You are on page 1of 36

PROGRAM INTERNSHIP DOKTER INDONESIA

LAPORAN MINI PROJECT

FAKTOR LINGKUNGAN YANG MEMPENGARUHI KEJADIAN


LEPTOSPIROSIS

Oleh:

dr. Ayu Suci Lestari

Pendamping:

dr. Nurhayati Triasih

PUSKESMAS PANEKAN

DINAS KESEHATAN KABUPATEN MAGETAN

2017
KATA PENGANTAR

Segala puji hanya bagi Allah SWT yang telah melimpahkan taufik,
rahmat, dan hidayah-Nya, sehingga penulis dapat menyelesaikan mini project
dengan judul “Faktor Lingkungan yang Mempengaruhi Kejadian Leptospirosis ”.
Ketertarikan penulis akan topik ini didasari oleh fakta bahwa terdapat
adanya KLB Leptospirosis dimana salah satu pasien nya meninggal setelah 2
hari perawatan. Serta, penanganan pasca kejadian Leptospirosis masih belum
dijalankan sepenuhnya seuai pedoman yang ada.
Dengan selesainya mini project ini, penulis mengucapkan terima kasih
yang tak terhingga kepada:

1. dr. Nurhayati Triasih selaku kepala Puskesmas Panekan dan dokter


pembimbing.
2. Semua pihak yang telah memberikan bantuan dan dukungan dalam
penyusunan laporan ini, yang tidak dapat penulis sebutkan satu-persatu.

Penulis menyadari mini project yang telah ditulis sangat jauh dari
sempurna, namun penulis berharap mini project ini akan dapat memberikan
manfaat. Semoga Allah SWT senantiasa memberikan rahmat dan karunia-Nya
kepada kita semua, Amin.

Magetan, Mei 2017

Penulis
DAFTAR ISI
BAB I

PENDAHULUAN

1.1 LATAR BELAKANG

Penyakit leptospirosis masih menjadi permasalahan kesehatan


masyarakat di negara berkembang termasuk indonesia dengan terdapat
laporan adanya endemi/wabah atau kejadian luar biasa (KLB ) leptospirosis
di beberapa wilayah dengan angka kesakitan dan kematian yang sudah
terjadi.

Penyakit leptospirosis mempunyai sinonim (nama lain): Autumnal


fever, Conical fever, Canine typhus, Cane cutter’s fever, Flood fever,
haemorrhagic jaundice, Icteric leptospirosis, Mud fever, Redwater of calves,
Rice field fever, Stuttgard disease, Swamp fever, Swineherd’s disease,
Trench fever dan demam kemih tikus atau untuk tipe yang berat dikenal weil
disease.

Leptospirosis adalah penyakit infeksi yang disebabkan oleh kuman


leptospira patogen. Gejala leptospirosis mirip dengan penyakit infeksi lainnya
seperti influensa, meningitis, hepatitis, demam dengue, deman berdarah
dengue dan demam virus lainnya. Kuman leptospira masuk ke dalam tubuh
penjamu melalui luka iris atau luka abrasi pada kulit, konjungtiva atau
mukosa utuh yang melapisi mulut, faring, Esofagus, bronkus, alveolus dan
dapat masuk melalui inhalasi droplet infeksius dan minum air yang
terkontaminasi. Keluhan-keluhan khas yang dapat ditemukan, yaitu: demam
mendadak, keadaan umum lemah tidak berdaya, mual, muntah, nafsu makan
menurun dan merasa mata makin lama bertambah kuning dan sakit otot
hebat terutama daerah betis dan paha.

Leptospirosis sering kali tidak terdiagnosis karena gejala klinis tidak


spesifik, dan sulit dilakukan konfirmasi diagnosis tanpa uji laboratorium.
Kejadian luar biasa leptospirosis dalam dekade terakhir di beberapa wilayah
telah menjadikan leptospirosis sebagai salah satu penyakit yang termasuk
the emerging infectious diseases. Terjadinya leptospirosis terutama di
daerah beriklim tropis dan subtropis, dengan curah hujan tinggi
(kelembaban), khususnya di negara berkembang, dimana kesehatan
lingkungannya kurang diperhatikan terutama. pembuangan sampah.
International Leptospirosis Society menyatakan Indonesia sebagai negara
insiden leptospirosis tinggi dan peringkat tiga di dunia untuk mortalitas.

Angka kematian akibat leptospirosis tergolong tinggi, mencapai 5-40%.


Infeksi ringan jarang terjadi fatal dan diperkirakan 90% termasuk dalam
kategori ini. Anak balita, orang lanjut usia dan penderita
“immunocompromised” mempunyai resiko tinggi terjadinya kematian,
dikarenakan kurangnya sosialisasi dan pengetahuan terhadap ciri- ciri
rujukan untuk mengantisipasi berkuranganya insidensi kematian pada
penderita

Penderita berusia di atas 50 tahun, risiko kematian lebih besar, bisa


mencapai 56 persen. Pada penderita yang sudah mengalami kerusakan hati
yang ditandai selaput mata berwarna kuning, risiko kematiannya lebih tinggi

1.2 RUMUSAN MASALAH

Berdasarkan uraian pada latar belakang masalah tersebut di atas dapat


dirumuskan masalah penelitian sebagai berikut :

Bagaimana gambaran faktor resiko terhadap (kebersihan lingkungan,


kebersihan pribadi, sosialisai atau penyuluhan dan tingkat keparahan dari
ciri- ciri rujukan pada penderita serta pemberian profilaksis setelah terjadi
insidensi) dengan kejadian leptospirosis di Kecamatan Panekan Kabupaten
Magetan bulan Maret 2017.

1.3 TUJUAN PENELITIAN

1. Tujuan umum

a. Untuk mengetahui gambaran faktor resiko dan tingkat keparahan


kejadian leptospirosis di desa panekan di Kecamatan Panekan
Kabupaten Magetan pada bulan maret 2017
2. Tujuan khusus

a. Diketahuinya gambaran kebersihan lingkungan sebagai faktor


resiko leptospirosis di kecamatan panekan kabupaten magetan
pada bulan maret 2017.

b. Diketahuinya gambaran kebersihan pribadi sebagai faktor resiko


leprospirosis di kecamatan panekan kabupaten magetan pada
bulan maret 2017.

c. Diketahuinya pengaruh sosialisasi /penyuluhan sebagai indikator


pengetahuan tentang leptospirosis di kecamatan panekan
kabupaten magetan pada bulan maret 2017.

d. Diketahuinya gambaran dari ciri-ciri rujukan sebagai faktor resiko


keparahan leptospirosis di kecamatan panekan kabupaten
magetan pada bulan maret 2017.

e. Diketahuinya manfaat pemberian profilaksis setelah terjadi


insidensi sebagai faktor resiko leptospirosis selanjutnya di
kecamatan panekan kabupaten magetan pada bulan maret 2017.

1.4 MANFAAT PENELITAN

a. Untuk mayarakat : menjadi sumber informasi bagi masyarakat gambaran


faktor resiko kejadian leptospirosis di kecamatan panekan kabupaten
magetan pada bulan maret 2017.

b. Untuk institusi : hasil penelitian di harapkan menjadi data dasar untuk


mengetahui lebih lanjut faktor resiko dan tindakan pencegahan terhadap
kejadian leptospirosis di kecamatan panekan kabupaten magetan.

c. Untuk peneliti : sebagai prasyarat tugas Usaha Kesehatan Masyarakat (


UKM ) pada Program Internsip Dokter Indonesia periode 16 februari
2017 s.d 16 februari 2018 di kabupaten magetan jawa timur.
BAB II
TINJAUAN PUSTAKA

2.1 LEPTOSPIROSIS
2.1.1 Definisi Leptospirosis
Leptospirosis adalah suatu penyakit zoonosis yang disebabkan oleh
mikroorganisme berbentuk spiral dan bergerak aktif yang dinamakan leptospira.
Penyakit ini dikenal dengan berbagai nama seperti Mud fever, Slime fever
(Shlamn fieber), Swam fever, autumnal fever, infectious jaundice, field fever,cane
cutter dan lain-lain. Leptospirosis merupakan istilah untuk penyakit yang
disebabkan oleh semua leptospira tanpa memandang serotipe tertentu. (Depkes
RI, 2005)

2.1.2 Etiologi
Genus Leptospira yang termasuk dalam ordo Spirochaeta dari famili
Trepanometaceae adalah bakteri yang berbentuk seperti benang dengan
panjang 6-12 μm. Spesies L.interrogans adalah spesies yang dapat meninfeksi
manusia dan hewan.

