You are on page 1of 42

100 Kabupaten/Kota
Prioritas untuk Intervensi
100 Kabupaten/Kota
Anak Kerdil
Prioritas (Stunting)
untuk Intervensi
Anak Kerdil (Stunting)
RINGKASAN
100 Kabupaten/Kota
Prioritas untuk Intervensi
Anak Kerdil (Stunting)

1

100 KABUPATEN/KOTA PRIORITAS UNTUK
INTERVENSI ANAK KERDIL (STUNTING)
100 KABUPATEN/KOTA PRIORITAS UNTUK
RINGKASAN
INTERVENSI
Cetakan ANAK
Pertama, KERDIL
Agustus 2017(STUNTING)

Cetakan
Hak CiptaPertama, Agustus
Dilindungi 2017
Undang-undang
© 2017 Tim Nasional Percepatan Penanggulangan Kemiskinan
Hak Cipta Dilindungi Undang-undang
© 2017dipersilakan
Anda Tim Nasional Percepatan
untuk menyalin,Penanggulangan Kemiskinan
menyebarkan dan mengirimkan karya ini untuk tujuan
non-komersial.
Anda dipersilakan untuk menyalin, menyebarkan dan mengirimkan karya ini untuk tujuan
non-komersial.
Untuk meminta salinan publikasi ini atau keterangan lebih lanjut mengenai publikasi ini,
silakan hubungi TNP2K- Unit Komunikasi.
Untuk meminta salinan publikasi ini atau keterangan lebih lanjut mengenai publikasi ini,
silakan
TIM hubungi PERCEPATAN
NASIONAL TNP2K- Unit Komunikasi.
PENANGGULANGAN KEMISKINAN

TIM NASIONAL
Sekretariat WakilPERCEPATAN PENANGGULANGAN
Presiden Republik Indonesia KEMISKINAN
Jl. Kebon Sirih No. 14 Jakarta Pusat 10110
Sekretariat
Telepon: (021)Wakil Presiden
3912812 Republik
| Faksimili: Indonesia
(021) 3912511
Jl. Kebon Sirih No. 14
E-mail: info@tnp2k.go.idJakarta Pusat 10110
Telepon: (021)
Website: 3912812 | Faksimili: (021) 3912511
www.tnp2k.go.id
E-mail: info@tnp2k.go.id
Website: www.tnp2k.go.id

2

WAKIL PRESIDEN
REPUBLIK INDONESIA

Kata Pengantar
Anak Indonesia masa depan harus sehat, cerdas, kreatif, dan produktif. Jika anak-anak terlahir
sehat, tumbuh dengan baik dan didukung oleh pendidikan yang berkualitas maka mereka akan
menjadi generasi yang menunjang kesuksesan pembangunan bangsa. Sebaliknya jika anak-
anak terlahir dan tumbuh dalam situasi kekurangan gizi kronis, mereka akan menjadi anak
kerdil (stunting).
Kerdil (stunting) pada anak mencerminkan kondisi gagal tumbuh pada anak Balita (Bawah 5
Tahun) akibat dari kekurangan gizi kronis, sehingga anak menjadi terlalu pendek untuk usianya.
Kekurangan gizi kronis terjadi sejak bayi dalam kandungan hingga usia dua tahun. Dengan
demikian periode 1000 hari pertama kehidupan seyogyanya mendapat perhatian khusus karena
menjadi penentu tingkat pertumbuhan fisik, kecerdasan, dan produktivitas seseorang di masa
depan.
Saat ini, Indonesia merupakan salah satu negara dengan prevalensi stunting yang cukup tinggi
dibandingkan dengan negara-negara berpendapatan menengah lainnya. Situasi ini jika tidak
diatasi dapat mempengaruhi kinerja pembangunan Indonesia baik yang menyangkut
pertumbuhan ekonomi, kemiskinan dan ketimpangan.
Penanganan stunting perlu koordinasi antar sektor dan melibatkan berbagai pemangku
kepentingan seperti Pemerintah Pusat, Pemerintah Daerah, Dunia Usaha, Masyarakat Umum,
dan lainnya. Presiden dan Wakil Presiden berkomitmen untuk memimpin langsung upaya
penanganan stunting agar penurunan prevalensi stunting dapat dipercepat dan dapat terjadi
secara merata di seluruh wilayah Indonesia.
Buku “100 Kabupaten/Kota Prioritas untuk Intervensi Anak Kerdil (Stunting)” ini memuat daftar
Kabupaten/Kota yang menjadi prioritas penanganan stunting untuk tahun 2017 dan 2018. Buku
ini dimaksudkan sebagai rujukan bagi pemangku kepentingan untuk mengalokasikan sumber
daya pada wilayah prioritas dengan mempertimbangkan berbagai kondisi terkait stunting di
wilayah tersebut.
Saya harapkan Para Menteri, Pimpinan Lembaga, Gubernur, dan Bupati/Walikota agar
menggunakan buku ini untuk memfokuskan seluruh kegiatan yang dapat mengurangi stunting
pada wilayah prioritas ini.

Jakarta, Agustus 2017
WAKIL PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA

M. JUSUF KALLA

iii 3

4 .

Balita/Baduta (Bayi dibawah usia Dua Tahun) yang mengalami stunting akan memiliki tingkat kecerdasan tidak maksimal. Pada akhirnya secara luas stunting akan dapat menghambat pertumbuhan ekonomi. Indonesia adalah negara dengan prevalensi stunting kelima terbesar. menjadikan anak menjadi lebih rentan terhadap penyakit dan di masa depan dapat beresiko pada menurunnya tingkat produktivitas. 2017 Di Indonesia. kondisi stunting baru nampak setelah bayi berusia 2 tahun. meningkatkan kemiskinan dan memperlebar ketimpangan. 100 Kabupaten/Kota Prioritas untuk Intervensi Anak Kerdil (Stunting) PENDAHULUAN STUNTING ADALAH KONDISI GAGAL TUMBUH PADA ANAK BALITA (BAYI DI BAWAH LIMA TAHUN) akibat dari kekurangan gizi kronis sehingga anak terlalu pendek untuk usianya. sekitar 37% (hampir 9 Juta) anak balita mengalami stunting (Riset Kesehatan Dasar/ Riskesdas 2013) dan di seluruh dunia. Gambar 1: Gambaran Anak Normal dan Anak Stunting Sumber: Bank Dunia. Balita pendek (stunted) dan sangat pendek (severely stunted) adalah balita dengan panjang badan (PB/U) atau tinggi badan (TB/U) menurut umurnya dibandingkan dengan standar baku WHO-MGRS (Multicentre Growth Reference Study) 2006. Sedangkan definisi stunting menurut Kementerian Kesehatan (Kemenkes) adalah anak balita dengan nilai z-scorenya kurang dari -2SD/standar deviasi (stunted) dan kurang dari – 3SD (severely stunted)1. Kekurangan gizi terjadi sejak bayi dalam kandungan dan pada masa awal setelah bayi lahir akan tetapi. 1 Kepmenkes 1995/MENKES/SK/XII/2010 ix 5 .

stunting juga dapat berkontribusi pada melebarnya kesenjangan/inequality. kondisi anak stunting juga dialami oleh keluarga/rumah tangga yang tidak miskin. Seperti yang digambarkan dalam grafik dibawah. 6 x . Selain itu. sehingga mengakibatkan hilangnya 11% GDP (Gross Domestic Products) serta mengurangi pendapatan pekerja dewasa hingga 20%. Gambar 3: Stunting di Indonesia : Jumlah anak Stunting <5 tahun Sumber: Publikasi Bank Dunia. sehingga mengurangi 10% dari total pendapatan seumur hidup dan juga menyebabkan kemiskinan antar-generasi. karena stunting juga dialami oleh rumah tangga/keluarga yang tidak miskin/yang berada di atas 40 % tingkat kesejahteraan sosial dan ekonomi. 100 Kabupaten/Kota Prioritas untuk Intervensi Anak Kerdil (Stunting) Gambar 2: Gambaran Situasi Stunting di Indonesia dan Tingkat Global Pengalaman dan bukti Internasional menunjukkan bahwa stunting dapat menghambat pertumbuhan ekonomi dan menurunkan produktivitas pasar kerja. Anak kerdil yang terjadi di Indonesia sebenarnya tidak hanya dialami oleh rumah tangga/keluarga yang miskin dan kurang mampu. 2017.

Secara lebih detil. 2.000 Hari Pertama Kehidupan (HPK) dari anak balita. serta 1 dari 3 rumah tangga belum memiliki akses ke air minum bersih. Harga buah dan sayuran di Indonesia lebih mahal daripada di Singapura. dan 2 dari 3 anak usia 0-24 bulan tidak menerima Makanan Pendamping Air Susu Ibu (MP-ASI). Intervensi yang paling menentukan untuk dapat mengurangi pervalensi stunting oleh karenanya perlu dilakukan pada 1. beberapa faktor yang menjadi penyebab stunting dapat digambarkan sebagai berikut2: 1.Menurut beberapa sumber (RISKESDAS 2013. Informasi yang dikumpulkan dari publikasi Kemenkes dan Bank Dunia menyatakan bahwa tingkat kehadiran anak di Posyandu semakin menurun dari 79% di 2007 menjadi 64% di 2013 dan anak belum mendapat akses yang memadai ke layanan imunisasi. serta membentuk daya tahan tubuh dan perkembangan sistem imunologis anak terhadap makanan maupun minuman. Terbatasnya akses ke makanan bergizi di Indonesia juga dicatat telah berkontribusi pada 1 dari 3 ibu hamil yang mengalami anemia. Fakta lain adalah 2 dari 3 ibu hamil belum mengkonsumsi sumplemen zat besi yang memadai serta masih terbatasnya akses ke layanan pembelajaran dini yang berkualitas (baru 1 dari 3 anak usia 3-6 tahun belum terdaftar di layanan PAUD/Pendidikan Anak Usia Dini). Beberapa fakta dan informasi yang ada menunjukkan bahwa 60% dari anak usia 0-6 bulan tidak mendapatkan Air Susu Ibu (ASI) secara ekslusif. Masih terbatasnya layanan kesehatan termasuk layanan ANC-Ante Natal Care (pelayanan kesehatan untuk ibu selama masa kehamilan) Post Natal Care dan pembelajaran dini yang berkualitas. SDKI 2012. Kurangnya akses ke air bersih dan sanitasi. serta setelah ibu melahirkan. 4. Data yang diperoleh di lapangan menunjukkan bahwa 1 dari 5 rumah tangga di Indonesia masih buang air besar (BAB) diruang terbuka. Selain berfungsi untuk mengenalkan jenis makanan baru pada bayi. 2 Dikumpulkan dari berbagai sumber seperti literature terkait kondisi stunting. 100 Kabupaten/Kota Prioritas untuk Intervensi Anak Kerdil (Stunting) Grafik 1: Stunting Lintas Pendapatan Stunting U-5. MP- ASI juga dapat mencukupi kebutuhan nutrisi tubuh bayi yang tidak lagi dapat disokong oleh ASI. MP-ASI diberikan/mulai diperkenalkan ketika balita berusia diatas 6 bulan. Masih kurangnya akses rumah tangga/keluarga ke makanan bergizi. publikasi Kementerian Kesehatan (Kemenkes) serta publikasi World Bank/Bank Dunia mengenai stunting pada 2017 xi 7 . komoditas makanan di Jakarta 94% lebih mahal dibanding dengan di New Delhi. termasuk kurangnya pengetahuan ibu mengenai kesehatan dan gizi sebelum dan pada masa kehamilan. India. 3. SUSENAS). Indonesia Sumber: : Estimasi dari RISKESDAS (tingkat Stunting) dan proyeksi populasi BPS PENYEBAB STUNTING Stunting disebabkan oleh faktor multi dimensi dan tidak hanya disebabkan oleh faktor gizi buruk yang dialami oleh ibu hamil maupun anak balita. Praktek pengasuhan yang kurang baik. Hal ini dikarenakan harga makanan bergizi di Indonesia masih tergolong mahal.

