You are on page 1of 28

LAPORAN DASAR-DASAR INTERVENSI INDIVIDU

Rational Emotive Behavior Therapy dan Terapi Menulis Ekspresif sebagai


Intervensi terhadap Gangguan Episode Depresif Ringan pada Dewasa

Diajukan Untuk Memenuhi Tugas Mata Kuliah Dasar-Dasar Intervensi


Individu

Dosen : Pihasniwati,S.Psi.,M.A.,Psi
Asisten : Maftukhatus Syarifah, S. Psi

Disusun Oleh:
Sinta Nourmawati
NIM 11710084

PROGRAM STUDI PSIKOLOGI


FAKULTAS ILMU SOSIAL DAN HUMANIORA
UNIVERSITAS ISLAM NEGERI SUNAN KALIJAGA
YOGYAKARTA
2014

1
Pengantar

Kehilangan merupakan bagian dari proses kehidupan yang dialami oleh


manusia, sehingga akan membuat seseorang merasa depresi. Depresi itu sendiri
merupakan gejala yang wajar sebagai respon yang normal terhadap pengalaman
hidup yang negatif seperti kehilangan anggota keluarga, benda berharga atau
status sosial. Depresi dianggap mengganggu bila diluar kewajaran dan berlanjut
terus sampai saat-saat dimana kebanyakan orang sudah dapat pulih kembali.
Seseorang yang tidak dapat beradaptasi dengan kondisi tertekannya maka sangat
rentan mengalami gangguan depresi secara berulang. Ciri-cirinya antara lain tidak
adanya harapan, patah hati, perasaan cemas dan tidak berdaya yang semuanya
cenderung bertahan dalam jangka waktu yang lama.
Subjek pada penelitian ini mengalami gangguan episode depresif ringan
sebagai dampak dari pengalaman masa lalunya yaitu kehilangan seseorang yang
dianggapnya berarti. Subjek merasa cemas dan perasaannya berubah menjadi
negatif bila dihadapkan pada kondisi yang membuatnya tertekan dan itu dapat
berlangsung hingga beberapa hari. Depresi adalah kondisi emosional
berkepanjangan yang mewarnai seluruh proses mental baik itu berpikir ,
berperasaan dan berperilaku. Dan salah satu penyebab depresi yang dialami
subjek adalah karena kesalahan proses berpikirnya yang memunculkan sistem
keyakinan yang tidak rasional (irational belief) sehingga mengganggu interaksi
sosialnya yang cenderung bersikap agresif terhadap lawan jenis.
Maka upaya untuk mengurangi depresinya yaitu dengan menggunakan
terapi REBT (Rational Emotive Behavior Therapy) yang bertujuan untuk melawan
irational belief subjek, serta menggunakan terapi menulis ekspresif untuk
mengurangi perasaan cemas ketika kondisi depesi itu muncul.

2
Daftar Isi
Halaman
Cover ........................................................................................................... i
Pengantar ..................................................................................................... ii
Daftar Isi ..................................................................................................... iii
Daftar Lampiran .......................................................................................... iv
Daftar Tabel ................................................................................................. v
I....................................................................................Identitas
..................................................................................................1
II..........................................................................Permasalahan
..................................................................................................2
III.....................................Proses Pengumpulan Data Asesmen
..................................................................................................2
A..........................................................................Observasi
............................................................................................2
B.......................................................................Wawancara
............................................................................................3
C.........................................................................Tes Grafis
............................................................................................3
IV.............................Hasil pengumpulan Data dan Interpretasi
..................................................................................................5
A................................................................................Sebab
............................................................................................5
B................................................................................Gejala
............................................................................................6
C............................................................................Dampak
............................................................................................6
V................................................................Analisis Multiaksial
..................................................................................................7
VI.......................................................................Analisis kasus
..................................................................................................8
VII......................................Intervensi yang direkomendasikan
................................................................................................12
A.............................................................Konsep Intervensi
..........................................................................................12

3
B.......................................................Rancangan Intervensi
..........................................................................................15
DAFTAR PUSTAKA
LAMPIRAN-LAMPIRAN

4
Daftar Lampiran

Informed concent
Hasil pemeriksaan Psikologis
Buku Catatan Harian Lapangan

5
Daftar Tabel
Tabel.I Pengumpulan Data ..................................................................... 3
Tabel.II Proses Pengumpulan Data ......................................................... 4
Tabel. III Diagnosis Multiaksial ................................................................. 7
Tabel.IV Rancangan Intervensi .................................................................. 15

