You are on page 1of 44

HASIL WAWANCARA DAN OBSERVASI

A. Perawatan Intensive Neonatus dan Bayi Baru Lahir


1. Penatalaksanaan Neonatur Resiko Tinggi di Rumah Sakit (Protap)
a. Resusitasi Neonatus
1) Pengertian
Tindakan resusitasi adalah bantuan nafas pada bayi baru lahir
menggunakan prinsip dasar resusitasi ABCD memastikan saluran
nafas terbuka.
a) Meletakkan bayi dalam posisi yang benar
b) Mengisap mulut, kemudian hidung, kalau perlu trakea
c) Bila perlu masukkan pipa endotrakeal (ET) untuk memastikan
pernafasan terbuka.
2) Tujuan
a) Memberikan ransangan dan bantuan napas pada bayi baru
lahir dengan askfiksia
b) Mempertahankan kelansungan pemberian oksigen dan
sirkulasi darah
3) Kebijakan
a) Tindakan resusitasi merupakan tindakan life saving pada bayi
baru lahir dengan askfiksia.
b) Tindakan resusitasi pada bayi baru lahir harus dilakukan oleh
tim yang terkordinasi dan yang telah di tunjuk
c) Penanggung jawab resusitasi neonatus dari masing-masing
tim harus di ketahui
d) Perlu pelatihan scara periodik terhadap anngota tim sehingga
tercapai perawatan bayi yang efektif dan terkordinasi
4) Prosedur
a) Persiapan Alat Resusitasi :
Sebelum menolong persalinan, selain peralatan persalinan,
siapkan juga alat-alat resusitasi dalam keadaan siap pakai,
yaitu:
(1) 2 helai kain/handuk

1
(2) Bahan ganjal bahu bayi. Bahan ganjal dapat berupa kain,
kaos, selendang, handuk kecil, digulung setinggi 5 cm
dan mudah disesuaikan untuk mengatur posisi kepala
bayi.
(3) Alat pengisap lendir DeLee atau bola karet
(4) Tabung dan sungkup atau balon dan sungkup neonatal
(5) Kotak alat resusitasi
(6) Jam atau pencatat waktu
b) Langkah-langkah Resusitasi Neonatus
Persiapan awal
Periksa semua kelengkapan alat
(1) Langkah Awal
(a) Letakkan bayi di bawah pemancar panas yang telah
dinyalakan sebelumnya.
(b) Letakkan bayi dengan kepala sedikit tengadah/sedikit
ekstensi.
(c) Hisap mulut kemudian hidung
(d) Keringkan tubuh dan kepala dari cairan amnion
(e) Singkirkan kain basah.
(f) Perbaiki posisi kepala bayi agar leher agak tengadah.
(2) Buka jalan napas
(a) Bersihkan mulut dan hidung bayi dengan penghisap.
(b) Posisikan bayi terlentang, kepala posisi tengadah
jangan melakukan ekstensi yang berlebihan
(c) Berikan ganjal punggung dengan kain setebal 2.5 cm
bila kepala bayi besar atau occiputnya menonjol.
(d) Jika pernapasan dangkal atau tersengal-sengal
segera hisap lendir mulai dari mulut kemudian
hidung. Pengisapan jangan terlalu lama (6 detik).
(e) Evaluasi pernapasan, frekuensi jantung, dan warna
kulit.
(f) Jika ketuban keruh atau bercampur meconium kental
bila bayi menunjukkan usaha napas yang baik, tonus
otot yang baik, dan frekuensi jantung lebih dari 100

2
kali/menit, anda cukup membersihkan sekret dan
mekonium dari mulut dan hidung dengan
menggunakan balon penghisap yang biasa
digunakan atau kateter penghisap berukuran 12F
atau 14F.
(3) Rangsangan taktil
Cara rangsang taktil yang aman :
(a) Menepuk / menyentil telapak kaki
(b) Menggosok punggung/perut/dada/ekstremitas
(4) Evaluasi kondisi bayi
(a) Nilai pernapasan bayi dengan melihat
pengembangan dada dan warna kulit. Dengaran
suara napas di seluruh lapangan paru dengan
stetoskop.
(b) Nilai denyut jantung dengan mendengar irama
jantung dengan stetoskop. Hitung frekwensi denyut
jantung
(c) Nilai warna kulit apakah kemerahan/sianosis perifer
atau sianosis sentral.
(5) Pemberian napas bantu
(a) Jika pernapasan tetap tersengal atau apnu setelah
rangsangan singkat, segera berikan pernapasan
buatan atau ventilasi tekanan positif dengan oksigen
100 %.
(b) Posisikan kepala bayi sedikit ekstensi atau ganjal
bahu
(c) Bersihkan sekret terlebih dahulu dan pastikan jalan
napas bersih.
(d) Pasang pipa orofaring
(e) Letakkan sungkup di wajah bayi dengan rapat agar
tidak bocor melalui sisi sungkup
(f) Berikan tekanan positif melalui bag valve atau mask
(ambubag) dengan lembut sambil melihat
pengembangan dada bayi

3
(g) Selanjutnya evaluasi lagi pernapasan dan denyut
jantung secara simultan.
(h) Bila ventilasi tekanan positif tidak efektif dapat
dilakukan intubasi endotrakeal
(6) Pijat Jantung (penekanan dada)
(a) Indikasi pijat jantung bila setelah 30 detik dilakukan
VTP dengan 100% O2, FJ tetap < 60 kali / menit
(b) Diperlukan 2 orang : 1 orang yang melakukan pijat
jantung dan 1 orang yang terus melanjutkan ventilasi.
Pelaksana kompresi : menilai dada & menempatkan
posisi tangan dengan benar. Pelaksana ventilasi :
menempatkan sungkup wajah secara efektif &
memantau gerakan dada.
(c) Penekanan dada dilakukan pada sepertiga bagian
tengah sternum, dibawah garis imajiner yang
menghubungkan papilla mammae.
(d) Teknik ibu jari :
(1)) Kedua ibu jari menekan tulang dada
(2)) Kedua tangan melingkari dada dan jari-jari
tangan menopang bagian belakang bayi
(e) Teknik dua jari :
(1)) Ujung jari tengah dan jari telunjuk atau jari manis
dari satu tangan digunakan untuk menekan
tulang dada
(2)) Tangan yang lain digunakan untuk menopang
bagian belakang bayi.
(f) Lokasi untuk kompresi dada :
(1)) Gerakkan jari sepanjang tepi bawah iga sampai
mendapatkan sifoid
(2)) Letakkan ibu jari atau jari-jari lain pada tulang
dada, tepat diatas sifoid dan pada garis yang
menghubungkan kedua puting susu.
(g) Tekanan saat kompresi dada :
(1)) Kedalaman +1/3 diameter antero-posterior dada

4
(2)) Lama penekanan lebih singkat dari pada lama
pelepasan
(3)) Jangan mengangkat ibu jari atau jari-jari tangan
dari dada di antara penekanan.
(h) Frekuensi : “satu-dua-tiga-pompa-...”Satu siklus
kegiatan terdiri atas tiga kompresi + satu ventilasi.
Rasio 3 : 1 → 1 siklus (2 detik)
(1)) 1½ detik : 3 kompresi dada
(2)) ½ detik : 1 ventilasi
(3)) 90 kompresi + 30 ventilasi dalam 1 menit
(i) Setelah 30 detik kompresi dada dan ventilasi ,
periksa frekuensi jantung.
Jika frekuensi jantung :
(1)) Lebih dari 60 kali/menit, hentikan kompresi dan
lanjutkan ventilasi dengan kecepatan 40-60 kali
pompa/menit.
(2)) Lebih dari 100 kali/menit, hentikan kompresi
dada dan hentikan ventilasi secara bertahap jika
bayi bernapas spontan.
Kurang dari 60 kali/menit, lakukan intubasi pada
bayi jika belum dilakukan, dan berikan epinefrin,
lebih disukai dengan cara intravena. Intubasi
menyediakan cara yang lebih terpercaya untuk
melanjutkan ventilasi
b. Tatalaksana Kegawatdaruratan Pada Neonatus
1) Pengertian
Suatu keadaaan dimana bayi baru lahir memerlukan penanganan
dan tatalaksana sececepatnya dan optimal sehingga bayi dapat
dicegah dari kematian dan kecacatan. Beberapa keadaan yang
memerlukan penganganan yang cepat dan tepat pada bayi baru
lahir :
a) Askfiksia : kegagalan napas secara spontan pada bayi baru
lahir

