HUBUNGAN ANTARA DUKUNGAN SOSIAL DENGAN PENYESUAIAN DIRI REMAJA DI PANTI ASUHAN AL BISRI SEMARANG TAHUN 2007

SKRIPSI Diajukan Kepada Fakultas Ilmu Pendidikan Universitas Negeri Semarang Untuk Memenuhi Sebagian Dari Syarat-Syarat Guna Memperoleh Derajad Sarjana Psikologi

Oleh : Ayu Febriasari NIM. 1550402033

FAKULTAS ILMU PENDIDIKAN UNIVERSITAS NEGERI SEMARANG 2007

i

HALAMAN PERSETUJUAN

Skripsi yang berjudul : Hubungan Antara Dukungan Sosial Dengan Penyesuaian Diri Remaja Di Panti Asuhan Al Bisri Semarang Tahun 2007

Yang diajukan oleh : Ayu Febriasari NIM. 1550402033

Telah diperiksa dan disetujui untuk diuji di depan dewan penguji skripsi Fakultas Ilmu Pendidikan

Semarang, 24 Juli 2007

Pembimbing I

Pembimbing II

Drs. Sugeng Hariyadi, M. S NIP. 131472593

Rulita Hendriyani, S. Psi., M. Si NIP. 132255795

ii

HALAMAN PENGESAHAN

Telah dipertahankan di depan dewan penguji skripsi Fakultas Ilmu Pendidikan Universitas Negeri Semarang dan dinyatakan diterima untuk memenuhi sebagian dari syarat-syarat guna memperoleh derajad sarjana S1 Psikologi pada : Hari Tanggal : : Selasa 24 Juli 2007 Panitia Ujian Skripsi

Ketua

Sekretaris

Dr. Agus Salim, M.S NIP. 131127082 Dewan Penguji 1. Dra. Sri Maryati D., M.Si. NIP.131125886 2. Drs. Sugeng Hariyadi, M.S NIP.131472593 3. Rulita Hendriyani, S.Psi.,M.Si NIP. 132255795

Dra. Sri Maryati D., M.Si. NIP. 131699302 Tanda Tangan

……………………

……………………

……………………

Semarang, 24 Juli 2007 Mengesahkan Fakultas Ilmu Pendidikan Dekan

Dr. Agus Salim, M. S NIP. 131127082

iii

komputasi dengan menggunakan komputer program statistical program for social sciences (SPSS) versi 10.. M. S. Artinya terdapat hubungan yang positif dan signifikan antara dukungan sosial dengan penyesuaian diri remaja di Panti Asuhan Al Bisri Semarang. Si. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui ada tidaknya hubungan antara dukungan sosial dengan penyesuaian diri remaja di panti asuhan. iv . Tentunya hal ini tidak selamanya berjalan dengan lancar. penyesuaian diri. remaja sangat membutuhkan dukungan sosial dari orang lain di lingkungan terdekatnya yaitu pengasuh dan teman-teman sesama penghuni panti asuhan.566. Data yang diperoleh dianalisis dengan menggunakan korelasi product moment dari Pearson. Subjek dalam penelitian ini adalah remaja penghuni Panti Asuhan Al Bisri Semarang yang berusia 13-18 tahun.ABSTRAK HUBUNGAN ANTARA DUKUNGAN SOSIAL DENGAN PENYESUAIAN DIRI REMAJA DI PANTI ASUHAN AL BISRI SEMARANG Oleh : Ayu Febriasari Nim. pengambilan sampel menggunakan teknik total sampling sebanyak 40 orang. sering terjadi remaja gagal karena kemampuannya belum memadai. manusia selalu melakukan penyesuaian diri sesuai dengan tuntutan dari diri sendiri maupun lingkungannya. Hipotesis penelitian ini yaitu ada hubungan positif antara dukungan sosial dengan penyesuaian diri remaja di panti asuhan.01. Psi. Variabel bebas pada penelitian ini adalah dukungan sosial dan variabel terikatnya adalah penyesuaian diri. Kata kunci : dukungan sosial. Hasil pengolahan data diperoleh nilai korelasi rxy = 0. banyak penghayatan baru yang memerlukan penyesuaian diri yang baru pula. Sugeng Hariyadi. Pada saat-saat seperti ini. yang menunjukkan bahwa hipotesis diterima. S dan Rulita Hendriyani. Bagi remaja di panti asuhan. Metode pengambilan data menggunakan skala psikologi. M. 1550402033 Abstrak skripsi di bawah bimbingan Drs.0. Untuk mencapai tujuan hidupnya. p < 0. Jenis penelitian yang digunakan adalah penelitian kuantitatif korelasional.

adikku Ajeng (alm. Ketulusan.MOTTO DAN PERSEMBAHAN Motto Allah telah menyatakan bahwasannya tidak ada Tuhan hanya Dia yang menegakkan keadilan.) dan Andro. budi pekerti. kelembutan sekaligus kekuatan adalah kepribadian yang sangat cantik (DPHN. Ali Imran:18). serta kekasihku. Persembahan Kupersembahkan karya sederhana ini untuk Yang tercinta …. v . wawasan. Ibu. ST) Langkah penting yang harus dilakukan seorang pelari dalam arena perlombaan bukan hanya saat ia memulai garis start ataupun cukup dengan semangat yang menyalanyala. atas doa dan kasih sayangnya. para malaikat dan orang-orang berilmu juga menyatakan demikian : tidak ada Tuhan selain Dia. namun yang terpenting yaitu bagaimana ia dapat terus bertahan dan berjuang sekuat tenaga untuk mencapai tujuan akhir yaitu garis finish. Yang Maha Perkasa dan Maha Bijaksana (QS. Bapak.

sehingga peneliti dapat menyelesaikan skripsi ini yang berjudul : “Hubungan Antara Dukungan Sosial Dengan Penyesuaian Diri Remaja di Panti Asuhan Yatim Piatu Al Bisri Semarang”. Sri Maryati Deliana. S.Si. M. untuk itu penulis mengucapkan terima kasih kepada : 1. Ketua Jurusan Psikologi Fakultas Ilmu Pendidikan Universitas Negeri Semarang. Dra. Ketua Panti Asuhan Al Bisri Semarang. Shokis. Seluruh remaja di Panti Asuhan Al Bisri Semarang yang telah bersedia meluangkan waktu untuk mengisi skala penelitian. Adapun skripsi ini merupakan salah satu syarat untuk memperoleh gelar sarjana Psikologi pada Jurusan Psikologi Fakultas Ilmu Pendidikan Universitas Negeri Semarang. M. vi . M.KATA PENGANTAR Puji syukur kehadirat Allah AWT yang telah melimpahkan rahmatNya.Si. Dewan penguji skripsi Fakultas Ilmu Pendidikan yang memberikan berbagai masukan dan kritik bagi kesempurnaan penulisan skripsi.S dan Rulita Hendriyani. dosen pembimbing I dan II yang telah meluangkan waktu untuk memberikan bimbingan.. Selesainya skripsi ini tidak lepas dari bantuan berbagai pihak. Dekan Fakultas Ilmu Pendidikan Universitas Negeri Semarang.Psi.. Agus Salim. arahan dan motivasi dalam menyusun skripsi ini. Sugeng Hariyadi. 4. 6. 5.S. 2. Dr. 3.. SH. M. Drs.. M..

yang telah memberikan bantuan dalam penyusunan skripsi serta teman–teman Jurusan Psikologi UNNES. Sahabat-sahabatku Sari. dukungan dan kebersamaannya. Akhirnya. terima kasih atas bantuan. 10. 9. serta DP Hendro N. 24 Juli 2007 Penulis vii . Semarang. adikku Ajeng (alm. Cik Evi (Psikocentra). Teman-temanku Roksi. Mbak Ika (Pink). Kedua orang tua. 11.7. besar harapan penulis semoga skripsi ini dapat bermanfaat bagi penulis pada khususnya dan bagi pembaca pada umumnya.) dan Andro. Mas Toni. Sekar. bantuan dan masukan dalam penyusunan skrisi yang tidak dapat disebutkan satu persatu. Semoga segenap bantuan serta dukungan yang telah diberikan kepada penulis mendapat balasan dari Allah SWT. Indri. Seluruh dosen Psikologi UNNES yang telah memberikan bekal ilmu pengetahuan selama penulis menempuh masa kuliah. 8. Semua pihak yang telah memberikan motivasi. tercinta.

................................................................................................................................................................................. c....................... DAFTAR GAMBAR ... DAFTAR TABEL...... Ciri-Ciri Remaja............................... Remaja ........................................................................... Penyesuaian Diri ......................... Pengertian Penyesuaian Diri .............................. BAB I PENDAHULUAN ..................................................................................................................................................................................... Penegasan Istilah........................... 2................... DAFTAR GRAFIK............... HALAMAN PENGESAHAN....... ABSTRAK .................................. a.......................................DAFTAR ISI Halaman HALAMAN JUDUL...... KATA PENGANTAR ................ BAB II LANDASAN TEORI ........ d........ C...................................................................................................................................................................... Penyesuaian Diri yang Baik .................................. Aspek-Aspek Penyesuaian Diri .............................................. a.................. A....................................... A.............................................. Faktor-faktor yang Mempengaruhi Penyesuaian Diri............................ F................................................................................... i ii iii iv v vi viii xi xii xiii xiv 1 1 10 10 11 12 12 14 15 15 15 18 22 26 30 30 32 viii .... MOTTO DAN PERSEMBAHAN .............. DAFTAR ISI............................ b................... DAFTAR LAMPIRAN................................................................ Tujuan Penelitian ................................................................................................................... Penyesuaian Diri Remaja di Panti Asuhan ................. Pengertian Remaja ......................................................................................................................................................................................... Sistematika Skripsi...................................... D....... b... Latar Belakang Masalah.. E............................................. Perumusan Masalah ........................ Manfaat Penelitian ................................... HALAMAN PERSETUJUAN................................................. 1........... B....................

.................................................. Tugas Perkembangan Remaja .......... Panti Asuhan ................ B....................................... 1................................................ c.................. Jenis-Jenis Dukungan Sosial ................................................................................................................................................................................................. Metode dan Instrumen Pengumpulan Data ................. Variabel Penelitian .......................................... Reliabilitas ....... Proses Perijinan.................... C...................... A................... Sumber-Sumber Dukungan Sosial ... F............................................ 2................................................ BAB III METODE PENELITIAN .. 1......... BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN ............................ 1..................................... C........................................ D.... Populasi .......... Orientasi Kancah................. Identifikasi Variabel................... B........................................................... 4........................ a.......... Pengertian Dukungan Sosial .......................................................... 1............................ 2........... Definisi Operasional Variabel Penelitian.............................. Fungsi Panti Asuhan ......... 3.... E.... 3.................................. 2. Tujuan Panti Asuhan .................. 2..................... 2.................................... Sampel. Pengertian Panti Asuhan ............................ D................. 1............................... 34 36 36 37 38 39 41 41 44 50 52 56 58 58 59 59 59 62 62 62 63 63 68 68 68 69 71 71 71 73 ix ........................ Penyesuaian Diri Remaja di Panti Asuhan ............ Validitas ........................................................... Dukungan Sosial ..................... Jenis Penelitian....... Hipotesis.................. Hubungan Antara Dukungan Sosial Dengan Penyesuaian Diri Remaja di Panti Asuhan .. b...................................................................................................................................................c.................................... 3................. A............................................. Validitas dan Reliabilitas Alat Ukur ............................................................................................ Hubungan Antar Variabel Penelitian ......... Persiapan Penelitian .... Subjek Penelitian......... Teknik Analisis Data...............

a................................................ Penentuan Sampel ................... Hasil Uji Validitas dan Reliabilitas............. B...................... Uji Hipotesis ................................. Pelaksanaan Penelitian ............. Prosedur Pengumpulan Data ...................................................................................................................... D......... b............. B... Reliabilitas .................................. 2.. DAFTAR PUSTAKA DAFTAR LAMPIRAN 73 74 74 75 75 75 76 79 79 79 83 89 91 98 98 99 x ..............................3..... Hasil Penelitian ....................................................................................................... E....................................... Gambaran Dukungan Sosial...................................................................................................................................................................................................... Hasil Penelitian dan Pembahasan ........................... 1.................................. b..................... BAB V SIMPULAN DAN SARAN ................................. Kesimpulan .......... C.............. 3............................. Saran..... A................ a.......... c..................................... Validitas .... Deskripsi Data Penelitian.......... Pembahasan........ Gambaran Penyesuaian Diri Remaja ....

.................. Tabel 4...... Tabel 4... Tabel 4......2 Rangkuman Data Penelitian...................................................................... Tabel 4..........2 Blue Print Dukungan Sosial..................15 Korelasi Antara Dukungan Sosial dengan Penyesuaian Diri Remaja .16 Kontribusi Dukungan Sosial Terhadap Penysuaian Diri Remaja 90 91 66 67 74 75 77 78 80 81 82 83 84 85 86 87 88 89 xi ........ Tabel 4................. Tabel 4.................... Tabel 4.....11 Distribusi Frekuensi Aspek Dukungan Emosional ............. Tabel 4..6 Distribusi Frekuensi Penyesuaian Diri................. Tabel 4........ Tabel 4..........DAFTAR TABEL Halaman Tabel 3................4 Blue Print Skala Dukungan Sosial Setelah Uji Coba .....................................................1 Blue Print Penyesuaian Diri... Tabel 4...14 Distribusi Frekuensi Aspek Dukungan Informasi........ Tabel 4..................... Tabel 4....9 Pengelompokkan Norma Tingkat Dukungan Sosial ............7 Distribusi Frekuensi Aspek Penyesuaian Pribadi ..3 Blue Print Skala Penyesuaian Diri Setelah Uji Coba......12 Distribusi Frekuensi Aspek Dukungan Penghargaan..... Tabel 3................................. Tabel 4.13 Distribusi Frekuensi Aspek Dukungan Instrumental .................. Tabel 4...................10 Distribusi Frekuensi Dukungan Sosial...5 Pengelompokkan Norma Tingkat Penyesuaian Diri .....................................8 Distribusi Frekuensi Spek Penyesuian Sosial ................................................ Tabel 4.................................................................1 Deskripsi Subjek Penelitian ...........................

1 Skema Hubungan Antara Variabel X dan Y .............................................2 Digram Dukungan Sosial .............. 62 92 94 xii ...........1 Diagram Penyesuaian Diri Remaja ....................................DAFTAR GAMBAR Halaman Gambar 3........ Gambar 4.. Gambar 4..................

.........DAFTAR GRAFIK Halaman Grafik 4.... 81 85 xiii .....................2 Tingkat Dukungan Sosial .......................................1 Tingkat Penyesuaian Diri Remaja ........................... Grafik 4..........

.............................. 115 Lampiran 4 Sebaran Deskriptif Skala Penyesuaian Diri....................... 131 Lampiran 14 Uji Linieritas.................................DAFTAR LAMPIRAN Halaman Lampiran 1 Instrumen Skala Penelitian ....................... 122 Lampiran 8 Validitas skala Dukungan Sosial ..................... 132 Lampiran 15 Analisis Reliabilitas Skala Dukungan Sosial Ditinjau Dari Sumber Dukungan Sosial (Pengasuh & Teman-teman) ................................................................ 127 Lampiran 10 Analisis Hubungan Penyesuaian Diri dengan Dukungan Sosial ....................................................... 139 Lampiran 17 Surat Bukti Penelitian........................................................................................................................................................................................................................ 105 Lampiran 2 Data Kasar Skala Penyesuian Diri.................................................... 116 Lampiran 5 Sebaran Deskriptif Skala Dukungan Sosial..... 136 Lampiran 16 Surat Ijin Penelitian .... 128 Lampiran 11 Deskriptif Skala Penyesuaian Diri .... 140 xiv .............................................. 130 Lampiran 13 Uji Normalitas ............... 117 Lampiran 6 Validitas Skala Penyesuaian Diri ...... 129 Lampiran 12 Deskriptif Skala Dukungan Sosial............ 123 Lampiran 9 Reliabilitas Skala Dukungan Sosial................................................................................................................................................................... 118 Lampiran 7 Reliabilitas Skala Penyesuaian Diri......................................... 114 Lampiran 3 Data Kasar Skala Dukungan Sosial .......................

tidak mampu dan terlantar. seperti menjadi yatim. Perjalanan hidup seorang anak tidak selamanya berjalan dengan baik. piatu bahkan yatim piatu.1 BAB I PENDAHULUAN A. agar dapat tumbuh utuh secara mental. yang semua itu merupakan faktor kebutuhan psikologis anak. Keluarga yang berisi ayah. tidak adanya orang yang dapat diajak berbagi cerita atau dijadikan panutan dalam menyelesaikan masalah. Apabila hal ini berjalan terusmenerus akan mengakibatkan anak tersebut terganggu dalam kehidupan sehari-hari. Latar Belakang Masalah Keluarga adalah tempat yang penting dimana anak memperoleh dasar dalam membentuk kemampuannya agar kelak menjadi orang yang berhasil di masyarakat. ibu dan saudara kandung adalah tempat utama bagi individu mendapatkan pengalaman bersosialisasi pertama kalinya. Orang tua mempunyai peran penting dalam kaitannya dengan menumbuhkan rasa aman. sehingga kebutuhan psikologisnya tidak terpenuhi secara wajar. kasih sayang dan harga diri. Lebih lagi. 1 . Ganjalan ini membuat anak tidak berdaya. emosional dan sosial. Beberapa anak dihadapkan pada pilihan yang sulit bahwa anak harus berpisah dari keluarganya karena sesuatu alasan. Terpenuhinya kebutuhan psikologis tersebut akan membantu perkembangan psikologis secara baik dan sehat.

