You are on page 1of 14

MODUL PERKULIAHAN

KOMUNIKASI POLITIK

ETIKA KOMUNIKASI POLITIK

Modul Standar untuk


digunakan dalam
Perkuliahan di Universitas
Mercu Buana

Fakultas Program Studi Tatap Muka Kode MK Disusun Oleh


FIKOM Penyiaran
15 D71413EL Oni.Tarsani, S.Sos.I., M.Ikom

(OL)

Abstract Kompetensi
Modul ini membahas tentang Etika Diharapkan mahasiswa mampu
Komunikasi Politik memahami tentang Etika Komunikasi
Politik
PENDAHULUAN

Komunikasi dapat diibaratkan seperti urat nadi yang menghubungkan


kehidupan, atau sebagai salah satu ekspresi dari tabiat seseorang untuk saling
berinteraksi dalam kehidupan sehari-hari. Melalui komunikasi yang disampaikan baik
secara verbal maupun nonverbal, manusia dapat saling mengerti dan memahami
satu sama lain. Pesan yang ingin disampaikan melalui komunikasi dapat berdampak
positif atau malah sebaliknya. Agar bernilai positif, para aktor komunikasi tentunya
perlu mengetahui dan menguasai teknik berkomunikasi yang baik dan menjunjung
tinggi nilai-nilai etika dalam kehidupan bermasyarakat.

Dalam konteks komunikasi politik, pemahaman menyangkut etika dalam


berkomunikasi (politik) menjadi sesuatu yang mendesak dalam mewujudkan budaya
politik yang santun. Selain membahas ragam persoalan etika dalam komunikasi
politik, buku ini juga menyertakan pembahasan mengenai konsep dan proses dari
komunikasi politik sebagai konteksnya. Selain ditujukan sebagai buku ajar bagi
mahasiswa, buku ini juga dapat dibaca oleh berbagai kalangan yang berminat
terhadap kajian etika dalam komunikasi politik.

PEMBAHASAN
Pengertian Etika
Dalam pergaulan hidup bermasyarakat, bernegara hingga pergaulan hidup
tingkat internasional diperlukan suatu system yang mengatur bagaimana seharusnya
manusia bergaul. Sistem pengaturan pergaulan tersebut menjadi saling
menghormati dan dikenal dengan sebutan sopan santun, tata krama, protokoler dan
lain-lain.
Maksud pedoman pergaulan tidak lain untuk menjaga kepentingan masing-
masing yang terlibat agar mereka senang, tenang, tentram, terlindung tanpa
merugikan kepentingannya serta terjamin agar perbuatannya yang tengah dijalankan
sesuai dengan adat kebiasaan yang berlaku dan tidak bertentangan dengan hak-hak

2017 Komunikasi Politik


2 Dosen : Oni.Tarsani, S.Sos.I., M.Ikom
Pusat Bahan Ajar dan eLearning
http://www.mercubuana.ac.id
asasi umumnya. Hal itulah yang mendasari tumbuh kembangnya etika di
masyarakat kita.
Menurut para ahli maka etika tidak lain adalah aturan perilaku, adat
kebiasaan manusia dalam pergaulan antara sesamanya dan menegaskan mana
yang benar dan mana yang buruk. Perkataan etika atau lazim juga disebut etik,
berasal dari kata Yunani “ethos” yang berarti norma-norma, nilai-nilai, kaidah-kaidah
dan ukuran-ukuran bagi tingkah laku manusia yang baik.
Selain itu dari segi etimologi (asal kata), istilah etika berasal dari kata
Latin ethicus yang berarti kebiasaan. Sesuatu dianggap etis atau baik, apabila
sesuai dengan kebiasaan masyarakat. Pengertian lain tentang etika ialah sebagai
studi atau ilmu yang membicarakan perbuatan atau tingkah laku manusia, mana
yang dinilai baik dan mana pula yang dinilai buruk. Etika juga disebut ilmu normatif,
maka dengan sendirinya berisi ketentuan-ketentuan yang dapat digunakan sebagai
acuan untuk menilai tingkah laku apakah baik atau buruk, seperti yang dirumuskan
oleh beberapa ahli berikut ini :
a. Drs. O.P. Simorangkir : etika atau etik sebagai pandangan manusia dalam
berprilaku menurut ukuran dan nilai yang baik.
b. Drs. Sidi Gajalba dalam sistematika filsafat : etika adalah teori tentang tingkah
laku perbuatan manusia dipandang dari seg baik dan buruk, sejauh yang
dapat ditentukan oleh akal.
c. Drs. H. Burhanudin Salam : etika adalah cabang filsafat yang berbicara
mengenai nilai dan norma moral yang menentukan prilaku manusia dalam
hidupnya.