5
b) Apnea : Tidak adanya aliran udara pernafasan selama >20
detik dengan atau tanpa bradikardi atau sianosis
c) Aspirasi mekonium : Terhisapnya cairan amnion yang tercemar
mekonium kedalam paru-paru yang dapat terjadi pada saat
intrauterin, persalinan maupun kelahiran.
d) Penyakit membran hialin : Yaitu gawat napas pada bayi kurang
bulan yang terjadi segera atau beberapa saat setelah lahir,
ditandai dengan adanya kesukaran bernapas ( napas cuping
hidung), retraksi yang menetap atau progresif dalam 48-96 jam
pertama kehidupan.
e) Infeksi tali pusat
Infeksi tali pusat adalah infeksi pada tali pusat atau jaringan
kulit disekitar tali pusat
f) Takipne Sementara Pada Bayi Baru Lahir : Yaitu sindrom
gawat napas yang terjadi pada bayi cukup bulan ditandai
dengan takipne, retraksi dan sianosis dan dapat membaik
dalam 48-72 jam kemudian.
g) Hipotermi
Hipotermi pada bayi baru lahir adalah penurunan suhu tubuh
sampai di bawah 36,50 C
h) Hipertermi
Suhu tubuh lebih dari 37,50 C
i) Hipoglikemi : keadaan kadar glukosa plasma < 45 mg/dl pada
bayi cukup bulan dan kurang bulan.
j) Kejang pada Bayi baru lahir : Adanya gerakan-gerakan
abnormal pada bayi baru lahir oleh karena gangguan fungsi
sistem neuron.
k) Tetanus nei
l) Sepsis : Sindrom klinis yang ditandai gejala sistemis dan
disertai baktremia yang terjadi 1 bulan kehidupan.

6
2) Prosedur
a) Askfiksia Neonatorum
(1)) Bila nafas < 20 kali/ menit atau bayi mengalami megap-
megap atau tidk bernafas spontan, maka lakukan resusitasi
dengan menggunaan balon dan sungkup.
(2)) Bila bayi mengalami apnea , lakukan manajemen apnea
(3)) Beri oksigen, bila diperlukan untuk gangguan napas.
Kurangai oksigen secara bertahap sampai batas terendah
untuk mmperbaiki gangguan nafas dan menegah sianosis
sentral
(4)) Ukur suhu aksiler tiap 2 jam dan tangani bila ditemukan
suhu tubuh abnormal.
(5)) Yakinkan bayi dapat minum dengan baik
(6)) Lakukan konseling dengan ibu tentang aksfiksia dan
prognisis bayinya.
b) Apnea
(1) Beri kehangatan (pengaturan sihi tubuh)
(2) Posisikan kepala bayi (ekstensi), bersihkan jalan nafas
mulut dan hidung
(3) Stimulasi taktil
(4) Bila bayi masih apnue berikan Ventilasi Tekanan Positif
(VTP) dengan kecepatan 40 – 60 x/menit
(5) Nilai usaha nafas denyut jantung dan warna kulit :
(a) Bila bayi mulai bernafas beri bayi oksigen dan tekanan
positif kontinyu atau Continues Positive Airway
Pressure (CPAP)
(b) Jika perburukan dengan CPAP bayi masuk ventilator
mekanik
(6) Beri Aminofilindengan dosis 6 mg/kgBB, IV, 12 jam
kemudian dilanjutkan dengan dosis pemeliharaan 2
mg/kgBB/12 jam.
(7) Skrining Bayi dengan pemeriksaan darah lengkap, elektrolit
darah, CRP, IT ratio, kultur darah, Gula darah, AGD dan
Foto toraks, CT scan kepala.

7
c) Aspirasi Mekonium
Pengelolaan di ruang bersalin/kamar operasi :
Pengelolaan umum :
(1) Optimalisasi suhu tubuh
(2) Koreksi jika ada kelainan metabolik (hipokalsemi),
hipoglikemi, asidosis metabolik
(3) Monitoring fungsi ginjal dan kardiopulmonal
(4) Memberi terapi cairan dengan restriksi cairan
(5) Pemberian antibiotik tergantung keadaan kasus
(6) Pencegahan komplikasi Asfiksia
Pengelolaan khusus/Oksigen
(7) Mempertahankan oksigenasi yang adekuat. Dengan
pemberian oksigen melalui CPAP atau ventilator mekanik.
Pemeriksaan penunjang :
(8) Laboratorium : darah lengkap,AGD, GDS,Foto toraks
d) Penyakit Membaran Hialin
Pencegahan :
Upaya preventif dapat memperbaiki survival bayi dengan risiko
RDS :
(1) USG antenatal : pengukuran masa gestasi dan janin lebih
akurat
(2) Monitoring janin yang kontinyu
(3) Pencegahan dan intervensi pada kelahiran bayi prematur
dengan pemberian Tokolitik dan Kortikosteroid untuk
merangsang permatangan paru.pemberian kortikosteroid
memberi efek yang optimal setalah 24 jam.
Oksigen
Pemberian oksigen harus adekuat. Pa02 dipertahankan antara
50-80mmHg. Pemberian 02 dapat menggunakan CPAP atau
Ventilasi Mekanik.
Terapi suportif:
(1) Suhu tubuh bayi dipertahankan
(2) Kebutuhan cairan dan nutrisi

8
(3) Monitoring denyut jantung, tekanan darah dan perfusi
perifer.
(4) Antibiotic sesuai keadaan
Surfaktan:
Surfaktan diberikan pada bayi dengan HMD dan
pemberiandilakukan dakam 24 jam pertama. Dosis 4 ml/kgBB,
intratrakea. Diberikan 4 dosis dalam 48 jam dan dosis diulang
setelah minimal 6 jam.
Indikasi pemberian surfaktan:
(1) BB<1750
(2) Usia <24 jam
(3) Klinis dan foto torak HMD
Pemeriksaan penunjang:
Laboratorium: darah lengkap, work-up sepsis, elektrolit darah,
AGD, GDS.
e) Infeksi tali pusat
(1) infeksi tali pusat lokal atau terbatas
(a) Bersihkan tali pusat menggunakan larutan anti septik
(ioudium povidon 2,5 %) dengan kain kasa yang bersih .
(b) Olesi tali pusat dan daerah sekitarnya dengan larutan
antiseptic dua kali sehari sampai tidak nanah lagi pada
tali pusat
(c) Anjurkan ibu melakukan ini kapan saj
f) Takepnea Sementara Pada Bayi Baru Lahir :
Tata laksana:
(1) Umum: jaga kehangatan, tanda vital
(2) Oksigenasi ( Fi02 antara 30-50% )
(3) Retriksi cairan: 60 ml/KgBB/hari
(4) Pemberian minum setlah takipnea membaik
(5) Mengkonfirmasikan diagnosis dengan menyingkirkan
penyebab takipnea lain, misalnya pneumonia, PJB,HMD
(6) Sembuh sendiri biasanya dalam waktu 48-72 jam
Pemeriksaan penunjang :
Laboratorium: darah lengkap, kultur dan analisa gas darah ,
Foto torak

9
g) Hipotermia
(1) tindakan pencegahan
(a) Siapkan ruang yang cukup hangat
(b) Bayi dengan asfiksia, distress respirasi atau sepsis
membutuhkan suhu ruang lebih tinggi dibandingkan bayi
dengan berat yang sama tanpa masalah
(c) Gunakan pemancar panas hanya selama resusitasi
(d) Bayi segera dikeringkan setelah lahir lebih baik mandi di
tunda
(e) Jangan hilangkan verniks
(f) Tutuplah kepala dengan handuk kering dan bersih
(g) Berikan bayi kedada ibunya dan selimuti keduanya
(h) Khusus bayikecil (BBLR) lakukan perawatan bayi lekat
(PBL) dengan metode kangguru , bila kondisi sudah
stabil
(i) Susukan bayi dalam 30 menit setalah lahir
(2) Penanganan hipotermia berat
(a) Segera hangatkan bayi dengan menggunakan
pemancar panas yang sebelumnya telah dihangatkan
(b) Ganti baju yang dingin dan basah bila perlu. Beri
pakaian yang hangat, pakai topi dan selimuti dengan
selimut yang hangat.
(c) Hindari paparan panas yang berlebihan dan posisi bayi
sering diubah
(d) Bila bayi dengan gangguan napas (pasang jalur IV)
(e) Periksa suhu bayi setiap jam. Bila suhu naik paling tidak
0,5 0C, berati upaya menghangatkan berhasil, kemudian
lanjutkan dengan memeriksa suhu bayi setiap 2 jam.
(f) Periksa suhu alat yang dipakai untuk menghangatkan
dan suhu tubuh tuangan setiap jam.
(g) Setelah suhu tubuh bayi normal.
(h) Pantau bayi selama 24 jam setelah penghentian
antibiotika.
(3) Penanganan Hipotermi sedang (suhu tubuh 32-35 0C)