Perkembangan pada remaja pada hakekatnya adalah usaha penyesuaian diri yaitu usaha secara aktif mengatasi tekanan dan mencari jalan keluar dari berbagai masalah. Berhasil tidaknya remaja dalam mengatasi masalahnya tersebut sangat tergantung dari bagaimana remaja mempergunakan pengalaman yang diperoleh dari lingkungannya dan selanjutnya kemampuan menyelesaikan masalah ini akan dapat membentuk sikap pribadi yang lebih mantap dan lebih dewasa. psikis dan sosial juga sangat dibutuhkan bagi perkembangan kepribadiannya karena pada masa remaja dianggap sebagai masa transisi dari masa kanakkanak ke masa dewasa. Pada masa transisi tersebut.2 Anak-anak inilah yang dipelihara oleh pemerintah maupun swasta dalam suatu lembaga yang disebut panti asuhan. pemenuhan kebutuhan fisik. Masa transisi ini banyak menimbulkan kesulitan-kesulitan dalam penyesuaian terhadap dirinya maupun terhadap lingkungan. Tempat itulah yang selanjutnya dianggap sebagai keluarga oleh anak-anak tersebut. Pada saat anak melewati masa remaja. Remaja yang berusaha menemukan identitas dirinya dihadapkan pada situasi yang menuntut harus mampu menyesuaikan diri bukan hanya terhadap dirinya . remaja mengalami berbagai masalah yang ada karena adanya perubahan fisik. psikis dan sosial. Masa remaja dianggap sebagai masa labil yaitu dimana individu berusaha mencari jati dirinya dan mudah sekali menerima informasi dari luar dirinya tanpa ada pemikiran lebih lanjut (Hurlock. Panti asuhan berperan sebagai pengganti keluarga dalam memenuhi kebutuhan anak dalam proses perkembangannya. 2004:233).

yang dialami Musa (bukan nama sebenarnya) bahwa dirinya masih merasa kesulitan untuk meyesuaikan diri dengan aturan dan teman di panti asuhan meski sudah tinggal selama lebih dari dua tahun. Penyesuaian diri menuntut kemampuan remaja untuk hidup dan bergaul secara wajar terhadap lingkungannya. Remaja yang tinggal di panti asuhan menemui banyak aturan yang harus ditaati oleh remaja tersebut. Contohnya. Hartini (2001:114) dalam penelitiannya pada anak-anak panti asuhan di Jawa Timur menemukan bahwa : Lima puluh dua persen anak-anak panti asuhan cenderung menunjukkan kesulitan dalam penyesuaian sosialnya yang menggambarkan adanya kebutuhan psikologis untuk dapat menyesuaikan diri dengan tata cara atau aturan lingkungannya. dengan demikian remaja dapat mengadakan interaksi yang seimbang antara diri dan kesempatan ataupun hambatan di dalam lingkungan. tertutup. Hal ini menunjukkan bahwa kehidupan panti tersebut terlalu kaku dan kurang memperhatikan pemenuhan kebutuhan psikologis dan sosial para penghuninya. sehingga seringkali remaja melanggar aturan yang ada. juga merasa bosan tinggal di panti karena sering diejek teman-temannya. sehingga remaja merasa puas terhadap dirinya dan terhadap lingkungannya. Tami (bukan nama sebenarnya) . tidak dapat menerima dirinya sendiri dan kelemahan-kelemahan orang lain.3 sendiri tetapi juga pada lingkungannya. serta merasa malu jika berada diantara orang lain atau situasi yang terasa asing baginya. Hal ini seringkali membuat remaja merasa kesulitan untuk menyesuaikan diri dengan aturan yang ada dan merasa kurang bebas. Bagi remaja yang tidak dapat menyesuaikan diri dengan baik cenderung menjadi anak yang rendah diri.

Misbah (bukan nama sebenarnya) sering terlambat sekolah karena bangun kesiangan dan terkadang merasa malas berangkat sekolah karena uang sakunya kurang. sehingga anak panti asuhan akan sulit menjalin hubungan sosial dengan orang lain. Sama halnya dengan Irfan (bukan nama sebenarnya) juga merasa bosan dengan jadwal piketnya. apatis. Fadli (bukan nama sebenarnya) merasa bosan bila mengerjakan jadwal piket.4 kadang-kadang berbohong pada pengasuh jika ingin main ke rumah teman sepulang sekolah dengan alasan ada tugas belajar kelompok. takut melakukan kontak dengan orang lain. Hartini (2001:117) membuktikan bahwa anak yang tinggal di panti asuhan mengalami banyak problem psikologis dengan karakter sebagai berikut : Kepribadian yang inferior. Keterampilan sosial ini kurang dimilliki oleh individu yang tinggal di panti asuhan. remaja menjadi berontak atau tidak mematuhi semua aturan dan merasa kurang bebas. tekanan tersebut tidak jarang dilampiaskan dalam kehidupan di panti asuhan karena pantilah yang menjadi lingkungan hidup sehari-hari. menunjukkan rasa bermusuhan dan lebih egosentrisme. Pada remaja panti asuhan. pasif. Irfan sering pura-pura ketiduran jika mendapat giliran piket. Seseorang dapat menyesuaikan diri terhadap lingkungan sosialnya jika ia memiliki keterampilan sosial dan mampu berhubungan dengan orang lain. menarik diri. Oleh karena itu. remaja tersebut dituntut untuk dapat menyesuaikan diri dengan baik di lingkungannya. mudah putus asa. . anak-anak tersebut menunjukkan perilaku yang negativis. penuh dengan ketakutan dan kecemasan. Disamping itu. baik dengan teman atau dengan orang yang tidak dikenalnya. lebih suka sendirian. Adanya tekanan tersebut. Keadaan panti yang membosankan dan adanya peraturan yang ketat membuat remaja merasa terkekang.

dirinya menganggap semua temannya sadis karena suka mengganggunya. Contohnya. shalat. Umi (bukan nama sebenarnya) tidak percaya diri. Rosi (bukan nama sebenarnya) berusia 16 tahun sering bertengkar dengan temannya di panti asuhan dan pernah bertengkar dengan temannya di sekolah. cenderung menjadi pendiam dan pemalu.M. seperti suka mengganggu teman. Hal ini menunjukkan bahwa sebagian besar anak Panti Asuhan Al Bisri Semarang tersebut memiliki tingkat penyesuaian diri yang kurang. Nurma merasa malu karena mengganggap bahwa dirinya terjelek diantara teman-temannya. SH (Ketua Panti Asuhan Al Bisri Semarang) mengatakan bahwa ada anak-anak panti asuhan yang berperilaku sesuka hatinya seperti sering meledek teman. merasa bahwa dirinya mengalami kesulitan untuk menyesuaikan diri dengan orang lain. berkata jorok dan bertengkar. Nurma juga merasa takut selama tinggal di panti asuhan. tertutup dan merasa takut. Nurma (bukan nama sebenarnya) berusia 13 tahun. Banyak diantara mereka yang suka bersitegang. kurang percaya diri dan lebih suka sendirian. tidak suka berkumpul dengan teman-teman yang lain. rendah diri. H. ada yang cenderung pendiam. . suka bersitegang. yaitu inferior. saling mengejek dan bertengkar. Shokis. merasa takut dan cemas. mengaji dan kerja bakti. serta ada yang sulit untuk mengikuti kegiatan seperti piket. kaku dalam bergaul.5 Penulis juga menemukan karakteristik yang menunjukkan bahwa remaja di Panti Asuhan Al Bisri Semarang cenderung mempunyai sifat yang sama. Misalnya. cenderung memiliki sifat rendah diri.

terlalu ketatnya disiplin dan aturan yang dijalankan serta harus mengikuti kegiatan keagamaan dan program keterampilan yang diikuti oleh remaja tersebut. Akibatnya. Lain lingkungan sosial lain pula pengalaman interaksi sosial yang diperoleh remaja. sehingga cenderung menarik diri dan lebih bersikap defensif dalam pergaulan. kurang responsif terhadap orang lain dan merasa rendah diri. menarik diri. pencemas. pasif. kurangnya fasilitas fisik. Walaupun esensi dari panti asuhan adalah menggantikan yang hilang dari orang tua melalui para pengasuh tetapi kenyataan ini sering sulit dicapai secara memuaskan.6 Diungkapkan lebih lanjut berdasarkan wawancara yang dilakukan oleh peneliti bahwa remaja panti asuhan yang sudah lama tinggal di panti biasanya memiliki relasi yang dekat dengan teman-teman di panti dan pengasuhnya. Remaja di panti asuhan bergaul dan berhadapan dengan para pengasuh yang mempunyai peranan sebagai pengganti orang tua. Sehubungan dengan adanya kondisi-kondisi khusus seperti kurangnya perhatian pengasuh. Interaksi sosial yang dialami oleh remaja yang tinggal di panti asuhan berbeda dengan yang tinggal di keluarga biasa. dalam mengadakan hubungan dengan lingkungan sekitarnya memungkinkan remaja tersebut cenderung menampakkan sikap pendiam. namun tetap saja remaja seringkali menunjukkan perilaku malu-malu. . khususnya saat berhadapan dengan orang lain yang masih baru. Dengan demikian jelas terlihat bahwa remaja yang tinggal di panti asuhan secara umum mempunyai kecenderungan kurang mampu menyesuaikan diri dengan baik terhadap lingkungannya.

7 Manusia sebagai makhluk sosial akan selalu membutuhkan kehadiran orang lain dalam hidup. Rutter dalam Monks. bantuan maupun kasih sayang membuatnya akan memiliki pandangan positif terhadap diri dan lingkungannya. Dukungan sosial yang diterima seseorang dalam lingkungannya. baik berupa dorongan semangat. terutama anak-anak di tempat ini tidak mengalami suasana keibuan. dkk . Oleh karena itu. Bowlby dalam Dagun (2002:8) mengecam dan mengkritik lembagalembaga rumah yatim piatu yang dianggapnya sebagai tempat yang tidak menumbuhkan perilaku sosial dan emosional pada anak. 1994:133). Dengan adanya pandangan positif terhadap diri dan lingkungannya. segala sesuatu dapat menjadi lebih mudah pada saat mengalami kejadian-kejadian yang menegangkan (Smet. Adanya dukungan sosial bagi remaja di panti asuhan merupakan salah satu cara untuk mengatasi hambatan dalam penyesuaian dirinya. individu membutuhkan individu lain yang dapat memberi dukungan sosial. sehingga mampu hidup di tengah-tengah masyarakat luas secara harmonis. Jika individu merasa didukung oleh lingkungannya. Dukungan yang diberikan dimaksudkan agar remaja terhindar dari problem psikologis seperti yang ditampakkan di atas. penghargaan. Hartini (2001:114) dalam penelitiannya menemukan bahwa 77 persen anak-anak panti asuhan di Jawa Timur mempunyai kebutuhan psikologis untuk mendapatkan dorongan dan dukungan dari lingkungannya. seseorang akan mampu menerima kehidupan yang dihadapi serta mempunyai sikap pendirian dan pandangan hidup yang jelas. perhatian.

dkk (1989:118) bahwa anak yang tumbuh di lingkungan panti asuhan lebih tergantung. Padahal pada kenyataannya menurut Rutter dalam Mussen. Remaja yang tinggal di panti asuhan berkembang dengan bimbingan dan perhatian dari pengasuh yang berfungsi sebagai pengganti orang tua dalam keluarga. perhatian. Bagi remaja yang tinggal di panti asuhan.8 (2002:96) mengatakan bahwa kasih sayang ibu mutlak diperlukan untuk menjamin suatu perkembangan psikis yang sehat pada anak. Beberapa remaja menyatakan bahwa pengasuh tidak pernah memberikan pujian atas prestasi atau hasil pekerjaannya. bisa juga dari orang lain atau ibu pengganti. antara lain adalah rasio jumlah anak asuh dengan pengasuh sangat tidak seimbang. dkk. pemberian kasih sayang ini tidak harus berasal dari ibu secara biologis. kasih sayang dan bimbingan. lebih banyak membutuhkan perhatian dari orang dewasa dan lebih mengganggu di sekolah dibandingkan anak yang dirawat di rumah. Remaja tersebut ada yang masih ragu dan takut dalam menjalin hubungan dengan pengasuh. kasih sayang. jumlah orang dewasa yang bersedia mengurus. Perbandingan antara jumlah pengasuh dan anak asuh yang tidak seimbang menyebabkan remaja kurang merasakan perhatian. Hal . memberi perawatan. stimulasi intelektual dan pembentukan nilai merupakan faktor yang penting dalam perkembangan anak (Mussen. Dukungan sosial kurang bisa secara maksimal diberikan pada remaja panti asuhan disebabkan oleh berbagai faktor.. 1989:138). remaja yang jumlahnya sangat banyak tentu menghambat pemberian dukungan sosial secara individu.

remaja di panti asuhan juga mendapat dukungan sosial dari teman-temannya sesama penghuni panti asuhan. hubungan individual secara hangat dan harmonis belum terpenuhi secara baik. sehingga sulit sekali untuk bisa saling memberi bimbingan positif. Selain dukungan sosial yang berasal dari pengasuh. Banyak remaja panti asuhan yang menyatakan bahwa uang saku sekolahnya hanya cukup untuk biaya transportasi saja dan tidak bisa membeli jajan. Dukungan sosial dari teman-teman di panti asuhan juga terbentur oleh beberapa hal. baik terhadap diri sendiri maupun lingkungan. Bagi remaja panti asuhan. Apabila remaja panti asuhan mendapat cukup banyak dukungan sosial dari lingkungannya dalam bentuk apapun akan membuatnya mampu mengembangkan kepribadian yang sehat dan memiliki pandangan positif. lingkungan panti asuhan merupakan lingkungan sosial utama yang dikenalnya dan merupakan sumber dukungan sosial yang utama.9 tersebut menunjukkan bahwa remaja yang tinggal di panti asuhan kurang mendapatkan perhatian. . sehingga dirinya memiliki kemampuan untuk mengadakan penyesuaian diri secara harmonis. Dukungan sosial tersebut remaja dapatkan dari pengasuh dan teman-teman sesama penghuni panti asuhan. Dukungan dalam bentuk materi juga kurang terpenuhi. Teman-teman yang berada di lingkungan panti asuhan kurang bisa saling memberi dukungan sosial disebabkan karena sama-sama membutuhkan perhatian lebih.

penulis ingin mengadakan penelitian tentang Hubungan Antara Dukungan Sosial Dengan Penyesuaian Diri Remaja di Panti Asuhan Al Bisri Semarang. Bagaimana gambaran tentang dukungan sosial di Panti Asuhan Al Bisri Semarang. Penegasan Istilah Ada beberapa istilah yang digunakan dalam penelitian ini dan perlu diberikan penjelasan. Apakah ada hubungan antara dukungan sosial dengan penyesuaian diri remaja di Panti Asuhan Al Bisri Semarang. Ini dilakukan dengan maksud menghindari kemungkinan terjadinya interpretasi makna dalam menggunakan istilahistilah dalam penelitian.10 Berdasarkan berbagai uraian di atas. B. 3. Perumusan Masalah Rumusan permasalahan dalam penelitian ini adalah : 1. C. Istilah yang perlu dijelaskan dalam penelitian ini adalah : 1. Bagaimana gambaran tentang penyesuaian diri remaja di Panti Asuhan Al Bisri Semarang. Penyesuaian diri remaja di panti asuhan Penyesuaian diri merupakan suatu usaha yang dilakukan oleh remaja untuk mempertemukan tuntutan diri sendiri dengan lingkungan. 2. baik secara aktif maupun pasif yang melibatkan respon mental dan tingkah .

perhatian emosi. 2. Untuk mengetahui bagaimana gambaran tentang penyesuaian diri remaja di Panti Asuhan Al Bisri Semarang. sehingga tercapai hubungan yang harmonis antara diri dengan lingkungannya yaitu panti asuhan. sehingga dapat membantu individu dalam mengatasi masalahnya. . yang usianya berkisar antara 13 sampai 18 tahun. D. Dukungan sosial Dukungan sosial merupakan hubungan interpersonal yang di dalamnya berisi pemberian bantuan yang melibatkan aspek-aspek yang terdiri dari informasi. Sumber dukungan sosial bagi remaja di panti asuhan dalam penelitian ini diperoleh dari pengasuh dan teman-teman sesama penghuni Panti Asuhan Al Bisri Semarang. Untuk mengetahui bagaimana gambaran tentang dukungan sosial di Panti Asuhan Al Bisri Semarang.11 laku. 2. Penyesuaian diri yang menjadi subjek dalam penelitian ini adalah penyesuaian diri remaja di Panti Asuhan Al Bisri Semarang. dimana hal itu memiliki manfaat emosional atau efek perilaku bagi penerima. Tujuan Penelitian Tujuan dari penelitian ini adalah : 1. penilaian dan bantuan instrumental yang diperoleh individu melalui interaksi dengan lingkungan.

daftar tabel. Sistematika Skripsi Sistematika dalam skripsi ini terdiri dari tiga pokok yaitu : Bagian Awal Skripsi Berisi halaman judul. E. abstrak. daftar grafik dan daftar lampiran. F. Manfaat Praktis a. Remaja panti asuhan dapat menyesuaikan diri secara harmonis. motto dan persembahan. Sebagai masukan bagi panti asuhan yang dapat dijadikan pertimbangan dalam memberikan perlakuan bagi anak asuhnya. dimana dukungan sosial merupakan salah satu hal yang dapat mempengaruhi tingkat penyesuaian diri remaja di panti asuhan. . 2. daftar isi. Untuk mengetahui ada tidaknya hubungan antara dukungan sosial dengan penyesuaian diri remaja di Panti Asuhan Al Bisri Semarang. halaman pengesahan. Manfaat Teoritis Hasil penelitian ini diharapkan dapat memberikan sumbangan yang berarti bagi perkembangan ilmu Psikologi Perkembangan. kata pengantar. daftar gambar. khususnya mengenai penyesuaian diri remaja di panti asuhan dalam kaitannya dengan dukungan sosial. baik yang berhubungan dengan diri maupun lingkungan sosialnya.12 3. Manfaat Penelitian Melalui penelitian ini diharapkan dapat memberikan manfaat sebagai berikut : 1. b.

yang berisi kesimpulan dan saran. meliputi penyesuaian diri yang menguraikan tentang pengertian penyesuaian diri. penegasan istilah. tujuan penelitian. sampel dan teknik sampling.13 Bagian Isi Skripsi Bab I Pendahuluan. berisi tentang jenis penelitian. pelaksanaan uji coba dan teknik analisis data. aspek-aspek penyesuaian diri. hasil penelitian dan pembahasan. populasi. Dukungan sosial yang menguraikan tentang pengertian dukungan sosial. faktor-faktor penyesuaian diri dan penyesuaian diri yang baik. Bagian Akhir Skripsi Pada bagian ini berisi daftar pustaka dan lampiran-lampiran. prosedur pengumpulan data. Bab II Landasan Teori dan Hipotesis. yang berisi tentang latar belakang masalah. yang berisi tentang hasilhasil penelitian yang meliputi persiapan penelitian. perumusan masalah. Bab V Penutup. . validitas dan reliabilitas. jenis-jenis dukungan sosial dan sumber dukungan sosial. pelaksanaan penelitian. manfaat penelitian dan sistematika skripsi. Bab III Metodologi Penelitian. Bab IV Hasil Penelitian dan Pembahasan. memuat teori-teori yang dijadikan landasan penulisan dalam penelitian ini. variabel penelitian. metode pengumpulan data. deskripsi data penelitian. Pada bab ini terdapat tinjauan pustaka.

