You are on page 1of 12

DAMPAK ERUPSI GUNUNG MERAPI TERHADAP LAHAN

DAN UPAYA-UPAYA PEMULIHANNYA


(Effects of Merapi Mountain Eruption on Arable Land and the Efforts of
Rehabilitation)

Rahayu*, Dwi Priyo Ariyanto, Komariah, Sri Hartati,


Jauhari Syamsiyah, Widyatmani Sih Dewi
Jurusan Ilmu Tanah Fakultas Pertanian Universitas Sebelas Maret
*Contact author : rahayu_lusi@yahoo.com

ABSTRACT
The eruption of Merapi mountain has primary and secondary hazard and may
damage to the land. In detail, the hazards are land degradation is a loss of some or many
of germplasm and changes in plant biodiversity. The others hazard including loss of
water catchment areas, the destruction of forests, and even the closing of the water source,
as well as the loss of water channels. The burried of soil and soil formation inhibition
were caused by the repeated eruptions of Merapi, beside the loss of roads access to
agricultural land and loss of land ownerships boundaries by the eruption and cool lava.
Materials of eruption are sand and pyroclastic materials, as well as the nature of
cementation require special techniques and technology to use the land as new farmland.
Land restoration efforts can be done with the land management by reforestation on
government-owned land for water catchment function, agroforestry forage grass based,
grazing field on land owned by the village and residents, with the use of organic materials
in the eruption sandy soil ameliorant.

Key words: eruption, land, merapi

PENDAHULUAN menengah setiap 5 - 7 tahun. Siklus


Wilayah Indonesia mempunyai terpanjang pernah tercatat setelah
jalur gunungapi serta rawan erupsi mengalami istirahat selama lebih dari 30
(eruption) di sepanjang ring of fire mulai tahun, terutama pada masa awal
Sumatera – Jawa – Bali – Nusa Tenggara keberadaannya sebagai gunung api.
– Sulawesi – Banda- Maluku-Papua Aktivitas letusan gunung Merapi terkini
(Bronto et al; 1996). Gunung Merapi pada akhir tahun 2010 tergolong erupsi
terletak di perbatasan dua propinsi D.I. yang besar dibandingkan erupsi dalam
Yogyakarta dan Jawa Tengah, bertipe beberapa dekade terakhir. Secara umum
gunungapi strato dengan kubah lava, total volume erupsi Merapi berkisar
elevasi ± 2.911 m dpl dan mempunyai antara 100 sampai 150 km3, dengan
lebar ± 30 km (Bemmelen, 1949; Katili tingkat efusi berkisar 105 m3 per bulan
dan Siswowidjojo, 1994). Secara umum dalam seratus tahun (Berthommier, 1990;
gunung api meletus dalam rentang waktu Siswowidjoyo et al., 1995; Marliyani,
yang panjang, namun gunung Merapi 2010), sedangkan volume material
memiliki frekuensi paling rapat dan piroklastik hasil erupsi tahun 2010
erupsinya paling aktif di Indonesia ditaksir mencapai lebih dari 140 juta m3
bahkan di dunia sehingga mendapat (Tim Badan Litbang Pertanian, 2010).
perhatian khusus dari pemerintah Bahaya letusan gunung api terdiri
maupun masyarakat secara umum. dua yakni bahaya primer dan bahaya
Secara rata-rata gunung Merapi meletus sekunder. Bahaya Primer adalah bahaya
dalam siklus pendek yang terjadi setiap yang langsung menimpa penduduk
antara 2 - 5 tahun, sedangkan siklus ketika letusan berlangsung. misalnya,

