Keywords: lontar, sacred-religious, and Balinese cultural assets.
PENDAHULUAN
Di Bali, tradisi tulis menulis di atas rontal sesungguhnya telah berlangsung sejak
zaman silam. Sebagai sarana tulis-menulis, rontal telah terbukti kekuatannya hingga ratusan
tahun, yang cenderung berkonotasi arkais atau sakral-religius. Ribuan manuscript (baca:
lontar) yang tersimpan di Bali adalah ditulis di atas daun tal (rontal) dengan sistem
pemeliharaan yang sangat sederhana sebelum mendapat sentuhan teori filologi dan
kodikologi. Dengan sifat dan kekuatan rontal, tidak mengherankan rontal (material-palm)
sangat diindahkan oleh para rakawi (pujangga) sebagai sarana untuk menuangkan segala
petuah-petuah suci, berupa ajaran budi pekerti dan sebagainya. Rontal juga digunakan
sebagai bahan tulis yang bersifat ritual lainnya, seperti bahan tulis untuk bekel ari-ari dan
pretiti.

Dalam perspektif budaya dan masyarakat Bali sastra (baca: lontar) lebih dipandang
sebagai suatu yang suci, arkais, dan sakral-religius. Dengan kata lain, seorang yang akan
menggeluti dunia lontar, dituntut memiliki pengetahuan moral-spritual dan religius yang
memadai serta harus disucikan (diinisiasi) secara lahir batin. Setidaknya diupacarai
pawintenan alit (tingkat upacara ritual/penyucian yang paling sederhana). Di samping itu,
53


JURNAL PENDIDIKAN
INSTITUT KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN (IKIP) PGRI BALI

seseorang yang telah mendalami lontar seyogyanya mampu mengendalikan diri, terutama
dalam hal brata dengan sejumlah pantangan yang ada di dalamnya, baik itu berupa makanan,
minuman, dan hal-hal lain yang terkait, sehingga tan kacakra de Hyang Saraswati.

Pentingnya upacara (pawintenan) ini dilaksanakan karena dalam konsepsi masyarakat
Bali memandang aksara Bali (termasuk aneka tipografi yang dikenal) merupakan wahana
Dewi Saraswati, yakni perwujudan Ida Sang Hyang Widhi Wasa (Tuhan Yang Maha Esa)
dalam manifestasi dan fungsi-Nya sebagai Dewi Ilmu Pengetahuan. Hal ini terbukti, ketika
Hari Raya Saraswati yang datangnya setiap 210 hari, yakni pada Saniscara (Sabtu) Umanis
Watugunung, diselenggarakan upacara khusus sebagai rasa sujud dan bakti kepada-Nya atas
rahmat yang dilimpahkan berupa pengetahuan suci, yang pada hakikatnya menuntun umatnya
ke jalan yang benar, penuh kedamaian.

Lontar sarat akan pelbagai isi dan ajaran yang adiluhung. Hampir setiap aspek
kehidupan keseharian tercermin di dalamnya. Karenya, tidak mengherankan hingga kini
lontar sangat berfungsi dalam masyarakat Bali. Hal ini terbukti dalam pelaksanaan upacara
yadnya di Bali. Hampir setiap upacara (piodalan) di Pura seluruh Bali terdapat kegiatan
pembacaan kakawin, kidung, dan terkadang geguritan, yang semuanya bersumber pada
lontar. Lebih konkret lagi terlihat pada upacara Pitra Yadnya (terutama upacara Asti
Wedana), lontar Adiparwa bagian cerita Jaratkaru, wajib dibacakan yang disebut mamutru.
Juga dalam pelaksanaan upacara dan kegiatan lainnya, peran lontar dalam segala bentuknya
sangat fungsional bagi masyarakat Bali. Bagi tukang rumah Bali tradisional misalnya,
tentunya membekali dirinya dengan pengetahuan yang tertera dalam lontar Asta Kosala
Kosali. Juga bagi para tukang sajen (banten), wajib mengetahui dan menerapkan apa yang
termuat dalam lontar jenis plutuk, dan tidak ketinggalan bagi penekun pengobatan tradisional
Bali, wajib memahami lontar usada, demikian seterusnya sesuai dengan ilmu yang
ditekuninya.

II. PEMBAHASAN

2.1 Tradisi Hidup dan Sakral-Religius

Dewasa ini penyebutan istilah “lontar dan rontal” sering rancu. Hal ini terjadi karena
hanya dilihat dari gejala metatesis yang terjadi pada kedua istilah tersebut. Namun, jika
direnungkan secara mendalam sesungguhnya makna yang diacu jelas-jelas berbeda. Istilah
“lontar” adalah untuk menyebut sebuah hasil karya (seni-sastra) yang berasal dari “rontal”

54


NOMOR 22 TAHUN XVIII Oktober 2017
ISSN 1907-3232

(palm-leaf); sedangkan istilah “rontal” adalah berupa bahan tulis (material-writting) itu
sendiri, dalam artian belum ada tulisan. Dengan kata lain, istilah “lontar” lebih mengacu
kepada teksnya (manuscript), yakni segala sesuatu yang ditulis di atas “rontal”. Sementara
istilah “rontal” lebih mengacu kepada bahan yang ditulisi, sebagaimana makna yang tersirat
di dalam kata “rontal” itu sendiri, yakni: ron ‘daun’ dan tal ‘pohon tal’. Dengan demikian,
jika seseorang menyebut “lontar”, jelas yang dimaksudkan adalah manuscript (naskah) yang
ditulis di atas “rontal”, bukan rontalnya (daun tal). Kaitannya dengan adanya “budaya lontar”
di Bali, istilah “lontar” digunakan untuk menyebut tradisi sastra Bali (klasik) maupun tradisi
budaya tulis-menulis masyarakat tradisional Bali yang cenderung berkonotasi arkais atau
sakral-religius (Geria, 2012:1--3).

Sebuah kesepakatan masyarakat bahasa, bahwasannya di Bali pemberian nama untuk
naskah kuna yang ditulis dari bahan daun tal (rontal) disebutnya sebagai naskah atau lontar,
sehingga penyebutan antara lontar sebagai naskah kuna dengan rontal sebagai bahan tulis
sering rancu, bahkan dalam membuat jejahitan berupa lamak, cili, tikar, aneka ragam anyam-
anyaman dan sejenisnya adalah daun tal (rontal). Beda halnya dalam tradisi naskah Jawa,
Batak, Sunda, Sumatra, dan sebagainya yang sebagian besar ditulis di atas kertas/daluang,
kulit kayu alim, daun nipah, dan bambu, penyebutannya tidak mengacu kepada bahan yang
digunakan, melainkan cenderung dengan menyebut nama daerahnya.

Tradisi penulisan diperkirakan sudah berusia sangat tua. Berdasarkan data-data dalam
prasasti Bali Kuna disebutkan bahwa sebelum suatu tulisan dibuat di atas batu atau tembaga,
pertama-tama ia ditulis di atas suatu bahan yang lain, yang diperkirakan berupa rontal,
meskipun proses pembuatan/pengolahannya tidak sesempurna ketika rontal menjadi bahan
atau alat tulis utama. Keberadaan tradisi lontar tentu sangat erat kaitannya dengan tradisi
tulis-menulis, seperti tampak dalam sejumlah prasasti tertua di Bali berangka tahun Saka 884,
menggunakan aksara Palawa berbahasa Sanskerta. Setelah itu, prasasti-prasasti Bali ditulis
dalam bahasa Bali Kuna. Ketika Raja Udayana mulai berkuasa bersama istrinya, Sri
Gunapriya Dharmapatni, prasasti-prasasti di Bali ditulis dalam bahasa dan aksara Jawa Kuna.

Pada zaman Majapahit tradisi penulisan di atas daun tal agaknya berkembang luas.
Hal ini terbukti bahwa tradisi penulisan di atas rontal juga ditemukan di Jawa, Madura, Jawa
Barat, Sasak, dan juga Sulawesi. Namun demikian tradisi penulisan lontar kini hanya hidup
dan lestari di Bali. Sebagai tradisi yang hidup, tradisi lontar di Bali didukung oleh bahan baku
yang cukup tersedia, sampai kepada tradisi penulisan lontar dan kegiatan membaca lontar,

55


JURNAL PENDIDIKAN
INSTITUT KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN (IKIP) PGRI BALI

yang masih hidup hingga kini. Tradisi lontar di Bali dapat dikatakan sebagai tradisi yang
sudah berkembang lebih dari satu millennium (seribu tahun).

Secara umum di Bali telah berkembang tradisi lisan dalam meresapi isi lontar. Bagi
peminat dan pencipta seni pertunjukkan sesungguhnya telah memahami isi lontar lewat
dialog-dialog para tokoh, termasuk sesuluh ajaran budi pekerti dan kebenaran. Semua itu
bersumber pada lontar sebagai bahan rujukan dalam perannya selaku tokoh seni pertunjukan.
Hal ini terlihat pada sejumlah lakon sendratari Ramayana, Mahabharata, Tantri, seni Arja,
Wayang, Drama Gong, dan sebagainya. Dengan sebutan sejumlah kutipan yang bersumber
dari lontar, masyarakat selaku penonton seni pertunjukan turut diajak meresepsi makna
sebagaimana yang tersurat dalam lontar yang dipakai babon seni pentas tersebut, termasuk
konsep-konsep rwa-bhinneda (dua yang bertentangan) sebagai simpulan akhir dari misi yang
disampaikan dalam sebuah pertunjukkan. Juga dalam tradisi masatua yang sering dilakukan
oleh para kakek dan nenek untuk anak cucunya adalah sebuah tradisi lisan yang bersumber
pada lontar, dalam penanaman pendidikan budi pekerti dilakukan lewat makna yang
terkandung dalam ceritanya yang sarat akan nilai-nilai agama dan kemanusiaan sehingga
dapat dijadikan landasan berpijak dalam berpikir, berkata, dan berperilaku.

Lebih konkret lagi terlihat dalam kegiatan seni mabebasan yang dilakukan oleh
sejumlah sekaa santi dalam upacara piodalan di Pura. Di sinilah sesungguhnya terjadi
demikian kuat antara tradisi lisan dan tulis terhadap lontar tersebut. Seseorang yang mampu
membaca teks kakawin dalam lontar atau buku yang bersumber dari lontar, akan tercermin
sebuah tradisi tulis yang sangat kuat. Juga terhadap penerjemah (tukang artos) termasuk
seluruh peserta dan masyarakat penikmat yang tengah melakukan persembahyangan pun
dapat merasakan ajaran suci yang bersumber pada lontar tersebut, sehingga pikirannya
menjadi semakin suci dan damai (sudha manah ira wus maca sira). Hal ini sesuai dengan
makna yang dikandung dalam kata pasantian, yakni tempat mencari kedamaian hati.
Demikian juga yang terjadi pada pasantian udara lewat radio/ TV merupakan cerminan
tradisi lisan dan tulis yang demikian kuatnya, dengan lontar sebagai sumbernya. Kegiatan ini
tampak sangat digandrungi masyarakat Bali walaupun di era globalisasi (Palguna, 1999:324--
326).

2.2 Aksara, Bahasa, Penulis, Wilayah, dan Tradisi Baru
Aksara merupakan lambang bahasa. Hanya lewat aksaralah suatu bahasa dapat dibaca
dan didokumentasikan. Sebagai sebuah lambang bahasa, aksara Bali telah berfungsi sebagai

56


NOMOR 22 TAHUN XVIII Oktober 2017
ISSN 1907-3232

lambang identitas masyarakat Bali, sekaligus sebagai wahana atau sarana untuk
mengungkapkan segala hal tentang kebudayaan Bali. Tidak sedikit koleksi lontar, baik yang
berada di Indonesia seperti: Perpustakaan Nasional RI Jakarta, Fakultas Sastra Universitas
Indonesia Depok, Museum Sono Budoyo Yogyakarta, Radya Pustaka Surakarta, Lombok,
dan sebagian besar di pulau Bali sekitar 50 ribu lontar, bahkan yang tengah mengembara di
luar negeri tak terhitung jumlahnya, menggunakan aksara Bali sebagai sarananya.

Dari sekian banyak lontar yang tersebar di seluruh Indonesia (khususnya Bali,
Lombok, Jawa) membuktikan betapa besar loyalitas orang Bali terhadap aksaranya
(wrehasta, swalalita, modre), yang didasari atas tekad mempertahankan dan mengajarkan
secara terus-menerus kepada generasi muda. Masyarakat Bali memandang bahwa pelestarian
aksara Bali dengan segala bentuk dan sifatnya, berfungsi sebagai lambang alam semesta
(makrokosmos), yang selanjutnya diyakini berkedudukan pada bhuwana alit (mikrokosmos).
Selain itu, adalah untuk mempelajari semua pustaka lontar yang sarat akan pelbagai ajaran
ketuhanan, kesunyataan, dan kediatmikan. Hal ini terlihat dalam sejumlah bentuk ulap-ulap
pada setiap bangunan di Bali.

Lontar dengan aksara Bali sebagai sarana pengungkapnya sebagaian masih
menggunakan bahasa Sanskerta, Jawa Kuna, Kawi-Bali/Bali Tengahan, dan yang paling
banyak adalah menggunakan bahasa Bali. Untuk jenis lontar yang menggunakan jenis aksara
Modre/Suci menggunakan bahasa Sanskerta, sementara lontar yang ditulis dengan aksara
Bali wrehasta sebagian besar menggunakan bahasa Bali walau terkadang masih tampak
pengaruh bahasa Sanskerta dan Jawa Kuna. Hal ini terbukti dalam karya sastra Bali yang
berbentuk geguritan atau sekar alit. Dengan demikian, dapat dikatakan bahwa betapa
pentingnya pemahaman aksara dan bahasa yang menjadi sarana pengungkap lontar Bali.
Mengenali aksara lontar (Bali) adalah pekerjaan yang tidak mudah, yang tentunya didasari
ketekunan dan kesabaran yang mendalam. Aksara Bali yang ada dalam lontar bentuknya
tidak standar, terkandung ciri khas aksara atau kebiasaan yang dimiliki oleh setiap penulis
lontar. Sementara untuk dapat mengenal secara mendalam tentang bahasa lontar dapat
dibantu dengan kamus Bali-Indonesia, kamus Sanskerta-Indonesia, kamus Jawa Kuna-
Indonesia, atau setidaknya pernah membaca lontar Kerta Bhasa, Bhasa Ekalawya, dan
sejenisnya, karena lontar jenis ini sama fungsinya dengan kamus.

Sebagaimana halnya seorang pengarang karya Sastra Bali, maka seorang
penulis/penyalin lontar pun dituntut kemampuannya dalam bidang salin-menyalin ke lontar

57


JURNAL PENDIDIKAN
INSTITUT KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN (IKIP) PGRI BALI

baru. Setidaknya juga telah melaksanakan upacara pawintenan. Selain itu, seorang penulis
lontar harus menyiapkan peralatan seperti: rontal/daun tal siap tulis, pangrupak/pangutik,
bantalan berupa kasur kapuk ukuran kecil sebagai alas menulis, dulang dari kayu (sejenis
meja bundar) sebagai tempat menulis berikut sesajen (pajati), penggaris dan pensil, serbuk
kemiri/nagasari yang dibakar sebagai tinta pekat, panakep dari kayu sawo, dan sebagainya.

Dalam Lontar Saraswati FSUI, Lt 147:6a, ada sejumlah persyaratan yang mesti
direnungkan oleh seorang penulis lontar. Disebutkan bahwa sebelum memulai menulis
terlebih dahulu harus memohon keselamatan kepada Hyang Yogiswara yang difilsafatkan
pada kedua mata penulis; Bhagawan Mredhu di kedua tangan; dan Bhagawan Reka pada
ujung pangrupak, sehingga tercapai sebuah teks yang utama, bermakna, dan memiliki taksu
atau jiwa. Selanjutnya, seorang penulis lontar sama sekali tidak boleh mematikan aksara
dengan sembarang mencoret (Bali: ngucek), karena akan berakibat buruk atau umur pendek.
Jika mencoret sandangan/pangangge aksara yang berada di atas aksara danti atau pokok,
seperti ulu, akan berakibat buta atau sakit kepala; mencoret suku, akan berakibat sakit
lumpuh; sedangkan mencoret taleng dan wisah akan berakibat sakit pancek (pamali: sakit
yang terasa menusuk).

Uraian di atas membuktikan bahwa lontar jarang sekali bahkan hampir tidak pernah
ditemukan aksara yang dicoret begitu saja (bukan berarti tidak ada salah penulisan).
Seandainya terjadi salah tulis, penulis dengan sendirinya membubuhkan dua
sandangan/pangangge sehingga aksara yang ditulis salah tidak berbunyi apa-apa atau disebut
dengan aksara mati. Dalam hal ini pembaca lontar sepertinya harus tanggap bahwa jika
bertemu dangan hal tersebut, semestinya secara cepat melirik (ngonek) aksara berikutnya
yang menjadi sambungan aksara di depannya. Perlu diketahui, bahwa menulis di atas rontal
berbeda dengan menulis di atas kertas biasa. Alat tulis yang terbuat dari besi yang disebut
pangrupak/pangutik berbeda dengan alat ukir atau pertukangan lainnya, ia terdiri dari tiga sisi
dengan ketajaman yang sama. Ketiga sisi ini akan dapat menghasilkan bentuk aksara yang
arkais, artistik dan berjiwa. Selain peran tangan kanan, peran tangan kiri terutama ibu jari kiri
sangat penting karena dapat memainkan pangrupak ke arah atas bawah, digoresi secara
terampil dengan penuh kesabaran, yang biasanya menggunakan sistem penomoran pada sisi b
(ganda).

Jenis-jenis pangrupak yang dikenal, antara lain: (1) pangrupak untuk menulis
(kelancipan 45 derajat); (2) pangrupak untuk menggambar di Bali disebut dengan membuat

58


NOMOR 22 TAHUN XVIII Oktober 2017
ISSN 1907-3232

prasi (lontar bergambar) memiliki kelancipan 70 derajat); dan (3) pangrupak untuk
memotong daun tal, bentuknya agak lebar dan sangat tajam. Masing-masing memiliki hiasan
yang berbeda-beda, seperti menyerupai ekor ular, burung merak, Ongkara, dan sebagainya.

Sebagai gudangnya lontar, di Bali telah tumbuh secara berkelanjutan penulis-penulis
lontar yang begitu andal. Mereka terdiri dari kelompok tua hingga anak-anak, bahkan sering
di antara mereka mendapat piagam penghargaan, melalui Pesta Kesenian Bali sebagai ucapan
terima kasih pihak pemerintah kepada para pemenang lomba. Selanjutnya, prestasi yang
diperoleh secara profesional itu dapat dilestarikan dan dikembangkan di daerahnya masing-
masing.

Di belahan Bali Timur (Karangasem) dijumpai penulis lontar yang masih produktif.
Beranjak dari Desa Culik, Bongaya, Pendem, Budakeling, Sibetan, Tenganan Pegringsingan
hingga Sidemen, dijumpai sederetan penulis lontar kenamaan. Di Geria Demung Culik
misalnya terdapat seorang pendeta sangat aktif menulis lontar, juga mengolah rontal siap
tulis. Selanjutnya, Wayan Muditadnyana (asal Tenganan Pegringsingan), Ida I Dewa Gde
Catra, yang kini berada di kota Karangasem Utara, sangat banyak jasanya dalam menyalin
lontar ke lontar baru. Juga Made Degung, yang berada di sebuah bukit di antara pohon salak
(sekitar 3 kilometer) ke arah utara dari jalan raya Sibetan, tampak sangat aktif dalam kegiatan
tulis-menulis di atas daun tal. Tidak saja kegiatan penyalinan ke lontar baru yang dilakukan
bersama istrinya, melainkan telah berpredikat sebagai pengarang karya sastra berupa puisi
Jawa Kuna (kakawin), yakni Kakawin Eka Dasa Siwa, Kakawin Nilacandra, dan Candra
Banu (Dharma Acedya) yang kini tengah dirampungkan.

Tradisi baru tentang budaya lontar dalam perkembangan masyarakat di Bali dewasa
ini tidak hanya digunakan untuk menyalin dari lontar ke lontar baru, namun terjadi suatu
kreativitas yang dinamis. Terbukti dengan adanya kegiatan menulis lontar dalam aksara Bali
dan Latin berbahasa Bali dan Asing (Inggris, Jerman, dan lain-lain) berupa kartu nama yang
dikemas sedemikian rupa dan tampak arkais-artistik. Hal ini membuat para wisatawan
(domestik maupun mancanegara) tertarik hatinya dan sekaligus memesan kartu
nama/alamatnya sendiri sebagai souvenir selama kunjungannya di Bali.

Pada masyarakat Sidemen Karangasem misalnya tampak kelompok muda yang
mampu menggambar di atas rontal secara profesional menggunakan pangrupak yang
beraneka ragam bentuk dan hasilnya dipasarkan ke Tenganan. Hampir sepanjang Desa
Tenganan digelar lontar bergambar (prasi), yang sebagian besar berisi cuplikan cerita yang
59


JURNAL PENDIDIKAN
INSTITUT KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN (IKIP) PGRI BALI

bernuansa Bali dengan keterangan yang ditulis dalam aksara Bali. Cuplikan-cuplikan tersebut
diambil dari cerita Ramayana Mahabharata, Sutasoma, Tantri, dan sebagainya yang
sekiranya menarik untuk pariwisata. Selain itu, dengan adanya program Bali Simbar yang
dirancang demikian apik oleh I Made Swacana, telah membawa angin segar terhadap
perkembangan digitalisasi budaya lontar ke arah tradisi baru. Melalui peremajaan penyalinan
lontar ke dalam aksara yang sama (aksara Bali), dapat menarik minat masyarakat pembaca
aksara Bali lebih meningkat, karena dengan sistem komputerisasi aksara Bali, tampak
bentuk-bentuk aksara Bali yang demikian standar sehingga dalam membaca terkesan lebih
mudah.

Walaupun secara umum antara naskah (salinan atau asli) beraksara Bali tersurat di
buku-buku dengan yang tersurat di atas daun tal tampak sama dari segi isinya, namun nilai
yang terkandung dari kedua naskah tersebut taksunya tampak berbeda. Seseorang yang
tengah membaca sebuah teks lontar sangat yakin akan adanya suatu nilai yang kramat, suci,
dan seolah teks yang sedang dihadapi memiliki jiwa. Tentunya hal ini dapat diterima akal
sehat, karena sebagaimana disaksikan bersama bahwa setiap pustaka lontar yang telah siap
untuk dibaca di khalayak umum, telah dilakukan sebuah upacara pasupati, yakni upacara
yang diyakini oleh masyarakat Bali untuk mohon kepada Sanghyang Aji Saraswati agar
berkenan menjadikan stana/wahana setiap aksara yang telah tersurat di atas rontal, sehingga
menjadi sebuah lontar yang memiliki jiwa.

Memang jika dipandang dari segi kemudahan, kebebasan atau kepraktisan dalam
proses membaca, mempelajari, atau membawanya ke mana-mana tampak lontar agak sulit.
Namun, lontar tetap mempunyai nilai lebih, yakni teks yang berjiwa atau mataksu, walau
telah disadari bahwa aksara Bali dalam bentuk buku pun sama-sama merupakan wahana
(palinggih) Ida Sanghyang Aji Saraswati. Yang terpenting di sini adalah bagaimana ilmu
pengetahuan yang diserap dari hasil membaca teks lontar ataupun berupa buku tersebut, dapat
dihayati nilainya ke dalam lubuk hati pembaca yang pada gilirannya mampu mengamalkan
atau menerapkannya dalam kehidupan sehari-hari.

III. PENUTUP
Berdasarkan uraian di atas, dapat disimpulkan sebagai berikut:
1) Lontar merupakan tradisi hidup dan dilestarikan oleh masyarakat Bali sejak zaman
silam. Hingga kini lontar ternyata masih dipandang sebagai sarana ampuh, tahan lama, dan

60


NOMOR 22 TAHUN XVIII Oktober 2017
ISSN 1907-3232

mataksu bagi para pangawi untuk bersastra yang dituangkan dalam bentuk karya sastra,
sekaligus sebagai persembahan dharma bhakti pangawi kepada Sang Pencipta.
2) Sebagai jiwa budaya Bali, lontar sarat akan berbagai ajaran adiluhung yang dapat
dijadikan sesuluh hidup di dunia. Lontar juga sebagai sumber ilmu pengetahuan, bersifat
sakral-religius, dan simbol keagungan Hyang Saraswati dalam prabawa atau manifestasi-
Nya sebagai Dewi Ilmu Pengetahuan. Di era globalisasi, tradisi lontar di Bali masih tetap
eksis, merupakan salah satu aset budaya Bali yang perlu mendapat perhatian secara
berkelanjutan terutama bagi pencinta lontar, cendekiawan, para filolog, dan yang terkait
lainnya.
DAFTAR PUSTAKA

Agastia, IBG. 1982. Sastra Jawa Kuna dan Kita. Denpasar: Wyasa Sanggraha.

Geria, A.A. Gde Alit. 2012. "Lontar: Selayang Pandang". Denpasar: Fakultas Pendidikan
Bahasa dan Seni, IKIP PGRI Bali.

Hadi, Sutrisno. 1983. Metodelogi Research. Yogyakarta: Yayasan Penerbitan Fakultas
Psikologi Universitas Gajah Mada.

Mangunwijaya, Y.B. 1982. Sastra dan Religiusitas. Jakarta: Sinar Harapan.

Mantra, Ida Bagus. 1958. Pengertian Siva Buddha dalam Sejarah Indonesia. Denpasar:
Institut Hindu Dharma.

Mardiwarsito, L. 1978. Kamus Jawa Kuna-Indonesia. Ende-Flores: Nusa Indah.

Moleong, Lexy J. 1998. Metodelogi Penelitian Kualitatif. Bandung: Remaja Rosdakarya.

Palguna, IBM Dharma. 1999. Dharma Sunya Memuja dan Meneliti Siwa. Denpasar: Yayasan
Dharma Sastra.

Ratna, Nyoman Kutha. 2004. Teori, Metode, dan Teknik Penelitian Sastra dari
Strukturalisme hingga Postrukturalisme Perspektif Wacana Naratif.
Yogyakarta: Pustaka Pelajar.
61


JURNAL PENDIDIKAN
INSTITUT KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN (IKIP) PGRI BALI

Robson, S.O. 1978. “Pengkajian Sastra-Sastra Tradisional Indonesia” Dalam Bahasa dan
Sastra. Jakarta: Departemen Pendidikan dan Kebudayaan.

Tuuk, H.N van der. 1887-1912. Kawi Balineesch Nederlandsch Woordenboek. 4 volumes.
Batavia: Landsdrukkerij.

Warna, I Wayan. dkk. 1978. Kamus Bali-Indonesia. Dinas Pengajaran Propinsi Daerah
Tingkat I Bali.

Zoetmulder, P.J. 1995. Kamus Jawa Kuna-Indonesia. Jilid I dan II. Jakarta: Gramedia
Pustaka Utama.

62


NOMOR 22 TAHUN XVIII Oktober 2017
ISSN 1907-3232

KOMPARASI KARAKTERISTIK BUTIR TES PILIHAN GANDA
DITINJAU DARI TEORI TES KLASIK

IMAM SUSENO

ABSTRACT
This study compares the characteristics of the test items (grain difficulty,
differentiation and reliability) of the Association's Double Choice (PGA) test, the Double
Dual Choice (PGB) test and the Multiple Choice test The relationship between terms (PGH)
is statistically descriptive. Using 30 items on each type of test indicates the reliability
coefficient of PGH tests most consistently measures students' abilities, as well as the grain
difficulty and different power index levels included in good test criteria. So both types of
PGA and PGH tests are suitable for measuring students' abilities in addition to the usual PGB
type tests. Despite the complexity in the process of answering each test item, it proved that
the PGA and PGH tests have good criteria and are suitable to be used to measure students'
ability in the subject of understanding.
Keywords: Differential Grain Level, Different Power, and Test Reliability.

PENDAHULUAN
Permendikbud No.23 Tahun 2016 tentang Standar Penilaian pendiidkan Pasal 14
point pertama disebutkan bahwa instrumen penilaian yang digunakan oleh pendidik dalam
bentuk penilaian berupa tes, pengamatan, penugasan perseorangan atau kelompok, dan
bentuk lain yang sesuai dengan karakteristik kompetensi dan tingkat perkembangan peserta
didik. Pada point kedua disebutkan bahwa instrumen penilaian yang digunakan oleh satuan
pendidikan dalam bentuk penilaian akhir dan atau ujian sekolah/madrasah memenuhi
persyaratan substansi, konstruksi, dan bahasa, serta memiliki bukti validitas emipirik.
Karakteristik kompetensi pada siswa tingkat SMA meliputi pengetahuan faktual,
konseptual, prosedural dan matakognitif. Kompetensi metakognitif merupakan pengetahuan
tentang kekuatan dan kelemahan diri sendiri dan menggunakannya dalam mempelajari
pengetahuan teknis, detail, spesifik, kompleks, konseptual dan kondisional berkenaan dengan
ilmu pengetahuan, teknologi, seni dan budaya terkait dengan masyarakat dan lingkungan
alam sekitar, bangsa, negara, kawasan regional dan internasional.
Sesuai dengan SKL (Standar Kompetensi Lulusan), sasaran pembelajaran tingkat
SMA sederajat mencakup pengembangan ranah sikap, pengetahuan, dan keterampilan yang
dielaborasi untuk setiap satuan pendidikan. Pada ranah pengetahuan diperoleh melalui
aktivitas mengingat, memahami, menerapkan, menganalisis, mengevaluasi, dan mencipta.
Evaluasi hasil pembelajaran dilakukan saat proses pembelajaran dan diakhir satuan
63


JURNAL PENDIDIKAN
INSTITUT KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN (IKIP) PGRI BALI

pembelajaran dengan menggunakan metode dan alat: tes lisan/perbuatan, dan tes tertulis.
Salah satu bentuk tes tertulis adalah adalah tes pilihan ganda.
Penggunaan instrumen tes pilihan ganda (PG) dapat ditemui pada ujian skala besar
(misal Ujian Nasional) maupun ujian berskala kecil (misal Ujian Formatif, Ujian Sumatif),
karena sifatnya objektif dan mudah dalam pensekoran. Groundlund and Linn (1990: 168)
bahwa soal tes PG dapat digunakan mengukur hasil belajar atau kemampuan siswa dalam
berfikir sederhana sampai berfikir kompleks dan hal tersebut disesuaikan dengan materi
pembahasan.
Kekuatan tes PG adalah memuat beberapa jawaban yang berbeda yang saling
berhubungan, namun perbedaan dibuat hampir tidak kentara diantara pilihan jawaban namun
beberapa yang mungkin menjadi sedikit benar. Sudjono (2013: 119-120) menyebutkan tes
pilihan PG dibedakan atas: (1) melengkapi lima pilihan, (2) asosiasi dengan lima pilihan atau
empat pilihan, (3) hal kecuali, (4) analisis hubungan antar hal, (5) analisis khusus, (6)
perbandingan kuantitatif, (7) hubungan dinamik, (8) melengkapi berganda, (9) pemakaian
diagram, gambar dan grafik.
Sehingga dalam melakukan evaluasi kemampuan siswa, guru diharapkan tidak hanya
terpaku pada jenis tes PG biasa saja namun lebih bervariasi dalam menggunakan instrumen
tes hasil belajar khususnya pada bentuk tes PG. Namun penggunaan berbagai bentuk tes PG
perlu mempertimbangkan beberapa hal.
Hasil penelitian Hajaroh (2011: 141) menyimpulkan bahwa beragamnya bentuk soal
objektif, maka tidak bisa memberikan jagement bahwa soal pilihan ganda (dibandingkan
bentuk matching test) memiliki tingkat kesukaran yang lebih tinggi. Meskipun pada bentuk
tes pilihan ganda terdapat dua parameter yang menyebabkan tingginya kesukaran yaitu
adanya pengecoh (distractor) dan adanya peluang responden untuk menebak jawaban.
Selanjutnya daya beda tes pilihan ganda tidak lebih tinggi dibandingkan bentuk matching tes,
artinya beragamnya bentuk tes objektif yang ada tes bentuk PG bukanlah satu-satunya bentuk
tes yang lebih baik dalam membedakan siswa yang berkemampuan tinggi dan siswa yang
berkemampuan rendah. Hal ini dapat memberikan masukan bagi para pendidik bahwasanya
sebelum membuat tes perlu adanya analisis, sebab untuk menentukan bentuk tes hendanya
disesuaikan dengan karakteristik dari bidang studi yang akan diujikan.
Terdapat hasil penelitian yang menyebutkan bahwa item pilihan ganda memiliki
semua persyaratan sebagai tes yang baik, yakni dilihat dari validitas, reliabilitas dan daya
pembeda anatar siswa yang berhasil dengan siswa yang tidak berhasil, tidak semuanya benar

64


NOMOR 22 TAHUN XVIII Oktober 2017
ISSN 1907-3232

jadi selum memberikan keputusan dalam membuat soal hendanya melakukan penyelidikan
terlebih dahalu terhadp butir-butir soal yang akan diujiakan .
Hajaroh (2011: 142) keberhasilan proses belajar mengajar tidak dapat dipantau tanpa
adanya evaluasi hasil belajar. Akan tetapi evaluasi yang baik akan mungkin jika alat
evaluasinya juga baik, maka guru dituntut untuk menguasai cara dan kaidah dalam menyusun
tes yang baik. Untuk mengetahui apakah alat evaluasi tersebut baik atau tidak, maka perlu
adanya analisis butir. Melalui analisis butir soal guru akan mendapatkan informasi untuk
memberikan umpan balik baik kepada siswa maupun pendidik itu sendiri hasil dan dapat
dipakai untuk mengupayakan butir soal tersebut. Dalam memilih bentuk soal, pendidik
hendaknya menyesuaikan dengan karakteristik bidang dan mengetahui kualitas butir soal
Karmel and Karmel (1978: 406) terdapat sepuluh kriteria tes yang baik, yakni: (1) tes
harus relevan, (2) ada keseimbangan antara tujuan yang ingin dicapai dengan jumlah butir tes
yang mewakilinya, (3) efisiensi waktu yang digunakan untuk melakukan tes, pensekoran dan
pengadministrasian sekor tes, (4) objektivitas dalam memberikan skor dan interpretasinya, (5)
kekhususan tes yang mengukur materi pelajaran yang diajarkan dikelas, (6) tingkat kesukaran
setiap butir tes, (7) kemampuan butir membedakan kelompok siswa yang memiliki
kemampuan tinggi dan rendah, (8) reliabilitas, (9) kejujuran dan pemerataan kesempatan, dan
(10) kecepatan menyelesaikan tes.
Dalam penelitian ini bertujuan melihat perbedaan taraf sukar butir, daya beda dan
reliabilitas dari ketiga bentuk tes PG diantaranya tes PGB (pilihan Ganda Biasa), Tes PGA
(Pilihan Ganda Asosiasi) dan Tes PGH (Pilihan Ganda Hubungan antar hal).
Teori Tes Klasik (Classical Test Theory)
Teori tes klasik sering disebut teori skor murni klasik (Allen & Yen, 1979:57) yaitu
skor amatan merupakan penjumlahan dari skor sebenarnya dan skor kesalahan pengukuran.
Secara matematis adalah
X = T + E............................. (1)
Dengan X adalah skor amatan, T adalah skor sebenarnya dan E adalah skor kesalahan
pengukuran (error score). Error score yang dimaksud merupakan kesalahan acak atau tidak
sistematis. Kesalahan ini merupakan penyimpangan secara teoritis dari skor amatan yang
diperoleh dengan skor amatan yang diharapkan. Sedangkan kesalahan pengukuran sistematis
dianggap bukan merupakan kesalahan pengukuran.
Asumsi yang menyertai dalam teori tes klasik antara lain: 1) skor kesalahan
pengukuran tidak berinteraksi dengan skor sebenarnya, 2) skor kesalahan tidak berkorelasi

65


JURNAL PENDIDIKAN
INSTITUT KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN (IKIP) PGRI BALI

dengan skor sebenarnya dan skor-skor kesalahan pada tes-tes yang lain untuk peserta tes
(testee) yang sama, 3) rata-rata dari skor kesalahan ini sama dengan nol.
Ketiga asumsi pada teori tes klasik ini dijadikan dasar untuk mengembangkan
formula-formula dalam menentukan validitas dan reliabilitas tes. Validitas dan reliabilitas
pada perangkat tes digunakan untuk menentukan kualitas tes selain dari indeks kesukaran dan
daya beda butir.
Taraf Sukar Butir
Taraf sukar butir berkaitan dengan responden. Butir tes bisa dirasakan sukar oleh
suatu responden namun dirasakan tidak sukar oleh responden lain. Karena itu taraf sukar butir
dan kelompok responden saling berkait (Dali, 2013: 280). Taraf sukar butir dapat berbentuk
proporsi (Pi), berbentuk distribusi probabilitas normal baku (z), berbentuk delta ( ). Untuk
menentukan indeks kesukaran dari suatu butir pada perangkat tes pilihan ganda, digunakan
persamaan sebagai berikut:
................... (2)

Skor responden pada masing-masing perangkat tes dalam penelitian dikelompokkan
menjadi kelompok tinggi (27% skor responden tertinggi) dan kelompok rendah (27% skor
responden rendah). Oleh sebab itu untuk menentukan tingkat kesukaran butir, maka rumus
yang digunakan adalah :
............................... (3)

Dimana:
IK= Indeks kesukaran
JSA= jumlah siswa kelompok atas
JSB=jumlah siswa kelompok bawah
JBA=jumlah siswa yang menjawab benar kelompok atas
JBB= jumlah siswa yang menjawab benar kelompok bawah.
Taraf sukar butir disimbolkan Pi (proporsi jawaban benar). Makin sedikit jawaban
betul maka makin kecil Pi makin sukar butir itu, makin besar Pi dan makin tidak sukar butir
tersebut. Artinya Pi mendekati 0, maka soal terlalu sukar, sedangkan jika Pi mendekati 1,
maka soal tersebut terlalu mudah.
Taraf sukar butir dalam bentuk proporsi memiliki rentang diantara 0 s/d 1. Nilai
sedang terletak ditengah-tengah pada Pi = 0,50 yang memisahkan butir tidak sukar dari butir
sukar. Butir tidak sukar Pi > 0,50 dan butir sukar memiliki Pi < 0,50 (Dali, 2013: 282-283).

66


NOMOR 22 TAHUN XVIII Oktober 2017
ISSN 1907-3232

Allen & Yen (1979: 122) menyatakan bahwa secara umum indeks kesukaran butir sebaiknya
terletak pada interval 0,3 sampai 0,7. Pada interval ini informasi tentang kemampuan siswa
akan diperoleh secara maksimal.
Daya Beda
Daya beda soal ialah kemampuan butir soal dalam membedakan antara peserta tes
kelompok rendah dengan peserta tes kelompok tinggi. Rumus yang digunakan untuk
memperoleh nilai daya beda butir tes (Dali, 1992: 68) adalah:
............................. (4)

Dimana
Dtj = indeks daya beda butir soal ke-j
MT = jumlah peserta kelompok tinggi
fjT = jumlah peserta kelompok tinggi yang menjawab benar soal ke-j
MR= jumlah peserta kelompok rendah
fjR= jumlah peserta kelompok rendah yang menjawab benar soal ke-j
Dalam hal ini, rumus diatas sama dengan :
atau ...........................(5)

Dimana :
DP = indeks daya beda
JSA= jumlah siswa kelompok atas
JSB=jumlah siswa kelompok bawah
JBA=jumlah siswa yang menjawab benar kelompok atas
JBB= jumlah siswa yang menjawab benar kelompok bawah.

Klasifikasi interpretasi untuk daya beda dapat disusun sebagai berikut:
DP ≤ 0,00 sangat jelek
0,00 < DP ≤ 0,20 jelek
0,20 < DP ≤ 0,40 cukup
0,40 < DP ≤ 0,70 baik
0,70 < DP ≤ 1,00 sangat baik

Pada suatu butir soal, indeks daya beda dikatakan baik jika lebih besar atau sama
dengan 0,3. Indeks daya pembeda suatu butir yang kecil nilainya akan menyebabkan butir
tersebut tidak dapat membedakan siswa yang kemampuannya tinggi dan siswa yang
67


JURNAL PENDIDIKAN
INSTITUT KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN (IKIP) PGRI BALI

kemampuannya rendah. Pada analisis tes dengan content-referenced measures, indeks daya
pembeda butir tidak terlalu perlu jadi perhatian, asalkan tidak negatif (Ebel and Frisbie, 1986;
Frisbie, 2005). Jika nilainya kecil, menunjukkan bahwa kemencengan distribusi skor dari
populasi, yang juga mengakibatkan validitas tes menjadi rendah.
Reliabilitas Tes
Reliabilitas merupakan derajat keajegan (consistency) diantara dua buah hasil
pengukuran pada objek yang sama (Mehrens and Lehmann, 1973: 102). Sedangkan Allen &
Yen (1979: 62) menyatakan dikatakan reliabel jika skor amatan mempunyai korelasi yang
tinggi dengan skor yang sebenarnya. Artinya bahwa suatu tes dinyatakan reliabel jika hasil
pengukuran mendekati keadaan peserta tes yang sebenarnya. Karena pengukuran dalam
pendidikan tidak dapat langsung dilakukan pada ciri atau karakter yang akan diukur. Karena
ciri atau karakter ini bersifat abstrak. Oleh karena itu sulit memperoleh alat ukur yang stabil
untuk mengukur karakteristik seseorang (Mehrens and Lehmann, 1973: 103).
Reliabilitas tes dalam hal ini adalah suatu nilai yang mampu menggambarkan
sejauhmana konsistensi hasil ukur bila dilakukan pengukuran berulang-ulang terhadap
responden yang memiliki gejala sama dengan alat ukur yang sama. Rumus yang digunakan
untuk menentukan koefisien reliabilitas pada masing-masing instrumen diperoleh dari
analisis butir soal yakni Kuder Richardson-20 (KR-20), yaitu:
....................... (5)

Penentuan formula reliabilitas diatas didasarkan pada bentuk tes yang digunakan
adalah tes pilihan ganda (multiple choice) yang menghasilkan skor dikotomi. Meskipun tidak
ada perjanjian secara tegas, tes yang digunakan untuk membuat keputusan pada siswa secara
perseorangan sebaiknya memiliki koefisen reliabilitas minimal sebedar 0,85.
Fokus penelitian ini adalah membedakan tiga tipe tes Pilihan Ganda berdasarkan
analisis butir soal dan bukan mengkaji hasil belajar siswa sebagai responden. Dengan alasan
tersebut maka perangkat ketiga tes hanya divalidasi isi dan tidak diujicoba untuk melakukan
validasi empirik dengan pertimbangan: (1) setiap butir soal yang ada pada perangkat tes PGA
(Pilihan Ganda Asosiasi), PGB (Pilhan Ganda Biasa), dan PGH (Pilihan Ganda Hubungan
antar Hal) harus setara dalam hal materi/konsep, kategori kognitif, jumlah soal dan nomor
urut soal; (2) hasil penelitian yang diharapkan adalah adanya perbedaan taraf kesukaran butir,
daya beda dan reliabilitas tes pada ketiga perangkat tes.

68


NOMOR 22 TAHUN XVIII Oktober 2017
ISSN 1907-3232

METODE PENELITIAN
Penelitian ini bertujuan membandingkan karakteristik butir tes Pilihan Ganda (PG)
yaitu tes PGA, PGB dan PGH. Penelitian dilaksanakan di beberapa Sekolah Menegah Atas
(SMA) DKI Jakarta diantaranya: SMA 48, SMA 71, SMA SULUH dan SMA 91.
Jenis penelitian ini termasuk penelitian survey dengan menggunakan instrumen yang
dirancang dan dibuat peneliti setelah melalui validasi ahli dan empiris maka digunakan
sebanyak masing-masing 30 butir tes pilihan ganda khusus pada matapelajaran sosiologi
siswa kelas sebelas (XI). Sampel yang digunakan sebanyak 224 siswa yang diperoleh dengan
menggunakan teknik acak secara proporsional atau proporsional random sampling.
Selain dianalisis tingkat kesukaran butir tes dan daya beda butir tes, dalam penelitian
ini juga dianalisis perbedaan rerata kelompok koefisien reliabilitas tes PGB (µPGB) , Tes PGH
(µPGH) dan Tes PGA (µPGA). Ketiga kelompok data reliabilitas diperoleh dari pengacakan
terhadap skor responden masing-masing tipe tes. Pengacakan tersebut menggunaan teknik
random dengan pengembalian (replace randomized), yaitu mengambil secara acak 30 dari
224 skor responden tes melengkapi kemudian dianalisis untuk menentukan koefisien
reliabilitas tes. Program yang digunakan dalam teknik random data tes adalah Minitab versi
16.
Hal tersebut dilakukan sebanyak 30 (tiga puluh) kali, sehingga diperoleh 30 gugus
data yang merupakan kelompok koefisien reliabilitas tes Pilihan Ganda Biasa (nPGB = 30). Hal
yang sama dilakukan pada skor responden tes pilihan ganda asosiasi, sehingga terbentuk 30
gugus data yang merupakan kelompok koefisien tes pilihan ganda asosiasi (nPGA), dan tes
pilihan ganda hubungan antar hal (nPGH).
Penentuan nilai dari tingkat kesukaran, daya beda dan reliabilitas, mengandalkan skor
responden dari instrumen tes hasil belajar sosiologi pada ketiga tipe tes. Untuk itu hasil
pengukuran yang diperoleh harus dinyakini bentuk keabsahannya, dengan kata lain
semaksimal mungkin terhindar dari kesalahan ukur berikut: (a) objek/individu yang diukur;
(b) alat ukur; (c) petugas/pengumpul data dilapangan (Agung, 1992: 46).
Bilamana kesalahan terjadi pada alat ukur/instrumen tes, maka penelitian akan gagal
secara keseluruhan. Untuk mencegah itu, maka sebelum naskah diambil sebagai perangkat tes
atau disahkan sebagai instrumen penelitian, perlu dilihat validitas isi/teoritik/konsep juga
validitas empiriknya. Validitas empirik instrumen dalam perhitungan menggunakan rumus
korelasi biserial (Djaali, Muljono dan Ramly, 2000: 77).
Perangkat tes dalam penelitian ini telah dikalibrasi melalui validasi isi oleh team
penilai yang berkompeten dalam bidang sosiologi. Validasi isi dilakukan melalui penelaahan
69


JURNAL PENDIDIKAN
INSTITUT KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN (IKIP) PGRI BALI

kisi-kisi untuk memastikan bahwa soal-soal yang tercakup dalam perangkat tes sudah mampu
mengukur secara proporsional isi materi yang seharusnya dikuasai oleh siswa sesuai jenjang
kelasnya.
HASIL PENELITIAN
Hasil analisis diskriptif pada taraf sukar butir ketiga tipe tes pilihan ganda dari
masing-masing tes sebanyak 30 butir soal terlihat pada tebel berikut:
Tabel 1. Nilai Taraf Sukar Butir Tes PGA, PGB dan PGH
PGA PGB PGH

Mean ,5997 ,5253 ,5170

Median ,6650 ,5000 ,5800

Modus ,81 ,39a ,58

Varians ,052 ,055 ,060

Tabel 1 terlihat nilai rerata dari taraf sukar butir ketiga tipe tes pilihan ganda tidak
jauh berbeda, ketiga tipe tes termasuk kriteria taraf sukar butir ideal karena terletak antara
0,3-0,7. Hal itu juga didukung dengan besaran nilai varian yang tidak jauh berbeda. Nilai
varians dari taraf sukar butir menunjukkan perbedaan nilai diantara taraf sukar butir tiap tipe
tes pilihan ganda. Namun yang membedakan ketiga tipe tes pilihan ganda terlihat pada nilai
modus, PGA memiliki nilai tertinggi yaitu 0,81, kemudian PGH dan PGB. Hasil analisis taraf
sukar butir digambarkan :
Gambar 1. Box Plot Taraf Sukar Butir Tes PGA, PGB dan PGH
Taraf Sukar Butir

0,9

0,8

0,7

0,6

0,5
Data

0,4

0,3

0,2

0,1

0,0
PGA PGB PGH

Dari boxplot menunjukkan tes PGA memiliki nilai mean, median dan modus tertinggi
yang berarti taraf sukar butir paling unggul (mudah) dibandingkan dengan kedua tes PGH

70


NOMOR 22 TAHUN XVIII Oktober 2017
ISSN 1907-3232

dan PGB. Kemudian nilai mean, dari taraf sukar butir tes PGB lebih baik (mudah)
dibandingkan tes PGH.
Hasil perhitungan indeks daya beda ketiga tes Pilihan Ganda dari masing-masing tes
terdiri atas 30 butir tes diperoleh nilai sebagai berikut:
Tabel 2. Indeks Daya Beda Butir Tes PGA, PGB, dan PGH
PGA PGB PGH

Mean ,3059 ,3514 ,4596

Median ,3770 ,3610 ,5740

Modus ,38 ,33a ,89

Varians ,043 ,048 ,156

Indeks daya beda antar tes pilihan ganda secara statistik deskriptif menunjukkan nilai
mean dan varians terkecil pada tes PGA, sebaliknya nilai mean dan varians terbesar berada
pada tes PGH. Hal ini menunjukkan kemampuan membedakan siswa yang kemampuannya
tinggi dengan berkemampuan rendah pada tes PGA tergolong kecil, sebaliknya pada tes PGH
tergolong besar. Meskipun kedua nilai rerata dari indeks daya beda butir tes tergolong baik
karena diatas dari nilai 0,30.
Gambar 2. Box Plot Indeks Daya Beda Butir Tes PGA, PGB dan PGH
Daya Beda Butir Tes PG
1,00

0,75

0,50
Data

0,25

0,00

-0,25

-0,50
PGA PGB PGH

Gambar 2 boxplot indeks daya beda butir tes memperlihatkan sebaran indeks daya
beda butir tes, pada tes PGH sebaran paling tinggi, kemudian tes PGB, disusul tes PGA yang
paling kecil dalam membedakan kemampuan siswa tinggi dengan siswa berkemampuan
rendah. Ketiga tipe tes pilihan ganda termasuk dalam kriteria tes memiliki indeks daya beda
yang baik.
71


JURNAL PENDIDIKAN
INSTITUT KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN (IKIP) PGRI BALI

Hasil pembentukan 30 gugus data pada masing-masing tes pilihan ganda, kemudian
dihitung koefisien reliabilitas diperoleh nilai terlihat pada tabel berikut:
Tabel 3. Statistik Koefisien Reliabilitas Tes PGA, PGB, dan PGH
PGA PGB PGH

Mean ,6267 ,7010 ,8306

Median ,6750 ,7160 ,8330

Modus ,70 ,74a ,86a

Varians ,018 ,003 ,002

Sebaran nilai (varians) dari koefisien reliabilitas paling konsisten yaitu tes PGH
dengan nilai varians sebesar 0,002, kemudian tes PGB dengan nilai varians sebesar 0,0031
dan konsistensi terendah pada tes PGA yaitu sebesar 0,0173. Rupanya konsistensi nilai
koefisien reliabilitas pada tes PGH juga diiringi dengan besaran nilai rerata koefisien
reliabiltas terbesar yaitu µPGH = 0,831, kemudian tes PGB yaitu µPGB = 0,701 dan diikuti
dengan tes PGA yaitu µPGA = 0,627.
Jika mengikuti kriteria umum menurut Naga (2013, 240-241) maka tes PGA dengan
nilai rerata 0,627 termasuk dalam kriteria koefisien reliabilitas yang “bermasalah”, sedangkan
tes PGB termasuk kriteria “dapat diterima” dan tes PGH termasuk kriteria “baik”.
Konsistensi dari koefisien reliabilitas ketiga tipe tes pilihan ganda terlihat pada gambar
berikut:
Gambar 3. Koefisien Reliabilitas Tes PGA, PGB dan PGH

Tes PGH berdasarkan nilai rerata dari koefisien reliabilitas termasuk kriteria “baik”
atau paling stabil dan besaran nilai varians termasuk paling kecil, hal ini menandakan bahwa
tes pilihan ganda tipe hubungan antar hal dapat menguji dengan stabil kemampuan siswa.

72


NOMOR 22 TAHUN XVIII Oktober 2017
ISSN 1907-3232

PEMBAHASAN
Taraf sukar butir tes PGH berada posisi terendah diantara dua tipe tes pilihan ganda
lainnya, hal ini tidak terlepas dari keunikan dalam menjawab butir tes PGH, dimana siswa
harus menentukan kalimat pertama, dan kalimat kedua benar atau salah, baru kemudian
mengolah pemikirannya secara rasional maupun teori kedua pernyataan tersebut memiliki
kaitan ataupun tidak. Sejalan tujuan tes PGH bahwa siswa diharapkan dapat menunjukkan
kemampuan mereka pada hubungan diantara fakta yang merupakan dasar dalam
pengembangan kemampuan pemahaman (understanding), kemampuan berfikir dan
kemampuan lainnya yaitu ability to intepret causeand-effect relationship (Surapranata, 2005:
148).
Ketidak-konsistensi siswa dalam menjawab butir-butir tertinggi pada tes PGA, namun
ukuran tersebut tidak dapat dianggap bahwa bentuk tes ini bermasalah. Sebab merujuk hasil
deskripsi nilai dari taraf sukar butir dan daya beda kualitas tes PGA memenuhi persyaratan
sebagai salah satu tipe tes pilihan ganda yang baik. Thorndike & Hagen (1969: 114-116)
menyatakan tes asosiasi pilihan ganda sebagai variasi butir tes pilihan ganda yang kompleks
dan menggunakan pasangan pernyataan. Dikatakan sebagai tes PG kompleks karena variasi
dari bentuk dan kombinasi pilihan ganda yang digunakan sebagai pilihan jawaban. Siswa
tidak hanya diberikan satu pilihan jawaban yang benar saja, namun dapat dua atau bahkan
tiga pilihan jawaban yang benar. Hal ini menjadi sebab variansi tes PGA lebih sulit dan lebih
mampu memberikan perbedaan hasil belajar yang dicapai oleh siswa. Hal senada diungkap
Earlyanti (2012: 231) menyatakan bahwa butir-butir dalam tes pilihan ganda asosiasi
memiliki akurasi yang sangat baik dalam mengukur kemampuan siswa.

PENUTUP
Hasil analisis deskriptif menunjukkan nilai koefisien reliabilitas dari tes PGH paling
konsisten mengukur kemampuan siswa, demikian pula taraf sukar butir dan indeks daya beda
termasuk dalam kriteria tes yang baik. Sehingga kedua tipe tes PGA dan PGH layak
digunakan untuk mengukur kemampuan siswa disamping tes tipe PGB yang biasa digunakan.
Meskipun memiliki kompleksitas dalam proses menjawab soal ujian berdasarkan data
terbukti tipe tes PGA dan PGH memiliki kriteria yang cukup baik untuk mampu mengukur
kemampuan siswa pada mata pelajaran berjenis pemahaman.

73


JURNAL PENDIDIKAN
INSTITUT KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN (IKIP) PGRI BALI

Daftar Pustaka
Agung, I Gusti Ngurah Agung. (1992). Metode Penelitian Sosial Pengertian dan Pemakaian
Praktis. Jakarta: Gramedia.
Allen, M.J. & Yen, W. M. (1979). Introduction to measurement theory. Monterey, CA:
Brooks/Cole Publishing Company.
Djaali, Pudji Muljono dan Ramly. (2000). Pengukuran Dalam Bidang Pendidikan. Jakarta:
PPS UNJ.
Earlyanti, Novi Indah. (2012). Komparasi Fungsi Informasi Butir Model Logistik Dua
Parameter Ditinjau dari Ragam Bentuk Soal Pilihan Ganda dan Model Pensekoran.
Disertasi: Universitas Negeri Jakarta.
Ebel, R.L. & Frisbie, D.A. (1986). Essenstials of Educational Measurement. Englewood
Cliftfs, NJ:Prentice-Hall, Inc
Grondlund, Norman. E & Linn, Robert L. (1990). Measurement and evaluation in teaching.
New York: Mc Millan Publishing Company.
Hajaroh, Siti. (2011). Komparasi Bentuk Tes Pilihan Ganda Dengan Tes Menjodohkan
(Matching Test) Ditinjau dari Tingkat Kesukaran, Daya Beda dan Koefisien
Reliabilitas. Tesis: Universitas Negeri Jakarta.
Karmel, Louis J. & Karmel, Marylin O. (1978). Measurement and Evaluation in Research.
New York: Macmillan, Publisher, Inc, 1978.
Materi Pelatihan Analisis Butir dan Pemanfaatan Hasil Ujian Bagi Guru di SMKN 2 Tarakan
Kalimantan Timur 30-31 Maret 2012.
Mehrens, W.A & Lehmann, I.J. (1973). Measurement and evaluation in education and
psychology. New York: Hold, Rinehart and Wiston, Inc.
Naga,Dali S. (1992).Pengantar Teori Skor pada Pengukuran Pendidikan.Jakarta:Gunadarma.
Surapranata, Sumarna. (2005). Panduan Penulisan Tes Tertulis Implementasi Kurikulum
2004. Bandung: PT Remaja Rosdakarya.
Sudjono, Anas. (2013). Pengantar Evaluasi Pendidikan. Jakarta: PT. RajaGrafindo Persada.
Permendikbud No.23 Tahun 2016 tentang Standar Penilaian Pendiidkan.
Popham, James W. (1995). Classroom Assessment-What Teacher Need to Knoe. Needham
Height, MA: Allyn and Bacon.
Suherman, Erman dkk. (1990). Petunjuk Praktis untuk melaksanakan Evaluasi Pendidikan
Matematika. Bandung: Widjayakusuma.
Thorndike, Robert L and Hagen, Elizabeth. (1969). Measurement and Evaluation in
Psychology and Education. New York: John Wiley & Sons, 1969.
74


NOMOR 22 TAHUN XVIII Oktober 2017
ISSN 1907-3232

PROGRAM BIMBINGAN DAN KULTURAL UNTUK MENGEMBANGKAN
KECERDASAN KULTULAR

Putu Agus Semara Putra Giri

ABSTRACT

The growth of negative behavior, especially the teenagers (students) shows the failure
of education in developing and changing the behavior of students. Apparently, the school's
efforts were more focused on crafting the concepts and materials of various subjects through
lectures and assignments of homework assignments, all of which did not positively impact the
development of later student life skills. As a result, other life skills and values including
mutual understanding and tolerance to interact with others are effectively ignored.
Starting from the thinking about the position of guidance and counseling program as an
integral part of educational process and play a role in facilitating the achievement of general
national education objectives and institutions or schools in particular, so in the effort of
developing students' cultural intelligence, a self-development program is needed through
guidance and counseling program Kulutral to develop kulutral intelligence.
Keywords: Cultural Intelligence, Guidance and Counseling

PENGANTAR

Perkembangan teknologi informasi dan komunikasi (TIK) dapat mempercepat
perkembangan demokrasi, industrialisasi, perubahan struktur kelas sosial, bahkan tatanan
layanan bimbingan dan konseling . Situasi ini memungkinkan individu bebas meningkatkan
pengharapan hidup, dapat menjadi sumber motivasi untuk mencapai tingkat kehidupan yang
lebih baik, tetapi dapat juga menyebabkan individu tidak akan pernah merasa puas dengan apa
yang telah dicapainya. Tidak menutup kemungkinan, situasi kehidupan seperti itu menjadikan
individu sebagai mahluk serakah, berani melakukan perilaku sosial menyimpang, yaitu
perilaku yang tidak sesuai dengan nilai-nilai yang berlaku dalam masyarakat (Calhoun &
Acocella, 1995: 10). Sehubungan dengan pendapat Calhoun & Ancella, selanjutnya Rogers
(William A. Wallace, 1986), berpendapat bahwa “manusia adalah makhluk yang tidak pernah
selesai”. Karena itu wajar apabila manusia dipandang sebagai individu yang sedang berada
dalam proses berkembang atau menjadi (becoming), yaitu berkembang ke arah kematangan
atau kemandirian. Di samping itu, terdapat suatu keniscayaan bahwa proses perkembangan
individu tidak selalu berlangsung secara mulus, atau steril dari masalah, sehingga tidak jarang
perubahan lingkungan mempengaruhi perkembangan pola perilaku atau gaya hidup individu
sebagian manusia yang cenderung menyimpang.

75


JURNAL PENDIDIKAN
INSTITUT KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN (IKIP) PGRI BALI

Perkembangan manusia tidak lepas dari pengaruh lingkungan, baik fisik, psikis,
maupun sosial dan kulturnya. Perubahan yang terjadi dalam lingkungan, dapat mempengaruhi
gaya hidup (life style) manusia sebagai bagian dari warga masyarakat. Artinya apa yang
berlaku pada suatu lingkungan masyarakat tertentu akan mempengaruhi perilaku atau gaya
hidup masyarakat yang berada di dalamnya dan mungkin akan membedakan dengan perilaku
masyarakat lain yang berada pada lingkungan lainnya. Apa yang dianggap normal dan wajar
dalam suatu lingkungan masyarakat tertentu belum tentu demikian dalam masyarakat yang
lain,

Terjadinya beberapa peristiwa negatif saat ini, seperti tawuran antarkelompok,
antardaerah, antarkampung, bahkan dalam lingkungan pendidikan, seperti antarsekolah serta
perseteruan antarsuku, seperti terjadi di Maluku, Kalimantan Timur, Nusa Tenggara Timur
dan Bali merupakan bukti akibat adanya perbedaan sikap, pandangan, dan pemahaman antar
lingkungan masyarakat yang berbeda.

Sejalan dengan perubahan global yang lebih mengedepankan kekuatan sumber daya
manusia dan kompetisi terbuka (WTO dan AFTA), akan sangat sulit bagi suatu masyarakat
atau bangsa bangsa untuk menapak keberhasilan secara internasional apabila masih banyak
dihadapkan pada permasalahan pertentangan atas perbedaan sosio-kultural masyarakatnya
sendiri. Dalam konteks seperti ini, H.A.R. Tilaar (1999), mengemukakan bahwa untuk
menyikapi keadaan era globalisasi diperlukan munculnya manusia yang memiliki sifat
keunggulan, yaitu manusia yang dapat menyikapi perbedaan, adaptasi dan penyesuaian
perilaku terhadap norma dan simbol kultur atau kehidupan kelompok lainnya. Salah satu
kekuatan sumber daya manusia yang dibutuhkan dalam menyikapi, memahami, dan
menyesuaikan diri secara positif terhadap semua perbedaan dan keragaman budaya (culture)
dalam suatu masyarakat dan bangsa itu adalah kecerdasan kultural (cultural inteligence).

Kecerdasan kultural yang dimiliki individu diharapkan mampu meminimalkan
prasangka-prasangka dan perselisihan di antara individu dan masyarakat dalam konteks
budaya atau kultur yang berbeda dan mendorong setiap orang dapat hidup, tumbuh dan
berkembang dalam kebersamaan (being and living with together). Kecerdasan kultural
individu yang tinggi akan memberikan sumbangan yang besar untuk mendukung kesuksesan
seseorang dalam berinteraksi dengan masyarakat lain karena di dalamnya terdapat aspek-
aspek keterampilan beradaptasi dan penyesuaian diri terhadap bahasa, toleran terhadap
perbedaan, fleksibilitas, sehingga mendorong seseorang untuk dapat memecahkan
76


NOMOR 22 TAHUN XVIII Oktober 2017
ISSN 1907-3232

permasalahan dalam konteks-konteks tertentu, memiliki kecakapan untuk memilih tindakan-
tindakan yang sesuai, serta memiliki kesadaran yang mendalam atas segala konsekuensi
semua tindakannya, baik yang berhubungan dengan harapan sendiri, masyarakat luas terutama
berkenaan dengan norma-norma yang berlaku pada lingkungannya. Dengan kata lain individu
yang memiliki kecerdasan kultural, akan paham bagaimana harus bersikap dan berperilaku
pada posisinya. Artinya orang yang memiliki kecerdasan kultural tinggi akan mampu
memahami siapakah dirinya, di mana tempatnya, harmonis dalam berinteraksi dengan orang
lain, dan selaras dengan lingkungannya (Peterson, 2004:89).

Implikasinya, proses pendidikan termasuk layanan bimbingan dan konseling yang
dilaksanakan pada pendidikan formal ataupun non formal hendaknya menempuh dua sisi yang
saling melengkapi. Pada satu sisi layanan bimbingan dan konseling harus memfasilitasi
individu dalam memahami orang lain dan lingkungannya, sedangkan sisi selanjutnya
bimbingan dan konseling harus memfasilitasi pengalaman-pengalaman individu dalam
bekerjasama dengan orang lain untuk mencapai tujuan bersama sepanjang hayat. Proses
layanan bimbingan dan konseling seperti ini merupakan cara yang tepat untuk menghindari
perselisihan-perselisihan yang tersembunyi (Suherman AS, 2009). Dengan demikian, peserta
didik yang dihadapkan pada kultur yang beragam dan sangat kompleks, tantangannya tidak
hanya terletak pada pemahaman dan penguasaan mengenai ilmu, teknologi, dan seni,
melainkan mereka pun dituntut memiliki kemampuan memahami kultur sesamanya dan
bagaimana berinterksi dengan sesama dan lingkungannya.

PEMBAHASAN

A. Konsep Dasar Kultural
Dalam proses bimbingan dan konseling, konselor sering memfokuskan perhatiannya
pada identitas individual atau menempatkan identitas kelompok lebih rendah daripada
individu. Beberapa alasan tentang orientasi ini dikemukakan D.W.Sue (2003: 1-29), sebagai
berikut.

1) Sampai saat ini masih banyak aktivitas bimbingan dan konseling dibangun atas
pemahaman konsep individualisme, sehingga otonomi, kemerdekaan, dan keunikan
dipandang sangat penting. Konsep ini mengasumsikan bahwa setiap individu merupakan
elemen dasar dalam membangun masyarakat. Pepatah seperti “jadilah diri sendiri,”

77


JURNAL PENDIDIKAN
INSTITUT KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN (IKIP) PGRI BALI

“bersikaplah mandiri,” dan “jangan tergantung kepada orang lain” menunjukkan nilai-nilai
individualisme.
2) Secara umum para konselor konsisten dengan tradisi dan sejarah psikologi, yang
secara historis mencari fakta-fakta, prinsip-prinsip, dan hukum-hukum universal dalam
menjelaskan perilaku manusia.
3) Secara historis konselor telah mengabaikan studi mengenai identitas dalam tingkat
kelompok dengan berbagai alasan sosiopolitis dan normatif. Seperti yang teramati, isu
mengenai ras, gender, orientasi seksual, dan kecacatan seperti menyentuh semua aspek
kehidupan yang dapat mengangkat isu-isu penindasan dan ketidaknyamanan terhadap bias-
bias individu (Carter, 1995; Helms & Richardson, 1997; D.W. Sue et.al.,1998). Selain itu,
perbedaan etnis dan ras seringkali diinterpretasikan dari perspektif yang kurang, dan telah
disetarakan dengan menjadi abnormal dan patologis (Guthrie, 1997; Lee, 1993; White &
Parham, 1990).
Disiplin-disiplin ilmu yang memahami kondisi manusia tidak dapat mengabaikan
setiap tingkat identitasnya. Contohnya, penjelasan psikologis yang menunjukkan pentingnya
pengaruh kelompok seperti gender, ras, budaya, orientasi seksual, kelas sosioekonomi, dan
afiliasi agama dapat memberikan pemahaman yang lebih akurat. Kegagalan untuk
menunjukkan pengaruh-pengaruh dapat mendistorsi penemuan penelitian dan dapat
membawa pada kesimpulan yang bias mengenai perilaku manusia yang terikat kultural, kelas
soial, dan gender.