10
(a) Ganti pakaian yang dingin dan basah, dengan pakaian
yang hangat, memakai topi dan selimut dengan selimut
hangat.
(b) Bila ada ibu / pengganti ibu, anjurkan menghangatkan
bayi dengan melakukan kontak kulit.
(c) Mintalah ibu untuk mengamati tanda kegawatdaruratan
dan segara mencari pertolongan bila hal tersebut.
h) Hipertermia
Bila suhu diduga karena paparan yang berlebihan
(1) Bila bayi tidak pernah diletakan didalam alat penghangat
(a) Letakan bayi di dalam suhu lingkungan yang normal
(25-280C)
(b) Lepaskan sebagian atau seluruh pakaian bila perlu
(c) Periksa suhu aksila setiap jam sampai dicapai suhu
batas normal
(d) Bila suhu sangat tinggi (>390C) bayi di kompres denga
air hangat
(2) Bila bayi di letakkan dibawah pemancar panas atau
inkubator.
(a) Kurangi pengatur suhu alat penghangat. Bila bayi di
dalam incubtor, buka inkubator sampai suhu dalam
batas normal
(3) Lepaskan sebagian atau seluruh pakaian bayi selama 10
menit kemudian beri pakaian lagi sesuai dengan alat
penghangat yang digunakan
(4) Periksa suhu bayi setiap jam sampai suhu dalam batas
normal
(5) Periksa suhu inkubator atau pemancar panas setiap jam
dan sesuai pangatur suhu.
i) Hipoglikemia
(1) Bayi yang mengalami hipoglikemia harus segera diberi 2
cc/KgBB dextrose 10% selama 5 menit, dapat diulangi
sesuia kebutuhan

11
(2) GDS diperiksa kembali setelah 30menit sampai 1 jam
setelah dikoreksi
(3) Infus berkesinambungan dengan glukosa 10% dengan
kecepatan 6-8 mg/Kg/BB/MENIT.
(4) Pada hipoglikemia persisten pemeberian infus glukosa
ditinggalkan sampai 16-20mg/Kg/Bb/menit. Jika tetap
rendah dicari sebabanya dan terapi selanjutnya tergantung
penyebab hipoglikemianya.
Periksa gula darah setelah bayi lahir

Glukosa <30 Glukosa 30-40 Glukosa >45

Ambil serum kadar Ambil serum Mulai lakukan


glukosa, kemudian glukosa, lakukan pemeberian
mulai infus pemeberian asupan sejak dini
glukosa10% IV, asupan sejak dini (dalam waktu 4
berikan 2ml/kg (dalam 1 jam jam setelah
selama 5 menit, setelah lahir), lahir), lanjutkan
berikan IV dengan lengkapi dengan pemeriksaan
laju 5ml/kg hari,mulai glukosa 10% jika bayi beresiko
pemeberian asupan pemberian hingga
lebih sering saat bayi asupan tidak bisa pemberian
stabil ditoleransi asupan sudah
lancar

Pemantauan glukosa bisa dihentikan setelah bayi mulai menerima


asupan dengam penuh atau mendapatkan infus glukosa terus menerus
secara teratur dan tiga kali pemeriksaan yang dilakukan setiap jam
hasilnya >40mg/dl.

Gambar 1.1
 Kadar glukosa yang rendah dalam darah harus dinaikkan
dengan cepat

12
 Pemeberian glukosa intravena harus diturunkan secara
bertahap
j) Kejang
Tata laksana
(1) Mempertahankan ventilasi dan oksigenasi, tekanan darah,
elektrolit darah dan Ph DARAH.
(2) Mengobati penyebab: jika terjadu hipoglikemia lihat pada
penanganan hipoglikemia. Anti kejang : fenobarbital
dengan dosis awal 20 mg/kg/BB intravena, jika setelah 60
menit kejang masih ada berikan dosiskedua sebanyak
10mg/kg/BB intravena. Jika kejang masih ada berikan
fenitoin dengan dosis 15-20 mg/kg/BB intravena. Bila
kejang telah teratasi berikan dosis rumatan: fenobarbital
3,5-4,5 mg/Kg/BB dosistinggal atau 2x per hari IV/oral.
Fenitoin dosis rumatan 4-8mg/kg/BB perhari dalam 2 atau
3 dosis intravena atau oral.
(3) Pemberian cairan intravena sesuai dengankebutuhan
(4) Berikan antibiotic untuk bayi yang dicurigai sepsis
Pemeriksaan penunjang :
(1) Pemeriksaan darah lengkap, CRP,IT rasio, kultur darah,
glukosa darah, kalsium dan magnesium darah, elektrolit
darah.
(2) Analisis Gas Darah
(3) TORCH
(4) USG atau CT-Scan Kepala
k) Sepsis
Umum
(1) Rawat dalam ruang isolasi/incubator
(2) Cuci tangan sebelum dan sesudah pemeriksaan bayi
(3) Pengaturan suhu dan posisi bayi
Khusus
Suportif untuk menjaga stabilitas hemodinamik dan oksigen asi
jaringan vital:

13
(1) Terapi oksigen bila ditemukan sianosis, distress
pernafasan, apnu, kejang.
(2) Pemberian cairan elktrolit.
(3) Pemberian nutrisi enteral secara bertahap
(4) Atasi Kejang (lihat terapi kejang)]
(5) Atasi anemia, syok
Antibiotik
(6) Sebelum pemberian antibiotikperiksa kultur dan test
resistensi,diberikan antibiotik ceftazidime25 mg/kgBB per
hari dan amikasin 6 mg/kgBB per hari
(7) Bila hasil kultur sudah ada terapi antibiotik disesuaikan
dengan test resisitensinya
Pemeriksaan penunjang
(1) Darah lengkap, CRP, IT, rasio, kulturdarah, urin
lengkapdan kultur urin
(2) Foto torax
(3) Foto abdomen
(4) USG kepala dan abdomen
c. Prosedur Pemberian Fototerapi
1) Pengertian
Pemberian terapi menggunakan sinar biru pada Bayi baru lahir
yang mengalami hiperbilirubinemia
2) Tujuan
Menurunkan kadar bilirubin pada bayi baru lahir
3) Indikasi Fototerapi
a) Kelompok Resiko Major :
(1) Ikterus muncul dalam 24 jam kehidupan
(2) inkompatibilitas golongan darah atau rhesus dengan tes
antiglobulin direk yang positif atau penyakit hemolitik
lainnya (defisiensi G6PD)
(3) Umur kehamilan 35 - 36 minggu
(4) Riwayat anak sebelumnya mendapat fototerapi
(5) sefalhematom atau memar yang bermakna

14
(6) ASI Ekslusif dengan cara perawatan tidak baik dan
kehilangan berat badan yang berlebihan
(7) sebelum pulang, kadar bilirubi8n serum total terletak pada
daerah risiko tinggi (gambar 1)
b) Kelompok Resiko Minor :
(1) umur kehamilan 37 - 38 minggu
(2) sebelum pulang bayi tampak kuning
(3) riwayat anakasebelumnnya kuning
(4) bayi makrosomia dari ibu DM
(5) umur Ibu ≥ 25 tahun
(6) laki – laki
(7) sebelum pulang, kadar bilirubin serum total terletak pada
daerah resiko sedang (gambar 1)
c) Kelompok Resiko Kurang
(1) sebelum pulang, kadar bilirubin serum total terletak pada
daerah resiko rendah (gambar 1)
(2) umur kehamilan ≥ 41 minggu
(3) bayi mendapat susu formula
(4) berkulit hitam
(5) bayi dipulangkan setelah 72 jam
4) Teknik Pemberian Fototerapi
a) unit alat fototerapi disiapkan
b) pakaian bayi dilepaskan
c) mata bayi ditutup dengan alat tidak tembus cahaya
d) letakkan alat fototerapi tegak lurus diatas bayi dengan jarak 40
cm
5) Pemantauan selama pemeberian
a) pemberian minum dilakukan tiap 2 - 3 jam
b) pemeriksaan kadar bilirubin ulang :
(1) bila kadar bilirubin total ≥ 25 mg/dL, pemeriksaan ulangan
dilakukan dalam 2 - 3 jam
(2) bila kadar bilirubin total 20 - 25 mg/dL, pemeriksaan
ulangan dilakukan dalam 3 - 4 jam

15
(3) bila kadar bilirubin total < 20 mg/dL, pemeriksaan
ulangan dilakukan dalam 4 jam
(4) bila kadar bilirubin total tidak turun atau mendekati kadar
transfusi tukar, atau perbandingan bilirubin total dengan
albumin ( TSB/albumin)meningkat mendekati kadar
traansfusi tukar atau ≥ 25 mg/dL, maka dilakukan
transfusi tukar
6) Efek Samping
a) perubahan suhu pada metabolik lainnya
b) perubahan curah jantung sementara, terbukannyakembali
duktus anteriosus
c) peningkatan kehilangan cairan tubuh ( insensible water loss)
d) peningkatan frekuensi buang air besar, feses menjadi cair,
berwarna hijau kecoklatan.
e) perubahan aktivitas
f) efek sinar pada okuler
7) fototerapi diberikan apabila kadar bilirubin total < 13 - 14 mg/Dl

