You are on page 1of 21

BAB 1

PENDAHULUAN
A. Latar Belakang Masalah
Anemia merupakan kelainan system hematologi yang sering terjadi. Timbulnya
anemia mencerminkan adanya kegagalan sumsum atau kehilangan sel darah merah secara
berlebihan atau keduanya. Anemia paling umum ditemui pada masa kehamilan.
Anemia menyebabkan penurunan kapasitas darah untuk membawa oksigen. Jantung
berupaya mengonpensasi kondisi ini dengan meningkatkan curah jantung. Upaya ini
meningkatkan kebebasan kerja jantung dan menekan fungsi ventricular. Dengan demikian,
anemia yang menyertai komplikasi lain (misalnya, preeklampsia) dapat mengakibatkan
jantung kongestif.

B. Rumusan Masalah
a. Bagaimana anatomi dan fisiologi system hematologi?
b. Bagaimana landasan teoritis anemia?
c. Bagaimana landasan teoritis asuhan keperawatan pada klien anemia?

C. Tujuan Penulisan
Makalah ini disusun dengan tujuan untuk menggambarkan kelainan system hematologi yaitu
anemia, menjelaskan konsep dan teori serta memaparkan landasan teori asuhan keperawatan
yang akan dilaksanakan pada klien anemia.

BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
A. Anatomi Fisiologi Organ
Sistem hematologi tersusun atas darah dan tempat darah diproduksi, termasuk smsum
tulang dan nodus limfa. Darah berbentuk cairan sehingga membedakannya dengan organ lain.
Cairan darah tersusun atas komponen sel yang tersusun dalam plasma darah.
Sel darah dibagi menjadi eitrosit (sel darah merah) dan leukosit (sel darah putih). Lekosit
dapat berada dalam beberapa bentuk, antara lain : eosinofil, basofil, monosit, netrofil, dan
limfosit.
Dalam suspense plasma juga terdapat fragmen-fragmen sel tak berinti yang disebut
trombosit (normalnya 150000 sampai 450000/mm3 darah).secara normal komponen seluler
darah ini 40-45% volume darah.
Fraksi darah yang ditempati eirtrosit disebut hematokrit. Darah terlihat sebagai cairan
berwarna merah, kental. Warnanya ditentukan oleh kadar Hb yang terkandung dalam
eritrosit. Volume darah manusia sekitar 7-10% dari berat badan normal dengan jumlah sekitar
5 liter.
Darah bersirkulasi di dalam system vaskuler dan merupakan penghubungn antar organ
tubuh, membawa oksigen yang diabsorbsi oleh paru dan nutrisi yang diabsorbsi oleh traktus
gastrointestinal ke sel untuk metabolism sel. Darah juga mengangkut produk sampah yang
dihasilkan oleh metabolism sel ke paru, kulit, dan ginjal yang akan ditransformasi dan
dibuang keluar dari tubuh. Selain itu darah juga membawa hormone dan antibody ke tempat
sasaran atau tujuan.
a. Sumsum Tulang
Sumsum tulang menempati bagian dalam dari tulang spons dan bagian tengahrongga
tulang panjang. Sumsum merupakan yang paling besar dalam tubuh, 4-5% dari berat badan
total.
Sumsum bisa berwarna merah atau kuning. Sumsum merah merupakan tempat
produksi eritrosit aktif dan merupakan organ hematopoetik (penghasil darah) utama.
Sedangkan sumsum kuning tidak aktif dalam produksi elemen darah, sumsum ini tersusn oleh
lemak.
Sesuai dengan pertambahan usia, sebagian besar sumsum pada tulang panjang
mengalami perobahan menjadi sumsum kuning, tetapi jika diperlukan bisa kembali menjadi
hematopoetik. Pada orang dewasa, sumsum merah terbatas terutama pada rusuk, kolumna
vertebralis, dan tulang pipih lainnya. Sumsum sangat banyak mengandung pembuluh darah
dan tersusun oleh jaringan ikat yang mengandung sel bebas.

