You are on page 1of 19

LAPORAN PENDAHULUAN DAN ASUHAN KEPERAWATAN

PADA AN. V DENGAN DIARE AKUT

DI SUSUN OLEH :

Henni Kusnaeni

RUANG RAHMAH

RUMAH SAKIT AN NI’MAH WANGON

BANYUMAS
LAPORAN PENDAHULUAN
A. Pengertian
Diare adalah gejala kelainan pencernaan, absorbsi dan fungsi sekresi (Wong, 2001 : 883).
Diare adalah kehilangan banyak cairan dan elektrolit melalui tinja (Behiman, 1999 : 1273)
Diare adalah keadanan frekuensi air besar lebih dari empat kali pada bayi dan lebih dari 3
kali pada anak anak, konsistensi feses encer, dapat berwarna hijau atau adapat pula
bercampur lendir dan darah atau lendir saja (Ngastiyah, 1997 : 143).
Diare mengacu pada kehilangan cairan dan elektrolit secara berlebihan yang terjadi dengan
bagian feces tidak terbentuk (Nettina, 2001 : 123).
Jadi diare adalah gejala kelainan pencernaan berupa buang air besar dengan tinja
berbentuk cairan atau setengah cair dengan frekuensi lebih dari 3 x sehari pada anak
sehingga mengacu kehilangan cairan dan elektrolit.
B. Klasifikasi
Diare dibagi menjadi 2 yaitu :
1. Diare akut
Diare akut dikarakteristikkan oleh perubahan tiba-tiba dengan frekuensi dan kualitas
defekasi.
2. Diare kronis
Diare kronis yaitu diare yang lebih dari 2 minggu.
C. Etiologi
Penyebab diare dapat dibagi dalam beberapa faktor :
1. Faktor infeksi
Faktor internal : infeksi saluran pencernaan makananan yang merupakan penyebab
utama diare pada anak. Meliputi infeksi internal sebagai berikut:
- Infeksi bakteri : vibrio, e.coli, salmonella, campylobacler, tersinia, aeromonas,
dsb.
- Infeksi virus : enterovirus (virus ECHO, cakseaclere, poliomyelitis), adenovirus,
rotavirus, astrovirus dan lain-lain
- Infeksi parasit : cacing (asoanis, trichuris, Oxyuris, Strong Ylokles, protzoa
(Entamoeba histolytica, Giarella lemblia, tracomonas homonis), jamur (candida
albicans).
- Infeksi parenteral ialah infeksi diluar alat pencernaan makanan, seperti : otitis
media akut (OMA), tonsilitist tonsilofasingitis, bronkopneumonia, ensefalitis dsb.
Keadaan ini terutama terdapat pada bayi dan anak berumur di bawah 2 tahun.
2. Faktor malabsorbsi
- Malabsorbsi karbohidrat : disakarida (intoleransi laktosa, maltosa, dan sukrosa),
mosiosakarida (intoleransi glukosa, fruktosa, dan galatosa).
Pada bayi dan anak yang terpenting dan terseirng intoleransi laktasi.
- Malabsorbsi lemak
- Malabsorbsi protein
3. Faktor makanan
Makanan basi, beracun, alergi terhadap makanan.
4. Faktor psikologis
Rasa takut dan cemas (jarang, tetapi dapat terjadi pada anak yang lebih besar).
D. Patofisiologi
Mekanisme dasar yang menyebabkan timbulnya diare adalah :
1. Gangguan Osmotik
Akibat terdapatnya makanan atau zat yang tidak dapat diserap akan menyebabkan
tekanan osmotik dalam rongga usus meninggi, sehingga terjadi pergeseran air dan
elektrolit ke dalam rongga usus. Isi rongga usus yang berlebihan ini akan merangsang
usus untuk mengeluarkannya sehingga timbul diare.
2. Gangguan sekresi
Akibat gangguan tertentu (misal oleh toksin) pada dinding usus akan terjadi
peningkatan sekresi, air dan elektrolit ke dalam rongga usus dan selanjutnya diare
tidak karena peningkatan isi rongga usus.
3. Gangguan motilitas usus
Hiper akan mengakibatkan berkurangnya kesempatan usus untuk menyerap makanan,
sehingga timbul diare, sebaliknya jika peristaltik usus menurun akan mengakibatkan
bakteri tumbuh berlebihan yang selanjutnya dapat menimbulkan diare pula.
E. Pathway