Caraka Tani – Jurnal Ilmu Ilmu Pertanian Vol. XXIX No. 1 Maret 2014 61
Dampak Erupsi Gunung Merapi terhadap Lahan … Rahayu et al.
awan panas, udara panas sebagai akibat slogan-slogan seperti ‘lahan adalah
samping awan panas, dan lontaran kehidupan’ oleh bangsa lain. FAO (1976)
material berukuran blok (bom) hingga mendefinikan sumber daya lahan sebagai
kerikil. Sedangkan bahaya sekunder suatu lingkungan fisik yang terdiri atas
terjadi secara tidak langsung dan iklim, topografi, tanah, hidrologi, dan
umumnya berlangsung setelah letusan vegetasi dimana pada batas-batas
letusan terjadi, seperti lahar dingin yang tertentu mempengaruhi kemampuan
dapat menyebabkan kerusakan lahan dan lahan. Oleh karenanya sumberdaya lahan
pemukiman. Lahan di gunung Merapi mencakup sumberdaya fisik yang
menghadapi bahaya primer maupun meliputi iklim, vegetasi, air dan
sekunder dari gunung Merapi berupa hidrologi serta bentang lahan dan tanah,
rusaknya lahan akibat erupsi dan sumber daya manusia yang mencakup
rusaknya lahan akibat erosi dan banjir ketersediaan petani dan struktur social,
lahar dingin. Kerusakan juga terjadi pada kondisi pendidikan dan aspek social
aktivitas kehidupan soial ekonomi lainnya, serta sumber daya modal.
masyarakat di daerah bencana. Pada Selanjutnya FAO (1995) merinci fungsi
dasarnya Gunung meletus merupakan lahan yakni fungsi produksi, fungsi
salah satu bencana yang mengakibatkan lingkungan biotik, fungsi pengatur iklim,
konsekuensi yang kompleks. Permukaan fungsi hidrologi, fungsi penyimpanan,
tanah pada lahan area erupsi volkanik fungsi ruang kehidupan dan fungsi
pada umumnya tertutupi oleh lava, aliran penghubung spasial. Dengan demikian
piroklastik dan juga tepra (debu volkanik) kerusakan lahan akibat erupsi pun
dan lahar. Deposit lahar biasanya sangat melingkupi dua aspek lahan yakni
beragam ketebalan tutupannya terhadap sumberdaya fisik dan sumberdaya sosio-
permukaan tanah, bahan sering terdapat ekonomi. Aspek fisik meliputi tanah,
spot-spot yang tidak tertutupi lahar topografi dan juga iklim serta hidrologi
sehingga menyisakan vegetasi insitu. di dalamnya. aspek sosio-ekonomi
Iklim yang lebih hangat dan sebaran mencakup besaran skala usaha tani,
hujan yang lebih teratur akan membantu tingkat pengelolaan yang akan dilakukan,
proses pembentukan tanah dari material ketersediaan sumber daya manusia,
erupsi dan dan membantu recovery lahan aspek pasar dan juga aktivitas-aktivitas
yang terkena dampak erupsi.Dalam manusaia lainnya.
kondisi ideal tepra dapat ter-recovery Penggunaan lahan dimaknai
dengan cepat, yakni ketersediaan lengas sebagai suatu macam intervensi manusia
pada material lahar dingin akan terhadap lahan baik secara permanen
membantu terbentuknya tanah dari maupun siklus untuk memenuhi
bahan erupsi. kebutuhan dan atau kepuasan manusia.
Dengan demikian maka penggunaan
PEMBAHASAN lahan menyebabkan manusia mengontrol
Bagaimanapun lahan merupakan ekosistem alamiah dengan cara yang
sumberdaya yang sangat penting bagi relative sistematik bermaksud
keberlangsungan hidup manusia. Slogan mendapatkan keuntungan dari lahan itu
yang digunakan orang Jawa bahwa (Vink, 1975). Dari definisi lahan diatas
‘sedhumuk bathuk senyari bumi’ maka kerusakan sumber daya lahan
memiliki arti bahwa sejengkal tanah pertanian dan upaya pemulihan dampak
adalah kehidupan. Slogan serupa juga erupsi gunung Merapai dapat dilakukan
digunakan juga oleh daerah lain di dengan rincian aspek definitif lahan
Indonesia, bahkan juga ditemukan yakni:

62 Caraka Tani – Jurnal Ilmu Ilmu Pertanian Vol. XXIX No. 1 Maret 2014
Dampak Erupsi Gunung Merapi terhadap Lahan … Rahayu et al.
1. Hilangnya beberapa atau banyak 2. Hilangnya daerah tangkapan air,
plasma nutfah dan berubahnya rusaknya hutan, dan bahkan
biodiversitas tumbuhan tertutupnya sumber air, serta
Beragam tanaman terkena dampak hilangnya saluran-saluran air.
yang bervariasi dari letusan gunung Kehilangan sumber mata air oleh
berapi. Ada tanaman yang tidak dilalui tutupan material volkanik dapat
oleh asap erupsi (wedhus gembel) mengakibatkan berubahnya pola
sehingga tidak mengalami kerusaka pengairan. Kerusakan sumber air dan
sementara daerah sekitarnya yang dilalui juga saluran air adalah disebabkan oleh
oleh awan panas mengalami kerusakan. erupsi berupa hilangnya atau pindahnya
Keragaman hayati lokal sering rusak mata air, pendangkalan sungai oleh
akibat erupsi, namun demikian material Merapi. Pendangkalan sungai
keragaman local dapat ditigkatkan (kali) dapat mengakibatkan bahaya lahar
dengan ameliorant dan penanaman dingin bagi perkampungan di sepanjang
tumbuhan pionir yang dapat membantu bantaran hulu sungai menjadi lebih besar.
tumbuhnya spesies tumbuhan lain. Kerusakan hutan akibat erupsi Merapi
Penanaman tumbuhan secara kolonis dapat menyebabkan turunnya fungsi
akan meningkatkan kondisi habitat daerah tangkapan air, yang tentu akan
alamiah. Meskipin demikian recovery menyebabkan masalah pada
secara koloni yang dominan akan keberlangsungan mata air. Penghutanan
mengubah biodiversity dengan perubahan kembali dengan penanaman pohon
jenis tanaman dari semula dan terutama pada kawasan taman Nasional
keragaman yang semakin rendah (Wood Gunung Merapi, merupakan upaya yang
and Morris, 1998). Ekosistem member dapat dilakukan untuk mengembalikan
tanggapan atas letusan gunung api secara fungsi kawasan tangkapan air.
bervariasi tergantung dari tipe, skala, Penghutanan kembali dapat dilakukan
keseringan dan tingkat merusaknya dengan penanaman pohon yang memiliki
kejadian erupsi, terpengaruhnya vegetasi adaptasi tinggi terhadap lahan pasir
alami dan factor lain. Pengaruh kejadian seperti pinus, akasia dan eucalypstus.
erupsi dengan material piroklastik dan Pengembalian fungsi tangkapan air juga
juga tephra tergantung dari intensitas, seiring dengan mengurangi resiko erosi
skala dan kerusakan biota. Hutan secara tanah. Idjudin dkk (2010) melaporkan
umum lebih tahan dari erupsi bahwa teknik konservasi vegetative
dibandingkan dengan padang rumput berupa lajur rumput raja, guatemala, dan
atau lahan-lahan pertanian, yang rumput gajah, serta Flemingia congesta
disebabkan diversitas yang tinggi pada terhadap perbaikan produktivitas lahan
hutan memungkinkan beberapa individu endapan volkanik cukup efektif
tumbuhan bisa survive (del Moran & menurunkan erosi tanah di bawah
Grishin, 1998). Upaya pemulihan lahan ambang batas erosi terbolehkan. Upaya
dapat dipercepat dengan penyebaran biji lain yang dapat dilakukan adalah
benih tumbuhan yang cepat tumbuh pengontrolan erosi dengan penanaman
seperti lamtoro gunung, dan juga pohon dan penebaran benih merupakan
penanaman tumbuhan yang lebih cara pemulihan lahan yang dilakukan di
berumur. Penanaman secara campur Jepang dan USA pada gunung Usu dan
berbagai macam tanaman akan lebih gunung St Helens, yakni penebaran
baik dan saling mendukung biodiversitas, benih tanaman alami di insitu (del Moral
meskipun perkembangan selanjutnya & Grishin, 1998). Namun komposisi
secara alamiah tidak akan sama dengan hutan pulihan tidak sama dengan
kondisi biodiversitas sebelum erupsi. diversitas alami.

