You are on page 1of 27

PEMODELAN DAN OPTIMASI JARINGAN VENTILASI TAMBANG BESERTA

PERHITUNGAN KUANTITAS UDARA TERHADAP KEBUTUHAN UNTUK


TENAGA KERJA DAN ALAT YANG BEKERJA DI PT. DEF MENGGUNAKAN
PERANGKAT LUNAK KAZEMARU
KATA PENGANTAR

Segala puji besertakan syukur penulis panjatkan kepada Allah SWT yang telah
memberikan rahmat dan karunia-Nya yang tak henti-hentinya sehingga penulis dapat
menyelesaikan Karya Ilmiah ini dengan judul “Kajian Hubungan Antara Penentuan Titik
Lubang Bor Dengan Hasil Peledakan Fragmentasi Batuan pada PT. HIJ Guna Mencapai
Efisiensi Target Produksi”. Salawat beserta salam penulis sanjung sajikan kepada Nabi Besar
Muhammad SAW yang telah membawa umatnya kea lam yang penuh dengan ilmu
pengetahuan.
Penulis menyadari dalam penyusunan karya ilmiah ini masih banyak kekurangan.
Dengan demikian, penulis sangat mengharapkan kritik dan saran dari pembaca agar dapat
dilakukan perbaikan di masa yang akan dating. Semoga karya ilmiah ini berguna dan dapat
dimanfaatkan bagi seluruh pembaca.

Banda Aceh, Mei 2017


BAB I
PENDAHULUAN
1.1 LATAR BELAKANG
Sistem penambangan yang diterapkan oleh PT. DEF adalah sistem penambangan
bawah tanah (underground) dengan metode underhand cut and fill. Untuk menunjang kegiatan
produksi Tambang Bawah Tanah, maka diperlukan suatu system ventilasi yang baik.
Sistem Ventilasi tambang merupakan suatu usaha pengendalian terhadap
pergerakan udara atau aliran udara tambang termasuk parameter yang harus dipenuhi
pada ventilasi adalah kuantitas, kualitas dan arah alirannya. Tujuan utama dari ventilasi
tambang adalah menyediakan udara segar dengan kuantitas dan kualitas yang cukup baik,
kemudian mengalirkan serta membagi udara segar tersebut ke dalam tambang sehingga
tercipta kondisi kerja yang aman dan nyaman bagi para pekerja tambang maupun proses
penambangan.
Ventilasi udara pada tambang bawah tanah merupakan hal yang sangat penting
peranannya dalam mendukung segala aktifitas di dalam tambang bawah tanah sehingga
Sistem ventilasi tambang yang kurang baik akan dapat menyebabkan efisiensi pekerja
menjadi rendah, menurunkan produktivitas, dan mungkin dapat menimbulkan kecelakaan
kerja. Untuk itu perlu dilakukanya perencanaan Sistem Ventilasi yang cukup baik guna
menunjang kinerja karyawan dan alat yang bekerja, salah satu software yang sering
digunakan untuk memodelkan jaringan ventilasi adalah software kazemaru. Kazemaru
merupakan salah satu software yang digunakan untuk mensimulasikan sistem jaringan
ventilasi dan menghitung kuantitas udara dan presure pada jaringan ventilasi.
Berdasarkan latarbelakang diatas akan dilakukan permodelan sistem jaringan ventilasi
menggunakan software Kazemaru.

1.2 PERUMUSAN MASALAH


Rumusan masalah dari penelitian ini adalah :
1. Merancang Jaringan Sistem Ventilasi untuk memenuhi kebutuhan udara bersih di
dalam tambang
2. Menghitung kuantitas udara yang dibutuhkan untuk tenaga dan alat yang bekerja.
1.3 TUJUAN PENELITIAN

Tujuan penelitian ini adalah untuk Adapun tujuan dari dilakasanakannya penelitian ini
yaitu mendesain sistem jaringan ventilasi menggunakan software Kazemaru.. Penelitian ini
juga bertujuan untuk mencari solusi dari permasalahan yang ada dan memberikan masukan
yang berguna untuk peningkatan efisiensi kerja melalui pemodelan ventilasi.

1.4 MANFAAT PENELITIAN

Manfaat dari penelitian ini adalah untuk Manfaat penelitian ini adalah dengan
pembuatan simulasi jaringan ini maka dapat digunakan sebagai perencanaan distribusi aliran
udara pada tambang bawah tanah selanjutnya.
BAB II
TINJAUAN PUSTAKA

2.1 QUALITY CONTROL UDARA TAMBANG


2.1.1 Perhitungan Keperluan Udara Segar Manusia
Jenis-jenis kegiatan manusia dapat dibedakan atas :
 Dalam keadaan istirahat
 Dalam melakukan kegiatan kerja yang moderat, misalnya kerja kantor
 Dalam melakukan kegiatan kerja keras, misalnya olah raga atau kerja di tambang

