You are on page 1of 13

BAB II

TINJAUAN PUSTAKA

2.1 LEPTOSPIROSIS
2.1.1 Definisi Leptospirosis
Leptospirosis adalah suatu penyakit zoonosis yang disebabkan oleh
mikroorganisme berbentuk spiral dan bergerak aktif yang dinamakan leptospira.
Penyakit ini dikenal dengan berbagai nama seperti Mud fever, Slime fever
(Shlamn fieber), Swam fever, autumnal fever, infectious jaundice, field fever,cane
cutter dan lain-lain. Leptospirosis merupakan istilah untuk penyakit yang disebabkan
oleh semua leptospira tanpa memandang serotipe tertentu. (Depkes RI, 2005)

2.1.2 Etiologi
Genus Leptospira yang termasuk dalam ordo Spirochaeta dari famili
Trepanometaceae adalah bakteri yang berbentuk seperti benang dengan panjang 6-
12 μm. Spesies L.interrogans adalah spesies yang dapat meninfeksi manusia dan
hewan.

Gambar 1. Leptospira

Karena ukurannya yang sangat kecil, leptospira hanya dapat dilihat dengan
mikroskop medan gelap atau mikroskop elektron. Bakteri leptospira berbentuk spiral
dengan ujung-ujung seperti pengait. Bakteri ini peka terhadap asam, bersifat aerobik
obligat dengan pertumbuhan optimum pada suhu 280 - 300 0C dan pH 7,2 - 8,0. Di
dalam air tawar dapat bertahan hidup sampai sekitar satu bulan, namun dalam air
yang pekat seperti air selokan dan air laut leptospira akan cepat mati. Lingkungan
yang sesuai untuk hidup leptospira di tanah panas dan lembab seperti daerah
tropis. (Widoyono, 2008 ; Levett, 2001)

2.1.3 Cara Penularan

Infeksi pada manusia dapat terjadi melalui beberapa cara berikut ini :
a. Kontak dengan air, tanah dan lumpur yang tercemar bakteri.
b. Kontak dengan organ, darah dan urin hewan yang terinfeksi.
c. Mengonsumsi makanan yang terkontaminasi.
Bakteri masuk kedalam tubuh manusia melalui kulit yang luka atau lecet dan
selaput mukosa, bahkan dalam literatur disebutkan bahwa penularan penyakit ini
dapat melalui kontak dengan kulit sehat terutama bila kontak lama dengan air. Di
Indonesia infeksi ini banyak terjadi di daerah banjir.
Terdapat tiga pola epidemiologi leptospira, yaitu :
1. Penularan melalui kontak langsung, biasanya pada daerah beriklim sedang,
sering terjadi di peternakan sapi atau babi.
2. Penularan atau penyebaran penyakit karena kontaminasi pada lingkungan,
biasanya pada musim penghujan.
3. Penularan melalui infeksi rodensia pada lingkungan perkotaan yang kumuh.
(Widoyono, 2002; Faine, 1994)

2.1.4 Gambaran Klinis


Masa inkubasi leptospirosis adalah 4-19 hari, dengan rata rata 10 hari.
Setelah masuk ke dalam tubuh manusia, bakteri akan masuk ke peredaran darah
dan beredar ke seluruh tubuh sehingga dapat menyebabkan kerusakan di mana saja
termasuk organ jantung, otak dan ginjal. Manifestasi klinis leptospirosis terbagi
menjadi tiga fase :
1. Fase pertama (leptospiremia)
Fase ini ditandai dengan demam tinggi mendadak, skin rash, conjunctival (mata
merah), nyeri otot hebat terutama di otot belakang paha dan betis sehingga kadang-
kadang penderita mengeluh sulit berjalan, ikterus, sakit kepala berat dan nyeri perut
yang disebabkan oleh gangguan hati, ginjal dan meningitis. Fase ini berlangsung
selama 4-9 hari.
2. Fase kedua (imun)
Titer antibodi IgM mulai terbentuk dan meningkat dengan cepat. Gangguan klinis
akan memuncak. Dapat terjadi leptopiura (leptospira dalam urin) selama satu
minggu sampai satu bulan. Fase ini berlangsung selama 4-30 hari.
3. Fase ketiga (konvalesen).
Fase ini ditandai dengan gejala klinis yang sudah berkurang dapat timbul kembali
dan berlangsung selama 4-30 hari (Depkes RI, 2005 ; Gasem, 2002).

