You are on page 1of 24

Kanker Serviks (Ca Serviks) A9

Perdarahan Vagina Normal

Perdarahan vagina normal terjadi sebagai akibat dari perubahan-perubahan siklus


hormon. Ovarium adalah sumber utama dari hormon-hormon wanita, yang juga mengatur siklus
menstrual. Berlokasi dalam pelvis, satu pada setiap sisi uterus. Ovarium menghasilakn ovum dan
hormon-hormon wanita. Setiap siklus menstrual bulanan, sebuah ovum dilepaskan dari satu
ovarium. Telur berjalan dari ovarium melalui suatu tuba Fallopian ke uterus.
Kecuali kehamilan terjadi, siklus berakhir dengan penumpahan bagian dari lapisan
sebelah dalam uterus, yang berakibat pada terjadinya menstruasi. Meskipun itu adalah akhir dari
siklus fisik, hari pertama dari menstruasi ditunjuk sebagai “hari ke 1” dari siklus menstruasi.
Menarche adalah waktu didalam kehidupan seorang wanita ketika menstruasi pertama
kali mulai. Menopause adalah waktu didalam kehidupan seorang wanita ketika fungsi dari
ovarium berhenti.

Definisi Perdarahan Vagina Abnormal

Perdarahan vagina abnormal adalah aliran darah dari vagina yang terjadi pada waktu
yang salah selama bulan itu atau pada jumlah-junlah yang tidak sesuai. Setiap wanita yang
berpikir ia mempunyai pola perdarahan menstruasi yang tidak teratur harus berpikir secara hati-
hati tentang karakteristik-karakteristik spesifik dari perdarahan vaginanya.

1. Wanita mempunyai perdarahan vagina abnormal selama kehamilan

Kebanyakan perdarahan vagina abnormal selama kehamilan terjadi begitu dini dalam
kehamilan sehingga wanita tidak menyadari dia hamil. Oleh karenanya, perdarahan yang tidak
teratur yang adalah baru mungkin adalah tanda dari kehamilan yang sangat awal, bahkan
sebelum seorang wanita sadar atas kondisinya. Perdarahan vagina selama kehamilan dapat juga
berhubungan dengan komplikasi-komplikasi dari kehamilan, seperti keguguran atau ectopic
pregnancy.

2. Pola dari perdarahan vagina abnormal

Durasi yang abnormal dari perdarahan menstruasi dapat berupa perdarahan yang terlalu
lama dari periode (hypermenorrhea), atau terlalu singkat dari periode (hypomenorrhea). Interval
perdarahan dapat menjadi abnormal pada beberapa cara-cara. Periode-periode menstrual seorang
wanita dapat terjadi terlalu sering (polymenorrhea) atau terlalu jarang (oligomenorrhea). Sebagai
tambahan, durasi dapat bervariasi secara berlebihan dari siklus ke siklus (metrorrhagia). Jumlah
(volume) perdarahan dapat juga abnormal. Seorang wanita dapat mempunyai terlalu banyak
perdarahan (menorrhagia) atau terlalu sedikit volume (hypomenorrhea). Kombinasi dari
perdarahan yang berlebihan yang digabungkan dengan perdarahan diluar waktu yang diharapkan
dari menstruasi dirujuk sebagai menometrorrhagia.
Perdarahan menstruasi yang sangat berat (menorrhagia)

Perdarahan vagina yang sangat berat/parah, disebut menorrhagia, adalah perdarahan


menstruasi yang lebih besar dari 5 sendok makan per bulan. Kondisi ini terjadi pada kira-kira
10% dari wanita-wanita. Pola yang paling umum dari menorrhagia adalah perdarahan yang
berlebihan yang terjadi pada siklus-siklus menstruasi yang teratur dan dengan ovulasi yang
normal.
Ada beberapa sebab yang penting bahwa menorrhagia harus dievaluasi oleh seorang
dokter. Pertama, menorrhagia dapat menyebabkan kesusahan (distress) emosional yang
substansiil (besar) seorang wanita dan gejala-gejala fisik, seperti kekejangan yang berat. Kedua,
kehilangan darah dapat begitu parah/berat sehingga ia menyebabkan suatu jumlah darah yang
rendahnya begitu membahayakan (anemia), yang dapat menjurus pada komplikasi-komplikasi
medis dan gejala-gejala seperti kepeningan dan pingsan. Ketiga, dapat terjadi penyebab-
penyebab yang berbahaya dari menorrhagia yang memerlukan perawatan yang lebih darurat.
Penyebab-penyebab yang tidak berbahaya (bukan bersifat kanker) dari menorrhagia
termasuk:

 uterine fibroids (tumor-tumor jinak dari jaringan otot halus),


 endometrial polyps (pertumbuhan-pertumbuhan kecil yang jinak yang menonjol masuk
kedalam kandungan),
 adenomyosis,
 intrauterine devices (IUD’s),
 fungsi tiroid yang dibawah aktif (hypothyroidism),
 suatu kelainan autoimun yang disebut systemic lupus erythematosus ,
 kelainan-kelainan pembekuan darah seperti kelainan-kelainan perdarahan yang
diturunkan/diwariskan, dan
 obat-obat tertentu, terutama yang mengganggu pembekuan darah.

Walaupun tidak umum, menorrhagia dapat menjadi suatu tanda dari kanker endometrial.
Kondisi yang berpotensial sebelum kanker yang dikenal sebagai endometrial hyperplasia dapat
juga berakibat pada perdarahan vagina abnormal. Situasi ini adalah lebih sering pada wanita-
wanita yang berumur lebih dari 40 tahun.

Meskipun ada banyak penyebab-penyebab dari menorrhagia, pada kebanyakan wanita-


wanita, penyebab spesifik dari menorrhagia tidak ditemukan bahkan setelah evaluasi medis
sepenuhnya. Wanita-wanita ini dikatakan mempunyai disfungsi perdarahan kandungan.
Meskipun tidak ada penyebab spesifik dari perdarahan vagina abnormal ditemukan pada wanita-
wanita dengan disfungsi perdarahan kandungan, ada perawatan-perawatan yang tersedia untuk
mengurangi keparahan dari kondisi.
Perdarahan vagina yang tidak teratur; periode-periode menstruasi yang terlalu seringkali
(polymenorrhea)

Perimenopause adalah periode waktu yang mendekati transisi menopause. Ia seringkali


dikarakteristikan oleh siklus-siklus menstruasi yang tidak teratur, termasuk periode-periode
menstruasi pada interval-interval yang tidak teratur dan variasi-variasi pada jumlah dari aliran
darah. Ketidakaturan-ketidakaturan menstruasi mungkin mendahului timbulnya menopause yang
sebenarnya (didefinisikan sebagai ketidakhadiran dari periode-periode untuk satu tahun) oleh
beberapa tahun.

Perdarahan Vagina Setelah Menopause

Banyak kondisi-kondisi dapat mengganggu fungsi yang tepat dari hormon-hormon


wanita yang adalah perlu untuk ovulasi. Contohnya, banyak kondisi-kondisi atau keadaan-
keadaan mungkin menyebabkn oligomenorrhea (pengurangan dalam jumlah dari periode-periode
menstruasi dan/atau jumlah dari aliran daripada biasa) seperti:
I. Jika seorang wanita mempunyai penyakit-penyakit medis kronis atau dibawah stres medis atau
emosi yang signifikan, dapat mulai untuk mempunyai kehilangan dari periode-periode
menstruasinya.
II. Malfungsi dari bagian tertentu dari otak, yang disebut hypothalamus, dapat menyebabkan
oligomenorrhea.
III. Anorexia nervosa adalah kelainan memakan yang berhubungan dengan kekurusan yang
berlebihan yang menyebabkan banyak konsekwensi-konsekwensi medis yang serius begitu juga
oligomenorrhea atau amenorrhea (ketidakhadiran dari periode-periode menstruasi).
IV. Polycystic ovarian syndrome (PCO atau POS) adalah persoalan hormon yang menyebabkan
wanita-wanita untuk mempunyai suatu keragaman dari gejala-gejala yang termasuk periode-
periode menstruasi yang tidak teratur atau yang tidak ada, jerawat, kegemukan, ketidaksuburan,
dan pertumbuhan rambut yang berlebihan; yang dapat dideteksi dengan tes-tes darah.

