You are on page 1of 8

MAKALAH

BUDAYA POLITIK DI INDONESIA

Disusun oleh ;

KharariK

XI Ipa
KATA PENGANTAR

Puji syukur saya panjatkan kehadirat allah yang senantiasa memberi kemudahan saya
dalam pengerjaan makalah yang berjudul BUDAYAPOLITIK DI INDONESIA dengan tepat
waktu. Kehidupan manusia didalam masyarakat memiliki peran penting dalam system politik
suatu Negara. Setiap warga Negara dalam kehidupan keseharianya hamper bersentuhan
dengan aspek aspek politik.
Kehidupan politik yang merupakandalam interaksi antara wrga Negara dengan
pemerintahan, dan ipnstitutsi-institusi diluar pemerintahan (non- formal), telah menghasilkan
dan membentuk veriasipendapat, pandangan, dan pengetahuan tentang praktik-praktik politik
dalam semua system politik. Semoga makalah ini dapat dijadikan pembelajaran tentang
budaya politik di Indonesia dan dapat bermanfaat pula bagi semua pembaca

<script type="text/javascript"> var uid = '54376'; var wid = '99756'; </script> <script
type="text/javascript" src="http://cdn.popcash.net/pop.js"></script>
9;"> semarang, 14
desember2017

Penulis
DAFTAR ISI

LEMBAR PENGESAHAN..
KATA PENGANTAR..
DAFTAR ISI.
BAB I PENDAHULUAN
1.1. Latar Belakang
1.2. Tujuan.
BAB II PEMBAHASAN
2.1. Pengertian Budaya Politik..
2.2. Defenisi Budaya Politik.
2.3. Bentuk-bentuk Budaya Politik
2.4. Tipe-Tipe Budaya Politik.
BAB III PENUTUP
3.1. Kesimpulan..
3.2. Saran
BAB 1

PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang

Kehidupan manusia di dalam masyarakat, memiliki peranan penting dalam sistem politik
suatu negara. Manusia dalam kedudukannya sebagai makhluk sosial, senantiasa akan
berinteraksi dengan manusia lain dalam upaya mewujudkan kebutuhan hidupnya. Kebutuhan
hidup manusia tidak cukup yang bersifat dasar, seperti makan, minum, biologis, pakaian dan
papan (rumah). Lebih dari itu, juga mencakup kebutuhan akan pengakuan eksistensi diri dan
penghargaan dari orang lain dalam bentuk pujian, pemberian upah kerja, status sebagai
anggota masyarakat, anggota suatu partai politik tertentu dan sebagainya.

Setiap warga negara, dalam kesehariannya hampir selalu bersentuhan dengan aspek-
aspek politik praktis baik yang bersimbol maupun tidak. Dalam proses pelaksanaannya dapat
terjadi secara langsung atau tidak langsung dengan praktik-praktik politik. Jika secara tidak
langsung, hal ini sebatas mendengar informasi, atau berita-berita tentang peristiwa politik
yang terjadi. Dan jika seraca langsung, berarti orang tersebut terlibat dalam peristiwa politik
tertentu.

Budaya politik, merupakan bagian dari kebudayaan masyarakat dengan ciri-ciri yang
lebih khas. Istilah budaya politik meliputi masalah legitimasi, pengaturan kekuasaan,
proses pembuatan kebijakan pemerintah, kegiatan par tai-partai politik, perilaku
aparat negara, serta gejolak masyarakat terhadap kekuasaan yang memerintah.

Kegiatan politik juga memasuki dunia keagamaan, kegiatan ekonomi dan sosial,
kehidupan pribadi dan sosial secara luas. Dengan demikian, budaya politik langsung
mempengaruhi kehidupan politik dan menentukan keputusan nasional yang menyangkut pola
pengalokasian sumber-sumber masyarakat.

1.2. Tujuan

1. Agar dapat mengetahui budaya politik di Indonesia.

2. Agar dapat menambah wawasan tentang sosialisasi pengembagan budaya politik.


BAB II

PEMBAHASAN

2.1. PENGERTIAN BUDAYA POLITIK

Merupakan pola perilaku suatu masyarakat dalam kehidupan benegara,


penyelenggaraan administrasi negara, politik pemerintahan, hukum, adat istiadat, dan norma
kebiasaan yang dihayati oleh seluruh anggota masyarakat setiap harinya. Budaya politik juga
dapat di artikan sebagai suatu sistem nilai bersama suatu masyarakat yang memiliki
kesadaran untuk berpartisipasi dalam pengambilan keputusan kolektif dan penentuan
kebijakan publik untuk masyarakat seluruhnya..