Ada sebuah pepatah orang Asia yang mengatakan bahwa: “Semua individu dalam
banyak hal adalah (a) tidak sama dengan individu lainnya, (b) sama seperti beberapa individu
lainnya, dan (c) sama dengan semua individu lainnya.” Pernyataan ini sepertinya
membingungkan dan bertentangan, namun orang-orang Asia percaya bahwa pepatah ini
memiliki kearifan dan benar adanya berkenaan dengan perkembangan dan identitas manusia.
Berkaitan dengan konsep tersebut D.W. Sue (2001) mengemukakan konsep Krangka Tiga
Pihak (Tripartite) yang bermanfaat dalam mengeksplor dan memahami formasi identitas
personal. Ketiga lingkaran konsentris yang diilustrasikan pada gambar 2.1 menunjukkan
tingkat identitas personal individual, kelompok, dan universal.

78


NOMOR 22 TAHUN XVIII Oktober 2017
ISSN 1907-3232

Tingkat Universal:
Homo Sapiens
n
a ka Pe
un n
l Tingkat Kelompok:

ga
im g
l- s n g
Persamaan dan Perbedaan

bo

la
bo me

man
S im ua n

la z
mp Gender Ras

im
a
Kem

Tingkat
Status Indiv idua l: Orientasi
Sosioekonomi Seksual
Keunikan
Turunan Genetis Status
Usia Pengalaman Perkawinan
Non kolektif
Pemilihan
Lokasi Agama
Geografis

Etnisitas Budaya

is
k log
Kemampuan/

si b io
Ketidakmampuan
an i
Ke
amaan f
sa rs D
da
ra n Pe
d ir i

Gambar 2.1. Perkembangan Tripartit (tiga pihak) Identitas Personal

Tingkat individual: “Dalam beberapa hal, semua individu tidak sama dengan individu
lainnya.” Pepatah tersebut ada benarnya bahwa tidak ada individu yang identik. Apa yang
diwariskan pada setiap manusia berbeda satu sama lainnya karena tidak ada dua individu yang
memiliki sifat genetis yang sama. Selain itu, keduanya tidak mengalami pengalaman yang
sama dalam lingkungannya. Bahkan dua orang yang kembar pun yang secara teori memiliki
kutub gen yang sama dan dibesarkan di keluarga yang sama memiliki pengalaman yang dapat
sama namun dapat juga berbeda. Penelitian menunjukkan bahwa karakteristik dan perilaku
psikologis lebih banyak dipengaruhi oleh pengalaman-pengalaman yang dialami langsung
oleh masing-masing individu daripada pengalaman kolektif (Plomin, 1989; Rutter, 1991)

Tingkat Kelompok: “Dalam beberapa hal, semua individu sama seperti beberapa
individu lainnya.” Seperti yang disebutkan sebelumnya, setiap diri kita dilahirkan dalam
sebuah matriks kultural dari kepercayaan, nilai-nilai, aturan-aturan, dan praktik-praktik sosial
(D. W. Sue, Ivey, & Pedersen, 1996). Berdasarkan atas perbedaan sosial, kultural, dan politik
yang diciptakan lingkungan, anggota kelompok menggunakan pengaruh yang kuat terhadap
bagaimana lingkungan memandang kelompok sosiodemografik dan terhadap bagaimana para
anggotanya memandang mereka sendiri dan orang lain (Atkinson, et.al., 1998). Penanda
79


JURNAL PENDIDIKAN
INSTITUT KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN (IKIP) PGRI BALI

setiap kelompok seperti ras dan gender relatif stabil dan hampir sedikit mengalami perubahan.
Beberapa penanda, seperti pendidikan, status sosioekonomi, status pernikahan, dan lokasi
geografis cenderung berubah-ubah dan tak tetap. Sementara etnis cukup stabil, beberapa
orang berpendapat bahwa etnis dapat juga berubah-ubah. Demikian juga, debat dan
kontroversi sering terjadi dalam diskusi mengenai apakah orientasi seksual ditentukan pada
saat lahir atau apakah kita harus membahas tentang seksualitas. Namun demikian,
keanggotaan dalam kelompok ini dapat menimbulkan pengalaman-pengalaman dan
karakteristik kolektif. Mereka dapat menjadi kelompok rujukan yang berpengaruh dalam
membentuk pandangan seluruh dunia.

Pada tingkat identitas kelompok, gambar 2.1 menunjukkan bahwa manusia dapat
digolongkan lebih dari satu kelompok kultural (seperti para wanita keturunan Asia Amerika
yang memiliki kecacatan), dan menunjukkan bahwa beberapa identitas kelompok dapat lebih
menonjol dibandingkan dengan yang lainnya (ras terhadap orientasi religius), dan
menunjukkan bahwa menonjolnya identitas kelompok kultural dapat berubah dari satu ke
yang lainnya tergantung situasi. Contohnya, seorang gay yang memiliki kecacatan dapat
menemukan bahwa identitas kecacatannya tersebut lebih menonjol diantara orang lain tetapi
orientasi seksualnya lebih menonjol diantara semua orang yang memiliki kecacatan juga.

Tingkat Universal: “Dalam beberapa hal, semua individu sama seperti individu
lainnya.” Karena kita semua adalah anggota ras manusia dan termasuk pada spesies homo
sapien, kita memiliki banyak kesamaan. Persamaan universal kita adalah (a) persamaan
biologis dan fisik, (b) pengalaman lazim (kelahiran, kematian, kasih sayang, kesedihan, dan
sebagainya), (c) kesadaran diri, dan (d) kemampuan menggunakan simbol-simbol seperti
bahasa.

B. Konsep Kecerdasan Kultural
Pengertian kultur atau budaya sangat beragam, ada yang mengatakan bahwa budaya
merupakan bagian dari kepribadian, sebagai sistem simbol dan norma individu (Kroeber &
Kluckholn; Rhner dalam Matsumoto, 2008:11). Sedangkan Matsumoto sendiri menjelaskan
bahwa kultur sebagai pemaknaan individu yang unik dan sistem informasi yang disebarkan
antarkelompok dan anatargenerasi untuk memperkokoh dan mempertahankan kehidupannya.
Penjelasan ini dapat diperhatikan dalam pernyataannya sebagai berikut: “culture as unique
meaning and information system, shared by a group and transmitted across genereration, that

80


NOMOR 22 TAHUN XVIII Oktober 2017
ISSN 1907-3232

allows the group to meet basic needs of survival, pursue happiness and well-being, and
derive meaning for life”.

Kecerdasan kultural merupakan suatu kesatuan antara keterampilan perilaku
interpersonal, kesadaran tentang diri sendiri dan orang lain serta pemahaman tentang ciri-ciri
kultur dalam lingkungannya. Hal ini dinyatakan Peterson (2004) sebagai berikut.: Knowledge
about Cultures ( fact and cultural traits) + Awareness (of your self and others) + Specific
Skills (behaviors) = Cultural Intelligence.

Berdasarkan pernyataan Peterson ini, kecerdasan kultural memiliki aspek-aspek
sebagai berikut. (1) terbuka (Open-mindedness), (2) sikap dan perilaku yang kaku (flexibility
with attitudes and behavior), (3) kemampuan penyesuaian diri (ability to adapt your
behavior), (4) menghargai perbedaan sikap (appreciation of differences, comfort with
uncertainly), (5) mempercayai kesepakatan (ability to trust when dealing with the unfamilier),
(6) tidak ingin menang sendiri, rendah hati (win-win attitude, humility, extroversion, (7)
kreatif, bijaksana, (creativity, tactfulness), (8) mau menghadapi tantangan (willingnes to have
your own views challenged), (9) memiliki otonomi (ability to make independent decisions
when you are far from your usual resources), (10) mampu hidup dalam keadaan berbeda
(being invigorated by differences), (11) mampu melihat situasi kekeluargaan (ability to see a
familiar situation from unfamiliar vantage points), (12) sensitif dengan situasi baru yang
berdeda (patience when you are not in control, ability to deal with the stress of new situations,
sensitivity to nuances of diferences), (13) respek kepada yang lain (respect for others), (14)
mau mengubah diri (willingness to change yourself as you learn and grow (versus changing
others to fit you), (15) empati (emphaty), dan (16) humoris (sense of humor).

C. Konsep Bimbingan dan Konseling Kultural
Bimbingan dan konseling kultural dapat didefinisikan sebagai sebuah proses layanan
yang menggunakan modalitas nilai-nilai kultural konseli, memahami identitas konseli sebagai
individu, individu dalam kelompok, dan secara universal, menggunakan strategi-strategi dan
peran-peran pentingnya individualisme dan kolektifisme dalam menilai, mendiagnosis, dan
men-treatment konseli (D. W. Sue)
Untuk memberikan layanan bimbingan dan konseling kepada konseli yang memiliki
kultur yang beragam, seorang konselor perlu memiliki kompetensi kultural.

81


JURNAL PENDIDIKAN
INSTITUT KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN (IKIP) PGRI BALI

Kompetensi kultural merupakan kemampuan bertindak dan atau menciptakan kondisi
yang memaksimalkan perkembangan sistem konseli sebagai individu, kelompok dan
universal secara optimal. Kompetensi konselor dalam bimbingan dan konseling kultural
didefinisikan sebagai pemahaman dan kesadaran konselor yang berfungsi secara efektif
dalam lingkungan yang demokratis. Ini berarti, konselor dituntut memiliki kemampuan
berkomunikasi, berinteraksi, bernegosiasi, dan bercampur tangan atas nama konseli yang
memiliki latar belakang yang berbeda, dan dalam tingkat organisasional lingkungan, yang
mendukung secara efektif untuk mengembangkan teori-teori, praktik-praktik, kebijakan-
kebijakan, dan struktur organisasi baru yang lebih responsif bagi semua kelompok (Sue:
2001).
D. Program Bimbingan dan Konseling Kultural
Bimbingan dan konseling kultural, pada adasarnya merupakan program bimbingan
dan konseling yang diselenggarakan sekolah untuk melayani atau membantu para siswa dalam
memahami, mengarahkan dan menyesuaikan diri dengan lingkungan kehidupannya sesuai
karakteristik dan kebutuhan perkembangannya. Perbedaannya dengan program bimbingan dan
konseling di sekolah yang selama ini dilaksanakan, yaitu berorientasi keragaman budaya atau
multikultural. Ini berarti bawa program bimbingan dan konseling kultural secara khusus
dilaksanakan pada sekolah dengan subjek layanan yang memiliki keragaman kultural atau
perbedaan budaya.

Impelementasi layanan bimbingan dan konseling kultural meliputi empat komponen,
yaitu (1) layanan dasar, (2) layanan responsif, (3) perencanaan individual, dan (4) dukungan
sistem.

1. Layanan Dasar

Layanan dasar merupakan proses pemberian bantuan kepada peserta didik secara
sistematis melalui kegiatan-kegiatan klasikal atau kelompok.

Layanan dasar bimbingan bertujuan membantu semua peserta didik agar mencapai
penyesuaian perilaku dengan lingkungan kehidupannya. Artinya semua peserta didik
memiliki kesempatan yang sama untuk memperoleh keterampilan dasar bagi kehidupannya.
Secara rinci tujuan layanan dasar bimbingan dirumuskan agar individu atau peserta didik: (a)
memiliki kesadaran (pemahaman) tentang diri dan lingkungannya (pendidikan, pekerjaan,
sosial-budaya, dan agama), (b) mampu mengembangkan keterampilan untuk

82


NOMOR 22 TAHUN XVIII Oktober 2017
ISSN 1907-3232

mengidentifikasi tanggung jawab atau seperangkat tingkah laku yang layak bagi penyesuaian
diri dengan lingkungannya, (c) mampu menangani atau memenuhi kebutuhan dan
masalahnya, dan (d) mampu mengembangkan dirinya sesuai dengan tuntutan kehidupannya.

Untuk mencapai tujuan tersebut, para peserta didik diberi materi layanan yang berkaitan
dengan aspek-aspek pribadi dan sosiokultural. Kesemuanya itu sebagai upaya membantu
peserta didik dalam mencapai penyesuaian diri dan lingkungannya. Karena itu pemberian
materi layanan harus disesuaikan dengan karakteristik dan kebutuhan perkembangan
individu dalam lingkungan kehidupannya. Dalam memberikan materi layanan dasar
bimbingan, konselor perlu kreatif untuk mencari sumber informasi yang secara kontekstual
sesuai dengan kebutuhan individu.

Layanan dasar bimbingan diberikan melalui jenis-jenis layanan pemberian informasi,
dan diskusi atau sharing pendapat (brain storming). Pemberian informasi dan diskusi ini
dalam pelaksanaannya mengacu kepada panduan atau paket bimbingan, dan bahan-bahan
lain yang relevan. Layanan informasi merupakan kegiatan yang dilakukan untuk membekali
peserta didik dengan pengetahuan tentang berbagai aspek kehidupan (perkembangan pribadi,
dan kehidupan sosial budaya) yang berguna bagi pengembangan diri, penyesuaian diri, dan
pengambilan keputusan. Sedangkan layanan diskusi atau curah pendapat, dapat memfasilitasi
para peserta didik untuk belajar menghargai pendapat orang lain, bersikap respek terhadap
orang lain, dan mengembangkan kepercayaan dirinya.

2. Layanan Responsif

Layanan responsif merupakan pemberian bantuan kepada individu atau peserta didik
yang memiliki masalah dan kebutuhan khusus yang memerlukan pertolongan konselor
dengan segera.

Layanan responsif bertujuan membantu peserta didik agar dapat memenuhi
kebutuhannya, dan memecahkan masalah yang dihadapinya, baik berupa hambatan atau
kegagalan dalam menyesuaiakan diri dengan lingkungannya.

Materi bimbingan dan konseling tergantung kepada masalah atau kebutuhan peserta
didik. Kebutuhan peserta didik berkaitan dengan keinginan mereka untuk memahami tentang
sesuatu norma, karena dipandang penting bagi perkembangan dirinya yang positif.

83


JURNAL PENDIDIKAN
INSTITUT KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN (IKIP) PGRI BALI

Kebutuhan itu seperti keinginan mereka untuk memperoleh informasi tentang pemahaman
dan penerimaan diri dan lingkungan.

Adapun masalah peserta didik berkaitan dengan berbagai hal yang dialami atau
dirasakan mengganggu kenyamanan hidupnya, atau menghambat perkembangan dirinya
yang positif, karena tidak terpenuhi kebutuhannya, atau gagal dalam mencapai penyesuaian
dirinya. Masalah peserta didik itu pada umumnya tidak mudah untuk diketahui secara
langsung, namun dapat dipahami dari gelaja-gejala perilaku yang ditampilkannya.

Masalah-masalah (gejala masalah) yang mungkin dialami peserta didik, di antaranya:
(1) tertutup (Open-mindedness), (2) sikap dan perilaku yang kaku; (3)
ketidakmampuan penyesuaian diri, (4) sulit menghargai perbedaan sikap, (5)
menghindari kesepakatan, (6) ingin menang sendiri, (7) otoriter, (8) takut menghadapi
tantangan, (9) susah hidup dalam keadaan berbeda, (12) sensitif dengan situasi baru yang
berdeda, (13) tidak respek kepada yang lain, (14) susah mengubah diri.

Melihat materi dan tujuan layanan responsif, maka fungsinya tidak seluruhnya kuratif
tetapi bisa juga berfungsi preventif dan bisa dilakukan dengan secara individual maupun
kelompok.

3. Layanan Perencanaan Individual

Layanan ini diartikan sebagai proses bantuan kepada peserta didik agar mampu
merumuskan dan melakukan aktivitas yang berkaitan dengan perencanaan masa depannya,
berdasarkan pemahaman akan kelebihan dan kekurangan dirinya, serta pemahaman akan
peluang dan kesempatan yang tersedia di lingkungannya.

Layanan perencanaan individual bertujuan membantu peserta didik agar (1) memiliki
pemahaman tentang diri dan lingkungannya; (2) mampu merumuskan tujuan, perencanaan,
atau pengelolaan terhadap perkembangan dirinya, baik menyangkut aspek pribadi maupun
sosial budayanya, sehinggadapat melakukan kegiatan berdasarkan pemahaman, tujuan, dan
rencana yang telah dirumuskannya.

Materi layanan perencanaan individual berkaitan erat dengan materi yang diberikan
pada layanan dasar bimbingan. Materi yang diberikan pada layanan dasar bimbingan dapat
membantu peserta didik untuk mamahami dirinya dan lingkungannya. Karena materi

84


NOMOR 22 TAHUN XVIII Oktober 2017
ISSN 1907-3232

bimbingan secara umum telah diberikan pada layanan dasar bimbingan, maka pada layanan
perencanaan individual kegiatan para peserta didik difokuskan kepada upaya menganalisis
kelebihan dan kekurangan dirinya. Kegiatan ini merupakan dasar untuk merumuskan
aktivitasnya dalam rangka mengembangkan atau memperbaiki sikap, minat/cita-cita,
pemahaman, atau perilakunya. Karena itu layanan perencanaan individual lebih berfungsi
pengembangan dan preventif.

Pelaksanaan layanan perencanaan individual dapat ditempuh melalui layanan
bimbingan pribadi atau konseling individual.

4. Dukungan Sistem

Ketiga komponen struktur layanan yang telah dikemukakan merupakan pemberian
layanan bimbingan dan konseling kepada peserta didik secara langsung. Sedangkan
dukungan sistem merupakan komponen layanan yang tidak langsung, yang kegiatannya
meliputi (1) pemberian layanan, dan (2) kegiatan manajemen.

Pemberian layanan menyangkut (1) konsultasi dengan guru-guru, (2)
konsultasi/kerjasama dengan orang tua/ masyarakat, (3) berpartisipasi dalam merencanakan
kegiatan-kegiatan sekolah, dan (4) melakukan penelitian. Adapun kegiatan manajemen
berkaitan dengan berbagai upaya untuk memantapkan, memelihara, dan meningkatkan mutu
program dan pelaksanaan bimbingan dan konseling melalui: (1) pengembangan program dan
staf; (2) pemanfaatan sumber daya masyarakat; dan (3) pengembangan penataan kebijakan.

Penutup

Berdasarkan kajian di tas maka dapat disimpulakn sebagai mana berikut. Bahwa :
Pertama, Manusia dipandang sebagai individu yang sedang berada dalam proses berkembang
atau menjadi (becoming), yaitu berkembang ke arah kematangan atau kemandirian. Di
samping itu, terdapat suatu keniscayaan bahwa proses perkembangan individu tidak selalu
berlangsung secara mulus, atau steril dari masalah, sehingga tidak jarang perubahan
lingkungan mempengaruhi perkembangan pola perilaku atau gaya hidup individu sebagian
manusia yang cenderung menyimpang.

Kedua, Perkembangan manusia tidak lepas dari pengaruh lingkungan, baik fisik,
psikis, maupun sosial dan kulturnya. Perubahan yang terjadi dalam lingkungan, dapat
mempengaruhi gaya hidup (life style) manusia sebagai bagian dari warga masyarakat. Artinya

85


JURNAL PENDIDIKAN
INSTITUT KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN (IKIP) PGRI BALI

apa yang berlaku pada suatu lingkungan masyarakat tertentu akan mempengaruhi perilaku
atau gaya hidup masyarakat yang berada di dalamnya dan mungkin akan membedakan dengan
perilaku masyarakat lain yang berada pada lingkungan lainnya. Apa yang dianggap normal
dan wajar dalam suatu lingkungan masyarakat tertentu belum tentu demikian dalam
masyarakat yang lain.

Ketiga, Terjadinya beberapa peristiwa negatif saat ini, seperti tawuran antarkelompok,
antardaerah, antarkampung, bahkan dalam lingkungan pendidikan, seperti antarsekolah serta
perseteruan antarsuku, seperti terjadi di Maluku, Kalimantan Timur, Nusa Tenggara Timur
dan Bali merupakan bukti akibat adanya perbedaan sikap, pandangan, dan pemahaman antar
lingkungan masyarakat yang berbeda.

Keempat, Salah satu kekuatan sumber daya manusia yang dibutuhkan dalam
menyikapi, memahami, dan menyesuaikan diri secara positif terhadap semua perbedaan dan
keragaman budaya (culture) dalam suatu masyarakat dan bangsa adalah kecerdasan kultural
(cultural inteligence).

Kelima, proses pendidikan termasuk layanan bimbingan dan konseling yang
dilaksanakan pada pendidikan formal ataupun non formal hendaknya menempuh dua sisi yang
saling melengkapi. Pada satu sisi layanan bimbingan dan konseling harus memfasilitasi
individu dalam memahami orang lain dan lingkungannya, sedangkan sisi selanjutnya
bimbingan dan konseling harus memfasilitasi pengalaman-pengalaman individu dalam
bekerjasama dengan orang lain untuk mencapai tujuan bersama sepanjang hayat. Proses
layanan bimbingan dan konseling seperti ini merupakan cara yang tepat untuk menghindari
perselisihan-perselisihan yang tersembunyi.

Keenam, Individu yang memiliki kecerdasan kultural, akan paham bagaimana harus
bersikap dan berperilaku pada posisinya. Artinya orang yang memiliki kecerdasan kultural
tinggi akan mampu memahami siapakah dirinya, di mana tempatnya, harmonis dalam
berinteraksi dengan orang lain, dan selaras dengan lingkungannya,

Ketujuh, Dalam melayani siswa seorang konselor harus sensitif atau tida dapat
mengabaikan kondisi manusia dengan tingkat identitasnya. Artinya, pengaruh kelompok
seperti gender, ras, budaya, orientasi seksual, kelas sosioekonomi, dan afiliasi agama perlu
dipahami konselor secara akurat.

86


NOMOR 22 TAHUN XVIII Oktober 2017
ISSN 1907-3232

Kedelapan, Bimbingan dan konseling kultural dalam implementasinya meliputi
layanan dasar, perencanaan individual, layanan responsif dan dukungan system.

Daftar Rujukan
Matsumoto, David & Linda Juang. (2008). Culture & Psychology, 4th edition: USA.
Thomson Higher Educations.

David, Sue & Derald Wing Sue. (2003). Counseling the Culturally Diverse; theory and
Practice: Canada. Jhon Willey & Sons.

Departemen Pendidikan Nasional, Universitas Pendidikan Indonesia. (2000), Pedoman
Penulisan Karya Ilmiah (Laporan Buku, Makalah, Skripsi, Tesis, Disertasi), Bandung:
UPI.

Furqon, (2002). Statistik Terapan untuk Penelitian. Bandung: Alfabeta.

Paterson, Brooks. (2004). Cultural Intelligence. USA: Incultural Press.

Suherman AS.,U, (2006), Pendekatan Konseling Qur’ani Untuk Mengembangkan
Keterampilan Hubungan Sosial, Disertasi, Bandung: Sekolah Pascasarjana Universitas
Pendidikan Indonesia.

Suyono, H , (2007). Social Inteligence. Jogyakarta: Ar-Ruzz Media.

87


JURNAL PENDIDIKAN
INSTITUT KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN (IKIP) PGRI BALI

PENGEMBANGAN PEMBELAJARAN MATEMATIKA PEUBAH BANYAK
DENGAN PENDIDIKAN MATEMATIKA REALISTIK BERORIENTASI BLENDED
LEARNING

I Wayan Sumandya
ABSTRACT

This study aims to acquire multiple learning tools of mathematics with
Blended Learning Realistic Blended Learning Mathematics that is of valid, practical,
and effective quality for students and lecturers. The learning tools developed in this
study are the Student Book and Lecturer Handbook, and the Course Teaching Unit.
Subjects used in this study is tailored to the stages of research, the technique of taking
the sample using purposive sampling and this study was conducted in the Department
of Mathematics Education IKIP PGRI Bali. The results achieved in this study are
characteristic of many variables Learning Mathematics that is: (1) using contextual
problem; (2) using a mathematical model; (3) construction of student knowledge; (4)
student interaction; (5) interrelationship with other disciplines; (6) the combination of
online and offline learning, along with the characteristics of learning tools that are
valid, practical, and effective in accordance with realistic blended learning
mathematics education are: (1) learning that begins with realistic problems; (2) there
are instructions for use, concept maps, learning objectives and activities in learning
tools always invite students to be active.
Keywords: Realistic Mathematics Education, Blended Learning

PENDAHULUAN

Sudiarta (2012) menyatakan, pembelajaran matematika harus memberikan kesempatan
kepada mahasiswa untuk membangun koneksi matematika yaitu (keterhubungan) antar
berbagai konsep-konsep matematika, maupun dengan konsep-konsep cabang ilmu lain serta
dengan kehidupan sehari-hari, sehingga mahasiswa dapat: (1) melihat matematika secara
integrasi keseluruhan; (2) mengeksplorasi masalah matematika, mendeskripsikan hasilnya
dengan berbagai jenis representasi, seperti grafis numeris, phisis, aljebrais, maupun
representasi verbal; (3) menggunakan ide matematika untuk memperluas dan memperdalam
pemahaman terhadap konsep dan ide matematika lainya, maupun ide dan konsep berkaitan
pada cabang ilmu lainnya; (4) menggunakan proses berpikir dan ketrampilan modeling
matematis untuk memecahkan masalah-masalah yang ada pada cabang ilmu lainnya seperti
seni, musik, psikologi, ekonomi, sains, dan sebagainya; (5) menghargai peranan matematika
dalam budaya dan masyarakat.

88


NOMOR 22 TAHUN XVIII Oktober 2017
ISSN 1907-3232

Dalam mempelajari matematika, mahasiswa tidak hanya bergantung pada apa yang
diajarkan, tetapi juga bagaimana matematika itu dibelajarkan, atau bagaimana mahasiswa
belajar dalam pembelajaran matematika. Salah satu pembelajaran matematika yang
menghubungkan permasalahan matematika dengan permasalahan kontekstual adalah
pendidikan matematika realistik (Sembiring, 2008). Pendidikan matematika realistik ini
dikembangkan oleh Institut Freudenthal sejak tahun 1971 yang dikenal dengan nama RME
(Realistic Mathematics Education) dengan ide bahwa matematika adalah aktivitas manusia
dan matematika harus dihubungkan dengan masalah kontekstual, dimana masalah kontekstual
digunakan sebagai titik awal untuk pengembangan ide dan konsep matematika.

Disamping dengan pendidikan matematika realistik, setiap individu mahasiswa
memerlukan cara yang berbeda untuk memahami apa yang telah dipelajari. Wasis (2011)
menyatakan pembelajaran yang menggabungkan berbagai cara dalam proses pembelajaran
adalah pembelajaran blended learning. Sesuai namanya, pembelajaran blended learning
adalah pembelajaran yang memadukan pembelajaran online dan pembelajaran offline secara
harmonis (Wasis, 2011). Keuntungan yang diperoleh melalui penerapan pembelajaran
blended learning adalah meningkatkan kreativitas, meningkatkan akses dan fleksibilitas,
karena selain melaksanakan pembelajaran offline mahasiswa juga diberikan kesempatan
belajar secara online (Wasis, 2011). Berdasarkan keuntungan tersebut pembelajaran blended
learning merupakan pembelajaran yang baik diterapkan di perguruan tinggi.

Dari apa yang sudah diuraikan di atas, penulis mengadakan suatu penelitian desain yang
berjudul: Pengembangan Pembelajaran Matematika Peubah Banyak dengan Pendidikan
Matematika Realistik Berorientasi Blended Learning (PMRBBL). Dalam penelitian ini,
penulis mengembangkan suatu perangkat pembelajaran Matematika Peubah Banyak. Adapun
perangkat yang dikembangkan adalah Buku Mahasiswa, Buku Petunjuk Dosen dan Satuan
Acara Perkuliahan.

METODE

Jenis penelitian yang digunakan dalam penelitian ini adalah penelitian desain, dan dalam
penelitian ini dikembangkan perangkat pembelajaran Matematika Peubah Banyak dengan
pendidikan matematika realistik berorientasi blended learning. Produk yang dihasilkan dalam
penelitian ini adalah karakteristik pembelajaran Matematika Peubah Banyak dengan

89


JURNAL PENDIDIKAN
INSTITUT KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN (IKIP) PGRI BALI

PMRBBL serta karakteristik perangkat pembelajaran yang praktis dan efektif yang sesuai
dengan PMRBBL.

Penelitian ini dilaksanakan di Jurusan Pendidikan Matematika IKIP PGRI Bali tahun
pelajaran 2016/2017. Subjek yang digunakan dalam penelitian ini adalah disesuaikan dengan
tahapan-tahapan penelitian, teknik pengambilannya menggunakan purposive sampling. Tahap
desain hingga realisasi draf I tentang perangkat pembelajaran yang dikembangkan
dilaksanakan Nopember dan Desember Tahun 2016. Selanjutnya proses validasi dan revisi
dilaksanakan pada bulan Januari 2017 sehingga diperoleh draf II. Uji coba perangkat
pembelajaran dilaksanakan pada bulan Februari-Juli 2017, sehingga diperoleh poduk final.

Kualitas perangkat pembelajaran yang dikembangkan dalam penelitian ini akan dinilai
dari tiga aspek yaitu, validitas, kepraktisan, dan efektivitas. Berkaitan dengan hal tersebut,
maka dalam penelitian ini untuk melihat kualitas perangkat pembelajaran yang dikembangkan
diperlukan data yang berkaitan dengan validitas, kepraktisan, dan efektivitas tentang
perangkat pembelajaran tersebut.

Validitas perangkat pembelajaran diukur dari validitas isi dan validitas konstruks.
Validitas isi dilihat dari proses pengembangan dari kesesuaian perangkat pembelajaran yang
dikembangkan dengan teori yang mendukung. Dalam penelitian ini validitas konstruks dilihat
berdasarkan keterkaitan dan kesesuaian komponen yang ada dalam perangkat pembelajaran
dengan teori pembelajaran yang dipakai sebagai landasan. Validitas konstruks dari perangkat
pembelajaran ini ditentukan berdasarkan pendapat pakar dari Universitas Ganesha Singaraja.
Untuk menguji validitas konstruks, masing-masing pakar diberikan lembar validitas, dimana
pada lembar validitas tersebut memuat beberapa aspek yang meliputi: karkateristik perangkat
pembelajaran dan isi perangkat pembelajaran. Dalam lembar validasi pendapat validator
dikategorikan menjadi empat skala penilaian, yaitu: sangat baik (skor 4), baik (skor 3), kurang
(skor 2), sangat kurang (skor 1). Masing-masing pakar kemudian menilai seberapa besar
kesesuaian antara perangkat pembelajaran dan aspek-aspek yang terdapat pada lembar
validasi, dengan mencentang salah satu skala penilaian yang tertera pada kolom lembar
validasi. Untuk melihat validasi konstruks perangkat pembelajaran yang dikembangkan
dilakukan langkah-langkah sebagai berikut, skor yang diperoleh: (1) terlebih dahulu
ditentukan rata-rata yang diperoleh dari pendapat masing-masing validator; (2) Rata-rata skor
yang diperoleh dari masing-masing validator dijumlahkan, dan kemudian dirata-ratakan
kembali sampai diperoleh rata-rata skor total; (2) Validitas perangkat pembelajaran ditentukan
90


NOMOR 22 TAHUN XVIII Oktober 2017
ISSN 1907-3232

dengan mengkonversi rata-rata skor total menjadi nilai kualitatif dengan menggunakan
kriteria berikut (Sadra, 2007).

Tabel 01. Kriteria Kevalidan Perangkat Pembelajaran

Skor Kriteria
3,5 ≤ Sr ≤ 4,0 Sangat valid
2,5 ≤ Sr < 3,5 Valid
1,5 ≤ Sr < 2,5 Tidak valid
1,00 ≤ Sr < 1,5 Sangat tidak valid
Kepraktisan perangkat pembelajaran diukur berdasarkan keterlaksanaan perangkat
pembelajaran di kelas. Data mengenai kepraktisan perangkat pembelajaran yang
dikembangkan diperoleh dari hasil pengamatan keterlaksanaan perangkat pembelajaran pada
saat pembelajaran berlangsung, angket respons dosen terhadap perangkat pembelajaran (Buku
Mahasiswa, Buku Petunjuk Dosen dan SAP), serta angket respons mahasiswa terhadap
perangkat pembelajaran (Buku Mahasiswa) diberikan setelah kegiatan pembelajaran.
Pengamatan keterlaksanaan perangkat pembelajaran dilakukan dengan mengamati tiap-tiap
aspek yang terdapat pada lembar pengamatan pada tiap pertemuan. Dalam lembar
pengamatan keterlaksanaan pembelajaran, lembar respons dosen, dan lembar respons
mahasiswa penilainnya dikategorikan, menjadi empat skala penilaian, yaitu: sangat baik (skor
4), baik (skor 3), kurang (skor 2), sangat kurang (skor 1). Dimana penilaian pada masing-
masing aspek yang diamati dilakukan dengan mencentang satu skala penilaian yang telah
tersedia pada kolom lembar tesebut. Angket respons dosen dan angket respons mahasiswa
masing-masing diberikan kepada para dosen dan mahasiswa di akhir kegiatan uji coba. Baik
buruknya respons dosen maupun respons mahasiswa dapat dilihat dari skala penilaian yang
dicentang pada masing-masing aspek yang terdapat pada angket tersebut.

Data yang diperoleh kemudian dianalisis dan untuk melihat nilai kepraktisan perangkat
pembelajaran yang dikembangkan, nilai rata-rata skor yang diperoleh dikonversikan
berdasarkan kriteria sebagai berikut (Sadra, 2007).

Tabel 02. Kriteria Kepraktisan Perangkat Pembelajaran

Skor Kriteria
3,5 ≤ Sr ≤ 4,0 Sangat praktis

91


JURNAL PENDIDIKAN
INSTITUT KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN (IKIP) PGRI BALI

2,5 ≤ Sr < 3,5 Praktis
1,5 ≤ Sr < 2,5 Tidak praktis
1,00 ≤ Sr < 1,5 Sangat tidak praktis

Efektivitas perangkat pembelajaran diukur berdasarkan ketercapaian tujuan
pembelajaran yang menggunakan perangkat pembelajaran yang dikembangkan. Untuk
menilai keefektipan perangkat pembelajaran dilakukan dengan mengumpulkan data melalui
aktivitas mahasiswa pada setiap pertemuan dan skor tes hasil belajar yang diberikan kepada
mahasiswa setelah mengikuti kegiatan pembelajaran dengan perangkat pembelajaran yang
telah dikembangkan dengan menggunakan tes hasil belajar berbentuk soal uraian. Pada
lembar aktivitas mahasiswa penilainnya dikategorikan menjadi empat skala penilaian, yaitu:
sangat baik (skor 4), baik (skor 3), kurang (skor 2), sangat kurang (skor 1). Masing-masing
aspek yang diamati pada lembar aktivitas mahasiswa terdiri empat deskriptor. Penilaian
pengamatan aktivitas mahasiswa dapat dilihat berdasarkan seberapa banyak deskriptor yang
muncul dari masing-masing aspek yang diamati selama mengikuti kegiatan pembelajaran
tersebut.
Untuk melihat nilai keefektifan perangkat pembelajaran yang dikembangkan
berdasarkan data tes hasil belajar, maka data tersebut dikonversikan berdasarkan kriteria
sebagai berikut.

Tabel 03. Kriteria Tes Hasil Belajar

Skor Kriteria
X < 76,00 Kurang
X ≥ 76,00 Baik
Data yang diperoleh dari hasil pengamatan terhadap aktivitas mahasiswa selama kegiatan
pembelajaran juga dianalisis untuk menilai efektivitas perangkat pembelajaran yang
dikembangkan, nilai rata-rata skor yang diperoleh dikonversikan berdasarkan kriteria berikut
(Sadra, 2007).

Tabel 04. Kriteria Aktivitas Mahasiswa Selama Pembelajaran

Skor Kriteria
3,5 ≤ Sr ≤ 4,0 Sangat aktif

92


NOMOR 22 TAHUN XVIII Oktober 2017
ISSN 1907-3232

2,5 ≤ Sr < 3,5 Aktif
1,5 ≤ Sr < 2,5 Tidak aktif
1,00 ≤ Sr < 1,5 Sangat tidak aktif

HASIL DAN PEMBAHASAN

Validitas Perangkat Pembelajaran

Validator yang melakukan validasi terhadap perangkat pembelajaran yang
dikembangkan terdiri dari dua orang ahli yaitu: Prof. Dr. I Gusti Putu Suharta, M.Si dan Prof.
Dr. I Made Ardana, M.Pd yang merupakan pakar berasal dari Universitas Pendidikan Genesha
Singaraja. Adapun skor rata-rata hasil validasi.

Tabel 05. Rekapitulasi Validitas Perangkat Pembelajaran

No. Perangkat pembelajaran Rata-rata Kriteria
1. Buku Mahasiswa 3,4 Valid
2. Buku Petunjuk Dosen 3,3 Valid
3. Satuan Acara Perkuliahan 3,4 Valid

Berdasarkan tabel di atas, dapat diketahui bahwa semua perangkat pembelajaran yang
telah dibuat sudah memenuhi aspek kevalidan. Hal ini ditunjukkan pada nilai rata-rata Buku
Mahasiswa 3,4 yang menunjukkan bahwa buku mahasiswa memiliki kreteria valid. Buku
Petunjuk Dosen dan SAP mendapatkan nilai rata-rata 3,3 dan 3,4 yang mengindikasikan
bahwa kedua perangkat pembelajaran itu juga memenuhi kreteria Valid.
Kepraktisan Perangkat Pembelajaran
Kepraktisan perangkat pembelajaran dalam penelitian ini dinilai berdasarkan pada
keterlaksanaan pembelajaran menggunakan perangkat pembelajaran yang dikembangkan
selama kegiatan pembelajaran matematika berlangsung di kelas. Adapun instrumen yang
digunakan untuk menilai kepraktisan perangkat pembelajaran adalah lembar pengamatan
keterlaksanaan perangkat pembelajaran dalam pembelajaran pada tiap pertemuan, angket
respons mahasiswa terhadap perangkat pembelajaran (Buku Mahasiswa) dan angket respons
dosen terhadap perangkat pembelajaran (Buku Mahasiswa, Buku Petunjuk Dosen, dan SAP)
yang dinilai di akhir kegiatan uji coba.

93


JURNAL PENDIDIKAN
INSTITUT KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN (IKIP) PGRI BALI

Pengamatan keterlaksanaan perangkat pembelajaran diamati oleh dua orang pengamat,
dimana pengamat I merupakan ketua jurusan pendidikan matematika IKIP PGRI Bali,
sedangkan pengamat II adalah peneliti sendiri. Rekapitulasi mengenai hasil pengamatan
keterlaksanaan perangkat pembelajaran dalam pembelajaran disajikan pada tabel berikut.

Tabel 06. Rekpitulasi Data Hasil Pengamatan Perangkat Pembelajaran

No. Pengamatan Pengamat 1 Pengamat 2 Total Kriteria
1. Uji Coba Terbatas 2,5 2,6 2,5 Praktis
2. Uji Coba Lapangan 1 3,2 3,3 3,2 Praktis
3. Uji Coba Lapangan 2 3,6 3,5 3,6 Sangat Praktis

Berdasarkan tabel di atas dapat dianalisis bahwa terjadi peningkatan nilai rata-rata skor
mulai dari uji coba terbatas hingga uji coba lapangan 2. Dalam penelitian ini, uji coba hanya
dilakukan sampai uji coba lapangan 2. Terlihat bahwa skor rata-rata pengamatan
keterlaksanaan pembelajaran pada uji coba terbatas sebesar 2,5 jadi perangkat pembelajaran
yang dikembangkan termasuk dalam kriteria praktis, pada uji coba lapangan 1 sebesar 3,2
perangkat pembelajaran yang dikembangkan termasuk dalam kriteria praktis, sedangkan skor
rata-rata pada uji coba lapangan 2 diperoleh sebesar 3,6 hal ini mengindikasikan perangkat
pembelajaran yang dikembangkan termasuk kriteria sangat praktis. Data mengenai respons
mahasiswa diisi oleh 6 orang mahasiswa pada uji coba terbatas, 25 mahasiswa pada uji coba
lapangan 1, dan 25 orang mahasiswa pada uji coba lapangan 2. Adapun rekapitulasi mengenai
respons mahasiswa terhadap perangkat pembelajaran disajikan pada tabel berikut.

Tabel 07. Rekpitulasi Data Respons Mahasiswa Terhadap Perangkat Pembelajaran

No. Rata- Kriteria
Pengamatan
Rata
1. Uji Coba Terbatas 2,9 Praktis
2. Uji Coba Lapangan 1 3,2 Praktis
3. Uji Coba Lapangan 2 3,4 Praktis

Berdasarkan tabel di atas dapat dianalisis bahwa terjadi peningkatan nilai rata-rata mulai
dari uji coba terbatas hingga uji coba lapangan 2. Terlihat bahawa skor rata-rata respons

94


NOMOR 22 TAHUN XVIII Oktober 2017
ISSN 1907-3232

mahasiswa terhadap perangkat pembelajaran pada uji coba terbatas, uji coba lapangan 1 dan
uji coba lapangan 2 terletak pada interval 2,5 ≤ Sr < 3,5 hal ini mengindikasikan perangkat
pembelajaran yang dikembangkan termasuk kriteri praktis. Data mengenai respons dosen
terhadap perangkat pembelajaran diisi oleh dosen yang melaksanakan pembalajaran saat uji
coba terbatas, uji coba lapangan 1, dan uji coba lapangan 2. Adapun rekapitulasi mengenai
respons dosen terhadap perangkat pembelajaran disajikan pada tabel berikut.

Tabel 08. Rekpitulasi Data Respons Dosen Terhadap Perangkat Pembelajaran

No. Rata- Kriteria
Pengamatan
Rata
1. Uji Coba Terbatas 3,1 Praktis
2. Uji Coba Lapangan 1 3,5 Praktis
3. Uji Coba Lapangan 2 3,6 Sangat Praktis

Berdasarkan tabel di atas dapat dianalisis bahwa terjadi peningkatan nilai rata-rata mulai
dari uji coba terbatas hingga uji coba lapangan 2. Terlihat bahawa skor rata-rata respons dosen
terhadap perangkat pembelajaran pada uji coba terbatas sebesar 3,1 hal ini mengindikasikan
perangkat pembelajaran yang dikembangakan termasuk kriteria praktis, sedangkan uji coba
lapangan 1 dan uji coba lapangan 2 skor rata-rata respons dosen terhadap perangkat
pembelajaran terletak pada interval 3,5 ≤ Sr ≤ 4,0 ini mengindikasikan bahwa perangkat
pembelajaran yang dikembangakan menurut respons dosen termasuk keriteria sangat prakatis.
Efektivitas Perangkat Pembelajaran
Untuk menilai keefektifan terhadap perangkat pembelajaran yang dikembangkan
dilakukan dengan menggunakan asesmen yang sesuai dengan karakteristik dalam pendidikan
matematika realistik yang berorientasi blended learning. Sesuai dengan penjelasan pada
kajian teori, asesmen dalam pembelajaran matematika realistik yang berorientasi blended
learning dilakukan selama kegiatan pembelajaran berlangsung dan penilain hasil belajar
dilakukan tiap akhir uji coba. Pengamatan dilakukan selama proses pembelajaran berlangsung
oleh ketua jurusan pendidikan matematika IKIP PGRI Bali dan peneliti mengenai aktivitas
mahasiswa selama kegiatan pembelajaran. Sedangkan tes hasil belajar diberikan setiap akhir
kegiatan uji coba dengan materi yang diujikan mencakup keseluruhan tentang Matematika
Peubah Banyak. Masing-masing kegiatan asesmen tersebut diuraikan sebagai berikut.

95


JURNAL PENDIDIKAN
INSTITUT KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN (IKIP) PGRI BALI

Aktivitas mahasiswa diamati oleh 2 orang pengamat, dimana pengamat 1 merupakan
ketua jurusan pendidikan matematika IKIP PGRI Bali dan pengamat 2 adalah peneliti.
Pengamatan dilakukan selama kegiatan pembelajaran pada masing-masing pertemuan dan
rangkuman skor rata-rata dari kedua pengamat dapat dilihat pada tabel berikut.

Tabel 09 Rekpitulasi Data Hasil Pengamatan Aktivitas Mahasiswa Selama Pembelajaran

No. Pengamatan Pengamat 1 Pengamat 2 Total Kriteria
1. Uji Coba Terbatas 3,5 3,3 3,4 Praktis
2. Uji Coba Lapangan 1 3,5 3,4 3,4 Praktis
3. Uji Coba Lapangan 2 3,6 3,6 3,6 Sangat Praktis
Berdasarkan tabel di atas terlihat bahwa pada uji coba terbatas dan uji coba lapangan 1
skor rata-rata berada pada rentang 2,5 ≤ Sr < 3,5, maka aktivitas mahasiswa selama
pembelajaran termasuk kriteria aktif, hal ini menunjukkan bahwa perangkat pembelajaran
yang diterapkan mampu membuat mahasiswa aktif dalam mengikuti pembelajaran.
Sedangkan pada uji coba lapangan 2 skor rata-rata berada pada rentang 3,5 ≤ Sr ≤ 4,0 maka,
aktivitas mahasiswa selama pembelajaran termasuk kriteria sangat aktif, hal ini menunjukkan
bahwa perangkat pembelajaran yang diterapakan dalam pembelajaran secara keseluruhan
mampu meningkatkan aktivitas mahasiswa dalam pembelajaran.
Rangkuman skor tes hasil belajar mahasiswa setelah mengikuti pembelajaran dengan
menggunakan perangkat pembelajaran yang telah dikembangkan dalam penelitian ini baik
pada uji coba terbatas, uji coba lapangan 1, maupun uji coba lapangan 2 secara keseluruhan
disajikan pada tabel berikut.

Tabel 10. Rekpitulasi Data Tes Hasil Belajar

Skor
No. Pengamatan Interval Persentase
Mahasiswa
X < 76 0 0%
1. Uji coba terbatas
X ≥ 76 6 100%
X < 76 0 0%
2. Uji coba lapangan 1
X ≥ 76 25 100%
X < 76 0 0%
3. Uji coba lapangan 2
X ≥ 76 25 100%

96


NOMOR 22 TAHUN XVIII Oktober 2017
ISSN 1907-3232

Jika X < 76 maka kriterianya kurang baik sebaliknya jika X ≥ 76 maka termasuk kriteria
baik.
Berdasarkan tabel di atas dapat diketahui bahwa tidak ada satupun mahasiswa yang
mendapatkan nilai di bawah 76, maka dapat disimpulkan bahwa seluruh mahasiswa yang
dijadikan sebagai sampel penelitian dinyatakan tuntas. Nilai rata-rata yang diperoleh seluruh
mahasiswa pada pada uji coba terbatas sebesar 82,5, rata-rata pada uji coba lapangan 1
sebesar 83,2 dan rata-rata pada uji coba lapangan 2 sebesar 87,6.
Berdasarkan hasil pengamatan aktivitas mahasiswa selama kegiatan pembelajaran dan
berdasarkan skor tes hasil belajar yang diperoleh masing-masing mahasiswa baik dalam uji
coba terbatas, uji coba lapangan 1, maupun uji coba lapangan 2 dapat disimpulkan bahwa
perangkat pembelajaran yang dikembangkan telah memenuhi kriteria keefektifan karena
mampu meningkatkan aktivitas mahasiswa dan hasil belajar mahasiswa selama kegiatan uji
coba berlangsung.
Adapun karakteristik pembelajaran Matematika Peubah Banyak dengan menggunakan
PMRBBL yang diperoleh dalam penelitian ini adalah: (1) menggunakan masalah kontekstual,
yang memiliki pengertian bahwa pembelajaran diawali dengan menggunakan masalah
kontekstual (dunia nyata) atau pengalaman sehari-hari mahasiswa, tidak memulai dengan
sistem formal; (2) menggunakan model, yang memiliki pengertian bahwa istilah model
berkaitan dengan model situasi dan model matematika yang dikembangkan oleh mahasiswa
sendiri; (3) produksi dan konstruksi mahasiswa, yang memiliki pengertian bahwa pendidikan
matematika realistik adalah menggunakan masalah kontekstual sebagai pangkal tolak
pembelajaran; (4) interaksi, yang memiliki pengertian bahwa filosofi dari pendidikan
matematika realistik adalah memandang matematika sebagai aktivitas manusia; (5)
keterkaitan, yang memiliki pengertian bahwa jika dalam pembelajaran mengabaikan
keterkaitan dengan bidang yang lain, maka hal ini berpengaruh pada pemecahan masalah; (6)
pembelajaran yang menggabungkan berbagai model pembelajaran, metode pembelajaran,
serta media pembelajaran yang berorientasi teknologi; (7) kombinasi pembelajaran offline
(face to face) dan belajar online.
Sedangkan karakteristik perangkat pembelajaran yang valid, praktis, dan efektif yang
sesuai dengan PMRBBL yang dieroleh dalam penelitian ini adalah: (1) karakteristik Buku
Mahasiswa: pembelajaran di awali dengan permasalahan realistik, terdapat petunjuk
penggunaan buku, peta konsep, tujuan pembelajaran, dan kegiatan-kegiatan dalam buku ini
mengajak mahasiswa untuk selalu aktif; (2) karakteristik Buku Petunjuk Dosen: adanya

97


JURNAL PENDIDIKAN
INSTITUT KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN (IKIP) PGRI BALI

pendahuluan yang mengambarkan isi buku, adanya peta konsep, petunjuk penggunaan buku,
petunjuk pelaksanaan pembelajaran, terdapat seluruh isi buku mahasiswa sehingga dalam
pembelajaran dosen tidak perlu membawa buku mahasiswa, dan terdapat kunci jawaban
sesuai dengan permasalahan pada buku mahasiswa; (3) karakteristik Satuan Acara
Perkuliahan: adanya peta konsep, indentitas SAP, alokasi waktu, tujuan pembelajaran, nilai
karakter, materi pembelajaran sesuai dengan buku mahasiswa, metode pembelajaran
(Pendidikan Matematika Realistik Berorientasi Blended Learning), langkah-langkah
pembelajaran (sesuai dengan karakteristik PMRBBL), sumber belajar (Buku Mahasiswa dan
Internet), alat belajar, instrumen penilaian, kunci jawaban dari instrumen penilaian, pedoman
penskoran, dan tidak lanjut setelah pembelajaran.
SIMPULAN
Adapun simpulan dari penelitian ini adalah: (1) peneliti telah berhasil memperoleh
karakteristik Pembelajaran Matematika Peubah Banyak dengan Pendidikan Matematika
Realistik Berorientasi Blended Learning; dan (2) peneliti telah berhasil memperoleh
karakteristik perangkat pembelajaran Matematika Peubah Banyak yang valid, praktis, dan
efektif yang sesuai dengan Pendidikan Matematika Realistik Berorientasi Blended Learning,
dimana dalam proses pengembangannya telah mengikuti prosedur pengembangan Plomp
yaitu Plomp 2010.
SARAN
Adapun saran yang disampaikan dalam penelitian ini adalah: (1) perangkat
pembelajaran yang dihasilkan masih perlu diujicobakan di perguruan tinggi lain dengan
berbagai kondisi agar diperoleh perangkat pembelajaran yang benar-benar berkualitas; (2)
bagi pihak yang ingin menerapkan perangkat pembelajaran yang telah dikembangkan dalam
penelitian ini, maka sebisa mungkin dianalisis kembali untuk disesuaikan penerapannya,
terutama dalam penyediaan sarana dan prasarana serta karakteristik mahasiswa yang ada pada
perguruan tinggi tempat perangkat pembelajaran ini akan diterapkan; (3) pembelajaran
matematika peubah banyak sebisa mungkin menggunakan permasalahan matematika realistik,
agar mahasiswa dapat menyelesaikan permasalahan realistik yang akan dihadapi sehingga
pembelajaran akan menjadi lebih bermakna bagi mahasiswa; (4) pembelajaran di diperguruan
tinggi sebisa mungkin memanfaatkan teknologi, khususnya internet sebagai sumber belajar,
karena dalam internet terdapat beberapa materi dan contoh-contoh yang berbeda, sehingga
mahasiswa mempunyai lebih banyak pengalaman tentang suatu materi yang dipelajari.

98


NOMOR 22 TAHUN XVIII Oktober 2017
ISSN 1907-3232

DAFTAR PUSTAKA

Plomp. 2010. “Educational Design Research : An Introduction”, dalam An Introduction to
Educational Research. Enschede, Netherland : National Institute for Curriculum
Development.
Suharta, I Gusti Putu, dan Suarjana, I Made. 2006. Pengembangan Perangkat Pembelajaran
Matematika Realistik untuk Mahasiswa Sekolah Dasar yang Berorientasi Pada
Pemecahan Masalah, Penalaran dan Komunikasi Matematika. Laporan Penelitian (tidak
diterbitkan). Universitas Pendidikan Ganesha.
Sembiring, R.K. 2008. Apa dan Mengapa PMRI, Majalah Pendidikan Matematika Realistik
Indonesia, Volume VI, No. 4, Oktober 2008 (hlm. 60-61). Bandung.
Sadra. 2007. Pengembangan model pembelajaran matematika ber-wawasan lingkungan
dalam pelatihan dosen kelas I SD. Desertasi (tidak diterbitkan). Universitas Negeri
Surabaya.
Suparta, I Nengah, dkk. 2009. Implementasi Pembelajaran Matematika Realistik pada Kelas
IV Sekolah Dasar Negeri 3 Sambangan Upaya Meningkatkan Hasil Belajar Matematika
Mahasiswa. Laporan Penelitian (tidak diterbitkan). Universitas Pendidikan Ganesha.

Sudiarta. 2012. Pengembangan Perangkat pembelajaran SMK. Makalah (tidak diterbitkan)
Universitas Pendidikan Ganesha.
Suharta. 2012. Penelitian Desain Pembelajaran. Makalah (tidak diterbitkan) Universitas
Pendidikan Ganesha.
Wasis, Dwiyogo. 2011. Merancang Pembelajaran Dengan Mind Manager Pro 7. Malang:
Universitas Negeri Malang.

99


JURNAL PENDIDIKAN
INSTITUT KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN (IKIP) PGRI BALI

PENERAPAN STRATEGI PEMBELAJARAN DIFERENSIASI PROGRESIF
BERBANTUAN LKS DALAM UPAYA MENINGKATKAN AKTIVITAS
DAN HASIL BELAJAR MATEMATIKA PESERTA DIDIK KELAS X
SMA N 7 DENPASAR TAHUN PELAJARAN 2014/2015

I Komang Sukendra
ABSTRACT
The Implementation of Progressive Differentiation Learning Strategy Assisted by
LKS in an effeortto increase the Activity and Result of Learning Mathematics of Student
Class X SMAN 7 Denpasar learning year 2014/2015
Mathematies is one of the lessons having less success many students in the fiels have low
grade ire lazy to do the lesson work with the reason that they don’n the lessen, the students are to
do the lesson work with the reason that they don’t understand, they find difficulty on the always
leave for the class when the lesson is going they always do something which doesn’t have
relationship with the lesson as well the activity of learning is much needed by the student to get
maximal result, of cohe tittle of this research is “urse to activate them, LKS (Student work sheet)
is used as learnig fool . The tittle of this research is “The Implementation of Progressive
Differential Assisted Learning Strategy LKS in an Effort to Improve The Activity and Learning
Outcomes of Mathematics Learning Class X SMAN 7 Denpasar in 2014/2015”
The propose of the research were (1) to know whether the learning process of LKS
assistance progressive differentiation could increase the creativite of the students studying in X
grade MIA 3 of SMA N 7 Denpasar in mathe matics lesson 2014/2015, (2) to know wtiether the
lesson strategy of LKS assistance progressive diffentiation could increase learning result of the
students studying in X grade MIA 3 of SMA N 7 Denpasar in mathematics lesson 2014/2015.
The kinds of methodology X used for the research was class room action research. The
performed activity was the application of progressive differential learning process in which it
was divided into research was the students studying in X grade MIA 3 of SMA N 7 Denpasar in
2014/2015, they became the research object as well. The analisys of the students was activity
process in taking learning done descriptively. The cheteria of grouping activity was based on
ideal mean (Mi) and the standard ideal devietation (Sdi).
The average value of the students was 9,79 in which the students activity was still high
eough and it needed to be in creased the average value of learning result was 6,48 the ability of
students catch was 64,8% and the completeness of learning was 20,6% the completeness of the
students learning classical was under 85%. It could be categorized or stated category. In the
second cycle, the average value of the students learning activity was 16,8 it increased by 6,88
compared with the average value of the students learning activity in the first cycle. The average
value of the students learning activity was 8,021, the ability of catch (DS) was 80,1% and the
completeness of learning b(KB) was 85,7%. In the second cycle, the average value of learning
result, the ability of students catch, and the completeness of the students learning classically
reached cheteria as stated curriculum.
Keywords : learning strategies, activities, learning outcomes

100

NOMOR 22 TAHUN XVIII Oktober 2017
ISSN 1907-3232

PENDAHULUAN
Dalam upaya meningkatkan kualitas pembelajaran di kelas, peran guru sangat penting
dalam menentukan keberasilan suatu pembelajaran. Sebelum mengajar guru diwajibkan
membuat Rencana Pelaksanaan Pembelajaran (RPP) sesuai dengan materi yang akan diajarkan.
Meskipun guru sudah berusaha melakukan kewajiban sebelum mengajar, namun pada
kenyataannya masih banyak siswa yang kurang mengerti dengan apa yang dijelaskan oleh
gurunya. Disinilah guru tidak boleh putus asa dalam memberikan penjelasan kepada siswa,
Karena tidak semua siswa memiliki kemampuan yang sama dalam menerima pelajaran dari
gurunya. Begitu juga siswa sulit menerima penjelasan dari guru, karena gurunya kurang tepat
untuk menggunakan metode atau strategi dalam menyampaikan pembelajaran di kelas.

Matematika merupakan salah satu mata pelajaran yang tingkat keberhasilan masih kurang.
Banyak ditemui di lapangan siswa mendapat nilai kecil pada mata pelajaran ini, siswa malas
menyelesaikan tugas-tugas mata pelajaran matematika dengan alasan tidak mengerti dan sulit
ataupun disaat proses pembelajaran keluar masuk kelas serta melaksanakan aktivitas yang tidak
mendukung proses pembelajaran matematika. Dari pengalaman mengajar di SMA dan
pengalaman teman yang menjadi guru matematika di SMAN 7 Denpasar menunjukkan bahwa
masih banyak siswa yang mengalami kendala dalam pembelajaran matematika yang disampaikan
guru, sehingga guru perlu menerapkan metode dan strategi pembelajaran yang sesuai dengan
materi yang diajarkan. Siswa lebih cenderung menghafal materi dari pada memahami konsep.
Siswa menghapal pengalaman baru yang dialami dan tidak dikaitkan dengan pengetahuan
sebelumnya yang sudah dimiliki siswa sebagai akibat pengalaman terdahulu. Siswa yang belajar
dengan cara menghapal pada pembelajaran matematika itu sebenarnya tidak sedang mempelajari
matematika, sebab siswa tidak menyadari bahwa pengetahuan yang terkumpul tidak dapat
membentuk suatu pemahaman konsep yang teratur. Masih banyak guru dalam pembelajaran di
kelas masih menggunakan model konvensional dimana siswa lebih sering diam dan
mendengarkan gurunya menjelaskan di depan kelas. Meskipun guru memberikan kesempatan
kepada siswa untuk maju kedepan menyelesaikan soal-soal yang diberikan namun yang maju
hanya beberapa siswa masih banyak siswa yang diam dan tidak mau bertanya karena mereka
tidak mengerti apa yang mesti ditanyakan. Disinilah guru mesti memiliki inovasi dalam memilih
metode, model dan strategi pembelajaran agar siswa lebih termotivasi dalam mengikuti proses

101
JURNAL PENDIDIKAN
INSTITUT KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN (IKIP) PGRI BALI

pembelajaran di kelas, sehingga perlu diterapkan strategi pembelajaran yang tepat agar tujuan
akhir dari pembelajaran lebih bermakna.
Aktivitas belajar itu sangat diperlukan oleh peserta didik untuk mendapatkan hasil belajar
yang maksimum. Ketika peserta didik pasif, atau hanya menerima dari pengajar, ada
kecenderungan untuk cepat melupakan apa yang telah diberikan. Oleh sebab itu, diperlukan
perangkat tertentu untuk dapat mengikat informasi yang baru saja diterima dari guru. Belajar
aktif adalah salah satu cara untuk mengikat informasi yang baru kemudian menyimpannya dalam
otak. Karena salah satu faktor yang menyebabkan informasi cepat dilupakan adalah faktor
kelemahan otak manusia itu sendiri. Belajar hanya mengandalkan indera pendengaran
mempunyai beberapa kelemahan, padahal hasil belajar seharusnya disimpan sampai waktu yang
lama. Aktivitas belajar peserta didik dalam proses pembelelajaran merupakan salah satu
indikator adanya keinginan untuk bertanya mengajukan pendapat, mengerjakan tugas-tugas serta
menjawab pertanyaan guru. Dengan keaktifan peserta didik akan menimbulkan motivasi belajar
yang lebih baik yang pada akhirnya akan meningkatkan hasil belajar matematika peserta didik.
Hasil belajar merupakan sebagaian hasil yang dicapai peserta didik setelah mengalami
proses belajar dengan lebih dahulu mengadakan evaluasi dari proses belajar yang dilakukan.
Dengan demikian tujuan dari pendidikan akan bisa tercapai apabila proses pembelajaran di kelas
dapat berlangsung dengan baik, yaitu proses belajar yang melibatkan peserta didik secara aktif.
Ada beberapa faktor yang mempengaruhi hasil belajar peserta didik seperti cara guru mengajar,
latar belakang peserta didik, lingkungan sekolah dan model evaluasi belajar serta ada faktor
internal dan faktor eksternal peserta didik dalam penyampaian metode pembelajaran. Untuk itu,
dalam penelitian ini penulis akan menggunakan penerapan strategi pembelajaran diferensiasi
progresif untuk meningkatkan aktivitas belajar matematikapeserta didik.
Penelitian ini dilaksanakan untuk mengetahui suatu alternatif strategi pembelajaran yang
sesuai untuk digunakan yaitu strategi pembelajaran diferensiasi progresif berbantuan LKS.
Secara diferensiasi progresif berbantuan LKS dengan memperhatikan susunan materi yang
terpelajari dari yang paling umum ke bagian yang lebih khusus. Strategi pembelajaran
diferensiasi progresif berbantuan LKS ini memiliki keunggulan dibandingkan dengan
konstruktivisme, yaitu peserta didik akan mengetahui keterkaitan antara bagian-bagian atau
unsur-unsur dari materi yang disampaikan karena telah tersusun dengan teratur, jika siswa
mengalami permasalahan saat proses belajar mengajar berlangsung tentunya peserta didik juga

102

NOMOR 22 TAHUN XVIII Oktober 2017
ISSN 1907-3232

tahu pada bagian mana permasalahan yang dihadapi dan penyelesaian apa yang harus digunakan.
Tentunya ini akan mendorong peserta didik untuk aktif menyampaikan ide-ide, pertanyaan,
masalah-masalah, menanggapi pertanyaan dari teman ataupun guru, serta mampu menyampaikan
kesimpulan dari materi yang disampaikan. Pada akhirnya siswapun akan memiliki pemahaman
secara menyeluruh tentang materi yang disampaikan dan pembelajaran matematika akan menjadi
lebih bermakna. Dengan penerapan strategi defernsiasi progresif berbantuan LKS yang lebih
menekankan pada penguasaan meteri awal, nantinya akan lebih mudah menguasai materi
berikutnya yang secara tidak langsung nantinya meningkatkan hasil belajar peserta didik itu
sendiri. Dalam penelitian ini, untuk mengaktifkan siswa juga digunakan Lembar Kerja Siswa
(LKS) sebagai alat bantu pengajaran. Hal ini sesuai dengan pendapat Tim Instruktur PKG
Matematika (1983 :17) yang secara tegas menyampaikan bahwa ”salah satu cara membuat
peserta didik menjadi aktif adalah dengan menggunakan LKS”. Dengan meningkatnya aktivitas
peserta didik, hasil belajar juga diharapkan akan mengalami peningkatan. Aktivitas peserta didik
akan ditunjukkan oleh pencapaian indikator perilaku aktivitas peserta didik sedangkan hasil
belajar ditunjukkan oleh kemampuan peserta didik menjawab tes penguasaan materi.

Berdasarkan hal tersebut di atas peneliti tertarik untuk melakukan penelitian dengan
judul Penerapan strategi pembelajaran diferensiasi progresif berbantuan LKS dalam upaya
meningkatkan aktivitas dan hasil belajar matematika peserta didik kelas X MIA 3 SMA N 7
Denpasar tahun pelajaran 2014/2015.
METODE PENELITIAN

Jenis penelitian tindakan kelas (classroom action research). Tindakan yang dilaksanakan
adalah penerapan strategi pembelajaran diferensiasi progresif yang direncanakan akan dibagi ke
dalam dua siklus kegiatan. Subyek Penelitian Tindakan Kelas ini adalah peserta didik kelas X
MIA 3 SMA Negeri 7 Denpasar tahun pelajaran 2014/2015. Dari penelitian yang penulis
lakukan adalah peserta didik kelas X MIA 3 SMA Negeri 7 Denpasar tahun pelajaran 2014/2015,
dimana kelas ini mengalami masalah dalam memahami materi pada saat kelas itu diberikan
pembelajaran matematika berada pada kelas X MIA 3 tahun pelajaran 2014/2015.

Dalam penelitian ini terdapat dua jenis data yang akan dikumpulkan untuk
dianalisis. Jenis data, metode dan instrumennya diuraikan dalam tabel berikut.

103
JURNAL PENDIDIKAN
INSTITUT KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN (IKIP) PGRI BALI

Teknik Pengumpulan dan Instrumen Data
N Jen M Ins
o is Data etode trumen
1 Ak O Le
tivitas bservasi mbar
Peserta Observasi
2 Ha T Te
sil Belajar es s Hasil
Belajar

Teknik Analisis Data
Analisis Data Aktivitas Belajar Peserta Didik
Analisis terhadap data aktivitas belajar peserta didik dalam mengikuti pembelajaran dilakukan
secara deskriptif. Kriteria penggolongan aktivitas disusun berdasarkan mean ideal (Mi) dan
standar deviasi ideal (Sdi).

Hasil Penelitan
Sebagaimana yang telah diuraikan pada bab sebelumnya, bahwa penelitian ini
dilaksanakan dalam 2 siklus dengan subjek penelitian adalah peserta didik kelas X MIA 3 SMA
Negeri 7 Denpasar yang berjumlah 35 orang dengan 20 wanita dan 15 laki-laki. Dalam
penelitian ini baik peneliti/praktisi, guru matematika lain selalu bekerja sama dalam setiap
kegiatan seperti merencanakan tindakan, memberikan tindakan, melakukan observasi serta
bekerja sama dalam kegiatan lain yang berkaitan dengan penelitian.
Data yang diteliti adalah data tentang aktivitas dan hasil belajar peserta didik. Data-data
yang telah terkumpul diambil dengan metode yang telah ditetapkan sebelumnya. Adapun analisis
data tentang aktivitas dan hasil belajar peserta didik kelas X MIA 3 SMA Negeri 7 Denpasar
akan dipaparkan berikut ini.
1. Data Hasil Penelitian Siklus I
Data Aktivitas Belajar Peserta Didik
Analisis terhadap data aktivitas belajar peserta didik dalam mengikuti pembelajaran dilakukan
secara deskriptif. Kriteria penggolongan aktivitas disusun berdasarkan mean ideal (Mi) dan
standar deviasi ideal (Sdi). Rumusan untuk Mi dan Sdi adalah sebagai berikut :

104

NOMOR 22 TAHUN XVIII Oktober 2017
ISSN 1907-3232

Mi = ½ (Skor tertinggi ideal + Skor terendah ideal)

Sdi = 1/6 (Skor tertinggi ideal - Skor terendah ideal)

(Nurkancana, 1992)

Penggolongan aktivitas belajar siswa secara klasikal menggunakan criteria dengan Mi = ½ ( 23 +
0 ) = ½ (23) = 11,5

Sdi = 1/6 ( 23 – 0 ) = 1/6 (23) = 3,8 sebagai berikut.

Sdi = 1/6 ( 23 – 0 ) = 1/6 (23) = 3,8 sebagai berikut.