b. Eritrosit
Normalnya eritrosit berbentuk cakram bikonkaf, diameternya 8μm, mempunyai
membran yang sangat tipis sehingga gas seperti oksigen dan karbondioksida mudah berdifusi.
Sel darah merah dewasa terutama tersusun oleh hemoglobin, sampai 95% massa sel. . Sel ini
tidak mempunyai inti dan hanya sedikit memiliki enzim metabolisme dibanding sel lainnya.
Fungsi utamanya adalah sebagai transfor oksigen dari paru ke jaringan
Ketika hemoglobin berikatan dengan oksigen (oksihemoglobin), warnanya merah
lebih terang dibanding hemogloblin yang tidak mengandung oksigen. Darah keseluruhannya
mengandung 15 g hemoglobin per 100 ml darah, atau 30 μm hemoglobin per 1000 eritrosit.
Eritrosit dibentuk di sumsum tulang. Untuk produksi eritrosit normal, sumsum tulang
memerlukan besi. Vitamin B12, asam folat, piridoksin (vitamin B6) dan factor lainnya.
Dalam proses pematangan di sumsum tulang eritroblas menimbun hemoglobin dan secara
bertahap akan kehilangan intinya (retikulosit). Selanjutnya terjadi pematangan menjadi
eritrosit dengan menghilangnya material berwarna gelap dan sedikit penyusutan ukuran.
Setelah matang, eritrosit kemudian dilepaskan dalam sirkulasi.
Eritrosit yang bersirkulasi rata-rata memiliki rentang hidup 120 hari. Sel darah merah
yang sudah tua dibuang dari darah oleh sistem retikuloendotelial, khususnya dalam hati dan
limpa.
c. Lekosit
Lekosit terdiri dari dua kategori, yaitu granulosit dan agranulosit. Normalnya dalam
darah berjumlah 5000 sampai 10000 per mm3. 60% terdiri dari granulosit dan 40%
agranulosit. Lekosit merupakan sel yang mempunyai inti dan ukuran yang besar dan
perbedaan kemampuan mengikat warna. Granulosit dibagi dalam tiga bagian, yaitu eosinofil
dengan granula berwarna merah terang, basofil berwarna biru dan netrofil berwarna ungu
pucat.
Sedangkan lekosit mononuklear (agranulosit) terdiri dari limfosit dan monosit. Dalam
darah orang dewasa limfosit berjumlah sekitar 30% dan monosit sekitar 5% dalam total
lekosit.
Fungsi lekosit adalah melindungi tubuh terhadap invasi bakteri atau benda asing
lainnya. Fungsi utama netrofilik PMN adalah fagositosis. Kehadiran monosit lebih lambat,
namun terus melakukan aktivitas fagositik dala waktu yang lama. Limfosit fungsinya
menghasilkan substansi yang membantu penyerangan benda asing. Sedangkan eosinofil dan
basofil berfungsi sebagai tempat penyimpanan berbagai material biologis kuat, seperti
histamin, serotonin dan heparin.
d. Trombosit
Trombosit merupakan partikel kecil, dengan diameter 2-4 μm yang terdapat dalam
sirkulasi plasma darah. Jumlahnya selalu berubah antara 150000-450000 per mm3 darah,
tergantung pada jumlah yang dihasilkan, penggunaan, dan kecepatan kerusakan. Trombosit
dibentuk oleh fragmentasi sel raksasa sumsum tulang (megakariosit).
Trombosit berperan penting dalam mengontrol perdarahan. Jika terjadi cedera
vaskuler, trombosit akan mengumpul pada tempat cedera tersebut. Terjadi pelepasan
substansi dari granula trombosit dan sel darah lain, sehingga trombosit saling menempel
membentuk tambalan atau sumbatan untuk menghentikan pendarahan. Kemudian dilepaskan
substansi lain untuk mengaktivasi faktor pembekuan dalam plasma darah.

