You are on page 1of 15

MAKALAH KIMIA ANALISA

“KOMPLEKSOMETRI”

Disusun Oleh:

Disusun Oleh:
Kelompok I

1. Alodiah Nur Nafisah (E0015036)


2. Andi Lukmana (E0015037)
3. Aprilia Suryani (E0015038)
4. Arkan Santoso (E0015039)
5. Baity Rizqika Nurhidayah (E0015040)

Tingkat II B

PROGRAM STUDI S1 FARMASI


STIKES BHAKTI MANDALA HUSADA SLAWI
SEMESTER III

i
KATA PENGANTAR

Segala puji penulis panjatkan kepada Allah SWT atas limpahan Rahmat dan
hidayahNya, sehingga penulis dapat menyelesaikan makalah ini dengan judul
“Kompleksometri”. Dengan kemampuan yang ada, kami mencoba menguraikan data-data
yang ada, kami sadari semuanya dari dorongan, petunjuk dan saran dari berbagai pihak.
Akhir kata kami mohon maaf, apabila dalam pembuatan makalah ini terjadi
kekeliruan baik dalam penyajian, kata-kata, maupun dalam penyusunan makalah ini. Kami
mohon kritik dan saran pembaca demi kesempurnaan makalah ini. Semoga makalah ini
bermanfaat bagi pembaca.

Slawi, November 2016

Penulis

ii
DAFTAR ISI
HALAMAN JUDUL ................................................................................................................................. i
KATA PENGANTAR ............................................................................................................................... ii
DAFTAR ISI............................................................................................................................................. iii
BAB I PENDAHULUAN
A. Latar Belakang ............................................................................................................................. 1
B. Rumusan Masalah ....................................................................................................................... 2
C. Tujuan Penulisan ......................................................................................................................... 2

BAB II PEMBAHASAN
A. Kompleksometri ........................................................................................................................... 3
B. Indikator ....................................................................................................................................... 7
C. Kegunaan Kompleksometri ........................................................................................................ 9
D. Gambar Kompleksometri .......................................................................................................... 10

BAB III PENUTUP


A. Kesimpulan .................................................................................................................................. 11
B. Saran ............................................................................................................................................ 11

DAFTAR PUSTAKA

iii
BAB I
PENDAHULUAN

A. Latar Belakang
Titrasi amatlah penting bagi mahasiswa yang mengambil jurusan kimia dan
bidang-bidang yang berhubungan dengannya termasuk jurusan farmasi. Titrasi sampai
sekarang masih banyak dipakai di laboratorium industri disebabkan teknik ini cepat
dan tidak membutuhkan banyak reagen. Titrasi merupakan salah satu teknik analisis
kimia kuantitatif yang dipergunakan untuk menentukan konsentrasi suatu larutan
tertentu, dimana penentuannya menggunakan suatu larutan standar yang sudah
diketahui konsentrasinya secara tepat. Pengukuran volume dalam titrasi memegang
peranan yang amat penting sehingga ada kalanya sampai saat ini banyak orang yang
menyebut titrasi dengan nama analisis volumetri. Larutan yang dipergunakan untuk
penentuan larutan yang tidak diketahui konsentrasinya diletakkan di dalam buret dan
larutan ini disebut sebagai larutan standar atau titran atau titrator, sedangkan larutan
yang tidak diketahui konsentrasinya diletakkan di Erlenmeyer dan larutan ini disebut
sebagai analit. Titran ditambahkan sedikit demi sedikit pada analit sampai diperoleh
keadaan dimana titran bereaksi secara equivalen dengan analit, artinya semua titran
habis bereaksi dengan analit keadaan ini disebut sebagai titik equivalen. Titik
equivalent dapat ditentukan dengan berbagai macam cara, cara yang umum adalah
dengan menggunakan indicator. Indikator akan berubah warna dengan adanya
penambahan sedikit mungkin titran, dengan cara ini maka kita dapat langsung
menghentikan proses titrasi.Keadaan dimana titrasi dihentikan dengan adanya
perubahan warna indicator disebut sebagai titik akhir titrasi. Titrasi yang bagus
memiliki titik equivalent yang berdekatan dengan titik akhir titrasi dan kalau bisa
sama. Tidak semua zat bisa ditentukan dengan cara titrasi akan tetapi kita harus
memperhatikan syarat-syarat titrasi untuk mengetahui zat apa saja yang dapat
ditentukan dengan metode titrasi untuk berbagai jenis titrasi yang ada. Mengenal
berbagai macam peralatan yang dipergunakan dalam titrasipun sangat berguna agar
kita mahir melakukan teknik titrasi. Terdapat bermacam-macam titrasi, salah satunya
adalah “TITRASI KOMPLEKSOMETRI” yang akan dibahas dalam makalah ini.
Titrasi kompleksometri adalah penetapan kadar zat berdasarkan atas
pembentukkan senyawa kompleks yang larut, yang berasal dari reaksi antara ion