Individu dalam perkembangannya membutuhkan orang lain. Dukungan sosial yang diterima remaja dari lingkungannya. 14 .14 BAB II LANDASAN TEORI Individu memerlukan interaksi dengan lingkungan sosialnya karena dalam lingkungan sosial individu dapat berkembang dan menyesuaikan diri. Apabila remaja tidak dapat menyesuaikan diri dengan lingkungannya maka remaja akan memiliki sikap negatif dan tidak bahagia. Interaksi antara individu dan lingkungan sosialnya bersifat timbal balik. perhatian. lingkungan panti asuhan merupakan lingkungan sosial yang utama dalam mengadakan penyesuaian diri. hubungan antara dukungan sosial dengan penyesuaian diri remaja di panti asuhan akan diuraikan pada bab ini. Bagi remaja yang tinggal di panti asuhan. penghargaan. Hal tersebut perlu diperhatikan oleh panti asuhan sebagai lingkungan pengganti keluarga dalam memberikan perlakuan dan pemenuhan kebutuhan remaja agar dapat mengembangkan kepribadian yang sehat. remaja membutuhkan dukungan dari lingkungan. baik berupa dorongan semangat. Selain mengadakan kontak sosial. membuat remaja memiliki pandangan positif terhadap diri dan lingkungan. bantuan dan kasih sayang. Untuk lebih jelasnya. sehingga menumbuhkan rasa aman dan bahagia yang penting dalam penyesuaian diri.

Penyesuaian diri adalah usaha manusia untuk mencapai harmoni pada diri sendiri dan pada lingkungan. Setiap individu selalu melakukan penyesuaian diri. 1995:14). dengki. Individu selain dapat mengatasi masalahnya sendiri. orang lain dan lingkungan. iri hati. . prasangka. Dari diri sendiri maksudnya adalah total kesiapan tubuh. Penyesuaian Diri a. depresi. juga dapat mengatasi berbagai masalah yang menimbulkan ketidaknyamanan dalam hidup bersama orang lain.15 A. Interaksi antara individu dengan orang lain dan lingkungannya bersifat timbal balik dan secara konstan saling mempengaruhi. Penyesuaian Diri Remaja di Panti Asuhan 1. tingkah laku. Sedangkan lingkungan adalah penglihatan dan penciuman serta suara si sekitar individu yang dijalani sebagai urusan individu (Calhoun dan Acocella. 2000:259). kemarahan dan lainlain emosi negatif sebagai respon pribadi yang tidak sesuai dan kurang efisien bisa dikikis habis (Kartono. pikiran dan perasaan untuk mengahadapi segala sesuatu setiap saat. Orang lain maksudnya adalah bahwa secara nyata mereka memiliki pengaruh terhadap individu. Pengertian Penyesuaian Diri Kehidupan merupakan proses penyesuaian diri yang berkesinambungan. sehingga rasa permusuhan. Penyesuaian diri adalah interaksi yang terus menerus dengan diri sendiri.

kejiwaan dan alam sekitarnya.16 Fahmi (1977:24) mengatakan bahwa penyesuaian diri adalah proses dinamis terus-menerus yang bertujuan untuk mengubah perilaku guna mendapatkan hubungan yang lebih serasi antara diri dan lingkungannya. potensi-potensi yang dimiliki dan tingkat kepuasan akan hasil atau pengalaman yang diperoleh. Penyesuaian diri dengan diri sendiri adalah bagaimana individu mempersepsi dirinya sendiri. Davidoff (1991:176) mendefinisikan penyesuaian diri sebagai proses usaha untuk mempertemukan tuntutan diri sendiri dengan lingkungan. Manusia dituntut untuk menyesuaikan diri dengan lingkungan sosial.com) yang menyatakan bahwa penyesuaian diri merupakan suatu proses dinamis yang bertujuan untuk mengubah perilaku individu agar terjadi hubungan yang lebih sesuai antara diri individu dengan lingkunganya. khawatir dan marah apabila mendapat suatu tekanan dari lingkungan. Hal ini disebabkan oleh adanya dorongan untuk mengatasi hambatan-hambatan dalam mengaktualisasikan diri di lingkungan. Penyesuaian diri dengan lingkungan dimaksud sebagai bagaimana individu mempersepsi dan bersikap terhadap realitas yang ada. Pendapat Fahmi senada dengan Mu’tadin (www. .psikologi. Individu yang mempunyai penyesuaian diri yang baik dapat mengendalikan perasaan cemas. Kehidupan ini sendiri secara alamiah juga mendorong manusia untuk terus-menerus menyesuaikan diri.

17 Gerungan (1996:55) menyatakan bahwa penyesuaian diri berarti mengubah diri sesuai dengan keadaan lingkungan (autoplastis) dan mengubah lingkungan sesuai dengan keinginan diri (alloplastis). penyesuaian diri dapat bersifat pasif yaitu kegiatan individu ditentukan oleh lingkungan dan dapat bersifat aktif yaitu kegiatan individu mempengaruhi lingkungan. . Jadi. 1996:334). Karena lingkungan dan keinginan individu yang selau berubah. yaitu individu berusaha keras agar mampu mengatasi konflik dan frustrasi karena terhambatnya kebutuhan dalam dirinya. Penyesuaian diri merupakan proses yang mencakup respon mental dan tingkah laku. Penyesuaian diri dapat diperoleh melalui proses belajar memahami. Adanya hal-hal tersebut membuat individu akan lebih mudah diterima oleh lingkungan. sikap dan perilakunya. sehingga tercapai keselarasan dan keharmonisan antara tuntutan dalam diri dan tuntutan dari lingkungan (Schneiders dalam Pramadi. kreatif dalam mengolah kondisi serta mampu mngendalikan diri. Individu yang mampu menyesuaikan diri dengan baik akan mampu mencari sisi positif dari hal baru yang dimilikinya. maka penyesuaian diri sifatnya selalu dinamis antara autoplastis dan alloplastis. mengerti dan berusaha melakukan apa yang diinginkan individu maupun lingkungannya.

cemas. Aspek-Aspek Penyesuaian Diri Fahmi (1982:20) mengemukakan aspek-aspek penyesuaian diri yang terdiri dari : 1) Penyesuaian pribadi Penyesuaian pribadi adalah penerimaan individu terhadap dirinya sendiri. Penyesuaian pribadi yang baik atau buruk pada prinsipnya dilandasi oleh sikap dan pandangan terhadap diri dan lingkungan. tidak puas.18 Berdasarkan beberapa pendapat di atas dapat disimpulkan bahwa penyesuaian diri merupakan suatu usaha yang dilakukan oleh individu untuk mempertemukan tuntutan diri sendiri dengan lingkungan. Sebaliknya. memiliki sikap dan pandangan positif. kurang dan keluhan terhadap nasib yang dialaminya. Penyesuaian pribadi berhubungan dengan konflik. b. tekanan dan keadaan dalam diri individu. baik secara aktif maupun pasif yang melibatkan respon mental dan tingkah laku. sehingga tercapai hubungan yang harmonis antara diri dengan lingkungannya. bahagia. kehidupan kejiwaannya ditandai oleh kegoncangan emosi atau kecemasan yang menyertai rasa bersalah. remaja yang dapat menyesuaikan diri dengan baik akan merasa aman. baik keadaan fisik maupun keadaan psikis. Remaja yang mengalami penyesuaian pribadi yang buruk. .

Dalam proses penyesuaian sosial individu mulai berkenalan dengan kaidah dan peraturan yang ada lalu mematuhinya. adat dan nilai-nilai yang mereka patuhi untuk mencapai penyelesaian bagi persoalan-persoalan hidup agar dapat tetap bertahan dalam jalan yang sehat dari segi kejiwaan dan sosial. Individu menyadari sepenuhnya siapa dirinya sebenarnya.psikologi. sehingga tercapai hubungan yang harmonis antara dirinya dengan lingkungan sekitarnya. Mu’tadin (www.19 2) Penyesuaian sosial Penyesuaian sosial terjadi dalam lingkup hubungan sosial tempat individu hidup dan berinteraksi. sehingga . Individu bertingkah laku menurut sejumlah aturan.com) mengatakan bahwa pada dasarnya penyesuaian diri memiliki dua aspek yaitu : 1) Penyesuaian pribadi Penyesuaian pribadi adalah kemampuan individu untuk menerima dirinya sendiri. hukum. Proses yang harus dilakukan individu dalam penyesuaian sosial adalah kemauan untuk mematuhi norma dan peraturan sosial kemasyarakatan. 2) Penyesuaian sosial Penyesuaian sosial terjadi dalam lingkup hubungan sosial tempat individu berinteraksi dengan orang lain. apa kelebihan dan kekurangannya serta mampu bertindak objektif sesuai dengan kondisi dirinya tersebut.

2) Memiliki kepribadian yang matang dan terintegrasi baik terhadap diri sendiri maupun orang lain. harmonis dan seimbang. mempunyai kemampuan untuk memahami dan mengontrol diri sendiri. Kartono (2000:270) mengungkapkan aspek-aspek penyesuaian diri yang meliputi : 1) Memiliki perasaan afeksi yang adekuat. Melalui norma dalam masyarakat individu dituntut untuk dapat bekerjasama dan berinteraksi dengan individu dan kelompok lainnya.20 menjadi bagian dari pembentukan jiwa sosial pada dirinya dan menjadi pola tingkah laku kelompok. berfikir dengan menggunakan rasio. sehingga ia mampu mengatasi konflik dan . 4) Mempunyai struktur sistem syaraf yang sehat dan memiliki kekenyalan (daya lenting) psikis untuk mengadakan adaptasi. 3) Mempunyai relasi sosial yang memuaskan ditandai dengan kemampuan untuk bersosialisasi dengan baik dan ikut berpartisipasi dalam kelompok. baik budi pekertinya dan mampu bersikap hati-hati. mempunyai sikap tanggung jawab. sehingga merasa aman. Berdasarkan uraian di atas dapat disimpulkan bahwa aspek-aspek penyesuaian diri adalah sebagai berikut : 1) Penyesuaian pribadi Penyesuaian pribadi merupakan kemampuan individu untuk menerima dirinya.

21 tekanan dan menjadi pribadi yang matang. bertanggungjawab dan mampu mengontrol diri sendiri. Sedangkan indikator-indikator untuk penyesuaian sosial adalah : a) Memiliki hubungan interpersonal yang baik b) Memiliki simpati pada orang lain c) Mampu menghargai orang lain d) Ikut berpartisipasi dalam kelompok e) Mampu bersosialisasi dengan baik sesuai norma yang ada . Dalam penelitian ini penyesuaian sosial terjadi dalam lingkup hubungan sosial tempat remaja hidup dan berinteraksi yaitu panti asuhan. sehingga ia mampu menjalin relasi sosial dengan baik dan mampu menyesuaikan diri dengan lingkungannya. baik dengan pengasuh maupun teman-teman sesama penghuni panti asuhan. Adapun indikator-indikator secara rinci dari penyesuaian pribadi adalah sebagai berikut : a) Penerimaan individu terhadap diri sendiri b) Mampu menerima kenyataan c) Mampu mengontrol diri sendiri d) Mampu mengarahkan diri sendiri 2) Penyesuaian sosial Penyesuaian sosial merupakan kemampuan individu untuk mematuhi norma dan peraturan sosial yang ada.

Faktor-Faktor yang Mempengaruhi Penyesuaian Diri Penyesuaian diri dipengaruhi oleh banyak faktor. 1) Faktor internal a) Faktor motif. sosial maupun aspek akademik. secara garis besar faktor-faktor yang mempengaruhi penyesuaian diri remaja menurut Hariyadi. peristiwa dan kehidupan. b) Faktor konsep diri remaja. yaitu kecenderungan remaja untuk berperilaku positif atau negatif. yaitu bagaimana remaja memandang dirinya sendiri. Remaja dengan konsep diri tinggi akan lebih memiliki kemampuan untuk melakukan penyesuaian diri yang menyenangkan dibanding remaja dengan konsep diri rendah. c) Faktor persepsi remaja. pesimis ataupun kurang yakin terhadap dirinya. Remaja yang bersikap positif terhadap segala sesuatu yang dihadapi akan lebih memiliki peluang untuk melakukan penyesuaian diri yang baik dari pada remaja yang sering bersikap negatif. d) Faktor sikap remaja. dkk (1995:110) dikelompokkan menjadi dua bagian yaitu faktor internal dan faktor eksternal. psikologis. motif berprestasi dan motif mendominasi. baik dari aspek fisik. .22 c. yaitu motif-motif sosial seperti motif berafiliasi. yaitu pengamatan dan penilaian remaja terhadap objek. baik melalui proses kognisi maupun afeksi untuk membentuk konsep tentang objek tersebut.

Manganalisis. . pengaruhnya akan lebih nyata bila remaja telah memiliki minat terhadap sesuatu. c) Faktor kelompok sebaya. Kelompok teman sebaya ini ada yang menguntungkan pengembangan proses penyesuaian diri tetapi ada pula yang justru menghambat proses penyesuaian diri remaja. Pada dasarnya pola asuh demokratis dengan suasana keterbukaan akan lebih memberikan peluang bagi remaja untuk melakukan proses penyesuaian diri secara efektif. intelegensi merupakan modal untuk menalar. Kondisi sekolah yang sehat akan memberikan landasan kepada remaja untuk dapat bertindak dalam penyesuaian diri secara harmonis. 2) Faktor eksternal a) Faktor keluarga terutama pola asuh orang tua. Ditambah faktor minat. f) Faktor kepribadian.23 e) Faktor intelegensi dan minat. maka proses penyesuaian diri akan lebih cepat. pada prinsipnya tipe kepribadian ekstrovert akan lebih lentur dan dinamis. sehingga lebih mudah melakukan penyesuaian diri dibanding tipe kepribadian introvert yang cenderung kaku dan statis. Hampir setiap remaja memiliki teman-teman sebaya dalam bentuk kelompok. sehingga dapat menjadi dasar dalam melakukan penyesuaian diri. b) Faktor kondisi sekolah.

sukar diatur. . moral dan emosional. Kualitas penyesuian diri yang baik hanya dapat diperoleh dan dipelihara dalam kondisi kesehatan fisik yang baik. prasangka semacam itu jelas akan menjadi kendala dalam proses penyesuaian diri remaja. Bila suatu masyarakat benarbenar konsekuen menegakkan hukum dan norma-norma yang berlaku maka akan mengembangkan remaja-remaja yang baik penyesuaian dirinya. Adanya kecenderungan sebagian masyarakat yang menaruh prasangka terhadap para remaja. nakal. sosial. misalnya memberi label remaja negatif. susunan syaraf. kelenjar dan sistem otot. Sunarto dan Hartono (1994:188) mengemukakan faktor-faktor yang mempengaruhi penyesuaian diri yaitu : 1) Kondisi fisik Kondisi fisik termasuk di dalamnya keturunan. 2) Perkembangan dan kematangan. kesehatan. suka menentang orang tua dan lain-lain.24 d) Faktor prasangka sosial. khususnya kematangan intelektual. penyakit dan sebagainya. Penyesuaian diri pada tiap-tiap individu akan bervariasi sesuai dengan tingkat perkembangan dan kematangan yang dicapainya. konstitusi fisik. e) Faktor hukum dan norma sosial.

kebutuhan-kebutuhan. belajar. frustrasi dan konflik. . psikologis (diantaranya yaitu pengalaman. Pendapat mengenai faktor-faktor yang mempengaruhi penyesuaian diri yang dikemukakan di atas dapat disimpulkan bahwa penyesuaian diri dipengaruhi oleh faktor internal dan faktor eksternal. intelegensi. 4) Kondisi lingkungan Keadaan lingkungan yang damai. kondisi fisik. pengertian dan mampu memberi perlindungan kepada nggota-anggotanya merupakan lingkungan yang akan memperlancar proses penyesuaian diri. konsep diri.25 3) Penentu psikologis Banyak sekali faktor psikologis yang mempengaruhi proses penyesuaian diri. tentram. kepribadian. penuh penerimaan. diantaranya yaitu pengalaman. 5) Penentu kultural Lingkungan berinteraksi Contohnya. akan tata kultural dimana pola di individu berada dan menentukan cara penyesuaian panti dirinya. persepsi. belajar. kebutuhan-kebutuhan. 1) Faktor internal Yaitu faktor yang berasal dari dalam diri individu yang meliputi motif. minat. determinasi diri. akan kehidupan asuhan mempengaruhi bagaimana remaja menempatkan diri dan bergaul dengan orang lain di sekitarnya. sikap. determinasi diri.

kemampuan yang ada pada dirinya dan kenyataan objektif di luar dirinya. 3) Kemampuan bertindak sesuai dengan potensi. perkembangan dan kematangan (intelektual. 4) Kemampuan bertindak secara dinamis. 2) Kemampuan menerima dan menilai kenyataan lingkungan di luar dirinya secara objektif. 7) Memiliki kestabilan psikologis terutama kestabilan emosi. teman sebaya dan masyarakat. d. 6) Bersifat terbuka dan sanggup menerima umpan balik. . 5) Rasa hormat pada sesama manusia dan mampu bertindak toleran. sosial dan emosional). 8) Dapat bertindak sesuai dengan norma yang berlaku.26 frustrasi dan konflik). serta selaras dengan hak dan kewajibannya. luwes dan tidak kaku. sekolah. 2) Faktor eksternal Yaitu faktor yang berasal dari lingkungan atau dari luar individu. tidak dihantui oleh kecemasan dan ketakutan. penyesuaian diri yang positif menurut Hariyadi. Penyesuaian Diri yang Baik Penyesuaian diri secara positif pada dasarnya merupakan gejala perkembangan yang sehat. sehingga menimbulkan rasa aman. moral. dkk (1995:106) ditandai oleh : 1) Kemampuan menerima dan memahami diri sebagaimana adanya. seperti lingkungan keluarga.

