You are on page 1of 16

BAB I

PENDAHULUAN

A. Latar Belakang Masalah


Manusia perlu memperhatikan perangainya dari waktu ke waktu yang dalam
perjalanan itu kehidupan manusia mengalami banyak perubahan. Kemajuan
perdaban menimbulkan pergeseran banyak perilaku yang mempengaruhi
perangai perorangan maupun kelompok.
Iman Ibnul Qayyim berkata, "Akhlak yang tercela adalah bermula dari
kesombongan dan rendah diri. Dari kesombongan muncul sikap bangga,
sok tinggi, hebat, ujub, hasad, keras kepala, zhalim, gila pangkat, kedudukan dan
jabatan, senang dipuji padahal tidak berbuat sesuatu dan sebagainya.
Ibnul Qayyim juga mengatakan bahwa sebagaimana akhlak terpuji, akhlak
tercela juga memiliki akar di mana satuan-satuannya dapat dikelompokkan. Jika
akar perilaku manusia ada dalam pikiran dan jiwanya, maka akar penyakit akhlak
juga akan selalu ada disana. Mengenai hal itu, Ibnul Qayyim menyebutkan dua
akar penyakit akhlak, yaitu Pertama, penyakit syubhat. Penyakit ini menimpa
wilayah akal manusia, dimana kebenaran tidak menjadi jelas (samar) dan
bercampur dengan kebatilan (talbis). Penyakit ini menghilangkan kemampuan
dasar manusia memahami secara baik dan memilih secara tepat. Kedua, penyakit
syahwat. Penyakit ini menimpa wilayah hati dan insting manusia, dimana
dorongan kekuatan kejahatan dalam hatinya mengalahkan dorongan kekuatan
kebaikan. Penyakit ini menghilangkan kemampuan dasar manusia untuk
mengendalikan diri dan bertekad secara kuat.
Begitu banyaknya hal yang dapat menyebabkan kemerosotan akhlak yang
dapat menimbulkan akhlak atau perilaku tercela.

B. Rumusan Masalah
Dari uraian latar belakang di atas, penulis mengambil suatu rumusan
masalah, yaitu:
1. Apakah definisi akhlak tercela ?
2. Apa saja sebab kemerosotan akhlak ?
3. Apa saja contoh-contoh akhlak yang tergolong dengan akhlak tercela ?
4. Apa saja bahaya yang ditimbulkan oleh akhlak tercela ?

1
C. Manfaat
Siswa dapat memahami macam-macam akhlak tercela.Dapat menghindarkan
dirinya, keluarga ataupun lingkungan dari perilaku tercela karena membawa
dampak buruk bagi semua aspek dan komponen kehidupan.

D. Tujuan penulisan
Tujuan dari penulisan makalah ini antara lain:
1. Sebagai bentuk penyelesaian tugas mata pelajaran Akidah Akhlak kelas XI.
2. Untuk menjelaskan macam-macam akhlak tercela dan cara pencegahannya
dalam kehidupan sehari-hari.

2
BAB II
PEMBAHASAN

A. Definisi Akhlaq Tercela


Definisi akhlak menurut Imam AI-Gozali adalah: Ungkapan tentang sikap
jiwa yang menimbulkan perbuatan-perbuatan dengan mudah dan tidak
memerlukan pertimbangan atau pikiran terlebih dahulu.
Kata akhlak berasal dari bahasa Arab yaitu khalaqa-yahluqu, artinya
menciptakan, dari akar kata ini pula ada kata makhluk (yang diciptakan) dan kata
khalik (pencipta), maka akhlak berarti segala sikap dan tingkah laku manusia
yang datang dari pencipta (Allah swt). Sedangkan moral berasal dari maros
(bahasa latin) yang berarti adat kebiasaan, disinilah terlihat berbeda antara moral
dengan akhlak, moral berbentuk adat kebiasaan ciptaan manusia, sedangkan
akhlak berbentuk aturan yang mutlak dan pasti yang datang dari Allah swt.
Kenyataannya setiap orang yang bermoral belum tentu berakhlak, akan tetapi
orang yang berakhlak sudah pasti bermoral. Dan Rasulullah saw di utus untuk
menyempurnakan akhlak manusia sebagaimana sabdanya dalam hadist dari Abu
Khurairah, “Sesungguhnya aku diutus Allah semata-mata untuk
menyempurnakan kemuliaan akhlak manusia.”
Dengan demikian, akhlak (perilaku) tercela adalah semua sikap dan
perbuatan yang dilarang oleh Allah, karena akan mendatangkan kerugian baik
bagi pelakunya ataupun orang lain.