Tes-Tes Diagnostik Yang Digunakan Untuk Mengevaluasi Perdarahan Vagina Yang


Abnormal

 Seorang wanita yang mempunyai periode-peiode menstruasi yang tidak teratur


memerlukan pemeriksaan fisik dengan penekanan khusus pada tiroid, payudara, dan area
pelvis. Sewaktu pemeriksaan pelvis, dokter mencoba untuk mendeteksi polip-polip leher
rahim atau massa-massa yang tidak biasa apa saja pada kandungan (uterus) atau indung-
indung telur (ovaries).
 Pap smear juga dilakukan untuk mengesampingkan kanker leher rahim. Ketika Pap smear
sedang diperoleh, sample-sample mungkin diambil dari leher rahim untuk menguji
kehadiran dari infeksi-infeksi seperti chlamydia atau gonorrhea.
 Tes kehamilan adalah rutin jika wanitanya adalah premenopause.
 Perhitungan darah mungkin dilakukan untuk mengesampingkan jumlah darah yang
rendah (anemia) yang berakibat dari kehilangan darah yang berlebihan.
 Jika sesuatu pada latar belakang medis atau pemeriksaan fisik seorang pasien (atau
keluarganya) menaikan kecurigaan seorang dokter, tes-tes untuk mengesampingkan
kelainan-kelainan pembekuan darah tertentu mungkin dilakukan.
 Adakalanya, contoh darah akan diuji untuk mengevaluasi kelainan-kelainan fungsi tiroid,
fungsi hati, atau ginjal.
 Tes darah untuk tingkat-tingkat progesterone atau pemetaan temperatur tubuh harian
mungkin direkomendaikan untuk membuktikan bahwa wanitanya berovulasi .
 Jika dokter mencurigai bahwa indung-indung telur gagal, seperti dengan menopause,
tingkat-tingkat darah dari follicle-stimulating hormone (FSH) mungkin diuji.
 Tes-tes darah hormon tambahan dilakukan jika dokter mencurigai polycystic ovary, atau
jika pertumbuhan rambut yang berlebihan hadir.
 Ultrasound pelvis seringkali dilakukan berdasarkan pada sejarah medis dan pemeriksaan
pelvis seorang wanita.
 Jika seorang wanita tidak merespon secara cukup pada perawatan medis, jika ia berumur
lebih dari 40 tahun, atau jika ia mempunyai perdarahan vagina yang gigih diantara
periode-periodenya, sebuah contoh dari lapisan kandungannya (diistilahkan endometrial
sampling atau endometrial biopsy) seringakali dianalisa. Endometrial sampling
membantu mengesampingkan kanker atau prakanker pada kandungan, atau ia dapat
mengkonfirmasikan kecurigaan bahwa seorang wanita tidak berovulasi.

Beberapa Penyebab Perdarahan di luar Menstruasi

Polip Serviks
Polip adalah tumor bertangkai yang kecil dan tumbuh dari permukaan mukosa. Gejala
umum berbentuk abnormal tersebut, yaitu: tanpa gejala polip serviks biasa saja dialami
seseorang, leukorea yang sulit disembuhkan. Dasar diagnosis berdasarkan keluhan yang
dikemukan diagnosis karena kebetulan memeriksakan. Pada pemeriksaan inspekulum dijumpai:
jaringan bertambah, mudah berdarah, dan terdapat pada vagina bagian atas.

Erosi Porsio
Erosi porsio atau disebut juga dengan erosi serviks adalah hilangnya sebagian / seluruh
permukaan epitel squamous dari serviks. Jaringan yang normal pada permukaan dan atau mulut
serviks digantikan oleh jaringan yang mengalami inflamasi dari kanalis serviks. Jaringan
endoserviks ini berwarna merah dan granuler, sehingga serviks akan tampak merah, erosi dan
terinfeksi. Erosi serviks dapat menjadi tanda awal dari kanker serviks.
Erosi serviks dapat dibagi menjadi tiga, yakni: erosi ringan meliputi ≤ 1/3 total area
serviks, erosi sedang meliputi 1/3-2/3 total area serviks dan erosi berat meliputi ≥ 2/3 total area
serviks.

Ulkus Porsio
Ulkus portio adalah suatu pendarahan dan luka pada portio berwarna merah dengan batas
tidak jelas pada ostium uteri eksternum. Etiologi berupa penggunaan IUD, pemakaian pil,
perilaku seksual yang tidak sehat, trauma. Patofisiologi: Proses terjadinya ulkus portio dapat
disebabkan adanya rangsangan dari luar misalnya IUD.IUD yang mengandung polyethilien yang
sudah berkarat membentuk ion Ca, kemudian bereaksi dengan ion sel sehat PO4 sehingga terjadi
denaturasi / koalugasi membaran sel dan terjadilah erosi portio. Bisa juga dari gesekan benang
IUD yang menyebabkan iritasi lokal sehingga menyebabkan sel superfisialis terkelupas dan
terjadilah ulkus portio dan akhir nya menjadi ulkus. Dari posisi IUD yang tidak tepat
menyebabkan reaksi radang non spesifik sehingga menimbulkan sekresi sekret vagina yang
meningkat dan menyebabkan kerentanan sel superfisialis dan terjadilah erosi portio.Dari semua
kejadian ulkus portio itu menyebabkan tumbuhnya bakteri patogen, bila sampai kronis
menyebabkan metastase keganasan leher rahim.
Trauma
Trauma adalah dari aspek medikolegal sering berbeda dengan pengertian medis.
Pengertian medis menyatakan trauma atau perlukaan adalah hilangnya diskontinuitas dari
jaringan. Sedangkan dalam pengertian medikolegal trauma adalah pengetahuan tentang alat atau
benda yang dapat menimbulkan gangguan kesehatan seseorang. Artinya orang yang sehat, tiba-
tiba terganggu kesehatannya akibat efek dari alat atau benda yang dapat menimbulkan
kecederaan.
Trauma yang menyebabkan perdarahan di luar haid contohnya yang sering terjadi pada
akseptor IUD dan usai berhubungan intim (utamanya pada wanita yang telah menopause).
Tempat perlukaan yang paling sering akibat koitus adalah dinding lateral Vagina, vorniks
posterior dan kubah Vagina (setelah histerektomi).
Gejala berupa nyeri vulva dan vagina, perdarahan dan pembengkakkan merupakan
gejala-gejala yang paling khas. Kemungkinan gejala lainnya adalah kesulitan dalam urinasi dan
ambulasi

Polip Endometrium
Polip endometrium juga disebut polip rahim. Ia adalah pertumbuhan kecil yang tumbuh
sangat lambat dalam dinding rahim. Mereka memiliki basis datar besar dan mereka melekat pada
rahim melalui gagang bunga memanjang. Bentuknya dapat bulat atau oval dan biasanya
berwarna merah. Seorang wanita dapat memiliki polip endometrium satu atau banyak, dan
kadang-kadang menonjol melalui vagina menyebabkan kram dan ketidaknyamanan. Polip
endometrium dapat menyebabkan kram karena mereka melanggar pembukaan leher rahim. Polip
ini dapat terjangkit jika mereka bengkok dan kehilangan semua pasokan darah mereka. Ada
kejadian langka saat ini polip menjadi kanker. Wanita yang telah mengalaminya terkadang sulit
untuk hamil.

KARSINOMA SERVIKS

Definisi

Kanker serviks adalah kanker primer dari serviks (kanalis servikalis dan atau portio).
Kanker serviks berasal dari metaplasia epitel di daerah skuamokolumner junction yaitu daerah
peralihan mukosa vagina dan mukosa kanalis servikalis. Kanker serviks merupakan kanker yang
terjadi pada serviks atau leher rahim, suatu daerah pada organ reproduksi wanita yang
merupakan pintu masuk ke arah rahim, letaknya antara rahim (uterus) dan liang senggama atau
vagina. Kanker leher rahim biasanya menyerang wanita berusia 35-55 tahun. Sebanyak 90% dari
kanker leher rahim berasal dari sel skuamosa yang melapisi serviks dan 10% sisanya berasal dari
sel kelenjar penghasil lendir pada saluran servikal yang menuju ke rahim.

Etiologi

Sebab langsung dari kanker seviks belum diketahui. Ada bukti kuat kejadiannya
mempunyai hubungan erat dengan sejumlah faktor ekstrinsik, diantaranya yang penting: jarang
ditemukan pada perawan(virgo), insidensi lebih tinggi pada mereka yang kawin daripada yang
tidak kawin, terutama pada gadis yang citus pertama pada usia yang sangat muda (<16 tahun),
insidensi meningkat dengan tingginya paritas, apalagi bila jarak persalinan terlalu dekat, mereka
dari golongan sosial ekonomi rendah (higiene seksual jelek, aktivitas seksual yang sering
berganti- ganti pasangan (promiskuitas), jarang dijumpai pada masyarakat yang suaminya
disuanat (sirkumsisi), sering ditemukan pada wanita yang mengalami infeksi virus HPV tipe 16
atau 18 dan terakhir kebiasaan merokok.