Gambar 2. Conjungtiva suffision dan ikterik pada sklera


2.1.5 Pemeriksaan Laboratorium
Pemeriksaan laboratorium sangat perlu untuk menegakkan diagnosis penyakit
leptospirosis secara dini dengan cepat dan tepat.
Pemeriksaan laboratorium untuk diagnose leptospiroris dibagi 2 cara yaitu
Pemeriksaan Bakteri dan Pemeriksaan Serologis.
a. Pemeriksaan Bakteri :
Pemeriksaan bakteri leptospira dapat secara langsung dengan cara di kultur.
Specimen diambil dari urin penderita maupun hewan reservoir yang dibiakkan dalam
media tertentu. Keuntungan dari metode ini adalah dapat mengamati bakteri
leptospira dalam keadaan hidup, tetapi tidak dapat membedakan spesies.

b. Pemeriksaan Serologi :
Sebagian besar kasus leptospirosis didiagnosis dengan tes serologi.
Antibodi dapat dideteksi di dalam darah 5-7 hari sesudah munculnya
gejala.
Ada banyak metode serologis yang dapat digunakan diantaranya adalah:
1. Metode MAT (Microscopic Aglutination Test)
Prinsip dari metode ini adalah antibodi dari spesimen serum yang bereaksi
dengan antigen serovar Leptospira. Keuntungan dari metode ini adalah dapat
menetukan serovar Leptospira. Sedangkan kekurangan dari metode ini
adalah rumit dan membutuhkan banyak jenis serovar.
2. Metode ELISA (Enzyme Linked Imunosorbent Assay)
Prinsip dari metode ini adalah reaksi antara antibodi IgM atau IgG dari
spesimen serum dengan antigen spesies Leptospira interogans. Antibodi Igm
dapat terdeteksi sampai bertahun tahun. Keuntungan dari metode ini sensitif,
tetapi tidak bisa menentukan jenis serovar. Pengembangan dari metode ini
adalah metode Dipstick Assay yang mempunyai sesitifitas 88% dan
specifitas 95%. (Levett, 2001;WHO, 2003; Setiawan, 2008)
3. Metode PCR (Polymerase Chain Reaction)
PCR adalah suatu teknik enzimatik in vitro yang digunakan untuk
menghasilkan gugus DNA spesifik dalam jumlah besar dan dalam waktu
singkat melalui langkah denaturation, annealing dan extension pada
temperatur yang berbeda. Metode ini sangat berguna untuk mendiagnosis
leptospirosis terutama pada fase dini sebelum titer antibodi terbentuk.
Spesimen dapat berupa urin maupun darah. Keterbatasan metode ini adalah
tidak mampu mendeteksi jenis serovar. Kelemahan dari metode ini adalah
memerlukan peralatan dan tenaga ahli yang khusus (Levett, 2001;WHO,
2003; Setiawan, 2008).

2.2 Faktor Risiko Leptospirosis


Lingkungan adalah segala sesuatu yang berada di sekitar manusia. Lingkungan
di sekitar manusia dapat dikategorikan menjadi lingkungan fisik, biologi, kimia, sosial
budaya.

2.2.1 Faktor Agen (Agent Factor)


Leptospirosis adalah penyakit infeksi yang disebabkan oleh bakteri patogen
yang disebut Leptospira. Spesies yang menginfeksi adalah terdiri dari kelompok
leptospira patogen yaitu L. Intterogans. Leptospira ini terdiri dari 25 serogrup dan
250 serovar (Depkes RI, 2008).