Caraka Tani – Jurnal Ilmu Ilmu Pertanian Vol. XXIX No. 1 Maret 2014 63
Dampak Erupsi Gunung Merapi terhadap Lahan … Rahayu et al.
3. Kerusakan lahan dan bahaya akibat paling basah di lereng Merapi adalah
banjir lahar dingin terjadi antara Desember sampai Februari
Lavigne (1998) melaporkan bahwa dengan curah hujan rerata 600 mm/
lahar Merapi dibagi menjadi 2/3 bagian bulan dan dapat mencapai 800 mm/bulan,
sebagai lahar yang menetap setelah bahkan dalan kondisi hujan yang sangat
erupsi dan 1/3 bagian adalah lahar yang lebat dapat mencapai 466 mm/hari
akan bermigrasi mengikuti aliran air. (Lavigne dkk, 2000). Dengan sebaran
Banjir lahar dingin bisa meluap ke hujan demikian maka pada bulan dengan
bantaran sungai, mengikis tebing sungai intensitas hujan tinggi merupakan bulan
bahkan dapat membentuk aliran baru di dengan ancaman lahar dingin paling
luar sungai jika sungai telah terpenuhi besar. Namun demikian hujan dengan
material eruspi. Akibat dari terisinya karakter durasi waktu 1 – 2 jam pada
sungai oleh material Merapi, sehingga kawasan Merapi menyebabkan banjir
aliran lahar dingin dapat mengancam lahar dingin juga berdurasi pendek.
lahan pertanian baru atau perumahan di Departemen Kehutanan (2004)
sepanjang bantaran sungai. Untuk dapat melaporkan curah hujan di wilayah
mengalir sebagai lahr dingin, lahar Merapi adalah Magelang sebesar 2.252 –
gunung Merapi membutuhkan intensitas 3.627 mm / th, Boyolali: 1.856 – 3.136
hujan yang lebih tinggi untuk mengalir mm / th, Klaten: 902 – 2.490 mm / th,
sebagai banjir lahar dingin dibandingkan dan Sleman: 1.869,8 – 2.495 mm /th.
lahar di tempat lain (Lavigne, 2000). Curah hujan yang tinggi juga
Jika terjadi hujan di puncak gunung, menyebabkan erosi tanah yang dapat
maka hal itu merupakan bahaya banjir memperbesar banjir lahar dingin.
lahar dingin yang dapat meluap ke Meskipun pada umumnya erosi dapat
perkampungan dan pengikisan tebing merugikan, namun dalam kondisi
sungai, bahkan jika terjadi aliran sungai tertentu erosi bisa bernilai positif, yakni
baru akan berakibat pada rusaknya kerusakan lahan akibat timbunan
pemukiman. material erupsi dapat berkurang,
Lahar dingin timbul akibat sehingga vegetasi yang terkubur material
penumpukan material volkanik di
Tabel 1. Aliran Lahar Dingin Gunung
puncak saat erupsi yang membentuk
Merapi dalam 50 Tahun Terakhir
kubah lava, dan dapat meluncur ke
bawah sewaktu-waktu jika terjadi hujan. Tahun Arah aliran Jarak aliran
Aliran lahar dingin memiliki daya lahar (km)
terjang dan daya angkut sangat besar, 1954 Barat 7
sebagaimana hokum Stokes bahwa 1956 Barat daya 6
viskositas air semakin besar akan 1961 Barat daya 12
1967 Barat daya 7
memiliki daya angkut yang lebih besar.
1969 Barat daya 13
Jika lahar mengalir maka batu-batu 1972 Barat daya 3
ukuran besar dapat dengan mudah 1973 Barat daya 7
terangkut bersama aliran lahar dingin, 1975 Barat daya 5,5
yang dapat menghantam tebing-tebing 1976 Barat daya 4
sungai dan menghanyutkan apa saja 1979 Barat daya -
yang terkena aliran lahar dingin itu. 1984 Barat daya 7
Aliran lahar dingin juga menyebabkan 1986 Barat daya 4
kerusakan lahan berupa penggerusan dan 1992 Barat 6
juga tertimbunnya lahan-lahan pertanian 1994 Selatan 2,5
yang terlewati. Shrin dkk (1995) 1996 Selatan
1997 Selatan
melaporkan bahwa curah hujan di lereng
1998 Barat daya
gunung Merapi tidak merata. Bulan
Sumber: Lavigne, 2000.