Atas dasar jenis kegiatan kerja yang dilakukan ini akan diperlukan juga udara
segar yang berlainan jumlahnya. Dalam suatu pernafasan terjadi kegiatan menghirup
udara segar dan menghembuskan udara hasil pernafasan. Laju pernafasan per menit
didefinisikan sebagai banyaknya udara dihirup dan dihembuskan per satuan waktu satu
menit. Laju pernafasan ini akan berlainan bagi setiap kegiatan manusia yang berbeda,
makin keras kerja yang dilakukan makin besar angka laju pernafasannya.
Perlu juga dalam hal ini didefinisikan arti angka bagi atau nisbah pernafasan
(respiratori quotient) yang didefiniskan sebagai nisbah antara jumlah karbondioksida
yang dihembuskan terhadap jumlah oksigen yang dihirup pada suatu proses pernafasan.
Pada manusia yang bekerja keras, angka bagi pernafasan ini (respiratori quotient) sama
dengan satu, yang berarti bahwa jumlah CO2 yang dihembuskan sama dengan jumlah O2
yang dihirup pada pernafasannya.Tabel 2.1 berikut memberikan gambaran mengenai
keperluan oksigen pada pernafasan pada tiga jenis kegiatan manusia secara umum.

Tabel 2.1 Kebutuhan Udara pernafasan (Hartman, 1982)


Kegiatan Kerja Laju Udara terhirup per Oksigen ter Angka bagi
Pernafasan menit dalam konsumsi pernafasan
Per menit in3/menit (10-4 cfm (10-5 ( respiratori
m3/detik) m3/detik) quotient)
Istirahat 12 – 18 300-800 (0,82-2,18) 0,01 (0,47) 0,75

Kerja Moderat 30 2800-3600 (7,64-9,83) 0,07 (3,3) 0,9


Kerja Keras 40 6000 (16,4) 0,10 (4,7) 1,0

Ada dua cara perhitungan untuk menentukan jumlah udara yang diperlukan perorang
untuk pernafasan, yakni :
Atas dasar kebutuhan O2 minimum, yaitu 19,5 %.
Jumlah udara yang dibutuhkan = Q cfm
Pada pernafasan, jumlah oksigen akan berkurang sebanyak 0,1 cfm ; sehingga akan
dihasilkan persamaan untuk jumlah oksigen sebagai berikut;

0,21 Q - 0,1 = 0,195 Q (2.1)

(Kandungan Oksigen) – (Jumlah Oksigen pada pernafasan) = (Kandungan Oksigen


minimum untuk udara pernapasan)

Q = (0,1/ (0,21 – 0,195)) = 6,7 cfm (=3,2 x 10-3 m3/detik)

Atas dasar kandungan CO2 maksimum, yaitu 0,5 %.


Dengan harga angka bagi pernafasan = 1,0 ; maka jumlah CO2 pada pernafasan akan
bertambah sebanyak 1,0 x 0,1 = 0,1 cfm.
Dengan demikian akan didapat persamaan :

0,0003 Q + 0,1 = 0,005 Q (2.2)

(Kandungan CO2 - (Jumlah CO2 - = (kandungan CO2 maksimum dalam udara normal)
hasil pernafasan) dalam udara)

Q = (0,1/(0,005 – 0,0003)) = 21,3 cfm (= 0,01 m3/detik)

Dari kedua cara perhitungan tadi, yaitu atas kandungan oksigen minimum 19,5
% dalam udara pernafasan dan kandungan maksimum karbon dioksida sebesar 0,5 %
dalam udara untuk pernafasan, diperoleh angka kebutuhan udara segar bagi pernafasan
seseorang sebesar 6,7 cfm dan 21,3 cfm. Dalam hal ini tentunya angka 21,3 cfm yang
digunakan sebagai angka kebutuhan seseorang untuk pernafasan, dalam merancang
kebutuhan udara untuk ventilasi tambang digunakan angka kurang lebih sepuluh kali
lebih besar, yaitu 200 cfm per orang ( = 0,1 m3/detik per orang).
a. Kandungan Oksigen (O2) Di Udara
Oksigen merupakan unsur yang sangat diperlukan untuk kehidupan manusia.
Pada pernafasannya, manusia akan menghirup oksigen, yang kemudian bereaksi
dengan butir darah (haemoglobine) menjadi oksihaemoglobin yang akan mendukung
kehidupan. Dalam udara normal, kandungan oksigen adalah 21 % dan udara
dianggap layak untuk suatu pernafasan apabila kandungan oksigen tidak boleh kurang
dari 19,5 %.
Banyak proses-proses dalam alam yang dapat menyebabkan pengurangan kandungan
oksigen dalam udara; terutama untuk udara tambang bawah tanah. Peristiwa oksidasi,
pembakaran pada mesin bakar dan pernafasan oleh manusia merupakan contoh dari proses
kandungan pengurangan oksigen.
Kandungan oksigen dalam udara juga akan berkurang pada keadaan ketinggian
(altitude) yang makin tinggi.
Kekurangnan oksigen dalam udara yang digunakan bagi pernafasan akan
berpengaruh terhadap keadaan fisiologi manusia, seperti diperlihatkan pada tabel 2.2
berikut;