M ≥ 17,2 Sangat aktif

13,4 ≤ M < 17,2 Aktif

9,6 ≤ M < 13,4 Cukup aktif

5,8 ≤ M < 9,6 Kurang aktif

M < 5,8 Sangat kurang aktif

a. Data Aktivitas Belajar Peserta Didik
Observasi aktivitas belajar peserta didik yang dilakukan pada siklus I yang terdiri dari
dua kali kegiatan pembelajaran (2 x pertemuan) disajikan pada lampiran dan lampiran dimana
pada pertemuan pertama jumlah peserta didik yang hadir 35 orang sedangkan pada pertemuan
kedua jumlah peserta didik yang hadir juga adalah 34 orang. Sehingga diperoleh rata-rata skor

aktivitas belajar peserta didik ( M ) pada siklus I sebagai berikut.
339 + 346 685
M = = = 9,92
35 + 34 69
Dikaitkan dengan kriteria yang ditetapkan, maka tingkat aktivitas belajar peserta didik pada
siklus I tergolong cukup aktif.

b. Data Hasil Belajar Peserta Didik

105
JURNAL PENDIDIKAN
INSTITUT KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN (IKIP) PGRI BALI

Data tentang hasil belajar peserta didik setelah tindakan pada siklus I disajikan pada
lampiran . Berdasarkan lampiran tersebut diketahui bahwa jumlah nilai peserta didik adalah
226,75 dengan banyak peserta didik adalah 35 orang. Sehingga nilai rata-rata hasil belajar
peserta didik (rata-rata kelas) adalah
n

∑ Xi 226,75
X = i =1
= 6,48
n 335

X
DS = x 100%
Nilai tertinggi ideal

= 6,48 / 100 x 100% = 64,8%
Ketuntasan Belajar Peserta Didik secara klasikal (KB) adalah
banyaknya pesertadidik yang mendapat nilai ≥ 7,5
KB = X 100 %
banyaknya pesertadidik yang ikut tes

7
= x100% = 20%
35

2. Data Hasil Penelitian Siklus II
a. Data Aktivitas Belajar Peserta Didik
Data observasi aktivitas belajar peserta didik yang dilakukan pada siklus II yang terdiri
dari dua kali kegiatan pembelajaran (2 x pertemuan) disajikan pada lampiran. Pada pertemuan
pertama jumlah peserta didik yang hadir 35 orang dan pada pertemuan kedua juga dihadiri oleh

35 orang peserta didik. Sehingga diperoleh rata-rata skor aktivitas belajar peserta didik ( M )
pada siklus II sebagai berikut.
581 + 595 1.176
M = = = 16,8
35 + 35 70
Dikaitkan dengan kriteria yang ditetapkan , maka tingkat aktivitas belajar peserta didik pada
siklus II tergolong aktif.
b. Data Hasill Belajar Peserta Didik
Data tentang hasil belajar peserta didik setelah tindakan pada siklus II disajikan pada
lampiran . Berdasarkan lampiran tersebut diketahui bahwa jumlah nilai peserta didik adalah

106

NOMOR 22 TAHUN XVIII Oktober 2017
ISSN 1907-3232

277,00 dengan banyak peserta didik adalah 35 orang. Sehingga nilai rata-rata hasil belajar
peserta didik (rata-rata kelas) adalah
n

∑ Xi 280,75
X = i =1
= = 8,02
n 35

X
DS = x 100%
Nilai tertinggi ideal
8,02
= x100% = 80,2%
100
Ketuntasan Belajar Peserta Didik secara klasikal (KB) adalah
banyaknya pesertadidik yang mendapat nilai ≥ 7,5
KB = X 100 %
banyaknya . pesertadidik yang ikut tes

= 30/35 x 100% = 85,7%
Ringkasan hasil penelitian Silkus I, Siklus II akan dipaparkan dalam tabel 4.1
Siklus
Sik Sikl
JenisHasil lus I us II
Penelitian
1 Aktivitas 9,9 16,
Belajar Peserta 2 80
didik (Cu (Ak
kup tif)
Aktif)
2 Hasil Belajar
Peserta didik
2 Rata-Rata 6,4 8,0
.1 Kelas ( X ) 8 2
2 Daya Serap 64, 80,
.2 (DS) 8% 2%
2 Ketuntasan 20, 85,

107
JURNAL PENDIDIKAN
INSTITUT KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN (IKIP) PGRI BALI

.3 Belajar Secara 0% 7%
Klasikal (KB)

PEMBAHASAN
Penerapan rancangan tindakan pada siklus I menunjukkan adanya peningkatan aktivitas
dan hasil belajar dari pembelajaran yang diterapkan sebelumnya, namun hasil yang ditunjukkan
belum sesuai dengan yang diharapkan. Hal ini dapat dilihat dari pencapaian skor rata-rata

aktivitas belajar peserta didik ( M ) yaitu 9,79 dimana aktivitas belajar peserta didik ini masih
tergolong cukup aktif sehingga masih perlu ditingkatkan. Nilai rata-rata Hasil belajar peserta
didik ( X ), daya serap peserta didik (DS) dan ketuntasan belajar peserta didik secara klasikal
(KB), yaitu: X = 6,48 ; DS = 64,8% dan KB = 20,0%. Nilai rata-rata hasil belajar peserta didik
dan daya serap peserta didik ini belum memuaskan, walaupun sudah melampaui kriteria yang
ditetapkan. Ketuntasan belajar peserta didik secara klasikal masih berada dibawah 85 %,
sehingga belum memenuhi kriteria yang ditetapkan.
Pada pelaksanaan kegiatan pembelajaran di siklus I, penataan lingkungan belajar terlihat
masih kurang optimal dimana peserta didik merasa baru dengan lingkungan belajarnya. Peserta
didik terlihat masih kaku, tegang dan kurang santai dalam mengikuti proses belajar mengajar dan
masih ragu-ragu dalam merespon pertanyaan guru. Ini disebabkan karena guru yang mengajar,
lain dari guru yang biasanya mengajar mereka, dimana proses pembelajaran yang dilaksanakan
masih bersifat konvensional. Hal ini tentunya menyebabkan peserta didik merasakan mengalami
sesuatu yang baru dalam lingkungan belajarnya dan strategi pembelajaran yang diterapkan,
sehingga peserta didik masih segan menerima dan melaksanakan sesuatu yang baru apabila
sesuatu yang baru itu menuntut pikiran dan kegiatan lebih dari cara yang telah biasa
dilakukannya. Lingkungan yang baru ini juga berpengaruh terhadap perilaku peserta didik dalam
hal interaksi sosial. Dalam hal ini peserta didik merasa tidak memiliki hubungan dengan guru
yang mengajar. Sesuai dengan teori perilaku yang dikemukakan Sears (dalam Erman
Suherman,1992:10) yang menyebutkan bahwa penataan lingkungan sosial berupa hubungan
antara guru dengan peserta didik, peserta didik dengan peserta didik, guru dan peserta didik
dengan manusia lain sangatlah penting bagi proses pembelajaran. Dengan kata lain proses
interaksi sosial merupakan jantungnya proses pembelajaran. Kekurangan-kekurangan pada
pelaksanaan tindakan di siklus I diupayakan perbaikannya pada siklus II. Kekurangan berupa

108

NOMOR 22 TAHUN XVIII Oktober 2017
ISSN 1907-3232

pembentukan kelompok pada saat pembelajaran dimulai ditindaklanjuti dengan membentuk
kelompok sebelum guru memasuki kelas agar waktu dalam proses pembelajaran dapat
dipergunakan secara efektif dan efisien. Demikian halnya dengan pembagian LKS,
ditindaklanjuti dengan membagikan LKS tiga hari sebelum proses belajar mengajar dilaksanakan
agar peserta didik memiliki kesiapan belajar. Dengan kesiapan belajar peserta didik ini tentunya
akan menghasilkan hasil belajar yang optimal. Sehubungan dengan itu, Tabrani Rusyan (dalam
Ardana, 2000:35) menyatakan bahwa “hasil yang baik akan dicapai dalam belajar bila ada
kesiapan belajar”.
Pada awal siklus I, peneliti/praktisi mengelompokkan peserta didik menjadi kelompok-
kelompok kecil yang anggotanya terdiri dari lima atau enam orang. Karena banyaknya subjek
dalam penelitian ini adalah 35 orang, maka diperoleh 7 kelompok terdiri dari lima anggota. Pada
siklus II peserta didik juga dikelompokkan seperti pada siklus I, namun pengelompokannya
didasarkan atas nilai tes hasil belajar peserta didik pada siklus II. Kelompok kecil diambil
mengacu pada pendapat Putu Tengah (dalam Ardana, 2001:31) yang menyatakan bahwa “
Banyaknya anggota dalam suatu kelompok sangat tergantung pada materi pelajaran, strategi
yang diterapkan, serta tergantung pada sifat tugas yang diberikan. Apabila tugas-tugas yang
diberikan bersifat eksploratif maupun penemuan, biasanya memerlukan anggota yang lebih
banyak, sedangkan tugas-tugas yang bersifat pemecahan masalah dianjurkan anggotanya antara 2
sampai dengan 4 orang”.
Kelompok yang dibentuk dalam siklus I ini adalah kelompok yang heterogen baik dari
jenis kelamin maupun dari tingkat kemampuan belajarnya. Pada pelaksanaan tindakan di siklus
II ini kerjasama kelompok masih kurang. Tentunya hal ini belum sesuai dengan tujuan
dibentuknya kelompok belajar, dimana diharapkan setiap individu dapat dimaksimalkan dalam
belajarnya, sebab (1) sumbangan setiap kelompok diakui, (2) peserta didik dapat
mengintegrasikan berbagai pandangan peserta didik lain dalam kelompok, (3) peserta didik dapat
belajar memilih beberapa alternatif pendapat sendiri atau orang lain, (4) peserta didik melakukan
tugas sesuai dengan kemampuan dan tetap dibantu oleh peserta didik lain dalam kelompok, dan
(5) setiap anggota kelompok dapat dievaluasi berdasarkan atas kriteria sendiri. Berkaitan dengan
hal ini, Johnson and Johnson (dalam Ardana, 2001:32) mengatakan “pembelajaran secara
kelompok mempunyai tiga sasaran yaitu koperatif, kompetitif, dan individualistik. Sasaran
kompetitif dan individualistik akan lebih efektif bila digunakan dalam konteks bersamaan

109
JURNAL PENDIDIKAN
INSTITUT KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN (IKIP) PGRI BALI

(koperatif)”. Pembelajaran dengan kelompok kooperatif memiliki beberapa sumbangan positif
terhadap aktivitas dan hasil belajar, antara lain :
Walaupun pada siklus I, peneliti/praktisi sudah memberikan ganjaran pada peserta didik
pada saat proses belajar mengajar berlangsung, ternyata ganjaran itu dirasakan masih kurang.
Kurangnya ganjaran pada pelaksanaan tindakan siklus I tersebut ternyata mempunyai pengaruh
terhadap aktivitas dan hasil belajar. Seperti yang disebutkan dalam hasil penelitian bahwa guru
dibangkitkan lagi untuk memberikan ganjaran secara proporsional dalam pembelajaran dengan
memberikan penjelasan yang didasarkan atas hukum akibat (low of effect). Asumsi utama yang
diyakini hukum ini adalah tingkah laku yang diikuti rasa senang besar kemungkinannya untuk
dilakukan atau duulangi lagi daripada tingkah laku yang tidak diikuti rasa senang. Berdasarkan
hal ini dikenal teori S-R (yang meliputi stimulus, respone dan reinforcement).
Sehubungan dengan itu Hudojo (dalam Ardana, 2000:33) mengatakan bahwa,
“Apabila dalam suatu hubungan yang dapat dimodifikasi dibuat antara stimulus dan respon dan
diikuti oleh kondisi peristiwa yang sesuai, hubungan yang terjadi semakin meningkat
kekuatannya”. Bila kondisi peristiwa yang tidak sesuai mengiringi hubungan tadi, kekuatan
hubungan menjadi berkurang. Ini berarti, suatu tindakan diikuti oleh akibat yang menyenangkan,
akan cenderung lain kali diulangi lagi, sedang tindakan yang diikuti oleh akibat yang tidak
menyenangkan, akan cenderung tidak mengulangi tindakan tersebut.
Penerapan rancangan tindakan pada siklus II yang merupakan perbaikan tindakan
pada siklus I, telah memberikan hasil yang lebih optimal. Skor rata-rata aktivitas belajar peserta
didik pada siklus II adalah 16,80 mengalami peningkatan sebesar 6,88 dibandingkan dengan
skor rata-rata aktivitas belajar peserta didik pada siklus I yang mana siklus I sebesar 9,92. Nilai
rata-rata hasil belajar peserta didik ( X ), daya serap peserta didik (DS) dan ketuntasan belajar
peserta didik secara klasikal (KB), yaitu: X = 8,021; DS = 80,2% dan KB = 85,7 %. Pada
siklus ini nilai rata-rata hasil belajar peserta didik ( X ), daya serap peserta didik (DS) dan
ketuntasan belajar peserta didik secara klasikal (KB) telah mencapai kriteria yang telah
ditetapkan kurikulum.
Jadi dengan mempergunakan strategi pembelajaran diferensiasi progresif tentunya peserta
didik akan mengetahui keterkaitan unsur-unsur dari materi yang dipelajari dan juga mempunyai
gambaran pada bagian mana kira-kira masalah yang dihadapi dalam kasus tertentu dan

110

NOMOR 22 TAHUN XVIII Oktober 2017
ISSN 1907-3232

penyelesaian mana yang harus digunakan untuk memecahkan masalah tersebut, sehingga peserta
didik akan memiliki pemahaman konseptual terhadap materi yang dipelajari.

PENUTUP
Simpulan
Berdasarkan hasil analisis data dan pembahasan hasil penelitian, dapat disimpulkan
bahwa:

1. Penerapan strategi pembelajaran diferensiasi progresif berbantuan LKS dalam pembelajaran
matematika dapat meningkatkan aktivitas belajar peserta didik dari kurang aktif pada
refleksi awal menjadi aktif pada akhir siklus II.
2. Penerapan strategi pembelajaran diferensiasi progresif berbantuan LKS dalam pembelajaran
matematika dapat meningkatkan hasil belajar peserta didik kelas X MIA 3 SMA Negeri 7
Denpasar, dimana rata-rata kelas meningkat sebesar 1,54 daya serap peserta didik meningkat
sebesar 15,4% dan ketuntasan belajar secara klasikal meningkat sebesar 65,7% dari hasil
belajar refleksi awal .

Saran
Beberapa saran yang dapat diungkapkan terkait dengan hasil penelitian ini adalah
sebagai berikut.
1. Dengan berhasilnya penelitian ini, diharapkan kepada rekan-rekan guru matematika SMA
Negeri 7 Denpasar untuk mempertimbangkan penerapan strategi pembelajaran diferensiasi
progresif berbantuan LKS berpendekatan konstruktivis dalam pembelajaran di kelas lain.
2. Diharapkan dengan diterapkannya strategi pembelajaran diferensiasi progresif berbantuan
LKS berpendekatan konstruktivis dalam pembelajaran matematika ini dapat memberikan
suatu alternatif yang dapat digunakan untuk melaksanakan kegiatan belajar mengajar. Jadi
tidak monoton seperti yang sudah dilaksanakan sebelumnya.
3. Diharapkan kepada pembaca untuk mengadakan penelitian lebih lanjut mengenai penerapan
strategi pembelajaran diferensiasi progresif berbantuan LKS berpendekatan konstruktivis ini
pada pembelajaran matematika maupun pada pembelajaran yang lainnya.

111
JURNAL PENDIDIKAN
INSTITUT KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN (IKIP) PGRI BALI

4. Hindarilah rasa malu dan kurang percaya diri pada peserta didik, dengan tetap melakukan
pendekatan secara individu ataupun kelompok dan tetap memberikan ganjaran kepada
peserta didik dalam proses belajar mengajar.

DAFTAR PUSTAKA

Ardana, I Made et.al. 2001. Pengembangan StrategiPembelajaranMatematika Model
Kooperatif Individuasi Berbantuan Berwawasan Konstruktivis Sebagai
Upaya Mengatasi Kemampuan Siswa yang Beragam di SLTPN 6 Singaraja. Laporan
Penelitian (tidak diterbitkan). STKIP Singaraja.
Arikunto, Suharmini. 1998. Prosedur Penelitian Suatu Pendekatan Praktek.
ogyakarta: PT Rineka Cipta.
Artawan, I Ketut. 1985. Teori Belajar Dan Faktor-Faktor Yang Mempengaruhi Prestasi
Belajar. Singaraja: Bioma Singaraja.

Depdikbud. 1994. Petunjuk Pelaksanaan Proses Belajar Mengajar. Jakarta:Depdikbud.

Dimyati dan Mudjiono. 2002. Belajar dan Pembelajaran. Jakarta: PT Rineka Cipta.

Hisyam Zaini, Strategi Pembelajaran Aktif, Insan Madani CTSD, Edisi Revisi, Yogyakarta,
2008, hal. xiv

Moedjiono dan Moh. Dimyati. 1991. Strategi Belajar Mengajar. Jakarta: Direktorat Jendral
Pendidikan Dasar dan Menengah Bagian Proyek Penataran Guru SLTP Setara D-III

Nurkancana, Wayan dan Sunartana. 1992. Evaluasi Hasil Belajar. Surabaya: Usaha Nasional.

Nur, Mohamad et.al. 1999. Teori Pembalajaran Kognitif. Buku Ajar Universitas
Negeri Malang.

Oemar Hamalik, Proses Belajar Mengajar. Bandung. Rosda. 2004. hlm 175

Proyek Pengembangan Lembaga Pendidikan Tenaga Pendidikan. 1988. Teori-
Teori Belajar. Jakarta: Unit Pengelola Bantuan Teknis.

112

NOMOR 22 TAHUN XVIII Oktober 2017
ISSN 1907-3232

Sudiasa, I Wayan. 2002. Penerapan Model Pembelajaran Kulsponsi Berbantuan LKS Sebagai
Upaya Meningkatkan Aktivitas dan Hasil Belajar Siswa Kelas IA SMU N 1 Dawan
Klungkung Tahun Pelajaran 2001/2002 dalam Pembelajaran Trigonometri. IKIP N
Singaraja.

Suharsimi Arikunto, Penelitian Tindakan Kelas, Jakarta: Bumi Aksara, 2011,

Suherman, Erman & Udin S. Winataputra. 1992. Strategi Belajar Mengajar
Matematika. Jakarta: Dirjen Dikdasmen Bagian Proyek Penataran Guru SLTP
setara D-III.

Suherman, Erman. 1993. Evaluasi Proses dan Hasil Belajar Matematika
Universitas Terbuka. Jakarta: Depdikbud.

113
JURNAL PENDIDIKAN
INSTITUT KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN (IKIP) PGRI BALI

PENINGKATAN PRESTASI BELAJAR IPS MELALUI TUGAS INDIVIDU
DALAM KERJA KELOMPOK MENGGUNAKAN PEMBELAJARAN
MASTERY LEARNING

Ni Made Merta

ABSTRAK
This research was conducted at SD Negeri 2 Melinggih Kelod in Class V with
the intention to know whether giving individual tasks in group work using learning
model of Mastery Learning can improve student achievement in SD Negeri 2 Melinggih
Kelod class V. Data in this research collected by achievement test learn. The method of
data analysis is descriptive. The results obtained from this research the complete
description can be described as follows: the results obtained initially low is 61.59, while
the Minimum Exhaustiveness Criteria of this subject is 70. In cycle I to increase an
average of 66.44 and on cycle II To an average of 71.53. These results after analysis
using desdkripsi analysis obtained the conclusion that the assignment of individual tasks
in group work using the model of learning Mastery Learning can improve student
achievement.

Keywords: learning achievement, individual task, group assignment, and mastery
learning

1. Pendahuluan
Melalui usaha sadar dan terencana untuk mewujudkan suasana belajar dan
proses pembelajaran agar peserta didik secara aktif dapat mengembangkan potensi
dirinya untuk memiliki kekuatan spiritual keagamaan, pengendalian diri, kepribadian,
kecerdasan, akhlak mulia, serta keterampilan yang diperlukan oleh dirinya, masyarakat,
bangsa dan negara, ini merupakan definisi pendidik yang telah ditetapkan dalam
Undang-Undang Republik Indonesia No. 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan
Nasional.
Guna mewujudkan tujuan tersebut maka diperlukan berbagai upaya aktif dari
pendidik dalam proses pembelajaran yang efektif dan berdaya guna. Maka dari itu guru
harus memahami dengan baik peraturan Pemerintah Nomor 19 Tahun 2005 tentang
Standar Nasional Pendidikan pada Bab VI Pasal 28 Ayat 3 yang menyangkut
persyaratan kompetensi profesional yang harus dimiliki guru.
Menurut Hanif, jika dilihat dari kompetensinya terdapat empat peringkat
pembagian kompetensi guru: 1) profesional 2) tukang ngajar 3) juru ngajar, dan 4)

114
NOMOR 22 TAHUN XVIII Oktober 2017
ISSN 1907-3232

pramu bahan ajar. Sedangkan profesional , guru bekerja berdasarkan lima prinsip kerja
profesi :1) disiplin ilmu yang diperoleh saat mengikuti pendidikan 2) pelatihan profesi
3) pengalaman yang panjang dalam melaksanakan tugas profesi 4) pengermbangan
profesi melalui forum-forum ilmiah dan 5) berperilaku sesuai kode etik profesinya.
Apa yang digambarkan di atas mungkin banyak benarnya, salah satu yang
terkadang guru lalai adalah perlakuan subyektif kepada siswa. Seringkali guru hanya
memperhatikan siswa-siswa yang membawa daya tarik tersendiri saja, sementara siswa
yang terlihat sederhana dimarginalkan. Kenyataan itu memuncul dugaan, dalam
pelaksanaan proses pembelajaran terkadang kurang memberikan kesempatan kepada
peserta didik secara individual untuk memperoleh perlakuan yang sama dalam berbagai
mata pelajaran.
Walaupun sudah menerapkan metode ajar yang efektif tetapi masih banyak
berdampak pada belum tercapainya tingkat ketuntasan belajar siswa secara indiviual.
Menyadari kondisi hal tersebut, yang tentunya banyak berpengaruh terhadap kemauan
guru untuk memberikan pengetahuan yang terbaik bagi setiap siswa.
Langkah-langkah yang ditempuh guru untuk memperbaiki kondisi yang ada agar
tingkat perkembangan kemampuan peserta didik tidak mengalami gangguang pada
tahap berikutnya adalah melakukan observasi awal. Dari observasi ini diperoleh
kenyataan hasil prestasi belajar siswa kelas V baru mencapai nilai rata-rata 61,59. Hasil
yang didapat disadari sepenuhnya masih sangat jauh dari standar Kriteria Ketuntasan
Minimal (KKM) yang ditetapkan (70).
Dengan pelaksanaan model Mastery Learning mempunyai efek meningkatkan
motivasi belajar intrinsik. Pendekatan ini mengakui dan mengakomodasikan semua
siswa yang mempunyai berbagai tingkat kemampuan, minat dan bakat tadi asal
diberikan kondisi-kondisi belajar yang sesuai, peneliti berkeinginan untuk
menerapkannya dalam pembelajaran sebagai solusi dalam mengatasi masalah prestasi
belajar IPS siswa kelas V Semester I di SD Negeri 2 Melinggih Kelod akibat
ketidaksamaan perlakuan yang diberikan kepada masing-masing siswa.
Tujuan yang di harapkan dari pemberian tugas individu dalam kerja kelompok
dapat meningkatkan prestasi belajar siswa ketika menggunakan model pembelajaran
Mastery Learning. Sehingga cara pemecahan masalah dengan memberikan tugas secara
individu di dalam kerja kelompok yang bertujuan agar rumusan masalah yang

115
JURNAL PENDIDIKAN
INSTITUT KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN (IKIP) PGRI BALI

disampaikan dapat mengukur seberapa tinggi peningkatan prestasi belajar siswa yang
manfaatnya secara praktis bagi guru yaitu menjadikan referensi dan acuan dalam
tindakan di kelas, dan bermanfaat untuk meningkatkan kompetensi dirinya maupun
peserta didik.
2. Metode Penelitian
Penelitian ini dilakukan di SD Negeri 2 Melinggih Kelod yang lokasinya di
Banjar Tibekauh, Melinggih Kelod, Payangan. Sekolah ini berada di lingkungan yang
nyaman, sejuk, dan rindang serta di dekat wilayah pariwisata. Penelitian ini
menggunakan rancangan Mc. Kernan
TINDAKAN DAUR I
DAUR 2
Tindakan perlu perbaikan

dst

Penerapan Definisi masalah Penerapan Redefine
problem

Evaluasi tindakan Need Evaluate action Need
assessement assessement

Implementasi Hipotesis ide Impl. Revise plan New hypothesis
tindakan

Develop action plan T 1 Revise action plan T 2

Gambar 01. Penelitian Tindakan Model Mc. Kernan, 1991
(dalam Sukidin, Basrowi, Suranto, 2002: 54)
Yang digunakan sebagai subjek penelitian ini adalah siswa kelas V SD Negeri 2
Melinggih Kelod Semester I . Sedangkan objek penelitiannya adalah peningkatan
prestasi belajar yang rata-rata awal 61,59 setelah diterapkan model pembelajaran Tugas
Individu dalam kerja kelompok dengan menggunakan pembelajaran Mastery Learning
pada bidang studi IPS diharapkan siswa kelas V SD Negeri 2 Melinggih Kelod dapat

116
NOMOR 22 TAHUN XVIII Oktober 2017
ISSN 1907-3232

meningkat prestasi belajarnya . Penelitian ini dilakukan dari bulan Juli sampai dengan
bulan Desember.
Metode yang digunakan untuk mengumpulkan data hasil penelitian ini adalah tes
prestasi belajar. Sedangkan metode analisis datanya adalah Analisis Deskriptif.
Indikatornya yang diusulkan penelitian ini adalah prestasi siswa pada siklus I mencapai
nilai rata-rata 66,44 dan pada siklus II mencapai rata-rata 71,53 di atas Kriteria
Ketuntasan Minimal (KKM).
3. Kajian Pustaka
Menurut Djamarah (1994;23) mendefenisikan bahwa prestasi belajar sebagai
hasil yang diproleh berupa kesan kesan yang mengakibatkan perubahan dalam diri
individu sebagai hasil dari aktivitas dalam belajar. Dari pendapat Sardiman (1988:25)
yang menyatakan bahwa prestasi belajar sangat vital dalam dunia pendidikan,
mengingat prestasi belajar itu dapat berperan sebagai hasil penilaian dan sebagai alat
motivasi.
Sedangkan menurut Mohammad Surya (2004) yang menyatakan bahwa faktor-
faktor yang mempengaruhi prestasi belajar dapat dilihat dari berbagai sudut pandang,
antara lain dari sudut si pebelajar, proses belajar dan dapat pula dari sudut situasi
belajar. Berdasarkan semua pendapat di atas bahwa prestasi belajar adalah hasil yang
dicapai siswa setelah melakukan kegiatan belajar yang berbentuk angka sebagai simbol
dari ketuntasan belajar. Prestasi belajar ini sangat dipengaruhi oleh faktor luar yaitu
guru dan metode. Yang dimaksud pembelajaran tuntas/Matery Learning adalah salah
satu usaha dalam pendidikan yang bertujuan untuk memotivasi peserta didik untuk
mencapai penguasaan terhadap kompetensi tertentu. Yang berarti pembelajaran tuntas
merupakan sesuatu yang harus dipahami dan dilaksanakan dengan sebaik-baiknya oleh
seluruh warga sekolah secara tuntas.
Menurut Winkel menyarankan: tujuan-tujuan pembelajaran yang harus dicapai
ditetapkan secara tegas, semua tujuan dirangkaikan dengan materi pelajaran dibagi-bagi
atas unit-unit pelajaran yang diurutkan sesuai dengan rangkaian semua tujuan
pembelajaran. Siswa dituntut supaya mencapai tujuan pembelajaran lebih dahulu
sebelum siswa diperbolehkan mempelajari unit pembelajaran yang baru untuk mencapai
tujuan pembelajaran. Jadi siswa dilarang memahami pokok bahasan sebelumnya.
Ditingkatkan motivasi belajar siswa dan efektivitas usaha belajar siswa, dengan

117
JURNAL PENDIDIKAN
INSTITUT KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN (IKIP) PGRI BALI

memonitor proses belajar siswa melalui testing berkala dan kontinyu, serta memberikan
umpan balik kepada siswa mengenai keberhasilan atau kegagalannya pada saat itu juga,
memberikan bantuan atau pertolongan kepada siswa yang masih mengalami kesulitan.
Sedangkan pendapatnya Ahmadi,Abu dkk (2005) yang dikutip dari blog Ahmadi
ada beberapa ciri belajar tuntas diantaranya: Siswa dapat belajar dengan baik dalam
kondisi pengajaran yang tepat sesuai dengan harapan pengajar. Bakat seorang siswa
dalam bidang pengajaran dapat diramalkan baik tingkatannya maupun waktu yang
ditentukan untuk mempelajari bahan tersebut. Bakat berfungsi sebagai indeks tingkatan
belajar siswa dan sebagai suatu ukuran satuan waktu. Tingkat hasil belajar bergantung
pada waktu yang digunakan secara nyata oleh siswa untuk mempelajari sesuatu
dibandingkan dengan waktu yang dibutuhkan untuk mempelajarinya. Tingkat belajar
sama dengan ketentuan, kesempatan belajar bakat, kualitas pengajaran, dan kemampuan
memahami pelajaran. Setiap siswa memperoleh kesempatan belajar yang berdiferensiasi
dan kualitas pengajaran yang berdiferensasi pula. Berdasarkan kedua pendapat di atas,
dapat disimpulkan bahwa memahami model pembelajaran tuntas (Mastery Learning)
maka seorang pendidik diharapkan dapat meningkatkan prestasi belajar siswa.

4. Hasil Penelitian Dan Pembahasan
4.1 Hasil
Guna melihat hasil penelitian yang dilakukan di SD Negeri 2 Melinggih Kelod,
maka perlu menyajikan uraian hasil masing-masing siklus mulai dari perencanaan,
pelaksanaan, pengamatan dan refleksi yang berisi penjelasan tentang aspek keberhasilan
dan kelemahan yang terjadi dan perlu ditambahkan hal mendasar yaitu hasil
pembahasan atau kemajuan pada diri siswa, lingkungan, guru, motivasi dan aktifitas
belajar, situasi kelas dan hasil belajar. Oleh karenanya pembicaraan pada bagian ini
dimulai dengan apa yang dilakukan dari bagian perencanaan yaitu ; melalui metode
Mastery Learning peneliti membuat Rencana Pelaksanaan Pembelajaran (RPP). Ini
mengikuti aturan Permen No. 41 Tahun 2007 yang merupakan standar yang mesti
diikuti guru dalam melaksanakan proses pembelajaran. Sebelum dilakukan
pembelajaran dengan model Mastery Learning dengan baik, maka pengelolaan kelas
harus mempunyai persiapan yang matang seperti mengajar materi dengan benar sesuai
perencanaan di RPP dan alur pembelajaran Mastery Learning, menyiapkan instrument

118
NOMOR 22 TAHUN XVIII Oktober 2017
ISSN 1907-3232

penilaian. Seorang peneliti harus berpenampilan: berpakaian rapi, menggunakan bahasa
yang santun, menuntun siswa semaksimal mungkin dengan menggunakan metode
Matery Learning sesuai alur pembelajaran yang sudah disampaikan. Refleksi sebaiknya
dilakukan dengan mempertimbangkan saran pakar pendidik yang menyangkut analisis,
sintesis, dan penilaian terhadap hasil pengamatan. Analisis kuantitatif prestasi belajar
siswa siklus I rata-rata (mean) yang diperoleh adalah 66,44, median (titik tengahnya)
adalah 62,50, modus (angka yang paling banyak muncu) adalah 65,00. Untuk persiapan
penyajian dalam bentuk grafik maka hal-hal berikut dihitung terlebih dahulu.
Selanjutnya hasil pada siklus II dengan melihat semua hasil yang didapat pada
siklus I, baik refleksi data kualitatif maupun refleksi data kuantitatif, maka untuk
perencanaan pelaksanaan penelitian di siklus II ini ada beberapa hal yang perlu
dilakukan yaitu: 1) Hasil dari refleksi siklus I merupakan dasar dari poembuatan
perencanaan di siklus ini. Maka, peneliti perlu merencanakan kembali jadwal untuk
melakukan pembelajaran di kelas dengan melihat jadwal penelitian. 2) Menyusun
isntrumen pengumpulan data yang dibuat seperti instrumen-instrumen sebelumnya yang
sesuai dengan Rencana Pelaksanaan Pembelajaran yang disusun yang mengacu ke
pembelajaran Mastery Learning. Pelaksanaan Tindakan disesuaikan dengan hari yang
sudah ditentukan sesuai jadwal, peneliti memulai tahap pelaksanaan tindakan. Model
pembelajaran Mastery Learning mulai diupayakan dalam pembelajaran. Penilaian
terhadap kemampuan belajar siswa dilakukan dengan mencatat hal-hal penting seperti
aktivitas belajar yang dilakukan pada saat peneliti melakukan tindakan. Disamping itu
pada catatan cepat yang dilakukan peneliti, dicatat juga kreativitas siswa, kemampuan
siswa menjawab pertanyaan yang langsung penulis isikan nilainya pada daftar nilai,
kemauan siswa untuk ikut berpartisipasi dalam pembelajaran, kontribusi di antara para
siswa. Diperoleh hasil rata-rata 71,53.
4.2 Pembahasan
Pembahasan hasil yang diperoleh dari Siklus I menyangkut hal-hal yang perlu
diperhatikan seperti data kualitatif adalah kelemahan-kelemahan yang ada, kelebihan-
kelebihan, perubahan-perubahan, kemajuan-kemajuan, efektifitas waktu, keaktifan yang
dilakukan, konstruksi, kontribusi, deskripsi fakta, pengecekan validitas internal dan
validitas eksternal, identifikasi masalah, faktor-faktor yang berpengaruh, cara-cara
untuk memecahkan masalah, pertimbangan-pertimbangan, perbandingan-perbandingan,

119
JURNAL PENDIDIKAN
INSTITUT KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN (IKIP) PGRI BALI

komentar-komentar, tanggapan-tanggapan, tambahan pengalaman, pengertian-
pengertian,standar penetapan penilaian, hubungan antar kategori. Walaupun peneliti
mencatat aktivitas siswa, berapa siswa yang aktif belajar, namun analisis dari data
kualitatif ini tidak penulis lakukan, mengingat SD yang di ajar adalah siswa yang baru
berumur 10 tahun yang sulit diberi kuisioner untuk dijawab. Hasil tes prestasi belajar di
siklus I telah menemukan efek utama bahwa menggunakan metode tertentu akan
berpengaruh terhadap prestasi belajar siswa yang dalam hal ini adalah model
pembelajaran Mastery Learning. Dalam hal ini pembelajaran Mastery Learning
menitikberatkan pembelajaran pada aspek kognitif, afektif, dan psikomotor sebagai
pedoman prilaku kehidupaun sehari-hari siswa. Hal inilah yang menuntun siswa
berpikir lebih tajam, lebih kreatif dan kritis sehingga mampu memecahkan masalah-
masalah kehidupan yang nanti efek selanjutnya adalah para siswa akan dapat
memahami dan meresapi mata pelajaran lebih jauh. Pembahasan Hasil yang diperoleh
dari Siklus II meliputi hasil yang diperoleh dari tes prestasi belajar dari siklus II
menunjukkan bahwa kemampuan siswa dalam mengikuti pelajaran sudah cukup baik.
Ini terbukti dari rata-rata nilai siswa mencapai 71,53. Hasil ini menunjukkan bahwa
model pembelajaran Mastery Learning telah berhasil meningkatkan kemampuan siswa
menempa ilmu sesuai harapan. Model pembelajaran Mastery Learning merupakan
model yang cocok bagi siswa apabila guru menginginkan mereka memiliki kemampuan
berkreasi, berbicara banyak, mengeluarkan pendapat lugas, bertukar pikiran.
5. Kesimpulan
Fakta yang diperoleh dari pelaksanaan kegiatan penelitian adalah: 1) Model
pembelajaran Mastery Learning telah dapat membuktikan bahwa guru dan siswa
menjadi sangat aktif dalam pembelajaran 2) Semua keberhasilan itu telah dapat
ditunjukkan dengandata yang telah diperoleh dalam analisis Bab IV 3) Model
pembelajaran Mastery Learning yang dilaksanakan dengan metode analisis dan dibantu
alat gambar candi borobudur, candi prambanan, masjid, pura dan gereja yang mampu
membuat pembelajaran menjadi bermakna, mudah diterima, mampu melakukan
pembelajaran tuntas dan siswa dapat memahami pembelajaran dengan lebih baik dan
mampu mengendap lebih lama ilmu yang telah diperoleh. Semua fakta di atas dapat
dibuktikan dengan data yaitu dari data awal ada 32 siswa mendapat nilai di bawah
Kriteria Ketuntasan Minimal dan pada siklus I menurun menjadi 29 siswa dan siklus II

120
NOMOR 22 TAHUN XVIII Oktober 2017
ISSN 1907-3232

hanya 2 siswa mendapat nilai di bawah Kriteria Ketuntasan Minimal 2) Nilai rata-rata
awal 61,59 naik menjadi 66,44 pada siklus I dan pada siklus II naik menjadi 71,53 3)
Dari data awal siswa yang tuntas hanya 0 orang sedangkan pada siklus I menjadi lebih
banyak yaitu 3 siswa dan pada siklus II menjadi cukup banyak yaitu 30 siswa. Dengan
telah berhasilnya penelitian maka, disampaikan saran-saran sebagai berikut: 1) Kepada
teman guru pengajar mata pelajaran IPS disarankan untuk mencoba model pembelajaran
Mastery Learning 2) Kepala sekolah disarankan untuk memberi penekanan agar guru
mau melaksanakan pembelajaran dengan langkah-langkah model yang sudah diteliti 3)
Kepada pengawas sekolah agar dalam membina guru agar menyarankan untuk
menggunakan model pembelajaran Mastery Learning 4)Walaupun penelitian ini sudah
dapat membuktikan efek utama dari model pembelajaran Mastery Learning dalam
meningkatkan prestsi belajar, sudah pasti dalam penelitian ini masih ada hal-hal yang
belum sempurna dilakukan, oleh karenanya kepada peneliti lain yang berminat meneliti
topik yang sama untuk meneliti bagian-bagian yang tidak sempat diteliti.

Daftar Pustaka

Arikunto,Suharsimi; Suhardjono; Supardi. 2006. Penelitian Tindakan Kelas. Jakarta: PT
Bumi Aksara.

Djamarah, Syaiful Bahri. 2002. Prestasi Belajar dan Kompetensi Guru. Surabaya:
Usaha Nasional.

Peraturan Pemerintah Nomor 19 Tahun 2005 tentang Standar Nasional Pendidikan

Sardiman,A.M.1998. Interaksi dan Motivasi Belajar-Mengajar Pedoman bagi Guru
dan Calon Guru. Jakarta: Rajawali Pers.

Sukidin, Basrowi, Suranto. 2002. Manajemen Penelitian Tindakan Kelas. Penerbit:
Insan Cendekia ISBN: 979 9048 33 4.

Surya,Mohammad. 2004. Psikologi Pembelajaran dan Pengajaran. Bandung: Pustaka
Bani Quraisy.

UU No. 20 Tahun 2003 tentang SISDIKNAS. Disahkan di Jakarta pada tanggal 8 Juli
2003

121
JURNAL PENDIDIKAN
INSTITUT KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN (IKIP) PGRI BALI

OPTIMALISASI MODEL PEMBELAJARAN BERCAKAP-CAKAP DALAM
PEMBELAJARAN TEMATIK UNTUK MENINGKATKAN PRESTASI BELAJAR

I Made Karang

ABSTRACT

This research was conducted at SD N 6 Lodtuntuh in Class I whose children
ability for mathematics material is quite low. The purpose of writing this classroom
action research is to know whether the use of conversational / storytelling method in
Thematic learning can improve children's learning achievement. The method of data
collection is a test of learning achievement. The method of data analysis is descriptive.
The result obtained from this research is the use of conversational method and
storytelling method in Thematic learning can improve children's learning achievement.
This is evident from the results obtained at the beginning 57 after the action given in the
first cycle increased to 69 and in the second cycle increased again to 75.2. The
conclusion obtained from this research is the use of conversational / storytelling method
in Thematic learning can improve the learning achievement of grade 1 students SD N 6
Lodtunduh
Keywords: Optimization of learning model, conversation learning, thematic
learning and learning achievement.

1. Pendahuluan
Guru wajib menciptakan suasana pendidikan yang bermakna, menyenangan,
kreatif, dinamis, dialogis, berkomitmen meningkatkan mutu pendidikan, memberi
tauladan, menjaga nama baik lembaga. Guru berperan untuk mampu melakukan
interaksi, pengasuhan, mengatur tekanan, memberi fasilitas, perencanaan, pengayaan,
menangani masalah, membimbing dan memelihara. Dengan guru memahami tugas-
tugas tersebut dan memahami apa yang mesti dilakukan tentu saja kondisi yang
diharapkan dalam pembelajaran di sekolah dasar akan dapat terlaksana dengan baik.
Selain memahami hal-hal tersebut, guru juga harus mengetahui faktor-faktor yang
mempengaruhi pertumbuhan anak. [1] Guru sebagai tenaga profesional bertugas
merencanakan, melaksanakan, menilai, membimbing, melatih, melakukan penelitian,
memenuhi standar kompetensi.
Faktor-faktor yang mempengaruhi pertumbuhan dan perkembangan anak [2]: 1)
faktor internal, faktor yang bersumber dari dalam diri seperti genetik dan proses selama

122
NOMOR 22 TAHUN XVIII Oktober 2017
ISSN 1907-3232

kehamilan; 2) faktor eksternal yaitu faktor-faktor luar seperti gizi, penyakit, aktivitas
fisik, keluarga, lingkungan. Selain perlu memahami hal-hal tersebut, sebagai guru di
Sekolah Dasar mesti pula mengetahui prinsip-prinsip dalam pembelajaran tematik yang
berpusat pada peserta didik, memberikan pengalaman langsung pada anak, tidak terjadi
pemisahan materi, menyajikan konsep dari berbagai materi pelajaran, bersifat fleksibel,
sesuai minat dan kebutuhan peserta didik, menggunakan prinsip berlajar sambil berman,
mengembangkan komunikasi. Dalam pengembangan komunikasi, [3] pengembangan
komunikasi peserta didik harus dimunculkan guru dalam setiap pembelajaran tematik.
Pembelajaran tematik juga menekankan adanya kemampuan interaksi antara satu
individu dengan individu yang lain. Kemampuan interaksi ini juga sebagai indikator
keaktifan peserta didik dalam kegiatan pembelajaran, sekaligus sebagai karakteristik
dari pembelajaran berbasis kurikulum tematik. Cara pengembangan komunikasi peserta
didik diantaranya adalah: 1) memberi kesempatan pada peserta didik untuk menjelaskan
dan berargumentasi secara lisan maupun tulisan, 2) memberi kesempatan kepada peserta
didik untuk mengajukan pertanyaan, menjawab pertanyaan, menyampaikan sanggahan,
termasuk juga masukan dan kritik sesuai dengan kemampuan mereka, 3) memberi
kesempatan kepada peserta didik untuk berdiskusi, baik dalam kelompok kecil maupun
kelompok besar (seluruh peserta didik dalam satu kelas).
[4] Guru yang baik untuk anak-anak memiliki banyak sifat dan ciri khas, yaitu:
kehangatan hati, kepekaan, mudah beradaptasi, jujur, ketulusan hati, sifat yang
bersahaja, sifat yang menghibur, menerima perbedaan individu, mampu mendukung
pertumbuhan tanpa terlalu melindungi, badan yang sehat dan kuat, ketegaran hidup,
perasaan kasihan/keharuan, menerima diri, emosi yang stabil, percaya diri, mampu
untuk terus menerus berpartisipasi dan dapat belajar dari pengalaman.
Dari semua kutipan di atas jelaslah kondisi yang diharapkan dalam pembelajaran
bagi anak-anak SD, untuk itu guru harus mampu melaksanakannya agar peningkatan
mutu pendidikan dapat dicapai sesuai harapan. Kenyataan yang ada di lapangan ternyata
tidak sesuai dengan semua harapan tadi, ini terlihat pada data awal penilaian anak SD N
6 Lodtuntuh kelas I pada semester II tahun ajaran 2016/2017baru mencapai rata-rata 69.
Tidak sinkrunnya antara kondisi yang diharapkan dengan kondisi nyata yang ada di
lapangan memunculkan kesenjangan. Sehingga sebagai seorang guru harus berupaya
untuk memecahkan masalah yang ada. Untuk hal tersebut peneliti mencoba penggunaan

123
JURNAL PENDIDIKAN
INSTITUT KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN (IKIP) PGRI BALI

metode bercakap-cakap/bercerita untuk dapat mengupayakan peningkatan prestasi
belajar anak.

Apakah model pembelajaran bercakap-cakap/bercerita dapat meningkatkan
prestasi belajar anak kelas I semester II tahun ajaran 2016/2017di SD N 6 Lodtunduh?
Pemecahan masalah ini diupayakan dengan cara melakukan pembelajaran menggunakan
metode bercakap-cakap/bercerita. Dalam pelaksanaannya anak-anak dituntut untuk
mampu menjawab pertanyaan guru, menjelaskan hal-hal yang dituntut dengan cara
mengatakan apa yang disuruh menjelaskan. Apabila mereka mampu mengatakan berarti
kemampuan bercakap-cakap mereka sudah sesuai harapan. Selanjutnya, anak-anak
dituntut untuk menceritakan pembelajaran yang sudah diberikan dengan menyuruh
mereka melakukan tugas yang diberikan dan mengatakannya kembali untuk mengetahui
kebenaran-kebenaran dari keilmuan yang sudah dikuasai. Apabila pembelajaran
Tematik diupayakan dengan giat dibantu metode bercakap-cakap dan bercerita maka
peningkatan prestasi belajar anak-anak SD N 6 Lodtuntuh akan dapat ditingkatkan.

2. Metode Penelitian
Subjek penelitian ini adalah semua anak kelas I SD N 6 Lodtunduh. Penelitian
ini dilakukan dari bulan Januari sampai bulan Juni. Untuk mengumpulkan data
penelitian ini adalah tes prestasi belajar. Metode yang digunakan untuk menganalisis
data hasil penelitian ini adalah metode deskriptif baik untuk data kualitatif maupun
untuk data kuantitatif. Untuk data kualitatif dianalisis dengan memberi pertimbangan-
pertimbangan, memberi komentar-komentar, mengklasifikasikan data, mencocokan
dengan validitas internal dan validitas eksternal, mencari hubungan-hubungan, mencari
perbandingan-perbandingan, mengkategorikan data dan selanjutnya membuat
kesimpulan refleksi dengan mencari makna dari kesimpulan hubungan antar kategori.
Untuk penelitian ini penulis memilih rancangan penelitian tindakan berikut [5],
Perencanaan: Pada tahap ini peneliti membuat RPP, berkonsultasi dengan teman sejawat
membuat instrumen.

Pada tahap menyusun rancangan diupayakan ada kesepakatan antara guru dan
sejawat. Rancangan dilakukan bersama antara peneliti yang akan melakukan tindakan
dengan guru lain yang akan mengamati proses jalannya tindakan. Hal tersebut untuk

124
NOMOR 22 TAHUN XVIII Oktober 2017
ISSN 1907-3232

mengurangi unsur subjektivitas pengamat serta mutu kecermatan pengamatan yang
dilakukan.

Pelaksanaan Tindakan: Tahap pelaksanaan tindakan dilakukan dengan
pembelajaran di kelas. Pada tahap ini guru peneliti giat melakukan tindakan berbantuan
alat peraga. Rancangan tindakan tersebut sebelumnya telah dilatih untuk dapat
diterapkan di dalam kelas sesuai dengan skenarionya. Skenario dari tindakan
diupayakan dilaksanakan dengan baik dan wajar.

Pengamatan atau observasi: Tahap ini sebenarnya berjalan bersamaan dengan
saat pelaksanaan. Pengamatan dilakukan pada waktu tindakan sedang berjalan, jadi,
keduanya berlangsung dalam waktu yang sama.

Pada tahap ini,guru yang bertindak sebagai peneliti melakukan pengamatan dan
mencatat semua hal yang diperlukan dan terjadi selama pelaksanaan tindakan
berlangsung. Pengumpulan data ini dilakukan dengan menggunakan tes prestasi belajar
yang telah tersusun, termasuk juga pengmatan secara cermat pelaksanaan skenario
tindakan dari waktu ke waktu serta dampaknya terhadap proses dan hasil belajar anak.

Refleksi: Tahapan ini dimaksudkan untuk mengkaji secara menyeluruh tindakan
yang telah dilakukan, berdasarkan data yang telah terkumpul, kemudian dilakukan
evaluasi guna menyempurnakan tindakan berikutnya.

Refleksi dalam PTK mencakup analisis, sintesis, dan penilaian terhadap hasil
pengamatan atas tindakan yang dilakukan. Jika terdapat masalah dari proses refleksi
maka dilakukan proses pengkajian ulang melalui siklus berikutnya yang meliputi
kegiatan: perencanaan ulang, tindakan ulang, dan pengamatan ulang shingga
permasalahan dapat teratasi.

3. Kajian Pustaka
[6] Hakekat metode bercakap-cakap adalah mengajak anak bercakap-cakap,
bagaimana menggunakan bahasa, menambah perolehan jumlah kata-kata, bisa
dilakukan dengan teman-temannya, meningkatkan kemampuan menyimak perkataan,
mempraktekkan bahasa, membantu keterlibatan anak dalam berbahasa, guru berupaya

125
JURNAL PENDIDIKAN
INSTITUT KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN (IKIP) PGRI BALI

sebagai fasilitator, moderator, memberi pertanyaan-pertanyaan, anak menjawab,
pendidik memberi umpan balik, penggunaan simbol-simbol bahasa.
[6] Metode bercerita adalah metode yang dilakukan seseorang untuk
menyampaikan suatu pesan, informasi atau sebuah dongeng belaka yang bisa dilakukan
secara lisan atau tertulis. Cara permainan cerita tersebut dapat dilakukan dengan
menggunakan alat peraga atau tanpa alat peraga. Tujuan metode bercerita adalah
mengembangkan kemampuan berbahasa, berfikir dengan bercerita, menanamkan pesan-
pesan moral, kepekaan sosial emosional, melatih daya ingat, mengembangkan potensi
kreatif melalui keragaman ide cerita. Bentuk-bentuknya adalah tanpa alat peraga dan
dengan alat peraga.

Dengan memahami semua pengertian tentang anak usia dini dan kebutuhan-
kebutuhan mereka, maka model yang perlu dirancang untuk mereka salah satunya
adalah model pembelajaran Tematik mengingat model ini adalah model yang
menggabungkan beberapa materi menjadi satu kesatuan ajar sesuai alur pikiran anak
yang masih holistik.

[7] Pembelajaran Tematik disampaikan bahwa pembelajaran Tematik sebagai
model pembelajaran termasuk salah satu tipe/jenis daripada model pembelajaran-model
pembelajaran terpadu yang menggunakan tema untuk mengaitkan beberapa mata
pelajaran sehingga dapat memberikan pengalaman bermakna kepada siswa. [7] Hakekat
model pembelajaran Tematik menyatakan bahwa pembelajaran Tematik dimaknai
sebagai pembelajaran yang dirancang berdasarkan tema-tema tertentu

Prestasi belajar merupakan hasil dari proses belajar siswa dan sebagaimana biasa
dilaporkan pada wali kelas, anak dan orang tua siswa setiap akhir semester atau akhir
tahun ajaran.

Prestasi belajar mempunyai arti dan manfaat yang sangat penting bagi anak
didik, pendidik, orang tua/wali anak dan sekolah, karena nilai atau angka yang diberikan
merupakan manifestasi dari prestasi belajar siswa dan berguna dalam pengambilan
keputusan atau kebijakan terhadap siswa yang bersangkutan maupun sekolah. Prestasi
belajar merupakan kemampuan anak yang dapat diukur, berupa pengetahuan, sikap dan
keterampilan yang dicapai anak dalam kegiatan belajar mengajar.

126
NOMOR 22 TAHUN XVIII Oktober 2017
ISSN 1907-3232

Dapat disimpulkan bahwa prestasi belajar adalah hasil yang dicapai anak setelah
melakukan kegiatan belajar yang berbentuk angka sebagai simbol dari ketuntasan
belajar bidang studi sejarah. Prestasi belajar ini sangat dipengaruhi oleh faktor luar yaitu
guru dan metode. Hal inilah yang menjadi titik perhatian peneliti di lapangan.

4. Hasil Penelitian dan Pembahasan
4.1 Hasil Penelitian Siklus 1
Dalam menyampaikan hasil penelitian dan pembahasan, perlu menyajikan
uraian masing-masing siklus dengan data lengkap mulai dari perencanaan, pelaksanaan,
pengamatan dan refleksi yang berisi penjelasan tentang aspek keberhasilan dan
kelemahan yang terjadi. Perlu ditambahkan hal yang mendasar, yaitu hasil pembahasan
(kemajuan) pada diri anak, lingkungan, guru, motivasi dan aktivits belajar, situasi kelas
dan hasil belajar.

Rencana Tindakan I

Perencanaan tindakan I meliputi: Peneliti membuat Rencana Pelaksanaan
Pembelajaran (RPP) yang dilaksanakan dengan metode bercakap-cakap.

Menentukan waktu pelaksanaan, yang menyangkut hari, tanggal, sesuai dengan
jadwal penelitian yaitu pada minggu ke 3 dan bulan januari.

Menentukan yang menjadi prinsip supervisi teknik kunjungan kelas. Hasilnya
adalah format-format perencanaan teknik kunjungan kelas untuk penilaian guru.

Merencanakan bahan pelajaran dan merumuskan tujuan. Menentukan bahan
pelajaran, dengan cara menyesuaikan dengan silabus yang berlaku dan penjabarannya
dengan cukup baik. Memilih dan mengorganisaasikan materi, media, dan sumber
belajar.

Merancang skenario pembelajaran. Skenario pembelajaran disesuikan dengan
tujuan, materi dan tingkat perkembangan siswa, diupayakan variasi dalam
penyampaian. Susunan dan langkah-langkah pembelajaran sudah disesuaikan dengan
tujuan, materi, tingkat perkembangan anak, waktu yang tersedia, sistematiknya adalah
menaruh anak dalam posisi sentral, mengikuti perubahan strategi pendidikan dari
pengajaran ke pembelajaran.

127
JURNAL PENDIDIKAN
INSTITUT KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN (IKIP) PGRI BALI

Membuat format penilaian yang akan digunakan oleh teman sejawat yang
mengamati pelaksanaan proses pembelajaran.

Pelaksanaan tindakan pada siklus I ini dimulai dengan pembukaan, pelaksanaan
pembelajaran inti eksplorasi, elaborasi dan konfirmasi, lalu melakukan pembelajaran
penutup. Peneliti mencoba mengelola kelas dengan sebaik-baiknya, mengajar
menggunakan alur model Pembelajaran tematik. Dalam pelaksanaan peneliti berpakaian
rapi, menggunakan bahasa yang santun, menuntun anak semaksimal mungkin dengan
penggunaan metode bercakap-cakap, peneliti mengupayakan strategi agar mudah
mengamati anak yang sedang belajar. Setelah pembelajaran selesai dilakukan,
dilanjutkan dengan mengadakan pertemuan dengan guru yang mengawasi proses
pembelajaran untuk mendiskusikan hasil pengamatan.

Dari diskusi dengan guru, terungkap bahwa: 1) Pembelajaran yang dilakukan
belum maksimal, karena peneliti baru pertamakali mencoba metode ini. 2) Anak-anak
memang belum aktif menerima pelajaran dan memberi tanggapan, hal ini belum sesuai
dengan harapan teori metode bercakap-cakap. 3) Peneliti mengusulkan agar guru yang
mengamati mau kembali dan bersedia mengamati kembali pada kesempatan di siklus II.
4) Untuk sementara, peneliti belum yakin bahwa pelaksanaan supervisi kunjungan kelas
mampu mendorong peningkatan prestasi belajar.

Refleksi merupakan kajian secara menyeluruh tindakan yang telah dilakukan
berdasarkan data yang telah terkumpul, kemudian dilakukan evaluasi guna
menyempurnakan tindakan. Refleksi menyangkut analisis, sintesis, dan penilaian
terhadap hasil pengamatan atas tindakan yang dilakukan [5]. Analisis kuantitatif prestasi
belajar anak siklus I: Rata-rata (mean) yang diperoleh adalah 65 Median (titik
tengahnya) adalah 65 Modus (angka yang paling banyak muncul) 70.

Hasil Tindakan Siklus I, data keberhasilan tindakan yang dilakukan guru
diperoleh rata-rata 69. Dari data tersebut ada 15 orang anak yang sudah tuntas. Namun
masih lebih banyak yang belum tuntas yaitu 10 orang. Persentase ketuntasan untuk
siklus I 60%. Hasil ini menunjukkan betapa giatnya peneliti memperbaiki kekurangan-
kekurangan-kekurangan yang ada sebelumnya dengan cara membuat perencanaan yang
lebih sempurna, melaksanakannya dengan penuh semangat, membuat instrumen

128
NOMOR 22 TAHUN XVIII Oktober 2017
ISSN 1907-3232

penilaian penilaian yang cocok dengan materi yang disampaikan berdasarkan
peningkatan ranah kognitif, menyusun RPP yang lebih sempurna.

Dari kegiatan tersebut, ternyata nilai siswa yang terbanyak muncul adalah 70,
dan KKM mata pelajaran matematika di sekolah ini adalah 70. Namun hanya 15 orang
anak (60%) mendapat nilai > 85 yang mana hasil yang diperoleh belum mencapai
ketuntasan 85%.

Penilaian Siklus I, perencanaan siklus I yang sudah matang, dengan membuat
RPP sesuai dengan model pembelajaran bercakap-cakap/bercerita lebih menuntun siswa
mampu meningkatkan kemampuan belajarnya. Pada saat pelaksanaan, peneliti telah
mengupayakan agar model pembelajaran bercakap-cakap/bercerita berjalan sesuai
harapan sehingga siswa betul belajar sesuai harapan model pembelajaran ini.
Pengamatan/observasi juga sudah berjalan sesuai harapan walaupun hasilnya belum
memenuhi kriteria usulan penelitian mengingat peneliti baru mulai menggunakan model
pembelajaran yang baru. Pelaksanaan pembelajaran menggunakan model pembelajaran
bercakap-cakap ini berhasil meningkatkan prestasi belajar siswa walaupun belum
maksimal.

4.2 Hasil Penelitian Siklus II
Perencanaan Tindakan II, yang perlu disampaikan pada perencanaan tindakan II
ini adalah: 1) Peneliti merencanakan kembali jadwal untuk melakukan pembelajaran di
kelas sesuai jadwal yang sudah dibuat dan disesuaikan dengan waktu dalam kalender
pendidikan. Refleksi siklus I merupakan dasar dari pembuatan perencanaan di siklus II.
2) Menyusun Rencana Pelaksanaan Pembelajaran (RPP) yang baik serta membuat
instrumen pengumpulan data. 3) Menyusun RPP yang di dalamnya berisi rancangan
skenario pembelajaran dengan melihat kekurangan-kekurangan yang ada pada siklus I.
Peneliti melakukan hal-hal yang bisa dilakukan untuk peningkatan prestasi belajar dan
melihat refleksi yang telah dilakukan sebelumnya. Untuk hal ini, semua catatan tentang
kekurangan yang ada di siklus I yang merupakan hasil refleksi disampaikan pada guru
untuk dipelajari.

Pelaksanaan tindakan pada siklus II ini disampaikan sebagai berikut:
Pelaksanaan tindakan dilakukan dengan memulai pembelajaran pendahuluan. Hal-hal

129
JURNAL PENDIDIKAN
INSTITUT KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN (IKIP) PGRI BALI

yang dilakukan dalam pembelajaran pendahuluan adalah, masuk kelas dengan
mengucapkan salam, kemudian memeriksa kehadiran atau absensi anak, lanjut
memotivasi anak untuk belajar lebih giat, memberi apersepsi untuk menghubungkan
pembelajaran yang akan dilakukan dengan materi yang sudah diajarkan sebelumnya,
berlanjut dengan menyampaikan tujuan yang diupayakan dalam pembelajaran dan
menyampaikan cakupan materi. Pada pembelajaran inti peneliti melaksanakan
explorasi, elaborasi dan konfirmasi berlanjut dengan melaksanakan penutupan
pembelajaran dengan mengucapkan salam penutup.

Observasi/Penilaian terhadap prestasi belajar didahului dengan mencatat hal-hal
penting seperti aktivitas belajar dan dilakukan pada saat peneliti melakukan tindakan.
Dari catatan-catatan yang cepat tersebut penulis mengetahui dibagian mana diperbaiki,
dibagian mana diperlukan penekanan-penekanan, dibagian mananya perlu diberi saran-
saran serta penguatan-penguatan. Disamping itu pada catatan cepat yang dilakukan
peneliti, dicatat juga kreativitas anak, kemauan anak untuk ikut berpartisipasi dalam
pembelajaran, kontribusi diantara para anak. Apabila semua ini terlaksana dengan baik
sudah pasti guru dalam melaksanakan tugas pembelajaran akan cukup profesional.
Pelaksanaan penilaian akhirnya dilanjutkan minggu depannya karena setelah guru
melakukan proses pembelajaran, waktu untuk memberikan tes tidak mencukupi
sehingga dilaksanakan pada pertemuan selanjutnya.

Refleksi Siklus II, analisis Kuantitatif untuk Perolehan Nilai Tes Prestasi Belajar
Siklus II: Rata-rata (mean) hasil tes prestasi belajar siswa adalah 73. Median (titik
tengahnya) adalah 70, Modus (atau angka yang paling sering muncul) adalah 70.

Hasil Tindakan Siklus II

Hasil yang diperoleh dari pelaksanaan tindakan siklus II sudah cukup baik.
Tidak ada anak yang belum tuntas. Ketuntasan belajar sudah 96%. Hasil ini
menunjukkan bahwa nilai rata-rata yang diperoleh pada siklus II meningkat dari siklus I
yaitu dari 69 menjadi 75,2. Dari data ini ditemukan 1 orang anak ada pada nilai KKM
(70) dan 24 orang anak mendapat nilai di atas nilai KKM.

130
NOMOR 22 TAHUN XVIII Oktober 2017
ISSN 1907-3232

Penilaian Siklus II

Perencanaan siklus I yang sudah matang, dengan membuat RPP sesuai dengan
model pembelajaran bercakap-cakap/bercerita lebih menuntun siswa mampu
meningkatkan kemampuan belajarnya. Pada saat pelaksanaan, peneliti telah
mengupayakan agar model pembelajaran bercakap-cakap/bercerita berjalan sesuai
harapan sehingga siswa betul belajar sesuai harapan model pembelajaran ini.
Pengamatan/observasi juga sudah berjalan sesuai harapan walaupun hasilnya belum
memenuhi kriteria usulan penelitian mengingat peneliti baru mulai menggunakan model
pembelajaran yang baru.
Setelah pelaksanaan siklus I yang hasilnya belum memenuhi kriteria
keberhasilan penelitian dilanjutkan ke siklus II dimulai lagi dari perencanaan,
pelaksanaan, observasi dan refleksi. Penilaian terhadap hasil perencanaan dapat
disampaikan bahwa RPP yang dibuat sudah sesuai dengan harapan model pembelajaran
bercakap-cakap/bercerita Hal tersebut lebih disebabkan peneliti sudah berpengalaman
membuat RPP dengan model pembelajaran bercakap-cakap/bercerita sebelumnya yaitu
pada siklus I. Pelaksanaan yang sudah cukup mantap dapat dilakukan sesuai model
pembelajaran bercakap-cakap/bercerita, begitu juga observasi/pengamatan berjalan
sesuai harapan. Setelah direfleksi ternyata secara keseluruhan hasil yang didapat telah
memenuhi kriteria keberhasilan penelitian serta hipotesis yang diajukan dapat diterima
sehingga penelitian ini tidak diteruskan ke siklus berikutnya.

Pembahasan

Pembahasan Hasil yang Diperoleh dari Siklus I

Perencanaan Siklus I dilakukan dengan melihat kekurangan sebelumnya.
Kekurangan yang ada sebelum menggunakan model pembelajaran bercakap-
cakap/bercerita ini adalah: pembelajaran belum terfokus pada upaya-upaya penemuan
oleh anak belum terlaksana dengan baik, model hanya dilakukan guru sendiri, refleksi
tidak dilakukan. Dari kekurangan-kekurangan yang ada sebelumnya, peneliti menyusun
RPP untuk memaksimalkan pembelajaran. Kelebihan penggunaan model pembelajaran
bercakap-cakap/bercerita adalah siswa diajak membangun pengetahuannya sendiri,
mengkonstruksi pengetahuan dengan bahan-bahan yang lengkap disajikan, para siswa

131
JURNAL PENDIDIKAN
INSTITUT KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN (IKIP) PGRI BALI

mampu berasimilasi, berakomodasi atau menyerap pengetahuan, bekerja, berlatih,
berprestasi, mendemonstrasikan segalah sesuatu, dapat mengamati materi, merumuskan,
menganalisa, mengkomunikasikan pengetahuan bersama teman-teman mereka, mampu
merefleksi, pemodelan tidak diberikan oleh guru saja, melakukan refleksi. Hal-hal inilah
yang diupayakan peneliti untuk meningkatkan prestasi belajar anak. Tes yang
diupayakan sebagai alat evaluasi juga mampu memporsir anak untuk betul-betul dapat
memahami apa yang sudah dipelajari. Nilai rata-rata anak di siklus I sebesar 69
menunjukkan bahwa anak sudah menguasai materi yang diajarkan walaupun belum
begitu sempurna. Hasil ini menunjukkan peningkatan kemampuan anak menguasai mata
pelajaran matematika apabila dibandingkan dengan nilai awal siswa sesuai data yang
sudah disampaikan dalam analisis sebelumnya.
Dengan upaya maksimal yang telah dilakukan, akhirnya hasil penelitian Siklus I
menemukan efek utama bahwa penggunaan metode tertentu akan berpengaruh terhadap
prestasi belajar anak yang dalam hal ini adalah model pembelajaran bercakap-
cakap/bercerita. Hal ini sesuai dengan hasil meta analisis metode pembelajaran yang
menyatakan bahwa metode pembelajaran yang diterapkan oleh seorang guru
berpengaruh terhadap prestasi belajarnya.
Kendala yang masih tersisa yang perlu dibahas adalah prestasi belajar yang
dicapai pada siklus I ini belum memenuhi harapan sesuai dengan kriteria keberhasilan
penelitian yang diusulkan pada mata pelajaran matematika di sekolah ini yaitu 70. Oleh
karenanya upaya perbaikan lebih lanjut masih perlu diupayakan sehingga perlu
dilakukan perencanaan yang lebih matang untuk siklus selanjutnya.