2.2.2 Faktor Pejamu (Host Factor)


Leptospirosis pada manusia dapat terjadi pada semua kelompok umur dan
jenis kelamin (Soedin, 1999; Sanford, 1994).

2.2.3 Faktor Lingkungan (Environmental Factor)


Perubahan komponen lingkungan yang memiliki potensi bahaya kesehatan
masyarakat pada kejadian leptospirosis ini meliputi:

a. Lingkungan Fisik
1. Adanya Riwayat Banjir.
Keberadaan sungai yang membanjiri lingkungan sekitar rumah dapat menjadi
media untuk menularkan berbagai jenis penyakit termasuk penyakit leptospirosis.Hal
ini terjadi ketika air sungai terkontaminasi oleh urin tikus atau hewan peliharaan yang
terinfeksi bakteri leptospira sehingga cara penularannya disebut Water-Borne
Infection. Adanya riwayat banjir mempunyai risiko 2,36 kali lebih besar untuk
terjadinya leptospirosis dibanding tidak adanya riwayat banjir (Suratman, 2005).
2. Kondisi selokan yang buruk.
Selokan menjadi tempat yang sering dijadikan tempat tinggal tikus sehingga
dapat menjadi media untuk menularkan penyakit leptospirosis. Kondisi selokan yang
menggenang, sering meluap serta jarak dari rumah kurang dari 2 meter merupakan
faktor yang berpengaruh terhadap kejadian leptospirosis (Suratman, 2005 ; Priyanto,
2008).

3. Genangan air.
Air tergenang seperti yang selalu dijumpai di negeri-negeri beriklim sedang
pada penghujung musim panas, hal ini memainkan peranan penting dalam
penularan penyakit leptospirosis. Tikus biasanya kencing digenangan air. Lewat
genangan air inilah bakteri leptospira akan masuk ke tubuh manusia ( Rejeki, 2005)

4. Sampah.
Adanya kumpulan sampah di rumah dan sekitarnya akan menjadi tempat
yang disenangi tikus. Kondisi sanitasi yang jelek seperti adanya kumpulan sampah
dan kehadiran tikus merupakan variabel determinan kasus leptospirosis. Adanya
kumpulan sampah dijadikan indikator dari kehadiran tikus (Barcellos, 2001).

5. Sumber Air.
Untuk keperluan sehari-hari, air dapat diperoleh dari beberapa macam
sumber diantaranya air PDAM dan air tanah. Penempatan air secara terbuka dapat
menimbulkan kontaminasi oleh berbagai macam bakteri. Dalam penelitian Mari
Okatini tahun 2005 menyebutkan bahwa responden yang mempunyai sarana air
bersih ang tidak memenuhi syarat mempunyai risiko 4,5 kali lebih besar dibanding
responden yang mempunyai sarana air bersih yang memenuhi syarat.

6. Jarak rumah dengan tempat pengumpulan sampah.


Tikus senang berkeliaran di tempat sampah untuk mencari makanan. Jarak
rumah yang dekat dengan tempat pengumpul sampah mengakibatkan tikus dapat
masuk ke rumah dan kencing di sembarang tempat. Jarak rumah yang kurang dari
500 meter dari tempat pengumpulan sampah menunjukkan kasus leptospirosis lebih
besar dibanding yang lebih dari 500 meter (Barcellos, 2001).
b. Lingkungan Biologik.
1. Populasi tikus di dalam dan sekitar rumah.
Bakteri leptospira khususnya spesies L. ichterrohaemorrhagiae banyak
menyerang tikus besar seperti tikus wirok (Rattus norvegicus dan tikus rumah
(Rattus diardii). Sedangkan L.ballum menyerang tikus kecil (mus musculus). Tikus
yang diduga mempunyai peranan penting pada waktu terjadi Kejadian Luar Biasa di
DKI Jakarta dan Bekasi adalah: R.norvegicus, R.diardii, Suncus murinus dan
R.exulat.
Dari hasil penelitian menunjukkan bahwa ada hubungan bermakna antara
keberadaan tikus dengan kejadian leptospirosis. (Johnson, 2004 ; Suratman, 2005 ;
Priyanto, 2008).

