You are on page 1of 11

MAKALAH

Kelompok Sosial Lingkungan Sekolah (Geng)


Diajukan untuk memenuhi salah satu tugas mata pelajaran
BAHASA INDONESIA

Disusun oleh :
Kelompok 5
 Frid Rahmat Hidayat
 Yusuf Ginanjar
 Zikri Sabituloh
 Melda Maesaroh
 Fifit Nuraeni
 Rendi mauda Zaelani
Kelas : IX E

MTs NEGERI 5 MAJALENGKA


TAHUN AJARAN
2017 /2018
BAB I
PENDAHULUAN

1.1. Latar Belakang Penelitian


Banyak hal Negatif dari mengikuti Geng diantaranya :
1) Banyak siswa yang tidak fokus dalam peroses pembelajaran
2) Peraturan sekolah tidak di patuhi karena terlalu bebas di luar sekolah
3) Akan merusak masa depan
4) Dapat menimbulkan beberapa musuh
5) Mencemarkan nama baik sekolah / nama baik sendiri
6) Mengakibatkan moral, pergaulan / sikap menjadi buruk.

1.2. Permasalahan
1) Banyak siswa yang tidak fokus dalam peroses pembelajaran
2) Mengakibatkan moral, pergaulan / sikap menjadi buruk.
3) Mencemarkan nama baik sekolah / nama baik sendiri

1.3. Tujuan
1) Tujuannya karena banyak siswa MTsN 5 Majalengka yang mengikuti Geng
sehingga mereka menjadi bebas.

1.4. Metode Penelitian


Kami menggunakan metode Observasi dan Wawancara

1.5. Manfaat
1) Akan menambah wawasan tentang dampak mengikuti geng sekolah
2) Untuk memenuhi salah satu tugas Bahasa Indonesia
3) Dapat mengambil hikmah dan nilai – nilai Positif dari permasalahan yang
telah kami kerjakan.

1
BAB II
PEMBAHASAN
2.1. Kelompok Sosial
Kecenderungan manusia untuk berkumpul mengelompok (gregariousness) itu bukan
sekedar naluri. Kecenderunganitu juga disebabkan oleh kesadaran manusia
akan kepentingan bersama. Pergaulan antar manusia merupakan kebutuhan.
Kebutuhan untuk memudahkan hidup menyadarkan untuk menyatu dengan
kelompok individu lain. Maka timbulah social group. Pengertian kelompok sosial
yang pertama adalah suatu sistem sosial yang terdiri dari sejumlah orang yang
berinteraksi satu sama lain dan terlibat dalam satu kegiatan bersama. Tentunya perlu
dipertajam lebih lanjut mengenai pengertian ini karena interaksi saja tidak cukup,
karena dua orang saja sudah dapat membentuk kelompok. Pengertian interaksi di sini
haruslah diartikan sebagai interaksi tatap muka, di mana mereka terlibat dalam ruang
dan waktu. Dari sinilah muncul pengertian kedua, yaitu sejumlah orang yang
mengadakan hubungan tatap muka secara berkala karena mempunyai tujuan dan
sikap bersama; hubungan-hubungan yang diatur oleh norma-norma; tindakan-
tindakan yang dilakukan disesuaikan dengan kedudukan (status) dan peranan (role)
masing-masing dan antara orang-orang itu terdapat rasa ketergantungan satu sama
lain.
Manusia dalam kelompok sering bersepakat untuk bekerjasama melakukan pekerjaan
bersama, memecahkan masalah bersama, dan untuk memenuhi kebutuhan bersama.
Hal ini sering menuntut kompromi atas keinginan pribadi untuk kepentingan
kelompok.
Disebut kelompok sosial apabila :
1. Kesedaran setiap anggota bahwa ia merupakan bagian dari kelompok orang
yang bersangkutan.
2. Ada interaksi di antara sesama anggota kelompok satu sama lain.
3. Ada sesuatu yang dimiliki bersama
4. Berstruktur kaidah memiliki pola prilaku
5. Bersistem dan berproses
Dari beberapa uraian di atas dapat di simpulkan kelompok sosial (social group)
merupakan suatu himpunan atau suatu kesatuan-kesatuan manusia manusia yang
hidup bersama, yang disebabkan oleh adanya hubungan antara mereka yang

2
menyangkut hubungan timbal-balik yang saling mempengaruhi dan adanya
kesadaran untuk saling tolong menolong serta rasa saling memiliki.