F. Manifestasi Klinis
Mula-mula pasien cengeng, gelisah, suhu tubuh biasanya meningkat, nasfu makan
berkurang atau tidak ada.
- Kemudian disertai diare, tinja cair, mungkin disertai lendir atau lendir darah.
- Warna tinja makin lama berubah kehijau-hijauan karena bercampur empedu
- Anus dan daerah sektiar timbul lecet karena sering defekasi dan tinja makin lama
makin asam sehingga akibat makin lama makin asam sehingga akibat makin banyak
asam laktat yang berasal dari latosa yang tidak di absorbsi oleh usus selama diare.
Gejala muntah dapat timbul sebelum atau sesudah diare dan dapat disebabkan
karena lambung turut meradang atau akibat gangguan keseimbangan asam basa dan
elektrolit. Bila pasien banyak kehilangan cairan dan elektrolit, mata dan ubun-ubun
cekugn (pada bayi) selaput lendir bibir dan mulut serta kulit tampak kering
(Ngastiyah, 1997).
G. Penatalaksanaan
Medik :
Dasar pengobatan diare adalah :
1. Pemberian cairan : jenis cairan, cara memberikan cairan, jumlah pemberianya.
Pemberian cairan pada pasien diare dan memperhatiakn derajat dehidrasinya dan
keadaan umum.
a. Pemberian cairan
Pasien dengan dehidrasi rignan dan sedang cairan diberikan per oral berupa cairan
yang berisikan NaCl dan Na HCO3, KCl dan glukosa untuk diare akut dan karena
pada anak di atas umur 6 bulan kadar natrium 90 ml g/L. pada anak dibawah 6
bulan dehidrasi ringan / sedang kadar natrium 50-60 mfa/L, formula lengkap sering
disebut : oralit.
b. Cairan parontenal
Sebenarnya ada beberapa jenis cairan yang diperlukan sesuai engan kebutuhan
pasien, tetapi kesemuanya itu tergantugn tersedianya cairan stempat. Pada
umumnya cairan Ringer laktat (RL) diberikan tergantung berat / rignan dehidrasi,
yang diperhitugnkan dengan kehilangan cairan sesuai dengan umur dan BB-nya.
- Belum ada dehidrasi
Per oral sebanyak anak mau minum / 1 gelas tiap defekasi.
- Dehidrasi ringan
1 jam pertama : 25 – 50 ml / kg BB per oral
selanjutnya : 125 ml / kg BB / hari
-Dehidrasi sedang
1 jam pertama : 50 – 100 ml / kg BB per oral (sonde)
selanjutnya 125 ml / kg BB / hari
-Dehidrasi berat
Tergantung pada umur dan BB pasien.