6
I. Identitas
A. Identitas Subjek
Nama :M
Jenis Kelamin : Perempuan
Umur : 23 tahun
Agama : Islam
Pendidikan : Sedang menempuh S1
Pekerjaan : Pelajar
Status : Belum menikah
Anak ke : 4 dari 5 bersaudara
Alamat : Sapen, Yogyakarta
B. Identitas Orang tua
1. Nama ayah : DS
Usia : 54 Tahun
Pendidikan : SMP
Agama : Islam
Pekerjaan : Wiraswasta
Alamat : Lampung
2. Nama Ibu : CS
Usia : 49 Tahun
Pendidikan : SMP
Agama : Islam
Pekerjaan : Guru TK
Alamat : Lampung
C. Alloanamnesa diperoleh dari :
1. Nama :W
Jenis Kelamin : Perempuan
Status : Belum menikah
Pekerjaan : Mahasiswa
Pendidikan : sedang menempuh S1
Usia : 21 Tahun
Hub dengan subjek : Teman

II. Permasalahan
M adalah mahasiswa semester 6 di perguruan tinggi negeri, ketika
semester 2 subjek menjalani hubungan spesial dengan lawan jenisnya,
sekitar1,5 tahun hubungan itu berakhir, menurut penuturan subjek
penyebab berakhirnya hubungan itu karena alasan yang tidak logis dan
tidak dapat diterima, sehingga menyebabkan subjek sakit secara fisik
dan psikis, subjek mengalami insomnia selama 1 bulan dan sempat
dibawa ke psikiater kemudian diberi obat penenang dosis rendah
karena subjek selalu merasa cemas. Keadaan subjek berangsur-angsur

7
semakin membaik, namun kerap kali perasaan cemas itu muncul ketika
subjek dihadapkan pada hal yang mengingatkan masa lalunya,
jantungnya berdebar dan mengalami gangguan emosi berupa perasaan
selalu ingin marah hingga beberapa hari. Subjek beranggapan bahwa
semua laki-laki itu tidak ada yang baik sehingga menurutnya laki-laki
itu tidak pantas untuk mendapakan perlakuan yang baik pula, hal ini
berpengaruh pada interaksinya terhadap lawan jenis, subjek semakin
agresif. Subjek sendiri menyadari bahwa pemikiran dan sikapnya itu
kurang baik, namun subjek menyadari hal itulah yang sulit dia
kendalikan.
III. Proses Pengumpulan Data Asesmen
A. Observasi
Observasi adalah proses pengumpulan data dengan metode
pengamatan terhadap subjek secara sistematis dan sengaja juga
pencatatan terhadap gejala objek yang di teliti.(Fitria,2012)
Peneliti menggunakan observasi nonpartisipan, yaitu
dimana observer tidak ikut di dalam kehidupan orang yang akan
diobservasi, dan secara terpisah berkedudukan selaku pengamat. Di
dalam hal ini peneliti hanya bertindak sebagai observer saja yang
mengamati kehidupan subjek ketika berinteraksi dengan
lingkungannya baik di kampus maupun dikost.

B. Wawancara
Wawancara adalah perbincangan yang menjadi sarana
untuk mendapatkan informasi tentang subjek dan bertujuan untuk
mendapatkan penjelasan atau pemahaman tentang orang itu dalam
hal tertentu.(Fitria, 2012)
Metode wawancara yang digunakan dalam mengumpulkan
data ini adalah metode wawancara langsung (autoanamnesa) dan
wawancara dengan orang lain (alloanamnesa) yaitu teman subjek.
Menggunakan wawancara semi terstruktur yaitu
menggunakan pertanyaan-pertanyaan yang sudah sistematis, ada
pedoman atau menggunakan interview guide siap pakai yang
berupa catatan-catatan penting/ pokok-pokok yang mengarahkan

8
jalannya wawancara. Interviewer dapat bertanya cukup luas untuk
mendapatkan informasi sedalam-dalamnya.
C. Tes Grafis
Tes yang dilakukan untuk mengungkap kepribadian subjek
yaitu dengan menggunakan tes grafis yang mencakup tes Baum,
DAP dan HTP.

