You are on page 1of 10

MITIGASI BENCANA LONGSOR JALAN POROS SAMARINDA-BERAU

DI KECAMATAN KELAY KABUPATEN BERAU

BERDASARKAN PENGAMATAN REGIONAL

DI KECAMATAN KELAY KABUPATEN BERAU BERDASARKAN PENGAMATAN REGIONAL Disusun Oleh : Ilham Wahyudi 1409085019 Teknik Geologi

Disusun Oleh :

Ilham Wahyudi

1409085019

Teknik Geologi

A. LATAR BELAKANG

BAB I

PENDAHULUAN

Longsor atau

sering

disebut

gerakan

tanah

adalah suatu

peristiwa geologi yang

terjadi

karena pergerakan masa batuan atau tanah dengan

berbagai tipe dan jenis seperti jatuhnya bebatuan atau gumpalan besar tanah. Secara umum kejadian longsor disebabkan oleh dua faktor yaitu faktor pendorong dan faktor

pemicu. Faktor pendorong adalah faktor-faktor yang memengaruhi kondisi material sendiri, sedangkan faktor pemicu adalah faktor yang menyebabkan bergeraknya material tersebut.

Bila kita memperhatikan lokasi tempat proses-proses geologi berlangsung, maka akan tampak bahwa proses-proses geologi dapat terjadi di semua tempat di permukaan bumi. Oleh karena itu, bencana geologi dapat juga terjadi di berbagai tempat di permukaan bumi. Meskipun demikian, macam-macam proses geologi atau bencana geologi yang terjadi di suatu setting lingkungan sangat ditentukan oleh kondisi geologi dan geomofologi yang ada di lingkungan tersebut.

Menurut Kepala BPBD Kaltim, Chairil Anwar Bahkan menurutnya, instansinya pernah lakukan pemetaan melalui Indeks Resiko Bencana (IRB). Hasilnya, sebagian besar kabupaten dan kota di Kaltim termasuk rawan bencana. Daerah indeks kerawanan paling tinggi adalah Berau dengan nilai 202, Paser 196, kemudian Kutim dengan 190. Menurutnya, kawasan paling rendah justru Samarinda, dengan nilai 135 dan masuk kategori sedang.

Berdasarkan peta prediksi longsor PASTIGANA-BNPB Berau memiliki indeks tertinggi dibandingkan daerah lain dikaltim. Salah satu daerah yang memiliki potensi longsor tertinggi di kabupaten berau adalah kecamatan kelay, yang merupakan jalan poros penyambung transportasi SAMARINDA-BERAU.

Di dalam melaksanakan mitigasi bencana tanah longsor, BPBD Kabupaten Berau selain didukung oleh SDM yang cukup, kerja sama dengan lembaga terkait lainnya, pendanaan, dan aset yang dimiliki, BPBD Kabupaten Berau juga mengalami kendala. Kendala-kendala tersebut seperti distribusi kelompok relawan yang tidak merata, kapabilitas peralatan dalam mitigasi bencana masih terbatas, belum ada rencana kontinjensi bencana tanah longsor, dan beberapa kendala lainnya. Hambatan- hambatan tersebut tentu saja menjadi kendala yang dihadapi BPBD Kabupaten Berau.

Oleh

karena itu,

diperlukan suatu

strategi

yang baik

dalam

melakukan

mitigasi bencana guna mengatasi bencana tanah longsor di Kabupaten Berau.

B. TUJUAN

BAB II

DASAR TEORI

A. MANAJEMEN BENCANA

Undang-Undang No. 24 Tahun 2007 tentang Penanggulangan Bencana menjelaskan bahwa bencana merupakan peristiwa atau rangkaian peristiwa yang mengancam dan mengganggu kehidupan dan penghidupan masyarakat yang disebabkan baik oleh faktor alam dan/atau faktor non alam maupun faktor manusia sehingga mengakibatkan timbulnya korban jiwa manusia, kerusakan lingkungan, kerugian harta benda, dan dampak psikologis. Siklus manajemen tersebut terdiri atas 3 tahapan. Tahapan-tahapan ersebut (dalam Kusumasari, 2014: 22) antara lain:

