You are on page 1of 20

LAPORAN PENDAHULUAN

BLIGHTED OVUM

1.1 Review Konsep Anatomi Fisiologi Sistem


1.1.1 Anatomi dan Fisiologi

Uterus merupakan organ berongga dan berdinding tebal, terletak di


tengah-tengah rongga panggul di antara kandung kemih dan
rektum.9,20,21 Uterus pada wanita nulipara dewasa berbentuk
seperti buah avokad atau buah pir dengan ukuran 7,5 x 5 x 2,5 cm
(Bobak, 2011).

Berat uterus normal lebih kurang 30 gram. Pada akhir kehamilan


(40 minggu) berat uterus menjadi 1000 gram, dengan panjang lebih
kurang 20 cm dan dinding lebih kurang 2,5 cm. Hubungan
besarnya uterus dengan tuanya usia kehamilan sangat penting
diketahui, antara lain untuk membuat diagnosis apakah tersebut
hamil fisiologik, atau hamil ganda, atau mengalami hamil
molahidatidosa dan sebagainya. Pada kehamilan 28 minggu fundus
uteri terletak kira-kira 3 jari di atas pusat atau sepertiga jarak antara
pusat ke prosesus xipoideus. Pada kehamilan 32 minggu fundus
uteri terletak antara setengah jarak pusat dan prosesus xipoideus.
Pada kehamilan 36 minggu fundus uteri terletak kira-kira 1 jari
dibawah prosesus xipoideus. Bila pertumbuhan janin normal maka
tinggi fundus uteri pada kehamilan 28 minggu sekurangnya 25 cm,
pada 32 minggu 27 cm, pada 36 minggu 30 cm. Pada kehamilan 40
minggu fundus uteri turun kembali dan terletak kira-kira 3 jari
dibawah prosesus xipoideus (Saifuddin, 2013).
Uterus terbagi menjadi dua bagian besar, yaitu corpus uteri dan
serviks uteri, dimana kedua bagian tersebut menyatu pada bagian
yang disebut ismus. Hampir seluruh dinding uterus diliputi oleh
serosa (peritoneum viseral) kecuali di bagian anterior dan di bawah
ostium histologikum uteri internum. Uterus mempunyai tiga
lapisan:
1. Lapisan serosa (peritoneum viseral). Di bawahnya terdapat
jaringan ikat subserosa; lapisan yang paling padat dan terdapat
berbagai macam ligamen yang memfiksasi uterus ke serviks.
2. Miometrium; lapisan otot uterus dan lapisan paling tebal,
terdiri atas serabut-serabut otot polos yang dipisahkan oleh
jaringan ikat yang mengandung pembuluh darah. Miometrium
terdiri atas tiga lapisan, otot sebelah luar berjalan longitudinal
dan lapisan sebelah dalam berjalan sirkuler, di antara kedua
lapisan ini otot polos berjalan saling beranyaman. Miometrium
dalam keseluruhannya dapat berkontraksi dan berelaksasi.
Ketebalan miometrium sekitar 15 mm pada uterus perempuan
nulipara dewasa.
3. Endometrium; lapisan terdalam yang terdapat di sekitar rongga
uterus.
Endometrium terdiri atas epitel selapis kubik, kelenjar-kelenjar
dan stroma dengan banyak pembuluh darah yang berkelok-
kelok. Endometrium mengalami perubahan yang cukup besar
selama siklus menstruasi. Bagian atas uterus disebut fundus
uteri dan merupakan tempat tuba Falopii kanan dan kiri masuk
ke uterus.

1.2 Konsep Penyakit Blighted Ovum


1.2.1 Definisi
Blighted ovum disebut juga kehamilan anembrionik merupakan suatu
keadaan kehamilan patologi dimana janin tidak terbentuk. Dalam
kasus ini kantong kehamilan tetap terbentuk. Selain janin tidak
terbentuk kantong kuning telur juga tidak terbentuk. Kehamilan ini
akan terus dapat berkembang meskipun tanpa ada janin di dalamnya
(Hanifa, 2011).
Blighted ovum ini biasanya pada usia kehamilan 14-16 minggu akan
terjadi abortus spontan (Sarwono, 2009). Blighted ovum merupakan
kehamilan dimana kantung gestasi memiliki diameter katung lebih
dari 20 mm akan tetapi tanpa embrio. Tidak dijumpai pula adanya
denyut jantung janin. Blighted ovum cenderung mengarah pada
keguguran yang tidak terdeteksi (Manuaba, 2010).

