You are on page 1of 19

ASUHAN KEPERAWATAN PADA ANAK DENGAN

FEBRIS/ DEMAM

A. Konsep Dasar Penyakit


1. Definisi
Demam adalah peningkatan titik patokan (set point) suhu di hipotalamus (Elizabeth J.
Corwin, 2000). Dikatakan demam jika suhu orang menjadi lebih dari 37,5 ºC (E.
Oswari, 2006). Demam terjadi karena pelepasan pirogen dari dalam leukosit yang
sebelumnya telah terangsang oleh pirogen eksogen yang dapat berasal dari
mikroorganisme atau merupakan suatu hasil reaksi imunologik yang tidak
berdasarkan suatu infeksi (Sjaifoellah Noer, 2004).

Menurut Suriadi (2001), demam adalah meningkatnya temperatur suhu tubuh secara
abnormal. Febris/demam adalah kenaikan suhu tubuh diatas variasi sirkardian yang
normal sebagai akibat dari perubahan pada pusat termoregulasi yang terletak dalam
hipotalamus anterior (Isselbacher, 1999).

Demam berarti suhu tubuh diatas batas normal biasa, dapat disebabkan oleh
kelainan dalam otak sendiri atau oleh zat toksik yang mempengaruhi pusat pengaturan
suhu, penyakit-penyakit bakteri, tumor otak atau dehidrasi(Guyton, 1990).
Demam adalah keadaan dimana terjadi kenaikan suhu hingga 38⁰C atau lebih. Ada
juga yang yang mengambil batasan lebih dari 37,8⁰C.Sedangkan bila suhu tubuh lebih
dari 40⁰C disebut demam tinggi (hiperpireksia)(Julia, 2000).

Demam adalah kenaikan suhu tubuh karena adanya perubahan pusat termoregulasi
hipotalamus (Berhman, 1999). Seseorang mengalami demam bila suhu tubuhnya
diatas 37,8ºC (suhu oral atau aksila) atau suhu rektal (Donna L. Wong, 2003).
Tipe demam yang mungkin kita jumpai antara lain:
a. Demam septik
Suhu badan berangsur naik ketingkat yang tinggi sekali pada malam hari dan turun
kembali ketingkat diatas normal pada pagi hari. Sering disertai keluhan menggigil
dan berkeringat. Bila demam yang tinggi tersebut turun ketingkat yang normal
dinamakan juga demam hektik.
b. Demam remiten
Suhu badan dapat turun setiap hari tetapi tidak pernah mencapai suhu badan
normal. Penyebab suhu yang mungkin tercatat dapat mencapai dua derajat dan
tidak sebesar perbedaan suhu yang dicatat demam septik.
c. Demam intermiten
Suhu badan turun ketingkat yang normal selama beberapa jam dalam satu hari.
Bila demam seperti ini terjadi dalam dua hari sekali disebut tersiana dan bila
terjadi dua hari terbebas demam diantara dua serangan demam disebut kuartana.
d. Demam kontinyu
Variasi suhu sepanjang hari tidak berbeda lebih dari satu derajat. Pada tingkat
demam yang terus menerus tinggi sekali disebut hiperpireksia.
e. Demam siklik
Terjadi kenaikan suhu badan selama beberapa hari yang diikuti oleh beberapa
periode bebas demam untuk beberapa hari yang kemudian diikuti oleh kenaikan
suhu seperti semula.Suatu tipe demam kadang-kadang dikaitkan dengan suatu
penyakit tertentu misalnya tipe demam intermiten untuk malaria. Seorang pasien
dengan keluhan demam mungkin dapat dihubungkan segera dengan suatu sebab
yang jelas seperti : abses, pneumonia, infeksi saluran kencing, malaria, tetapi
kadang sama sekali tidak dapat dihubungkan segera dengan suatu sebab yang
jelas. Dalam praktek 90% dari para pasien dengan demam yang baru saja
dialami, pada dasarnya merupakan suatu penyakit yang self-limiting seperti
influensa atau penyakit virus sejenis lainnya. Namun hal ini tidak berarti kita
tidak harus tetap waspada terhadap infeksi bakterial.

Jenis Demam Ciri-ciri


Demam septik Malam hari suhu naik sekali, pagi hari turun hingga
diatas normal, sering disertai menggigil dan berkeringat
Demam remitten Suhu badan dapat turun setiap hari tapi tidak pernah
mencapai normal. Perbedaan suhu mungkin mencapai 2
derajat namun perbedaannya tidak sebesar demam
septik.
Demam intermiten Suhu badan turun menjadi normal selama beberapa jam
dalam satu hari. Bila demam terjadi dua hari sekali
disebut tertiana dan apabila terjadi 2 hari bebas demam
diantara 2 serangan demam disebut kuartana.
Demam kontinyu Variasi suhu sepanjang hari tidak berbeda lebih dari satu
derajat. Pada tingkat demam yang terus menerus tinggi
sekali disebut hiperpireksia
2. Etiologi
Demam terjadi bila pembentukan panas melebihi pengeluaran. Demam dapat
berhubungan dengan infeksi, penyakit kolagen, keganasan, penyakit metabolik
maupun penyakit lain (Julia, 2000).
Menurut Guyton (2000), demam dapat disebabkan karena kelainan dalam otak sendiri
atau zat toksik yang mempengaruhi pusat pengaturan suhu, penyakit-penyakit bakteri,
tumor otak atau dehidrasi.
Penyebab demam selain infeksi juga dapat disebabkan oleh keadaan toksemia,
keganasan atau reaksi terhadap pemakaian obat, juga pada gangguan pusat regulasi
suhu sentral (misalnya: perdarahan otak, koma). Pada dasarnya untuk mencapai
ketepatan diagnosis penyebab demam diperlukan antara lain: ketelitian penggambilan
riwayat penyakit pasien, pelaksanaan pemeriksaan fisik, observasi perjalanan
penyakit dan evaluasi pemeriksaan laboratorium serta penunjang lain secara tepat dan
holistik. Beberapa hal khusus perlu diperhatikan pada demam adalah cara timbul
demam, lama demam, tinggi demam serta keluhan dan gejala yang menyertai demam.
Sedangkan menurut Pelayanan Kesehatan Maternal dan Neonatal 2000 bahwa etiologi
febris,diantaranya :
a. Suhu lingkungan.
b. Adanya infeksi.
c. Pneumonia.
d. Malaria.
e. Otitis media.
f. Imunisasi