Sasaran dari intervensi gizi spesifik adalah masyarakat secara umum dan tidak khusus ibu hamil dan balita pada 1. memberikan perlindungan terhadap malaria. Intervensi ini dilakukan melalui beberapa kegiatan yang mendorong inisiasi menyusui dini/IMD terutama melalui pemberian ASI jolong/colostrum serta mendorong pemberian ASI Eksklusif. Kegiatan terkait Intervensi Gizi Sensitif dapat dilaksanakan melalui beberapa kegiatan yang umumnya makro dan dilakukan secara lintas Kementerian dan Lembaga. Menyediakan akses kepada layanan kesehatan dan Keluarga Berencana (KB). yaitu Intervensi Gizi Spesifik dan Intervensi Gizi Sensitif. Kerangka Intervensi Stunting tersebut kemudian diterjemahkan menjadi berbagai macam program yang dilakukan oleh Kementerian dan Lembaga (K/L) terkait. Kerangka Intervensi Stunting yang dilakukan oleh Pemerintah Indonesia terbagi menjadi dua. Kegiatan yang idealnya dilakukan untuk melaksanakan Intervensi Gizi Spesifik dapat dibagi menjadi beberapa intervensi utama yang dimulai dari masa kehamilan ibu hingga melahirkan balita: I. melakukan fortifikasi zat besi ke dalam makanan. Kerangka Intervensi Stunting yang direncanakan oleh Pemerintah yang kedua adalah Intervensi Gizi Sensitif. Kerangka pertama adalah Intervensi Gizi Spesifik. Menyediakan dan memastikan akses terhadap sanitasi. menyediakan obat cacing. Pemerintah Indonesia bergabung dalam gerakan tersebut melalui perancangan dua kerangka besar Intervensi Stunting. Intervensi ini juga bersifat jangka pendek dimana hasilnya dapat dicatat dalam waktu relatif pendek. Menyediakan dan memastikan akses terhadap air bersih. mengatasi kekurangan iodium. Intervensi ini meliputi kegiatan memberikan makanan tambahan (PMT) pada ibu hamil untuk mengatasi kekurangan energi dan protein kronis. Kerangka ini idealnya dilakukan melalui berbagai kegiatan pembangunan diluar sektor kesehatan dan berkontribusi pada 70% Intervensi Stunting. 2. 100 Kabupaten/Kota Prioritas untuk Intervensi Anak Kerdil (Stunting) Beberapa penyebab seperti yang dijelaskan di atas. 3. Intervensi Gizi Spesifik dengan sasaran Ibu Hamil. Ini merupakan intervensi yang ditujukan kepada anak dalam 1.000 Hari Pertama Kehidupan (HPK) dan berkontribusi pada 30% penurunan stunting. Kemudian.000 Hari Pertama Kehidupan/HPK. setelah bayi berusia diatas 6 bulan didampingi oleh pemberian MP-ASI. telah berkontibusi pada masih tingginya pervalensi stunting di Indonesia dan oleh karenanya diperlukan rencana intervensi yang komprehensif untuk dapat mengurangi pervalensi stunting di Indonesia. 8 xii . 4. Melakukan fortifikasi bahan pangan. Intervensi Gizi Spesifik dengan sasaran Ibu Menyusui dan Anak Usia 0-6 Bulan. menyediakan suplementasi zink. mengatasi kekurangan zat besi dan asam folat. gerakan global yang dikenal dengan Scaling-Up Nutrition (SUN) diluncurkan dengan prinsip dasar bahwa semua penduduk berhak untuk memperoleh akses ke makanan yang cukup dan bergizi. Kerangka kegiatan intervensi gizi spesifik umumnya dilakukan pada sektor kesehatan. III. Pada 2012. KERANGKA INTERVENSI STUNTING DI INDONESIA Pada 2010. Ada 12 kegiatan yang dapat berkontribusi pada penurunan stunting melalui Intervensi Gizi Spesifik sebagai berikut: 1. Intervensi Gizi Spesifik dengan sasaran Ibu Menyusui dan Anak Usia 7-23 bulan. Intervensi ini meliputi kegiatan untuk mendorong penerusan pemberian ASI hingga anak/bayi berusia 23 bulan. memberikan imunisasi lengkap. serta melakukan pencegahan dan pengobatan diare. II. menanggulangi kecacingan pada ibu hamil serta melindungi ibu hamil dari Malaria.

pemerintah di tingkat nasional kemudian mengeluarkan berbagai kebijakan serta regulasi yang diharapkan dapat berkontribusi pada pengurangan pervalensi stunting. Kerangka Kebijakan Gerakan Nasional Percepatan Gizi Dalam Rangka Seribu Hari Pertama Kehidupan (Gerakan 1. Memberikan edukasi kesehatan seksual dan reproduksi. termasuk diantaranya: 1. 2013.15/2013 tentang Tata Cara Penyediaan Fasilitas Khusus Menyusui dan/atau Memerah Air Susu Ibu. 6. Keputusan Menteri Kesehatan (Kepmenkes) No. 4.000 HPK). menetapkan bahwa pada tahun 2019. 2. yang potensial untuk menurunkan stunting. Menyediakan bantuan dan jaminan sosial bagi keluarga miskin. Program terkait Intervensi dengan sasaran Ibu Hamil. Undang-Undang (UU) No. 2011. Peraturan Menteri Kesehatan (Permenkes) No. 7. Bappenas. Rencana Pembangunan Jangka Panjang Nasional (RPJPN) 2005–2025 (Pemerintah melalui program pembangunan nasional ‘Akses Universal Air Minum dan Sanitasi Tahun 2019’. 10. 9.3/2014 tentang Sanitasi Total Berbasis Masyarakat (STBM).000 Hari Pertama Kegiatan (HPK). Memberikan pendidikan gizi masyarakat. Intervensi Program Gizi Spesifik dilakukan oleh Kementerian Kesehatan (Kemenkes) melalui Pusat Kesehatan Masyarakat (Puskesmas) dan Pos Pelayanan Terpadu (Posyandu) melalui Gerakan 1. kementerian/lembaga (K/L) juga sebenarnya telah memiliki program baik terkait intervensi gizi spesifik maupun intervensi gizi sensitif. Peraturan Pemerintah (PP) No. Memberikan pendidikan pengasuhan pada orang tua. Menyediakan Jaminan Persalinan Universal (Jampersal). Indonesia dapat menyediakan layanan air minum dan sanitasi yang layak bagi 100% rakyat Indonesia). 12. 42/2013 tentang Gerakan Nasional Percepatan Perbaikan Gizi. 450/Menkes/SK/IV/2004 tentang Pemberian Ais Susu Ibu (ASI) Secara Eksklusif Pada Bayi di Indonesia. Rencana Aksi Nasional Pangan dan Gizi 2011-2015. 5. Hari Pertama Kehidupan (Gerakan 1000 HPK). Memberikan Pendidikan Anak Usia Dini (PAUD) Universal. Peraturan Presiden (Perpres) No. 3. Selain mengeluarkan paket kebijakan dan regulasi. Menyediakan Jaminan Kesehatan Nasional (JKN). Meningkatkan ketahanan pangan dan gizi. Rencana Pembangunan Jangka Menengah (RPJM) 2015-2019 (target penurunan prevalensi stunting menjadi 28% pada 2019). 8. 11. Berikut ini adalah identifikasi beberapa program gizi spesifik yang telah dilakukan oleh pemerintah: 1.33/2012 tentang Air Susu Ibu Eksklusif. yang dilakukan melalui beberapa program/kegiatan berikut: • Pemberian makanan tambahan pada ibu hamil untuk mengatasi kekurangan energi dan protein kronis • Program untuk mengatasi kekurangan zat besi dan asam folat • Program untuk mengatasi kekurangan iodium xiii 9 . 7. 2013. Permenkes No. 6. 10. 100 Kabupaten/Kota Prioritas untuk Intervensi Anak Kerdil (Stunting) 5. serta gizi pada remaja. 36/2009 tentang Kesehatan. 12. KEBIJAKAN DAN PROGRAM TERKAIT INTERVENSI STUNTING YANG TELAH DILAKUKAN Terkait upaya untuk mengurangi serta menangani pervalensi stunting. Permenkes No. 9.23/2014 tentang Upaya Perbaikan Gizi. 11. Kedua kerangka Intervensi Stunting diatas sudah direncanakan dan dilaksanakan oleh Pemerintah Indonesia sebagai bagian dari upaya nasional untuk mencegah dan mengurangi pervalensi stunting. 8.

Kegiatan terkait termasuk memberikan pertolongan persalinan oleh tenaga kesehatan. Anggaran program berasal dari Bantuan Operasional Kesehatan (BOK) . Menyediakan dan Memastikan Akses pada Air Bersih melalui program PAMSIMAS (Penyediaan Air Bersih dan Sanitasi berbasis Masyarakat). PAMSIMAS juga dilakukan dengan kontribusi dari pemerintah daerah serta masyakart melalui pelaksanaan beberapa jenis kegiatan seperti dibawah: • Meningkatkan praktik hidup bersih dan sehat di masyarakat • Meningkatkan jumlah masyarakat yang memiliki akses air minum dan sanitasi yang berkelanjutan 10 xiv .Dana Alokasi Khusus (DAK) Non Fisik sebesar Rp. Selain itu. Program PAMSIMAS dilakukan lintas K/L termasuk Badan Perencanaan Pembangunan Nasional/Kementerian Perencanaan Pembangunan Nasional (Bappenas/Kementerian PPN). promosi menyusui ASI eksklusif (konseling individu dan kelompok). melakukan upaya untuk penanggulangan cacingan pada ibu hamil. dan memberikan kelambu serta pengobatan bagi ibu hamil yang positif malaria. 100 Kabupaten/Kota Prioritas untuk Intervensi Anak Kerdil (Stunting) • Pemberian obat cacing untuk menanggulangi kecacingan pada ibu hamil • Program untuk melindungi ibu hamil dari Malaria. Jenis kegiatan yang telah dan dapat dilakukan oleh pemerintah baik di tingkat nasional maupun di tingkat lokal meliputi pemberian suplementasi besi folat minimal 90 tablet. Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (KemenPUPERA). dan penanganan bayi sakit secara tepat. Terkait dengan intervensi gizi sensitif yang telah dilakukan oleh pemerintah melalui K/L terkait beberapa diantaranya adalah kegiatan sebagai berikut: 1. pantau tumbuh kembang secara rutin setiap bulan. Kementerian Kesehatan (Kemenkes) dan Kementerian Dalam Negeri (Kemendagri). Program yang menyasar Ibu Menyusui dan Anak Usia 0-6 bulan termasuk diantaranya mendorong IMD/Inisiasi Menyusui Dini melalui pemberian ASI jolong/colostrum dan memastikan edukasi kepada ibu untuk terus memberikan ASI Eksklusif kepada anak balitanya. Program Intervensi yang ditujukan dengan sasaran Ibu Menyusui dan Anak Usia 7-23 bulan: • mendorong penerusan pemberian ASI hingga usia 23 bulan didampingi oleh pemberian MP-ASI • menyediakan obat cacing • menyediakan suplementasi zink • melakukan fortifikasi zat besi ke dalam makanan • memberikan perlindungan terhadap malaria • memberikan imunisasi lengkap • melakukan pencegahan dan pengobatan diare. Inisiasi Menyusui Dini (IMD). 3. memberikan dukungan kepada ibu hamil untuk melakukan pemeriksaan kehamilan minimal 4 kali. imunisasi dasar. Selain pemerintah pusat. memberikan imunisasi Tetanus Toksoid (TT). beberapa program lainnya adalah Pemberian Makanan Tambahan (PMT) Balita Gizi Kurang oleh Kementerian Kesehatan/Kemenkes melalui Puskesmas dan Posyandu. 2.000 per tahun per Puskesmas di daerahnya masing masing.000. 200. Program terkait meliputi pembinaan Posyandu dan penyuluhan serta penyediaan makanan pendukung gizi untuk balita kurang gizi usia 6-59 bulan berbasis pangan lokal (misalnya melalui Hari Makan Anak/HMA). pemberian makanan tambahan pada ibu hamil.