Blighted ovum adalah kehamilan di mana sel berkembang


membentuk kantung kehamilan, tetapi tidak ada embrio di dalamnya.
Telur dibuahi dan menempel ke dinding uterin, tetapi embrio tidak
berkembang. Dalam pemeriksaan urin diperoleh hasil positif hamil.
Hasil pembuahan akan terjadi keguguran saat trimester pertama
kehamilan (Hummel, 2014).

Dapat disimpulkan Blighted Ovum (BO) merupakan kehamilan tanpa


embrio. Dalam kehamilan ini kantung ketuban dan plasenta tetap
terbentuk dan berkembang, akan tetapi tidak ada perkembangan janin
di dalamnya (kosong). Kehamilan ini akan berkembang seperti
kehamilan biasa seperti uterus akan membesar meskipun tanpa ada
janin di dalamnya.

1.2.2 Etiologi
Blighted ovum terjadi saat awal kehamilan. Penyebab dari blighted
ovum saat ini belum diketahui secara pasti, namun diduga karena
beberapa faktor. Faktor-faktor blighted ovum (Dwi, 2013) :
1. Adanya kelainan kromosom dalam pertumbuhan sel sperma dan
sel telur.
2. Meskipun prosentasenya tidak terlalu besar, infeksi rubella,
infeksi TORCH, kelainan imunologi, dan diabetes melitus yang
tidak terkontrol.
3. Faktor usia dan paritas. Semakin tua usia istri atau suami dan
semakin banyak jumlah anak yang dimiliki juga dapat
memperbesar peluang terjadinya kehamilan kosong.
4. Kelainan genetik.
5. Kebiasaan merokok dan alkohol.

1.2.3 Tanda dan gejala


Menurut (Sanders, 2007) beberapa tanda dan gejala blighted ovum
meliputi :
1. Pada awalnya pemeriksaan awal tes kehamilan menunjukkan hasil
positif. Wanita merasakan gejala-gejala hamil, dalam seperti
mudah lelah, merasa ada yang lain pada payudara atau mual-
mual.
2. Hasil pemeriksaan USG saat usia kehamilan lebih dari 8 minggu
rahim masih kosong.
3. Meskipun tidak ada perkembangan embrio, tetapi kadar HCG
akan terus diproduksi oleh trofoblas di kantong.
4. Kemungkinan memiliki kram perut ringan, dan atau perdarahan
bercak ringan.
5. Blighted ovum sering tidak menyebabkan gejala sama sekali.
Gejala dan tanda-tanda mungkin termasuk :
a. Periode menstruasi terlambat
b. Kram perut
c. Minor vagina atau bercak perdarahan
d. Tes kehamilan positif pada saat gejala
e. Ditemukan setelah akan tejadi keguguran spontan dimana
muncul keluhan perdarahan
f. Hampir sama dengan kehamilan normal
g. Gejala tidak spesifik (perdarahan spotting coklat kemerah-
merahan, kram perut,bertambahnya ukuran rahim yang
lambat).
h. Tidak sengaja ditemukan dengan USG

1.2.4 Patofisiologi
Pada saat pembuahan, sel telur yang matang dan siap
dibuahi bertemu sperma. Namun dengan berbagai penyebab
(diantaranya kualitas telur/sperma yang buruk atau terdapat infeksi
torch), maka unsur janin tidak berkembang sama sekali. Hasil
konsepsi ini akan tetap tertanam didalam rahim lalu rahim yang
berisi hasil konsepsi tersebut akan mengirimkan sinyal pada indung
telur dan otak sebagai pemberitahuan bahawa sudah terdapat hasil
konsepsi didalam rahim. Hormon yang dikirimkan oleh hasil
konsepsi tersebut akan menimbulkan gejala-gejala kehamilan seperti
mual, muntah dan lainya yang lazim dialami ibu hamil pada
umumnya. Hal ini disebabkan Plasenta menghasilkan
hormone HCG (human chorionic gonadotropin) dimana hormon ini
akan memberikan sinyal pada indung telur (ovarium) dan otak
sebagai pemberitahuan bahwa sudah terdapat hasil konsepsi di
dalam rahim. Hormon HCG yang menyebabkan munculnya gejala-
gejala kehamilan seperti mual, muntah, ngidam dan menyebabkan tes
kehamilan menjadi positif. Karena tes kehamilan baik test pack
maupun laboratorium pada umumnya mengukur kadar hormon HCG
(human chorionic gonadotropin) yang sering disebut juga sebagai
hormon kehamilan (Bobak, 2011).