3. Manifestasi Klinis
Tanda dan gejala terjadinya febris adalah:
a. Anak rewel (suhu lebih tinggi dari 37,8⁰C - 40⁰C)
b. Kulit kemerahan
c. Hangat pada sentuhan
d. Peningkatan frekuensi pernapasan
e. Menggigil
f. Dehidrasi
g. Kehilangan nafsu makan
Banyak gejala yang menyertai demam termasuk gejala nyeri punggung,
anoreksia dan somlolen. Batasan mayornya yaitu suhu tubuh lebih tinggi dari
37,5⁰C - 40⁰C, kulit hangat, takichardi, sedangkan batasan karakteristik minor
yang muncul yaitu kulit kemerahan, peningkatan kedalaman pernapasan,
menggigil/merinding perasaan hangat dan dingin, nyeri dan sakit yang spesifik
atau umum (misal: sakit kepala verigo), keletihan, kelemahan, dan berkeringat
(Isselbacher. 1999, Carpenito. 2000).

4. Patofisiologi
Demam adalah sebagai mekanisme pertahanan tubuh (respon imun) anak terhadap
infeksi atau zat asing yang masuk ke dalam tubuhnya. Bila ada infeksi atau zat asing
masuk ke tubuh akan merangsang sistem pertahanan tubuh dengan dilepaskannya
pirogen. Pirogen adalah zat penyebab demam, ada yang berasal dari dalam tubuh
(pirogen endogen) dan luar tubuh (pirogen eksogen) yang bisa berasal dari infeksi
oleh mikroorganisme atau merupakan reaksi imunologik terhadap benda asing (non
infeksi). Zat pirogen ini dapat berupa protein, pecahan protein, dan zat lain, terutama
toksin polisakarida, yang dilepas oleh bakteri toksik yang dihasilkan dari degenerasi
jaringan tubuh menyebabkan demam selama keadaan sakit.
Mekanisme demam dimulai dengan timbulnya reaksi tubuh terhadap pirogen. Pada
mekanisme ini, bakteri atau pecahan jaringan akan difagositosis oleh leukosit darah,
makrofag jaringan, dan limfosit pembunuh bergranula besar. Seluruh sel ini
selanjutnya mencerna hasil pemecahan bakteri ke dalam cairan tubuh, yang disebut
juga zat pirogen leukosit.
Pirogen selanjutnya membawa pesan melalui alat penerima (reseptor) yang terdapat
pada tubuh untuk disampaikan ke pusat pengatur panas di hipotalamus. Dalam
hipotalamus pirogen ini akan dirangsang pelepasan asam arakidonat serta
mengakibatkan peningkatan produksi prostaglandin (PGEZ). Ini akan menimbulkan
reaksi menaikkan suhu tubuh dengan cara menyempitkan pembuluh darah tepi dan
menghambat sekresi kelenjar keringat. Pengeluaran panas menurun, terjadilah
ketidakseimbangan pembentukan dan pengeluaran panas. Inilah yang menimbulkan
demam pada anak. Suhu yang tinggi ini akan merangsang aktivitas “tentara” tubuh
(sel makrofag dan sel limfosit T) untuk memerangi zat asing tersebut dengan
meningkatkan proteolisis yang menghasilkan asam amino yang berperan dalam
pembentukan

6. Pemeriksaan Penunjang
antibodi atau sistem kekebalan tubuh.
Sebelum meningkat ke pemeriksaan-pemeriksaan yang mutakhir, yang siap tersedia
untuk digunakan seperti ultrasonografi, endoskopi atau scanning, masih dapat
diperiksa bebrapa uji coba darah, pembiakan kuman dari cairan tubuh/lesi permukaan
atau sinar tembus rutin.
Dalam tahap berikutnya dapat dipikirkan untuk membuat diagnosis dengan lebih pasti
melalui biopsy pada tempat- tempat yang dicurigai. Juga dapat dilakukan pemeriksaan
seperti angiografi, aortografi, atau limfangiografi