Etika dalam perkembangannya sangat mempengaruhi kehidupan manusia.


Etika memberi manusia orientasi bagaimana ia menjalani hidupnya melalui
rangkaian tindakan sehari-hari. Itu berarti etika membantu manusia untuk mengambil
sikap dan bertindak secara tepat dalam menjalani hidup ini. Etika pada akhirnya
membantu kita untuk mengambil keputusan tentang tindakan apa yang perlu kita
lakukan dan yang pelru kita pahami bersama bahwa etika ini dapat diterapkan dalam
segala aspek atau sisi kehidupan kita, dengan demikian etika ini dapat dibagi
menjadi beberapa bagian sesuai dengan aspek atau sisi kehidupan manusianya.
Ada dua macam etika yang harus kita pahami bersama dalam menentukan
baik dan buruknya prilaku manusia:
1. Etika deskriptif

2017 Komunikasi Politik


3 Dosen : Oni.Tarsani, S.Sos.I., M.Ikom
Pusat Bahan Ajar dan eLearning
http://www.mercubuana.ac.id
Yaitu etika yang berusaha meneropong secara kritis dan rasional sikap dan
prilaku manusia dan apa yang dikejar oleh manusia dalam hidup ini sebagai sesuatu
yang bernilai. Etika deskriptif memberikan fakta sebagai dasar untuk mengambil
keputusan tentang prilaku atau sikap yang mau diambil.

2. Etika normative
Yaitu etika yang berusaha menetapkan berbagai sikap dan pola perilaku
ideal yang seharusnya dimiliki oleh manusia dalam hidup ini sebagai sesuatu yang
bernilai. Etika normatif memberi penilaian sekaligus memberi norma sebagai dasar
dan kerangka tindakan yang akan diputuskan.

Etika secara umum dapat dibagi menjadi :


1. Etika umum
Berbicara mengenai kondisi-kondisi dasar bagaimana manusia bertindak
secara etis, bagaimana manusia mengambil keputusan etis, teori-teori etika
dan prinsip-prinsip moral dasar yang menjadi pegangan bagi manusia dalam
bertindak serta tolak ukur dalam menilai baik atau buruknya suatu tindakan.
Etika umum dapat di analogkan dengan ilmu pengetahuan, yang membahas
mengenai pengertian umum dan teori-teori.
2. Etika khusus
Merupakan penerapan prinsip-prinsip moral dasar dalam bidang kehidupan
yang khusus. Penerapan ini bisa berwujud : Bagaimana saya mengambil
keputusan dan bertindak dalam bidang kehidupan dan kegiatan khusus yang
saya lakukan, yang didasari oleh cara, teori dan prinsip-prinsip moral dasar.
Namun, penerapan itu dapat juga berwujud: Bagaimana saya menilai perilaku
saya dan orang lain dalam bidang kegiatan dan kehidupan khusus yang
dilatarbelakangi oleh kondisi yang memungkinkan manusia bertindak etis,
cara bagaimana manusia mengambil suatu keputusan atau tidanakan, dan
teori serta prinsip moral dasar yang ada dibaliknya. Etika khusus dibagi lagi
menjadi dua bagian :
a. Etika individual, yaitu menyangkut kewajiban dan sikap manusia terhadap
dirinya sendiri.
b. Etika sosial, yaitu berbicara mengenai kewajiban, sikap dan pola perilaku
manusia sebagai anggota umat manusia.

