You are on page 1of 5

PEMERINTAH KOTA BANJARBARU

DINAS KESEHATAN
PUSKESMAS BANJARBARU UTARA
Jl. Karang Anyar II RT.20/RW.XI Kel. Loktabat Utara Banjarbaru 70712 - Telp (0511) 6749159

SURAT TUGAS
Nomor : 090/ /Promkes-B/PKM.BBU

Dasar : 1. Telaahan Staf Kegiatan Puskesmas Banjarbaru Utara Nomor. 900/61 -TU/PKM
BBU ,tanggal 30 Nopember 2017
2. DPA Dinas Kesehatan Kota Banjarbaru Tahun 2017,Kegiatan Nomor
1.02.1.02.01.16.20 Bantuan Operasional Kesehatan (BOK)(DAK Non Fisik)

MEMERINTAHKAN

Kepada :

NO NAMA/NIP Pangkat/Golongan JABATAN

1 dr.Diah Ratih Susiarini Pembina Utama Muda/IV c Dokter Madya


NIP. 19580413 198802 2 001

2 Maslimah Elyati,SKM Penata / III c Pelaksana Promosi Kesehatan


NIP.19681231 198903 2 003

``
Untuk melaksanakan tugas : Narasumber pada pertemuan lintas sektor di Puskesmas Banjarbaru
Utara

Dikeluarkan di : Banjarbaru
Pada Tanggal : 04 Nopember 2017

Kepala Puskesmas Banjarbaru Utara

Bahrul Ilmi,SKM,MM
NIP. 19700906 199002 1 001
PEMERINTAH KOTA BANJARBARU
DINAS KESEHATAN
PUSKESMAS BANJARBARU UTARA
Jl. Karang Anyar II RT.20/RW.XI Kel. Loktabat Utara Banjarbaru 70712 - Telp (0511) 6749159

LAPORAN KEGIATAN

Nomor : -
Tanggal : 04 Nopember 2017
Lampiran : -
Perihal : Laporan Pertemuan Lintas Sektor Kepada :
Yth Kepala Puskesmas Banjarbaru Utara
Di
BANJARBARU

Pertemuan Lintas Sektor merupakan salah satu bentuk komunikasi dalam Upaya meningkatkan Kesehatan
berbasis Masyarakat yang dikelola dan diselenggarakan dari, oleh, untuk dan bersama masyarakat dalam
penyelenggaraan pembangunan kesehatan guna memberdayakan masyarakat dalam memperoleh
pengetahuan dan wawasan tentang kesehatan
1. Dasar :
DPA Dinas Kesehatan Kota Banjarbaru Tahun 2017,Kegiatan Nomor 1.02.1.02.01.16.20 Bantuan
Operasional Kesehatan (BOK)(DAK Non Fisik)
2. Tujuan : Melakukan pertemuan lintas sector untuk mendapatan masukan tentang
permasalahan kesehatan di masyarakat dan solusi pemecahan permaslahan
tersebut
3. Kegiatan : Kegiatan dilaksanakan pada tanggal 04 Nopember 2017 di Aula Puskesmas
Banjarbaru Utara
4. Hasil Kegiatan : 1. Untuk lebih ditingkatkan kewaspadaan dini masyarakat tentang beberapa
penyakit pada musim perubahan saat ini diantaranya : DBD, ISPA, Diare
yang sering muncul pada perubahan musim dengan menjaga kebersihan
lingkunagan
2. Tidak merokok didalam rumah dan di tempat-tempat umum
3. Ikut dan bersama melaksanakan kegiatan kesehatan berbasis masyarakat
dalam meningkatkan derajat kesehatan
5. Kesimpulan dan : Pertemuan lintas sektor sebaiknya dilaksanakan secara rutin, di sepakati bersama
Saran oleh masyarakat dan diselingi dengan penyuluhan masalah kesehatan

Demikian laporan ini disampaikan , mohon arahan.