7. Penatalaksanaan
a. Secara Fisik
Mengawasi kondisi klien dengan : Pengukuran suhu secara berkala setiap 4-6
jam. Perhatikan apakah anak tidur gelisah, sering terkejut, atau mengigau.
Perhatikan pula apakah mata anak cenderung melirik ke atas atau apakah anak
mengalami kejang-kejang. Demam yang disertai kejang yang terlalu lama akan
berbahaya bagi perkembangan otak, karena oksigen tidak mampu mencapai otak.
Terputusnya suplai oksigen ke otak akan berakibat rusaknya sel-sel otak. Dalam
keadaan demikian, cacat seumur hidup dapat terjadi berupa rusaknya fungsi
intelektual tertentu.
1. Bukalah pakaian dan selimut yang berlebihan
2. Memperhatikan aliran udara di dalam ruangan
3. Jalan nafas harus terbuka untuk mencegah terputusnya suplai oksigen ke
otak yang akan berakibat rusaknya sel-sel otak.
4. Berikan cairan melalui mulut, minum sebanyak-banyaknyaMinuman yang
diberikan dapat berupa air putih, susu (anak diare menyesuaikan), air buah
atau air teh. Tujuannnya adalah agar cairan tubuh yang menguap akibat
naiknya suhu tubuh memperoleh gantinya.
5. Tidur yang cukup agar metabolisme berkurang
6. Kompres dengan air biasa pada dahi, ketiak,lipat paha. Tujuannya untuk
menurunkan suhu tubuh dipermukaan tubuh anak. Turunnya suhu tubuh
dipermukaan tubuh ini dapat terjadi karena panas tubuh digunakan untuk
menguapkan air pada kain kompres. Jangan menggunakan air es karena
justru akan membuat pembuluh darah menyempit dan panas tidak dapat
keluar. Menggunakan alkohol dapat menyebabkan iritasi dan intoksikasi
(keracunan).
7. Saat ini yang lazim digunakan adalah dengan kompres hangat suam-suam
kuku. Kompres air hangat atau suam-suam kuku maka suhu di luar terasa
hangat dan tubuh akan menginterpretasikan bahwa suhu diluar cukup panas.
Dengan demikian tubuh akan menurunkan kontrol pengatur suhu di otak
supaya tidak meningkatkan pengatur suhu tubuh lagi. Di samping itu
lingkungan luar yang hangat akan membuat pembuluh darah tepi di kulit
melebar atau mengalami vasodilatasi, juga akan membuat pori-pori kulit
terbuka sehingga akan mempermudah pengeluaran panas dari tubuh.
b. Obat-obatan Antipiretik
Antipiretik bekerja secara sentral menurunkan suhu di pusat pengatur suhu di
hipotalamus. Antipiretik berguna untuk mencegah pembentukan prostaglandin
dengan jalan menghambat enzim cyclooxygenase sehinga set point hipotalamus
direndahkan kembali menjadi normal yang mana diperintah memproduksi panas
diatas normal dan mengurangi pengeluaran panas tidak ada lagi. Petunjuk
pemberian antipiretik:
1. Bayi 6 – 12 bulan : ½-1 sendok the sirup parasetamol
2. Anak 1 – 6 tahun : ¼-½ parasetamol 500 mg atau 1-1½ sendokteh sirup
parasetamol
3. Anak 6 – 12 tahun : ½-1 tablet parasetamol 500 mg atau 2 sendok teh sirup
parasetamol.
Tablet parasetamol dapat diberikan dengan digerus lalu dilarutkan dengan air
atau teh manis. Obat penurun panas in diberikan 3 kali sehari.Gunakan sendok
takaran obat dengan ukuran 5 ml setiap sendoknya.
Pemberian obat antipiretik merupakan pilihan pertama dalam menurunkan
demam dan sangat berguna khususnya pada pasien berisiko, yaitu anak dengan
kelainan kardiopulmonal kronis kelainan metabolik, penyakit neurologis dan
pada anak yang berisiko kejang demam.Obat-obat anti inflamasi, analgetik dan
antipiretik terdiri dari golongan yang bermacam-macam dan sering berbeda
dalam susunan kimianya tetapi mempunyai kesamaan dalam efek
pengobatannya. Tujuannya menurunkan set point hipotalamus melalui
pencegahan pembentukan prostaglandin dengan jalan menghambat enzim
cyclooxygenase. Asetaminofen merupakan derivat para -aminofenol yang
bekerja menekan pembentukan prostaglandin yang disintesis dalam susunan saraf
pusat. Dosis terapeutik antara 10-15 mgr/kgBB/kali tiap 4 jam maksimal 5 kali
sehari. Dosis maksimal 90 mgr/kbBB/hari Pada umumnya dosis ini dapat d
itoleransi dengan baik.Dosis besar jangka lama dapat menyebabkan intoksikasi
dan kerusakkan hepar.Pemberiannya dapat secara per oral maupun
rektal.Turunan asam propionat seperti ibuprofen juga bekerja meneka n
pembentukan prostaglandin.Obat ini bersifat antipiretik, analgetik dan
antiinflamasi. Efek samping yang timbul berupa mual, perut kembung dan
perdarahan, tetapi lebih jarang dibandingkan aspirin. Efek samping hematologis
yang berat meliputi agranulositosis dan anemia aplastik.Efek terhadap ginjal
berupa gagal ginjal akut (terutama bila dikombinasikan dengan
asetaminopen).Dosis terapeutik yaitu 5-10 mgr/kgBB/kali tiap 6 sampai 8
jam.Metamizole (antalgin) bekerja menekan pembentukkan
prostaglandin.Mempunyai efek antipiretik, analgetik da n antiinflamasi. Efek
samping pemberiannya berupa agranulositosis, anemia aplast ik dan perdara han
saluran cerna. Dosis terap eutik 10 mgr/kgBB/kali tiap 6 -8 jam dan tidak
dianjurkan unt uk anak kurang dari 6 bulan.Pemberiannya secara per oral,
intramuskular atau intravena. Asam mefenamat suatu obat gol ongan
fenamat.Khasiat analgetiknya lebih kuat dibandingkan sebagai antipiretik.Efek
sampingnya berupa dispepsia dan anemia hemolitik.Dosis pemberiannya 20
mgr/kgBB/hari dibagi 3 dosis. Pemberiannya secara per oral dan tidak boleh
diberikan anak usia kurang dari 6 bulan.