2. Prosedur pemberian Obat Pada Bayi Yang Di Rawat di Ruang NICU


a. Pelaksanaan
1) Instruksi dokter untuk penggunaan obat pada instruksi
pengobatan pasien (dalam rekam medik pasien)
2) Melakukan pemeriksaan stok obat pada lemarin penyimpanan
pasien sesuai dengan jenis obat dalam bentuk sediaaan maka
dilakukan pemberian label etiket pada kemasan obat yang
digunakan:
a) Nama pasien
b) Nomer rekam medik
c) Nama obat
d) Dosis obat
e) Rute pemberian
f) Waktu dan ferekuensi pemberian
3) Pemeriksaan akhir oleh petuga syang berbeda atau oleh
penanggung jawab kegiatan dengan penilaian

16
a) Benar Obat
b) Benar Dosis
c) Benar pasien
d) Benar cara pemberian obat
e) Benar informasi
f) Benar waktu dan frekuensi pemberian
g) Benar pendokumentasian
b. Hal yang perlu diperhatikan
Sebelum pemberian obat harus dilakukan double cek oleh dua
orang petugas yang berbeda. Pencatatan dan
pendokumentasianpemberian obat di tulis dalam bentuk formulir
catatn pemberian dan pemantauan obat pasien.

3. Alat Elektromedis di Ruang NICU


a. Inkubator

Gambar 1.2. Inkubator


Inkubator Bayi merupakan salah satu alat medis yang berfungsi untuk
menjaga suhu sebuah ruangan supaya suhu tetap konstan /stabil.
Pada modifikasi manual-otomatisinkubator bayi , terdapat sebuah boks

17
kontrol yang dibagi menjadi 2 bagian (bagian atas dan bagian bawah).
Boks bagian atas digunakan untuk meletakkan sensor , display sensor
,kontroler , rangkaian elektronik. Sedangkan pada boks bagian bawah
dibagi menjadi 3ruangan yang dibatasi dengan sekat , yang digunakan
untuk meletakkan heater, tempat / wadah air dan kipas. Sensor yang
digunakan adalah sensor suhu (PT100) dan sensor kelembapan ,
dimana sensor suhu PT100 dan sensor kelembapan diletakkan di
dalam bokstidur bayi (di luar boks kontrol). Pada sensor suhu PT100
dan sensor kelembapan terdapatdisplay yang sekaligus sebagai driver
sensor yang digunakan untuk mengetahui sertamemberikan setting
suhu dan kelembapan dalam ruangan boks tidur bayi sesuai yang
dikehendaki. Yang menjadi actuator dari alat ini adalah heater dan
kipas. Heater berfungsi sebagai pemanas ruangan , sedangkan kipas
berfungsi untuk menyalurkan udara panas yangdipancarkan heater
menuju ruangan tempat air dan menuju boks tidur bayi melalui
selang.Sebagai kontrolernya , digunakan sebuah PIC Microchip
16F877A. Dimana PIC tersebutjuga berfungsi untuk menghubungkan
boks kontrol dengan komputer (CPU) secara serialsupaya dapat
memberikan tampilan serta dapat memberikan setting suhu sesuai
denganyang dikehendaki melalui komputer.
Cara Penggunaan Inkubator
1) Bersihkan inkubator dengan desinfektan setiap hari, & bersihkan
secara keseluruhan setiap minggu atau setiap akan digunakan
2) Tutup matras dengan kain bersih
3) Kosongkan air reservoir, dapat tumbuh bakteria yg berbahaya
dalam air dan menyerang bayi.
4) Atur suhu sesuai dengan umur dan BB bayi (lihat tabel)
5) Hangatkan inkubator sebelum digunakan
6) Bila diperlukan lakukan pengamatan seluruh tubuh bayi atau terapi
sinar, lepas semua pakaian bayi dan segera diberikan pakaian
kembali stlh selesai
7) Tutup indikator secepat mungkin, jaga lubang selalu tertutup agar
inkubator tetap hangat
8) Gunakan satu inkubator untuk satu bayi

18
b. Infant Wamer
1) Definisi Infant Warmer
Infant berarti bayi dan Warmer berarti penghangat. Jadi Infant
Warmer secara bahasa berarti alat untuk menghangatkan bayi. Alat
ini difungsikan sebagai tempat perlindungan bagi bayi yang lahir dini
(Premature). Alat ini hanya sebagai tempat singgah sementara
untuk menstabilkan suhu tubuh bayi yang lahir dan mengalami
hipotermia. Dengan adanya panas (heater) yang dihasilkan oleh
alat ini, maka bayi yang lahir tidak normal (warna biru pada
tubuhnya) dikarenakan suhu tubuh yang kurang akan merasa
hangat. Jika suhu tubuh bayi sudah stabil atau dirasa sudah normal,
maka bayi dapat dipindah ke bed bayi biasa.
Komponen utama dari infant warmer yaitu heater dan kontrol
suhu. Penghangat pada infant warmer menggunakan elemen
kering yang diletakkan diatas bayi yang suhunya dapat diatur sesuai
kebutuhan. Radiasi panas yang mengenai bayi suhunya antara 35⁰-
37⁰ C. Pada kontrol suhu juga terdapat sensor yang diletakkan pada
bed bayi yang berfungsi menyensor suhu tubuh bayi. Sensor ini
juga berfungsi mengontrol kerja heater agar tidak terjadi over heat.
2) Prinsip Kerja
Sistem kontrol suhu pada infant warmer HKN-9010 ada 3
macam, yaitu pre-warm mode, manual control, dan skin mode.
Pada saat alat di tekan tombol START maka secara otomatis alat
akan masuk pada pemilihan mode pre-warm. Pada mode pre-warm
ini output panas heater ( heating ratio) telah disetting sebesar 25%
sampai operator melakukan setting suhu dengan mode lain sesuai
kebutuhan.
Untuk pemilihan mode manual control, operator dapat mengatur
suhu sesuai dengan kebutuhan dengan menaikkan atau
menurunkan heating ratio. Sedangkan apabila operator memilih skin
mode, maka secara otomatis alat akan disetting pada suhu 36⁰ C
dengan timer yang dapat disetting.

19
Setting suhu dan setting timer ditampilkan pada display. Untuk
menaikkan atau menurunkan suhu dan pengaturan timer dipakai
tombol up dan down.
3) Infant Warmer

Gambar 1.3. infant warmer


Keterangan :
a) I.V.Pole : digunakan untuk menggantung botol infus dengan
beban maksimal 2 kg.
b) Radiant box : dapat digerakkan secara bebas dalam keadaan
horizontal yaitu 00~900.
c) Temperature controller : terdapat alarm sensor, alarm
kegagalan daya, alarm suhu berlebih, alarm penyimpangan,
alarm untuk kegagalan pengaturan dan system.
d) Infant bed : dapat disetel dalam 00~100.
e) Wheel : jumlah total 4 buah roda, 2 diantaranya memiliki rem
f) Organic glass panel : mencegah pergeseran infant bed
g) Tray : digunakan untuk menaruh benda-benda yang dibutuhkan
dengan beban maksimal 2 kg saat alat sedang digunakan.

20
c. Continuous Positive Airway Pressure (CPAP)

Gambar 1.4. CPAP


1) Definisi CPAP
Respiratory distress pada neonatus, adalah salah satu problem
terbesar yang kita temui sehari-hari. Respiratory distress tampak
sebagai takipneu atau nafas cepat pada bayi baru lahir. Gajala
ini dapat berlangsung dari beberapa jam sampai beberapa hari.
Diagnosis dan tatalaksana yang tepat sangat penting untuk
diterapkan. Continuos Positive Airway Pressure (CPAP) adalah
merupakan suatu alat untuk mempertahankan tekanan positif
pada saluran napas neonatus selama pernafasan spontan.
CPAP merupakan suatu alat yang sederhana dan efektif untuk
tatalaksana respiratory distress pada neenatus. Penggunaan
CPAP yang benar terbukti dapat menurunkan kesulitan bernafas,
mengurangi ketergantungan terhadap oksigen, membantu
memperbaiki dan mempertahankan kapasitas residual paru,
mencegah obstruksi saluran nafas bagian atas, dan mecegah
kollaps paru, mengurangi apneu, bradikardia, dan episode