B. Landasan teoritis penyakit

1. Definisi
Anemia adalah istilah yang menunjukkan rendahnya hitung sel darah merah dan kadar
hemoglobin dan hematokrit di bawah normal. Anemia merupakan pencerminan suatu
penyakit, atau gangguan fungsi tubuh. Anemia bukan merupakan penyakit, melainkan
keadaan suatu penyakit atau gangguan fungsi tubuh akibatnya jumlah O2 yang diangkut ke
jaringan tubuh berkurang. (KMB Bunner & Sudarth, vol.2).
Anemia didefenisikan sebagai penurunan volume eritrosit atau kadar Hb sampai
dibawah rentang nilai yang berlaku untuk orang sehat (Behrman E Richard, IKA
Nelson;1680).
Secara fisiologis, anemia terjadi jika terdapat kekurangan jumlah hemoglobin untuk
mengangkut oksigen ke jaringan.
Kriteria anemia menurut WHO :
 Laki laki dewasa : Hb < 13 g/dl
 Wanita dewasa : Hb < 12 g/dl
 Wanita hamil : Hb < 11 g/dl
Derajat anemia :
 Ringan sekali : Hb 10 g /dl
 Ringan : Hb 8 – 9,9 g/dl
 Sedang : Hb 6 – 7,9 g/dl
 Berat : < 6 g/dl
2. Etiologi
Anemia dapat terjadi karena beberapa sebab, yaitu :
a. Penurunan produksi eritrosit
Hal ini bisa terjadi karena terjadi ganggguan produksi eritrosit di sumsum tulang akibat
kerusakan sumsum tulang dan berkurangnya bahan pembentuk eritrosit.
b. Kehilangan eritrosit secara berlebihan
Hal ini terjadi karena terjadi penghancuran eritrosit yang cepat dan berlebihan.
c. Kehilangan darah (perdarahan)
Seperti terjadinya trauma, ulser kronik.
d. Kekurangan nutrisi
e. Faktor keturunan
f. Penyakit kronik
Berdasarkan penyebab-penyebabnya, anemia dibedakan atas :
a. Anemia pasca perdarahan, merupakan akibat dari perdarahan massif seperti kecelakaan,
operasi dan persalinan dengan perdarahan atau perdarahan menahun seperti cacingan. Gejala
yang timbul tergantung dari cepat dan banyaknya darah yang hilang dan apakah tubuh masih
dapat mengadakan kompensasi.
b. Anemia defisiensi, disebabkan oleh kekurangan bahan pembentuk eritrosit. Ini bisa terjadi
jika kekurangan nutrisi, absorbs yang kurang, sisntesis kurang, atau kebutuhan bertambah.
c. Anemia hemolitik, yaitu terjadinya penghancuran eritrosit secara berlebihan. Bisa
disebabkan oleh faktor intrasel seperti talasemia, hemoglobinopatie, dll dan factor ekstra sel
seperti intoksikasi, infeksi malaria, reaksi hemolitik transfuse darah.
d. Anemia aplastik, disebabkan oleh terhentinya pembuatan sel darah oleh sumsum tulang
karena terjadi kerusakan sumsum tulang.
Klasifikasi anemia berdasarkan etiopatogenesis :
1. Gangguan pembentukan eritrosit dalam sumsum tulang.
a. Kekurangan bahan pembentukan eritrosit :
• Defisiensi Fe
• Defisiensi asam folat
• Defisiensi vitamin B12
b. Gangguan penggunaan besi :
• Akibat penyakit kronik
• Anemia sideroblastik
c. Kerusakan sumsum tulang :
• Anemia aplastik
• Keganasan hematologi
• Diseritropoetik
• Sindrom mielodiplastik
2. Anemia akibat perdarahan :
a. Perdarahan akut
b. Perdarahan kronik
3. Anemia hemolitik
a. Hemolitik intrakorpuskular :
• Ggn membran eritrosit
• Ggn enzim eritrosit : defisiensi g6pd
• Ggn hemoglobin : thalasemia, hemoglobinopati
b. Hemolitik ekstrakorpuskuler :
• Hemolitik autoimun
• Hemolitik mikroangiopatik
4. Anemia idiopatik ( penyebab tidak diketahui / komplek )

3. Manifestasi klinis
Tanda-tanda dan gejala yang ditimbulkan anemia yaitu :
a. Lemah, letih, lesu dan lelah
b. Sering mengeluh pusing dan mata berkunang-kunang
c. Pucat, sianosis
d. Takikardi
e. Palpitasi
f. Kardiomegali
g. Hepatomegali
h. Dyspepsia
i. Konstipasi atau diare
Beratnya tanda dan gejala anemia dipengaruhi oleh beberapa faktor, yaitu :
a. Kecepatan kejadian anemia
Semakin cepat perkembangan anemia semakin berat gejala yang muncul. Kehilangan
hemoglobin, eritrosit dan hematokrit dengan cepat 30% dapat menyebabkan kolaps vaskuler.
b. Durasi
Individu dengan anemia yang telah cukup lama dengan hemoglobin antara 9 dan 11 mg/dl,
hanya mengalami sedikit gejala atau tidak ada gejala sama sekali selain takikardi ringan saat
latihan. Dispnu latihan biasanya terjadi jikan Hb dibawah 7,5 g/dl, kelemahan terjadi dibawah
6 g/dl, dispnu istirahat di bawah 3 g/dl, dan gagal jantung pada kadar yang sangat rendah 2-
2,5 g/dl.

c. Kebutuhan metabolisme
Gejala pada orang yang biasanya aktif akan lebih berat daripada orang yang tenang.
d. Kelainan lain atau kecacatan
Orang yang hipotiroidisme dengan kebutuhan oksigen yang rendah bisa tanpa gejala, tanpa
takikardi, atau peningkatan curah jantung pada kadar Hb di bawah 10 g/dl.
e. Komplikasi
Anemia akan beromplikasi dengan abnormalitas lain yang menyertai penyakit ini.
Abnormalitas tersebut dapat menimbulkan gejala yang menutupi gejala anemia, seperti
anemia sel sabit yang mengalami krisis nyeri.