B. Sebab-sebab kemerosotan akhlak


Akhlak, memiliki sebab-sebab yang dapat menjadikannya tinggi dan mulia,
dan sebaliknya juga mempunyai sebab-sebab yang dapat menjadikannya merosot
dan jatuh ke dalam keterpurukan. Di antaranya yaitu :
1. Lemah Iman
Lemahnya iman merupakan petanda dari kerendahan dan rusaknya moral,
ini disebabkan kerana iman merupakan kekuatan (untuk membina akhlak)
dalam kehidupan seseorang.
2. Tabiat/ watak asli
Ada sebagian orang yang memang memiliki tabi'at/watak asli yang buruk,
rendah, suka iri dan dengki terhadap orang lain. Tabi'at ini lebih mendominasi
pada diri orang tersebut, sehingga terkadang pendidikan yang diperolehnya
sama sekali tidak mempengaruhi perilakunya.

3
3. Lingkungan
Lingkungan memberikan dampak yang sangat kuat bagi perilaku
seseorang, karena seperti dikatakan pepatah bahwa seseorang adalah anak
lingkungannya. Kalau dia hidup dan terdidik dalam lingkungan yang tidak
mengenal makna adab dan akhlak serta tidak tahu tujuan hidup yang mulia,
maka akhlaknya akan rusak sebagai mana hasil didikan lingkungannya.

C. Contoh-contoh Akhlaq Tercela


Akhlaq tercela dapat menciptakan perilaku tercela. Perilaku tercela dapat di
golongkan menjadi dua macam, yaitu perilaku yang berdampak buruk bagi
dirinya sendiri dan perilaku tercela yang berdampak buruk bagi orang lain.
Begitu banyaknya macam-macam akhlak tercela yang terdapat dalam hati
manusia. Akan tetapi, penulis hanya mengurai beberapa contoh akhlak tercela,
yaitu ujub/berbangga diri, takabur, putus asa, berlebih-lebihan, dusta dan
iri/dengki.
1. Ujub
Sufyan Ats-Tsauri rahimahullah meringkas defenisi ujub sebagai berikut:
"Yaitu perasaan takjub terhadap diri sendiri hingga seolah-olah dirinyalah
yang paling utama daripada yang lain. Padahal boleh jadi ia tidak dapat
beramal sebagus amal saudaranya itu dan boleh jadi saudaranya itu lebih
wara' dari perkara haram dan lebih suci jiwanya ketimbang dirinya!". Orang
yang demikian itu, beranggapan bahwa segala kesuksesan yang diraihnya,
seperti harta yang melimpah, jabatan yang tinggi, kepandangan yang tak
tertandingi semata-mata karena hasil usaha serta kehebatan dirinya. Semua itu
ia pikir, ia raih tanpa bantuan dari siapapun, termasuk Allah SWT. orang yang
bersikap/berperilaku ‘ujub’ biasanya selalu merasa dirinya benar, tidak pernah
salah atau keliru, karenanya tidak bisa menerima kritik orang lain.
Ayat Al-Qur’an yang menjelaskan tentang ujub antar lain Surat At-
Taubah:55 yang artinya:
Artinya: “Dan janganlah harta benda dan anak-anak mereka menarik
hatimu (menjadikan kamu bersikap ujub). Sesungguhnya Allah menghendaki
akan mengazab mereka di dunia dengan harta dan anak-anak itu dan agar
melayang nyawa mereka, dalam keadaan kafir”. (QS. Taubah: 55)
Abu Wahb al-Marwazi berkata, Aku bertanya kepada Ibnul Mubarak,
Apakah kibr (sombong) itu?،¨ Dia menjawab, Jika engkau merendahkan orang
lain.،¨ Lalu aku bertanya tentang ujub, maka dia menjawab jika engkau
memandang bahwa dirimu memiliki kelebihan yang tidak dimiliki oleh orang