64 Caraka Tani – Jurnal Ilmu Ilmu Pertanian Vol. XXIX No. 1 Maret 2014
Dampak Erupsi Gunung Merapi terhadap Lahan … Rahayu et al.
4. Terkuburnya tanah dan terham-
batnya pembentukan tanah akibat
erupsi yang berulang-ulang pada
gunung Merapi.
Secara umum pada gunung berapi,
toposekuen sepanjang lereng gunung
berpengaruh terhadap cuaca, pelapukan
dan pembentukan mineral (Nizeyama et
al., 1997). Iklim dan cuaca merupakan
factor yang penting dalam menentukan
terbentuknya tanah secara altitudinal
(Zehetner et al., 2002). Pada elevasi
Gambar 1. Luapan Aliran Lahar ke yang lebih tinggi, tingginya curah hujan
Perkampungan Akibat Penuhnya dan rendahnya evapotranspirasi (ET)
Sungai oleh Aliran Lahar Saat Erupsi akibat pengaruh dari rendahnya suhu dan
tingginya kelembaban, akan
tephra dapat survive jika erosi pada menghasilkan leaching yeng lebih tinggi
material terjadi dalam waktu yang tidak dan periode kering yang lebih pendek.
lama dari kejadian erupsi (Kadomura et al., Lingkungan yang demikain dapat
1983). membentuk tanah andik yang ditandai
Upaya untuk pencegahan peluapan dengan tingginya kandungan aluminol
aliran lahar dingin ke pemukiman dan masif dan retensi pospat yang kuat serta
bantaran sungai, dan pembentukan aliran kandungan komplek Al-humus. Pada
sungai baru dari sungai yang ada adalah elevasi yang lebih rendah, jika pelindian
dengan melakukan normalisasi sungai. berkurang maka sifat andik tanah
Normalisasi sungai adalah dengan berkurang dan kandungan bahan organic
melakukan pengerukan material berkurang akibat dekomposisi yang agak
volkanik pada titik-titik yag dapat di intensif karena suhu lebih tinggi. Skema
pelapukan pada abu riolitik adalah
akses pada sungai, terutama pada cek
pembentukan haloysit jika kondisi curah
dam. Normalisasi berfungsi
hujan berkisar 1500 mm/th, namun jika
mengembalikan aliran lahar dingin ke
curah hujan lebih tinggi maka akan
sungai dan mencegah pembentukan terbentuk alofan (Parfitt et al., 1983).
aliran sungai baru. Lavigne (2000) Pembentukan material non kristalin (Al
membagi tiga kelas sungai di kawasan dan Fe-Aktif) dan akumulasi bahan
gunung Merapi berkaitan dengan bahaya organic merupakan proses pedogenesis
lahar dingin. Kelas sungai paling rawan yang dominan pada tanah yang terbentuk
adalah sungai yang berada di bagian dari material volkanik (Shoji et al.,
barat daya gunung Merapi seperti kali 1993).
Bebebg, kali Batang dan kali Blongkeng. Erupsi Merapi sejak abad XVI
Sungai dengan resiko lahar dingin hingga abad XX mengalami perubahan
menengah adalah kali Woro, kali Gendol waktu istirahat dari 71 tahun menjadi 8
dan kali Senowo, sedangkan sungai tahun, dengan jumlah kegiatan 7 kali
dengan resiko banjir lahar dingin paling menjadi 28 kali (Bronto 1996;
kecil adalah sungai yang menghadap Widiyanto dan A. Rahman, 2008). Hal
selatan yakni kali Boyong dan kali ini menyulitkan usaha reklamasi lahan
Kuning serta sungai yang menghadap terkena erupsi karena ancaman
barat sepeti kali Pabelan dan kali Lamat. kerusakan kembali lahan yang telah
dipulihkan. Erupsi yang berulang terjadi
menyebabkan juga tidak berjalannya