2017 Komunikasi Politik


4 Dosen : Oni.Tarsani, S.Sos.I., M.Ikom
Pusat Bahan Ajar dan eLearning
http://www.mercubuana.ac.id
Perlu diperhatikan bahwa etika individual dan etika sosial tidak dapat
dipisahkan satu sama lain dengan tajam, karena kewajiban manusia terhadap diri
sendiri dan sebagai anggota umat manusia saling berkaitan.
Etika sosial menyangkut hubungan manusia dengan manusia baik secara
langsung maupun secara kelembagaan (keluarga, masyarakat, negara), sikap kritis
terhadap pandangan-pandangan dunia dan idiologi-idiologi maupun tanggung jawab
umat manusia terhadap lingkungan hidup.
Dengan demikian luasnya lingkup dari etika sosial, maka etika sosial ini
terbagi atau terpecah menjadi banyak bagian atau bidang. Dan pembahasan bidang
yang paling aktual saat ini adalah sebagai berikut :
1. Sikap terhadap sesama
2. Etika keluarga
3. Etika profesi
4. Etika politik
5. Etika lingkungan
6. Etika idiologi

Sistem Penilaian Etika :


1. Titik berat penilaian etika sebagai suatu ilmu, adalah pada perbuatan baik
atau jahat, susila atau tidak susila
2. Perbuatan atau kelakuan seseorang yang telah menjadi sifat baginya atau
telah mendarah daging, itulah yang disebut akhlak atau budi pekerti. Budi
tumbuhnya dalam jiwa, bila telah dilahirkan dalam bentuk perbuatan namanya
pekerti. Jadi suatu budi pekerti, pangkal penilaiannya adalah dari dalam jiwa;
dari semasih berupa angan-angan, cita-cita, niat hati, sampai ia lahir keluar
berupa perbuatan nyata.

Burhanuddin Salam, Drs. menjelaskan bahwa sesuatu perbuatan di nilai pada 3


(tiga) tingkat :
a. Tingkat pertama, semasih belum lahir menjadi perbuatan, jadi masih berupa
rencana dalam hati, niat.
b. Tingkat kedua, setelah lahir menjadi perbuatan nyata, yaitu pekerti.
c. Tingkat ketiga, akibat atau hasil perbuatan tersebut, yaitu baik atau buruk.

Aliran Etika

2017 Komunikasi Politik


5 Dosen : Oni.Tarsani, S.Sos.I., M.Ikom
Pusat Bahan Ajar dan eLearning
http://www.mercubuana.ac.id
Suatu ukuran baik dan buruk sifatnya individual yakni akan dilihat dari orang
yang menilainya, karena baik dan buruk itu terikat pada ruang dan waktu, sehingga
ia tidak berlaku secara universal. Suatu perbuatan dinilai baik atau buruk dapat
dilihat dari beberapa aliran-aliran dari berbagai sudut pandang, antara lain:

1. Adat Kebiasaan
Ukuran baik atau buruk menurut adat kebiasaan yakni tergantung kepada
kesetiaan dan ketaatan seseorang (loyal) terhadap ketentuan adat istiadat. Namun
demikian, ukuran menurut adat ini tidak dapat digunakan sepenuhnya karena
ketentuan-ketentuan dari Hukum Adat yang berasal dari adat istiadat banyak yang
irasional (tidak dapat diterima oleh akal sehat).
2. Kebahagiaan (Hedonisme)
Yang menjadi ukuran baik atau buruk menurut paham ini yaitu apakah suatu
perbuatan tersebut melahirkan kebahagiaan dan kenikmatan / kelezatan. Dalam
paham ini terbagi lagi menjadi:
a. Aliran hedonisme individualistis
Maksud dari aliran ini yaitu suatu kebahagiaan yang bersifat individualistis
(egoistik hedonism), jika suatu keputusan baik bagi pribadinya maka disebutlah baik,
dan sebaliknya.
b. Kebahagiaan rasional (Rasionalistik Hedonism)
Aliran ini berpendapat, bahwa kebahagiaan atau kelezatan individu itu
haruslah berdasarkan pertimbangan akal sehat.
c. Kebahagiaan Universal (Universalistic Hedonism)
Lain halnya dengan aliran ini, yang menjadi tolak ukur apakah suatu
perbuatan baik atau buruk dapat melihat kepada suatu akibat perbuatan tersebut
apakah melahirkan kesenangan atau kebahagiaan terhadap seluruh makhluk (bukan
untuk diri sendiri/pribadi).
3. Bisikan Hati (Instuisi)
Aliran ini merupakan bantahan terhadap aliran hedonisme, yakni menilai
suatu perbuatan baik atau buruk adalah dengan kekuatan batin tanpa melihat
terlebih dahulu akibat yang ditimbulkan dari perbuatan itu, akan tetapi tujuannya
kepada kebaikan budi pekerti.
4. Evolusi
Paham ini berpendapat bahwa segala sesuatunya yang ada di alam ini selalu
(secara berangsur-angsur) mengalami perubahan yakni berkembang menuju ke