4
lain, aku tidak tahu sesuatu yang lebih buruk bagi orang yang shalat daripada
ujub.
Berikut ini adalah hal-hal yang Dipakai 'Ujub dan Terapinya:
a. 'Ujub dengan fisiknya
Pengobatan jenis 'ujub ini adalah dengan tafakkur (memikirkan)
tentang berbagai kotoran batinnya, tentang mula penciptaan dan akhir
kesudahannya, tentang bagaimana wajah yang cantik dan tubuh yang
gemulai itu akan terkoyak-koyak oleh tanah dan membusuk di kubur
hingga menjijikkan.
b. 'Ujub dengan kedigdayaan dan kekuatan
'Ujub dengan kekuatan mengakibatkan kekalahan dalam peperangan,
pencampakan diri ke dalam kebinasaan dan terburu-buru. Terapinya ialah
dengan mengetahui bahwa meriang sehari saja bisa melemahkan
kekuatannya dan bahwa apabila ia ujub dengan kekuatannya bisa jadi
Allah akan mencabutnya dengan sebab pelanggaran paling ringan yang
dilakukannya.
c. 'Ujub dengan intelektualitas
Terapinya ialah dengan bersyukur kepada Allah atas karunia
intelektualitas yang telah diberikan-Nya, dan merenungkan bahwa dengan
penyakit paling ringan yang menimpa otaknya sudah bisa membuatnya
berbicara melantur dan gila sehingga menjadi bahan tertawaan orang. Ia
tidak aman dari ancaman kehilangan akal jika ia ujub dengan
intelektualitas dan tidak mensyukurinya. Hendakalah ia menyadari
keterbatasan akal dan ilmunya. Hendaklah pula ia mengetahui bahwa ia
tidak diberi ilmu pengetahuan kecuali sedikit, sekalipun ilmu
pengetahuannya luas.
d. 'Ujub dengan nasab terhormat
Terapi penyakit ini adalah mengatahui bahwa jika ia menyalahi
perbuatan dan akhlak nenek moyangnya dan mengira bahwa ia akan
disusulkan dengan mereka maka sesungguhnya ia bodoh, tetapi jika
meneladani nenek moyangnya maka hendaknya mengetahui bahwa nenek
moyangnya tidak pernah ujub bahkan mereka senantiasa khawatir
terhadap dirinya. Mereka mulia karena ketaatan, ilmu, dan sifat-sifat
terpuji bukan dengan nasab.
e. Ujub dengan nasab para penguasa yang zhalim dan pendukung meraka.
Terapinya adalah dengan merenungkan tentang berbagai kehinaan
mereka dan tindakan-tindakan kezhaliman mereka terhadap para hamba

5
Allah, kerusakan yang meraka lakukan terhadap agama Allah, dan bahwa
mereka adalah orang yang dimurkai Allah.
f. 'Ujub dengan banyaknya jumlah anak, pelayan, budak, keluarga, kerabat.
Terapinya adalah merenungkan tentang kelemahannya dan
kelemahan mereka, bahwa mereka semua adalah hamba yang lemah,
tidak kuasa memberi manfaat dan bahaya kepada diri mereka sendiri.
g. 'Ujub dengan harta
Terapinya adalah merenungkan tentang keburukan-keburukan harta
kekayaan, hak-haknya yang banyak, dan para pendengkinya yang rakus.
Kemudian memperhatikan keutamaan orang-orang fakir dan bahwa
mereka akan masuk surga terlebih dahulu pada hari kiamat.
h. 'Ujub dengan pendapat yang salah*
Terapi ujub ini lebih berat ketimbang terapi 'ujub yang lainnya,
karena pemilik pendapat yang salah tidak mengetahui kesalahannya,
seandainya tahu pasti ditinggalkannya. Tidak akan mengobati penyakit
orang yang tidak tahu bahwa dirinya sakit. Terapinya secara umum adalah
hendaknya ia selalu menuduh pendapatnya sendiri dan tidak terpedaya,
kecuali jika secara pasti didukung oleh Al-Qur'an atau sunnah atau dalil
akal yang shahih yang memenuhi berbagai persyaratannya.
2. Takabbur
Takabbur adalah sikap perilaku membesarkan diri dan tidak menerima
kebenaran serta memandang kecil atau rendah terhadap orang lain. Dalam
bahasa Indonesia perkataan takabur sama dengan sombong. Sikap/perilaku
takabur termasuk akhlak tercela dan wajib dijauhi oleh setiap muslim
muslimah. Sebagaimana Allah berfirman:
“Tidak diragukan lagi, bahwa sesungguhnya Allah mengetahui apa yang
mereka rahasiakan dan apa yang mereka lahirkan. Sesungguhnya Allah tidak
menyukai orang-orang yang takabbur (sombong). (QS. An-Nahl:23)
Sifat sombong dibagi menjadi kesombongan batin dan kesombongan
zhahir. Kesombongan batin adalah kesombongan yang terdapat dalam jiwa
(hati), sedangkan kesombongan zahir adalah kesombongan yang dilakukan
anggota zahir, karena tingkah laku seseorang merupakan akibat dari apa yang
terjadi di hatinya. Kesombongan batin akan memaksa anggota tubuh untuk
melakukan hal-hal yang bersifat sombong, maka apabila hanya menyimpan di
dalam hati tanpa ada tindakan disebut dengan kibr (sifat sombong).
Kesombongan berbeda dengan ujub. Karena ujub tidak memerlukan
orang lain yang dijadikan bandingannya. Seperti seseorang yang ujub dengan