2.2. Kelompok Sosial Geng


Kelompok sosial memiliki beberapa contoh diantaranya adalah klik (clique) yaitu
sebuah kelompok kecil dalam ilmu sosial. Klik merupakan bagian dari klasifikasi
kelompok sosial informal. Kelompok sosial informal yaitu kelompok yang tidak
berstruktur formal maupun organisasional timbul akibat respon dari kebutuhan
sosial. Misalnya, beberapa pelajar yang bersahabat tiap hari berkumpul belajar dan
melakukan aktivitas bersama ketika istirahat dan menjadi sebuah kelompok kecil.
Selanjutnya mungkin kelompok belajar tersebut berkembang lebih luas karena
bersatu dengan kelompok sahabat-sahabat yang lainnya. Perkembangan lebih luas itu
antara lain disebabkan karena ruang lingkup pergaulannya, baik di sekolah maupun
di luar sekolah. Kelompok klik ini secara ideal memiliki peranan yang penting dalam
peningkatan motivasi belajar dan keberhasilan studi serta pengembangan
kepribadian.
Menurut Soerjono Sukamto peranan positif klik terhadap remaja adalah sebagai
berikut :
1. Rasa aman karena dianggap penting dalam keanggotaan, dan penting bagi
perkembangan jiwa yang sehat.
2. Dapat menyalurkan rasa khawatir, rasa kecewa, rasa gembira bersama teman-
teman klik dan mendapatkan tanggapan.
3. Klik memungkinkan mengembangkan sifat-sifat ketrampilan bersosialisasi
sehingga mereka lebih mudah menyesuaikan diri dengan keadaan.
4. Klik mempunyai pola prilaku kaidah-kaidah yang mendorong remaja menuju
kedewasaan.
5. Rasa aman yang ditimbulkan karena kebersamaan anggota klik menimbulkan
dorongan untuk hidup secara mandiri.
Namun di balik peranan positif itu juga terdapat hal negatif. Hal negatif inilah yang
seharusnya menjadi peran dan tugas para orang tua, guru, maupun pihak yang
bertanggung jawab untuk memberikan pencegahan. Hal-hal negatif itu antara lain
sebagai berikut :
1. Menimbulkan sikap diskriminatif bagi yang bukan anggota klik sehingga
muncul sikap kurang adil.
3
2. Mendorong terjadinya sikap individualisme karena kepatuhan hanya bersikap
pribadi.
3. Kadang muncul rasa iri hati dari mereka anggota klik yang kurang mampu
terhadap yang berasal dari keluarga yang berada.
4. Kesetiaan terhadap klik kadang membuat mereka menentang terhadap orang
tua, saudara, dan kerabatnya.
5. Klik kelompok yang tertutup dan sulit sekali di tembus sehingga penilaian
sulit dilakukan oleh pihak luar.
6. Klik mendorong anggota-anggotanya untuk menyerasikan diri dengan pola
dan latar belakang yang sama, sehingga sulit mengadakan penyesuaian
terhadap pihak yang berbeda latar belakangnya.
Kalau seorang remaja menjadi sebuah anggota klik tertentu sebaiknya orang tua
mempertimbangkan secara mantap dahulu sebelum memberikan sebuah keputusan.
Karena jika klik tersebut kurang baik maka akan berkembang menjadi sebuah
“geng”.
Geng merupakan salah satu dari kelompok sosial yang dapat tercipta dalam
lingkungan sekolah hal ini dapat terjadi disebabkan karena pada dasarnya manusia
merupakan makhluk sosial yang tidak mungkin dapat hidup sendiri di dunia.
Terlebih lagi Sekolah Menengah Atas yang muridnya merupakan remaja yang secara
psikologi kemampuan berpikir mereka sedang berkembang, memperluas pergaulan
sesama siswa dan berpaling kepada teman sebaya yang lebih mengerti kondisi emosi
kita. sehingga tidak menerima lagi masukan orang tua secara mentah-mentah .dan
sekolah merupakan tempat kedua mereka setelah dirumah karena sebagian waktu
mereka dalam sehari mereka habiskan di sekolah. jadi sangat memungkinkan
sekolah menjadi sarana untuk hal tersebut.
Subkultur geng anak muda, kata kriminolog Cloward dan Ohlin, akan tumbuh subur
tergantung pada tipe atau cara pertentangan di mana mereka tinggal. Ada tiga tipe
geng, pertama, geng pencurian (thief gangs), mereka berkelompok melakukan
pencurian yang mula-mula hanya untuk menguji keberanian anggota kelompok.
Kedua, geng konflik (conflict-gangs) kelompok ini suka sekali mengekpresikan
dirinya melalui perkelahian berkelompok supaya tampak gagah dan pemberani.
Ketiga, geng pengasingan (retreats gangs), kelompok geng ini sengaja mengasingkan
dirinya dengan kegiatan minum minuman keras, atau napza yang kerap dianggap
sebagai suatu cara ”pelarian” dari alam nyata. Tetapi bisa saja sebuah geng memiliki
4
lebih dari satu macam tipe. Dalam geng seringkali tumbuh subkultur kekerasan
(subculture of violence). Munculnya subkultur itu disebabkan oleh adanya
sekelompok orang yang memiliki sistem nilai yang berbeda dengan kultur dominan.
Hal ini diperparah oleh adanya perubahan yang cepat (reformasi) dalam masyarakat.
Perubahan pada struktur sosial memperlemah nilai-nilai tradisional yang berasosiasi
dengan penundaan kepuasan, belum lagi peningkatan jumlah anak muda dari kelas
menengah yang tidak lagi memiliki keyakinan bahwa cara untuk mencapai tujuan
mereka adalah melalui kerja keras dan menunda kesenangan. Mereka terlibat dalam
delinquent gang, hate gang, atau satanic gang (pemuja setan) yang berkembang di
kalangan anak muda kelas menengah di Amerika Serikat. Di Indonesia keberadaan
geng ini tidak sama dengan di AS, karena perbedaan kultur. Meskipun demikian,
secara umum ada karakteristik yang sama untuk remaja di seluruh dunia. Mereka
energik dan dinamis, senang mencoba hal baru yang penuh tantangan dan memiliki
keingintahuan yang besar serta sangat terfokus pada diri sendiri.