Tabel.1
PANDUAN PENGUMPULAN DATA

No Aspek& Pertanyaan Penelitian Metode pengumpulan data dan


sumber data

Aspek Penyebab

1. Bagaimana masa lalu subjek? Wawancara dengan subjek

2. Bagaimana hubungan subjek Wawancara dengan subjek


dengan masa lalunya?

3. Bagaimana perasaan subjek saat Wawancara dengan subjek


itu?

Aspek gejala

1. Bagaimana perasaan subjek saat Wawancara dengan subjek


ini?

2. Gangguan apa saja yang dirasakan Wawancara dengan subjek


subjek?

4. Apa yang dipikirkan dan Wawancara dengan subjek


dirasakan subjek ketika gangguan
itu muncul?

3. Bagaimana subjek mengatasi Wawancara dengan subjek


gangguannya?

Aspek dampak

1. Bagaimana perilaku subjek ketika Wawancara dengan teman subjek


di lingkungan kampus?

2. Bagaimana interaksi subjek Wawancara dengan teman subjek


dengan teman-temannya?

9
Tabel.2

PROSES PENGUMPULAN DATA

No Tanggal/ Jam Kegiatan pengumpulan Strategi


data

1. 5 Maret 2014 / 16.00 – Observasi dan wawancara Observasi nonpartisipan


18.00 dengan subjek di kost dan wawancara tidak
subjek terstruktur

2. 15 Maret 12014 / 19.00 Observasi dan wawancara Observasi nonpartisipan


– 21.00 dengan teman subjek dikost dan wawancara tidak
subjek terstruktur

3. 22 Maret 2014 / 20.00 – Observasi dan wawancara Wawancara tidak


21.30 dengan subjek terstruktur

4. 25 Maret 2014 / 13.00 – Observasi & wawancara Observasi


14.00 dengan teman subjek
dilingkungan kampus Wawancara tidak
tersruktur.

5. 3 April 2014 / 18.30 – Tes grafis Observasi


19.00 eksperimental

IV. Hasil pengumpulan Data dan Interpretasi


A. Sebab
Subjek berusia 23 tahun merupakan mahasiswa semester 6
di sebuah perguruan tinggi negeri. Ketika subjek masih semester 2
dia menjalin hubungan spesial dengan teman sekampusnya,
hubungan itu hanya bertahan sekitar 1,5 tahun. Alasannya karena
pihak keluarga dari pasangannya itu kurang setuju dan mereka
menginginkan seseorang yang lebih baik dari subjek dan subjek
merasa bahwa keluarga tersebut merendahkan dan menghina
dirinya. Hal itulah yang membuat subjek merasa sakit hati hingga
membuatnya jatuh sakit yang mengharuskan dia dirawat dirumah
sakit. Subjek juga mengalami kecemasan dan insomnia selama satu
bulan karena terus memikirkan hal itu, akhirnya subjek dibawa ke

10
psikiater dan di beri obat penenang. Saat sakit kedua orangtua
subjek menjenguknya, dan tinggal beberapa hari di kost subjek,
karena perjalanan yang jauh dan kesibukan orangtuanya untuk
merawat subjek, akhirnya ayah subjek jatuh sakit. Subjek
menganggap bahwa sakitnya itu disebabkan oleh dirinya kemudian
subjekpun menyalahkan orang yang telah menyakitinya dan subjek
merasa tidak terima atas kejadian ini. Subjek begitu membenci
laki-laki itu dan tidak akan ikhlas jika melihat dia merasa bahagia,
subjek akan merasa puas bila laki-laki itu merasakan penderitaan
seperti yang dia alami dulu.
Subjek begitu berfikiran negatif terhadap laki-laki, hal ini
berpengaruh terhadap interaksinya dengan lawan jenis, subjek
semakin agresif dan mudah berkata kasar. Terkadang ketika
bercanda subjek menyatakan bahwa jika menjalin hubungan
dengan laki-laki hanya membuatnya sakit hati, lebih baik dia
menjalin hubungan dengan sesama perempuan. Subjek menyadari
bahwa pemikiran dan sikapnya itu memang tidak tepat namun
subjek merasa bahwa hal itu sulit untuk dikendalikan.
B. Gejala
Subjek mengakui terkadang kecemasan itu kerap kali
muncul tanpa diundang, atau muncul ketika tiba-tiba subjek
teringat akan pengalaman buruknya. Subjek merasa jantungnya
berdebar, kemudian amarahnya begitu meluap hingga beberapa
hari. Subjek merasa tidak tenang karena selalu teringat dengan
masa lalunya dan khawatir menyakiti orang lain karena sikapnya
yang sulit untuk dikendalikan.
Subjek juga mengalami gangguan tidur ketika rasa cemas
itu muncul, sehingga menimbulkan pemikiran yang irasional.
Subjek beranggapan bahwa semua laki-laki itu tidak baik, dan
menurutnya tidak pantas pula diperlakukan dengan baik
C. Dampak
Karena pengalaman masa lalunya subjek menjadi pribadi
yang agresif dan mudah berkata kasar terhadap lawan jenis, selalu