Individu yang memiliki penyesuaian diri yang baik akan belajar untuk membagi stres dan kecemasannya pada orang lain. Kadangkala karena paksaan dan kesempatan dari lingkungan. Apabila individu mampu mengetahui dan mengerti dirinya sendiri dengan cara realistis maka ia dapat menyadari keseluruhan potensi dalam dirinya. 4) Mampu mengekspresikan emosi dalam diri sendiri Emosi yang ditampilkan individu realistis dan secara umum berada di bawah kontrol individu. 2) Mampu mengatasi stres dan ketakutan dalam diri sendiri Satu hal penting dalam penyesuaian diri adalah seberapa baik individu mengatasi kesulitan.27 Heber dan Runyon (1983) dalam Hutabarat (2004:73) menyebutkan beberapa tanda pengenal penyesuaian diri yang sehat yaitu : 1) Persepsi yang tepat tentang kenyataan atau realitas Individu yang penyesuaian dirinya baik akan merancang tujuan secara realitas dan secara aktif ia akan mengikutinya. individu seringkali mengubah dan memodifikasi tujuannya dan ini berlangsung terus-menerus dalam kehidupannya. 3) Dapat menilai diri sendiri secara positif Individu harus dapat mengenali kelemahan diri sebaik mengenal kelebihan diri. masalah dan konflik dalam hidupnya. dia . Ketika seseorang marah. Dukungan dari orang di sekitar dapat membantu individu dalam menghadapi masalahnya.

Individu yang penyesuaian dirinya baik mampu mencapai tingkatan yang tepat dari kedekatan dalam hubungan sosialnya. baik secara psikologis maupun fisik. Individu tersebut menikmati rasa suka dan penghargaan orang lain.28 mampu mengekspresikan dengan cara yang tidak merugikan orang lain. 5) Memiliki hubungan interpersonal yang baik Seseorang membutuhkan dan mencari kepuasan salah satunya dengan cara berhubungan satu sama lain. Sunarto dan Hartono (1994:184) menggolongkan individu yang mampu menyesuaikan diri secara positif ditandai hal-hal sebagai berikut : 1) Tidak menunjukkan adanya ketegangan emosional 2) Tidak menunjukkan adanya mekanisme-mekanisme psikologis 3) Tidak menunjukkan adanya frustrasi pribadi 4) Memiliki pertimbangan rasional dan pengarahan diri 5) Mampu dalam belajar 6) Menghargai pengalaman 7) Bersikap realistik dan objektif . Individu yang memiliki kematangan emosional mampu untuk membina dan memelihara hubungan interpersonal dengan baik. demikian pula sebaliknya individu menghargai orang lain.

sehingga dengan pengetahuan itu dapat digunakan menanggulangi timbulnya masalah.29 Sundari (2005:43) menyatakan bahwa seseorang dikatakan memiliki penyesuaian diri yang positif apabila ia dapat menunjukkan ciri-ciri sebagai berikut : 1) Tidak adanya ketegangan emosi Bila individu menghadapi masalah. Apapun yang terjadi dihadapi secara wajar tidak menjadi frustrasi. emosinya tetap tenang. 3) Dalam memecahkan masalah bersikap realistis dan objektif Bila seseorang menghadapi masalah segera dihadapi secara apa adanya. tidak ditunda-tunda. konflik maupun kecemasan. . 5) Dalam menghadapi masalah butuh kesanggupan membandingkan pengalaman diri sendiri maupun pengalaman orang lain. 2) Dalam memecahkan masalah berdasarkan pertimbangan rasional. tidak panik. mengarah pada masalah yang dihadapi secara langsung dan mampu menerima segala akibatnya. sehingga dalam memecahkan masalah dengan menggunakan rasio dan dapat mengendalikan emosinya. 4) Mampu belajar ilmu pengetahuan yang mendukung apa yang dihadapi. Pengalaman-pengalaman ini tidak sedikit sumbangannya dalam pemecahan masalah.

30

Dari karakteristik penyesuaian diri yang baik menurut beberapa tokoh di atas maka dapat disimpulkan bahwa karakteristik penyesuaian diri yang baik pada individu antara lain : 1) Mampu menerima dan memahami diri sendiri 2) Mampu menerima dan menilai kenyataan secara objektif 3) Mampu bertindak sesuai potensi diri 4) Memiliki kestabilan psikologis 5) Memiliki pertimbangan rasional dan pengarahan diri 6) Mampu bertindak sesuai norma yang berlaku 7) Memiliki hubungan interpersonal yang baik 2. Remaja a. Pengertian Remaja Masa remaja adalah masa transisi dari masa kanak-kanak menuju masa dewasa yang diikuti dengan berbagai masalah yang ada karena adanya perubahan fisik, psikis dan sosial. Masa peralihan itu banyak menimbulkan kesulitan-kesulitan dalam penyesuaian terhadap dirinya maupun terhadap lingkungan sosial. Hal ini dikarenakan remaja merasa bukan kanak-kanak lagi tetapi juga belum dewasa dan remaja ingin diperlakukan sebagai orang dewasa (Hurlock, 1994:174). Menurut Piaget dalam Hurlock (1994:206) remaja didefinisikan sebagai usia ketika individu secara psikologis berinteraksi dengan masyarakat dewasa. Pada masa remaja, anak tidak lagi merasa di bawah tingkat orang-orang yang lebih tua melainkan berada pada

31

tingkat yang sama. Antara lain dalam masalah hak dan berintegrasi dalam masyarakat, termasuk juga perubahan intelektual yang mencolok dan transformasi intelektual yang khas. Awal masa remaja berlangsung kira-kira dari 13 tahun sampai 16 tahun dan akhir remaja bermula dari usia 16 sampai 18 tahun yaitu usia matang secara hukum. Anak remaja sebetulnya tidak mempunyai tempat yang jelas. Remaja tidak termasuk golongan anak, tetapi tidak pula termasuk golongan orang dewasa atau golongan tua. Remaja ada diantara anak dan orang dewasa. Remaja masih belum mampu untuk menguasai fungsi-fungsi fisik maupun psikisnya (Monks, dkk., 2002:259). Menurut Santrock (2002:7) remaja merupakan suatu periode dimana kematangan kerangka dan seksual terjadi secara pesat, terutama pada awal masa remaja. Masa remaja terjadi secara berangsur-angsur tidak dapat ditentukan secara tepat kapan permulaan dan akhirnya, tidak ada tanda tunggal yang menandai. Bagi anak lakilaki ditandai tumbuhnya kumis dan pada perempuan ditandai melebarnya pinggul. Hal ini dikarenakan pada masa ini hormonhormon tertentu meningkat secara drastis. Pada laki-laki hormon tertosteron yaitu suatu hormon yang berkait dengan perkembangan alat kelamin, pertambahan tinggi dan perubahan suara. Sedang pada perempuan hormon estradiol yaitu suatu hormon yang berkait dengan perkembangan buah dada, rahim dan kerangka pada anak perempuan.

32

Remaja ditinjau dari sudut perkembangan fisik, remaja dikenal sebagai suatu tahap perkembangan fisik dimana alat-alat kelamin manusia mencapai kematangan secara anatomis berarti alat kelamin khususnya dan keadaan tubuh pada umumnya memperoleh bentuknya yang sempurna dan secara faali alat kelamin tersebut sudah berfungsi secara sempurna pula (Wirawan, 2001:6). Dari beberapa pengertian di atas dapat disimpulkan bahwa remaja merupakan individu yang telah mengalami kematangan secara anatomis dimana keadaan tubuh pada umumnya sudah memperoleh bentuk yang sempurna, hal tersebut berkisar antara usia 13 tahun sampai 18 tahun. b. Ciri-Ciri Remaja Rentang kehidupan individu pasti akan menjalani fase-fase perkembangan secara berurutan, meski dengan kecepatan yang berbeda-beda, masing-masing fase tersebut ditandai dengan ciri-ciri perilaku atau perkembangan tertentu, termasuk masa remaja juga mempunyai ciri tertentu. Ciri-ciri masa remaja (Hurlock, 1994:207) antara lain : 1) Periode yang penting Merupakan periode yang penting karena berakibat langsung terhadap sikap dan perilaku serta berakibat panjang.

5) Mencari identitas Pada awal masa remaja penyesuaian diri dengan kelompok masih penting. hal ini sering disebabkan selama masa anak-anak sebagian besar masalahnya diselesaikan oleh orang tua.33 2) Periode peralihan Pada periode ini status individu tidak jelas dan terdapat keraguan akan peran yang harus dilakukan. Masa ini remaja bukan lagi seorang anak dan bukan orang dewasa. jika perubahan fisik terjadi secara pesat perubahan perilaku dan sikap juga berlangsung secara pesat. 3) Periode perubahan Perubahan sikap dan perilaku sejajar dengan perubahan fisik. kemudian lambat laun mulai mendambakan identitas diri dan tidak puas lagi dengan menjadi sama dengan teman-teman sebayanya. 4) Usia bermasalah Masalah remaja sering sulit diatasi. 6) Usia yang menimbulkan ketakutan Adanya anggapan remaja adalah anak-anak yang tidak rapi. tidak dapat dipercaya dan cenderung berperilaku merusak. sehingga tidak berpengalaman mengatasinya. membuat orang dewasa yang harus membimbing dan mengawasi .

masa remaja juga mempunyai ciri-ciri tertentu yang harus dimiliki sebagai bekal menuju perkembangan berikutnya. para remaja mengadakan hubungan sosial terutama ditekankan pada hubungan relasi antara dua jenis kelamin. Tugas Perkembangan Remaja Setiap rentang kehidupan mempunyai tugas perkembangan masing-masing termasuk masa remaja mempunyai tugas perkembangan. tugas perkembangan masa remaja menurut Havighurst dalam Hurlock (1994:10) adalah : 1) Mencapai hubungan baru dan yang lebih matang dengan temanteman sebaya baik pria maupun wanita. Seperti halnya masa-masa perkembangan yang lain. dengan adanya ciri-ciri tersebut dapat dijadikan sinyal oleh lingkungan supaya remaja diperlakukan sebagaimana mestinya. 7) Masa yang tidak realistis Remaja melihat dirinya sendiri dan orang lain sebagaimana yang ia ingikan dan bukan bagaimana adanya. Akibat adanya kematangan seksual yang dicapai. Seorang remaja haruslah mendapat penerimaan dari kelompok teman sebaya agar . Remaja mulai bertindak seperti orang dewasa.34 remaja menjadi takut bertanggungjawab dan bersikap tidak simpatik terhadap perilaku remaja yang normal. 8) Ambang masa dewasa. c.

sedang dalam kelompok jenis kelamin lain remaja belajar menguasai keterampilan sosial. Yaitu mempelajari peran sosialnya masing-masing sebagai pria atau wanita dan dapat menjalankan perannya masing-masing sesuai dengan jenis kelamin masing-masing sesuai dengan norma yang berlaku. 5) Mencapai kemandirian emosional dari orang tua dan orang dewasa lainnya.35 memperoleh rasa dibutuhkan dan dihargai. remaja belajar untuk bertingkah laku sebagai orang dewasa. 3) Menerima keadaan fisiknya dan menggunakan tubuhnya secara efektif. 4) Mengharapkan bertanggungjawab. Berpartisipasi sebagai orang dewasa yang dan mencapai perilaku sosial yang bertanggungjawab dalam kehidupan bermasyarakat. misalnya tidak . Seorang remaja mulai dituntut memiliki kebebasan emosional karena jika remaja mengalami keterlambatan akan menemui berbagai kesukaran pada masa dewasa. melindungi dan menggunakannya secara efektif. Dalam kelompok sejenis. 2) Mencapai peran sosial pria atau wanita. Menjadi bangga atau sekurang-kurangnya toleran dengan tubuh sendiri serta menjaga.

6) Mempersiapkan karier ekonomi. maka akan menjadi modal dalam melakukan penyesuaian diri. Yaitu mulai berusaha memperoleh pengetahuan tentang kehidupan berkeluarga. 7) Mempersiapkan perkawinan dan keluarga. Yaitu dapat mengembangkan nilai-nilai yang berlaku dalam masyarakat sebagai pandangan hidup bermasyarakat. Dengan telah terpenuhinya tugas perkembangan remaja. 2001:826) mendefinisikan panti asuhan sebagai rumah tempat memelihara dan merawat anak yatim piatu dan sebagainya. . 3. Panti Asuhan a. karena remaja lebih merasa percaya diri dalam bertindak. 8) Memperoleh perangkat nilai dan sistem etis sebagai pegangan untuk berperilaku mengembangkan ideologi. Pengertian Panti Asuhan Kamus Besar Bahasa Indonesia (Departemen Pendidikan Nasional.36 dapat menentukan rencana sendiri dan tidak dapat bertanggungjawab. Jika seorang remaja berhasil mencapai tugas perkembangannya maka akan menimbulkan rasa bahagia dan membawa ke arah keberhasilan dalam melaksanakan tugas-tugas berikutnya. yaitu mulai memilih pekerjaan serta mempersiapkan diri masuk dunia kerja. ada juga yang sudah tertarik untuk berkeluarga.

sehingga memperoleh kesempatan yang luas. tepat dan memadai bagi perkembangan kepribadiannya sesuai dengan yang diharapkan sebagai bagian dari generasi penerus cita-cita bangsa dan sebagai insan yang akan turut serta aktif di dalam bidang pembangunan nasional. memberikan pelayanan pengganti fisik.37 Departemen Sosial Republik Indonesia (1997:4) menjelaskan bahwa : Panti asuhan adalah suatu lembaga usaha kesejahteraan sosial yang mempunyai tanggung jawab untuk memberikan pelayanan kesejahteraan sosial kepada anak terlantar dengan melaksanakan penyantunan dan pengentasan anak terlantar. keluarga dan masyarakat. mental dan sosial pada anak asuh. tepat dan memadai bagi perkembangan kepribadian sesuai dengan harapan. Kesimpulan dari uraian di atas bahwa panti asuhan merupakan lembaga kesejahteraan sosial yang bertanggung jawab memberikan pelayanan penganti dalam pemenuhan kebutuhan fisik. Tujuan Panti Asuhan Tujuan panti asuhan menurut Departemen Sosial Republik Indonesia (1997:6) yaitu : 1) Panti asuhan memberikan pelayanan yang berdasarkan pada profesi pekerja sosial kepada anak terlantar dengan cara membantu dan membimbing mereka ke arah perkembangan pribadi yang wajar serta mempunyai keterampilan kerja. b. mental dan sosial pada anak asuhnya. sehingga mereka menjadi anggota masyarakat yang dapat hidup layak dan penuh tanggung jawab. sehingga mereka memperoleh kesempatan yang luas. baik terhadap dirinya. .

. 2) Sebagai pusat data dan informasi serta konsultasi kesejahteraan sosial anak. c. 3) Sebagai pusat pengembangan keterampilan (yang merupakan fungsi penunjang). Panti asuhan berfungsi sebagai pemulihan. Dari uraian di atas dapat disimpulkan bahwa tujuan panti asuhan adalah memberikan pelayanan. Fungsi Panti Asuhan Panti asuhan berfungsi sebagai sarana pembinaan dan pengentasan anak terlantar. mempunyai keterampilan kerja yang mampu menopang hidupnya dan hidup keluarganya. Panti asuhan sebagai lembaga yang melaksanakan fungsi keluarga dan masyarakat dalam perkembangan dan kepribadian anak-anak remaja. bimbingan dan keterampilan kepada anak asuh agar menjadi manusia yang berkualitas. perlindungan. Menurut Departemen Sosial Republik Indonesia (1997:7) panti asuhan mempunyai fungsi sebagai berikut : 1) Sebagai pusat pelayanan kesejahteraan sosial anak.38 2) Tujuan penyelenggaraan pelayanan kesejahteraan sosial anak di panti asuhan adalah terbentuknya manusia-manusia yang berkepribadian matang dan berdedikasi. pengembangan dan pencegahan.

39 Berdasarkan uraian di atas dapat disimpulkan bahwa fungsi panti asuhan adalah memberikan pelayanan. Di panti asuhan juga terdapat aturan-aturan dan larangan-larangan tertentu yang telah ditetapkan yang harus dipatuhi oleh setiap remaja penghuni panti asuhan. Bagi remaja yang tinggal di panti asuhan. Remaja yang tinggal di panti asuhan berkembang dengan bimbingan dan perhatian dari pengasuh yang berfungsi sebagai pengganti . Orang lain yang dimaksudkan yaitu pengasuh dan teman-teman sesama penghuni panti asuhan. konsultasi dan pengembangan keterampilan bagi kesejahteraan sosial anak. sehingga tercapai hubungan yang harmonis antara diri sendiri dengan lingkungan tempat tinggalnya yaitu panti asuhan. baik secara aktif maupun pasif yang melibatkan respon mental dan tingkah laku. informasi. Penyesuaian Diri Remaja di Panti Asuhan Penyesuaian diri remaja di panti asuhan merupakan suatu usaha yang dilakukan oleh remaja untuk mempertemukan tuntutan diri sendiri dengan lingkungan. lingkungan panti asuhan merupakan lingkungan sosial utama yang mereka kenal. 4. sehingga remaja perlu melakukan penyesuaian diri sesuai dengan lingkungan dimana remaja berada yaitu panti asuhan dan sesuai kebutuhan yang dituntut dari lingkungan tersebut agar proses pencapaian keharmonisan dalam mengadakan hubungan yang memuaskan bersama orang lain dan lingkungannya dapat tercapai.

baik dengan pengasuh dan teman-teman sesama penghuni panti asuhan. Bisa bergaul dengan orang lain dengan jalan membina persahabatan yang kekal. Semakin lama individu tinggal di suatu lingkungan. Bisa menghargai pribadi lain dan menghargai hak-hak sendiri di dalam lingkungannya. Sebab sikap menarik diri. Remaja semestinya harus sensitif terhadap masalah dan kesulitan orang lain serta ada kesanggupan untuk berpartisipasi di dalam aktivitas yang ada di panti asuhan.com). remaja perlu menyesuaikan diri dengan lingkungan tempat tinggalnya yaitu di panti asuhan. Hal ini dapat mempengaruhi tingkat penyesuaian diri individu tersebut. takut .highbeam. maka individu tersebut akan semakin terbiasa atau familiar dengan lingkungan tersebut. Remaja yang tinggal di panti asuhan berada dalam satu keluarga walaupun berasal dari keluarga yang berbeda-beda. Setiap remaja mempunyai pengalaman hidup yang berbeda-beda dan mereka berkumpul dalam satu keluarga yaitu panti asuhan. Mereka saling bekerjasama dalam menjalankan tugas masing-masing. Simpati terhadap orang lain adalah satu bentuk penyesuaian diri. Remaja diharapkan mampu mereaksi secara efektif dan harmonis terhadap realitas sosial dan bisa mengadakan relasi sosial yang sehat. Oleh karena itu. semakin lama remaja tersebut tinggal di suatu panti asuhan yang sama maka ia akan semakin terbiasa dan lebih mudah menyesuaikan diri dengan lingkungan panti tersebut (www.40 orang tua dalam keluarga. sama halnya dengan remaja yang tinggal di panti asuhan.