Tabel 2.2 Pengaruh Kekurangan Oksigen

Kandungan O2
Pengaruh
Di Udara

17 % Laju pernapasan meningkat (ekuivalen dengan


ketinggian 1600 m)
15 % Terasa pusing, suara mendesing dalam telinga dan
jantung berdetak cepat
13 % Kehilangan kesadaran
9% Pucat dan jatuh pingsan
7% Sangat membahayakan kehidupan
6% Kejang-kejang dan kematian
b. Gas-Gas Pengotor
Ada. Ada beberapa macam gas pengotor dalam udara tambang bawah tanah.
Gas-gas ini berasal baik dari proses-proses yang terjadi dalam tambang maupun
berasal dari batuan ataupun bahan galiannya.
Mesin-mesin yang digunakan dalam tambang misalnya merupakan salah satu sumber
dari gas pengotor. Demikian juga proses peledakan yang diterapkan dalam tambang
untuk pemberaian dapat merupakan sumber gas pengotor. Dalam tambang batubara,
gas methan (CH4) merupakan gas yang selalu ada dalam lapisan batubara. Gas-gas
pengotor yang terdapat dalam tambang bawah tanah tersebut, ada yang berifat gas
racun, yakni; gas yang bereaksi dengan darah dan dapat menyebabkan kematian.
Dapat juga gas pengotor ini menyebabkan bahaya, baik terhadap kehidupan manusia
maupun dapat menyebabkan peledakan. Tabel 2.3 menunjukan bermacam gas yang
dapat berada dalam tambang bawah tanah
1. Karbondioksida (CO2)
Gas ini tidak berwarna dan tidak berbau dan tidak mendukung nyala api dan bukan
merupakan gas racun. Gas ini lebih berat dari pada udara, karenanya selalu terdapat pada
bagian bawah dari suatu jalan udara. Dalam udara normal kandungan CO2 adalah 0,03 %.
Dalam tambang bawah tanah sering terkumpul pada bagian bekas-bekas penambangan
terutama yang tidak terkena aliran ventilasi, juga pada dasar sumur-sumur tua. Sumber
dari CO2 berasal dari hasil pembakaran, hasil peledakan atau dari lapisan batuan dan dari
hasil pernafasan manusia.
Pada kandungan CO2 = 0,5 % laju pernafasan manusia mulai meningkat, pada
kandungan CO2 = 3 % laju pernafasan menjadi dua kali lipat dari keadaan normal, dan
pada kandungan CO2 = 5 % laju pernafasan meningkat tiga kali lipat dan pada
CO2 = 10 % manusia hanya dapat bertahan beberapa menit. Kombinasi CO2 dan
udara biasa disebut dengan ‘blacdamp’.
2. Methan (CH4)
Gas methan ini merupakan gas yang selalu berada dalam tambang batubara dan
sering merupakan sumber dari suatu peledakan tambang. Campuran gas methan
dengan udara disebut ‘Firedamp’. Apabila kandungan methan dalam udara tambang
bawah tanah mencapai 1 % maka seluruh hubungan mesin listrik harus dimatikan.
Gas ini mempunyai berat jenis yang lebih kecil dari pada udara dan karenanya
selalu berada pada bagian atas dari jalan udara.
Methan merupakan gas yang tidak beracun, tidak berwarna, tidak berbau dan tidak
mempunyai rasa. Pada saat proses pembatubaraan terjadi maka gas methan terbentuk
bersama-sama dengan gas karbondioksida. Gas methan ini akan tetap berada dalam
lapisan batubara selama tidak ada perubahan tekanan padanya. Terbebasnya gas methan
dari suatu lapisan batubara dapat dinyatakan dalam suatu volume per satuan luas
lapisan batubara, tetapi dapat juga dinyatakan dalam satuan volume per satuan waktu.
Terhadap kandungan gas methan yang masih terperangkap dalam suatu lapisan
batubara dapat dilakukan penyedotan dari gas methan tersebut dengan pompa untuk
dimanfaatkan. Proyek ini dikenal dengan nama ‘seam methane drainage’.
3. Karbon Monoksida (CO)
Gas karbon monoksida merupakan gas yang tidak berwarna, tidak berbau dan tidak
ada rasa, dapat terbakar dan sangat beracun. Gas ini banyak dihasilkan pada saat
terjadi kebakaran pada tambang bawah tanah dan menyebabkan tingkat kematian
yang tinggi. Gas ini mempunyai afinitas yang tinggi terhadap haemoglobin darah,
sehingga sedikit saja kandungan gas CO dalam udara akan segera bersenyawa dengan
butir-butir haemoglobin (COHb) yang akan meracuni tubuh lewat darah. Afinitas CO
terhadap haemoglobin menurut penelitian (Forbes and Grove, 1954) mempunyai
kekuatan 300 kali lebih besar dari pada oksigen dengan haemoglobin. Gas CO
dihasilkan dari hasil pembakaran, operasi motor bakar, proses peledakan dan oksidasi
lapisan batubara.
Karbon monoksida merupakan gas beracun yang sangat mematikan karena
sifatnya yang kumulatif, seperti terlihat pada gambar 2.1. Misalnya gas CO pada
kandungan 0,04 % dalam udara apabila terhirup selama satu jam baru memberikan sedikit
perasaan tidak enak, namun dalam waktu 2 jam dapat menyebabkan rasa pusing dan
setelah 3 jam akan menyebabkan pingsan/ tidak sadarkan diri dan pada waktu lewat 5
jam dapat menyebabkan kematian. Kandungan CO sering juga dinyatakan dalam ppm
(part per milion). Sumber CO yang sering menyebabkan kematian adalah gas
buangan dari mobil dan kadang-kadang juga gas pemanas air. Gas CO mempunyai
berat jenis 0,9672 sehingga selalu terapung dalam udara.
Gambar 2.1 Pengaruh Racun Gas CO Sebagai Fungsi Waktu
4. Hidrogen Sulfida (H2S)
Gas ini sering disebut juga ‘stinkdamp’ (gas busuk) karena baunya seperti bau
telur busuk. Gas ini tidak berwarna, merupkan gas racun dan dapat meledak, merupakan
hasil dekomposisi dari senyawa belerang. Gas ini mempunyai berat jenis yang sedikit
lebih berat dari udara. Merupakan gas yang sangat beracun dengan ambang batas (TLV-
TWA) sebesar 10 ppm pada waktu selama 8 jam terdedah (exposed) dan untuk waktu
singkat (TLV-STEL) adalah 15 ppm. Walaupun gas H2S mempunyai bau yang sangat
jelas, namun kepekaan terhadap bau ini akan dapat rusak akibat reaksi gas H2S
terhadap syaraf penciuman. Pada kandungan H2S = 0,01 % untuk selama waktu 15
menit, maka kepekaan manusia akan bau ini sudah akan hilang.
5. Sulfur Dioksida (SO2)
Sulfur dioksida merupakan gas yang tidak berwarna dan tidak bisa terbakar.
Merupakan gas racun yag terjadi apabila ada senyawa belerang yang terbakar. Lebih berat
dari pada udara, dan akan sangat membantu pada mata, hidung dan tenggorokan.
Harga ambang batas ditetapkan pada keadaan gas = 2 ppm (TLV-TWA) atau pada waktu
terdedah yang singkat (TLV-STEL) = 5 ppm.
6. Nitrogen Oksida (NOX)
Gas nitrogen oksida sebenarnya merupakan gas yang ‘inert’, namun pada keadaan
tekanan tertentu dapat teroksidasi dan dapat menghasilkan gas yang sangat beracun.
Terbentuknya dalam tambang bawah tanah sebagai hasil peledakan dan gas buang
dari motor bakar. NO2 merupakan gas yang lebih sering terdapat dalam tambang dan
merupakan gas racun. Harga ambang batas ditetapkan 5 ppm, baik untuk waktu terdedah
singkat maupun untuk waktu 8 jam kerja. Oksida notrogen yang merupakan gas racun
ini akan bersenyawa dengan kandungan air dalam udara membentuk asam nitrat,
yang dapat merusak paru-paru apabila terhirup oleh manusia.
7. Gas Pengotor Lain
Gas yang dapat dikelompokkan dalam gas pengotor lain adalah gas Hidrogen
yang dapat berasal dari proses pengisian aki (battery) dan gas-gas yang biasa terdapat
pada tambang bahan galian radioaktif seperti gas radon.