11
berfikiran negatif sebagai dampak dari kecemasannya, dari pikiran
inilan kemudian menjadi keyakinan yang meluas diberbagai aspek
dan cenderung negatif (irrasional believe). Ketika subjek
dihadapkan pada kondisi yang mengingatkan akan masa lalunya,
perasaannya mudah berubah menjadi negatif dan cenderung
bertahan hingga beberapa hari.

12
V. Analisis Multiaksial
Tabel.III
No Kode Nama diagnosis menurut Keterangan
PPDGJ III
Aksis I (Gangguan klinis & kondisi lain yang menjadi fokus perhatian)
1. F32 Episode depresif ringan - Afek depresif
- Kehilangan minat
dan kegembiraan
- Berkurangnya energi
dan mudah merasa
lelah
- Konsentrasi dan
perhatian berkurang
- Tidur terganggu
- Nafsu makan
berkurang
Aksis II (Gangguan kepribadian dan retardasi mental)
2. F60.0 Gangguan kepribadian - Subjek memiliki
paranoid kecenderungan untuk
menyimpan dendam
dengan menolak
untuk memaafkan
suatu penghinaan
dan luka hati
- Muncul kecurigaan
tanpa dasar terhadap
kesetiaan dari
pasangannya
- Menyalah artikan
tindakan lawan jenis
yang netral sebagai
sikap penghinaan
Aksis III (Kondisi medik umum)
Tidak Ada

13
Aksis IV ((Masalah psikososial dan lingkungan)
1. Masalah dengan lingkungan sosial Subjek memiliki
kecenderungan bersikap
agresi ketika berinteraksi
dengan lawan jenis
Aksis V (Skala penilaian fungsi secara global)
Nilai 80-71 Gejala sementara dan
dapat diatasi, disabilitas
ringan dalam sosial

Berdasarkan pedoman PPDGJ dan tabel multiakisal diatas


dapat diketahui bahwa masalah subjek mengalami episode depresif
ringan karena mengalami 3 gejala utama depresi ditambah dengan
mengalami 3 gejala lainnya yaitu berkurangnya konsentrasi dan
perhatian, mengalami gangguan tidur dan nafsu makan berkurang.
Subjek juga cenderung mengalami gangguan paranoid karena
muncul 3 gelaja yang memenuhi kriteria ganguan ini. Subjek
memiliki masalah dengan lingkungan sosial yaitu cenderung
bersikap agresi ketika berinteraksi dengan lawan jenis. Nilai subjek
yaitu rentang antara 80-71 artinya bahwa gejala yang muncul
besifat sementara dan dapat diatasi serta memunculkan gangguan
yang ringan dalam interaksi sosial.
VI. Analisis kasus
Depresi adalah gangguan psikologis yang paling umum ditemui
(Rosenhan & Seligman, 1989). Menurut Rice PL (1992), depresi
adalah gangguan mood, kondisi emosional berkepanjangan yang
mewarnai seluruh proses mental (berpikir, berperasaan dan
berperilaku) seseorang. Pada umumnya mood yang secara dominan
muncul adalah perasaan tidak berdaya dan kehilangan harapan.
Depresi merupakan gangguan yang terutama ditandai oleh kondisi
emosi sedih dan muram serta terkait dengan gejala-gejala kognitif,
fisik, dan interpersonal (APA, 1994). Sebenarnya, depresi merupakan
gejala yang wajar sebagai respon normal terhadap pengalaman hidup