dan Minyak Goreng). umumnya dilakukan oleh Kementerian Pertanian. Melakukan Fortifikasi Bahan Pangan (Garam. Menyediakan Akses kepada Layanan Kesehatan dan Keluarga Berencana (KB) melalui dua program: 4. • Mengembangkan model pelayanan KB dan Kesehatan Produksi (Kespro) melalui pendekatan pengembangan masyarakat. Kegiatan yang dilakukan meliputi: • Penguatan advokasi dan KIE (Komunikasi. 4. termasuk difabel (seseorang dengan kemampuan berbeda) dan kelompok marjinal termasuk remaja • Menyediakan pelayanan penanganan kehamilan tak diinginkan yang komprehensif yang terjangkau. • Mengembangkan program penanganan kesehatan seksual dan reproduksi pada situasi bencana. • Mengembangkan standar pelayanan yang berkualitas di semua strata pelayanan.417 desa/kelurahan. pengembangan kapasitas dan kualitas provider.2. 100 Kabupaten/Kota Prioritas untuk Intervensi Anak Kerdil (Stunting) • Meningkatkan kapasitas masyarakat dan kelembagaan lokal (pemerintah daerah maupun masyarakat) dalam penyelenggaraan layanan air minum dan sanitasi berbasis masyarakat • Meningkatkan efektifitas dan kesinambungan jangka panjang pembangunan sarana dan prasarana air minum dan sanitasi berbasis masyarakat.1. Kegiatan ini meliputi gerakan peningkatan gizi/Scaling Up Nutrition (SUN) Movement yang hingga 2015 telah menjangkau 26. KB dan KS 4. Menyediakan dan Memastikan Akses pada Sanitasi melalui Kebijakan Sanitasi Total Berbasis Masyarakat (STBM) yang pelaksanaanya dilakukan oleh Kementerian Kesehatan (Kemenkes) bersama dengan Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (KemenPUPERA). Terigu. 2. xv 11 . Program Layanan KB dan Kesehatan Seksual serta Reproduksi (Kespro) oleh LSM (Lembaga Swadaya Masyarakat) Perkumpulan Keluarga Berencana Indonesia (PKBI). konflik dan situasi darurat lainnya. 5. termasuk mekanisme rujukan pelayanan kesehatan seksual dan reproduksi • Melakukan studi untuk mengembangkan pelayanan yang berorientasi pada kepuasan klien. Kegiatan yang dilakukan adalah: • Menyediakan pelayanan kesehatan seksual dan reproduksi yang terjangkau oleh seluruh lapisan masyarakat. 3. Program KKBPK (Kependudukan. Keluarga Berencana dan Pembangunan Keluarga) oleh BKKBN (Badan Kependudukan dan Keluarga Berencana Nasional) bekerjasama dengan Pemerintah Daerah (Kabupaten/Kota). Informasi dan Edukasi) terkait Program KKBPK • Peningkatan akses dan kualitas pelayanan KB yang merata • Peningkatan pemahaman dan kesadaran remaja mengenai kesehatan reproduksi dan penyiapan kehidupan berkeluarga • Penguatan landasan hukum dalam rangka optimalisasi pelaksanaan pembangunan bidang Kependudukan dan Keluarga Berencana (KKB) • Penguatan data dan informasi kependudukan. Menyediakan Jaminan Kesehatan Nasional (JKN): Kementerian Kesehatan (Kemenkes) telah melakukan Program Jaminan Kesehatan Nasional (JKN)-Penerima Bantuan Iuran (PBI) berupa pemberian layanan kesehatan kepada keluarga miskin dan saat ini telah menjangkau sekitar 96 juta individu dari keluarga miskin dan rentan.

Memberikan Pendidikan Pengasuhan pada Orang tua. 12. • Penguatan dan pemberdayaan mitra (pemangku kepentingan. mengatasi Ganguan Akibat Kekurangan Yodium (GAKY) serta kekurangan Vitamin A • Perbaikan keadaan zat gizi lebih. 10. ibu menyusui. Memberikan Pendidikan Anak Usia Dini (PAUD) Universal yang dilakukan oleh Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemendikbud) melalui Program Pendidikan Anak Usia Dini (PAUD). Kegiatannya berupa pemberian subsidi untuk mengakses pangan (beras dan telur) dan pemberian bantuan tunai bersyarat kepada ibu Hamil. • Memberi perhatian pada petani kecil. 9. mengatasi kekurangan zinc dan zat besi. dan anak-anak. 7. 8. Kementerian Koperasi.Beberapa kegiatan yang dilakukan berupa: • Perluasan dan peningkatan mutu satuan PAUD. • Pemberdayaan Usaha Perbaikan Gizi Keluarga/Masyarakat. nelayan. Meningkatkan Ketahanan Pangan dan Gizi melalui Program Ketahanan Pangan dan Gizi yang dilaksanakan Lintas K/L yaitu Kementerian Pertanian. Kegiatan yang dilakukan berupa: • Menjamin akses pangan yang memenuhi kebutuhan gizi terutama ibu hamil. Kemendagri. 12 xvi . Menyediakan Bantuan dan Jaminan Sosial bagi Keluarga Miskin. Menyusui dan Balita. 100 Kabupaten/Kota Prioritas untuk Intervensi Anak Kerdil (Stunting) 6. • Menjamin pemanfaatan optimal pangan yang tersedia bagi semua golongan penduduk. • Penanggulangan Kurang Energi Protein. misalnya melalui Program Subsidi Beras Masyarakat Berpenghasilan Rendah (Raskin/Rastra) dan Program Keluarga Harapan (PKH) yang dilaksanakan oleh Kementerian Sosial (Kemensos). • Peningkatan Layanan KB. stakeholders). berupa Pelayanan Kesehatan Reproduksi Remaja yang dilaksanakan oleh Kementerian Kesehatan (Kemenkes) melalui Pelayanan Kesehatan Peduli Remaja (PKPR) termasuk pemberian layanan konseling dan peningkatan kemampuan remaja dalam menerapkan Pendidikan dan Keterampilan Hidup Sehat (PKHS). Menyediakan Jaminan Persalinan Universal (Jampersal) yang dilaksanakan oleh Kementerian Kesehatan (Kemenkes) dengan memberikan layanan kesehatan kepada ibu hamil dari keluarga/ rumah tangga miskin yang belum mendapatkan JKN-Penerima Bantuan Iuran/PBI. • Peningkatan Survailans Gizi. • Menurunkan prevalansi anemia. dan kesetaraan gender. 11. • Peningkatan jumlah dan mutu Pendidik dan Tenaga Kependidikan (PTK) PAUD. Memberikan Pendidikan Gizi Masyarakat Program Perbaikan Gizi Masyarakat yang dilaksanakan oleh Kementerian Kesehatan (melalui Puskesmas dan Posyandu) Kegiatan yang dilakukan berupa: • Peningkatan pendidikan gizi. • Penguatan orang tua dan masyarakat. Memberikan Edukasi Kesehatan Seksual dan Reproduksi serta Gizi pada Remaja. • Pemberdayaan Ekonomi Mikro bagi Keluarga dengan Bumil KEK (Kurang Energi Protein).

selaku Ketua Tim Nasional Percepatan Penanggulangan Kemiskinan (TNP2K) mengundang jajaran menteri dan kepala lembaga yang memiliki dan melaksanakan kebijakan dan program sebagai upaya untuk menangani stunting pada hari Rabu. serta. kader PKK. Kebijakan dan regulasi terkait Intervensi Stunting belum secara maksimal dijadikan landasan bersama untuk menangani stunting. dan lainnya. grafik diolah TNP2K 2017 Beberapa hal yang kemungkinan menjadi penyebab belum efektifnya kebijakan serta program Intervensi Stunting yang ada dan telah dilakukan adalah: a. kualitasnya dan sasarannya. f. Program-program berbasis komunitas yang efektif di masa lalu tidak lagi dijalankan secara maksimal seperti sebelumnya misalnya akses ke Posyandu. d. Program/intervensi yang ada (baik yang bersifat spesifik gizi maupun sensitif gizi) masih perlu ditingkatkan rancangannya. contohnya bisa dilihat pada grafik 2 yang menunjukkan belum maksimalnya fungsi alokasi anggaran kesehatan. Dasawisma. cakupannya. Program-program Intervensi Stunting yang telah direncanakan belum seluruhnya dilaksanakan. xvii 13 . Jusuf Kalla. b. REKOMENDASI RENCANA AKSI BERSAMA DAN TEROBOSAN UNTUK MENANGANI STUNTING Pada Rapat Terbatas tentang Intervensi Stunting yang dipimpin oleh Wakil Presiden Republik Indonesia. 12 Juli 2017 (baik secara langsung maupun tidak). diusulkan beberapa rekomendasi rencana aksi untuk menangani masalah stunting. Kementerian/Lembaga (K/L) melaksanakan program masing-masing tanpa koordinasi yang cukup. g. c. PLKB. Pengetahuan dan kapasitas pemerintah baik pusat maupun daerah dalam menangani stunting perlu ditingkatkan. 100 Kabupaten/Kota Prioritas untuk Intervensi Anak Kerdil (Stunting) Berdasarkan identifikasi kebijakan dan program yang seharusnya potensial untuk membantu mengurangi pervalensi stunting seperti penjelasan diatas. Program yang secara efektif mendorong peningkatan pengetahuan gizi yang baik dan perubahan perilaku hidup sehat masyarakat belum banyak dilakukan. e. pertanyaan selanjutnya adalah mengapa hingga saat ini Intervensi Stunting belum efektif dan prosentase prevalensi stunting masih cukup tinggi di Indonesia? (berkisar di 37%) Grafik 2: Contoh Alokasi Anggaran Fungsi Kesehatan di Sumbawa Barat sangat jauh dibawah rata-rata sementara angka capaian indikator kesehatan sangat rendah Sumber: BPS.