8. Komplikasi
a. Dehidrasi : demam ↑penguapan cairan tubuh
b. Kejang demam : jarang sekali terjadi (1 dari 30 anak demam). Sering terjadi pada
anak usia 6 bulan sampai 5 tahun. Serangan dalam 24 jam pertama demam dan
umumnya sebentar, tidak berulang. Kejang demam ini juga tidak membahayakan
otak

B. REAKSI-REAKSI SAAT HOSPITALISASI ( SAAT DI R.S ) SESUAI DENGAN


PERKEMBANGAN ANAK
1. Bayi (0-1 tahun)
Bila bayi berpisah dengan orang tua, maka pembentukan rasa percaya dan pembinaan
kasih sayangnya terganggu.
Pada bayi usia 6 bulan sulit untuk memahami secara maksimal bagaimana reaksi bayi
bila dirawat, Karena bayi belum dapat mengungkapkan apa yang dirasakannya.
Sedangkan pada bayi dengan usia yang lebih dari 6 bulan, akan banyak menunjukkan
perubahan.
Pada bayi usia 8 bulan atau lebih telah mengenal ibunya sebagai orang yang berbeda-
beda dengan dirinya, sehingga akan terjadi “Stranger Anxiety” (cemas pada orang yang
tidak dikenal), sehingga bayi akan menolak orang baru yang belum dikenal.
Kecemasan ini dimanifestasikan dengan meanagis, marah dan pergerakan yang
berlebihan.Disamping itu bayi juga telah merasa memiliki ibunya ibunya, sehingga
jika berpisah dengan ibunya akan menimbulkan “Separation Anxiety” (cemas akan
berpisah). Hal ini akan kelihatan jika bayi ditinggalkan oleh ibunya, maka akan
menangis sejadi-jadinya, melekat dan sangat tergantung dengan kuat.

2. Toddler (1-3 tahun)


Toddler belum mampu berkomunikasi dengan menggunkan bahasa yang memadai dan
pengertian terhadap realita terbatas. Hubungan anak dengan ibu sangat dekat sehingga
perpisahan dengan ibu akan menimbulkan rasa kehilangan orang yang terdekat bagi diri
anak dan lingkungan yang dikenal serta akan mengakibatkan perasaan tidak aman dan
rasa cemas. Disebutkan bahwa sumber stress utama pada anak yaitu akibat perpisahan
(usia 15-30 bulan). Anxietas perpisahan disebut juga “Analitic Depression”
Respon perilaku anak akibat perpisahn dibagi dalam 3 tahap, yaitu :
a. Tahap Protes (Protest)
Pada tahap ini dimanifestasikan dengan menangis kuat, menjerit dan memanggil
ibunya atau menggunakan tingkah laku agresif agar orang lain tahu bahwa ia tidak
ingin ditinggalkan orang tuanya serta menolak perhatian orang lain.
b. Tahap Putus Asa (Despair)
Pada tahap ini anak tampak tenang, menangis berkurang, tidak aktif, kurang minat
untuk bermain, tidak nafsu makan, menarik diri, sedih dan apatis.
c. Tahap menolak (Denial/Detachment)
Pada tahap ini secara samar-samar anak menerima perpisahan, membina hubungan
dangkal dengan orang lain serta kelihatan mulai menyukai lingkungan.
Toddler telah mampu menunjukkan kestabilan dalam mengontrol dirinya dengan
mempertahankan kegiatan rutin seperti makan, tidur, mandi, toileting dan bermain.
Akibat sakit dan dirawat di Rumah Sakit, anak akan kehilangan kebebasan dan
pandangan egosentrisnya dalam mengembangkan otonominya. Hal ini akan
menimbulkan regresi. Ketergantungan merupakan karakteristik dari peran sakit. Anak
akan bereaksi terhadap ketergantungan dengan negatifistik dan agresif. Jika terjadi
ketergantungan dalam jangka waktu lama (karena penyakit kronik) maka anak akan
berespon dengan menarik diri dari hubungan interpersonal.

3. Pra Sekolah (3-6 tahun)


Anak usia Pra Sekolah telah dapat menerima perpisahan dengan orang tuannya dan anak
juga dapat membentuk rasa percaya dengan orang lain. Walaupun demikian anak tetap
membutuhkan perlindungan dari keluarganya. Akibat perpisahan akan menimbulkan
reaksi seperti : menolak makan, menangis pelan-pelan, sering bertanya misalnya : kapan
orang tuanya berkunjung, tidak kooperatif terhadap aktifitas sehari-hari.
Kehilangan kontrol terjadi karena adanya pembatasan aktifitas sehari-hari dan karena
kehilangan kekuatan diri.Anak pra sekolah membayangkan bahwa dirawat di rumah
sakit merupakan suatu hukuman, dipisahkan, merasa tidak aman dan kemandiriannya
dihambat. Anak akan berespon dengan perasaan malu, bersalah dan takut.
Anak usia pra sekolah sangat memperhatikan penampilan dan fungsi tubuh. Mereka
menjadi ingin tahu dan bingung melihat seseorang dengan gangguan penglihatan atau
keadaan tidak normal.
Pada usia ini anak merasa takut bila mengalami perlukaan, anak memgangap bahwa
tindakan dan prosedur mengancam integritas tubuhnya. Anak akan bereaksi dengan
agresif, ekspresif verbal dan depandensi.
Disamping itu anak juga akan menangis, bingung, khususnya bila keluar darah dari
tubuhnya. Maka sulit bagi anak untuk percaya bahwa infeksi, mengukur tekanan darah,
mengukur suhu perrektal dan prosedur tindakan lainnya tidak akan menimbulkan
perlukaan.