1
logam/kation (komponen zat uji) dengan zat pembentuk kompleks sebagai ligan
(pentiter). Salah satu zat pembentuk kompleks yang banyak digunakan dalam titrasi
kompleksometri adalah garam dinatrium etilendiamina tetraasetat (dinatrium EDTA).
Senyawa ini dengan banyak kation membentuk kompleks dengan perbandingan 1 : 1.
Suatu titik ekivalen segera tercapai dalam titrasi dan akhirnya titrasi
kompleksometri dapat digunakan untuk penentuan beberapa logam pada operasi skala
semi-mikro. Oleh sebab itu, kami membuat makalah tentang “kompleksometri” ini
yang diharapkan dapat memberi penjelasan tentang segala sesuatu yang berhubungan
dengan kompleksometri serta semoga dapat memberi manfaat bagi semua pihak.

B. Rumusan Masalah
1. Apa yang dimaksud kompleksometri?
2. Indikator apa saja yang bisa digunakan dalam titrasi kompleksometri?
3. Apa sajakah kegunaan dari kompleksometri?

C. Tujuan
1. Untuk mengetahui pengertian dari kompleksometri.
2. Untuk mengetahui indikator yang bisa digunakan dalam titrasi kompleksometri.
3. Untuk mengetahui kegunaan dari kompleksometri.

2
BAB II
PEMBAHASAN

A. Kompleksometri
Kompleksometri adalah suatu cara untuk penetapan kadar zat–zat (kation)
yang dapat membentuk senyawa kompleks dengan suatu komplekson. Prinsipnya
adalah pembentukan senyawa kompleks antara ion logam dengan EDTA.
Titrasi kompleksometri adalah titrasi berdasarkan pembentukan senyawa
kompleks antara kation dengan zat pembentuk kompleks. Salah satu zat pembentuk
kompleks yang banyak digunakan dalam titrasi kompleksometri adalah garam
dinatrium etilendiamina tetraasetat (dinatrium EDTA). (Khopkar, 1990).
Kompleksometri merupakan jenis titrasi dimana titran dan titrat saling
mengkompleks, membentuk hasil berupa kompleks. Reaksi–reaksi pembentukan
kompleks atau yang menyangkut kompleks banyak sekali dan penerapannya juga
banyak, tidak hanya dalam titrasi. Karena itu perlu pengertian yang cukup luas
tentang kompleks, sekalipun disini pertama-tama akan diterapkan pada titrasi.
(Khopkar, 1990)
Salah satu tipe reaksi kimia yang berlaku sebagai dasar penentuan titrimetrik
melibatkan pembentukan (formasi) kompleks atau ion kompleks yang larut namun
sedikit terdisosiasi. Kompleks yang dimaksud di sini adalah kompleks yang dibentuk
melalui reaksi ion logam, sebuah kation, dengan sebuah anion atau molekul netral.
(Basset, 1994)
Titrasi kompleksometri juga dikenal sebagai reaksi yang meliputi reaksi
pembentukan ion-ion kompleks ataupun pembentukan molekul netral yang
terdisosiasi dalam larutan. Persyaratan mendasar terbentuknya kompleks demikian
adalah tingkat kelarutan tinggi. Selain titrasi komplek biasa seperti di atas, dikenal
pula kompleksometri yang dikenal sebagai titrasi kelatometri, seperti yang
menyangkut penggunaan EDTA. (Khopkar, 1990)
Titrasi kompleksometri adalah penetapan kadar zat berdasarkan atas
pembentukkan senyawa kompleks yang larut, yang berasal dari reaksi antara ion
logam/kation (komponen zat uji) dengan zat pembentuk kompleks sebagai ligan
(pentiter).