6
ibadah shalat tahajudnya, maka ia tidak perlu melihat ibadah tahajud orang
lain, cukup baginya mengatakan, “Saya seorang ahli ibadah karena selalu
melakukan ibadah tajajud.” Maka ia telah melakukan ujub. Sedangkan
kesombongan, orang yang sombong memerlukan orang lain untuk
membandingkan dengannya. Semakin tinggi kesombongannya, maka ia tidak
ingin ada orang yang menandinginya dan ingin selalu berada di atas yang lain.
Orang yang memiliki sifat sombong tidak menyadari bahaya yang dapat
di timbulkan dari sifat ini. Rasulullah bersabda
“Tidak akan masuk surga (memperoleh kebahagiaan) orang yang di
dalam hatinya ada kesombongan walaupun sebesar semut”. (HR. Muslim)
Terapi sifat sombong dan cara memperoleh sifat tawadhu’
Terapi sifat sombong pertama adalah menghilangkan akar penyakit ini. Terapi
pengobatannya adalah degnan ilmu dan amal. Karena penyakit ini tidak
mungkin dapat disembuhkan kecuali dengan kedua hal itu. Pengobatan
melalui ilmu adalah dengan mengetahui siapa dirinya dan siapa Penciptanya.
Apabila seseorang telah mengetahui dan menyadari dengan benar siapa
hakikat dirinya, maka dia akan merasa dirinya hina dan penuh kelemahan.
Selanjutnya, akan menjadikannya sebagai seorang yang tawadhu’. Sedangkan
pengobatan melalui amal adalah dengan membiasakan merendah diri
(tawadhu’) terhadap orang lain dan mengikuti akhlak-akhlak orang yang
memiliki sifat tawadhu’.
3. Putus asa
Semua umat manusia pasti merasakan putus asa. Dan umat itu pastilah
menjadi lemah dan lenyap kekuatannya karena putus asa merupakan penyakit
atau racun yang benar-banar membahayakan bagi setiap pribadi manusia.
Bukan sembarangan jika Allah SWT. dalam salah satu firman-Nya,
mempersamakan antara sifat putus asa itu dengan sifat kekafiran. Sebabnya
tiada lain hanyalah karena bencana yang ditimbulkan oleh kedua macam sifat
itu sama-sama besar dan dahsyat. Firman Allah dalam Al-Qur’an, yang
artinya: “janganlah kamu semua berputus asa dari rahmat Allah,
sesungguhnya tidak tidak ada yang suka berputus asa dari rahmat Allah,
melainkan golongan orang-orang kafir”. (QS. Yusuf:87)
Putus asa memiliki kaitan dengan ujub. Ibnu Mas'ud ra. berkata:
"Kebinasaan ada dalam dua hal, putus asa dan ujub”.
Ibnu Mas'ud ra menyebutkan kedua hal tersebut karena kabahagiaan tidak
bisa dicapai kecuali dengan usaha, pencarian, keseriusan, dan perjuangan,
sedangkan orang yang putus asa tidak mau berusaha dan tidak mau pula