4. Sekolah (6-12 tahun)


Anak usia sekolah yang dirawat di rumah sakit akan merasa khawatir akan perpisahan
dengan sekolah dan teman sebayanya, takut kehilangan ketrampilan, merasa kesepian
dan sendiri. Anak membutuhkan rasa aman dan perlindungan dari orang tua namun tidak
memerlukan selalu ditemani oleh orang tuanya.
Pada usia ini anak berusaha independen dan produktif. Akibat dirawat di rumah sakit
menyebabkan perasaan kehilangan kontrol dan kekuatan. Hal ini terjadi karena
adanya perubahan dalam peran, kelemahan fisik, takut mati dan kehilangan kegiatan
dalam kelompok serta akibat kegiatan rutin rumah sakit seperti bedrest, penggunaan
pispot, kurangnya privacy, pemakaian kursi roda, dll.
Anak telah dapat mengekpresikan perasaannya dan mampu bertoleransi terhadap rasa
nyeri. Anak akaqn berusaha mengontrol tingkah laku pada waktu merasa nyeri atau sakit
denga cara menggigit bibir atau menggengam sesuatu dengan erat.
Anak ingin tahu alas an tindakan yang dilakukan pada diri9nya, sehingga ia selalu
mengamati apa yang dikatakan perawat. Anak akan merasa takut terhadap mati pada
waktu tidur.

5. Remaja (12-18 tahun)


Kecemasan yang timbul pada anak remaja yang dirawat di rumah sakit adalah akibat
perpisahan dengan teman-teman sebaya dan kelompok. Anak tidak merasa takut
berpisah dengan orang tua akan tetapi takut kehilangan status dan hubungan dengan
teman sekelompok. Kecemasan lain disebabkan oleh akibat yang ditimbulkan oleh
akibat penyakit fisik, kecacatan serta kurangnya “privacy”.
Sakit dandirawat merupakan ancaman terhadap identitas diri, perkembangan dan
kemampuan anak. Reaksi yang timbul bila anak remaja dirawat, ia akan merasa
kebebasannya terancam sehingga anak tidak kooperatif, menarik diri, marah atau
frustasi.
Remaja sangat cepat mengalami perubahan body image selama perkembangannya.
Adanya perubahan dalam body image akibat penyakit atau pembedahan dapat
menimbulkan stress atau perasaan tidak aman. Remaja akan berespon dengan banyak
bertanya, menarik diri dan menolak orang lain.

REAKSI KELUARGA TERHADAP ANAK YANG SAKIT DAN DIRAWAT


DIRUMAH SAKIT
Seriusnya penyakit baik akut atau kronis mempengaruhi tiap anggota dalam keluarga :
1. Reaksi orang tua
Orang tua akan mengalami stress jika anaknya sakit dan dirawat dirumah sakit.
Kecemasan akan meningkat jika mereka kurang informasi tentang prosedur dan
pengobatan anak serta dampaknya terhadap masa depan anak. Orang tua
bereaksi dengan tidak percaya terutama jika penyakit ananknya secara tiba-tiba dan
serius.
Setelah menyadari tentang keadaan anak, maka mereka akan bereaksi dengan marah dan
merasa bersalah, sering menyalahkan diri karena tidak mampu merawat anak sehingga
anak menjadi sakit.
2. Reaksi Sibling
Reaksi sibling terhadap anak yang sakit dan dirawat dirumah sakit adalah marah,
cemburu, benci dan bersalah.Orang tua seringkali mencurahkan perhatiannya lebih besar
terhadap anak yang sakit dibandingkan dengan anak yang sehat. Hal ini akan
menimbulkan perasaan cemburu pada anak yang sehat dan anak merasa ditolak.