2. Keberadaan hewan peliharaan sebagai hospes perantara. Disamping menginfeksi


pada hewan liar kuman Leptospira dapat juga menginfeksi binatang piaraan seperti
anjing, lembu, babi, kerbau, kucing dan lain-lain . Di dalam tubuh binatang yang
bertindak sebagai hospes reservoar, mikroorganisme leptospira hidup di dalam
ginjal/air kemih. Kontak dengan urin atau bangkai binatang yang terinfeksi
merupakan risiko terjadinya penularan Leptospirosis ( Suratman, 2005 ; Kusmiyati
dkk, 2005) .

c. Lingkungan Sosial
1. Tingkat Pendidikan.
Pendidikan merupakan salah satu faktor yang cukup penting dalam
penularan penyakit khususnya leptospirosis. Pendidikan masyarakat yang rendah
akan berpengaruh terhadap berbagai risiko paparan penyakit yang ada di
sekitarnya. Semakin tinggi pendidikan masyarakat,akan membawa dampak yang
cukup signifikan dalam proses pemotongan jalur transmi si penyakit leptospirosis
(Okatini dkk, 2007).

2. Jenis Pekerjaan.
Jenis pekerjaan merupakan faktor risiko penting dalam kejadian penyakit
leptospirosis. Jenis pekerjaan yang berisiko terjangkit leptospirosis antara lain:
petani, dokter hewan, pekerja pemotong hewan,pekerja pengontrol tikus, tukang
sampah, pekerja selokan, buruh tambang, tentara, pembersih septic tank dan
pekerjaan yang selalu kontak dengan binatang. Faktor risiko leptospirosis akibat
pekerjaan yang ditemukan pertama kali adalah buruh tambang. Pekerja-pekerja
selokan, parit/saluran air, petani yang bekerja di sawah, ladang-ladang tebu, pekerja
tambang, petugas survei di hutan belantara, mereka yang dalam aktivitas pekerjaan
selalu kontak dengan urin berbagai binatang seperti dokter hewan, mantri hewan,
penjagal di rumah potong, atau para pekerja laboratorium, merupakan orang-orang
yang berisiko tinggi untuk mendapat leptospirosis. (Speelman,1998; Priyanto, 2008).

3. Sistem distribusi air bersih dengan saluran tertutup.


Sistem distribusi air bersih dengan saluran tertutup dapat menghambat
penularan penyakit leptospirosis dari binatang ke manusia karena dapat mencegah
kontaminasi atau pencemaran air yang digunakan untuk konsumsi manusia (Candra,
2007).

4. Ketersediaan pengumpulan limbah padat.


Tidak adanya pelayanan pengumpulan limbah padat menyebabkan
akumulasi limbah organik, meningkatkan perkembang biakan binatang pengerat
sehingga memungkinkan terjadinya penularan leptospirosis dari binatang kepada
manusia (Barcellos, 2001).