7
mencari, sementara orang yang 'ujub beranggapan bahwa ia bisa mencapai
kebahagiaan dan menggapai tujuannya sehingga ia tidak mau berusaha,
karenaapa yang sudah ada tidak perlu dicari dan apa yang mustahil juga tidak
perlu dicari.
4. Berlebih-lebihan
Berlebih-lebihan adalah melakukan sesuatu di luar batas ukuran yang
menimbulkan kemudharatan baik langsung ataupun tidak kepada manusia dan
alam sekitarnya. Pada dasarnya sikap berlebih-lebihan akibat dari sikap
manusia yang tidak bisa mengendalikan hawa nafsunya. Sekecil apa pun
perbuatan manusia berlebih-lebihan akan memberi dampak negatif bagi
manusia dan alam sekitarnya seperti kerusakan moral, harta benda dan
kerusakan alam.
Sikap berlebih-lebihan sangat dibenci Allah, sebagaimana dalam
firmannya : Artinya: “Dan janganlah kamu berlebih-lebihan, Sesungguhnya
Allah tidak menyukai orang yang berlebih-lebihan”. (QS. Al-An’am:141).
Allah juga menegaskan dalam ayat lain, yakni: Artinya: “Dan berilah
kepada kerabat-kerabat akan haknya (juga kepada) orang muslim dan orang
yang dalam perjalanan, dan janganlah engkau boros. Sesungguhnya orang-
orang yang boros itu adalah saudara setan, dan setan itu sangat ingkar
kepada Tuhannya. (QS. Al-Isra’: 26-27).
Beberapa hal yang dapat dilakukan untuk menghindari sikap berlebih-
lebihan antara lain sebagai berikut:
a. Senantisa bersyukur kepada Allah SWT.
b. Mengatur anggaran keuangan denga menabung.
c. Senantiasa berhemat dan membelanjakan harta seperlunya.
d. Melakukan sesuatu sesuai ukurannya.
5. Dusta
Dalam Alquran kalau kita perhatikan kalimat al-kadzibu, maka kita
temukan dalam bentuk yang berbeda-beda sesuai dengan wazannya, seperti
Kaadzibu, Kadzaab, Al-Mukadzibuun, Al-Mukadzibiin, Kadzaaba,
Kadzaabat, Makdzuub, Takdziib, Kdazzabuu. Ini semua sesuai dengan ayat
dan bentuknya.
Kebohongan atau sifat dusta adalah suatu sifat yang timbul dari sebab
beberapa faktor yang ada, antara lain:
a. Lemah jiwa dan mentalnya.
b. Kegoncangan jiwa.
c. Senang dengan perhatian manusia atau pandangan manusia.

8
d. Suka bergurau atau bercanda yang berlebihan.
e. Rasa dengki dan iri yang ada.
f. Lingkungan yang buruk dan berpengaruh padanya.
Dalam Riyadhus Sholihin, Imam Nawawi membawakan dalil dari Ummu
Kultsum, dari Nabi saw. bersabda, "Tidaklah dikatakan Al-Kadzibu orang
yang mengishlah antara manusia, dan dia berkata baik pada kedua belah
pihak." Hadis Bukhari Muslim. Dalam riwayat Muslim berkata, Ummu
kultsum diberi keringanan tentang apa yang diucapkan manusia dalam tiga
hal, yaitu dalam perang, ishlah antara manusia, dan ucapan seorang suami
pada istrinya, dan istri pada suaminya."
6. Iri Hati atau Dengki
Syeikh Abu Hamid Al-Ghazali berkata: “Ketahuilah bahwa tidak ada
kedengkian (hasad), kecuali terhadap kenikmatan, jika Allah memberi nikmat
kepada saudaramu, maka ada dua hal yang ada pada dirimu. Pertama, benci
kepada seseorang yang memperoleh nikmat, dan berharap agar nikmat itu
lenyap dari padanya.
Keadaan ini disebut dengki. Batasan dengki adalah benci terhadap
nikmat, dan ingin melenyapkan dari orang yang mendapat karunia. Kedua, ia
sendiri mengharapkan agar mendapat nikmat itu tanpa berusaha melenyapkan
nikmat yang dimiliki orang lain.
Sifat pertama di atas adalah haram hukumnya dalam segala hal. Betapa
ganasnya penyakit nafsiyah ini menyerang manusia, bisa kita lihat dalam
berbagai hadits Rasulullah SAW. Di antaranya :
“Hasad itu memakan kebaikan sebagaimana api yang melalap kayu
bakar”. (HR. Abu Daud dari Abu Hurairah, dan Ibnu Majah dari Abbas)
“Janganlah kalian saling mendengki, jangan saling memutuskan
hubungan persaudaraan, jangan saling membenci, jangan pula saling
membelakangi, dan jadilah kalian hamba Allah sebagai saudara”.(HR.
Bukhari Muslim)
Orang yang memiliki sifat dengki juga bisa dilihat jika ia merasa bahagia
ketika orang lain mendapatkan suatu bencana atau musibah. Kegembiraan
yang demikian itu dinamakan Syamatah, yatu bahagia yang timbulnya sebab
mendengar atau melihat adanya kesusahan, kemelaratan, kecelakaan yang
menimpa orang yang dianggap saingan atau lawan. Sebagaimana Allah
berfirman dalam Al-Qur’an yang artinya : “Jika kamu memperoleh kebaikan,
niscaya mereka bersedih hati. Tapi jika kamu mendapat bencana, mereka
bergembira karenanya”.(HR. Ali Imran:120)

