You are on page 1of 4

Bab VI Kesimpulan dan Saran

VI.1. Kesimpulan

1. Mekanisme integrasi metode GPS, InSAR, dan pemanfaatan data gayaberat


yang baik dan tepat menghasilkan karakteristik penurunan muka tanah di
Cekungan Bandung yang lebih komprehensif baik secara spasial maupun
temporal, sehingga dapat lebih mempertajam analisis karakteristik penurunan
muka tanah. Terkait pemetaan karakteristik penurunan muka tanah di
Cekungan Bandung dapat ditarik beberapa kesimpulan lebih mendetail,
diantaranya:

a) Hasil pengolahan data GPS menunjukkan adanya variasi penurunan muka


tanah baik secara spasial maupun temporal. Secara spasial, beberapa
daerah yang mengalami penurunan muka tanah cukup besar adalah daerah
Cimahi, Gedebage, Dayeuhkolot, Banjaran, Majalaya, dan Rancaekek.
Secara temporal, rata-rata penurunan muka tanah dalam kurun waktu
2000-2012 mencapai 16,9 cm dengan total penurunan mencapai 202 cm.

b) Hasil pengolahan data InSAR menunjukkan pola yang sama dalam kurun
waktu 2006-2010, yakni beberapa daerah seperti Cimahi, Gedebage,
Dayeuhkolot, Banjaran, Majalaya, dan Rancaekek mengalami penurunan
muka tanah yang cukup besar. Rata-rata penurunan muka tanah di wilayah
tersebut berkisar antara 6,9 cm sampai dengan 17 cm per tahun.

c) Hasil pengolahan data pengukuran secara langsung dengan metode


geometris-historis menunjukkan pola yang sama dimana beberapa daerah
seperti Cimahi, Dayeuhkolot, Rancaekek, Sapan, Gedebage, Baleendah,
Solokan jeruk, dan Majalaya mengalami penurunan muka tanah yang
cukup besar..

d) Integrasi data GPS dan InSAR dengan konsep pembobotan menunjukkan


karakteristik penurunan muka tanah yang lebih baik secara spasial dan
temporal. Pada kurun waktu 1999-2012 maksimal penurunan muka tanah
di cekungan Bandung mencapai 2 meter. Distribusi pusat penurunan muka

239
tanah terjadi di daerah Cimahi, Katapang, Dayeuhkolot, Gedebage, dan
Rancaekek. Hasil ini mempunyai kecenderungan yang sama dengan
penelitian Estelle dkk. (2012) dan hasil identifikasi di lapangan dengan
pengukuran langsung menggunakan metode geometris-historis mempunyai
kecocokan dengan hasil pembobotan. Survey lapangan terkait dengan
dampak langsung penurunan muka tanah berupa retakan pada bangunan,
banyaknya rumah yang turun, dan retakan/kerusakan pada jalan dan
jembatan terjadi di daerah-daerah yang mengalami penurunan sesuai
dengan peta penurunan muka tanah hasil integrasi data GPS dan InSAR
dengan pembobotan.

e) Secara spasial daerah-daerah yang mengalami penurunan muka tanah yang


besar merupakan wilayah industri tekstil seperti Cimahi, Gedebage,
Dayeuhkolot, Banjaran, Majalaya, dan Rancaekek. Penurunan muka
airtanah di akuifer dalam di wilayah tersebut lebih dari 1 meter per tahun.
Penurunan muka tanah terjadi di daerah-daerah yang mengalami
kerusakan pada akuifernya. Ada korelasi yang cukup kuat di wilayah-
wilayah tersebut antara penurunan airtanah dan penurunan muka tanah.
Hasil data gayaberat menunjukkan adanya penurunan muka airtanah yang
cukup besar di titik GPS Cimahi. Selain pengaruh pengambilan airtanah,
kompaksi alamiah juga mempunyai kontribusi karena di wilayah yang
mengalami penurunan muka tanah besar umumnya dialasi oleh Formasi
Kosambi yang belum kompak serta kemungkinan adanya pengaruh
tektonik di wilayah Dayeuhkolot dan Gedebage.

f) Hasil observasi di lapangan menunjukkan penurunan muka tanah


menyebabkan dampak secara langsung maupun tidak langsung. Dampak-
dampak tersebut sangat berpotensi menyebabkan kerugian keekonomian.
Dampak penurunan muka tanah langsung yang teridentifikasi di antaranya
kerusakan/keretakan pada bangunan, bangunan yang turun/miring,
kerusakan/keretakan pada infrastruktur jalan dan jembatan. Retakan pada
bangunan dan jalan banyak ditemui di daerah-daerah yang mengalami
penurunan muka tanah yang berbeda (differential subsidence) seperti
daerah Cimahi, Kopo Katapang, Dayeuhkolot, Sapan, Solokan Jeruk,