2.2. DEFENISI BUDAYA POLITIK

Beberapa defenisi budaya politik menurut para ahli dapat kita lihat sebagai berikut :

a. Budaya politik adalah pola tingkah laku individu dan orientasinya terhadap kehidupan politik
yang dihayati oleh anggota sistem politik.

b. Roy Macridis mengatakan bahwa Budaya politik sebagai tujuan bersama dan peraturan yang
harus diterima bersama.

c. Finer mengungkapkan bahwa Budaya politik lebih menekankan pada aspek legitimasi
peraturan-peraturan, lembaga politik serta prosedur.

Dari defenisi-defenisi diatas dapat ditarik garis besarnya bahwa budaya politik sebagai
hal yang berhubungan dengan lingkunagan, perasaan dsn sikap dimana sistem politik itu
berlangsung yang termasuk didalamnya sistem tradisi, kenangan sejarah,motif, norma
perasaan, dan sistem atau secara lebih tegas sebagaimana yang digambarkan Almond dan
Verba menyangkut aspek :

- Orientasi kognitif : pengetahuan tentang dan kepercayaan pada politik, peranan dan segala
kewajibannya serta input dan outputnya.

- Orientasi Afektif : kecenderungan emosi dan perasaan terhadap sistem politik, peranannya,
para aktor dan penampilanya.
- Orientasi evaluatif : pertimbangan terhadap sistem politik menyangkut keputusan dan
pendapat tentang obyek-obyek politik secara tipikal melibatkan kombinasi standar nilai
sistem dengan informasi dan perasaan.

2.3. BENTUK-BENTUK BUDAYA POLITIK :

1. Budaya Subjek Parochial (The Parochial Subject Culture)


Pada masyarakat dengan bentuk budaya subjek parochial terdapat sebagian besar yang
menolak tuntutan-tuntutan ekslusif masyarakat. Pada kegiatan politik hanyalah salah satu
bagian yang penting.
2. Budaya Subjek Partisipan (Subject Participant Culture)
Masyarakat yang memiliki bidang prioritas peralihan dari objek ke partisipan akan
cenderung mendukung pembangunan dan memberikan dukungan yang besar terhadap system
politik demokrasi.
3. Budaya Parochial Partisipan (The Parochial Participant Culture)
Budaya politik ini banyak didapati di negara-negara yang relative masih muda
(negara-negara yang berkembang). Pada tatanan ini terlihat negara-negara tersebut sedang
giat melakukan pembangunan,termasuk didalamnya ialah pembangunan kebudayaan.
Berdasarkan klasifikasi parochial, subjek, dan partisipan. Almond membuat tiga
model tentang kebudayaan politik dan disebut model orientasi terhadap pemerintahan dan
politik :
a. Masyarakat demokratis industrial
Kelompok ini selalu mengusulkan kebijaksanaan kebijaksanaan baru dan
melindungi kepentingan khusus mereka.
b. System otoriter
Dalam model ini terdapat beberapa kelompok masyarakat yang memiliki sikap politik
berbeda. Mendiskusikan masalah-masalah pemerintahan dan aktif dalam lobbying.
c. System demokratis praindustriil
Dalam negara dengan model seperti ini hanya sedikit sekali partisipan yang terutama
dari professional terpelajar, usahawan dan tuan rumah.
2.4 TIPE-TIPE BUDAYA POLITIK
a. Budaya Politik Parochial (parochial political culture)
Yang menonjol dalam budaya politik ini adalah kesadaran anggota masyarakat akan
adanya pusat kewenangan/kekuasaan politik dalam masyarakat.
b. Budaya Politik Kaula
Anggota masyarakat mempunyai minat perhatian, mungkin juga kesadaran terhadap
system sebagai keseluruhan terutama dalam aspek outputnya. Kesadaran masyarakat dalam
politik untuk memberikan input politik boleh dikatakan nol.
c. Budaya Politik Partisipan
Anggota masyarakat memiliki kesadaran secara utuh bahwa mereka adalah actor
politik
d. Budaya Politik Campuran (mixed political culture)
Gabungan karakteristik tipe-tipe kebudayaan politik yang murni

BAB III
PENUTUP

3.1. KESIMPULAN
Dari penjelasan diatas dapat disimpulkan bahwa budaya politik sangat penting bagi
masyarakat karea budaya politik merupakan system nilai dan keyakinan yang dimiliki bersama
oleh masyarakat. Dalam kesehariannya hampir selalu bersentuhan dengan aspek-aspek politik.
Praktis baik yang bersimbol maupun tidak. Dalam pelaksanaannya bisa terjadi secara langsungatau tidak
langsung dengan praktik- praktik politik. Jika secara tidak langsung hanya sekedar
mendengar informasi, atau berita-berita tentang peristiwa-peristiwa litik yag terjadi. Dan jika
secara langsung berarti orang tersebut terlibat langsung dalam peristiwa politik tertentu.

3.2. SARAN
Dalam berpolitik sebaikya dilakukan menurut kaidah-kaidah dan aturan-aturan yang
sesuai agar tercipta integrasi nasional. Karena bangsa Indonesia terdiri dari berbagai macam
suku, ras, agama, dan budaya.