2. Dietetik (cara pemberian makanan)


Untuk anak di bawah 1 tahun dan anak di atas 1 tahun dengan BB kurang dari 7 kg
jenis makanan :
a. Susu (ASI adalah susu laktosa yang mengandung laktosa rendah dan asam lemak
tidak jenuh, misalnya LLM, al miron).
b. Makanan setengah padar (bubur) atau makanan padat (nasitim), bila anak tidak
mau minum susu karena di rumah tidak biasa.
c. Susu khusus yang disesuaikan dengan kelainan yang ditemukan susu dengan tidak
mengandung laktosa / asam lemak yang berantai sedang / tidak sejuh.
3. Obat-obatan
Prinsip pengobatan diare adalah mengganti cairan yang hilang melalui tinja dengan /
tanpa muntah dengan cairan yang mengandung elektrolit dan glukosa / karbohidrat lain
(gula, air tajin, tepung beras sbb).
a. Obat anti sekresi
b. Asetosal, dosis 25 mg/ch dengan dosis minimum 30 mg.
c. Klorrpomozin, dosis 0,5 – 1 mg / kg BB / hari
Obat spasmolitik, dll umumnya obat spasmolitik seperti papaverin, ekstrak
beladora, opium loperamia tidak digunakan untuk mengatasi diare akut lagi, obat
pengeras tinja seperti kaolin, pektin, charcoal, tabonal, tidak ada manfaatnya untuk
mengatasi diare sehingg tidak diberikan lagi.
d. Antibiotik
Umumnya antibiotik tidak diberikan bila tidak ada penyebab yang jelas bila
penyebabnya kolera, diberiakn tetrasiklin 25-50 mg / kg BB / hari.
Antibiotik juga diberikan bile terdapat penyakit seperti : OMA, faringitis,
bronkitis / bronkopneumonia.
H. Pengkajian Keperawatan
1. Pengkajian
Biodata umum
Tempat tinggal : di daerah sanitasi buruk.
2. Riwayat kesehatan
Riwayat gastroenteritis, glardiasis, penyakit seliakus, sindrom iritabilitas kolon, otitis
media akut, tondilitas, ensefalitis dan lainnya.
3. Riwayat kesehatan dahulu Pernah mengalami diare, pernah menderita penyakit
pencernaan.
4. Riwayat kesehatan keluargaPernah menderita penyakit saluran pencernaan.
5. Keluhan utama
Anak sering menangis, tidam mau makan dan minum, badan lemas.
6. Pola kesehatan fungsional
7. Pemeliharaan kesehatan
Personal hygiene anak kurang : kebiasaan ibu memelihara kuku anak, cuci tangan
sebelum makan, makanan yang dihidangkan tidak tertutup, makanan basi.
8. Nutrisi dan metabolik
Hipertermi, penuturan berat badan total sampai 50%, dnoteksia, muntah.
9. Eliminasi BAB
Feces encer, frekuensi bervariasi dari 2 sampai 20 per hari.
10. Aktifitas
Kelemahan tidak toleran terhadap aktifitas.
11. Sensori
Nyeri ditandai dengan menangis dan kaki diangkat ke abdomen.
12. Pemeriksaan Fisik
13. Keadaan umum
Tampak lemah dan kesakitan.
14. Tanda vital
Berat badan menurun 2% dehidrasi ringan
Berat badan menurun 5% dehidrasi sedang
Berat badan menurun 8% dehidrasi berat
TD menurun karena dehidrasi
RR meningkat karena hipermetabolisme, cepat dan dalam (kusmoul)
Suhu meningkat bila terjadi reaksi inflmasi
Nadi meningkat (nadi perifer melemah)
15. Mata : cekung
16. Mulut : mukosa kering
17. Abdomen : turgor jelek
18. Kulit : kering, kapilari refil > 2’
I. Diagnosa keperawatan
1. Diagnosa : Kurangnya volume cairan dan elektrolit berhubungan dengan
seringnya buang air besar dan encer.
Tujuan : Keseimbangan cairan dapat dipertahankan dalam batas normal.
Hasil yang diharapkan :
a. Pengisien kembali kapiler < dari 2 detik
b. Turgor elastik
c. Membran mukosa lembab
d. Berat badan tidak menunjukkan penurunan.
Intervensi :
- Kaji intake dan output, otot dan observasi frekuensi defekasi, karakteristik, jumlah
dan faktor pencetus
- Kaji TTV
- Kaji status hidrasi, ubun-ubun, mata, turgor kulit, dan membran mukosa.
- Ukur BB setiap hari
- Anak diistirahatkan
- Kolaborasi dengan pemberian cairan parenteral
- Pemberian obat antidiare, antibiotik, anti emeti dan anti piretik sesuai program.
2. Diagnosa : Perubahan nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh berhubungan dengan
menurunnya intake absorbsi makanan.
Tujuan : Anak-anak toleran diet yang sesuai.
Hasil yang diharapkan :
a. BB dalam batas normal
b. Tidak terjadi kekambuhan diare.
Intervensi :
- Timbang BB tiap hari
- Pembatasan aktifitas selama fase sakit akut
- Jaga kebersihan mulut pasien
- Monitor intake dan output
3. Diagnosa : Hiperermi berhubungan dengan infeksi ditandai dengan kerusakan
pada mukosa usus.
Tujuan : mengembalikan suhu tubuh menjadi normal.
Hasil yang diharapkan :
- Suhu tubuh kembali normal 36-37oC
Intervensi :
- Hindarkan dan cegah penggunaan sumber dari luar
- Pantau suhu tubuh pasien dan melaporkan peningkatan dari nilai dasar suhu normal
pasien.
- Anjurkan pada anak agar tidak memakai pakaian / selimut tebal.
- Kolaborasi pemberian obat anti infeksi  anti gronik.
DAFTAR PUSTAKA

Dongoes, E. Marilyn. 1999. Rencana Asuhan Keperawatan. Edisi 3. Jakarta : EGC.