c. Pengendalian Gas-Gas Tambang


Beberapa cara pengendalian berikut ini dapat dilakukan terhadap pengotor gas
pada tambang bawah tanah :
 Pencegahan (Preventation)
a. Menerapkan prosedur peledakan yang benar
b. Perawatan dari motor-motor berbahan bakar dengan baik
c. Pencegahan terhadap api
 Pemindahan (Removal)
a. Penyaliran (drainage) gas sebelum penambangan
b. Penggunaan ventilasi isap lokal dengan kipas

Tabel 2.3 Sifat Bermacam Gas


Nama Sim Berat Sifat fisik Pengaruh Sumber Utama Ambang Ambang Kisar
batas batas ledak
Bol Jenis TLU- TLU-C
TWA (%)
Udara
(%)
=1

Oksigen O2 1,1056 Tdk Bukan racun Udara normal


berwarna tdk tdk
berbau,tdk berbahaya
ada rasa
Nitrogen N2 0,9673 Tdk Bukan Udara normal lapisan
berwarna,
tdk Racun tapi
berbau,tdk Menyesak
ada rasa
kan

Karbon CO2 1,5291 Tdk Sesak nafas Pernafasan,lapisan,motor 0,5


Dioksida berwarna, berkeringat bakar,peledakan
tdk
berbau,rasa
agak asam

Methan CH4 0,5545 Tdk Menyesakkan Lapisan, motor bakar, 5–


berwarna, nafas dapat peledakan 15
tdk meledak
berbau,tdk
ada rasa

Karbon CO 0,9672 Tdk Racun dapat Nyala 0,005 12.5


Monoksida berwarna, meledak api,peledakan,motor – 74
tdk bakar,
berbau,tdk
ada rasa oksidasi

