You are on page 1of 4

DIABETES MELITUS TIPE 2

Farmakologis

Pada saat ini terdapat 5 macam kelas obat hipoglikemik oral untuk pengobatan DM tipe II, yaitu
sulfonilurea, biguanid, meglitinid, α-glukosidase inhibitor, dan agonis receptor γ (thiazolidin atau glitazon).
Obat hipoglikemik oral diindikasikan untuk pengobatan pasien DM tipe II yang tidak mampu diobati dengan
melakukan diet dan aktivitas fisik. Biguanid dan thiazolidinedion dikategorikan sebagai sensitizer insulin,
dengan cara menurunkan resistensi insulin. Sulfonilurea dan meglitinid dikategorikan sebagai insulin
secretagogues karena kemampuannya merangsang pelepasan insulin endogen.

Contoh :

Sulfonilurea : sulfonilurea generasi pertama (acetohexamid, clorproramid, tolbutamid, talazamid) dan generasi
kedua (glimepirid, gilipizie, dan glibenklamid)

Meglitinid : nateglinid, repaglinid

Biguanid : metformin

Thiazolidinedion : pioglitazon dan resiglitazon

Alfa glukosidase inhibitor : acarbose dan miglitol.

Sulfonilurea dan biguanid tersedia paling lama dan secara tradisional merupakan pilihan pengobatan
awal untuk diabetes tipe 2.

ALPHA GLUKOSIDASE
a. Enzim Alpha-Glukosidase

Enzim alpha-glukosidase adalah enzim yang berperan dalam konversi karbohidrat


menjadi glukosa. Karbohidrat akan dicerna oleh enzim didalam mulut dan usus menjadi gula
yang lebih sederhana kemudian diserap ke dalam tubuh dan meningkatkan kadar gula darah.
Proses pencernaan karbohidrat tersebut menyebabkan pankreas melepaskan enzim alpha-
glukosidase ke ddalam usus yang akan mencerna karbohidrat menjadi menjadi oligosakarida
yang kemudian akan diubah lagi menjadi glukosa oleh enzim alpha-glukosidase yang
dikeluarkan oleh sel-sel usus halus yang kemudian diserap ke dalam tubuh. Dengan
dihambatnya kerja enzim alpha-glukosidase, kadar glukosa dalam darah dapat dikembalikan
dalam batas normal (Bosenberg, 2008).
Senyawa penghambat alpha-glukosidase bekerja menghambat enzim alpha-
glukosidase yang terdapat pada dinding usus halus. Enzim-enzim alpha-glukosidase (maltase,
isomaltase, glukomaltase dan sukrase) berfungsi untuk menghidrolisis oligosakarida pada
dinding usus halus. Penghambatan kerja enzim ini secara efektif mengurangi pencernaan
karbohidrat kompleks dan absorbsinya, sehingga dapat mengurangi peningkatan kadar
glukosa post-pradial pada penderita diabetes. Efek samping ppenghambatan alpha-
glukosidase yaitu kembung, buang angin dan diare. Supaya lebih efektif harus dikonsumsi
bersama makanan. Obat yang termasuk penghambat enzim alpha-glukosidase adalah
akarbose, Miglitol dan Voglibose (Bosenberg, 2008).
b. Inhibitor Alpha-Glukosidase
Obat ini termasuk kelompok obat baru, yang berdasarkan pada persaingan inhibisi enzim
alpha-glukosidase di mukosa, duodenum sehingga penguraian polisakarida menjadi
monosakarida menjadi terhambat. Dengan demmikian, glukosa dilepaskan lebih lambat dan
absorpsinya kedalam darah juga kurang cepat, lebih rendah dan merata, sehingga
memuncaknya kadar gula dalam darah dihindarkan. Kerja ini mirip dengan efek makanan
yang kaya akan serat gizi. Tidak ada kemungkinan hipoglikemia dan terutama berguna pada
penderita kegemukan, kombinasi dengan obat-obat lain memperkuat efeknya (Tjay, 2002).

Mekanisme Kerja
Obat golongan inhibitor alfa glukosidase (Acarbose) mempunyai mekanisme kerja
menghambat kerja enzim alfa glukosidase yang terdapat pada “brush border” dipermukaan
membran usus halus. Enzim alfa glukosidase berfungsi sebagai enzim pemecah karbohidrat
menjadi glukosa diusus halus. Dengan pemberian acarbose maka pemecahan karbohidrat
menjadi glukosa di usus akan menjadi berkurang, dengan sendirinya kadar glukosa darah
akan berkurang (Adam, JMF. 1997).