14
negatif, seperti kehilangan anggota keluarga, benda berharga atau
status sosial. Dengan demikian, depresi dapat dipandang sebagai suatu
kontinum yang bergerak dari depresi normal sampai depresi klinis
(Caron & Butcher, 1991). Depresi menjadi maladaptif dan abnormal
bila hadir dalam intensitas yang tinggi dan menetap. Menurut sudut
pandang psikoanalisa (Davison & Neale, 2001), timbulnya gangguan
depresi ditekankan pada konflik yang tidak disadari dihubungkan
dengan kesedihan dan kehilangan, depresi juga ditimbulkan oleh
peristiwa kehidupan yang menekan, dan hal ini seringkali terkait
dengan perasaan kehilangan.
Subjek mengalami masa lalu yang menurutnya menyakitkan, yaitu
kehilangan seseorang yang dianggapnya berarti sehingga menjadikan
kondisi psikisnya terganggu. Yang membuatnya sakit adalah karena
alasan putusnya hubungan tersebut yang dianggapnya begitu
merendahkan dan menghina subjek. Menurut penuturan subjek, dia
diputuskan karena keluarga pasangannya menginginkan seseorang
yang lebih baik dari subjek. Kemudian subjek jatuh sakit dan harus
menjalani rawat inap disebuah rumah sakit, bahkan subjek pernah
mengalami insomnia selama satu bulan kemudian mendatangi psikiater
dan menkonsumsi obat penenang. Kondisi psikis subjek perlahan-
lahan kian membaik namun masih memiliki gejala yang cenderung
menetap.
American Psychiatric Association (2000) mengemukakan kriteria
depresi mayor yang ditetapkan apabila sedikitnya lima dari gejala telah
ditemukan dalam jangka waktu dua minggu yang sama dan merupakan
satu perubahan pola fungsi dari sebelumnya. Paling tidak satu
gejalanya ialah salah satu dari mood tertekan atau hilangnya minat atau
kesenangan (tidak termasuk gejala-gejala yang jelas yang disebabkan
kondisi medis umum atau mood delusi atau halusinasi yang tidak
kongruen). Dijelaskan dalam sebuah penelitian bahwa individu yang
mengalami depresi pada umumnya menunjukkan gejala psikis
(Richard, 2009), gejala fisik (Matud, 2005) dan sosial yang khas

15
adanya (Murakumi, 2002), seperti murung, sedih berkepanjangan, sen-
sitif, mudah marah dan tersinggung, hilang semangat, hilangnya rasa
percaya diri, hilang-nya konsentrasi, mengalami kesulitan tidur, dan
menurunnya daya tahan.
Masalah subjek dikategorikan kedalam gangguan episode depresif
ringan yang ditandai dengan beberapa gejala yang sesuai dengan
kriteria APA (2000) diantaranya muncul perasaan negatif yang
cenderung bertahan lama, subjek juga kehilangan minat dan
kegembiraan ketika dihadapkan pada kondisi yang mengingatkan akan
masa lalunya dan ketika keadaan depresi ini muncul subjek biasanya
mudah merasa lelah serta konsentrasi dan perhatian berkurang saat
melakukan kegiatan. Pada malam harinya subjek mengalami gangguan
tidur dan nafsu makan berkurang. Gejala ini timbul apabila subjek
dihadapkan pada kondisi yang membuatnya depresi salah satunya
adalah ketika subjek teringat dengan pengalaman masa lalunya, ketika
subjek bertemu dengan orang yang dianggap telah menyakitinya atau
ketika mendengar namanya saja subjek merasakan gelaja tersebut. Ellis
(2003) menjelaskan bahwa depresi yang dialami subyek di tempat
kerja yang menyebabkan terganggunya aktivitas kerja. Gejala tersebut
juga muncul pada subjek yakni terhambatnya pengerjaan tugas baik itu
kuliah maupun organisasi.
Gangguan depresi tersebut berdampak luas pada kehidupan subjek.
Subjek kerap kali merasa cemas ketika gangguan itu muncul, dan
merasa kesulitan untuk menenangkan dirinya. Hal ini juga
berpengaruh pada proses berpikirnya dan timbul irrasional believe
yang dianggapnya mengganggu yaitu keyakinan bahwa semua laki-
laki itu tidak baik dan pantas mendapat perlakuan yang tidak baik,
sehingga interaksi sosialnya dengan lawan jenis cenderung agresif.

