You are on page 1of 5

Perkenalan

Ini bukanlah pertama,


Bukan juga kedua, mungkin ke-sekian
Karena selalu hadir rasa berbeda
Gejolak hati pun tak pernah surut
Dan badan, hati, jiwa ini tak pernah ingkar
Biarkan dia susuri kemana maunya dia berujung
Biarkan dia mendekat, melekat, memekat akhirnya
Biarkan dia terlihat di depan batang hidungmu selalu
Biarkan dia mengusikmu, merayumu
Biarkan dia menikmati indahnya hembusan cinta menelisik sela-sela raganya
Dan doakan dia tegak layaknya pohon kelapa
Tak pernah goyah memegang “buah (cinta)” nya.

Halte
Depan batang hidungku sudah apapun lalu lalang
Sehela nafasku melewatkan berpuluh manusia hilir mudik di depanku
Bersama jutaan kuman dan debu yang mengiringi langkah mereka
Aku masih menginjak kaki disini
Tak ada gerak selangkah pun, bahkan niat pun tak ada
Puluhan-ratusan moda singgah jalan di halte ini
Puluhan orang yang bersamaku, bernaikan dan hilanglah mereka
Datang lah kepala kepala berikutnya, dan naiklah mereka
Datang pula yang lain, tak henti, selalu hiruk pikuk ramai

Banyak yang tawarkan “tujuan” yang sama


Tak sedikit jua aku berkata tidak
Benar, aku kesana. Tapi tidak dengan lainnya
Aku akan selalu menunggu
Kapan saat kita bertemu disini ?
Kapan kau singgah dan ajakku pergi ?
Susuri cita dan cinta di depan bersama
Walau lama, kutunggu
Karna cinta tak akan ingkar kan ?
Halte-2
Tak ada lengah sedetik pun
Tak ada jatuh goyah sedikit pun
Jarum detik jam menyapu setiap sisi jam tanganku
Jarum panjang mengikutinya perlahan
Jarum pendek pun bergerak jam demi jam
Tanpa ku sadari
Sehari pun berlalu, dua hari luluh
Hari ketiga terbang hilang
Empat, lima, enam, dst...
Berminggu telah melewatiku
Lainnya hanya bingung melihat penantianku
Penantian tanpa ujung pikirnya
Tidak, ia pasti menjemputku
Dan berdua mengarungi cita cinta dari sini
Lalu kusadari berbulan ku menunggu
Tapi kenapa kau tak hadir?
Tidak lupa kan?

Akhir dan Awal


Surya mengufuk ke arah barat
Perlahan berpindah halus bersama angin dan awan yang meneduhinya
Sore itu penantian berujung
Dan permulaan baru pun di mulai
Akhir-Awal
Awal permulaan penuh tantangan
Penuh gundah, campur aduk
Semoga aku tegak selalu
Terimakasih telah “jemput” aku
Merindu tak berujung
Bila tongkat tuan pun ada ujungnya
Bila jalan pun ada buntunya
Bila kasih pun sepanjang jalannya
Bagaimana akan rindu?
Bahkan tak tau kapan bermula
Mungkin bermula selepas bertemu
Dan berujung di pertemuan
Dan bermula lagi selepas bertemu
Bila rotasi waktu dapat kuhentikan
Akan kubiarkan kita saling tatap hingga bosan
Biarkan tangan kita bergenggam hingga darah tak berdesir

Karena aku rindu


Rindu...
Yang tak jua berujung...

Jalan

Setauku jalan itu keras


Setauku jalan itu ada batu, ada kerikil
Setauku jalan itu kasar, panas
Setauku jalan itu berdebu penuh deru
Setauku cinta kita berat
Setauku cinta kita kadang perang juga senang
Setauku cinta kita lika liku penuh warna
Setauku cinta kita haru biru penuh rindu

Jalan akan berujung di tujuan


Cinta kita akan berujung di kebahagiaan
Semoga...
Mengenang
Kenangan
Seiring waktu membekas
Juga tak dapat dihapus
biarkan

Kenangan
Bisa membuai lalu rindu
Kalau rindu rasa ingin kembali

Kenangan
bisa membuat diri sendu
sendu ingat yang buruk lalu benci

kenangan
bisa baik bisa buruk
anggap saja pelajaran
agar tak lagi jadi terpuruk

Hadir

Kelas itu ada murid


Kelas itu ada guru
Kelas itu ada absen
Tiga unsur mutlak hakiki tak dapat ditawar

Hatiku ada aku


Hatiku ada kamu
Kalau gak ada kamu
Berarti bukan hatiku
Mungkin telah mati
Mati berganti sepi