Pembahasan Hasil yang Diperoleh dari Siklus II

Hasil yang diperoleh dari tes prestasi belajar di siklus II menunjukkan bahwa
kemampuan anak dalam mengikuti pelajaran sudah cukup baik. Anak sudah giat
mengakomodasi materi, sudah giat menemukan sendiri, mentransformasikan ke situasi
lain, giat bekerja, berlatih, berprestasi, mendemonstrasikan sesuatu, melakukan kerja
kelompok, bertanya jawab, guru giat menjadi contoh-contoh yang baik, memfasilitasi
anak agar mudah memahami materi. Peningkatan hasil yang terjadi terbukti dari
kenaikan nilai rata-rata prestasi belajar anak menjadi 75,2. Hasil ini menunjukkan

132
NOMOR 22 TAHUN XVIII Oktober 2017
ISSN 1907-3232

bahwa model pembelajaran bercakap-cakap/bercerita telah berhasil meningkatkan
kemampuan anak menempa ilmu sesuai harapan. Pembelajaran bercakap-
cakap/bercerita merupakan model yang cocok bagi anak apabila guru menginginkan
mereka memiliki segala kemampuan yang telah dipaparkan di atas.
Pencapaian hasil penelitian ini ternyata telah memberi efek utama bahwa model
yang diterapkan dalam proses pembelajaran berpengaruh secara signifikan terhadap
prestasi belajar anak. Temuan ini membuktikan bahwa guru sudah tepat memilih
metode dalam melaksanakan proses pembelajaran karena pemilihan metode merupakan
hal yang tidak boleh dikesampingkan. Metode pembelajaran yang diterapkan
berpengaruh terhadap prestasi belajar anak, sehinga model pembelajaran bercakap-
cakap/bercerita menempati tempat yang penting karena dapat mengaktifkan anak secara
maksimal.
Dengan kesungguhan hati peneliti dalam melaksanakan penelitian ini akhirnya
prestasi belajar anak dapat ditingkatkan dengan penggunaan model pembelajaran
bercakap-cakap/bercerita. Walaupun penelitian ini sudah bisa dikatakan berhasil, namun
pada saat-saat peneliti mengajar di kelas cara selanjutnya, cara ini akan terus
dilanjutkan. Kekurangan-kekurangan yang ada sangat sedikit, misalnya dalam
pengelolaan waktu, akibat anak giat mengadopsi apa yang diberikan tidak terasa waktu
pembelajaran sudah habis. Hal tersebut disampaikan oleh teman sejawat yang
mengamati proses pembelajaran.
5. Simpulan
Dengan mengetahui bahwa pemicu rendahnya prestasi belajar ada pada faktor-
faktor seperti metode yang digunakan guru, sehingga penggunaan atau penggantian
metode konvensional menjadi metode-metode yang sifatnya konstruktivis sangat
diperlukan, akibatnya peneliti mencoba model pembelajaran Tematik dalam upaya
untuk dapat memecahkan permasalahan yang ada di sekolah.
Dari data awal ada 19 anak mendapat nilai di bawah KKM pada siklus I
menurun menjadi 10 anak dan siklus II hanya 1 anak mendapat nilai dibawah KKM.
Dari rata-rata awal 57 naik menjadi 69 pada siklus I dan pada siklus II naik menjadi
75,2. Dari data awal anak yang tuntas hanya 6 orang sedangkan pada siklus I menjadi
lebih banyak yaitu 15 anak dan pada siklus II menjadi cukup banyak yaitu 24 anak.

133
JURNAL PENDIDIKAN
INSTITUT KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN (IKIP) PGRI BALI

Upaya mencapai tujuan pembelajaran dapat disampaikan saran-saran sebagai
berikut: 1) Apabila mau melaksanakan proses pembelajaran pada mata pelajaran
matematika penggunaan model pembelajaran Tematik semestinya menjadi pilihan dari
beberapa metode yang ada mengingat metode ini telah terbukti dapat meningkatkan
kerjasama, berkreasi, bertindak aktif, bertukar informasi, mengeluarkan pendapat,
bertanya, berargumentasi dan lain-lain. 2) Walaupun penelitian ini sudah dapat
membuktikan efek utama dari model pembelajaran Tematik dalam meningkatkan
aktivitas dan prestasi belajar, sudah pasti dalam penelitian ini masih ada hal-hal yang
belum sempurna dilakukan, oleh karenanya kepada peneliti lain yang berminat meneliti
topik yang sama untuk meneliti bagian-bagian yang tidak sempat diteliti. 3) Selanjutnya
untuk adanya penguatan-penguatan, diharapkan bagi peneliti lain untuk melakukan
penelitian lanjutan guna verifikasi data hasil penelitian ini.

DAFTAR PUSTAKA

[1] Yamin, H. Martinis dan Jamilah Sabri Sanan. 2010. Panduan Pendidikan Anak Usia
Dini. Jakarta: Gaung Persada.
[2] Sulistyo, Ari. 2011. Panduan Mengajar dan Mendidik Anak Usia Dini. Depok: Millenia
Pustaka.
[3] Hajar, Ibnu. 2010. Panduan Lengkap Kurikulum Tematik untuk SD/MI. Jogjakarta: Diva
Press.
[4] Sujiono, Yuliani Nurani. 2009. Konsep Dasar Pendidikan Anak Usia Dini. Jakarta:
Yuliani Nurani Sujiono.
[5] Arikunto, Suharsimi; Suhardjono; Supardi. 2006. Penelitian Tindakan Kelas. Jakarta: PT
Bumi Aksara.
[6] Gunarti, Winda, dkk. 2010. Metode Pengembangan Prilaku dan Kemampuan Dasar
Anak Usia Dini. Jakarta: Universitas Terbuka.
[7] Depdiknas. 2010. Perkembangan Anak Usia Dini. Jakarta: Direktorat Pembinaan TK dan
SD, Dirjen Pendidikan Dasar dan Menengah.

134
NOMOR 22 TAHUN XVIII Oktober 2017
ISSN 1907-3232

PENERAPAN MODEL PEMBELAJARAN SAINS TEKNOLOGI MASYARAKAT
(STM) UNTUK MENINGKATKAN PRESTASI BELAJAR SISWA

I Putu Murtiasa

ABSTRACT

This research was conducted in SMP Negeri 2 Sawan in 2012 in the odd semester of class
VIII B1 totaling 25 people whose average ability of students for science subjects is still low.
This study aims to determine and analyze the effect of application of STM learning done in 2
(two) cycles in improving student achievement. Methods of data collection is the observation
and test of student achievement. Methods of data analysis were conducted with quantitative
deskrptif. Pretest 25 students got nilai with amount of 825, mean value 33, median 35 and
mode 35. Postes cycle I got value of 1420 with mean 56,8, median 55, and mode is 60. LKS
in cycle I total value 940 average 37, 6. Cycle II obtained amount of value 1500, mean value
in research get 60, median obtained 60 and mode 65. LKS in cycle II total value 1505 mean
60,2. The value of pretest, postes I and postes II, with the value of LKS as a comparison, it
appears that the application of STM learning model can improve student learning
achievement, so it can be applied to overcome the low learning achievement.

Keywords: STM learning, learning achievement.

1. PENDAHULUAN
Gambaran tentang kondisi riil SMP Negeri 2 Sawan disampaikan secara rinci dalam
profil berikut ini: Kelengkapan sarana Lab kurang dari 40%; perpustakaan belum lengkap dan
belum ada ruang multimedia. Raw input sangat lemah terbukti dari NEM siswa yang masuk
rerata 28, tertinggi 38 terendah 16. Gambaran tersebut menunjukkan bahwa prestasi siswa
rendah, sehingga diperlukan upaya pembelajaran yang lebih baik untuk mencapai hasil
belajar yang diharapkan.
Kondisi ekonomi masyarakat pendukung tergolong lemah, hal tersebut tergambar dari
pekerjaan orang tua sebagian besar sebagai petani penggarap, buruh bangunan, dan nelayan.
Sedikit sekali yang bekerja sebagai pegawai negeri, pengusaha/pedagang kelas menengah
apalagi pengusaha besar.
Kesehatan siswa pendukung rendah terlihat dari banyak siswa absen karena sakit dan
banyak siswa tidak mengikuti kegiatan sekolah dengan alasan sakit. Motivasi belajar sains
siswa masih rendah, terlihat dari sikap negatif siswa terhadap pelajaran IPA (sains) seperti:
banyak siswa menganggap pelajaran sains sangat sulit, sains dipandang sebagai pembunuh
dalam Ujian Nasional. Proses pembelajaran di SMP Negeri 2 Sawan selama in masih

135


JURNAL PENDIDIKAN
INSTITUT KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN (IKIP) PGRI BALI

didominasi oleh pembelajaran konvensional, lebih menggunakan pembelajaran yang
didominasi oleh kegiatan ceramah.
Proses pembelajaran dan pilihan modifikasinya adalah pilihan bijak bagi guru untuk
meningkatkan prestasi belajar siswa. Model pembelajaran dan penerapannya dalam kegiatan
pembelajaran sangat menentukan hasil belajar siswa. Sehingga peneliti berpandangan bahwa
perlu dilakukan antisipasi untuk menghindari kegagalan siswa dalam pembelajaran melalui
strategi pembelajaran yang bisa menarik perhatian, memotivasi dan meningkatkan antusiasme
siswa selama proses pembelajaran berlangsung. Antisipasi tersebut sebagai upaya guru
menciptakan pembelajaran yang tepat dan bermutu yang berujung pada peningkatan prestasi
belajar siswa.
Untuk itu peneliti melakukan tindakan kelas dengan judul penelitian adalah Penerapan
Model Pembelajaran STM untuk meningkatkan prestasi belajar IPA siswa kelas VIII B1 di
SMP Negeri 2 Sawan pada semester ganjil tahun 2012.

2. Metode Penelitian
Penelitian ini dilakukan di SMP Negeri 2 Sawan. Yang menjadi subyek penelitian adalah
siswa kelas VIII B1 SMP Negeri 2 Sawan. Sedangkan objek penelitian tindakan kelas in
adalah upaya ril peneliti dalam mengkondisikan siswa selama mengikuti proses
pembelajaran untuk meningkatkan prestasi belajar IPA siswa kelas VIII B1 SMP Negeri 2
Sawan. Dalam penelitian ini peneliti menggunakan 2 siklus penelitian dan setiap
siklusnya masing-masing terdiri dari 4 tahap yaitu: 1) tahap perencanaan, 2) tindakan, 3)
observasi/ evaluasi,dan 4) tahap refleksi.
Suharsimi Arikunto (2006)

Permasalahan
Perencanaan Pelaksanaan
tindakan I tindakan I

Siklus I

Refleksi I Pengamatan/
pengumpulan data
Permasalahan
baru hasil
refleksi I

136


NOMOR 22 TAHUN XVIII Oktober 2017
ISSN 1907-3232

Perencanaan Pelaksanaan
tindakan II tindakan II

Siklus II

Refleksi II Pengamatan/
pengumpulan data

Bila
permasalahan
belum
terselesaikan

Dilanjutkan ke
siklus berikutnya
Gambar 01 Siklus Penelitian

Artinya, penelitian ini dimulai dari adanya observasi awal untuk menemukan masalah,
dengan adanya masalah peneliti membuat perencanaan Siklus I, dilanjutkan dengan
melaksanakan penelitian serta mengamati untuk mengumpulkan data. Selanjutnya
menganalisis data, kemudian melakukan refleksi untuk menemukan kekurangan/masalah
siklus I guna menentukan langkah strategis yang riil di siklus berikutnya

Masalah yang baru ditemukan berdasarkan hasil refleksi pada siklus I dijadikan dasar
dalam penyusunan rencana kegiatan pada siklus II.

3. Hasil Penelitian dan Pembahasan
Pretes
Hasil ulangan yang diperoleh siswa pada pretes sangat rendah yaitu: pretes 25 orang
siswa mendapat nilai dengan jumlah 825, rerata nilai 33 selanjutnya dijadikan
pembanding nilai postes siklus I dan II.

Tabel 01. Hasil Ulangan Pretes
No Pre Tes Keterangan

1 40 TT

137


JURNAL PENDIDIKAN
INSTITUT KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN (IKIP) PGRI BALI

2 40 TT

3 35 TT

4 30 TT

5 35 TT

6 30 TT

7 45 TT

8 35 TT

9 40 TT

10 35 TT

11 30 TT

12 20 TT

13 20 TT

14 20 TT

15 35 TT

16 40 TT

17 35 TT

18 35 TT

19 25 TT

20 30 TT

21 35 TT

22 35 TT

23 30 TT

138


NOMOR 22 TAHUN XVIII Oktober 2017
ISSN 1907-3232

24 40 TT

25 30 TT

Jml 825

Rerata 33

Keterangan:
T = tuntas
TT = tidak tuntas
Perolehan yang sangat rendah di atas menginspirasi peneliti untuk melakukan modifikasi
pembelajaran melalui metode yang dipilih.

Tabel 02 Hasil Ulangan Postest Putaran I
No Pre Tes Keterangan

1 85 Naik T

2 55 Naik TT

3 40 Tetap TT

4 60 Naik TT

5 60 Naik TT

6 70 Naik TT

7 50 Naik TT

8 55 Naik TT

9 90 Tetap T

10 40 Naik TT

11 50 Naik TT

12 65 Naik TT

13 60 Naik TT

139


JURNAL PENDIDIKAN
INSTITUT KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN (IKIP) PGRI BALI

14 50 Naik TT

15 40 Naik TT

16 60 Turun TT

17 35 Tetap TT

18 70 Turun TT

19 55 Naik TT

20 40 Naik TT

21 70 Tetap TT

22 75 Tetap T

23 65 Naik TT

24 45 Naik TT

25 35 Naik TT

Jml 1420

Rerata 56,8

Postes siklus I dari 25 orang peserta ulangan mendapat nilai sejumlah 1420 dengan rerata
56,8, median 55, dan modus 60.

Refleksi yaitu kajian secara menyeluruh terhadap tindakan yang telah dilakukan
berdasarkan data yang telah berhasil dikumpulkan, kemudian dilakukan rencana tindak
lanjut guna penyempurnaan tindakan pada siklus selanjutnya. Refleksi dibutuhkan untuk
mengetahui dan menunjukkan kemajuan prestasi belajar yang diperoleh, serta
kemampuan siswa untuk menguasai materi yang diajarkan. Analisis prestasi belajar pada
pretes dan siklus I yang dicari adalah median dengan cara mengurut data nilai siswa dari
yang terkecil hingga terbesar. Setelah diurut diambil nilai yang di tengah-tengah, jika
jumlah peserta ganjil maka nilai itu adalah median. Jika jumlah pesertanya genap maka
dua data nilai yang ada di tengah-tengah dijumlah selanjutnya dibagi dua. Pada pretes
140


NOMOR 22 TAHUN XVIII Oktober 2017
ISSN 1907-3232

diperoleh rerata 33, untuk median diperoleh 35, modus (yang paling sering muncul)
adalah 35. Meningkat pada siklus I dengan jumlah 1420, rerata 56,8, median 55, dan
modus 60. Jadi pembelajaran yang dilakukan memberikan imbas positif tehradap
peningkatan prestasi belajar siswa. Hal itu Nampak dari peningkatan nilai pada pretes ke
postes.

Dalam rangka penyajian dalam bentuk grafik hasil pada pretes ada beberapa persiapan
yang dilakukan yaitu:
1. Penentuan banyak klas (K) = 1 + 3,3 Log (N) …… N = jumlah
= 1 + 3,3 log (25)
= 1 + (3,3 x 1,398)
= 1 + 4,613
= 5,613 …………….. 6

2. Rentang kelas (r) = Skor max – skor min
= 90 – 35
= 55 ………………..55

3. Panjang kelas interval (I) = 55 : 6
= 9,2

Tabel 03. Interval Klas pada Pretes
Frekuensi Frekuensi
No Interval Nilai Tengah
Absolut Relatif

1 35 – 44 39,5 4 16

2 45 – 54 49,5 4 16

3 55 – 64 59,5 5 20

4 65 – 74 69,5 8 32

5 75 – 84 79,5 2 8

6 85 – 94 89,5 2 8

141


JURNAL PENDIDIKAN
INSTITUT KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN (IKIP) PGRI BALI

25 100

Penyajian dalam bentuk histogram

Gambar 02. Histogram Prestasi Belajar IPA Siswa Kelas VIII B1 Semester Ganjil
Tahun Pelajaran 2012 SMP Negeri 2 Sawan pada Siklus I

Penilaian LKS Siklus I

Tabel 04. Nilai LKS I

No Nilai I Keterangan

1 40

2 40

3 40

4 40

5 30

6 30

7 30

8 40

142


NOMOR 22 TAHUN XVIII Oktober 2017
ISSN 1907-3232

9 40

10 40

11 45

12 45

13 40

14 40

15 40

16 35

17 35

18 40

19 35

20 30

21 30

22 45

23 35

24 40

25 35

Jumlah 940

Rerata 37,6

Nilai hasil kerja LKS ini dijadikan pembanding terhadap nilai ulangan siswa. Nilai LKS
merupakan gambaran kemauan siswa bekerja baik di sekolah maupun di rumah. Realisasi
perolehan nilai LKS masih rendah menunjukkan motivasi belajar siswa juga rendah.

143


JURNAL PENDIDIKAN
INSTITUT KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN (IKIP) PGRI BALI

Tabel 05. Hasil Ulangan Siklus II

No Nilai II Keterangan

1 85 T

2 60 TT

3 45 TT

4 65 TT

5 65 TT

6 75 T

7 55 TT

8 65 TT

9 95 T

10 45 TT

11 55 TT

12 70 TT

13 65 TT

14 55 TT

15 40 TT

16 50 TT

17 35 TT

18 65 TT

19 60 TT

144


NOMOR 22 TAHUN XVIII Oktober 2017
ISSN 1907-3232

20 45 TT

21 70 TT

22 75 T

23 65 TT

24 50 TT

25 45 TT

Jumlah 1500

Rerata 60

Refleksi pada siklus II jumlah nilai 1500, mean 60, median diperoleh 60, modus/angka yang
paling sering muncul adalah 60.

Dalam angka penyajian data dalam bentuk grafik siklus II ada beberapa persiapan yang
dilakukan yaitu:

1. Penentuan banyak klas (K) = 1 + 3,3 Log (N) …… N = jumlah
= 1 + 3,3 log (25)
= 1 + (3,3 x 1,398)
= 1 + 4,613
= 5,613 …………….. 6

2. Rentang kelas (r) = Skor max – skor min
= 95 – 35
= 60 ………………..60

3. Panjang kelas interval (I) = 60 : 6
= 10………………..10

145


JURNAL PENDIDIKAN
INSTITUT KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN (IKIP) PGRI BALI

Tabel 06. Interval Klas pada Siklus II
Frekuensi Frekuensi
No Interval Nilai Tengah
Absolut Relatif

1 35 – 45 40 6 24

2 46 – 56 51 5 20

3 57 – 67 62 8 32

4 68 – 78 73 4 16

5 79 – 89 84 1 4

6 90 – 100 95 1 4

25 100

Penyajian dalam bentuk histogram

Gambar 03. Histogram Prestasi Belajar IPA Siswa Kelas VIII B1 Semester Ganjil
Tahun Pelajaran 2012 SMP Negeri 2 Sawan pada Siklus I

146


NOMOR 22 TAHUN XVIII Oktober 2017
ISSN 1907-3232

Penilaian LKS Siklus II

Tabel 07. Nilai LKS pada Siklus II

No Nilai I Keterangan

1 50 Naik

2 60 Naik

3 50 Naik

4 60 Naik

5 65 Naik

6 65 Naik

7 65 Naik

8 65 Naik

9 65 Naik

10 65 Naik

11 60 Naik

12 60 Naik

13 60 Naik

14 55 Naik

15 60 Naik

16 60 Naik

17 55 Naik

18 65 Naik

147


JURNAL PENDIDIKAN
INSTITUT KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN (IKIP) PGRI BALI

19 65 Naik

20 65 Naik

21 60 Naik

22 60 Naik

23 55 Naik

24 60 Naik

25 55 Naik

Jumlah 1505

Rerata 60,2

Terdapat peningkatan nilai perolehan siswa pada proses pengerjaan LKS, hal ini
menunjukkan bahwa motivasi siswa meningkat untuk bekerja dan belajar setelah belajar dua
siklus menggunakan metode STM.

Penilaian Kuesioner

Penilaian kuesioner dilakukan terhadap siswa menyangkut ketertarikan siswa terhadap model
pembelajaran STM.

No Pertanyaan 1 2 3 4

1 Apakah sebelumnya Anda pernah belajar dengan 0 0 0 25
metode STM ini?

2 Apakah Anda sudah belajar sebelum datang ke 0 5 4 16
sekolah?

3 Apakah Anda suka belajar dengan metode STM 19 5 1 0
ini?

4 Apakah Anda menjadi lebih tertantang dalam 14 1 3 7
belajar?

5 Apakah Anda merasa lebih memahami materi ini 19 2 3 1

148


NOMOR 22 TAHUN XVIII Oktober 2017
ISSN 1907-3232

dengan belajar menggunakan metode STM ini?

6 Apakah STM mengkaitkan pelajaran Anda dengan 20 4 1 0
teknologi dan pemanfaatannya di masyarakat?

7 Apakah metode STM dapat lebih menggugah rasa 19 5 1 0
ingin tahu Anda?

8 Apakah metode ini lebih banyak mengkaitkan 19 2 3 1
pelajaran dengan kehidupan sehari-hari Anda?

9 Apakah metode ini mampu mengantarkan Anda 19 3 2 1
pada sikap yang lebih jujur dan terbuka?

10 Apakah Anda merasa tertekan menggunakan 2 1 10 12
metode STM ini?

11 Apakah Anda ingin belajar dengan metode STM 20 3 2 0
ini pada pertemuan berikutnya?

(1 = respon sangat baik, 2 = respon baik, 3 = respon kurang, 4 = respon sangat kurang)

Respon siswa yang dihimpun melalui kuesioner di atas menunjukkan betapa siswa merasa
senang belajar menggunakan metode STM, sehingga siswa yang baru berkenalan dengan
STM ini menyatakan masih ingin belajar menggunakan model STM.

4. Kesimpulan
Salah satu penyebab rendahnya prestasi belajar adalah pendekatan, model, metode, strategi
yang digunakan oleh guru dalam proses pembelajaran di kelas. Peneliti menyadari bahwa
satu-satunya hal yang paling bisa dikelola oleh guru untuk meningkatkan prestasi belajar
siswa adalah memperbaiki strategi pembelajaran di kelas, sehingga peneliti menerapkan
pembelajaran Sains Teknologi Masyarakat (STM) untuk meningkatkan prestasi belajar siswa.
Dari data hasil penelitian yang telah dilakukan refleksi pada Bab IV, dapat disimpulkan
bahwa tujuan penelitian tercapai dengan pembuktian bahwa pada observasi melalui pretes
diperoleh jumlah nilai 825 selanjutnya meningkat pada siklus I menjadi 1420 dan meningkat
lagi pada siklus II menjadi 1505.
Penjelasan di atas membuktikan bahwa model pembelajaran STM dapat meningkatkan
prestasi belajar siswa sesuai tujuan penelitian. Ketercapaian tersebut karena model

149


JURNAL PENDIDIKAN
INSTITUT KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN (IKIP) PGRI BALI

pembelajaran STM efektif diterapkan dalam pembelajaran untuk meningkatkan prestasi
belajar siswa karena dapat mengaktifkan siswa, memberikan semangat/antusias kepada siswa
dalam belajar, dan dapat memberikan pemahaman materi yang baik kepada siswa sehingga
prestasi belajarnya meningkat.

Daftar Pustaka

Arikunto, Suharsimi; Suharjono; Supardi 2006. Penelitian Tindakan Kelas. Jakarta: Bumi
Aksara.
Bastian. 2000. Reformasi Pendidikan. Yogyakarta: Lappera.
Dahar & Liliasari. 1986. Interaksi Belajar Mengajar IPA. Jakarta: UT.
Depdiknas. 2001. Manajemen Peningkatan Mutu Berbasis Sekolah. Jakarta: Depdiknas.
Diknas Bali. 2007. Petikan Hasil Pengumuman Pemantapan Ujian Nasional. Denpasar:
Diknas Bali.
Dimiyati dan Mudjiono. 1999. Belajar dan Pembelajaran. Jakarta: Rineka Cipta.
Edi M. Hidayat. 1992. Science Technology Society; Pendidikan Sains untuk Tahun 2000.
Edisi Khusus Jurnal Pendidikan IPA Himpunan Sarjana Pendidikan.
Isjoni. 2004. Kinerja Guru. www.artikel.us/isjoni10.html.
Nasution. 1992. Berbagai Pendekatan dalam Proses Belajar Mengajar. Jakarta: Bumi
Aksara.
Rustum Roy. 1985. The Science/Technology/Society Connection. Curriculum Review 24.
Sadia. 2005. Konstruktifisme dalam Belajar Mengajar. Handout Kuliah, belum diterbitkan,
Singaraja: Undiksha.
Sadia, dkk. 2001. Pengembangan Buku Ajar Berwawasan STM. Laporan Hasil Penelitian
Hibah Bersaing yang Didanai oleh DP2M Dikti.
Suparno. 1997. Filsafat Kunstruktifis dalam Pendidikan. Yogyakarta: Kanisius.
Suwiryanto. 2004. Pendidikan yang Humanis. www.depdiknas.go.id.
Yayan. 2001. Pengembangan Model Pembelajaran Kimia untuk Meningkatkan Keterampilan
Berpikir Kritis dan Keterampilan Proses Sains Siswa SMU. Jurnal Pengajaran MIPA
UPI Vol. 2 No. 2.

150


NOMOR 22 TAHUN XVIII Oktober 2017
ISSN 1907-3232

MODEL PEMBELAJARAN EKSPOSITORY DALAM MENINGKATKAN PRESTASI
BELAJAR SD NEGERI 5

KEDEWATAN

I Made Parwata

ABSTRACT

This research was conducted at SD Negeri 5 Kedewatandi Class V. The purpose of this
class action research is to know whether the model of Audio-Visualized Expository Study can
improve student's learning achievement. The method of data collection is a test of learning
achievement. The method of data analysis is descriptive. Results obtained from this research
activity is an increase in value from the initial average of 69.81 in the first cycle rose to 74.05
and in the second cycle rose to 77.92. The conclusion obtained from this research is Audio-
Visualized Audio Visualized Expository model can improve learning achievement.
Keywords: Expository Learning Model, Audio Visual Media and Learning Achievement

1. Pendahuluan
Untuk menjadi guru yang profesional ditandai dengan pemberian sertifikat pendidik
dengan sejumlah persyaratan tertentu yang harus dipenuhi oleh guru. Dalam PP Nomor 19
Tahun 2005 tentang Standar Nasional Pendidikan disebutkan bahwa pendidik (guru) harus
memiliki kualifikasi akademik dan kompetensi sebagai agen pembelajaran, sehat jasmani dan
rohani, serta memiliki kemampuan untuk mewujudkan tujuan pendidikan nasional. Kualifikasi
akademik adalah tingkat pendidikan minimal yang harus dipenuhi oleh seorang pendidik yang
dibuktikan dengan ijazah dan/atau sertifikat keahlian yang relevan sesuai dengan ketentuan
perundang-undangan yang berlaku. Kompetensi sebagai agen pembelajaran meliputi komptensi
pedagogik, kompetensi kepribadian, kompetensi profesional dan kompetensi sosial.

Kompetensi guru sebagai agen pembelajaran merupakan modal pokok bagi seorang guru
dalam mengemban tugas keprofesionalan. Menurut Undang-undang guru dan dosen, dalam
melaksanakan tugas keprofesionalan, guru berkewajiban: (1) merencanakan pembelajaran,
melaksanakan proses pembelajaran yang bermutu, serta menilai dan mengevaluasi hasil
pembelajaran; (2) meningkatkan dan mengembangkan kualifikasi akademik dan kompetensi
secara berkelanjutan sejalan dengan perkembangan ilmu pengetahuan, teknologi, dan seni; (3)
bertindak objektif dan tidak diskriminatif atas dasar pertimbangan jenis kelamin, agama, suku,

151

JURNAL PENDIDIKAN
INSTITUT KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN (IKIP) PGRI BALI

ras, dan kondisi fisik tertentu, atau latar belakang keluarga, dan status sosial ekonomi peserta
didik dalam pembelajaran; (4) menjunjung tinggi peraturan perundang-undangan, hukum, dan
kode etik guru, serta nilai-nilai agama dan etika; dan (5) memelihara dan memupuk persatuan
dan kesatuan bangsa.

Sehubungan dengan tugas profesi seorang guru, [1] mempersyaratkan keterampilan yang
mesti dikuasai guru dalam melaksanakan pembelajaran, yaitu: 1) keterampilan bertanya, 2)
keterampilan memberi penguatan, 3) keterampilan mengadakan variasi, 4) keterampilan
menjelaskan, 5) keterampilan membuka dan menutup pelajaran, 6) keterampilan membimbing
diskusi, 7) keterampilan mengelola kelas. Keterampilan-keterampilan ini berhubung dengan
kemampuan guru untuk menguasai dasar-dasar pengetahuan yang berhubungan dengan
persiapan dan pelaksanaan proses pembelajaran yang akan memberikan dukungan terhadap cara
berpikir siswa yang kreatif dan imajinatif. Hal inilah yang menunjukkan profesionalisme guru.

Pembelajaran pada dasarnya adalah proses penambahan informasi dan kemampuan baru.
Keberhasilan proses pembelajaran lebih banyak ditentukan oleh kemampuan guru dalam
mengelola proses pembelajaran tersebut. Kadang ada guru yang disebut pintar tetapi lemah
dalam menyampaikan pengetahuan dan pemahaman yang ada dalam dirinya maka tentu proses
pembelajaran tidak akan berhasil dengan baik. Kadang ada guru yang disebut tidak terlalu pintar
tetapi dalam menyampaikan dan mengelola pembelajaran lebih kreatif dan memahami cara
penyampaiannya bisa jadi menyebabkan proses pembelajaran akan berhasil dengan baik. Di
antara keduanya tentu yang paling sesuai adalah memiliki kemampuan profesionalisme keguruan
dan mampu menyampaikan dengan baik demi terciptanya proses dan tujuan pembelajaran yang
diharapkan.

Semua gambaran tersebut adalah cermin ideal tentang dunia pendidikan yang diharapkan.
Terkait dengan proses pembelajaran yang berlangsung di Sekolah Dasar Negeri 5 Kedewatandari
hasil pengumpulan data awal didapat nilai rata-rata siswa kelas V semester I Tahun Pelajaran
2016/2017pada mata pelajaran Agama Hindu dengan materi ajar Sejarah Agama Hindu baru
mencapai 10,52 %. Hasil tersebut tentu tidak sesuai dengan harapan keberhasilan pendidikan
yang ditetapkan, kemungkinan karena peserta didik belum memiliki pengetahuan lebih tentang
pelajaran yang disampaikan, jika pelajaran sempat diterima anak atau penelitian semester I boleh
jadi penyebabnya dikarenakan keterbatasan kemauan guru dalam menerapkan semua keilmuan

152
NOMOR 22 TAHUN XVIII Oktober 2017
ISSN 1907-3232

yang dikuasai demi pencapaian hasil maksimal dalam pembelajaran. Sedangkan dari pihak siswa
banyak dipengaruhi oleh kebiasaan belajar mereka yang rendah akibat pengaruh luar,
kemampuan ekonomi orang tua dan kebiasaan belajar yang belum banyak dipupuk. Namun
apapun yang menjadi latar belakang permasalahan, apabila hal ini dibiarkan berlarut tentu
berakibat tidak baik bagi kelangsungan pendidikan peserta didik dan bagi perkembangan mutu
pendidikan bangsa Indonesia.

Semua permasalahan yang terjadi di alam kelas merupakan tugas dan tanggung jawab
guru selaku pendidik dan pengajar untuk mencari solusi terbaik dalam memecahkan masalah
tersebut. Hal itu dilakukan demi menjaga agar kualitas pembelajaran yang dilaksanakan mampu
memberikan sumbangan yang berarti dan bermakna bagi peserta didik dan umumnya juga bagi
peningkatan kualitas pendidikan di Indonesia.

Rumusan masalah penelitian ini adalah: Apakah model pembelajaran Ekspository
berbantuan media audio visual dapat meningkatkan prestasi belajar Sejarah Agama Hindu siswa
kelas V semester I Tahun pelajaran 2016/2017di SD Negeri 5 Kedewatan?

Cara pemecahannya adalah persiapan guru harus menyiapkan media atau peraga yang tepat
untuk memberikan kesempatan yang sebanyak-banyaknya dan sebaik-baiknya kepada peserta
didik untuk mengenal dan memahami apa yang disampaikan.

Dalam pembicaraan teori, [2] menamakan metode ekspositori dengan istilah strategi
pembelajaran langsung (Direct Instruction). Karena dalam hal ini siswa tidak dituntut untuk
menemukan materi itu. Materi pelajaran seakan-akan sudah jadi. Oleh karena metode ekspositori
lebih menekankan kepada proses bertutur, maka sering juga dinamakan istilah metode chalk and
talk. Dengan metode ekspositori dominasi guru banyak dikurangi. Guru tidak terus bicara,
informasi hanya diberikan pada saat atau bagian-bagian yang diperlukan saja, seperti di awal
pembelajaran, menjelaskan konsep-konsep dan prinsip baru, pada saat memberikan contoh kasus
di lapangan dan sebagainya.

Model ekspositori dalam kajian ini adalah menekankan pada pembelajaran biasa
dipergunakan oleh guru dalam praktek pembelajaran secara aktual di lapangan. Sintak
pembelajaran dengan model ekspositori adalah; 1) pada tahap pendahuluan guru menyampaikan
pokok-pokok materi yang akan dibahas dan tujuan pembelajaran yang ingin dicapai, 2) pada

153

JURNAL PENDIDIKAN
INSTITUT KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN (IKIP) PGRI BALI

tahap inti guru menyampaikan materi dengan ceramah, tanya jawab, dilanjutkan demonstrasi
atau eksperimen untuk memperjelas konsep diakhiri dengan penyampaian ringkasan atau latihan
-latihan soal, 3) pada tahap penutup guru memberikan evaluasi maupun tugas-tugas untuk
dikerjakan di rumah.

2. Metodologi Penelitian
Subjek penelitian ini adalah siswa kelas V SD Negeri 5 Kedewatan. Yang menjadi objek
penelitian ini adalah peningkatan prestasi belajar siswa kelas V SD Negeri 5 Kedewatan setelah
diterapkan model Ekspository dalam proses pembelajaran. Penelitian ini dilakukan dari bulan
Juli sampai bulan Desember. Dalam Penelitian ini metode pengumpulan data yang digunakan
adalah tes prestasi belajar. Metode Analisis Data yang digunakan untuk menganalisis data hasil
penelitian ini adalah metode deskriptif untuk data kuantitatif. data kuantitatif dianalisis dengan
mencari mean, median, modus, membuat interval kelas dan melakukan penyajian dalam bentuk
tabel dan grafik.

Rancangan Penelitian, Model rancangan siklus penelitian yang digunakan sebagaai
berikut: Tindakan daur I, mulai dari definisi masalah, berlanjut ke assessment yang disiapkan,
berlanjut ke rumusan hipotesis, berlanjut ke pengembangan untuk tindakan I, lalu implementasi
tindakan, evaluasi tindakan berlanjut ke penerapan selanjutnya.

Tindakan daur II, mulai dari menentukan kembali masalah yang ada, berlanjut ke
assessment yang disiapkan, terus ke pemikiran terhadap munculnya hipotesis yang baru,
perbaikan tindakan pada rencana ke 2, pelaksanaan tindakan, evaluasi terhadap semua
pelaksanaan dan penerapan.

Pengamatan atau observasi, Dari pelaksanaan tersebut penulis mengetahui dibagian mana
diperbaiki, dibagian mana diperlukan penekanan-penekanan, dibagian mananya perlu diberi
saran-saran serta penguatan-penguatan. Disamping itu pada catatan cepat yang dilakukan
peneliti, dicatat juga kreativitas siswa, kemauan siswa untuk ikut berpartisipasi dalam
pembelajaran, kontribusi diantara para siswa. Apabila semua ini terlaksana dengan baik sudah
pasti guru dalam melaksanakan tugas pembelajaran akan cukup profesional. Pelaksanaan
penilaian akhirnya dilanjutkan minggu depannya karena setelah guru melakukan proses

154
NOMOR 22 TAHUN XVIII Oktober 2017
ISSN 1907-3232

pembelajaran, waktu untuk memberikan tes tidak mencukupi sehingga dilaksanakan pada
pertemuan selanjutnya.

Refleksi, merupakan kajian secara menyeluruh tindakan yang telah dilakukan
berdasarkan data yang telah terkumpul, kemudian dilakukan evaluasi guna menyempurnakan
tindakan. Refleksi menyangkut analisis, sintesis, dan penilaian terhadap hasil pengamatan atas
tindakan yang dilakukan [4].

3. Kajian Pustaka
Metode ekspositori adalah bentuk pendekatan pembelajaran yang berpusat guru (teacher
centered approach). Guru sangat berperan dominan dan fokus utama metode ini adalah
kemampuan akademik siswa (academic achievement student) [3]. Dibanding metode ceramah,
dalam metode ini dominasi guru sudah banyak berkurang. Tetapi jika dibanding dengan metode
demonstrasi, metode ini masih nampak lebih banyak didominasi oleh guru. Perbedaan metode
ekspositori dengan metode ceramah bahwa pada metode ekspositori dominasi guru banyak
dikurangi.

Dalam penggunaan metode ekspositori terdapat prinsip-prinsip pembelajaran yang harus
diperhatikan oleh guru antara lain: Berorientasi pada tujuan, Prinsip komunikasi, Prinsip
kesiapan, Prinsip berkelanjutan.

Model pembelajaran yang berpusat pada guru ini memiliki keunggulan: 1) bahan belajar
dapat disampaikan secara tuntas, 2) dapat diikuti oleh siswa dalam jumlah besar, 3) pembelajaran
dapat dilaksanakan sesuai dengan alokasi waktu yang ditetapkan, 4) target materi relatif mudah
dicapai. Sedangkan kelemahannya yang dapat terjadi adalah: 1) membosankan, 2) keberhasilan
perubahan sikap dan prilaku peserta didik relatif sulit diukur, 3) kualitas pencapaian tujuan
belajar yang telah ditetapkan adalah relatif rendah karena pendidik sering hanya mengejar target
waktu untuk menghabiskan target materi pembelajaran, dan pembelajaran kebanyakan
menggunakan ceramah dan jawab Jadi Kelebihan dari pendekatan ini adalah mudah dilakukan
karena tanpa memerlukan suatu rangkaian khusus pembelajaran dapat diterapkan pada materi
yang mudah diakses siswa yang lebih bersifat hafalan. Sementara kelemahannya adalah: 1)
kurang memberikan kesempatan bagi berkembangnya kemampuan eksplorasi, kreativitas,
kemandirian dan sikap kritis siswa. 2) cenderung menimbulkan sikap pasif pada siswa karena

155

JURNAL PENDIDIKAN
INSTITUT KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN (IKIP) PGRI BALI

terbiasa menerima. 3) kegiatan cenderung bersifat mekanistis. Jadi model pembelajaran
ekspositori tidak dilandasi oleh paham konstruktivisme [4].

Model ekspositori dalam kajian ini adalah menekankan pada pembelajaran biasa
dipergunakan oleh guru dalam praktek pembelajaran secara aktual di lapangan. Sintak
pembelajaran dengan model ekspositori adalah; 1) pada tahap pendahuluan guru menyampaikan
pokok-pokok materi yang akan dibahas dan tujuan pembelajaran yang ingin dicapai, 2) pada
tahap inti guru menyampaikan materi dengan ceramah, tanya jawab, dilanjutkan demonstrasi
atau eksperimen untuk memperjelas konsep diakhiri dengan penyampaian ringkasan atau latihan
-latihan soal, 3) pada tahap penutup guru memberikan evaluasi maupun tugas-tugas untuk
dikerjakan di rumah.

Media audio-visual sebagai media yang mempunyai unsur suara dan unsur gambar. Jenis
media ini mempunyai kemampuan yang lebih baik, karena meliputi kedua jenis media auditif
(mendengar) dan visual (melihat) [2]. Media audio-visual merupakan sebuah alat bantu
audiovisual yang berarti bahan atau alat yang dipergunakan dalam situasi belajar untuk
membantu tulisan dan kata yang diucapkan dalam menularkan pengetahuan, sikap, dan ide.

Prestasi belajar yang utama adalah pola tingkah laku yang bulat. Prestasi belajar ditandai
dengan perubahan seluruh aspek tingkah laku yaitu aspek motorik, aspek kognitif sikap,
kebiasaan, ketrampilan maupun pengetahuannya. Ditandai dengan hafalnya seseorang kepada
sesuatu materi yang dipelajarinya yang dimanifestasikan dalam bentuk-bentuk : (1) pengetahuan,
(2) pengertian, (3) kebiasaan, (4) keterampilan (skill), (5) apresiasi, (6) emosional, (7) hubungan
sosial, (8) jasmani, (9) etika atau budi pekerti, dan (10) sikap (attitude) [3].

Berorientasi pada penjelasan di atas, apabila kedua komponen tersebut digabungkan
maka diyakini akan dapat memecahkan masalah yang dihadapi dalam proses pembelajaran.
Dengan memahami langkah pembelajaran ekspository dipadukan dengan media audio visual
akan membuat anak tidak hanya mengetahui informasi yang disampaikan akan tetapi juga
memahami secara konkret apa yang disampaikan guru. Dasar berpikir inilah yang dijadikan
acuan dalam memecahkan masalah yang sedang diteliti.

156
NOMOR 22 TAHUN XVIII Oktober 2017
ISSN 1907-3232

4. Hasil Penelitian dan Pembahasan
4.1 Hasil Penelitian Siklus I
Berdasarkan penelitian yang dilakukan di SD Negeri 5 Kedewatan Sebelum
menyampaikan hasil-hasil penelitian ada baiknya dilihat dahulu pendapat para ahli pendidikan
berikut: dalam menyampaikan hasil penelitian dan pembahasan, perlu menyajikan uraian
masing-masing siklus dengan data lengkap mulai dari perencanaan, pelaksanaan, pengamatan
dan refleksi yang berisi penjelasan tentang aspek keberhasilan dan kelemahan yang terjadi. Perlu
ditambahkan hal yang mendasar, yaitu hasil pembahasan (kemajuan) pada diri siswa,
lingkungan, guru, motivasi dan aktivits belajar, situasi kelas dan hasil belajar, kemukakan grafik
dan tabel hasil analisis data yang menunjukkan perubahan yang terjadi disertai pembahasan
secara sistimatis dan jelas [5].
Rencana Tindakan I, Hasil yang diperoleh dari tes prestasi belajar siklus I: Peneliti
membuat Rencana Pelaksanaan Pembelajaran (RPP) yang akan dilaksanakan dengan metode
Ekspository Berdasar hasil awal kemampuan siswa kelas V yang tertera pada latar belakang,
peneliti merencanakan kegiatan yang lebih intensif seperti berkonsultasi dengan teman-teman
guru dan kepala sekolah tentang persiapan pelaksanaan pembelajaran menggunakan metode
Ekspository. Menentukan waktu pelaksanaan, yang menyangkut hari, tanggal, sesuai dengan
jadwal penelitian yaitu pada minggu ke III bulan Juli. Menentukan yang menjadi prinsip
supervisi teknik kunjungan kelas. Sebelum masuk kelas, peneliti meminta guru untuk membawa
lembar penilaian yang berisikan tentang penilaian proses pembelajaran. Memilih dan
mengorganisaasikan materi, media, dan sumber belajar. Merancang skenario pembelajaran,
Skenario pembelajaran disesuikan dengan tujuan, materi dan tingkat perkembangan siswa,
diupayakan variasi dalam penyampaian. Susunan dan langkah-langkah pembelajaran sudah
disesuaikan dengan tujuan, materi, tingkat perkembangan siswa, waktu yang tersedia,
sistematiknya adalah menaruh siswa dalam posisi sentral, mengikuti perubahan strategi
pendidikan dari pengajaran ke pembelajaran sesuai Permen Diknas No. 41 Tahun 2007.
Pelaksanaan Tindakan I, Pengelolaan Kelas Mengelola kelas dengan persiapan yang
matang, mengajar materi dengan benar sesuai perencanaan di RPP dan sesuai alur model
pembelajaran Ekspositori. Jenis penilaian, dengan format penilaian, memulai dengan
pembukaan, pembelajaran inti, pembelajaran penutup dan dilanjutkan dengan penilaian.
Penampilan secara umum, peneliti berpakaian rapi, menggunakan bahasa yang santun, menuntun

157

JURNAL PENDIDIKAN
INSTITUT KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN (IKIP) PGRI BALI

siswa semaksimal mungkin dengan penggunaan metode pembelajaran Ekspositori, peneliti
mengupayakan strategi agar mudah mengamati siswa yang sedang belajar. Setelah pembelajaran
selesai dilakukan, dilanjutkan dengan mengadakan pertemuan dengan guru yang mengawasi
proses pembelajaran untuk mendiskusikan hasil pengamatan.
Observasi I, dari diskusi dengan guru, terungkap bahwa: Pembelajaran yang dilakukan
belum maksimal. Siswa-siswa belum aktif menerima pelajaran dan memberi tanggapan, hal ini
jelas akibat model pembelajaran Ekspository merupakan model konvensional dimana guru yang
sebagai pemegang kendali. Peneliti mengusulkan agar guru yang mengamati mau kembali dan
bersedia mengamati kembali pada kesempatan di siklus II. Untuk sementara, peneliti belum
yakin bahwa pelaksanaan supervisi kunjungan kelas akan meningkatkan aktivitas dan prestasi
belajar siswa, tetapi menurut pengamat, cara yang dilakukan peneliti cukup mampu mendorong
meningkatkan kreativitas dan prestasi belajar.
Refleksi Siklus I, Analisis Kuantitatif untuk perolehan nilai tes prastasi belajar Siklus I:
Rata-rata (mean) yang diperoleh adalah 74,05, Median (titik tengahnya) adalah 70,00, Modus
(angka yang paling banyak muncul) adalah 70,00.
Hasil Tindakan Kelas I, Hasil tes prestasi belajar yang merupakan tes pilihan ganda
memforsir siswa untuk betul-betul dapat memahami apa yang sudah dipelajari. Nilai rata-rata
siswa di siklus I sebesar 74,05 yang pada awalnya 69,81 menunjukkan bahwa siswa setelah
menguasai materi yang diajarkan walaupun belum begitu sempurna. Hasil ini menunjukkan
peningkatan kemampuan siswa menguasai mata pelajaran Pendidikan Agama Hindu, Apabila
dibandingkan dengan nilai awal siswa sesuai data yang sudah disampaikan dalam analisis
sebelumnya, dapat disimpulkan 5 siswa sudah mencapai ketuntasan belajar pada siklus I dengan
KKM yang ditetapkan yaitu 75.
Penilaian Siklus I, Hasil tes prestasi belajar di siklus I telah menemukan efek utama
bahwa penggunaan metode tertentu akan berpengaruh terhadap prestasi belajar siswa yang dalam
hal ini adalah model pembelajaran Ekspositori. Prestasi belajar yang dicapai pada siklus I ini
sudah mengalami kemajuan dan penngkatan namun belum memenuhi harapan sesuai dengan
kriteria keberhasilan penelitian yang diusulkan pada mata pelajaran Pendidikan Agama Hindu di
sekolah. Oleh karenanya upaya perbaikan lebih lanjut masih perlu diupayakan sehingga perlu
dilakukan perencanaan yang lebih matang untuk siklus selanjutnya.

158
NOMOR 22 TAHUN XVIII Oktober 2017
ISSN 1907-3232

4.2 Hasil Penelitian Siklus II
Perencanaan, melihat semua hasil yang didapat pada siklus I, baik refleksi data kualitatif
maupun refleksi data kuantitatif, maka untuk perencanaan pelaksanaan penelitian di siklus II ini
ada beberapa hal yang perlu dilakukan yaitu:
Peneliti merencanakan kembali jadwal untuk melakukan pembelajaran di kelas dengan
melihat jadwal penelitian dan waktu dalam kalender pendidikan. Hasil dari refleksi siklus I
merupakan dasar dari pembuatan perencanaan di siklus ini.
Menyusun rencana pelaksanaan pembelajaran yang baik serta membuat instrumen
pengumpulan data. Instrumen pengumpulan data yang dibuat seperti instrumen-instrumen
sebelumnya yang meliputi instrumen observasi keaktifan belajar dan instrumen tes prestasi
belajar.
Merencanakan kunjungan kelas bersama-sama guru dan kepala sekolah sebagai upaya
trianggulasi data. Untuk ini peneliti berkonsultasi dengan kepala sekolah, minta kesediaannya
untuk ikut proses pembelajaran yang dilakukan. Inovasi ini dilakukan agar peneliti dapat
berupaya lebih maksimal untuk melaksanakan pembelajaran yang lebih baik dan lebih
berkualitas. Hasil konsultasi dengan kepala sekolah adalah adanya kesiapan kepala sekolah untuk
ikut melakukan supervisi kunjungan kelas. Guru yang akan mengobservasi diberitahu bahwa
kepala sekolah akan ikut berpartisipasi, masuk ke ruangan untuk bersama-sama melakukan
supervisi. Hal ini diberitahukan pada guru dengan harapan agar guru yang akan mengobservasi
bisa lebih siap lagi untuk melakukan supervisi yang lebih berkualitas.
Bersama guru merancang skenario penerapan pembelajaran dengan melihat kekurangan-
kekurangan yang ada pada siklus I dengan mengidentifikasi hal-hal yang bisa dilakukan untuk
peningkatan pembelajaran. Untuk hal ini, semua catatan tentang kekurangan yang ada di siklus I
yang merupakan hasil refleksi disampaikan pada guru untuk dipelajari. Memberitahu guru apa-
apa yang perlu dilaksanakan, apa saja yang siswa mesti kerjakan, cara penerapan model
pembelajaran Ekspositori yang benar sesuai dengan yang diharapkan.
Pelaksanaan Tindakan, Uraian tentang pelaksanaan tindakan pada siklus II ini
disampaikan sebagai berikut: Pada hari yang sudah ditentukan sesuai jadwal, peneliti memulai
tahap pelaksanaan tindakan dengan membawa semua persiapan yang sudah dibuat. Terkait
model pembelajaran Ekspository mulai diupayakan dalam pembelajaran, pada kali yang kedua
ini peneliti mengajak kepala sekolah untuk ke kelas dan ikut melakukan pengamatan. Hal ini

159

JURNAL PENDIDIKAN
INSTITUT KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN (IKIP) PGRI BALI

dilakukan dengan harapan peneliti akan lebih bersemangat untuk dapat melaksanakan
pembelajaran lebih serius. Dengan kepala sekolah ikut mengamati berarti ada orang lain yang
mesti dilihat oleh siswa yang akan menimbulkan keseriusan mereka yang lebih dari biasanya.
Peneliti membawa instrumen pengamatan observasi keaktifan belajar dan instrumen tes prestasi
belajar. Setelah masuk kelas bersama guru yang akan mengamati proses pembelajaran memulai
aktivitas pembelajaran sambil mempersilahkan kepala sekolah dan guru yang mengamati duduk
di bangku paling belakang yang sudah disediakan. Setelah pelaksanaan pembelajaran berjalan,
tiba-tiba kepala sekolah dicari oleh pegawainya karena ada urusan kantor, sehingga pengamatan
melaksanakan pembelajaran hanya dilanjutkan oleh guru yang penulis minta untuk
mengobservasi proses selanjutnya. Di belakang, guru yang mengamati proses pembelajaran
sangat aktif menulis hal-hal yang terjadi di kelas untuk memberi penilaian terhadap kemampuan
dan profesionalisme guru sedangkan di depan kelas peneliti sibuk dengan pelaksanaan
pembelajaran yang dilaksanakan di kelas. Pada pembelajaran inti peneliti melaksanakan
explorasi, elaborasi dan konfirmasi sesuai tuntutan Permen No. 41 tahun 2007 dan terakhir
peneliti melaksanakan penutupan pembelajaran.
Observasi/ Penilaian, Penilaian terhadap kebenaran pelaksanaan pembelajaran dilakukan
pada saat peneliti melakukan tindakan. Dari pelaksanaan tersebut penulis mengetahui dibagian
mana diperbaiki, dibagian mana diperlukan penekanan-penekanan, dibagian mananya perlu
diberi saran-saran serta penguatan-penguatan. Disamping itu pada catatan cepat yang dilakukan
peneliti, dicatat juga kreativitas siswa, kemauan siswa untuk ikut berpartisipasi dalam
pembelajaran, kontribusi diantara para siswa. Apabila semua ini terlaksana dengan baik sudah
pasti guru dalam melaksanakan tugas pembelajaran akan cukup profesional. Pelaksanaan
penilaian akhirnya dilanjutkan minggu depannya karena setelah guru melakukan proses
pembelajaran, waktu untuk memberikan tes tidak mencukupi sehingga dilaksanakan pada
pertemuan selanjutnya.
Refleksi Siklus II, Analisis Kuantitatif untuk Perolehan Nilai Tes Prestasi Belajar Siklus
II, Rata-rata (mean) hasil tes prestasi belajar siswa adalah 77,92, Median (titik tengahnya) adalah
78,00, Modus (atau angka yang paling sering muncul) adalah 79,00.
Hasil Tindakan Siklus II, Hasil yang diperoleh dari tes prestasi belajar di siklus II
menunjukkan bahwa kemampuan siswa dalam mengikuti pelajaran sudah cukup baik. Ini
terbukti dari rata-rata nilai siswa mencapai 77,92. Hasil ini menunjukkan bahwa model

160
NOMOR 22 TAHUN XVIII Oktober 2017
ISSN 1907-3232

pembelajaran Ekspositori telah berhasil meningkatkan kemampuan siswa menempa ilmu sesuai
harapan. Model Pembelajaran Ekspositori merupakan model yang cocok bagi siswa apabila guru
menginginkan mereka memiliki kemampuan berkreasi, berargumentasi, mengeluarkan pendapat
secara lugas, bertukar pikiran, mengingat penggunaan metode ini adalah untuk mengarahkan
agar siswa giat menerima pelajaran dan tidak sekedar main-main.
Penilaian Siklus II, Perbandingan nilai siklus I dan nilai siklus II, terjadi kenaikan yang
signifikan, yaitu dari rata-rata nilai awal adalah 69,81 naik di siklus I menjadi 74,05 dan di siklus
II naik menjadi 77,92. Kenaikan ini tidak bisa dipandang sebelah mata karena kenaikan nilai ini
adalah dari upaya-upaya yang maksimal yang dilaksanakan peneliti demi peningkatan mutu
pendidikan dan kemajuan pendidikan khususnya di SD Negeri 6 Singakerta.

Pembahasan hasil yang diperoleh dari tes prestasi belajar siklus I

Hasil tes prestasi belajar yang merupakan tes pilihan ganda memforsir siswa untuk betul-
betul dapat memahami apa yang sudah dipelajari. Nilai rata-rata siswa di siklus I sebesar 74,05
menunjukkan bahwa siswa setelah menguasai materi yang diajarkan walaupun belum begitu
sempurna. Hasil ini menunjukkan peningkatan kemampuan siswa menguasai mata pelajaran
Pendidikan Agama Hindu, apabila dibandingkan dengan nilai awal siswa sesuai data yang sudah
disampaikan dalam analisis sebelumnya.
Hasil tes prestasi belajar di siklus I telah menemukan efek utama bahwa penggunaan
metode tertentu akan berpengaruh terhadap prestasi belajar siswa yang dalam hal ini adalah
model pembelajaran Ekspositori.
Kendala yang masih tersisa yang perlu dibahas adalah prestasi belajar yang dicapai pada
siklus I ini belum memenuhi harapan sesuai dengan kriteria keberhasilan penelitian yang
diusulkan pada mata pelajaran Pendidikan Agama Hindu di sekolah ini. Oleh karenanya upaya
perbaikan lebih lanjut masih perlu diupayakan sehingga perlu dilakukan perencanaan yang lebih
matang untuk siklus selanjutnya.

Pembahasan Hasil yang Diperoleh dari Siklus II

Hasil yang diperoleh dari tes prestasi belajar di siklus II menunjukkan bahwa kemampuan
siswa dalam mengikuti pelajaran sudah cukup baik. Ini terbukti dari rata-rata nilai siswa
mencapai 77,92. Hasil ini menunjukkan bahwa model pembelajaran Ekspositori telah berhasil

161

JURNAL PENDIDIKAN
INSTITUT KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN (IKIP) PGRI BALI

meningkatkan kemampuan siswa menempa ilmu sesuai harapan. Model Pembelajaran
Ekspositori merupakan model yang cocok bagi siswa apabila guru menginginkan mereka
memiliki kemampuan berkreasi, berargumentasi, mengeluarkan pendapat secara lugas, bertukar
pikiran, mengingat penggunaan metode ini adalah untuk mengarahkan agar siswa giat menerima
pelajaran dan tidak sekedar main-main.
Hasil penelitian ini ternyata telah memberi efek utama bahwa model yang diterapkan
dalam proses pembelajaran berpengaruh secara signifikan terhadap prestasi belajar siswa.
Temuan ini membuktikan bahwa guru sudah tepat memilih metode dalam melaksanakan proses
pembelajaran karena pemilihan metode merupakan hal yang tidak boleh dikesampingkan.
Setelah dibandingkan nilai awal, nilai siklus I dan nilai siklus II, terjadi kenaikan yang
signifikan, yaitu dari rata-rata nilai awal adalah 69,81 naik di siklus I menjadi 74,05 dan di siklus
II naik menjadi 77,92. Kenaikan ini tidak bisa dipandang sebelah mata karena kenaikan nilai ini
adalah dari upaya-upaya yang maksimal yang dilaksanakan peneliti demi peningkatan mutu
pendidikan dan kemajuan pendidikan.

5. Kesimpulan
Mengacu pada rendahnya prestasi belajar siswa yang disampaikan pada latar belakang
masalah dan upaya pemecahan yang dilakukan menggunakan model pembelajaran Ekspositori
untuk meningkatkan prestasi belajar siswa, hasilnya tergambar dengan jelas seperti disampaikan
pada bab sebelumnya. Melihat semua data yang telah disampaikan menjadi bukti bahwa
pemilihan model pembelajaran yang dilakukan guru telah berhasil dengan sangat baik.
Semua itu terlihat pada kenaikan prestasi belajar siswa dapat dilihat dari rangkaian
perolehan nilai siswa sebelum dan sesudah dilaksanakan tindakan. Dari jumlah siswa kelas V
keseluruhan didapat data awal ada 34 siswa mendapat nilai di bawah KKM dan pada siklus I
menurun menjadi 33 siswa dan siklus II semua siswa tidak ada mendapatkan nilai dibawah
KKM. Dari rata-rata awal 69,81naik menjadi 74,05 pada siklus I dan pada siklus II naik menjadi
77,92. Dan dari data awal siswa yang tuntas hanya 4 orang sedangkan pada siklus I menjadi lebih
banyak yaitu 5 siswa dan pada siklus II menjadi cukup banyak yaitu 38 siswa.
Dari semua data pendukung pembuktian pencapaian tujuan pembelajaran dapat
disampaikan bahwa model pembelajaran Ekspositori dapat memberi jawaban yang diharapkan
sesuai tujuan penelitian ini. Semua ini dapat dicapai adalah akibat kesiapan dan kerja keras

162
NOMOR 22 TAHUN XVIII Oktober 2017
ISSN 1907-3232

peneliti dari sejak pembuatan proposal, review hal-hal yang belum bagus bersama teman-teman
guru, penyusunan kisi-kisi dan instrumen penelitian, penggunaan sarana trianggulasi data sampai
pada pelaksanaan penelitian yang maksimal.

DAFTAR PUSTAKA

[1] Wardani, I. G. A. K Siti Julaeha. Modul IDIK 4307. Pemantapan Kemampuan Mengajar.
Jakarta: Universitas Terbuka.

[2] Wina Sanjaya. 2006. Strategi Pembelajaran Berorientasi Standar Proses Pendidikan.
Kencana Prenada Media: Jakarta.

[3] Djamarah, Syaful Bahri. 2002. Prestasi Belajar dan Kompetensi Guru. Surabaya: Usaha
Nasional.

[4] Daryanto. 1999. Evaluasi Pendidikan. Rineka Cipta: Jakarta.

[5] Arikunto, Suharsimi; Suhardjono; Supardi. 2006. Penelitian Tindakan Kelas. Jakarta: PT
Bumi Aksara.

163

JURNAL PENDIDIKAN
INSTITUT KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN (IKIP) PGRI BALI

IMPLEMENTASI MODEL PEMBELAJARAN INQUIRI
SD NEGERI 3 PELIATAN

Ni Luh Silawati

ABSTRACT

This research was conducted in SD Negeri 3 Peliatan class V Semester I with the ability
of the students for the lesson subjects is quite low. The purpose of writing is to determine
whether the inquiri learning model can improve student achievement.Method used to search data
results of this study is a test achievement learn.Sedangkan method of data analysis is descriptive
analysis. The results obtained from this research activity is an increase in the value of the initial
average 69 in the first cycle rose to 72 and in the second cycle rose to 79. The conclusion is that
inquiri learning model can improve student achievement.
Keywords: Inquiri Learning, Learning Achievement

1. Pendahuluan
Dalam rangka peningkatan sumber daya manusia yang berkualitas dan siap bersaing dalam
era globalisasi sekarang ini, maka harus dipersiapkan insan- insan yang terdidik. Dewasa ini
telah banyak upaya yang dilakukan oleh pemerintah dalam rangka meningkatkan mutu
pendidikan dan pemerataan pendidikan, diantaranya adalah mendidikan sekolah-sekolah,
peningkatkan pengadaan tenaga kependidikan, memberikan pelatihan-pelatihan kepada tenaga
kependidikan termasuk di dalamnya penyempurnaan kurikulum sesuai dengan tuntutan era
globalisasi. Langkah ini diharapkan dapat mencapai peningkatan prestasi belajar yang nantinya
dapat meningkatkan mutu sumber daya manusia.

Para praktisi telah mulai mencoba melakukan upaya perbaikan model-model mengajar dari
model mengajar tradisional yang banyak di dominasi oleh guru ke model pembelajaran yang
baru yang berpusat pada siswa (Student center). Namun kenyataanya guru masih banyak
menggunakan model ceramah dalam pembelajaran sehingga pembelajaran berpusat pada satu
arah yaitu dari guru ke siswa, penguasaan konsep menjadi terabaikan oleh karena itu siswa
kurang aktif, sehingga prestasi belajar siswa tidak sesuai dengan KKM. Kegiatan belajar
mengajar pendidikan jasmani pada umumnya selalu menjadi kurang menarik bagi siswa karena
dianggap sebagai pelajaran yang rumit yang memerlukan latihan-latihan, apabila guru yang
memberikan materi pelajaran perkalian ini dengan model hafelan, sehingga membuat murid jauh

164
NOMOR 22 TAHUN XVIII Oktober 2017
ISSN 1907-3232

semakin jenuh yang mengakibatkan prestasi siswa menjadi rendah, ini terbukti prestasi belajar
siswa kelas V semester I tahun ajaran 2015/2016baru mencapai nilai rata-rata 69. Rata-rata ini
masih di bawah KKM mata pelajaran penjaskes yaitu 75.

Permasalahan yang menyebabkan rendahnya prestasi belajar siswa antara lain : (1) guru
lebih banyak menggunakan model ceramah, (2) keadaan siswa dalam satu kelas sangat
heterogen, (3) interaksi belajar cenderung satu arah dari guru ke siswa, (4) waktu lebih banyak
digunakan untuk menyajikan materi, sehingga kesempatan guru untuk memantau siswa yang
lamban dalam memahami materi menjadi sangat sedikit dan, (5) orentasi pelajaran adalah
keterampilan siswa untuk menjawab soal, sehingga penguasaan konsep terabaikan. Berawal dari
kondisi tersebut, maka perlu dikembangkan suatu model pembelajaran yang berorientasi pada
siswa serta mampu meningkatkan kemampuan belajar mandiri siswa

Dalam upaya memperbaiki mutu pendidikan utamanya pada mata pelajaran penjaskes,
sangat perlu kiranya dilakukan perbaikan cara pembelajaran. Salah satunya adalah perbaikan
pembelajaran dengan menggunakan model pembelajaran inquiri

Dari uraian di atas, dapat dirumuskan masalah penelitianya sebagai berikut: Apakah model
pembelajaran Inquiri dapat meningkatkan prestasi belajar? Cara pemecahanya adalah dalam
upaya meningkatkan mutu pembelajaran banyak yang bisa dilakukan oleh peneliti seperti
peneliti giat mempelajari teori-teori tentang model pembelajaran dan giat menerapkan langkah-
langkah yang benar sesuai teori yang ada di lapangan. Tujuan penelitiann ini adalah untuk
mengetahui seberapa besar peningkatan prestasi belajar siswa setelah diterapkan model
pembelajaran Inquiri dalam pembelajaran penjaskes. Manfaat yang diperoleh adalah: bagi guru
dapat dijadikan acuan dalam memperkaya teori dalam rangka peningkatan kompetensi guru, bagi
siswa dapat meningkatkan prestasi belajar dan bagi sekolah diharapkan dapat membantu sekolah
sebagai pendidikan formal dalam upaya meningkatkan lulusan dan prestasi sekolah dengan
adanya guru yang memiliki keterampilan dalam proses belajar mengajar sehingga tercapilah
tujuan pendidikan yang diharapkan oleh sekolah yang bersangkutan.

2. Metode Penelitian

165

JURNAL PENDIDIKAN
INSTITUT KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN (IKIP) PGRI BALI

Penelitian ini dilakukan di SD Negeri 3 Peliatan, kelas V semester I tahun ajaran
2015/2016. Sekolah ini berlokasi di jalan Br, Teges Kawan, Desa Peliatan, Kcamatan Ubud,
Kabupaten Gianyar. Lingkungan sekolah ini aman, sejuk dan tenang
Rancangan yang digunakan dalam penelitian ini adalah rancangan yang dibuat oleh
Kemmis & Taggart, 1988 (dalam Sukidin, Basrowi, Suranto, 2002: 49) seperti terlihat pada
gambar berikut:

Plan
R 1
4
Plan E

F
2
L
3

E

C
Plan
T 5
8 Plan R

E
T
F 6
7 A

L

E

C
Gambar 01. Penelitian Tindakan Model Spiral Kemmis & Mc Taggart, 1988 (dalam Sukidin
T
Basrowi, Suranto, 2002: 49)

Sebagai alur PTK, Kemmis dan Mc. Taggart memberi contoh sebagai berikut:
T

1. Siswa mengira bahwa sainA sekedar mengingat fakta dan bukan proses inkuiri. Bagaimana
saya dapat merangsang inkuiri pada siswa? Apakah dengan mengubah teknik bertanya?
Teknik bertanya yang sama?
Prosedur yang dilakukan adalah:

Menukar strategi bertanya agar siswa dapat menggali jawaban atas pertanyaan sendiri.

1. Mencoba bertanya agar siswa mau mengatakan keinginannya

166
NOMOR 22 TAHUN XVIII Oktober 2017
ISSN 1907-3232

2. Catat pertanyaan dan respon
3. Pengendalian
4. Tujuan umum, kurangi pengendalian
5. Kendorkan pengendalian
6. Pertanyaan direkam dan dikendalikan
7. Inkuiri berkembang. Bagaimana mengajar tetap pada jalur
Dr. Hamzah B. Uno, dkk (2011: 69-70) menjelaskan, bagi Kemmis dan Taggart perumusan
masalah dan perencanaan tindakan menjadi langkah pertama yang dilakukan peneliti secara
bersamaan. Perumusan masalah dilakukan dengan mengidentifikasi masalah-masalah yang
berkembang di lapangan. Alternatif yang paling mungkin untuk diterapkan menjadi rencana
tindakan. Refleksi hasil pengamatan merupakan langkah selanjutnya setelah pelaksanaan
tindakan dan observasi. Dengan refleksi dapat dipahami kelebihan dan kekurangan yang terjadi
selama melaksanakan tindakan. Dengan demikian, bila dampak tindakan belum sesuai dengan
yang diinginkan dapat dilakukan revisi terhadap ide atau gagasan sebelumnya yang tertuang
dalam perencanaan sehingga dapat dilakukan perencanaan kembali. Demikian seterusnya.

Subjek penelitian ini adalah semua siswa Kelas V semester I SD Negeri 3 PeliatanTahun
Ajaran 2015/2016.

Objek penelitiannya adalah peningkatan prestasi belajar setelah diterapkan model
pembelajaran inquiri.

Metode yang digunakan untuk mengumpulkan data hasil dalam penelitian ini adalah tes
prestasi belajar. Sedangkan metode analisis datanya adalah analisis deskripif. Indikator yang
diusulkan penelitian ini adalah prestasi belajar siswa pada siklus I mencapai nilai rata-rata 72 dan
pada siklus II mencapai nilai rata-rata 79

Dalam peneitian ini diusulkan tingkat keberhasilan prestasi belajar yang telah ditetapkan
yaitu siswa telah memperoleh nilai ≥ 75 dan mencapai ketuntasan secara klasikal ≥ 85%.