1.2.5 Pathway
Sel Telur Sel Sperma

Konsepsi

Kelainan Infeksi TORCH, Usia dan paritas Genetik


Kromosom kelainan
imunologi, DM.

Hasil Konsepsi Tetap Tertanam

Rahim mengirim sinyal pada indung


telur dan otak

Plasenta menghasilkan hormon HCG Kehamilan tanpa embrio

Mual & Mudah Abortus


muntah lelah Spontan

MK: MK: Risiko Curratage


Keletihan Perdarahan

MK: MK: Risiko


Ansietas infeksi

(Sumber : Kurjak, 2006; Prawihardjo, 2011 dan Arora, 2014)

1.2.6 Komplikasi
1. Robekan serviks yang disebabkan oleh tenakulum.
Penanganan : Jika terjadi perdarahan, serviks yang robek dijahit
kembali untuk menghentikan perdarahan.
2. Perforasi yang disebabkan oleh sonde uterus, abortus tank, dan
alat kuretnya.
Penanganan : Hentikan tindakan dan konsultasi dengan bagian
bedah bila ada indikasi untuk dilakukan laparatomi.
3. Perdarahan post kuretase yang disebabkan oleh atonia uteri,
trauma dan sisa hasil konsepsi perdarahan memanjang.
Penanganan : Profilaksis dengan pemberian uterotonika,
konsultasi dengan bagian bedah dan kuretase ulang. Profilaksis
menggunakan metergin dengan dosis Oral 0,2-0,4 mg , 2-4 kali
sehari selama 2 hari dan IV / IM 0,2 mg , IM boleh diulang 2–4
jam bila perdarahan hebat.

Jika terjadi atonia uteri dilakukan penanganan atonia uteri yaitu


memposisikan pasien trendelenburg, memberikan oksigen dan
merangsang kontraksi uterus dengan cara masase fundus uteri
dan merangsang puting susu, memberikan oksitosin, kompresi
bimanual ekternal, kompresi bimanual internal dan kompresi
aorta abdominalis. Jika semua tindakan gagal lakukan tindakan
operatif laparatomi dengan pilihan bedah konservatif
(mempertahankan uterus) atau dengan histerektomi (Sarwono,
2009).

4. Infeksi post tindakan ditandai dengan demam dan tanda infeksi


lainnya Penanganan: Berikan profilaksis dengan pemberian
uterotonika. Profilaksis menggunakan metergin dengan dosis
Oral 0,2-0,4 mg , 2-4 kali sehari selama 2 hari dan IV / IM 0,2
mg , IM boleh diulang 2–4 jam bila perdarahan hebat.
(Manuaba, 2010).
1.2.7 Prognosis
Jika telah didiagnosis blighted ovum, maka tindakan selanjutnya
adalah mengeluarkan hasil konsepsi dari rahim atau kuretase. Hasil
kuretase akan dianalisa untuk memastikan apa penyebab blighted
ovum lalu mengatasi penyebabnya. Jika karena infeksi maka dapat
diobati sehingga kejadian ini tidak berulang. Jika penyebabnya
antibodi maka dapat dilakukan program imunoterapi sehingga kelak
dapat hamil dengan normal.

1.2.8 Penanganan Medis


Jika telah didiagnosis blighted ovum, maka tindakan selanjutnya
adalah mengeluarkan hasil konsepsi dari rahim (kuretase). Hasil
kuretase akan dianalis untuk memastikan apa penyebab blighted
ovum lalu mengatasi penyebabnya. Jika karena infeksi maka maka
dapat diobati agar tidak terjadi kejadian berulang. Jika
penyebabnya antibodi maka dapat dilakukan program imunoterapi
sehingga kelak dapat hamil sungguhan.