Faktor Resiko

Infeksi virus HPV merupakan faktor risiko masuknya karsinogen E6 dan E7. Banyak
faktor yang disebut-sebut mempengaruhi terjadinya kanker serviks. Telah pada berbagai
penelitian epidemiologi menunjukkan bahwa golongan wanita yang mulai melakukan hubungan
seksual pada usia < 20 tahun atau mempunyai pasangan seksual yang berganti-ganti lebih
berisiko untuk menderita kanker serviks. Tinjauan kepustakaan mengenai etiologi kanker leher
rahim menunjukkan bahwa faktor risiko lain yang penting adalah hubungan seksual suami
dengan wanita tuna susila (WTS) dan dari sumber itu membawa penyebab kanker (karsinogen)
kepada isterinya. Data epidemiologi yang tersusun sampai akhir abad 20, menyingkap
kemungkinan adanya hubungan antara kanker serviks dengan agen yang dapat menimbulkan
infeksi. Karsinogen ini bekerja di daerah transformasi menghasilkan suatu gradasi kelainan
permulaan keganasan, dan paling berbahaya bila terpapar dalam waktu 10 tahun setelah
menarche.

Keterlibatan peranan pria terlihat dari adanya kolerasi antara kejadian kanker serviks
dengan kanker penis di wilayah tertentu. Lebih jauh meningkatnya kejadian tumor pada wanita
monogami yang suaminya sering berhubungan seksual dengan banyak wanita lain menimbulkan
konsep “Pria Berisiko Tinggi” sebagai vektor dari agen yang dapat menimbulkan infeksi.
Banyak penyebab yang dapat menimbulkan kanker serviks, tetapi penyakit ini sebaiknya
digolongkan ke dalam penyakit akibat hubungan seksual (PHS). Penyakit kelamin dan keganasan
serviks keduanya saling berkaitan secara bebas, dan diduga terdapat korelasi non-kausal antara
beberapa penyakit akibat hubungan seksual dengan kanker serviks.

- Kontrasepsi
Kondom dan diafragma dapat memberikan perlindungan. Kontrasepsi oral yang dipakai dalam
jangka panjang yaitu lebih dari 5 tahun dapat meningkatkan risiko relatif 1,53 kali. WHO
melaporkan risiko relatif pada pemakaian kontrasepsi oral sebesar 1,19 kali dan meningkat
sesuai dengan lamanya pemakaian.

- Merokok
Tembakau mengandung bahan-bahan karsinogen baik yang dihisap sebagai rokok/sigaret
atau dikunyah. Asap rokok menghasilkan polycyclic aromatic hydrocarbon heterocyclic
nitrosamines. Pada wanita perokok konsentrasi nikotin pada getah serviks 56 kali lebih tinggi
dibandingkan di dalam serum. Efek langsung bahan-bahan tersebut pada serviks adalah
me-nurunkan status imun lokal sehingga dapat menjadi kokarsi-nogen infeksi virus.

- Nutrisi
Banyak sayur dan buah mengandung bahan-bahan antioksidan dan berkhasiat mencegah kanker
misalnya advokat,brokoli, kol, wortel, jeruk, anggur, bawang, bayam, tomat.Dari beberapa
penelitian ternyata defisiensi asam folat (folic acid), vitamin C, vitamin E, beta karoten/retinol
dihubungkan dengan peningkatan risiko kanker serviks. Vitamin E, vitamin C dan beta karoten
mempunyai khasiat antioksidan yang kuat. Antioksidan dapat melindungi DNA/RNA terhadap
pengaruh buruk radikal bebas yang terbentuk akibat oksidasi karsinogen bahan kimia. Vitamin E
banyak terdapat dalam minyak nabati (kedelai, jagung, biji-bijian dan kacang-kacangan).
Vitamin C banyak terdapat dalam sayur-sayuran dan buah-buahan.

Faktor Etiologik

Infeksi protozoa, jamur dan bakteri tidak potensial onko-genik sehingga penelitian akhir-
akhir ini lebih memfokuskan virus sebagai penyebab yang penting. Tidak semua virus dikatakan
dapat menyebabkan kanker, tetapi paling tidak, dikenal kurang lebih 150 juta jenis virus yang
diduga me-megang peranan atas kejadian kanker pada binatang, dan sepertiga di antaranya
adalah golongan virus DNA. Pada proses karsinogenesis asam nukleat virus tersebut dapat
bersatu ke dalam gen dan DNA sel tuan rumah sehingga menyebabkan
terjadinya mutasi sel.

Herpes Simpleks Virus (HSV) tipe 2


Pada awal tahun 1970 virus herpes simpleks tipe 2 merupakan virus yang paling banyak
didiskusikan sebagai penyebab timbulnya kanker serviks; tetapi saat ini tidak ada bukti yang
menunjukkan bahwa virus ini berperan besar, oleh karena itu diduga hanya sebagai ko-faktor
atau dapat dianggap sama dengan karsinogen kimia atau fisik.

Human papillomavirus (HPV)


Sejak 15 tahun yang lalu, virus HPV ini telah banyak diperbincangkan sebagai salah satu
agen yang berperan. HPV adalah anggota famili Papovirida, dengan diameter 55 um. Virus ini
mempunyai kapsul isohedral yang telanjang dengan 72 kapsomer, serta mengandung DNA
sirkuler dengan untaian ganda. Berat molekulnya 5 x 106 Dalton. Dikenal beberapa spesies virus
papilloma, yaitu spesies manusia, kelinci, sapi dan lain-lain. Saat ini telah diidentifikasi sekitar
70 tipe HPV dan mungkin akan lebih banyak lagi di masa mendatang Masing-masing tipe
mempunyai sifat tertentu pada kerusakan epitel dan perubahan morfologi lesi yang ditimbulkan.
Kurang lebih 23 tipe HPV dapat menimbulkan infeksi pada alat genitalia eksterna wanita atau
laki-laki, yang meliputi tipe HPV 6,11,16, 18, 30, 31, 33, 34, 35, 39, 40, 42, 45, 51-58.

Keterlibatan HPV pada kejadian kanker dilandasi oleh beberapa faktor, yaitu : 1)
timbulnya keganasan pada binatang yang diinduksi dengan virus papilloma; 2) dalam
pengamatan terlihat adanya perkembangan menjadi karsinoma pada kondiloma akuminata; 3)
pada penelitian epidemiologik infeksi HPV ditemukan angka kejadian kanker serviks yang
meningkat; 4)DNA HPV sering ditemukan pada LIS (lesi intraepitel serviks) Walaupun terdapat
hubungan yang erat antara HPV dan kankers erviks, tetapi belum ada bukti-bukti yang
mendukung bahwa HPV adalah penyebab tunggal.
Perubahan keganasan dari epitel normal membutuhkan faktor lain, hal ini didukung oleh
berbagai pengamatan, yaitu 1) perkembangan suatu infeksi HPV untuk menjadi kanker serviks
berlangsung lambat dan membutuhkan waktu lama; 2) survai epidemiologi menunjuk-kan bahwa
prevalensi infeksi HPV adalah 10-30 %, sedangkan risiko wanita untuk mendapatkan kanker
serviks lebih kurang 1 %; 3) penyakit kanker adalah monoklonal, artinya penyakit ini
berkembang dari satu sel. Oleh karena itu, hanya satu atau beberapa saja dari sel-sel epitel yang
terinfeksi HPV mampu lepas dari kontrol pertumbuhan sel normal. Perkembangan teknologi
hibridasi DNA telah memperkaya pengetahuan kita tentang hubungan HPV dan kanker serviks.

Pada analisis risiko didapatkan perbedaan yang besar antara HPV 16/18 yang
menyebabkan NIS 1; bila dibandingkan dengan HPV 6/11 didapat risiko relatif hampir 1212 kali
lebih besar. Pada NIS 2 risiko relatif yang disebabkan HPV 16/18 mencapai 1515 kali
dibandingkan kontrol. Pada NIS 3 semua-nya disebabkan oleh HPV 16/18 dan risiko relatif
untuk ber-kembang menjadi kondiloma invasif secara prospektif sebanyak 70 % selama
pengamatan 12 tahun.

Gejala

Pada stadium dini, gejala kanker serviks tidak terlalu kentara. Butuh waktu 10-20 tahun dari
infeksi untuk menjadi kanker. Walau demikian, ciri-ciri berikut dapat dijadikan tanda kanker
serviks:
 Terasa sakit saat berhubungan seksual,
 Mengeluarkan sedikit darah setelah melakukan hubungan badan,
 Keluar darah yang berlebihan saat menstruasi,
 Keputihan yang tidak normal (berwarna tidak bening, bau atau gatal),
 Pada stadium lanjut: kurang nafsu makan, sakit punggung atau tidak bisa berdiri tegak, sakit di
otot bagian paha, salah satu paha bengkak, berat badan naik-turun, tidak dapat buang air kecil,
bocornya urin / air seni dari vagina, pendarahan spontan setelah masa menopause, tulang yang
rapuh dan nyeri panggul.