Gambar 1. Leptospira

Karena ukurannya yang sangat kecil, leptospira hanya dapat dilihat


dengan mikroskop medan gelap atau mikroskop elektron. Bakteri leptospira
berbentuk spiral dengan ujung-ujung seperti pengait. Bakteri ini peka terhadap
asam, bersifat aerobik obligat dengan pertumbuhan optimum pada suhu 280 -
300 0C dan pH 7,2 - 8,0. Di dalam air tawar dapat bertahan hidup sampai sekitar
satu bulan, namun dalam air yang pekat seperti air selokan dan air laut leptospira
akan cepat mati. Lingkungan yang sesuai untuk hidup leptospira di tanah panas
dan lembab seperti daerah tropis. (Widoyono, 2008 ; Levett, 2001)

2.1.3 Cara Penularan

Infeksi pada manusia dapat terjadi melalui beberapa cara berikut ini :
a. Kontak dengan air, tanah dan lumpur yang tercemar bakteri.
b. Kontak dengan organ, darah dan urin hewan yang terinfeksi.
c. Mengonsumsi makanan yang terkontaminasi.
Bakteri masuk kedalam tubuh manusia melalui kulit yang luka atau lecet
dan selaput mukosa, bahkan dalam literatur disebutkan bahwa penularan
penyakit ini dapat melalui kontak dengan kulit sehat terutama bila kontak lama
dengan air. Di Indonesia infeksi ini banyak terjadi di daerah banjir.
Terdapat tiga pola epidemiologi leptospira, yaitu :
1. Penularan melalui kontak langsung, biasanya pada daerah beriklim
sedang, sering terjadi di peternakan sapi atau babi.
2. Penularan atau penyebaran penyakit karena kontaminasi pada lingkungan,
biasanya pada musim penghujan.
3. Penularan melalui infeksi rodensia pada lingkungan perkotaan yang
kumuh. (Widoyono, 2002; Faine, 1994)
2.1.4 Gambaran Klinis
Masa inkubasi leptospirosis adalah 4-19 hari, dengan rata rata 10 hari.
Setelah masuk ke dalam tubuh manusia, bakteri akan masuk ke peredaran darah
dan beredar ke seluruh tubuh sehingga dapat menyebabkan kerusakan di mana
saja termasuk organ jantung, otak dan ginjal. Manifestasi klinis leptospirosis
terbagi menjadi tiga fase :
1. Fase pertama (leptospiremia)
Fase ini ditandai dengan demam tinggi mendadak, skin rash, conjunctival (mata
merah), nyeri otot hebat terutama di otot belakang paha dan betis sehingga
kadang- kadang penderita mengeluh sulit berjalan, ikterus, sakit kepala berat dan
nyeri perut yang disebabkan oleh gangguan hati, ginjal dan meningitis. Fase ini
berlangsung selama 4-9 hari.
2. Fase kedua (imun)
Titer antibodi IgM mulai terbentuk dan meningkat dengan cepat. Gangguan klinis
akan memuncak. Dapat terjadi leptopiura (leptospira dalam urin) selama satu
minggu sampai satu bulan. Fase ini berlangsung selama 4-30 hari.
3. Fase ketiga (konvalesen).
Fase ini ditandai dengan gejala klinis yang sudah berkurang dapat timbul kembali
dan berlangsung selama 4-30 hari (Depkes RI, 2005 ; Gasem, 2002).

Gambar 2. Conjungtiva suffision dan ikterik pada sklera

2.1.5 Pemeriksaan Laboratorium


Pemeriksaan laboratorium sangat perlu untuk menegakkan diagnosis
penyakit leptospirosis secara dini dengan cepat dan tepat.
Pemeriksaan laboratorium untuk diagnose leptospiroris dibagi 2 cara yaitu
Pemeriksaan Bakteri dan Pemeriksaan Serologis.
a. Pemeriksaan Bakteri :
Pemeriksaan bakteri leptospira dapat secara langsung dengan cara di kultur.
Specimen diambil dari urin penderita maupun hewan reservoir yang dibiakkan
dalam media tertentu. Keuntungan dari metode ini adalah dapat mengamati
bakteri leptospira dalam keadaan hidup, tetapi tidak dapat membedakan spesies.

b. Pemeriksaan Serologi :
Sebagian besar kasus leptospirosis didiagnosis dengan tes serologi.
Antibodi dapat dideteksi di dalam darah 5-7 hari sesudah munculnya
gejala.
Ada banyak metode serologis yang dapat digunakan diantaranya adalah:
1. Metode MAT (Microscopic Aglutination Test)
Prinsip dari metode ini adalah antibodi dari spesimen serum yang
bereaksi dengan antigen serovar Leptospira. Keuntungan dari metode ini
adalah dapat menetukan serovar Leptospira. Sedangkan kekurangan dari
metode ini adalah rumit dan membutuhkan banyak jenis serovar.
2. Metode ELISA (Enzyme Linked Imunosorbent Assay)
Prinsip dari metode ini adalah reaksi antara antibodi IgM atau IgG dari
spesimen serum dengan antigen spesies Leptospira interogans. Antibodi
Igm dapat terdeteksi sampai bertahun tahun. Keuntungan dari metode ini
sensitif, tetapi tidak bisa menentukan jenis serovar. Pengembangan dari
metode ini adalah metode Dipstick Assay yang mempunyai sesitifitas
88% dan specifitas 95%. (Levett, 2001;WHO, 2003; Setiawan, 2008)
3. Metode PCR (Polymerase Chain Reaction)
PCR adalah suatu teknik enzimatik in vitro yang digunakan untuk
menghasilkan gugus DNA spesifik dalam jumlah besar dan dalam waktu
singkat melalui langkah denaturation, annealing dan extension pada
temperatur yang berbeda. Metode ini sangat berguna untuk mendiagnosis
leptospirosis terutama pada fase dini sebelum titer antibodi terbentuk.
Spesimen dapat berupa urin maupun darah. Keterbatasan metode ini
adalah tidak mampu mendeteksi jenis serovar. Kelemahan dari metode ini
adalah memerlukan peralatan dan tenaga ahli yang khusus (Levett,
2001;WHO, 2003; Setiawan, 2008).
2.2 Faktor Risiko Leptospirosis
Lingkungan adalah segala sesuatu yang berada di sekitar manusia.
Lingkungan di sekitar manusia dapat dikategorikan menjadi lingkungan fisik,
biologi, kimia, sosial budaya.

2.2.1 Faktor Agen (Agent Factor)


Leptospirosis adalah penyakit infeksi yang disebabkan oleh bakteri
patogen yang disebut Leptospira. Spesies yang menginfeksi adalah terdiri dari
kelompok leptospira patogen yaitu L. Intterogans. Leptospira ini terdiri dari 25
serogrup dan 250 serovar (Depkes RI, 2008).

2.2.2 Faktor Pejamu (Host Factor)


Leptospirosis pada manusia dapat terjadi pada semua kelompok umur dan
jenis kelamin (Soedin, 1999; Sanford, 1994).