dan Evaluasi perubahan Program Nasional. diperlukan juga adanya penetapan strategi dan kebijakan. serta target nasional stunting PILAR 1 maupun daerah Stunting PILAR 2 PILAR 3 (baik provinsi maupun kab/kota) dan memanfaatkan PILAR 4 Sekretariat PILAR 5 Sustainable Development Goals/SDGs Kampanye dan Sekretariat TNP2K sebagai lembaga koordinasi dan pengendalian Komitmen dan Rapat Sumber: program program Nasional Pleno terkait Juli 2017. dan Mendorong 1 Tertinggi Negara Rapat2:yang pemahaman. Presiden secara efektifRImengurangi menaruh perhatian pervalensiyang cukupsalah stunting. Gambar 4: Usulan Kerangka Waktu untuk Rencana Aksi Intervensi Stunting Percepatan Penanganan Stunting 1 Rapat yang dilakukan tersebut bertujuan untuk memetakan masalah stunting serta merumuskan dan mempertajam 2018 langkah-langkah2019 penanganannya untuk2020 kemudian akan 2021 dilaporkan kepada Presiden Republik Indonesia (RI). Rekomendasi program rencanaterkait aksi Intervensi Stunting kegiatan nasionaldiusulkan menjadi kegiatan nasional5 pilar utamanasional kegiatan dengan penjelasan sebagai berikut: stunting yang ada yang ada yang ada di 100 Kab/Kota ke 160 Kab/Kota ke 390 Kab/Kota ke 514 Kab/Kota untuk untuk koordinasi untuk koordinasi untuk Pilar 1: Komitmen dan Visi koordinasi dan Pimpinan Tertinggi Negara. serta target nasional maupun daerah (baik provinsi maupun kab/kota) dan memanfaatkan Sekretariat Sustainable Development Goals/SDGs dan Sekretariat TNP2K sebagai lembaga koordinasi dan pengendalian program program terkait Intervensi Stunting. maupun aksi Intervensi Stunting komunikasi diusulkan kepada keluargamenjadi 5 pilar utama serta advokasi dengan secara penjelasan berkelanjutan. Perubahan “Nutritional Perilaku. besar satuterkait isu strategi komitmen politik Masyarakat stunting terutama utama yang perluuntukdan mencari segera langkahadalah dilaksanakan akuntabilitas terobosan dalam melalui menangani kampanye dan nasional secara mengurangi baik stunting. melalui Rekomendasi media rencanamelalui masa. Selain itu. 12 Juli 2017. diperlukan juga adanya penanganan stuntingpenetapan strategi stunting dan kebijakan. Komitmen Politik dan Akuntabilitas. Intervensi Visi Pimpinan Berfokus pada Koordinasi.pengalaman dan dan bukti Food Security” terkait Presiden Republik yang program program Indonesia dapat(RI). TNP2K. dan mempertajam langkah-langkah penanganannya Berdasarkan untuk kemudian akan internasionalkepada dilaporkan Komitmen Politik dan Akuntabilitas. perilaku. Pada pilar ini. dibutuhkan Komitmen dari Presiden/Wakil Presiden untuk mengarahkan K/L terkait Intervensi Stunting baik di pusat maupun daerah. Gambar 5: Kampanye Sosial 14 xviii . Pada pilar ini. salah satu strategi 12 Juli 2017 utama yang perlu segera dilaksanakan adalah melalui kampanye secara nasional baik melalui media masa. sebagai berikut: Gambar 5: Kampanye Sosial Pilar 1: Komitmen dan Visi Pimpinan Tertinggi Negara. maupun melalui komunikasi kepada keluarga serta advokasi secara berkelanjutan.efektif mengurangi pervalensi stunting. Perubahan Perilaku. Berdasarkan pengalaman dan bukti internasional terkait program program yangRapat Sumber: dapat secara Pleno TNP2K. Konvergensi. 100 Kabupaten/Kota Prioritas untuk Intervensi Anak Kerdil (Stunting) Gambar 4: Usulan Kerangka Waktu untuk Rencana Aksi Intervensi Stunting Percepatan Penanganan Stunting 2018 2019 2020 2021 Memaksimalkan Memperluas Memperluas Memperluas pelaksanaan program dan program dan program dan program terkait kegiatan nasional kegiatan nasional kegiatan nasional stunting yang ada yang ada yang ada di 100 Kab/Kota ke 160 Kab/Kota ke 390 Kab/Kota ke 514 Kab/Kota untuk untuk koordinasi untuk koordinasi untuk koordinasi dan dan pelaksanaan dan pelaksanaan koordinasi dan pelaksanaan dari pilar dari pilar pelaksanaan dari dari pilar penanganan penanganan pilar penanganan penanganan stunting stunting stunting 100 Kabupaten/Kota Prioritas untuk Intervensi Anak Kerdil (Stunting) Stunting Sumber: Rapat Pleno TNP2K. Pilar 2: Kampanye Nasional berfokus pada Peningkatan Pemahaman. dilakukanNasional tersebut bertujuanpada Konsolidasi untuk memetakan masalah Kebijakan stunting Pemantauan serta merumuskan Pilar Kampanye berfokus Peningkatan Pemahaman. Selain itu. Daerah. Presiden RI menaruh perhatian yang cukup besar terkait isu Memaksimalkan Memperluas Memperluas Memperluas stunting terutama untuk mencari langkah pelaksanaan terobosan program program dan dalam menangani dan dan mengurangi program dan stunting. dibutuhkan dan pelaksanaan dan pelaksanaan koordinasi danKomitmen dari pelaksanaan 5 Pilar Penanganan Stunting dari pilar dari pilar pelaksanaan dari Presiden/Wakil Presiden untuk mengarahkan K/L terkait Intervensi Stunting baik di pusat maupun dari pilar penanganan penanganan pilar penanganan daerah. 12Stunting.

isu PAUD. Presiden untuk mengarahkan K/L terkait Intervensi Stunting baik di pusat maupun daerah. Gambar Koordinasi. Result-based Khusus (DAK) dan Dana planning and Desa untuk budgeting (penganggaran Pilar 1: Komitmen mengarahkan dan dan Visi tingkat pengeluaran perencanaan Pimpinan Tertinggi daerah berbasis hasil) pilar Pada Negara. Nasional. maupun melalui komunikasi kepada keluarga serta advokasi secara berkelanjutan. nasional. Result-based planning and budgeting (penganggaran dan perencanaan berbasis hasil) program pusat dan daerah. Berdasarkan pengalaman dan bukti internasional terkait program program yang Pilar 5: Pemantauan dandapat secara Evaluasi. (5) mengupayakan investasi melalui Kemitraan dengan dunia usaha. balita padapemantauan Rekomendasi rencana 1. masalah memetakan konvergensi. pilar hasil Intervensi ini juga dapat Stunting dilakukandan perkembangan dengan memaksimalkan anak pemanfaatan setiap tahun Dana untukAlokasi akuntabilitas. menurunkan angkapengukuran stunting di dan publikasi secara wilayahnya. koordinasi dan koordinasi dan dan pelaksanaan pelaksanaan dari pilar dari pilar pelaksanaan dari dari Kebijakan Pilar 4: Mendorong pilar penanganan “Food penanganan Nutritional Security”. 2018 2019 2020 2021 dibutuhkan perbaikan kualitas dari layanan program yang ada (Puskesmas.Pilar 2: Kampanye Nasional berfokus pada Peningkatan Pemahaman. kualitas dariPresiden layanan menaruh program ada pemantauan perhatian yang yang cukupexposure (Puskesmas. Komitmen Politik dan Akuntabilitas. Di samping itu. dan stunting. (4) melaksanakan program pemberian makanan tambahan. program pemberian makanan tambahan. 1 infrastruktur Rapat Pilar iniyang pasar untuk bertujuan pangan dilakukan baik ditingkat tersebut bertujuan memperkuat urban maupun untuk rural. dan Pilar inikebijakan. koordinasi. ada Terakhir. (3) pengurangan kontaminasi Sumber: Rapat Plenopangan. pemberian dan kualitas dari layanan program Intervensi Stunting. dan Konsolidasi Program dunia usaha. serta merumuskan memperluas dan mempertajam cakupan program yang langkah-langkah dilakukan oleh penanganannya untuk kemudian Kementerian/Lembaga (K/L) akan dilaporkan terkait. diperlukan 4: Mendorong Kebijakanjuga adanya “Food penetapan Nutritional strategi Security”. Pilarefektif mengurangi yang terakhir pervalensi ini mencakup stunting. salah pemantauan satuterhadap exposure strategi utama yangnasional. koordinasi. Goals/SDGs (2) melaksanakan dan Sekretariat rencana TNP2K sebagai fortifikasi bio-energi. Stunting. Stunting Percepatan Gambar 5: Kampanye Sosial Stunting Penanganan Pilar ini bertujuan untuk memperkuat konvergensi. yang pilar ada ini juga dapat di 100memaksimalkan dilakukan dengan Kab/Kota ke 160 Kab/Kota Dana pemanfaatan ke 390 Alokasi Khusus ke Kab/Kota 514 Kab/Kota (DAK) dan Dana Desa untuk untuk untuk koordinasi untuk koordinasi untuk mengarahkan pengeluaran tingkat daerah ke intervensi prioritas dan pelaksanaan Intervensi Stunting.000 HPK serta pemberian insentif dari kinerja program Intervensi Stunting di wilayah program terkait kegiatan nasional kegiatan nasional kegiatan nasional sasaran yang berhasil stuntingmenurunkanyang angka ada stunting diyang wilayahnya. (2) melaksanakan rencana fortifikasi bio-energi. salah satu strategi 100 Kabupaten/Kota 100 Kabupaten/Kota Prioritas untuk Intervensi Anak KerdilPrioritas (Stunting)untuk Intervensi Anak Kerdil (Stunting) utama yang perlu segera dilaksanakan adalah melalui kampanye secara nasional baik melalui media masa. Daerah. Desa. Di samping kepada itu. daerah. 12 Juli 2017 xviii xix 15 . xviii Pilar yang RI terakhir ini mencakup Pilar 5: Pemantauan Presiden dibutuhkan Republik perbaikan dan Evaluasi. Berdasarkan pengalaman dan bukti internasional terkait program program yang dapat secara efektif mengurangi pervalensi stunting. pengukuran dan publikasi secara berkala hasil Intervensi Stunting dan perkembangan anak Gambar setiap tahun untuk Sosial 5: Kampanye akuntabilitas. PKHMemaksimalkan dll) terutama dalam memberikan dukungan Memperluas kepada ibu Memperluas Memperluas hamil. serta target berfokus untuk nasional (1) mendorong maupun daerah kebijakan (baik provinsi yang memastikan maupun akses pangan kab/kota) dan memanfaatkan bergizi. 12 Juli 2017 stunting stunting kebijakan yang memastikan Stunting akses100 pangan bergizi. ibu menyusui dan pelaksanaan program dan program dan program dan balita pada 1. terhadap besar terkait Posyandu. Dana Desa. (5) mengupayakan investasi melalui Kemitraan dengan Pilar 3: Konvergensi. Perubahan Perilaku. stunting. maupun melalui pemantauan komunikasi dan evaluasi kepada secara keluarga berkala untukserta advokasi secara memastikan berkelanjutan. dandari pengendalian program-program Presiden/Wakil Intervensi Stunting. dan Konsolidasi 4: Usulan Kerangka Waktu untukProgram Rencana Nasional. Dana Daerah. stunting terutama PKH dll) untukpemahaman mencari terutama dalam serta langkah perubahan terobosan memberikan perilaku dalam dukungan sebagai menangani kepada ibu hasil dan kampanye mengurangi hamil. Koordinasi. Indonesia (RI). BPSPAM. khususnya Kabupaten/Kota di daerah Prioritas untuk dengan Intervensi kasus(Stunting) Anak Kerdil stunting tinggi. khususnya di daerah Sekretariat dengan kasus Sustainable stunting Development tinggi. makanan dan pupuk yang komprehensif. dandanlain-lain dalam Masyarakat. Pilar Selain itu. dan lain-lain dalam Pilar 2: Kampanye infrastruktur Nasional pasar pangan baik berfokus pada maupun ditingkat urban Peningkatan rural. Posyandu. Komitmen Politik dan Akuntabilitas. kampanye perlu segera dilaksanakan pemahaman serta adalah melalui perubahan kampanye perilaku sebagaisecara hasilnasional kampanyebaik nasional melalui media masa. lembaga makanan koordinasi dan pupuk yangdan pengendalian komprehensif. Pilar 3: Konvergensi. Aksi Intervensi dan Masyarakat. PAUD. stunting serta dan konsolidasi. serta memperluas cakupan program yang dilakukan oleh Kementerian/Lembaga (K/L) terkait. kampanye BPSPAM. dibutuhkan danKomitmen Stunting. TNP2K. Pemahaman.prioritas ke intervensi program Intervensi pusat ini. ibu menyusuinasional stunting. pilar penanganan Pilar ini berfokus untuk (1) mendorong penanganan stunting Sumber: Rapat Pleno TNP2K. (3) program program pengurangan terkait Intervensi kontaminasi pangan. dan pengendalian program-program Intervensi Stunting. Sumber: Rapat Pleno TNP2K. Perubahan Perilaku. dan konsolidasi.000 HPK aksidanIntervensi serta evaluasi Stunting pemberian secara berkala insentifdiusulkanuntuk memastikan menjadi dari kinerja program5 pilar pemberian utama Intervensi dengan Stuntingdandi kualitas penjelasan wilayah dari layanan sebagai sasaran yangprogram berhasilIntervensi berikut: Stunting. berkala Terakhir. 12(4) Julimelaksanakan 2017.

16 .