4. Pemeriksaan Penunjang Dan Diagnostik


a. Uji hematologis yang dapat menentukan jenis dan penyebab anemia. Uji hematologis
meliputi :
 Kadar Hb dan Ht
 Indeks eritrosit, leukosit dan trombosit
 Kadar Fe, asam folat, Vitamin B12
 Hitung trombosit, waktu pendarahan, waktu protrombin dan waktu tromboplastin parsial
b. Aspirasi dan biopsy sumsum tulang
c. Pemeriksaan diagnostic untuk menentukan adanya penyakit akut atau kronis serta
sumberkehilangan darah kronis.

5. Penatalaksanaan Medis Dan Keperawatan


Penatalaksanaan anemia ditujukan untuk mencari penyebab dan mengganti darah
yang hilang. Penatalaksanaannya dilakukan sesuai dengan klasifikasi anemia, yaitu :
a. Anemia aplastik
Penatalaksanaannya dilakukan dengan menggunakan metode :
 Transplantasi sumsum tulang
Transplantasi dilakukan untuk memberikan persediaan jaringan hematopoesti yang masih
dapat berfungsi. Dalam tranplantasi ini harus ada kesesuaian antara sel donor dengan resipien
dan selama penyembuhan harus ada pencegahan terjadinya komplikasi.
 Pemberian terapi imunosupresif dengan globulin antitimosit (ATG)
Terapi ini berfungsi dalam penyembuhan sumsum tulang dengan menghentikan fungsi
imunologis yang dapat memperpanjang aplasia. ATG diberikan melalui kateter vena sentral
setiap hari selama 7-10 hari. Jika respon cepat, maka pasien biasanya akan sembuh dalam
beberapa minggu sampai 3 bulan, tetapi respon juga bisa lambat sehingga membutuhkan
waktu yang lebih panjang, skitar 6 bulan setelah penanganan. Pasien yang anemia berat
dengan penanganan secara awal selama perjalanan penyakit mempunyai kesempatan terbaik
berespon terhadap ATG.
 Terapi suportif
Pasien disokong dengan trnsfusi sel darah merah dan trombosit secukupnya untuk mengatasi
gejala. Selanjutnya pasien akan mengembangkan antobodi terhadap antigen sel darah merah
minor sel trombosit, sehingga tranfusi tidak lagi mampu menaikkan jumlah sel.
b. Anemia pada penyakit ginjal
 Pasien dialisis dengan pemberian besi dan asam folat
 Eritropoetin rekombinan
c. Anemia pada penyakit kronis
Kebanyakan pasien tidak menunjukkan gejala dan tidak memerlukan penanganan
untuk aneminya, dengan keberhasilan penanganan kelainan yang mendasarinya, besi sumsum
tulang dipergunakan untuk membuat darah, sehingga Hbnya meningkat.
d. Anemia pada defisiensi besi
Penanganannya dapat dilakukan dengan menggunakan preparat besi oral diantaranya:
sulfat feros, glukonat ferosus dan fumarat ferosus.
e. Anemia megaloblastik
 Defisiensi vitamin B12 ditangani dengan pemberian vitamin B12, bila difisiensi
disebabkan oleh defekabsorbsi atau tidak tersedianya faktor intrinsik dapat diberikan vitamin
B12 dengan injeksi IM.
 Untuk mencegah kekambuhan anemia terapi vitamin B12 harus diteruskan selama hidup
pasien yang menderita anemia pernisiosa atau malabsorbsi yang tidak dapat dikoreksi.
 Anemia defisiensi asam folat penanganannya dengan diet dan penambahan asam folat 1
mg/hari, secara IM pada pasien dengan gangguan absorbsi.
6. Komplikasi
Komplikasi umum anemia yaitu :
 Gagal jantung,
 Parestesia
 Kejang.
Pasien dengan penyakit jantung lebih besar kemungkinan menngalami angina dari pada
seseorang yang tidak penyakit jantung.
7. WOC
Terlampir