Gambaran Klinik

 Walaupun telah terjadi invasi tumor ke dalam stroma, kanker serviks masih mungkin tidak
menimbulkan gejala.Keputihan merupakan gejala yang paling sering ditemukan. Getah yang
keluar dari vagina ini makin lama akan berbau busuk akibat infeksi dan nekrosis jaringan. Dalam
hal demikian, pertumbuhan tumor menjadi ulseratif. Perdarahan yang dialami sehabis senggama
(disebut sebagai perdarahan kontak) merupakan gejala karsinoma serviks (75-80%). [2]
 Tanda yang lebih klasik adalah perdarahan bercak yang berulang, atau perdarahan bercak setelah
bersetubuh atau membersihkan vagina. Dengan makin tumbuhnya penyakit, tanda menjadi
semakin jelas. Perdarahan menjadi semakin banyak, lebih sering, dan berlangsung lebih lama.
Namun, terkadang keadaan ini diartikan penderita sebagai perdarahan yang sering dan banyak.
Juga dapat dijumpai sekret vagina yang berbau terutama dengan massa nekrosis lanjut. Nekrosis
terjadi karena pertumbuhan tumor yang cepat tidak diimbangi dengan pertumbuhan pembuluh
darah (angiogenesis) agar mendapat aliran darah yang cukup. Nekrosis ini menimbulkan bau
yang tidak sedap dan reaksi peradangan non spesifik. [1]
 Perdarahan yang timbul akibat terbukanya pembuluh darah makin lama akan lebih sering terjadi,
juga di luar sanggama (perdarahan spontan). Perdarahan spontan umumnya terjadi pada tingkat
klinik yang lebih lanjut (II atau III), terutama pada tumor yang bersifat eksofitik.pada wanita usia
lanjut yang sudah tidak melayani suami secara seksual, atau janda yang sudah mati haid
(menopause) bilamana mengidap kanker serviks sering terlambat datang meminta pertolongan.
Perdarahan spontan saat berdefekasi terjadi akibat tergesernya tumor eksofitik dari serviks oleh
skibala, memaksa mereka datang ke dokter. Adanya perdarahan spontan pervaginam saat
berdefekasi, perlu dicurigai adanya karsinoma serviks tingkat lanjut. Adanya bau busuk yang
khas memperkuat dugaan adanya karsinoma. Anemia akan menyertai sebagai akibat dari
perdarahan pervaginam yang berulang. Rasa nyeri akibat infiltrasi sel tumor ke serabut saraf,
memerlukan pembiusan umum untuk dapat melakukan pemeriksaan dalam yang cermat,
khususnya pada lumen vagina yang sempit dan dinding sklerotik yang meradang. Gejala lain
yang dapat timbul adalah gejala-gejala yang disebabkan oleh metastasis jauh. Sebelum tingkat
akhir (terminal stage), penderita meninggal akibat perdarahan yang eksesif, kegagalan faal ginjal
(CRF= Chronic Renal Failure) akibat infiltrasi tumor ke ureter sebelum memasuki kandung
kemih, yang menyebabkan obstruksi total. Membuat diagnosa karsinoma serviks uterus yang
sudah agak lanjut tidaklah sulit. Yang menjadi masalah ialah, bagaimana mendiagnosis dalam
tingkat yang sangat awal, misalnya pada tingkat pra-invasif, lebih baik jika dapat menangkapnya
dalam tingkat pra-maligna (displasia/diskariosis serviks).
 Hasil pemeriksaan sitologi eksploratif dari ekto dan endo-serviks yang positif tidak boleh
dianggap diagnosis pasti. Diagnosis harus dapat dipastikan dengan pemeriksaan histopatologik
dari jaringan yang diperoleh dengan melakukan biopsi. [2]

Perubahan Fisiologik Epitel Serviks


Epitel serviks terdiri dari 2 jenis, yaitu epitel skuamosa dan epitel kolumnar; kedua epitel
tersebut dibatasi oleh sambungan skuamosa-kolumnar (SSK) yang letaknya tergantung pada
umur, aktivitas seksual dan paritas. Pada wanita dengan aktivitas seksual tinggi, SSK terletak di
ostium eksternum karena trauma atau retraksi otot oleh prostaglandin. Pada masa kehidupan
wanita terjadi perubahan fisiologis pada epitel serviks; epitel kolumnar akan digantikan oleh
epitel skuamosa yang diduga berasal dari cadangan epitel kolumnar.

Proses pergantian epitel kolumnar menjadi epitel skuamosa disebut proses metaplasia dan
terjadi akibat pengaruh pH vagina yang rendah. Aktivitas metaplasia yang tinggi sering dijumpai
pada masa pubertas. Akibat proses metaplasia ini maka secara morfogenetik terdapat 2 SSK,
yaitu SSK asli dan SSK baru yang menjadi tempat pertemuan antara epitel skuamosa baru
dengan epitel kolumnar. Daerah di antara kedua SSK ini disebut daerah transformasi.

Perubahan Neoplastik Epitel Serviks


Proses terjadinya kanker serviks sangat erat hubungannya dengan proses metaplasia.
Masuknya mutagen atau bahan-bahan yang dapat mengubah perangai sel secara genetik pada
saat fase aktif metaplasia dapat menimbulkan sel-sel yang berpotensi ganas. Perubahan ini
biasanya terjadi di SSK atau daerah transformasi. Mutagen tersebut berasal dari agen-agen yang
ditularkan secara hubungan seksual dan diduga bahwa human papilloma virus (HPV) memegang
peranan penting. Sel yang mengalami mutasi tersebut dapat berkembang menjadi sel displastik
sehingga terjadi kelainan epitel yang disebut displasia. Dimulai dari displasia ringan, displasia
sedang, displasia berat dan karsinoma in-situ dan kemudian berkembang menjadi karsinoma
invasif. Tingkat displasia dan karsinoma in-situ dikenal juga sebagai tingkat pra-kanker.

Displasia mencakup pengertian berbagai gangguan maturasi epitel skuamosa yang secara
sitologik dan histologik berbeda dari epitel normal, tetapi tidak memenuhi persyaratan sel
karsinoma. Perbedaan derajat displasia didasarkan atas tebal epitel yang mengalami kelainan dan
berat ringannya kelainan pada sel. Sedangkan karsinoma in-situ adalah gangguan maturasi epitel
skuamosa yang menyerupai karsinoma invasif tetapi membrana basalis masih utuh.

Stadium kanker serviks menurut FIGO 2000

Stadium 0 Karsinoma in situ, karsinoma intra epitel


Stadium I Karsinoma masih terbatas di serviks (penyebaran ke korpus uteri diabaikan)
Stadium Ia Invasi kanker ke stroma hanya dapat dikenali secara mikroskopik, lesi yang dapat dilihat secara
langsung walau dengan invasi yang sangat superficial dikelompokkan sebagai stadium Ib.
Kedalaman invasi ke stroma tidak lebih dari 5mm dan lebarnya lesi tidak lebih dari 7mm
Stadium Ia1 Invasi ke stroma dengan kedalaman tidak lebih dari 3mm dan lebar tidak lebih dari 7mm
Stadium Ia2 Invasi ke stroma dengan kedalaman lebih dari 3mm tapi kurang dari 5mmm dan lebar tidak lebih
dari 7mm
Stadium Ib Lesi terbatas di serviks atau secara mikroskopis tidak lebih dari Ia
Stadium Ib1 Besar lesi secara klinis tidak lebih dari 4cm
Stadium Ib2 Besar lesi secara klinis lebih besar dari 4 cm
Stadium II Telah melibatkan vagina, tapi belum sampai 1/3 bawah atau infiltrasi ke parametrium belum
mencapai dinding panggul
Stadium Iia Telah melibatkan vagina, tapi belum melibatkan parametrium
Stadium Iib Infiltrasi ke parametrium, tetapi belum mencapai dinding panggul
Stadium III Telah melibatkan 1/3 bawah vagina atau adanya perluasan sampai dinding panggul. Dengan
hidroneprosis atau gangguan fungsi ginjal dimasukkan dalam stadium ini, kecuali kelainan ginjal
dapat dibuktikan oleh sebab lain.
Stadium IIIa Keterlibatan 1/3 bawah vagina dan infiltrasi parametrium belum mencapai dinding panggul
Stadium IIIb Perluasan sampai dinding panggul atau adanya hidroneprosis atau gangguan fungsi ginjal
Stadium IV Perluasan ke luar organ reproduktif
Stadium Iva Keterlibatan mukosa kandung kemih atau mukosa rektum
Stadium Ivb Metastase jauh atau telah keluar dari rongga panggul