2017 Komunikasi Politik


6 Dosen : Oni.Tarsani, S.Sos.I., M.Ikom
Pusat Bahan Ajar dan eLearning
http://www.mercubuana.ac.id
arah kesempurnaan. Adapun seorang Filsuf Herbert Spencer (1820-1903)
mengemukakan bahwa perbuatan akhlak itu tumbuh secara sederhana kemudian
dengan berlakunya (evolusi) akan menuju ke arah cita-cita , dan cita-cita inilah yang
dianggap sebagai tujuan. Yang menjadi tujuan dari cita-cita manusia adalah
kebahagiaan dan kesenangan, sehingga suatu kesenangan atau kebahagiaan itu
akan selalu berkembang sesuai dengan situasi dan kondisi sosial.
5. Paham eudaemonisme
Kata eudaemonisme di ambil dari istilah Gerika, yaitu “eudaemonia” dalam bahasa
Indonesia diterjemahkan dengan “kebahagiaan, untuk bahagia”. Prinsip pokok paham ini
adalah kebahagiaan bagi diri sendiri dan kebahagiaan bagi orang lain. Menurut
Aristoteles, untuk mencapai eudaemonia ini diperlukan 4 hal, yakni:
a. Kesehatan, kebebasan, kemerdekaan, kekayaan dan kekuasaan
b. Kemauan
c. Perbuatan baik
d. Pengetahuan batiniah

6. Aliran Vitalisme
Aliran ini merupakan bantahan terhadap aliran Naturalism, sebab menurut
penganut paham ini ukuran baik atau buruk itu bukanlah alamtetapi “vitae” yakni yang
sangat diperlukan untuk hidup. Tokoh terpenting dari aliran ini yaitu F. Niettsche, dia
banyak sekali memberi pengaruh terhadap tokoh revolusioner seperti Hitler. Pada
akhir hayatnya ia menjadi seorang ateis dan mati dalam keadaan gila,
diamemproklamirkan gagasan “God is dead”, Tuhan telah mati, Tuhan itu tidak ada lagi,
maka jauhkanlah diri (putuskan hubungan dengan Tuhan). Aliran vitalisme ini
dikelompokkan menjadi:
a. Vitalisme Pessimistis (Negatif Vitalistis).
Disebut pesimis karena manusia yang dilahirkan adalah celaka, maksudnya
karena ia telah dilahirkan dan hidup, sedangkan lahir dan hidupnya manusia
itu tiada guna. Terdapat ungkapan yakni “homohomini lupus”, artinya manusia yang
satu adalah segala bagi manusia yang lainnya.
b. Vitalisme Optimisme
Menurut aliran ini, hidup atau kehidupan adalah berarti pengorbanan diri
karena itu hidup yang sejati adalah kesediaan dan kerelaan untuk melibatkan
diri dalam setiap kesusahan, yang paling baik adalah segala sesuatu yang
menempa kemauan manusia untuk berkuasa. Oleh karena itu, perang adalah

2017 Komunikasi Politik


7 Dosen : Oni.Tarsani, S.Sos.I., M.Ikom
Pusat Bahan Ajar dan eLearning
http://www.mercubuana.ac.id
halal, sebab orang yang berperang itulah (yang menang) yang akan
memegang kekuasaan.