PERAN PERAWAT DALAM MENGURANGI STRES AKIBAT HOSPITALISASI


Anak dan keluarga membutuhkan perawatan yang kompeten untuk meminimalkan efek
negatif dari hospitalisasi. Fokus dari intervensi keperawatan adalah meminimalkan stressor
perpisahan, kehilangan kontrol dan perlukaan tubuh atau rasa nyeri pada anak serta
memberi support kepada keluarga seperti membantu perkembangan hubungan dalam
keluarga dan memberikan informasi :
1. Mencegah atau meminimalkan dampak dari perpisahan, terutama pada anak usia kurang
dari 5 tahun.
1) Rooming In
Yaitu orang tua dan anak tinggal bersama.Jika tidak bisa, sebaiknya orang tua dapat
melihat anak setiap saat untuk mempertahankan kontak tau komunikasi antar orang
tua dan anak.
2) Partisipasi Orang tua
Orang tua diharapkan dapat berpartisipasi dalam merawat anak yang sakit terutama
dalam perawatan yang bisa dilakukan misal : memberikan kesempatan pada orang
tua untuk menyiapkan makanan pada anak atau memandikan. Perawat berperan
sebagai Health Educator terhadap keluarga.
 Membuat ruang perawatan seperti situasi di rumah dengan mendekorasi dinding
memakai poster atau kartu bergambar sehingga anak merasa aman jika berada
diruang tersebut.
 Membantu anak mempertahankan kontak dengan kegiatan sekolah dengan
mendatangkan tutor khusus atau melalui kunjungan teman-teman sekolah, surat
menyurat atau melalui telpon.
2. Mencegah perasaan kehilangan kontrol
1). Physical Restriction (Pembatasan Fisik)
Pembatasan fisik atau imobilisasi pada ekstremitas untuk mempertahankan aliran
infus dapat dicegah jika anak kooperatif. Untuk bayi dan toddler, kontak orang tua –
anak mempunyai arti penting untuk mengurangi stress akibat restrain. Pada tindakan
atau prosedur yang menimbulkan nyeri, orang tua dipersiapkan untuk membantu,
mengobsevasi atau menunggu diluar ruangan. Pada beberapa kasus pasien yang
diisolasi, misal luka bakar berat, dengan menempatkan tempat tidur didekat pintu
atau jendela, memberi musik, dll.
2). Gangguan dalam memenuhi kegiatan sehari-hari
Respon anak terhadap kehilangan, kegiatan rutinitas dapat dilihat dengan adanya
masalah dalam makan, tidur, berpakaian, mandi, toileting dan interaksi social.
Teknik untuk meminimalkan gangguan dalam melakukan kegiatan sehari-hari yaitu
dengan “Time Structuring”.
Pendekatan ini sesuai untuk anak usia sekolah dan remaja yang telah mempunyai
konsep waktu. Hal ini meliputi pembuatan jadual kegiatan penting bagi perawat dan
anak, misal : prosedur pengobatan, latihan, nonton TV, waktu bermain, dll. Jadual
tersebut dibuat dengan kesepakatan antara perawat, orang tua dan anak.
3). Meminimalkan rasa takut terhadap perlakuan tubuh dan rasa nyeri
Persiapan anak terhadap prosedur yang menimbulkan rasa nyeri adalah penting
untuk mengurangi ketakutan. Perawat menjelaskan apa yang akan dilakukan, siapa
yang dapat ditemui oleh anak jika dia merasa takut, dll. Memanipulasi prosedur juga
dapat mengurangi ketakutan akibat perlukaan tubuh, misal : jika anak takut diukur
temperaturnya melalui anus, maka dapat dilakukan melalui ketiak atau axilla.
4). Memaksimalkan manfaat dari hospitalisasi
Walaupun hospitalisasi merupakan stressfull bagi anak dan keluarga, tapi juga
membantu memfasilitasi perubahan kearah positif antara anak dan anggota keluarga :
a) Membantu perkembangan hubungan orang tua – anak
Hospitalisasi memberi kesempatan pada orang tua untuk belajar tentang
pertumbuhan dan perkembangan anak. Jika orang tua tahu reaksi anak terhadap
stress seperti regresi dan agresif, maka mereka dapat memberi support dan juga
akan memperluas pandangan orang tua dalam merawat anak yang sakit.
b) Memberi kesempatan untuk pendidikan
Hospitalisasi memberi kesempatan pada anak dan anggota keluarga belajar
tentang tubuh, profesi kesehatan, dll.
c) Meningkatkan Self – Mastery
Pengalaman menghadapi krisis seperti penyakit atau hospitalisasi akan memberi
kesempatan untuk self - mastery. Anak pada usianya lebih mudah punya
kesempatan untuk mengetest fantasi atau realita.Anak yang usianya lebih besar,
punya kesempatan untuk membuat keputusan, tidak tergantung dan percaya diri
perawat dan memfasilitasi perasaan self-mastery dengan menekan kemampuan
personal anak.
d) Memberi kesempatan untuk sosialisasi
Jika anak yang dirawat dalam satu ruangan usianya sebaya maka akan membantu
anak untuk belajar tentang diri mereka. Sosialisasi juga dapat dilakukan dengan
team kesehatan se3lain itu orang tua juga memperoleh kelompok social baru
dengan orang tua anak yang punya masalah yang sama.
e) Memberi support pada anggota keluarga
Dapat mendiskusikan dengan keluarga tentang kebutuhan anak, membantu orang
tua. Mengidentifikasi alas an spesifik dari perasaan dan responnya terhadap
stress memberi kesempatan kepada orang tua untuk mengurangi beban
emosinya.
f). Memberi Informasi
Salah satu intervensi keperawatan yang penting adalah memberikan informasi
sehubungan dengan penyakit, pengobatan, serta prognosa, reaksi emosional anak
terhadap sakit dan dirawat, serta reaksi emosional anggota keluarga terhadap
anak yang sakit dan dirawat.
g). Melibatkan Sibling
Keterlibatan sibling sangat penting untuk mengurangi stress pada anak. Misalnya
keterlibatan dalam program rumah sakit (kelompok bermain), mengunjungi
saudara yang sakit secara teratur, dll.