Hidrogen H2S 1,1912 Tdk Racun dapat Lapisan air 0,001 4–


sulfida berwarna, meledak 44
bau telur tanah,pele
busuk, rasa dakan
asam

Sulfur SO2 2,2636 Tdk Racun Pembakaran 0,0005


Dioksida berwarna, sulfida,motor bakar
bau
mangganggu,
rasa asam

Nitrogen NO2 1,5895 Bau tajam, Racun Peledakan,motor bakar 0,0005


Oksida warna coklat,
N2O rasa pahit
Hidrogen H2 0,0695 Tdk Dapat Air pada api,panas 4–
berwarna, meledak bateray 74
tdk
berbau,tdk
ada rasa

Radon RA 7,665 Radio aktif lapisan IWL ? -

1. Absorpsi (Absorption)
a. Penggunaan reaksi kimia terhadap gas yang keluar dari mesin
b. Pelarutan dengan percikan air terhadap gas hasil peledakan
2. Isolasi (Isolation)
a. Memberi batas sekat terhadap daerah kerja yang terbakar
b. Penggunaan waktu-waktu peledakan pada saat pergantian gilir atau waktu-
waktu tertentu
3. Pelarutan
a. Pelarutan lokal dengan menggunakan ventilasi lokal
b. Pelarutan dengan aliran udara utama
Biasanya cara pelarutan akan memberikan hasil baik, tetapi sering beberapa cara
tersebut dilakukan bersama-sama.
Jumlah udara segar yang diperlukan untuk mengencerkan suatu masukan gas
sampai pada nilai MAC adalah :

Q = (Qg/ (MAC) – B) – Qg (2.3)

Dimana : Qg = masukan gas pengotor


B = konsentrasi gas dalam udara normal

2.2 PENGENDALIAN KUANTITAS UDARA TAMBANG


Pengendalian kuantitas berkaitan dengan beberapa masalah seperti, perpindahan
udara, arah aliran, dan jumlah aliran udara. Dalam pengendalian kualitas udara tambang
baik secara kimia atau fisik, udara segar perlu dipasok dan pengotor seperti debu, gas, panas,
dan udara lembab harus dikeluarkan oleh sistem ventilasi. Dengan memperhatikan beberapa
faktor tersebut diatas, maka kebutuhan udara segar di tambang bawah tanah kadang-
kadang lebih besar dari pada 200 cfm/orang atau bahkan hingga 2.000 cfm/orang.
Kondisi tambang bawah tanah saat ini sudah banyak yang menyediakan aliran udara untuk
sebanyak 10 – 20 ton udara segar per ton mineral tertambang.

2.2.1 Perubahan Energi Di Dalam Aliran Fluida


Ventilasi tambang biasanya merupakan suatu contoh aliran tunak (steady), artinya
tidak ada satupun variabelnya yang merupakan fungsi waktu. Salah satu tujuan dari
perhitungan ventilasi tambang adalah penentuan kuantitas udara dan rugi-rugi, yang
keduanya dihitung berdasarkan perbedaan energi. Hukum konservasi energi menyatakan
bahwa energi total di dalam suatu sistem adalah tetap, walaupun energi tersebut dapat
diubah dari satu bentuk ke bentuk lainnya.

Gambar 2.2 Sistem aliran fluida

Perhatikan gambar 2.2, dimana;


Energi total 1 = energi total 2 + kehilangan energi (2.4)
Atau; Energi masuk sistem = energi keluar sistem
Jadi didapat persamaan yang disebut persamaan Bernouli :

(P1/w) + (V12/2g) + ( Z1) = (P2/w) + (V22/2g) + ( Z2) + Hl (2.5)


Dimana :
(P/w) = energi statik /head statik
(V2/2g) = energi kecepatan /head kecepatan
Z = energi potensial /head potensial
Hl = energi kehilangan /head kehilangan
Setiap suku dalam persamaan diatas pada dasarnya adalah energi spesifik dalam
satuan ft. lb/lb atau ft. Karena ft adalah ukuran head fluida, maka suku-suku tersebut
dapat dinyatakan sebagai ‘presure head’ atau ‘head’ saja.

Sehingga persamaan (1) dapat ditulis menjadi :

Ht1 = Ht2 + Hl

Dan Persamaan (2) menjadi :

Hs1 + Hv1 + Hz1 = Hs2 + Hv2 + Hz3 + Hl

Dimana ;
Hs = head statik
Hv = head kecepatan
Hz = head potensial

Energi potensial dapat dihitung dengan cara memasukkan besaran perbedaan


tinggi, yakni;

P = w1 H1 = w2 H2

Dimana :
P = tekanan, dalam Pa atau lbs/sq.ft.
W1 = bobor isi udara, dalam kg/m3 atau lbs/cuft.
H = head, dalam m atau ft.
Dengan bobot isi air = 62,4 lb/ft3, pengaruh berda tinggi untuk kolom 1 inci air pada kondisi
udara standar adalah :
H1 = (w2 H2/ w1) = ((62,4 lb/ft3)(1 in)/ (0,0750 lb/ft3))
= 532 in = 69,3 ft udara
Jadi untuk udara diatas permukaan air laut, suatu kenaikan elevasi sebesar 69,3 ft
akan menaikkan head potensial Hz sebesar 1 in dan sebagai kompensasinya head statik akan
turun juga sebesar 1 in. Dalam praktek, konversi sebesar 70 ft udara ekuivalen dengan
1 in air. Jika head potensial (Hz) diperhitungkan dalam persamaan (4) maka head statik
dinyatakan dalam tekanan gauge. Oleh karena itu head statik diukur dari datum tertentu.
Gambar 4 menunjukkan perhitungan energi aliran udara untuk susunan saluran udara
yang diletakkan secara mendatar dan tegak.