21
sianotik, serta mengurangi kebutuhan untuk dirawat di Ruangan
intensif.
Beberapa efek fisiologis dari CPAP antara lain :
a) Mencegah kolapsnya alveoli paru dan atelektasis
b) Mendapatkan volume yang lebih baik dengan meningkatkan
kapasitas residu fungsional
c) Memberikan kesesuaian perfusi, ventilasi yang lebih baik
dengan menurunkan pirau intra pulmonar
d) Mempertahankan surfaktan
e) Mempertahankan jalan nafas dan meningkatkan
diameternya
f) Mempertahankan diafragma.
2) Cara Penggunaan CPAP
CPAP adalah salah satu alat yang digunakan sebagai
tatalaksana respiratory distres pada neonatus. Seperti
penggunaan alat kesehatan lainnya penggunaan CPAP juga
harus memperhatikan standard kebersihan dan keamanan.
Menjaga kebersiha jalan nafas bayi merupakan kunci
keberhasilan tatalaksana paru yang baik. Mencuci tangan yang
benar sebelum menyantuh prong atau pipa CPAP, adalah suatu
keharusan. Ujung selang yang lain yang tidak digunakan juga
harus bersih., dan harus dijauhkan dari lantai atau tempat yang
tidak bersih lainnya.
Cara pemasangan CPAP adalah sebagai berikut :
a) Tempelkan selang oksigen dan udara ke pencampur dan
flow meter, lalu hubungkan ke alat pengatur kelembapan.
Pasang floemeter antara 5-10 liter
b) Tempelkan satu selang ringan , lemas dan berkerut ke alat
pengatur kelembapan. Hubungkan probe kelembapan, dan
suhu ke selang kerut yang masuk ke bayi. Pastikan probe
suhu tetap diluar inkubator atau tidak di dekat sumber panas
dari penghangat.
c) Siapkan satu botol air steril di dekat alat pengatur
kelembapan

22
d) Jaga kebersihan ujung selang
Untuk menghubungkan sistem ini ke bayi, langkah-langkahnya
adalah sebagai berikut :
a) posisikan bayi dan naikkan kepala tempat tidur 300
b) Hisap lendir dari mulut, hidung, dan faring. Pastikan bayi
tidak mengalami atresia choana
c) Letakkan gulungan kain dibawah bahu bayi, sehingga leher
bayi dalam posisi ekstensi untuk menjaga jalan nafas tetap
terbuka.
d) Lembabkan prong dengan air steril atau Nacl 0,9% sebelum
memasukkannya kedalam hidung bayi. Masukkan dengan
posisi lengkungan kebawah. Sesuaikan sudut prong dan
kemudian sesuaikan selang kerut dengan posisi yang sesuai
e) Masukkan pipa Orogastrik (OGT) dan lakukan aspirasi isi
perut, kita boleh membiarkanpipa lambung tetap ditempatnya
untuk mencegah distensi lambung
f) Pergunakan topi untuk menjaga kehangatan bayi
g) Setelah bayi nyaman dan stabil dengan CPAP, barulah kita
melakukan fiksasi agar nasal prong tidak bergeser dari
tempatnya.

Gambar 1.5. Contoh Penggunaan Bubble CPAP


Selama penggunaan CPAP hendaknya kita mengevaluasi
tanda vital bayi, sistem kardiovaskuler (perfusi sentral, perifer,

23
tekanan darah), respon neurologis (tonus otot, kesadaran dan
respon terhadap stimulasi), gastrointestinal (distensi abdomen,
visible loops dan bising usus). Hisap lendir harus selalu
dilakukan dari rongga hidung, mulut, faring dan perut setiap 2-4
jam, sesuai dengan kebutuhan. Meningkatnya upaya nafas,
kebutuhan oksigen, dan insiden apneu atau bradikardi, dapat
disebabkan karena adanya lendir berlebih. Untuk melunakkan
konsistemsi lendir dapat digunakan NaCl 0,9%.
Selama penggunaan CPAP kita harus selalu memantau
apakah alat selalu berfungsi dengan baik, dan tidak terjadi
perburukan pada kondisi bayi yang mengharuskan kita
menghentikan penggunaan CPAP. Berikut adalah kondisi-kondisi
yang mengindikasikan kegagalan penggunaan CPAP dan
memerlukan ventilasi mekanis :
a) FiO2 > 60 %
b) PaCO2 > 60mmHG
c) Asidosis metabolik menetap dengan defisit basa > -8
d) Terlihat retraksi yang semakin lama semakin meningkat dan
menunjukkan kelelahan pada bayi
e) Sering mengalami apneu dan bradikardia
f) Pernafasan yang irreguler Apabila terjadi kondisi tersebut,
maka kita harus mempertimbangkan untuk melakukan
intubasi dan support ventilasi mekanik
d. Monitor Saturasi Oksigen

GAMBAR.1.6. Monitor Oksigen


Monitor saturasi Oksigen merupakan tehnik monitoring non invasive
untuk mengukur saturasi oksigen arteri dan fungsi hemoglobin, nilai
normal 97-99%

24
Prosedur
1) Persiapan alat : Pulse Oximeter beserta sensornya
2) Cara kerja :
a) Cuci tangan
b) Lokasi tempat sensor dibersihkan dari darah dan kotoran
lain
c) Pilih sensor yang tepat sesuai lokasi tempat sensor
d) Sambungkan Oximeter dengan menekan tombol power on/
off
e) Set alarm secara tepat dan cek fungsi lainnya
f) Untuk mematikan, tekan kembali tombol power on/off
g) Sambungkan sensor lempeng/ klip pada tangan/ kaki/ telinga
e. Fototerapi

Gambar. 1.7 Fototerapi


Fototerapi adalah penyinaran pada bayi menggunakan sinar biru,
sinar hijau untuk mengubah bilirubin indirek menjadi bentuk yang
larut dalam air untuk diekskresikan melalui empedu, urine atau tinja.
Fototerapi diberikan pada bayi dengan hiperbilirubinemia
Tujuan utama adalah untuk mengendalikan agar kadar bilirubin
serum tidak mencapai nilai yang dapat menimbulkan

25
kernikterus/ensefalopati biliaris, serta mengobati penyebab langsung
ikterus.
f. Syring Pump

Gambar 1.8 Syrng Pump


Syringe pump merupakan salah salah satu peralatan elektromedis
yang berfungsi untuk memasukkan cairan obat kedealam tubuh
pasien dalam jangka waktu tertentu secara teratur. Pada dasarnya
pada syringe pump terdiri dari beberapa rangkaian yaitu rangkaian
pengatur laju motor (pendeteksi rpm), rangkaian komparator, dan
rangkaian sinyal referensi. Motor akan berputar untuk menggerakkan
spuit merespon sinyal yang diberikan oleh rangkaian pengendali
motor, tetapi putaran motor itu sendiri tidak stabil sehingga
perubahan-perubahan itu akan dideteksi oleh rangkaian pendeteksi
rpm. Sinyal yang didapat dari pendeteksi rpm akan dibandingkan
dengan sinyal referensi, dimana hasil dari perbandingan tersebut
akan meredakan ketidakstabilan motor. Motor akan mengurangi
lajunya jika perputarannya terlalu cepat dan sebaliknya akan
menambah kecepatan jika perputarannya terlalu pelan sehingga
didapatkan putaran motor yang stabil. Syringe pump didesain agar
mempunyai ketepatan yang tinggi dan mudah untuk digunakan.
Syringe pump dikendalikan dengan mikro computer dan dilengkapi
dengan system alarm yang menyeluruh

26
g. Infus Pump

Gambar .1.9. Infus pump


Infusion Pump adalah perangkat medis yang digunakan untuk
memberikan cairan kedalam tubuh pasien dalam jumlah besar atau
kecil, dan dapat digunakan untuk memberikan nutrisi atau obat,
seperti insulin atau hormone lainnya, antibiotic, obat kemoterapi, dan
penghilang rasa sakit dengan cara yang terkendali.
Cara penggunaan
1) Hubungkan alat ke listrik AC dan nyalakan pompa
2) Tekan tombol power pada panel kontrol
3) Masukkan set IV botol,isi cairan ke set IV dan udara pembersih
dari tabung
4) Buka pintu alat, jumlah IV set tabung yang bagian lebih rendah
dari ruang, melalui semua alur lurus,tekan penjepit untuk
melepaskan dan jumlah tabung didalamnnya menutup pintu

27
5) Matikan semua lampu didaerah mengkhawatirkan ,jika
permukaan sensor gelembung dan bersihkan tabung dengan air
suling untuk melepaskan alarm
6) Untuk menambah atau mengurangi volume infus dan debit aliran
dengan kenop
7) Tekan tombol Start untuk memulai infus
8) Bila ada alarm , ikuti indikasi di daerah mengkhawatirkan .
setelah merilis alarm anda bisa restart infussion
9) Bila menggunakan merk baru set IV atau ada masalah lakukan
kalibrasi,untuk lebih jelas lihat manual penggunaan