C. Konsep Dasar Asuhan Keperawatan


I. Pengkajian
a. Pengumpulan Data
1). Identitas: umur untuk menentukan jumlah cairan yang diperlukan
2). Riwayat kesehatan
3). Keluhan utama (keluhan yang dirasakan pasien saat pengkajian) : panas.
4). Riwayat kesehatan sekarang (riwayat penyakit yang diderita pasien saat masuk
rumah sakit): sejak kapan timbul demam, sifat demam, gejala lain yang
menyertai demam (misalnya: mual, muntah, nafsu makn, eliminasi, nyeri otot
dan sendi dll), apakah menggigil, gelisah.
5). Riwayat kesehatan yang lalu (riwayat penyakit yang sama atau penyakit lain yang
pernah diderita oleh pasien).
6). Riwayat kesehatan keluarga (riwayat penyakit yang sama atau penyakit lain yang
pernah diderita oleh anggota keluarga yang lain baik bersifat genetik atau tidak)
7). Pemeriksaan fisik
Keadaan umum: kesadaran, vital sign, status nutrisi
8). Pemeriksaan persistem
a. Sistem persepsi sensori
b. Sistem persyarafan: kesadaran
c. Sistem pernafasan
d. Sistem kardiovaskuler
e. Sistem gastrointestinal
f. Sistem integument
g. Sistem perkemihan
9). Pada fungsi kesehatan
a. Pola persepsi dan pemeliharaan kesehatan
b. Pola nutrisi dan metabolism
c. Pola eliminasi
d. Pola aktivitas dan latihan
e. Pola tidur dan istirahat
f. Pola kognitif dan perseptual
g. Pola toleransi dan koping stress
h. Pola nilai dan keyakinan
i. Pola hubungan dan peran
10). Pemeriksaan penunjang
a. Laboratorium
b. Foto rontgent
c. USG

2. Diagnosa Keperawatan
a. Hipertermia berhubungan dengan proses infeksi, proses penyakit.
b. Resiko injuri berhubungan dengan infeksi mikroorganisme.
c. Resiko kurang cairan berhubungan dengan intake yang kurang dan diaforesis.
d. Ansietas berhubungan dengan hipertermi, efek proses penyakit
No Diagnosa Keperawatan Tujuan dan Kriteria Hasil Intervensi
(NOC) (NIC)
1. Hipertermia Setelah dilakukan tindakan  Fever treatment
berhubungan dengan keperawatan selama…x24jam  Monitir suhu sesering
proses infeksi, proses klien menunjukkan temperatur mungkin
penyakit. dalam batas normal dengan  Monitor IWL
Batasan karakeristik : kriteria hasil:  Monitor warna dan suhu kulit
 Kenaikan suhu  Suhu Tubuh dalam batas  Monitor tekanan darah, nadi
tubuh diatas normal dan RR
rentang normal  Bebas dari kedinginan  Monitor penurunan tingkat
 Serangan atau  Suhu tubuh stabil 36,50- kesadaran
konvulsi (kejang) 0
37,5 c  Monitor WBC, HB dan HCT
 Kulit kemerahan  Termoregulasi dbn  Monitor intake dan output
 Pertambahan RR  Nadi dbn  Kolaborasikan pemberian
 Takikardi <1 bln : 90-170 antipiretik
 Saat disentuh <1 thn : 80-160  Berikan pengobatan untuk
tangan terasa 2 thn : 80-120 mengatasi penyebab demam
hangat 6 thn : 75-115  Selimuti pasien
10 thn : 70-110  Berikan cairan intravena
14 thn : 65-100
 Kompres pasien pada lipat
>14thn : 60-100
paha dan aksila
 Respirasi dbn
 Tingkatkan sirkulasi udara
BBL : 30-50 x/m
 Berikan pengobatan untuk
Anak-anak : 15-30 x/m
mencegah terjadinya
Dewasa : 12-20 x/m
menggigil
 Temperature regulation
 Monitor suhu minimal tiap 2
jam
 Rencanakan monitoring suhu
secara kontinyu
 Monitor TD, nadi dan RR
 Monitor warna dan suhu kulit
 Monitor tanda-tanda
hipertermi dan hipotermi
 Tingkatkan intake cairan dan
nutrisi
 Selimuti pasien untuk
mencegah hilangnya
kehangatan tubuh
 Diskusikan tentang pentingnya
pengaturan suhu dan
kemungkinan efek negative
dari kedinginan
 Berikan antipiretik bila perlu
 Vital Sign Monitoring
 Monitor TD, nadi, suhu dan
RR
 Catat adanya fluktuasi tekanan
darah
 Monitor VS pada saat pasien
berbaring, duduk atau berdiri
 Monitor TD , nadi, RR,
sebelum, selama dan sesudah
aktivitas
 Monitor kualitas dari nadi
 Monitor frekuensi dan irama
dari pernafasan
 Monitor suara paru
 Monitor pola pernafasan
abnormal
 Monitor warna, suhu dan
kelembaban kulit
 Monitor sianosis perifer
 Monitor adanya cushing triad
(tekanan nadi yang melebar,
bradikardi, peningkatan
sistolik)
 Identifikasi penyebab dari
perubahan vital sign
2. Resiko injuri Setelah dilakukan tindakan  Sediakan lingkungan yang
berhubungan dengan keperawatan selama …x24jam aman untuk pasien
infeksi anak bebas dari cidera dengan  Identifikasi kebutuhan
mikroorganisme. kriteria hasil: keamanan pasien sesuai
 Menunjukan homeostatis dengan kondisi fisik dan
 Tidak ada perdarahan fungsi kognitif pasien dan
mukosa dan bebas dari riwayat penyakit terdahulu
komplikasi lain pasien
 Menghindari lingkungan yang
berbahaya misalnya
memindahkan perabotan
 Memasang side rail tempat
tidur
 Menyediakan tempat tidur
yang nyaman dan bersih
 Membatasi pengunjung
 Memberikan penerangan yang
cukup
 Menganjurkan keluarga untuk
menemani pasien
 Mengontrol lingkungan dari
kebisingan
 Memindahkan barang-barang
yang dapat membahayakan
 Berikan penjelasan pada
pasien dan keluarga atau
pengunjung adanya perubahan
status kesehatan dan penyebab
penyakit.
3. Resiko kurang cairan Setelah dilakukan tindakan Fluid management:
berhubungan dengan keperawatan selama …x24jam  Pertahankan catatan intake dan
intake yang kurang volume cairan adekuat dengan output yang akurat
dan diaphoresis, faktor kriteria hasil:  Monitor status dehidrasi
yang mempengaruhi  Mempertahankan urine (kelembaban membrane
kebutuhan cairan output sesuai dengan usia mukosa, nadi adekuat, tekanan
(hipermetabolik). dan BB, BJ urine normal, darah ortostatik)
HT normal  Monitor vital sign
 Tekanan darah, nadi, suhu  Monitor asupan makanan/
tubuh dalam batas normal cairan dan hitung intake kalori
 Tidak ada tanda- tanda harian
dehidrasi, elastisitas  Lakukan terapi IV
turgor kulit baik,  Monitor status nutrisi
membrane mukosa  Berikan cairan
lembab, tidak ada rasa  Berikan cairan IV pada suhu
haus yang berlebihan. ruangan
 Dorong masukan oral
 Berikan penggantian
nasogastrik sesuai output
 Dorong keluarga untuk
membantu pasien makan
 Anjurkan minum kurang lebih
7-8 gelas belimbing perhari
 Kolaborasi dokter jika tanda
cairan berlebih muncul
memburuk
 Atur kemungkinan transfusi
4. Ansietas berhubungan Setelah dilakukan tindakan  Kaji dan identifikasi serta
dengan hipertermi, keperawatan selama 2x24jam luruskan informasi yang
efek proses penyakit ansietas klien/keluarga hilang dimiliki klien/keluarga
dengan kriteria hasil: mengenai hipertermi
 Klien/keluarga dapat  Berikan informasi pada
mengidentifikasi hal-hal klien/keluarga yang akurat
yang dapat meningkatkan tentang penyebab hipertermi
dan menurunkan suhu  Validasi perasaan
tubuh klien/keluarga dan yakinkan
 Klien/keluarga mau klien/keluarga bahwa
berpartisipasi dalam setiap kecemasan merupakan
tidakan yang dilakukan respon yang normal
 Klien/keluarga  Diskusikan dengan
mengungkapkan penurunan klien/keluarga rencana
cemas yang berhubungan tindakan yang dilakukan
dengan hipertermi, proses berhubungan dengan
penyakit hipertermi dan keadaan
penyakit
3. Implementasi Keperawatan
Implementasi merupakan tindakan yang sesuai dengan yang telah direncanakan
mencakup tindakan mandiri dan kolaborasi. Tindakan mandiri adalah tindakan
keperawatan berdasarkan analisis dan kesimpulan perawat serta bukan atas petunjuk
tenaga kesehatan yang lain. Sedangkan tindakan kolaborasi adalah tindakan
keperawatan yang didasarkan oleh hasil keputusan bersama dengan dokter atau petugas
kesehatan lain.