C. Landasan Teoritis Asuhan Keperawatan

1. Pengkajian

Riwayat kesehatan :

a. Riwayat kesehatan sekarang

Klien dengan anemia datang ke rumah sakit, biasanya dengan keluhan berupa: adanya

keletihan, kelemahan, malaise umum, membutuhkan waktu tidur dan istirahat yang banyak,

sakit kepala, nyeri mulut dan lidah, anoreksia, BB menurun, serta sulit untuk berkonsentrasi.

b. Riwayat kesehatan dahulu

Klien memiliki riwayat konsumsi obat-obatan yang mempengaruhi sumsum tulang dan

metabolisme asam folat, adanya riwayat hehilangan darah kronis, misalnya perdarahan GI

kronis, menstruasi berat,angina, CHF. Selain itu terdapat juga riwayat penyakit antara lain

endokarditis, pielonefritis, gagal ginjal,riwayat TB, abses paru, kanker. Riwayat penyakit

hati, masalah hematoligi, pembedahan dan penggunaan anti konvulsan masa lalu atau

sekarang juga akan mempengaruhi anemia.

c. Riwayat kesehatan keluarga


Kesehatan keluarga yang berhubungan dengan anemia, sperti kecendrungan keluarga untuk

anemia, adanya anggota keluarga yang menderita anemia.

Pengkajian Pola Gordon

1. Pola persepsi dan manajemen kesehatan

Klien biasanya tidak mengetahui penyakitnya. Klien hanya beranggapan bahwa gejala yang
dideritanya merupakan gejala biasa saja dan hanya kelelahan biasa. Klien mulanya hanya
beristirahat, mengurangi aktivitas dan mengkonsumsi obat bebas yang ada di warung.
2. Pola nutrisi metabolik
Terjadinya penurunan intake nutrisi beruhubungan dengan penurunan nafsu makan, terdapat
nyeri mulut dan lidah, kesulitan menelan (ulkus pada faring). Selain itu, biasanya juga timbul
gejala mual, muntah, dispnea, anoreksia, penurunan berat badan.
2. Pola eliminasi
Pada pola ini, biasanya bisa terjadi diare atau konstipasi, serta bisa terjadi penurunan haluaran
urine.

3. Pola aktivitas dan latihan


Klien biasanya mengalami kelemahan, malaise, keletihan sehingga menyebabkan
terganggunya aktivitas klien, terjadi penurunan semangat untuk bekerja serta toleransi untuk
latihan rendah. Saat bekerja timbul takikardi, dispnea, kelemahan otot dan penurunan
kekuatan.
5. Pola istirahat dan tidur
Klien akan membutuhkan waktu untuk tidur dan istirahat yang lebih banyak karena keletihan.
Selain itu perlu di kaji masalah yang dapat mengganggu klien saat tidur dan istirahat.
6. Pola kognitif perseptual
Pengkajian yang dilakukan yaitu sehubungan dengan fungsi alat indera klien, kemampuan
menulis, dan mengingat, terjadi penuurunan fungsi penglihatan.
7. Pola persepsi diri dan konsep diri
Persepsi klien terhadap dirinya bisa berubah sehubungan dengan penyakit yang diderita.
Klien merasa lemah karena tidak bisa bekerja dan beraktifitas seperti orang lain.
8. Pola peran hubungan
Pada pola ini dikaji pekerjaan klien, peran klien dalam keluarga dan masyarakat. Selain itu
berisikan bagaiman hubungan klien dengan orang tersdekatnya, bagaimana pengambilan
keputusan dan hubungan klien dengan masyarakat atau lingkungan sosial klien.
9. Pola reproduksi seksualitas
Pada reproduksi seksualitas bisa terjadi perubahan aliran menstruasi, misalnya menoragia
atau amenore, hilang libido, dan impoten. Serviks dan dinding vagina pucat.