Caraka Tani – Jurnal Ilmu Ilmu Pertanian Vol. XXIX No. 1 Maret 2014 65
Dampak Erupsi Gunung Merapi terhadap Lahan … Rahayu et al.
proses terbentuknya tanah karena terjadi Pemetaan ulang diperlukan untuk
pembaharuan material penutup lahan. memastikan kepemilikan lahan, terutama
Faktor pembentuk tanah seperti bahan area yang dimiliki pemerintah dan yang
induk, organisme, iklim dan togografi dimiliki oleh masyarakat setempat.
menjadi tidak bekerja dalam Pemerintah dan warga desa pemilik
pembentukan tanah akibat erupsi yang lahan merupakan pihak yang paling
terus menerus. Namun demikian dalam berkepentingan terhadap pemetaan ulang
jangka waktu yang tidak panjang, maka dan pengukuran kembali kepemilikan
pembentukan tanah entisol pada lahan lahan. Pemetaan ini dapat membantu tata
erupsi Merapi dimungkinkan jika tidak guna lahan di area yang terkena dampak
mengalami penutupan kembali oleh erupsi dan lahar dingin gunung Merapi.
lahar dingin baru pada erupsi selanjutnya. Bagaimanapun upaya-upaya
Sebab, besaran erupsi gunung Merapi seperti penghijauan kembali, penanaman
yang tidak selalu sama dan juga kayu atau upaya penghutanan kembali
jangkauan kerusakan lahan akibat erupsi pun berkaitan dengan status lahan.
dan banjir lahar dingin tidak sama. Penghijauan kembali yang lebih efektif
Merskipun tidak selalu sama tiap erupsi adalah dengan menjadikan masyarakat
dalam hal jangkauan dampak atau sebagai pelaku utama dapat dilakukan.
banyaknya material, namun Hal ini disebabkan karena telah ada
membutuhkan antisipasi yang mensiasati perilaku konservasi, yakni adanya
siklus beberapa tahunan erupsi. anggapan Merapi bukan ancaman tapi
Bagaimanapun, material pasir yang sebagai sumber kehidupan. Selain itu
menutupi lahan menjadi topsoil pada telah ada kesepakatan diantara
lahan tersebut. Penggunalan lahan masyarakat dalam mengelola hutan
pasiran untuk pertanian, perkebunan atau Taman Nasional Gunung Merapi bahwa
penghitanan kembali membutuhkan bila ingin mengambil/ menebang
tumbuhan pionir yang adaptif yang dapat tanaman, harus menanam dulu dari jenis
hidup baik pada kondisi tanpa naungan, yang sama minimal 5 pohon (Dephut,
seperti tumbuhan C4. Penanaman 2004). Selama ini penggunaan Taman
rumput zoysia natif Merapi lebih Nasional Gunung Merapi adalah dengan
responsif dan dapat hidup pada media memanfaatkan hutan negara sebagai
pasir tambah tambahan ameliorasi tanah, sumber rumput untuk pakan ternak dan
dan lebih responsif jika diberi bahan kayu bakar (akasia dan tanaman yang
organik dibandingkan rumput perenial sakit) sebagai bahan pembuatan arang
ryegrass yang merupakan rumput C3. yang dijual di wilayah mereka.
5. Hilangnya jalan-jalan akses ke lahan Pengelolaan pada lahan yang
pertanian dan hilangnya batas-batas dimiliki masyarakat secara individual
kepemilihan lahan. ataupun kepemilikan oleh desa
Kerusakan lahan akibat erupsi membutuhkan pendekatan lain dari lahan
sangat bervariasi, termasuk dalam hal milik negara. Teknik agroforestri dapat
ketebalan material volkanik yang digunakan pada upaya pemulihan pada
menutupi lahan. Tutupan material lahan-lahan milik warga atau desa,
volkanik yang tebal baik dari erupsi sedangkan reforestry dapat dilakukan
ataupun dari lahar dingin menyebabkan pada lahan milik pemerintah.
batas-batas kepemilikan lahan menjadi Penggunaan lahan milik pemerintah
kabur dan terkadang hilang, terutama dapat berupa penghutanan kembali
lahan di bantaran sungai. Hal ini menjadi hutan lindung dan kawasan
menyulitkan bagi badan pertanahan tangkapan air serta pemulihan
nasional dan juga para pemilik lahan biodiversitas kawasan. Teknik
dalam menentukan batas lahan miliknya. agroforestry yang berbasis tanaman

66 Caraka Tani – Jurnal Ilmu Ilmu Pertanian Vol. XXIX No. 1 Maret 2014
Dampak Erupsi Gunung Merapi terhadap Lahan … Rahayu et al.