1. Pra Bencana Pra bencana merupakan tahapan bencana pada kondisi sebelum kejadian meliputi:

a) Pencegahan dan Mitigasi Mitigasi menurut King didefinisikan sebagai tindakan yang diambil sebelum bencana terjadi dengan tujuan untuk mengurangi atau menghilangkan dampak bencana terhadap masyarakat dan lingkungan.

b) Kesiapsiagaan Kesiapsiagaan berarti merencanakan tindakan untuk merespon jika terjadi bencana. Kesiapsiagaan berkaitan dengan kegiatan dan langkah-langkah yang diambil sebelum terjadinya bencana untuk memastikan adanya respon yang efektif terhadap dampak bahaya, termasuk dikeluarkannya peringatan dini secara tepat waktu dan efektif.

2. Saat Bencana Tahapan paling krusial dalam sistem manajemen bencana adalah saat bencana berlangsung atau terjadi. Kegiatan yang dilakukan adalah tanggap darurat atau respon.

3. Pasca Bencana Tahapan yang dilakukan setelah bencana terjadi dan setelah proses tanggap darurat dilewati (Ramli, 2011: 37), antara lain:

a) Rehabilitasi, yaitu perbaikan dan pemulihan semua aspek pelayanan

publik

pasca bencana dengan sasaran utama untuk normalisasi semua aspek

pemerintahan dan kehidupan masyarakat.

atau masyarakat sampai tingkat yang memadai pada wilayah

b) Rekonstruksi, yaitu pembangunan kembali semua sarana dan prasarana, kelembagaan pada wilayah pasca bencana, baik pada tingkat pemerintahan maupun masyarakat dengan sasaran utama tumbuh dan berkembangnya kegiatan perekonomian, sosial dan budaya, tegaknya hukum dan ketertiban, dan bangkitnya peran serta masyarakat dalam segala aspek kehidupan.

B. MITIGASI BENCANA TANAH LONGSOR

Mitigasi merupakan sebuah langkah yang diambil secara independen dari situasi darurat. Coppola (dalam Kusumasari, 2014: 23) menjelaskan bahwa ada dua jenis mitigasi yaitu:

1. Mitigasi structural, didefinisikan sebagai usaha pengurangan risiko yang dilakukan melalui pembangunan atau perubahan lingkungan fisik melalui penerapan solusi yang dirancang. Upaya ini mencakup ketahanan konstruksi, langkahlangkah pengaturan, dan kode bangunan, relokasi, modifikasi struktur, konstruksi tempat tinggal masyarakat, konstruksi pembatas atau sistem pendeteksi, modifikasi fisik, sistem pemulihan, dan penanggulangan infrastruktur untuk keselamatan hidup.

2. Mitigasi non struktural, meliputi pengurangan kemungkinan atau konsekuensi risiko melalui modifikasi proses-proses perilaku manusia atau alam, tanpa membutuhkan penggunaan struktur yang dirancang. Di dalam teknik ini terdapat langkahlangkah regulasi, program pendidikan, dan kesadaran masyarakat, modifikasi fisik non struktural, modifikasi perilaku, serta pengendalian lingkungan.

Di dalam perumusan strategi diperlukan pengamatan dan penilaian terhadap kondisi lingkungan yang ada di sekitar baik lingkungan internal maupun eksternal. Dalam hal ini, analisis SWOT diperlukan untuk mengidentifikasi berbagai faktor secara sistematis guna merumuskan strategi. Analisis ini didasarkan pada logika yang dapat memaksimalkan kekuatan (strengths) dan peluang (opportunities) sekaligus meminimalkan kelemahan (weaknesses) dan ancaman (threats). Dengan demikian, perencanaan strategis harus menganalisis faktor-faktor strategis (kekuatan, kelemahan, peluang, ancaman) dalam kondisi yang ada saat ini. Hasil analisis faktor- faktor strategis tersebut kemudian dapat digunakan untuk mengidentifikasi dan

mengevaluasi isu-isu strategi dan akan menjadi dasar dalam perumusan program- program strategi (Salusu, 2006: 148).