4. Kebutuhan Cairan pada bayi yag di rawat di ruang NICU


Peberian cairan secara intravena pada bayi dalam keadaan tertentu
supaya bayi menerima cairan, kalori dan elektrolit yang dibutuhkan.
Kebijakan yang memerlukan cairan intrven
a. Neonatus Aterm
1) Hari 1: 60 – 80 cc/kgbb/hari jenis cairan Dx 5% / 10%
2) Hari 2 – 7 : 80 – 120 cc/kgbb/hari jenis cairan N5 (D5-1/4NS )
atau campuran yg dibuat (Dx : NS = 4 : 1 )
3) Kebutuhan cairan dinaikkan setiap hari 10 – 20 cc/kgbb/hari
b. Neonatus Preterm
1) Hari 1 – 3 :
BB < 800 gr : 80-100 cc/kgbb/hari
BB > 800 gr : 100-160 cc/kgbb/hari jenis cairan Dx 5% / 10%
2) Hari 3 – 7 : dg mulai menambahkan elektrolit ( Kcl : 10 meq/kkolf;
Ca gluconas 2 – 4 meq/kgbb/hari. Jenis cairan N5 (D5-1/4NS )
atau campuran yg dibuat
3) Kebutuhan cairan dinaikkan setiap hari 10 – 20 cc/kgbb/hari

5. Kebutuhan Pemberian Foto Therapy Pada Bayi Yang di Rawat di


Ruang Nicu
Fototherapy adalah terapi menggunakan sinar ultraviolet dengan
panjang gelombang tertentu dan waktu yang dimaksud untuk
menurunkan kadar bilirubin.

28
Cara melakukan fototherapy :
a. Bila berat bada bayi 2000 gram atau lebih , letakkan bayi dalam
keadaan telanjang di boks bayi. Letakkan bayi yang lebih kecil di
incubtor.
b. Timbang bayi setiap hari dan awasi penurunan BB akibat kehilangan
air secara evaporasi atau diare, terutama pada bayi prematur
c. Feses bayi mungkin akan keluar dan berwarna kuning saat bayi
menerima terapi sinar. Kondisi ini tidak memerlukan terapi khusus.
d. Hentikan fototerapi saat orang tua mengunjungi bayinya dan
membuka peindung mata untuk memudahkan interaksi alami antara
orang tua dan bayi.
e. Lanjutkan pengobatan dan pemeriksaan lain
f. Pantau suhu tubuh bayi dan suhu udara sekitar bayi tiap 3 jam.
g. Periksa kadar bilirubin seru
h. Bila kadar bilirubin serum mendekati nilai untuk dilakukan trnsfuse
tukar.

6. Pemberian Nutrisi Parental dan Enteral


a. Nutrisi Parental Total (NPT)
1) Dukungan nutrisi pada neonatus yang tidak mendapat nutrisi
enteral adekuat
2) Diberikan melalui jalur intravena perifer atau sentral
3) Infus intravena mengandung semua nutrien penting untuk
kebutuhan energi basal, metabolisme dan pertumbuhan
b. Nutrisi Enteral
Nutrisi enteral dapat diberikan jika tidak ada kontra indikasi mutlak
dan relatif untuk nutrisi enteral, Hemodinamik stabil
1) Pemberian asupan oral
a) Setidaknya usia 33 minggu kehamilan
b) Tidak terdapat gawat napas (RR < 60 X / menit)
2) Pemberian asupan melalui selang naso/orogastrik
a) Kurang dari 33 minggu kehamilan
b) Gangguan neurologis (isap/nelanabnormal)
c) Gawat napas (tanpa hipoksia)

29
d) Tergantung pada ventilator
7. Alat Bantu Nafas Mekanik
Ventilasi mekanik adalah suatu alat bantu mekanik yang berfungsi
memberikan bantuan nafas pasien dengan cara memberikan tekanan
udara positif pada paru-paru melalui jalan nafas buatanadalah suatu alat
yang digunakan untuk membantu sebagian atau seluruh proses ventilasi
untuk mempertahankan oksigenasi

8. Pencegahan dan Pengendalian Infeksi diruang NICU


Setiap melakukan tindakan petugas melakukan pencegahan dan
pengendalian infeksi seperti mencuci tangan, menggunakan sarung
tangan, serta membuang sampah pada tempat samppah sesui dengan
jenis sampah. Bukan hanya petugas, keluarga bayi juga wajib mencuci
tangan di wash taffle yang sudah disediakan sebelum memasuki ruang
perawatan bayi.
Kunci pencegahan infeksi pada fasilitas pelayanan kesehatan adalah
mengikuti prinsip pemeliharaan hygene yang baik:
a. Mencuci tangan untuk menghindari infeksi silang, 6 langkah 5 momen
b. Menggunakan alat pelindung diri untuk menghindari kontak dengan
darah atau cairan tubuh lain, meliputi; pakaian khusus (apron), masker,
sarung tangan, topi, pelindung mata dan hidung.
c. Manajemen alat tajam secara benar untuk menghindari resiko
penularan penyakit melalui benda-benda tajam yang tercemar oleh
produk darah pasien.
d. Melakukan dekontaminasi, pencucian dan sterilisasi instrumen dengan
prinsip yang benar.
e. Menjaga sanitasi lingkungan secara benar

9. Pendokumentasian Asuhan Kebidanan


Pendokumentasian di ruang NICU menggunakan ASKEP dengan
evaluasi berupa SOAP.

30
B. Pelayanan Prima
Masalah Pelayanan Prima Dalam Pelayanan Kebidanan
N Masalah Jawaban Cara Urauian Masalah
o Ada Tidak Identifikasi yang dihadapi
Ada Masalah
(contoh
kuisoner,
angket, kotak
saran, dll)
1 Input
SDM √
Dana √
Fasilitas √
Bahan/Obat/Per √
alatan
Teknologi √
Organisasi √
Inforrmasi √
Standar √
Pelayanan
2 Proses
Interaksi antar √ Kuisoner Didasari dari sifat
petugas kepuasan manusia yang
kesehatan dan pelanggan heterogen rentan
klien/pasien yang diberikan terjadi
setiap 3 bulan kesalhpahaman
sekali, angket, baik antar petugas
kotak saran maupun petugas
yang dengan klien
Kualitas √ ditempatkan di Masalah yang kerap
pelayanan yang tempat - muncul dalam
diberikan tempat yang proses yakni
(sesuai standar mudah terlihat masalah tentang
pelayanan) oleh komplain klien
pengunjung tentang pelayanan
yang kurang
maksimal
Kepuasan √ Dalam proses
pelayanan pelayanan kerap
kesehatan ditemukan
ketidakpuasan klien
dalam mendapatkan
pelayanan di rumah
sakit Patut Patuh
Patju seperti
petugas kurang
ramah,

31
keterlambatan
dalam pelayanan
dan lain- lain
3 Output
Audit medis √ Kuisoner Masalah dari audit
kepuasan medis yakni
pelanggan kurangnya informasi
yang diberikan data atau hilangnya
setiap 3 bulan data/ catatan pasien
sekali, angket, sehinnga dalam
kotak saran menyulitkan dalam
yang proses pencarian
ditempatkan di rekam medik
tempat - manual
Review rekam √ tempat yang Masalah dalam
medis dan mudah terlihat review rekam medis
sejenisnya oleh adalah diperlukan
pengunjung waktu yang lebih
lama untuk mencari
rekam medis pasien
(manual) di tempat
penyimpanan
Keluhan pasien √ Masalah terkait
keluhan pasien
yang sering
ditemukan seperti
petugas yang
kurang ramah
dalam memberikan
pelayanan serta
waktu pelayanan
yang memakan
waktu yang lama
dan kurang
maksimal sering
mendapat komplain
dari pasien
Informed √ Kesulitan petugas
consent dalam memfasilitasi
informed consent
karena budaya
masyarakat yang
perlu menunggu
keputusan dari
anggota keluarga
yang lain