2.3. Penyebab Munculnya Geng Sekolah


Teori Pembentukan Kelompok yang lebih Komprehensif adalah suatu teori yang
berasal dari George Homans. Teorinya berdasarkan aktifitas–aktifitas, Interaksi-
interaksi dan sentimen-sentimen (perasaan atau emosi). Tiga Elemen ini satu sama
lain berhubungan secara langsung. maksudnya semakin tinggi aktivitas seseorang,
Interaksi seseorang maka semakin tinggi pula sentimen yang ditularkan (shared)
kepada orang lain sehingga pembetukan kelompok pun semakin cepat.
Salah satu teori yang agak menyeluruh (compherensive) penjelasannya tentang
pembentukan kelompok ialah teori keseimbangan (a balance theory of group
formation) yang dikembangkan oleh Theodore Newcomb Teori ini menyatakan
bahwa seseorang tertarik kepada yang lain adalah didasarkan atas kesamaan sikap di
dalam menanggapi suatu tujuan yang relevan satu sama lain.
Sedangkan teori lain adalah didasarkan pada alasan-alasan praktis (Practicalities of
group formation) contoh. seorang siswa mungkin mengelompok disebabkan karena
alasan ekonomi, keamanan atau alasan- alasan sosial demikian seterusnya, alasan–
alasan praktis ini membuat orang-orang dapat mengelompok dalam satu group. yang
teramat penting dalam memahami pembentukan kelompok–kelompok itu cenderung
memberikan kepuasan terhadap kebutuhan–kebutuhan sosial yang mendasar dari
orang–orang yang mengelompok tersebut.
5
Teori-teori di atas merupakan beberapa gambaran mengenai pembentukan kelompok
sosial dalam sebuah lingkungan khususnya lingkungan sekolah. Jika kita hubungkan
dengan yang terjadi dalam kehidupan sehari-hari tentang pembentukan kelompok
geng pendapat itu bisa merupakan beberapa penyebab pendukung.
Namun selain hal tersebut diatas yang menjadi faktor penyebab munculnya geng
pelajar di kelas XII IPS 1 dapat dijelaskan sebagai berikut :
1. Pengawasan kegiatan anak setelah kegiatan di sekolah yang masih kurang.
2. Kurangnya kegiatan di luar akademik yang sesuai dengan bakat dan minat
remaja.
3. Peraturan yang kadang membuat siswa bosan dan memilih hal-hal yang
menghindar dari peraturan tersebut.
4. Munculnya orang-orang di luar lingkungan pendidikan yang mempengaruhi
dengan memberikan pengetahuan-pengetahuan negatif sehingga terbentuk
geng.
5. Pencarian jati diri untuk menunjukkan kekuatan dan kekuasaan.