100 KABUPATEN/KOTA PRIORITAS 100 Kabupaten/Kota Prioritas untuk Intervensi Anak Kerdil (Stunting) xxi 17 .

Memang secara relatif alokasi anggaran untuk belanja urusan pendidikan sudah relatif besar mengingat hal ini memang mandat undang-undang. Daftar 100 kabupaten/ kota prioritas intervensi stunting ini diharapkan menjadi landasan bersama bagi kementerian/lembaga. Kemudian dalam buku ini juga disampaikan informasi ruang fiskal dan derajat otonomi fiskal di 100 kabupaten/kota prioritas yang mengindikasikan kemampuan dan ruang pemerintah daerah dalam menangani stunting dengan menggunakan sumber APBD. 18 xxii . Selain peningkatan proporsi belanja. Informasi ini diharapkan memberi manfaat bagi pemerintah pusat dan daerah dalam mengalokasikan anggaran dan sumber daya lainnya dalam menangani stunting khususnya di 100 kabupaten/kota prioritas ini. Untuk memastikan konvergensi program/intervensi dan sinergitas upaya intervensi stunting. Ruang Fiskal daerah secara umum merupakan ketersediaan ruang dalam anggaran yang menunjukkan kemampuan pemerintah menyediakan dana untuk tujuan tertentu tanpa menciptakan permasalahan dalam kesinambungan posisi keuangan pemerintah. Belanja pendidikan juga dapat berkontribusi pada penurunan stunting. belanja urusan pendidikan. namun proporsi belanja urusan kesehatan pada 100 kabupaten/kota masih dapat ditingkatkan. Prevalensi dan jumlah kasus stunting di masing-masing kabupaten/kota juga dipresentasikan pada grafik. pemerintah daerah serta dunia usaha/masyarakat. buku ini memberikan informasi mengenai lokasi-lokasi untuk intervensi stunting di 100 kabupaten/kota prioritas. Sementara derajat otonomi fiskal menunjukan ketersediaan sumber pendapatan daerah/ lokal di luar transfer dari pemerintah pusat yang dapat dimanfaatkan untuk belanja pemerintah termasuk penanganan stunting. Selain informasi mengenai daftar 100 kabupaten/kota prioritas intervensi stunting beserta situasi stunting di masing-masing 100 kabupaten/kota tersebut. belanja urusan infrastruktur mengingat belanja pada urusan-urusan ini berdampak pada pengurangan stunting. pendidikan dan infrastruktur dasar merupakan beberapa alokasi belanja urusan daerah yang memiliki keterkaitan langsung dan berpotensi untuk mendukung upaya pengurangan stunting. Belanja yang dimaksud mencakup belanja urusan kesehatan. yang juga dapat dilakukan untuk meningkatkan efektifitas anggaran adalah memastikan bahwa intervensi diarahkan dan mensasar wilayah dan kelompok masyarakat yang membutuhkan. Dalam buku ini disajikan data dan informasi yang dapat dijadikan sebagai rujukan dan panduan kemana seharusnya intervensi untuk pengurangan stunting harus diberikan. terutama terkait dengan upaya untuk edukasi serta penyebaran informasi dan sosialisasi. Seratus kabupaten/kota ini tersebar merata di seluruh provinsi walaupun jumlah kabupaten/kota di masing-masing provinsi bervariasi. 100 KABUPATEN/KOTA PRIORITAS Intervensi anak kerdil (Stunting) memerlukan konvergensi program/intervensi dan upaya sinergis dari kementerian/lembaga. Dari informasi yang dikumpulkan dapat dilihat bahwa ruang peningkatan efektifitas intervensi dengan sumber APBD masih cukup besar. yang dibobot dengan tingkat kemiskinan provinsi (desa-kota). bagian ini juga menyajikan informasi mengenai proporsi belanja terkait urusan-urusan yang relevan bagi penanganan stunting terhadap total APBD. Tabel disamping kanan memuat daftar 100 kabupaten/kota dengan angka stunting relatif tinggi (dari sisi prevalensi atau jumlah kasus stunting). Pemilihan 100 kabupaten/kota didasarkan atas kriteria jumlah dan prevalensi balita stunting. pemerintah daerah serta dunia usaha/masyarakat untuk memfokuskan dan mensinergikan sumber daya untuk intervensi pengurangan stunting. Belanja kesehatan.

09 216 Sumber: IPKM 2013 (Kemenkes).25 90 LANGKAT 1019 55.43 32 PASAMAN 272 55.31 8127 20.57 121 INDRAMAYU 1698 36.73 69401 11. dan Publikasi Kemiskinan 2016 (BPS) 19 .28 57372 11.05 67 JAMBI KERINCI 236 55.55 76148 11.64 299 TASIKMALAYA 1741 41.16 158 LAMPUNG LAMPUNG TIMUR 1016 43.21 32473 21.24 91 MALANG 2556 27.74 5 KEPULAUAN RIAU NATUNA 75 35.33 36970 12.98 172 KEBUMEN 1188 33.49 294 JEMBER 2416 44.a 12.23 284 PURBALINGGA 905 36.82 33611 19.05 170 KARAWANG 2290 34.43 46576 20.12 29037 20.75 29880 18.83 491 SUKABUMI 2442 37.47 348 D I YOGYAKARTA KULON PROGO 416 26.26 9846 7. Susenas 2013.6 32905 142 xxiii SUMENEP 1076 52.87 80891 10.68 59838 13.06 35861 13.41 206 SAMPANG 945 41.97 265 BONDOWOSO 764 56.55 35160 16. PREVALENSI.14 8902 2.29 148764 8.47 71712 13.87 44031 14.76 95023 11.98 173 LAMPUNG TENGAH 1247 52.28 166 KEP.1 85651 8.29 29708 14.11 228 PAMEKASAN 16.54 23435 7.64 33 ACEH PIDIE 424 57. JUMLAH BALITA STUNTING DAN KEMISKINAN 100 KABUPATEN/KOTA PRIORITAS DI 100 KABUPATEN/KOTA PRIORITAS INTERVENSI (1-2) UMLAH BALITA STUNTING DAN KEMISKINAN DI 100 KABUPATEN/KOTA UTAMA INTERVENSI Prevalensi Jumlah Balita Tingkat Jumlah Penduduk Penduduk 2016 Provinsi Kabupaten/Kota Stunting 2013 Stunting 2013 Kemiskinan 2016 Miskin 2016 (ribu (ribu jiwa) (%) (jiwa) (%) jiwa) ACEH TENGAH 199 59.7 137156 7. BANGKA BELITUNG BANGKA BARAT 199 39.32 54650 14.83 9296 30.61 273 GARUT 2565 37.12 52636 13.47 20903 21.44 33196 20.71 192 CILACAP 1702 36.28 50780 14.98 240 JAWA TIMUR NGANJUK 1045 44.53 160 JAWA TENGAH KLATEN 1162 31.17 40790 16.48 18 SUMATERA SELATAN OGANKOMERING ILIR 796 40.58 3 BOGOR 5555 28.49 49138 17.12 240 BANYUMAS 1647 33.65 21 SUMATERA BARAT PASAMAN BARAT 416 51.57 184 BLORA 855 55.62 261 BANDUNG 3581 40.59 144 CIREBON 2139 42.58 227 BREBES 1787 43.40 31 RIAU ROKAN HULU 610 59.84* n.62 69201 19.01 42971 16.38 29159 15.63 19553 13.08 37970 10.1 80359 10.71 5845 22.25 128 LAMONGAN 1188 48.47 55360 11.46 35371 24.86 18239 8.89 177 BANGKALAN 961 43.70 852 44.48 54961 11.83 100964 11.33 3 DKI JAKARTA KEPULAUAN SERIBU 24 19.13 199 CIANJUR 2249 41.33 114 DEMAK 1126 50.28 57370 17.46 168 GROBOGAN 1357 54.30 84 TRENGGALEK 691 38.69 23 SUMATERA UTARA NIAS UTARA 135 54.01 42142 11.03 128 BENGKULU KAUR 117 50.36 116 PADANG LAWAS 262 54.92 42 GUNUNGSITOLI 137 52.00 115 PROBOLINGGO 1146 49.10 159 PEMALANG 1292 46.86 236 WONOSOBO 780 41.32 8618 23.24 196 JAWA BARAT KUNINGAN 1060 42 36672 13.36 26 LAMPUNG SELATAN 980 43.07 231 BANDUNG BARAT 1644 52.2 15025 7.95 237 SUBANG 1542 40.97 62847 13.19 3122 4.49 288 SUMEDANG 1141 41.25 13237 16.