Stadium kanker seviks menurut sistem TNM

T Tak ditemukan tumor primer


T1S Karsinoma pra-invasif, ialah KIS (Karsinoma In Situ)
T1 Karsinoma terbatas pada serviks, (walaupun ada perluasan ke korpus uteri)
T1a Pra-klinik adalah karsinoma yang invasif dibuktikan dengan pemeriksaan histologik
T1b Secara klinis jelas karsinoma yang invasif
T2 Karsinoma telah meluas sampai di luar serviks, tetapi belum sampai dinding panggul, atau
karsinoma telah menjalar sampai dinding vagina, tetapi belum sampai 1/3 distal
T2a Karsinoma belum menginfiltrasi parametrium
T2b Karsinoma telah menginfiltrasi parametrium
T3 Karsinoma telah melibatkan 1/3 distal vagina atau telah mencapai dinding panggul (tidak ada
celah bebas antara dinding panggul)

NB : Adanya hidronefrosis atau gangguan faal ginjal akibat stenosis ureter karena infiltrasi tumor,
menyebabkan kasus dianggap sebagai T3 meskipun pada penemuan lain kasus itu seharusnya
masuk kategori yang lebih rendah

T4 Karsinoma telah menginfiltrasi mukusa rektum atau kandung kemih, atau meluas sampai
panggul. (Ditemukannya edema bulosa tidak cukup bukti untuk mengklasifikasi sebagai T4)
T4a Karsinoma melibatkan kandung kemih atau rektum saja dan dibuktikan secara histologik
T4b Karsinoma telah meluas sampai di luar panggul

NB : Pembesaran uterus saja belum ada alasan untuk memasukkannya sebagai T4

NX Bila tidak memungkinkan untuk menilai kelenjar limfa regional. Tanda -/+ ditambahkan untuk
tambahan ada/tidak adanya informasi mengenai pemeriksaan histologik, jadi : NX + atau NX –
N0 Tidak ada deformitas kelenjar limfa pada limfografi
N1 Kelenjar limfa regional berubah bentuk sebagaimana ditunjukkan oleh cara-cara diagnostik yang
tersedia ( misalnya limfografi, CT-scan panggul)
N2 Teraba massa yang padat san melekat pada dinding panggul dengan celah bebas infiltrat diantara
massa ini dengan tumor
M0 Tidak ada metastsis berjarak jauh
M1 Terdapat metastasis berjarak jauh, termasuk kelenjar limfa di atas bifurkasio arteri iliaka
komunis

Pemeriksaan pada Ca Serviks

Stadium klinik seharusnya tidak berubah setelah beberapa kali pemeriksaan. Apabila ada
keraguan pada stadiumnya maka stadium yang lebih dini dianjurkan. Pemeriksaan berikut
dianjurkan untuk membantu penegakkan diagnosis seperti palpasi, inspeksi, kolposkopi, kuretase
endoserviks, histeroskopi, sistoskopi, proktoskopi, intravenous urography, dan pemeriksaan X-
ray untuk paru-paru dan tulang. Kecurigaan infiltrasi pada kandung kemih dan saluran
pencernaan sebaiknya dipastikan dengan biopsi. Konisasi dan amputasi serviks dapat dilakukan
untuk pemeriksaan klinis. Interpretasi dari limfangografi, arteriografi, venografi, laparoskopi,
ultrasonografi, CT scan dan MRI sampai saat ini belum dapat digunakan secara baik untuk
staging karsinoma atau deteksi penyebaran karsinoma karena hasilnya yang sangat subyektif.

Diagnosis ditegakkan berdasarkan gejala dan hasil pemeriksaan sebagai berikut (Suharto,
2007) :

Pemeriksaan pap smear


Pemeriksaan ini dilakukan untuk mendeteksi sel kanker lebih awal pada pasien yang
tidak memberikan keluhan. Sel kanker dapat diketahui pada sekret yang diambil dari porsi
serviks. Pemeriksaan ini harus mulai dilakukan pada wanita usia 18 tahun atau ketika telah
melakukan aktivitas seksual sebelum itu. Setelah tiga kali hasil pemeriksaan pap smear setiap
tiga tahun sekali sampai usia 65 tahun.

Pap smear dapat mendeteksi sampai 90% kasus kanker leher rahim secara akurat dan
dengan biaya yang tidak mahal, akibatnya angka kematian akibat kanker leher rahim pun
menurun sampai lebih dari 50%. Setiap wanita yang telah aktif secara seksual sebaiknya
menjalani pap smear secara teratur yaitu 1 kali setiap tahun. Apabila selama 3 kali berturut-turut
menunjukkan hasil pemeriksaan yang normal, maka pemeriksaan pap smear bisa dilakukan
setiap 2 atau 3 tahun sekali.

Hasil pemeriksaan pap smear adalah sebagai berikut (Prayetni,1999):


a. Normal.
b. Displasia ringan (perubahan dini yang belum bersifat ganas).
c. Displasia berat (perubahan lanjut yang belum bersifat ganas).
d. Karsinoma in situ (kanker terbatas pada lapisan serviks paling luar).
e. Kanker invasif (kanker telah menyebar ke lapisan serviks yang lebih dalam atau ke organ tubuh
lainnya).

2.Pemeriksaan DNA HPV

Pemeriksaan ini dimasukkan pada skrining bersama-sama dengan Pap’s smear untuk
wanita dengan usia di atas 30 tahun. Penelitian dalam skala besar mendapatkan bahwa Pap’s
smear negatif disertai DNA HPV yang negatif mengindikasikan tidak akan ada CIN 3 sebanyak
hampir 100%. Kombinasi pemeriksaan ini dianjurkan untuk wanita dengan umur diatas 30 tahun
karena prevalensi infeksi HPV menurun sejalan dengan waktu. Infeksi HPV pada usia 29 tahun
atau lebih dengan ASCUS hanya 31,2% sementara infeksi ini meningkat sampai 65% pada usia
28 tahun atau lebih muda. Walaupun infeksi ini sangat sering pada wanita muda yang aktif
secara seksual tetapi nantinya akan mereda seiring dengan waktu. Sehingga, deteksi DNA HPV
yang positif yang ditentukan kemudian lebih dianggap sebagai HPV yang persisten. Apabila hal
ini dialami pada wanita dengan usia yang lebih tua maka akan terjadi peningkatan risiko kanker
serviks.

3. Biopsi

Biopsi dilakukan jika pada pemeriksaan panggul tampak suatu pertumbuhan atau luka
pada serviks, atau jika hasil pemeriksaan pap smear menunjukkan suatu abnormalitas atau
kanker. Biopsi ini dilakukan untuk melengkapi hasil pap smear. Teknik yang biasa dilakukan
adalah punch biopsy yang tidak memerlukan anestesi dan teknik cone biopsy yang menggunakan
anestesi. Biopsi dilakukan untuk mengetahui kelainan yang ada pada serviks. Jaringan yang
diambil dari daerah bawah kanal servikal. Hasil biopsi akan memperjelas apakah yang terjadi itu
kanker invasif atau hanya tumor saja (Prayetni, 1997).

4. Kolposkopi (pemeriksaan serviks dengan lensa pembesar)


Kolposkopi dilakukan untuk melihat daerah yang terkena proses metaplasia. Pemeriksaan
ini kurang efisien dibandingkan dengan pap smear, karena kolposkopi memerlukan keterampilan
dan kemampuan kolposkopis dalam mengetes darah yang abnormal (Prayetni, 1997).

5. Tes Schiller

Pada pemeriksaan ini serviks diolesi dengan larutan yodium. Pada serviks normal akan
membentuk bayangan yang terjadi pada sel epitel serviks karena adanya glikogen. Sedangkan
pada sel epitel serviks yang mengandung kanker akan menunjukkan warna yang tidak berubah
karena tidak ada glikogen ( Prayetni, 1997).

6. Radiologi

a) Pelvik limphangiografi, yang dapat menunjukkan adanya gangguan pada saluran pelvik atau
peroartik limfe.
b) Pemeriksaan intravena urografi, yang dilakukan pada kanker serviks tahap lanjut, yang dapat
menunjukkan adanya obstruksi pada ureter terminal. Pemeriksaan radiologi direkomendasikan
untuk mengevaluasi kandung kemih dan rektum yang meliputi sitoskopi, pielogram intravena
(IVP), enema barium, dan sigmoidoskopi. Magnetic Resonance Imaging (MRI) atau scan CT
abdomen / pelvis digunakan untuk menilai penyebaran lokal dari tumor dan / atau terkenanya
nodus limpa regional (Gale & charette, 1999).

