You are on page 1of 24

MAKALAH DAURAH MARHALAH 2 KOTA BANDUNG

Telaah Kontribusi KAMMI dalam Perkembangan


Islam di Indonesia
Makalah ini disusun untuk memenuhi salah satu persyaratan keikutsertaan Daurah
Marhalah DM 2 Kota Bandung

Disusun Oleh :
Asyiah

Komisariat Umar Bin Khatthab


KAMMI Daerah Bandung
2017
LEMBAR PENGESAHAN

Judul : Telaah Kontribusi KAMMI dalam Perkembangan Islam di


Indonesia
Nama : Asyiah
Nama Komisariat : Umar bin Khattab Politeknik Negeri Bandung
Pembimbing Makalah : Septi Sri Rahmawati

Bekasi, 17 Maret 2017


Pembimbing Penyusun

Septi Sri Rahmawati Asyiah

Mengetahui,
Ketua Komisariat UBK Polban

Yusuf Ridho U.T


KATA PENGANTAR

Alhamdulillah, Segala puji dan syukur kita panjatkan kepada Allah SWT
serta shalawat serta salam semoga tercurah limpah kepada tokoh dan teladan kita
Nabi Muhammad SAW, kepada para tabiin, kepada keluarga dan kita selaku
umatnya hingga akhir zaman. Diantara sekian banyak nikmat Allah SWT yang
diberikan pada waktu yang tepat kepada hambanya, atas karunia-Nya saya dapat
menyelesaikan makalah yang berjudul Telaah kontribusi KAMMI terhadap
Perkembangan Islam di Indonesia dengan tepat waktu.
Adapun maksud dan tujuan dari penyusunan makalah ini adalah sebagai
salah satu syarat yang diajukan untuk memenuhi keikutsertaan Daurah Marhalah
II KAMMI Daerah Bandung.
Dalam proses penyusunan makalah ini saya menjumpai hambatan, namun
berkat dukungan moril dan materil dari berbagai pihak, akhirnya saya dapat
menyelesaikan tugas ini dengan cukup baik. Oleh karena itu pada kesempatan ini,
penulis ingin mengucapkan terimakasih kepada :
1. Susanto Triyogo Adiputro, selaku suami yang dengan sabar
membimbing dan memberikan suntikan semangat dalam mengerjakan
makalah ini.
2. Septi Sri Rahmawati, selaku pembimbing makalah DM 2 yang banyak
memberi masukkan dan arahan dalam menulis makalah ini
3. Agan Sosiowidyowati, sahabat penulis yang menjadi teman
seperjuangan dalam mengikuti proses seleksi DM 2 ini.
Segala sesuatu yang salah datangnya hanya adri manusia dan seluruh hal
yang benar hanya bersumber dari Allah SWT, maka tentu makalah ini masih jauh
dari kesempurnaan. Oleh karena itu segala saran dan kritik yang membangun dari
semua pihak sangat saya harapkan demi perbaikan makalah ini selanjutnya.
Harapan saya semoga makalah ini bermanfaat khususnya bagi kami dan bagi
pembaca lain pada umumnya.

Bandung, 17 Maret 2017

iii
DAFTAR ISI

LEMBAR PENGESAHAN ................................................................................................ 1


KATA PENGANTAR ....................................................................................................... iii
DAFTAR ISI.......................................................................................................................iv
1. BAB I .......................................................................................................................... 1
PENDAHULUAN .............................................................................................................. 1
1.1 Latar Belakang .................................................................................................... 1
1.2 Tujuan Penulisan ................................................................................................. 2
1.3 Rumusan Masalah ............................................................................................... 2
1.4 Sistematika Penulisan ......................................................................................... 2
2. BAB II............................................................................................................................. 4
LANDASAN TEORI .......................................................................................................... 4
2.1 Indonesia Pada Mulanya ..................................................................................... 4
2.2 Sejarah Masuknya Islam ke Indonesia ................................................................ 4
2.3 Sejarah Penyebaran Islam di Indonesia .............................................................. 6
2.4 Saluran Penyebaran Agama Islam di Indonesia .................................................. 7
2.5 Sejarah Berdirinya KAMMI ............................................................................. 10
3 BAB III ..................................................................................................................... 11
PEMBAHASAN ............................................................................................................... 11
3.1 Analisis ............................................................................................................. 11
3.2 Proram Rekomendasi ........................................................................................ 16
4 BAB IV ..................................................................................................................... 18
PENUTUP ........................................................................................................................ 18
4.1 KESIMPULAN ................................................................................................. 18
4.2 SARAN ............................................................................................................. 19
DAFTAR PUSTAKA ....................................................................................................... 20