c. Faktor Perilaku
Ada beberapa macam teori tentang perilaku, antara lain menurut Solita
(1993) dikatakan bahwa perilaku merupakan hasil dari segala macam pengalaman
serta interaksi manusia dengan lingkungannya yang terwujud dalam bentuk
pengetahuan, sikap dan praktik atau tindakan. Sedangkan Notoatmodjo (1993)
mengatakan perilaku manusia dapat dilihat dari tiga aspek, yaitu fisik, psikis dan
sosial yang secara terinci merupakan refleksi dari berbagai gejolak seperti:
pengetahuan, motivasi, persepsi, sikap dan sebagainya yang ditentukan dan
dipengaruhi oleh faktor pengalaman, keyakinan sarana fisik dan sosial budaya
masyarakat. Menurut Blum dalam Notoatmodjo (1993) disebutkan bahwa perilaku
sesorang terdiri dari tiga bagian penting, yaitu kognitif, afektif dan psikomotor.
Kognitif dapat diukur dari pengetahuan, afektif dari sikap atau tanggapan dan
psikomotor diukur melalui tindakan (praktik) yang dilakukan.
Dalam proses pembentukan dan perubahan perilaku dipengaruhi oleh
beberapa faktor yang berasal dari dalam dan luar individu. Faktor dari dalam individu
mencakup pengetahuan, kecerdasan, persepsi, sikap, emosi dan motivasi yang
berfungsi untuk pengolahan rangsangan dari luar. Faktor dari luar individu meliputi
lingkungan sekitar, baik fisik maupun non-fisik seperti iklim, manusia, sosial,
ekonomi, budaya dan sebagainya.
Aspek perilaku yang berkaitan dengan proses penularan penyakit
leptospirosis adalah sebagai berikut:
1. Kebiasaan mandi di sungai.
Penularan bakteri leptospira pada manusia adalah kontak langsung dengan
bakteri leptospira melalui pori-pori kulit yang menjadi lunak karena terkena air, kulit
terluka, selaput mukosa maupun selaput lendir. Kegiatan mencuci dan mandi di
sungai atau danau akan berisiko terpapar bakteri leptospira karena kemungkinan
terjadi kontak dengan urin binatang yang mengandung leptospira akan lebih besar.
Penelanan air yang tercemar selama menyelam berhubungan dengan angka
serangan yang tinggi. Kebiasaan mandi dan mencuci di sungai mempunyai risiko 2,5
kali lebih tinggi terkena leptospirosis (Sejvar, 2000 ; David dkk, 2000).

2. Pemakaian sabun mandi.


Sabun mandi yang mengandung zat anti kuman atau bakteri dapat
membantu membunuh atau menghambat masuknya kuman penyakit ke dalam tubuh
manusia sehingga proses penularan dapat dicegah (Levett, 2001; Hadisaputro,
2002).

3. Pemakaian alat pelindung diri


Dengan tidak memakai alat pelindung diri akan mengakibatkan kemungkinan
masuknya bakteri leptospira ke dalam tubuh akan semakin besar. Bakteri leptospira
masuk tubuh melalui pori-pori tubuh terutama kulit kaki dan tangan. Oleh karena itu
dianjurkan bagi para pekerja yang selalu kontak dengan air kotor atau lumpur
supaya memakai alat pelindung diri seperti sepatu bot dan sarung tangan. Banyak
infeksi leptospirosis terjadi karena berjalan di air dan kebun tanpa alas pelindung
diri. Tidak memakai sepatu saat bekerja di sawah mempunyai risiko 2,17 kali lebih
tinggi terkena leptospirosis (Johnson, 2004).

4. Kebiasaan merawat luka.


Jalan masuk leptospira yang biasa pada manusia adalah kulit yang terluka
lecet, terutama sekitar kaki dan kelopak mata, hidung, dan selaput lendir yang
terpapar. Orang yang tidak melakukan perawatan luka mempunyai risiko 2,69 kali
lebih tinggi terkena leptospirosis (Sanford, 1994).