3. Kajian Pustaka
Dalam pembicaraan teori, secara ilmiah Mulyasa, 2003 (dalam Maksum, 2006: 28)
menulis bahwa inquiri pada dasarnya adalah cara menyadari apa yang telah dialami, karena itu
inquiri menuntut peserta didik berpikir. Selanjutnya Jone 1979 (dalam Maksum, 2006: 10)

167

JURNAL PENDIDIKAN
INSTITUT KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN (IKIP) PGRI BALI

menyatakan pandangannya bahwa model inquiri ialah suatu model pembelajaran yang dirancang
dengan suatu sistem kegiatan belajar mengajar yakni menyangkut metode, teknik dan strategi
pembelajaran yang memungkinkan para peserta didik mendapatkan jawaban sendiri secara
optimal.

Kedua pendapat di atas sudah menjelaskan bahwa model Inquiri menuntut kemampuan
siswa untuk menemukan sendiri sesuai arti inquiri dari bahasa aslinya Inquiri yang berarti
meneliti, menginterogasi, memeriksa materi yang telah diteliti, telah dimengerti, telah diperiksa
merupakan sesuatu yang dialami sendiri oleh siswa yang akan dijadikan pusat perhatian untuk
memikirkan hal-hal yang terkait dengan materi tersebut yang disebut kegiatan intelektual.

Bruner (dalam Putrayasa, 2005) menyatakan bahwa penggunaan model pembelajaran
Inquiri memberikan beberapa keunggulan:

1. Model pembelajaran inquiri dapat meningkatkan potensi intelektual siswa.
2. Siswa yang telah berhasil menemukan sendiri dapat memecahkan masalah yang ada dan
dapat meningkatkan kepuasan intelektualnya yang justru datang dari dalam diri siswa.
3. Siswa dapat belajar bagaimana melakukan penemuan, yang hanya melalui proses
melakukan penemuan itu sendiri.
4. Belajar melalui inquiri dapat menunjang proses ingatan atau konsep yang telah dipahami
siswa lebih lama dapat diingat.
5. Belajar melalui inquiri, siswa dapat memahami konsep-konsep dan ide-idenya dengan
baik.
6. Pengajaran menjadi lebih berpusat pada siswa.
7. Proses pembelajaran inkuiri dapat membentuk dan mengembangkan konsep diri.
8. Melalui pembelajaran inkuiri dimungkinkan tingkat harapan bertambah.
9. Model pembelajaran inquiri dapat mengembangkan bakat akademik.
10. Model pembelajaran inquiri dapat menghindarkan siswa dari belajar dengan hafalan.
11. Model pembelajaran inquiri dapat memberikan waktu kepada siswa untuk mengasimilasi
dan mengakomodasi informasi.

168
NOMOR 22 TAHUN XVIII Oktober 2017
ISSN 1907-3232

Menurut Traobridge (dalam Muhammad Nurwan, 2006: 28), ada beberapa rentangan
mengajar dengan metode Discovery Inquiri yaitu:

a. Pengajaran menjadi terpusat pada siswa (student centered).
b. Salah satu prinsip psikologi tentang belajar menyatakan bahwa makin besar keterlibatan
siswa dalam kegiatan, maka makin besar baginya untuk mengalami proses belajar.
c. Proses belajar melalui inquiri dapat membentuk dan mengembangkan konsep diri.
d. Salah satu tugas dalam pembentukan siswa yang baik adalah pembentukan konsep diri, hal
ini dapat dilakukan dengan jalan melibatkan diri dalam inquiri, karena melalui keterlibatan
aktif, siswa dapat memanifestasikan potensinya dan memperoleh pengertian tentang diri.
Mengajar dengan menggunakan inquiri memberikan kesempatan bagi siswa dalam
keterlibatan yang lebih besar yaitu memberikan lebih banyak kesempatan bagi siswa untuk
memperoleh kesadaran dan mengembangkan konsep diri lebih banyak.
e. Tingkat pengharapan bertambah.
f. Siswa mempunyai ide tertentu bagaimana ia dapat menyelesaikan suatu tugas dengan
caranya sendiri. Dengan terlibat dalam inquiri siswa mungkin dapat memperoleh
pengalaman sukses dalam menggunakan bakatnya untuk menyelidiki atau memecahkan
problem.
g. Belajar inquiri dapat mengembangkan bakat kemampuan individu.
h. Menghindarkan siswa dari cara-cara belajar tradisional (menghafal).
i. Memberikan waktu bagi siswa untuk mengasimilasi dan mengakomodasi informasi.
Selanjutnya Dimyati, 2002 (dalam Muhammad Nurman, 2006: 30) menulis bahwa tekanan
utama pembelajaran dengan strategi inquiri adalah:

a. Pengembangan kemampuan berpikir individual lewat penelitian.
b. Peningkatan kemampuan mempraktekkan model dan teknik penelitian.
c. Latihan keterampilan intelektual khusus, yang sesuai dengan cabang ilmu tertentu.
d. Latihan menemukan sesuatu.
Killen (dalam Muhammad Nurman, 2006: 31) berpendapat; dalam pembelajaran dengan
metode inquiri ditempuh langkah-langkah sebagai berikut:

a. Merumuskan pertanyaan penelitian.
b. Menentukan apakah informasi/data yang diperoleh dapat menjawab pertanyaan.

169

JURNAL PENDIDIKAN
INSTITUT KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN (IKIP) PGRI BALI

c. Menentukan cara-cara yang sesuai untuk mengumpulkan informasi.
d. Mengumpulkan informasi dan menyusunnya dalam format yang dapat mempermudah untuk
menginterpretasikannya.
e. Menganalisa informasi dengan cara yang dapat membantu untuk menjawab pertanyaan
penelitian.
f. Membuat beberapa kesimpulan berdasarkan analisis informasi dan mengusulkan jawaban
atas pertanyaan penelitian.
Bimbingan individual merupakan suatu layanan yang diberikan pada peserta didik yang
khusus dengan memperhatikan kebutuhan individu siswa, kebutuhan masing-masing individu
disuatu kelas tentu saja tidak sama oleh karenanya guru harus mampu mengetahui perbedaan
yang ada dari anak yang dibimbing.
Dari beberapa jenis layanan bimbingan dan konseling yang diberikan kepada peserta didik
tampaknya untuk layanan konseling perorangan (individu) mendapat perhatian lebih karena
layanan yang satu ini boleh dikatakan merupakan ciri khas dari layanan bimbingan dan
konseling yang membutuhkan pengetahuan dan keterampilan khusus. Dalam prakteknya
memang layanan bimbingan dan konseling harus terlebih dahulu mengedepankan layanan-
layanan yang bersifat perubahan dan pengembangan, namun tetap saja layanan yang bersifat
pengentasanpun masih diperlukan. Oleh karena itu, konselor seyogianya dapat menguasai proses
dan berbagai teknik konseling sehingga bantuan yang diberikan kepada peserta didik dalam
rangka pengentasan masalahnya dapat berjalan secara efektif dan efisien
Secara umum, proses konseling terdiri dari tiga tahapan yaitu:
1. tahap awal (tahap mendefinisikan masalah)
Tahap ini terjadi dimulai sejak klien menemui konselor hingga berjalan sampai konselor
dan klien menemukan masalah klien. Pada tahap ini beberapa hal yang perlu dilakukan,
diantaranya:

- Membangun hubungan konseling yang melibatkan klien (rapport) kunci keberhasilan
membangun hubungan terletak pada terpenuhinya asas-asas bimbingan dan konseling
terutama asas kerahasiaan, kesukarelaan, keterbukaan dan kegiatan.
- Memperjelas dan mendifinisikan masalah. Jika hubungan konseling sudah terjalin dengan
baik dan klien telah melibatkan diri maka konselor harus dapat membantu memperjelas
masalah klien.

170
NOMOR 22 TAHUN XVIII Oktober 2017
ISSN 1907-3232

- Membuat penaksiran dan penjajagan. Konselor berusaha menjajagi atau menafsir
kemungkinan masalah dan merancang bantuan yang mungkin dilakukan, yaitu dengan
membangkitkan semua potensi klien dan menentukan berbagai alternatif yang sesuai bagi
antisipasi masalah.
- Menegosiasikan kontrak. Membangun perjanjian antara konselor dengan klien: (1) kontrak
waktu, yaitu berapa lama waktu pertemuan yang diinginkan oleh klien dan konselor tidak
berkeberatan; (2) kontrak tugas, yaitu berbagai tugas antara konselor dan klien; dan (3)
kontrak kerjasama dalam proses konseling, yaitu terbinanya peran dan tanggung jawab
bersama antara konselor dan konseling dalam seluruh rangkaian kegiatan konseling.
2. Tahap inti (tahap kerja)
Setelah tahap awal dilaksanakan dengan baik, proses konseling selanjutnya adalah
memasuki tahap ini atau tahap kerja. Pada tahap ini terdapat beberapa hal yang harus
dilakukan, diantaranya:
- Menjelajahi dan mengeksplorasi masalah klien lebih dalam. Penjelajahan masalah
dimaksudkan agar klien mempunyai perspektif dan alternatif baru terhadap masalah yang
sedang dialaminya.
- Konselor melakukan reassesment (penilaian kembali). Bersama-sama klien meninjau
kembali permasalahan yang dihadapi klien.
- Menjaga agar hubungan konseling tetap terpelihara.
Hal ini bisa terjadi jika:

- Klien merasa senang terlibat dalam pembicaraan atau wawancara konseling, serta
menampakkan kebutuhan untuk mengembangkan diri dan memecahkan masalah yang
dihadapinya.
- Konselor berupaya kreatif mengembangkan teknik-teknik konseling yang bervariasi dan
dapat menunjukkan pribadi yang jujur, ikhlas dan benar-benar peduli terhadap klien.
- Proses konseling agar berjalan sesuai kontrak. Kesepakatan yang telah dibangun pada saat
kontrak tetap dijaga, baik oleh pihak konselor maupun klien.
3. Tahap akhir (tahap perubahan dan tindakan)
Pada tahap akhir ini terdapat beberapa hal yang perlu dilakukan, yaitu:
- Konselor bersama klien membuat kesimpulan mengenai hasil proses konseling.

171

JURNAL PENDIDIKAN
INSTITUT KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN (IKIP) PGRI BALI

- Menyusun rencana tindakan yang akan dilakukan berdasarkan kesepakatan yang telah
terbangun dari proses konseling sebelumnya.
- Mengevaluasi jalannya proses dan hasil konseling (penilaian segera).
- Membuat perjanjian untuk pertemuan berikutnya..
Djamarah (1994:23) mendefinisikan prestasi belajar sebagai hasil yang diperoleh berupa
kesan-kesan yang mengakibatkan perubahan dalam diri individu sebagai hasil dari aktivitas
dalam belajar.Kalau perubahan tingkah laku adalah tujuan yang mau dicapai dari aktivitas
belajar, maka perubahan tingkah laku itulah salah satu indikator yang dijadikan pedoman untuk
mengetahui kemajuan individu dalam segala hal yang diperolehnya di sekolah. Dengan kata lain
prestasi belajar merupakan kemampuan-kemampuan yang dimiliki oleh siswa sebagai akibat
perbuatan belajar atau setelah menerima pengalaman belajar, yang dapat dikatagorikan menjadi
tiga ranah, yakni ranah kognitif, afektif, dan psikomotor.

Dengan mengkaji hal tersebut di atas, maka faktor-faktor yang dapat mempengaruhi
prestasi belajar menurut Purwanto (2000: 102) antara lain: (1) faktor yang ada pada diri
organisme itu sendiri yang dapat disebut faktor individual, seperti kematangan/pertumbuhan,
kecerdasan, latihan, motivasi, dan faktor pribadi, (2) faktor yang ada diluar individu yang disebut
faktor sosial., seperti faktor keluarga/keadaan rumah tangga, guru dan cara mengajamya, alat-alat
yang dipergunakan dalam belajar-mengajar, lingkungan dan kesempatan yang tersedia dan
motivasi sosial. Dalam penelitian ini factor ke 2 yaitu factor yang dari luar seperti guru dan cara
mengajarnya yang akan menentukan prestasi belajar siswa. Guru dalam hal ini adalah
kemampuan atau kompetensi guru, pendidikan dan lain-lain. Cara mengajarnya itu merupakan
factor kebiasaan guru itu atau pembawaan guru itu dalam memberikan pelajaran.Juga dikatakan
oleh Slameto (2003: 54-70) bahwa faktor-faktor yang mempengaruhi belajar banyak jenisnya,
tetapi dapat digolongkan menjadi dua golongan saja, yaitu faktor intern dan faktor ekstem.
Faktor intern diklasifikasi menjadi tiga faktor yaitu: faktor jasmaniah, faktor psikologis dan
faktor kelelahan.Sedangkan faktor ekstern digolongkan menjadi tiga faktor yaitu: faktor
keluarga, faktor sekolah, faktor masyarakat. Peningkatan prestasi belajar yang penulis teliti
dalam hal ini dipengaruhi oleh factor ekstern yaitu metode mengajar guru.

Dalam pembahasan sebelumnya telah dibicarakan bahwa prestasi belajar adalah hasil
penilaian pendidikan tentang kemajuan prestasi siswa setelah melakukan aktivitas belajar. Ini

172
NOMOR 22 TAHUN XVIII Oktober 2017
ISSN 1907-3232

berarti prestasi belajar tidak akan bisa diketahui tanpa dilakukan penilaian atas hasil aktivitas
belajar siswa. Fungsi prestasi belajar bukan saja untuk mengetahui sejauhmana kemajuan siswa
setelah menyelesaikan suatu aktivitas, tetapi yang lebih penting adalah sebagai alat untuk
memotivasi setiap siswa agar lebih giat belajar, baik secara individu maupun kelompok. Dalam
pembahasan ini akan dibicarakan mengenai prestasi belajar sebagai hasil penilaian dan pada
pembahasan berikutnya akan dibicarakan pula prestasi belajar sebagai alat motivasi. Prestasi
belajar sebagai hasil penilaian sudah dipahami.Namun demikian untuk mendapatkan
pemahaman, perlu juga diketahui, bahwa penilaian adalah sebagai aktivitas dalam menentukan
rendahnya prestasi belajar itu sendiri.

Abdullah (dalam Mamik Suratmi, 1994: 22), mengatakan bahwa fungsi prestasi belajar
adalah: (a) sebagai indikator dan kuantitas pengetahuan yang telah dimiliki oleh pelajar, (b)
sebagai lambang pemenuhan keingintahuan, (c) informasi tentang prestasi belajar dapat menjadi
perangsang untuk peningkatan ilmu pengetahuan dan (d) sebagai indikator daya serap dan
kecerdasan murid.

Dari uraian di atas, dapat disimpulkan bahwa prestasi belajar adalah hasil yang dicapai
siswa setelah melakukan kegiatan belajar yang berbentuk angka sebagai simbol dari ketuntasan
belajar bidang studi sejarah. Prestasi belajar ini sangat dipengaruhi oleh factor luar yaitu guru
dan metode.Hal inilah yang menjadi titik perhatian peneliti di lapangan.

Terkait dengan penelitian ini, untuk mengukur prestasi belajar penjaskes digunakan tes
hasil belajar, dengan mengacu pada materi pelajaran sesuai RPP pada Kurikulum Tingkat Satuan
Pendidikan (KTSP) yang berlaku di sekolah ini. Yang menjadi dasar berpikir adalah model
pembelajaran inquiri yang tidak dapat diragukan lagi dalam penerapannya di lapangan dapat
meningkatkan prestasi belajar. Keyakinan tersebut adalah berdasar kekuatan teori yang
dikemukakan para ahli pendidikan tingkat dunia. Hipotesis yang digunakan dalam penelitian ini
adalah jika langkah-langkah model pembelajaran inquiri dapat dilaksanakan dengan baik maka
prestasi belajar siswa akan mampu ditingkatkan.

4. Pembahasan
Gambaran dari semua kegiatan peneliti yang telah dilakuikan disampaikan pada
pembahasan ini. Untul itu disajikan kebenaran hasil dan pelaksanaan yang telah dilakukan.

173

JURNAL PENDIDIKAN
INSTITUT KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN (IKIP) PGRI BALI

Dari hasil awal diperoleh nilai rata-rata siswa sebesar 69. Hasil tersebut jauh di bawah
KKM mata pelajaran penjaskes di SD Negeri3 Peliatan hasil yang sangat rendah ini diakibatkan
peneliti pada awalnya mengajar belum menggunakan model-model pembelajaran yang
direkomendasi oleh ahli-ahli dunia. Peneliti lebih banyak berceramah, bercerita yang bukan-
bukan dan mengajar kurang serius. Setelah di cek diperoleh nilai siswa, ada banyak siswa yang
memperoleh nilai di bawah KKM. Hasilini sangat mengejutkan sehingga peneliti sebagai guru di
SD Negeri 3 Peliatan merasa terpanggil untuk memperbaiki proses pembelajaran. hal tersebut
membuat peneliti mencoba model pembelajaran inquiri.

Setelah pelaksanaan siklus I ternyata hasil yang diperoleh sudah mencapai rata-rata sebesar
72. Namun rata-rata tersebut masih juga di bawah indicator keberhasilan penelitian yang
diharapkan walaupun dalam pelaksanaanya peneliti telah berupaya secara makimal seperti
memotivasi siswa, memberi penekanan-penekanan, memberi arahan-arahan dan lain
sebagainya.kelemahan yang ada justru belum mempu peneliti memahami secara mendalam
kebenaran dari teori model pembelajaran inquiri yang digunakan dalam mengajar.

Dengan melihat masih ada kekurangan pada pelaksanaan penelitian di siklus I, akhirnya
peneliti merasa perlu untuk memperbaiki proses pembelajaran agar diperoleh hasil yang telah
maksimal.untuk itu pada siklus II diupayakan proses pembelajaran berjalan leih baik dengan
membuat perencanaan yang lebih matang, merumuskan tujuan, mengorganisasikan materi lebih
baik, mengupayakan agar materi berhubungan dengan kehidupan sehari-hari. Setelah melakukan
perencanaan yang matang, berlanjut dengan melakukan pembelajaran yang lebih maksimal
dengan giat memberi motivasi, giat memberi arahan-arahan, menuntut agar siswa giat belajar,
memberi contoh soal yang lebih banyak mudah terlebih dahulu sebelum melanjutkan pada soal
yang sulit. Dengan soal-soal yang lebih mudah dapat dijawab maka mereka akan mendapat
kepuasan awal yang akan berpengaruh teerhadap keberhasilan selanjutnya. Model pembelajaran
inquiri diupayakan dalam pembelajaran mengikuti langkah-langkah secara teori yang benar.
Pelaksanaan yang sudah maksimal pada siklus II ini mampu meningkatkan prestasi belajar siswa
mencapai nilai rata-rata sebesar 79. Ternyata nilai tersebut udah melampaui indikator
keberhasilan penelitian yang diusulkan. Dari hasil tersebut kelebihan-kelebihan pelaksanaan
pada siklus II telah disampaikan di atas manjadi dasar validitas.

174
NOMOR 22 TAHUN XVIII Oktober 2017
ISSN 1907-3232

5. Simpulan
Simpulan merupakan ringkasan hasil penelitian yang bertalian dengan rumusan masalah
dan tujuan penelitian. Berdasarkan semua hasil tindakan yang dilakukan, baik siklus I maupun
siklus II mulai dari perencanaan, pelaksanaan, pengamatan/ observasi dan refleksi dapat
disampaikan hal-hal berikut:
1) Pelaksanaan kegiatan awal dimana model pembelajaran yang digunakan tidak menentu
termasuk pula metode ajar yang digunakan hanya sekedar terlaksana membuat nialai siswa
pada mata pelajaran penjaskes rendah dengan rata-rata 69 yang masih jauh dari kreteria
ketuntasan belajar pada mata pelajaran ini yaitu 75.
2) Setelah dilakukan perencanaan yang lebih matang menggunakan model pembelajaran
inquiri, dilanjutkan dengan pelaksanaanya di lapangan yang benar sesuai teori yang ada
dan doiarengi dengan pemberian tes atau observasi secara objkektif akhirnya terjadi
peningkatan dari nilai rata-rata 72 pada siklus I meningkat menjadi 79 pada siklus II.
3) Seperti kebenaran tujuan pelaksanaan Penelitian Tindakan Kelas (PTK) yaitu untuk
peningkatan proses pembelajarn, maka upaya-upaya yang maksimal telah dilakukan
dengan sangat giat sehingga hasil yang diharapkan sesuai perolehan data telah mampu
memberi jawaban terhadap rumusan masalah dan tujuan penellitian ini.

DAFTAR PUSTAKA

[1] Dimyati dan Mudjiono. 2001. Belajar dan Pembelajaran. Jakarta: Dirjen Dikti.
[2] Djamarah, Syaful Bahri. 2002. Prestasi Belajar dan Kompetensi Guru. Surabaya: Usaha
Nasional.
[3] Maksum, Ahmad, 2006. Pengaruh Metode Pembelajaran Inquiri terhadap Hasil Belajar
Sejarah dan Sikap Nasionalisme Siswa Kelas XI SD Negeri1 Sukamulia, Lombok Timur, NTB.
Tesis. Singaraja. Universitas Pendidikan Ganesha. Program Pascasarjana.
[4] Murwansyah dan Mukaram. 2002. Manajemen Sumber Daya Manusia. Bandung: Pusat
Penerbit Administrasi Niaga Politeknik Negeri Bandung, Indonesia.
[5] Purwanto, Ngalim. 1997. Psikologi Pendidikan. Bandung: Rosdakarya.
[6] Putrayasa, Ida Bagus. 2005. Pembelajaran Bahasa Indonesia Berbasis Inquiri dalam Upaya
Meningkatkan Aktivitas, Kreativitas, dan Logikalitas. (Tesis). Singaraja. Institut Keguruan
dan Ilmu Pendidikan Negeri Singaraja.
[7] Slameto. 2000. Belajar dan Faktor-Faktor yang Mempengaruhinya. Jakarta: Rineka Cipta.

175

JURNAL PENDIDIKAN
INSTITUT KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN (IKIP) PGRI BALI

PENERAPAN MODEL EKSPOSITORY UNTUK

MENINGKATKAN PRESTASI BELAJAR IPS SISWA DASAR

Ni Made Sudarmini

ABSTRACT

This action research is conducted in SD Negeri 1 Bitera in Class IV whose students
ability for IPS subjects under KKM.Tujuan writing research of this class action is to know
whether application of Expository learning model. Can improve the achievement of IPS student
learning grade IV second semester SD Negeri 1 Bitera. Academic year 2016 / 2017The data
collection method is a test of learning achievement. The method of data analysis is descriptive.
The results obtained from this study is the application of Expository learning model can improve
students' learning achievement IPS. This is evident from the results obtained initially 69.00 in the
first cycle to 73.83 and in the second cycle to 79.33. The conclusion obtained from this research
is Expository learning model can improve learning achievement.
Keywords: Expository learning model, improvement of achievement, elementary school
students.

1. Pendahuluan
IPS bertujuan mengembangkan potensi peserta didik agar peka terhadap masalah sosial yang
terjadi dimasyarakat, memiliki sikap mental positif terhadap perbaikan segala ketimpangan yang
terjadi, dan terampil mengatasi setiap masalah yang terjadi sehari-hari baik yang menimpa
dirinya maupun yang menimpa kehidupan masyarakat[1]. Peran mata pelajaran IPS adalah untuk
pengembangan intelektual, sosial dan emosional siswa serta sebagai kunci penentu menuju
keberhasilan dalam mempelajari suatu bidang tertentu. Fungsi mata pelajaran IPS adalah sebagai
suatu bidang kajian untuk mempersiapkan siswa mampu merefleksikan pengalamannya sendiri
dan pengalaman orang lain, mengungkapkan gagasan-gagasan dan perasaan serta memahami
beragam nuansa makna, sedangkan kegunaannya adalah untuk membantu siswa mengenal
dirinya, budayanya, budaya orang lain, mengemukakan gagasan dan perasaan, berpartisipasi
dalam masyarakat, membuat keputusan yang bertanggungjawab pada tingkat pribadi, sosial,
menemukan serta menggunakan kemampuan analytic dan imajinatif yang ada dalam dirinya.
Dengan pemahaman peran, fungsi dan kegunaan mata pelajaran IPS oleh guru maka
pelaksanaan proses pembelajaran di kelas akan sangat efektif. Guru juga hendaknya mampu

176
NOMOR 22 TAHUN XVIII Oktober 2017
ISSN 1907-3232

mengaplikasikan model-model pembelajaran yang tepat sehingga paradigma pengajaran dapat
diubah menjadi paradigma pembelajaran.
Kelemahan-kelemahan yang terjadi selama proses pembelajaran yang dilakukan selama
ini yang menyebabkan rendahnya prestasi belajar IPS siswa sekolah dasar tentu tidak
sepenuhnya disebabkan oleh factor luar, tentu banyak pula dipengaruhi oleh faktor dari dalam
diri guru itu sendiri seperti kemauan menyiapkan bahan yang lebih baik, termasuk ketrampilan
guru itu sendiri untuk menerapkan model pembelajaran yang telah didapat di bangku kuliah.
Selain itu guru juga kurang mampu untuk dapat mengembangkan keterampilan mengajar yang
dapat menarik perhatian siswa dan merangsang siswa untuk belajar. Keterampilan yang mesti
dikuasai guru dalam melaksanakan pembelajaran ada 7, yaitu: 1) keterampilan bertanya, 2)
keterampilan memberi penguatan, 3) keterampilan mengadakan variasi, 4) keterampilan
menjelaskan, 5) keterampilan membuka dan menutup pelajaran, 6) keterampilan membimbing
diskusi, 7) keterampilan mengelola kelas. Keterampilan-keterampilan ini berhubung dengan
kemampuan guru untuk menguasai dasar-dasar pengetahuan yang berhubungan dengan
persiapan dan pelaksanaan proses pembelajaran yang akan memberikan dukungan terhadap cara
berpikir siswa yang kreatif dan imajinatif. Hal inilah yang menunjukkan profesionalisme guru [2].
Salah satu upaya memperbaiki mutu pendidikan utamanya pada mata pelajaran IPS
adalah dengan menggunakan model pembelajaran Ekspository. Model ini mampu merangsang
siswa menjadi lebih aktif akibat diberikan semangat, diberikan penguatan-penguatan, diberikan
perayaan bagi mereka yang berhasil.
Adapun yang menjadi tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui seberapa tinggi
peningkatan prestasi belajar IPS siswa akan terjadi setelah diterapkan model pembelajaran
Ekspository dalam pembelajaran. Sedangkan manfaat penelitian ini secara teoritis adalah sebagai
acuan dalam memperkaya teori dalam rangka peningkatan kompetensi guru. Sedangkan secara
praktis penelitian ini diharapkan bermanfaat bagi sekolah, khususnya SD N 1 Bitera dalam
rangka meningkatkan prestasi belajar siswa. Di samping itu, penelitian ini juga diharapkan
bermanfaat sebagai informasi yang berharga bagi teman-teman guru, kepala sekolah di
sekolahnya masing-masing.
2. Metodologi Penelitian
Rancangan yang digunakan dalam penelitian ini adalah rancangan yang dibuat oleh Arikunto,
Suharsimi seperti terlihat pada Gambar 1.

177

JURNAL PENDIDIKAN
INSTITUT KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN (IKIP) PGRI BALI

Permasalahan Perencanaan Pelaksanaan
Tindakan I Tindakan I

Permasalahan baru Refleksi Pengamatan/
hasil refleksi Pengumpulan

Perencanaan Pelaksanaan
Tindakan II Tindakan II

Apabila
Refleksi II Pengematan/
permasalahan belum
Pengumpulan Data II
terselesaikan

Dilanjutkan ke siklus
berikutnya

Gambar 1. Arikunto, Suharsimi, 2007

Prosedur yang dilakukan dengan model ini adalah Perencanaan: pada tahap ini peneliti
membuat RPP, berkonsultasi dengan teman sejawat membuat instrument. Pelaksanaan Tindakan:
Tahap pelaksanaan tindakan dilakukan dengan pembelajaran di kelas. Pada tahap ini guru
peneliti giat melakukan tindakan menggunakan model pembelajaran Ekspository berbantuan alat
peraga. Rancangan tindakan tersebut sebelumnya telah dilatih untuk dapat diterapkan didalam
kelas sesuai dengan skenarionya. Pengamatan atau observasi: Pengamatan dilakukan pada waktu
tindakan sedang berjalan, jadi, keduanya berlangsung dalam waktu yang sama. Refleksi:
Tahapan ini dimaksudkan untuk mengkaji secara menyeluruh tindakan yang telah dilakukan,
berdasarkan data yang telah terkumpul, kemudian dilakukan evaluasi guna menyempurnakan
tindakan berikutnya. Refleksi dalam PTK mencakup analisis, sintesis, dan penilaian terhadap
hasil pengamatan atas tindakan yang dilakukan. Jika terdapat masalah dari proses refleksi maka
dilakukan proses pengkajian ulang melalui siklus berikutnya yang meliputi kegiatan:
perencanaan ulang, tindakan ulang, dan pengamatan ulang sehingga permasalahan dapat teratasi.

178
NOMOR 22 TAHUN XVIII Oktober 2017
ISSN 1907-3232

Subjek penelitian ini adalah semua siswa kelas IV Semester II SD N 1 Bitera tahun ajaran
2016/2017 sedangkan yang menjadi objek penelitian ini adalah peningkatan prestasi belajar IPS
siswa di kelas tersebut. Penelitian ini dilakukan dari bulan Januari sampai bulan Mei.

Pengumpulkan data hasil penelitian ini adalah observasi dan tes prestasi belajar,
sedangkan metode analisis datanya adalah metode deskriptif. Untuk data kuantitatif dianalisis
dengan mencari mean, median, modus, dan membuat interval kelas.

Pembelajaran Ekspository sebagai salah satu model, strategi dan pendekatan
pembelajaran khususnya menyangkut keterampilan guru dalam merancang, mengembangkan dan
mengelola sistim pembelajaran sehingga guru mampu menciptakan suasana pembelajaran yang
efektif, menggairahkan dan memiliki keterampilan hidup [3].

Prestasi belajar merupakan kemampuan-kemampuan yang dimiliki oleh siswa sebagai akibat
perbuatan belajar atau setelah menerima pengalaman belajar, yang dapat dikatagorikan menjadi
tiga ranah, yakni ranah kognitif, afektif, dan psikomotor [4].

3. Hasil dan Pembahasan
Sebelum menyampaikan hasil penelitian dan pembahasan, perlu menyajikan uraian masing-
masing siklus dengan data lengkap mulai dari perencanaan, pelaksanaan, pengamatan dan
refleksi yang berisi penjelasan tentang aspek kelemahan dan keberhasilan yang terjadi.

3.1 Siklus I
Dalam siklus I, mulai dari membuat Rencana Pelaksanaan Pembelajaran (RPP), yaitu dalam
pelaksanaan pembelajaran inti, teori-teori Ekspository dimasukkan mengikuti skenario
pembelajaran seperti: penyediaan ruangan yang nyaman, upaya kegiatan-kegiatan yang
menggembirakan, membuat pembelajaran lebih sederhana, mengupayakan siswa lebih pada
berbicara gerak tubuh, perintah-perintah yang berhubungan dengan hal-hal tersebut, mengikuti
tujuan pembelajaran yang sudah direncanakan, informasi yang banyak, materi pengakuan-
pengakuan atas keberhasilan siswa, perayaan atas keberhasilan siswa untuk umpan balik dan
motivasi peningkatan hasil belajar, apersepsi yang banyak, memberikan siswa pengalaman nyata,
sesuai biar dialami sendiri oleh siswa, mengupayakan kata kunci, model, metode, strategi yang
bisa membantu siswa, demonstrasi yang lebih mendominan agar siswa dapat mengekspresikan
kemampuan mereka, pengulangan-pengulangan, penguatan-penguatan sangat diperlukan,

179

JURNAL PENDIDIKAN
INSTITUT KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN (IKIP) PGRI BALI

memberdayakan seluruh kemampuan dan potensi yang ada, rancangan belajar terus dinamis,
penghargaan bagi kemampuan siswa mengupayakan pembelajaran selaras dengan kerja otak
manusia, mengupayakan bermacam-macam interaksi, mengupayakan agar pembelajaran menjadi
bermakna, tujuan yang sangat efektif. Dengan kegiatan pembelajaran seperti itu dapat diketahui
beberapa kemajuan. Berdasar hasil awal kemampuan siswa kelas IV, peneliti merencanakan
kegiatan yang lebih intensif seperti berkonsultasi dengan teman-teman guru dan kepala sekolah
tentang persiapan pelaksanaan pembelajaran menggunakan metode Ekspository.

Menentukan waktu pelaksanaan, yang menyangkut hari, tanggal, sesuai dengan jadwal
penelitian yaitu pada minggu ke 1 bulan Januari. Merencanakan bahan pelajaran dan
merumuskan tujuan. Menentukan bahan pelajaran, dengan cara menyesuaikan dengan silabus
yang berlaku dan penjabarannya dengan cukup baik.

Pada siklus pertama ini, peneliti mengorganisasikan materi pembelajaran dengan baik.
Urutan penyampaiannya dari yang mudah ke yang sulit, cakupan materi cukup bermakna bagi
siswa, menentukan alat bantu mengajar, sedangkan dalam penentuan sumber belajar sudah
disesuaikan dengan tujuan, materi pembelajaran dan tingkat perkembangan peserta didik.

Skenario pembelajaran disesuikan dengan tujuan, materi dan tingkat perkembangan
siswa, diupayakan variasi dalam penyampaian. Susunan dan langkah-langkah pembelajaran
sudah disesuaikan dengan tujuan, materi, tingkat perkembangan siswa, waktu yang tersedia,
sistematiknya adalah menaruh siswa dalam posisi sentral, mengikuti perubahan strategi
pendidikan dari pengajaran ke pembelajaran. Sebagai upaya Trianggulasi, pada pelaksanaan
pembelajaran Ekspository ini peneliti mengajak kepala sekolah ke kelas untuk memantau
kebenaran pelaksanaan pembelajaran Ekspository. Guru sudah diberitahu sebelumnya tentang
kebenaran model pembelajaran Ekspository sehingga memiliki kemampuan untuk mengamati
proses. Selama pelaksanaan tindakan I ini ada beberapa hal yang bisa dicatat yaitu:

1. Pengelolaan Kelas
Mengelola kelas dengan persiapan yang matang menggunakan model pembelajaran
Ekspository, mengajar materi dengan benar sesuai perencanaan di RPP adan alur
pembelajaran Ekspository.

180
NOMOR 22 TAHUN XVIII Oktober 2017
ISSN 1907-3232

2. Alat Penilaian
Alat penilaian digunakan observasi yang dilaksanakan pada saat proses sedang berlangsung
dan tes yang digunakan setelah pembelajaran selesai. Instrumen yang digunakan hanya
digunakan instrumen observasi mengingat siswa yang diajar adalah murid-murid kelas IV
semester II.
3. Penampilan
Penampilan secara umum, peneliti berpakaian rapi, menggunakan bahasa yang santun,
menuntun siswa semaksimal mungkin dengan penggunaan metode Ekspository sesuai alur
pembelajaran ini yang sudah disampaikan pada hasil perencanaan.

Kemudian dilanjutkan dengan pengamatan dalam 3 kali pertemuan dengan memberikan tes
prestasi belajar. Dari hasil pengamatan akhirnya peneliti mengkaji secara menyeluruh tindakan
yang telah dilakukan berdasarkan data yang telah terkumpul.

Analisis kuantitatif prestasi belajar IPS dengan KKM 75 pada siswa kelas IV semester II SD
N 1 Bitera tahun ajaran 2016/2017 dalam siklus I diperoleh sbb:

a. Rata-rata (mean) dihitung dengan:
=

b. Median (titik tengahnya) dicari dengan mengurut data/nilai siswa dari yang terkecil
sampai terbesar. Setelah diurut apabila jumlah data ganjil maka mediannya adalah data
yang ditengah. Kalau jumlahnya genap maka dua data yang di tengah dijumlahkan
dibagi 2 (dua). Untuk median yang diperoleh dari data siklus I dengan menggunakan
cara tersebut adalah: 75
c. Modus (angka yang paling banyak/paling sering muncul) setelah diasccending/diurut.
Angka tersebut adalah: 70
d. Untuk persiapan penyajian dalam bentuk grafik maka hal-hal berikut dihitung terlebih
dahulu.
1. Banyak kelas (K) = 1 + 3,3 x Log (N)
= 1 + 3,3 x Log 30

= 1 + 3,3 x 1,48

181

JURNAL PENDIDIKAN
INSTITUT KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN (IKIP) PGRI BALI

= 1 + 4,87 = 5,87 → 6
2. Rentang kelas (r) = skor maksimum – skor minimum
= 80 – 65
= 15
3. Panjang kelas interval (i) =

Tabel 1 Data kelas interval

No Interval Nilai Frekuensi Frekuensi

Urut Tengah Absolut Relatif

1 65-67 66 3 10.00

2 68-70 69 11 36.67

3 71-73 72 0 0.00

4 74-76 75 6 20.00

5 77-79 78 0 0.00

6 80-82 81 10 33.33

Total 30 100

4. Penyajian dalam bentuk grafik/histogram

Gambar 2. Histogram Prestasi Belajar IPS siswa kelas IV semester II SD N 1 Bitera tahun
ajaran 2016/2017

182
NOMOR 22 TAHUN XVIII Oktober 2017
ISSN 1907-3232

Nilai rata-rata siswa di siklus I sebesar 73.83 menunjukkan bahwa siswa telah menguasai
materi yang diajarkan walaupun belum begitu sempurna karena masih di bawah KKM. Oleh
karenanya upaya perbaikan lebih lanjut masih perlu diupayakan sehingga perlu dilakukan
perencanaan yang lebih matang untuk siklus selanjutnya.

3.2 Siklus II
Semua hasil yang didapat pada siklus I, baik refleksi data kualitatif maupun refleksi data
kuantitatif,menunjukan bahwa perencanaan pelaksanaan penelitian di siklus II ini ada beberapa
hal yang perlu dilakukan yaitu: peneliti merencanakan kembali jadwal untuk melakukan
pembelajaran di kelas, menyusun rencana pelaksanaan pembelajaran yang baik yang mengacu
ke pembelajaran Ekspository, dan merencanakan kunjungan kelas, bersama guru merancang
skenario penerapan pembelajaran dengan melihat kekurangan-kekurangan yang ada pada siklus I
dengan mengidentifikasi hal-hal yang bisa dilakukan untuk peningkatan pembelajaran. Untuk hal
ini, kepala sekolah juga dimohon untuk ikut melakukan supervisi kunjungan kelas.

Peneliti memulai tahap pelaksanaan tindakan dengan membawa semua persiapan yang sudah
dibuat. Terkait model pembelajaran Ekspository mulai diupayakan dalam pembelajaran, pada
kali yang kedua ini peneliti mengajak kepala sekolah untuk ke kelas dan ikut melakukan
pengamatan. Hal ini dilakukan dengan harapan peneliti akan lebih bersemangat untuk dapat
melaksanakan pembelajaran lebih serius. Dengan kepala sekolah ikut mengamati berarti ada
orang lain yang mesti dilihat oleh siswa yang akan menimbulkan keseriusan mereka yang lebih
dari biasanya. Peneliti membawa instrumen pengamatan observasi keaktifan belajar dan
instrumen observasi dan tes prestasi belajar. Setelah masuk kelas bersama guru yang akan
mengamati proses pembelajaran memulai aktivitas pembelajaran sambil mempersilahkan kepala
sekolah dan guru yang mengamati duduk di bangku paling belakang yang sudah disediakan.
Setelah pelaksanaan pembelajaran berjalan, tiba-tiba kepala sekolah dicari oleh pegawainya
karena ada urusan kantor, sehingga pengamatan melaksanakan pembelajaran hanya dilanjutkan
oleh guru yang penulis minta untuk mengobservasi proses selanjutnya. Di belakang, guru yang
mengamati proses pembelajaran sangat aktif menulis hal-hal yang terjadi di kelas untuk memberi
penilaian terhadap kemampuan dan profesionalisme guru, sedangkan di depan kelas peneliti
sibuk dengan pelaksanaan pembelajaran yang dilaksanakan di kelas. Pada pembelajaran inti
peneliti melaksanakan explorasi, elaborasi dan konfirmasi dengan banyak bertanya, banyak

183

JURNAL PENDIDIKAN
INSTITUT KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN (IKIP) PGRI BALI

memotivasi, banyak merayakan keberhasilan siswa, banyak mengajak siswa untuk bisa senang
dan gembira dengan mau memperdengarkan musik-musik agar siswa siap menerima
pembelajaran, dan terakhir peneliti melaksanakan penutupan pembelajaran.. Sedangkan penilaian
terhadap kemampuan belajar siswa dilakukan dengan mencatat hal-hal penting seperti aktivitas
belajar yang dilakukan pada saat peneliti melakukan tindakan.

Analisis Kuantitatif untuk Perolehan Nilai Tes Prestasi Belajar Siklus II diperoleh sbb:

a. Rata-rata (mean) dihitung dengan:
=

b. Median (titik tengahnya) dicari dengan mengurut data/nilai siswa dari yang terkecil
sampai terbesar. Setelah diurut apabila jumlah data ganjil maka mediannya adalah data
yang ditengah. Kalau jumlahnya genap maka dua data yang di tengah dijumlahkan
dibagi 2 (dua). Untuk median yang diperoleh dari data siklus I dengan menggunakan
cara tersebut adalah: 80
c. Modus (angka yang paling banyak/paling sering muncul) setelah diasccending/diurut.
Angka tersebut adalah: 75
d. Untuk persiapan penyajian dalam bentuk grafik maka hal-hal berikut dihitung terlebih
dahulu.
1. Banyak kelas (K) = 1 + 3,3 x Log (N)
= 1 + 3,3 x Log 30

= 1 + 3,3 x 1,48

= 1 + 4,87 = 5,87 → 6

2. Rentang kelas (r) = skor maksimum – skor minimum
= 85 - 75

= 10

3. Panjang kelas interval (i) =

184
NOMOR 22 TAHUN XVIII Oktober 2017
ISSN 1907-3232

Tabel 2 Data kelas interval

No Interval Nilai Frekuensi Frekuensi

Urut Tengah Absolut Relatif

1 75-76 75.5 14 46.67

2 77-78 77.5 0 0.00

3 79-80 79.5 6 20.00

4 81-82 81.5 0 0.00

5 83-84 83.5 0 0.00

6 85-86 85.5 10 33.33

Total 30 100

4. Penyajian dalam bentuk grafik/histogram

Gambar 3. Histogram Prestasi Belajar IPS siswa kelas IV semester II SD N 1 Bitera tahun
ajaran 2016/2017

Pembahasan hasil yang diperoleh dari tes prestasi belajar di siklus II menunjukkan bahwa
kemampuan siswa dalam mengikuti pelajaran sudah cukup baik. Ini terbukti setelah
dibandingkan nilai awal, nilai siklus I dan nilai siklus II, terjadi kenaikan yang signifikan, yaitu
dari rata-rata nilai awal adalah 69,00 naik di siklus I menjadi 73,83 dan di siklus II naik menjadi

185

JURNAL PENDIDIKAN
INSTITUT KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN (IKIP) PGRI BALI

79,33. Hasil ini menunjukkan bahwa model pembelajaran Ekspository telah berhasil
meningkatkan kemampuan siswa menempa ilmu sesuai harapan. Model pembelajaran
Ekspository merupakan model yang cocok bagi siswa apabila guru menginginkan mereka
memiliki kemampuan berkreasi, berbicara banyak, mengeluarkan pendapat secara lugas, bertukar
pikiran, berbicara banyak, mengingat penggunaan metode ini adalah untuk memupuk
kemampuan berbicara siswa, rasa ingin tahu siswa, kemampuan lebih untuk berprestasi,
memupuk kesenangan yang tinggi dalam belajar, mengupayakan kemampuan yang tinggi untuk
siswa dapat berinteraksi dengan materi, berinteraksi dengan sesama siswa dan juga dengan guru.

Kenaikan ini tidak bisa dipandang sebelah mata karena kenaikan nilai ini adalah dari
upaya-upaya yang maksimal yang dilaksanakan peneliti demi peningkatan mutu pendidikan dan
kemajuan pendidikan khususnya di SD N 1 Bitera seperti diaparkan dalam tabel capaian ptestasi
dibawah ini:
Rekapitulasi Hasil Penelitian dari Siklus I sampai Siklus II

Hasil Tes Siklus I Hasil Tes Siklus II
Hasil
Tes Rata- Kenaikan % Rata- Kenaikan %
Variabel Awal rata Rata-rata Kenaikan rata Rata-rata Kenaikan

Prestasi
69.00 73.83 4.83 7.00 79.33 5.50 7.45
Belajar

1. Kesimpulan
Berdasarkan semua temuan hasil penelitian yang telah disampaikan dapat disampaikan
simpulan bahwa model pembelajaran ekspository yang telah dilaksanakan mampu menjawab
rumusan masalah penelitian ini serta mampu membuktikan bahwa tujuan penelitian ini sudah
dapat dicapai. Sebagai bukti atas pencapaian hal tersebut adalah nilai rata-rata awal 69,00 naik
menjadi 73,83 pada siklus I dan pada siklus II naik menjadi 79,33. Dari data awal siswa yang
tuntas hanya 12 orang sedangkan pada siklus I menjadi lebih banyak yaitu 16 dan pada siklus II
menjadi lebih banyak yaitu 30 orang. Perlu adanya penelitian yang lebih lanjut, karena hasil
penelitian ini hanya dilakukan di SD Negeri 1 Bitera tahun ajaran 2016/2017

186
NOMOR 22 TAHUN XVIII Oktober 2017
ISSN 1907-3232

Daftar Pustaka

[1] Sumaatmaja, Prinsip Prisip Pembelajaran IPS. , Bina Ilmu. Surabaya 1980

[2] Wardani, I. G. A. K Siti Julaeha. Modul IDIK 4307. Pemantapan Kemampuan Mengajar.
Jakarta: Universitas Terbuka.

[3] Fridani, Lara dkk,“Psikologi Belajar dan Mengajar”. Bandung,Sinar Baru, 2009.

[4] Djamarah, SyafulBahri. “Prestasi Belajar dan Kompetensi Guru”,Surabaya,Usaha Nasional.

187

JURNAL PENDIDIKAN
INSTITUT KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN (IKIP) PGRI BALI

PENINGKATAN PRESTASI BELAJAR DENGAN MODEL CTL MENGGUNAKAN
PENERAPAN 3W AND HOW

Ni Wayan Tirta

ABSTRACT

This research was conducted at SD Negeri 1 Bitera Class V second semester of academic year
2016/2017. The purpose of this paper is to find out whether the learning mode of Contextual
Teaching and Learning through the implementation of the principles of What, Why, What for
and How is able to improve the achievement of PKN study of V class II students in SD Negeri 1
Bitera. The method used to find data of this research is achievement test of learning result while
method of data analysis is descriptive analysis. The results obtained from this research is the
increase of the value from the initial average of 61.60 in the first cycle rose to 66.13 and in the
second cycle rose to 79.22. The conclusion is the learning model of Contextual Teaching and
Learning through the application of the principles of What, Why, What for and How can
improve student achievement.

Keywords: Learning achievement, CTL model, What, Why, What for and How.

1. Pendahuluan
Tugas guru cukup berat dalam era globalisasi untuk mampu meningkatkan pendidikan
terutama meningkatkan untuk pelajaran. Peningkatan mutu pembelajaran saat ini dipengaruhi
lewat perubahan peradigma dari pengajaran ke pembelajaran. Artinya guru tidak mengambil fase
yang banyak untuk menghabiskan waktu dalam mengajar siswa tetapi guru harus memberikan
kesempatan seluas-luasnya agar anak belajar. Undang-undang No 20 tahun 2003 mengisyaratkan
pendidikan adalah usaha sadar dan terencana untuk mewujudkan suasana belajar dan proses
pembelajaran agar peserta didik secara aktif mengembangkan potensi dirinya untuk memiliki
kekuatan spiritual keagamaan, pengendalian diri, kecerdasan, ahlak mulia serta keterampilan
yang diperlukan dirinya, masyarakat, bangsa dan negara. Untuk memperjelas apa yang
terkandung di dalam batasan pendidikan tersebut diperlukan tiga pokok utama yaitu : 1. Usaha
sadar dan terencana. 2. Mewujudkan suasana pembelajaran dan proses pembelajaran agar peserta
didik aktif mengembangkan potensi dirinya. 3. Memiliki kekuatan spiritual keagamaan,
pengendalian diri, kepribadian, ahlak mulia serta keterampilan yang diperlukan dirinya
masyarakat bangsa dan negara. Untuk mewujudkan harapan yang terkandung dari undang-
undang tersebut guru sebagai ujung tombak pelaksana dalam proses pembelajaran dituntut lebih
kreatif dan inovatif dalam menjalankan amanat yang dimaksud. Pendidik profesional selalu

188
NOMOR 22 TAHUN XVIII Oktober 2017
ISSN 1907-3232

didorong untuk tumbuh dan berkembang sebagai perwujudan perasaan dan sikap yang haus akan
ilmu pengetahuan. Guru profesional menyiapkan diri menerima perkembangan dan kemajuan
bidang tugasnya yang dibarengi pula dengan peningkatan kemampuan seiring dengan kemajuan
ilmu pengetahuan dan teknologi. Temuan dilapangan menunjukan bahwa sebagian besar siswa
tidak mampu menghubungkan antara materi yang mereka pelajari dengan pemanfaatannya dalam
kehidupan nyata. Menyimak uraian diatas, peneliti merasa terpanggil untuk memperbaiki proses
pembelajaran dengan melaksanakan model pembelajaran Contextual Teaching and Learning
dalam mengatasi permasalahan rendahnya prestasi belajar siswa kelas V menjadi bahan
pertimbangan. Jika permasalahan tersebut dibiarkan siswa tidak akan mampu menjalani tahapan
perkembangan kemampuannya dengan baik dan ini akan berpengaruh juga terhadap kualitas
pendidikan di Indonesia secara umum. Oleh karena itu penelitian ini menjadi suatu keharusan
untuk dilaksanakan.

Rumusan Masalah

Rumusan masalah dalam penelitian ini adalah apakah model pembelajaran Teaching and
Learning dapat meningkatkan potensi belajar siswa jika pelaksanaanya berpedoman pada prinsip
What, Why, What for and How sebagai acuan. Adapun cara pemecahannya adalah
mempergunakan model pembelajaran Contextual Teaching and Learning (CTL) agar siswa
memahami materi ajar dan mengaitkannya dengan konsep-konsep dasar yang diterima untuk
dimanfaatkan secara dinamis dan fleksibel sebagai acuan memecahkan masalah dalam kehidupan
sehari-hari. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui seberapa tinggi peningkatan prestasi
belajar siswa akan terjadi setelah diterapkan model pembelajaran Contextual Teaching and
Learning yang mengacu pada penerapan prinsip What, Why, What for, and How. Adapun
manfaat dari penelitian ini adalah menjadi sumber informasi dan referensi bagi akademis atau
lembaga pendidikan guna kepentingan perbaikan kondisi pembelajaran kearah yang lebih baik.
Pembahasan di atas telah dibicarakn bahwa prestasi belajar adalah hasil penilaian pendidikan
tentang kemajuan prestasi siswa setelah melakukan aktivitas belajar, ini berarti prestasi belajar
tidak akan bisa diketahui tanpa dilakukan penilaian atas hasil prestasi belajar siswa. Fungsi
prestasi belajar bukan saja untuk mengetahui sejauh mana kemampuan siswa setelah
menyelesaikan suatu aktifitas, tetapi yang lebih penting adalah sebagai alat untuk memotivasi
setiap siswa agar lebih giat belajar menurut Mohmmad Surya (1979) bahwa faktor- faktor yang

189

JURNAL PENDIDIKAN
INSTITUT KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN (IKIP) PGRI BALI

mempengaruhi prestasi belajar dapat dilihat dari beberapa sudut pandang, antara lain dari sudut
isi pembelajaran, proses belajar, dan dapat pula dari sudut situasi belajar. Bila kita coba lihat
lebih dalam dari pendapat di atas maka prestasi belajar dipengaruhi banyak faktor. Faktor-faktor
dari si pembelajar sendiri atau faktor dalam diri siswa dan faktor luar. Faktor dalam diri siswa
atau IQ, motivasi, etos kerja, bakat, keuletan dan lain-lain sangat berpengaruh pada prestasi
belajar siswa. Dari beberapa gambaran di atas dapat disimpulkan bahwa prestasi adalah hasil
yang dicapai siswa setelah melakukan kegiatan belajar yang berbentuk angka sebagai simbol
ketuntasan belajar. Prestasi belajar ini sangat dipengaruhi oleh faktor luar yaitu guru dan metode.
Hal ini yang menjadi titik perhatian peneliti di kelas V semester II tahun ajaran 2016/2017 di SD
Negeri 1 Bitera.

Model pembelajaran Contextual Teaching and Learning merupakan konsep belajar yang
dapat membantu guru dalam mengaitkan antara materi yang diajarkan dengan situasi dunia nyata
siswa dan mendorong siswa membuat hubungan antara pengetahuan yang dimilikinya dengan
penerapan dalam kehidupan mereka sehari-hari. Menurut Herdian pada blognya menulis
pembelajaran Contextual didasarkan kepada hasil penelitian Jhon Dewey (1916) yang
menyimpulkan bahwa siswa akan belajar dengan baik jika apa yang dipelajari terkait dengan apa
yang diketahui dengan kegiatan atau peristiwa yang terjadi sekelilingnya. Selanjutnya Herdian
menjelaskan bahwa pengajaran Contextual berbeda dengan pembelajaran konvensional menurut
Jhonson (2009:43) dalam abamaumara yang dikutip dari deenbinlade blogspot-com
mengemukakan bahwa alasan menggunakan pembelajaran Contextual karena pola pikir
sentralistik dan informistik mewarnai pengemasan dunia pendidikan kita, dan keputusan selalu
dilaksanakan berdasarkan hiearky-birokrasi. Menurut Depdiknas, 2002 : 164 (dalam pemodelan)
(modeling) guru boleh menghadirkan ke kelas, tokoh-tokoh, olahragawan, dokter, perawat,
tukang, petani, pengurus organisasi, polisi, tukang kayu, dan sebagainya atau teman sebagai
sumber belajar atau guru sebagai sumber belajar. Dari beberapa gambaran dari cuplikan di atas
ada hal-hal yang perlu mendapatkan perhatian dalam pendekatan kontekstual yaitu : 1. Belajar
diupayakan dengan cara agar siswa mengetahui sendiri apa yang dipelajari, 2. Pengetahuan
merupakan keterampilan yang dapat diterapkan, 3. Siswa diupayakan agar menemukan sesuatu
yang berguna baginya, 4. Pengetahuan keterampilan diperluas dari yang terbatas menjadi yang
sempurna, 5.Peran guru adalah sebagai pembantu, fasilitator, mengupayakan pembelajaran yang
kooperatif dan kolaboratif, pemberi informasi memantau mengaitkan antara materi yang akan

190
NOMOR 22 TAHUN XVIII Oktober 2017
ISSN 1907-3232

diajarkan dengan situasi dengan dunia nyata siswa, mendorong menghubungkan antara
pengetahuan yang dimilikinya dengan penerapan dalam kehidupan sehari-hari.

Pemahaman yang mendalam dan bermakna bagi setiap orang diperlukan pada
kemampuan untuk menghubungkan pengetahuan yang ada dalam diri untuk diterapkan dalam
kehidupan sehari-hari. Apabila guru telah melakukan inovasi untuk mendatangkan siswanya
memperoleh kemampuan yang diharapkan dalam memahami konsep dapat diharapkan para
siswa akan memiliki kebiasaan-kebiasaan, keterampilan-keterampilan yang dibutuhkan untuk
dimanfaatkan dalam kehidupan sehari-hari. Dasar berpikir inilah yang dijadikan acuan dalam
memecahkan masalah yang akan dipecahkan dalam penelitian ini.

Mengacu pada teori yang telah disampaikan, rumusan hipotesis dapat disampaikan
sebagai berikut : jika berpedoman pada prinsip, What, Whay, What for, and How sebagai acuan
dalam menyampaikan materi pembelajaran Contextual Teaching and Learning dapat
meningkatkan prestasi belajar.

2. Metode Penelitian
Penelitian ini dilaksanakan di SD Negeri 1 Bitera kelas V semester II Tahun Ajaran
2016/2017. Sekolah ini berlokasi di Desa Bitera, Kec.Ubud, Kabupaten Gianyar, Sekolah ini
berada di lingkungan yang aman dan sejuk. Dalam penelitian ini menggunakan bentuk siklus
dengan pemberian tindakan. Penelitian ini akan digunakan dalam 2 siklus, yang setiap siklusnya
terdiri dari 3 pertemuan untuk memberikan tindakan. Dalam melaksanakan penelitian rancangan
merupakan sangat penting untuk disampaikan. Untuk maksud tersebut peneliti menggunakan
rancangan siklus penelitian tindakan yang disampaikan oleh Kemmis dan Mc.Tagaart.

191

JURNAL PENDIDIKAN
INSTITUT KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN (IKIP) PGRI BALI

Plan
R 1
4
Plan E

F
2
L
3

E

C
Plan
T 5
8 Plan R

E
T
F 6
7 A

L

E

C
Gambar 01. Rancangan Kemmis dan Mc.Tagaart
T

Prosedur yang dilakukan dalam model
ini adalah menukar strategi bertanya agar siswa dapat
menggali jawaban atas pertanyaanT sendiri :
A
1. Mencoba bertanya agar siswa mau mengatakan keinginannya.
2. Catat pertanyaan dan respon.
3. Pertanyaan direkam dan dikendalikan.
4. Inkuiri berkembang bagaimana mengajar tetap pada jalur.
Dr.Hamzah B.Uno,dkk (2011:69-70) menjelaskan, bagi Kemmis dan Taggart perumusan
masalah dan perencanaan tindakan menjadi langkah pertama yang dilakukan peneliti secara
bersamaan. Perumusan masalah dilakukan dengan mengidentifikasi masalah-masalah yang
berkembang di lapangan. Alternatif yang paling mungkin diterapkan menjadi rencana tindakan.
Refleksi hasil pengamatan merupakan langkah selanjutnya setelah pelaksanaan tindakan dan
observasi. Dengan refleksi dapat dipahami kelebihan dan kekurangan yang terjadi selama
melaksanakan tindakan. Dengan demikian bila dampak tindakan belum sesuai yang diinginkan,

192
NOMOR 22 TAHUN XVIII Oktober 2017
ISSN 1907-3232

dapat dilakukan revisi terhadap ide atau gagasan sebelumnya yang tertuang dalam perencanaan
sehingga dapat dilakukan perencanaan kembali, demikian seterusnya.

Subject Dan Object Penelitian

1. Subject penelitian
Adapun subject penelitian ini adalah semua siswa kelas V semester II Tahun Ajaran
2016/2017, dengan jumlah siswa 22 orang.

2. Objek Penelitian

Sedangkan objek penelitiannya adalah peningkatan aktivitas dan prestasi belajar siswa
kelas V SD Negeri 1 Bitera. Setelah diterapkan model Contextual and Learning dalam proses
pembelajaran.

Metode Pengumpulan Data

Metode yang digunakan untuk mengumpulkan data hasil penelitian ini adalah prestasi
belajar. Sedangkan metode analisis datanya adalah deskriftif. Indikator yang diusulkan penelitian
ini adalah prestasi belajar siswa siklus 1 mencapai 66,13, dan pada siklus 2 mencapai nilai rata
rata 79,22.

Hasil Penelitian dan Pembahasan

A. Hasil Penelitian
Pada bagian ini akan memaparkan data yang diperoleh mulai dari apa yang dibuat sesuai
perencanaan, hasilnya apa, bagaimana pelaksanaannya, berapa hasil yang dicapai, sampai pada
refleksi berikutnya, semua hasil pembahasan dimulai dari perencanaan.

Siklus I

1. Rencana Tindakan 1
Peneliti menyusun rencana pelaksanaan pembelajaran yang akan dilaksanakan dengan model
Contextual Teaching and Learning, menentukan waktu pelaksanaan yang materi media dan
sumber belajar. Pada siklus ini urutan penyampaiannya menyangkut hari, tanggal, bulan,
sesuai jadwal penelitian. Memilih dan mengorganisasikan dari yang mudah ke yang sulit

193

JURNAL PENDIDIKAN
INSTITUT KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN (IKIP) PGRI BALI

dilanjutkan dengan merancang skenario pembelajaran yang disesuaikan dengan tujuan, materi
dan tingkat perkembangan siswa.

2. Pelaksanaan Tindakan 1
Dalam pelaksanaan tindakan 1, diawali dengan pengelolaan kelas dengan persiapan yang
matang , mengajar materi dengan benar, sesuai dengan perencanaan di RPP.

3. Refleksi siklus I
Refleksi merupakan kajian secara menyeluruh tindakan yang telah dilakukan berdasarkan data
yang telah terkumpul kemudian dilanjutkan evaluasi guna menyempurnakan tindakan.
Refleksi menyangkut analisis, sintesis dan penilaian terhadap hasil pengamatan atas tindakan
yang dilakukan (Hopkin, 1993 dalam Suharsimin Arikunto, Suhardjono, Supardi, 2006 : 80)

Analisis Kuantitatif Prestasi Belajar Siswa Siklus I

a. Rata-rata (mean) yang diperoleh adalah 66,13
b. Median (titik tengahnya) adalah 62,5
c. Modus (angka yang paling banyak muncul) 60 dan 70.
Sintesis artinya campuran berbagai pengertian sehingga merupakan kesatuan yang selaras.
Keberhasilan yang diperoleh siswa menunjukan hasil rata-rata 66,13. Dari data tersebut ada 4
orang siswa yang memperoleh nilai diatas KKM, dan ada 18 orang memperoleh nilai dibawah
KKM, sehingga mereka harus dibina kembali.

Penilaian Siklus I

Dalam penilaian ini mengupayakan agar alur Contextual Teaching and Learning berjalan
sesuai harapan, walau hasilnya belum memenuhi criteria penelitian, mengingat peneliti baru
memulai menggunakan pembelajaran yang baru.

Siklus II

1. Perencanaan tindakan
Dengan melihat semua hasil yang didapat pada siklus 1 baik refleksi data kuantitatif maupun
refleksi data kualitatif maka untuk perencanaan penelitian di siklus 2 ada beberapa hal yang
perlu dilakukan yaitu :

194
NOMOR 22 TAHUN XVIII Oktober 2017
ISSN 1907-3232

a. Merencanakan kembali jadwal untuk melakukan pembelajaran di kelas dengan melihat
jadwal, sesuai waktu pada kalender pendidikan. Hasil dari refleksi siklus 1 merupakan
dasar dari pembuatan perencanaan pada siklus ini
b. Menyusun RPP yang baik, membuat instrumen pengumpulan data.

2. Pelaksaan tindakan disampaikan sebagai berikut :
Pada hari yang sudah ditentukan sebagai jadwal peneliti memulai tahap pelaksanaan tindakan
dengan membawa persiapan yang sudah dibuat.

3. Refleksi siklus II
Analisis kuantitatif untuk memperoleh prestasi belajar siklus 2

a. Rata-rata (mean) hasil tes prestasi belajar siswa adalah 79,22
b. Median titik tengahnya adalah 79,5
c. Modus angka yang paling banyak kelihatan adalah 80

Tabel data kelas interval disajikan sebagai berikut :

NO Interval Nilai Tengah Frekuensi Frekuensi
Absolut Relatif

1 70 - 73 71,5 3 13,63

2 74 - 77 75,5 4 18,18

3 78 – 81 79,5 11 50,0

4 82 - 85 83,5 1 4,54

5 86 - 89 87,5 1 4,54

6 90 - 93 91,5 2 9,09

7 Total 22 100

195

JURNAL PENDIDIKAN
INSTITUT KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN (IKIP) PGRI BALI

Sintesis siklus II

Nilai rata-rata yang diperoleh pada siklus 2 menunjukkan peningkatan dari siklus 1 yaitu
dari 66,13 menjadi 79,22. Dari data ini ditemukan 4 orang ada pada nilai rata-rata, 15 di atas
rata-rata dan 3 memperoleh dibawah rata-rata. Siswa yang memperoleh di bawah rata-rata
akhirnya dibina kembali, diberi arahan, motivasi, penguatan, agar mereka memenuhi kriteria
keberhasilan penelitian, sehingga tidak dilanjutkan lagi ke siklus berikutnya.

Penilaian Siklus

Pada Pelaksanaan peneliti telah mengupayakan agar alur Contextual Teaching and
Learning berjalan sesuai harapan, sehingga betul-betul belajar sesuai harapan model
pembelajaran ini. Penelitian yang dilakukan pada siklus berikutnya yaitu siklus 2 dimulai lagi
dari perencanaan pelaksanaan obsevasi dan refleksi. Pelaksanaan yang sudah cukup mantap
dapat dilakukan sesuai alur CTL yang tertera pada bagian teori begitu juga hasil observasi /
pengamatan berjalan sesuai harapan. Setelah direfleksi ternyata hasil yang diperoleh sudah sesuai
dengan usulan keberhasilan penelitian. Sehingga dapat dinilai bahwa pelaksaan penelitian pada
siklus 2 ini sudah cukup memuaskan.

B. Pembahasan
Pembahasan yang dilakukan dalam perencanaan pelaksanaan dan observasi siklus 1.
Hasil tes prestasi belajar yang merupakan tes tertulis membuat siswa betul-betul memahami apa
yang sudah dipelajari. Nilai rata-rata siklus 1 sebesar 66,13, bahwa siswa telah menguasai materi
yang diajarkan walaupun belum sempurna. Hasil ini menunjukkan peningkatan kemampuan
siswa menguasai mata pelajaran PKN, dibandingkan dengan nilai awal siswa sesuai data yg
sudah disampaikan dalam analisis sebelumnya. Hasil tes prestasi belajar di siklus 1 telah
menemukan efek utama bahwa penggunaan metode Contextual Teachimg and Learning
berpengaruh terhadap prestasi belajar siswa. Hal ini sesuai dengan hasil data analisis metode
pembelajaran yang dilakukan oleh Soedomo (1989 – 1990) yang mengatakan bahwa metode
pelajaran yang diterapkan oleh seorang guru berpengaruh terhadap prestasi belajarnya. Kendala
yang masih tersisa dan perlu dibahas adalah prestasi belajar yang dicapai pada siklus 1 belum
memenuhi harapan sesuai dengan kriteria keberhasilan penelitian. Oleh karena itu upaya
perbaikan lebih lanjut perlu diupayakan sehingga perlu dilakukan perencanaan yang lebih

196
NOMOR 22 TAHUN XVIII Oktober 2017
ISSN 1907-3232

matang untuk siklus selanjutnya. Dalam pembahasan disampaikan rangkuman hasil penelitian
dari seluruh siklus dan semua aspek penelitian dengan diformulasikan ke dalam bentuk tabel dan
grafik agar diketahui adanya peningkatan atau tidak adanya perubahan dengan berbagai alasan
yang rasional dan logis (Suharsimmin Arikunto, 2006 : 146). Untuk lebih memperjelas hasil
penelitian data yang sudah diperoleh dari siklus 1, berikut disampaikan tabel interval kelas
peserta grafiknya

a. Banyaknya kelas (K) = 1 + 3,3 + 1,34
b. Rentang kelas (r) = 80 – 55 = 25
c. Panjang kelas interval (i) = 25/6 = 4,2

Tabel interval kelas sebagai berikut :

NO Interval Nilai Tengah Frekuensi Frekuensi
Absolut Relatif

1 55 - 58 56,5 3 13,63

2 59 - 62 60,5 7 31,18

3 63 - 66 64,5 4 18,18

4 67 - 70 68,5 3 13,63

5 71 - 74 72,5 0 0

6 75 - 78 76,5 2 9,09

7 79 - 82 80,5 1 4,54

8 83 - 86 84,5 2 9,09

Total 22 100

197

JURNAL PENDIDIKAN
INSTITUT KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN (IKIP) PGRI BALI

Penyajian dalam bentuk grafik :

Pembahasan hasil yang diperoleh pada siklus II.