iv
1. BAB I
PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang


Indonesia adalah negara yang mayoritas penduduknya menganut agama
Islam. Menurut Badan Pusat Statistik tentang Sensus Penduduk tahun 2010, Islam
di Indonesia diyakini oleh sekitar 237.641.326 jiwa atau 857,18% dari total
jumlah penduduknya. Masuk dan berkembangnya agama Islam di Indonesia
hingga bisa mencapai jumlah penganut yang begitu besar itu ternyata telah
melalui sejarah yang sangat panjang yaitu melalui periodisasi atau pembabakan-
pembabakan yang cukup menarik untuk kita ketahui.
Perkembangan Islam di Indonesia merupakan suatu ilmu yang harus
dipahami oleh kita sebagai warga negara Indonesia. Darinya kita dapat mengenal
bagaimana perjuangan orang-orang terdahulu, khususnya dalam membentuk
peradaban Islam di Indonesia. Bagaimana proses atau tahapan penyebaran Islam.
Siapakah sosok atau ulama yang berperan penting dalam momentum besar
perjuangan. Sehingga dengan kita memahani sejarah, ada harapan besar untuk
bisa melanjutkan estafet dakwah perjuangan.
Menurut Anis Matta, jika sejarah adalah cerita tentang hari kemarin, hari
ini, dan hari esok maka sejarah bukan saja metode untuk memahami masa lalu dan
masa kini tetapi menjadi jalan paling efektif menemukan alasan untuk tetap
berharap bahwa esok hari cerita hidup kita akan lebih baik. Membaca sejarah
adalah cara menemukan harapan. Harapanlah yang membuat kita rela dan berani
melakukan kebajikan-kebajikan hari ini, walaupun kebajikan itu akan dipetik oleh
mereka yang baru akan lahir esok.
Oleh karena itu, berdasarkan perkembangan Islam di Indonesia, penulis
akan mencoba menelaah apa yang menjadi kontribusi dari hadirnya KAMMI yang
merupakan organisasi dakwah pergerakan yang lahir pada era Reformasi tahun
1998. Penulis akan mencoba menelaah apa yang telah KAMMI berikan, apa yang
sedang dilakukan oleh KAMMI saat ini dan apa yang bisa diberikan KAMMI
untuk mengukir sejarah perkembangan Islam di Indonesia.

1
1.2 Tujuan Penulisan
Tujuan dari pembuatan makalah ini adalah :
1. Menjelaskan tentang perkembangan sejarah Islam Indonesia
2. Menelaah kontribusi KAMMI dalam perkembangan Islam di Indonesia
3. Menjelaskan kontribusi yang seharusnya dilakukan KAMMI dalam upaya
mewujudkan bangsa dan negara Indonesia yang Islami

1.3 Rumusan Masalah


Rumusan masalah dari makalah ini adalah :
 Bagaimana periodisasi perkembangan sejarah Islam di Indonesia?
 Bagaimana kontribusi/peran KAMMI dalam membuat sejarah peradaban
di Indonesia?
 Kontribusi apa yang akan dilakukan KAMMI untuk mewujudkan bangsa
dan negara Indonesia yang Islami?

1.4 Sistematika Penulisan


Makalah ini terdiri dari 3 bab.
BAB 1 PENDAHULUAN
Bab ini menjelaskan mengenai latar belakang dari judul yang diambil
dalam pembuatan makalah, tujuan dari penulisan makalah, rumusan
masalah dan sistematika penulisan dari ini makalah

BAB II LANDASAN TEORI


Bab ini menjelaskan mengenai landasan teori/tinjauan pustaka yang
menjadi pendukung materi makalah yang mencakup tentang Indonesia,
sejarah masuknya Islam di Indonesia, Penyebaran Islam di Indonesia,
Saluran Penyebaran Agama di Indonesia dan Sejarah berdirinya KAMMI

BAB II PEMBAHASAN
Bab ini menjelaskan tentang analis dan pembahasan dari apa yang menjadi
kontribusi KAMMI dalam perkembangan Islam di Indonesia,

2
BAB III PENUTUP
Bab ini menjelaskan tentang kesimpulan dan saran dari analisis
pembahasan makalah serta saran untuk pengembangan makalah lebih
lanjut

3
2. BAB II
LANDASAN TEORI
2.1 Indonesia Pada Mulanya
Nusantara merupakan gugusan pulau yang terbentang dari sabang sampai
merauke. Nusantara sebagai kesatuan ruang mulai memberi potensi terbentuknya
Identitas. Sudah sejak lama warga nusantara melihat laut sebagai penghubung –
bukan pengehalang- bagi interaksi antara warga, khususnya dalam perdagangan
antar bangsa. Hal ini merupakan modal terbentuknya Identitas Indonesia di
kemudian hari.
Menurut buku Gelombang Ketiga Indonesia, Anis Matta menjelaskan
bahwa Nama Indonesia pertama kali muncul sebagai penamaan etnis bagi orang
yang menetap di nusantara oleh penjajahan Belanda. Nama Indonesia timbul
tenggelam, bergantian dengan nama “Insulinde” dalam wacana publik Belanda.
Pencarian identitas sebagai bangsa yang berdaulat atas nasibnya sendiri
merupakan reaksi dari penjajahan yang menempatkan bangsa Indonesia sebaga
dari identitas defensif “yang terjajah v.s penjajah”. Kesadaran ini pula yang
menggerakan perjuangan kemerdekaan yang lebih massif dari periode sebelumnya
orang yang ditentukan nasibnya oleh penjajah. Jika kita bedah Indonesia pada hari
kelahirannya, kita akan temukan bahwa nilai terdalamnya adalah solidaritas.
“Bangsa Indonesia” bukan berasal dari penghuni yang secara biologis lahir dan
turun-temurun berada di tanah ini. Bangsa Indonesia adalah mereka yang
mengakui bahwa Indonesia adala tanah air mereka. Indonesia adalah kesepakatan
yang lahir dari jiwa besar, yang lahir dari rasa silodaritas, hasil proses sejarah
yang panjang

2.2 Sejarah Masuknya Islam ke Indonesia


Terkait dengan sejarah masuknya Islam ke Indonesia, ada beberapa teori
dan pendapat yang menyatakan kapan pengaruh kebudayaan dan agama Islam
mulai masuk ke nusantara. Pendapat-pendapat tersebut bukan hanya didasarkan
pada bukti-bukti yang telah ditemukan, melainkan juga dikuatkan oleh adanya
catatan-catatan sejarah yang dibuat oleh bangsa lain di masa lampau.