5. Kebiasaan menggunakan deterjen atau desinfektan


Keadaan kondisi lingkungan yang tidak cocok untuk berkembang biak bakteri
leptospira dapat menyebabkan bakteri tersebut terhambat pertumbuhannya bahkan
menjadi mati. Udara yang kering, sinar matahari yang cukup kuat, pH di luar range
6,2 – 8,0 merupakan suasana yang tidak menguntungkan bagi kehidupan dan
pertumbuhan leptospira. Kelangsungan hidup leptospira patogen dalam alam
ditentukan oleh berbagai faktor seperti pH urin pejamu, pH tanah atau air dimana
mereka berada, dan perubahan suhu. Leptospira dalam sebagian besar “bekas urin”
pada tanah tetap infeksius selama 6 - 48 jam. Urin yang asam akan membatasi
kelangsungan hidup leptospira; walau demikian, jika urin netral atau basa dan
disimpan dalam kelembaban lingkungan serupa dengan kadar garam rendah, tidak
tercemar oleh mikroorganisme atau sabun cuci, dan mempunyai suhu di atas 22°C,
leptospira dapat bertahan hidup sampai beberapa minggu. Keberadaan air limbah
yang mengandung deterjen dapat mengurangi lama waktu hidup leptospira dalam
saluran pembuangan, pertumbuhan leptospira terhambat oleh konsentrasi deterjen
yang rendah. Penggunaan bahan-bahan kimiawi yang berfungsi sebagai desinfektan
juga menyebabkan leptospira mudah terbasmi (Hadisaputro, 2002).

6. Kebiasaan menyimpan makanan dan alat makan


Jalan masuk kuman leptospira dapat melalui makanan yang terkontaminasi
oleh urin tikus. Tikus sering berkeliaran ditempat tempat penyimpanan makanan
untuk mencari makan. Makanan dan alat makan yang disimpan dalam keadaan
terbuka berisiko menjadi sumber penularan leptospirosis (Sehgal, 2002; Sarkar,
2002).
2.3 Manajemen Pengendalian Leptospirosis
Manajemen pengendalian leptospirosis adalah manajemen pengendalian
yang bersifat preventif dimana bertujuan untuk menurunkan angka kejadian
leptospirosis dari aspek lingkungan. Menurut Sub Dit Zoonosis Depkes RI, kegiatan
pencegahan terhadap penyakit leptospirosis dapat dilakukan dengan cara antara
lain :
1. Melakukan Kebersihan individu (personal hygiene) dan sanitasi lingkungan.
a. Usaha yang dianjurkan antara lain dengan : mencuci kaki, tangan serta
bagian tubuh lainnya dengan sabun setelah bekerja disawah.
b. Pembersihan tempat tempat air dan kolam kolam renang.
2. Pendidikan Kesehatan (Health education) mengenai bahaya serta cara penularan
penyakit Leptospirosis.
a. Melindungi pekerja-pekerja yang mempunyai risiko tinggi terhadap
leptospirosis dengan menggunakan sepatubot dan sarung tangan.
b. Vaksinasi terhadap hewan hewan peliharaan dan hewan ternak dengan
vaksin strain lokal.
c. Pemberantasan rodent bila kondisi memungkinkan

2.4 Penatalaksanaan Leptospirosis

• Terapi untuk leptospirosis ringan

Pada bentuk yang sangat ringan bahkan oleh penderita seperti sakit flu biasa.
Pada golongan ini tidak perlu dirawat. Demam merupakan gejala dan tanda
yang menyebabkan penderita mencari pengobatan. Ikterus kalaupun ada
masih belum tampak nyata. Sehingga penatalaksanaan cukup secara
konservatif.

Penatalaksanaan konservatif

 Pemberian antipiretik, terutama apabila demamnya melebihi 38°C


 Pemberian cairan dan nutrisi yang adekuat.
Kalori diberikan dengan mempertimbangkan keseimbangan nitrogen,
dianjurkan sekitar 2000-3000 kalori tergantung berat badan penderita.
Karbohidrat dalam jumlah cukup untuk mencegah terjadinya ketosis.
Protein diberikan 0,2 – 0,5 gram/kgBB/hari yang cukup mengandung asam
amino essensial.

 Pemberian antibiotik-antikuman leptospira.


paling tepat diberikan pada fase leptospiremia yaitu diperkirakan pada
minggu pertama setelah infeksi. Pemberian penicilin setelah hari ke tujuh
atau setelah terjadi ikterus tidak efektif. Penicillin diberikan dalam dosis 2-8
juta unit, bahkan pada kasus yang berat atau sesudah hari ke-4 dapat
diberikan sampai 12 juta unit (sheena A Waitkins, 1997). Lama pemberian
penisilin bervariasi, bahkan ada yang memberikan selama 10 hari.