Penyebab blighted ovum yang dapat diobati jarang ditemukan,


namun masih dapat diupayakan jika kemungkina penyebabnya
diketahui. Sebagai contoh, tingkat hormon yang rendah mungkin
jarang menyebabkan kematian dini ovum.

Dalam kasus ini, pil hormon seperti progesteron dapat bekerja.


Namun efek samping dari pemakaian hormon adalah sakit kepala
dan perubahan suasana hati, dll. Jika terjadi kematian telur di awal
kehamilan secara langsung, maka pembuahan buatan mungkin
efektif dalam memproduksi kehamilan. Dalam hal ini perlu donor
sperma atau ovum untuk memiliki anak. Akan tetapi, pembuahan itu
mahal dan tidak selalu bekerja dan risiko kelahiran kembar
seiringkali lebih tinggi. Pada pasien diterapi dengan pemberian
preparat misoprostol, setelah terjadi dilatasi serviks kemudian
dilakukan kuretase.

1.3 Rencana asuhan klien dengan Blighted Ovum


1.3.1 Pengkajian
 Identitas & Umur
Apakah pasien berusia <20 tahun atau >35 tahun.
 Riwayat penyakit sekarang, dahulu dan keluarga
1) Riwayat Kesehatan Dahulu
Apakah klien pernah atau tidak pernah menderita penyakit
menular (seperti TBC, kusta), penyakit menurun (DM, HT,
asma, dll) serta serta penyakit infeksi seperti TORCH. Infeksi
dari torch, kelainan imunologi dan penyakit diabetes dapat
ikut menyebabkan terjadinya blighted ovum.
2) Riwayat Kesehatan Sekarang
Bagaimana keadaan kesehatan klien saat ini, apakah klien
sedang menderita menular (seperti TBC, kusta), penyakit
menurun (jantung, Diabetes, hipertensi, asma, dll) serta
penyakit infeksi seperti TORCH.
3) Riwayat Kesehatan keluarga
Apakah dalam keluarganya/keluarga, atau suaminya ada atau
tidak yang mempunyai penyakit menurun (seperti DM, HT,
asma, dll), penyakit menular (TBC, Kusta) serta ada atau
tidak yang mempunyai keturunan kembar, bila ada siapa.
Perlu dikaji untuk mengetahui penyakit yang diderita
keluarga yang dapat menurun atau menular pada ibu sehingga
mempengaruhi masa kehamilan.
 Pemeriksaan fisik: head to too
Keadaan umum
Inspeksi:
Kepala dan Wajah
Meliputi keadaan rambut, apakah ada edema pada wajah ,
warna pada sklera mata,warna konjungtiva.
Leher
Apakah ada pembesaran kelenjar tiroid, pembesaran
pembuluh limfe, dan pembesaran vena jugularis.
Payudara
Mengamati bentuk, ukuran, dan kesimetrisannya, puting susu
menonjol atau masuk ke dalam. Adanya kolostrum atau
cairan lainnya, misalnnya ulkus, retraksi akibat adanya lesi,
masa atau pembesaran pembuluh limfe.
Abdomen
Terdapat linea nigra, striae uvidae/albican,dan terdapat
pembesaran abdomene.
Genetalia
Apakah terdapat varices pada vulva dan vagina, oedema,
condilomatalata, condylomaacuminata, pembesaran kelenjar
skene dan bartholini, keputihan dan untuk mengetahui adanya
kelainan alat reproduksi
a. Pemeriksaan genikologi
Ada tidaknya tanda akut abdomen jika memungkinkan,
cari sumber perdarahan, apakan dari dinding vagina atau
dari jaringan servik.
b. Pemeriksaan vaginal touche: bimanual tentukan besat
dan letak uterus, tantukan juga apakah satu jari
pemeriksa dapat dimasukkan kedalam ostium dengan
mudah atau tidak.
 Pemeriksaan penunjang
Pemeriksaan yang dilakukan untuk menegakkan diagnosa
blighted ovum adalah dengan Tes Kehamilan dan USG
(Ultrasonografi) menunjukkan kantung kehamilan kosong
(Hummel, 2005).