Untuk posisi mendatar :


HT1 = Hs1 + Hv1 + Hz1
HT2 = Hs2 + Hv2 + Hz2
HT1 = HT2 + HL

Dengan menggunakan tekanan absolut :


(4 + 408) + 1 + 0 = ( 1 + 408 ) + 1 + 0 + 3
413 = 413

Dengan tekanan gage :


4+1+0 = 1+1+0+3
5 = 5

Gambar 2.3 Susunan saluran udara mendatar dan tegak


Untuk posisi tegak :
HT1 = HT2 + HL

Dengan tekanan absolut :


(4 + 408) + 1 + 0 = (1 + 407 ) + 1 + 1 + 3
413 = 413
Dengan tekanan gage :
4+1+0 ≠ 1+1+1+3
5 ≠ 6
Perhitungan dengan tekanan gage salah karena tidak mempertimbangkan
perubahan datum yang terjadi karena perubahan elevasi.
Pada prakteknya penggunaan tekanan absolut dalam perhitungan ventilasi
membuat rumit. Oleh karena itu diterapkan konvensi penggunaan tekanan gage sebagai
basis perhitungan dengan cara menghilangkan Hz dalam semua perhitungan.
Dengan demikian persamaan energi yang disederhanakan menjadi :
Ht1 = Ht2 + HL
Hs1 + Hv1 = Hs2 + Hv2 + HL (2.8)

Persamaan ini berlaku selama pengukuran dan perhitungan head statik didasarkan pada
tekanan gage. Namun persamaan tersebut tidak berlaku untuk ventilasi alamdimana Hz tidak
bisa diabaikan.

2.2.2 Prinsip Pengaliran Udara Serta Kebutuhan Udara Tambang


1. Head Lose
Aliran udara terjadi karena adanya perbedaan tekanan yang ditimbulkan antar dua
titik dalam sistem. Energi yang diberikan untuk mendapatkan aliran yang tunak
(steady), digunakan untuk menimbulkan perbedaan tekanan dan mengatasi kehilangan
aliran (HL).
Head los dalam aliran udara fluida dibagi atas dua komponen, yaitu : ‘friction
loss (Hf)’ dan ‘shock loss (Hx)’. Dengan demikian head loss adalah:

HL = Hf + Hx (2.9)
Friction loss menggambarkan head loss pada aliran yang linear melalui saluran
dengan luas penampang yang tetap. Sedangkan shock loss adalah kehilangan head yang
dihasilkan dari perubahan aliran atau luas penampang dari saluran, juga dapat terjadi pada
inlet atau titik keluaran dari sistem, belokan atau percabangan, dan halangan-halangan yang
terdapat pada saluran.
2. Mine Head
Untuk menentukan jumlah aliran udara yang harus disediakan untuk mengatasi
kehilangan head (head losses) dan menghasilkan aliran yang diinginkan, diperlukan
penjumlahan dari semua kehilangan energi aliran. Pada suatu sistem ventilasi tambang
dengan satu mesin angin dan satu saluran keluar, komulatif pemakaian energi disebut ‘mine
head’, yaitu perbedaan tekanan yang harus ditimbulkan untuk menyediakan sejumlah
tertentu udara ke dalam tambang.