B. negatif dan bisa menimbulkan banyak kesulitan. dicintai. timbul rasa percaya diri dan kompeten. Dukungan sosial yang diterima dapat membuat individu merasa tenang. diperhatikan. Saat seseorang didukung oleh lingkungan maka segalanya akan terasa lebih mudah. bermusuhan dan egois adalah bentuk penyesuaian diri yang kaku. Pengertian Dukungan Sosial Dukungan sosial sangat diperlukan oleh siapa saja dalam berhubungan dengan orang lain demi melangsungkan hidupnya di tengahtengah masyarakat. Ikatan dan persahabatan dengan orang lain dianggap sebagai aspek yang memberikan kepuasan secara emosional dalam kehidupan individu. Dukungan Sosial 1.41 melakukan kontak dengan orang lain. Dukungan sosial menunjukkan pada hubungan interpersonal yang melindungi individu terhadap konsekuensi negatif dari stres. Rook dalam Smet (1994:134) mengatakan bahwa dukungan sosial merupakan salah satu fungsi dari ikatan sosial. pemberian bantuan tingkah laku atau materi yang didapat dari hubungan sosial yang akrab atau hanya disimpulkan dari keberadaan mereka yang membuat . Menurut Cobb dalam Shinta (1995:36) dukungan sosial adalah pemberian informasi baik secara verbal maupun non verbal. dan ikatan-ikatan sosial tersebut menggambarkan tingkat kualitas umum dari hubungan interpersonal.

agar mereka dapat mencari jalan keluar untuk memecahkan masalahnya. Tingkatan kepuasan akan dukungan sosial yang diterima. merupakan persepsi individu terhadap sejumlah orang yang dapat diandalkan saat individu membutuhkan bantuan (pendekatan berdasarkan kuantitas). Hal senada diungkap oleh Gottlieb dalam Smet (1994:135) yang menyatakan bahwa dukungan sosial terdiri dari informasi atau nasehat verbal dan non verbal.com) mengatakan bahwa dukungan sosial adalah keberadaan. . Sarason (1983) dalam Kuntjoro (www. bantuan yang nyata atau tindakan yang diberikan oleh orang lain atau didapat karena hubungan mereka dengan lingkungan dan mempunyai manfaat emosioanl atau efek perilaku bagi dirinya. Jumlah sumber dukungan sosial yang tersedia. sehingga dapat menguntungkan bagi kesejahteraan individu yang menerima.e-psikologi. Sarason berpendapat bahwa dukungan sosial itu selalu mencakup dua hal yaitu : a. mendapat saran atau kesan yang menyenangkan pada dirinya. kesediaan. Dalam hal ini orang yang merasa memperoleh dukungan sosial secara emosional merasa lega karena diperhatikan. kepedulian dari orang-orang yang dapat diandalkan. bernilai dan dicintai.42 individu merasa diperhatikan. berkaitan dengan persepsi individu bahwa kebutuhannya akan terpenuhi (pendekatan berdasarkan kualitas). b. menghargai dan menyayangi kita.

Sarafino (1998:97) mengatakan bahwa dukungan sosial adalah kenyamanan. Dukungan sosial bukan sekedar pemberian bantuan. diperhatikan. Hal itu erat hubungannya dengan ketepatan dukungan sosial yang diberikan. tergantung pada sejauh mana individu merasakan hal tersebut sebagai dukungan sosial. Dukungan sosial didefinisikan oleh House dalam Smet (1994:136) sebagai transaksi interpersonal yang melibatkan satu atau lebih aspekaspek yang terdiri dari informasi. . Hal tersebut menunjukkan bahwa segala sesuatu yang ada di lingkungan menjadi dukungan sosial atau tidak. penghargaan atau bantuan yang diperoleh individu dari orang lain. perhatian.43 Hal di atas penting dipahami oleh individu yang ingin memberikan dukungan sosial karena menyangkut persepsi tentang keberadaan (availability) dan ketepatan (adequancy) dukungan sosial bagi seseorang. dihargai dan menjadi bagian dalam kelompok. penilaian dan bantuan instrumental. tetapi yang penting adalah bagaimana persepsi si penerima terhadap makna dari bantuan tersebut. perhatian emosional. Tersedianya dukungan sosial akan membuat individu merasa dicintai. dalam arti bahwa orang yang menerima sangat merasakan manfaat bantuan bagi dirinya karena sesuatu yang aktual dan memberikan kepuasan. dimana orang lain disini dapat diartikan sebagai individu perorangan atau kelompok.

meningkatkan harga diri dan kejelasan identitas diri serta memiliki perasaan positif mengenai diri sendiri. sehingga menimbulkan pengaruh positif yang dapat mengurangi gangguan psikologis. 2. perhatian emosi. Jenis-Jenis Dukungan Sosial House dalam Smet (1994:136) membedakan empat jenis dukungan sosial yaitu : . Dari definisi di atas dapat disimpulkan bahwa dukungan sosial merupakan hubungan interpersonal yang di dalamnya berisi pemberian bantuan yang melibatkan aspek-aspek yang terdiri dari informasi.44 Menurut Effendi dan Tjahjono (1999:218) dukungan sosial merupakan transaksi interpersonal yanhg ditujukan dengan memberi bantuan kepada individu lain dan bantuan itu diperoleh dari orang yang berarti bagi individu yang bersangkutan. sehingga dapat membantu individu dalam mengatasi masalahnya. penilaian dan bantuan instrumental yang diperoleh individu melalui interaksi dengan lingkungan. dimana hal itu memiliki manfaat emosional atau efek perilaku bagi penerima. Selain itu dukungan sosial dapat dijadikan pelindung untuk melawan perubahan peristiwa kehidupan yang berpotensi penuh dengan stres. Dukungan sosial berperan penting dalam memelihara keadaan psikologis individu yang mengalami tekanan. sehingga dapat meningkatkan kesejahteraan psikologis karena adanya perhatian dan pengertian akan menimbulkan perasaan memiliki.

sehingga individu tersebut merasa nyaman. membentuk kepercayaan diri dan kemampuan serta merasa dihargai dan berguna saat individu mengalami tekanan. kepedulian dan perhatian terhadap individu. dicintai dan diperhatikan. c. dorongan untuk maju atau persetujuan dengan gagasan atau perasaan individu dan perbandingan positif orang tersebut dengan orang lain. saran atau umpan balik yang diperoleh dari orang lain. b. Dukungan instrumental Meliputi bantuan secara langsung sesuai dengan yang dibutuhkan oleh seseorang. petunjuk. seperti memberi pinjaman uang atau menolong dengan pekerjaan pada waktu mengalami stres. sehingga individu dapat . Pemberian dukungan ini membantu individu untuk melihat segi-segi positif yang ada dalam dirinya dibandingkan dengan keadaan orang lain yang berfungsi untuk menambah penghargaan diri.45 a. Dukungan informatif Mencakup pemberian nasehat. Dukungan ini meliputi perilaku seperti memberikan perhatian atau afeksi serta bersedia mendengarkan keluh kesah orang lain. Dukungan emosional Dukungan ini mencakup ungkapan empati. d. Dukungan penghargaan Dukungan ini terjadi lewat ungkapan hormat positif untuk orang tersebut.

b.46 membatasi masalahnya dan mencoba mencari jalan keluar untuk memecahkan masalahnya. dicintai dan diperhatikan. Dukungan emosional Dukungan ini melibatkan ekspresi rasa empati dan perhatian terhadap individu. Dukungan informasi Dukungan yang bersifat informasi ini dapat berupa saran. . Menurut Sarafino (1998:98) dukungan sosial terdiri dari empat jenis yaitu : a. misalnya yang berupa bantuan finansial atau bantuan dalam mengerjakan tugastugas tertentu. perasaan dan performa orang lain. d. c. Dukungan instrumental Bentuk dukungan ini melibatkan bantuan langsung. sehingga individu tersebut merasa nyaman. Dukungan ini meliputi perilaku seperti memberikan perhatian dan afeksi seta bersedia mendengarkan keluh kesah orang lain. Dukungan penghargaan Dukungan ini melibatkan ekspresi yang berupa pernyataan setuju dan penilaian positif terhadap ide-ide. pengarahan dan umpan balik tentang bagaimana cara memecahkan persoalan.

Dukungan dari orang-orang terdekat berupa kesediaan untuk mendengarkan keluhan remaja akan membawa efek positif yaitu sebagai pelepasan emosi dan mengurangi kecemasan. Dukungan penghargaan dapat dijadikan semangat bagi remaja untuk tetap maju dan mengembangkan diri agar tidak selalu menyesali keadaannya. diterima dan dihargai oleh lingkungannya. Dukungan sosial yang diterima oleh individu sangat beragam dan tergantung pada keadaannya. . dorongan untuk mengungkapkan perasaan. Dukungan emosional lebih terasa dan dibutuhkan jika diberikan pada orang yang sedang mengalami musibah atau kesulitan. Dukungan sosial sangat diperlukan oleh siapa saja untuk berhubungan dengan orang lain.47 Pendapat senada dikemukakan juga oleh Ritter dalam Smet (1994:134) dukungan sosial mencakup dukungan emosional. Misalnya. pemberian nasehat atau informasi maupun bantuan secara materi. Sama halnya dengan remaja di panti asuhan yang mengalami kesulitan dalam menjalin relasi dengan orang lain di lingkungannya. Dukungan ini mengembangkan harga diri pada yang menerimanya. Arti dan cakupan mengenai makna dari dukungan sosial sangat luas dan mendalam. Dalam dukungan ini renaja merasa diperhatikan. Dukungan instrumental bagi remaja di panti asuhan dapat berupa penyediaan sarana dan pelayanan yang dapat memperlancar dan memudahkan perilaku remaja dalam segala aktivitasnya. memberi pujian bila remaja melakukan sesuatu yang baik.

Ketika remaja mengalami kesulitan untuk dapat menerima suatu norma di dalam masyarakat atau aturan di panti asuhan.48 Dukungan informasi membuat remaja merasa mendapat nasehat. pengasuh dapat menjelaskan kepada remaja tentang alasan dan tujuan dibuatnya peraturan tersebut. Dukungan materi Dukungan materi adalah dukungan yang biasa disebut juga bantuan nyata (tangible aid) atau dukungan alat (instrumental support). pengasuh dapat memberikan saran tentang cara belajar yang baik. petunjuk atau umpan balik agar dapat membatasi masalahnya dan mencoba mencari jalan keluar untuk memecahkan masalahnya. akibatnya individu tersebut dapat lebih bersemangat dalam menjalani hidup karena dirinya merasa diperhatikan. Contohnya. Informasi yang diberikan oleh orang-orang terdekat seperti pengasuh dan teman di panti asuhan diharapkan mampu membuat remaja menerima dan melaksanakan aturan tersebut tanpa paksaan. didukung dan diakui keberadaanya. Dukungan sosial yang diterima individu dari lingkungannya pada saat yang tepat dapat memberikan motivasi bagi individu tersebut. Menurut Cutrona dan Orford dalam Shinta (1995:36) mengungkapkan lima dimensi fungsi dasar dari dukungan sosial yaitu : a. . bila remaja mengalami kesulitan dalam hal belajar.

c. e. c. keyakinan atau umpan balik tentang bagaimana seseorang berperilaku. . afeksi atau ekspresi. Dukungan penghargaan Dukungan penghargaan terjadi bila ada ekspresi penilaian yang positif terhadap individu. Dukungan instrumental. b. mencakup penilaian positif terhadap individu dan dorongan untuk maju. mencakup pemberian nasehat. petunjuk dan saran tentang bagaimana individu berperilaku. Dukungan informasi Dukungan yang berupa pemberian saran. Dukungan informasi. Dukungan emosi Jenis dukungan ini berhubungan dengan hal yang bersifat emosional atau menjaga keadaan emosi. pengarahan. Dukungan penghargaan. d. Integritas sosial Dapat diartikan sebagai perasaan individu yang merupakan bagian dari suatu kelompok yang memiliki minat dan pemikiran yang sama. d. Dukungan emosional. berupa bantuan langsung sesuai dengan yang dibutuhkan individu.49 b. maka penulis mneyimpulkan bahwa jenis-jenis dukungan sosial meliputi : a. Berdasarkan pendapat dari beberapa ahli di atas. mencakup ungkapan empati dan perhatian terhadap individu.

istri. teman . Namun perlu diketahui seberapa banyak sumber dukungan sosial ini efektif bagi individu yang memerlukan. Sumber artificial Dukungan sosial artificial adalah dukungan sosial yang dirancang ke dalam kebutuhan primer seseorang. teman dekat atau relasi. Menurut Rook dan Dooley (1985) dalam Kuntjoro (www. Dengan pengetahuan dan pemahaman tersebut. misalnya dukungan sosial akibat bencana alam melalui berbagai sumbangan sosial. b. sehingga dukungan sosial memiliki makna yang berarti bagi kedua belah pihak.com) ada dua sumber dukungan sosial yaitu : a. kekasih.epsikologi.50 3. Sumber natural Dukungan sosial yang natural diterima seseorang melalui interaksi sosial dalam kehidupannya secara spontan dengan orangorang yang berada di sekitarnya. suami dan kerabat). Sumber-Sumber Dukungan Sosial Sumber-sumber dukungan sosial banyak diperoleh individu dari lingkungan sekitarnya. Caplan dalam Gottlieb (1983:23) mengatakan bahwa dukungan sosial dapat diperoleh dari pasangan hidupnya. Dukungan sosial ini bersifat non formal. seseorang akan tahu pada siapa ia akan mendapatkan dukungan sosial yang sesuai dengan situasi dan keinginannya yang spesifik. Sumber dukungan sosial merupakan aspek paling penting untuk diketahui dan dipahami. misalnya anggota keluarga (anak. keluarga.

Kekuatan dukungan sosial yang berasal dari relasi yang terdekat merupakan salah satu proses psikologis yang dapat menjaga perilaku sehat dalam diri seseorang. . maka dukungan sosial yang diterima individu dapat diperoleh dari anggota keluarga. Remaja yang tinggal di panti asuhan berkembang dengan bimbingan dan perhatian pengasuh yang berfungsi sebagai pengganti orang tua. rekan kerja. Bagi remaja panti asuhan. Berdasarkan uraian di atas. teman. 1994:33).51 sekerja. sumbersumber dukungan sosial bagi remaja di panti asuhan dapat diperoleh dari pengasuh dan teman-teman di panti asuhan. lingkungan panti asuhan merupakan lingkungan utama yang dikenalnya. keluarga. Pendapat senada dikemukakan oleh Sarafino (1998:97) bahwa dukungan sosial dapat diperoleh dari bermacam-macam sumber seperti suami atau istri. dokter dan organisasi kemasyarakatan. Melengkapi pendapat tersebut Gore dalam Gottlieb (1983:19) menyatakan bahwa dukungan sosial lebih sering didapat dari relasi yang terdekat yaitu keluarga atau sahabat. sehingga merupakan sumber dukungan sosial yang utama bagi remaja. Dukungan sosial tersebut remaja dapatkan dari pengasuh dan teman-teman sesama penghuni panti asuhan. Dukungan sosial terpenting berasal dari keluarga (Rodin dan Salovey dalam Smet. teman sebaya dan organisasi kemasyarakatan yang diikuti. Dalam penelitian ini. atau organisasi kemasyarakatan yang diikuti.