 Terapi suportif supaya tidak jatuh ke kondisi yang lebih berat. Pengawasan
terhadap fungsi ginjal sangat perlu.

Terapi pilihan (DOC) untuk leptospirosis sedang dan berat adalah Penicillin G,
dosis dewasa 4 x 1,5 juta unit /i.m, biasanya diberikan 2 x 2,4 unit/i.m, selama 7
hari.

Terapi untuk leptospirosis berat

 Antipiretik
 Nutrisi dan cairan.
Pemberian nutrisi perlu diperhatikan karena nafsu makan penderita
biasanya menurun maka intake menjadi kurang. Harus diberikan nutrisi
yang seimbang dengan kebutuhan kalori dan keadaan fungsi hati dan ginjal
yang berkurang. Diberikan protein essensial dalam jumlah cukup. Karena
kemungkinan sudah terjadi hiperkalemia maka masukan kalium dibatasi
sampai hanya 40mEq/hari. Kadar Na tidak boleh terlalu tinggi. Pada fase
oligurik maksimal 0,5gram/hari. Pada fase ologurik pemberian cairan harus
dibatasi. Hindari pemberian cairan yang terlalu banyak atau cairan yang
justru membebani kerja hati maupun ginjal. Infus ringer laktat misalnya,
justru akan membebani kerja hati yang sudah terganggu. Pemberian cairan
yang berlebihan akan menambah beban ginjal. Untuk dapat memberikan
cairan dalam jumlah yang cukup atau tidak berlebihan secara sederhana
dapat dikerjakan monitoring / balance cairan secara cermat.
Pada penderita yang muntah hebat atau tidak mau makan diberikan makan
secara parenteral. Sekarang tersedia cairan infus yang praktis dan cukup
kandungan nutrisinya.

 Pemberian antibiotik
Pada kasus yang berat atau sesudah hari ke-4 dapat diberikan sampai 12
juta unit (sheena A Waitkins, 1997). Lama pemberian penisilin bervariasi,
bahkan ada yang memberikan selama 10 hari. Penelitian terakhir : AB gol.
fluoroquinolone dan beta laktam (sefalosporin, ceftriaxone) > baik
dibanding antibiotik konvensional tersebut di atas, meskipun masih perlu
dibuktikan keunggulannya secara in vivo.
 Penanganan kegagalan ginjal.
Gagak ginjal mendadak adalah salah sati komplikasi berat dari
leptospirosis. Kelainan ada ginjal berupa akut tubular nekrosis (ATN).
Terjadinya ATN dapat diketahui dengan melihat ratio osmolaritas urine dan
plasma (normal bila ratio <1). Juga dengan melihat perbandingankreatinin
urine dan plasma, ”renal failire index” dll.

 Pengobatan terhadap infeksi sekunder.


Penderita leptospirosis sangat rentan terhadap terjadinya beberapa infeksi
sekunderakibat dari penyakitnya sendiri atau akibat tindakan medik, antara
lain: bronkopneumonia, infeksi saluran kencing, peritonitis (komplikasi
dialisis peritoneal), dan sepsis. Dilaporkan kelainan paru pada leptospirosis
terdapat pada 20-70% kasus (Kevins O Neal, 1991). Pengelolaan sangat
tergantung dari jenis komplikasi yang terjadi. Pada penderita leptospirosis,
sepsis / syok septik mempunyai angka kematian yang tinggi.

2.5 Prognosis Leptospirosis

Jika tidak ada ikterus, penyakit jarang fatal. Pada kasus dengan ikterus, angka
kematian 5 % pada umur di bawah 30 tahun, dan pada usia lanjut menjadi 30-40 %