BAB III

HASIL DAN PEMBAHASAN

A. MITIGASI TANAH LONGSOR DI KECAMATAN KELAY SECARA REGIONAL

1. Fisiografi

Kelay adalah sebuah kecamatan di Kabupaten Berau, Kalimantan Timur, Indonesia. Bagian Utara berbatasan denga kecamatan Segah, Bagian selatan berbatasan dengan Kabupaten Kutai Timur, sebelah barat berbatasan dengan Kabupaten Malinau dan bagian timur berbatasan dengan Kecamatan Sambaliung dan Tabalar.

2. Geologi Regional Berdasarkan Peta Geologi Lembar Muara Wahau, Skala 1 : 250.000 (S.Supriatna dan H.Z. Abidin, 1995) dan berdasarkan inpretasi Peta

Adiministrasi Jalan Poros Samarinda-Berau yang berada di kecamatan Kelay masuk dalam 4 formasi, yaitu : Kelompok Embaluh, Formasi Telen, Ultramafik, dan Formasi Sembakung

1. Kelompok Embaluh : Konglomerat dengan fragmen utamanya batuan silikaan, perselingan batulumpur dan batulanau termalihkan yang bersisipan batugamping kristalin, batupasir kuarsa sebagian termalihkan

2. Formasi Telen, Perselingan barusabak yang berwarna hitam dan merah, rijang yang berwarna merah dan kelabu dan batupasir malih, sebagian besar sudah terkuakkan dan sangat tergerus serta terbreksikan ,

3. Ultramafik, batuan ultramafic terserpentimitkan dan terbreksikan, gabbro, setempat berlapis, gabromikro dan basal

4. Formasi sembakung, perselingan batupasir, batulempung, batulanau, serpih dan lensa batugamping, formasi ini setara dengan batupasir kayanniut dan Formasi Marah dan menutupi tidak selaras diatas kelompok Embaluh.

Struktur geologi secara regional terdapat beragam struktur geologi seperti patahan, sesar, antiklin maupun sinklin.

3. Geomorfologi Poros Samarinda

Daerah penelitian berada pada daerah perbukitan mempunyai elevasi ketinggian 200 400 meter diatas permukaan laut, Berdasarkan interpretasi Peta Medan jalan Samarinda-Berau memiliki kerapatan kontur yang sangat tinggi.

Samarinda-Berau memiliki kerapatan kontur yang sangat tinggi. Gambar Peta medan Google maps Jalan Poros Samarinda-Berau

Gambar Peta medan Google maps Jalan Poros Samarinda-Berau

PENUTUP

Berdasarkan hasil pengamatan Regional diatas dapat disimpulkan Longsor yang sering terjadi di jalan poros Samarinda-Berau dikecamatan Kelay disebabkan oleh jalan poros berada pada daerah perbukitan yang memilik elevasi ketinggian yang tergolong tinggi untuk penggunaannya sebagai jalan transportasi umum yang sering digunakan oleh masyarakat. Selain itu juga disebabkan oleh Jalan poros berada pada daerah yang memiliki Geologi struktur yang beragam, seperti sesar, patahan yang diindikasikan merupakan daerah breksiasi. sebagian besar sudah terkuakkan dan sangat tergerus serta terbreksikan Pada formasi telen.

Upaya-upaya strategis yang efektif dapat dilakukan adalah Peningkatan mitigasi tanah longsor dengan memanfaatkan kearifan lokal yang ada seperti dengan mengembangkan dan melakukan sosialisasi kepada masyarakat tentang penggunaan kentongan dan tanda-tanda alam yang ada di sekitar masyarakat. Pembuatan tanggul penahan khusus untuk runtuhan batu baik berupa bangunan konstruksi, tanaman maupun parit, Pembuatan terase dan penghijauan dengan menstabilkan lereng. Pembuatan tanggul penahan untuk runtuhan batuan (rock fall).Penutupan rekahan- rekahan diatas lereng untuk mencegah air masuk secara cepat kedalam tanah.

DAFTAR PUSTAKA

PERATURAN MENTERI DALAM NEGERI NOMOR 33 TAHUN 2006

Dumilah Pradapaning Puri, Thalita Rifda Khaerani, STRATEGI MITIGASI BENCANA TANAH LONGSOR DI KABUPATEN PURWOREJO. Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik, Universitas Diponegoro: Semarang