9
Dengki adalah pangkal dari semua perilaku tercela. Misalnya
menggunjing, adu domba, menyebar fitnah. Oleh sebab itu, sifat dengki harus
dijauhi karena sifat ini hanya akan membawa manusia terhadap kemelaratan
dan rusaknya silaturahim.
Solusi untuk menghindari sifat dengki, di antaranya:
a. Menyadari dan selalu ingat bahwa iri dengki hanya akan menghapus amal
baik kita.
b. Menyadari dan senantiasa bersyukur atas semua nikmat yang telah Allah
berikan.
c. berikhtiyar dan berdoa
7. Aniaya (Zalim)
Aniaya dalam bahasa Arab adalah zalim (al-zulumu) artinya tidak adil.
Dalam kamus Besar Bahasa Indonesia aniaya diartikan sebagai perbuatan
bengis, seperti penyiksaan, penindasan, memperlakukan orang lain sewenang-
wenang, menyiksa, dan menindasnya.
Definisi zalim menurut Al-Qur’an adalah tidak mau bertobat. Dengan
demikian dalam arti yang sangat luas zalim dapat di artikan perilaku yang
tidak mau bertobat. Perhatikan petikan firman Allah surah Al-Hujurat/49:11,
yang artinya : ‘’Dan barang siapa tidak bertobat, maka mereka itulah orang-
orang yang zalim.’’
Perbuatan zalim mendapat ancaman dari Allah swt, di antaranya Allah
tidak akan memberikan petunjuk seperti QS.Al-Baqarah/2:258, yang artinya
:’’Allah tidak memberi petunjuk kepada orang-orang zalim.’’
Syaih Muhammad Al-Utsaimin berpendapat bahwa zalim dapat
dibedakan menjadi beberapa macam :
a. Kezaliman yang paling zalim, yaitu syirik kepada Allah.
b. Kezaliman manusia terhadap dirinya sendiri dengan cara tidak
memberikan hak kepada diri sendiri seperti : Berpuasa yang tidak mau
berbuka, salat sepanjang malam, sehingga tidak tidur sama sekali.
c. Kezaliman seseorang terhadap orang lain, seperti : Melakukan
pemukulan, pembunuhan, atau perampasan harta
d. Kezaliman yang dilakukan manusia karena ketidakmampuan manusia
untuk mengatasi syahwat dan amarahnya. Hal itu dapat diatasi dengan
cara meletakkan syahwat dan amarah sebagai tawanan yang harus
mengikuti perintah akal dan agama.

10
8. Diskriminasi
Kata diskriminasi berasal dari bahasa Belanda ³discriminatie´artinya
pemisahan atau perbedaan. Kata diskriminasi menurut Kamus Besar Bahasa
Indonesia Edisi III artinya perbedaan perlakuan terhadap sesame warga
Negara . Kata diskriminasi berasal dari bahasa Inggris disebut
³discrimination´artinya perbedaan perlakuan . Kata diskriminasi berasal dari
bahasa Arab disebut ³tafriq´ dan merupakan sifat tercela yang harus dihapus .
Menurut UURI No.39 Tahun 1999 tentang Hak Asasi Manusia Bab 1
pasa 1 menjelaskan kata diskriminasi adalah setiap pembatasan, pelecehan,
atau pengucilan yang langsung atau tidak langsung didasarkan pada perbedaan
manusia atas alas an agama ,suku, ras,etnik,kelompok,jenis kelamin, bahasa ,
keyakinan, politik, yang berakibat pengurangan, penyimopangan atau
penghapusan pengakuan, pelaksanaan, penggunaan hak asasi manusiadan
kebebasan dalam kehidupan, baik individu atau kolektif dalm bidang politik
ekonomi,hukum, social, budaya, dan aspek kehidupan lain.Dari pengertian
diatas , islam melarang diskriminasi karena termasuk sifat tercela yang
harusdijauhi. Di hadapan Allah semua manusia adalah sama , yang
membedakan hanya kualitas ketakwaan kepada-Nya.
Allah.swt berfirman yang artinya :
“Sesungguhnya orang yang paling mulia di antara kamu disisi Allah
ialah orang yang paling bertakwa diantara kamu. Sesungguhnya Allah Maha
Mengetahui Lagi Maha Mengenal”(Q.S. Al-Hujurat:13)
Diskriminasi adalah perbuatan zalim dan tercela karena akan
mendatangkan kerugian kepada orang yang diperlakukan
diskriminatif.Diskriminasi bisa terdapat dalam kehidupan berkeluarga,
bertetangga, bermasyarakat, dan bernegara.
a. Orangtua yang membeda-bedakan perlakuan terhadap anak-anaknya
adalah contoh perilaku diskriminasi dalam kelusarga .
b. Islam mengajarkan agar dalam berkehidupan bertetangga , antara satu
tetangga dengan tetangga lainnya saling menghormati dan menghargai,
tanpa membedakan suku bangsa, agama, status social, dan sebagainya.
c. Dalam kehidupan bermasyarakat , berbangsa, dan bernegara, perilaku
diskriminasi itumisalnya jika pemerintah hanya melindungi golongan
tertentu. Padahal pemerintahwajib melindungi seluruh rakyatnya tanpa
kecuali.Berdasarkan ras, suku, warna kulit , perlakuan diskriminasi antara
lain adalah :