4
Menurut Suryanegara bahwa ada beberapa teori yang membahas terkait
awal mula masuknya Islam di Indonesia. Teori-teori ini mencoba memberikan
jawaban atas permasalahan tentang masuknya agama Islam ke Nusantara dengan
perbedaan pendapatnya: Pertama, mengenai waktu masuknya agama Islam.
Kedua, tentang asal negara yang menjadi perantara atau sumber tempat
pengambilan ajaran agama Islam. Ketiga, tentang pelaku penyebar atau pembawa
agama Islam ke Nusantara.
Sebagian ahli sejarah menyebut jika sejarah masuknya Islam ke Indonesia
sudah dimulai sejak abad ke 7 Masehi. Pendapat ini didasarkan pada berita yang
diperoleh dari para pedagang Arab. Dari berita tersebut, diketahui bahwa para
pedagang Arab ternyata telah menjalin hubungan dagang dengan Indonesia pada
masa perkembangan Kerajaan Sriwijaya pada abad ke 7.
Sebagian ahli sejarah lainnya berpendapat bahwa sejarah masuknya Islam
ke Indonesia dimulai sejak abad ke 11 Masehi. Pendapat ini didasarkan pada bukti
adanya sebuah batu nisan Fatimah binti Maimun yang berada di dekat Gresik
Jawa Timur. Batu nisan ini berangka tahun 1082 Masehi.
Di samping kedua pendapat di atas, beberapa ahli lain justru meyakini jika
sejarah masuknya Islam ke Indonesia baru dimulai pada abad ke 13 Masehi.
Pendapat ini didasarkan pada beberapa bukti yang lebih kuat, di antaranya
dikaitkan dengan masa runtuhnya Dinasti Abassiah di Baghdad (1258), berita dari
Marocopolo (1292), batu nisan kubur Sultan Malik as Saleh di Samudra Pasai
(1297), dan berita dari Ibnu Battuta (1345). Pendapat tersebut juga diperkuat
dengan masa penyebaran ajaran tasawuf di Indonesia.
Kemudian menurut Anis Matta, agama ini dibawa oleh pedagang dari
Arab yang menetap di kota-kota pelabuhan nusantara. Pada abad ke-8 telah berdiri
perkampungan muslim di pesisir Sumatra. Pada awalnya, Sumatra (dan nusantara
pada umumnya) hanyalah persinggahan para pedagang Arab menuju Tiongkok
dan Jawa. Pada abad ke-13, Samudra Pasai menjadi kerjaan Islam pertama di
Nusantara, disusul berdirinya Kerajaan Demak pada abad ke-15. Awalnya, Raden
Patah adalah wakil kerajaan Majapahit di daerah itu yang kemudian dia
memutuskan masuk Islam dan mendirikan kerajaan sendiri.

5
Islam masuk ke Nusantara secara damai karena merupakan “by product”
dari interaksi perdagangan, bukan agenda utama penyebaran agama apalagi
ekspansi teritorial kerajaan Islam tertentu. Islam di Indonesia berkembang melalui
asimilasi dengan tradisi dan budaya setempat.
Sejak abad ke-13, Islam telah memberi warna dominan di bumi nusantara.
Kerajaan-kerajaan yang berjuang melawan kolonialisme Belanda hampir
semuanya bercorakkan keislaman. Mulai dari Cut Nyak Dien di Aceh, Pangeran
Diponegoro di Jawa, Sultan Hasanuddin di Makassar sampai Sultan Baabullah di
Ternate, semuanya adalah pemimpin komunitas Islam dalam melawan
pendudukan Belanda. Dalam kepercayan mereka, melawan penjajah itu mulia
seperti jihad. Bahkan perang di Aceh disebut sebagai “Perang Salib” oleh rakyat
Aceh untuk menggambarkan betapa perang t ersebut adalah perjuangan melawan
kekufuran yang batil. Perlawanan ini juga kemudian menjadi cikal-bakal
kesadaran nasionalisme di kalangan Islam.
Nurcholis Madjid menjelaskan bahwa perkembangan ilmu pengetahuan di
masyarakat juga tidak terlepas dari peran lembaga pendidikan Islam. Pondok
pesantren berperan penting sebagai penyuplai semangat perlawanan terhadap
imperialisme, walaupun berujung pada terkucilkannya komunitas pesantren dari
pergaulan dan pendidikan modern pada awal abad ke-20 hingga setelah Indonesia
merdeka.

2.3 Sejarah Penyebaran Islam di Indonesia


Pada masa kedatangan agama Islam, penyebaran agama Islam dilakukan
oleh para pedagang Arab dibantu oleh para pedagang Persia dan India. Abad ke 7
Masehi merupakan awal kedatangan agama Islam. Pada masa ini, baru sebagian
kecil penduduk yang bersedia menganutnya karena masih berada dalam
kekuasaan raja-raja Hindu-Budha. Sejarah masuknya Islam ke Indonesia dan
proses penyebarannya berlangsung dalam waktu yang lama yaitu dari abad ke 7
sampai abad ke 13 Masehi. Selama masa itu, para pedagang dari Arab, Gujarat,
dan Persia makin intensif menyebarkan Islam di daerah yang mereka kunjung
terutama di daerah pusat perdagangan. Di samping itu, para pedagang Indonesia