7. Aliran Pragmatisme
Aliran ini menitikberatkan pada hal yang berguna dari diri sendiri,baik yang
bersifat moril maupun materil. Serta menitikberatkan padapengalaman, oleh karena
itu penganut ini tidak mengenal istilah kebenaran, sebab kebenaran itu bersifat
abstrak dan tidak diperoleh dalam dunia empiris.
8. Aliran Gessingnungsethik
Aliran ini diprakarsai oleh Albert Schweitzer. Yang terpenting menurut ajaran ini
adalah “penghormatan akan kehidupan”, yaitu sedapat mungkin setiap makhluk harus
saling menolong dan berlaku baik. Ukuran kebaikannya yakni pemeliharaan akan
kehidupan, dan yang buruk yakni setiap usaha yang berakibat binasa dan
menghalang-halangi hidup.
9. Aliran Idealisme
Istilah tersebut berasal dari bahasa Gerika (Yunani), yaitu dari kata “idea” yang secara
etimologis berarti: akal, pikiran, atau sesuatu yang hadir dalam pikiran, atau dapat juga
disebut sesuatu bentuk yang masih ada dalam alam pikiran manusia. Aliran ini
berpendapat bahwa segala yang ada hanyalah tiada, sebab yang ada itu hanya
gambaran dari alam pikiran (bersifat tiruan), sebaik apa pun suatu tiruan tentunya
tidak akan seindah aslinya (ide). Dengan demikian, yang baik itu hanya apa yang
ada di dalam ide itu sendiri.
Selain itu, aliran etika lainnya diuraikan oleh John C. Merill (1975:79-88)
yang dapat digunakan sebagai standar menilai tindakan etis, antara
lain deontologis, teleologis, egoisme, dan utilitarisme.
Aliran deontologis (deon = yang harus/wajib, Yunani) melakukan penilaian
atas tindakan dengan melihat tindakan itu sendiri. Artinya, suatu tindakan secara
hakiki mengandung nilai sendiri apakah baik atau buruk. Kriteria etis ditetapkan
langsung pada jenis tindakan itu sendiri. Ada tindakan/perilaku yang langsung
dikategorikan baik, tetapi juga ada perilaku yang langsung dinilai buruk.
Ukuran etis yang berbeda, dikemukakan oleh aliran teleologis(telos berarti
tujuan). Aliran ini melihat nilai etis bukan pada tindakan itu sendiri, tetapi dilihat atas
tindakan itu. Jika tujuannya baik dalam arti sesuai dengan norma moral, maka

2017 Komunikasi Politik


8 Dosen : Oni.Tarsani, S.Sos.I., M.Ikom
Pusat Bahan Ajar dan eLearning
http://www.mercubuana.ac.id
tindakan itu digolongkan sebagai tindakan etis. Jadi apabila suatu tindakan betujuan
jelek, akan dikategorikan tidak etis.
Etika egoisme menetapkan norma moral pada akibat yag diperoleh oleh
pelakunya sendiri. Artinya tindakan dikategorikan etis dan baik, apabila
menghasilkan terbaik bagi diri sendiri.
Etika utilitarisme (utilitis = berguna) adalah kebalikan dari pahamegoisme,
yaitu yang memandang suatu tindakan itu baik jika akibatnya baik bagi orang
banyak. Dengan demikian, tindakan itu tidak diukur dari kepentingan subyektif
individu, melainkan secara obyektif pada masyarakat umum. Semakin universal
akibat baik dari tindakan itu, maka dipandang semakin etis.