Gambar 2. Upaya Pemulihan Lahan Akibat Erusi dengan Tanaman Rumput, Pisang
dan Ketela Pohon dan Contoh Agroforestri Berbasis Tanaman Rumput
rumput untuk peternakan hewan besar atau savana, yang oleh masyarakat
seperti sapi dan kambing dimungkinkan setempat dinamai ’tegal pangonan’
diterapkan pada lahan-lahan milik (ladang untuk menggembala). Tegal
masyarakat dan desa. Tanaman rumput
pangonan ini adalah lahan milik desa
digunakan sebagai tanaman utama bagi
penghidupan masyarakat dengan hasil dan sebagian milik pemerintah dengan
berupa ternak, dan sedangkan batas tanaman utama berupa pohon pinus,
petak lahan ditanami dengan tanaman akasia dan lamtoro gunung sebagai
kayu sebagai tabungan jangka panjang tanaman pohon dan rumput yang tumbuh
serta penguat tanah pada lereng. secara liar sebagai sumber pakan bagi
Penanaman pohon yang ditanam sejajar ternak. Pada kawasan demikian, rumput
kontur dan batas-batas kepemilikan
dapat diambil dan dibawa pulang ke
lahan dapat mencegah erosi selain
memberi naungan tanaman-tanaman rumah ataupun digunakan untuk
tertentu yang berjenis C3. Tanaman menggembalakan sapi ke ladang
pangan seperti ketela pohon dan juga penggembalaan ini. Penggunaan lahan
pisang dapat ditaman diantara tanaman yang terkena erupsi Merapi yang
pohon pada sejajar kontur pada dimiliki desa sangat mungkin untuk
agroforestry berbasis rumput pakan ini. mengadopsi sistem ladang
Penggunaan lahan yang sangat
penggembalaan. Selain lahan milik desa,
berbatu dan tanah pasiran lithosols pada
lahan bengkok (tanah hak guna sebagai
lahan terkena erupsi pada masa lalu telah
gaji bagi perangkat desa) dan juga lahan
dilakukan di Lereng Gunung Sindoro
pribadi dapat dijadikan agroforestri
sejak turun temurun. Lahan demikian
berbasis rumput sebagai bentuk baru
dijadikan sebagai ladang penggembalaan
Caraka Tani – Jurnal Ilmu Ilmu Pertanian Vol. XXIX No. 1 Maret 2014 67
Dampak Erupsi Gunung Merapi terhadap Lahan … Rahayu et al.
tegal pangonan. Pada kondisi tertentu, Tabel 3. Kandungan Unsur Abu
pemanfaatn rumput dari lahan ini dapat Vulkanik Gunung Merapi yang
digunakan sebagai pakan langsung Diambil pada Erupsi 2010
ternak petani pemilik lahan, ataupun Unsur Konsentrasi Unsur Konsentrasi
rumput dijual sebagai pakan kepada (%) (%)
O 44.62 Ti 0.71
peternak lain di daerah lain. Lahan
Si 23.45 P 0,40
terkena erupsi yang digunakan sebagai Al 9.21 Cl 0.35
padang gembalaan dapat membantu Fe 8.73 Mn 0,24
pemulihan lahan, terutama nilai ekonomi Ca 7.45 S 0.20
K 2.65 Ba 0.13
dan konservasi lahan.
Mg 1.50 Sr 0.10
6. Material berupa pasir dan bahan-
bahan piroklastik, serta bersifat Sumber: Analisis Lab Fisika MIPA UNS
sementasi, sehingga membutuhkan volkanik, dengan ukuran dibawah skorea
teknik dan teknologi khusus dalam yakni debu, kerikil, lapili dan bom.
memanfaatkan lahan tersebut Material lain dari erupsi adalah
sebagai lahan pertanian baru. lahar. Lahar adalah material yang
Pada umumnya material yang terbawa oleh air, dan sering disebut lahar
dikeluarkan oleh gunung api adalah lava, dingin. Material yang terbawa adalah
batuan piroklastik, tepra dan lahar (Del campuran material batuan, lumpur, debu
Moral & Grissin, 1998). Lava yang terangkut oleh air dari bahan
merupakan lelehan batuan dari magma, letusan di puncak turun ke bawah.
berupa material kental dan mengaliri Gunung Merapi merupakan gunung
secara perlahan terhadap lahan. Lava berapi yang material utama erupsinya
secara umum memiliki bahaya paling adalah lahar. Pengamatan di lapangan
kecil dibandingkan material lain dari menunjukkan tiga material yang
erupsi. Pada umumnya lava mengandung menutupi lahan yakni abu volkanik yang
batuan basaltic, riolit dan batuan silikat. disebut oleh masyarakat sebagai ’ladu’,
Lava dari gunung Merapi adalah kapur- pasir hitam yang merupakan pasir erupsi
alkalin, andesit basaltic dengan Merapi dan pasir dengan warna yang
kandungan K-tinggi dengan komposisi lebih cerah yang berasal dari aliran lahar
SiO2 berkisar 52-57 %. Mineralogi dingin. Abu volkanik memiliki ketebalan
material lava erupsi gunung Merapi berkisar 10 – 30 cm, sedangkan pasir
sepanjang sejarah selalu hampir sama hitam secara umum berada di lapisan di
dari erupsi ke erupsi yakni plagioklas, bawah material pasir yang lebih cerah,
klinopiroksin (augite-salite) hornblende kecuali pada spot-spot yang tidak
coklat, olivine, titaomagnetik, dan terkena aliran lahar tetapi terkena erupsi.
hipersten (Camus et al, 2000). Mineral Pada waktu meletus, abu volkanik
demikian termasuk mineral yang kaya mengandung silica mineral dan bebatuan,
akan unsur hara bagi tanaman jika dengan unsure paling umum adalah
terlapuk. Batuan piroklastik, adalah sulfat, klorida, natrium, kalsium dan Mg
aliran erupsi yang mengandung serta fluoride. Unsur dalam tanah
campuran batuan dan gas, dan secara volkanik secara umum adalah Al: 1,8-
umum terbentuk batuan scorea dan 5,9 %, Mg 1-2,4 %, Si:2,6-2,8 % dan Fe
pumice. Tepra adalah material batuan 1,4-9,3 % (Sudaryono, 2009). Jika
piroklastis yang dihamburkan ke udara unsure-unsur tersebut dalam bentuk
oleh letusan gunung berapi, dan secara oksida seperti SiO2, Al2O3, Fe2O3, CaO,
umum memberikan dampak kerusakan MgO, K2O, NaO2 dan SO4 terkena hujan
yang paling besar dibandingkan dengan maka akan berubah menjadi hidroksida.
material lain. Tepra disebut juga abu
68 Caraka Tani – Jurnal Ilmu Ilmu Pertanian Vol. XXIX No. 1 Maret 2014
Dampak Erupsi Gunung Merapi terhadap Lahan … Rahayu et al.

Tabel 4. Sebaran Ukuran Partikel Pasir Lahar Dingin Gunung Merapi


Ukuran partikel
>4,75 4,75-2,0 2,0-1,0 1,0- 0,50 0,50-0,25 0,25-0,11 <0,11
(mm)
Sebaran (%) 7,30 9,33 10,69 16,13 26,22 22,68 6,78