16
BAGAN DINAMIKA PSIKOLOGIS

Perasaan tertekan karena kehilangan


Sakit seseorang
hati karenayang berartihubungan dengan alasan yang tidak dapat diterima
putusnya

Merasa cemas dan mood berubah ketika teringat dengan masa lalu cenderung bertahan
Mengalami gangguan tidur
Kehilangan konsentrasi dan perhatian dalam bekerja
lama

SUBJEK

EPISODE DEPRESIF RINGAN

Irrasioal belive yang menganggu dan meluas ke banyak aspek


Sikap agresi terhadap laki-laki

17
18
VII. Intervensi yang direkomendasikan
A. Konsep Intervensi
Rational-Emotive Behavior Therapy (REBT) membantu
konseli mengenai dan memahami perasaan, pemikiran dan tingkah
laku yang irasional. Dalam proses ini konseli diajarkan untuk
menerima perasaan, pemikiran dan tingkah laku tersebut diciptakan
dan diverbalisasi oleh konseli sendiri. Untuk menngatassi hal
tersebut, konseli membutuhkan konselor untuk membantu dan
mengatasi hal tersebut, konseli membutuhkan konselor untuk
membantu mengatasi permasalahannya. Dalam proses konseling
dengan pendekatan REBT terdapat beberapa tahap yang dikerjakan
oleh konselor dan konseli. Beberapa penelitian menyatakan bahwa
REBT merupakan terapi yang sangat komprehensif (Ellis,1990)
yang menangani masalah-masalah yang berhubungan dengan
emosi, kognisi, dan perilaku termasuk depresi (De Boni, 2005;
Sava, 2009). Pada penelitian REBT dijelaskan bahwa berpikir
irasional ini diawali dengan pola kebiasaan yang secara tidak
sengaja biasanya diperoleh dari orang tua dan budaya tempat
dibesarkan. Berpikir secara irasional akan tercermin dari kata-kata
yang digunakan. Kata-kata yang tidak logis menunjukkan cara
berpikir yang salah dan kata-kata yang tepat menunjukkan cara
berpikir yang tepat. Perasaan dan pikiran negatif serta penolakan
diri harus dilawan de-ngan cara berpikir yang rasional (Ellis,2003)
dan logis yang dapat diterima menurut akal sehat (Flett, 2003) serta
menggunakan cara verbalisasi yang rasional (Stephen, 2004).
Untuk itu tahap pertama dalam melakukan perubahan irasional
belief dimulai dari peristiwa sebagai pemicu pola pikir yang harus
direduksi terlebih dahulu baru dilakukan tahap berikutnya secara
lebih intensif dan komprehensif (Sava, 2009; Yoosefi, 2011).
Subjek mengalami gangguan episode depresif ringan maka
salah satu intervensi yang akan diterapkan yaitu terapi REBT yang
bertujuan untuk mengubah pola pikir subjek menjadi positif dan

19
mendispute irrasional beliefnya yang dirasa mengganggu dan
memiliki dampak negatif, juga untuk mengurangi perasaaan cemas
subjek ketika dihadapkan pada situasi depresi dengan
mengembangkan beberapa teknik dari REBT. Adapun teknik yang
akan digunakan yaitu teknik homework, teknik simulation
imitation dan social modelling. Teknik homework yaitu dengan
memberikan pekerjaan rumah pada subjek untuk menuliskan
kebaikan-kebaikan atau hal positif yang dilakukan oleh ayah,
saudara maupun laki-lakinya. Teknik simulation imitation dengan
melakukan role play percakapan yang baik antara subjek dengan
konselor sebagai seseorang dimasa lalunya. Teknik social
modelling dengan melakukan perbandingan atau menceritakan
kisah orang lain untuk memperluas pandangannya. Proses terapi
akan dimulai tanggal 1 April sampai 11 April 2014. Terapi
dilakukan selama empat kali pertemuan yaitu pada tanggal 1, 4, 6,
8 dan 11 April 2014. Setiap sesi terapi berdurasi kurang lebih 45
menit.
Menurut Poerwadarminta (1976), menulis adalah suatu
aktivitas melahirkan pikiran dan perasaan dengan tulisan. Menulis
berbeda dengan berbicara. Menulis memiliki suatu kekuatan
tersendiri karena menulis adalah suatu bentuk eksplorasi dan
ekspresi area pemikiran, emosi dan spiritual yang dapat dijadikan
sebagai suatu sarana untuk berkomunikasi dengan diri sendiri dan
mengembangkan suatu pemikiran serta kesadaran akan suatu
peristiwa (Bolton, 2004). Terapi Menulis adalah suatu aktivitas
menulis yang mencerminkan refleksi dan ekspresi klien baik itu
karena inisiatif sendiri atau sugesti dari seorang terapis atau
peneliti (Wright, 2004). Pusat dari terapi menulis lebih pada proses
selama menulis daripada hasil dari menulis itu sendiri sehingga
penting bahwa menulis adalah suatu aktivitas yang personal, bebas
kritik, dan bebas dari aturan bahasa seperti tata bahasa, sintaksis,