Pengertian Etika Politik


Etika berasal dari bahasa Yunani, yaitu “Ethes” yang berarti kesediaan jiwa
akan kesusilaan, atau dapat diartikan kumpulan peraturan tentang kesusilaan.
Dengan kata lain, etika politik merupakan prinsip moral tentang baik-buruk dalam
tindakan atau perilaku dalam berpolitik. Etika politik juga dapat diartikan sebagai tata
susila (kesusilaan), tata sopan santun (kesopanan) dalam pergaulan politik.Dalam
praktiknya, etika politik menuntut agar segala klaim atas hak untuk menata
masyarakat dipertanggungjawabkan pada prinsip-prinsip moral dasar. Untuk itu,
etika politik berusaha membantu masyarakat untuk mengejawantahkan ideologi
negara yang luhur ke dalam realitas politik yang nyata. Etika politik mengandung tiga
dimensi yang menentukan dinamika politik, yaitu:
1. Dimensi pertama
Adalah tujuan politik yang dirumuskan dalam mencapai kesejahteraan
masyarakat dan hidup damai yang didasarkan pada kebebasan dan keadilan.
Dalam negara demokratis, pemerintah bertanggung jawab atas kedua
komitmen itu. Keprihatinan utama ialah upaya penerapan kebijakan umum
(policy)dalam manajemen publik. Menghadapi masalah-masalah negara,
kebijakan umum pemerintah harus terumus jelas dalam prioritas, program,
metode, dan pendasaran filosofisnya. Lalu menjadi transparan apa yang
harus dipertanggungjawabkan.
2. Dimensi kedua
Menyangkut masalah pilihan sarana yang memungkinkan pencapaian tujuan
(polity). Dimensi ini meliputi sistem dan prinsip dasar pengorganisasian
praktik penyelenggaraan negara dan institusi-institusi sosial. Hal terakhir ini

2017 Komunikasi Politik


9 Dosen : Oni.Tarsani, S.Sos.I., M.Ikom
Pusat Bahan Ajar dan eLearning
http://www.mercubuana.ac.id
ikut menentukan pengaturan perilaku masyarakat dalam menghadapi
masalah-masalah dasar. Dimensi sarana (polity) mengandung dua pola
normatif: pertama, tatanan politik (hukum dan institusi) harus mengikuti
prinsip solidaritas dan subsidiaritas, penerimaan pluralitas; struktur sosial
ditata secara politik menurut prinsip keadilan. Maka asas kesamaan dan
masalah siapa diuntungkan atau siapa dirugikan oleh hukum atau institusi
tertentu relevan dibahas; kedua, kekuatan-kekuatan politik ditata sesuai
prinsip timbal-balik.

Tidak sedikit politisi mengabaikan dimensi etika, mereka hanya berpikir untuk
dirinya, tidak mampu menempatkan pada posisi orang lain. Hal ini pula yang
membuat mereka tidak peka terhadap jeritan rakyat. Legitimitas representasi mereka
perlu dipertanyakan. Dimensi moral pada tingkat sarana ini terletak pada peran etika
dalam menguji dan mengkritisi legitimitas keputusan-keputusan, institusi-institusi,
dan praktik-praktik politik, yang pada gilirannya akan membentuk struktur-struktur.
3. Dimensi ketiga
Etika politik adalah aksi politik (politics). Pelaku menentukan rasionalitas
politik. Rasionalitas politik terdiri rasionalitas tindakan dan keutamaan
(kualitas moral pelaku). Tindakan politik disebut rasional bila pelaku
mempunyai orientasi situasi dan paham permasalahan. Ini mengandaikan
kemampuan mempersepsi aneka kepentingan yang dipertaruhkan berdasar
peta kekuatan politik yang ada. Disposisi kekuasaan ini membantu
memperhitungkan dampak aksi politiknya. Menghindari kekerasan menjadi
imperatif moral, penguasaan manajemen konflik adalah syarat aksi politik
yang etis. Aksi mengandaikan keutamaan: penguasaan diri dan keberanian
memutuskan serta menghadapi risikonya. Etika identik dengan tindakan
rasional dan bermakna. Politik bermakna karena memperhitungkan reaksi
yang lain: harapan, protes, kritik, persetujuan, penolakan. Makna moral
semakin dalam ketika tindakan politikus didasari keberpihakan kepada yang
lemah atau korban.