2.4. Prilaku Geng


Kelompok geng pelajar akhir-akhir ini cenderung masuk ke dalam bentuk conflict
gangs. Karena kejadian perkelahian hingga menimbulkan korban sering terjadi
dengan bertemunya beberapa kelompok pelajar. Satu-satunya penanda keberadaan
dan kolektivismenya, hanyalah logo atau inisial singkatan nama geng yang
berceceran dimana-mana. pokoknya ditempat-tempat umum yang mudah dilihat
orang. penyebaran ini dengan corat–coret dinding akan semakin baik bila semakin
banyak dan bertujuan untuk Pertama, dikenal masyarakat, kedua merupakan simbol
bahwa kekuatan (kekuasaan) mereka juga besar, ketiga sebagai kampanye menarik
calon simpatisan namun biasanya pada tempat–tempat tertentu yang jelas bahwa
yang jelas berada dalam kekuasaan geng tertentu, biasanya geng lain tak berani
mengadal, posisi ketua akan intimidasi terhadap geng yang lebih besar.

Dalam struktur sosial geng, posisi ketua tak ubahnya raja kecil. Selain jadi panutan,
pelindung, juga menjadi motor penggertak aktivitas. Maka ketua biasanya anak
pilihan pemberani, cerdik, licik, disegani. Sebab kata dan tidakannya merupakan
hukum dan tidakannya merupakan hukum serta undang-undang yang harus dipatuhi

6
anak buahnya. dan biasanya kekuasaan tidak hanya berlanjut pada sisi itu saja tapi
kepada hal materi baik secara periodik, maupun incidental.

Mulai dari pucuk pimpinan sampai ketua dalam lingkungan tertentu mereka pulalah
yang paling banyak memperoleh manfaat nyata dari tradisi geng dilihat dari posisi
pribadinya sebagai remaja, sembilan puluh persen aktivitas geng sama sekali tidak
mencerminkan manfaat positif bagi pelakunya dan kegiatan–kegiatan geng dimana–
mana sama yakni menjurus ke hal-hal yang bersifat destruktif. Sama sekali bukan
kegiatan kepemudaan yang konstruktif.