2.2.3 Faktor Lingkungan (Environmental Factor)


Perubahan komponen lingkungan yang memiliki potensi bahaya
kesehatan masyarakat pada kejadian leptospirosis ini meliputi:

a. Lingkungan Fisik
1. Adanya Riwayat Banjir.
Keberadaan sungai yang membanjiri lingkungan sekitar rumah dapat
menjadi media untuk menularkan berbagai jenis penyakit termasuk penyakit
leptospirosis.Hal ini terjadi ketika air sungai terkontaminasi oleh urin tikus atau
hewan peliharaan yang terinfeksi bakteri leptospira sehingga cara penularannya
disebut Water-Borne Infection. Adanya riwayat banjir mempunyai risiko 2,36 kali
lebih besar untuk terjadinya leptospirosis dibanding tidak adanya riwayat banjir
(Suratman, 2005).

2. Kondisi selokan yang buruk.


Selokan menjadi tempat yang sering dijadikan tempat tinggal tikus
sehingga dapat menjadi media untuk menularkan penyakit leptospirosis. Kondisi
selokan yang menggenang, sering meluap serta jarak dari rumah kurang dari 2
meter merupakan faktor yang berpengaruh terhadap kejadian leptospirosis
(Suratman, 2005 ; Priyanto, 2008).
3. Genangan air.
Air tergenang seperti yang selalu dijumpai di negeri-negeri beriklim
sedang pada penghujung musim panas, hal ini memainkan peranan penting
dalam penularan penyakit leptospirosis. Tikus biasanya kencing digenangan air.
Lewat genangan air inilah bakteri leptospira akan masuk ke tubuh manusia (
Rejeki, 2005)

4. Sampah.
Adanya kumpulan sampah di rumah dan sekitarnya akan menjadi tempat
yang disenangi tikus. Kondisi sanitasi yang jelek seperti adanya kumpulan
sampah dan kehadiran tikus merupakan variabel determinan kasus leptospirosis.
Adanya kumpulan sampah dijadikan indikator dari kehadiran tikus (Barcellos,
2001).

5. Sumber Air.
Untuk keperluan sehari-hari, air dapat diperoleh dari beberapa macam
sumber diantaranya air PDAM dan air tanah. Penempatan air secara terbuka
dapat menimbulkan kontaminasi oleh berbagai macam bakteri. Dalam penelitian
Mari Okatini tahun 2005 menyebutkan bahwa responden yang mempunyai
sarana air bersih ang tidak memenuhi syarat mempunyai risiko 4,5 kali lebih
besar dibanding responden yang mempunyai sarana air bersih yang memenuhi
syarat.

6. Jarak rumah dengan tempat pengumpulan sampah.


Tikus senang berkeliaran di tempat sampah untuk mencari makanan.
Jarak rumah yang dekat dengan tempat pengumpul sampah mengakibatkan
tikus dapat masuk ke rumah dan kencing di sembarang tempat. Jarak rumah
yang kurang dari 500 meter dari tempat pengumpulan sampah menunjukkan
kasus leptospirosis lebih besar dibanding yang lebih dari 500 meter (Barcellos,
2001).

b. Lingkungan Biologik.
1. Populasi tikus di dalam dan sekitar rumah.
Bakteri leptospira khususnya spesies L. ichterrohaemorrhagiae banyak
menyerang tikus besar seperti tikus wirok (Rattus norvegicus dan tikus rumah
(Rattus diardii). Sedangkan L.ballum menyerang tikus kecil (mus musculus).
Tikus yang diduga mempunyai peranan penting pada waktu terjadi Kejadian Luar
Biasa di DKI Jakarta dan Bekasi adalah: R.norvegicus, R.diardii, Suncus murinus
dan R.exulat.
Dari hasil penelitian menunjukkan bahwa ada hubungan bermakna antara
keberadaan tikus dengan kejadian leptospirosis. (Johnson, 2004 ; Suratman,
2005 ; Priyanto, 2008).

2. Keberadaan hewan peliharaan sebagai hospes perantara. Disamping


menginfeksi pada hewan liar kuman Leptospira dapat juga menginfeksi binatang
piaraan seperti anjing, lembu, babi, kerbau, kucing dan lain-lain . Di dalam tubuh
binatang yang bertindak sebagai hospes reservoar, mikroorganisme leptospira
hidup di dalam ginjal/air kemih. Kontak dengan urin atau bangkai binatang yang
terinfeksi merupakan risiko terjadinya penularan Leptospirosis ( Suratman, 2005 ;
Kusmiyati dkk, 2005) .

c. Lingkungan Sosial
1. Tingkat Pendidikan.
Pendidikan merupakan salah satu faktor yang cukup penting dalam
penularan penyakit khususnya leptospirosis. Pendidikan masyarakat yang
rendah akan berpengaruh terhadap berbagai risiko paparan penyakit yang ada di
sekitarnya. Semakin tinggi pendidikan masyarakat,akan membawa dampak yang
cukup signifikan dalam proses pemotongan jalur transmisi penyakit leptospirosis
(Okatini dkk, 2007).

2. Jenis Pekerjaan.
Jenis pekerjaan merupakan faktor risiko penting dalam kejadian penyakit
leptospirosis. Jenis pekerjaan yang berisiko terjangkit leptospirosis antara lain:
petani, dokter hewan, pekerja pemotong hewan,pekerja pengontrol tikus, tukang
sampah, pekerja selokan, buruh tambang, tentara, pembersih septic tank dan
pekerjaan yang selalu kontak dengan binatang. Faktor risiko leptospirosis akibat
pekerjaan yang ditemukan pertama kali adalah buruh tambang. Pekerja-pekerja
selokan, parit/saluran air, petani yang bekerja di sawah, ladang-ladang tebu,
pekerja tambang, petugas survei di hutan belantara, mereka yang dalam aktivitas
pekerjaan selalu kontak dengan urin berbagai binatang seperti dokter hewan,
mantri hewan, penjagal di rumah potong, atau para pekerja laboratorium,
merupakan orang-orang yang berisiko tinggi untuk mendapat leptospirosis.
(Speelman,1998; Priyanto, 2008).

3. Sistem distribusi air bersih dengan saluran tertutup.


Sistem distribusi air bersih dengan saluran tertutup dapat menghambat
penularan penyakit leptospirosis dari binatang ke manusia karena dapat
mencegah kontaminasi atau pencemaran air yang digunakan untuk konsumsi
manusia (Candra, 2007).

4. Ketersediaan pengumpulan limbah padat.


Tidak adanya pelayanan pengumpulan limbah padat menyebabkan
akumulasi limbah organik, meningkatkan perkembang biakan binatang pengerat
sehingga memungkinkan terjadinya penularan leptospirosis dari binatang kepada
manusia (Barcellos, 2001).

c. Faktor Perilaku
Ada beberapa macam teori tentang perilaku, antara lain menurut Solita
(1993) dikatakan bahwa perilaku merupakan hasil dari segala macam
pengalaman serta interaksi manusia dengan lingkungannya yang terwujud dalam
bentuk pengetahuan, sikap dan praktik atau tindakan. Sedangkan Notoatmodjo
(1993) mengatakan perilaku manusia dapat dilihat dari tiga aspek, yaitu fisik,
psikis dan sosial yang secara terinci merupakan refleksi dari berbagai gejolak
seperti: pengetahuan, motivasi, persepsi, sikap dan sebagainya yang ditentukan
dan dipengaruhi oleh faktor pengalaman, keyakinan sarana fisik dan sosial
budaya masyarakat. Menurut Blum dalam Notoatmodjo (1993) disebutkan bahwa
perilaku sesorang terdiri dari tiga bagian penting, yaitu kognitif, afektif dan
psikomotor. Kognitif dapat diukur dari pengetahuan, afektif dari sikap atau
tanggapan dan psikomotor diukur melalui tindakan (praktik) yang dilakukan.
Dalam proses pembentukan dan perubahan perilaku dipengaruhi oleh
beberapa faktor yang berasal dari dalam dan luar individu. Faktor dari dalam
individu mencakup pengetahuan, kecerdasan, persepsi, sikap, emosi dan
motivasi yang berfungsi untuk pengolahan rangsangan dari luar. Faktor dari luar
individu meliputi lingkungan sekitar, baik fisik maupun non-fisik seperti iklim,
manusia, sosial, ekonomi, budaya dan sebagainya.
Aspek perilaku yang berkaitan dengan proses penularan penyakit
leptospirosis adalah sebagai berikut:
1. Kebiasaan mandi di sungai.
Penularan bakteri leptospira pada manusia adalah kontak langsung
dengan bakteri leptospira melalui pori-pori kulit yang menjadi lunak karena
terkena air, kulit terluka, selaput mukosa maupun selaput lendir. Kegiatan
mencuci dan mandi di sungai atau danau akan berisiko terpapar bakteri
leptospira karena kemungkinan terjadi kontak dengan urin binatang yang
mengandung leptospira akan lebih besar. Penelanan air yang tercemar selama
menyelam berhubungan dengan angka serangan yang tinggi. Kebiasaan mandi
dan mencuci di sungai mempunyai risiko 2,5 kali lebih tinggi terkena leptospirosis
(Sejvar, 2000 ; David dkk, 2000).