Pada kondisi pH lingkungan yang umum 6,78 %. Pada lahan yang tertutup pasir,
di jumpai pada tanah, maka hidroksida pasirnya selama ini dimanfaatkan oleh
alkali dan alkalin akan larut dengan masyarakat sebagai bahan tambang,
menyisakan hidrosida besi, aluminium yang dijual sebagai bahan bangunan.
dan silikat. Kehilangan unsure alkali dan Penggunaan lahan yang pasir sebagai
alkalin tersebut akan menyebabkan lahan pertanian membutuhkan berbagai
turunnya tingkat hara pada material upaya, terutama penggunaan bahan
volkanik tersebut bagi tanaman. Abu organik. Percobaan di rumah kaca
volkan yang jatuh ke permukaan tanah, dengan indikator tanaman rumput
mengalami proes sementasi dan hamparan (turfgrass) spesies rumput
mengeras, menyebabkan berat jenis (BD) zoysia (Zoysia spp) dan perenial ryegrass
tanah meningkat, sedangkan porositas (Lolium parene) menunjukkan bahwa
(RPT) dan permeabilitas tanah menurun. rumput dapat hidup pada lahan pasir
Purwanto (2010) melaporkan bahwa abu erupsi merapi. Selain itu pertumbuhan
dan pasir erupsi Merapi memiliki pH 4 tanaman rumput ini meningkat dengan
dan daya hantar lsitrik 5,1 mS/cm. penambahan bahan organik dan lebih
Penutupan abu dan ketebalannya responsif terhadap bahan organik adalah
berpengaruh terhadap kepadatan tanah rumput C4. Pasir erupsi memiliki bahan
dan cukup sulit untuk ditembus oleh air. organik sampai 0,5 %, dan penambahan
Namun demikian abu volkanik cukup bahan organik direspon lositif oleh
berpotensi untuk meningkatkan tanaman rumput. Rumput zoysia
kesuburan tanah, karena pelapukan merupakan rumput C4 sedangkan
material yang terkandung dalam abu rumput perenial ryegrass merupakan
volkan akan menghasilkan hara-hara Ca, rumput C3. Penggunaan lahan bekas
Mg, Na, K, dan P yang dibutuhkan erupsi Merapi pada lahan warga jika
tanaman. Tutupan abu volkan yang menggunakan sistem agroforestri
relatif tidak tebal (<20 cm), upaya berbasis rumput, maka rumput yang
pencampuran dengan lapisan olah tanah digunakan adalah rumput jenis C3 yang
dapat dilaksanakan oleh petani pada saat dapat tumbuh dengan baik pada kondisi
pengolahan tanah. Pada lahan yang naungan. Pemanfaatan lahan pasir
tertutup abu volkan lebih tebal dari 20 sebagai lahan pertanian tanaman pangan
cm dibutuhkan pengelolaan tanah yang atau hortikultura membutuhkan bahan
lebih berat dengan mengupayakan organik dalam jumlah yang banyak.
pencampuran abu dengan tanah di Suriadikarta dkk, (2010)
bawahnya. Penutupan lahan oleh abu merekomendasikan penutupan lahan
volkan dengan ketebalan >5-10 cm oleh abu volkan dengan ketebalan >5 -
dilakukan pengolahan tanah dan 10 cm dilakukan pengolahan tanah dan
pemberian pupuk organik. pemberian pupuk organik curah 2 ton /ha.
Pasir erupsi gunung Merapi Bagaimanapun, penggunaan bahan
tergolong pasir yang agak kasar. Analisis organik sebenarnya telah dilakukan oleh
sebaran partikel pada pasir Merapi petani tembakau di lereng gunung
menunjukkan bahwa pasir Merapi Sindoro. Masyarakat sekitar menamai
merupakan pasir kasar dengan sebaran lahan pasir bekas erupsi beberapa ratus
terbesar 0,25-0,50 mm, dan mengandung tahun yang lalu dengan menamakan
pasir halus dan debu hanya sebesar “tegal kuaton’ (yang berarti lading

Caraka Tani – Jurnal Ilmu Ilmu Pertanian Vol. XXIX No. 1 Maret 2014 69
Dampak Erupsi Gunung Merapi terhadap Lahan … Rahayu et al.

9
8
7
6
g/25 cm2

5
4
3
2 Zoysiagrass
1 Perenial ryegrass

0
0,5% 1,0% 1,5% 2,0%
Bahan organik

Gambar 3. Berat Basah Kliping Rumput pada Media Pasir Merapi

berbatu-batu) karena lahan yang berupa tanaman hortikultur dapat dilakukan


pasir dan bebatuan dengan jeluk berkisar dengan keuntungan penghematan bahan
30 – 40 cm. Tanah di kawasan ini adalah organic. Pada tanah pasiran, bahan
entisol (lithosol) dengan tekstur tanah organic akan meningkatkan kesuburan
geluh pasiran (loamy sand). Kebutuhan tanah, mensuplai hara bagi tanaman,
bahan organik yang tinggi disiasati oleh mensementasi partikel pasir sehingga
para petani dengan tidak mencampur mengurangi erosi serta memperbaiki
bahan organik ke dalam tanah secara sifat fisik tanah pasiran ini. Perbaikan
merata pada kedalaman tanah 20 cm. sifat fisik itu adalah meningkatkan daya
Teknik yang digunakan oleh petani di simpan air oleh tanah dan menstimulasi
lahan kuaton adalah dengan membuat terbentuknya agregat.
lubang tanam diameter 20 cm dan
kedalaman 10 cm yang ditanami dengan KESIMPULAN
teknik ‘koak’. Pada lubang tanam diberi Erupsi gunung Merapi memiliki
pupuk kandang yang belum tertalu bahaya primer dan sekunder dan dapat
kering dua genggam (0.5 – 1 kg) pupuk merusak lahan. Secara umum kerusakan
basah, kemudian lubang ditutup dengan lahan akibat erupsi adalah hilangnya
tanah setebal 5 cm dan dipadatkan beberapa atau banyak plasma nutfah dan
dengan menggunakan cangkul. Pada berubahnya biodiversitas tumbuhan,
rataan tanah yang dipadatkan cangkul itu hilangnya daerah tangkapan air,
ditugal dengan lubang sekitar 3-4 cm rusaknya hutan, dan bahkan tertutupnya
dan ditanami tembakau. Teknik ini telah sumber air, serta hilangnya saluran-
dikerjakan oleh petani secara turun saluran air. Terkuburnya tanah dan
temurun, dan lebih hemat bahan organic terhambatnya pembentukan tanah akibat
dibandingkan dengan pemberian bahan erupsi yang berulang-ulang pada gunung
organic secara merata terhadap tanah. Merapi, hilangnya jalan-jalan akses ke
Penggunaan ameliorant tanah pasir lahan pertanian dan hilangnya batas-
berupa bahan organic akan dapat batas kepemilihan lahan oleh erupsi dan
memberikan keuntungan bagi kesuburan lahar dingin. Upaya pemulihan lahan
tanah. Penggunaan teknik ‘koak’ pada dapat dilakukan dengan tata guna lahan
lahan erupsi Merapi untuk budidaya dengan penghutanan kembali pada lahan