240
Majalaya, Buahbatu, Rancaekek, dan Gedebage. Rumah turun banyak
dijumpai di daerah-daerah yang mengalami penurunan muka tanah besar
seperti Cimahi, Dayeuhkolot, Gedebage, Katapang, dan Rancaekek.
Dampak penurunan muka tanah tidak langsung adalah makin meluasnya
banjir di Bandung Selatan.

2. Penurunan muka tanah berkontribusi terhadap semakin meluasnya genangan


banjir di Cekungan Bandung dan dampaknya menyebabkan kerugian
keekonomian baik secara langsung maupun tidak langsung. Terkait dengan hal
ini dapat ditarik beberapa kesimpulan lebih mendetail antara, diantaranya:

a) Hasil pemodelan menunjukkan penurunan muka tanah mempunyai


kontribusi 1388 ha terhadap luasan area banjir 2010 atau sekitar 21% dari
total area banjir dengan kerugian mencapai 218 miliar rupiah. Kerugian
ekonomi terbesar dialami oleh sektor rumah tangga, infrastruktur jalan,
dan pertanian. Daerah yang paling besar mengalami kerugian adalah
Kecamatan Dayeuhkolot, Baleendah, dan Rancaekek. Hasil verifikasi di
lapangan menunjukkan bahwa 85% data sampel banjir di lapangan
mempunyai kesesuaian banjir dengan model. Validasi hasil perhitungan
kerugian banjir akibat penurunan muka tanah mempunyai pola yang benar
dimana nilainya lebih kecil dari nilai kerugian total hasil survei langsung.
Persentase antara kerugian ekonomi akibat penurunan muka tanah dan
total kerugian yang besar terjadi di Baleendah, Dayeuhkolot, Cikancung,
dan Cileunyi.

b) Kerugian langsung akibat dampak penurunan muka tanah pada tahun 2010
berupa kerusakan pada jalan, retakan pada bangunan, dan rumah yang
turun mencapai 1,8 triliun rupiah. Daerah yang paling besar mengalami
kerugian adalah Kecamatan Cimahi tengah, Cimahi Selatan, Cimahi Utara,
Dayeuhkolot, Baleendah, Rancaekek, Kopo Katapang, Majalaya, dan Buah
Batu.

241
c) Teknologi Sistem Informasi Geografis dapat mengestimasi kerugian
keekonomian akibat dampak penurunan muka tanah di Cekungan Bandung
pada tahun 2010 dengan total kerugian mencapai 2 triliun rupiah.

VI.2. Saran

Terkait dengan penurunan muka tanah di Cekungan Bandung, masih banyak


penelitian yang dapat dilakukan. Saran-saran pada disertasi terkait dengan hasil
penelitian disertasi ini adalah sebagai masukan untuk penelitian selanjutnya,
diantaranya:

1. Berdasarkan hasil analisis dengan kondisi geologi maka perlu ditambah


titik-titik pengamatan GPS untuk lebih mempertajam analisis faktor
penyebab penurunan muka tanah di Cekungan Bandung. Titik – titik
tersebut ditempatkan di daerah yang terlewati oleh sesar dan daerah yang
mengalami penurunan muka tanah besar tetapi tidak ada gejala penurunan
muka airtanah seperti Katapang dan Gedebage.

2. Perlu dilakukan kajian yang geologi dan geofisika yang lebih mendalam
untuk mengetahui kontribusi masing-masing faktor penyebab penurunan
muka tanah terhadap penurunan muka tanah di Cekungan Bandung.

3. Perlu dilakukan estimasi kerugian banjir akibat penurunan muka tanah


terkait dengan sektor sekunder atau tertier, serta pembahasan lebih detail
terkait manfaat hasil penelitian untuk risk assessment.

4. Perlu dilakukan dampak penurunan muka tanah terhadap perubahan sistem


drainase di Cekungan Bandung.

5. Perlu dilakukan validasi untuk model perhitungan kerugian ekonomi


langsung akibat penurunan muka tanah.

6. Perlu dikembangkan hasil penelitian ini untuk keperluan asuransi di


bidang properti seperti yang telah dilkaukan di negara – negara maju.

242