10. Pola koping dan toleransi stress


Metode koping yang digunakan klien dalam mengatasi stress bisa saja dengan
mengungkapkan perasaan gelisahnya kepada orang terdekat atau perawat atau meminum obat
yang dapat menghilangkan stress.
11. Pola nilai dan keyakinan
Setelah pengkajian didapatkan kepercayaan klien, kepatuhan klien dalam melaksanakan
ibadah, dan keyakinan-keyakinan pribadi yang bisa mempengaruhi pilihan pengobatan.
Pemeriksaan Fisik
• Kedaan umum : terlihat lemah, pucat.
• Kepala dan rambut : bentuk kepala bulat, simetris, kulit kepala bersih/kotor, tidak terdapat
luka, ketombe atau tidak berkutu, rambut kering.
• Pemeriksaan mata : pada anemia pernisiosa atau anemia hemolitika, sklera ikterik.
• Pemeriksaan jantung : takikardi, dispneu, orthopneu, dispneu saat latihan, kemudian bisa
terjadi pembesaran jantung, pembesaran hati dan edema perifer.
• Pemeriksaan neurologis : parastesia perifer, ataksia, gangguan koordinasi, dan kejang.
• Pengkajian gastrointestinal : bisa mual, muntah, diare, anoreksia, dan glositis.
• Ekstermitas : kulit pucat, kapilary refill lebih dari 3 detik.

Pemeriksaan Penunjang
 Hb dan Ht menurun
 Jumlah eritrosit menurun
 Jumlah trombosit menurun
 Aspirasi sumsum tulang atau pemeriksaan byopsi : sel tampak berubah, baik jumlah,
bentuk, ukuran yang membedakan tipe anemia.
 Pemerikasaan endoskopi dan radiografik : memeriksa sisi perdarahan, perdarahan GI.

2. Asuhan Keperawatan NANDA, NOC, NIC

No. NANDA NOC NIC


1. Intoleransi ToleransiAktivitas Manajemen Energi
aktivitas Indikator : Aktivitas :
berhubungan  
Klien mampu melakukan Monitor respon oksigenasi
dengan kelelahan, aktivitas minimal pasien
kelemahan, 
dan Kemampuan 
aktivita Rencanakan aktivitas saat
malaise umum smeningkat secara bertahap pasien mempunya ienerg icukup
DS :  Tidak ada keluhan sesak u/ melakukannya.
 klien mengeluh nafas dan lelah selama dan Bantu klien untuk istirahat
lemah dan letih setelah aktivits minimal setelah aktivitas. Monitor pola
 
klien mengatakan TTV normal selama dan dan lamanya tidur/istirahat klien
turunnya semangat setelah beraktivitas Terapi Aktivitas
untuk bekerja  EKG dalam batas normal Aktivitas :
 klien mengatakan  Kaji kemampuan klien
butuh waktu yang melakukan aktivitas
lebih banyak untuk  Jelaskan pada pasien manfaat
istirahat dan tidur aktivitas bertahap
 klien mengeluh  Evaluasi dan motivasi
mdah letih keinginan pasien u/ meningktkan
DO : aktivitas
 klien terlihat  Tetap sertakan oksigen saat
lemas, dan tidak aktivitas.
bertenaga  Membantu menyusun aktivitas
 klien terlihat lesu fisik
 kehilangan tonus
otot
 takikardi
 TD abnormal
setelah aktivitas
 Denyut jantung
abnormal setelah
aktivitas
 Dispnea
 Perubahan EKG

2. Gangguan nutrisi Status nutrisi : intake Monitor Nutrisi


kurang dari nutrisi Aktivitas :
kebutuhan tubuh Indikator :  Timbang berat badan klien
berhubungan  Intake kalori  Monitor kehilangan dan
dengan  Protein pertambahan berat badan
kekurangan  Karbohidrat  Monitor tipe dan kuantitas olah
asupan gizi esensial Mineral raga
DS : 
 vitamin Monitor respon emosi klien
 klien mengatakan
Status nutrisi : intake terhadap situasi dan tempat
sulit menelan makanan dan cairan makan
 klien mengatakan Indikator :  Monitor interaksi orang tua
tidak nafsu makan  Intake makanan di mulut dan anak saat makan
 klien mengeluh Intake di saluran makanan  Jadwalkan perawatan, dan
sering BAB
 Intake cairan di mulut tindakan keperawatan agar tidak
 konstipasi
 Intake cairan mengganggu jadwal makan
 klien mengeluh Nafsu makan  Monitor turgor kulit
mual
 Nafsu makan baik  Monitor adanya mual dan
DO :
 Pasokan cairan tubuh muntah
 glositis  Monitor nilai albumin, total
seimbang
 mukosa mulut
 Pasokan nutrisi tubuh protein, hemoglobin dan
kering, pecah-pecah hematokrit.
seimbang
 BB rendah  Monitor nilai limfosit dan
 Klien tampak elektrolit
lemah  Monitor menu makanan dan
 Turgor jelek pilihannya
 Kulit kering  Monitor pertumbuhan dan
 Bising usus perkembangan
meningkat  Monitor tingkat energi, lelah,
lesu, dan lemah
 Monitor intake kalori dan
nutrisi
 Catat adanya luka, edema, dan
hiperemik serta hipertropik papile
pada lidah dan mukosa mulut
 Tentukan jika klien
membutuhkan diet spesial.