70 Caraka Tani – Jurnal Ilmu Ilmu Pertanian Vol. XXIX No. 1 Maret 2014
Dampak Erupsi Gunung Merapi terhadap Lahan … Rahayu et al.
milik pemerintah untuk pengembalian Kadomura, H., Imkagawa, T. and
fungsi tangkapan air, agroforestry Yamamoto, K., 1983. Eruption-
berbasis rumput pakan, ladang induced rapid erosion and mass
penggembalaan pada lahan milik desa movements on Usu Volcano,
dan warga, dengan penggunaan Hokkaido. Zeitschrift für
amelioran bahan organik pada tanah Geomorphologie, 46: 123-142.
pasiran.
Lavigne, F. 1998. Lahars of Merapi
volcano; initiation, sediment
DAFTAR PUSTAKA budget, dynamics, and related risk
Badan Litbang Pertanian. 2010. Laporan zonation. Univ. of Blaise Pascal.
Hasil Kajian Singkat (Quick Clemont- Brussels.
Assessment) Dampak Erupsi
Gunung Merapi di Sektor Lavigne, F., J.C. Thouret, B. Voight, H.
Pertanian. Desember 2010. Suwa, A. Sumaryono. 2000.
Lahars at Merapi volcano, Central
Berthommier, P., 1990. Etude volcano- Java; an Overview. J. Volc. And
logique du Merapi (Centre-Java). Geoterm. Research 100: 423-456.
Téphrostratigraphie et Chronologie.
Mécanismes éruptifs. Thèse Doct. Marliyani, G.I., 2010. An Overview of
III ème cycle, Univ. Blaise Pascal, Merapi Volcano, Central Java,
Clermont–Ferrand, 115 pp. Indonesia. Gadjah Mada
Universirty- San Diego State
Camus, G., Gourgaud, A., Mossand- University, USA.
Berthommier, P.-C. and Vincent,
P.M., 2000. Merapi (Central Java, Parfitt. R.L., and M. Saigusa. 1985.
Indonesia): an outline of the Allophane and humus-aluminium
structural and magmatological in Spodosol and Andept formed
evolution, with a special emphasis from the same volcanic ash beds in
to the major pyroclastic events. J. New Zealand. Soi Sci. 139:149-155.
Volcanol. Geotherm. Res. 100, pp. Purwanto, 2010. Rehabilitasi dan
139–163. pemulihan lahan merapi. Program
del Moral R 1 and Sergei Yu. Grishin . S-2 Ilmu Tanah Fak Pertanian
1998. Volcanic Disturbances and UGM. Jogjakarta.
Ecosystem Recovery. University Sudaryo dan Sutjipto, 2009. Identifikasi
of Washington, Department of dan penentuan logam berat pada
Botany, Box 355325, Seattle, WA tanah vulkanik di daerah
98195-5325; Institute of Biology and Cangkringan, Kabupaten Sleman
Pedology, Russian Academy of dengan metode Analisis Aktivasi
Sciences, Vladivostok 690022 Russia Neutron Cepat. Makalah
Dephut 2004. Laporan Akhir Sosialisasi disampaikan pada Seminar
dan Komunikasi Calon TN Merapi Nasional V SDM Teknologi,
dan SK Menhut 134/Menhut- Yogyakarta, 5 November 2009.
II/2004 tanggal 4 Mei 2004. Suriadikarta, D.A., Abdullah Abbas Id.,
http://www.dephut.go.id/INFORM Sutono, Dedi Erfandi, Edi Santoso,
ASI/TN%20INDO- A. Kasno. 2010. Identifikasi sifat
ENGLISH/TN_GnMerapi.htm. kimia abu volkan, tanah dan air di
lokasi dampak letusan gunung
merapi. Balai Penelitian Tanah, Jl.
H. Ir. Juanda 98, Bogor

Caraka Tani – Jurnal Ilmu Ilmu Pertanian Vol. XXIX No. 1 Maret 2014 71
Dampak Erupsi Gunung Merapi terhadap Lahan … Rahayu et al.
Shoji, S., M Nanzyoad, and R.D. Wood, D.M. and Morris, W.F., 1990.
Dahgren. 1993. Volcanic ash soils- Ecological constraints to seedling
genesis, properties and utilization. establishment on the Pumice Plains,
Elsevier Amsterdam. Mount St. Helens, Washington.
American Journal of Botany, 77:
1411-141.

72 Caraka Tani – Jurnal Ilmu Ilmu Pertanian Vol. XXIX No. 1 Maret 2014