Diagnosis pasti bisa dilakukan saat kehamilan memasuki usia


6 – 7 minggu. Sebab saat itu diameter kantung kehamilan
sudah lebih besar dari 16 mm sehingga bisa terlihat lebih jlas.
Dari situ juga akan tampak adanya kantung kehamilan dan
tidak berisi janin. Diagnosis kehamilan anembriogenik dapat
ditegakkan bila pada kantong gestasi yang berdiameter
sedikitnya 30 mm tidak dijumpai struktur mudigah dan
kantong telur.

1.3.2 Diagnosa Keperawatan yang mungkin muncul


Diagnosa 1 (Post Curratage: Risiko Perdarahan
2.2.1 Definisi
Rentan mengalami penurunan volume darah
2.2.2 Faktor Risiko
Kompilkasi kehamilan
Komplikasi pasca partum
Trauma
Diagnosa 2 (Post Curratage): Risiko infeksi
2.2.1 Definisi
Rentan mengalami invasi dan multiplikasi organisme
patogenik yang dapat mengganggu kesehatan.
2.2.2 Faktor Risiko
Kurang pengetahuan untuk menghindari patogen
Prosedur invasif

Diagnosa 3 (Pre Curratage): Keletihan


2.2.1 Definisi
Keletihan terus-menerus dan penurunan kapasitas untuk kerja
fisik dan mental pada tingkat yang lazim.
2.2.2 Batasan Karakteristik
Apatis
Gangguan konsentrasi
Kelelahan
Kurang energi
Letargi
Mengantuk
Peningkatan kebutuhan istirahat
2.2.3 Faktor yang berhubungan
Ansietas
Depresi
Gangguan tidur
Peristiwa hidup negatif
Stressor
Diagnosa 4 (Pre Curratage) : Ansietas
2.2.2 Definisi
Perasaan tidak nyaman atau kekhawatiran yang samar
disertai respons autonom, perasaan takut yang disebabkan
antisipasi terhadap bahaya.
2.2.3 Batasan karakteristik
Mengekspresikan kekhawatiran akibat perubahan
Gelisah
Insomnia
Kontak mata buruk
Resah
Kesedihan yang mendalam
Distress
Fokus pada diri sendiri
Peningkatan kekhawatiran
Marah
Keletihan
Gangguan tidur
Anoreksia
Peningkatan TD, nadi, reflek, pernapasan
Kelemahan
Melamun
2.2.4 Faktor yang berhubungan
Krisis situasi dan maturasi
Stress

1.3.3 Perencanaan
Diagnosa Rencana Tindakan
No Rasional
Keperawatan Tujuan Intervensi Keperawatan
1. Risiko infeksi Setelah 1. Bersihkan lingkungan 1. Mencegah invasi bakteri
b.d prosedur dilakukan atau alat-alat setelah di sekitar lingkungan
pembedahan tindakan dipakai oleh pasien pasien
(kuretase) keperawatan 2. Instruksikan 2. Mencegah terjadinya
selama 3x24 pengunjung untuk penyebaran infeksi
jam, masalah mencuci tangan nosokomial
keperawatan sebelum dan sesudah 3. Mencegah terjadinya
risiko menengok pasien penyebaran bakteri baik
infeksi teratasi 3. Cuci tangan sebelum bagi pasien maupun
dengan dan sesudah tindakan perawat
indikator: keperawatan 4. Sebagai standar prosedur
 Tidak 4. Gunakan universal tindakan dan mencegah
didapatkan precaution / APD invasi bakteri
tanda selama kontak dengan 5. Nutrisi adekuat
terjadinya kulit yang luka meningkatkan
infeksi 5. Tingkatkan intake kesembuhan luka lebih
 Tidak nutrisi dan cairan efektif
didapatkan 6. Observasi dan laporkan 6. Acuan intervensi dengan
fatigue tanda dan gejala infeksi tepat bagi kondisi pasien
kronis seperti kemerahan, dan mencegah keparahan
 Temperatur panas, dan nyeri infeksi
badan sesuai 7. Kaji temperatur tiap 4 7. Mengetahui pola normal
yang jam metabolik
diharapkan 8. Pastikan teknik 8. Mencegah infeksi terjadi
dengan perawatan luka yang pada luka pada pasien
interval tepat 9. Proses istirahat adekuat
36,5⁰C – 9. Anjurkan pasien akan membantu proses