2. Pemakaian sabun mandi.


Sabun mandi yang mengandung zat anti kuman atau bakteri dapat
membantu membunuh atau menghambat masuknya kuman penyakit ke dalam
tubuh manusia sehingga proses penularan dapat dicegah (Levett, 2001;
Hadisaputro, 2002).

3. Pemakaian alat pelindung diri


Dengan tidak memakai alat pelindung diri akan mengakibatkan
kemungkinan masuknya bakteri leptospira ke dalam tubuh akan semakin besar.
Bakteri leptospira masuk tubuh melalui pori-pori tubuh terutama kulit kaki dan
tangan. Oleh karena itu dianjurkan bagi para pekerja yang selalu kontak dengan
air kotor atau lumpur supaya memakai alat pelindung diri seperti sepatu bot dan
sarung tangan. Banyak infeksi leptospirosis terjadi karena berjalan di air dan
kebun tanpa alas pelindung diri. Tidak memakai sepatu saat bekerja di sawah
mempunyai risiko 2,17 kali lebih tinggi terkena leptospirosis (Johnson, 2004).

4. Kebiasaan merawat luka.


Jalan masuk leptospira yang biasa pada manusia adalah kulit yang
terluka lecet, terutama sekitar kaki dan kelopak mata, hidung, dan selaput lendir
yang terpapar. Orang yang tidak melakukan perawatan luka mempunyai risiko
2,69 kali lebih tinggi terkena leptospirosis (Sanford, 1994).

5. Kebiasaan menggunakan deterjen atau desinfektan


Keadaan kondisi lingkungan yang tidak cocok untuk berkembang biak
bakteri leptospira dapat menyebabkan bakteri tersebut terhambat
pertumbuhannya bahkan menjadi mati. Udara yang kering, sinar matahari yang
cukup kuat, pH di luar range 6,2 – 8,0 merupakan suasana yang tidak
menguntungkan bagi kehidupan dan pertumbuhan leptospira. Kelangsungan
hidup leptospira patogen dalam alam ditentukan oleh berbagai faktor seperti pH
urin pejamu, pH tanah atau air dimana mereka berada, dan perubahan suhu.
Leptospira dalam sebagian besar “bekas urin” pada tanah tetap infeksius selama
6 - 48 jam. Urin yang asam akan membatasi kelangsungan hidup leptospira;
walau demikian, jika urin netral atau basa dan disimpan dalam kelembaban
lingkungan serupa dengan kadar garam rendah, tidak tercemar oleh
mikroorganisme atau sabun cuci, dan mempunyai suhu di atas 22°C, leptospira
dapat bertahan hidup sampai beberapa minggu. Keberadaan air limbah yang
mengandung deterjen dapat mengurangi lama waktu hidup leptospira dalam
saluran pembuangan, pertumbuhan leptospira terhambat oleh konsentrasi
deterjen yang rendah. Penggunaan bahan-bahan kimiawi yang berfungsi sebagai
desinfektan juga menyebabkan leptospira mudah terbasmi (Hadisaputro, 2002).

6. Kebiasaan menyimpan makanan dan alat makan


Jalan masuk kuman leptospira dapat melalui makanan yang
terkontaminasi oleh urin tikus. Tikus sering berkeliaran ditempat tempat
penyimpanan makanan untuk mencari makan. Makanan dan alat makan yang
disimpan dalam keadaan terbuka berisiko menjadi sumber penularan
leptospirosis (Sehgal, 2002; Sarkar, 2002).

2.3 Manajemen Pengendalian Leptospirosis


Manajemen pengendalian leptospirosis adalah manajemen pengendalian
yang bersifat preventif dimana bertujuan untuk menurunkan angka kejadian
leptospirosis dari aspek lingkungan. Menurut Sub Dit Zoonosis Depkes RI,
kegiatan pencegahan terhadap penyakit leptospirosis dapat dilakukan dengan
cara antara lain :
1. Melakukan Kebersihan individu (personal hygiene) dan sanitasi lingkungan.
a. Usaha yang dianjurkan antara lain dengan : mencuci kaki, tangan serta
bagian tubuh lainnya dengan sabun setelah bekerja disawah.
b. Pembersihan tempat tempat air dan kolam kolam renang.
2. Pendidikan Kesehatan (Health education) mengenai bahaya serta cara
penularan penyakit Leptospirosis.
a. Melindungi pekerja-pekerja yang mempunyai risiko tinggi terhadap
leptospirosis dengan menggunakan sepatubot dan sarung tangan.
b. Vaksinasi terhadap hewan hewan peliharaan dan hewan ternak dengan
vaksin strain lokal.
c. Pemberantasan rodent bila kondisi memungkinkan

2.4 Penatalaksanaan Leptospirosis

• Terapi untuk leptospirosis ringan

Pada bentuk yang sangat ringan bahkan oleh penderita seperti sakit flu
biasa. Pada golongan ini tidak perlu dirawat. Demam merupakan gejala dan
tanda yang menyebabkan penderita mencari pengobatan. Ikterus kalaupun
ada masih belum tampak nyata. Sehingga penatalaksanaan cukup secara
konservatif.

Penatalaksanaan konservatif

 Pemberian antipiretik, terutama apabila demamnya melebihi 38°C


 Pemberian cairan dan nutrisi yang adekuat.
Kalori diberikan dengan mempertimbangkan keseimbangan nitrogen,
dianjurkan sekitar 2000-3000 kalori tergantung berat badan penderita.
Karbohidrat dalam jumlah cukup untuk mencegah terjadinya ketosis.
Protein diberikan 0,2 – 0,5 gram/kgBB/hari yang cukup mengandung
asam amino essensial.

 Pemberian antibiotik-antikuman leptospira.


paling tepat diberikan pada fase leptospiremia yaitu diperkirakan pada
minggu pertama setelah infeksi. Pemberian penicilin setelah hari ke
tujuh atau setelah terjadi ikterus tidak efektif. Penicillin diberikan dalam
dosis 2-8 juta unit, bahkan pada kasus yang berat atau sesudah hari
ke-4 dapat diberikan sampai 12 juta unit (sheena A Waitkins, 1997).
Lama pemberian penisilin bervariasi, bahkan ada yang memberikan
selama 10 hari.

 Terapi suportif supaya tidak jatuh ke kondisi yang lebih berat.


Pengawasan terhadap fungsi ginjal sangat perlu.
Terapi pilihan (DOC) untuk leptospirosis sedang dan berat adalah Penicillin
G, dosis dewasa 4 x 1,5 juta unit /i.m, biasanya diberikan 2 x 2,4 unit/i.m, selama
7 hari.

