You are on page 1of 6

Low-temperature CO2 capture technologies: Applications and potential

David Berstad*, Rahul Anantharaman, Petter Neksa

SINTEF Energy Research, 7465 Trondheim, Norway


International Journal of Refrigeration, Volume 36, Tahun 2013

Abstrak

Penangkapan CO2 dengan adsorpsi dan membran telah menjadi bidang riset yang dominan dalam
penangkapan CO2 dari pembangkit listrik dan industri. Meskipun demikian, nyatanya sangat sedikit riset
tentang penangkapan CO2 pada suhu rendah dengan pemisahan dua fasa. Pada paper ini akan disajikan
pembahasan dari kondisi proses penangkapan CO2 konvensional untuk beberapa siklus pembangkit dan
industry yang berbeda beda. Untuk beberapa kondisi proses penangkapan CO2 ini, potensi penerapan
penanggkapan CO2 dengan temperature rendah akan dievaluasi berdasarkan jumlah konsumsi energi dan
rasio penangkapan CO2. Untuk beberapa kasus, proses penangkapan CO2 dengan temperature rendah
menunjukkan potensi yang menjanjikan dibandingkan proses konvensional

1. Pendahuluan

Sumber energi dunia masih sangat bergantung kepada bahan bakar fosil untuk beberapa dekade kedepan.
Untuk mengurangi kenaikan temperatur global hingga hanya 2-2.4OC, telah diperkirakan oleh IPCC bahwa
emisi CO2 harus dikurangi 50-85%. International Energi Agency (IEA) telah memperkirakan bahwa mitigasi
peningkatan gas rumah kaca beruka penangkapan dan penyimpanan CO2 dapat mengurangi jumlah emisi
CO2 hingga 19% dari potensial emisi CO2.

Metode adsorpsi dan membran telah menjadi bidang riset yang dominan dalam penangkapan CO2 dari
pembangkit listrik dan industri. Perhatian para peneliti sangat sedikit yang terpusat kepada penangkapan
gas CO2 dari gas buang pembakaran dengan refrigerasi dan perubahan fasa CO2. Metode yang
memanfaatkan refrigerasi atau temperatur rendah telah dikenal namun tidak dianggap sebagai metode
yang menguntungkan disebabkan mahalnya biaya operasi unit refrigerasi, atau disebabkan karena potensi
penerapan yang kurang luas.

Proses penangkapan CO2 dengan temperature rendah yang dimaksud pada artikel kali ini adalah
pemisahan CO2 dari gas buang pembakaran (flue gas) atau dari synthetic gas (syngas) dengan pendinginan
dan pemisahan dua fasa. Pemisahan dua fasa ini dapat berupa pemisahan gas-cair (fasa cair yang
mengandung CO2) atau pemisahan gas-padat (CO2 padat). Beberapa keuntungan dari metode
penangkapan CO2 ini dibandingkan metode konvensional adalah: metode ini tidak membutuhkan
adsorben kimiawi, sehingga mengurangi kemungkinan emisi bahan kimia berbahaya; tidak membutuhkan
pemisahan uap air.

2. Kondisi-kondisi dimana penangkapan CO2 banyak dilakukan

Penelitian kali ini hanya akan membahas kondisi-kondisi dimana penangkapan CO2 dapat dilakukan
dengan metode temperatur rendah. Sebelumnya telah dijelaskan bahwa penangkapan CO2 dengan
temperature rendah ini dapat memanfaatkan teknik pemisahan cair-gas atau padat-gas. Diantara kedua
jenis teknik separasi tersebut, akan dipilih dengan berdasarkan tingkatan tekanan operasinya. Pada
gambar dibawah ini ditampilkan grafik dengan dua garis isobar, garis 5.2 bar yang merupakan titik triple
dari gas CO2 dan garis 1 atm. Jika gas berada diatas garis 5.2 bar (diatas titik triple), pemisahan cair-gas
sudah langsung dapat dilakukan dengan kondensasi parsial. Jika gas berada dibawah 5.2 bar, maka gas
tersebut harus ditekan hingga diatas 5.2 bar untuk pemisahan cair-gas. Jika gas ini tidak ditekan,
pemisahan padat-gas dapat dilakukan.

Gambar 1 Gambaran mengenai kondisi-kondisi penangkapan CO2

2.1. Kondisi Pra-Pembakaran

Pada kondisi ini, CO2 ditangkap dari hasil reaksi sintesis syngas. Pada kondisi ini, tekanan syngas biasanya
bervariasi antara 25-70 bar dengan konsentrasi CO2 diantara 30-45%.

2.2. Kondisi Pasca-Pembakaran

Untuk kondisi ini, umumnya CO2 dilarutkan dengan inert seperti nitrogen, argon dan air sebagai tambahan
dari oksigen. Gas yang dihasilkan setelah pembakaran (flue gas) biasanya berada pada tekanan mendekati
tekanan atmosferik. Untuk pembakaran gas alam, biasanya akan mengandung CO2 diantara 3-4 %mol,
sedangkan untuk pembakaran batu bara akan menghasilkan CO2 diantara 12-15 % mol.