Diagnosis

Hasil pemeriksaan sitologi eksploratif dari ektoservic dan endoservic yang positif tidak
boleh dianggap diagnosis pasti. Diagnosis harus dipastikan dengan pemeriksaan histologik,
biopsy harus terarah (target byopsi), kolposkopi bila sarana memungkinkan. Memulas portio
dengan lugol dan jaringan yang akan diambil hendaknya pada batas diantara jaringan normal
(berwarna coklat tua karena menyerap iodium ) dengan porsio yang pucat (jaringan yang
abnormal yang tidak menyerap iodium). Kemudian jaringan direndam kedalam larutan formalin
10% untuk dikirim kelab Anatomi. Biopsy tidak mengambil jaringan yang nekrotik. Penentuan
tingkat keganasan secara klinis didasarkan atas hasil pemeriksaan histologik. Untuk konfirmasi
diagnosis yang tepat dilakukan tindak lanjut seperti kuratase ebdoserviks (ECC= endo-cervical
curettase) atau koniasi services.

Diagnosis Banding Karsinoma Serviks

 Karsinoma sel skuamosa vagina


 Karsinoma vulva
 Karsinoma uterus
 Karsinoma ovarium

Penatalaksanaan Kanker Serviks


Tiga jenis utama dari pengobatan untuk kanker serviks adalah operasi, radioterapi, dan
kemoterapi. Stadium pra kanker hingga 1A biasanya diobati dengan histerektomi. Bila pasien
masih ingin memiliki anak, metode LEEP atau cone biopsy dapat menjadi pilihan.

Untuk stadium IB dan IIA kanker serviks:

 Bila ukuran tumor < 4cm: radikal histerektomi ataupun radioterapi dengan/tanpa
kemoterapi
 Bila ukuran tumor >4cm: radioterapi dan kemoterapi berbasis cisplatin, histerektomi,
ataupun kemo berbasis cisplatin dilanjutkan dengan histerektomi

Kanker serviks stadium lanjut (IIB-IVA) dapat diobati dengan radioterapi dan kemo
berbasis cisplatin. Pada stadium sangat lanjut (IVB), dokter dapat mempertimbangkan kemo
dengan kombinasi obat, misalnya hycamtin dan cisplatin.

Jika kesembuhan tidak dimungkinkan, tujuannya pengobatan adalah untuk mengangkat


atau menghancurkan sebanyak mungkin sel-sel kanker. Kadang-kadang pengobatan ditujukan
untuk mengurangi gejala-gejala. Hal ini disebut perawatan paliatif.

Pembedahan untuk Kanker Serviks


Ada beberapa jenis operasi untuk kanker serviks. Beberapa melibatkan pengangkatan
rahim (histerektomi), yang lainnya tidak. Daftar ini mencakup jenis operasi yang paling umum
untuk kanker serviks.

Cryosurgery
Sebuah probe metal yang didinginkan dengan nitrogen cair dimasukkan ke dalam vagina
dan pada leher rahim. Ini membunuh sel-sel abnormal dengan cara membekukan mereka.
Cryosurgery digunakan untuk mengobati kanker serviks yang hanya ada di dalam leher rahim
(stadium 0), tapi bukan kanker invasif yang telah menyebar ke luar leher rahim.
Bedah Laser
Sebuah sinar laser digunakan untuk membakar sel-sel atau menghapus sebagian kecil dari
jaringan sel rahim untuk dipelajari. Pembedahan laser hanya digunakan sebagai pengobatan
untuk kanker serviks pra-invasif (stadium 0).

Konisasi
Sepotong jaringan berbentuk kerucut akan diangkat dari leher rahim. Hal ini dilakukan
dengan menggunakan pisau bedah atau laser tau menggunakan kawat tipis yang dipanaskan oleh
listrik (prosedur ini disebut LEEP atau LEETZ). Pendekatan ini dapat digunakan untuk
menemukan atau mengobati kanker serviks tahap awal (0 atau I). Hal ini jarang digunakan
sebagai satu-satunya pengobatan kecuali untuk wanita dengan kanker serviks stadium dini yang
mungkin ingin memiliki anak. Setelah biopsi, jaringan (berbentuk kerucut) diangkat untuk
diperiksa di bawah mikroskop. Jika batas tepi dari kerucut itu mengandung kanker atau pra-sel
kanker, pengobatan lebih lanjut akan diperlukan untuk memastikan bahwa seluruh sel-sel
kankernya telah diangkat.

Histerektomi
Histerektomi sederhana: Rahim diangkat, tetapi tidak mencakup jaringan yang berada
di dekatnya. Baik vagina maupun kelenjar getah bening panggul tidak diangkat. Rahim dapat
diangkat dengan cara operasi di bagian depan perut (perut) atau melalui vagina. Setelah operasi
ini, seorang wanita tidak bisa menjadi hamil. Histerektomi digunakan untuk mengobati beberapa
kanker serviks stadium awal (I). Hal ini juga digunakan untuk stadium pra-kanker serviks (o),
jika sel-sel kanker ditemukan pada batas tepi konisasi.

Histerektomi radikal dan diseksi kelenjar getah bening panggul: pada operasi ini,
dokter bedah akan mengangkat seluruh rahim, jaringan di dekatnya, bagian atas vagina yang
berbatasan dengan leher rahim, dan beberapa kelenjar getah bening yang berada di daerah
panggul. Operasi ini paling sering dilakukan melalui pemotongan melalui bagian depan perut
dan kurang sering melalui vagina. Setelah operasi ini, seorang wanita tidak bisa menjadi hamil.
Sebuah histerektomi radikal dan diseksi kelenjar getah bening panggul adalah pengobatan yang
umum digunakan untuk kanker serviks stadium I, dan lebih jarang juga digunakan pada beberapa
kasus stadium II, terutama pada wanita muda.

Dampak seksual dari histerektomi: Setelah histerektomi, seorang wanita masih dapat
merasakan kenikmatan seksual. Seorang wanita tidak memerlukan rahim untuk mencapai
orgasme. Jika kanker telah menyebabkan rasa sakit atau perdarahan, meskipun demikian, operasi
sebenarnya bisa memperbaiki kehidupan seksual seorang wanita dengan cara menghentikan
gejala-gejala ini.

Trachelektomi
Sebuah prosedur yang disebut trachelectomy radikal memungkinkan wanita muda
tertentu dengan kanker stadium awal untuk dapat diobati dan masih dapat mempunyai anak.
Metode ini melibatkan pengangkatan serviks dan bagian atas vagina dan meletakkannya pada
jahitan berbentuk seperti kantong yang bertindak sebagai pembukaan leher rahim di dalam
rahim. Kelenjar getah bening di dekatnya juga diangkat. Operasi ini dilakukan baik melalui
vagina ataupun perut.

Setelah operasi ini, beberapa wanita dapat memiliki kehamilan jangka panjang dan
melahirkan bayi yang sehat melalui operasi caesar. Dalam sebuah penelitian, tingkat kehamilan
setelah 5 tahun lebih dari 50%, namun risiko keguguran lebih tinggi daripada wanita normal
pada umumnya. Risiko kanker kambuh kembali sesudah pendekatan ini cukup rendah.

Ekstenterasi Panggul
Selain mengambil semua organ dan jaringan yang disebutkan di atas, pada jenis operasi
ini: kandung kemih, vagina, dubur, dan sebagian usus besar juga diangkat. Operasi ini digunakan
ketika kanker serviks kambuh kembali setelah pengobatan sebelumnya.

Jika kandung kemih telah diangkat, sebuah cara baru untuk menyimpan dan membuang
air kecil diperlukan. Sepotong usus pendek dapat digunakan untuk membuat kandung kemih
baru. Urine dapat dikosongkan dengan menempatkan sebuah tabung kecil (disebut kateter) ke
dalam lubang kecil di perut tersebut (disebut: urostomi). Atau urin bisa mengalir ke kantong
plastik kecil yang ditempatkan di bagian depan perut.

Jika rektum dan sebagian usus besar diangkat, sebuah cara baru untuk melewati
kotoran/feses diperlukan. Hal ini dilakukan dengan kolostomi, yaitu dibuat lubang pembukaan di
perut dimana kotoran dapat dikeluarkan. Atau ahli bedah mungkin dapat menyambung kembali
usus besar sehingga tidak ada kantung di luar tubuh yang diperlukan. Jika vagina diangkat,
sebuah vagina baru yang terbuat dari kulit atau jaringan lain dapat dibuat/direkonstruksi.