Terapi nutrisi
Aktivitas :
 Mengontrol penyerapan
makanan/cairan dan menghitung
intake kalori harian, jika
diperlukan
 Memantau ketepatan urutan
makanan untuk memenuhi
kebutuhan nutrisi harian
 Menentukan jimlah kalori dan
jenis zat makanan yang
diperlukan untuk memenuhi
kebutuhan nutrisi, ketika
berkolaborasi dengan ahli
makanan
 Monitor turgor kulit
 Atur posisi klien selama
makan
 Beri makanan tinggi protein,
kalori dan bernutrisi siap
konsumsi.
 Pastikan bahwa makanan
berupa makanan yang tinggi serat
untuk mencegah konstipasi

Kontrol nafsu makan


Aktivitas :
 Anjurkan asupan kalori yang
sesuai dengan kebutuhan tubuh
 Konrol asupan nutrisi dan
kalori
 Anjurkan konsumsi nutrisi
yang cukup
3. Gangguan Kontrol Nyeri Manajemen Nyeri
kenyamanan nyeri Indikator : Aktivitas :
DS :  Onset nyeri diakui  Nilai nyeri secara
 
Klien mengeluh Menjelakan factor komprehensif dimulai dari lokasi,
sakit kepala penyebab karakteristik, durasi, frekuensi,
 
Klien Tindakan pertolongan non- kualitas, intensitas dan penyebab
mengatakan nyeri analgetik  Kaji ketidaknyamanan secara
 
Klien Tindakan pencegahan nonverbal, terutama untuk pasien
mengatakan 
susah Melaporkan gejala-gejala yang tidak bisa
tidur kepada tenaga kesehatan mengkomunikasikannya secara
DO : professional efektif
 Klien terlihat Tingkat Nyeri  Pastikan pasien mendapatkan
meringis Indikator : perawatan dengan analgesic
 Klien 
terlihat Melaporkan nyeri  Gunakan komunikasi yang
memegangi 
kepala Pengaruh pada tubuh terapeutik agar pasien dapat
menahan sakit  Frekuensi nyeri menyatakan pengalamannya
 Tidak nafsu
 Lamanya episode nyeri
terhadap nyeri serta dukungan
makan dalam merespon nyeri
 Ekspresi muka saat nyeri
 Pertimbangkan pengaruh
 TD meningkat  Posisi melindungi bagian budaya terhadap respon nyeri
 RR meningkat tubuh yang nyeri  Ajari untuk menggunakan
 Nadi meningkat  Kegelisahan tehnik non-farmakologi (spt:
 Ketegangan otot biofeddback, TENS, hypnosis,

 Perubahan rata-rata relaksasi, terapi musik, distraksi,


respirasi terapi bermain, acupressure,

 Perubahan nadi apikasi hangat/dingin, dan pijatan


) sebelum, sesudah dan jika
 Perubahan tekanan darah
memungkinkan, selama puncak
 Perubahan ukuran pupil
nyeri , sebelum nyeri terjadi atau
 Berkeringat
meningkat, dan sepanjang nyeri
 Kehilangan nafsu makan
itu masih terukur.
 Menyediakan analgesic yang
dibutuhkan dalam mengatasi
nyeri.
Pemberian Analgetik
Aktivitas :
 Tentukan lokasi ,
karakteristik, mutu, dan intensitas
nyeri sebelum mengobati pasien
 Periksa order obat, dosis, dan
frekuensi yang ditentukan
analgesik
 Cek riwayat alergi obat
 Evaluasi kemampuan pasien
dalam pemilihan obat penghilang
sakit, rute, dan dosis, serta
melibatkan pasien dalam
pemilihan tersebut
 Tentukan jenis analgesik yang
digunakan (narkotik, non narkotik
atau NSAID) berdasarkan tipe
dan tingkat nyeri.
 Monitor TTV sebelum dan
sesudah pemberian obat narkotik
dengan dosis pertama atau jika
ada catatan luar biasa.
 Memberikan perawatan yang
dibutuhkan dan aktifitas lain yang
memberikan efek relaksasi
sebagai respon dari analgesi
 Cek pemberian analgesik
selama 24 jam untuk mencegah
terjadinya puncak nyeri tanpa rasa
sakit, terutama dengan nyeri yang
menjengkelkan
 Set harapan positif mengenai
efektivitas obat analgesic untuk
mengoptimalkan respons pasien
Pemberian obat penenang
Aktivitas :
 Kaji riwayat kesehatan pasien
dan riwayat pemakaian obat
penenang
 Melihat kemungkinan alergi
obat
 Meninjau ulang tentang
contraindikasi pemberian obat
penenang
 Beritahu keluarga dan/atau
pasien tentang efek pemberian
obat penenang
 Mengevaluasi tingkatan
kesadaran pasien dan refleks
normal sebelum pemberian obat
penenang
 Peroleh TTV, kadar oksigen,
EKG dalam batas normal
 Ketahui perjalanan obat
melalui IV
 Berikan pengobatan sesuai
order dokter, sesuaikan dengan
respon pasien
 Monitor tingkatan kesadaran
pasien
 Monitor kadar oxigen darah
 Monitor EKG pasien
 Memonitor pasien terhadap
efek negatif obat, mencakup
peradangan, tekanan berhubungan
dengan pernapasan, somnolen
yang tak pantas, hipoxemia,
arrithmia, apnea.