11
1) Diskriminasi kelamin, yaitu pembedaan sikap dan perlakuan terhadap
orang berdasarkan jenis kelamin. Di kota Mekah pada masa jahiliah,
kaum perempuan berkedudukan sangat rendah
2) Diskriminasi ras, yaitu pembedaan berdasarkan asal bangsa yang
menganggap bahwa ras yang satu lebih hebat daripada ras yang lain.
3) Diskriminasi social, yaitu berdasarkan status sosialnya, seperti kaya
dan miskin, bangsawan dan rakyat jelata , atau suatu agama dengan
agama lain.
4) Diskriminasi warna kulit (apartheid )yaitu berdasarkan warna kulit .
orang yang berkulit putih dianggap lebih terhormat.Berdasarkan ayat
Al Qur¶an tersebut, islam menghapuskan tumbuhnya sikap
diskriminasi dan menggantinya dengan menyuburkan sifat pengasih
dan penyayang. Allah bahkan meletakan sifat tersebut di dalam nama-
Nya, yaitu bismillah ar rahman ar rahim, yang artinya Maha Pengasih
lagi Maha Penyayang untuk menjadi contoh dan rahmat bagi hamba-
Nya.
9. Riya
Ria berasal dari bahasa arab yang artinya memperlihatkan atau terkenal
dengan istilah memamerkan. Dari segi syra, imam alhafidz ibnu hajar dalam
kitabnya fathul bari mengatakan bahwa ria adalah ibadah yang dilakukan
dengan tujuan atau maksud agar dapat dilihat orang lain sehingga memuja
pelakunya.Riya adalah memperlihatkan suatu ibadah dan amalan shaleh
kepada orang lain bukan karna allah, tetapi karna suatu yang lain selain allah.
Misalnya karena ingin memperoleh kemasyuran dan keuntungan
dunia.sedangkan memperdengarkan ucapan ibadah dan amal saleh kepada
orang lain. Ria merupakan sifat tecela karena melakukan amal perbuatan tidak
untuk mencari ridho allah melainkan untuk mengharap pujian dari orang lain,
ria merupakan kemunafikan dan syirik,Rasulullah bersabda: ‘’Sesuatu yang
sangat aku takutkan yang akan menimpa kamu ialah syirik kecil. Nabi SAW
ditanya tentang apa yang dimaksud dengan syirik kecil maka beliau menjawab
yaitu riya.’’
Jadi hakikat riya adalah seorang hamba yang taat pada allah swt dengan
tujuan ingin mendapatkan kedudukan atau pujian manusia.Tanda tanda
penyakit hati ini pernah dinyatakan oleh ali bin abi thalib. Kata Rasulullah
:’’Orang yang riya itu memliki tiga ciri, yaitu malas beramal ketika sendirian
dan giat beramal ketika berada ditengah tengah orang ramai, menambah