6
yang sudah masuk Islam dan para Mubaligh Indonesia juga ikut berperan dalam
penyebaran Islam di berbagai wilayah Indonesia. Akibatnya, pengaruh Islam di
Indonesia makin bertambah luas di kalangan masyarakat terutama di daerah
pantai. Pada akhir abad ke 12 Masehi, kekuasaan politik dan ekonomi Kerajaan
Sriwijaya mulai merosot. Seiring dengan kemunduran pengaruh Sriwijaya, para
pedagang Islam beserta para mubalighnya kian giat melakukan peran politik.
Misalnya, saaat mendukung daerah pantai yang ingin melepaskan diri dari
kekuasaan Sriwijaya. Menjelang berakhirnya abad ke 13 sekitar tahun 1285
berdiri kerajaan bercorak Islam yang bernama Samudra Pasai. Malaka yang
merupakan pusat perdagangan penting dan juga pusat penyebaran Islam
berkembang pula menjadi kerajaan baru dengan nama Kesultanan Malaka. Pada
awal abad ke 15, kerajaan Majapahit mengalami kemerosotan, bahkan pada tahun
1478 mengalami keruntuhan. Banyak daerah yang berusaha melepaskan diri dari
kerajaan Majapahit. Pada tahun 1500, Demak berdiri sebagai kerajaan Islam
pertama di Jawa. Berkembangnya kerajaan Demak sebagai kerajaan Islam ini
kemudian disusul berdirinya Kesultanan Banten dan Kesultanan Cirebon. Di luar
Jawa juga banyak berkembang kerajaan yang bercorak Islam seperti Kesultanan
Ternate, Kesultanan Gowa, dan kesultanan Banjar. Melalui kerajaan-kerajaan
bercorak Islam itulah, agama Islam makin berkembang pesat dan tersebar di
berbagai wilayah Indonesia. Agama Islam tidak hanya dianut oleh penduduk di
daerah pantai saja, tetapi sudah menyebar ke daerah-daerah pedalaman.

2.4 Saluran Penyebaran Agama Islam di Indonesia


Proses masuk dan berkembangnya agama Islam di Indonesia berlangsung
secara bertahap dan dilakukan secara damai melalui beberapa saluran. Sunanto
(2012: 10-12) menyebutkan beberapa saluran-saluran yang menjadi media
tersebarnya Islam di Indonesia, di antaranya sebagai berikut :
1. Perdagangan, yang mempergunakan sarana pelayaran.
2. Dakwah, yang dilakukan oleh mubaligh yang berdatangan bersama para
pedagang. Para mubaligh itu bisa jadi juga para sufi pengembara.

7
3. Perkawinan, yaitu perkawinan antara pedagang Muslim, mubaligh dengan
anak bangsawan Indonesia. Hal ini akan mempercepat terbentuknya inti
sosial, yaitu keluarga Muslim dan masyarakat Muslim. Dengan
perkawinan itu secara tidak langsung orang muslim tersebut status
sosialnya dipertinggi dengan sifat kharisma kebangsawanan. Lebih-lebih
apabila pedagang besar kawin dengan putri raja, maka keturunannya akan
menjadi pejabat birokrasi, putra mahkota kerajaan, syahbandar, qadi, dan
lain-lain.
4. Pendidikan, setelah kedudukan para pedagang mantap, mereka menguasai
kekuatan ekonomi di bandar-bandar seperti Gresik. Pusat-pusat
perekonomian itu berkembang menjadi pusat-pusat pendidikan dan
penyebaran Islam. Pusat-pusat pendidikan dan da’wah Islam di kerajaan
Samudera Pasai berperan sebagai pusat dakwah pertama yang didatangi
pelajar-pelajar dan mengirim mubaligh lokal, di antaranya mengirim
Maulana Malik Ibrahim ke Jawa. Selain menjadi pusat-pusat pendidikan,
yang disebut pesantren, di Jawa juga merupakan markas penggemblengan
kader-kader politik. Misalnya, Raden Fatah, Raja Islam pertama Demak,
adalah santri pesantren Ampel Denta; Sunan Gunung Jati, Sultan Cirebon
pertama adalah didikan pesantren Gunung Jati dengan Syaikh Dzatu
Kahfi; Maulana Hasanudiidn yang diasuh ayahnya Sunan Gunung Jati
yang kelak menjadi Sunan Banten pertama.
5. Tasawuf dan tarekat. Sudah diterangkan bahwa bersamaan dengan
pedagang, datang pula para ulama, da’i, dan sufi pengembara. Para ulama
atau sufi itu ada yang kemudian diangkat menjadi penasihat dan atau
pejabat agama di kerajaan. Di Aceh ada Syaikh Hamzah Fansuri,
Syamsuddin Sumatrani, Nuruddin ar-Raniri, Abdul Rauf Singkel.
Demikian juga kerajaan-kerajaan di Jawa mempunyai penasihat yang
bergelar wali, yang terkenal adalah Wali Songo.
6. Saluran yang banyak sekali dipakai untuk penyebaran Islam terutama di
Jawa adalah seni. Wali Songo, terutama Sunan Kali Jaga, mempergunakan