Perasaan senasib sepenanggungan menjadikan mereka dekat satu sama lain. saling memberi nasehat. Hubungan antara Dukungan Sosial dengan Penyesuaian Diri Remaja di Panti Asuhan Seseorang yang mampu menyesuaikan diri dengan baik lebih memiliki kemungkinan untuk mengembangkan diri ke lingkungan yang lebih luas. C. berupa perasaan senasib menjadikan adanya hubungan saling mengerti dan memahami masalah masing-masing. remaja di panti asuhan juga mendapat dukungan sosial dari teman-temannya sesama penghuni panti asuhan dimana ia berada. Keterampilan sosial ini kurang dimiliki oleh individu yang tinggal di panti asuhan. yang tidak didapat dari orang tuanya sekalipun.52 Selain dukungan sosial yang berasal dari pengasuh. terlebih lagi mereka telah bersama dalam sekian rentang waktu. Hurlock (2004:214) mengatakan bahwa dukungan sosial dari teman sebaya. simpati. Hartini (2001:109) dalam penelitiannya pada anakanak panti asuhan di Jawa Timur menunjukkan deskripsi bahwa anak-anak panti asuhan sangat kaku dalam berhubungan sosial dengan orang lain dan sebagian besar mereka mengalami kesulitan dalam hubungan interpersonalnya. seseorang perlu memiliki keterampilan sosial untuk menyesuaikan diri dengan orang lain. . Untuk dapat menjalin kebersamaan dan keakraban dengan orang lain.

apatis. Remaja harus berhadapan dengan situasi-situasi yang jauh berbeda dengan yang biasa ditemui dan pola-pola perilaku yang selama ini dipakai belum tentu cocok dengan situasi yang baru. Penelitian Hartini (2001:117) menghasilkan deskripsi problem psikologis anak panti asuhan dengan karakter sebagai berikut : Kepribadian yang inferior. Pada saat-saat seperti ini. penuh dengan ketakutan dan kecemasan. menarik diri. sehingga remaja dapat merespon dengan tepat semua stimulus yang ada. Smet (1994:133) menegaskan bahwa jika individu merasa didukung oleh lingkungan. sehingga pada akhirnya dapat menjadi hambatan dalam penyesuaian dirinya.53 Masuknya remaja yang berasal dari keluarga dan lingkungan yang berbeda menyebabkan mereka harus beradaptasi dan berinteraksi dengan lingkungannya yang baru di Panti Asuhan Al Bisri Semarang. segala . remaja sangat membutuhkan bantuan dan dukungan dari teman-teman serta lingkungan barunya. sehingga anak panti asuhan akan sulit menjalin hubungan sosial dengan orang lain. Artinya mereka harus berusaha untuk mengikuti segala peraturan yang berlaku termasuk tinggal di panti asuhan bersama dengan pengasuh dan teman-teman panti lainnya. takut melakukan kontak dengan orang lain. menunjukkan rasa bermusuhan dan lebih egosentrisme. anak-anak tersebut menunjukkan perilaku yang negativis. pasif. Sebagai contoh yaitu hasil penelitian Hartini (2001:114) menemukan bahwa 52 persen anak-anak panti asuhan cenderung menunjukkan kesulitan dalam penyesuaian sosialnya yang menggambarkan adanya kebutuhan psikologis untuk dapat menyesuaikan diri dengan aturan lingkungannya. lebih suka sendirian. Disamping itu. mudah putus asa.

yaitu kebutuhan untuk mengadakan hubungan dan menjalin persahabatan dengan orang lain. Sementara itu. Ini mencerminkan bahwa dalam lingkungan panti mereka belum menemukan orang yang dapat dijadikan panutan dan orang yang dijadikan teman berkomunikasi yang baik. dukungan instrumental serta dukungan informatif dapat bermanfaat bagi kesehatan dan kesejahteraan psikologis.54 sesuatu dapat menjadi lebih mudah pada waktu mengalami kejadian-kejadian yang menegangkan. Dukungan emosional yang berupa kesediaan untuk mendengarkan keluhan-keluhan remaja ini akan membawa efek positif yaitu sebagai pelepasan emosi dan mengurangi kecemasan. Thoits (1986) dalam Shinta (1995:37) menyatakan bahwa dukungan emosi dari orang yang berarti dapat . Aspek dukungan emosional dapat memuaskan kebutuhan afiliasi remaja. dimana mereka dapat mengutarakan semua permasalahan kepada orang yang dapat dipercaya dan tidak harus mengambil keputuasan sendiri. Hartini (2001:115) dalam penelitiannya pada anak-anak panti asuhan di Jawa Timur menemukan bahwa : Lima puluh tujuh persen anak-anak panti asuhan menunjukkan adanya kebutuhan psikologis untuk terlibat secara emosional dengan lingkungannya. Menurut House dalam Smet (1994:136) melalui dukungan emosional. ketidakhadiran dukungan sosial dapat menimbulkan perasaan kesepian dan kehilangan yang juga dapat mengganggu proses penyesuaian diri. Dinamika fungsi dukungan sosial terhadap penyesuaian diri remaja di Panti Asuhan Al Bisri Semarang dapat dijelaskan melalui aspek-aspek yang terkandung dalam dukungan sosial. dukungan penghargaan.

Adanya dukungan ini membuat remaja merasa terbantu secara materi. 1999:218). sikap dan keyakinan orang lain. meningkatkan harga diri dan kejelasan identitas diri serta memiliki perasaan positif mengenai diri sendiri (Effendi dan Tjahjono. sehingga . Adanya informasi yang berupa nasehat atau petunjuk membantu remaja dalam menginterpretasikan dan memahami secara jelas sifat masalah-masalah secara praktis.55 bersifat menurunkan distres dengan menyokong satu atau lebih aspek dari individu yang terancam oleh kesulitan yang ada. kesejahteraan psikologis individu akan meningkat karena adanya perhatian dan pengertian yang menimbulkan perasaan memiliki. Jenis dukungan sosial yang lain yaitu dukungan informasi yang berfungsi membantu individu dalam memecahkan masalah-masalah yang dihadapi. Melalui dukungan sosial. Dukungan instrumental ini dapat berupa penyediaan sarana dan pelayanan. Cohen dalam Shinta (1995:40) menyatakan bahwa pemberian dukungan informasi dan dukungan materi dapat membantu individu untuk merubah situasi dan merubah pemahaman dari situasi. Dukungan instrumental berfungsi memperlancar dan memudahkan perilaku remaja dalam segala aktivitasnya. penilaian dan penghargaan terhadap individu dapt meningkatkan harga dirinya. Dukungan penghargaan dapat berfungsi membantu remaja dalam mengembangkan kepribadiannya. Melalui interaksi dengan orang lain maka remaja dapat mengevaluasi dan mempertegas keyakinan-keyakinannya dalam membandingkan pendapat. Adanya pujian.

Hipotesis Berdasarkan kajian teori di atas.56 mempengaruhi penilaian stresnya. Sebaliknya. Menurut Sarason dalam Effendi dan Tjahjono (1999:218) bahwa dukungan sosial bermanfaat bagi individu karena individu menjadi tahu bahwa orang lain memperhatikan. Taylor dalam Pramudiani (2001:119) mengatakan bahwa dalam menghadapi peristiwa-peristiwa yang menekan. sehingga dapat terhindar dari kesulitan penyesuaian diri. individu yang memiliki dukungan sosial yang tinggi tidak hanya mengalami stres yang rendah tapi juga dapat mengatasi stres secara lebih berhasil bila dibandingkan dengan mereka yang kurang memperoleh dukungan sosial. rasa cinta dan perlindungan dalam melakukan penyesuaian antara keaadan atau kebutuhan internal dirinya dengan tuntutan eksternal. Berbagai jenis dukungan sosial yang diperoleh dapat membantu membentuk kepercayaan diri dan menciptakan rasa aman pada remaja dalam melakukan penyesuaian diri karena remaja tersebut akan lebih dapat menerima kelebihan dan kekurangan pada dirinya serta memperoleh bimbingan. Semakin tinggi dukungan sosial yang diberikan maka semakin positif penyesuaian diri remaja di Panti Asuhan Al Bisri Semarang. menghargai dan mencintai dirinya. semakin rendah dukungan sosial yang . D. maka hipotesis penelitian ini dirumuskan sebagai berikut : Ada hubungan positif antara dukungan sosial dengan penyesuian diri remaja di Panti Asuhan Al Bisri Semarang.

.57 diberikan maka semakin negatif penyesuaian diri remaja di Panti Asuhan Al Bisri Semarang.

Hal ini bertujuan agar hasil yang diperoleh dapat dipertanggungjawabkan khususnya untuk menjawab masalah yang diajukan. Penelitian korelasional bertujuan untuk menemukan ada tidaknya hubungan antara dua buah variabel penelitian. validitas dan reliabilitas alat ukur dan teknik analisis data. subjek penelitian. Dalam hal ini adalah hubungan antara dukungan sosial dengan penyesuaian diri remaja di Panti Asuhan Al Bisri Semarang. A.58 BAB III METODE PENELITIAN Metode penelitian merupakan usaha yang harus ditempuh dalam penelitian untuk menemukan. 58 . pada bab ini akan dibahas mengenai metode dan hal-hal yang menentukan penelitian. Jenis Penelitian Penelitian yang dilakukan adalah penelitian korelasional dengan pendekatan kuantitatif yang menekankan analisisnya pada data-data numerikal yang diolah dengan metode statistika. Berdasarkan hal tersebut di atas. Metode yang digunakan adalah metode yang sesuai dengan objek penelitian dan tujuan penelitian yang akan dicapai secara sistematik. metode dan instrumen pengumpulan data. dalam hal ini akan dibatasi secara sistematis sebagai berikut : jenis penelitian. mengembangkan dan menguji suatu kebenaran pengetahuan. variabel penelitian.

Definisi Operasional Variabel Penelitian Definisi operasional variabel penelitian dimaksudkan untuk menghindari terjadinya salah pengertian dan penafsiran. Variabel bebas adalah variabel yang menjadi sebab timbulnya atau berubahnya variabel terikat. Penyesuaian diri Penyesuaian diri merupakan suatu usaha yang dilakukan oleh individu untuk mempertemukan tuntutan diri sendiri dengan lingkungan. Variabel bebas (X) Variabel terikat (Y) = dukungan sosial = penyesuaian diri 2. Untuk memperoleh pengertian yang jelas mengenai variabel-variabel dalam penelitian ini dirumuskan definisi operasional variabel sebagai berikut: a. Identifikasi Variabel Variabel yang digunakan dalam penelitian ini terdiri dari dua variabel yaitu variabel bebas (variabel independent) dan variabel terikat (variabel dependent). . Variabel terikat adalah variabel yang dipengaruhi atau yang menjadi akibat karena adanya variabel bebas. Jadi variabel bebas adalah variabel yang mempengaruhi. Variabel Penelitian 1. sehingga tercapai hubungan yang harmonis antara diri dengan lingkungannya.59 B. baik secara aktif maupun pasif yang melibatkan respon mental dan tingkah laku.

60 Penyesuaian diri yang menjadi subjek dalam penelitian ini adalah penyesuaian diri remaja di Panti Asuhan Al Bisri Semarang. semakin rendah skor yang diperoleh maka semakin rendah penyesuaian dirinya. Semakin tinggi skor yang diperoleh dari skala penyesuaian diri maka semakin tinggi penyesuaian dirinya. Penyesuaian diri yang diungkap dalam penelitian ini diukur dengan mengunakan skala penyesuaian diri yang disusun penulis berdasarkan aspek-aspek penyesuaian diri yaitu : 1) Penyesuaian pribadi a) Penerimaan individu terhadap diri sendiri b) Mampu menerima kenyataan c) Mampu mengontrol diri sendiri d) Mampu mengarahkan diri sendiri 2) Penyesuaian sosial a) Memiliki hubungan interpersonal yang baik b) Memiliki simpati pada orang lain c) Mampu menghargai orang lain d) Ikut berpartisipasi dalam kelompok e) Mampu bersosialisasi dengan baik sesuai norma yang ada Orang lain yang dimaksudkan dalam aspek penyesuaian sosial yaitu pengasuh dan teman-teman sesama penghuni Panti Asuhan Al Bisri Semarang. . yang usianya berkisar antara 13 sampai 18 tahun. Sebaliknya.

Dukungan sosial Dukungan sosial merupakan hubungan interpersonal yang di dalamnya berisi pemberian bantuan yang melibatkan aspek-aspek yang terdiri dari informasi. Sumber dukungan sosial bagi remaja panti asuhan didapat dari pengasuh dan teman-teman sesama penghuni Panti Asuhan Al Bisri Semarang. mencakup penilaian positif dan dorongan untuk maju. mencakup empati dan perhatian. dimana hal itu memiliki manfaat emosional atau efek perilaku bagi penerima.61 b. 3) Dukungan instrumental. berupa bantuan langsung. semakin rendah skor yang diperoleh maka semakin rendah dukungan sosialnya. 4) Dukungan informasi. Sebaliknya. petunjuk dan saran. perhatian emosi. . penilaian dan bantuan instrumental yang diperoleh individu melalui interaksi dengan lingkungan. 2) Dukungan penghargaan. Dukungan sosial diungkap dengan menggunakan skala dukungan sosial yang disusun penulis berdasarkan empat jenis dukungan sosial yaitu : 1) Dukungan emosional. Semakin tinggi skor yang diperoleh dari skala dukungan sosial maka semakin tinggi dukungan sosialnya. sehingga dapat membantu individu dalam mengatasi masalahnya. berupa pemberian nasehat.

1 Skema Hubungan Antara Variabel X dan Y C. Populasi Populasi adalah keseluruhan subjek penelitian (Arikunto. 2004:206). 2) Remaja berusia 13 sampai 18 tahun (Hurlock. Adapun populasi dalam penelitian ini adalah seluruh remaja penghuni Panti Asuhan Al Bisri Semarang yang berjumlah 40 orang dengan ciri-ciri sebagai berikut : 1) Jenis kelamin laki-laki dan perempuan. Diasumsikan dalam penelitian in bahwa semakin tinggi dukungan sosial maka akan semakin tinggi penyesuaian dirinya. Subjek Penelitian 1. . Hubungan antara variabel yaitu variabel X dan variabel Y terjadi hubungan sebab akibat. 2002:108).62 3. Hubungan Antar Variabel Penelitian Hubungan antar variabel adalah hal yang paling penting untuk dilihat dalam suatu penelitian. Populasi dibatasi sebagai sejumlah individu yang paling sedikit mempunyai satu sifat yang sama. Hubungan antara variabel penelitian digambarkan sebagai berikut : Dukungan sosial variabel bebas (X) Penyesuaian diri variabel terikat (Y) Gambar 3. sebaliknya semakin rendah dukungan sosial maka akan semakin rendah penyesuaian dirinya. Variabel bebas dalam penelitian ini adalah dukungan sosial dan variabel terikat dalam penelitian ini adalah penyesuaian diri.

Teknik pengambilan sampel yang digunakan dalam penelitian ini yaitu total sampling. 4) Tinggal di Panti Asuhan Al Bisri Semarang. Subjek yang akan diambil sebagai sampel penelitian sebanyak 40 orang. Metode dan Instrumen Pengumpulan Data Metode pengumpulan data yang digunakan untuk memperoleh data yang diperlukan adalah dengan skala psikologi. Sampel Sampel merupakan sebagian atau wakil dari populasi yang diteliti (Arikunto. Menurut Azwar (2003:4) beberapa karakteristik skala sebagai alat ukur psikologi yaitu : 1. Indikator perilaku tersebut diterjemahkan lewat item-item. Stimulusnya berupa pertanyaan atau pernyataan yang tidak langsung mengungkap atribut yang hendak diukur. . melainkan mengungkap indikator perilaku dari atribut yang diteliti. Skala psikologi adalah suatu daftar pertanyaan atau pernyataan yang diajukan agar dijawab oleh subjek dan interpretasinya terhadap pertanyaan atau pernyataan tersebut merupakan proyeksi dari perasaannya. 2002:109).63 3) Tingkat pendidikan SMP dan SMU. 2. 2. Dalam total sampling semua individu dalam populasi diberi kesempatan yang sama untuk menjadi anggota sampel. D.

maka pada penelitian ini digunakan dua macam skala yaitu : 1. Data yang diungkap berupa konstrak atau konsep psikologi yang menggambarkan aspek kepribadian individu.64 3. Bentuk pemberian skala bersifat langsung yaitu daftar pernyataan diberikan secara langsung kepada orang yang akan dimintai pendapat. . 3. 2003:5). Skala ini menggunakan tipe pilihan. Skala penyesuaian diri Skala penyesuaian diri dikembangkan sendiri oleh penulis yang disusun berdasarkan aspek-aspek penyesuaian diri. Peneliti memilih menggunakan skala psikologi dengan alasan sebagai berikut : 1. Pertanyaan sebagai stimulus tertuju pada indikator perilaku guna memancing jawaban yang merupakan refleksi dari keadaan diri subjek yang biasanya tidak disadari oleh responden yang bersangkutan. Respon subjek tidak diklasifikasikan sebagai jawaban “benar” atau “salah”. 2. Semua jawaban dapat diterima jika diberikan secara jujur dan sungguh-sungguh. terdiri dari penyesuaian pribadi dan penyesuaian sosial. Responden biasanya tidak menyadari arah jawaban yang dikehendaki dan disimpulkan apa yang sesungguhnya diungkap oleh pertanyaan atau pernyataan tersebut (Azwar. Sesuai dengan permasalahan dalam penelitian ini. yaitu subyek diminta untuk memilih salah satu dari beberapa alternatif jawaban yang sudah disediakan.

tidak sesuai (TS)=2. . Penyesuaian sosial 1) Memiliki hubungan interpersonal yang baik 2) Memiliki simpati pada orang lain 3) Mampu menghargai orang lain 4) Ikut berpartisipasi dalam kelompok 5) Mampu bersosialisasi dengan baik sesuai norma yang ada Skala penyesuaian diri menggunakan model skala Likert. tidak sesuai (TS) dan sangat tidak sesuai (STS). tidak sesuai (TS)=3. nilai jawaban sangat sesuai (SS)=1. Pemberian skor untuk item favorabel. sangat tidak sesuai (STS)=4. sangat tidak sesuai (STS)=1. sesuai (S). nilai jawaban sangat sesuai (SS)=4. Penyesuaian pribadi 1) Penerimaan individu terhadap diri sendiri 2) Mampu menerima kenyataan 3) Mampu mengontrol diri sendiri 4) Mampu mengarahkan diri sendiri b.65 Adapun indikator dalam skala penyesuaian diri yaitu : a. sesuai (S)=2. terdiri dan dari dua kelompok item yang berbentuk favorabel dan unfavorabel. sesuai (S)=3. Sistem penilaian menggunakan empat alternatif jawaban yaitu sangat sesuai (SS). Untuk item unfavorabel.

Mampu mengontrol diri sendiri d. 57 17. Mampu mengarahkan diri sendiri a. Memiliki hubungan interpersonal yang baik b. 29. Mampu menghargai orang lain d. 28. 36. 48 8. 53 13. 47 7. 59 4. 32. 51 11. 19. Ikut berpartisipasi dalam kelompok e. 45 5. Mampu bersosialisasi dengan baik sesuai norma yang ada Nomor Item Favorabel Unfavorabel 1. 46 6. 33. 55 15. 37 2. 30. Penyesuaian sosial Total 2.66 Tabel 3. 60 30 Total Penyesuaian 1. Penerimaan individu terhadap diri sendiri b. Penyesuaian diri pribadi 2. 35. 56 30 16. 44 10. Skala dukungan sosial 30 30 60 Skala yang dipergunakan untuk mengukur dukungan sosial dari subjek penelitian adalah skala yang disusun oleh penulis berdasarkan empat jenis dukungan sosial yaitu : a. 25.1 Blue print skala penyesuaian diri Variabel Sub Variabel Indikator a. Dukungan emosional 1) Empati 2) Perhatian . 22. 58 18. 50 3. Memiliki simpati pada orang lain c. 24. 49 9. 21. 43. Mampu menerima kenyataan c. 20. 52 12. 39. 26. 23. 31. 38. 40. 41. 54 14. 42. 34. 27.