2.3. Kondisi Oxy-Combustion

Yang dimaksud kondisi oxy-combustion adalah proses pembakaran yang dilakukan dengan oksigen murni,
bukan dengan udara. Tergantung dari jenis bahan bakar dan prosesnya, konsentrasi CO2 untuk kasus ini
bisa mencapai 75-85% mol.
2.4. Kondisi gas buang industri-industri lain

Untuk kasus ini, kondisinya bervariasi dari konsentrasi CO2 dan tekanan yang rendah, sampai konsentrasi
CO2 sedang dan tekanan yang tinggi. Untuk industry aluminium, konsentrasi CO2 hanya sekitar 1% mol.
Untuk gas buang dari furnace dan boiler pada kilang minyak, konsentrasi CO2 berada diantara 8-12 % mol.
Konsentrasi yang lebih tinggi dapat ditemukan pada gas buang industry semen, yang mencapai 14-33%.
Untuk produksi baja, konsentrasinya sangat dipengaruhi teknologi dari furnace yang digunakan.
Konsentrasinya bervariasi antara 20-44% mol.

3. Penangkapan CO2 pada temperature rendah untuk kondisi-kondisi yang berbeda

Pembahasan poin nomor 2 diatas adalah mengenai kondisi-kondisi proses penangkapan CO2 yang
berbeda-beda. Karena itu, mana teknologi penangkapan CO2 yang optimal akan sangat bergantung
dengan masing-masing kondisi tersebut. Faktor-faktor dari gas inlet yang menjadi pertimbangan dalam
meimilih teknologi penangkapan CO2 adalah konsentrasi CO2, tekanan, temperatur, komposisi gas, dan
yang lainnya. Selain factor dari gas inlet, factor dari gas target (outlet) juga berpengaruh dalam pemilihan
teknologi yang tepat. Factor-faktor dari gas outlet antara lain: ratio CO2 capture, kemurnian CO2 hasil
pemisahan, spesifikasi kadar gas kontaminan, spesifikasi bahan bakar (khusus untuk pra-pembakaran) dan
tekanan gas CO2 yang ditargetkan. Berikut ini akan dibahas mengenai macam-macam teknologi
penangkapan CO2 dengan temperature rendah, tetapi sebelumnya perlu dibahas mengenai definisi dari
“temperature rendah” dan kriogenik.

3.1. Tempreratur rendah dan kriogenik secara terminologi

Penangkapan CO2 dengan pendinginan dan pemisahan dua fasa umum dikenal dengan istilah
penangkapan dengan ‘kriogenik’ dalam sejumlah literatur. Tetapi dalam penelitian ini, istilah kriogenik
tidak akan digunakan. Hal ini disebabkan definisi baku dari ‘kriogenik’ menurut kamus internasional
adalah kondisi temperature dibawah 120 K atau -153 oC. Dalam teknologi pemisahan yang akan dibahas
kali ini, tidak ada kasus temperature yang mencapai angka tersebut, dengan demikian istilah ‘kriogenik’
tidak tepat untuk digunakan dalam penelitian kali ini.

3.2. Pemisahan CO2 dari gas buang oxy-combustion dan gas buang jenis lain dengan konsentrasi CO2 tinggi

Kondisi ini memiliki karakter berupa tingginya konsentrasi CO2 dan tekanan yang mendekati tekanan
atmosfer. Untuk jenis kondisi ini, unit proses penangkapan CO2 (CO2 Processing Unit / CPU) telah banyak
diteliti. Teknik pemisahan CO2 untuk kondisi ini adalah dengan kompresi gas dan pendinginan. Kompresi
dan pendinginan akan menyebabkan terjadinya kondensasi parsial yang menyebabkan CO2 berada dalam
fasa cair, sehingga dapat dipisahkan dari gas yang tidak terkondensasi. PFD untuk proses ini secara umum
ditunjukkan dalam gambar 2.
Gambar 2 PFD Proses pemisahan CO2 dengan kompresi dan pendinginan

Gambar 3 menunjukkan hasil plot grafik dari berbagai studi untuk pemisahan CO2 dengan metode kali ini.
Grafik ini menunjukkan hubungan antara konsentrasi CO2 gas inlet dengan CO2 capture ratio (CCR) dan
beban kerja kompresor. Dapat dilihat dari grafik ini bahwa semakin tinggi konsentrasi CO2 pada gas inlet,
maka CCR akan meningkat dan beban kerja kompresor akan menurun. Hal ini mengindikasikan proses
pemisahan yang lebih mudah jika melibatkan gas dengan konsentrasi CO2 yang tinggi. Untuk semua kasus
yang diplot dalam grafik ini, tekanan target untuk CO2 ada dalam rentang antara 100-150 bar. Berdasarkan
grafik dibawah angka CCR 90% terlihat dapat tercapai untuk konsentrasi CO2 60% mol atau lebih.