8
banyak cabang seni untuk Islamisasi, seni arsitektur, gamelan, wayang,
nyayian, dan seni busana.
Menurut Kuntowijoyo, sistem pendidikan Islam terus mengalami
perubahan sejak permulaan abad ke-20. Sistem pendidikan Islam yang paling
awal adalah pondok pesantren. Jenis pendidikan ini dianggap adaptasi Islam
terhadap lembaga sejenis yang sudah ada sejak periode pra-Islam pada masa
Hindu-Budha.
Dakwah di Indonesia mundur, salah satu indikatornya jumlah umat Islam
di Indonesia menurun terus, 350 tahun kita di jajah Belanda, ketika kita merdeka
jumlah penduduk di Indonesia tahun 1945 sebanyak 60 juta jiwa, 95,4% nya
beragama Islam. Sensus pertama di tahun 1960, jumlah penduduk Indonesia 90
juta, umat Islam di Indonesia masih 95%. Sensus kedua di zaman kemerdekaan
penduduk Indonesia 135 juta, umat Islam Indonesia menjadi 87%. Hasil Susenas
(Sensus Ekomoni Nasional) tahun 2009, umat Islam tinggal 83%. Jumlah
penduduk Indonesia menurun dikarenakan kita tidak melaksanakan dakwah, kita
baru melaksanakan Tabligh. Belum ada sebuah tim yang terstruktur dalam satu
komando untuk menggerakan.
Modal besar bagi Indonesia yang paling memungkinkan mengetahui Islam
secara sempurna, Islam masuk ke Indonesia bukan dengan cara perang, namun
dengan cara penyebaran yang sempurna oleh para wali songo. Berbeda dengan
bangsa lain yang masuk melalui kemiliteran atau peperangan, Fakta menunjukan
bahwa banyak peninggalan Islam di negara yang mayoritas bukan Islam, misal di
India dengan masjid Taj Mahalnya, Turki dengan masjid Cordobanya, dll.
Betapa banyak peranan ulama dalam penyebaran Islam di Indonesia.
Diantaranya adalah fakta bahwa nama Jayakarta diangkat dari Al-Quran Surat Al-
Fath 48 : 1. Inna Fathana laka Fathan Mubina. Makna Fathan Mubina adalah
Kemenangan Paripurna atau Jyakarta. Yang dikemudian dari disebut Jakarta.
Nama Jayakarta melambangkan rasa syukur kepada Allah SWT atas
kemenangannya dalam menggagalkan usaha penjajahan Kerajaan Katolik
Portugis di Pelabuhan Kalapa atau Sunda Kalapa. Ternyata nama Jayakarta
sebagai karya salah seorang wali dari Wali Songo dan bersumberkan Al-Quran

9
dan terjadi bertepatan dengan Bulan Ramadhan. Kisah heroik Wali Songo yang
terlupakan, sang peletak fondasi dasar nama Ibu Kota Negara Kesatuan Republik
Indonesia yang pada kenyataannya pada buku-buku sejarah hanya mengkisahkan
tentang dongeng semata.

2.5 Sejarah Berdirinya KAMMI


KAMMI (Kesatuan Aksi Mahasiswa Muslim Indonesia) merupakan
sebuah organisasi mahasiswa muslim yang lahir di era reformasi yaitu tepatnya
tanggal 29 Maret 1998 di Malang. Anggotanya tersebar di hampir seluruh
PTN/PTS di Indonesia. KAMMI muncul sebagai salah satu kekuatan alternatif
Mahasiswa yang berbasis mahasiswa Muslim dengan mengambil momentum pada
pelaksanaan Forum Silahturahmi Lembaga Dakwah Kampus (FS-LDK) X se-
Indonesia yang diselenggarakan di Universitas Muhammadiyah Malang (UMM).
Acara ini dihadiri oleh 59 LDK yang berafiliasi dari 63 kampus (PTN-PTS)
diseluruh Indonesia . Jumlah peserta keseluruhan kurang lebih 200 orang yang
notabenenya para aktivis dakwah kampus. KAMMI lahir pada ahad tanggal 29
Maret 1998 pada pukul 13.00 WIB atau bertepatan dengan tanggal 1 Dzulhijah
1418 H yang dituangkan dalam naskah Deklarasi Malang.
KAMMI lahir didasari sebuah keprihatinan yang mendalam terhadap krisis
nasional tahun 1998 yang melanda Indonesia. Krisis kepercayaan terutama pada
sektor kepemimpinan telah membangkitkan kepekaan para pimpinan aktivis
dakwah kampus di seluruh Indonesia yang saat itu berkumpul di UMM – Malang.
KAMMI adalah organisasi ekstra kampus yang menghimpun mahasiswa muslim
seluruh Indonesia secara lintas sektoral, suku, ras dan golongan.

10
3 BAB III
PEMBAHASAN

3.1 Analisis
Melalui sejarah, kita dapat melihat bagaimana perkembangan Islam di
Indonesia. Memahaminya merupakan suatu keharusan bagi kita sebagai warga
negara Indonesia. Dengan mengenal, kita menjadi paham apa yang menjadi
kewajiban kita sebagai anak bangsa dari negara ini. Lebih dalam dari itu, kita
dapat mengenal bagaimana perjuangan orang-orang terdahulu, bagaimana
tantangan-tantangan yang dihadapi dan siapa saja pahlawan yang memiliki peran
penting khususnya dalam membentuk peradaban Islam di Indonesia.
Berdasarkan apa yang penulis pelajari, melalui berbagai literatur seperti
buku dan internet. Dapat diambil garis besar bahwa ternyata banyak sekali peran
yang dilakukan tokoh-tokoh Islam atau para ulama dalam perkembangan
penyebaran agama Islam di Indonesia, tidak hanya tentang Islam, ternyata efek
dari perjuangan mereka pun memiliki kontribusi penting terhadap sejarah negara
Indonesia, yaitu Kemerdekaan Negara Indonesia yang pada awalnya, rakyat
Indonesia seperti tidak tahu bahwa negaranya sedang di jajah. Namun, setelah
beberapa dari anak bangsa ini mengenyam pendidikan di luar negeri, mereka
akhirnya tersadarkan bahwa negara ini sedang di jajah.
Faktanya, dari apa yang penulis pelajari di bangku sekolah (lihat : Sekolah
Dasar dan Sekolah Menengah Pertama) ada beberapa tokoh atau organisasi yang
tidak dimunculkan atau sengaja ditutupi dari konsumsi khalayak publik. Misalnya
tentang penamaan Ibukota Negara Jakarta, ternyata nama ini diambil Al-Quran
yang merupakan usulan dari para ulama. Nama Jakarta diambil dari QS. Al-Fath :
1 yang berbunyi “Inna Fathana laka Fathan Mubina”, artinya adalah
Kemenangan Paripurna atau Jyakarta. Dan masih banyak lagi peran ulama atau
para pejuang Islam yang memiliki andil besar terhadap sejarah di Indonesia.
Setelah memahami bagaimana perkembangan Islam di Indonesia, pada
era reformasi tahun 1998 lahirlah KAMMI (Kesatuan Mahasiswa Muslim
Indonesia) yang berhasil mengukir sejarah perkembangan Islam di Indonesia.