Yang melaksanakan kegiatan :

dr.Diah Ratih Susiarini


NIP. 19580413 198802 2 001

Maslimah Elyati,SKM
NIP.19681231 198903 2 003
PEMERINTAH KOTA BANJARBARU
DINAS KESEHATAN
PUSKESMAS BANJARBARU UTARA
Jl. Karang Anyar II RT.20/RW.XI Kel. Loktabat Utara Banjarbaru 70712 - Telp (0511) 6749159

Banjarbaru , 3 Nopember 2017

Nomor :
Lampiran : -
Perihal : Undangan Rapat

Kepada Yth
1. Lurah Loktabat Utara
2. Lurah Mentaos
3. Tokoh Masyarakat
4. Staf Puskesmas Banjarbaru Utara

Di Tempat

Bersama ini bpk/ibu diundang untuk mengahdiri rapat pertemuan Lintas Sektor Puskesmas
Banjarbaru Utara :

Hari : Sabtu
Tanggal : 04 Nopember 2017
Tempat : Aula Puskesmas Banjarbaru Utara
Jam : 10.00 wita
Acara : Penyuluhan dan menggalang peningkatan Kewaspadaan Dini menghadapi
musim hujan
Kewaspadaan dini musim hujan
Kawasan tidak merokok di Tempat Umum

Demikian disampaikan ,kerna pentingnya acara tersebut dimohon hadir tepat waktu

Kepala,

Bahrul Ilmi,SKM,MM
Penata Tk.I
NIP. 19700906 199002 1 001
Kewaspadaan Dini Penyakit di Musim Hujan

Indonesia saat ini Indonesia sudah memasuki musim penghujan. Curah hujan tertinggi
diperkirakan terjadi pada bulan Desember sampai awal Pebruari 2018. Datangnya musim
hujan merupakan faktor risiko untuk terjadinya penyakit.

Beberapa penyakit yang perlu diwaspadai selama musim penghujan adalah penyakit akibat
virus seperti influenza, diare; Penyakit akibat bakteri dan parasit,terutama pada daerah yang
airnya meluap sehingga bakteri dan parasit dari septic tank dan kotoran hewan terangkat dan
hanyut kemudian mengkontaminasi air, bahan pangan, atau menginfeksi langsung manusia,
seperti diare, disentri, kecacingan, leptospirosis; penyakit akibat jamur terutama akibat
kelembaban pada pakaian; penyakit tidak menular seperti asma, rhinitis, perburukan penyakit
kronik; dan penyakit demam berdarah, karena meningkatnya tempat perindukan nyamuk.

Pada peralihan musim penghujan ke musim kemarau perlu diwaspadai penyakit demam
berdarah. Pada masa ini, populasi nyamuk demam berdarah meningkat karena banyaknya
tempat perindukan

Sebagai antisipasi dengan datangnya musim penghujan, upaya yang dilakukan yaitu
Meningkatkan promosi kesehatan kepada masyarakat tentang Perilaku Hidup Bersih dan
Sehat (PHBS), terutama dalam hal penggunaan air bersih; Cuci tangan dengan air bersih dan
sabun; Penggunaan jamban sehat, pemberantasan jentik di rumah, sekolah, kantor, dan
lingkungan sekitar; Konsumsi buah dan sayur setiap hari; Beraktivitas fisik setiap hari;
Membuang sampah pada tempatnya; Tidak meludah sembarangan; serta Penggunaan alat
pelindung diri, misalnya memakai sepatu boot saat terjadi banjir untuk menghindari infeksi
leptospira dan memakai lotion anti nyamuk di wilayah rawan/endemis demam berdarah.

Untuk meningkatkan kewaspadaan dini dengan surveilans melalui sarana yang tersedia,
diantaranya melalui early warning alert response system (EWARS), laporan mingguan
kewaspadaan penyakit, surveilans aktif mingguan. Meningkatkan pengawasan faktor risiko
lingkungan seperti higiene sanitasi air dan lingkungan, tempat perindukan nyamuk, dan lain-
lain terutama di daerah banjir dan rawan banjir.