Diperlukan waktu lama, 6 bulan atau lebih, untuk pulih dari operasi ini. Beberapa
mengatakan butuh waktu sekitar 1-2 tahun untuk benar benar menyesuaikan diri dengan
perubahan radikal ini.

Radioterapi untuk Kanker Serviks


Radioterapi adalah pengobatan dengan sinar berenergi tinggi (seperti sinar-X) untuk
membunuh sel-sel kanker ataupun menyusutkan tumornya. Sebelum radioterapi dilakukan,
biasanya Anda akan menjalani pemeriksaan darah untuk mengetahui apakah Anda menderita
Anemia. Penderita kanker serviks yang mengalami perdarahan pada umumnya menderita
Anemia. Untuk itu, transfusi darah mungkin diperlukan sebelum radioterapi dijalankan.

Pada kanker serviks stadium awal, biasanya dokter akan memberikan radioterapi
(external maupun internal). Kadang radioterapi juga diberikan sesudah pembedahan. Akhir-akhir
ini, dokter seringkali melakukan kombinasi terapi (radioterapi dan kemoterapi) untuk mengobati
kanker serviks yang berada antara stadium IB hingga IVA. Yaitu, antara lain bila ukuran
tumornya lebih besar dari 4 cm atau bila kanker ditemukan telah menyebar ke jaringan lainnya
(di luar serviks), misalnya ke kandung kemih atau usus besar.

Radioterapi ada 2 jenis, yaitu radioterapi eksternal dan radioterapi internal. Radioterapi
eksternal berarti sinar X diarahkan ke tubuh (area panggul) melalui sebuah mesin besar.
Sedangkan radioterapi internal berarti suatu bahan radioaktif ditanam ke dalam rahim/leher
rahim Salah satu metode radioterapi internal yang sering digunakan adalah brachytherapy.

Brachytherapy untuk Kanker Serviks


Brachytherapy telah digunakan untuk mengobati kanker serviks sejak awal abad ini.
Pengobatan yang ini cukup sukses untuk mengatasi keganasan di organ kewanitaan. Baik radium
dan cesium telah digunakan sebagai sumber radioaktif untuk memberikan radiasi internal. Sejak
tahun 1960-an di Eropa dan Jepang, mulai diperkenalkan sistem HDR(high dose rate)
brachytherapy.

HDR brachytherapy diberikan hanya dalam hitungan menit. Untuk mencegah komplikasi
potensial dari HDR brachytherapy, maka biasanya HDR brachytherapy diberikan dalam
beberapa insersi. Untuk pasien kanker serviks, standar perawatannya adalah 5 insersi. Waktu
dimana aplikator berada di saluran kewanitaan (vagina, leher rahim dan/atau rahim) untuk setiap
insersi adalah sekitar 2,5 jam. Untuk pasien kanker endometrium yang menerima brachytherapy
saja atau dalam kombinasi dengan radioterapi external, maka diperlukan total 2 insersi dengan
masing-masing waktu sekitar 1 jam.

Keuntungan HDR brachytherapy adalah antara lain: pasien cukup rawat jalan, ekonomis,
dosis radiasi bisa disesuaikan, tidak ada kemungkinan bergesernya aplikator. Yang cukup
memegang peranan penting bagi kesuksesan brachytherapy adalah pengalaman dokter yang
menangani.

Efek Samping Radioterapi


Ada beberapa efek samping dari radioterapi, yaitu:

 Kelelahan
 Sakit maag
 Sering ke belakang (diare)
 Mual
 Muntah
 Perubahan warna kulit (seperti terbakar)
 Kekeringan atau bekas luka pada vagina yang menyebabkan senggama menyakitkan
 Menopause dini
 Masalah dengan buang air kecil
 Tulang rapuh sehingga mudah patah tulang
 Rendahnya jumlah sel darah merah (anemia)
 Rendahnya jumlah sel darah putih
 Pembengkakan di kaki (disebut lymphedema)
Kemoterapi untuk Kanker Serviks
Kemoterapi adalah penggunaan obat-obatan untuk membunuh sel-sel kanker. Biasanya
obat-obatan diberikan melalui infuse ke pembuluh darah atau melalui mulut. Setelah obat masuk
ke aliran darah, mereka menyebar ke seluruh tubuh. Kadang-kadang beberapa obat diberikan
dalam satu waktu.

Kemoterapi dapat menyebabkan efek samping. Efek samping ini akan tergantung pada
jenis obat yang diberikan, jumlah/dosis yang diberikan, dan berapa lama pengobatan
berlangsung.
Efek samping bisa termasuki:

 Sakit maag dan muntah (dokter bisa memberikan obat mual/muntah)


 Kehilangan nafsu makan
 Kerontokan rambut jangka pendek
 Sariawan
 Meningkatkan kemungkinan terjadinya infeksi (kekurangan sel darah putih)
 Pendarahan atau memar bila terjadi luka (akibat kurang darah)
 Sesak napas (dari rendahnya jumlah sel darah merah)
 Kelelahan
 Menopause dini
Hilangnya kemampuan menjadi hamil (infertilitas)
Komplikasi

Pada tahap yang lebih lanjut dapat terjadi komplikasi fistula vesika vagina, gejala lain
yang dapat terjadi adalah nausea, muntah, demam dan anemi (Prayetni, 1997).

Prognosis

Faktor-faktor yang menentukan prognosis ialah :


1. Umur penderita.
2. Keadaan umum.
3. Tingkat klinik keganasan.
4. Ciri-ciri histologik sel tumor.
5. Kemampuan ahli atau tim ahli yang menangani.
6. Sarana pengobatan yang ada.

Berikut tabel Angka Ketahanan Hidup (AKH) 5 tahun menurut data internasional adalah
sebagai berikut:

Tingkat AKH-5 tahun


T1S Hampir 100%
T1 70 – 85%
T2 40 – 60%
T3 30 – 40%
T4 < 10%
Sumber: UICC/ clinical Oncology; Springer-Verlag, New York, Heidelberg, Berlin; 1973, p:218

Pencegahan

Ada 2 cara untuk mencegah kanker serviks:

1. Mencegah terjadinya infeksi HPV


2. Melakukan pemeriksaan Pap smear secara teratur .

Pap smear (tes Papanicolau) adalah suatu pemeriksaan mikroskopik terhadap sel-sel yang
diperoleh dari apusan serviks. Pada pemeriksaan Pap smear, contoh sel serviks diperoleh dengan
bantuan sebuah spatula yang terbuat dari kayu atau plastik (yang dioleskan bagian luar serviks)
dan sebuah sikat kecil (yang dimasukkan ke dalam saluran servikal). Sel-sel serviks lalu
dioleskan pada kaca obyek lalu diberi pengawet dan dikirimkan ke laboratorium untuk diperiksa.

Selama 24 jam sebelum menjalani Pap smear, sebaiknya tidak melakukan pencucian atau
pembilasan vagina, tidak melakukan hubungan seksual, tidak berendam dan tidak menggunakan
tampon.

Pap smear sangat efektif dalam mendeteksi perubahan prekanker pada serviks. Jika hasil Pap
smear menunjukkan displasia atau serviks tampak abnormal, biasanya dilakukan kolposkopi dan
biopsy.

Anjuran untuk melakukan Pap smear secara teratur:


 Setiap tahun untuk wanita yang berusia diatas 35 tahun.
 Setiap tahun untuk wanita yang berganti-ganti pasangan seksual atau pernah menderita infeksi
HPV atau kutil kelamin.
 Setiap tahun untuk wanita yang memakai pil KB.
 Setiap 2-3 tahun untuk wanita yang berusia diatas 35 tahun jika 3 kali Pap smear berturut-turut
menunjukkan hasil negatif atau untuk wanita yang telah menjalani histerektomi bukan karena
kanker.
 Sesering mungkin jika hasil Pap smear menunjukkan abnormal.

Vaksinasi Profilaksis untuk HPV:

1. GSK bivalen yang mengandung antigen HPV tipe 16 dan 18 (nama dagang: Cervarix)
diberikan secara IM di M. Deltoideus pada bulan ke-0, 1 dan 6.
2. Merck Qudrivalent yang mengandung antigen HPV tipe 6, 11, 16 dan 18 (nama dagang
Gardasil), diberikan secara IM di M. Deltoideus pada bulan ke 0, 2 dan 6.