Pembahasan yang diperoleh dari tes prestasi belajar siklus 2 menunjukkan bahwa
kemampuan siswa dalam mengikuti pelajaran sudah cukup baik. Ini terbukti dari nilai rata-rata
siswa mencapai 79,22. Hasil ini menunjukkan bahwa model Contextual Teaching and Learning
telah berhasil meningkatkan kemampuan siswa sesuai harapan Contextual Teaching and
Learning merupakan model yang cocok bagi siswa. Hasil penelitian ini ternyata berpengaruh
secara signifikan terhadap prestasi belajar siswa. Dari nilai yang diperoleh siswa, setengah lebih
siswa mendapat nilai diatas KKM, 4 siswa memperoleh nilai menengah dan 3 siswa memperoleh
nilai rendah. Dari perbandingan nilai ini sudah dapat diyakini bahwa prestasi belajar siswa dapat
ditingkatkan dengan penggunaan model Contextual Teaching and Learning. Setelah
dibandingkan nilai awal, nilai siklus 1 dan nilai siklus 2 terjadi kenaikan yang signifikan yaitu
dari rata-rata nilai awal adalah 61,60 naik di siklus 1 menjadi 66,13 dan di siklus 2 naik menjadi
79,22. Untuk lebih jelas dan lebih mudah dilihat peningkatan hasil yang ada maka berikut
ditampilkan tabel interval kelas dan grafiknya.

1. Banyaknya kelas dihitung dengan rumus STRUGES’
K = 1 + 3,3 x log N

198
NOMOR 22 TAHUN XVIII Oktober 2017
ISSN 1907-3232

= 1 + 3,3 x log 22

= 1 + 3,3 x 1,34 = 5,42

2. Rentangan dihitung.
R = skor maximum – skor minimum

= 91 – 70

= 21

3. Panjang kelas interval dihitung dengan :
I = r/k

= 21/5 = 4,2

Berikut tabel interval kelas sebagai berikut ;

NO Interval Nilai Tengah Frekuensi Frekuensi
Absolut Relatif

1 70 - 73 71,5 3 13,63

2 74 - 77 75,5 4 18,18

3 78 – 81 79,5 11 50,0

4 82 - 85 83,5 1 4,54

5 86 - 89 87,5 1 4,54

6 90 - 93 91,5 2 9,09

7 Total 22 100

199

JURNAL PENDIDIKAN
INSTITUT KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN (IKIP) PGRI BALI

Penyajian dalam bentuk grafik/istogram :

PENUTUP

Simpulan

Simpulan yang disampaikan berdasarkan hasil semua analisis data yang telah dilakukan
dengan melihat hubungan rumusan masalah, tujuan penelitian, hipotesis tindakan, dan semua
hasil pembahasan adalah : fokus pembahasan dari penelitian ini adalah untuk membuktikan
apakah model pembelajaran Contextual Teaching and Learning dengan prinsip What, Why,
What for and How dapat meningkatkan prestasi belajar PKN siswa kelas 5 SD N 1 Bitera. Dari
hasil analisis yang telah dilakukan yang dilanjutkan dengan pembahasan dapat disampaikan
bahwa peningkatan hasil belajar telah dapat diupayakan dari data awal yang rata-ratanya baru
mencapai 61,60 dan jauh dari criteria ketuntasan minimal pada mata pelajaran ini. Pada siklus 1
sudah dapat ditingkatkan menjadi 66,13 dan pada siklus 2 sudah mencapai rata-rata 79,22. Siswa
yang pada awal kemampuannya masih sangat rendah dimana hanya ada 4 siswa yang tuntas pada
siklus 1 sudah dapat ditingkatkan yaitu 5 yang sudah tuntas dan pada siklus 2 sudah 19 yang
tuntas. Dari hasil awal ada 18 yang harus diremidi sedangkan pada siklus 2 hanya 3 siswa yang
diremidi. Dari uraian fakta-fakta diatas yang dibarengi dengan penyajian data hasil observasi

200
NOMOR 22 TAHUN XVIII Oktober 2017
ISSN 1907-3232

baik siklus 1 maupun siklus 2 yang disampaikan pada bab 4 telah dibuktikan bahwa model
pembelajaran Contextusl Teaching and Learninng dengan prinsip watt, way, watt for and how
dapat meningkatkan kan kemampuan siswa dalam belajar. Dengan hasil tersebut dapat
dibuktikan ban bahwa rumusan masalah dan tujuan penelitian telah tercapai dan hipotesis yang
diajukan sudah dapat diterima.

DAFTAR PUSTAKA

Arikunto, Suharsimmin, Suhardjono, Supardi 2006, Penelitian Tindakan Kelas. Jakarta : PT
Bumi Aksara.

Departemen Pendidikan Nasional 2003. Kurikulum 2004. Jakarta : Depdiknas

Surya Muhamad 2004. Psikologi Pembelajaran dan Pengajaran. Bandung : Pustaka Bumi
Quraisy.

Soedomo, M 2001. Landasan Pendidikan. Malang : Penyelenggaraan
Pendidikan Pasca Sarjana Proyek Peningkatan Perguruan Tinggi.

Sardiman, A.M. 1988. Interaksi dan Motivasi Belajar – Mengajar Pedoman Bagi Calon Guru.
Jakarta : Rajawali Pers.

Nur, Muhamad et. al 2001. Teori Mengajar. Surabaya : University press.

201

JURNAL PENDIDIKAN
INSTITUT KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN (IKIP) PGRI BALI

APLIKASI MODEL PEMBELAJARAN CTL UNTUKMENINGKATKAN PRESTASI
BELAJAR BAHASA INDONESIA SISWA SEKOLAH DASAR

I Wayan Dangin

ABSTRACT

This research is conducted in SD Negeri 1 Mas hususnya class IV academic year
2016/2017 The purpose of the research is to determine whether the application of learning model
of CTL can improve learning achievement in the field of study of Indonesian in grade 4 students,
first semester at SD Negeri 1 Mas lesson year 2016/2017 The method used to find the results of
this research data is from the study achievement test. While the method used to analyze the data
is descriptive analysis. The results obtained from this study is to increase the average that had an
average of 64.00, in the first cycle increased to 68.80 and in the second cycle increased to 75.20
concluded that the application of CTL learning model can improve performance in the field of
study Indonesian in fourth grade students, first semester, at SD Negeri 1 Mas academic year
2016/2017

Keywords: CTL learning model, achievement improvement, grade 6 SD Negeri 2
Pejeng Kelod.

1. Pendahuluan
Peran mata pelajaran Bahasa Indonesia adalah untuk pengembangan intelektual, social dan
emosional siswa serta sebagai kunci penentu menuju keberhasilan dalam mempelajari suatu
bidang tertentu. Fungsi mata pelajaran Bahasa Indonesia adalah sebagai suatu bidang kajian
untuk mempersiapkan siswa mampu merefleksikan pengalamannya sendiri dan pengalaman
orang lain, mengungkapkan gagasan-gagasan dan perasaan serta memahami beragam nuansa
makna, sedangkan kegunaannya adalah untuk membantu siswa mengenal dirinya, budayanya,
budaya orang lain, mengemukakan gagasan dan perasaan, berpartisipasi dalam masyarakat,
membuat keputusan yang bertanggungjawab pada tingkat pribadi, sosial, menemukan serta
menggunakan kemampuan analytic dan imajinatif yang ada dalam dirinya.
Dengan pemahaman peran, fungsi dan kegunaan mata pelajaran Bahasa Indonesia oleh guru
maka pelaksanaan proses pembelajaran di kelas akan sangat efektif. Guru juga hendaknya
mampu mengaplikasikan model-model pembelajaran yang tepat sehingga paradigm pengajaran
dapat diubah menjadi paradigma pembelajaran.

202
NOMOR 22 TAHUN XVIII Oktober 2017
ISSN 1907-3232

Kelemahan-kelemahan yang terjadi selama proses pembelajaran yang dilakukan selama ini
yang menyebabkan rendahnya prestasi belajar Bahasa Indonesia siswa sekolah dasar tentu tidak
sepenuhnya disebabkan oleh factor luar, tentu banyak pula dipengaruhi oleh faktor dari dalam
diri guru itu sendiri seperti kemauan menyiapkan bahan yang lebih baik, termasuk ketrampilan
guru itu sendiri untuk menerapkan model pembelajaran yang telah dipahami. Selain itu guru juga
kurang mampu untuk dapat mengembangkan keterampilan mengajar yang dapat menarik
perhatian siswa dan merangsang siswa untuk belajar. Keterampilan yang mesti dikuasai guru
dalam melaksanakan pembelajaran ada 7, yaitu: 1) keterampilan bertanya, 2) keterampilan
memberi penguatan, 3) keterampilan mengadakan variasi, 4) keterampilan menjelaskan, 5)
keterampilan membuka dan menutup pelajaran, 6) keterampilan membimbing diskusi, 7)
keterampilan mengelola kelas. Keterampilan-keterampilan ini berhubung dengan kemampuan
guru untuk menguasai dasar-dasar pengetahuan yang berhubungan dengan persiapan dan
pelaksanaan proses pembelajaran yang akan memberikan dukungan terhadap cara berpikir siswa
yang kreatif dan imajinatif. Hal inilah yang menunjukkan profesionalisme guru [1].
Salah satu upaya memperbaiki mutu pendidikan utamanya pada mata pelajaran Bahasa
Indonesia adalah dengan menggunakan model pembelajaran CTL. Model ini mampu
merangsang siswa menjadi lebih aktif akibat diberikan semangat, diberikan penguatan-
penguatan, diberikan perayaan bagi mereka yang berhasil.
Adapun yang menjadi tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui seberapa tinggi
peningkatan prestasi belajar Bahasa Indonesia siswa akan terjadi setelah diterapkan model
pembelajaran CTL dalam pembelajaran. Sedangkan manfaat penelitian ini secara teoritis adalah
sebagai acuan dalam memperkaya teori dalam rangka peningkatan kompetensi guru. Sedangkan
secara praktis manfaat penelitian ini diharapkan bermanfaat bagi sekolah, khususnya bagi Guru
dalam rangka meningkatkan prestasi belajar siswa. Di samping itu, penelitian ini juga diharapkan
bermanfaat sebagai informasi yang berharga bagi teman-teman guru, kepala sekolah di
sekolahnya masing-masing.
2. Metodologi Penelitian
Rancangan yang digunakan dalam penelitian ini adalah rancangan yang dibuat oleh Mc. Kernan
seperti terlihat pada Gambar1.

203

JURNAL PENDIDIKAN
INSTITUT KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN (IKIP) PGRI BALI

TINDAKAN DAUR I
DAUR 2
Tindakan perlu perbaikan

dst

Penerapan Definisi Penerapan Redefine
masalah problem

Evaluasi Need Evaluate Need
tindakan assessement action assessement

Implementasi Hipotesis ide Impl. Revise New
tindakan plan hypothesis

Develop action plan T 1 Revise action plan T 2

Gambar 1. Penelitian Tindakan Model Mc. Kernan, 1991 (dalam Sukidin, Basrowi, Suranto,
2002: 54)

Prosedur Tindakan daur I: mulai dari definisi masalah, berlanjut ke assessment yang disiapkan,
berlanjut ke rumusan hipotesis, berlanjut ke pengembangan untuk tindakan I, lalu implementasi
tindakan, evaluasi tindakan berlanjut ke penerapan selanjutnya.

Tindakan daur II: mulai dari menentukan kembali masalah yang ada, berlanjut ke assessment
yang disiapkan, terus ke pemikiran terhadap munculnya hipotesis yang baru, perbaikan tindakan
pada rencana ke 2, pelaksanaan tindakan, evaluasi terhadap semua pelaksanaan dan penerapan.
Setelah langkah tindakan dimonitor berserta efeknya serta kegagalannya bisa ditemukan, dibuat
revisi untuk perencanaan selanjutnya. Demikian terus bergulir sampai penelitian berhasil sesuai
indikator yang diusulkan.

Subjek penelitian ini adalah semua siswa kelas IV Semester I SDN 1 Mas tahun ajaran
2016/2017, sedangkan yang menjadi objek penelitian ini adalah peningkatan prestasi belajar
Bahasa Indonesia siswa di kelas tersebut. Penelitian ini dilakukan dari bulan Juli sampai bulan
Nopember tahun 2016

204
NOMOR 22 TAHUN XVIII Oktober 2017
ISSN 1907-3232

Metode pengumpulkan data hasil penelitian ini adalah observasi dan tes prestasi belajar,
sedangkan metode analisis datanya adalah metode deskriptif.Untuk data kuantitatif dianalisis
dengan mencari mean, median, modus, dan membuat interval kelas.

Pembelajaran CTL sebagai salah satu model, strategi dan pendekatan pembelajaran
khususnya menyangkut keterampilan guru dalam merancang, mengembangkan dan mengelola
sistim pembelajaran sehingga guru mampu menciptakan suasana pembelajaran yang efektif,
menggairahkan dan memiliki keterampilan hidup [3].

Prestasi belajar merupakan kemampuan-kemampuan yang dimiliki oleh siswa sebagai
akibat perbuatan belajar atau setelah menerima pengalaman belajar, yang dapat dikatagorikan
menjadi tiga ranah, yakni ranah kognitif, afektif, dan psikomotor [4].

3. Hasil dan Pembahasan
Sebelum menyampaikan hasil penelitian dan pembahasan, perlu menyajikan uraian
masing-masing siklus dengan data lengkap mulai dari perencanaan, pelaksanaan, pengamatan
dan refleksi yang berisi penjelasan tentang aspek kelemahan dan keberhasilan yang terjadi.

3.3 Siklus I
Dalam siklus I, mulai dari membuat Rencana Pelaksanaan Pembelajaran (RPP), yaitu
dalam pelaksanaan pembelajaran inti, teori-teori CTL dimasukkan mengikuti skenario
pembelajaran seperti: penyediaan ruangan yang nyaman, upaya kegiatan-kegiatan yang
menggembirakan, membuat pembelajaran lebih sederhana, mengupayakan siswa lebih pada
berbicara gerak tubuh, perintah-perintah yang berhubungan dengan hal-hal tersebut, mengikuti
tujuan pembelajaran yang sudah direncanakan, informasi yang banyak, materi pengakuan-
pengakuan atas keberhasilan siswa, perayaan atas keberhasilan siswa untuk umpan balik dan
motivasi peningkatan hasil belajar, apersepsi yang banyak, memberikan siswa pengalaman nyata,
sesuai biar dialami sendiri oleh siswa, mengupayakan kata kunci, model, metode, strategi yang
bisa membantu siswa, demonstrasi yang lebih mendominir agar siswa dapat mengekspresikan
kemampuan mereka, pengulangan-pengulangan, penguatan-penguatan sangat diperlukan,
memberdayakan seluruh kemampuan dan potensi yang ada, rancangan belajar terus dinamis,
penghargaan bagi kemampuan siswa mengupayakan pembelajaran selaras dengan kerja otak
manusia, mengupayakan bermacam-macam interaksi, mengupayakan agar pembelajaran menjadi

205

JURNAL PENDIDIKAN
INSTITUT KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN (IKIP) PGRI BALI

bermakna, tujuan yang sangat efektif. Dengan kegiatan pembelajaran seperti itu dapat diketahui
beberapa kemajuan. Berdasar hasil awal kemampuan siswa kelas IV, peneliti merencanakan
kegiatan yang lebih intensif seperti berkonsultasi dengan teman-teman guru dan kepala sekolah
tentang persiapan pelaksanaan pembelajaran menggunakan metode CTL. Proses selanjutnya
menentukan waktu pelaksanaan, yang menyangkut hari, tanggal, sesuai dengan jadwal penelitian
yaitu pada minggu ke II bulan Juli. Merencanakan bahan pelajaran dan merumuskan tujuan.
Menentukan bahan pelajaran, dengan cara menyesuaikan dengan silabus yang berlaku dan
penjabarannya dengan cukup baik.

Pada siklus pertama ini, peneliti mengorganisasikan materi pembelajaran dengan baik.
Urutan penyampaiannya dari yang mudah ke yang sulit, cakupan materi cukup bermakna bagi
siswa, menentukan alat bantu mengajar, sedangkan dalam penentuan sumber belajar sudah
disesuaikan dengan tujuan, materi pembelajaran dan tingkat perkembangan peserta didik.

Skenario pembelajaran disesuikan dengan tujuan, materi dan tingkat perkembangan
siswa, diupayakan variasi dalam penyampaian. Susunan dan langkah-langkah pembelajaran
sudah disesuaikan dengan tujuan, materi, tingkat perkembangan siswa, waktu yang tersedia,
sistematiknya adalah menaruh siswa dalam posisi sentral, mengikuti perubahan strategi
pendidikan dari pengajaran ke pembelajaran. Sebagai upaya Trianggulasi, pada pelaksanaan
pembelajaran CTL ini peneliti mengajak seorang guru ke kelas untuk memantau kebenaran
pelaksanaan pembelajaran CTL. Guru sudah diberitahu sebelumnya tentang kebenaran model
pembelajaran CTL sehingga memiliki kemampuan untuk mengamati proses. Selama pelaksanaan
tindakan I ini ada beberapa hal yang bisa dicatat yaitu:

1. Pengelolaan Kelas
Mengelola kelas dengan persiapan yang matang menggunakan model pembelajaran
CTL, mengajar materi dengan benar sesuai perencanaan di RPP adan alur pembelajaran
CTL.

2. Alat Penilaian
Alat penilaian digunakan observasi yang dilaksanakan pada saat proses sedang
berlangsung dan tes yang digunakan setelah pembelajaran selesai. Instrumen yang

206
NOMOR 22 TAHUN XVIII Oktober 2017
ISSN 1907-3232

digunakan hanya digunakan instrumen observasi mengingat siswa yang diajar adalah
murid-murid kelas IV semester 1.
3. Penampilan
Penampilan secara umum, peneliti berpakaian rapi, menggunakan bahasa yang santun,
menuntun siswa semaksimal mungkin dengan penggunaan metode CTL sesuai alur
pembelajaran ini yang sudah disampaikan pada hasil perencanaan.

Kemudian dilanjutkan dengan pengamatan dalam 3 kali pertemuan dengan memberikan tes
prestasi belajar. Dari hasil pengamatan akhirnya peneliti mengkaji secara menyeluruh tindakan
yang telah dilakukan berdasarkan data yang telah terkumpul.

Analisis kuantitatif prestasi belajar Bahasa Indonesia dengan KKM 70 pada siswa kelas IV
semester I SDN 1 Mas tahun ajaran 2016/2017 dalam siklus I diperoleh sbb:

e. Rata-rata (mean) dihitung dengan:
=

f. Median (titik tengahnya) dicari dengan mengurut data/nilai siswa dari yang terkecil
sampai terbesar. Setelah diurut apabila jumlah data ganjil maka mediannya adalah data
yang ditengah. Kalau jumlahnya genap maka dua data yang di tengah dijumlahkan
dibagi 2 (dua). Untuk median yang diperoleh dari data siklus I dengan menggunakan
cara tersebut adalah: 70
g. Modus (angka yang paling banyak/paling sering muncul) setelah diasccending/diurut.
Angka tersebut adalah: 70
h. Untuk persiapan penyajian dalam bentuk grafik maka hal-hal berikut dihitung terlebih
dahulu.
5. Banyak kelas (K) = 1 + 3,3 x Log (N)
= 1 + 3,3 x Log 25
= 1 + 3,3 x 1,40
= 1 + 4,61 = 5,61 → 6
6. Rentang kelas (r) = skor maksimum –
skor minimum
= 75 – 60

207

JURNAL PENDIDIKAN
INSTITUT KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN (IKIP) PGRI BALI

= 15
7. Panjang kelas interval (i) =

Tabel 1 Data kelas interval

No Interval Nilai Frekuensi Frekuensi

Urut Tengah Absolut Relatif

1 60-62 61 2 8,00

2 63-65 64 8 32,00

3 66-68 67 0 0,00

4 69-71 70 9 36,00

5 72-74 73 0 0,00

6 75-77 76 6 24,00

Total 25 100

8. Penyajian dalam bentuk grafik/histogram

Gambar 2. Histogram Prestasi Belajar Bahasa Indonesia siswa kelas IV semester I SDN 1
Mastahun ajaran 2016/2017

Nilai rata-rata siswa di siklus I sebesar 68,80 menunjukkan bahwa siswa telah menguasai materi
yang diajarkan walaupun belum begitu sempurna karena masih di bawah KKM. Oleh karenanya

208
NOMOR 22 TAHUN XVIII Oktober 2017
ISSN 1907-3232

upaya perbaikan lebih lanjut masih perlu diupayakan sehingga perlu dilakukan perencanaan yang
lebih matang untuk siklus selanjutnya.

3.4 Siklus II
Semua hasil yang didapat pada siklus I, baik refleksi data kualitatif maupun refleksi data
kuantitatif,menunjukan bahwa perencanaan pelaksanaan penelitian di siklus II ini ada beberapa
hal yang perlu dilakukan yaitu: peneliti merencanakan kembali jadwal untuk melakukan
pembelajaran di kelas, menyusun rencana pelaksanaan pembelajaran yang baik yang mengacu
ke pembelajaran CTL, dan merencanakan kunjungan kelas, bersama guru merancang skenario
penerapan pembelajaran dengan melihat kekurangan-kekurangan yang ada pada siklus I dengan
mengidentifikasi hal-hal yang bisa dilakukan untuk peningkatan pembelajaran. Untuk hal ini,
kepala sekolah juga dimohon untuk ikut melakukan supervisi kunjungan kelas.

Peneliti memulai tahap pelaksanaan tindakan dengan membawa semua persiapan yang sudah
dibuat.. Pada pembelajaran inti peneliti melaksanakan explorasi, elaborasi dan konfirmasi
dengan banyak bertanya, banyak memotivasi, banyak merayakan keberhasilan siswa, banyak
mengajak siswa untuk bisa senang dan gembira dengan mengajak siswa berkomunikasi dengan
terbuka dengan kesulitan pembelajaran yang dialami agar siswa siap menerima pembelajaran,
dan terakhir peneliti melaksanakan penutupan pembelajaran. Sedangkan penilaian terhadap
kemampuan belajar siswa dilakukan dengan mencatat hal-hal penting seperti aktivitas belajar
yang dilakukan pada saat peneliti melakukan tindakan.

Analisis Kuantitatif untuk Perolehan Nilai Tes Prestasi Belajar Siklus II diperoleh sbb:

e. Rata-rata (mean) dihitung dengan:
=

f. Median (titik tengahnya) dicari dengan mengurut data/nilai siswa dari yang terkecil
sampai terbesar. Setelah diurut apabila jumlah data ganjil maka mediannya adalah data
yang ditengah. Kalau jumlahnya genap maka dua data yang di tengah dijumlahkan
dibagi 2 (dua). Untuk median yang diperoleh dari data siklus I dengan menggunakan
cara tersebut adalah: 75

209

JURNAL PENDIDIKAN
INSTITUT KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN (IKIP) PGRI BALI

g. Modus (angka yang paling banyak/paling sering muncul) setelah diasccending/diurut.
Angka tersebut adalah: 75
h. Untuk persiapan penyajian dalam bentuk grafik maka hal-hal berikut dihitung terlebih
dahulu.
5. Banyak kelas (K) = 1 + 3,3 x Log (N)
= 1 + 3,3 x Log 25

= 1 + 3,3 x 1,40

= 1 + 4,61 = 5,61 → 6

6. Rentang kelas (r) = skor maksimum –
skor minimum
= 85 – 70

= 15

7. Panjang kelas interval (i) =

Tabel 2 Data kelas interval

No Nilai Frekuensi Frekuensi
Interval
Urut Tengah Absolut Relatif

1 60 - 64 62 1 6

2 65 – 69 67 0 0

3 70 - 74 72 2 11

4 75 – 79 77 3 17

5 80 - 84 82 8 44

6 85 - 89 87 4 22

Total 18 100

210
NOMOR 22 TAHUN XVIII Oktober 2017
ISSN 1907-3232

8. Penyajian dalam bentuk grafik/histogram

Gambar 3. Histogram Prestasi Belajar Bahasa Indonesia siswa kelas
IV semester I SDN 1 Mas tahun ajaran 2016/2017

Pembahasan hasil yang diperoleh dari tes prestasi belajar di siklus II menunjukkan bahwa
kemampuan siswa dalam mengikuti pelajaran sudah cukup baik. Ini terbukti setelah
dibandingkan nilai awal, nilai siklus I dan nilai siklus II, terjadi kenaikan yang signifikan, yaitu
dari rata-rata nilai awal adalah 64,00 naik di siklus I menjadi 68,80 dan di siklus II naik menjadi
75,20. Hasil ini menunjukkan bahwa model pembelajaran CTL telah berhasil meningkatkan
kemampuan siswa menempa ilmu sesuai harapan. Model pembelajaran CTL merupakan model
yang cocok bagi siswa apabila guru menginginkan mereka memiliki kemampuan berkreasi,
berbicara banyak, mengeluarkan pendapat secara lugas, bertukar pikiran, berbicara banyak,
mengingat penggunaan metode ini adalah untuk memupuk kemampuan berbicara siswa, rasa
ingin tahu siswa, kemampuan lebih untuk berprestasi, memupuk kesenangan yang tinggi dalam
belajar, mengupayakan kemampuan yang tinggi untuk siswa dapat berinteraksi dengan materi,
berinteraksi dengan sesama siswa dan juga dengan guru.

Peningkatan prestasi ini tidak bisa dipandang sebelah mata karena kenaikan nilai ini
adalah dari upaya-upaya yang maksimal yang dilaksanakan peneliti demi peningkatan mutu
pendidikan dan kemajuan pendidikan khususnya di SDN 1 Mas seperti tabel yang
menggambarkan capaian prestasi siswa dalam penelitian sebagai berikut:

211

JURNAL PENDIDIKAN
INSTITUT KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN (IKIP) PGRI BALI

Hasil Tes Siklus I Hasil Tes Siklus II
Hasil
Tes Rata- Kenaikan % Rata- Kenaikan %
Variabel Awal rata Rata-rata Kenaikan rata Rata-rata Kenaikan

Prestasi
Belajar

64,00 68,80 4,80 7,50 75,20 6,40 9,30

4. Kesimpulan
Berdasarkan semua temuan hasil penelitian yang telah disampaikan dapat disampaikan
simpulan bahwa model pembelajaran CTL yang telah dilaksanakan mampu menjawab rumusan
masalah penelitian ini serta mampu membuktikan bahwa tujuan penelitian ini sudah dapat
dicapai. Sebagai bukti atas pencapaian hal tersebut adalah nilai rata-rata awal 64,00 naik menjadi
68,80. pada siklus I dan pada siklus II naik menjadi 75,20. Dari data awal siswa yang tuntas
hanya 6 orang sedangkan pada siklus I menjadi lebih banyak yaitu 15 siswa dan pada siklus II
menjadi cukup banyak yaitu 25 siswa. Perlu adanya penelitian yang lebih lanjut, karena hasil
penelitian ini hanya dilakukan di SD Negeri 1 Mas tahun ajaran 2016/2017

Daftar Pustaka

[1] Wardani, I. G. A. K Siti Julaeha. Modul IDIK 4307. Pemantapan Kemampuan Mengajar.
Jakarta: Universitas Terbuka.

[2] Fridani, Lara dkk,“Psikologi Belajar dan Mengajar”. Bandung,Sinar Baru, 2009.

[3] Udin, Saifudin,“Penyusunan Skala Psikologi”, Yogyakarta,PustakaPelajar,. 2008.

[4] Djamarah, SyafulBahri. “Prestasi Belajar dan Kompetensi Guru”,Surabaya,Usaha Nasional.

212
NOMOR 22 TAHUN XVIII Oktober 2017
ISSN 1907-3232

PLURALISME KULTURAL DALAM

KONTEKS DINAMIKA SASTRA INDONESIA MODERN

Oleh :

I Kadek Adhi Dwipayana

ABSTRACT
This research discusses Indonesian literature in the context of cultural diversity of
ethnic archipelago. This research discusses three subjects, namely Indonesian literature and
historical dynamics, cultural ethnic archipelago of Indonesian literary personality, and cultural
identity as a unifying nation. From the point of view of historical dynamics, Indonesian literature
at the beginning of its birth has adopted ethnic cultural diversity in the archipelago, ranging from
Minangkabau, Java, Sunda, Bali, Madura, NTT, and so on. Literature Indonesia has been living
in the territory of ethnic cultural diversity in the archipelago. Indonesian literature as comfortable
in the middle of cultural diversity while slowly building and discovering identity. Cultural
literature ethnic ethnic in charge of creating harmony of community life, and as an alignment of
cultural diversity Ethnic archipelago.

Keywords: Pluralism, Culture, Indonesian Literature

1. PENDAHULUAN

Sastra Indonesia berkembang selaras dengan dinamika sosial, budaya, dan politik
(Teeuw, 1996).Sastra juga tidak semata-mata dilahirkan oleh dinamika sejarah dan budaya,
namun seseungguhnya sastra turut mengkonstruksi dinamika sejarah dan budaya (Greenblet,
2005).Dengan demikian, hubungan antara sastra dan dinamika historis sosial politik dan budaya
terjadi secara timbal balik.Dalam konteks ini, sastra Indonesia adalah karya sastra modern yang
terwujud oleh pengaruh kebudayaan dan sastra modern Barat yang ditulis menggunakan bahasa
Indonesia yang muncul dan berkembang pada abad ke-20. Pada masa pemerintahan kolonial
Belanda sekitar tahun 1901 diberlakukan politi etis (ethiche politiek), atau juga dikenal sebagai
politik balas budi.Tiga hal utama dalam dalam politik ini adalah irigasi, migrasi, dan
edukasi.Dalam konteks edukasi tahun 1922, salah satunya didirikanlah badan penerbit yang
dikenal dengan Balai Pustaka.Dibentuknya badan ini menjadi penanda kelahiran sastra Indonesia
modern.Di awal kelahirnnya, sastra Indonesia masih belum punya kemapanan, nuansa
kedaerahan, khususnya etnik Melayu mendominasi corak kesusastraan Indonesia. Tidak hanya

213

JURNAL PENDIDIKAN
INSTITUT KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN (IKIP) PGRI BALI

Melayu, kultural etnik Jawa, Sunda, Bali, Madura, dll juga turut mewarnai khazanah
kesusastraan Indonesia modern, hingga puncaknya terjadi pada pascarevolusi bangsa Indonesia.
Kekayaan lokalitas etnik di nusantaraseakan-akan tidak pernah habis dieksplor untuk dijadikan
sebagai wahana ekspresi dan bahan konstruksi bagi sastra Indonesia.Hal ini menjadikan
kesusatraan Indonesia sebagai karya yang memiliki ciri khas tersendiri dengan kearifan lokal
yang tinggi.

Berdasarkan pemikiran-pemikiran di atas, untuk menciptakan pemahaman historissastra
Indonesia modern dalam konteks keberagaman sastra etnik nusantara maka dianggap perlu
diadakan perbincangan tentang hal ini, agar kearifan lokal kultural yang terkandung dalam karya
sastra indonesia dapat disikapi dengan arif dan bijaksana. Selain itu, agar karya sastra berlatar
kultural etnik nusantara dapat terus diposisikan sebagai karya bernilai tinggi dan bahan refleksi
berkehidupan. Fokus pembicaraan dalam Penelitianini adalah sastra Indonesia dan dinamika
historis, kemudian diuraikan kontribusi sastra etnik nusantara sebagai pembentuk kepribadian
sastra Indonesia, dan identitas kedaerahan sebagai pemersatu bangsa.

2. METODE PENELITIAN

Penelitian ini tergolong ke dalam penelitian deskriptif kualitatif. Karena tergolong ke
dalam penelitian jenis kualitatif, penelitian ini memiliki ciri-ciri sebagai berikut: (1) kontekstual,
penelitian dilakukan dalam konteks karya sastra berlatar sosio-kultural Bali karya Oka Rusmini
dan tindakan normal subjek, (2) kolaboratif, melibatkan partisipan subjek dan triangulasi pakar
di dalam penyimpulan data, (3) interpretatif, menggunakan analisis berdasarkan pandangan dan
referensi yang relevan, bukan analisis statistik, (4) interaktif, memiliki keterkaitan antara
masalah penelitian, pengumpulan data, dan interpretasi data, dan (5) peneliti sebagai human
instrument / instrumen kunci. Objek dalam penelitian ini adalah ssatra Indonesia dalam dinamika
historis, kultural etnik nusantara pembentuk kepribadian kesusastraan Indonesia modern, dan
identitas kedaerahan sebagai pemersatu bangsa.Sedangkan subjek/ sumber data dalam penelitian
ini melekat pada karya sastra/ novel-novel berlatar kultural etnik nusantara mulai dari angkatan
balai pustaka sampai angkatan 2000-an. Pengumpulan data pada sumber data penelitian
dihentikan apabila data yang dicari sudah jenuh. Artinya kemunculan data yang diperoleh sama
dari waktu ke waktu atau kemunculan data tidak bervariatif lagi. Hal ini dilakukan untuk

214
NOMOR 22 TAHUN XVIII Oktober 2017
ISSN 1907-3232

memangkus dan menyangkilkan waktu agar tidak membuang-buang pikiran, tenaga, dan, biaya
dalam penelitian ini.
Metode studi kepustakaan ini merupakan metode pengumpulan data yang dilakukan
dengan cara mencari atau mengambil data dari buku-buku, kitab-kitab, literature, atau teks-teks
kesusastraan. Dalam penelitian ini, data diambil dari novel-novel berlatar kultural etnik
nusantara dari angkatan balai pustaka sampai angkatan 2000-an. Teknik yang digunakan dalam
metode studi kepustakaan ini adalah teknik baca dan catat.Metode studi kepusatakaan ini
digunakan dalam pengumpulan data penelitian dengan harapan dapat memecahkan masalah
dalam penelitian.
Instrumen utama dalam penelitian ini adalah peneliti sendiri.Dalam hal ini, peneliti yang
mengumpulkan, mengidentifikasi, menyeleksi, dan menganalisis data.Peneliti dapat dikatakan
sebagai human instrument.Artinya, penelitilah yang memikul banyak peran dalam
mengumpulkan, menyeleksi, dan menafsirkan data.Kemampuan manusia itu sangat terbatas.Hal
itulah yang peneliti alami selama melakukan pengumpulan data.Oleh karena itu, untuk menutupi
kekurangan tersebut, digunakan juga bantuan media/instrumen untuk mendukung penggunaan
metode dalam pengumpulan data.Itu artinya, di samping peneliti sebagai istrumen kunci,
digunakan juga instrumen-istrumen penunjang untuk menutupi kekurangan yang dialami dalam
pengumpulan data.Dengan demikian, digunakanlah media-media seperti novel-novel angkatan
balai pustaka hingga angkatan 2000-an.
Analisis data adalah proses mengatur urutan data, mengorganisasikannya ke dalam suatu
pola, kategori, dan satuan uraian dasar. Tujuan analisis data adalah menyempitkan dan
membatasi penemuan-penemuan menjadi suatu data yang teratur dan lebih berarti.Langkah
analisis data ini dilakukan dengan menggunakan metode deskriptif kualitatif.Metode ini
dilakukan dengan menggunakan beberapa langkah operasional, yaitu reduksi data, penyajian
data, dan penarikan simpulan.Ketiga tahapan tersebut saling berinteraksi dan memiliki koneksi,
berawal dari pengumpulan data dan berakhir pada penarikan simpulan.Dalam penelitian ini,
identifikasi dan dipilihlah data yang sesuai dengan fokus penelitian.Data yang kurang penting
dipertimbangkan lagi bila diperlukan.Reduksi data dilakukan mulai dari pengumpulan data
hingga analisis setelah data terkumpul.Hal itu kemudian diikuti dengan pengklasifikasian, dan
penafsiran.Pengidentifikasian data dilakukan dengan memperhatikan acuan/ teori yang
relevan.Setelah melalui tahap pengidentifikasian, selanjutnya data diklasifikasikan, kemudian

215

JURNAL PENDIDIKAN
INSTITUT KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN (IKIP) PGRI BALI

dianalisis atau ditafsirkan.Penafsiran dilakukan dengan menggunakan acuan/ sumber-sumber
relevan yang mencakup tentang teori-teori sosiologi sastra dan teori budaya.
Penyajian data merupakan upaya menyajikan sekumpulan informasi yang tersusun secara
sistematis dengan memberikan kemungkinan adanya penarikan simpulan dan pengambilan
tindakan yang jelas dan terarah.Data hasil reduksi tersebut disajikan dengan menggunakan uraian
naratif ataupun penggambaran dengan menggunakan kata-kata.Perlu ditekankan bahwa, data
yang disajikan menggunakan uraian naratif tersebut adalah hasil identifikasi dan
pengklasifikasian yang dilakukan pada tahap reduksi. Langkah terakhir dalam analisis data
adalah penarikan simpulan dari hasil temuan pada proses penyajian data. Penarikan simpulan
dilakukan setelah data yang diperoleh disajikan menggunakan uraian naratif.
3. PEMBAHASAN

3.1 Sastra Indonesia dalam Dinamika Historis

Sejak periode awal kelahirannya, sastra Indonesia modernsudah diwarnai oleh kultural
etnik nusantara, khususnya etnik Melayu.Sastra Indonesia yang dilahirkan dari rahim kreatif
sastrawan pada saat itu tidak pernah melepaskan diri dari kultural etnik nusantara (Melayu) yang
telah membentuk dan membesarkannya.Otonomi politik yang ditanamkan secara sistemik oleh
pemerintahan Kolonial Belanda di Indonesia, melalui peran Balai Pustaka dengan ideologinya
etische politiek telah memberikan ruang bernapas seluas-luasnya bagi sastra beretnik Melayu
yang kemudian menjadi identitas sastra Indonesia modern. Namun demikian, sastra dan budaya
daerah, terutama Jawa dan Sunda diberikan kesamaan hak untuk bernapas layaknya sastra
Melayu, meski nuansa kolonialisasi masih kental mengintervensi (Suwondo, 2008).Setelah
secara formal Indonesia merdeka dan berdaulat, mengatasnamakan kesadaran nasionalisme
bangsa Indonesia dengan segala norma dan diktum-diktumnya yang mengatur, penggiat sastra
daerah menipis hingga lenyap bak ditelan bumi. Hal ini terutama juga disebabkan para penerbit,
termasuk Balai Pustaka enggan lagi menerbitkan buku-buku bahasa dan sastra daerah, sehingga
semangat penggiat sastra daerah untuk menulis menjadi menurun. Akibatnya para sastrawan
tidak mendapat kesempatan untuk melahirkan karya sastra daerah, bahkan para pemuda
pascarevolusi pun kering akan bacaan-bacaan tentang sastra daerah, sehingga mereka tidak akrab
lagi dengan sastra daerah.

216
NOMOR 22 TAHUN XVIII Oktober 2017
ISSN 1907-3232

Protes keras para penggiat sastra daerah sesungguhnya sudah didengungkan, namun apa
daya, mereka tidak bisa menggoyahkan hegemoni politik pascarevolusi.Itulah sebabnya sastra
daerah berada di tengah ketidakberdayaan akibat dibungkam oleh hegemoni yang terstruktur
secara sistemik.Banyak intelektual dan pengarang sastra daerah menepi dan berteduh di bawah
rimbunnya sastra Indonesia.Kenyataan menunjukkan bahwa, sejak tahun 1950-an jumlah
sastrawan Jawa beralih menulis sastra Indonesia semakin bertambah, salah satu penyebab adalah
sastra Jawa tidak menjamin sandaran hidup (Damono, 1999).Keringnya penggiat sastra daerah
pascarevolusi, menyebabkan penggiat sastra Indonesia tumbuh subur bak jamu musim
penghujan. Banyak sastrawan muda pascarevolusi bermunculan, seperti Chairil Anwar(Deru
Campur Debu, 1993), (Krikil Tajam, 2007), Asrul Sani (Tiga Menguak Takdir, 2010)W.S
Rendra (Balada Orang-orang Tercinta, 1993), Sapardi Djoko Damono (Ayat-ayat Api, 2000).

Hijrahnya para sastrawan daerah menuju dunia kesusastraan Indonesia justru
memberikan warna dan memperkaya khazanah kesusastraan Indonesia.Bahkan, sastra daerah
tidak hanya sekadar menjadi sumber materi dan inspirasi bagi konstruksi mikro sastra Indonesia,
tetapi juga menjadi komponen makro sastra Indonesia.Sistem mikro meliputi sistem internal
(struktur) karya sastra, sedangkan sistem makro meliputi sistem luar sastra yang menentukan
keberadaan sastra (pengarang, budaya, ekonomi, politik, dll) (Tanaka, 1976).Proses transformasi
tersebut berjalan hampir berkesinambungan, bahkan aspek kedaerahan yang diangkat dan
direkam ke dalam karya sastra Indonesia tidak terbatas pada daerah yang memiliki tradisi dan
kebudayaan relatif besar, seperti Sumatera, Jawa, Sunda, dan Bali, tetapi juga Madura, Maluku,
Dayak, Sasak, dan NTT juga termasuk di dalamnya.

Pluralisme unsur kedaerahan dalam karya sastra Indonesia tidak hanya menyangkut latar
pembicaraannya saja (tema) tetapi terselip bahasa khas etnik nusantara di samping bahasa
Indonesia sebagai medium utamanya. Dalam cakupan yang lebih luas, sastra Indonesia dapat
dikatakan sebagai representasi pluralisme kultural yang melekat dalam diri
pengarangnya.Mengingat sastrawan Indonesia berasal dari keberagaman etnik, maka sastra
Indonesia juga mencerminkan keragaman tersebut.Para pengarang yang berasal dari berbagai
etnik nusantara, seperti Jawa, Batak, Minang, Bugis, Sasak, Bali, dan lain sebagainya, konsisten
mengangkat isu-isu etniknya masing-masing ke dalam karya sastra.Bahkan, bisa juga dikatakan
pluralisme etnik nusantara telah menjelma menjadi roh yang mendiami sastra Indonesia modern.

217

JURNAL PENDIDIKAN
INSTITUT KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN (IKIP) PGRI BALI

Di abad ke-20, saat awal lahirnya sastra Indonesia modern (angkatan Balai Pustaka),
intelektual Sumatera muncul ke permukaanmempelopori lahirnya karya sastra Indonesia yang
membicarakan persoalan kehidupan masyarakat yang dibingkai dengan keunikan adat-istiadat
maupun kearifan lokal.Karya sastra Sitti Nurbaya, misalnya karya Marah Rusli yang terbit
pertama tahun 1922, mempersoalkan permasalahan kultural dengan segala kompleksitasnyayang
diperankan oleh Sitti Nurbaya, Samsul Bahri, dan Datuk Meringgih (golongan tua), karya sastra
ini membawa spirit etnik dengan keunikan tradisi/ adat-istiadat, norma, maupun kearifaln lokal
Minangkabau. Berturut-turut setelahnya, muncul Salah Asuhan (Abdoel Moeis, 1928) menyoal
hubungan pribumi yang diperankan oleh Hanafi (Minangkabau) dengan Indo-Belanda yang
diperankan oleh Corrie.Tenggelamnya Kapal van der Wijck (Hamka, 1938),Layar Terkembang
(Sutan Takdir Alisyahbana, 1948), Anak dan Kemenakan (Marah Rusli, 1956)tetap konsisten
mengangkat etnoideologi etnik Minangkabau yang menyangkut tentang, 1) kawin paksa dan
interelasinya dengan budaya, 2) streotipe kawin antarsuku, 3) pandangan kebiasaan poligami/
kawin lebih dari sekali, 4) sistem kekerabatan matrilineal dalam adat Minangkabau, 5)
pandangan kedudukan perempuan dalam kehidupan sosial.

Kultural etnik Jawa juga dominan dimunculkan kepermukaan oleh sastrawan dalam karya
sastranya, selain etnik Sumatera di awal periode lahirnya sastra Indonesia modern.Penggalian
kultural etnik Jawa yang identik dengan tradisi Kejawen atau hal-hal yang berkaitan dengan
spiritual/ supranatural, seolah-olah reingkarnasi kembali dan bergerak secara masif, semacam
“renaisans kebudayaan etnik Jawa” dalam kesusastraan Indonesia modern. Geliat kultural etnik
Jawa yang terkenal dengan harmoni, sinkretisme, dan segala hal yang berkaitan dengan
hubungan manusia dengan tuhan, manusia antar manusia, dan manusia dengan alam, dapat
dilihat dalam karya Ahmad Tohari (Ronggeng Dukuh Paruk, 1980), Mangunwijaya (Durga
Umayi, 1991), Umar Kayam (Para Priyayi, 1992), Pramoedya Ananta Toer (Cerita Calon
Arang,1957), dan Linus Suryadi (Pengakuan Pariyem: Dunia Batin Seorang Wanita Jawa,
2008).

Selain etnik Sumatera dan Jawa, kultural etnik Bali pun tidak luput dari pembicaraan
dalam karya sastra.Bali semacam memiliki daya eksotis, sehingga tidak pernah habis untuk
dibicarakan dalam karya sastra. Dunia masyarakat dan miniatur kebudayaan Bali dalam karya
sastra dapat dilihat dengan jelas melalui karya sastra,Nyoman Rasta Sindu (Ketika Kentongan

218
NOMOR 22 TAHUN XVIII Oktober 2017
ISSN 1907-3232

Dipukul di Bale Banjar, 1969), Putu Wijaya (Bila Malam Bertambah Malam, 1971), Oka
Rusmini (Tarian Bumi, 2000), (Sagra, 2001), (Kenanga, 2003), I Wayan Artika (Incest, 2008),
Sunaryo Basuki (Seroja, 2009), Cok Sawitri (Sutasoma, 2009). Bahkan jauh sebelum karya-
karya etnik Bali tersebut di atas lahir, sudah ada karya sastraangkatan Balai Pustaka yang
membicarakan tentang kultural etnik Bali, yaitu A.A Pandji Tisna dengan karya (Sukreni Gadis
Bali,1953), (I Swasta Setahun di Bedahulu, 1955), dan (Ni Rawit Ceti Penjual Orang, 1935).
Karya-karya A.A Pandji Trisna membawa dimensi baru dalam karya sastra Indonesia modern
yang lebih didominasi kesusastraan yang mengangkat kultural etnik Melayu. Karya-karya
A.APandji Tisna tersebut memberikan warna khas etnik Bali yang kental dengan adat dan tradisi,
kearifan lokal,spiritual (hukum kama phala), dan kepercayaan supranatural yang masih bertahan
hingga sekarang.

Di tengah kuatnya dominasi kultural etnik Sumatera dan Jawa dalam dinamika
kesusastraan Indonesia modern, kultural etnik NTT memberikan juga warna baru dalam dunia
kesusastraan Indonesia modern. Muncul kepermukaan sastrawan ternama asli berdarah Nusa
Tenggara Timur, yaitu Gerson Poyk yang konsisten mengangkat etnoideologi Nusa Tenggara
Timur dalam salah satu karya sastranya (Nostalgia Nusa Tenggara, 1976), (Cumbuan Sabana,
1979). Melalui karya sastranya, Gerson Poyk mampu mengangakat nama NTT sejajar dengan
daerah lainnya di nusantara, sehingga diperhitungkan sebagai daerah eksotis dan sebagai sumber
inspirasi penciptaan karya sastra. Demikianjuga, kebudayaan Flores tentang kearifan lokal/
tradisi lisan pati golodapat dijumpai pada karya sastra Liontin Sakura Patah (Maria Matildis
Banda, 2001).

3.2 Kultural Etnik Nusantara Pembentuk Pribadi Sastra Indonesia
Seperti yang telah digambarkan saat kelahirannya, sastra Indonesia telah menumpang
hidup di wilayah teritorial keberagaman kultural etnik di nusantara.Sastra Indonesia seperti
nyaman berada di tengah-tengah keberagaman kultural etnik nusantara sambil secara perlahan-
lahan membangun dan menemukan jati diri.Untuk menciptakan bangunan yang kuat, sastra
Indonesia juga telah melakukan upaya tawar-menawar dengan berbagai kearifan lokal di
lingkungan etnik nusantara yang plural.Sistem monologis dan konsep lokalitas diterima dengan
terbuka masuk ke dalam struktur tubuh sastra Indonesia.Putra (2001) menegaskan bahwa baik
sastrawan Indonesia maupun sastrawan daerah memiliki kesadaran kultural yang sama dalam

219

JURNAL PENDIDIKAN
INSTITUT KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN (IKIP) PGRI BALI

penciptaan karya satra. Fenomena ini dapat dipandang sebagai sebuah proses sinergitas antara
unsur kultural dengan sastra Indonesia. Hampir semua dalam karya sastra Indonesia
menggunakan kultural etnik Melayu, Jawa, Sunda, Bali, Madura, bahkan kini sudah mulai
mengangkat etnik-etnik Dayak, Sasak, dan NTT.Hal ini dapat dilihat dari karya satra Indonesia
yang mengadaptasi unsur kedaerahan daerah, seperti karya sastra Sutasoma (Cok Sawitri, 2009)
yang mengadaptasi mahakarya Kekawin Sutasoma karya Mpu. Tantular, demikian juga karya
sastra Durga Umayi (Mangunwijaya, 1991) bercerita tentang perlawanan terhadap pmerintahan
Jepang dengan mengambil tokoh dalam mitologi Hindu Dewi Durga Umayi atau Dewi Uma istri
dari Bhatara Guru atau Dewa Siwa. CeritaCalon Arang (Pramoedya Ananta Toer, 1957) yang
mengadaptasi kisah mitologi yang berkembang zaman kerajaan Kediri yang dipimpin Prabu
Airlangga dengan tujuan mengkritik kekuasaan yang rakus dan kejam melalui tokoh Dirah,
kemudianArok Dedes (Pramoedya Ananta Toer, 1999) sebuah novel yang mengadopsi cerita
sejarah perlawanan Ken Arok terhadap Tunggul Ametung, hingga jatuh cinta dengan Ken Dedes
yang digunakan sebagai media kritikan terhadap pemerintahan orde baru.Gandamayu (Fajar
Arcana, 2012), mengadopsi mitologi Dewi Uma dan Dewa Siwa yang kemudian dikaitkan
dengan perang Baratha Yudha antara Pandawa dan Korawa dalam epos Mahabaratha.Karya
sastra di atas kecenderungan mengangkat kultur kedaerahan sebagai perlawanan dan kritikan
terhadap permasalahan yang dihadapi masyarakat dalam skala nasional.

Membangun pribadi sastra Indonesia dengan memasukkan identitas kedaerahan etnik
nusantara dalam pandangan Hadi (1980) dikatakan sebagai sebuah upaya untuk kembali ke akar/
kembali ke sumber (sangkan paraning numadi).Untuk menjadikan karya sastra Indonesia
bernilai luhur dan memiliki nilai tawar di mata internasional, dibutuhkan sentuhanunsur seni dan
budaya daerah nusantara.Aspek lokalitas/ kedaerahan dalam sastra Indonesia tidak hanya sekadar
sebagai warna lokal yang cenderung etnosentris, tetapi menjadi sebuah aspek yang mampu
membuka diri dengan lingkungan plural etnik nusantara. Konteks pluralitas kultural yang
dimiliki setiap suku di wilayah nusantara merupakan lahan kreatif yang tidak akan pernah habis
digali dan dimanfaatkan bagi pemerkayaan kepribadian sastra Indonesia. Oleh karena itu,
bermunculan juga sastra Indonesia yang multikultural, seperti novel karya Ayu Utami (Saman,
1998) dan (Larung, 2001), Dewi Lestari (Supernova, 2001), Remy Silado (Chau Bau Kan,
2004), Andrea Hirata (Laskar Pelangi, 2006), Sunaryo Basuki (Seroja, 2009).

220
NOMOR 22 TAHUN XVIII Oktober 2017
ISSN 1907-3232

3.3 Identitas Kultural SebagaiPemersatu Bangsa
Budaya etnik nusantara dan sastra mempunyai ketergantungan satu sama lain. Sastra
sangat dipengaruhi oleh budaya di mana sastra dilahirkan, sehingga segala hal yang terdapat
dalam kebudayaan akan tercermin dalam karya sastra. Sastra adalah sistem budaya nusantara
yang melekat dalam diri manusia.Jika kebudayaan adalah sistem yang mengatur interaksi
manusia di dalam masyarakat, sastra adalah suatu sistem yang berfungsi sebagai media
keberlangsungan interaksi manusia.Kesusastraan adalah bagian dari produk kebudayaan di mana
sastra itu dilahirkan, sehingga tidak pernah ada karya sastra yang dikonstruksikan dari
kehampaan, ia pasti selalu membicarakan kehidupan masyarakat/ etnik tertentu dengan segala
kompleksitasnya (Suarta dan Dwipayana, 2014: 75). Di lingkup budaya, manusia berhadapan
dengan norma dan nilai-nilai kehidupan. Begitu juga dalam karya sastra, apa yang terjadi di
dalam kehidupan budaya etnik di nusantara juga dapat ditemukan dalam karya sastra
(Swingewood, 1972: 12). Sastra akan mencerminkan nilai, norma, adat-istiadat yang secara sadar
difokuskan dan diusahakan untuk dilaksanakan dalam masyarakat. Dengan kata lain, sastra dapat
dikatakan sebagai dunia miniatur kehidupan kultural masyarakat.Inilah yang menyebabkan karya
sastra dapat dijadikan sebagai bahan perenungan dan refleksi diri untuk menyikapi persoalan
kultural dengan arif dan bijaksana.

Sebagai sebuah gugusan kepulauan, Indonesia memiliki kemajemukan etnik dengan
berbagai keunikan adat istiadat, norma, ataupun kearifan lokal yang mengikat segala kegiatan
tingkah laku manusia di dalamnya. Kebudayaan setiap etnik di nusantara memiliki ideologi
tersendiri yang lahir berdasarkan cipta, rasa, dan karsa kolektif masyarakat.Dalam konteks,
kedaerahan, sastra sebagai produk budaya menawarkan keberagaman ideologi kultural.Story
(2003) menyatakan bahwa ideologi merujuk pada wilayah konseptual.Ideologi menyangkut (1)
perkembangan gagasan yang diartikulasikan pada kelompok tertentu, (2) ideologi yang
menyiratkan adanya penyimpangan atau penyembunyian realitas tertentu.Ideolog
kulturalnusantara dalam karya sastra Indonesia modern muncul dan berkembang karena
pengarang merasa sebagai bagian dari entitas manusia tradisi, manusia kultural yang tidak
pernah berhenti mengkonstitusi dirinya sendiri.Adanya otonomi dan keterbukaan memberikan
angin segar bagi para sastrawan menunjukkan jati diri kultural etnik masing-masing ke dalam
karya sastra Indonesia modern. Peranan kultural etnik nusantara sangat vital bagi perkembangan
sastra Indonesia.Kultur etnik nusantara telah memperkaya khazanah kesusastraan Indonesia dan

221

JURNAL PENDIDIKAN
INSTITUT KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN (IKIP) PGRI BALI

mampu mengangkat isu-isu kebudayaan nusantara sebagai isu nasional yang bermuara pada
eksistensi budaya bangsa Indonesia.

Sastra berperan dalam membentuk sejarah, membangun nasionalisme dengan pluralisme
kultural etnik nusantara sebagai energi dan semangat berbangsa.Sastra Indonesia bukan sebatas
dokumen budaya, politik atau sejarah tetapi babitus keindonesiaan bertumbuh dengan warna-
warna kultural.Sastra adalah wujud pluralisme kultural bangsa (Artika, 2017: 2).Sastra yang
berakar dari kultural etniknusantara,dapat digunakan sebagai media aktualisasi kebegaraman
kultural setiap etnik nusantara yang tercermin dalam bentuk-bentuk aktivitas
masyarakat.Meskipun di antara etnik nusantara memiliki perbedaan kultural yang cukup
signifikan, namun perbedaan itu sesungguhnya hanya terletak pada kulit luarnya saja, sedangkan
kandungan di dalamnya terdapat nilai-nilai universal yang tentunya berdaya guna bagi
masyarakat luas.Pemaknaan terhadap karya sastra yang bermuatan kultural etnik nusantara tidak
harus dengan caramemisahkan dan mengotak-ngotakkan masing-masing budaya yang berbeda di
nusantara. Tetapi, justru dimaknai sebagai sebuah karya yang mencoba untuk melestarikan
keberagaman budaya sebagai identitas bangsa.

Sastra memiliki kesadaran upaya menemukan dan mempertahankan identitas bangsa
dengan melakukan penggalian kearifan lokal etnik nusantara demi penyatuan budaya
bangsa.Sastra bermuatan kultural etnik nusantara bertugas menciptakan harmoni kehidupan
masyarakat, dan sebagai penyelaras keragaman kultural etnik nusantara.Itu artinya, sastra dapat
dikatakan sebagai pekerat harmoni kehidupan berbangsa melalui keragaman latar belakang
kearifan lokal etnik nusantara.Membaca karya sastra berarti telah membaca dan mempelajari
kekayaan kultural etnik di nusantara.

Sastra bermuatankultural etnik nusantara dapat membukakan ruang untuk setiap etnik
saling bersapa, saling memberi, mengenal, belajar,dan saling memahami.Dengannya kita dapat
mengenal karakteristik setiap etnik nusantara, membangun emosi kebangsaan, menginventarisasi
pewarisan nilai-nilai kultural nusantara untuk dikembangkan dan dipertahankan sebagai identitas
bangsa Indonesia.Terlebih lagi, jika dalam karya sastra ditampilkan multikultural etnik yang
merujuk pada bhineka tunggal ika, karya sastra tersebut dapat sebagai perekat pergaulan
antraetnik, antaragama, maupun antara golongan yang mempunyai andil nyata dalam membentuk
ke-Indonesiaan.

222
NOMOR 22 TAHUN XVIII Oktober 2017
ISSN 1907-3232

4. PENUTUP

Di awal kelahirannya, sastra Indonesia tidak bisa lepas dari kebudayaan.Kultural etnik di
nusantara sudah menjadi semacam roh yang membuat sastra Indonesia hidup dan tumbuh
berkembang. Oleh karena itu, sejak zaman Balai Pustaka, sastra Indonesia sudah mengadopsi
kultural etnik Minangkabau, Jawa, Sunda, Bali, Madura, Dayak, NTT, dll. Unsur kultural inilah
yang sesungguhnya memperkaya khazanah kesusastraan Indonesia yang memiliki nilai tawar di
mata kesusastraan dunia internasional.

Membangun pribadi sastra Indonesia dengan memasukkan identitas kedaerahan etnik
nusantara merupakan sebuah upaya untuk kembali ke akar/ kembali ke sumber (sangkan
paraning numadi).Untuk menjadikan karya sastra Indonesia bernilai luhur dan mampu berdiri
sejajar dengan sastra-sastra internasional di dunia, dibutuhkan sentuhan unsur seni dan budaya
daerah nusantara.

Sastra didasarkan atas kultural etnik nusantara memiliki kesadaran upaya menemukan
dan mempertahankan identitas bangsa dengan melakukan penggalian kearifan lokal etnik
nusantara demi penyatuan budaya bangsa.Sastra bermuatan kultural etnik nusantara dapat
membukakan ruang untuk setiap etnik saling bersapa, saling memberi, mengenal, belajar, dan
saling memahami.Dengannya kita dapat mengenal karakteristik setiap etnik nusantara,
membangun emosi kebangsaan, menginventarisasi pewarisan nilai-nilai kultural nusantara untuk
dikembangkan dan dipertahankan sebagai identitas bangsa Indonesia.

Daftar Pustaka

Alisyahbana, Sutan Takdir. 1948. Layar Terkembang. Jakarta: Balai Pustaka.
Anwar, Chairil. 1993 (Cetakan III).Deru Campur Debu. Jakarta: PT. Dian Rakyat.
------. 2007 (Cetakan XVI).Kerikil Tajam. Jakarta: PT. Dian Rakyat.
Arcana, Fajar. 2012. Gandamayu. Jakarta: Gramedia Pustaka Utama.

Artika, I wayan. 2003. Insect: Kisah Kelam Kembar Buncing. Yogyakarta: Interpre Book.

223

JURNAL PENDIDIKAN
INSTITUT KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN (IKIP) PGRI BALI

------. 2017. Ideologi Multikultural Pengajaran Sastra. Penelitian(Disampaikan dalam Seminar
Nasional “Sastra Multikultural: Merayakan Keberagaman, Merawat Ke-Indonesiaan
FPBS IKIP PGRI Bali).
Banda, Maria Maltidis. 2001. Liontin Sakura Patah. Jakarta: Gramedia Widyasarana.
Damono, Sapardi Djoko. 1999. “Awal Perkembangan Sastra Modern di Indonesia: Kasus Sastra
Indonesia dan Jawa” Dalam Politik, Ideologi, dan Sastra Hibrida. Jakarta: Pustaka
Firdaus.
------. 2000. Ayat-ayat Api. Jakarta: Pustaka Firdaus.

Endaswara, Suwardi. 2017. Etnoideologis: Antara Bulan, Gunting, dan Jarum. Penelitian
(Disampaikan dalam Seminar Nasional “Sastra Multikultural: Merayakan Keberagaman,
Merawat Ke-Indonesiaan FPBS IKIP PGRI Bali).
Hamka. 1938. Tenggelamnya Kapal van der Wijck. Jakarta: Balai Pustaka.
Hirata, Andrea. 2005. Laskar Pelangi. Yogyakarta: Bentang Pustaka.
Kayam, Umar. 1992. Para Priyayi. Jakarta: Pustaka Utama Grafity.
Mangunwijaya. 1991. Durga Umayi. Jakarta: Grafiti.
Moeis, Abdul. 1928. Salah Asuhan. Jakarta: Balai Pustaka.
Rendra, WS. 1993 (Cetakan VII).Balada Orang-orang Tercinta. Jakarta: PT Dunia Pustaka Jaya.
Rusli, Marah. 1922. Sitti Nurbaya. Jakarta: Balai Pustaka.
------. 1958. Anak Kemenakan. Jakarta: Balai Pustaka.
Rusmini, Oka. 2000.Tarian Bumi. Jakarta: Gramedia Pustaka Utama.
------.2001.Sagra. Jakarta: Indonesia Tera.
------. 2003. Kenanga. Jakarta: Grasindo.
Sani, Asrul. 2010 (Cetakan III).Tiga Menguak Takdir. Jakarta: PT. Temprina Media Grafika.
Sawitri, Cok. 2009. Sutasoma. Jakarta: Kaki Langit Kencana.
Sindhu, Nyoman Rasta. 1969. “Ketika Kentongan Dipukul di Bale Banjar,” dalam Horison
No.1, th IV, Januari 1969, hl 27-29.
Story, Jhon. 2003. Teori Budaya dan Budaya Pop.Yogyakarta.Qalam.

Suarta, I Made dan I Kadek Adhi Dwipayana. 2014. Teori Sastra. Jakarta: PT Raja Grafindo
Persada.

224
NOMOR 22 TAHUN XVIII Oktober 2017
ISSN 1907-3232

Suryadi, Linus. 2008 (cetakan ketujuh).Pengakuan Pariyem: Dunia Batin Seorang Wanita Jawa.
Yogyakarta: Pustaka Pelajar.
Swingewood, Alan dan Diana Lawrenson. 1972. The Sociology of Literature. London: Paladin.
Toer, Pramoedya Ananta. 1957. Cerita Calon Arang. Jakarta: Lentera Dipantara.
Tohari, Ahmad. 1982. Ronggeng Dukuh Paruk. Jakarta: Gramedia.

Trisna. AA Pandji. 1933. Ni Rawit Ceti Penjual Orang. Jakarta: Balai Pustaka.

-----. 1953. Sukreni Gadis Bali. Jakarta: Balai Pustaka.
-----. 1955. I Swasta Setahun di Bedahulu. Jakarta: Balai Pustaka.
Teeuw, A. 1996.Modern Indonesia Literature II (edisi kedua). Lieden: KITLV Press.
Utami, Ayu. 1998. Saman. Jakarta: Kepustakaan Populer Gramedia.
------. 2001. Larung. Jakarta: Kepustakaan Populer Gramedia.
Wijaya, Putu. 1971. Bila Malam Bertambah Malam. Jakarta: Pustaka Jaya.

225

JURNAL PENDIDIKAN
INSTITUT KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN (IKIP) PGRI BALI

KARAKTERISASI MORFOLOGIS Trichoderma sp. isolat JB
DAN DAYA ANTAGONISME TERHADAP PATOGEN PENYEBAB PENYAKIT
REBAH KECAMBAH (Sclerotium rolfsii Sacc.)
PADA TANAMAN TOMAT

MORPHOLOGICAL CHARACTERIZATION of Trichoderma sp., JB isolates AND
ANTAGONISM POWER AGAINST DAMPING-OFF DISEASE-CAUSING
PATHOGENS (Sclerotium rolfsii Sacc.) ON TOMATO PLANTS

I Wayan Suanda, Ni Wayan Ratnadi

ABSTRACT

This study aims to determine the morphological characterization of Trichoderma sp.,
JB isolates and antagonism power against damping-off disease-causing pathogens
(Sclerotium rolfsii Sacc.). The study was conducted at the Laboratory of Pests and Plant
Diseases, Faculty of Agriculture, Udayana University. The observations’ variable with
macroscopic characteristics, including color and form colonies, and microscopic
characteristics, including the shape of conidiophores, conidia and fialid. The results showed
that Trichoderma sp., JB isolates, in the in-vitro way, are able to inhibit Sclerotium rolfsii
damping-off disease-causing on tomato plants amounted to 95.45%.

Keywords : characterization, isolates Trichoderma asperellum JB, inhibition, Sclerotium
rolfsii.