Berbicara politik pada tataran normative memberi kesan naif. Sebab, politik
dalam praksisnya adalah pertarungan kekuatan sehingga kecenderungannya “tujuan
menghalalkan cara” ala Machiavelli, selalu terbuka bagi para politikus. Artinya,

2017 Komunikasi Politik


10 Dosen : Oni.Tarsani, S.Sos.I., M.Ikom
Pusat Bahan Ajar dan eLearning
http://www.mercubuana.ac.id
karena yang mesti dimenangkan dalam pertarungan politik itu adalah kepentingan
dan keuntungan diri, yang mencuat adalah konflik kepentingan, dan apabila tidak
dikelola dengan baik, anarkisme politiklah yang terjadi. Lalu, bagaimanakah jika
konflik selalu mencuat di setiap pertarungan politik? Pertanyaan itulah yang mesti
dijawab dengan menghadirkan etika politik sebagai sosok adab yang dibutuhkan
untuk memedomani arah jalannya politik.
Para komunikator politik yang sebelumnya berjanji membawa bangsa ini
terlepas dari belenggu kemiskinan malahan masuk dalam jurang kemiskinan dan
penderitaan. Penduduk miskin semakin bertambah. Para pengemis semakin hari
semakin banyak jumlahnya. Apakah ini yang dinamakan kebebasan dan
kemerdekaan. Anggota DPR yang terhormat berlomba-lomba menaikkan gaji
mereka. Mereka lebih mementingkan diri sendiri daripada rakyat. Sementara di
sudut-sudut kota besar tempat menjulangnya bangunan tinggi dan megah
berceceran anak-anak miskin dan tak dapat mengecap pendidikan seperti
selayaknya yang menjadi hak mereka. Jangankan mengecap pendidikan untuk
bertahan hidup saja mereka harus mengemis dan melakukan pekerjaan-pekerjaan
yang seharusnya tidak mereka lakukan untuk tetap hidup.
Hilangnya etika komunikasi politik disebabkan oleh kewenangan para penguasa
untuk merampas apa yang menjadi hak rakyat. Hal yang sangat ditonjolkan adalah
politik aturan yang berlaku. Dalam etika, aturan-aturan yang sudah menjadi hukum
itu perlu ditinjau ulang. Aturan bukanlah hukum yang sudah tidak dapat ditawar-
tawar lagi. Jika seandainya terbukti bahwa aturan-aturan tersebut menuai kritikan
yang keras dari masyarakat berarti aturan yang berlaku itu perlu diubah karena
melanggar hak-hak orang lain.

Pentingnya Etika Politik


Etika Politik adalah sarana yang diharapkan mampu menciptakan suasana
harmonis antar pelaku dan antar kekuatan sosial politik serta antar kelompok
kepentingan lainnya untuk mencapai sebesar-besar kemajuan bangsa dan negara
dengan mendahulukan kepentingan bersama dari pada kepentingan pribadi dan
golongan.
Etika politik mengandung misi kepada setiap pejabat dan elite politik untuk bersikap
jujur, amanah, sportif, siap melayani, berjiwa besar, memiliki keteladanan, rendah
hati, dan siap untuk mundur dari jabatan publik apabila terbukti melakukan
kesalahan dan secara moral kebijakannya bertentangan dengan hukum dan rasa

2017 Komunikasi Politik


11 Dosen : Oni.Tarsani, S.Sos.I., M.Ikom
Pusat Bahan Ajar dan eLearning
http://www.mercubuana.ac.id
keadilan masyarakat. Etika ini diwujudkan dalam bentuk sikap yang bertata krama
dalam perilaku politik yang toteran, tidak berpura-pura, tidak arogan, jauh dari sikap
munafik serta tidak melakukan kebohongan publik, tidak manipulatif dan berbagai
tindakan yang tidak terpuji lainnya. Etika politik harus menjadi pedoman utama
dengan politik santun, cerdas, dan menempatkan bangsa dan negara di atas
kepentingan partai dan golongan.
Majelis Permusyawaratan Rakyat (MPR) memandang bahwa etika politik mutlak
diperlukan bagi perkembangan kehidupan politik. Hal ini dibuktikan dengan
ditetapkannya Ketetapan MPR RI No. VI Tahun 2001 tentang Etika Kehidupan
Berbangsa. Dalam Ketetapan tersebut diuraikan bahwa etika kehidupan berbangsa
tidak terkecuali kehidupan berpolitik merupakan rumusan yang bersumber dari
ajaran agama, khususnya yang bersifat universal, dan nilai-nilai luhur budaya
bangsa yang tercermin dalam Pancasila sebagai acuan dasar dalam berpikir,
bersikap dan bertingkah laku dalam kehidupan berbangsa.
Rumusan tentang Etika Kehidupan Berbangsa ini disusun dengan maksud untuk
membantu memberikan penyadaran tentang arti penting tegaknya etika dan moral
dalam kehidupan berbangsa. Pokok-pokok etika dalam kehidupan berbangsa
mengedepankan kejujuran, amanah, keteladanan, sportifitas, disiplin, etos kerja,
kemandirian, sikap toleransi, rasa malu, tanggung jawab, menjaga kehormatan serta
martabat diri sebagai warga bangsa.
Etika kehidupan berbangsa ini diuraikan menjadi 6 (enam) etika yaitu:
1) Etika sosial dan budaya
2) Etika politik dan pemerintahan
3) Etika ekonomi dan bisnis
4) Etika penegakan hukum yang berkeadilan
5) Etika keilmuan, dan
6) etika lingkungan.