3. Evaluasi

1. Mampu bertoleransi dengan aktivitas normal


 Mengikuti rencana progresif istirahat, aktivitas, dan latihan
 Mengatur irama aktivitas sesuai tingkat energy
2. Mencapai atau mempertahankan nutrisi yang adekuat
 Makan makanan yang tinggi protein, kalori dan vitamin
 Menghindari makanan yang menyebabkan iritasi lambung
 Mengembangkan rencana makan yang memperbaiki nutrisi optimal
3. Tidak mengalami komplikasi
 Menghindari aktivitas yang menyebabkan takikardi, palpitasi, pusing, dan dispnu.
 Mempergunakan upaya istirahat dan kenyamanan untuk mengurangi dispnu.
 Tanda vital normal
 Tidak mengalami tanda retensi cairan

BAB III
PENUTUP
A. Kesimpulan
Pada klien anemia terdapat jumlah eritrosit dan kadar Hb yang rendah, sehingga
kemampuan mengikat oksigen dan mengangkut oksigen ke jaringan menjadi berkurang.
Salah satu dampaknya, klien merasa lemah, letih, lesu, dll. Untuk mengatasi hal ini, sekarang
sudah bisa dilakukan beberapa cara seperti transfusi darah, transplantasi sumsum tulang,
pemberian terapi ATG.
Asuhan keperawatan pada anemia merupakan standar yang akan menuntun perawat
dalam melakukan asuhan sesuai dengan intervensi yang telah dirumuskan untuk mencapai
criteria hasil.
B. Saran
Penulis menyarakan kepada pembaca, khususnya mahasiswa keperawatan sebagai
calon perawat agar memahami dengan baik konsep dasar dari anemia serta asuhan
keperawatan yang dapat dilaksanakan, sehingga semua tindakan yang dilakukan sesuai
dengan standar praktek. Selain itu penulis juga berharap agar perawat selalu memperbaharui
penelitian yang akan menambah pengetahuan dan kualitas pelayanan keperawatan.

DAFTAR PUSTAKA

Bulechek, Gloria M., Howard K. Butcher, Joanne McCloskey Dochterman. 2008. Nursing
Interventions Classification (NIC) : Fifth Edition. Missouri : Mosby Elsevier.
Manuaba, Ida Bagus Gde.2001.Kapita Selekta Penatalaksanaan Rutin Obstetri Ginekologi dan
KB.Jakarta:EGC
Moorhead, Sue., Marion Johnson, Meridean L. Maas, Elizabeth Swanson. 2008. Nursing Outcomes
Classification (NOC) : Fourth Edition. Missouri : Mosby Elsevier
Smeltzer, Suzanne C. dan Brenda G. Bare. 2001. Buku Ajar Keperawatan Medikal Bedah. Jakarta :
EGC.
Wiley, John dan Sons Ltd. 2009. NANDA International : 2009-2011. United Kingdom : Markono
Print Media.
Jurnal, artikel
Nordqvist, Christian. 2009. Article “what is anemia?”. Medical News Today.
Penninx, Brenda W. J. H. 2006. Anemia in Old Age Assosiated with Increased Mortality and
Hospitalization.
http://www.medicalnewstoday.com/articles/158800.php diakses tanggal 20 Januari 2013
http://www.webmd.com/a-to-z-guides/understanding-anemia-basics?page=2 diakses tanggal 20
Januari 2013