Farmakokinetik
Mekanisme aksi dari a-Glukosidase inhibitor hanya terbatas dalam saluran cerna beberapa
metabolit acarbose diabsorpsi secara sistemik dan diekskresikan melalui renal. Sedangkan
sebagian besar miglitol tidak mengalami metabolisme.

c. Penggolongan Inhibitor Alpha-Glukosidase


1. Acarbose
Acarbose adalah suatu oligosakarida yang diperoleh dari proses fermentasi
mikroorganisme, Actinoplnes utahensis, dengan nama kimia O¬-4,6-dideoxdy-
4[[(1S,4R,5S,6S)-4,5,6-trihydroxy-3-(hydroxymethyl)-2-cyclohexene-1-yl]amino]-α-D-gluco
pyranosyl-1(1–>4)-O-α-D glucopyranosyl-(1–>4)-D-glucose. Acarbose merupakan serbuk
berwarna putih dengan berat molekul 645,6 bersifat larut dalam air dan memiliki pKa 5,1.
Rumus empiriknya adalah C25H43NO18.
Kelas terapi : Hormon, Obat Endokrin Lain dan Kontraseptik
Nama Dagang : Glucobay, Precose, Eclid
Bentuk Sediaan : Tablet 25 mg, 50 mg, dan 100 mg
: Sebagai tambahan pada terapi OHO sulfonilurea atau biguanida pada
Diabetes mellitus yang tak dapat dikendalikan dengan diet dan obat-obat tersebut. Acarbose
terutama sangat bermanfaat bagi pasien DM yang cenderung meningkat
: Obat ini umumnya diberikan dengan dosis awal 50 mg dan
dinaikkan secara bertahap sampai 150-600 mg/hari. Dianjurkan untuk mengkonsumsinya
bersama segelas penuh air pada suap pertama sarapan/makan.
ediaan : Tablet 25 mg, 50 mg, dan 100 mg
dikasi : Hipersensitif terhadap acarbose, Obstruksi usus, parsial ataupun
keseluruhan, Radang atau luka/borok pada kolon, Penyakit usus kronis lainnya atau penyakit-
penyakit lain yang akan bertambah parah jika terjadi pembentukan gas berlebihan di saluran
pencernaan
anan : Jangan simpan di atas 25°C. Jauhkan dari lembab, wadah sebaiknya selalu
tertutup rapat.
a. Mekanisme Kerja
Obat ini menghambat enzim alfa glukosidase yang terletak pada dinding usus halus
dan menghambat enzim alfa-amilase pankreas, sehingga secara keseluruhan menghambat
pencernaan dan absorpsi karbohidrat.Acarbose tidak merangsang sekresi insulin oleh sel-sel
ß-Langerhans kelenjar pankreas.
b. Farmakokinetik
Resorpsinya dari usus buruk, hanya ca 2% dan naik sampai lebih kurang 35% setelah
dirombak secara enzimatis oleh kuman usus. Ekskresinya berlangsung cepat lewat kemih.
c. Farmakodinamik
Senyawa-senyawa inhibitor alpha-glukosidase bekerja menghambat enzim alfa
glukosidase yang terletak pada dinding usus halus. Enzim-enzim alpha glukosidase (maltase,
isomaltase, glukomaltase dan sukrase) berfungsi untuk menghidrolisis oligosakarida,pada
dinding usus halus. Inhibisi kerja enzim ini secara efektif dapat mengurangi pencernaan
karbohidrat kompleks dan absorbsinya, sehingga dapat mengurangi peningkatan kadar
glukosa post prandial pada pasien diabetes. Senyawa inhibitor alpha-glukosidase juga
menghambat enzim a-amilase pankreas yang bekerja menghidrolisis polisakarida di dalam
lumen usus halus. Acarbose tidak merangsang sekresi insulin oleh sel-sel ß-Langerhans
kelenjar pankreas. Oleh sebab itu tidak menyebabkan hipoglikemia, kecuali diberikan
bersama-sama dengan OHO yang lain atau dengan insulin. Obat ini efektif bagi pasien
dengan diet tinggi karbohidrat dan kadar glukosa plasma puasa kurang dari 180 mg/dl. Pasien
yang mendapat terapi acarbose saja umumnya tidak akan meningkat berat badannya, bahkan
akan sedikit menurun.Acarbose dapat diberikan dalam terapi kombinasi dengan sulfonilurea,
metformin, atau insulin