3
Salah satu zat pembentuk kompleks yang banyak digunakan dalam titrasi
kompleksometri adalah garam dinatrium etilendiamina tetra asetat (dinatrium EDTA).
Senyawa ini dengan banyak kation membentuk kompleks dengan perbandingan 1 :
Contoh reaksi titrasi kompleksometri :
Ag+ + 2 CN- Ag(CN)2
Hg2+ + 2Cl- HgCl2
Salah satu tipe reaksi kimia yang berlaku sebagai dasar penentuan titrimetrik
melibatkan pembentukan (formasi) kompleks atau ion kompleks yang larut namun
sedikit terdisosiasi. Kompleks yang dimaksud disini adalah kompleks yang dibentuk
melalui reaksi ion logam, sebuah kation, dengan sebuah anion atau molekul netral.
Titrasi kompleksometri juga dikenal sebagai reaksi yang meliputi reaksi pembentukan
ion-ion kompleks ataupun pembentukan molekul netral yang terdisosiasi dalam
larutan. Persyaratan mendasar terbentuknya kompleks demikian adalah tingkat
kelarutan tinggi. Selain titrasi komplek biasa seperti di atas, dikenal pula
kompleksometri yang dikenal sebagai titrasi kelatometri, seperti yang menyangkut
penggunaan EDTA. Gugus yang terikat pada ion pusat, disebut ligan, dan dalam
larutan air, reaksi dapat dinyatakan oleh persamaan :
M(H2O)n + L = M(H2O)(n-1) L + H2O

Faktor-faktor yang mempengaruhi kestabilan kompleks, yaitu :


a. Kemampuan mengkompleks logam-logam.
Kemampuan mengkompleks relatif (dari) logam-logam digambarkan dengan baik
menurut klarifikasi Schwarzenbach, yang dalam garis besarnya didasarkan atas
pembagian logam menjadi asam Lewis (penerima pasangan elektron) kelas A dan
kelas B.
b. Ciri-ciri khas ligan itu.
Di antara ciri-ciri khas ligan yang umum diakui sebagai mempengaruhi kestabilan
kompleks dalam mana ligan itu terlibat, adalah:
1) Kekuatan basa dari ligan itu,
2) Sifat-sifat penyepitan (jika ada), dan
3) Efek-efek sterik (ruang).

4
Jenis-jenis kompleksometri:
1. Unidentat
Ligan yang mempunyai 1 gugus donor pasangan elektron.
Contoh : NH3, CN.
2. Bidentat
Ligan yang mempunyai 2 gugus donor pasangan elektron.
Contoh : Etilendiamin.
3. Polidentat
Ligan yang mempunyai banyak gugus donor pasangan elektron.
Contoh : asam etilendiamintetraasetat (EDTA).

Pengaruh pH
1. Suasan terlalu asam
Proton yang dibebaskan pada reaksi yang terjadi dapat mempengaruhi pH, dimana
jika H+ yang dilepaskan terlalu tinggi, maka hal tersebut dapat terdisosiasi
sehingga kesetimbangan pembentukkan kompleks dapat bergeser ke kiri, karena
terganggu oleh suasana system titrasi yang terlalu asam.
Pencegahan : sistem titrasi perlu didapar untuk mempertahankan pH yang
diinginkan.
2. Suasana terlalu basa
Bila pH sistem titrasi terlalu basa, maka kemungkinan akan terbentuk endapan
hidroksida dari logam yang bereaksi.
Mn+ + n(OH) M(OH)n ↓
Sehingga jika pH terlalu basa, maka reaksi kesetimbangan akan bergeser ke
kanan, sehingga pada suasana basa yang banyak akan terbentuk endapan.