46. 27. 53. Dukungan penghargaan 3. 28. berupa bantuan langsung. tidak sesuai (TS)=2. 17. 56. 24. 44. Untuk item unfavorabel. 33 2. 18. 16. 23. 22. 14. 47. 42. tidak sesuai (TS)=3. 50. 32. Perhatian a. Dukungan instrumental. 15. 58 5. Penilaian positif b. 30. 39. Dukungan penghargaan 1) Penilaian positif 2) Dorongan untuk maju c. Skala dukungan sosial menggunakan model skala Likert. 54 12. petunjuk dan saran Nomor Item Favorabel Unfavorabel 1. Dukungan emosional 2. 60 30 Total 15 15 15 15 60 . 25. Sistem penilaian menggunakan empat alternatif jawaban yaitu sangat sesuai (SS). 48. sangat tidak sesuai (STS)=4. nilai jawaban sangat sesuai (SS)=4. terdiri dan dari dua kelompok item yang berbentuk favorabel dan unfavorabel.67 b. 13. 38. 41. 35. 49 4. 31. 40 10. 59 11. 57 9. 36. d. Dukungan informasi. 20. nilai jawaban sangat sesuai (SS)=1. Dukungan instrumental 4. Empati b. 51. 45. 55 30 8. petunjuk dan saran. 19. 43. Dukungan informasi Total Indikator a. sesuai (S)=3. tidak sesuai (TS) dan sangat tidak sesuai (STS). Dorongan untuk maju Bantuan langsung Pemberian nasehat. 26. 52 7. sangat tidak sesuai (STS)=1. sesuai (S)=2. sesuai (S). 29.2 Blue print skala dukungan sosial Variabel Dukungan Sosial Sub Variabel 1. Tabel 3. 37 6. Pemberian skor untuk item favorabel. 21. 34 3. berupa pemberian nasehat.

Validitas dan Reliabilitas Alat Ukur 1. Teknik uji validitas dalam penelitian ini menggunakan rumus korelasi product moment dari Pearson. Uji validitasnya dilakukan dengan mengkorelasikan antara skor tiap item dengan skor total. yaitu : (Σ XY) – (ΣX)(ΣY)/N rxy = {ΣX2 – (ΣX)2 /N} {ΣY2.68 E. Reliabilitas Reliabilitas adalah sejauh mana hasil suatu pengukuran dapat dipercaya. Validitas yang digunakan adalah validitas konstrak. artinya apabila dilakukan pengukuran beberapa kali terhadap subjek yang sama hasilnya relatif sama.(ΣY)2 /N} Keterangan : rxy = koefisien korelasi antara skor X (item) dengan skor Y (total) (1) ΣXY = jumlah perkalian antara skor X (item) dengan skor Y (total) ΣX ΣY N = jumlah skor item = jumlah skor total = jumlah subjek 2. . yang mana suatu alat ukur dikatakan valid apabila telah cocok dengan konstruksi teoritis yang menjadi dasar pengukuran. Validitas Validitas merupakan suatu ukuran yang menunjukkan tingkat kevalidan atau kesahihan suatu instrumen.

dengan rumus sebagai berikut : (Σ XY) – (ΣX)(ΣY)/N rxy = {ΣX2 – (ΣX)2 /N} {ΣY2.69 Teknik analisis yang digunakan adalah teknik uji reliabilitas alpha yang dikembangkan oleh Cronbach. Teknik Analisis Data Analisis data adalah salah satu kegiatan dalam penelitian yang berguna untuk menarik kesimpulan. dengan rumus : 2 ⎡ k ⎤ ⎡ Σσ b ⎤ 1− r11 = ⎢ ⎢ ⎥ σ 12 ⎥ ⎣ k − 1⎥ ⎢ ⎦⎣ ⎦ (2) Keterangan : r11 k 1 Σ σb 2 = = = = = reliabilitas instrumen jumlah item bilangan konstan jumlah varians butir varians total σ12 F. Teknik analisis data yang digunakan dalam penelitian ini yaitu teknik korelasi product moment.(ΣY)2 /N} (3) .

70 Keterangan : rxy = koefisien korelasi antara skor X (item) dengan skor Y (total) ΣXY = jumlah perkalian antara skor X (item) dengan skor Y (total) ΣX ΣY N = jumlah skor item = jumlah skor total = jumlah subjek .

Orientasi Kancah Panti Asuhan Al Bisri Semarang terletak di Jl.71 BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN Hasil penelitian adalah data dari instrumen tertentu kemudian dianalisis dengan teknik dan metode yang telah ditentukan. hasil dan pembahasan penelitian yang disajikan sebagai berikut : persiapan penelitian. 26 anak sekolah di SMP dan 20 anak sekolah di SMA. Panti Asuhan Al Bisri didirikan dengan maksud menampung dan mendidik anak yatim piatu. tidak mampu dan terlantar agar mendapatkan penghidupan dan pendidikan yang layak guna menjadi manusia yang berkualitas. 71 . Sendang Pentul Nomor 9 RT 06 RW II Kelurahan Tinjomoyo Kecamatan Banyumanik Kota Semarang berdiri pada tanggal 2 Juli 1997. hasil penelitian dan pembahasan. pelaksanaan penelitian. 26 anak sekolah di SD. prosedur pengumpulan data. deskripsi data penelitian. Pada bab ini disajikan beberapa hal yang berkaitan dengan proses. A. Panti Asuhan Al Bisri memiliki 76 anak asuh yang terdiri dari 4 anak sekolah di TK. Persiapan Penelitian 1.

Dana yang diterima untuk operasional kegiatan Panti Asuhan Al Bisri Semarang berasal dari : a. 2) Mengembangkan usaha ekonomi produktif dengan pendayagunaan lahan pertanian. Donatur tetap maupun tidak tetap.72 Program kerja Panti Asuhan Al Bisri meliputi program jangka pendek dan jangka panjang yaitu : a. b. 3) Mengadakan kerjasama maupun hubungan lain dengan badan hukum. 2) Mengadakan pendidikan agama maupun umum untuk intern maupun ekstern. Jangka pendek tahun 2005 sampai tahun 2010 1) Membangun asrama putra dan putri serta mengembangkan keterampilan anak. organisasi atau perorangan. c. perikanan dan perdagangan. . Semua pihak yang mempunyai perhatian. Instansi pemerintah. b. peternakan. 3) Perluasan areal tanah sekitar panti asuhan. Jangka panjang 1) Menciptakan dan mengelola usaha-usaha guna menunjang kegiatan panti asuhan yang tidak bertentangan dengan agama dan negara.

remaja berusia 13 sampai 18 tahun. 3. .73 Ada beberapa pertimbangan yang mendasari penelitian dilakukan di Panti Asuhan Al Bisri Semarang antara lain : a. b. tingkat pendidikan SMP dan SMU. peneliti terlebih dahulu melakukan persiapan proses perijinan. Penentuan Sampel Sampel yang ditetapkan dalam penelitian ini adalah seluruh remaja di Panti Asuhan Al Bisri Semarang tahun 2007. Pengambilan sampel dalam penelitian ini didasarkan pada teknik total sampling dengan karakteristik sebagai berikut : jenis kelamin laki-laki dan perempuan. 2. Pertama. d. Proses Perijinan Sebelum melakukan penelitian. Belum pernah diadakan penelitian mengenai penyesuaian diri remaja di Panti Asuhan Al Bisri Semarang. mengajukan surat pengantar dari Fakultas Ilmu Pendidikan kepada Ketua Panti Asuhan Al Bisri Semarang untuk mendapatkan ijin melakukan penelitian di Panti Asuhan Al Bisri Semarang. peneliti minta surat pengantar dari Fakultas Ilmu Pendidikan yang ditujukan kepada Ketua Panti Asuhan Al Bisri Semarang. Peneliti dapat mengawasi secara langsung jalannya proses pengumpulan data. c. Subjek sesuai dengan ciri-ciri populasi yang telah ditetapkan peneliti. Kedua. Panti Asuhan Al Bisri Semarang bersedia untuk dijadikan tempat penelitian dan memberikan kemudahan perijinan kepada peneliti.

Setelah pengumpulan data dengan menggunakan skala psikologi telah selesai maka langkah selanjutnya yang dilakukan peneliti adalah sebagai berikut : . C. sehingga data uji coba alat ukur akan digunakan sekaligus sebagai data penelitian. Skala yang diberikan kepada subjek penelitian sebanyak 40 eksemplar.1 Deskripsi Subjek Penelitian Pendidikan Usia Jenis Kelamin Laki-Laki Perempuan 5 5 6 4 2 4 3 4 1 5 1 25 15 Total 10 10 6 3 5 6 40 13 tahun SMP 14 tahun 15 tahun 16 tahun SMA 17 tahun 18 tahun Total B. Penelitian ini menggunakan sistem try out terpakai karena terbatasnya jumlah subjek penelitian. Prosedur Pengumpulan Data Pengumpulan data dalam penelitian ini menggunakan dua skala yaitu skala dukungan sosial dan skala penyesuaian diri. Pengambilan data penelitian berlangsung pada hari Minggu tanggal 6 Mei 2007 yang dikenakan pada 40 orang subjek penelitian. Pelaksanaan Penelitian Penelitian ini menggunakan sistem try out terpakai. Data hasil uji coba langsung digunakan untuk menguji hipotesis penelitian dimana hanya item yang valid saja yang akan dianalisis.74 Tabel 4.

D. Hasil Uji Validitas dan Reliabilitas Dalam rangka memperoleh data tentang variabel-variabel yang diteliti maka dibutuhkan alat pengumpul data. 4.75 1. Mentabulasi data berdasarkan jumlah item. Menentukan adakah hubungan antara dukungan sosial dengan penyesuaian diri remaja di Panti Asuhan Al Bisri Semarang. Deskripsi Data Penelitian Gambaran mengenai data penelitian pada masing-masing variabel yang dianalisis terdapat pada table 4.09027 Sumber : Hasil penelitian yang diolah N 40 40 E.9750 13. 2. . Untuk memperoleh instrumen yang baik maka dilakukan uji coba atau try out yang dianalisis validitas dan reliabilitasnya. Hasil Penelitian dan Pembahasan 1.2 Rangkuman Data Penelitian Variabel Mean Standar Deviation Penyesuaian Diri 108. 3.12951 Dukungan Sosial 116.9750 16. Menentukan tingkat dukungan sosial dan penyesuaian diri remaja di Panti Asuhan Al Bisri Semarang. Memberikan skor pada masing-masing jawaban yang telah diisi oleh subjek penelitian.2 sebagai berikut : Tabel 4.

14. 7. 15.307. 58. 47. 21. 4.632. 53. 51. 60. 43. 22. 34.307 < 0. 28.312) yang berarti ke-24 item tersebut tidak valid. Terdapat 36 item yang valid yaitu nomor 2. 12. 37. 17. 5. sehingga instrumen penelitian yang digunakan untuk mengungkap penyesuaian diri sebanyak 36 item. 40. Ini berarti rhitung lebih besar dari rtabel (0. 3. 20. 39. 31. 48. 26. 36. 19. 44. 50. 45.312 Berdasarkan hasil uji coba validitas dengan bantuan komputer program SPSS release 10. 59. maka rtabel = 0. Dari 24 item itu rhitung tertinggi sebesar 0. 16. 52. 9. 49. 10.0 diperoleh : Instrumen skala penyesuaian diri sebanyak 60 item ternyata 24 item tidak valid yaitu nomor 1. 8. 41. 42. Validitas Teknik uji validitas yang digunakan adalah teknik statistik korelasi product moment. 32.313 > 0. 6. 54. 30. 38.313 dan rhitung tertinggi sebesar 0.312) yang berarti ke-36 item tersebut valid. 33. Adapun sebaran item yang valid dan tidak valid untuk instrumen skala penyesuaian diri dapat dilihat pada tabel berikut : .76 a. 18. Uji signifikansi untuk menentukan valid atau tidaknya suatu item adalah dengan cara membandingkan rhitung dengan rtabel untuk TS = 5 % dan N = 40. 27. 56. 55. 11. Item yang valid menunjukkan rhitung terendah sebesar 0. 46. 24. 29. 23. 25. 57. Ini berarti rhitung lebih kecil dari rtabel (0. 35. 13.

22*. Memiliki hubungan interpersonal yang baik b. 36. 34.3 Blue Print Skala Penyesuian Diri Setelah Uji Coba Variabel Sub Variabel Indikator a. 58 18. Mampu mengarahkan diri sendiri a. 50 37 3*. 14. 43. 60* Total Penyesuaian 1. 39. Ikut berpartisipasi dalam kelompok e. 36*.287. Mampu menerima kenyataan c. 45. 25. 5. 13. 33. 38. 26. 40. 23. Ini berarti rhitung lebih kecil dari rtabel (0. 50. 53. 3. Penerimaan individu terhadap diri sendiri b. Mampu bersosialisasi dengan baik sesuai norma yang ada Nomor Item Favorabel Unfavorabel 2. Terdapat 39 item yang valid yaitu nomor 1. 51. 23*. 35. 54 14*. 52. 25*. 28*. 26. 31. 1*. 32. 58. 29. 49. 48. 27*. 18. 24*. Mampu menghargai orang lain d. 31*. 29*. 39. 28. 20. 49 9. 59. Memiliki simpati pada orang lain c. 55. 46 45 6*. 53* 13. 17. 57 17. 10. 21. 19. 30. 30. 19*. 60. 16. 7. 59 10. 48 41. 43. 46.312) yang berarti ke-21 item tersebut tidak valid. 32. 4.287 < 0. 42. 51* 11. 54. 22. 24. 52 12. 47 8. 4*. 37. 21. 27. Penyesuaian sosial Total Keterangan : * Item yang gugur / tidak valid 16 20 36 Sedangkan untuk instrumen skala dukungan sosial sebanyak 60 item ternyata 21 item tidak valid yaitu nomor 2. 6. 42. 8. 57. 44. 40. 33.77 Tabel 4. 5*. Penyesuaian diri pribadi 17 2. 56. 55* 15*. 15. 20*. Item yang valid . 56 19 16. 34. 41. 44* 7*. Dari 21 item itu rhitung tertinggi sebesar 0. 12. 38. 35. Mampu mengontrol diri sendiri d. 11. 47. 9.

sehingga instrumen penelitian yang digunakan untuk mengungkap penyesuaian diri sebanyak 39 item. 56. 42*. 54* 12. Ini berarti rhitung lebih besar dari rtabel (0. 49* 5.314 > 0. 52 13 7 Total .312) yang berarti ke-39 item tersebut valid. 29*. 18*. 23. Empati b. 16. 25*. Dukungan penghargaan Indikator a. 41. Dukungan instrumental 4. Dukungan emosional 2. 35*. Dukungan informasi Bantuan langsung Pemberian nasehat. 27. 15. 45. 32. 19. 58 6. 60* 11 8 8*. 37 Unfavorabel 2*. 13. 21. 57 9*. Adapun sebaran item yang valid dan tidak valid untuk instrumen skala dukungan sosial dapat diketahui pada tabel berikut : Tabel 4. 48*. 36. 28. 43*.665. 22. 14*. 24. 31. Penilaian positif b. 59 11.4 Blue Print Skala Dukungan Sosial Setelah Uji Coba Variabel Dukungan Sosial Sub Variabel 1. 50*. 51.314 dan rhitung tertinggi sebesar 0. 40* Nomor Item Favorabel 1. petunjuk dan saran Total Keterangan : * Item yang gugur / tidak valid 22 17 39 7. 20. Dorongan untuk maju 3. 44*.78 menunjukkan rhitung terendah sebesar 0. 30. 38. 34 4*. 39. Perhatian a. 47. 17*. 46*. 53. 26. 55 10. 33 3*.

Data penyesuaian diri diambil dengan menggunakan skala penyesuaian diri sebanyak 36 item dan jumlah subjek sebanyak 40 orang. sehingga dapat digunakan sebagai alat ukur.79 b.9750 dan standar deviasi sebesar 13. Mengetahui ada tidaknya hubungan antara dukungan sosial dengan penyesuaian diri remaja di Panti Asuhan Al Bisri Semarang. maka dapat diuraikan hasil penelitian sebagai berikut : a. Reliabilitas Reliabilitas adalah derajat ketetapan dan ketelitian yang ditunjukkan oleh instrumen pengukuran sehingga dapat dipercaya. Berdasarkan hasil penelitian diperoleh mean sebesar 108.8863 untuk instrumen penyesuaian diri dan sebesar 0. 2. Berdasarkan uji reliabilitas menggunakan rumus alpha diperoleh nilai r11 = 0. . Mengetahui bagaimana gambaran tentang dukungan sosial di Panti Asuhan Al Bisri Semarang. Hasil Penelitian Sesuai dengan tujuan penelitian ini yaitu untuk : a. b.9236 untuk instrumen dukungan sosial. Hasil tersebut menunjukkan bahwa skala penyesuaian diri dan dukungan sosial adalah reliabel. c. Mengetahui bagaimana gambaran tentang penyesuaian diri remaja di Panti Asuhan Al Bisri Semarang. Gambaran Penyesuaian Diri Remaja Penyesuaian diri remaja di Panti Asuhan Al Bisri Semarang dapat dilihat dari aspek penyesuaian diri yaitu penyesuaian pribadi dan penyesuaian sosial.12951.

280735 berarti subjek mempunyai tingkat penyesuaian diri yang sangat rendah.539755−128.669265 berarti subjek mempunyai tingkat penyesuaian diri yang tinggi.5 Pengelompokkan Norma Tingkat Penyesuaian Diri No Rumus Interval 1 M+1. Apabila subjek memperoleh skor lebih besar dari 89.5SD < X ≤ M+1.669265 berarti subjek tersebut mempunyai tingkat penyesuaian diri yang sangat tinggi.5SD Sumber : Hasil Penelitian Kategori Sangat Tinggi Tinggi Sedang Rendah Sangat Rendah Dari tabel 4.410245−115.5SD 89.280735 X ≤ M−1.5SD < X ≤ M−0.280735 < X ≤ 102.280735−102.5SD 115.410245 < X ≤ 115.669265 < X 2 M+0.539755 < X ≤ 128.80 Tabel 4.5SD < X ≤ M+0. berarti Skor subjek lebih besar dari tingkat 102. Distribusi aspek tentang tingkat penyesuaian diri dapat dilihat pada tabel berikut : .5SD 102.539755 4 M−1.410245 5 X ≤ 89. sedangkan subjek dengan skor lebih kecil atau sama dengan 89.539755 mempunyai penyesuaian diri yang sedang.5SD < X 128. Skor lebih besar dari 115.669265 3 M−0.5 dapat diketahui bila subjek penelitian memperoleh skor lebih besar dari 128.410245 berarti subjek mempunyai tingkat penyesuaian diri yang rendah.