11
KAMMI lahir sebagai pelopor aksi damai dalam meruntuhkan kepemimpinan
rezim Soeharto yang berkuasa selama 32 tahun. KAMMI hadir menghimpun
segenap mahasiswa muslim Indonesia yang bersedia bekerjasama membangun
negara dan bangsa Indonesia. KAMMI berperan sebagai wadah dan mitra bagi
mahasiswa Indonesia yang ingin menegakkan keadilan dan kebenaran dalam
wadah negara hukum Indonesia melalui tahapan pembangunan nasional yang
sehat dan bertanggung jawab.
Sesuai dengan Visi KAMMI yaitu sebagai wadah perjuangan permanen
yang melahirkan kader-kader pemimpin dalam upaya mewujudkan bangsa dan
negara Indonesia yang Islami. KAMMI mengambil peran sebagai mitra bagi
masyarakat dalam upaya-upaya pembangunan masyarakat sipil, demokratisasi dan
pembangunan kesatuan/persaudaraan ummat dan bangsa melalui
pendampingan/advokasi sosial, kritisi/konstruktif terhadap kebijakan negara yang
memarginalisasi masyarakat. KAMMI hadir sebagai wajihah-wajihah yang
fungsional sesuai dengan perannya sebagai salah satu organisasi keislaman yang
tersebar hampir ke seluruh perguruan tinggi yang terdapat di Indonesia. Hadirnya
KAMMI sebagai salah satu organsasi eks kampus yang saat ini menjadi organisasi
yang dibutuhkan oleh mahasiswa dalam membentuk karakter mereka yang Islami.
Banyak mahasiswa yang lahir dari KAMMI menjadi tokoh yang dipercaya
masyarakat luas, mulai dari anggota eksekutif, legislatif dan yudikatif di negeri
ini.
Ini membuktikan bahwa KAMMI memberikan manfaat yang luar biasa
besarnya dalam kehidupan bernegara. Membentukan karakter diri seorang
mahasiswa yang Islami hingga menjadi bagian penting kehidupan kenegaraan.
“Muslim Negarawan”, sangatlah pantas menghiasi organ jiwa dan raga dalam diri
kader KAMMI.
Berbicara masalah Muslim negarawan, berarti kita membahas
tentang seorang muslim yang peka terhadap segala kebijakan dan peraturan
pemerintah sebagai penguasa tertinggi Negara. Siapa yang akan mengoreksi
tugas-tugas pemerintah, kalau bukan kita sebagai rakyatnya. Seharusnya rakyatlah

12
yang menggenggam kekuasaan tertinggi di setiap negara-negara di seluruh
belahan bumi.
Pada saat ini, peran KAMMI tidak serta merta soal aksi, KAMMI
bukanlah gerakan mahasiswa yang hanya menyuarakan suara penderitaan rakyat
atau perlawanan terhadap para pengausa yang dirasa kurang bijak dalam
mengelola pemerintahan, namun kini KAMMI lahir sebagai gerakan dakwah,
gerakan intelektual, gerakan sosial dan gerakan politik ekstraparlementer. Berikut
akan dibahas lebih dalam mengenai peran atau kontribusi KAMMI :

 KAMMI sebagai Gerakan Dakwah Tauhid


Dakwah tauhid pada hakikatnya bermisi ‘kemerdekaan’. Yaitu melepaskan
segala bentuk penghambaan kepada makhluk (selain Allah) menuju penghambaan
yang seharusnya : kepada Allah. Bahwa menyandarkan sesuatu apapun kepada
selain Allah maka itu akan berbahaya bagi kita sendiri. Sandaran yang lemah,
belum mengantarkan kita kepada kemerdekaan. Sebab sejatinya sandaran yang
berupa makhluk ini tidak memerdekakan, justru menyesatkan.
Islam adalah konsep yang universal. Substansi Islam akan selalu mampu
untuk menjawab apa solusi dari sebuah masalah, dapat diterima semua golongan,
di mana saja dengan ragam geografis, dalam konteks masa lalu maupun masa kini,
mengapa masalah bisa terjadi serta bagaimana penyelesaiannya.
KAMMI hadir sebagai Gerakan Dakwah Tauhid yang bergerak atau
berdakwah membawa prinsip tauhid dan nilai-nilai Islam. Nilai-nilai yang
diberikan bersifat universal, artinya bisa diterima semua kalangan, menjadi ajaran
yang diamini bersama, tidak menjadi pertentangan lagi. Hal ini dilakukan
KAMMI salah satunya dengan membuat acara kajian/seminar keislaman dengan
berpegang teguh pada manhaj yang ada.
Kader KAMMI paham bahwa jika iman dikaitkan dengan amal hasilnya
adalah kepemimpinan (An-Nur : 55) dan jika iman dikaitkan dengan ilmu
hasilnya adalah kemuliaan (Al-Mujadillah : 11). Oleh karena itu, dalam proses
membangun peradaban Islam, kader KAMMI harus terus memperbaharui
keimanannya dengan aqidah yang bersih, ibadah yang benar, akhlak yang kokoh

13
dan berjuang melawan hawa nafsu. Hal ini merupakan konsep dari Manhaj yang
diterapkan oleh KAMMI atau bisa kita sebut sebagai 10 muwassofat muslim. Dan
KAMMI hari ini adalah tempat kita merajut cita-cita kemerdekaan dan peradaban
Islam. KAMMI menjadi kampus, laboratorium dan rumah bagi kita untuk terus
tumbuh dan berkembang menjadi orang-orang yang kuat dalam memikul beban
peradaban.