Ngastiyah. 1997. Perawatan Anak Sakit. Jakarta : EGC.

Wong, Donna L. dan Eaton, M. H…(et all). 2001. Wong’s Essentials of Pediatric Nursing. (Ed.
6). Missouri : Mosby.

Nethina, Sandra, M. 2001. Pedoman Praktek Keperawatan. Alih Bahasa oleh Setiawan, dkk.
Jakarta : EGC.

Tucker, Susan Martin, dkk. 1998. Standar Perawatan Pasien : Proses Keperawatan, Diagnosis,
dan Evaluasi. (ed. 5). Alih Bahasa Yasmin Asih,dkk. Jakarta : EGC.

Behrman, Richard E, dkk. 1999. Ilmu Kesehatan dan Anak Nelson, Volume 2. Edisi 15. Alih
Bahasa A. Samik Wahab. Jakarta : EGC.

Dinas Kesehatan RI
Pengkajian tanggal 27 September 2017, Pukul : 17.20 WIB

Oleh :

I. IDENTITAS PASIEN
a. Nama : An. V
b. Umur : 3 Tahun
c. Jenis kelamin : Perempuan
d. Pendidikan :-
e. Pekerjaan :-
f. Agama : Islam
g. Alamat : Parung Kamal 2/2
h. Dx.Medis : Diare akut
i. No.Register :
j. Tanggal RS : 27 September 2017

II. IDENTITAS PENANGGUNGJAWAB


a. Nama : Ny. A
b. Umur : 30 tahun
c. Alamat : Parung Kamal 2/2
d. Pekerjaan : Ibu Rumah Tangga
e. Hub. Dg pasien : Ibu kandung

III. RIWAYAT KESEHATAN


a. Keluhan Utama
Ibu pasien mengatakan pasien BAB cair 4x/hari
b. Riwayat Penyakit Sekarang
Pasien datang dari IGD dengan keluhan BAB cair 4x/hari sejak 2 hari yang lalu,
ampas ada warna kuning, muntah 1xnafsu makan menurun
c. Riwayat Penyakit Dahulu
Ibu pasien mengatakan pasien tidakpernah dirawat di rumah sakit sebelumnya.
d. Riwayat Penyakit Keluarga
Ibu pasien mengatakan tidak ada keluarga yang memiliki penyakit yang seperti
diderita pasien saat ini, keluarga juga tidak memiliki penyakit keturunan seperti
asma, DM, hipertensi, jantung dan penyakit menular seperti hepatitis, TBC.

IV. PENGKAJIAN POLA FUNGSIONAL MENURUT GORDON


a. Persepsi dan Pemeliharaan Kesehatan
Sebelum sakit : ibu pasien mengatakan kesehatan itu penting dan
harus diperhatikan
Selama sakit : ibu pasien dan pasien tetap memperhatikan
kesehatan pasien
b. Pola Nutrisi dan Metabolik
Sebelum sakit : Ibu pasien mengatakan pasien makan 3x/hari
dengan menghabiskan 1 porsi makannya
Selama sakit : Ibu pasien mengatakan pasien makan 3x/hari
dengan menghabiskan ½ porsi makannya
c. Pola Eliminasi
Sebelum sakit : Ibu pasien mengatakan pasien BAB 1x/hari dengan
konsistensi lunak, warna kuning, tidak berlendir dan tidak berdarah.
Selama sakit : Ibu pasien mengatakan pasien BAB 4x/hari hari
ampas ada warna kuning, bau khas tidak ada darah.
d. Pola Aktivitas dan latihan

Sebelum sakit Selama sakit


Aktivitas
0 1 2 3 4 0 1 2 3 4
Mandi  
Berpakaian  
Toilleting  
Berpindah  
Makan  