Terapi untuk leptospirosis berat

 Antipiretik
 Nutrisi dan cairan.
Pemberian nutrisi perlu diperhatikan karena nafsu makan penderita
biasanya menurun maka intake menjadi kurang. Harus diberikan nutrisi
yang seimbang dengan kebutuhan kalori dan keadaan fungsi hati dan
ginjal yang berkurang. Diberikan protein essensial dalam jumlah cukup.
Karena kemungkinan sudah terjadi hiperkalemia maka masukan kalium
dibatasi sampai hanya 40mEq/hari. Kadar Na tidak boleh terlalu tinggi.
Pada fase oligurik maksimal 0,5gram/hari. Pada fase ologurik
pemberian cairan harus dibatasi. Hindari pemberian cairan yang terlalu
banyak atau cairan yang justru membebani kerja hati maupun ginjal.
Infus ringer laktat misalnya, justru akan membebani kerja hati yang
sudah terganggu. Pemberian cairan yang berlebihan akan menambah
beban ginjal. Untuk dapat memberikan cairan dalam jumlah yang cukup
atau tidak berlebihan secara sederhana dapat dikerjakan monitoring /
balance cairan secara cermat.

Pada penderita yang muntah hebat atau tidak mau makan diberikan
makan secara parenteral. Sekarang tersedia cairan infus yang praktis
dan cukup kandungan nutrisinya.

 Pemberian antibiotik
Pada kasus yang berat atau sesudah hari ke-4 dapat diberikan sampai
12 juta unit (sheena A Waitkins, 1997). Lama pemberian penisilin
bervariasi, bahkan ada yang memberikan selama 10 hari. Penelitian
terakhir : AB gol. fluoroquinolone dan beta laktam (sefalosporin,
ceftriaxone) > baik dibanding antibiotik konvensional tersebut di atas,
meskipun masih perlu dibuktikan keunggulannya secara in vivo.
 Penanganan kegagalan ginjal.
Gagak ginjal mendadak adalah salah sati komplikasi berat dari
leptospirosis. Kelainan ada ginjal berupa akut tubular nekrosis (ATN).
Terjadinya ATN dapat diketahui dengan melihat ratio osmolaritas urine
dan plasma (normal bila ratio <1). Juga dengan melihat
perbandingankreatinin urine dan plasma, ”renal failire index” dll.

 Pengobatan terhadap infeksi sekunder.


Penderita leptospirosis sangat rentan terhadap terjadinya beberapa
infeksi sekunderakibat dari penyakitnya sendiri atau akibat tindakan
medik, antara lain: bronkopneumonia, infeksi saluran kencing, peritonitis
(komplikasi dialisis peritoneal), dan sepsis. Dilaporkan kelainan paru
pada leptospirosis terdapat pada 20-70% kasus (Kevins O Neal, 1991).
Pengelolaan sangat tergantung dari jenis komplikasi yang terjadi. Pada
penderita leptospirosis, sepsis / syok septik mempunyai angka kematian
yang tinggi.

2.5 Prognosis Leptospirosis

Jika tidak ada ikterus, penyakit jarang fatal. Pada kasus dengan ikterus,
angka kematian 5 % pada umur di bawah 30 tahun, dan pada usia lanjut menjadi
30-40 %
BAB III
METODE PENELITIAN

3.1 Jenis Penelitian

Penelitian ini merupakan studi observatif serta studi kasus.

3.2 Tempat dan Waktu Penelitian


Penelitian ini dilaksanakan di Puskesmas Panekan pada bulan Maret
2017 hingga April 2017.

3.3 Desain Penelitian


Jenis peneilitian ini adalah studi observatif dengan pendekatan case
report untuk memberikan masukan terhadap pelayanan PKM khususnya pada
penyakit Leptospirosis.

3.4 Sampel Penelitian


Sampel pada penelitian ini adalah rekam medis penderita Leptospirosis
beserta keadaan lingkungan penderita.

3.5 Metode Pengumpulan Data


3.5.1 Data Primer
Data primer yang diperlukan dalam penelitian ini didapat dari hasil rekam
medis pasien serta keadaan lingkungan penderita Leptospirosis antara bulam
Maret – April 2017

3.5.2 Data sekunder


Data sekunder diperoleh dari Puskesmas Panekan, yaitu data mengenai
demografi penduduk, serta gambaran umum mengenai Kecamatan Panekan dan
angka penemuan Leptospirosis di Puskesmas Panekan.

3.6 Instrumen Penelitian


Instrumen penelitian yang digunakan adalah rekam medis pasien serta
kunjungan ke lingkungan penderita Leptospirosis. Serta digunakan sumber
literatur
3.7 Definisi Operasional

1. Rekam Medis adalah berkas yang berisi catatan dan dokumen tentang
identitas pasien, pemeriksaa, pengobatan tindakan dan pelayanan lain
yang diberikan pada pasien oleh sarana pelayanan kesehatan.

2. Kondisi lingkungan adalah kesatuan ruang dengan semua benda, daya,


keadaan, dan makhluk hidup termasuk manusia dan perilakunnya yang
mempengaruhi kelgasungan perikehidupan dan kesejahteraan.

3. Kriteria Leptospirosis adalah derajat klinis dan laboratorium untuk


mendefinisikan temuan kasus Leptospirosis. Berupa tiga kriteria 1) Kasus
Suspek 2) Kasus Probable 3) Kasus Definitif
BAB IV
HASIL PENELITIAN

4.1 Profil Komunitas Umum (Puskesmas Panekan)


Kecamatan Panekanmerupakan salah satu kecamatan yang ada di
wilayah Kabupaten Magetan. Panekan terdiri dari 17 desa yaitu: Terung, Cepoko
Milangasri Wates Panekan Manjung Tanjungasri Sumberdodol Tapak Sukowidi
Bedagung Ngiliran Jabung Rejomulyo Turi Sidowayah Banjarrejo

4.2 Data Geografis


Puskesmas Panekan terletak di Kecamatan Panekan dengan batas-
batas desa sebagai berikut :
Sebelah Selatan : Desa Pupus, Kecamatan Ngebel, Kab. Ponorogo.
Sebelah Utara : Desa Tawang Rejo, Kecamatan Gemarang.
Sebelah Barat : Desa Wungu, Kecamatan Wungu, Kab.Madiun.
Sebelah Timur : Desa Dolo, Kecamatan Sawahan, Kab.Nganjuk.

4.3 Data Demografis


Jumlah Penduduk Kecamatan Panekan Tahun 2011 dari data proyeksi
penduduk Kabupaten Magetan oleh Badan Pusat Statistik Kabupaten Magetan
sejumlah 56.082

Tabel 4.1 Data Kependudukan Panekan 2013


Gender Laki-laki : 46% Perempuan :56 %
Pendidikan TK :33 unit SD: 46 unit SMP : 5 SMA : 2
unit unit
Perumahan Permanen : 10764 unit Lantai tanah :
Semi-permanen : 2870 3284
unit Lantai non tanah :
Tidak permanen :170 10520 unit
unit
Kesejahteraa Pra-sejahtera : 3208 Sejahtera II :
n Keluarga Sejahtera I : 3573 6018
Sejahtera III :
2801
4.4 Sumber Daya Kesehatan yang Ada

Tabel 4.2 Data Ketenagaan

Jenis Tenaga Jumlah

Puskesmas Induk
3
Dokter
1
Dokter gigi
27
Bidan
32
Perawat Kesehatan
1
Perawat Gigi
2
Sanitarian
1
Analis Kesehatan
1
AA
-
RO
-
Ahli Gizi
3
Juru Rawat
-
Tenaga Umum
1
Tenaga Teknisi Alkes
4
Pekarya Halaman
1
Sopir
2
Jurumasak

4.5 Sarana Pelayanan Kesehatan yang Ada

Tabel 4.3 Sarana Pelayanan Kesehatan


Nama Desa Jml.Pus.Induk Jml.Pustu Jml.Polindes Jml.Posyandu Pos lain
Terung - - - 2
Cepoko - 1 - 4
Milangasri - 1 - 5
Wates - - - 4
Panekan 1 - - 6
Manjung - - 1 4
Tanjungasri - - 1 2
Sumberdodol - 1 - 5
Tapak - - - 4