1. PENDAHULUAN
Tanaman tomat yang dibudidayakan di lapangan sering terserang penyakit rebah
kecambah (damping off) yang disebabkan patogen jamur Sclerotium rolfsii saat pembibitan
(Helena, 2012). S. rolfsii menyebabakan busuk pada batang tanaman tomat, sehingga proses
pengangkutan air dan hara dari akar ke seluruh bagian tanaman menjadi terganggu. Batang
yang terinfeksi akan terlihat ditumbuhi dengan benang-benang jamur yang berwarna putih
(miselia). Tanaman tomat yang terinfeksi patogen S. Rolfsii menimbulkan gejala busuk pada
batang, daun tanaman layu dan akhirnya tamaman mati (Ferreira dan Boley, 2006). S. rolfsii
menyebabkan penyakit busuk akar, busuk batang, layu, dan busuk pangkal batang pada lebih

226
NOMOR 22 TAHUN XVIII Oktober 2017
ISSN 1907-3232

dari 500 spesies tanaman dalam 100 famili (Cilliers dkk., 2000; Davis dan Nunez, 2007). S.
rolfsii merupakan patogen tular tanah yang bersifat polifag dan menyerang tanaman tomat
pada masa vegetatif (Hardiningsih,1993 dalam Sulistyowati et al., 1997).
Patogen tanaman menjadi masalah penting di dalam budidaya tanaman, karena dapat
menurunkan produksi tanaman. Banyak usaha telah dilakukan untuk mengendalikan patogen
tanaman, baik dengan penggunaan tanaman tahan maupun pestisida kimia sintetis. Tanaman
tahan terhadap serangan jamur patogen jarang tersedia, sedangkan pestisida kimia sintetis
jika digunakan dengan tidak bijaksana akan banyak menimbulkan masalah baik terhadap
lingkungan, produk tanaman maupun kesehatan manusia (Walker dan Stachecki, 2002). Oleh
karena itu agensia pengendali hayati merupakan salah satu alternatif pengendalian patogen
tanaman yang menjanjikan karena murah, mudah didapat dan aman terhadap lingkungan.
Jamur Trichoderma sp. merupakan salah satu jenis yang banyak dijumpai pada semua
jenis tanah dan pada berbagai habitat yang merupakan salah satu jenis jamur yang dapat
dimanfaatkan sebagai agensia hayati pengendali patogen dalam tanah dan telah menjadi
perhatian penting sejak beberapa dekade terakhir ini karena kemampuannya sebagai
pengendali biologis terhadap beberapa patogen tanaman (Harman et al., 2004). Mekanisme
pengendalian yang bersifat spesifik target dan mampu meningkatkan hasil produksi tanaman,
menjadi keunggulan tersendiri bagi Trichoderma sp. sebagai agensia pengendali hayati
(Suanda dan Ratnadi, 2015). Trichoderma asperellum sering diisolasi dari akar tanaman,
serasah tanah, rizosfer berbagai tanaman, jaringan tanaman yang sehat, biomassa jamur dan
kayu mati dan banyak digunakan sebagai biofungisida pada beberapa komoditi seperti Tebu,
Jagung, Kubis, Lada dan Kakao (Papavizas et al., 1985). Trichoderma sp. merupakan
mikroorganisme tanah sebagai agensia biokontrol bersifat saprofit yang secara alami
menyerang jamur patogen karena mempunyai sifat antagonis yang tinggi terhadap jamur
patogen dan bersifat menguntungkan tanaman budidaya termasuk tanaman tomat.
Beberapa strain Trichoderma seperti Trichoderma harzianum, T. atroviride, T. viride,
T. virens dan T. koningii telah diketahui sebagi agensia biokontrol yang memiliki
kemampuan untuk menghambat pertumbuhan patogen dalam tanah, sehingga meningkatkan
pertumbuhan tanaman inang (Anuradha et al., 2014). Namun karakteristik morfologi dan
daya antagonisme Trichoderma sp. isolat JB terhadap patogen penyebab penyakit rebah
kecambah (Sclerotium rolfsii Sacc.) pada tanaman tomat belum pernah dilaporkan. Oleh

227

JURNAL PENDIDIKAN
INSTITUT KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN (IKIP) PGRI BALI

karena itu, perlu dilakukan penelitian tentang karakterisasi morfologis Trichoderma sp. isolat
JB dan daya antagonisme terhadap S. rolfsii penyebab penyakit rebah kecambah pada
tanaman tomat.
2. METODE PENELITIAN
2.1 Waktu dan Tempat
Penelitian yang meliputi penyediaan isolat jamur Sclerotium rolfsii Sacc dan jamur
Trichoderma sp. isolat JB serta pengujian daya antagonisme terhadap S. rolfsii penyebab
penyakit rebah kecambah pada tanaman tomat dilaksanakan dari bulan Januari sampai
Februari 2015 di Laboratorium Penyakit Tumbuhan Fakultas Pertanian Universitas Udayana.
2.2 Penyediaan Jamur Sclerotium rolfsii Sacc.
S. rolfsii diisolasi dari perakaran dan pangkal batang tanaman tomat yang terinfeksi S.
rolfsii. Bagian tanaman tomat tersebut dipotong dengan gunting steril berukuran kecil-kecil
(±1 cm) di dalam laminar air flow, didisinfeksi dengan cara mencelupkan ke dalam larutan
natrium hipoklorit 1 % selama 5 detik, kemudian dicuci dengan air steril dan dikeringkan di
atas tisu. Isolasi dilakukan dengan menggunakan teknik direct plating (Malloch, 1997) yaitu,
meletakkan potongan pangkal batang tanaman tomat dengan menggunakan pinset ke dalam
cawan Petri yang telah berisi media Potato Dextrose Agar (PDA) ditambahkan Levofloxacin
250 mg, kemudian diberi label, selanjutnya diinkubasi pada suhu ruang (±28oC) selama 3
hari setelah isolasi (HSI). Penentuan jenis miselium dan hifa yang terbentuk ini sesuai
Fichtner (2006) yang menyebutkan pada dasarnya ada dua jenis hifa yang dihasilkan S. rolfsii
yaitu kasar dan lurus. Hal ini juga didukung oleh Semangun (2004) yang menyatakan bahwa
S. rolfsii mempunyai miselium yang terdiri dari benang-benang berwarna putih, tersusun
seperti bulu dan kapas.
Koloni S. rolfsii yang tumbuh pada media PDA selanjutnya diencerkan sampai tingkat
pengenceran 10-5. Suspensi diambil menggunakan mikropipet dengan volume 1 ml disebar
pada media PDA dengan tujuan untuk mendapatkan koloni tunggal S. rolfsii. Menurut
Kartika (2012), bahwa karakterisasi (identifikasi) morfologi jamur dilakukan atas dasar
karakteristik pemurnian melalui kultur koloni tunggal. Pembuatan kultur spora tunggal
menurut Tamin et al., (2012), bertujuan untuk mendapatkan spora yang berasal dari satu jenis
yang sama.

228
NOMOR 22 TAHUN XVIII Oktober 2017
ISSN 1907-3232

Koloni jamur yang tumbuh diperbanyak dengan cara mengmbil 1 cork borer (Φ ±5
mm) dibiakan pada media PDA diinkubasi pada suhu kamar (±28oC) selama 7 HSI untuk
penelitian selanjutnya melalui pengamatan secara makroskopis dan mikroskopis. Hasil
pengamatan diidentifikasi berdasarkan deskripsi kunci identifikasi dari Pit dan Hocking
(1997)
2.3 Perbanyakan Trichoderma sp. isolat JB
Perbanyakan isolat jamur Trichoderma sp. isolat JB yang digunakan dalam penelitian ini
merupakan koleksi dari I Wayan Suanda, yang kemudian diremajakan dengan diisolasi
kembali pada medium potato dextrose agar (PDA) berisi Levofloxacin 250 mg dan
diinkubasi pada suhu kamar (±28oC) selama 7 hari. Trichoderma sp. isolat JB selanjutnya
diperbanyak untuk memenuhi kebutuhan penelitian.
2.4 Karakterisasi Morfologi Trichoderma
sp. isolat JB
Pengamatan karakterisasi morfologi Trichoderma sp. isolat JB dilakukan secara
makroskopis dan mikroskopis mengacu pada buku identifikasi berdasarkan deskripsi yang
dikemukakan oleh Barnett dan Hunter (1998) dan Watanabe (2002). Pengamatan
Trichoderma sp. isolat JB secara makroskopis meliputi bentuk koloni, warna koloni dan
diameter pertumbuhan koloni, dilakukan setiap hari sampai berumur 10 HSI. Pertumbuhan
diameter koloni Trichoderma sp. isolat JB dilakukan dengan membuat gambar dengan spidol
yang dipolakan pada kertas plastik “karkir” transparan merek diament, setelah itu diterakan
pada kertas milimeter blok dan dihitung luasnya (Suanda dan Ratnadi, 2015). Pengamatan
secara mikroskopis dilakukan dengan metode mikrokultur (slide culture), bagian yang
diamati meliputi bentuk konidiofor, fialid dan konidia serta bentuk dan ornamentasi tangkai
spora.
2.5 Uji Daya Antagonisme Trichoderma
sp. isolat JB terhadap S. rolfsii Sacc.
Uji antagonisme jamur dilakukan untuk mengetahui bentuk interaksi Trichoderma sp.
isolat JB terhadap S. rolfsii. Uji antagonisme ini dilakukan di dalam laminar air flow agar
kondisi aseptiknya tetap terjaga. Uji daya antagonisme dilakukan dengan metode dual culture
secara in vitro (Coskuntuna dan Ozer, 2008). Koloni jamur Trichoderma sp. isolat JB umur
5 HSI dan jamur patogen S. rolfsii umur 10 HSI di media PDA dipotong dengan bor gabus

229

JURNAL PENDIDIKAN
INSTITUT KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN (IKIP) PGRI BALI

(cork borer) menjadi lempeng biakan seperti cakram berdiameter 0,5 mm diambil dengan
jarum ose steril diletakkan pada media PDA dalam cawan Petri pada jarak 3 cm berlawanan
dengan jamur antagonis. Perlakuan kontrol sebagai pembanding dilakukan dengan
mengisolasikan jamur patogen pada media PDA tanpa perlakuan jamur antagonis. Semua
pengujian dilakukan dengan pengulangan sebanyak 5 kali dan diinkubasi pada suhu kamar
(±28oC) selama 5 hari. Menurut Khattabi, et al. (2004) bahwa persentase daya antagonisme
ditentukan berdasarkan rumus:

Pk – Pt
Keterangan:
P= x 100%
P = Persentase hambatan
Pk
Pk = luas koloni S. rolfsii pada kontrol
Pt = luas koloni S. rolfsii pada perlakuan

3. PEMBAHASAN HASIL
Pengamatan makroskopis Trichoderma sp. isolat JB yaitu koloni permukaannya datar
berbentuk bulat tetapi kasar seperti berserat dengan bagian tepi halus, mula-mula koloni
berwarna putih kemudian bagian tengah berwarna hijau muda lalu menjadi hijau tua
berbentuk lingkaran dengan batas jelas, sedangkan bagian pinggir berwarna putih seperti
kapas dan warna koloni berubah menjadi hijau tua pada seluruh permukaan atas (Gambar 1).
Stamets (2000) bahwa sebagian besar jamur saprofit pada mulanya memiliki miselium
berwarna putih, kemudian warna dapat berubah ketika miselium tersebut dewasa.
Pertumbuhan diameter koloni Trichoderma sp. isolat JB disajikan pada Tabel 1.

A B C D

Gambar 1. Morfologi bentuk dan warna Trichoderma sp. isolat JB1
A. umur 3 HSI B. umur 5 HSI C. permukaan bawah umur 5 HSI D. umur 10 HSI

230
NOMOR 22 TAHUN XVIII Oktober 2017
ISSN 1907-3232

Tabel 1: Rerata pertumbuhan diameter koloni Trichoderma sp. isolat JB (cm2)
No. Pengamatan Rerata Pertumbuhan Diamater Koloni
(HSI) (cm2)
1. 0 0,5
2. 1 2,0
3. 2 17,0
4. 3 38,0
5. 4 55,0
6. 5 78,5
7. 6 81,0
(cawan Petri penuh)
Penampakan secara mikroskopis Trichoderma sp. isolat JB yaitu hifa bewarna hijau, tangkai
fialid pendek, konidia berwarna kehijauan, berbentuk globuse (bulat) tumbuh pada ujung dan
ada juga konidium terbentuk secara bergerombol berwarna hijau muda pada permukaan sel
konidiofornya. Fialid memiliki ukuran panjang ±11,1µ dan cabang konidiofor panjangnya
±13,4µ. Adanya banyak percabangan konidiofor yang menyerupai piramid yaitu cabang yang
lebih panjang dibawahnya, fialid tersusun pada kelompok-kelompok yang berbeda, terdapat
2-3 fialid per kelompok (Gb. 2).

3
1

2
4

Gambar 2. Morfologi mikroskopis Trichoderma sp. isolat JB
1. konidiofor 2. cabang konidiofor 3. fialid 4. Konidia/phialospore
Sumber: dokumen pribadi, 2015

231

JURNAL PENDIDIKAN
INSTITUT KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN (IKIP) PGRI BALI

Berdasarkan uji secara in vitro ada pengaruh penggunaan Trichoderma sp. isolat JB terhadap
penyakit rebah kecambah S. rolfsii ditinjau dari aspek daya antagonis mencapai 95,45%
(Gambar 3).

1 1 2 2

A B

Gambar 3. Uji antagonis Trichoderma sp. isolat JB terhadap S. rolfsii (umur 7 HSI)
A. Uji antagonis B. kontrol 1. koloni Trichoderma sp. isolat JB 2. koloni S. rolfsii

Penghambatan pertumbuhan diameter koloni S. rolfsii disebabkan oleh pertumbuhan koloni
Trichoderma sp. isolat JB lebih cepat dan kemampuan kompetisi lebih tinggi dibanding
dengan pertumbuhan koloni S. rolfsii. Menurut Cook dan Baker (1983) salah satu syarat
suatu organisme dapat dikatakan sebagai agensia hayati adalah mempunyai kemampuan
antagonisme yaitu kemampuan menghambat perkembangan atau pertumbuhan organisme
lainnya. Semakin besar daya hambat yang terjadi, maka semakin tinggi daya antagonis isolat
tersebut. Perbedaan daya hambat menggambarkan perbedaan kemampuan dari masing-
masing isolat untuk menghambat pertumbuhan mikrooganisme pesaing (Suanda dan Ratnadi,
2015). Perbedaan ini diduga dipengaruhi oleh jenis, jumlah, dan kualitas dari antibiotik atau
zat lain yang dihasilkan Trichoderma sp. yang dapat menghambat pertumbuhan patogen
(Herliyana et al., 2013).
Mekanisme Trichoderma sp. menghambat patogen Phytophthora sp. ialah melalui
cara langsung, yaitu dengan mikoparasitisme atau antibiosis (Bae et al. 2011; Atanasova et
al. 2013). Lebih lanjut Chet (1987) menyatakan bahwa Trichoderma asperellum mampu
menghasilkan enzim yang dapat menyebabkan lisis pada hifa inangnya dan memiliki sifat
mikoparasit yang dapat menghambat perkembangan patogen. Mekanisme daya antagonis
Trichoderma sp. isolat JB menempel dan membelokkan hifanya ke hifa inang dengan
membuat lilitan pada hifa inang. Bila pertumbuhan hifa Trichoderma sp. sejajar dengan

232
NOMOR 22 TAHUN XVIII Oktober 2017
ISSN 1907-3232

pertumbuhan hifa inangnya maka hifa Trichoderma sp. akan menempel pada hifa biasanya
melilit hifa inangnya dengan lilitan spiral yang agak jarang dan membentuk alat pengait
(hook-like structure), sambil memenetrasi miselium inang dengan mendegradasi sebagian
dinding sel inang (Lewis et al., 1998).
4. Simpulan
Berdasarkan hasil penelitian ini karakterisisasi morfologi Trichoderma sp. isolat JB bisa
dijadikan dasar untuk menenentukan spesies Trichoderma sp. dan isolat ini lebih dekat
dengan T. asperellum, yang perlu dilanjutkan dengan identifikasi sampai tingkat molekuler.
Trichoderma sp. isolat JB memiliki kemampuan antagonisme 95,45% terhadap pertumbuhan
koloni S. rolfsii secara in vitro dan karakterisisasi morfologi Trichoderma sp. isolat JB
5. Ucapan Terimakasih
Ucapan terimakasih kami sampaikan kepada Rektor IKIP PGRI Bali dan ketua laboratorium
Penyakit Tumbuhan Universitas Udayana yang telah memberikan fasilitas dan kesempatan
untuk menlakukan penelitian.

Daftar Pustaka

Atanasova, L., Le Crom, S., Gruber, S., Coulpier, F., Seidl-Seiboth, V., Kubicek, C.P. and
Druzhinina, I.S. 2013. Comparative transcriptomics reveals different strategies of
Trichoderma mycoparasitism. Journal BMC Genomics 14:121.
Barnett, H.L., Hunter, B. 1998. Ilustrated genera Of Imperfect Fungi. The American
Phyropathological Society St. Paul. Columbia.
Bae, H., Roberts, D.P., Lim, H.S., Strem, M.D., Park, S.C., Ryu, C.M., Melnick, R.L. and
Bailey, B.A. 2011. Endophytic Trichoderma isolates from tropical environments delay
disease onset and induce resistance against Phytophthora capsici in hot pepper using
multiple mechanisms. Journal Mol Plant Microb In 24:336-351.
Cook, R.J. and Baker, K.F. 1983. The nature and practice of biological control of plant
pathogens. American Phytopathol. Soc. St. Paul, MN.
Chet, I. 1987. Innovative Approaches to Plant Diseases Control. John Wiley and Sons, A
Wiley-Interscience Publication, USA. pp. 11-210.

233

JURNAL PENDIDIKAN
INSTITUT KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN (IKIP) PGRI BALI

Coskuntuna, A. and Ozer, N. 2008. Biological Control of Union Basal Root Disease Using
Trichoderma harzianum and Induction of Antifungal Compounds in Onion Set
Following Seed Treatment. Journal Crop Protection 27:330-336.
Cilliers, AJ., Herselman L. & Pretorius Z.A. 2000. Genetic variability within and among
mycelial compatibility groups of Sclerotium rolfsii in South Africa. Phytopathology
90(9): 1026-1031.
Davis, M.R. and Nunez, J. 2007. Integrated approaches for carrot pests and diseases
management. In: Ciancio A & Mukerji KG. (Eds.). General Concepts in Integrated Pest
and Disease Management. pp.149-190.
Ferreira, S.A., and Boley, R.A. 2006. Sclerotiumrolfsii. http://www. Extent.edu
Fichtner, E.J. 2006. Sclerotium rolfsii. ‘Kudzu of the Fungal World’.
Harman, G.E., Charles, R.H., Viterbo, A., Chet, I. and Lorito, M. 2004. Trichoderma species
opportunistic, avirulent plant symbionts. Journal Nature Rev 2:43-54.
Herliyana E.N., Jamilah, R., Taniwiryono, D. dan Firmansyah, M.A. 2013. Uji In-vitro
Pengendalian Hayati oleh Trichoderma spp. terhadap Ganoderma yang Menyerang
Sengon. Departemen Silvikultur Fakultas Kehutanan, IPB. Jurnal Silvikultur Tropika
4(3):190-193.
Kartika, E., Lizawati dan Hamzah. 2012. Isolasi, Identifikasi dan pemurnian Cendawan
Mikoriza Arbuskular (CMA) dari tanah bekas tambang batubara. Program Studi
Agroekoteknologi. Fakultas Pertanian Universitas Jambi. Vol. 1:4
Khattabi, N., Ezzahiri, B., Lauali, L., and Oihabi, A. 2004. Antagonistic activity of
Trichoderma isolates against Sclerotium rolfsii: Screening of isolates from Morocco
soils for biological control. Phytopathol. Mediterr 43:332-340.
Lewis, J.A., R.P. Larkin and D.L. Rogers. 1998. A formulation of Trichoderma and
Gliocladium to reduce damping-off by Rhizoctonia solani and saprophytic growth of
the pathogen in soil less mix. Pl. Dis 82:501-506.
Malloch, D. 1997. Moulds Isolation, Cultivation, Identification, Mycology. Departement of
Botany University of Toronto.
Pitt, J. I., and A. D. Hocking. 1997. Fungi and Food Spoilage. Second Edition. Printed in
Great Britain at the University Press, Cambridge.

234
NOMOR 22 TAHUN XVIII Oktober 2017
ISSN 1907-3232

Papavizas, C.G. 1985. Trichoderma and Gliocladium: Biology Ekology and Potential for
Biological Control. Ann. Rev. Phytophatology 23:23-54.
Suanda, I W. dan Ratnadi, Ni W. 2015. Daya Antagonism Trichoderma sp. Isolat Local
terhadap Jamur Patogen penyebab Penyakit Rebah Kecambah (Schlerotium rolfsii
Sacc.) pada Tanaman Tomat (Lycopersicum esculentum Mill.). Prodi Pendidikan
Biologi FPMIPA IKIP PGRI Bali. Jurnal EmaSains IV(2):155-162.
Semangun, H. 2004. Penyakit-Penyakit Tanaman Hortikultura di Indonesia. Yogyakarta:
Gadjah Mada University Press
Stamets, P. 2000. Growing Gourmet and Medicinal Mushrooms. Ed ke-3. California: Ten
Speed Press.

Walker, E.D., and J.A. Stachecki. 2002. Pest Management for Small Animals a Training
Manual for Commercial Pesticide Applicatorrs and Registered
Technicians. Michigan State University
Extension. Michigan. p.140.
Watanabe T. 2002. Pictorial atlas of soil
and seed fungi morphologies of
cultured fungi and key to species.
CRC Press LLC. U.S.A.

235

JURNAL
PENDIDIKAN
INSTITUT KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN (IKIP) PGRI BALI

STUDI TEKS BABAD DALEM TARUKAN
(PERSPEKTIF PENDIDIKAN AGAMA HINDU)

Oleh
I Made Dharmawan

ABSTRACT
Babad can be interpreted as a work of literature or a description of events
that occurred in the past or the principle of descent (genealogy), especially for the
kings who ruled in their era. Until now the chronicle is still believed and
respected, because it is considered to have noble values that are upheld by the
offspring. The formulation of the problem will be discussed, among others: (1)
How is the text form Dalad Tarukan chronicle? (2) What aspects of religion are
contained in Dalad Tarukan's chronicle text? (3) What values of Hindu religious
education are contained in Dalad Tarukan's chronicle text? This study aims to
determine (1) The text form Dalad Tarukan chronicle. (2) What aspects of religion
are contained in Dalem Tarukan's chronicle text. (3) The values of any Hindu
religious education contained in the Dalad Tarukan chronicle text. The theory
used to analyze the problem formulation is the structural theory of Jakobson, the
religious theory of Koentjaraningrat, the value theory of Poerwadarminta. Data
collection methods used were observation, interview method, literature study and
documentation study. The results of the research show that (1) the form of Babad
Dalem Tarukan are intrinsic elements (inner structure) that is incident,
characterization, theme, plot and mandate (2) religious aspect contained in Dalem
Tarukan chronicle is aspect relating to belief, This is the belief of Hindus. Tri Hita
Karana. (3) The values of Hindu religious education contained in Dalem
Tarukan's chronicle is the value of tattwa, moral, and ceremonial education.
Keywords: Babad Dalem Tarukan, Hindu Religious Education Perspective

A. PENDAHULUAN
Pulau Bali yang akrab dikenal dengan sebutan Pulau Dewata banyak
menyimpan karya sastra berupa lontar, yang dapat ditemukan di Pusat
Dokumentasi Kebudayaan Bali (Pusdok) Denpasar, Gedong Kirtya Buleleng,
serta perpustakaan Fakultas Sastra, Universitas Udayana, Bali. Selanjutnya
berdasarkan pengamatan yang dilakukan pada pusat-pusat dokumentasi tersebut
dapat diketahui manuskrip lontar yang tersebar di Bali dikelompokkan manjadi
tujuh kelompok: (a) Kelompok Weda (weda, mantra, kalpasastra), (b) Kelompok
Agama (pala kerta, sasana, niti, dan kitab-kitab hukum), (c) Kelompok Wariga
(wariga, tutur, usada/pengobatan), (d) Kelompok Itihasa Parwa (kekawin, kidung,

236


NOMOR 22 TAHUN XVIII Oktober 2017
ISSN 1907-3232

geguritan), (e) Kelompok Tantri (tantric Hindu, cerita Bali), (f) Kelompok
Lelampahan (naskah yang menceritakan lakon-lakon dan kesenian Bali), serta (g)
Kelompok Babad (sejarah, pamancangah, paregreg).
Secara keseluruhan dari teks-teks tersebut sangat menarik untuk di baca
dan dipelajari lebih-lebih kasusastraan babad yang begitu menarik dimana babad
merupakan sejenis teks dari jawa dan Bali yang berhubungan dengan sejarah.
Babad dapat diartikan sebagai suatu karya sastra atau gambaran kejadian pristiwa
yang terjadi pada masa lampau atau asas usul keturunan (sislsilah) terutama bagi
raja-raja yang memerintah pada jamannya. Sampai saat ini babad masih diyakini
dan dihormati, karena dipandang memiliki nilai-nilai luhur yang dijunjung oleh
keturunannya. Sebuah babad mengandung pengertian sebuah kepercayaan yang
dituangkan oleh penulisnya.
Maka sebuah babad akan mengandung berbagai nilai sesuai dengan
jamannya, atau pengalaman penulisnya. Nilai-nilai itu antara lain: istana sentries,
religious magis, raja-kula, mitologis dan sebagainya. Di dalam babad juga sering
muncul semacam petuah (piteket) leluhur pada keturunannya. Piteket, petuah
leluhur yang sudah dipandang suci sangat tinggi nilainya, bahkan sering dinilai
sacral, umumnya dikenal sebagai bisama. Karena itu, warga masyarakat Hindu,
yang sadar akan hubungannya dengan leluhur yang telah disucikan, akan merasa
bersalah, bahkan berdosa, merasa dikutuk kalau melanggar bisama.
B. Rumusan Masalah
Berdasarkan uraian latar belakang di atas, dapat dirumuskan permasalahan
yang akan dibahas dalam penelitian ini yakni sebagai berikut :
1. Bagaimanakah bentuk teks babad Dalem Tarukan?
2. Aspek religi apa sajakah yang terkandung dalam teks babad Dalem
Tarukan?
3. Nilai-nilai pendidikan agama Hindu apa saja yang terkandung dalam teks
babad Dalem Tarukan?
C. Tujuan Penelitian
Secara umum tujuan penelitian ini adalah untuk memberikan informasi
lebih jauh mengenai teks babad Dalem Tarukan serta dapat memberikan
kontribusi positif terhadap perkembangan karya sastra berupa babad.

237


JURNAL
PENDIDIKAN
INSTITUT KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN (IKIP) PGRI BALI

Secara spesifik sasaran dan tujuan khusus yang ingin dicapai dalam penelitian ini
adalah sebagai berikut:
1. Untuk mengetahui bentuk teks babad Dalem Tarukan.
2. Untuk mengetahui aspek religi apa sajakah yang terkandung dalam teks
babad Dalem Tarukan.
3. Untuk mengetahui Nilai-nilai pendidikan agama Hindu apa saja yang
terkandung dalam teks babad Dalem Tarukan.
D. Manfaat Penelitian
Penelitian ini dapat memberikan suatu motivasi agar selalu turut serta
melestarikan kebudayaan Bali sekaligus menumbuhkan kebanggaan dan
mempertebal keyakinan terhadap agama Hindu.
E. KAJIAN PUSTAKA, LANDASAN KONSEP DAN TEORI
Kajian kepustakaan meliputi pengidentifikasian secara sistematis,
penemuan dan analisis dokumen-dokumen yang memuat informasi yang berkaitan
dengan masalah penelitian (Ari kunto, 2002:46). Penelitian ini diusahakan untuk
menemukan dokumen-dokumen yang berhubungan dengan objek penelitian baik
melalui inventarisasi dokumen di lokasi penelitian, perpustakaan Institut Hindu
Dharma Negeri Denpasar, dan dari dokumen-dokumen yang tersebar di
masyarakat.
Pulasari (2009) dengan buku yang berjudul “Dinasti Sri Aji Kresna
Kepakisan Babad Dalem Tarukan Lan Bisama Ida Bhatara Dalem Tarukan. Buku
ini memaparkan tentang Bisama berkaitan dengan burung Titiran, Puwuh dan
Jawa-Jali, Bisama tentang Habaas (sejenis tumbuhan yang buahnya bisa d
makan), daging Kidang (menjangan), Piteket Ida Dalem Tarukan dan I Dewa
Bagus Darma, Panugrahan Ida Dalem (Atiwa-tiwa, Madeg Bhujangga, dan
Ngamet Pejenengan) dan lain sebagainya. Buku dari Pulasari ini berbeda dengan
penelitian yang akan dilakukan saat ini, dimana buku ini tidak membahas secara
spesifik tentang bentuk, fungsi, dan nilai pendidikan agama Hindu yang
terkandung dalam teks babad Dalem tarukan. Dibalik sebuah perbedaan tentu
dapat pula dicari sebuah persamaan dimana antara buku Pulasari dan penelitian ini
sama-sama membahas tentang Bisama atau piteket yang terkandung di dalam
karya sastra berupa teks babad. Sehingga buku ini layak dijadikan kajian pustaka

238


NOMOR 22 TAHUN XVIII Oktober 2017
ISSN 1907-3232

dalam penelitian ini. Tetapi dibalik perbedaan tersebut buku ini menyumbangkan
kontribusi yang sangat besar dalam penelitian ini, sebab objek yang diteliti sama
yakni babad Dalem Tarukan yang tentunya akan menambah wawasan peneliti
terhadap keberadaan babad Dalem Tarukan. Sehingga buku dari Pulasari ini layak
sebagai kajian pustaka dalam penelitian yang akan dilaksanakan.
Saptiari (2009) dalam penelitianya yang berjudul “Kajian Nilai Pendidikan
Agama Hindu Dalam Upacara Kangin Kauh Di Desa Pakraman Penglipuran,
Kelurahan Kubu, Kecamatan Bangli, Kabupaten Bangli”, yang menguraikan
struktur, fungsi, dan nilai pendidikan yang berkaitan dengan upacara Kangin Kauh
di desa Pakraman Penglipuran. Penelitian dari Saptiari menggunakan tiga
landasan teori yakni teori fungsional struktural, religi, dan nilai. Ditinjau dari
judul penelitian Saptiari sudah tentu sangat berbeda dengan penelitian yang akan
dilaksanakan oleh peneliti, dimana objek yang diteliti merupakan objek yang
berbeda. Tetapi dibalik perbedaan tersebut terdapat beberapa kesamaan muncul
yakni di bidang teori yang sama persis digunakan dalam penelitian teks Babad
Dalem Tarukan yang akan dilaksanakan. Adapun kontribusi yang diberikan oleh
penelitian Saptiari terhadap penelitian teks Babad Dalem Tarukan yakni berkaitan
dengan teori diantaranya teori struktural, religi, dan nilai yang tentunya dapat
digunakan sebagai pijakan yang sangat berharga guna tercapainya hasil penelitian
yang maksimal.
Riana (2011) dalam bukunya yang berjudul “Lelintihan Sang Catur Sanak
Bali, Kayu Selem, Celagi, Tarunyan, Kaywan Balingkang, lan Warga Bali Aga”
buku ini menjelaskan tentang zaman kumalencong, penghuni bali pertama,
lahirnya Bhatara Mpu Kamareka, Mpu Semeru ke Bali, Pasraman Goa Song, Sang
Catur Sanak Bali, Bhatara Mpu Kama Reka Moksah, Pura Utama, serta di
dalamnya terdapat pula Alih Aksara (translitasi) dan terjemahan Lontar Lelintihan
Catur Sanak Bali. Buku ini berbeda dengan penelitian yang akan dilaksanakan
dimana buku ini membahas tentang Lelintihan Sang Catur Sanak Bali, sedangkan
penelitian yang akan dilaksanakan yakni berkaitan dengan babad Dalem Tarukan
dimana antara buku dan penelitian ini membahas tentang klen yang berbeda.
Dibalik sebuah perbedaan tentu dapat pula dicari sebuah persamaan dimana antara
buku Riana dan penelitian ini sama-sama membahas tentang babad yang tentunya

239


JURNAL
PENDIDIKAN
INSTITUT KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN (IKIP) PGRI BALI

memberi kontribusi secara akademis terhadap perkembangan babad di Bali.
Sehingga dapat dijadikan pijakan dalam penelitian babad Dalem Tarukan yang
akan dilaksanakan guna ketercapaian hasil penelitian yang maksimal.
Mustika (2012) dalam skripsi yang berjudul “Babad Catur Sanak Warih
Ida Mpu Kamareka (Perspektif Pendidikan Agama Hindu). Karya dari Mustika ini
memaparkan tentang pokok-pokok ajaran agama Hindu, unsur-unsur intrinsik, dan
nilai pendidikan agama Hindu yang terdapat pada babad Catur Sanak. Ditinjau
dari judul penelitian ini memiliki perbedaan pada obyek penelitiannya. Dimana
diantara babad Catur Sanak dan teks babad Dalem Tarukan merupakan klen yang
berbeda.Tetapi dibalik perbedaan tersebut ada sebuah persamaan dimana diantara
kedua penelitian ini memiliki kajian yang sama yakni pendidikan agama Hindu
yang menjadi pokok dalam penelitian ini. Adapun kontribusi dari penelitian
Mustika terhadap penelitian yang akan dilaksanakan, yakni terkait dengan kajian
pendidikan agama Hindu yang tertuang dalam penelitian Mustika. Tentunya dapat
digunakan sebagai pijakan dalam penelitian babad Dalem Tarukan yang akan
dilaksanakan guna tercapainya tujuan yang diharapkan.
Bana (2012) dengan skripsi yang berjudul “Ajaran Samnyasa Dalam
Manawa Dharmasastra (Kajian Pendidikan Agama Hindu)”. Karya dari Banda
memaparkan tentang bentuk, makna, dan pendidikan agama Hindu yang terdapat
pada ajaran Samnyasa dalam Manawa Dharmasastra. Kitab Manawa
Dharmasastra adalah sebuh kitab Dharma yang dihimpun dalam bentuk
sistematis oleh Bhagawan Bhrigu salah seorang penganut ajaran Manu. Nama
otoritas kitab Manawa Dharmasastra disebut Manu, dari nama itulah lahir nama
Dharmasastra ini. seluruh ajaran dalam kitab ini dianggap memuat ajaran
Bhagawan Manu. Bhagawan Bhrigu penerima ajaran Manu adalah salah seorang
dari Sapta Maha Rsi.
Dilihat dari judul penelitian Bana sudah dipastikan sangat berbeda dengan
penelitian teks babad Dalem Tarukan yang akan dilaksanakan, perbedaan terpaut
jauh di dilihat dari obyek penelitian masing-masing. Namun dibalik perbedaan
tersebut penelitian Bana memiliki persamaan di dalam bidang kajian, yakni sama-
sama mengkaji tentang pendidikan agama Hindu yang sekaligus menjadi
kontribusi terhadap penelitian teks babad Dalem Tarukan yang akan dilaksanakan

240


NOMOR 22 TAHUN XVIII Oktober 2017
ISSN 1907-3232

ini.Nilai-nilai pendidikan meliputi pendidikan Tattwa, Susila, dan pendidikan
yang berkaitan dengan keberadaan Babad Dalem Tarukan.Sebagai bentuk karya
sastra Babad tidak semata-mata bersifat sastra, melainkan erat kaitannya dengan
kepercayaan idiologi, adat istiadat, upacara ritual, dan kehidupan sosial lainya,
serta keberadaan treh (kelompok keturunan).Tentunya dapat digunakan sebagai
pijakan dalam penelitian babad Dalem Tarukan yang akan dilaksanakan guna
tercapainya tujuan yang diharapkan.
F. METODE
Jenis penelitian adalah penelitian deskriptif, jenis data yaitu data kualitatif
dengan sumber data primer dan sumber data sekunder. Teknik penentuan
informan menggunakan teknik purposive sampling. Penelitian ini menggunakan
teknik pengumpulan data observasi, wawancara, studi kepustakaan, studi
dokumentasi. Teknik analisis data yaitu hasil wawancara, catatan lapangan, dan
bahan yang lain sehigga dapat dipahami.
G. PEMBAHASAN HASIL PENELITIAN
1. Gambaran Umum Babad Dalem Tarukan
Sebelum menganalisis data, maka terlebih dahulu akan diuraikan tentang
gambaran umum penelitian. Gambaran umum ini sebagai langkah awal untuk
menuju pokok permasalahan yang diteliti. Adapun gambaran umum yang
dimaksud dalam penelitian ini berkaitan dengan teks Babad Dalem Tarukan.
Adapun gambaran tersebut dapat dilihat pada penjelasan berikut ini.
2. Identifikasi Teks Babad Dalem Tarukan
Babad Dalem Tarukan yang dikaji dalam penelitian ini adalah sebuah teks
yang tersimpan di Pusat Dokumentasi Kebudayaan Bali berupa alih aksara lontar
yang dilakukan pada tahun 1997. Teks tersebut dialihaksarakan oleh I Putu
Mertha. Teks tersebutlah yang digunakan sebagai data primer dalam penelitian
ini. Teks merupakan ungkapan bahasa yang menurut isi, sintaksis dan pragmatik
merupakan suatu kesatuan. Manusia dalam kelangsungannya mempertukarkan
istilah teks dan wacana (Luxemburg, 1984: 86). Secara sekilas antara teks dengan
wacana memang sulit untuk dibedakan, sebab keduanya merupakan aspek
kebahasaan. Penelitian Babad Dalem Tarukan ini, lebih menekankan kepada teks
sebagai esensi wujud wacana, dengan kata lain teks direalisasikan (diucapkan)

241


JURNAL
PENDIDIKAN
INSTITUT KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN (IKIP) PGRI BALI

dalam bentuk wacana (Mulyana, 2005:9). Berdasarkan hal tersebut, bahwa
wacana adalah bentuk konkrit dari suatu teks, maka Babad Dalem Tarukan dapat
digolongkan menurut klasifikasi wacana sebagai sebuah teks.
Liamzon (dalam Djajasudarma 2010 : 8-10) mengungkapkan bahwa
berdasarkan pemaparan, wacana dapat dibagi menjadi wacana naratif, wacana
prosedural, wacana hortatori, wacana ekspositori dan wacana deskriptif.
Berdasarkan teks Babad Dalem Tarukan yang telah diamati, babad tersebut
merupakan teks campuran, dimana teks memaparkan kejadian berdasarkan
wacana deskriptif, hortatori maupun naratif. Sesuai yang telah dijelaskan
sebelumnya bahwa wacana deskriptif merupakan rangkaian tuturan yang
memaparkan sesuatu atau melukiskan sesuatu, baik berdasarkan pengalaman
maupun pengetahuan penuturnya.
3. Aspek Religi Babad Dalem Tarukan
Babad Dalem Tarukan sebagai salah satu karya sastra tentu juga
mengusung adanya aspek-aspek religius yang terkandung di dalam babad
tersebut. Aspek religius tersebut ialah aspek yang berkaitan dengan keyakinan,
yang dalam hal ini adalah keyakinan umat Hindu. Sesungguhnya terdapat lima
unsur pokok dalam religi yaitu : (1) emosi keagamaan, (2) keyakinan, (3) ritus dan
upacara, (4) peralatan ritus dan upacara, (5) umat agama. Emosi keagamaan
adalah getaran yang menggerakkan jiwa manusia yang menyebabkan manusia
memiliki sikap serba religi. Sistem keyakinan dalam religi berwujud konsepsi
manusia tentang sifat-sifat Tuhan, tentang alam gaib (kosmologi) dan tentang
terjadinya alam serta dunia (kosmogoni). Ritus dan upacara dalam religi berwujud
aktivitas manusia dalam melaksanakan kebhaktiannya kepada Tuhan, dewa-dewa,
roh nenek moyang atau makhluk halus. Dalam ritus dan upacara, biasanya
dipergunakan berbagai macam sarana dan peralatan seperti tempat pemujaan,
patung dewa dan alat bunyi-bunyian. Unsur kelima adalah umat beragama yang
merupakan kesatuan sosial yang menganut sistem keyakinan dan yang
melaksanakan ritus serta upacara tersebut (Koentjaraningrat, 2007: 80-82).
Kelima unsur religi tersebut merupakan dasar terhadap sudut pandang
dalam melihat Babad Dalem Tarukan. Religi mengajarkan adanya hubungan dan
saling ketergantungan ini dalam ajaran agama Hindu melalui ajaran Tri Hita

242


NOMOR 22 TAHUN XVIII Oktober 2017
ISSN 1907-3232

Karana. Tri Hita Karana merupakan hubungan yang harmonis antara manusia
dengan Tuhan, antara manusia dengan manusia, dan hubungan yang harmonis
antara manusia dengan lingkungannya. Tiga hal yang menyebabkan terjalinnya
keharmonisan tersebut, menjadi begitu penting untuk dijadikan sudut pandang
dalam memandang Babad Dalem Tarukan.
4. Nilai-nilai pendidikan agama Hindu yang terdapat Pada Babad Dalem
Tarukan
Nilai adalah ide-ide yang mengkonsepsikan hal-hal yang paling bernilai di
dalam kehidupan. Konsepsi-konsepsi serupa itu biasanya luas dan kabur. Justru
karena kabur atau irasional biasanya berakar dalam bagian emosional dari alam
jiwa manusia (Koentjaraningrat, 1986: 20). Nilai itu mempunyai 4 (empat) macam
arti, antara lain : (1) Bernilai artinya berguna; (2) Merupakan nilai artinya baik
dan benar atau indah; (3) Mengandung nilai artinya merupakan objek atau
keinginan atau sifat yang menimbulkan sikap setuju; dan (4) Memberi nilai
artinya memutuskan bahwa sesuatu itu diinginkan atau menunjukan nilai (Bagus,
2005: 713). Sesuatu yang mempunyai nilai tidak hanya yang berwujud material
atau benda saja tetapi juga yang tidak berwujud. Wujud material penilaiannya
lebih mudah dilakukan dengan menggunakan alat ukur seperti : pengukuran berat
(kg), panjang (km) dan isi (m3), sedangkan nilai-nilai kerohanian tidak dapat
diukur dengan alat-alat tersebut.
Nilai kerohanian hanya dapat dinilai dengan menggunakan hati nurani
yang ditimbulkan oleh indra-indra, akal, perasaan dan pikiran (keyakinan).
Penilaian terhadap nilai kerohanian antara manusia yang satu dengan yang lainnya
berbeda tergantung dari situasi dan keadaan manusia bersangkutan. Bagi manusia
nilai merupakan suatu alat untuk memotivasi disegala bidang kehidupan. Hal ini
dapat kita lihat pada kenyataan manusia yang lain berbuat lain dari nilai-nilai
manusia yang lain karena alasan yang lain pula. Jadi nilai berperan sebagai dasar
pedoman yang menentukan kehidupan manusia dalam interaksinya dengan
lingkungan sesuai dengan sifatnya.
Babad yang merupakan salah satu kelompok dari sederatan kepustakaan
Bali cukup akrab dengan kehidupan masyarakat Bali. Oleh karena naskah jenis ini
mendapat perhatian yang cukup besar di kalangan masyarakat Bali. Perhatian

243


JURNAL
PENDIDIKAN
INSTITUT KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN (IKIP) PGRI BALI

yang besar itu tercermin dari persepsi dan representasi masyarakat Bali lewat seni
pentas berupa pertunjukan topeng (sering juga disebut Prembon). Pertunjukan
jenis ini sering mengambil lakon sebagai mana yang ada dalam babad. Untuk
itulah, tidak jarang babad diidentikkan dengan nilai-nilai tertentu yang memiliki
daya guna di masyarakat. Sebagai salah satu kesusastraan yang ada di Bali,
tentunya pendekatan yang digunakan untuk menilai Babad Dalem Tarukan salah
satunya yakni pendekatan yang didasarkan atas agama Hindu. Agama Hindu yang
memiliki kerangka dasar berupa tattwa, susila, dan upacara tampaknya sangat
relevan dalam menilai Babad Dalem Tarukan. Untuk itulah, dalam penelitian ini,
Babad Dalem Tarukan dinilai dari tiga hal tersebut sebagaimana dapat dilihat
pada penjelasan berikut ini.
a. Nilai Pendidikan Tattwa
Religi merupakan sistem kepercayaan yang pertama dianut oleh manusia,
pada masyarakat hindu khususnya, religi berkaitan dengan tattwa, tattwa berasal
dari bahasa Sansekerta yaitu terdiri dari kata tat yang berarti itu, kemudian
menjadi Tattwa yang berarti tentang itu (tuhan). Jadi tattwa adalah suatu hakekat
atau kebenaran (Sura, 1991: 15). Hakekat dan kebenaran itu nampak berlainan
sesuai dengan sudut pandang, walaupun kebenaran itu adalah satu adanya. Begitu
pula halnya pengetahuan manusia tentang Tuhan adalah bermacam-macam, dalam
ajaran agama Hindu meyakini/percaya bahwa tuhan itu adalah tunggal (satu),
namun orang yang arif dan bijaksana menyebutnya dengan banyak nama.
Tattwa berarti kebenaran yang mencakup tentang hakikat Tuhan dan
alam semesta. Tattwa merupakan inspirasi dari agama, kalau diumpamakan
sebutir telur, maka Tattwa itu adalah kuning telur, Susila berarti putih telurnya
dan Acara diibaratkan kulit telur, baik tingkah laku maupun norma-norma
Agama. Tattwa sangat berkaitan dengan adanya suatu keyakinan atau Sradha.
Pendidikan Tattwa atau filsafat adalah inti kebenaran ajaran agama Hindu
yaitu berupa lima keyakinan umat yang disebut dengan Panca Sradha. Panca
artinya lima, dan Sradha artinya kepercayaan atau keyakinan. Jadi Panca
Sradha artinya lima kepercayaan yang dimiliki oleh ajaran agama Hindu.
(Sudharta, 2012 : 81). Perihal nilai pendidikan tattwa yang terdapat di dalam
Babad Dalem Tarukan salah satunya dapat dilihat pada kutipan berikut ini.

244


NOMOR 22 TAHUN XVIII Oktober 2017
ISSN 1907-3232

Ri purwwa kala, hana maya sakti tan pahingan. Krura kara asyung
adangastra tiksna, angamah-amah kadi trap ning danawa. Lobha, moha,
murkka, nindeng sastra, pramadeng hayu. Cinacad ikang sarwa tattweng
atita. Yata wisirna binajra de Hyang Puru, hutakantep ri puput ikang
kasmala umantuk maring swargga sthana.
Terjemahannya:
Dahulu kala ada siluman sakti tidak tertandingi. Wujudnya mengerikan
bertaring runcing, mengancam seperti perilaku raksasa. Rakus, bingung,
marah, mencela sastra, mengabaikan kebaikan. Segala ajaran filsafat
dicela. Ia kemudian dipanah dan dimusnahkan oleh Hyang Puru, setelah
dosa-dosanya diupacarai pulanglah ke tempatnya di surga.
Aspek religi terutama nilai pendidikan tattwa di dalam Babad Dalem
Tarukan tercermin dalam kutipan di atas. Kutipan tersebut sesungguhnya telah
menekankan kepada pengetahuan mengenai adanya kekuatan-kekuatan di luar
batas akal manusia yang seringkali disebut dengan sistem kepercayaan.
Sesungguhnya, keyakinan atau sradha di dalam agama Hindu berkaitan erat
dengan aspek ketuhanan yang dalam hal ini juga diistilahkan dengan teologi.
Koentjaraningrat (2005 : 203) mengungkapkan bahwa setiap manusia sadar, jika
selain dunia yang fana ini, ada suatu alam dunia yang tidak tampak olehnya dan
berada di luar batas akalnya. Dunia ini adalah itu adalah Supranatural atau dunia
alam gaib. Berbagai kebudayaan menganut kepercayaan bahwa dunia gaib di huni
oleh berbagai mahluk dan kekuatan yang tidak dapat dikuasai oleh manusia
dengan cara-cara biasa dan karena itu dunia gaib pada dasarnya ditakuti oleh
manusia. Mahluk yang menghuni dunia gaib seperti Dewa-Dewa, Mahluk-
mahluk halus lainnya seperti ruh para leluhur, hantu, dan lain-lainnya, dan
kekuatan sakti yang dapat bermanfaat bagi manusia maupun yang dapat
membawa bencana. Sistem keyakinan tersebut dalam setiap suku bangsa dan
agama biasanya terkandung dalam sastra-sastra suci baik yang tertulis maupun
lisan. Bentuk kesusastraan suci yang memuat hal tersebut biasanya berupa ajaran
doktrin, tapsiran serta mengurainya dan juga dongeng-dongeng suci serta
mitologi.

245


JURNAL
PENDIDIKAN
INSTITUT KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN (IKIP) PGRI BALI

Babad Dalem Tarukan menuangkan dengan jelas, bahwa adanya keyakinan
terhadap para dewa dan juga kekuatan-kekuatan gaib. Hal tersebutlah yang
dalam hal ini menunjukkan nilai pendidikan tattwa yang memang menekankan
kepada aspek keyakinan terhadap Tuhan. Keyakinan kepada Tuhan tersebut
dituangkan ke dalam pendidikan tattwa yang juga disebut dengan teologi.
Istilah teologi secara etimologis berasal dari bahasa Yunani yaitu theos yang
artinya Tuhan dan logos berarti ilmu atau pengetahuan. Teologi adalah
pengetahuan tentang Tuhan atau ilmu tentang Tuhan (Donder, 2006: 4).
Aristoteles (dalam Sukayasa dan Sarjana, 2009: 9) menyatakan teologi sebagai
sebuah disiplin dan mengidentikkannya dengan filsafat pertama yang tertinggi
dari semua ilmu teoretis. Teologi juga dikenal sebagai suatu studi yang kemudian
dikenal dengan metafisika, yaitu disiplin yang mempelajari prinsip semesta yang
terakhir yaitu Tuhan sebagai hakikat, keberadaan dan aktivitasnya.
b. Nilai Pendidikan Etika
Susila sesungguhnya berkaitan dengan etika. Suhardana (2006: 1)
mengungkapkan bahwa etika berasal dari bahasa yunani ethos yang berarti watak,
perasaan, sikap, perilaku, karaktrer, tata krama, tata susila, sopan santun dan cara
berpikir. Mantra (1977:1) menyatakan pengertian dari etika adalah peraturan
tingkah laku yang baik dan mulia yang harus dijalani dan menjadi pedoman hidup
bagi manusia. Nilai pendidikan etika di dalam Babad Dalem Tarukan dapat dilihat
pada kutipan berikut.
Yan pira kunang suenira Kresna Wang Bang Kapakisan amupu tapsaring
taman, tandwa hana wekanira patang siki. Laki tiga, stri sanunggal. Ri
hananing putra patang diri, tang widadari mur muwah mantuk ing
suraloka, apan kadi sira widadari nirtresna. Ndan sira, Wang Bang
dahating sukska hyunira. Tumon ikang putra tan hanebune, muwah ri
kalaning putra tumanyen ing ibu, irika remek manik ing hredayanira, sira
Wang Bang, kangening sang mur matinggal. Ri wekasan sinerahaken tang
ana ri Sri Maharaja sira Kresna Wang Bang Kapakisan angadeg
abujangga. Jenek irika ring Taman Sari.

246


NOMOR 22 TAHUN XVIII Oktober 2017
ISSN 1907-3232

Terjemahannya:
Entah berapa lama beliau Kresna Wang bang Kapakisan bertemu dengan
bidadari di taman, kemudian beliau melahirkan empat orang anak. Tiga
laki-laii, dan seorang perempuan. Setelah lahir keempat anak itu, bidadari
itu terbang kembali pulang ke surga, sebab cinta bidadari itu telah lenyap.
Kemudian beliau Wang bang sangat susah pikirannya. Melihat anak-anak
itu tidak memiliki ibu, lagi pula saat anak-anak itu menanyakan ibunya,
saat itu sesak hati beliau Wang Bang. Rindu kepada yang telah pergi
meninggalkannya. Akhirnya anak-anak itu diserahkan kepada Sri
Maharaja, beliau Kresna Wang Bang Kapakisan menjadi seorang
rohaniawan. Berdiam di Taman Sari.

Babad Dalem Tarukan sebagaimana telah dikutip di atas, menunjukkan
adanya nilai pendidikan etika. Etika yang ditunjukkan adalah adanya tahapan-
tahapan kehidupan yang patut dilewati oleh manusia secara umum. Adapun
tingkatan-tingkatan tersebut ialah tingkatan brahmacari, grehasta, wanaprasta
dan biksuka. Keempatnya merupakan tahapan-tahapan yang hendaknya dilewati,
sehingga tercapailah moksa. Tentunya pencapaian moksa sebagai tujuan umat
Hindu, hendaknya dilandasi pula dengan pengekangan terhadap segala hawa
nafsu. Nafsu yang dimaksud tentu adalah nafsu yang dikuasai oleh guna tamas.
Dalam bahasa Indonesia, padanan kata tamak adalah tamas yang berarti
‘kebingungan, kebutaan rohani dan nafsu hina’ (Mardiwarsito, 1978: 341). Dalam
Bhagawad Gita dengan jelas dinyatakan bahwa tamas lahir dari kebodohan dan
membohongi segala mahluk, ia menutupi kebijaksanaan dan mengikat pada
kelahiran.
c. Nilai Pendidikan Upacara
Upacara sebagai salah satu dari bagian tiga kerangka dasar agama Hindu
merupakan upaya untuk menghubungkan diri dengan Ida Sang Hyang Widhi.
Upacara (ritual) merupakan lapisan yang paling luar dari tiga kerangka dasar
agama Hindu dari yang lainnya, sehingga paling terlihat dalam berbagai aktivitas
umat Hindu, namun pada prinsipnya ketiga aspek tersebut merupakan satu
kesatuan yang saling berkaitan dan memberikan fungsi secara menyeluruh.

247


JURNAL
PENDIDIKAN
INSTITUT KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN (IKIP) PGRI BALI

Seluruh prosesi upacara dalam agama Hindu pada dasarnya selalu dilandasi oleh
etika (susila). Demikian pula pelaksanaan etika (susila) tersebut dilandasi dengan
tattwa (filsafat).
Sesungguhnya upacara berasal dari kata “upa” yang berarti berhubungan
dengan dan “cara” yang berarti pekerjaan atau perbuatan. Dengan demikian
upacara berarti segala sesuatu yang berhubungan dengan pekerjaan atau perbuatan
(Suhardhana, 2010: 101). Di dalam Babad Dalem Tarukan, nilai pendidikan
upacara tertuang dalam kutipan berikut ini.
I Wekasan sira Dalem ngarsayang pyanake Ki Dukuh Darmmaji, kang
apatra Ni Luh Made Sari. Ki Dukuhh piteher ngaturang. Neher ginawe
rabi genep sawidhi widhana, wekasan hana wekane roro jalu istri. Pung
Gusti Balangan, arine stri apatra Ni Gusti Luh Wanagiri. Patang diri
putrane Dalem Taruk, mbasan ring Bungha.
Terjemahannya:
Setelah itu lagi Dalem menginginkan anak Ki Dukuh Dharmaji, yang
bernama Ni Luh Made Sari. Ki Dukuh berkenan menghaturkan. Kemudian
dijadikan istri yang sah, pada akhirnya melahirkan dua orang anak, laki
dan perempuan. Putra yang laki-laki bernama Gusti Balangan, sedangkan
adiknya yang perempuan bernama Ni Gusti Luh Wanagiri. Empat orang
putra Dalem taruk, yang lahir dari Bungha.

Kutipan di atas menunjukkan bagaimana Dalem Tarukan memperistri anak
dari Ki Dukuh Darmaji yang awalnya merupakan orang yang menikahkannya
dengan anak Ki Dukuh Pantunan. Ki Dukuh Darmaji adalah orang yang
memimpin upacara pernikahan tersebut. Itu artinya, dalam rangkaian berupacara
hendaknya memang ada pemimpin keagamaan yang memimpin. Tentu hal ini
dapat diartikan sebagai nilai pendidikan upacara yang terdapat di dalam Babad
Dalem Tarukan. Ajaran agama Hindu meyakini bahwa Tuhan menciptakan alam
semesta dengan Yajña maka sudah sepatutnya manusia sebagai umat Hindu
melaksanakan Yajña sebagai ucapan rasa syukur. Yajña merupakan korban suci
yang tulus ikhlas, tanpa mengharapkan suatu imbalan.

248


NOMOR 22 TAHUN XVIII Oktober 2017
ISSN 1907-3232

H. KESIMPULAN DAN SARAN
1. KESIMPULAN
a. Bentuk Babad Dalem Tarukan terdapat unsur-unsur intrinsik (struktur dalam)
yaitu insiden, penokohan, tema, alur dan amanat. Semua unsur saling mengait
menjadi satu kesatuan yang bulat dan utuh. Susunan insiden sangat baik dan
tersusun dengan teratur yang membangun alur (plot) babad yang baik yang
menampilkan hubungan sebab akibat.
b. Aspek religi yang terkandung dalam babad Dalem Tarukan ialah aspek yang
berkaitan dengan keyakinan, yang dalam hal ini adalah keyakinan umat
Hindu. Tri Hita Karana merupakan hubungan yang harmonis antara manusia
dengan Tuhan, antara manusia dengan manusia, dan hubungan yang harmonis
antara manusia dengan lingkungannya. Tiga hal yang menyebabkan
terjalinnya keharmonisan tersebut, menjadi begitu penting untuk dijadikan
sudut pandang dalam memandang Babad Dalem Tarukan.
c. Nilai-nilai pendidikan agama Hindu yang terkandung dalam babad Dalem
Tarukan ialah nilai pendidikan tattwa, susila, dan upacara. Dapat dilihat dari
nilai pendidikan tattwa, Babad Dalem Tarukan menuangkan dengan jelas,
bahwa adanya keyakinan terhadap para dewa dan juga kekuatan-kekuatan
gaib. Hal tersebutlah yang dalam hal ini menunjukkan nilai pendidikan
tattwa yang memang menekankan kepada aspek keyakinan terhadap Tuhan
dan mengenai penting pula menghormati leluhur.
Nilai pendidikan susila yang terdapat di dalam Babad Dalem Tarukan yakni,
adanya tahapan-tahapan kehidupan yang patut dilewati oleh manusia secara
umum.tingkatan-tingkatan tersebut ialah tingkatan brahmacari, grehasta,
wanaprasta, dan biksuka.
Nilai pendidikan upacara yang terdapat di Babad Dalem Tarukan yakni,
Dalem Tarukan memperistri anak dari Ki Dukuh Darmaji yang awalnya
merupakan orang yang menikahkannya dengan anak Ki Dukuh Pantunan.

249


JURNAL
PENDIDIKAN
INSTITUT KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN (IKIP) PGRI BALI

DAFTAR PUSTAKA
Ahmadi, Abu. 2009. Ilmu Sosial Dasar. Jakarta: Rineka Cipta.
Bagus, Lorens. 2000. Kamus Filsafat. Jakarta : Gramedia Pustaka Utama.
Bana, I Wayan. 2012. “Ajaran Samnyasa Dalam Menawa Dharmasastra (Kajian
Pendidikan Agama Hindu)”. Denpasar : IHDN.
Dherana. Ida Bagus. 1982. Pedoman Penyusunan Awig-Awig. Denpasar: Upada Sastra.
Djamarah, Syaiful Bahri. 2002. Psikologi Belajar. Jakarta: Rineka Cipta.
Gama, I Wayan. 2002. “Reformasi Agama Hindu Menuju Kebertahanan Sradha dalam
Menjawab Tantangan Masa Kini”. Tesis (tidak diterbitkan). Program Pascasarjana
Universitas Udayana Program Studi Magister (S2) Kajian Budaya. Denpasar.
Geriya, I Wayan. 2000. Transformasi Kebudayaan Bali Memasuki Abad XXI, Denpasar:
Dinas Kebudayaan Bali.
Hasan, Iqbal. 2004. Metode Penelitian dan Aplikasinya. Jakarta: Ghalia Indonesia.
Kadjeng, I Nyoman dkk. 1990. Sarasamuscaya. Jakarta : Departemen Agama RI.
Moleong, Lexy J, 2002. Metodologi Penelitian Kualitatif, Bandung : Remaja Rosda
Karya.
Moleong, Lexy J. 2010. Metodologi Penelitian Kualitatif (EdisiRevisi). Cetakan Kedua
Puluh Delapan. Bandung: Rosdakarya.
Mulyadi, Sri Wulan Rujiati. 1994. Kodikologi Melayu di Indonesia. Depok: UI.
Mustika, I Gede. 2012. Ajaran Samnyasa Dalam Menawa Dharmasastra (Kajian
Pendidikan Agama Hindu). Denpasar : IHDN
Nurgiyantoro, Burhan. 2010. Teori Pengkajian Fiksi. Yogyakarta: Gajah Mada
University Press.
Panitia Pelaksana Seminar Kesatuan Tafsir. 2007. Keputusan Seminar Kesatuan Tafsir
Terhadap Aspek-Aspek Agama Hindu. Surabaya : Paramita.
Pulasari, Jro Mangku .2009. “Dinasti Sri Aji Kresna Kepakisan Babad Dalem Tarukan
Lan Bisama Ida Bhatara Dalem Tarukan”. Surabaya : Paramita
Raho. 2007. Pengantar Teori Sastra. Yogyakarta: CAPS.
Ratna, Nyoman kutha. 2010. Teori, Metode, dan Tekhnik Penelitian Sastra. Yogyakarta:
Pustaka Pelajar.
Riana, I Ketut. 2011. Lelintihan Sang Catur Sanak Bali Kayu Selem, Celagi, Tarunyan,
Kaywan Balingkang, lan Warga Bali Aga. Bali : Yayasan Tan Mukti Palapa.

250


NOMOR 22 TAHUN XVIII Oktober 2017
ISSN 1907-3232

PENERAPAN MODEL PEMBELAJARAN PROBLEM SOLVING
SEBAGAI UPAYA MENINGKATKAN PRESTASI BELAJAR IPA
SISWA KELAS VIB SD NEGERI 1 PEMECUTAN SEMESTER I
TAHUN PELAJARAN 2016/2017

OLEH

I MADE ARKA

ABSTRACT

Lessons that have been implemented so far are more abstract. Learning by
way of doing not yet applied, so that students can not understand the material
presented by the teacher well. This results in low student achievement. Therefore
it is necessary to model or the appropriate method of teaching to teach them to be
easy in accepting lessons that are more likely to be abstract. Application of active
learning through problem solving model of Learning Solving strived to be able to
improve student achievement in VIB SD Negeri 1 Pemecutan semester I of course
2016/2017 which serve as research location. The goal, for student achievement
achieved can be improved in accordance with Expected Learning Criteria is
expected. To know the level of success of the implementation of the action test of
learning achievement which then analyzed descriptively. The conclusion of this
research is Application of Problem Solving learning model can improve student's
learning achievement. This is evidenced from the results obtained in the
preliminary data until the second cycle ie, preliminary data shows the average
value of 65.38 with achievement of learning completeness reached 51.28%, cycle
I increased to an average score of 69.49 with the achievement of learning mastery
74 , 36%, even in the second cycle increased to an average value of 75.90 with
achievement achievement 94.87% learning achievement. It proves that the model
of Problem Solving learning applied by teachers in the learning process has been
able to improve students' learning achievement well, and this learning model can
be used as an alternative problem of Problem Solving which can be done by
teacher.
Keywords: Problem Solving, Learning Achievement

PENDAHULUAN
Peran penting yang dimiliki pelajaran IPA adalah membantu meningkatkan
kehidupan umat manusia. Mata pelajaran IPA Membantu mewujudkan suatu kehidupan
yang bermakna, damai dan bermartabat sesuai keilmuan yang ada di dalamnya. Oleh
karenanya internalisasinya dalam kehidupan pribadi peserta didik harus diupayakan guru.

251


JURNAL
PENDIDIKAN
INSTITUT KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN (IKIP) PGRI BALI

Pendidik yang profesional tentu harus mampu meningkatkan mutu pendidikan dan
mampu mendorong agar mereka bisa tumbuh dan berkembang mengikuti kebenaran ilmu
yang diterima. Guru harus tidak selalu puas terhadap pelaksanaan pembelajaran yang
dilakukan. Dasar pemikiran tersebut menuntut guru harus selalu mengembangkan pola
berpikir dan menuangkannya secara kreatif dan inovatif demi peningkatan kualitas diri dan
kualitas pembelajaran yang dilaksanakan nya. Sebagai pendidik yang profesional harus
giat menyiapkan diri menerima perkembangan dan kemajuan teknologi serta kemajuan
bidang tugasnya yang mesti dibarengi pula dengan peningkatan kemampuan diri seiring
dengan kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi. Mengajar secara rutin dengan
mempergunakan pola yang tetap, tidak akan memungkinkan guru mampu
mengembangkan profesinya secara efektif. Oleh karenanya kemajemukan model harus
diupayakan. Kreatifitas dan inisiatif guru harus dimotivasi dan dimanfaatkan secara
konkrit, agar mereka memperoleh pengalaman profesional dalam meningkatkan
kemampuan dalam bidang pendidikan. Dengan demikian, guru dapat mewujudkan ide-ide
yang dapat memberi sumbangsih nyata dengan tujuan untuk memperbaiki serta
mengembangkan proses pembelajaran siswa.
Cara untuk menjalankan tugas pembelajaran dengan baik dan maksimal adalah
mencermati setiap tindakan pembelajaran yang telah dilaksanakan . Semua hal yang
diupayakan di atas adalah harapan yang mesti diupayakan guru sewaktu melakukan proses
belajar mengajar. Guru harus mampu mewujudkan hal tersebut dengan kebenaran hati
yang paling dalam.
Keberhasilan pelaksanaan tugas dan tanggung jawab tersebut tentu akan berdampak
positif dalam dunia pendidikan. Dampak positif tersebut antara lain berupa: (1)
peningkatan kemampuan dalam menyelesaikan masalah pendidikan dan masalah
pembelajaran yang dihadapi secara nyata; (2) peningkatan kualitas masukan (input),
proses (proces) dan hasil belajar (output); (3) peningkatan keprofesionalan pendidik; (4)
penerapan prinsip pembelajaran bebasis penelitian. Ternyata upaya peningkatan kualitas
pembelajaran melalui peningkatan kualitas pendidikan ini hanya bisa dilakukan setelah
diadakan penelitian tindakan kelas oleh guru yang bersangkutan.
Perlu diakui bahwa kelemahan-kelemahan yang terjadi selama proses pembelajaran
yang menyebabkan rendahnya prestasi belajar siswa, tidak sepenuhnya disebabkan oleh
faktor luar seperti kesibukan guru, keadaan rumah tangga, lingkungan dan lain-lain, tetapi

252


NOMOR 22 TAHUN XVIII Oktober 2017
ISSN 1907-3232

banyak pula dipengaruhi oleh faktor yang berasal dari dalam guru itu sendiri seperti
kemauan menyiapkan bahan yang lebih baik, termasuk menerapkan model-model
pembeajaran yang kontekstual. Di samping itu guru juga kurang mampu mengembangkan
keterampilan mengajar yang dapat menarik perhatian siswa dan merangsang motivasi
siswa untuk belajar. Rendahnya prestasi belajar awal siswa yang baru mencapai rata-rata
65,38 dengan ketuntasan belajar 51,28 % menuntut diupayakan pembelajaran yang lebih
baik. Rendahnya kemampuan siswa tersebut disebabkan oleh faktor luar dan faktor dalam
baik dari siswa sendiri maupun dari pihak guru. Dari guru yaitu boleh jadi metode
pembelajaran yang digunakan tidak sesuai dan tidak efektif sehingga proses pembelajaran
cenderung membuat siswa menjadi pasif dalam menerima materi pelajaran, sedangkan
dari siswa antara lain kurangnya motivasi untuk mempelajari mata pelajaran IPA karena
dianggap materinya susah untuk dipelajari dan membosankan. Hal-hal tersebut
mempengaruhi prestasi belajar siswa, khususnya siswa kelas VIB SD Negeri 1 Pemecutan.
KAJIAN PUSTAKA
Dalam kajian teori ini peneliti menyampaikan beberapa pendapat para ahli.
Menurut N.Sudirman (1987:146) metode problem solving adalah cara penyajian bahan
pelajaran dengan menjadikan masalah sebagai titik tolak pembahasan untuk dianalisis dan
disintesis dalam usaha untuk mencari pemecahan atau jawabannya oleh siswa. Sedangkan
menurut Gulo (2002:111) menyatakan bahwa problem solving adalah metode yang
mengajarkan penyelesaian masalah dengan memberikan penekanan pada terselesaikannya
suatu masalah secara menalar.
Dalam pelaksanaan pembelajaran sehari-hari metode pemecahan masalah banyak
digunakan guru bersama dengan penggunaan metode lainnya. Dengan metode ini guru
tidak memberikan informasi dulu tetapi informasi diperoleh siswa setelah memecahkan
masalahnya. Pembelajaran pemecahan masalah berangkat dari masalah yang harus
dipecahkan melalui praktikum atau pengamatan.
Suatu soal dapat dipandang sebagai “masalah” merupakan hal yang sangat relatif.
Suatu soal yang dianggap sebagai masalah bagi seseorang, bagi orang lain mungkin hanya
merupakan hal yang rutin belaka. Dengan demikian, guru perlu berhati-hati dalam
menentukan soal yang akan disajikan sebagai pemecahan masalah. Bagi sebagian besar
guru untuk memperoleh atau menyusun soal yang benar-benar bukan merupakan masalah
rutin bagi siswa mungkin termasuk pekerjaan yang sulit. Akan tetapi hal ini akan dapat

253


JURNAL
PENDIDIKAN
INSTITUT KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN (IKIP) PGRI BALI

diatasi antara lain melalui pengalaman dalam menyajikan soal yang bervariasi baik bentuk,
tema masalah, tingkat kesulitan, serta tuntutan kemampuan intelektual yang ingin dicapai
atau dikembangkan pada siswa.
Pembelajaran problem solving merupakan bagian dari pembelajaran berbasis masalah
(PBL). Menurut Arends (2008 : 45) pembelajaran berdasarkan masalah merupakan suatu
pendekatan pembelajaran di mana siswa mengerjakan permasalahan yang otentik dengan
maksud untuk menyusun pengetahuan mereka sendiri.
Pada pembelajaran berbasis masalah siswa dituntut untuk melakukan pemecahan
masalah-masalah yang disajikan dengan cara menggali informasi sebanyak-banyaknya,
kemudian dianalisis dan dicari solusi dari permasalahan yang ada. Solusi dari
permasalahan tersebut tidak mutlak mempunyai satu jawaban yang benar artinya siswa
dituntut pula untuk belajar secara kritis. Siswa diharapkan menjadi individu yang
berwawasan luas serta mampu melihat hubungan pembelajaran dengan aspek-aspek yang
ada di lingkungannya.
Dari pendapat di atas maka dapat disimpulkan model pembelajaran problem solving
adalah suatu penyajian materi pelajaran yang menghadapkan siswa pada persoalan yang
harus dipecahkan atau diselesaikan untuk mencapai tujuan pembelajaran. Dalam
pembelajaran ini siswa diharuskan melakukan penyelidikan otentik untuk mencari
penyelesaian terhadap masalah yang diberikan. Mereka menganalisis dan
mengidentifikasikan masalah, mengembangkan hipotesis, mengumpulkan dan
menganalisis informasi dan membuat kesimpulan.
Djamarah (1994:23) mendefinisikan prestasi belajar sebagai hasil yang diperoleh berupa
kesan-kesan yang mengakibatkan perubahan dalam diri individu sebagai hasil dari
aktivitas dalam belajar. Kalau perubahan tingkah laku adalah tujuan yang mau dicapai dari
aktivitas belajar, maka perubahan tingkah laku itulah salah satu indikator yang dijadikan
pedoman untuk mengetahui kemajuan individu dalam segala hal yang diperolehnya di
sekolah. Dengan kata lain prestasi belajar merupakan kemampuan-kemampuan yang
dimiliki oleh siswa sebagai akibat perbuatan belajar atau setelah menerima pengalaman
belajar, yang dapat dikatagorikan menjadi tiga ranah, yakni ranah kognitif, afektif, dan
psikomotor.
Slameto (2003: 54-70) bahwa faktor-faktor yang mempengaruhi belajar banyak jenisnya,
tetapi dapat digolongkan menjadi dua golongan saja, yaitu faktor intern dan faktor ekstem.