20
dan bentuk (Bolton, 2004). Oleh karena itu, menulis dapat disebut
sebagai bentuk terapi yang menggunakan teknik sederhana, murah,
dan tidak membutuhkan umpan balik (Pennebaker, 1997;
Pennebaker & Chung, 2007). Terapi Menulis Pengalaman
Emosional atau Menulis Ekspresif dapat diartikan sebagai suatu
terapi dengan aktivitas menulis mengenai pikiran dan perasaan
yang mendalam terhadap pengalaman-pengalaman yang berkaitan
dengan kejadian-kejadian yang menekan atau bersifat traumatik
(Pennebaker, 1997; Pennebaker & Chung, 2007). Lepore et al.
(2002) dalam kajiannya menunjukkan bahwa menulis ekspresif
atau menulis mengenai pengalaman-pengalaman emosional dapat
memfasilitasi regulasi emosi melalui tiga mekanisme, yaitu: (a)
mengarahkan perhatian, (b) memfasilitasi habituasi (pembiasaan),
dan (c) membantu restrukturisasi kognitif.
Terapi menulis merupakan suatu cara dalam menurunkan
depresi, terutama pada mahasiswa (Geisner, 2006). Aktivitas menulis
membuat seseorang berpikir tentang peristiwa yang ia alami dan
proses emosional serta elemen objektif pada peristiwa tersebut, yang
akan meredakan renungan peristiwa tersebut.

21
Subjek terkadang dilanda perasaan cemas ketika situasi depresi itu muncul, perasaan lain yang muncul yaitu rasa marah, sakit
hati yang membuat mood subjek menjadi buruk dan cenderung bertahan hingga beberapa hari. Maka intervensi yang akan
diterapkan adalah terapi menulis ekspresif sebagai sarana katarsis dari perasaan negatifnya, tujuannya adalah untuk mengurangi
kadar depresi yang dirasakan subjek dan mengubah kognitif subjek dalam memandang dirinya dan lingkungan. Pada terapi ini
subjek diminta untuk menulis pengalaman emosionalnya pada buku harian. Proses terapi dimulai tanggal 2 April sampai 12
April 2014 terapi dilakukan selama 5 kali pertemuan yaitu tanggal 2, 3, 5, 9 dan 12 April 2014 dengan sesi menulis kurang
lebih selama 30 menit.

B. Rancangan Intervensi
Tabel.IV

Jenis Intervensi Sasara Hasil yang ingin dicapai Tahapan kegiatan Tanggal/jam Tempat
n
REBT Subjek 1. Subjek memiliki pola Pra terapi  Pertemuan 1 Kontrakan
berpikir yang positif dan 1. Membuat kesepakatan 1 April 2014/ subjek
mampu menentang keterikatan antara 15.00-15.45
irasional beliefnya terapis dengan subjek
2. Berkurangnya perasaan 2. Penetapan tujuan
cemas ketika (goals) dan tugas yang
dihadapkan pada situasi harus dilakukan terapis
depresi dengan subjek
Proses terapi
1. Meminta subjek untuk  Pertemuan 2 Kontrakan
menceritakan kejadian 4 April 2014/ subjek
13.00-13.45
yang dialami subjek
sehingga memiliki

22
irrational belief.
2. Konseli bertanya
kemudian merumuskan
irrational belief subjek
sehingga memahami
keyakinannya.
3. Menunjukkan pada
subjek dampak dari
irrational belief yang
diyakininya

4. Menerapkan teknik
homework dengan
meminta subjek untuk  Pertemuan 3 Lab
6 April 2014/ Psikologi
menuliskan kebaikan
10.00-10.45
ayah, saudara dan
teman-teman laki-
lakinya
5. Menerapkan teknik
simulation imitation
6. Menerapkan teknik
social modelling
7. Mengajak subjek untuk
mengembangkan
filsafat-filsafat hidup
yang rasional