99 53 BANDUNG 3581 40.37 5691 21.12 6143 31.58 227 LANNY JAYA 173 60.05 170 GORONTALO 373 42.84 6362 7.47 71712 13. BANGKA BELITUNG BANGKA BARAT 199 39.21 71 SUMBAWA 444 50.62 69201 19.55 5376 38.67 5 MALUKU UTARA HALMAHERA SELATAN 221 50.55 35160 16.79 49092 15.55 25 MANGGARAI 323 58.83 491 KALIMANTAN BARAT KETAPANG 483 34.08 37970 10.80 145 PADANG LAWAS 262 54. 100 KABUPATEN/KOTA PRIORITAS PREVALENSI.92 18277 27.16 158 MANGGARAI 323 58.97 265 BONDOWOSO 764 56.11 32 SULAWESI SELATAN ENREKANG 201 53.26 9846 7.54 23435 7.46 35371 24.48 54961 11.29 571 36.92 42 LOMBOK UTARA 214 65.46 216 LOMBOK BARAT 663 46.69 20 ALOR 201 55.50 73 LEMBATA 134 55.2 15025 7.62 14824 21.48 17 MAJENE 166 58.24 91 DOGIYAI 93 66.48 17 KEBUMEN 1188 33.98 172 SERAM BAGIAN BARAT 170 59.47 55360 11.31 15801 31.28 166 SUMBA TENGAH 69 63.86 11193 26.84 6362 7.34 36 RIAU ROKAN HULU 610 59.89 6368 41.34 36 DOMPU 241 47.67 116 ACEH TENGAH 199 59.44 22 PIDIE 424 57.47 37 D I YOGYAKARTA PAPUA KULON PROGO 416 26.94 11486 24.73 21 LANNY JAYA 173 60.83 15881 10.76 15 KALIMANTAN BARAT KETAPANG 483 34.97 62847 13.77 13451 33.47 37 JAYAWIJAYA 209 49.28 50780 14.73 111 BANTEN PANDEGLANG 1199 38.41 27 SULAWESI UTARA 77 56.37 5691 21.25 13237 16.13 199 KALIMANTAN TENGAH BARITO TIMUR 116 54.49 8967 32.63 19553 13.53 160 SORONG SELATAN 44 60.55 76148 11.61 273 KALIMANTAN TIMUR PENAJAM PASER UTARA 156 34.14 10648 12.75 29880 18.35 9033 29.44 29 CIANJUR 2249 41.26 22241 6.22 26809 30.43 38773 29.63 5965 7.33 114 TOLIKARA 135 52.62 261 KALIMANTAN SELATAN HULU SUNGAI UTARA 227 56.06 35861 13.71 192 SULAWESI BARAT POLEWALI MANDAR 428 48.57 46775 9.39 11728 9.14 8902 2.83 100964 11.61 5765 36.88 11329 39.49 12 JAWA BARAT KUNINGAN 1060 42 36672 13.50 45 MAMUJU 270 47.3 22147 16.99 (%) (jiwa) (%) jiwa) LOMBOK BARAT 663 46.57 184 JAYAWIJAYA 209 49.73 69401 11.66 3212 9.00 115 Sumber: IPKM 2013 (Kemenkes).89 25 BOALEMO 153 39.38 29159 15.07 59 SUMBA TIMUR 249 51.86 18239 8.89 25 BANYUMAS 1647 33.77 13451 33.66 13058 22.38 7 KALIMANTAN TIMUR PENAJAM UTARA PASER UTARA 156 34.89 28533 16.43 78 LOMBOK UTARA 214 65.19 3122 4.3 22147 16.77 54051 18.21 71 PASAMAN BARAT 416 51.17 40790 16.63 5965 7.73 12384 13.33 3 MANGGARAI TIMUR 276 58.29 571 36.7 3541 19.44 Miskin 2016 22 (ribu (ribu499 jiwa) 40.66 3212 9.73 21 JEMBER 2416 44.83 9296 30.65 21 SUMATERA BARAT SUMBA TIMUR 249 51.89 177 BANGKALAN 961 43.63 99 ROTE NDAO 152 55.12 29037 20.27 3027 7.25 90 LOMBOK TIMUR 1171 43.36 116 SUMBAWA 444 50.71 5845 22.95 237 BOALEMO 153 39.78 10741 14.26 35 LAMPUNG LAMPUNG TIMUR 1016 43.55 25 DKI JAKARTA KEPULAUAN SERIBU 24 19. Susenas 2013.82 33611 19.12 6143 31.15 16977 21.49 8967 32.87 80891 10.01 6739 33.43 32 SUMBA BARAT 123 55.58 3 SABU RAIJUA 88 62.83 15881 10.6 13083 4.59 144 SULAWESI TENGAH BANGGAI 359 35.67 5 DEMAK 1126 50.07 231 MAJENE 166 58.49 294 INTAN JAYA 47 68.6 13083 4.01 42142 11.23 34 LOMBOK TIMUR 1171 43.28 57372 11.71 76 SUKABUMI 2442 37.63 99 BOGOR 5555 28.12 72 LOMBOK TENGAH 920 47.25 128 20 xxiv LAMONGAN 1188 48.64 299 KALIMANTAN UTARA MALINAU 80 40.21 29 NDUGA 95 56.26 35 TIMOR TENGAH UTARA 247 39.84* n.48 21151 17.50 45 PAPUA JAWA BARAT TENGAH KLATEN 1162 31.46 216 NUSA TENGGARA BARAT NIAS UTARA 135 54.86 236 MALUKU UTARA HALMAHERA SELATAN 221 50.38 9472 29.10 159 NDUGA 95 56.61 5765 36.92 9 PAPUA BARAT BLORA 855 55.80 145 BALI GIANYAR 499 40.12 72 GUNUNGSITOLI 137 52.68 72 TOLIKARA 135 52. dan Publikasi Kemiskinan 2016 (BPS) PROBOLINGGO 1146 49.68 80 POLEWALI MANDAR 428 48.1 80359 10.43 78 JAMBI KERINCI 236 55.03 78 CILACAP 1702 36. JUMLAH BALITA PRIORITAS ITA STUNTING DAN KEMISKINAN DI 100 KABUPATEN/KOTA UTAMA INTERVENSI INTERVENSI STUNTING (1-2) DAN KEMISKINAN DI 100 KABUPATEN/KOTA PRIORITAS INTERVENSI (2-2) BANTEN PANDEGLANG 1199 Penduduk 2016 38.48 18 ALOR 201 55.15 6 KALIMANTAN SELATAN HULU SUNGAI UTARA 227 56.55 5376 38.28 57370 17.06 73 GORONTALO 373 42.07 59 BENGKULU KAUR 117 50.62 10885 14.87 44031 14.69 23 SUMATERA UTARA DOMPU 241 47.68 59838 13.68 80 MALUKU WONOSOBO 780 41.79 49092 15.21 32473 21.64 33 ACEH LOMBOK TENGAH 920 47.08 7715 26.26 22241 6.43 46576 20.71 76 SUMBA TENGAH 69 63.73 12384 13.64 9 GARUT 2565 37.78 22212 22.49 49138 17.66 13058 22.50 73 KEP.41 27 GORONTALO SUBANG 1542 40.35 45 LAMPUNG SELATAN 980 43.60 45 KEPULAUAN RIAU NATUNA 75 35.47 20903 21.11 9 MALUKU TENGAH 370 42.41 206 xxiv SAMPANG 945 41.88 11329 39.03 128 LEMBATA 134 55.03 78 SULAWESI TENGGARA BUTON 267 49.24 196 SULAWESI UTARA 77 56.89 28533 16.77 54051 18.63 45 BREBES 1787 43.67 116 Jumlah Penduduk Provinsi BALI Kabupaten/Kota GIANYAR Stunting 2013 Stunting 161892013 Kemiskinan 20164.61 16939 13.a 12.44 29 SUMBA BARAT DAYA 324 61.89 6368 41.7 3541 19.32 54650 14.66 83 PAPUA PEMALANG 1292 46.11 228 .68 72 TRENGGALEK 691 38.76 95023 11.92 18277 27.99 16189 4.11 9 GROBOGAN 1357 54.98 240 JAWA TIMUR NGANJUK 1045 44.30 84 INTAN JAYA 47 68.38 7 UTARA SUMEDANG 1141 41.66 83 SORONG SELATAN 44 60.78 22212 22.86 11193 26.06 73 MALUKU PURBALINGGA 905 36.23 34 PASAMAN 272 55.39 11728 9.01 6739 33.74 5 SUMBA BARAT DAYA 324 61.01 42971 16.99 53 MANGGARAI TIMUR 276 58.22 26809 30.53 36 SULAWESI TENGAH BANGGAI 359 35.43 38773 29.48 21151 17.47 34 INDRAMAYU 1698 36.40 31 TIMOR TENGAH SELATAN 463 70.1 85651 8.14 10648 12.47 34 KALIMANTAN UTARA MALINAU 80 40.49 288 SULAWESI SELATAN BOLAANG ENREKANGMONGONDOW 201 53.60 45 156 62.89 138 SUMATERA SELATAN OGANKOMERING ILIR 796 40.73 111 NUSA TENGGARA BARAT LANGKAT 1019 55.46 168 TAMBRAUW 14 59.38 9472 29.49 12 KALIMANTAN TENGAH BARITO TIMUR 116 54.12 240 MAMUJU 270 47.27 3027 7.08 7715 26.03 12176 6.36 26 NUSA TENGGARA TIMUR NGADA 156 62.31 15801 31.29 29708 14.62 14824 21.95 3704 43.35 45 TIMOR TENGAH SELATAN 463 70.33 36970 12.57 Prevalensi 46775 Jumlah Balita Tingkat 9.05 67 TIMOR TENGAH UTARA 247 39.98 173 ROTE NDAO NUSA TENGGARA TIMUR NGADA 152 55.15 16977 21.7 137156 7.62 10885 14.95 3704 43.32 8618 23.23 284 SULAWESI BARAT MALUKU TENGAH 370 42.53 36 KARAWANG 2290 34.69 20 LAMPUNG TENGAH 1247 52.57 121 SULAWESI TENGGARA BUTON 267 49.12 52636 13.35 9033 29.92 9 SERAM BAGIAN BARAT 170 59.61 16939 13.89 138 SUMBA BARAT 123 55.76 15 TASIKMALAYA BOLAANG MONGONDOW 1741 41.78 10741 14.15 6 CIREBON 2139 42.29 148764 8.11 32 GORONTALO BANDUNG BARAT 1644 52.21 29 MALANG 2556 27.64 9 SABU RAIJUA 88 62.03 12176 6. JUMLAH BALITA STUNTING DAN KEMISKINAN 100 KABUPATEN/KOTA PRIORITAS PREVALENSI.31 8127 20. JUMLAH BALITA STUNTING DAN KEMISKINAN DI 100 KABUPATEN/KOTA PRIORITAS INTERVENSI (2-2) 100 KABUPATEN/KOTA PRIORITAS DI 100 KABUPATEN/KOTA PREVALENSI.94 11486 24.47 348 DOGIYAI 93 66.63 45 TAMBRAUW 14 59.

2014.Kemenkes diolah Prevalensi Balita Stunting di 100 Kabupaten/Kota Prioritas (2-2) Sumber: IPKM Sumber: Podes2013. 2014.Kemenkes diolah xxv 21 . 100 KABUPATEN/KOTA PRIORITAS Prevalensi Balita Stunting di 100 Kabupaten/Kota Prioritas (1-2) Sumber: IPKM Sumber: Podes2013.

diolah IPKM 2013 (Kemenkes) dan Susenas 2013 (BPS) Jumlah Balita Stunting di 100 Kabupaten/Kota Prioritas (2-2) Sumber: Sumber:Diolah Podesdari IPKM 2014. 2013 (Kemenkes) dan Susenas 2013 (BPS) diolah 22 xxvi . 100 KABUPATEN/KOTA PRIORITAS Jumlah Balita Stunting di 100 Kabupaten/Kota Prioritas (1-2) PROPORS Sumber:Diolah Sumber: Podesdari 2014.

74 10 5. Lampung Timur. 100 KABUPATEN/KOTA PRIORITAS PROPORSI BELANJA APBD DI 100 KABUPATEN/KOTA PRIORITAS INTERVENSI (1-2) SI BELANJA APBD DI 100 KABUPATEN/KOTA UTAMA UNTUK INTERVENSI Proporsi Belanja Proporsi Belanja Proporsi Belanja APBD Fungsi Ruang Derajat APBD Fungsi APBD Fungsi Provinsi Kabupaten/Kota Perumahan dan Fiskal 2015 Otonomi Fiskal Kesehatan 2015 Pendidikan 2015 Fasilitas Umum 2015 (%) 2015 (%) (%) (%) (%) ACEH TENGAH 17.08 69.24 9.39 20.96 12.45 17. Sumba Tengah. Kab.21 27.24 6.52 10.9 CILACAP 11.3 13.55 PEMALANG 12. Garut.74 9.9 8.6 17.91 13.92 CIANJUR 15.28 19.1 44.07 15.17 45. Kab.96 48.19 40.42 15.38 12.57 INDRAMAYU 15.89 30.82 22.16 18.67 45.29 33. Kaur.98 26.05 42.79 10.24 DEMAK 10.69 11.43 25.35 20. Kab.12 40.68 GARUT 12. Kab.87 28.05 25.98 23.6 12.1 20.56 16.22 CIREBON 17.8 13.42 17.86 PAMEKASAN 13.58 SUMATERA UTARA GUNUNGSITOLI 6.11 JAMBI KERINCI 10.86 8.04 KEP.55 24. Mamuju. Kab.8 BREBES 15.47 24 7.95 17.63 12.87 7.39 LAMPUNG TIMUR 8.27 JAWA TIMUR NGANJUK 14.75 SUMEDANG 14.52 11.35 13.57 15.47 LAMONGAN 23.5 30.56 JEMBER 16.06 37.94 MALANG 9. Grobogan.95 7.37 12.6 41.89 49.44 14.06 21.43 LAMPUNG LAMPUNG TENGAH 5.53 SUBANG 11.83 42.95 12.02 SUMENEP 11.82 52.3 11. Kab.26 42.9 8.87 46.34 22.68 40.91 38.54 28.71 11. Kab.68 6.44 6.94 30.71 11. xxvii 23 .34 10. Kab.48 RIAU ROKAN HULU 9.31 48.53 11.89 8.83 8.82 36.92 16. Kep.82 28.46 26.17 46.68 10.66 54. Kab.16 14.23 13.99 5.72 8.67 6.24 4.33 32.14 13.39 44.26 10.05 25.54 23.97 8.96 18.16 46.46 SUMATERA SELATAN OGANKOMERING ILIR 10.56 47.58 BANDUNG BARAT 8.04 20.98 11.22 37. Tasikmalaya.38 20.16 7.32 24.56 SAMPANG 12.27 40.58 17.63 18.98 GROBOGAN 13.14 43. Kab.63 7.55 PURBALINGGA 13.09 25.74 61.03 17.66 38.27 23.07 6.12 TRENGGALEK 11.42 29. Timor Tengah Utara.79 31.82 5.85 17.06 38.31 KARAWANG 13.38 30.75 BONDOWOSO 12. Kab.98 BANDUNG 14.08 18. Banggai. Kab.39 65.98 47.19 31 16.55 3.04 7.13 BOGOR 17.25 23.46 25.92 48.19 12.56 12.84 47.89 51.45 BANGKALAN 16.83 36.99 14.71 46.27 ACEH PIDIE 21.91 KEPULAUAN RIAU NATUNA 7.25 14. Malinau.91 31.95 38.58 10.2 PASAMAN 13. BANGKA BELITUNG BANGKA BARAT 13.4 39.57 37.28 KEBUMEN 12.62 14.45 7.59 8. Kab.11 15.87 15.27 4.81 BANYUMAS 16.74 22.42 30.26 10.53 20.68 9.67 SUKABUMI 15.84 29. Kab. Seribu.57 48.36 14.53 13.34 JAWA BARAT KUNINGAN 13.52 DKI JAKARTA KEPULAUAN SERIBU 9.96 27.59 43.44 LAMPUNG SELATAN 9.03 PADANG LAWAS 9.05 10. Sumenep.09 18.98 13. Buton.83 21.93 6.22 14.34 18.46 43.99 38.6 12.81 11.12 8.68 43.96 20.54 13.94 2.04 47.05 53.79 WONOSOBO 14.77 JAWA TENGAH KLATEN 10.71 9.74 16.22 5.27 39.42 13.3 D I YOGYAKARTA KULON PROGO 16.67 8.22 46. Barito Timur.17 40. Majene.66 BENGKULU KAUR 8.15 NIAS UTARA 8.75 PROBOLINGGO 12.37 51.83 BLORA 10.2 15.63 7.69 38.86 26. dan Kab.57 10.91 15.53 17.08 35.65 48.04 14.29 7.99 12.42 8.13 10.48 17.21 LANGKAT 11.08 30.52 12.77 26.73 39.14 TASIKMALAYA 6.98 18.06 Sumber: Diolah dari Kementerian Keuangan RI Keterangan: 16 wilayah menggunakan data 2014: Kab.93 SUMATERA BARAT PASAMAN BARAT 10.39 9. Enduga.