Sukowidi - - - 3
Bedagung - - - 3
Ngiliran - 1 - 3
Jabung - - - 5
Rejomulyo - - 1 5
Turi - - - 7
Sidowayah - - - 5
Banjarrejo - 1 - 5
Jumlah 1 5 3 72

4.5.1 Unit Layanan di Puskesmas Panekan

 Unit Layanan Klinik Umum


 Unit Layanan Klinik Gigi
 Unit Layanan MTBS
 Unit Layanan IGD 24 Jam
 Unit Layanan KIA / KB / Imunisasi
 Unit Layanan Laboratorium
 Unit Layanan Rawat Inap
 Unit Layanan PONED
 Unit Layanan Kamar Obat
 Unit Layanan Loket

4.6 Data Kesehatan Masyarakat (Primer)

4.6.1 Rekam medis


Data Pasien
Nama : Ny. RK
Umur : 40 th
Alamat : Turi 7/4 Panekan
Hari 1
Anamnesis :
Riwayat Penyakit Sekarang : Pasien datang ke IGD pada tanggal 8 Feb 2017
pukul 10.00, pasien datang dengan keluhan demam naik turun sejak 1 minggu
yang lalu. Pasien mengeluh kuning pada mata sejak 1 hari yang lalu. Pasien
mengeluh nyeri di seluruh badan disertai mual muntah. Terdapat nyeri di bagian
perut sebelah kanan dan semakin memburuk. Terdapat nyeri di bagian betis.
Pasien juga mengeluhkan sesak sejak 2 hari terakhir.
Riwayat penyakit Dahulu : HT (-) DM(-) Penyakit hati Kronis (-)
Riwayat Pengobatan : Pasien membeli obat penurun demam di warung
Pemeriksaan Fisik :
Tanda Vital : Nadi : 100x/menit, Tekanan darah : 130/80 Temperatur aksila :
35,8°C RR : 18x/menit
Kepala/Leher : Anemia (-) Ikterik(+) Pembesaran KGB (-) Faring hiperemi (-)
Thorax : Cor : S1 S2 single kuat teratur M(-) G(-)
Pulmo : SN vesikuler Rh(-) Wh(-)
Abdomen : BU (+) normal, nyeri tekan pada regio hipokondrium kanan
Ekstrimitas : tampak kuning pada palmar kanan kiri serta pedis kanan kiri, edema
(-) akral hangat basah
Pemeriksaan Laboratorium :

pH 5,0 Hb 13,2 mg
BJ 1,020 Leu 2580
Warna Kuning PLT 175.000
kemerahan Hct 36,3
Bau khas OT/PT 61,99/53,62
Kejernihan keruh Widal 1/80
Protein +2 HbsAg -
Nitrit +1
Leukosit 4-5
Eri 6-8
epitel 2-14
PP test -

Diagnosis Kerja : Observasi Jaundice


Leukopenia
Proteinuri
Peningkatan tranasminase
Terapi : IVFD RL 20 tpm, iv Cefotaxim 2x1 gram, iv Ranitidin 2x150mg, Hepa-Q
1x1 tab, dorbigot 3x1, antasida 3x1, Metamizole 3x1 ampul
Hari 2
Anamnesis :
Riwayat Penyakit Sekarang : Pasien mengeluh demam semalaman. Pasien
mengeluh penglihatan semakin kabur. Buang air kecil pasien semakin berkurang
dan nyeri.
Riwayat penyakit Dahulu : HT (-) DM(-) Penyakit hati Kronis (-)
Riwayat Pengobatan : -
Pemeriksaan Fisik :
GCS 456 Tanda Vital : Nadi : 120x/menit, Tekanan darah : 130/80 Temperatur
aksila : 39,3°C RR : 18x/menit
Kepala/Leher : Anemia (-) Ikterik(+) Pembesaran KGB (-) Faring hiperemi (-)
conjuctival suffution (+)
Thorax : Cor : S1 S2 single kuat teratur M(-) G(-)
Pulmo : SN vesikuler Rh(-) Wh(-)
Abdomen : BU (+) normal, nyeri tekan pada regio hipokondrium kanan, nyeri
tekan regio suprapubik
Ekstrimitas : tampak kuning pada palmar kanan kiri serta pedis kanan kiri, edema
(-) akral hangat kering
Pemeriksaan Laboratorium :

Hb 12,6 mg Alkali Phosphatase 87


Leu 25.770 BUN/Creatinin 111/5,8
PLT 180.000 RDT -
Hct 34,3
OT/PT 46/21
Widal 1/80
Albumin 2,8
Diagnosis Kerja : Suspek Leptospirosis dd Weils Disease
Proteinuri
Leukositosis
Azotemia Renal
Hipoalbumin
Terapi : IVFD NS 20 tpm, iv Cefotaxim 2x1 gram, iv Ranitidin 2x150mg, Hepa-Q
1x1 tab, dorbigot 3x1, antasida 3x1, Metamizole 1x1 ampul. Rujuk RSUD
Magetan
Keadaan selama Rujukan : TTV : GCS 456 Tekanan darah 130/80 Nadi
:120x/menit Laju pernafasan :30x/menit Suhu : 39°C
Pasien dinyatakan meninggal setelah perawatan 1 hari di RSUD.
Pasien 2
Nama : Tn. AJ
Umur : 32 th
Alamat : Tempel, Banjarerejo
Hari 1
Anamnesis :
Pasien mengeluh lemas badan sejak 1 minggu yang lalu. Diserati mual muntah
nafsu makan turun dan kepala pusing. Seminggu sebelumnya pasien telah
dirawat di PKM Kendal selama 1 hari dengan diagnosis Demam Tifoid, pasien
meminta pulang paksa. 4 hari dirumah pasien merasa semakin memburuk, lalu
pasien ke PKM Panekan.
Riwayat Penyaklit Dahulu : DM (-) HT(-)
Riwayat Pengobatan : 4 hari sebelumnya dirwat di PKM Kendal dengan
diagnosis Tifoid selama 1 hari.
Pemeriksaan Fisik :
GCS 456 Tanda Vital : Nadi : 98x/menit, Tekanan darah : 90/70 Temperatur
aksila : 38°C RR : 18x/menit
Kepala/Leher : Anemia (-) Ikterik(+) Pembesaran KGB (-) Faring hiperemi (-)
Thorax : Cor : S1 S2 single kuat teratur M(-) G(-)
Pulmo : SN vesikuler Rh(-) Wh(-)
Abdomen : BU (+) menurun, nyeri tekan difus pada abdomen, defans muskuler
(+)
Ekstrimitas : tampak kuning pada palmar kanan kiri serta pedis kanan kiri, edema
(-) akral hangat kering
Pemeriksaan Laboratorium :

Hb 13
Leu 14.700
PLT 30.000
Hct 41
OT/PT 46/21
Widal -
Albumin 2,8

Diagnosis Kerja : Obs Jaundice


Susp. peritonitis
Trombositopenia
Leukositosis

Terapi : IVFD NS 20 tpm, iv Cefotaxim 2x1 gram, iv Ranitidin 2x150mg, Progesic


3x1 tab, Antasida 3x,, Metamizole 1x1 ampul Metilprednisolon 2x8 mg Hepa q
1x1

4.6.2 Kondisi Lingkungan


Kondisi lingkungan pasien di dominasi oleh daerah persawahan dan
ladang. Rumah pasien terletak di daerah turunan. Kondisi rumah pasien
termasuk kategori kumuh. Ruang tamu sudah di keramik tetapi kamar serta
bagian belakang (dapur dan kamar mandi) masih berupa tanah. Kamar pasien
banyak baju berserakan serta kain kumal. Dapur dan kamar mandi hanya
dibatasi gorden. Atap rumah pasien tidak terdapat plafon. Bagian belakang
rumah pasien terdapat kubangan. Lantai tanah rumah pasien sangat lembab.