32
C. Sistem Informasi Kesehatan
1. Sistem Informasi Manajemen Rumah Sakit di Indonesia dan di Daerah
Rumah sakit sebagai sarana pelayanan kesehatan mempunyai
kewajiban untuk melayani pasien dengan fasilitas yang lengkap serta
pelayanan yang cepat dan tepat. Untuk mencapai hal tersebut manajemen
rumah sakit harus dilaksanakan dengan benar (Rhesavani, 2013).
Seiring dengan perkembangan zaman, manajemen rumah sakit
yang pada mulanya murni bersifat sosial berkembang menjadi bersifat
sosio-ekonomis. Menurut Hatta (2011), sistem informasi yang pada
mulanya hanya berorientasi pada pelayanan mediknya saja lama-lama
berkembang menjadi memperhitungkan biaya produksi. Namun, tujuan
utama dalam pelayanan kesehatan adalah menghasilkan outcome yang
menguntungkan bagi pasien, provider, dan masyarakat.
Fasilitas pelayanan kesehatan adalah tempat yang digunakan
untuk meningkatkan kesehatan. Fasilitas pelayanan kesehatan dapat juga
dipergunakan untuk kepentingan pendidikan, pelatihan, penelitian,
pengembangan ilmu pengetahuan dan teknologi di bidang kesehatan.
Salah satu fasilitas kesehatan tersebut adalah rumah sakit, perlu diketahui
rumah sakit adalah institusi pelayanan kesehatan yang menyelenggarakan
pelayanan kesehatan perorangan secara paripurna yang menyediakan
pelayanan rawat inap, rawat jalan, dan gawat darurat.(1) Dalam
operasional rumah sakit, sangat membutuhkan Sistem Informasi
Manajemen Rumah Sakit (SIMRS), sistem informasi yang membantu
manajemen rumah sakit dalam pengambilan keputusan untuk menunjang
kelancaran pelayanan yang akan diberikan kepada pasien. Pemerintah
Indonesia sebenarnya telah memberikan kebijakan untuk mewajibkan
rumah sakit untuk menyelenggarakan Sistem Informasi Rumah Sakit
dalam peraturan Menteri Kesehatan Republik Indonesia Nomor 1171/
MENKES/ PER/ VI/ 2011 tentang sistem informasi rumah sakit.
Dalam Undang Undang Kesehatan Nomor 23 tahun 1992 pasal
63 dijelaskan perlunya pengembangan Sistem Informasi Kesehatan yang
mantap agar dapat menunjang sepenuhnya pelaksanaan manajemen dan
upaya kesehatan dengan menggunakan teknologi dari yang sederhana
hingga yang mutakhir disemua tingkat administrasi kesehatan. Sistem

33
Informasi Kesehatan dikembangkan terutama untuk mendukung
manajemen kesehatan.
Dewasa ini, sistem informasi yang digunakan lebih berfokus
pada sistem informasi berbasis komputer (computer-based information
system). Sistim Informasi Manajemen (SIM) berbasis komputer
merupakan sarana pendukung yang sangat penting bahkan bisa dikatakan
mutlak untuk operasional sebuah rumah sakit..
Berdasarkan Undang-Undang Nomor 44 tahun 2009 tentang
Rumah Sakit, setiap rumah sakit wajib melakukan pencatatan dan
pelaporan tentang semua kegiatan penyelenggaraan rumah sakit dalam
bentuk sistem informasi rumah sakit (SIRS). Menurut Permenkes
1171/MENKES/PER/VI/2011 tentang SIRS, ada dua macam pelaporan,
yaitu pelaporan terbarukan dan pelaporan periodik. Oleh karena itu,
petugas rekam medis harus mampu mengolah datadata yang ada secara
cepat agar menghasilkan informasi yang dapat dipertanggungjawabkan
kebenarannya. Kegiatan pengolahan datadata tersebut akan lebih efektif
dan efisien apabila menggunakan perangkat lunak komputer.
Peraturan Menteri Kesehatan Republik Indonesia Nomor 82 Tahun
2013 Tentang Sistem Informasi Manajemen Rumah Sakit dalam peraturan
tersebut pasal 3 yang menyatakan setiap Rumah Sakit wajib
menyelenggarakan SIMRS.
Penyelenggaraan SIMRS sebagaimana dimaksud pada ayat (1)
dapat menggunakan aplikasi dengan kode sumber terbuka (open source)
yang disediakan oleh Kementerian Kesehatan atau menggunakan aplikasi
yang dibuat oleh Rumah Sakit.
Sedangkan untuk penyelenggaran di daerah menurut pasal 10
Menteri melalui Direktorat Jenderal yang menyelenggarakan
urusan dibidang Bina Upaya kesehatan, Pemerintah Daerah
Provinsi melalui Kepala Dinas Kesehatan Provinsi dan Pemerintah
Daerah Kabupaten/Kota melalui Kepala Dinas Kesehatan
\Kabupaten/Kota melakukan pembinaan dan pengawasan terhadap
penyelenggaraan SIMRS sesuai dengan tugas, fungsi, dan
kewenangan masing-masing.

34
2. Sistem Informasi Kesehatan Rumah Sakit Patut Patuh Patju
Sistem informasi RSUD Patut Patuh Patju sudah berjalan pada
tahun 2008 sampai sekarang. Pada tahun 2011 terjadi perpindahan
tangan developer SIMRS-Tripat. Pada tahun 2014 SIMRS-Tripat
sepenuhnya menggunakan system baru dari developer baru SIMRS-Tripat
yang sampai sekarang masih terus berkembang yang disesuaikan dengan
kebijakan-kebijakan yang berlaku dan masalah-masalah management
administrasi di RSUD Patut Patuh Patju.
Sistem informasi RSUD Patut Patuh Patju menggunakan aplikasi
berbasis server – klient dengan menggunakan bahasa program PHP,
SQL, HTML, JavaScript, CSS, Jquery, mPdf, TinyMCE. Sistem informasi
RSUD direncanakan menjadi 4 bagian besar sistem: Sistem Daftar, Billing
Sistem, Sistem Omset dan Keuangan, Analisa Bisnis. Saat ini Sistem
Daftar, Billing Sistem , dan sebagian Sistem Keuangan yang sudah ada
Sistem Operasi (SO) yang digunakan pada komputer server sampai
adalah CentOS 7 Server. Pada Sistem Operasi server berjalan aplikasi
apache sebagai webservice dan aplikasi mariaDb sebagai databasenya.
Sistem Operasi diupdate 1 (satu) bulan sekali dan maintenance
hampir setiap hari.
Sistem informasi RSUD Patut Patuh Patju dijalankan oleh komputer-
komputer klient yang sebagian besar menggunakan Sistem Operasi Linux
(Linux Mint & Ubuntu). Komputer-komputer klient terhubung dengan
komputer server menggunakan jaringan lokal (Local Area Network).
Jaringan lokal ini berupa kabel dan wirelles yang terdistribusi hampir
keseluruh bangunan RSUD Patut Patuh Patju. Lalu-lintas data dalam
jaringan lokal dikelola dan diatur dengan sebuah Router Mikrotik.
Untuk kebutuhan mobilitas IT, RSUD Patut Patuh Patju juga
bekerjasama dengan ASTINET sejak 2015 sampai 2016 untuk
mendapatkan Dedicate IP, sehingga monitor dan maintenance
server bisa dilakukan diluar lingkungan RSUD Patut Patuh Patju. Untuk
keperluan internet shared internal, RSUD Patut Patuh Patju menggunakan
ISP Telkom (INDIHOME). Kedua jaringan internet diatur oleh sebuah
Router Mikrotik dalam hal pembagian bandwidth yang merata.
3. Keamanan Sistem Informasi Kesehatan

35
a. Kemanan Sistem informasi Kesehatan Rumah Sakit Umum Daerah
Patut Patuh Patju yakni berupa Kebijakan akses pada ruang data
center / server kebijakan penggunaan hak akses komputer untuk user
pengguna. Sistem informasi Rumah Sakit berbasis hardwere berupa
rekam medis pasien. Rekam medis yang telah dilengkapi dengan
data – data pasien akan disimpan dan diberikan kode dengan No
RM, kemudian akan disimpan di ruangan khusus tempat
penyimpanan Rekam Medis.
b. Sistem Informasi Rumah Sakit Berbasis Sofware. Aplikasi Simkes
yang digunakan oleh RSUD Patut Patuh Patju lebih dikenal istilah
SIMRS. Untuk menjalankan SIMRS-Tripat, masing-masing
pengguna/Klient harus melakukan login. Username adalah nama
karyawan dan password diberikan oleh bagian programer SIMRS-
Tripat. Masing-masing username memiliki menu yang berbeda-beda
disesuaikan dengan jabatan dan kebutuhan dari sistem.
4. Perkembangan Sistem Informasi Kesehatan
Perkembangan sistem informasi kesehatan Rumah Sakit Patut Patuh
Patju. SIMRS telah dilengkapi dengan fitur yang terdapat perincian biaya
dari setiap tindakan medis sehingga dapat mempermudah dalam
memperoleh informasi pembiayaan. Selain itu SIMRS RSUD Patut Patuh
Patju juga memiliki akses BPJS online yang disebut Surat Eligibilitas
Peserta (SEP), SEP ini sendiri diterbitkan untuk memudahkan peserta
BPJS dalam mendapatkan pelayanan di Fasiitas Kesehatan Tingkat II
yakni Rumah Sakit Umum Daerah Kabupaten maupun Kota, sehingga
mempermudah pendaftaran untuk Pasien yang memiliki BPJS saat masuk
ke Rumah Sakit.
5. Domain Sistem Informasi Kesehatan di Rumah Sakit Patut Patuh Patju
Domain sistem informasi kesehatan RSUD Patut Patuh Patju yang telah
digunakan yakni sitem informasi Dokumen yang berupa Rekam medis
manual. Sistem Informasi Rekam Elektronik dan Sistem Informasi
Geografis (SIG) masih dalam proses pembentukan oleh tim SIMRS Patut
Patuh Patju.