 KAMMI sebagai Gerakan Sosial Independen


Gerakan sosial independen adalah gerakan pencerahan/pencerdasan
masyarakat yang dibangun atas dasar prihatin. Keresahan karena kita
mingindikasikan ketidakidealan hadir dalam tatanan masyarakat sehingga dirasa
perlu adanya gerakan perbaikan di masyarakat. Sosial independen berarti KAMMI
bergerak secara sukarela. Menilai ada suatu yang timpang maka harus adanya
suatu pembenahan. Nurani akan diuji, pekakah kita dengan realitas masyarakat.
Adakah naluri untuk melakukan pembenahan masyarakat itu. Tidak ada
ketergantungan/ intervensi dari pihak manapun dalam gerakan social yang
KAMMI bangun. Tidak mengekor, tidak dihegemoni. KAMMI bergerak bukan
atas dasar pesanan, atau ikatan dengan pihak manapun.

 KAMMI sebagai Gerakan Intelektual


Intelektual profetik yakni melandasi kegiatan intelektual itu dengan nilai-
nilai yang dicontohkan nabi saw. Keimanan dijadikan dasar untuk
mengeksplorasi, dalam berproses menjalankan aktivitas intelektual. Artinya
kecerdasan yang kita miliki nantinya semakin mendekatkan kita pada-Nya,
semakin meyakinkan kuasa-Nya, mengeksiskan Dzat-Nya. Bukan menjadikan
kita intelektual yang keblinger.
KAMMI berperan membangun wacana yang membumi. Kader-kader
KAMMI harus tahu apa yang sedang terjadi sekarang, mengerti obrolan sesama
mahasiswa, nyambung ketika diajak diskusi oleh mahasiswa di luar KAMMI.
Jangan pernah membatasi ruang diskusi, hanya mau berdiskusi dengan kelompok
tertentu.Tidak lantas menjauhi obrolan sesamanya ketika berbeda dengan kita.

14
Ketika kita menganggap obrolan sesama kita adalah sesuatu yang ‘tidak
bermanfaat’, maka ini (menurut saya) suatu bentuk arogansi, karena menganggap
‘buruk’, lantas kita tinggalkan. Padahal bisa jadi kitalah yang tidak update
kondisi. Kader-kader harus mau membaur dengan sesamanya, lintas
gerakan.Obrolan-obrolan keseharian mahasiswa adalah sesuai naluri
kemanusiaan, kita saja yang kurang open mind, padahal bagaimana bisa
mendapatkan kader yang banyak jika kita tak mau membaur dengan umumnya
mahasiswa.Kita terbiasa dengan naluri langit, namun kesulitan
menerjemahkannya ke dalam bentuk naluri manusia.
Intelektual profetik berarti intelektual yang berupaya menuntun manusia
menuju fitrahnya. Fitrah manusia adalah mendekatkan dirinya pada
pencipta.KAMMI menuntun supaya nalar akal dan nalar wahyu dapat bertemu.
Mendukung tumbuhnya manusia apa adanya, tanpa paksaan harus seperti ini atau
seperti itu. Karena KAMMI mendidik kader menjadi pemimpin tanpa harus
disetir.Kader bertumbuh sesuai minat dan spesialisasinya, tidak ada plotting yang
sifatnya memaksa.Secara natural, yang tujuannya mencerahkan.

 KAMMI sebagai gerakan politik ekstraparlementer


Gerakan ekstra parlementer dapat didefinisikan sebagai tindakan politik
yang dilakukan secara sistematis, melalui cara-cara diluar proses politik pada
lembaga politik formal misalnya parlemen. Tindakan yang terwujud dalam
gerakan seperti aksi massa, pemogokan, pelbagai kajian, diskusi, seminar, baik di
dalam maupun luar kampus yang bertujuan untuk melakukan perubahan
kekuasaan atau menuntut perubahan kebijakan publik.
KAMMI dapat mengintegralkan empat basis gerakannya pada starategi
ekstra parlementer. Pertama, basis sosial (ijtima’iyah), perlu dukungan dari
masyarakat umum, mahasiswa, lembaga swadaya masyarakat, pers, tokoh sebagai
bentuk simpati perjuangan KAMMI. Kedua, basis operasional (harakiyah),
kader-kader KAMMI siap merealisasikan dan mengeksekusi wacana dan strategi
gerakan. Ketiga, basis konsep (fikriyah), penekanan pada penokohan kader,
kompetensi dan penerapan ideologi islam sebagai solusi permasalahan. Keempat,

15
basis kebijakan (siyasiyah), menjadikan KAMMI sebagai leading sector atas
pengkritisan kebijakan dan menjadi problem solver atas kebuntuan politik dan
kebijakan sesuai situasi dan kondisi kontemporer.
KAMMI menggariskan pada pilihan paradigma gerakan ekstra
parlementer bukan tanpa sebab. Tentunya dengan paradigma elitis dan idealis,
karena status kaum muda dan ideologi yang disandangnya bukan karena anggapan
kegagahan gerakan, dan akan selalu menjadi oposisi permanen tetapi pilihan ini
adalah sikap KAMMI hari ini, melakukan langkah-langkah politik, sebagai
implementasi ‘gerakan politik nilai’. Langkah-langkah politik bersifat holistik dan
strategik, bukan taktis dan subordinat.
KAMMI melakukan komunikasi politik dengan semua pihak, menjaga
jarak yang sama dengan tokoh dan partai politik manapun dalam rangka
membangun sinergi dan kesepahaman, melakukan negosiasi politik jangka
panjang dengan calon pemimpin yang ada. Ini strategi ekstra parlementer yang
dilakukan oleh KAMMI.