4.7 Data Kesehatan Masyarakat (Sekunder)


Selama tahun 2016 tidak ditemukan samasekali laporan adanya kasus
Leptospirosis di Unit Rawat Jalan maupun Rawat Inap. Namun, selama 2017
ditemukan 2 kasus probable Leptospirosis di Unit Gawat Darurat/Rawat Jalan,
kedua-duanya diruju ke RSUD Magetan, seorang Pasien dinyatakan meninggal
setelah 1 hari perawatan

4.8 Kriteria kasus Leptospirosis menurut Departemen Kesehatan 2017


1 ) Kasus Suspek

Demam akut dengan atau tanpa sakit kepala, disertai nyeri otot, lemah
(malaise), conjungtival suffision, dan ada riwayat terpapar dengan lingkungan
yang
terkontaminasi atau aktifitas yang merupakan faktor risiko Leptospirosis dalam
kurun waktu 2 minggu.
Faktor risiko tersebut antara lain:
a) kontak dengan air yang terkontaminasi kuman leptospira atau urine
tikus saat terjadi banjir;
b) kontak dengan sungai atau danau dalam aktifitas mandi, mencuci atau
bekerja di tempat tersebut;
c) kontak dengan persawahan ataupun perkebunan (berkaitan dengan
pekerjaan) yang tidak menggunakan alas kaki;
d) kontak erat dengan binatang, seperti babi, sapi, kambing, anjing yang
dinyatakan terinfeksi Leptospira;
e) Terpapar atau bersentuhan dengan bangkai hewan, cairan infeksius
hewan seperti cairan kemih, placenta, cairan amnion, dan lain-lain;
f) memegang atau menangani specimen hewan/manusia yang diduga
terinfeksi Leptospirosis dalam suatu laboratorium atau tempat lainnya;
g) Pekerjaan atau melakukan kegiatan yang berisiko kontak dengan
sumber infeksi, seperti dokter, dokter hewan, perawat, tim penyelamat
atau SAR, tentara, pemburu, dan para pekerja di rumah potong hewan,
toko hewan peliharaan, perkebunan, pertanian, tambang, serta pendaki
gunung, dan lain-lain.

2. Kasus Probable

Dinyatakan probable merupakan saat di mana kasus suspect memiliki


dua gejala klinis di antara tanda-tanda berikut:
a) nyeri betis;
b) ikterus atau jaundice
merupakan kondisi medis yang ditandai dengan menguningnya kulit
dan sklera (bagian putih pada bola mata);
c) manifestasi pendarahan;
d) sesak nafas;
e) oliguria atau anuria, yakni ketidakmampuan untuk buang air kecil;
f) aritmia jantung;
g) batuk dengan atau tanpa hemoptisis; dan
h) ruam kulit.
Selain itu, memiliki gambaran laboratorium:
a) Trombositopenia < 100.000 sel/mm;
b) Leukositosis dengan neutropilia > 80%;
c) Kenaikan jumlah bilirubin total > 2gr% atau peningkatan SGPT,
amilase, lipase, dan creatin phosphokinase (CPK); d) penggunaan
rapid diagnostic test (RDT) untuk mendeteksi imunoglobulin M(IgM)
anti leptospira.

3. Kasus Konfirmasi

Dinyatakan sebagai kasus konfirmasi di saat kasus probable disertai


salah satu dari gejala berikut:
a) Isolasi bakteri Leptospira dari spesimen klinik;
b) Hasil Polymerase Chain Reaction (PCR) positif; dan
c) Sero konversi microscopic agglutination test (MAT) dari negatif
menjadi positif.
Saat ini, belum ada kebijakan dari Kemenkes RI mengenai
pengobatan massal, mengingat Leptospirosis relatif mudah disembuhkan

4.9 Faktor Perilaku Terhadap Penyakit Leptospirosis


Perilaku Hidup Bersih dan Sehat (PHBS) adalah wujud keberdayaan
masyarakat yang sadar, mau dan mampu mempraktekkan PHBS. Dalam
PHBS, ada beberapa program yaitu Kesehatan Lingkungan dan Gaya
Hidup. Dengan demikian, upaya untuk meningkatkan pengetahuan, sikap
dan tindakan dalam menciptakan suatu kondisi bagi kesehatan perorangan,
keluarga, kelompok dan masyarakat secara berkesinambungan. Serta
masyarakat dapat mengenali dan mengatasi masalahnya sendiri, terutama
dalam tatanan masing-masing, dan masyarakat dapat menerapkan cara-
cara hidup sehat dengan menjaga, memelihara dan meningkatkan
kesehatannya. (DEPKES, 2005)
Dari hasil penelusuran oleh pihak PUSKESMAS kerumah penderita
untuk mengetahui perilaku sehari-hari di rumah. Didapatkan hasil perilaku
penderita kurang memerhatikan kesehatan diri sendiri seperti terbiasa
memasak air minum tapi karena daerahnya padat dan kumuh maka besar
kemungkinan terjadinya rekontaminasi air minum oleh bakteri. Pada
penelitian ini diketahui bahwa sarana penyimpanan makanan yang
memenuhi syarat dengan kejadian leptospirosis. Dengan kejadian ini
perilaku yang baik harus bisa mengontrol dan melindungi diri dari
kontaminasi kuman leptospira pada dengan menjaga makanan dari binatang
pengerat (rodent) dan sumber penular leptospirosis lainnya.
Sampah yang tidak dikelola dengan baik juga berhubungan terhadap
kejadian leptospirosis. Hal ini disebabkan bahwa adanya kebiasaan
penderita membuang sampah sembarangan di sekitar rumah.
Diketahui bahwa tingkat sosial ekonomi yang kurang/rendah
berhubungan terhadap kejadian leptospirosis. Sejalan dengan penelitian
Ismail (1994) bahwa penghasilan keluarga yang rendah merupakan problem
dalam mengatur kebutuhan sehari-hari termasuk yang menyangkut
kesehatan diri.
Pengetahuan yang rendah sangat berhubungan dengan kejadian
leptospirosis, dimana hasil penelitian membuktikan bahwa pengetahuan
responden yang rendah beresiko 17,7 kali terkena leptospirosis
dibandingkan dengan responden yang berpengatahuan tinggi. Sejalan
dengan penelitian Ismail (1994) bahwa aspek pengetahuan pada
masyarakat pemukiman padat dan kumuh masih relatif kurang, kondisi ini
menyebabkan kurang optimalnya kualitas dan sumber daya manusia yang
ada.
Untuk menghindari kontaminasi leptospira pada tubuh manusia
diwajibkan untuk mengenakan masker, sarung tangan, pakaian kerja dan
alas kaki saat akan melakukan kegiatan di dalam maupun di dalam rumah
karena dirumah penderita ditemukan lantai masih beralas tanah.
Berdasarkan hasil analisis diketahui bahwa faktor dominan terhadap
kejadian leptospirosis adalah pengetahuan, sarana air bersih, keadaan dan
penataan rumah yang belum memadai.
BAB V
DISKUSI
Penyakit leptospirosis masih menjadi permasalahan kesehatan
masyarakat di negara berkembang termasuk indonesia dengan terdapat
laporan adanya endemi/wabah atau kejadian luar biasa (KLB ) leptospirosis di
beberapa wilayah dengan angka kesakitan dan kematian yang sudah terjadi.
Leptospirosis sering kali tidak terdiagnosis karena gejala klinis tidak
spesifik, dan sulit dilakukan konfirmasi diagnosis tanpa uji laboratorium.
Kejadian luar biasa leptospirosis dalam dekade terakhir di beberapa wilayah
telah menjadikan leptospirosis sebagai salah satu penyakit yang termasuk the
emerging infectious diseases. Terjadinya leptospirosis terutama di daerah
beriklim tropis dan subtropis, dengan curah hujan tinggi (kelembaban),
khususnya di negara berkembang, dimana kesehatan lingkungannya kurang
diperhatikan terutama. pembuangan sampah. International Leptospirosis
Society menyatakan Indonesia sebagai negara insiden leptospirosis tinggi dan
peringkat tiga di dunia untuk mortalitas.
Angka kematian akibat leptospirosis tergolong tinggi, mencapai 5-40%.
Infeksi ringan jarang terjadi fatal dan diperkirakan 90% termasuk dalam kategori
ini. Anak balita, orang lanjut usia dan penderita “immunocompromised”
mempunyai resiko tinggi terjadinya kematian, dikarenakan kurangnya
sosialisasi dan pengetahuan terhadap ciri- ciri rujukan untuk mengantisipasi
berkuranganya insidensi kematian pada penderita
Selama tahun 2016 sama sekali tidak terdapat laporan adanya kasus
leptospirosis di unit Rawat Jalan maupun Unit Gawat Darurat serta Unit Rawat
Jalan. Selama Januari - April 2017 dlaporkan 2 kasus probable kasus
Leptospirosis. Kedua pasien sempat dirawat di Rawat Jalan selama 1 hari,
kemudian keduannya dirujuk ke RSUD Magetan. Salah satu pasien dinyatakan
meninggal setelah 1 hari perawatan di RSUD Magetan. (Data Sekunder
Puskesmas Panekan, 2016).