15 71.47 41.89 16.89 24.43.48 17.36 38.05 45.61 15.87 51.22 44. BANGKALAN 16.8 INTAN JAYA 6.92 31.36 7.98 33.61 27.09 40.24 48.06 37.77 28.74 37.81 16.45 27.77 47.71 9.19 9.63 8.46 13.94 25.38 4.24 9.58 4.11 DKI JAKARTA SUMBA TENGAH KEPULAUAN SERIBU 9.88 JAWA BARAT KALIMANTAN TIMUR PENAJAM KUNINGANPASER UTARA 9.95 SULAWESI TENGAH BANGGAI INDRAMAYU 9.22 8.19 6.3 42.23 41.43 5.34 8.14 40.5 20.34 8.98 KALIMANTAN UTARA MALINAU BOLAANG MONGONDOW 6.99 25.26 12.95 27.69 20.24 5.28 18.59 11.2 9.17 41.53 0.22 38.85 dan Fasilitas Umum 2015 10.94 6.24 11.31 SULAWESI BARAT POLEWALI MANDAR 14.33 23.75 BONDOWOSO 12.79 12.96 20.23 8.34 22.33 39.53 26.44 ROTE NDAO 11.87 47.27 8.6 38.56 INTAN JEMBERJAYA 6.69 5.1 20.94 8.8 46.3 D I YOGYAKARTA NDUGA KULON PROGO 6.91 33.89 29.48 10.24 11.21 9.59 4.75 16.42 20.78 7.17 35.15 7.62 14.28 47.99 20.14 0.93 BALI ACEH GIANYAR PIDIE 12.54 17.02 25.68 5.24 NUSA TENGGARA LAMPUNG TIMUR NGADALAMPUNG TENGAH 11.47 8.75 12.87 13.21 31.14 26.37 12.24 9.85 11.42 5.73 SUMATERA UTARA SUMBAWA GUNUNGSITOLI 11.39 SULAWESI TENGGARA BUTON KARAWANG 6.28 46.87 15.25 14.66 13.6 21.25 16.24 41.46 NUSA TENGGARA TIMUR NGADA 11.79 21.26 24.9 38.8 27.87 10.99 10.71 14.48 14.2 16.67 15.91 SABU RAIJUA 7.69 11.28 SORONG SELATAN 9.93 9.2 TIMOR TENGAH SELATAN 10.52 3.54 44.04 8.79 24 12.56 RIAU SUMBA BARAT ROKAN HULU 10.56 Kab.55 4.79 15.13 KALIMANTAN TENGAH BARITO TIMUR 9.28 26.24 4.38 9.06 17.96 LOMBOK TENGAH PADANG LAWAS 13.46 9. 12.12 13.59 23.38 25.81 Proporsi 38.65 30.01 2.63 7.55 7.2 BANTEN PANDEGLANG ACEH TENGAH 11.82 15.68 40.74 22.87 30.12 2.24 15.12 9.04 7.21 2.26 9.88 48.84 45.15 15.89 30.11 0.57 8.67 61.29 24.38 23.07 0.63 0.79 36.22 KEPULAUAN RIAU ROTE NATUNANDAO 11.42 15.75 21.89 13. 23.89 10.95 11.94 5.8 13.57 GORONTALO GORONTALO 13.96 18.99 0.65 18.36 28.13 10.21 21.91 16.24 4.86 6.21 10.82 46.16 22.08 28.76 6.19 44.71 13.9 19.63 MALUKU UTARA HALMAHERA GROBOGAN SELATAN 9.53 4.53 43.64 31.99 32.39 Kab.7 3.47 MAMUJU KEBUMEN 10.21 36.99 19.63 4.36 7.51 13.96 38.67 6.7 49.34 30.23 12.28 24.26 13.68 27.51 27.53 24.75 14.68 Kab.11 18.53 24.95 10. 17.02 17. Timor Tengah Utara.56 43.92 24.47 6.87 5.71 14.96 12.43 SUMATERA SELATAN TIMOR TENGAH SELATAN OGANKOMERING ILIR 10.4 36.19 43.6 23.6 42.22 5.51 38.66 LOMBOK LANGKATBARAT 11.58 12.06 KALIMANTAN UTARA MALINAU CIREBON MONGONDOW BOLAANG 6.24 7.97 6. Kab.13 16.63 19.23 40.78 12.44 8.87 34.82 19.28 17.68 13.11 4.31 10.22 14.42 LEMBATA LAMPUNG TIMUR 9.46 9.68 35. Kab.99 11.12 11.96 10.95 20.31 JAYAWIJAYA PEMALANG 9.52 KALIMANTAN BARAT KETAPANG 8.94 33.29 35.81 37.13 KALIMANTAN TENGAH BARITO GARUT TIMUR 9.42 61.4 37.19 58.47 18.77 9.86 46.75 45.25 46. 18.27 Keterangan: JAWA16TIMUR wilayah menggunakan NGANJUK data 2014: Kab.12 33.53 18.24 LANNY JAYA 7.35 21.75 52.77 38.46 46.2 5.26 48.56 5.42 2.04 MANGGARAI TIMUR 10.24 16.54 8.42 13.83 36.88 14.75 Sumber: Diolah dari Kementerian Keuangan RI PROBOLINGGO 12.22 25.17 9.37 Sumba Tengah.74 65.54 28.26 42.56 30.58 6.7 JAMBI SUMBA KERINCITIMUR 13.13 22.4 8.63 14.54 28.22 7.1 14.74 16.59 20.99 30.32 SULAWESI UTARA UTARA SUMEDANG 11. Tasikmalaya.22 5.33 17. Enduga.38 Fiskal 2015 Otonomi 22.71 41.7 15.79 13.38 9.81 29.87 19.12. Mamuju.71 18.58 46.73 A LOR LAMPUNG SELATAN 11. 20.54 MALUKU WONOSOBO TENGAH 10.16 24.3 9.24 SUMBA BOGOR BARAT DAYA 12.83 47.36 10.22 13.5 32.21 13. Lampung Timur.6 11.6 20.77 0.48 3.24 9. Barito Timur.27 16.11 15.19 31 0.66 6.17 40.28 14.68 15.24 7.83 23.55 MALUKU UTARA HALMAHERA SELATAN 9.3 14.53 21.32 13.25 10.89 KALIMANTAN BARAT KETAPANG BANDUNG 8.68 15.96 13.24 31.86 PAMEKASAN 13.89 45.05 7.49 TOLIKARA BREBES 4.32 7.82 19.39 SUMBA TENGAH 9.77 Ruang 23.21 40.09 27.4 13.16 9.86 15.48 ALOR 11.73 4.73 6.12.61 10. Kab.42 46.05 17.23 18.9 5.84 5.03 BOALEMO BANDUNG BARAT 13.57 13.19 0.35 13.05 30.48 8.47 LOMBOK TIMUR NIAS UTARA 11.26 19.23 15.22 SULAWESI TENGGARA BUTON 6.56 5.24 32.81 48.1 12.46 33.07 8.16 19.28 2.08 24.68 7.98 13.09 17.82 23.26 13.77 17.24 25.19 15.37 23.17 25.36 6.53 14.24Fiskal 2015 (%) 8.42 10.67 21.6 35.77 (%) 13.91 8.98 17.32 24.01 40.57 22.66 PRIORITAS INTERVENSI Provinsi Kabupaten/Kota LOMBOK BARAT LOMBOK TENGAH (2-2) 11.97 35.86 8.63 10.15 SUMBA BARAT 10.32 MAJENE BANYUMAS 9.75 BOALEMO 13.4 24.94 52 0.48 30.9 JAWA TENGAH SERAM KLATENBAGIAN BARAT 7.73 39.77 52 26.82 9.29 0.74 4.43 SUMBA BARAT DAYA 12.53 MAJENE 9.66 MANGGARAI 13.52 8.31 37.68 8.45 5. BANGKA BELITUNG MANGGARAI BANGKA BARAT 13.49 13.71 46.5 47.03 NUSA TENGGARA BARAT LOMBOK UTARA 10.27 40.95 29.95 15.43 35.49 16.85 42.38 12.99 38.63 BENGKULU TIMOR K A U RTENGAH UTARA 9.22 27.77 MALUKU JAYAWIJAYA 9.27 30.13 7.91 6.56 14. Kab.7 21.97 5. Majene.88 41.26 53. Malinau.28 15.39 14.47 8.74 33.89 15.69 11.21 14.34 SULAWESI SELATAN ENREKANG 11.69 KALIMANTAN SELATAN HULU SUNGAI UTARA TASIKMALAYA 12.39 8.42 27.83 12.24 13.09 Proporsi Belanja 12.69 30.22 MANGGARAI SUKABUMI TIMUR 10.75 11.6 10.51 39.74 4.09 30.58 23.52 21.35 32.08 41.08 35.77 20.06 61.2 15.38 20.43 Proporsi Belanja Fungsi 9.9 35.39 12.43 11.85 30.48 40.95 Kab.04 20.77 7.37 17.4 11.88 14.13 4.42 28.27 SUMBAWA 11.98 38.04 23.33 4.56 8.7 27.76 (%) LOMBOK TIMUR 11.26 10.4 31.74 14.83 7.39 30.19 8. SAMPANG 12.94 30.24 35.54 13.39 41.61 12.67 9.86 26.56 13.42 33.58 MAMUJU 10.13 52.34 4.21 18. Grobogan.83 NDUGA 6.12 PAPUA LANNY JAYA TRENGGALEK 7.39 43.6 17.45 9.39 33.21 DOMPU 11.61 42.02 SUMENEP 11.04 40. Garut.59 8.93 6.47 12.81 SERAM BAGIAN BARAT 7.58 SUMBA TIMUR 13.57 26.98 26.95 7.34 (%) 47.6 45.68 SULAWESI UTARA UTARA 11.84 12. Kab.49 29.26 18.84 14.49 5.55 DOGIYAI 8.88 11.47 Sumenep.59 69.45 Kab.46 31.26 3.21 2.06 27.3 14.26 6.83 7.89 SABU RAIJUA CIANJUR 7.21 13.56 21.66 38.96 45.68 PAPUA SORONG BLORA SELATAN 9.82 SULAWESI SELATAN ENREKANG SUBANG 11.87 7.65 27.98 5.1 21.61 9. Seribu.79 37. Kab.24 38.67 KALIMANTAN SELATAN HULU SUNGAI UTARA 12.79 PAPUA BARAT TAMBRAUW 4.24 7.83 41.54 5.46 51.03 8.68 5.9 MALUKU TENGAH 10.47 23.26 3.95 9.6 27.75 42.6Banggai.29.09 MALUKU GORONTALO GORONTALO CILACAP 13.9 35.86 11.36 26.12 17.49 40.6 24.96 7.29 43.53 13. 100 KABUPATEN/KOTA PRIORITAS 100 KABUPATEN/KOTA PRIORITAS PROPORSI BELANJA APBD DI 100 KABUPATEN/KOTA 100 KABUPATEN/KOTA PRIORITAS BELANJA APBD PRIORITAS DI 100 KABUPATEN/KOTA INTERVENSI (1-2) UTAMA UNTUK INTERVENSI (2-2) PROPORSI BANTEN BALI BELANJA PANDEGLANG GIANYAR APBD DI 100 11.88 11.93 TIMOR TENGAH UTARA 9.53 13.79 16.26 NUSA TENGGARA SUMATERA BARAT LOMBOK BARAT PASAMANUTARA BARAT 10.9 71.55 46.04 2.84 21.53 17.11 LEMBATA 9.91 4.74 39.61 47.88 39.16 36.78 8.99 13.94 DOGIYAI MALANG 8.95 SULAWESI BARAT POLEWALI PURBALINGGAMANDAR 14.41 47.15 KEP. Kab.55 PAPUA BARAT TAMBRAUW DEMAK 4.6 35.06 12.57 0.57 17. Kep.9 10.81 11.21 13.71 31.06 24 xxviii xxvii .54 APBD Fungsi KABUPATEN/KOTA 46.34 52.94 16.54 21.35 5.54 24.63 34.24 38.86 10.38 32.98 TOLIKARA 4.44 9.86 12.09 12.17 24.34 9.83 Derajat 27.13 13.66 38.98 50.91 22.06 33.17 15.85 Perumahan 9.22 DOMPU PASAMAN 11.58 7.26 2.9 APBD Belanja Fungsi APBD 12.78 25.63 12.68 10 5.56 dan Kab. LAMONGAN Kab.13 11.45 36.83 15.86 50.71 12.14 9.41 Kesehatan 2015 Pendidikan 2015 (%) 13.64 19.86 58.56 23.83 37. Buton.82 25.51 16.33 44.92 KALIMANTAN TIMUR PENAJAM PASER UTARA 9.71 42.41 54.23 2.26 17. Kaur.39 9.82 10.99 28.63 14.81 9.51 12.14 SULAWESI TENGAH BANGGAI 9.34 48.98 29.9 5.72 13.05 31.95 18.16 18.61 14.84Kab.03 17.09 10.22 13.99 16.41 10.