23
Tahap pasca terapi
1. Evaluasi proses terapi  Pertemuan 4 Lab
2. Mengawasi 8 April 2014/ Psikologi
perkembangan subjek 10.00-10.45
Terapi menulis Subjek 1. Berubahnya kognitif Meminta subjek untuk  Pertemuan 1 Kontrakan
ekspresif subjek dalam menuliskan pengalaman 2 April 2014/ subjek
memandang diri sendiri emosionalnya kedalam 19.00-19.30
dan lingkungan buku harian.
 Pertemuan 2 Kontrakan
2. Menurunnya depresi
3 April 2014/ subjek
yang dirasakan subjek 19.00-19.30

 Pertemuan 3 Lab
5 April 2014/
Psikologi
09.00-09.30

 Pertemuan 4
9 April 2014/
Kontrakan
20.00-20.30
subjek
 Pertemuan 5
12 April
Kontrakan
2014/
20.00-20.30 subjek

24
DAFTAR PUSTAKA

Latipun. Psikologi Konseling. Malang : UMM Press, 2011.

Fitria, Maya.2011.Modul Praktikum : Observasi dan Wawancara.Yogyakarta :


Laboratorium Psikologi Fakultas Ilmu Sosial dan Humaniora UIN Sunan
Kalijaga

Maslim Rusdi (Editor). 2001. Buku Saku Diagnosis Gangguan Jiwa Rujukan
Ringkas dari PPDGJ-III. Jakarta: PT Nuh Jaya.

Anindito-Sofia. (2004) “Perfeksionesme, Harga Diri, dan Kecenderungan Depresi


pada Remaja Akhir”. Jurnal Psikologi. No.1, 1-14

Theresia-Nida. (2011)”Pengaruh Terapi Menulis pengalaman Emosional


Terhadap Penurunan Depresi pada Mahasiswa Tahun Pertama”. Jurna
Psikologi. No.1, Vol.38

Setyodah Lestari, Hesti.(2013) “Rational Emotive Behavior Therapy untuk


Menangani Gangguan Depresi”.Jurnal Sains dan Praktik
Psiokologi.Vol.1 (2), 129-138

Qonitatin, Novi., Widyawati, Sri., & Yuli Asih, Gusti. “ Pengaruh Katarsis
dalam Menulis Ekspresif Sebagai Intervensi Depresi Ringan pada
Mahasiswa.”

25
LAMPIRAN - LAMPIRAN

26
SURAT PERNYATAAN PERSETUJUAN
UNTUK IKUT SERTA DALAM PRAKTIKUM MATA KULIAH DASAR-
DASAR INTERVENSI INDIVIDU
(INFORMED CONCENT)

Kami ingin meminta kesediaan Anda untuk berpartisipasi dalam konseling dan
intervensi individu ini. Silakan membaca lembar persetujuan ini. Jika ada
pertanyaan, tidak perlu merasa sungkan atau ragu untuk menanyakannya.

Dalam partisipasi Anda selama penelitian ini, kami membutuhkan kesediaan Anda
untuk meluangkan waktu. Penelitian ini akan membutuhkan partisipasi Anda
untuk:

1) Meminta Anda membaca dan menandatangani surat persetujuan partisipasi


dalam kegiatan ini
2) Mengikuti program intervensi yang telah direkomendasikan
3) Mengisi lembar pekerjaan rumah yang telah disediakan dan disepakati

Jika ada sesuatu yang membuat Anda terganggu selama konseling dan intervensi,
Anda boleh mengatakan pada kami.

Kegiatan ini mengharapkan ketulusan Anda untuk berpartisipasi. Kegiatan ini


nantinya diharapkan bermanfaat untuk meningkatkan Manajemen Diri Anda
sehingga dapat mengurangi kecemasan, mengembangkan diri anda.

Kerahasiaan Anda akan kami jaga. Kami tidak akan menyebutkan nama Anda.
Kami hanya akan memberikan nama samaran untuk menyembunyikan identitas
Anda. Semua informasi yang Anda berikan akan kami jaga kerahasiaannya
sehingga identitas Anda tetap kami lindungi. Semua informasi menjadi rahasia
peneliti. Hasil penelitian ini tidak akan dipublikasikan, namun akan dilaporkan
sebagai tugas portofolio Mata Kuliah Dasar-dasar Intervensi Individu.

Saya memahami semua informasi di atas dan dengan ini menyatakan kesediaan
untuk berpartisipasi dalam penelitian ini.

Tanda Tangan Partisipan Tanda Tangan Peneliti

Saya telah menjelaskan penelitian ini kepada partisipandi atas sebelum meminta
persetujuannya untuk terlibat dalam penelitian ini.

27
28