Berdasarkan penulusuran Tim P2M didapatkan hasil sebagai berikut


penderita termasuk keluarga kurang mampu, sebelumnya penderita tidak
merasakan sakit seperti ini, di lingkungan tidak terdapat individu dengan sakit
serupa, penderita bekerja buruh bangunan dan petani, kondisi sanitasi di
lingkungan penderita kurang memenui syarat, sampah berserakan dimana-mana,
lantai masih beralas tanah, dan ventilasi di rumah sangat kurang. ( Tim P2M
Panekan, 2107).
Berdasarkan pengamatan BMKG selama Desember 2016 – April 2017
curah hujan di Kabupaten Magetan terpantau meningkat secara fluktuatif
sebesar 1800-2000 mm (BMKG Magetan, 2017) Hal ini secara langsung
meningkatkan volume air tanah maupun sungai secara secara tidak langsung
meningkatkan kelembapan tanah di Kab. Magetan terutama di Kecamatan
Panekan yang didominasi oleh wilayah pegunungan dengan elevasi 450-1200
mdpl. Kondisi tersebut didukung oleh jumlah rumah yang masih beralaskan tanah
sebanyak 3284 unit. Hal ini sesuai dengan keadaan rumah kedua pasien yang
masih beralaskan tanah di kamar tidur serta halaman belakang.
Pada kasus Leptospirosis yang sangat berhubungan dengan faktor
perilaku penderita : seperti pada salah satu penderita yang dinyatakan meninggal
kurang memerhatikan kebersihan dan kesehatan diri seperti terbiasa memasak
air minum tapi karena daerahnya padat dan kumuh maka besar kemungkinan
terjadinya rekontaminasi air minum oleh bakteri dan sarana penyimpanan
makanan yang tidak baik bias juga terkontaminasi. Perilaku yang baik harus bisa
melindungi diri dari kontaminasi kuman leptospira dengan menjaga makanan dari
binatang pengerat (rodent) dan sumber penular leptospirosis lainnya.
Tingkat sosial ekonomi yang rendah berhubungan terhadap kejadian
leptospirosis. Bahwa penghasilan keluarga yang rendah merupakan problem
dalam mengatur kebutuhan sehari-hari termasuk yang menyangkut kesehatan
diri.
Sampah yang tidak dikelola dengan baik juga berhubungan terhadap
kejadian leptospirosis. Hal ini disebabkan bahwa adanya kebiasaan penderita
membuang sampah sembarangan di sekitar rumah.
BAB VI
KESIMPULAN DAN SARAN

6.1 Kesimpulan
Leptospirosis adalah penyakit infeksi akut yang dapat menyerang
manusia maupun hewan yang disebabkan kuman leptospira pathogen dan
digolongkan sebagi zoonosis yaitu penyakit hewan yang bisa menjangkiti
manusia. Berdasarkan hasil analisis diketahui bahwa faktor dominan terhadap
kejadian leptospirosis adalah perilaku penderita yang kurang baik, pengetahuan
penderita tentang kesehatan diri, sarana air bersih, keadaan dan penataan
rumah yang belum memadai.

6.2. Saran
1. Memberikan penjelasan kepada keluarga penderita dan
masyarakat sekitar untuk lebih memperhatikan kesehatan diri.
2. Memberikan pengetahuan tentang perilaku hidup bersih dan sehat
(PHBS)
DAFTAR PUSTAKA

Barcellos, C. and Sabroza, P.C. (2001) The Place behind the Case: Leptospirosis
Risks and Associated Environmental Conditions in a Flood-Related Outbreak in
Rio de Janeiro

Brett-Major DM, Lipaanick RJ. Antibiotic prophylaxis for leptospirosis. Cochrane


Database of Systematic Reviews 2009, Issue 3. Art. No.: CD007342. DOI:
10.1002/14651858.CD007342.pub2

Depkes RI. 2005. Pedoman Penanggulangan Leptospirosis di Indonesia.


Jakarta: Depkes RI Ditjen P2M dan PLP.

Depkes RI. 2008. Pedoman Diagnosa dan Penatalaksanaan Kasus


Penanggulangan Leptospirosis di Indonesia. Jakarta: Direktorat Jendral
Pengendalian Penyakit dan Penyehatan Lingkungan.

DOH- HEMS Manual on Treatment Protocols of Common Communicable


Diseases
and other Ailments During Emergencies and Disasters

Faine, S., Adler, B., Bolin, C. & Perolat, P. (1994). Leptospira and Leptospirosis,
2nd edn. Melbourne: MedSci.

Gonsalez CR, Casseb J, Monteiro FG, Paula-Neto JB, Fernandez RB, Silva MV,
Camargo ED, Mairinque JM, Tavares LC. Use of doxycycline for leptospirosis
after high-risk exposure in Sao Paulo, Brazil. Rev Inst Med Trop Sao Paulo.
1998;40:59–61.

Leptospiros is :Kenali dan Waspadai 2017. diakses 15 Mei 2017 pukul 09.00 dari
depkes.go.id

Leptospirosis : Post-Exposure Prohylaxis. 2014. Diakses 18 Mei 2017 pukul


10.00 dari https://publichealthresources.blogspot.co.id/2014/07/leptospirosis-
post-exposure-prophylaxis.html

Levett, P. N. (2003). Leptospira and Leptonema. In Manual of Clinical


Microbiology, pp. 929–936. Edited by P. R. Murray, E. J. Baron, J. H. Jorgensen,
M. A. Pfaller & R. H. Yolken. Washington, DC: American Society for Microbiology.
Levett, P. N., Branch, S. L. & Ed

Sehgal SC, Sugunan AP, Murhekar MV, Sharma S, Vijayachari P. Randomized


controlled trial of doxycycline prophylaxis against leptospirosis in an endemic
area. Int J Antimicrob Agents. 2000;13:249–255

Setiawan,I Made. Clinical and Laboratory Aspect of Leptospirosis in Humans.


Volume 27 No:28 Universa Medicina. 2008.
Soedin K, Syukran O.L.A. Leptospirosis. Dalam: Soeparman, Waspaji S,
penyunting. Ilmu Penyakit Dalam. Edisi ke 3. Jakarta: Balai Penerbit FKUI; 1996.
477-482.

Suratman. 2006. Analisis Faktor Resiko Lingkungan dan Perilaku yang


Berpengaruh Terhadap Kejadian Leptospirosis Berat di Kota Semarang. [Tesis].
Semarang : Universitas Diponegoro

Takafuji ET, Kirkpatrick JW, Miller RN, Karwacki JJ, Kelley PW, Gray MR,
McNeill KM, Timboe HL, Kane RE, Sanchez JL. An efficacy trial of doxycycline
chemoprophylaxis against leptospirosis. N Engl J Med. 1984;310:497–500.

Widoyono. 2008.Penyakit Tropis, Epidemiologi, Penularan, Pencegahan dan


Pemberantasannya.Jakarta : Erlangga