Keterangan :
0 : mandiri penuh
1 : dibantu alat
2 : dibantu orang lain
3 : dibantu orang lain dan alat
4 : ketergantungan

e. Pola Tidur dan Istirahat


Sebelum sakit : Ibu pasien mengatakan pasien tidur 10 jam/hari,
Selama sakit : Ibu pasien mengatakan pasien tidurnya sering
terbangun
f. Pola Perseptual
Penglihatan : normal, pasien masih bisa melihat dengan jelas
Pendengaran : normal, dibuktikan dapat mendengar jika dipanggil
Pengecapan : normal, dibuktikan dapat merasakan rasa makanan
Penciuman : normal, dibuktikan dapat mebedakan bau makanan
Peraba : normal, dibuktikan dapat merasakan ketika disentuh
g. Pola Persepsi diri
Ibu pasien mengatakan mengetahui bahwa pasien terkena diare dan ibu pasien
berharap pasien cepat sembuh.
h. Pola Seksualitas dan Reproduksi
Pasien berjenis kelamin perempuan umur 4 tahun, masih memiliki orang tua
yang lengkap.
i. Pola Peran Hubungan
Hubungan sosial dengan perawat selama di Rumah Sakit baik
j. Pola Manajemen Koping
k. Sistem Nilai dan Keyakinan
Pasien beragama islam dan ibu pasien mengajari pasien berdo’a untuk
kesembuhannya
V. PEMERIKSAAN FISIK
a. Keadaan umum : Composmentis
b. TTV :
N : 124x/menit
RR : 24x/menit
S : 36°C
c. Head to toe
1. Kepala : inspeksi : tidak ada benjolan di kepala
Palpasi : tidak ada nyeri tekan
2. Mata : simetris, konjungtiva tidak anemis, sklera tidak ikterik,
penglihatan normal, isokor, reaksi pupil terhadap cahaya mengecil,
3. Hidung : simetris, tidak ada polip, ada secret, tidak ada gnato palato
skisis
4. Telinga : simetris antara telinga kanan dan telinga kiri, tidak ada
penumpukan serumen, pendengaran normal
5. Mulut : mukosa bibir kering, tidak ada stomatitis
6. Leher : tidak ada pembesaran kelenjar tiroid
7. Thoraks
- Paru
Inspeksi : tidak ada retraksi dinding dada, bentuk dada normal tidak
dada tong
Palpasi : taktil fremitus seirama, tidak ada edema pada dada, tidak
ada nyeri tekan
Perkusi : terdengar sonor
Auskultasi : terdengar vesikuler
- Jantung
Inspeksi : terlihat ictus cordis pada ICS V sinistra midklavikula
Palpasi : teraba ictus cordis pada ICS V sinistra midklavikula, tidak
ada edema pada batas jantung
Perkusi : terdengar redup pada batas-batas jantung, batas-batas
jantung normal ( cranial dextra, cranial sinistra, caudal dextra, caudal
sinistra ), tidak ada kardiomegali
Auskultasi : bunyi S1>S2
8. Abdomen
Inspeksi : umbilikus terlihat cekung, tidak terlihat edema pada
abdomen, perut datar.
Auskultasi : bising usus terdengar lambat 15x/menit
Palpasi : tidak terdapat nyeri tekan pada abdomen
Perkusi : terdengar tympani pada seluruh lapang abdomen
9. Ekstremitas
Inspeksi ekstremitas atas : terpasang IVFD RL 12 tpm makro pada
tangan kanan
Palpasi ekstremitas atas : tidak ada nyeri tekan pada kedua tangan,
CRT <2 detik
10. Genetalia
Tidak terpasang DC dan tidak ada pembesaran tyroid

VI. PEMERIKSAAN PENUNJANG


1. Laboratorium tanggal 27 September 2017
Ditulis yang menyimpang

Pemeriksaan Hasil Normal


Hemoglobin 12,5 g/dl 11,0-16,0
Leukosit 8.800 /uL 4800 – 10800
Hematokrit 38,8% 37-47
Trombosit 333/mm3 150-450/mm3

2. Feses Lengkap

Pemeriksaan Hasil
Warna kuning
Konsistensi lembek
Leukosit 3-5
Eritrosit 1-3
Bakteri +

VII. TERAPI dan DIIT


a. Terapi
Zink syr 1x20mg (5 ml)
L-Bio 1x1
Oralit 1 sachet bila diare
Inj. Cefotaxime 3x400mg
Inj. Ondansentron 2x1mg
RL 12 tpm makro
b. Diit
BK ( Bubur Kasar )

ANALISA DATA

TGL/JAM DATA ETIOLOGI PROBLEM PARAF


27 DS : Output Kekurangan Henni
Ibu pasien mengatakan pasien BAB cair
Septembe berlebih volume cairan
4x/hari ampas ada warna kuning.
r 2017
O : Pasien terlihat lemas
17.20
N : 124x/menit
WIB RR : 24x/menit
S : 36°C
PRIORITAS DIAGNOSA KEPERAWATAN