37,5⁰C. istirahat adekuat regenerasi jaringan dalam


10. Kolaborasi dengan tubuh
dokter untuk pemberian 10. Tahap penanganan infeksi
antibiotik dan menurunkan risiko
penyebaran infeksi

No. Diagnosa Rencana Tindakan


Rasional
Keperawatan Tujuan Intervensi Keperawatan
2. Intoleransi Setelah 1. Monitor vital sign sebelum 1. Mengetahui perubahan
aktifitas b.d. dilakukan dan sesudah latihan dan pola aktifitas yang
kelemahan tindakan lihat respon pasien saat terjadi pada pasien
umum keperawatan latihan 2. Mengetahui faktor
selama 3x24 2. Monitor lokasi penyebab intoleransi
jam, masalah ketidaknyamanan / nyeri aktifitas dan menentukan
keperawatan selama gerakan atau intervensi dengan tepat
intoleransi aktifitas 3. Mengetahui sejauh mana
aktifitas teratasi 3. Kaji kemampuan pasien batasan aktifitas pasien
dengan dalam aktifitas 4. Mengoptimalkan
indikator: 4. Latih pasien dalam kemampuan pasien
 Klien mampu pemenuhan kebutuhan dalam aktifitas
menunjukkan ADL secara mandiri 5. Memberikan rasa aman
kemampuan sesuai kebutuhan pada pasien saat
berpinda 5. Dampingi dan bantu melakukan aktifitas dan
 Klien pasien saat mobilisasi dan meningkatkan rasa
menunjukkan bantu pemenuhan percaya diri pasien
kemampuan kebutuhan ADL 6. Menurunkan resiko
ambulasi: 6. Berikan alat bantu bila terjadinya cidera
berjalan/kursi pasien membutuhkan 7. Menghindari terjadinya
roda 7. Ajarkan bagaimana cidera dan melancarkan
 Tidak terdapat merubah posisi dan sirkulasi darah dalam
adanya tanda berikan bantuan bila tubuh
dan gejala diperlukan
gangguan
sirkulasi
akibat
aktifitas yang
terbatas

Diagnosa Rencana Tindakan


No. Rasional
Keperawatan Tujuan Intervensi Keperawatan
3. Ansietas b.d. Setelah 1. Gunakan pendekatan yang 1. Membina hubungan
perubahan dilakukan menyenangkan saling percaya guna
status tindakan 2. Pahami perspektif pasien mendapatkan informasi
kesehatan keperawatan terhadap stress adekuat yang
selama 2x24 3. Temani pasien untuk dibutuhkan perawat
jam, masalah memberikan kemanan 2. Penilaian seseorang
keperawatan 4. Berikan informasi adekuat terhadapt stres dan
cemas teratasi mengenai diagnosis, mekanisme kopingnya
dengan tindakan dan prognosis tidak selalu sama
indikator: 5. Dorong keluarga untuk 3. Faktor dukungan moral
 Klien menemani pasien dapat membuat pasien
menunjukkan 6. Bantu pasien mengenali merasa aman dan
kecemasan situasi yang menimbulkan menurunkan kecemasan
berkurang kecemasan 4. Informasi adekuat akan
secara verbal 7. Instruksikan pasien membuat pasien ikut
 Klien menggunakan teknik berpartisipasi dalam
mengatakan relaksasi tindakan keperawatan
cemas dapat dan menurunkan tingkat
teratasi pada kecemasan pasien
level yang 5. Menghindari perilaku
dapat isolasi sosial karena
ditangani oleh faktor perubahan
pasien sendiri kondisi tubuh dan
kesehatan dan
meningkatkan rasa
aman pasien
6. Pengetahuan yang
adekuat sehingga pasien
mampu memilih
mekanisme koping
yang tepat terhadap
stress
7. Relaksasi pikiran
menstimulasi rangsang
saraf agar menjadi
tenang dan rileks
DAFTAR PUSTAKA

https://www.scribd.com/document/362638008/Lp-Blighted-Ovum Diakses pada


tanggal 19 Desember 2017 pukul 11.30