36
6. Saran dan Recomendasi
a. Kami merekomendasikan agar semua Tingkatan Manajemen
(Operasional, Taktis dan Strategis) berkomitmen untuk bersama-sama
mewujudkan SIMRS yang ideal terutama untuk rumah sakit Patut
Patuh Patju yakni dengan cara membuat sistem yang dapat
meningkatkan kinerja rumah sakit dan pelayanan yang cepat dan
nyaman bagi customer, dan sesuai dengan Permenkes dan
membentuk beberapa tim untuk IT yang bergelut di SIMRS dengan
tujuan menghindari masalah-masalah teknis yang kemungkinan terjadi.
b. Menghadapi era globalisasi dengan semakin canggihnya teknologi
informasi (TI) sekarang ini, maka sumber daya manusia di RSUD Patut
Patuh Patju Kabupaten Lombok Barat harus terus dibekali
pemahaman mengenai teknologi informasi (TI) dan penyeleksian
pegawai harus dilakukan secara ketat dan professional dimana sumber
daya manusianya harus faham mengenai bidangnya, mereka juga
harus menguasai tentang teknologi informasi (TI) yang terus
berkembang dari tahun ketahun.
c. Dengan ini diharapkan RSUD Patut Patuh Patju Kabupaten Lombok
Barat mampu mempertahankan atau mengembangkan pemanfaatan
Teknologi Informasi dalam Sistem Informasi pelayanan Kesehatan
bagi masyarakat Kabupaten Lombok barat

37
TAMPILAN SIMRS PATUT PATUH PATJU

1. Tampilan awal SIMRS RSUD Patut Patuh Patju

2. Pendaftaran Pasien
Sistem Pendaftaran RSUD Patut Patuh Patju berdasarkan jenis
rawat dibagi menjadi 2: Pendaftaran Rawat Jalan dan Pendaftaran Rawat
Inap. Sistem Pendaftaran RSUD Patut Patuh Patju berdasarkan cara
bayar pasien dibagi menjadi 2: Pendaftran Pasien Umum dan
Pendaftaran
Pasien BPJS. Sistem Pendaftaran RSUD Patut Patuh Patju berdasarkan
kunjungan pasien dibagi menjadi 2: Pendaftaran Pasien Baru dan
Pendaftaran Pasien Lama.
Setiap pasien diberikan nomor unik sebagai pengenal/identitas
data dalam pelayanan rumah sakit yang kami sebut nomor rekam medis
disingkat nomor RM (NoRM). Setiap pasien memiliki nomor yang
berbeda-beda yang berlaku seumur hidup selama berkas/data rekam
medis masih disimpan rumah sakit. Setiap kunjungan pasien, akan
mendapatkan nomor pelayanan (nomor billing) unik yang
berlaku untuk 1 (satu) periode pelayanan sampai selesai. Nomor
pelayanan ini dibuat otomatis oleh sistem pendaftaran. Nomor pelayanan

38
ini juga acuan untuk melakukan tagihan pasien (billing system) dan
register data pasien serta tindakan/kegiatan pelayanan. Untuk
mempermudah dalam input data, kedepannya SIMRS-Tripat juga akan
menerapkan sistem barcode. Agar bisa meminimalisasi kesalahan input
data, informasi biaya yang cepat dan tepat kepada pasien yang rawat
inap, serta mempermudah pendaftaran pasien umum.
Sistem pendaftaran RSUD Patut Patuh Patju juga menjadi sistem yang
pertama kali di NTB bisa terintegrasi baik dengan sistem BPJS Kesehatan
dan PCare-BPJS Kesehatan. Jadi akan mempermudah pasien BPJS
dalam pendaftaran tanpa perlu mengantri di 2 loket yang berbeda.
Dan SIMRS akan otomatis bisa mengetahui/mengambil data rujukan
pasien BPJS (dari puskesmas) melalui sistem PCare-BPJS Kesehatan.

3. Alur Administrasi Pendaftaran Rawat Jalan


a. Memeriksa kelengkapan dan kebenaran syarat-syarat pendaftaran.
b. Mencari data pasien pada SIMRS dengan mengetikkan NoRM atau
No KTP atau nama pasien atau nama pasien + nama ibu pasien atau
nama pasien + alamat pasien atau nama pasien + nama ibu + alamat
pasien

39
c. Jika tidak ditemukan maka pasien akan didaftarkan dulu sebagai
pasien baru dan menyiapkan berkas Rekam Medis baru

d. Jika cara bayar pasien BPJS, petugas hanya perlu mengisi nomor
kartu BPJS pada kolom Nomor Kartu BPJS lalu enter, selanjutnya
semua isian akan terisi otomatis (jika puskesmas yang merujuk sudah
menggunakan PCare BPJS Kesehatan) baik itu nama peserta, kelas
tanggungan, nomor rujukan peserta, tanggal merujuk, puskesmas
yang merujuk, diagnosa dan catatan dokter puskesmas yang merujuk,
setelah itu menentukan klinik tujuan pasien
e. Jika cara bayar pasien Umum, petugas hanya perlu menentukan klinik
tujuan pasien, setelah itu mengarahkan pasien untuk melakukan
pembayaran pendaftaran di kasir sebelum pemeriksaan oleh dokter

40
f. Untuk pasien lama, setiap ada prosses pendaftaran maka akan ada
notifikasi permintaan berkas rekam medis (RM) pada SIMRS
g. Setiap pendaftaran harus dicetak Surat Permintaan Pelayanan (SPP)
dan Surat Elegibilitas Peserta (SEP BPJS)

4. Alur Rawat inap


Alur Administrasi Pendaftaran Rawat Inap adalah tahap perawatan
lanjutan dari rawat jalan. Pasien yang sebelumnya melakukan
pemerikasaan rawat jalan, karena ada keadaan tertentu bisa menjadi
rawat inap sesuai dengan anjuran dokter yang memeriksa sebelumnya.
Nomor pelayanan (nomor billing) antara pendaftaran rawat jalan sama
dengan nomor pendaftaran rawat inap. Tujuan menyamakan adalah agar
tidak terjadi double (ganda) rekapan kunjungan antaran kunjunga pasien
rawat jalan dengan rawat inap. Selain itu, agar bisa dilakukan pelacakan
kunjungan pasien dari pendaftaran rawat jalan sampai rawat inap. Pada
saat akan rawat inap ada beberapa berkas rakam medis yang harus
dilengkapi dan ditandatangani oleh pasien atau keluarga penanggung
jawab pasien. Alur pendfataran rawat inap antara lain :
a. Mempersiapkan berkas rawat inap oleh petugas rekam medis
b. Membuka menu Daftar Rawat Inap pada SIMRS, lalu memasukkan
nomor pelayanan rawat jalan atau NoRM pasien

41
c. Cek kebenaran data dari informasi yang muncul, berupa: nama
pasien, No.RM

5. Billing Sistem
a. Alur Billing Sistem Rawat Jalan
1) Setelah pasien mendaftar, otomatis tagihan pendaftaran dan
pemeriksaan dokter muncul pada billing sistem kasir.

2) Selama pemeriksaan dokter, jika ada tindakan, maka


perawat/bidan akan menuliskan di lembar keterangan tindakan
lalu diserahkan kepada kasir untuk diinput dalam billing sistem
kasir.
3) Jika ada permintaan pemeriksaan penunjang (labratorium dan
radiologi), maka admin ruang pemeriksaan penunjang akan

42
menginput lembar permintaan pemeriksaan pada SIMRS yang
nantinya tagihan pemeriksaan akan muncul pada billing sistem
kasir.
4) Pasien diminta membayar dulu tagihan pemeriksaan, baru bisa
dilakukan pemeriksaan penunjang
5) Pada saat pasien akan pulang, pasien diberikan berupa cetakan
dari billing sistem kasir rekapan keseluruhan kegiatan
(pemeriksaan dokter, tindakan, operasi, resep, pemeriksaan
penunjang, dll.) sebagai bukti sah dan keterbukaan rincian
pembayaran pasien selama perawatan.
b. Alur Billing Sistem Rawat Inap
1) Pasien rawat jalan didaftarkan rawat inap dengan menggunakan
nomor pelayanan yang sama.
2) Setiap pagi admin rawat inap menginput semua kegiatan yang
dilakukan pada pasien, antara lain:
a) Visite dokter
b) Tindakan dokter
c) Tindakan perawat
d) Biaya ruang perawatn

6. Rekam Medis
a. Laporan Kunjungan Pasien Harian/Bulanan

43
b. Rekapan Jumlah Kunjungan Pasien Bulanan/Harian

c. Laporan Morbiditas Rawat Inap

44