Dalam Ketetapan tersebut juga dinyatakan bahwa Etika Politik dan


Pemerintahan dimaksudkan untuk mewujudkan pemerintahan yang bersih, efisien,
dan efektif serta menumbuhkan suasana politik yang demokratis yang bercirikan
keterbukaan, rasa bertanggungjawab, tanggap akan aspirasi rakyat, menghargai
perbedaan, jujur dalam persaingan, kesediaan untuk menerima pendapat yang lebih
benar, serta menjunjung tinggi hak asasi manusia dan keseimbangan hak dan
kewajiban dalam kehidupan berbangsa. Etika pemerintahan mengamanatkan agar

2017 Komunikasi Politik


12 Dosen : Oni.Tarsani, S.Sos.I., M.Ikom
Pusat Bahan Ajar dan eLearning
http://www.mercubuana.ac.id
penyelenggara negara memiliki rasa kepedulian tinggi dalam memberikan pelayanan
kepada publik, siap mundur apabila merasa dirinya telah melanggar kaidah dan
sistem nilai ataupun dianggap tidak mampu memenuhi amanah masyarakat,
bangsa, dan negara.
Etika mempertanyakan semua hukum yang sudah berjalan selama ini demi
kebahagiaan dan kesejahteraan masyarakat. Maka Aristoteles tidak pernah
melepaskan politik dari etika. Baginya politik harus berjalan di atas etika.

DAFTAR PUSTAKA

Arni, Muhammad, 2007, Komunikasi Organisasi. Jakarta: Bumi Aksara.

Cangara, Hafied. 2011. Komunikasi Politik Kensep, teori, dan strategi. Jakarta:
Rajawali Pers.

Gareth Smith dan Andy Hirst, Strategic Political Segmentation, European Journal of

Marketing, 2001
Harold D. Laswell dan Abraham Kaplan, Power and Society (New Haven: Yale
University Press, 1950)

Lynda Lee Kaid, Handbook of Political Communication Research (New Jersey:


Lawrence Erlbaum Associates, 2004).

Miriam Budiardjo, Dasar-dasar Ilmu Politik (Jakarta:Gramedia, 2007)

Mulyana, Deddy, 2005, Ilmu Komunikasi: Suatu Pengantar, Bandung: PT Remaja


Rosdakarya.

West, Richard & Lynn H.Turner. 2007. Introducing communication theoriy: Analisis

2017 Komunikasi Politik


13 Dosen : Oni.Tarsani, S.Sos.I., M.Ikom
Pusat Bahan Ajar dan eLearning
http://www.mercubuana.ac.id
dan aplikasi, edisi 3, buku 2. Jakarta: Salemba Humanika.
Wiryanto, 2005, Pengantar Ilmu Komunikasi, Jakarta: Gramedia Widiasarana
Indonesia.

2017 Komunikasi Politik


14 Dosen : Oni.Tarsani, S.Sos.I., M.Ikom
Pusat Bahan Ajar dan eLearning
http://www.mercubuana.ac.id