Cara Memberikan Vaksin

Penyuntikkan Vaksin HPV dilakukan sebanyak satu seri yakni 3 kali pada bulan ke 0, ke 2 dan
ke 6. Penyuntikan dilakukan di otot lengan atas. Cara kerja dari vaksin ini dengan merangsang
antibodi respon kekebalan tubuh terhadap HPV dimana antibodi ditangkap untuk membunuh
HPV sehingga virus HPV tidak dapat masuk ke leher rahim (serviks).
Satu seri vaksinasi HPV menyebabkan wanita mempunyai kekebalan (immunity) selama kira-
kira 5 tahun. Sampai saat ini masih dilakukan penelitian untuk mengetahui lebih pasti berapa
lama kekebalan ini dapat bertahan, demikian juga masih diteliti apakah wanita yang sudah
divaksinasi perlu diberi suntikan ulangan (booster),
Untuk melakukan vaksin HPV harga yang harus dibayar setiap kali melakukan vaksin sangat
mahal yakni sekitar Rpl,3 juta. Tapi harga ini tidak sebanding dengan biaya jika di kemudian
hari menderita kanker serviks.

Efek Samping dan Bahaya Vaksin

FDA telah menyatakan bahwa vaksin HPV ini aman dan efektif. Vaksin ini sudah dites pada
ribuan wanita usia 9-26 tahun di seluruh dunia. Hasil penelitian tidak menunjukkan bahwa
vaksin ini menyebabkan efek samping yang serius. Efek samping yang sering timbul berupa
nyeri sementara di tempat suntikan.

Efek samping yang pernah dilaporkan berupa :


Nyeri pada daerah suntikan (>83.9 %). Bengkak pada daerah suntikan (>25.4 %). Merah pada
daerah injeksi (>24.6 %), Demam (>13 %), Mual (>6.7 %), Pusing (>4%), Diarrhea (> 3.6%),
Efek samping lainnya yang kurang dari 1% : mual, muntah, batuk, sakit gigi, tidak enak, nyeri
sendi, insomnia, dan hidung tersumbat.

Vaksin HPV tidak boleh diberikan pada wanita hamil karena mungkin membahayakan
perkembangan janin dalam kandungan. Kalau seorang wanita sedang hamil, maka dia baru boleh
divaksinasi setelah bayinya lahir. Kalau seorang wanita baru tahu kalau dia hamil setelah diberi
vaksin suntikan pertama, maka setelah bayinya lahir, dia baru boleh meneruskan
dengan suntikan vaksin seri kedua dan tiga.
Skrining:
Metode skrining yang direkomendasikan di Indonesia adalah dengan papsmear dan IVA.

Bila dengan papsmear didapatkan hasil negatif, maka skrining selanjutnya disarankan
pada waktu 1 – 2 tahun berikutnya. Hasil papsmear dikategorikan dalam 5 kelas sebagai berikut:

 Kelas I Normal
 Kelas II Atypical
 Kelas III Abnormal (ringan, sedang, berat)
 Kelas IV Insitu
 Kelas v Kanker invasif

Hasil IVA dapat diamati langsung 1-2 menit setelah asam asetat dioleskan. Gambarannya
adalah sebagai berikut:

IVA negatif
IVA negatif (dengan kista naboti)

Etika Pemeriksaan dalam Islam

Islam menentukan bahwa setiap manusia harus menghormati manusia yang lainnya,
karena Allah sebagai khalik sendiri menghormati manusia, sebagai mana di jelaskan Allah dalam
surat Al Isra’: 70.

Maka dokter maupun paramedis haruslah tidak memaksakan sesuatu kepada pasien,
segala tindakan yang harus mereka kerjakan haruslah dengan suka rela dan atas keyakinan.
Untuk pemeriksaan dokter dalam menegakkan diagnosa penyakit, maka dokter berkhalwat,
melihat aurat, malah memeriksa luar dalam pasien dibolehkan hanya didasarkan pada keadaan
darurat, sebagai yang dijelaskan oleh qaidah ushul fiqh yang berbunyi : yang darurat dapat
membolehkan yang dilarang.

Islam memang mengenal darurat yang akan meringankan suatu hukum. Ada kaidah Idzaa
dhoogal amr ittasi’ (jika kondisi sulit, maka Islam memberikan kemudahan dan kelonggaran).
Bahkan Kaedah lain menyebutkan: ‘Kondisi darurat menjadikan sesuatu yang haram menjadi
mubah’.

Berbicara mengenai kaidah fiqhiyyah tentang darurat maka terdapat dua kaidah yaitu
kaidah pokok dan kaidah cabang. Kaidah pokok disini menjelaskan bahwa kemudharatan harus
dilenyapkan yang bersumber dari Q.S Al- Qashash : 77), contohnya meminum khamar dan zat
adiktif lainnya yang dapat merusak akal, menghancurkan potensi sosio ekonomi, bagi
peminumnya kan menurunkan produktivitasnya. Demikian pula menghisap rokok, disamping
merusak diri penghisapnya juga mengganggu orang lain disekitarnya. Para ulama menganggap
keadaan darurat sebagai suatu kesempitan, dan jika kesempitan itu datang agama justru
memberikan keluasan. Namun darurat itu bukan sesuatu yang bersifat rutin dan gampang
dilakukan. Umumnya darurat baru dijadikan pilihan manakala memang kondisinya akan menjadi
kritis dan tidak ada alternatif lain. Itu pun masih diiringi dengan resiko fitnah dan sebagainya.

Akan tetapi, untuk mencegah fitnah dan godaan syaitan maka sebaiknya sewaktu dokter
memeriksa pasien dihadiri orang ketiga baik dari keluarga maupun dari tenaga medis itu sendiri.
Akan lebih baik lagi jika pasien diperiksa oleh dokter sejenis, pasien perempuan diperiksa oleh
dokter perempuan dan pasien laki-laki diperiksa oleh dokter laki-laki. Karena dalam dunia
kedokteran sendiri banyak cerita-cerita bertebaran di seluruh dunia, di mana terjadi praktek
asusila baik yang tak sejenis hetero seksual, maupun yang sejenis homoseksual antara dokter dan
pasien.

Dalam batas-batas tertentu, mayoritas ulama memperbolehakan berobat kepada lawan


jenis jika sekiranya yang sejenis tidak ada, dengan syarat ditunggui oleh mahram atau orang
yang sejenis. Alasannya, karena berobat hukumnya hanya sunnah dan bersikap pasrah (tawakkal)
dinilai sebagai suatu keutamaan (fadlilah). Ulama sepakat bahawa pembolehan yang diharamkan
dalam keadaan darurat, termasuk pembolehan melihat aurat orang lain,ada batasnya yang secara
umum ditegaskan dalam al-qur’an ( Q.S Al-baqarah : 173; Al-an’am :145 ;An-nahl : 115)
dengan menjauhi kezaliman dan lewat batas.

Dalam pengobatan, kebolehan hanya pada bagian tubuh yang sangat diperlukan, karena
itu, bagian tubuh yang lain yang tidak terkait langsung tetap berlaku ketentuan umum tidak boleh
melihatnya. Namun, untuk meminimalisir batasan darurat dalam pemeriksaan oleh lawan jenis
sebagai upaya sadd al-Dzari’at (menutup jalan untuk terlaksananya kejahatan), disarankan
disertai mahram dan prioritas diobati oleh yang sejenis.

Pembolehan dan batasan kebolehanya dalam keadaan darurat juga banyak disampaikan
oleh tokoh madzhab. Ahmad ibn Hanbal, tokoh utama mazhab hanbali menyatakan boleh bagi
dokter/ tabib laki-laki melihat aurat pasien lain jenis yang bukan mahram khusus pada bagian
tubuh yang menuntut untuk itu termasuk aurat vitalnya, demikian pula sebaliknya, dokter wanita
boleh melihat aurat pasien laki-laki yang bukan mahramnya dengan alasan tuntutan.

Di Indonesia, dalam fatwa MPKS disebutkan, tidak dilarang melihat aurat perempuan
sakit oleh seorang dokter laki-laki untuk keperluan memeriksa dan mengobati penyakitnya.
Seluruh tubuhnya boleh diperiksa oleh dokter laki-laki, bahkan hingga genetalianya, tetapi jika
pemeriksaan dan pengobatan itu telah mengenai genitalian dan sekiatarnya maka perlu ditemani
oleh seorang anggota keluarga laki-laki yang terdekat atau suaminya. Jadi, kebolehan berobat
kepada lain jenis dopersyaratkan jika yang sejenis tidak ada. Dalam hal demikian, dianjurakan
bagi pasien untuk menutup bagian tubuh yang tidak diobati. Demikian pula dokter atau yang
sejenisnya harus membatasi diri tidak melihat organ pasien yang tidak berkaitan langsung.
DAFTAR PUSTAKA

Sjamsuhidajat R., (1997), Buku Ajar Ilmu Bedah, Edisi Revisi, EGC, Jakarta

Mansjoer, dkk, (2000), Kapita Selekta Kedokteran, Edisi 3, Jakarta.