1. Mine statik head (mine Hs)


Merupakan energi yang dipakai dalam sistem ventilasi untuk mengatasi
seluruh kehilangan head aliran. Hal ini sudah termasuk semua kehilangan
dalam head loss yang terjadi antara titik masuk dan keluaran sistem dan
diberikan dalam bentuk persamaan:
Mine Hs = HL = (Hf + Hx)
2. Mine Velocity Head (mine Hv)
Dinyatakan sebagai velocity head pada titik keluaran sistem. Velocity head
akan berubah dengan adanya luas penampang dan jumlah saluran dan hanya
merupakan fungsi dari bobot iisi udara dan kecepatan aliran udara. Jadi bukan
merupakan suatu head loss komulatif, namun untuk suatu sistem merupakan
kehilangan, karena energi kinetik dari udara dilepaskan ke atmosfer.
3. Mine total head (mine HT)
Merupakan jumlah keseluruhan kehilangan energi dalam sistem ventilasi.
Secara matematis, merupakan jumlah dari mine statik (Hs) dan velocity head
(Hv), yaitu :
Mine HT = mine Hs + mine Hv
3. Gradien Tekanan (Gradien Hidrolik)
Penampilan berbagai komponen head dari persamaan umum energi secara grafis
dapat menjelaskan gradien tekanan. Gambar 5 menunjukkan gradien tekanan untuk suatu
sistem aliran udara sederhana. Tampak dari gambar tersebut bahwa ada 3 gradien yang jelas,
yaitu : elevasi, statik + elevasi (termasuk tekanan atmosfer) dan head total. Dalam ventilasi
tambang, hanya gradien tekanan statik dan total yang di plot. Efek elevasi dapat
diabaikan dan datum yang digunakan paralel dengan garis tekanan barometrik.
Pengaliran udara melalui sistem tekan (boeling) dilakukan dengan meletakkan
sumber penekan udara di lubang masuk dan menaikkan tekanan udara tambang hingga diatas
tekanan atmosfer (lihat gambar 6). Pada gambar 6 tampak bahwa perubahan tekanan
ditunjukkan oleh head kecepatan (Hv), head gesek (Hf), subskrip a, b, c, menggambarkan
posisi saluran, sedangkan subskrip d, e, dan f masing-masing mewakili kondisi shock
losses akibat pengembangan, penyempitan, dan pengeluaran. Perlu diperhatikan bahwa
pada sistem ini semua head positif kecuali pada bagian masuk.

Gambar 2.4 Gradien Tekanan untuk sistem aliran udara sederhna

Gambar 2.4 Gradien Tekanan untuk sistem aliran udara sederhna


Gambar 2.5 Gradien tekanan pada Sistem Ventilasi
Untuk menggambarkan sistem gradien tekanan perlu memperhatikan beberapa hal
berikut :
 Head tekanan total selalu nol pada bagian masuk sistem, tetapi positif dan sama
dengan head kecepatan di bagian keluar.
 Head keamanan statik selalu negatif dan sama dengan head kecepatan pada bagian
masuk tetapi nol pada bagian keluar.
 Head total pada setiap titik digambarkan dahulu, dan head statik berikutnya yang
sama dengan pengurangan head total terhadap head kecepatan.

Bila sumber tekanan aliran udara ditempatkan pada bagian keluar disebut sistem
ventilasi exhaust. Penggambarannya dilakukan sama dengan sistem tekan, kecuali bahwa
bagian masuk dianggap sebagai titik mula (lihat gambar 7).
Pada sistem ‘booster’, sumber pembuat tekanan (fan) diletakkan antara bagian
masuk dan bagian keluar. Umumnya fan akan menerima udara di bawah tekanan
atmosfer dan mengeluarkan di atas tekanan atmosfer (lihat gambar 8).
Gambar 2.6 Gradien Tekanan Sistem Ventilasi Exhaust

Gambar 2.7 Gradien Tekanan pada Sistem ‘Boster’


4. Keadaan Aliran Udara Di Dalam Lubang Bukaan
Dalam sistem aliran fluida akan selalu ditemui keadaan aliran : laminer, entermediate
dan turbulent. Kriteria yang dipakai untuk menentukan keadaan aliran adalah bilangan
Reynold (NRe). Bilangan Reynold untuk aliran lamine adalah 2000 dan untuk turbulent
di atas 4000.
NRe = ( D V )/( ) = (DV)/( )
(10)
Dimana:
= rapat massa fluida (lb.det2/ft4 atau kg/m3)
= viskositas kinematik (ft2/detik atau m3/detik)
= viskositas absolut (= ; lb detik/ft2 atau a.detik)
D = diameter saluran fluida (ft atau m)
V = kecepatan aliran fluida (ft/detik)

Untuk udara pada temperatur normal = 1.6 x 10-4 ft2/detik atau 14.8 x 10-6
m2/detik.
Maka:
NRe = 6.250 DV atau, NRe = 67.280 DV untuk SI
Dengan menganggap bahwa batas bawah aliran turbulent dinyatakan dengan
NRe = 4.000, maka kecepatan kritis dari suatu dimensi saluran fluida dapat
ditentukan dengan :
Vc = (60 NRe)/ 6.250 D = (60)(4000)/ (6.250 D) = 38,4 / D (fpm) Atau kira-kira
Vc 40 / D

Aliran turbulen hampir selalu terjadi pada lubang bukaan tambang bawah tanah. Pipa
saluran udara dengan diameter lebih kecil 1 ft jarang dipakai di tambang, oleh karena
itu kecepatan di atas 40 fpm selalu menghasilkan aliran turbulent.
Distribusi kecepatan dan bilangan Reynold didalam suatu saluran bulat
ditunjukkan pada gambar 9 berikut.

Gambar 2.8 Distribusi Kecepatan aliran di dalam lubang bulat

Kecepatan maksimum terjadi pada pusat lubang, tetapi bilangan Reynoldnya berbeda-
beda. Yang paling penting untuk ventilasi adalah kecepatan rata-rata, karena itu
pengukuran kecepatan pada garis sumbu saja tidak cukup. Karena bilangan Reynold di
dalam suatu sistem ventilasi tambang biasanya lebih besar dari pada 10.000, kecepatan
rata-rata seringnya dapat dinyatakan sebagai berikut :
V = 0.8 Vmax.
5. Perhitungan Head Loss
Head loss terjadi karena adanya aliran udara akibat kecepatan (Hv), gesekan (Hf) dan
tikungan saluran atau perubahan ukuran saluran (Hx).