Kewaspadaan dini ini bisa dilakukan oleh masyarakat melalui Kader Kesehatan, Kader
Remaja, Kader Jentik, Kader Posyandu yang di koordinasi oleh Forum RT/RW di tiap
Kelurahan yang bekerja sama dengan Puskesmas. Untuk itu marilah kita tingkatkan
kewaspadaan kita menghadapi musim hujan dengan menjaga lingkungan senantiasa bersih
dan ber PHBS.
(dari berbagai sumber) promosi kesehatan
KAWASAN TANPA ROKOK DAN PERLINDUNGAN BAGI ORANG
YANG TIDAK MEROKOK (PEROKOK PASIF)
Merokok membahayakan kesehatan diri sendiri dan kesehatan orang lain. Data WHO 2004,
di tahun 2002 lebih dari 750.000 orang Indonesia meninggal akibat penyakit yang timbul
karena rokok seperti penyakit jantung, stroke, kanker paru-paru dan lain-lain. Stroke kini
menjadi penyebab kematian terbesar di Indonesia.

Rokok adalah bahan berbahaya bagi kesehatan karena asap rokok mengandung 4000 bahan
kimia berbahaya diantaranya yang paling berbahaya adalah nikotin, tar dan CO.

Nikotin menyebabkan ketagihan dan penyakit jantung, tar menyebabkan kanker dan CO
menyebabkan gangguan fungsi jaringan.

Asap rokok juga dapat mempengaruhi kesehatan orang yang bukan perokok tetapi mendapat
paparan asap rokok dari perokok aktif yang di sebut perokok pasif. Anakanak yang terpapar
asap rokok dilingkungannya akan terkena infeki saluran pernafasan kronis, penurunan fungsi
paru, asma dan lain-lain. Perokok pasif juga akan terkena dampak penyakit yang sama
dengan perokok aktif juga bagi wanita hamil akan mempengaruhi janin dalam kandungan,
kemungkinan bayi yang dilahirkan mempunyai berat badan yang rendah, cacat atau
meninggal ketika dilahirkan atau beberapa hari sesudah dilahirkan.

Kebanyakan perokok melakukan aktivitas merokok di dalam rumah/ruangan, ketika sedang


bersama keluarga sehingga anak dan istri terkena asap rokok atau menjadi perokok pasif.

Sebagai upaya untuk melindungi perokok pasif maka Pemerintah Kota Banjarbaru giat
menerapkan Kawasan tanpa Rokok (KTR). Yang dimaksud Kawasan Tanpa Rokok (KTR)
adalah adalah ruangan atau area yang dinyatakan dilarang untuk kegiatan produksi,
penjualan, iklan promosi dan penggunaan rokok.
Menurut PP No. 19 Tahun 2003 yang termasuk KTR adalah :

1.Tempat-tempat umum (hotel, mall, restaurant, pasar, angkutan umum, tempat wisata, dll);
2.Sarana kesehatan (Rumah Sakit, Pukesmas, Klinik, Balai Pengobatan, dll);
3.Tempat kerja (Kantor Pemerintah dan Kantor Swasta, Pabrik dll);
4.Sarana peribadatan (Masjid, Mushola, Gereja, Vihara, Pura, dll);
5.Sarana pendidikan (Sekolah, TPA, lembaga pendidikan, dll).

Manfaat Kawasan Tanpa Rokok (KTR) adalah menciptakan tempat- tempat umum, sarana
kesehatan, tempat-tempat kerja, tempat ibadah dan sarana pendidikan yang sehat, nyaman
dan aman. Pengunjung, karyawan dan siswa tidak terganggu asap rokok, dapat memberikan
citra yang positif, mengurangi risiko kebakaran dan menegakkan etika merokok

Intinya Kawasan Tanpa Rokok adalah penegakan etika merokok, bagaimana si perokok tidak
mencemari orang yang tidak merokok. Bila si perokok aktif hendak merokok hendaknya diluar
dari Kawasan Tanpa Rokok.

KTR merupakan perlindungan bagi orang yang tidak merokok dan orang-orang yang ingin
menghirup udara bersih dan segar, bebas dari polusi asap rokok yang dapat merusak
kesehatan. (dari berbagai sumber)