12
amaliyahnya ketika dirinya dipuji, dan mengurangi amaliyahnya ketika
dirinya dicela.’’ Dilihat dari bentuknya ria ada dua macam yaitu:
a. Riya dalam niat
Riya dalam niat yaitu ketika mengawali pekerjaan, dia mempunyai
keinginan untuk mendapat pujian, sanjungan, penghargaan dari orang
lain, bukan karna alloh. Padahal niat itu sangat menentukan nilai dari
suatu pekerjaan.Jika pekerjaan yang baik dilakukan dengan niat karna
allah maka perbuatan itu mempunyai nilai disisi allah.jika dilakukan
karna ingin mendapat sanjungan dan penghargaan dari orang lain maka
perbuatan itu tidak akan memperoleh pahala dari allah hanya sanjungan
dan itulah yang akan dia peroleh. Nabi muhammad SAW
bersabda:’’Sesungguhnya segala perbuatan itu tergantung niatnya´’.(HR
Muslim).Riya yang merkaitan dengan hati paling sulit untuk diketahui
karna yang mengetahuinya hanya allah swt semata.
b. Riya dalam perbuatan
c. Riya dalam perbuatan ini, misalnya ketika megerjakan shalat dan
bersedekah. Orang riya ini dalam mengarjakan shalat biasanya dia
memperlihatkan kesungguhan, kerajinan dan kekhusuannya jika dia
berada di tengah tengah orang atau jamaah. Sehingga orang lain melihat
dia berdiri, rukuk, sujud dan sebagainya. Dia shalat dengan tekun tiu
mengharapkan perhatian, sanjungan, pujian orang lain agar dia dianggap
sebagai orang yag taat dan tekun beribadah. Orang yang riya dalam shalat
akan celaka. Allah berfirman yang artinya : “ maka celakalah orang yang
shalat yaitu orang-orang yang lalai terhadap shalatnya yang berbuat riya
dan enggan (memberikan) bantuan.” (QS Al-Maun/107:4-7).Riya yang
berhubungan dengan perbuatan ini masih dapat dilihat sekalipun agak
samar-samar.
Beberapa ciri orang yang mempunyai sifat riya dalam perbuatan yaitu
sebagai berikut:
a. Tidak aka melakukan perbuatan baik seperti bersedekah bila tidak dilihat
orang
b. Beribadah hanya sekedar ikut-ikutan
c. Terlihat tekun dan bertambah motivasinya dalam beribadah jika mendapat
pujian saja,sebaliknya mudah menyerah jika dicela orang
d. Senantiasa berupaya menampakan segala perbuatan baiknya agar
diketahui orang banyak.

13
D. Bahaya Akhlak Tercela
Adapun bahaya yang ditimbulkan oleh maksiat atau perbuatan dosa itu
seperti di sebutkan oleh Ibnu Qoyyim rahimullah, sebagai berikut:
1. Terhalangnya ilmu agama karena ilmu itu cahaya yang diberikan Allah di
dalam hati, dan maksiat mematikan itu.
2. Terhalangnya rezeki, seperti dalam hadits riwayat Imam Ahmad, "Seorang
hamba bisa terhalang rezekinya karena dosa yang menimpanya."
3. Perasaan alienasi pada diri si pendosa yang tiada tandingannya dan tiada
terasa kelezatan.
4. Kegelapan yang dialami oleh tukang maksiat di dalam hatinya seperti
perasaan di kegelapan malam.
5. Terhalangnya ketaatan.
6. Maksiat memperpendek umur dan menghapus keberkahannya.
7. Maksiat akan melahirkan maksiat lain lagi, demikian kata ulama salaf: Hukum
kejahatan adalah kejahatan lagi sebagaimana kebaikan akan melahirkan
kebaikan lagi.
8. Orang yang melakukan dosa akan terus berjalan ke dalam dosanya sampai dia
merasa dirinya hina. Itu pertanda-tanda kehancuran.
9. Kemaksiatan menyebabkan kehinaan. Dan kebaikan melahirkan kebanggaan
dan kejayaan.
10. Maksiat merusak akal, sedang kebaikan membangun akal.

14
BAB III
PENUTUP

A. Kesimpulan
Akhlak tercela adalah semua sikap dan perbuatan yang dilarang oleh Allah,
karena akan mendatangkan kerugian baik bagi pelakunya ataupun orang lain.
Akhlak, memiliki sebab-sebab yang dapat menjadikannya tinggi dan mulia, dan
sebaliknya juga mempunyai sebab-sebab yang dapat menjadikannya merosot dan
jatuh ke dalam keterpurukan.
Akhlaq tercela dapat menciptakan perilaku tercela. Perilaku tercela dapat di
golongkan menjadi dua macam, yaitu perilaku yang berdampak buruk bagi
dirinya sendiri dan perilaku tercela yang berdampak buruk bagi orang lain.
Begitu banyaknya macam-macam akhlak tercela yang terdapat dalam hati
manusia. Beberapa akhlak tercela, yaitu ujub (berbangga diri), takabur
(sombong), putus asa, dusta dan iri/dengki (hasad).

B. Saran
1. Al-Qur’an menunjukkan cara melawan hawa nafsu dan setan dengan cara
yang sangat mudah yaitu dengan memohon perlindungan dan berpaling dari
orang bodoh, dan menolak perlakuan jahat mereka dengan berbuat baik.
2. Bersyukurlah atas karunia yang telah Allah berikan, maka insyaallah, hati
kita akan selamat dari akhlak tercela.

15
DAFTAR PUSTAKA

Al-qur’an dan Terjemahannya


Drs.H.Thoyib Sah Saputra,M.Pd,Drs.H.Wahyudin,M.Pd,PAI Akidah Akhlak
kurikulum 2008.kelas X Madrasah Aliyah. Semarang: CV Toha Putra

16