Gambar 3 Hubungan antara konesntrasi CO2 dengan CCR dan beban kerja kompresor

Dari grafik ini juga terlihat bahwa semakin rendah konsentrasi CO2, akan semakin besar beban kerja
kompresor. Ini menunjukkan bahwa teknologi ini tidak cocok digunakan untuk gas dengan CO2 yang
terlarut dalam banyak komponen (konsentrasi CO2 yang rendah). Sehingga untuk kasus dengan kadar CO2
yang rendah, teknologi ini akan tidak ekonomis karena tingginya beban kerja kompresor.

3.3. Metode anti-sublimasi / pembekuan CO2 dari gas buang (flue gas) bertekanan atmosferis
Sebagaimana yangtelah dijelaskan mengenai Gambar 3, bahwa terdapat rentang kondisi dimana metode
separasi cair-gas tidak dapat digunakan. Pada kondisi tersebut, dibutuhkan metode lain yang lebih
ekonomis. Metode yang cocok untuk kondisi ini adalah metode pembekuan CO2. Dengan metode ini,
100% CCR dapat dicapai untuk gas buang dengan konsentrasi CO2 rendah. Kemudian salah satu
karakteristik khas dari metode ini adalah terjadinya pemisahan molekul air secara simultan dengan
pemisahan CO2. Hal ini disebabkan titik beku CO2 yang lebih rendah dari H2O, yang menyebabkan molekul
air akan membeku terlebih dahulu sebelum molekul CO2. Sehingga unit pengeringan (drying) menjadi
tidak diperlukan lagi.

Belum banyak dilakukan penelitian terkait metode ini. Salah satunya adalah dari Clodic et al (2011) yang
mendemonstrasikan percobaan penangkapan CO2 dari gas buang berkonsentrasi 12% mol. Gas buang ini
dihasilkan dari pembangkit tenaga batubara 800 MW. Untuk mencapai 80% CCR, diperlukan suhu -10OC.
karena rendahnya suhu yang diperlukan, besar beban energy yang dibutuhkan dalam metode ini sangat
sensitive dipengaruhi oleh efisiensi siklus refrigerasi yang digunakan.

3.4. Separasi CO2 dari syngas pada fasa pra-pembakaran

Syngas merupakan campuran antara gas hydrogen (H2) dengan karbon monoksida (CO) yang dihasilkan
dari reaksi reforming gas alam, batu bara atau sumber karbon lain dengan molekul air. CO2 dapat
terbentuk dari reaksi molekul air dengan gas CO (reaksi shift). Dalam kondisi ini, konsentrasi CO2 yang
dihasilkan umumnya dalam rentang konsentrasi sedang (30-45% untuk batubara, dan 15-25% untuk gas
alam). Kondisi gas dalam proses ini ada pada tekanan diatas titik triple, sehingga metode yang cocok
adalah metode kondensais parsial. Dalam kasus ini, CCR dipengaruhi oleh tiga factor: konsentrasi CO2
dalam syngas setelah gasifikasi dan rekasi shift, tekanan dan temperatur. Hal ini ditunjukkan dalam
gambar 4.
Gambar 4 Pengaruh tekanan, konsentrasi dan temperatur terhadap CCR (CO 2 capture ratio)

Dari grafik ini, terlihat bahwa tingginya konsentrasi akan meningkatkan CCR. Maka untuk keberhasilan
metode ini, injeksi gas inert lain dalam reaksi sintesis syngas harus dibuat sekecil mungkin. Kemudian juga
terlihat bahwa tekanan sangat berpengaruh terhadap CCR. Tingginya tekanan menghasilkan CCR yang
tinggi. Tren ini sama dengan tren yang terlihat pada kondisi oxy-combustion pada poin 3.2.

4. Kesimpulan

Penerapan berbagai metode penangkapan/pemisahan CO2 dengan temperature rendah telah dibahas
untuk berbagai kondisi pada flue gas dan syngas. Untuk penerapan pada kondisi pra pembakaran dan gas
buang dengan konsentrasi tinggi, CCR, kerja kompresor dan konsumsi daya sangat sensitif dipengaruhi
oleh konsentrasi CO2 flue gas atau atau syngas. Tingginya CCR dan beban kerja kompresor yang ringan
dapat dicapai untuk konsentrasi CO2 yang tinggi. Sehingga pada kondisi ini, metode kondensasi parsial
akan cocok digunakan. Untuk kasus dimana konsentrasi CO2 sangat rendah, CCR akan sangat rendah dan
kerja kompresor akan semakin berat pada metode kondensasi parsial. Hal ini membuat metode ini tidak
ekonomis untuk kasus ini. Dengan demikian, metode pembekuan CO2 akan lebih cocok dalam kasus ini.

Desain siklus refrigerasi yang efisien dan proses yang sangat terintegrasi merupakan prasyarat untuk
metode temperature rendah secara umum. Integrasi termal proses akan mengurangi beban kebutuhan
energy pada saat operasional. Untuk penelitian selanjutnya,diperlukan model proses pemisahan CO2 yang
tepat untuk digabungkan dengan model sumber gas dari industry atau pembangkit listrik tenaga bahan
bakar fosil.