4. Evaluasi Keperawatan
Merupakan penilaian perkembangan ibu hasil implementasi keperawatan yang
berpedoman kepada hasil dan tujuan yang hendak dicapai.

5. Discharge Planning
a. Ajarkan pada orang tua mengenal tanda-tanda kekambuhan dan laporkan
dokter/perawat
b. Instruksikan untuk memberikan pengobatan sesuai dengan dosis dan waktu
c. Ajarkan bagaimana mengukur suhu tubuh dan intervensi
d. Instruksikan untuk control ulang
e. Jelaskan factor penyebab demand an menghindari factor pencetus
DAFTAR PUSTAKA

Corwin, Elizabeth J. 2009. Buku Saku Patofisiologi. Edisi Revisi 3. Jakarta: Penerbit Buku
Kedokteran EGC.
Doenges, M.E, Marry F. MandAlice, C.G. 2000. Rencana Asuhan Keperawatan: Pedoman Untuk
Perencanaan dan Pendokumentasian Perawatan Pasien. Jakarta: EGC.
Guyton, Arthur C. (1990). Fisiologi manusia dan mekanisme penyakit. Ed. 3. Jakarta, EGC.
Guyton, Arthur C. (1997). Buku Ajar Fisiologi Kedokteran. Ed. 9. Jakarta, EGC.
http://khakarangga.blogspot.com/2013/01/asuhan-keperawatan-pasien-dengan-febris.htmldiakses
pada Rabu, 16 Juli 2014, pukul : 20.00 WITA
http://putririzkadewi.blogspot.com/2011/11/febris-demam.html diakses pada Rabu, 16 Juli 2014,
pukul : 20.00 WITA
http://riezkhyamalia.wordpress.com/2013/11/27/laporan-pendahuluan-demam-febris.htmldiakses
pada Rabu, 16 Juli 2014, pukul : 20.00 WITA
Julia Klaartje Kadang, SpA (2000). Metode Tepat Mengatasi Demam.
Dalamhttp://rentalhikari.wordpress.com/2010/03/22/lp-febris-demam.html diakses pada
Rabu, 16 Juli 2014, pukul : 20.00 WITA
NANDA NIC-NOC. 2012. Aplikasi Asuhan Keperawatan Berdasarkan NANDA. Yogyakarta:
Media Hardy
Wong, Dona L, dkk,. 2003. Maternal child nursing care 2nd edition. Santa Luis: Mosby Inc.