Pendataan diolah Potensi Desa (Podes) 2014. BPS Jumlah Fasilitas Kesehatan di 100 Kabupaten/Kota Prioritas (2-4) Sumber: Diolah Sumber: Podes dari 2014.Pendataan diolah Potensi Desa (Podes) 2014. 100 KABUPATEN/KOTA PRIORITAS Jumlah Fasilitas Kesehatan di 100 Kabupaten/Kota Prioritas (1-4) Sumber: Sumber: Diolah Podes dari 2014. BPS xxix 25 .

100 KABUPATEN/KOTA PRIORITAS Jumlah Fasilitas Kesehatan di 100 Kabupaten/Kota Prioritas (3-4) Sumber: Diolah Sumber: Podes dari 2014.Pendataan diolah Potensi Desa (Podes) 2014. BPS Jumlah Fasilitas Kesehatan di 100 Kabupaten/Kota Prioritas (4-4) Sumber: Diolah Sumber: Podes dari 2014. BPS 26 xxx .Pendataan diolah Potensi Desa (Podes) 2014.

Pendataan diolah Potensi Desa (Podes) 2014. 100 KABUPATEN/KOTA PRIORITAS Jumlah Puskesmas di 100 Kabupaten/Kota Prioritas (1-2) Sumber: Diolah Sumber: Podes dari 2014. BPS Jumlah Puskesmas di 100 Kabupaten/Kota Prioritas (2-2) Sumber: Diolah Sumber: Podes dari 2014.Pendataan diolah Potensi Desa (Podes) 2014. BPS xxxi 27 .

BPS 28 xxxii . 100 KABUPATEN/KOTA PRIORITAS Jumlah Posyandu di 100 Kabupaten/Kota Prioritas (1-2) Sumber: Diolah Sumber: Podes dari 2014. BPS Jumlah Posyandu di 100 Kabupaten/Kota Prioritas (2-2) Sumber: Diolah Sumber: Podes dari 2014.Pendataan diolah Potensi Desa (Podes) 2014.Pendataan diolah Potensi Desa (Podes) 2014.

Diperlukan fasilitas kesehatan tingkat pertama dan tenaga kesehatan yang memadai untuk dapat secara efektif berkontribusi pada penurunan stunting. bidan. tanpa akses ke fasilitas tempat buang air besar. promotif dan preventif kepada masyarakat di wilayah kerjanya. dimana satu dokter melayani 38. Pustu. Beberapa kegiatannya termasuk memberikan imunisasi kepada balita. Idealnya.500 penduduk . dan balita di tingkat kelurahan/desa. Keseluruhan informasi dan data pada level kabupaten/kota. sebagai contoh di Kabupaten Manggarai Timur. jumlah rumah tangga 40% terbawah tanpa akses ke sumber air minum bersih. Puskesmas merupakan fasilitas kesehatan yang menyelenggarakan upaya kesehatan tingkat pertama. dan tempat pembuangan akhir tinja. dan lainnya). buku ini juga menyajikan kondisi rumah tangga pada kelompok 40% kesejahteraan terbawah khususnya yang mempengaruhi stunting. proporsi kecamatan dengan dokter cukup adalah 1 dokter per 2. Posyandu. Proporsi desa dengan bidan dikatakan cukup jika 1 bidan tersedia untuk 1. desa dan rumah tangga ini tentunya akan sangat bermanfaat memastikan efektifitas alokasi anggaran dan ketepatan sasaran intervensi. dan penimbangan berat badan secara berkala. jika informasi dan data ini dimanfaatkan sebagaimana mestinya. dan lain-lain).345 penduduk. Idealnya puskesmas memiliki sedikitnya satu bidan yang salah satu tugasnya memberikan pelayanan pemeriksaan berkala kepada ibu hamil. 1 Sumber: IPKM 2013. Harapannya.000 penduduk. buku ini juga menyajikan data dan informasi terkait fasilitas/layanan dasar yang terkait dengan penurunan stunting: jumlah fasilitas kesehatan (Puskesmas. Posyandu juga berperan dalam memberikan pelayanan kesehatan bagi ibu. ibu menyusui. Praktek Dokter. Informasi mengenai kondisi rumah tangga pada kelompok 40% kesejahteraan terbawah khususnya yang berada di 100 kabupaten/kota prioritas intervensi stunting diperoleh dari Basis Data Terpadu (BDT). bayi.500. 100 KABUPATEN/KOTA PRIORITAS Di samping informasi yang relevan terkait anggaran di APBD di 100 kabupaten/kota prioritas. Bidan. Informasi terkait stunting dari kelompok rumah tangga tersebut mencakup akses pada yang tidak mempunyai akses terhadap sumber air minum. fasilitas tempat buang air besar. penurunan angka stunting secara signifikan akan bisa dicapai dalam jangka waktu yang tidak terlalu lama. dan tanpa akses ke tempat pembuangan akhir tinja. jumlah petugas kesehatan (dokter. Terkait perbandingan jumlah bidan dan jumlah desa dalam satu kabupaten/kota dikatakan baik jika minimal ada 3 bidan di setiap desa. Kemenkes xxxiii 29 . dan balita. pengukuran tinggi badan.1 Selain informasi jumlah fasilitas dan layanan kesehatan. Secara umum di 100 Kabupaten/Kota untuk wilayah intervensi penanganan stunting. rasio jumlah penduduk untuk setiap dokter belum memenuhi rasio ideal 1: 2.

Pendataan diolah Potensi Desa (Podes) 2014. 100 KABUPATEN/KOTA PRIORITAS Jumlah Petugas Kesehatan di 100 Kabupaten/Kota Prioritas (1-4) Sumber: Diolah Sumber: Podes dari 2014. diolah dari Pendataan Potensi Desa (Podes) 2014. BPS Jumlah Petugas Kesehatan di 100 Kabupaten/Kota Prioritas (2-4) Sumber: Sumber:Podes Diolah2014. BPS 30 xxxiv .

100 KABUPATEN/KOTA PRIORITAS Jumlah Petugas Kesehatan di 100 Kabupaten/Kota Prioritas (3-4) Sumber: Diolah Sumber: Podes dari 2014.Pendataan diolah Potensi Desa (Podes) 2014. BPS xxxv 31 . BPS Jumlah Petugas Kesehatan di 100 Kabupaten/Kota Prioritas (4-4) Sumber: Diolah Sumber: Podes dari 2014.Pendataan diolah Potensi Desa (Podes) 2014.

BPS 32 xxxvi . BPS Jumlah Dokter di 100 Kabupaten/Kota Prioritas (2-2) Sumber:Diolah Sumber: Podes dari 2014. diolah Pendataan Potensi Desa (Podes) 2014. diolah Pendataan Potensi Desa (Podes) 2014. 100 KABUPATEN/KOTA PRIORITAS Jumlah Dokter di 100 Kabupaten/Kota Prioritas (1-2) Sumber:Diolah Sumber: Podesdari 2014.

BPS Jumlah Bidan di 100 Kabupaten/Kota Prioritas (2-2) Sumber: Diolah Sumber: Podes dari 2014. BPS xxxvii 33 .Pendataan diolah Potensi Desa (Podes) 2014.Pendataan diolah Potensi Desa (Podes) 2014. 100 KABUPATEN/KOTA PRIORITAS Jumlah Bidan di 100 Kabupaten/Kota Prioritas (1-2) Sumber: Diolah Sumber: Podes dari 2014.

100 KABUPATEN/KOTA PRIORITAS Jumlah Penduduk untuk setiap dokter di 100 Kabupaten/Kota Prioritas (1-2) Sumber: Sumber: Diolah Podes dari 2014. BPS Jumlah Penduduk untuk setiap dokter di 100 Kabupaten/Kota Prioritas (2-2) Sumber: Diolah Sumber: Podes dari 2014.Pendataan diolah Potensi Desa (Podes) 2014. BPS 34 xxxviii .Pendataan diolah Potensi Desa (Podes) 2014.

BPS Jumlah Dokter per Puskesmas di 100 Kabupaten/Kota Prioritas (2-2) Sumber:Diolah Sumber: Podesdari 2014.Pendataan diolah Potensi Desa (Podes) 2014. diolah Pendataan Potensi Desa (Podes) 2014. BPS xxxix 35 . 100 KABUPATEN/KOTA PRIORITAS Jumlah Dokter per Puskesmas di 100 Kabupaten/Kota Prioritas (1-2) Sumber: Diolah Sumber: Podes dari 2014.

100 KABUPATEN/KOTA PRIORITAS Jumlah Rumah Tangga 40% terendah dengan Sumber Air Minum Tidak Terlindungi di 100 Kabupaten/Kota Prioritas (1-2) Sumber:Diolah Sumber: PodesTNP2K 2014. 2015 36 xl . diolah dari Data Terpadu PPFM. diolah dari Data Terpadu PPFM. 2015 Jumlah Rumah Tangga 40% terendah dengan Sumber Air Minum Tidak Terlindungi di 100 Kabupaten/Kota Prioritas (2-2) Sumber:Diolah Sumber: PodesTNP2K 2014.

2015 xli 37 . 2015 Jumlah Rumah Tangga 40% terendah yang Tidak Memiliki Fasilitas Tempat Buang Air Besar di 100 Kabupaten/Kota Prioritas (2-2) Sumber:Diolah Sumber: PodesTNP2K 2014. diolah dari Data Terpadu PPFM. diolah dari Data Terpadu PPFM. 100 KABUPATEN/KOTA PRIORITAS Jumlah Rumah Tangga 40% terendah yang Tidak Memiliki Fasilitas Tempat Buang Air Besar di 100 Kabupaten/Kota Prioritas (1-2) Sumber: Diolah Sumber: Podes TNP2K 2014.

diolah dari Data Terpadu PPFM. SPAL dan Lubang Tanah di 100 Kabupaten/Kota Prioritas (1-2) Sumber: Diolah Sumber: Podes TNP2K 2014. 2015 38 xlii . 2015 Jumlah Rumah Tangga 40% terendah yang Tidak Menggunakan Tangki Septik. diolah dari Data Terpadu PPFM. 100 KABUPATEN/KOTA PRIORITAS Jumlah Rumah Tangga 40% terendah yang Tidak Menggunakan Tangki Septik. SPAL dan Lubang Tanah di 100 Kabupaten/Kota Prioritas (2-2) Sumber: Diolah Sumber: Podes TNP2K 2014.

39 .

40 .