Macam-Macam Titrasi kompleksometri


1. Titrasi Langsung
a. Prinsip
Ion logam yang berada dalam larutan dititrasi langsung oleh EDTA dengan
menggunakan indikator yang sesuai.
b. Perhatian
Perlu dilakukan titrasi blanko untuk memeriksa adanya senyawa pengotor
logam dalam pereaksi, karena pengotor logam dapat bereaksi dengan EDTA

5
sehingga dikhawatirkan dapat membentuk kompleks logam-EDTA, karena
sifat EDTA yang tidak spesifik.
2. Titrasi Kembali
a. Prinsip
Dilakukan jika penentuan TA secara titrasi langsung tidak mungkin.
b. Penggunaan
- Digunakan untuk penentuan logam yang mengendap sebagai
hidroksida/senyawa yang tidak larut pada pH kerja titrasi. Seperti : Pb-
sulfat dan Ca-oksalat.
- Digunakan untuk logam yang bereaksi lambat dengan EDTA, dimana
pembentukan kompleks logam-EDTA terjadi sangat lambat dan labil
pada pH titrasi.
- Tidak ada indikator yang sesuai.
c. Cara titrasi kembali
Larutan yang mengandung logam ditambah EDTA berlebih, lalu system
titrasi didapar pada pH yang sesuai, kemudian dipanaskan (untuk
mempercepat terbantuknya kompleks). Setelah dingin, kelebihan EDTA
dititrasi kembali dengan larutan baku Zn2+ (ZnCl2, ZnSO4, ZnO) atau
larutan baku logam Mg2+ (MgO, MgSO4).
3. Titrasi Subtitusi
a. Prinsip
- Dipilih titrasi substitusi jika cara titrasi langsung dan titrasi kembali
tidak dapat memberikan hasil yang baik.
- Dipilih jika ion logam tidak bereaksi sempurna dengan indikator
logam.
- Stabilitas kompleks logam-EDTA lebih besar dibandingkan dengan
stabilitas kompleks logam lain, seperti : Mg2+ atau Zn2+ (Mg-EDTA
dan Zn-EDTA).

6
B. Indikator
Titrasi dapat ditentukan dengan adanya penambahan indikator yang berguna
sebagai tanda tercapai titik akhir titrasi. Ada lima syarat suatu indikator ion logam
dapat digunakan pada pendeteksian visual dari titik-titik akhir yaitu:
1. Reaksi warna harus sedemikian sehingga sebelum titik akhir, bila hampir semua
ion logam telah berkompleks dengan EDTA, larutan akan berwarna kuat.
2. Reaksi warna itu haruslah spesifik (khusus), atau sedikitnya selektif.
3. Kompleks-indikator logam itu harus memiliki kestabilan yang cukup, kalau tidak,
karena disosiasi, tak akan diperoleh perubahan warna yang tajam.
4. Kompleks-indikator logam itu harus kurang stabil dibanding kompleks logam-
EDTA untuk menjamin agar pada titik akhir, EDTA memindahkan ion-ion logam
dari kompleks-indikator logam ke kompleks logam-EDTA harus tajam dan cepat.
5. Kontras warna antara indikator bebas dan kompleks-indikator logam harus
sedemikian sehingga mudah diamati. Indikator harus sangat peka terhadap ion
logam (yaitu, terhadap pM) sehingga perubahan warna terjadi sedikit mungkin
dengan titik ekuivalen. Larutan indikator bebas mempunyai warna yang berbeda
dengan larutan kompleks indikator.

Indikator yang bisa digunakan dalam titrasi kompleksometri:


1. Eriochrom Black-T (EBT)
Digunakan pada daerah pH 7 – 11. Suatu kelemahan dari EBT bahwa
larutannya tidak stabil, bila disimpan akan terjadi peruraian secara
lambat,sehingga setelah janka waktu tertentu indikator tidak berfungsi lagi. Suatu
kesulitan yang dialami indikator metalokromik adalah pembentukan kelat dengan
logam yang tidak reversibel atau terlalu kuat. Bila hal ini terjadi maka tidak dapat
terjadi perubahan warna dan indikator kehilangan fungsinya. Kejadian ini disebut
blocking indikator. Mengalami blocking dengan Fe³⁺. Merupakan asam lemah,
tidak stabil dalam air karena senyawa organik ini merupakan gugus sulfonat yang
mudah terdisosiasi sempurna dalam air dan mempunyai 2 gugus fenol yang
terdisosiasi lambat dalam air.
Penggunaan : Penentuan kadar Ca, Mg, Cd, Zn, Mn, Hg.