254


NOMOR 22 TAHUN XVIII Oktober 2017
ISSN 1907-3232

Faktor intern diklasifikasi menjadi tiga faktor yaitu: faktor jasmaniah, faktor psikologis
dan faktor kelelahan. Faktor jasmaniah antara lain: kesehatan, cacat tubuh. Faktor
psikologis antara lain: intelegensi, perhatian, minat, bakat, motif, kematangan, kesiapan.
Faktor kelelahan antara lain: kelelahan jasmani dan rohani. Sedangkan faktor ekstern
digolongkan menjadi tiga faktor yaitu: faktor keluarga, faktor sekolah, faktor masyarakat.
Faktor keluarga antara lain: cara orang tua mendidik, relasi antara keluarga, suasana rumah
tangga dan keadaan ekonomi keluarga. Faktor sekolah antara lain: metode mengajar,
kurikulum, relasi guru dengan siswa, relasi siswa dengan siswa, disiplin sekolah, pelajaran
dan waktu sekolah, standar pelajaran, keadaan gedung, metode belajar dan tugas rumah.
Faktor masyarakat antara lain: kegiatan siswa dalam masyarakat, mass media, teman
bergaul, bentuk kehidupan masyarakat. Peningkatan prestasi belajar yang peneliti teliti
dalam hal ini dipengaruhi oleh faktor ekstern yaitu metode mengajar guru.
Dari pendapat di atas dapat disimpulkan bahwa prestasi belajar adalah hasil usaha siswa
yang dapat dicapai berupa penguasaan pengetahuan, kemampuan kebiasaan dan
keterampilan serta sikap setelah mengikuti proses pembelajaran yang dapat dibuktikan
dengan hasil tes. Prestasi belajar merupakan suatu hal yang dibutuhkan siswa untuk
mengetahui kemampuan yang diperolehnya dari kegiatan yang disebut belajar.

METODEPENELITIAN
SD Negeri 1 Pemecutan dipergunakan sebagai tempat diadakan penelitian tindakan kelas
ini karena rendahnya prestasi belajar siswa. Situasi sekolah yang sejuk dan rindang karena
banyak pohon tumbuh di halaman sekolah dapat membuat proses pembelajaran terlaksana
dengan nyaman dan optimal.
Prosedur yang dilakukan adalah mengikuti rancangan ahli. Rancangan yang sudah dibuat
adalah rancangan menurut ahli pendidikan yang bernama Mc. Kernan, yang gambarnya
sudah disampaikan.
Hasil belajar yang diharapkan dalam penelitian ini dikumpulkan dengan memberikan tes
prestasi belajar kepada siswa. Metode yang digunakan untuk menganalisis data hasil
penelitian ini adalah metode deskriptif kuantitatif. Data kuantitatif dianalisis dengan
mencari mean, median, modus, membuat interval kelas dan melakukan penyajian dalam
bentuk tabel dan grafik.

255


JURNAL
PENDIDIKAN
INSTITUT KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN (IKIP) PGRI BALI

Instrumen Penelitian
Kisi-kisi disusun untuk memberikan acuan yang terarah dan terencana sebagai acuan
dalam menyusun instrumen agar tidak menyimpang dari alur yang sudah ditentukan.
Instrumen Penelitian untuk mendapatkan data yang diinginkan dalam penelitian ini,
peneliti menyusun instrumen berbentuk tes prestasi belajar.
Indikator Keberhasilan
Batas yang menentukan berakhirnya penelitian ini adalah apabla pada siklus I nilai siswa
mencapai rata-rata 69,49 dan pada siklus II rata-rata nilai siswa mencapai 75,90 dengan
minimal 80% atau lebih
HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN
Dalam menyampaikan hasil penelitian dan pembahasan, perlu menyajikan uraian
masing-masing siklus dengan data lengkap mulai dari perencanaan, pelaksanaan,
pengamatan/observasi dan refleksi yang berisi penjelasan tentang aspek keberhasilan dan
kelemahan yang terjadi. Perlu ditambahkan hal yang mendasar, yaitu hasil perencanaan
(kemajuan) pada diri siswa, lingkungan, guru, motivasi dan aktivitas belajar. Kemukakan
grafik dan tabel hasil analisis data yang menunjukkan perubahan yang terjadi disertai
pembahasan secara sistematis dan jelas (Suharsimi Arikunto, Suhardjono, Supardi, 2006:
83).
Pelaksanaan pembelajaran pada kegiatan awal kelas VIB semester I tahun pelajaran
2016/2017 diperoleh data, sebanyak 19 orang (48,72%) yang memperoleh nilai dibawah
rata-rata KKM dan 20 orang (51,28%) dari 39 siswa di kelas ini memperoleh nilai sesuai
dan di atas KKM.
Analisis yang dapat disampaikan pada pra siklus ini adalah penilaian terhadap
kemampuan siswa menerpa ilmu pada mata pelajaran IPA adalah, dari 39 siswa yang
diteliti, 20 (51,28 %) siswa memperoleh penilaian di atas KKM artinya mereka sudah
mampu menerpa ilmu sesuai harapan. 19 (48,72 %) siswa memperoleh penilaian di bawah
KKM artinya kemampuan mereka masih rendah. Hasil analisis ini menggambarkan bahwa
prestasi belajar siswa masih jauh dari tuntutan indikator keberhasilan penelitian yang
diusulkan, yaitu minimal mencapai nilai 70 sesuai KKM mata pelajaran IPA di sekolah
ini.
Sintesis artinya kumpulan dari beberapa hal yang bisa disimpulkan menjadi sesuatu
yang lebih jelas. Perkembangan mutu belajar siswa pada siklus I ini adalah dari 39 siswa

256


NOMOR 22 TAHUN XVIII Oktober 2017
ISSN 1907-3232

yang diteliti ternyata hasilnya belum sesuai dengan harapan. Dari perkembangan tersebut
diketahui adanya kekurangan yaitu pada penilaian hasil belajar mereka, hanya 29 orang
siswa (74,36 %) yang sudah mampu mencapai KKM dan 10 siswa (25,64 %) yang belum
mencapai KKM. Hasil tersebut menunjukan bahwa kemampuan siswa masih di bawah
tuntutan indikator keberhasilan yaitu minimal 80% siswa mampu mencapai nilai KKM.
Hasil yang diperoleh dengan pemberian tes prestasi belajar pada siklus II dapat
dijelaskan, dari 39 orang siswa yang diteliti sudah ada 37 siswa (94,87 %) mendapat nilai
rata-rata KKM dan melebihi KKM. Interpretasi yang muncul dari data tersebut adalah
bahwa mereka sudah sangat mampu melakukan apa yang disuruh. Ada 2 siswa (5,13 %)
yang mendapat nilai dibawah KKM yang artinya siswa tersebut belum mampu melakukan
apa yang disuruh. Analisis ini menunjukkan bahwa lebih dari setengah siswa sudah
mampu meningkatkan prestasi belajarnya. Dengan semua hasil tersebut dapat
dideskripsikan bahwa indikator keberhasilan penelitian yang diharapkan sudah terpenuhi.
Dari analisis kualitatif sudah disampaikan secara singkat, selanjutnya diberikan analisis
kuantitatifnya menggunakan data yang diperoleh adalah dalam bentuk angka.
Sintesis yang dapat disampaikan adalah pada siklus II, dari 39 siswa yang diteliti
ternyata hasilnya sudah sesuai dengan harapan. Dari perkembangan tersebut diketahui
hampir semua siswa sudah mampu untuk melakukan apa yang disuruh dengan baik. Pada
siklus II ini peserta didik sudah giat dan mau belajar untuk meningkatkan prestasinya. Dari
semua data yang sudah diperoleh tersebut dapat diberikan sintesis bahwa sebagian besar
siswa sudah mampu meningkatkan prestasi mereka, hal tersebut berarti indikator yang
diharapkan dicapai oleh siswa kelas VIB SD Negeri 1 Pemecutan sudah dapat dicapai.
Deskripsi hasil pra siklus sudah disampaikan pada latar belakang masalah sehingga
pembahasan ini dimulai dengan hasil pada siklus I.
Bagian pembahasan merupakan ruang bagi peneliti untuk menggambarkan hasil-hasil
yang diperoleh selama pelaksanaan penelitian. Hal-hal yang perlu diperhatikan dalam
pembahasan data kualitatif adalah: kelemahan-kelemahan yang ada, kelebihan-kelebihan,
perubahan-perubahan ,kemajuan-kemajuan, efketivitas waktu, keaktifan yang dilakukan,
konstruksi, kontribusi, diskripsi fakta, pengecekan validitas internal dan validitas
eksternal, identifikasi masalah, faktor-faktor yang berpengaruh, cara-cara untuk
memecahkan masalah, pertimbangan - pertimbangan, perbandingan - perbandingan,
komentar -komentar, tanggapan - tanggapan, tambahan pengalaman, summary, pendapat -

257


JURNAL
PENDIDIKAN
INSTITUT KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN (IKIP) PGRI BALI

pendapat, gambaran - gambaran, interpretasi / penafsiran - penafsiran, makna di belakang
perbuatan, trianggulasi, hubungan antar aspek, klasifikasi, standar-standar penetapan nilai,
alasan-alasan penggunan teknik tertentu, alasan penggunaan langkah - langkah tertentu,
penggolongan - penggolongan, tabulasi, pemakaian, kriteria-kriteria, katagorisasi,
pengertian - pengertian, hubungan antar kategori.
Pembahasan hasil yang diperoleh dari tes prestasi belajar siklus I. Hasil tes prestasi
belajar yang merupakan tes objektif memforsir siswa untuk betul-betul dapat memahami
apa yang sudah dipelajari. Nilai rata-rata siswa di siklus I sebesar 69,49 (74,36 %)
menunjukkan bahwa siswa telah menguasai materi yang diajarkan walaupun belum begitu
sempurna. Hasil ini menunjukkan peningkatan kemampuan siswa menguasai mata
pelajaran IPA jika dibandingkan dengan nilai awal siswa sesuai data yang sudah
disampaikan yaitu 65,38.
Tes prestasi belajar yang dilakukan telah menemukan efek bahwa penggunaan metode
tertentu akan berpengaruh terhadap prestasi belajar siswa yang dalam hal ini adalah model
pembelajaran Problem Solving
Mata pelajaran IPA menitikberatkan pembelajaran pada aspek kognitif, afektif, dan
psikomotor sebagai pedoman prilaku kehidupan sehari-hari siswa. Penggunaan model ini
dapat membantu siswa untuk berkreasi, bertukar pikiran, mengeluarkan pendapat,
bertanya, berargumentasi, bertukar informasi dan memecahkan masalah yang ada. Hal
inilah yang membuat siswa berpikir lebih tajam, lebih kreatif dan kritis sehingga mampu
untuk memecahkan masalah-masalah yang kompleks dan efek selanjutnya adalah para
siswa akan dapat memahami dan meresapi mata pelajaran IPA lebih jauh.
Kekurangan-kekurangan yang ada pada siklus I seperti belum maksimalnya diskusi yang
dilakukan peserta didik akibat ada peserta didik yang mendominasi waktu dipecahkan
dengan memberi penekanan agar tidak ada siswa yang mendominasi waktu dan
kekurangan terhadap keaktifan belajar dipecahkan dengan menggiatkan pemberian
pertanyaan-pertanyaan. Dengan begitu kiat peneliti sebagai guru melakukan tindakan
namun masih ada kendala yang perlu dibahas yaitu prestasi belajar yang dicapai pada
siklus I ini belum memenuhi harapan sesuai dengan kriteria keberhasilan penelitian yang
diusulkan pada mata pelajaran IPA di sekolah ini yaitu sesuai KKM 70 .
Pembahasan hasil yang diperoleh pada siklus II. Hasil yang diperoleh dari pelaksanaan
proses pembelajaran di siklus II menunjukkan bahwa kemampuan siswa dalam mengikuti

258


NOMOR 22 TAHUN XVIII Oktober 2017
ISSN 1907-3232

pelajaran sudah cukup baik. Ini terbukti dari rata-rata nilai siswa mencapai 75,90. Hasil ini
menunjukkan bahwa model pembelajaran Problem Solving telah berhasil meningkatkan
kemampuan siswa menempa ilmu sesuai harapan. Model Pembelajaran Problem Solving
merupakan model yang cocok bagi siswa apabila guru menginginkan peserta didiknya
mampu meningkatkan kemampuan untuk berkreasi, berargumentasi, mengeluarkan
pendapat secara lugas, bertukar pikiran, mengingat penggunaan metode ini adalah untuk
mengarahkan agar siswa lebih antusias, aktif, dan kreatif menerima pelajaran.
Hal pokok yang perlu menjadi perhatian yaitu hasil penelitian ini ternyata telah memberi
efek utama bahwa model yang diterapkan dalam proses pembelajaran berpengaruh secara
signifikan terhadap prestasi belajar siswa. Temuan ini membuktikan bahwa guru sudah
tepat memilih metode dalam melaksanakan proses pembelajaran karena pemilihan metode
merupakan hal yang tidak boleh dikesampingkan.
Dari nilai yang diperoleh siswa, masih tersisa 2 siswa mendapat nilai di bawah KKM,
sedangkan 37 siswa lainnya sudah memperoleh nilai memenuhi KKM yang ditetapkan.
Dari perbandingan nilai ini sudah dapat dibuktikan bahwa prestasi belajar siswa dapat
ditingkatkan dengan penggunaan model pembelajaran ini. Walaupun penelitian ini sudah
bisa dikatakan berhasil, namun pada saat-saat peneliti mengajar di kelas selanjutnya, cara
ini akan terus dicobakan termasuk di kelas-kelas lain yang peneliti ajar.
Setelah dibandingkan nilai awal, nilai siklus I dan nilai siklus II, terjadi kenaikan yang
signifikan, yaitu dari rata-rata nilai awal adalah 65,38 naik di siklus I menjadi 69,49 dan di
siklus II naik menjadi 75,90 Kenaikan ini tidak bisa dipandang sebelah mata karena
kenaikan nilai ini adalah dari upaya-upaya yang maksimal yang dilaksanakan peneliti
demi peningkatan mutu pendidikan dan kemajuan pendidikan khususnya di SD Negeri 1
Pemecutan.
PENUTUP
Berdasarkan semua temuan hasil penelitian yang telah disampaikan maka
simpulannya adalah model pembelajaran Problem Solving yang telah dilaksanakan
mampu menjawab rumusan masalah penelitian ini serta mampu membuktikan bahwa
tujuan penelitian ini sudah dapat dicapai.
Untuk mencapai tujuan pembelajaran dalam mata pelajaran IPA dapat disampaikan
saran-saran sebagai berikut :

259


JURNAL
PENDIDIKAN
INSTITUT KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN (IKIP) PGRI BALI

1. Model pembelajaran Problem Solving semestinya menjadi pilihan bagi guru-guru
karena model ini telah terbukti dapat meningkatkan kerjasama, berkreasi, bertindak aktif,
bertukar informasi, mengeluarkan pendapat, bertanya, berdiskusi, berargumentasi dan lain-
lain.
2. Penelitian ini sudah dapat menemukan efek utama bahwa model pembelajaran
Problem Solving mampu meningkatkan prestasi belajar. Walaupun demikian sudah pasti
dalam penelitian ini masih ada hal-hal yang belum sempurna dilakukan, oleh karenanya
kepada peneliti lain agar meneliti bagian-bagian yang belum sempat diteliti.
Selanjutnya untuk adanya penguatan-penguatan, diharapkan bagi peneliti lain untuk
melakukan penelitian lanjutan guna memverifikasi data hasil penelitian.

DAFTAR RUJUKAN

Arends, Richard I. (2008) . Learning to Teach Belajar untuk Mengajar. (Edisi Ketujuh/
Buku Dua). Terjemahan Helly Pajitno Soetjipto & Sri Mulyantini Soetjipto. Yogyakarta:
Pustaka Pelajar
Arikunto, Suharsimi; Suhardjono; Supardi. 2006. Penelitian Tindakan Kelas. Jakarta: PT
Bumi Aksara.
Dahar, Ratna Willis.1989.Teori-Teori Belajar. Jakarta: Penerbit Erlangga.
Dimyati dan Mudjiono.2001. Belajar dan Pembelajaran. Jakarta: Dirjen Dikti.
Djamarah, Syaful Bahri. 2002. Prestasi Belajar dan Kompetensi Guru. Surabaya: Usaha
Nasional.
Gulo, W. (2002). Strategi Belajar Mengajar. Jakarta : PT. Grasindo
Liasari.2000. Model Pembelajaran untuk Meningkatkan Ketrampilan Berpikir Konseptual
Tingkat Tinggi Calon Guru IPA. Praseding Seminar Nasional 23 Pebruari 2000. Malang:
Dirjen Dikti Depdiknas – JICA – IMSTEP.
Miles, Matthew B. Dan A. Michael Hubberman. 1992. Analisis Data Kualitatif.
Terjemahan Tjetjep Roheadi Rohidi. Jakarta: Penerbit Universitas Indonesia.
Slameto. 2000. Belajar dan Faktor-Faktor yang Mempengaruhinya. Jakarta: Rineka Cipta.
Sudirman,dkk. (1987.) Ilmu Pendidikan. Bandung: Remadja Karya

260


NOMOR 22 TAHUN XVIII Oktober 2017
ISSN 1907-3232

SENI LUKIS TRADISIONAL PENGOSEKAN: KONTINUITAS DAN
PERUBAHAN

NI PUTU LARAS PURNAMASARI

ABSTRACT

Pengosekan village is one of traditional villages in Ubud, that some of its
villager still have profession as traditional painter. The interesting point of
Pengosekan traditional painting is on its artistic value, from every painting theme.
The development of Pengosekan traditional painting had experienced its up and
down position, associated with some events such as the Bali Bombing I and II,
and the development of modern painting ini Bali.
This study aims to reveal the continuity of Pengosekan traditional
painting, and knowing the factors that influence change of its work visualization.
Therefore, the methods used in this research is literature study, field
observation, interview, and documentation. The data obtained will were analyzed
using qualitative data analysis. The approach used to discuss the continuity of
Pengosekan traditional painting, and the change of its work visualization is
aesthetic approach. This approach is assisted by the approach of other sciences,
such as anthropology, history, and sociology. The change in the work
visualization is analyzed based on its color, shape, line, space, composition,
lighting, and technique. The factors that cause the occurrence of continuity and
change, are analyzed from internal and eksternal term. The impacts which are
analized include the economical, social, and cultural impact.
The result shows that Pengosekan traditional painting is still being
processed continuously by the painter in Pengosekan, since 1980 until 2013. The
continuity which is occured is accompanied by the changes in term of object,
color, shape, composition, space, and technique. The changes which is occured
cannot be separated from the internal and external factor. The internal factor is
derived from the painter's desire to always improve the quality of his work, with
creative and innovative way. The external factor is derived from the environment
which gives a lot of inspiration, the expertise of formal and non-formal education,
the development of modern painting in Bali, technology and information media,
and tourism. The existence of Pengosekan traditional painting has impact on the
increasing level of the economy. Children who learn traditional painting will also
be educated to be discipline and appreciate the time.

Keywords: Pengosekan traditional painting, continuity, changes
A. Pengantar
Pengosekan merupakan salah satu desa adat di wilayah kecamatan Ubud,
yang sampai saat ini beberapa penduduknya masih menekuni profesi sebagai
pelukis tradisional. Perkembangan dan perubahan pada visualisasi lukisan
tradisional Pengosekan mulai tampak sejak tahun 1980-an. Ditandai dengan

261


JURNAL
PENDIDIKAN
INSTITUT KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN (IKIP) PGRI BALI

munculnya lukisan berbentuk dekoratif, bertema flora dan fauna yang melukiskan
objek binatang, burung, pepohonan, daun, dan bunga berwarna-warni, yang
dikerjakan dengan teknik tradisional. Lukisan bertema kehidupan sehari-hari dan
mitologi yang telah ada sebelumnya juga berkembang, dengan eksplorasi tema
yang bergeser lebih maju serta karakter subjek gambar yang mulai mengarah pada
gaya indvidu pelukis.
Lukisan tradisional Pengosekan banyak dijual diberbagai galeri dan art
shop di daerah Pengosekan, juga di wilayah Ubud dan sekitarnya, beberapa
pelukis juga aktif mengikut sertakan lukisannya dalam berbagi pameran. Dampak
yang diperoleh adalah mulai dikenalnya seni lukis tradisional Pengosekan oleh
para wisatawan baik domestik maupun luar negeri. Lukisan-lukisan tersebut
kemudian banyak dipesan dan dibeli para wisatawan sebagai cenderamata.
Banyak juga dimanfaatkan sebagai elemen estetis interior, baik rumah tinggal,
hotel, penginapan, ataupun sekolah yang dibuat dalam berbagai ukuran.
Kegiatan melukis di Pengosekan sempat surut sejak terjadi Bom Bali I dan
II. Peristiwa ini menyebabkan wisatawan luar negeri maupun domestik takut
untuk berkunjung ke Bali. Dampak bagi pelukis adalah turunnya angka penjualan
lukisan. Beberapa pelukis kemudian beralih pada pekerjaan lain yang lebih
menjanjikan, dan kegiatan melukis hanya dikerjakan pada waktu luang atau saat
libur.
Seni lukis tradisional Pengosekan merupakan seni tradisi dan kebudayaan
lokal, yang telah mengalami pasang surut dalam perkembangannya. Ditinjau dari
segi visual senantiasa mengalami perkembangan dan perubahan. Dari beberapa
karya lukisan Pengosekan yang merupakan koleksi museum maupun koleksi
pelukis, ataupun yang terdapat pada buku-buku dan katalog seni rupa
menunjukkan, bahwa sejak tahun 1980-an sampai saat ini telah terjadi beberapa
perubahan pada visualisasi seni lukis tradisional Pengosekan. Ditengarai ada
sejumlah faktor yang mempengaruhi terjadinya perubahan itu. Penelitian ini
bertujuan untuk mengungkap kontinuitas yang terjadi serta perubahan pada seni
lukis tradisional Pengosekan, ditinjau dari segi visual beserta sejumlah faktor
yang mempengaruhi.

262


NOMOR 22 TAHUN XVIII Oktober 2017
ISSN 1907-3232

B. Sejarah Perkembangan Seni Lukis Tradisional Pengosekan dan Ciri
Khas Visual Karyanya
Perkembangan seni lukis tradisional di daerah Ubud, termasuk di
Pengosekan terjadi setelah adanya interaksi antara para pelukis lokal, dengan para
pelukis Barat yang berkunjung ke Ubud pada kisaran perempat abad 20. Para
pelukis asing itu antara lain Walter Spies, Rudolf Bonnet, Le Mayeur, Antonio
Blanco, dan Arie Smit. Mereka diminta untuk berkarya di Ubud, dengan tujuan
untuk memajukan seni dan budaya Bali. Para pelukis asing itu kemudian berusaha
untuk membimbing dan memotivasi para pelukis lokal, untuk lebih
mengembangkan potensi yang dimiliki, seperti berani dalam mengambil tema-
tema lukisan yang lebih luas. Untuk mewadahi berbagai perkembangan dan
aktivitas para pelukis, maka pada tanggal 29 Januari 1936 dibentuk organisasi Pita
Maha. (Picard, 2006). Organisasi Pita Maha didirikan oleh Tjokorda Gde Agung
Sukawati bersama dengan Walter Spies dan Rudolf Bonnet, serta didukung oleh
beberapa seniman asing lainnya, seniman-seniman Bali, dan juga para pecinta
seni. Organisasi ini memfasilitasi dalam hal distribusi cat, kuas, kertas, kegiatan
pameran, dan berkontribusi dalam hal pemasaran lukisan. Berbagai kegiatan yang
dilakukan mendapat dukungan dari Java Institut yang berpusat di Batavia
(Jakarta). Pita Maha kemudian mulai melakukan pameran diberbagai kota besar di
Indonesia.
Perkembangan pada seni lukis tradisional Pengosekan setelah berdirinya
Pita Maha, adalah adanya pemahaman pelukis mengenai persepektif, anatomi,
proporsi, pencahayaan, dan pengaturan ruang. Para pelukis mulai melukiskan
aktivitas keseharian mereka, dengan objek-objek pendukung seperti rumah, pura,
pepohonan, atau pemandangan alam yang dilukis dengan menerapkan prinsip
persepektif. Secara teknik para pelukis mulai menerapkan teknik chiaroscuro
(gelap terang) yang digunakan Bonnet, sehingga figur manusia atau binatang
tampil lebih plastis dan anatomis. Komposisi yang umumnya penuh sesak mulai
terlihat lenggang. Dari tematika cerita Hindu yang magis dan penuh makna
filosofis, bergeser menjadi tema-tema keseharian masyarakat yang terjadi di
sekitar pelukis, seperti upacara ritual, pertunjukkan tari, atau kegiatan bertani.
Para pelukis juga mempergunakan alat dan media yang didatangkan langsung dari

263


JURNAL
PENDIDIKAN
INSTITUT KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN (IKIP) PGRI BALI

negeri Belanda, seperti cat tempera, cat air, cat akrilik, tinta, kuas, dan kertas,
meskipun masih sangat terbatas. Harga dari bahan melukis itu juga cukup mahal
karena didatangkan langsung dari luar negeri. Tersedianya berbagai material
tersebut mendorong pelukis untuk lebih bereksplorasi dalam berkarya.
Para pelukis di desa Pengosekan kemudian mulai mengelompokan diri,
untuk memudahkan dalam mengadakan hubungan dan pembinaan yang
berkesinambungan. Hingga pada akhirnya, mulai banyak sanggar atau kelompok
seni lukis tradisional bermunculan di daerah Pengosekan, seperti Community of
Artist Pengosekan di bawah bimbingan I Dewa Nyoman Batuan, Communal of
Artist di bawah bimbingan Dewa Putu Anom, kelompok I Made Bina, dan
kelompok I Dewa Putu Sena. Dalam perkembangan selanjutnya banyak para
pelukis yang membuat studio, dan mengajak sanak saudara serta kerabatnya untuk
belajar melukis. Para pelukis menjadi lebih semangat dalam berkarya, mereka
juga mulai melakukan eksperimen-eksperimen yang mendukung perkembangan
lukisan tradisional Pengosekan yang sudah ada. Hingga akhirnya sejak awal tahun
1980-an seni lukis tradisional Pengosekan mulai menemukan ciri khasnya, yang
terlihat dari lukisan flora dan fauna.
C. Ciri Khas Visual Lukisan Tradisional Pengosekan
Seni lukis tradisional Pengosekan merupakan pengembangan dari seni
lukis tradisional gaya Ubud, yang membentuk seni lukis gaya baru di daerah
kecamataan Ubud. Gaya yang tentunya berbeda dengan lukisan tradisional lain di
wilayah Ubud. Gaya adalah variasi formal di dalam kebudayaan material yang
mengandung informasi tentang identitas personal dan sosial. Setiap anggota
masyarakat memiliki cara sendiri-sendiri dalam mengungkapkan identitas
budayanya, yang lebih sebagai ekspresi individual. Hal itulah yang disebut dengan
identitas personal, adapun gaya sebagai ungkapan identitas sosial adalah suatu
gaya yang menunjukkan identitas kultural dari suatu kelompok masyarakat atau
suku (Sumaryono, 2011)
Pada seni lukis tradisional Pengosekan, gaya yang lebih merupakan
identitas personal terlihat dari lukisan mitologi dan kehidupan sehari-hari. Hal ini
dikarenakan tidak banyak pelukis yang menekuni tema ini. Mayoritas pelukisnya
adalah golongan tua yang umumnya telah merasa mapan pada tema tersebut, dan

264


NOMOR 22 TAHUN XVIII Oktober 2017
ISSN 1907-3232

memiliki ciri khas visual pada karyanya. Sedangkan lukisan flora dan fauna masih
dapat dikatakan sebagai identitas sosial, karena tema tersebut masih dikerjakan
oleh sebagian besar pelukis pengosekan. Meskipun secara visual setiap pelukis
memiliki ciri khas yang membedakan satu dengan yang lain, namun secara garis
besar masih menunjukkan karakter lukisan Pengosekan.
a. Lukisan flora dan fauna
Lukisan flora dan fauna yang berkembang di desa Pengosekan saat ini
memang terkesan modern. Hal itu terlihat dari pewarnaan maupun bentuk yang
mengarah pada bentuk realistik, namun jika diamati dari teknik pengerjaan dan
alat yang digunakan masih sangat kuat berakar pada tradisi. Jean Couteau
mengungkapkan, bahwa estetika khas Bali akan tetap terjaga hingga kelak
dikemudian hari jika teknik warisan leluhur itu dapat diekspresikan kembali
dengan suatu kreativitas yang semakin individual (Jean Couteau, 2006.
Pada pengerjaan lukisan tradisional, proses ngabur (membuat gradasi
warna) adalah tahapan melukis yang tidak dapat dihilangkan, karena hal itu akan
sangat mempengaruhi hasil akhir lukisan. Tahapan lain yang juga tidak dapat
dihilangkan adalah proses ngontur (memberi kontur pada setiap objek) dengan
tinta hitam, yang diterapkan saat tahap finishing. Proses ngontur menjadi penting
karena jika proses tersebut tidak lagi digunakan, maka dapat dikatakan lukisan
tersebut tidak dikerjakan dengan teknik tradisional. Pemberian kontur disetiap
objek akan menguatkan kesan dekoratif yang menjadi ciri khas seni lukis
tradisional Bali. Pada lukisan modern yang menghadirkan bentuk objek secara
realistik, umumnya tidak memberikan kontur pada setiap objeknya. Gradasi
warnanya juga dikerjakan dengan sangat halus menyerupai warna asli dari objek.
Beberapa pelukis flora dan fauna di Pengosekan meskipun telah
memodivikasi teknik melukis tradisional, namun proses ngabur dan ngontur tetap
tidak ditinggalkan. Para pelukis bahkan tetap menggunakan kuas dan pena yang
dibuat sendiri dari bambu, sebagai alat pokok dalam melukis. Gradasi warna yang
dihasilkan dari proses ngabur dengan menggunakan kuas dan pena bambu,
memiliki karakter tersendiri yang membedakan dengan hasil ngabur dengan kuas
buatan pabrik. Hal ini karena kuas bambu memiliki tekstur bulu yang lebih kaku,
sehingga tone warna masih terlihat dengan jelas. Sedangkan kuas buatan pabrik

265


JURNAL
PENDIDIKAN
INSTITUT KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN (IKIP) PGRI BALI

dengan bulu yang lebih halus, akan menghasilkan sapuan warna yang juga jauh
lebih halus, sehinga tone warna tidak terlalu tampak.
Lukisan bertema flora dan fauna memang tidak hanya terdapat di
Pengosekan, ada beberapa desa lain di Ubud yang juga menekuni lukisan
tradisional dengan tema flora dan fauna. Di desa Petulu yang masih banyak
dijumpai burung bangau, muncul lukisan dengan objek burung bangau dan
pemandangan sawah sebagai latar belakangnya. Lukisan flora dan fauna yang
berkembang di banjar Kutuh, desa Sayan, Ubud banyak mengambil objek
pemandangan alam, dengan pohon-pohon rindang, tanaman bunga, bebukitan,
gunung, sawah, sungai, dengan objek binatang seputar burung. Dalam
pengerjaannya sangat memperhatikan mengenai detail warna dan bentuk, dimana
setiap objek dikerjakan dengan perhatian yang sama sehingga secara keseluruhan
terlihat realistik. Persepektif dan pencahayaan pada lukisan menyerupai lukisan-
lukisan Walter Spies, yang mengarah pada bentuk imajinatif dan bebas. Pelukis
juga bermain dalam judul, yang merupakan refleksi dari pikirannya. Pada
umumnya para pelukis mengambil objek yang seragam, mengikuti lukisan yang
sedang banyak dipesan oleh wisatawan.
Hal yang berbeda dari lukisan flora dan fauna di Pengosekan adalah tidak
hadirnya unsur pemandangan alam, seperti gunung, bebukitan, persawahan, danau
sebagai latar belakang lukisan. Objek yang dilukiskan sederhana, seperti burung
Nuri yang sedang hinggap di dahan pohon, atau kupu-kupu yang hinggap pada
bunga Anggrek. Pelukis hanya melukiskan bagian yang paling menarik dari objek
flora maupun fauna, namun dikerjakan dengan detail. Warna yang banyak
digunakan adalah warna-warna soft, yang mengarah pada warna pastel. Beberapa
lukisan juga masih menggambarkan cerita Tantri yang banyak memuat pesan
moral dan kebaikan.
b. Lukisan Mitologi
Ciri khas lukisan mitologi yang berkembang di Pengosekan adalah
penggambaran figur manusia yang cenderung dua dimensi, sehingga masih
terlihat seperti wayang. Posisi badan, wajah, dan kaki dibuat menyamping, dengan
jari-jari kaki yang tampak semua. Bentuk badan mengacu pada proporsi bentuk
tubuh manusia, digambarkan berdiri tegak dan saling berjajar. Anatomi dan

266


NOMOR 22 TAHUN XVIII Oktober 2017
ISSN 1907-3232

pencahayaan juga diterapkan namun tidak diperhatikan secara detail, sehingga
secara keseluruhan masih terlihat flat. Objek-objek lainnya seperti binatang,
tumbuh-tumbuhan, bunga, awan digayakan menurut karakter pelukis. Beberapa
objek dibuat dalam bentuk ragam hias Bali, seperti pepatran (ragam hias dalam
bentuk tumbuh-tumbuhan) sehingga menunjukkan kesan dekoratif (Mikke
Susanto, 2002).
Lukisan mitologi yang berkembang di luar desa Pengosekan, umumnya
menghadirkan bentuk figur yang lebih realistik. Bentuk wajah dibuat menyerupai
wajah manusia, dengan detail pengerjaan pada bentuk mata, hidung, dan bibir.
Pelukis juga memperhatikan anatomi tangan dan kaki, begitu juga detail pada
bentuk jari-jari. Bentuk badan juga menerapkan proporsi tubuh manusia, dengan
gerakan yang lebih luwes. Pada bentuk objek lainnya juga dikerjakan dengan
perhatian yang sama. Dari segi pewarnaan tidak terlalu menunjukkan adanya
perbedaan. Lukisan mitologi di Pengosekan maupun di daerah lain di wilayah
Ubud, cenderung berwarna cerah dan kontras, beberapa yang lainnya berwarna
monokrom sesuai keinginan pelukis.
c. Lukisan Kehidupan Sehari-hari
Sejak memasuki tahun 1980, tidak banyak pelukis Pengosekan yang
menekuni tema kehidupan sehari-hari. Kebanyakan dari mereka adalah pelukis
golongan tua yang pernah tergabung dalam Pita Maha, dan mendapat bimbingan
langsung dari Rudolf Bonnet dan Walter Spies. Karakter visual lukisan mereka
juga terpengaruh oleh gaya lukisan Bonnet dan Spies, yang terlihat dari anatomi
dan proporsi pada figur, penerapan persepektif, dan pencahayaan. Mereka juga
memiliki ciri khas masing-masing yang membedakan satu dengan yang lain.
Salah satu pelukis Pengosekan yang konsisten melukiskan tema-tema
kehidupan sehari-hari adalah I Dewa Putu Mokoh. Dimulai sejak tahun 1980
sampai akhir hayatnya pada tahun 2010. Pada awal mulai melukis beliau banyak
mendapat bimbingan dari Rudolf Bonnet dan I Gusti Ketut Kobot, meskipun
begitu lukisannya memiliki karakter khas yang membedakan dengan lukisan
Bonnet dan Kobot, bahkan lukisan kehidupan sehari-hari lainnya di wilayah
Ubud. Mokoh banyak melukiskan aktivitas kehidupan masyarakat Bali dengan
objek-objek yang lucu, naif, sederhana, dan cenderung nakal, seperti lukisan yang

267


JURNAL
PENDIDIKAN
INSTITUT KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN (IKIP) PGRI BALI

menggambarkan seorang wanita yang sedang tidur-tiduran di ranjang bambu,
kemudian sebentuk tangan terjulur menarik kain wanita itu. Lukisan yang lain
menggambarkan figur anak-anak yang sedang bermain bersama, berenang, atau
hanya sedang nyengir lucu.
Dari segi tematik dan penggambaran objek mengarah pada gaya modern
yang cenderung bebas, namun dari teknik pengerjaan masih menggunakan teknik
melukis tradisional. Warna-warna lukisannya banyak menggunakan warna-warna
pastel, yang mengarah pada warna-warna muda dan cerah.
Lukisan bertema kehidupan sehari-hari yang berkembang di luar desa
Pengosekan, umumnya melukiskan kehidupan sosial masyarakat pedesaan Bali.
Figur manusia digambarkan bertelanjang dada, atau hanya memakai kain yang
dibalutkan. Dari segi bentuk objek secara keseluruhan mengarah pada bentuk
realistik, dengan detail anatomi, pencahayaan, dan persepektif. Beberapa lukisan
mengarah pada gaya pribadi, namun masih terlihat mengacu gaya lukisan Rudolf
Bonnet dan Walter Spies. Hal itu tampak dari figur-figur yang cenderung berotot
atau atletis, dengan warna kulit gelap, proporsi badan tinggi besar seperti proporsi
tubuh orang Barat. Beberapa lukisan bahkan melukiskan pemandangan atau
aktifitas sehari-hari dengan persepektif dan pencahayaan yang hampir menyerupai
lukisan Walter Spies yang imajinatif dan bebas.
D. Kontinuitas dan Perubahan Seni Lukis Tradisional Pengosekan serta
Faktor-faktor Penyebabnya
Kontinuitas (continuity) adalah berlangsungnya suatu kejadian dari masa
lampau hingga sekarang, yang menyangkut tentang kondisi pendukung, sifat
(karakter) yang tidak banyak mengalami perubahan secara mendasar. Perubahan
(change) menunjukkan bahwa aspek fungsi dan struktur telah berbeda dari waktu
sebelumnya. Perubahan itu menyangkut disorganisasi, organisasi, dan
reorganisasi. Suatu komponen yang berubah menandakan bahwa komponen
tersebut tidak sesuai dengan bagian yang lain. Akibatnya terjadi perubahan atau
modifikasi pada bagian tertentu, bahkan dapat terjadi pada seluruh struktur (Teuku
Ibrahim, 1999).
Dari hasil pengamatan penulis, baik melalui literatur maupun pengamatan
langsung pada objek penelitian, telah terjadi kelangsungan dan perubahan pada

268


NOMOR 22 TAHUN XVIII Oktober 2017
ISSN 1907-3232

visualisasi seni lukis tradisional Pengosekan. Adapun kelangsungan dan
perubahan tersebut, akan lebih mudah dijelaskan ke dalam beberapa periode.
Periode pertama terjadi dari tahun 1980-an sampai t, periode kedua dari tahun
1990-an, dan periode ketiga dari tahun 2000-an.
Menurut Feldman, untuk mengkaji struktur suatu karya seni harus
dilakukan tiga tahapan. Mulai dari sifat pokok dari elemen seni rupa,
pengorganisasian dari elemen tersebut, dan kontribusi penikmat terhadap karya
seni (Feldman, 1967). Elemen seni dapat dilihat berdasarkan garis, bentuk, warna,
ruang, dan pencahayaan. Prinsip desain pada visual lukisan tradisional
Pengosekan, dapat ditinjau dari kesatuan semua unsur yang melekat dan
membentuk suatu kesatuan yang utuh. Dapat dilihat juga dari keseimbangan
komposisi, irama, dan proporsi. Kontribusi penikmat terhadap karya seni
merupakan wujud dari pengorganisasian seluruh elemen, yang dapat
memunculkan tanggapan dari penikmat dan penonton.
Terkait dengan teori di atas, Terry Barret menyebutkan bahwa terdapat
tiga hal utama yang dapat diamati pada dimensi fisik atau tekstual karya seni rupa,
yaitu: materi subjek, medium, dan bentuk. Materi subjek adalah figur-figur, objek-
objek, tempat-tempat, dan peristiwa-peristiwa yang dilukiskan dalam suatu karya
seni. Istilah medium dipakai untuk mengatakan suatu kategori fisik karya seni
secara umum, seperti medium seni lukis atau medium seni patung atau video.
Istilah ini juga dipakai mengidentifikasi materi-materi spesifik yang dipakai oleh
seorang seniman, seperti lukisan akrilik, serat kaca, kayu, tembaga, dan
sebagainya. Sedangkan bentuk itu bisa realistis atau abstrak, representasional atau
non representasional, dibuat secara cermat dengan persiapan yang matang, atau
dibuat secara spontan ekspresif (Terry Barret, 2000).
1. Periode pertama
Pada awal periode pertama, tema lukisan flora dan fauna masih bersumber
dari cerita Tantri (dongeng fable). Materi subjek adalah binatang yang menjadi
tokoh dalam cerita, dengan latar belakang pemandangan gunung, sawah, sungai,
atau danau. Cerita tidak dilukiskan secara penuh, namun hanya satu adegan yang
merupakan inti dari cerita. Warna lukisan cenderung monokrom, dan digunakan
untuk menunjukkan karakter objek, seperti warna kehijauan pada objek tumbuhan,

269


JURNAL
PENDIDIKAN
INSTITUT KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN (IKIP) PGRI BALI

warna coklat untuk bebatuan, dan air yang diberi warna biru muda. Penggunaan
garis hanya sebagai kontur dan pengisi detail objek. Penggambaran bentuk objek
terlihat dekoratif, namun penyelesaian objek utama dikerjakan dengan lebih detail.
Komposisi objek terlihat formal dengan penempatan objek utama yang berada di
tengah bidang gambar. Ruang gambar penuh dengan objek tumbuhan dan
binatang. Salah satu lukisan flora dan fauna yang dibuat pada periode pertama
berjudul Pendeta Cangak yang dibuat oleh I Dewa Putu Manggis pada tahun1980.
Pada lukisan mitologi figur-figur yang ditampilkan, menunjukkan adanya
kesan plastisitas anatomi dan gerak yang dinamis. Pembuatan jari-jari tangan
sudah dikerjakan dengan detail, meskipun masih terlihat terlalu panjang. Pada
bentuk wajah masih terlihat dekoratif, cenderung menoleh kesamping seperti
wayang. Draperi kain dan motifnya dikerjakan dengan rapi dan detail, begitu juga
dengan pengerjaan aksesori dan atributnya. Para pelukisnya adalah pelukis
golongan tua yang cenderung mapan dengan prinsip kerja tradisional, seperti I
Gusti Ketut Kobot dan I Gusti Made Baret. Warna lukisan dari tahun ke tahun
semakin menunjukkan adanya perubahan ke arah yang lebih cerah dan beragam.
Pada lukisan kehidupan sehari-hari tema masih bersumber dari aktivitas
keseharian masyarakat pedesaan Bali, seperti mengambil air dan mandi di sungai,
prosesi pemakaman, atau menumbuk padi, yang dikerjakan secara kolektif.
Warna-warna lukisan cenderung monokrom, atau ada salah satu warna yang lebih
dominan. Garis selain berfungsi sebagai kontur dan pengisi detail, juga mulai
berfungsi sebagai pembentuk persepektif. Unsur-unsur modern tampak dari
penerapan proporsi dan anatomi pada figur-figur yang dilukiskan. Persepektif
diterapkan pada bentuk bangunan dan pepohonan. Objek terlihat dekoratif, namun
telah memperhatikan detail, seperti pengerjaan motif-motif kain dan rambut. Dari
segi material semua lukisan, baik flora dan fauna, mitologi, maupun kehidupan
sehari-hari telah memanfaatkan tinta dan cat akrilik yang dijual di toko bahan
melukis di wilayah Ubud dan sekitarnya. Kain yang dipilih sebagai bahan dasar
kanvas adalah kain driel dan katun, yang memiliki karakter serat yang rapat, kuat,
tebal dan mudah dibentangkan.
Diduga pemilihan material ini didorong oleh keinginan pelukis untuk
meningkatkan kualitas lukisan. Warna yang dihasilkan dari cat akrilik lebih cerah

270


NOMOR 22 TAHUN XVIII Oktober 2017
ISSN 1907-3232

dari cat tempera, cat air, dan cat alami yang dibuat secara tradisional. Pilihan
warna dari cat akrilik sangat beragam, sehingga lebih memudahkan pelukis dalam
bereksperimen dan mencampur warna. Dari segi kesehatan, cat akrilik jauh lebih
sehat dibandingkan dengan cat minyak. Media pencampurnya adalah air yang
tidak mengganggu pernafasan, sedangkan cat minyak media pencampurnya adalah
minyak tanah atau terpentin. Dalam pemakaian jangka panjang dapat mengganggu
pernafasan terutama kesehatan paru-paru. Pada periode pertama minyak tanah
ataupun terpentin masih sulit didapat, harganya juga mahal sehingga belum
terjangkau oleh pelukis. Dari segi kualitas, warna dari cat akrilik cepat kering dan
ridak mudah pudar. Berbeda dengan cat tempera yang akan memudar dan
menguning dalam jangka waktu panjang. Perawatan lukisan dengan cat akrilik
juga lebih mudah dan tidak mudah berjamur.
Selain didorong oleh keinginan pelukis untuk meningkatkan kualitas
karya, juga dengan pertimbangan efisiensi waktu dan kemudahan dalam proses
kerjanya. Cat akrilik yang dijual pada masa itu sudah dikemas dalam bentuk tube,
dengan warna yang bervariasi sehingga lebih praktis dan tidak banyak membuang
waktu dalam proses pengerjaannya. Berbeda dengan cat tempera, dimana
pelukisnya harus membuat sendiri campuran warnanya dari pigmen dan kuning
telur. Warna dari cat tempera juga tidak tahan lama dan cepat busuk.
2. Periode Kedua
Perkembangan seni lukis modern, seperti lukisan abstrak, minimalis, pop
art, ataupun kontemporer yang berkembang di Ubud, secara tidak langsung telah
memberikan banyak pengaruh terhadap kreativitas pelukis di Pengosekan. Seni
rupa modern dan kontemporer Bali sebagian besar dikembangkan dan
diperkenalkan oleh seniman-seniman akademis, terutama pada gelombang seni
rupa kontemporer yang diserap baik oleh perupa asal Bali yang merantau ilmu
seni di Yogyakarta. Mereka yang telah sukses kemudian kembali ke Bali dan
membuka galeri-galeri lukisan, dan memajang lukisan yang menjadi ciri khasnya,
juga lukisan-lukisan modern dengan berbagai bentuk dan gaya.
Para pelukis tradisional di wilayah Ubud, khususnya pelukis di
Pengosekan yang tertarik dengan karya seni lukis modern, kemudian mulai
melakukan berbagai eksperimen. Dari seni lukis abstrak mereka menyerap teknik

271


JURNAL
PENDIDIKAN
INSTITUT KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN (IKIP) PGRI BALI

sapuan warna, pengaturan komposisi objek, bidang, warna maupun ruang, serta
penggunaan warna-warna cerah dan kontras pada lukisan tradisional mereka. Dari
lukisan minimalis para pelukis belajar memperhatikan detail dari sebuah objek
yang sederhana, begitu juga mengenai pengaturan komposisi dan keruangan.
Lukisan pop-art dan kontemporer menghadirkan acuan mengenai keberagaman
teknik, medium, dan konsep.
Sebagai contoh pada lukisan flora dan fauna terlihat adanya
pengembangan objek. Objek yang awalnya hanya flora dan fauna yang hidup di
sekitar wilayah desa Pengosekan, mulai berkembang objek flora dan fauna yang
hidup di luar desa Pengosekan, seperti burung merak dan kijang. Penyederhanaan
objek juga terlihat pada beberapa lukisan yang hanya mengambil bagian menarik
dari objek, seperti seekor Kupu-kupu yang sedang hinggap pada bunga Lotus.
Objek kupu-kupu dilukiskan berukuran besar, begitu juga dengan bunga lotusnya.
Tanaman lotus hanya dilukiskan sebatas bunga dan tangkai saja, tanpa latar
belakang pemandangan kolam atau objek tambahan lainnya, dan sebagai latar
belakangnya adalah blok warna polos. Dari penyederhanaan objek tersebut
lukisan menjadi terkesan minimalis, meskipun begitu setiap objek tetap dikerjakan
dengan memperhatikan detail warna maupun bentuk. Warna-warna lukisan
menjadi bervariasi. Beberapa hadir dengan warna monokrom, beberapa yang lain
memiliki dominan warna tertentu, sedangkan yang lainnya mulai mengarah pada
warna-warna cerah. Dari segi komposisi juga terlihat lebih dinamis, karena tidak
semua objek berada di tengah bidang gambar, dan vertikal.
3. Periode Ketiga
Pada periode ketiga, objek flora dan fauna semakin mengarah pada bentuk
realistik. Detail warna ataupun bentuk lebih diperhatikan hingga menyerupai
objek asli, terlebih pada pengerjaan objek utama. Para pelukis juga menghadirkan
ciri khas individu yang terlihat dari warna maupun penciptaan bentuk objek,
sehingga lukisan flora dan fauna di Pengosekan terlihat lebih bervariasi dan tidak
monoton. Perubahan tidak terlihat dari segi tema yang tetap tidak melukiskan
pemandangan alam, hal ini semakin menguatkan ciri khas lukisan flora dan fauna.
Teknik yang digunakan pada dasarnya tetap mengacu pada teknik melukis

272


NOMOR 22 TAHUN XVIII Oktober 2017
ISSN 1907-3232

tradisional, namun beberapa pelukis mulai menyederhanakan atau
menggabungkan dengan teknik melukis modern agar lebih mempersingkat waktu.
KESIMPULAN
Sejak tahun 1980 sampai tahun 2013 seni lukis tradisional Pengosekan
masih terus dikerjakan. Pada setiap tema lukisan terjadi kontinuitas yang berbeda
ditinjau dari segi visualnya. Pada lukisan mitologi, penggambaran figur sudah
mengacu bentuk tubuh manusia, namun masih digambarkan secara dua
dimensional, sehingga masih terkesan seperti wayang. Hal ini sangat terlihat dari
bentuk wajah yang digambarkan tiga per empat, begitu juga dengan posisi kaki
dan badan yang menyamping, dengan jari-jari kaki yang terlihat semua. Figur
berdiri tegak dan berada di tengah bidang gambar. Detail bagian tubuh seperti
mata, hidung, bibir, dan jari-jari tangan masih terlihat dekoratif, karena tidak
dikerjakan secara detail menurut bentuk aslinya. Tema lukisan masih bersumber
dari cerita Ramayana dan Mahabarata, penggambaran tokoh dewa dan dewi
Hindu, yang divisualisasikan menurut ciri khas pelukisnya. Teknik melukisnya
juga masih tradisional tanpa ada campuran teknik melukis modern.
Pada lukisan kehidupan sehari-hari penggambaran figur sudah mengacu
pada bentuk tubuh manusia, namun masih terkesan dekoratif dan naif karena
bagian-bagian tubuh figur tidak dikerjakan dengan detail, begitu juga dengan
tumbuh-tumbuhan dan objek lainnya. Lebih khusus pada figur manusia masih
digambarkan bertelanjang dada, memakai kamen (kain pengganti rok atau celana),
dan melakukan aktivitas sehari-hari masyarakat pedesaan Bali, seperti menumbuk
padi, bertani, atau mandi di sungai.
Kontinuitas pada lukisan flora dan fauna terlihat dari segi tema yang
konsisten melukiskan suasana alam. Objek lukisan sederhana seperti burung dan
tanaman labu, bunga anggrek dan kupu-kupu, atau bunga lotus. Latar belakang
lukisan diberi warna polos atau hanya sekedar aksen langit. Tidak ada unsur
pemandangan alam pegunungan, sawah terasering, danau, atau sungai, seperti
lukisan flora dan fauna yang berkembang di luar desa Pengosekan.

Baik pelukis mitologi, kehidupan sehari-hari, maupun flora dan fauna
masih sama-sama menggunakan kuas dan pena yang mereka buat sendiri dari
bambu. Hal ini karena tekstur bulu dari kuas bambu lebih nyaman digunakan saat

273


JURNAL
PENDIDIKAN
INSTITUT KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN (IKIP) PGRI BALI

proses ngabur (gradasi), hasil sapuan juga menunjukkan perbedaan jika
dibandingkan dengan kuas pabrik. Ketajaman pena bambu juga dapat diatur
sendiri oleh pelukis, sehingga lebih praktis. Bambu yang digunakan adalah bambu
muda, karena masih mudah untuk dibentuk dan memiliki serat yang lebih lunak
jadi nyaman digunakan.
Perubahan yang terjadi pada seni lukis tradisional Pengosekan selama tiga
periode, tidak secara langsung menunjukkan perbedaan tinggi rendahnya kualitas
atau nilai estetik lukisan. Perbedaan yang terjadi hanya menyangkut elemen
penyusun lukisan, proses penciptaan, serta material yang dimanfaatkan, sebagai
dampak dari adanya faktor dari dalam dan luar. Pada awal kemunculannya,
lukisan flora dan fauna masih bersumber dari cerita Tantri (dongeng binatang).
Selanjutnya muncul lukisan flora dan fauna dengan objek burung, serangga,
tanaman bunga dan buah yang hidup di sekitar desa Pengosekan. Warna lukisan
flora dan fauna di periode pertama cenderung monokrom, pada periode berikutnya
muncul lukisan dengan warna-warna cerah dan kontras. Bentuk objek juga
semakin berkembang ke arah minimalis, dengan latar belakang warna polos.
Dapat dikatakan bahwa pada periode pertama merupakan masa transisi pelukis
dalam menemukan ciri khas lukisan flora dan fauna di Pengosekan.
Pada lukisan mitologi dan kehidupan sehari-hari perubahan banyak terlihat
dari segi warna. Sejak tahun 1980 para pelukis mulai memanfaatkan cat akrilik
yang dikemas lebih praktis, mudah digunakan, dan lebih aman bagi kesehatan,
dibandingkan cat lainnya. Warna-warna lukisan yang dihasilkan juga bervariasi
dan lebih cerah. Hal ini menunjukkan bahwa pelukis tidak menutup diri dengan
kemajuan yang ada. Para pelukis mitologi dan kehidupan sehari-hari pada
umumnya adalah pelukis golongan tua, yang telah mapan pada pripsip kerja
tradisional, namun mereka tetap membuka diri dengan perkembangan yang dirasa
mampu meningkatkan kualitas karya mereka.
Memasuki tahun 1990-an para pelukis semakin aktif mencari referensi
yang mendukung proses kreatif mereka. Pada lukisan flora dan fauna mulai
terlihat pengaruh gaya lukisan modern, seperti abstrak, minimalis, atau
kontemporer yang sedang boombing di Bali pada masa itu. Lukisan hadir dengan
objek yang sederhana, namun sangat memperhatikan detail dari objek aslinya.

274


NOMOR 22 TAHUN XVIII Oktober 2017
ISSN 1907-3232

Komposisi lukisan juga terlihat lebih dinamis, dan tidak seluruhnya digambarkan
vertikal.
Teknik melukis juga mengalami sedikit perubahan pada periode ini. Hal
tersebut dilakukan dengan pertimbagan efisiensi waktu pengerjaan, agar pesanan
lukisan selesai tepat pada waktunya. Beberapa pelukis kemudian mulai
menyederhanakan tahapan teknik melukis tradisional. Berbagai perubahan yang
terjadi dari segi penyusunan elemen atau pada proses kreatif, diterima oleh
seluruh pelukis dan diterapkan pada lukisan mereka, namun tidak meninggalkan
sepenuhnya unsur tradisional yang masih melekat di setiap lukisan.
Terjadinya perubahan pada visualisasi seni lukis tradisional Pengosekan,
didorong oleh adanya faktor endogenous (dari dalam) dan exogenous (dari luar).
Perubahan yang terjadi dari dalam, juga tidak menutup kemungkinan merupakan
akibat pengaruh faktor-faktor dari luar. Faktor endogenous berpangkal dari
sesuatu yang baru, yaitu penemuan berbentuk lukisan tradisional dengan inovasi
dari segi tema, warna, bentuk, ruang, garis, komposisi, dan tekniknya. Kreatifitas
tersebut dilakukan sebagai upaya untuk bertahan ditengah persaingan dengan seni
lukis tradisional lain dan seni lukis modern yang semakin berkembang di Bali.
Faktor exogenous banyak berasal dari lingkungan, pendidikan,
perkembangan seni lukis modern, media informasi dan teknologi, serta pariwisata.
Lingkungan desa Pengosekan banyak menyimpan sumber inspirasi yang dapat
dijadikan objek lukisan. Sumber inspirasi tersebut didapat dari lingkungan alam
yang masih menghadirkan pemandangan sawah terasering yang melingkar dari
sisi barat sampai sisi timur wilayah Pengosekan. Burung dan serangga juga masih
mudah dijumpai, yang hidup liar maupun yang sengaja dipelihara. Berbagai
pohon dan tanaman bunga juga banyak ditanam sebagai perindang atau sebagai
elemen estetis dari hunian.
Lingkungan agama Hindu secara tidak langsung juga memengaruhi proses
kreatif pelukis. Dalam kegiatan ritual banyak sesaji dan alat-alat ritual yang dihias
sedemikian rupa, berisi ornamen dan motif-motif yang indah. Pertunjukkan tari
atau drama juga sering dipentaskan sebagai kelengkapan ritual atau sebagai
hiburan. Umumnya menceritakan mengenai kisah Ramayana, Mahabarata, cerita
rakyat Bali, atau cerita Tantri yang memiliki makna filosofi dan pesan moral.

275


JURNAL
PENDIDIKAN
INSTITUT KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN (IKIP) PGRI BALI

Aktivitas keseharian masyarakat pedesaan juga tidak ada habisnya untuk digali
dan dikembangkan menjadi objek lukisan.
Penciptaan objek tersebut juga didukung oleh keterampilan melukis. Pada
dasarnya setiap pelukis di Pengosekan telah menguasai teknik melukis tradisional
yang didapat dengan belajar dari orang tua, belajar pada tokoh pelukis di
Pengosekan, atau belajar di sanggar-sanggar milik tokoh pelukis tersebut.
Keterampilan yang lain didapat dari sekolah-sekolah formal, seperti Sekolah
Menengah Seni Rupa (SMSR), Institut Seni Indonesia (ISI) yang ada di Bali atau
Yogyakarta. Dari adanya pendidikan tersebut wawasan pelukis menjadi semakin
berkembang, terutama dalam hal pengembangan tema, teknik, media, dan
wawasan umum mengenai seni rupa. Hal ini tentu sangat memengaruhi pelukis
dalam menghasilkan karya lukisan yang lebih berkualitas, dari segi visual.
Berbagai eksperimen dilakukan, salah satunya adalah menggabungkan
gaya lukisan tradisional dengan gaya lukisan modern yang sedang laku di pasaran.
Hal itu dilakukan karena para pelukis tidak ingin sepenuhnya meninggalkan
lukisan tradisional, namun juga tidak ingin bertahan dengan kemapanan yang
tidak menghasilkan keuntungan. Perkembangan ini menjadikan lukisan tradisional
Pengosekan lebih bervariasi dan tidak monoton. Dari hal ini membuktikan bahwa
kehadiran seni lukis modern tidak sepenuhnya membawa pengaruh negatif.
Dengan adanya tekanan dan persaingan, para pelukis menjadi lebih bersemangat
dalam berkarya.
Perubahan juga didorong oleh para wisatawan sebagai konsumen yang
menginginkan produk berkualitas, memiliki ciri khas, bervariasi, dan harganya
murah. Untuk memantapkan eksistensi desa Pengosekan sebagai salah satu desa
wisata di wilayah Ubud, seni lukis tradisional Pengosekan juga dikemas dalam
produk seni wisata. Lukisan dibuat dalam berbagai variasi bentuk dan ukuran,
juga dengan harga yang terjangkau. Tujuannya adalah untuk lebih memudahkan
para wisatawan, yang berasal dari luar daerah dan mancanegara saat membawa
pulang, serta menyediakan pilihan yang lebih banyak.
Lukisan yang dibuat pada umumnya merupakan tiruan dan pengembangan
dari lukisan yang dikerjakan sebelumnya, atau mengulang lukisan yang sedang
laku dipasaran. Agar lebih menarik lukisan dilengkapi bingkai, dengan berbagai

276


NOMOR 22 TAHUN XVIII Oktober 2017
ISSN 1907-3232

pilihan motif ukiran, dan warna. Penentuan harga lukisan dilihat berdasarkan
ukuran karya, serta kualitas dari karya tersebut. Harga juga memengaruhi kualitas
karya dari bahan yang digunakan, seperti bahan kanvas, kayu spanram, dan kayu
bingkai yang digunakan.

KEPUSTAKAAN
Alfian, Teuku Ibrahim, “Disiplin Sejarah Dalam Merekontruksi Masa Lampau
Untuk Menyongsong Masa Depan”, dalam Lokakarya Nasional
Pengajaran Sejarah Arsitektur ke 4, di Yogyakarta, 23-24 April 1999, 2.
Bagus, I Gusti Ngurah, Adat Istiadat Daerah Bali. Jakarta: Proyek Pengembangan
Media Kebudayaan Departemen Pendidikan dan Kebudayaan, 1976/77.
Barret, Terry, Critizing Art Understanding the Contemporary second edition.
Mountain View: Mayfield Publishing Company, 2000.
Couteau, Jean, “Pameran 200 Tahun Seni Lukis Tradisi Bali: Bukan Sederetan
Mosaik Retak” dalam Majalah Seni Rupa VISUAL ARTS, edisi 14
Agustus/September 2006, 32.
Dermawan T., Agus, Bali Bravo: Lexicon of 200 Years Balinense Traditional
Painters. Jakarta: Panitia Bali Bangkit, 2007.
Dermawan T., Agus, “Seni Lukis Ubud dan Batuan Pasca Bonnet Memburu dan
Menemukan Kreator”, dalam Agus Dermawan T. dan Jean Couteau, Siyu
Taksu. Jakarta: Panitia Bali Bangkit, 2009.
Feldman, Edmund Burke, Art As Image And Idea. Englewood Cliffs, New Jersey:
Prentice-Hall, Inc.,1967.
Goris, R., “Pura Besakih Kuil Raja Bali”, dalam Majalah Kebudayaan Indonesia,
tahun 1960.
Holt, Claire (1967), Melacak Jejak Perkembangan Seni Di Indonesia, terj., R.M.
Soedarsono. Bandung: MSPI, 2000.
Picard, Michel, Bali Pariwisata Budaya dan Budaya Pariwisata. Jakarta: KPG,
2006.
Pichard, Michel, “Pita Maha” dalam Hildawati Soemantri, ed. Heritage
Indonesia: Seni Rupa, terj. Karsono H. Saputra. Jakarta: Groiler, 2002.

277


JURNAL
PENDIDIKAN
INSTITUT KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN (IKIP) PGRI BALI

Soedarsono, R.M., Seni Pertunjukan Indonesia di Era Globalisasi. Yogyakarta:
Gadjah Mada University Press, 2002
Susanto, Mikke, Diksi Rupa. Yogyakarta: Kanisius, 2002.
A.A. Sukawati, Kembang Rampai Desa Ubud. Denpasar: Pustaka Nayottama,
2006.
Yudoseputro, Wiyoso, “Seni Rupa Klasik”, dalam Mochtar Kusuma-Atmadja ed.,
Perjalanan Seni Rupa Modern Indonesia: Dari Zaman Prasejarah
Hingga Masa Kini. Bandung: Panitia Pameran KIAS, 1990-1991.

LAMPIRAN A. LUKISAN TRADISIONAL PENGOSEKAN

SENI LUKIS TRADISIONAL PENGOSEKAN DI PERIODE PERTAMA
(1980-an)

Lukisan I Dewa Putu Mokoh, Katak Sombong, tinta dan akrilik di kanvas.
70x90 cm, 1981 (atas), Lukisan I Gusti Ketut Kobot, Brahma Menaiki Wilmana,
tinta dan akrilik di kanvas, 96x71 cm, 1980, koleksi Museum Neka, dan lukisan I
Nyoman Sudiana, Burung dan Kembang, tinta dan akrilik di kanvas. 120x150 cm,
1986.

278


NOMOR 22 TAHUN XVIII Oktober 2017
ISSN 1907-3232

SENI LUKIS TRADISIONAL PENGOSEKAN DI PERIODE KEDUA
(1990-an)

Lukisan I Dewa Made Kawan, Lotus dan Kupu-kupu, tinta dan akrilik di
kanvas, 92x60 cm, 1997, dan lukisan I Dewa Putu Mokoh, Banjir, tinta dan
akrilik di kanvas, 90x130 cm, 1996.

SENI LUKIS TRADISIONAL PENGOSEKAN DI PERIODE KETIGA
(2000-an)

Lukisan I Dewa Nyoman Laba, Kakak Tua, akrilik di kanvas, 60x80 cm, 2003,
dan I Gusti Kompyang Wardhana, Anggrek dan Kupu-kupu, akrilik di
kanvas,80x60 cm, 2012, dan lukisan I Dewa Putu Mokoh, Bermain, akrilik di
kanvas, 60x80 cm, 2002, dalam katalog Maestro Auction, 2010.

279


JURNAL
PENDIDIKAN
INSTITUT KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN (IKIP) PGRI BALI

LAMPIRAN B. PENGGUNAAN ALAT DAN BAHAN

Material melukis tradisional, tinta dan kuas bambu (atas), proses nyawi atau
mempertegas sket dengan tinta (bawah)

280


NOMOR 22 TAHUN XVIII Oktober 2017
ISSN 1907-3232

LAMPIRAN C. KONDISI GEORGAFIS DESA PENGOSEKAN

Gambar 2.3.
Sketsa lokasi perkampungan desa adat Pengosekan
(Ilustrasi: Ni Putu Laras, 2013)

281