Jadi dalam suatu sistem ventilasi distribusi head loss dapat disederhanakan
sebagai berikut :
Hs = HL
= (Hf + Hx)
Hv = Hv pada keluaran
Dan
Ht = Hs + Hv

a. Velocity head
Walaupun bukan merupakan suatu head loss, secara teknis dapat dianggap suatu
kehilangan. Velocity head merupakan fungsi dari kecepatan aliran udara, yakni:

Hv = (V2)/(2g) (2.11)
Dimana:
Hv = velocity head
V = kecepatam aliran (fps)
G = percepatan gravitasi (ft/dt2)
Dari persamaan diatas, diperoleh turunan berikut :

Hv = ((w V2)/(5,2)(64,4)(60)2) = w ((V)/ (1.098))2


Atau : Hv = ((V)/(4.000))2

Persamaan terakhir menyatakan bahwa kecepatan aliran sebesar 400 fpm


ekuivalen dengan head kecepatan sebesar 1 inchi. Untuk mempermudah perhitungan
konversi dari kecepatan dan head kecepatan dapat menggunakan nomogram yang
ditunjukkan pada gambar 10.

b. Friction Loss
Besarnya head loss akibat gesekan dalam aliran udara melalui lubang bukaan di
tambang bawah tanah sekitar 70 % hingga 90 % dari total kehilangan (head loss). Friction
loss merupakan fungsi dari kecepatan aliran udara, kekasaran muka lubang bukaan,
konfigurasi yang ada di dalam lubang bukaan, karakteristik lubang bukaan dan dimensi
lubang bukaan. Persamaan mekanika fluida untuk friction loss pada saluran berbentuk
lingkaran adalah:

HL = f (L/D)(V2/2g) (2.12)

Dimana:
L = panjang saluran
D = diameter saluran (ft)
V = kecepatan (fpm)
F = koefisien gesekan

Untuk memudahkan perhitungan pada bermacam-macam bentuk saluran, diperoleh


dengan menyatakan head loss dalam bentuk radius hidrolik (hydroulic radius) RH, yaitu
perbandingan antara luas penampang A terhadap perimeter atau keliling P dari saluran. Untuk
saluran berbentuk lingkaran, RH adalah:

RH = A/P = (1/4. D2)/ .D = D/4

Dengan demikian maka diperoleh persamaan :

HL = f (L/4 RH)(V2/2g)

Untuk friction loss pada ventilasi tambang (dikenal sebagai rumus Atkinson) didapat
sebagai berikut :

Hf = (f/5,2)(l/4RH)(0,075V2/2g(60)2) = (K/5,2)(L/RH)(V2)

= (KPLV2) / (5,2 A) = (KSV2)/ (5,2 A)


karena debit , Q = V x A, maka persamaan ditas menjadi;

Hf = (KPLQ2) / (5,2 A3)

Dimana :
Hf = friction loss (inch water)
V = kecepatan aliran
K = faktor gesekan untuk densitas udara standar (lb.men2/ft4)
A = luas penampang saluran (ft2)
S = rubbing surface (ft2) = PL
P = keliling saluran (ft)
L = panjang saluran (ft)
Q = debit udara (cfm)

Faktor gesek K didalam sistem ventilasi tambang berhubungan dengan koefisien gesek
dalam aliran umum fluida. Untuk bobot isi udara standard:

K (800)(10)-10 f

Sebenarnya di dalam aliran turbulen nilai f berubah sesuai dengan NRe. Tetapi pada
ventilasi tambang K dianggap konstan dan besarnya untuk berbagai kondisi lubang bukaan
tambang bawah tanah bukan batubara dapat dilihat pada tabel 2.4.

Tabel 2.4 Faktor Gesek K untuk Lubang Bukaan Tambang Bawah Tanak Bukan
Batubara
c. Shock Loss
Shock loss terjadi sebagai akibat dari adanya perubahan arah aliran dalam
saluran atau luas penampang saluran udara dan merupakan tambahan terhadap friction
losses. Walaupun besarnya hanya sekitar 10 % - 30 % dari head loss total di dalam
ventilasi tambang, tetapi tetap harus diperhatikan.
Berdasarkan sumber yang menimbulkan shock loss, pada dasarnya berkurangnya
tekanan sebanding dengan kuadrat kecepatan atau berbanding lurus dengan velocity head.
Perhitungan shock loss dapat dilakukan secara langsung sebagai berikut : Perhitungan shock
loss, Hx dalam inci air dapat dihitung dari velocity head, yakni

Hx = X Hv

Dimana;
Hx = shock loss
X = faktor shock loss
Formula untuk menentukan faktor shock loss ter lihat pada tabel 2.3.
Tabel 2.5 Panjang Ekuivalen Untuk Berbagai Sumber Shock Loss (ft)