3.2 Proram Rekomendasi


KAMMI hari ini memerlukan sebuah tinjauan ulang, analisis yang
mendalam dan penilaian yang lengkap atas semua perjalanan organisasi KAMMI
di masa lalu. Seiring dengan perkembangan zaman, KAMMI perlu memunculkan
ide atau penekanan baru dalam mengukir sejarah peradaban Islam. Misalnya dari
segi ke-organisasian, perlu adanya peran dan fungsi KAMMI Luar Negeri (LN)
dalam rangka menguatkan peran KAMMI dalam berkontribusi pada pemecahan
problematika umat dan bangsa. Dari segi Internal, meneguhkan dan mempertegas
posisi kaderisasi KAMMI, sebagai pengkaderan inti, karena kader KAMMI
adalah aset terbesar bangsa ini dalam menyelesaikan permasalahan-permasalahan
bangsa. Melalui kaderisasi KAMMI pun harapannya dapat mencetak kader-kader
Muslim Negarawan yang memiliki kapasitas Ideologi Islam yang mengakar, ideal
dan konsisten, basis pengetahuan dan pemikiran yang mapan, berkontribusi pada
pemecahan problematika bangsa dan menjadi perekat komponen bangsa pada
upaya perbaikan.

16
Dari segi eksternal, seperti dalam buku Adiputro, membentuk tim perumus
platform gerakan KAMMI “menuju Bangsa dan Negara Indonesia yang Islami”
dimana selama ini indikator dan sasaran strategis belum dirumuskan secara
komprehensif dan terukur, yang dimana dalam platform tersebut juga bisa
dimasukkan ide/gagasan “Indonesia akan menguasai dunia” (seperti kongres
pemuda India yang menghasilkan India menguasai Dunia) selain ide-ide internal
Organisasi seperti gerakan sosial politik KAMMI, “Jihad Konstitusional
KAMMI” dan menuju 2 dekade reformasi (ide pemberantas korupsi, reformasi
birokrasi, dan otonomi daerah”.

17
4 BAB IV
PENUTUP
4.1 Kesimpulan
Berdasarkan pada makalah yang berjudul “Telaah Kontribusi KAMMI
dalam Perkembangan Islam di Indonesia, dapat diambil kesimpulan :
1. Islam masuk ke Indonesia yaitu abad ke-7 dan ke-13 Masehi, agama ini
dibawa oleh pedagang dari Arab yang menetap di kota-kota pelabuhan
nusantara. Sejak awal abad ke-13 muncul kerajaan-kerajaan yang berjuang
melawan kolonialisme Belanda yang hampir semuanya bercorakkan
keislaman. Pada awal abad ke-20 Pondok Pesantren berperan penting
sebagai penyuplai semangat perlawanan terhadap imperialisme. Hingga
peran ulama atau para pejuang Islam yang memiliki andil besar terhadap
momen kemerdekaan Bangsa Indonesia.
2. Kontribusi KAMMI dalam perkembangan Islam di Indonesia terjadi pada
era reformasi tahun 1998. KAMMI lahir sebagai pelopor aksi damai dalam
meruntuhkan kepemimpinan rezim Soeharto yang berkuasa selama 32
tahun. KAMMI hadir menghimpun segenap mahasiswa muslim Indonesia
yang bersedia bekerjasama membangun negara dan bangsa Indonesia.
KAMMI berperan sebagai wadah dan mitra bagi mahasiswa Indonesia
yang ingin menegakkan keadilan dan kebenaran dalam wadah negara
hukum Indonesia melalui tahapan pembangunan nasional yang sehat dan
bertanggung jawab. Pada saat ini, peran KAMMI tidak serta merta soal
aksi. Namun kini KAMMI lahir sebagai gerakan dakwah, gerakan
intelektual, gerakan sosial dan gerakan politik ekstraparlementer.
3. KAMMI perlu memunculkan ide atau penekanan baru dalam mengukir
sejarah peradaban Islam. Dari segi Internal, meneguhkan dan mempertegas
posisi kaderisasi KAMMI. Dari segi eksternal membentuk tim perumus
platform gerakan KAMMI “menuju Bangsa dan Negara Indonesia yang
Islami”. Dan dari segi ke-organisasian, perlu adanya peran dan fungsi
KAMMI Luar Negeri (LN) dalam rangka menguatkan peran KAMMI
dalam berkontribusi pada pemecahan problematika umat dan bangsa

18
4.2 Saran

19
DAFTAR PUSTAKA

Matta, Anis. Gelombang Ketiga Indonesia. Bandung : The Futute Institute, 2014

Suryanegara, Ahmad Mansur. Api Sejarah : Buku yang akan mengubah Drastis
Pandangan Anda tentang Sejarah Indonesia. Bandung : Salamadi Pustaka Media,
2002

Madjid, Nurcholish. Indonesia Kita. Jakarta: Gramedia Pustaka Utama, 2004

Sunanto, M. Sejarah Peradaban Indonesia. Jakarta: Rajawali Pers, 2012

Kuntowijoyo. PARADIGMA ISLAM : Interpretasi untuk Aksi. Bandung : Mizan


Media Utama, 2008

Adiputro, Susanto Triyogo. Jalan Kontribusi, Sebuah Upaya Menyelesaikan


Problematika Bangsa. Bandung : Pustaka SAGA, 2015

https://id.wikipedia.org/wiki/Kesatuan_Aksi_Mahasiswa_Muslim_Indonesia
diakses pada 16 Maret 2017

20