7
2. Murexide
Merupakan indikator yang sering digunakan untuk titrasi Ca2+, pada pH=12.
3. Jingga Xylenol
Kompleks dengan logam memberikan warna merah.
4. Calmagite
Dapat digunakan sebagai pengganti EBT, karena calmagite lebih stabil, daerah
terjadinya pada pH 8,1-12,4 dan warna indikator bebasnya biru. Mengalami
blocking dengan Cu, Ni, Fe³⁺, dan Al.
5. Arzenazo
Digunakan untuk Ca maupun Mg, juga baik untuk titrasi Pb(IV) dengan EDTA.
Keuntungan menggunakan indikator ini adalah:
- Tidak mengalami blocking oleh Cu(II) dan Fe(III) dalam jumlah kecil.
- Bereaksi cepat sehingga terjadinya perubahan warna juga lebih cepat.
6. NAS
Digunakan pada daerah pH 3-9. Dalam larutan yang sangat asam NAS berwarna
merah violet pada pH 3,5 keatas berwarna merah jingga. Penggunaan NAS cukup
luas dan dianjurkan untuk titrasi Cu, Co(II), Cd, Ni, Zn, Al dengan EDTA.
7. Calcon
Calcon merupakan garam natrium dari Eriochrome Blue Black R, yang disebut
juga Pontachrome Blue Black R. Molekul indikator berwarna hijau dan hanya
terdapat dalam larutan asam kuat. Pada pH 7 sampai 10 berwarna merah,
kemudian biru sampai pH 13,5 dan diatasnya jingga. Kelat Calcon dengan logam
berwarna merah dan ternyata sangat cocok untuk titrasi Ca pada pH 12,5 – 13
tanpa terganggu oleh Mg. Perubahan warna dari merah menjadi biru. Dengan
indikator ini maka dapat ditentukan kesadahan air yang disebabkan oleh Ca saja
tidak termasuk kesadahan oleh Mg.
8. Tiron
9. Violet cathecol
10. Fast sulphon black F
11. Varjamin blue B
12. Bromopirogalol merah
13. Timolftalekson

8
Beberapa indikator logam sering menglami penguraian apabila dilarutkan
dalam air. Sehingga stabilitas di dalam larutan rendah sekali. Oleh karena itu,
dalam prakteknya sering dibuat pengenceran dengan NaCl atau KNO3 dengan
perbandingan 1:500.

C. Kegunaan Kompleksometri
1. Penetapan Total Kesadahan Air
Pada umumnya kesadahan jumlah air, disebabkan oleh kandungan garam Kalsium
atau Magnesium. Larutan ion Mg2+ dan ion Ca2+ dititar secara kompleksometri
dengan larutan EDTA dan digunakan petunjuk EBT. Pertama-tama EDTA akan
bereaksi dengan ion Ca2+ ,kemudian dengan ion Mg2+ dan akhirnya dengan
senyawa rangkai Mg-EBT yang berwarna merah anggur. Titik akhir pada pH 7-
11, dengan adanya perubahan warna dari merah anggur menjadi biru yang berasal
dari larutan penunjuk yang bebas.
2. Penetapan kadar Mg dan MgCl2
2+
Pada pH 10, Mg dapat ditetapkan secara kompleksometri. Mg dalam contoh
dapat bereaksi dengan EDTA dan menggunakan indicator EBT. Mg dan EBT
membentuk senyawa rangkai yang berwarna merah anggur.Larutan penunjuk
yang bebas berwarna biru pada pH 7-11 warna larutan pada titik akhir berubah
dari merah menjadi biru.
3. Analisis Kadar Attapulgite dalam Tablet A
Attapulgite dalam tablet A dapat ditetapkan dengan cara titrasi kompleksometri.
Attapulgite dapat dititar dengan EDTA 0,05 M. Dengan indikator EBT akan
menghasilkan titik akhir berwarna biru kecoklatan.