1. Kekurangan volume cairan berhubungan dengan output berlebih

RENCANA KEPERAWATAN

DX.
TGL/JAM NOC NIC PARAF
KEP
27 I Setelah dilakukan tindakan Intervensi : Henni
September keperawatan selama 2 x 24 jam - Kaji intake dan output,
2017 jam diharapkan kebutuhan cairan pasien otot dan observasi
17.20 terpenuhi frekuensi defekasi,
karakteristik, jumlah
Hasil yang diharapkan :
dan faktor pencetus
- Pengisien kembali kapiler < dari 2 - Kaji TTV
detik - Kaji status hidrasi,
- Turgor elastik ubun-ubun, mata,
- Membran mukosa lembab turgor kulit, dan
membran mukosa.
- Anjurkan pasien untuk
banyak minum
- Anak diistirahatkan
- Kolaborasi dengan
pemberian cairan
parenteral
- Pemberian obat
antidiare, antibiotik,
anti emeti dan anti
piretik sesuai program.

IMPLEMENTASI KEPERAWATAN

TGL/JA
DX IMPLEMENTASI RESPON PARAF
M
27 1 Mengobservasi TTV S :- Henni
Septemb O : N : 117x/mnt
er 2017 S : 36,6oC
17.30 R : 24x/mnt
17.35 I Mengkaji membran mukosa S:- Henni
O : bibir pasien agak kering
17.40 I Menganjurkan pasien untuk banyak S : - Henni
minum O : pasien minum dibantu
ibunya
18.30 I Menganjurkan pasien makan S : ibu pasien mau Henni
sedikit-sedikit tapi sering O : pasien makan
20.50 I Memotivasi keluarga pasien agar S : ibu pasien mengatakan Henni
pasien istirahat bersedia
O : pasien terlihat sedang tidur
21.00 I Mengkaji defekasi S : ibu pasien mengatakan pasien Henni
belum BAB
O : pasien sedang tidur

CATATAN PERKEMBANGAN

TGL/JAM DX.KEP EVALUASI SUMATIF PARAF


27 1. Kekuranga S : Ibu pasien mengatakan pasien belum BAB lagi Henni
September n volume O : N : 117x/menit, T : 36,6oC, R : 24x/mnt
2017 cairan A : Masalah teratasi sebagian
17.00 berhubung P : lanjutkan intervensi
an dengan Kaji TTV
output Kaji defekasi
berlebih Anjurkan untuk banyak minum
Anak istirahatkan
Kolaborasi medis
TGL/JA
DX IMPLEMENTASI RESPON PARAF
M
28 1 Mengkaji defekasi S : ibu pasien mengatakan pasien Henni
Septembe BAB 1x pagi,konsistensi lembek
r 2017 O:-
14.30
15.00 I Mengkaji membran mukosa S:- Henni
O : bibir pasien lembab
15.15 I Menganjurkan pasien untuk banyak S : - Henni
minum O : pasien minum dibantu
ibunya
15.30 I Menganjurkan pasien makan S : ibu pasien mau Henni
sedikit-sedikit tapi sering O : pasien makan
16.00 I Mengobservasi TTV S :- Henni
O : N : 122x/mnt
S : 36,2oC
R : 24x/mnt
16.15 I Mengkaji defekasi S : ibu pasien mengatakan pasien Henni
belum BAB
O:-

16.30 I Dari dr. bangsal anjuran observasi S : - Henni


sore, jika tidak diare anjuran O : pasien pulang jam 17.00
pulang lapor dr. SpA
Lapor dr. SpA advice :
BLPL
Cefixime 2x5 cc
L-Bio 1x1 sachet
Zink syr 1x5 cc
Oralit 1 sachet bila diare
Waktu kontrol senin, 2 Oktober
2017 jam 15.30

CATATAN PERKEMBANGAN

TGL/JAM DX.KEP EVALUASI SUMATIF PARAF


27 1. kekurangan S : Ibu pasien mengatakan pasien BAB sudah lembek Henni
Septembe volume cairan hari ini BAB 1x pagi
r 2017 berhubungan O : N : 122x/menit, T : 36,2oC, R : 24x/mnt
17.00 dengan output A : Masalah teratasi
berlebih P : Hentikan intervensi