2.5. Mengurangi dan Menghilangkan Kegiatan Negatif Geng


Hal-hal negatif akibat dari adanya geng sebenarnya tidak dapat langsung dihilangkan
hanya dapat dikurangi secara perlahan. Karena karakteristik remaja yang masih
dalam proses pencarian jati diri jika di berikan hukuman akan berdampak buruk pada
perkembangan. Pemberian hukuman atau labeling pada siswa yang telah melakuan
kekerasan atau perkelahian bukan solusi yang efektif. Pasalnya selain tidak
menyelesaikan persoalan yang ada, pemberian hukuman atau labeling tersebut justru
bisa memicu siswa untuk melakuan tindakan serupa.
Untuk mengatasi persoalan itu selain memberikan fasilitas untuk menyalurkan bakat
dan kreativitas siswa, sinergitas antara masyarakat, sekolah, dan orang tua mutlak
diperlukan. Guru tidak boleh memberikan hukuman yang keras terhadap siswa yang
melakuan kenakalan remaja. Sebab selain bisa menimbulkan dampak psikologis,
anak yang pada awalnya ingin berubah, karena tidak diberi kesempatan justru
menjadi semakin terjerumus. Persoalan itu semakin bertambah rumit karena
orangtua, sekolah dan masyarakat tidak memiliki cara atau fasilitas yang
mendukung, sementara remaja sekarang semakin kreatif.

Kasus kenakalan remaja seperti perkelahian bisa terjadi karena adanya rasa gengsi
yang tinggi. Akibatnya untuk mempertahankan rasa gengsi tersebut tidak sedikit di
antara mereka yang berbuat nekat termasuk melakukan perkelahian.

7
BAB III
PENUTUP
3.1. Kesimpulan
Permasalahan geng dan perkelahian pelajar mungkin masuk dalam
permasalahan yang sudah lama namun tidak seperti yang terlihat akhir-akhir ini.
Sebenarnya geng jika tidak melakukan hal negatif itu sah-sah saja, akan tetapi
yangada geng rata-rata tetap negatif yang ditonjolkan.

3.2. Saran
Seharusnya ada pola-pola pembinaan, sehingga anak bisa menyalurkan
kreativitas atau kelebihan energi yang dimiliki ke hal-hal positif. Saya optimis
selama sekolah bisa mewujudkan hal tersebut terjadinya perkelahian bisa dikurangi.

8
KATA PENGANTAR

Puji dan Syukur Kami ucapkan kehadirat Allah SWT yang telah memberikan
Rahmat serta Hidayahnya sehingga kami dapat menyelesaikan Penelitian Sosial yang
berjudul “Kelompok Sosial Lingkungan Sekolah (Geng)”.
Penelitian sosial ini di susun berdasarkan penelitian kami pada pelajar
MTsN 5 Majalengka dan merupakan salah satu tugas Mata Pelajaran Bahasa
Indonesia.
Di zaman modern ini banyak terbentuk kelompok sosial (geng) yang m
empengaruhi perilaku para pelajar, khususnya bagi pelajar MTsN 5 Majalengka.
Dalam penelitian sosial ini penyusun akan menguraikan tentang“Kelompok Sosial
Lingkungan Sekolah (Geng)”.
Penyasun menyadari bahwa penelitian sosial ini masih jauh dari
kesempurnaan, akan tetapi penyusun mengharapkan semoga penelitian sosial ini
dapat bermanfaat bagi kita semua, terutama di dunia pendidikan dan kami menerima
kritik dan saran yang bersifat membangun dari pembaca.

Penyusun

9i
DAFTAR ISI

KATA PENGANTAR .......................................................................................... i

DAFTAR ISI ......................................................................................................... ii

BAB I PENDAHULUAN ..................................................................................... 1

1.1. Latar Belakang Penelitian .......................................................................... 1

1.2. Permasalahan.............................................................................................. 1

1.3. Tujuan ........................................................................................................ 1

1.4. Metode Penelitian ...................................................................................... 1

1.5. Manfaat ...................................................................................................... 1

BAB II PEMBAHASAN ...................................................................................... 2

2.1. Kelompok Sosial ........................................................................................ 2

2.2. Kelompok Sosial Geng .............................................................................. 3

2.3. Penyebab Munculnya Geng Sekolah ......................................................... 5

2.4. Prilaku Geng .............................................................................................. 6

2.5. Mengurangi dan Menghilangkan Kegiatan Negatif Geng ......................... 7

BAB III PENUTUP .............................................................................................. 8

3.1. Kesimpulan ............................................................................................... 8

3.2. Saran ......................................................................................................... 8

ii
10