Kelebihan
EDTA stabil, mudah larut, dan menujukkan komposisi kimiawi yang tertentu.
Selektivitas kompleks dapat diatur dengan pengendalian pH, misal Mg, Cr, Ca, dan
Ba dapat dititrasi pada pH 11; Mn2+, Fe, Co, Ni, Zn, Cd, Al, Pb, Cu, Ti, dan V dapat
dititrasi pada pH 4-7. terakhir logam seperti Hg, Bi, Co, Fe, Cr, Ca, In, Sc, Ti, V, dan
Th dapat dititirasi pada pH 1-4. EDTA sebagai natrium, Na2H2Y sendiri merupakan
standar primer sehingga tidak perlu distandarisasi lebih lanjut. Kompleks yang mudah
larut dalam air ditemukan. Suatu titik ekivalen segera tercapai dalam titrasi dan

9
akhirnya titrasi kompleksometri dapat digunakan untuk penentuan beberapa logam
pada operasi skala semi-mikro.

Kesalahan Titrasi
Kesalahan titrasi kompleksometri tergantung pada cara yang dipakai untuk
mengetahui titik akhir. Pada prinsipnya ada dua cara, yaitu kelebihan titran yang
pertama ditunjukan atau berkurangnya konsentrasi komponen tertentu sampai batas
yang ditentukan, dideteksi. Pertama, kesalahan titrasi dihitung dengan cara yang sama
pada titrasi pengendapan. Kedua, digunakan senyawa yang membentuk senyawa
kompleks yang berwarna tajam dengan logam yang ditetapkan. Warna ini hilang atau
berubah sewaktu logam telah diikat menjadi kompleks yang lebih stabil. Misalnya
EDTA.

D. Gambar Kompleksometri

(kiri) titik akhir titrasi tercapai . (kanan) setelah penambahan indikator EBT sebelum dititrasi .

(kiri) melewati titik akhir titrasi. (kanan) titik akhir titrasi tercapai

10
BAB III
PENUTUP

A. Kesimpulan
Kompleksometri adalah penetapan kadar yang berdasarkan atas pembentukan,
senyawa kompleks yang larut, yang berasal dari reaksi kation dengan zat pembentuk
kompleks sebagai ligan (pentiter) dengan jenis-jenis ligan yaitu unidentat, bidentat,
polidentat, dengan memperhatikan pengaruh PH (keasaman), beberapa indicator yang
di gunakan, dan beragam cara titrasi.

Berdasarkan Pembahasan tersebut maka kesimpulan yang dapat diambil adalah:


1. Titrasi kompleksometri adalah salah satu metode kuantitatif dengan
memanfaatkan reaksi kompleks antara ligan dengan ion logam utamanya.
2. Indikator yang banyak digunakan dalam titrasi kompleksometri adalah:
a) Hitam eriokrom
b) Jingga xilenol
c) Biru Hidroksi Naftol
3. Kegunaan Titrasi Kompleksometri diantaranya adalah:
a) Penetapan total kesadahan air.
b) Penetapan kadar Mg dan MgCl2
c) Analisis kadar Attapulgite dalam tablet A

B. Saran
Penulis menyadari bahwa karya ilmiah ini masih banyak kekurangan. Jadi,
bagi pembaca di harapkan dapat memberikan kritik dan saran yang membangun, agar
penulis bisa lebih baik lagi dalam membuat/menyusun makalah selanjutnya.

11
DAFTAR PUSTAKA

Chem-is-try.org/ Beberapa Contoh Penetapan dalam Kompleksometri


Chem-is-try.org/ Penetapan kadar Ca dan Mg (metode Kompleksometri)
Wikipedia.org/Titrasi Kompleksometri
Chem-is-try.org/Rangkuman Kompleksometri
Annisanfushie's Weblog.htm/ Kompleksometri
Chem-is-try.org/Kesalahan Titrasi Kompleksometri
Chem-is-try.org/Kelebihan Titrasi Kompleksometri

12