1 Tingkat Penyesuaian Diri Remaja . sebanyak 5% atau 2 subjek mempunyai tingkat penyesuaian diri sangat tinggi.410245 < X ≤ 115.280735 < X ≤ 102. Hal ini menunjukkan bahwa secara umum penyesuaian diri remaja di Panti Asuhan Al Bisri Semarang dalam kategori sedang. Apabila digambarkan dalam bentuk grafik akan diperoleh visualisasi sebagai berikut : 40 35 30 25 20 15 10 5 0 35 % 30 % 25 % \ 5% 5% Persentase SR R S Kategori T ST Grafik 4.669265 102. bahwa dari 40 subjek yang diteliti.539755 89.280735 Total Sumber : Hasil Penelitian No 1 2 3 4 5 f 2 10 14 12 2 40 % 5 25 35 30 5 100 Kategori Sangat Tinggi Tinggi Sedang Rendah Sangat Rendah Terlihat pada tabel di atas.6 Distribusi Frekuensi Penyesuaian Diri Interval 128.669265 < X 115. Sebanyak 25% atau 10 subjek mempunyai tingkat penyesuaian diri tinggi. Sebanyak 30% atau 12 subjek mempunyai tingkat penyesuaian diri rendah dan sebanyak 5% atau 2 subjek mempunyai tingkat penyesuaian diri sangat rendah.81 Tabel 4.539755 < X ≤ 128. Sebanyak 35% atau 14 subjek mempunyai tingkat penyesuaian diri sedang.410245 X ≤ 89.

5 22.5% atau 9 subjek mempunyai tingkat penyesuaian pribadi tinggi.5% atau 1 subjek mempunyai tingkat penyesuaian pribadi sangat tinggi.5 40 30 5 100 Kategori Sangat Tinggi Tinggi Sedang Rendah Sangat Rendah Terlihat pada tabel di atas.82 Masing-masing aspek penyesuaian diri remaja di panti asuhan akan dijelaskan secara lebih rinci sebagai berikut : 1) Aspek Penyesuaian Pribadi Penyesuaian pribadi merupakan salah satu aspek dalam penyesuaian diri.18594 < X ≤ 47.18594 Total Sumber : Hasil Penelitian No 1 2 3 4 5 f 1 9 16 12 2 40 % 2. Sebanyak 30% atau 12 subjek mempunyai tingkat penyesuaian pribadi rendah dan Sebanyak 5% atau 2 subjek mempunyai tingkat penyesuaian pribadi sangat rendah.93802 < X ≤ 60. Penyesuaian pribadi dapat dilihat dari distribusi frekuensi seperti tercantum pada tabel berikut.56198 < X ≤ 53.31406 < X 53. .56198 X ≤ 41. Hal ini menunjukkan bahwa secara umum penyesuaian pribadi remaja di Panti Asuhan Al Bisri Semarang dalam kategori sedang. Tabel 4. Sebanyak 40% atau 16 subjek mempunyai tingkat penyesuaian pribadi sedang.7 Distribusi Frekuensi Aspek Penyesuaian Pribadi Interval 60.93802 41.31406 47. sebanyak 2. bahwa dari 40 subjek yang diteliti. Sebanyak 22.

5 27.5 30 7. dukungan instrumental .60052 54.5 32.8 Distribusi Frekuensi Aspek Penyesuaian Sosial Interval 69. b. Sebanyak 27.01684 46.5 100 Kategori Sangat Tinggi Tinggi Sedang Rendah Sangat Rendah Terlihat pada tabel di atas.5% atau 11 subjek mempunyai tingkat penyesuaian sosial tinggi.5% atau 1 subjek mempunyai tingkat penyesuaian sosial sangat tinggi.83 2) Aspek Penyesuaian Sosial Gambaran tentang penyesuaian sosial dapat dilihat pada table 4. dukungan penghargaan. sebanyak 2.5% atau 13 subjek mempunyai tingkat penyesuaian sosial sedang. Sebanyak 30% atau 12 subjek mempunyai tingkat penyesuaian sosial rendah dan Sebanyak 7.84948 < X ≤ 54.43316 X ≤ 46.60052 < X 62.8 berikut. Gambaran Dukungan Sosial Dukungan sosial pada remaja di Panti Asuhan Al Bisri Semarang dapat dilihat dari aspek-aspek dukungan sosial yaitu dukungan emosional. Hal ini menunjukkan bahwa secara umum penyesuaian sosial remaja di Panti Asuhan Al Bisri Semarang dalam kategori sedang. Sebanyak 32.43316 < X ≤ 62.5% atau 3 subjek mempunyai tingkat penyesuaian sosial sangat rendah.84948 Total Sumber : Hasil Penelitian No 1 2 3 4 5 f 1 11 13 12 3 40 % 2. bahwa dari 40 subjek yang diteliti. Tabel 4.01684 < X ≤ 69.

020135 < X ≤ 141.020135−141. .929865 berarti subjek mempunyai tingkat dukungan sosial rendah. Skor lebih besar dari 108.09027.929865 5 X ≤ 92. Apabila subjek memperoleh skor lebih besar dari 92.5SD Sumber : Hasil Penelitian Kategori Sangat Tinggi Tinggi Sedang Rendah Sangat Rendah Dari tabel 4.5SD 108.839595 X ≤ M−1.5SD < X ≤ M−0.5SD < X ≤ M+0. Berdasarkan hasil penelitian diperoleh mean sebesar 116.9 dapat diketahui bila subjek penelitian memperoleh skor lebih besar dari 141.92986−125.110405 berarti subjek mempunyai tingkat dukungan sosial tinggi.5SD 125.110405 < X 2 M+0.84 dan dukungan informasi. sedangkan subjek dengan skor lebih kecil atau sama dengan 92. Data dukungan sosial diambil dengan menggunakan skala dukungan sosial sebanyak 39 item dan jumlah subjek sebanyak 40 orang. Distribusi aspek tentang tingkat dukungan sosial dapat dilihat pada tabel berikut.839595 < X ≤ 108.839595 berarti subjek mepunyai tingkat dukungan sosial yang sangat rendah.5SD < X ≤ M+1.9 Pengelompokkan Norma Tingkat Dukungan Sosial No Rumus Interval 1 M+1.929865 < X ≤ 125.020135 berarti subjek mempunyai tingkat dukungan sosial sedang.020135 4 M−1.839595−108.5SD 92.110405 3 M−0.5SD < X 141.9750 dan standar deviasi sebesar 16. Skor lebih besar dari 125.110405 berarti subjek mempunyai tingkat dukungan sosial yang sangat tinggi. Tabel 4.

85

Tabel 4.10 Distribusi Frekuensi Dukungan Sosial No 1 2 3 4 5 Interval 141,110405 < X 125,020135 < X ≤ 141,110405 108,929865 < X ≤ 125,020135 92,839595 < X ≤ 108,929865 X ≤ 92,839595 Total Sumber : Hasil Penelitian f 1 13 12 10 4 40 % 2,5 32,5 30 25 10 100 Kategori Sangat Tinggi Tinggi Sedang Rendah Sangat Rendah

Terlihat pada tabel di atas, bahwa dari 40 subjek yang diteliti, sebanyak 2,5% atau 1 subjek mempunyai tingkat dukungan sosial sangat tinggi. Sebanyak 32,5% atau 13 subjek mempunyai tingkat dukungan sosial tinggi. Sebanyak 30% atau 12 subjek mempunyai tingkat dukungan sosial sedang. Sebanyak 25% atau 10 subjek mempunyai tingkat dukungan sosial rendah dan sebanyak 10% atau 4 subjek mempunyai tingkat dukungan sosial sangat rendah. Hal ini menunjukkan bahwa secara umum dukungan sosial yang diperoleh remaja di Panti Asuhan Al Bisri Semarang dalam kategori sedang. Apabila digambarkan dalam bentuk grafik akan diperoleh visualisasi sebagai berikut :
35 30 25 Persentase 20 15 10 5 0 SR R S Kategori T ST 2.5 % 10 % \ 25 % 30 % 32.5 %

Grafik 4.2 Tingkat Dukungan Sosial

86

Masing-masing aspek dukungan sosial bagi remaja di panti asuhan akan dijelaskan secara lebih rinci sebagai berikut :
1) Dukungan Emosional

Gambaran tentang dukungan emosional dapat dilihat pada tabel 4.11 berikut. Tabel 4.11 Distribusi Frekuensi Aspek Dukungan Emosional Interval 24,821735 < X 21,807245 < X ≤ 24,821735 18,792755 < X ≤ 21,807245 15,778265 < X ≤ 18,792755 X ≤ 15,778265 Total Sumber : Hasil Penelitian No 1 2 3 4 5 f 3 6 13 13 5 40 % 7,5 15 32,5 32,5 12,5 100 Kategori Sangat Tinggi Tinggi Sedang Rendah Sangat Rendah

Terlihat pada tabel di atas, bahwa dari 40 subjek yang diteliti, sebanyak 7,5% atau 3 subjek mempunyai tingkat dukungan emosional sangat tinggi. Sebanyak 15% atau 6 subjek mempunyai tingkat dukungan emosional tinggi. Sebanyak 32,5% atau 13 subjek mempunyai tingkat dukungan emosional sedang. Sebanyak 32,5% atau 13 subjek mempunyai tingkat dukungan emosional rendah dan sebanyak 12,5% atau 5 subjek mempunyai tingkat dukungan emosional sangat rendah. Hal ini menunjukkan bahwa secara umum dukungan emosional yang diperoleh remaja di Panti Asuhan Al Bisri Semarang dalam kategori sedang.

87

2) Dukungan Penghargaan

Gambaran tentang dukungan penghargaan dapat dilihat pada tabel 4.12 berikut. Tabel 4.12 Distribusi Frekuensi Aspek Dukungan Penghargaan Interval 47,884065 < X 42,511355 < X ≤ 47,884065 37,138645 < X ≤ 42,511355 31,765935 < X ≤ 37,138645 X ≤ 31,765935 Total Sumber : Hasil Penelitian No 1 2 3 4 5 f 1 12 14 10 3 40 % 2,5 30 35 25 7,5 100 Kategori Sangat Tinggi Tinggi Sedang Rendah Sangat Rendah

Terlihat pada tabel di atas, bahwa dari 40 subjek yang diteliti, sebanyak 2,5% atau 1 subjek mempunyai tingkat dukungan penghargaan sangat tinggi. Sebanyak 30% atau 12 subjek mempunyai tingkat dukungan penghargaan tinggi. Sebanyak 35% atau 14 subjek mempunyai tingkat dukungan penghargaan sedang. Sebanyak 25% atau 10 subjek mempunyai tingkat dukungan penghargaan rendah dan sebanyak 7,5% atau 3 subjek mempunyai tingkat dukungan penghargaan sangat rendah. Hal ini menunjukkan bahwa secara umum dukungan penghargaan yang diperoleh remaja di Panti Asuhan Al Bisri Semarang dalam kategori sedang.

sebanyak 32.5 7.5% atau 13 subjek mempunyai tingkat dukungan instrumental tinggi.13 berikut.5 100 Kategori Sangat Tinggi Tinggi Sedang Rendah Sangat Rendah Terlihat pada tabel di atas.5 37. bahwa dari 40 subjek yang diteliti.88 3) Dukungan Instrumental Gambaran tentang dukungan instrumental dapat dilihat pada tabel 4. .5 22. Hal ini menunjukkan bahwa secara umum dukungan instrumental yang diperoleh remaja di Panti Asuhan Al Bisri Semarang dalam kategori sedang.13 Distribusi Frekuensi Aspek Dukungan Instrumental Interval 29.5% atau 3 subjek mempunyai tingkat dukungan instrumental sangat rendah. 4) Dukungan Informasi Gambaran tentang dukungan informasi dapat dilihat pada tabel 4.14 berikut.210285 16.580855 < X 25.839715 < X ≤ 25.839715 X ≤ 16.5% atau 9 subjek mempunyai tingkat dukungan instrumental rendah dan sebanyak 7.469145 Total Sumber : Hasil Penelitian No 1 2 3 4 5 f 0 13 15 9 3 40 % 0 32.580855 20. Sebanyak 22. Sebanyak 37.5% atau 15 subjek mempunyai tingkat dukungan instrumental sedang.469145 < X ≤ 20. Tabel 4.210285 < X ≤ 29.

5% atau 1 subjek mempunyai tingkat dukungan informasi sangat tinggi.313145 26.336855 X ≤ 26.289435 < X 36. Sebanyak 47. Hal ini menunjukkan bahwa secara umum dukungan informasi yang diperoleh remaja di Panti Asuhan Al Bisri Semarang dalam kategori sedang. Uji Hipotesis Hipotesis yang diajukan dalam penelitian ini adalah hubungan positif antara dukungan sosial dengan penyesuaian diri remaja di Panti Asuhan Al Bisri Semarang.5 30 47. Sebanyak 5% atau 2 subjek mempunyai tingkat dukungan informasi rendah dan sebanyak 15% atau 6 subjek mempunyai tingkat dukungan informasi sangat rendah.360565 Total Sumber : Hasil Penelitian No 1 2 3 4 5 f 1 12 19 2 6 40 % 2. sebanyak 2.360565 < X ≤ 31.336855 < X ≤ 36.289435 31.5% atau 19 subjek mempunyai tingkat dukungan informasi sedang. c. bahwa dari 40 subjek yang diteliti.313145 < X ≤ 41. komputasi menggunakan bantuan komputer program statistical program for .89 Tabel 4.5 5 15 100 Kategori Sangat Tinggi Tinggi Sedang Rendah Sangat Rendah Terlihat pada tabel di atas. Sebanyak 30% atau 12 subjek mempunyai tingkat dukungan informasi tinggi. Korelasi pada penelitian ini dihitung dengan menggunakan korelasi product moment.14 Distribusi Frekuensi Aspek Dukungan Informasi Interval 41.

Semakin rendah dukungan sosial maka semakin rendah pula penyesuaian diri.0 Berdasarkan hasil analisis SPSS versi 10. sehingga dapat disimpulkan bahwa “ada hubungan positif antara dukungan sosial dengan penyesuaian diri remaja di Panti Asuhan Al Bisri Semarang. yang berarti pada taraf signifikansi 1% hipotesis yang menyatakan ada hubungan positif antara dukungan sosial dengan penyesuaian diri remaja di Panti Asuhan Al Bisri Semarang diterima. besarnya koefisien korelasi tersebut bertanda positif.000 40 1 . 40 Berdasarkan dari perhitungan koefisien korelasi tersebut.566(**) Sosial Sig. Tabel 4. Untuk lebih jelasnya dapat dilihat pada tabel berikut.17 Korelasi Antara Dukungan Sosial dengan Penyesuaian Diri Remaja Correlations Penyesuaian Diri Pearson Correlation 1 Sig. (2-tailed) .566. p < 0.” Semakin tinggi dukungan sosial maka semakin tinggi pula penyesuaian diri. .01 level (2tailed) Penyesuaian Diri Dukungan Sosial . demikian juga sebaliknya.566(**) .01. Untuk melihat berapa besar kontribusi dukungan sosial terhadap penyesuaian diri remaja dapat dilihat dari table nilai R-Square seperti tercantum pada tabel berikut. N 40 Dukungan Pearson Correlation .000 N 40 ** Correlation is significant at the 0.90 social sciences (SPSS) versi 10.0 diperoleh koefisien korelasi 0. (2-tailed) .

sikap. Error of the R Square Estimate Change 10.320 a Presictors: (Constant). . persepsi. selebihnya dipengaruhi oleh faktor–faktor lain di luar penelitian ini. 3. Pada remaja yang tinggal di panti asuhan.320 Change Statistics F df1 df2 Change 17. Tanpa adanya penyesuaian diri yang baik. intelegensi.91 Tabel 4. Penyesuaian diri merupakan suatu usaha yang dilakukan oleh individu untuk mempertemukan tuntutan diri sendiri dengan lingkungan. Dukungan Sosial Sig. remaja khususnya di panti asuhan tidak akan mampu menyelesaikan konflik-konflik yang dialaminya di panti asuhan tersebut.320 yang berarti penyesuaian diri remaja di Panti Asuhan Al Bisri Semarang dipengaruhi oleh dukungan sosial sebesar 32%. lingkungan panti asuhan merupakan lingkungan sosial yang utama dalam mengadakan penyesuaian diri. baik secara aktif maupun pasif yang melibatkan respon mental dan tingkah laku.908 1 38 Model R R Square Adjusted R Sguare 1 . kondisi lingkungan dan lain sebagainya. Pembahasan Bagi remaja yang tinggal di panti asuhan. kepribadian.96589 . sehingga tercapai hubungan yang harmonis antara diri dengan lingkungannya.000 Terlihat dari tabel di atas bahwa nilai R-Square sebesar 0.320 . F Change .566(a) .18 Kontribusi Dukungan Sosial Terhadap Penyesuaian Diri Remaja Model Summary Std. misalnya konsep diri. penyesuaian diri merupakan salah satu variabel penting yang membantu remaja menghadapi permasalahan dan berkembang secara optimal menuju kedewasaan.

92 Berdasarkan hasil penelitian diperoleh informasi bahwa penyesuaian diri remaja di Panti Asuhan Al Bisri Semarang tahun 2007 tergolong sedang yaitu sebanyak 35% atau 14 orang remaja dari 40 subjek yang diteliti. Hal tersebut menunjukkan bahwa remaja di panti asuhan lebih berusaha untuk mengembangkan penyesuaian pribadi dibanding penyesuaian sosial. Dalam penelitian ini aspek penyesuaian diri yang dominan pada remaja di panti asuhan adalah aspek penyesuaian pribadi (40% atau 16 orang remaja memiliki tingkat penyesuaian pribadi sedang). hanya ada sedikit remaja yang memiliki penyesuaian diri baik (hanya ada 30% remaja dengan penyesuaian diri tinggi dan sangat tinggi). 25% atau 10 orang remaja memiliki tingkat penyesuaian diri yang tinggi. Selebihnya 5% atau 2 orang remaja memiliki tingkat penyesuaian diri sangat tinggi. 30% atau 12 orang remaja memiliki tingkat penyesuaian diri yang rendah dan 5% atau 2 orang remaja memiliki tingkat penyesuaian diri yang sangat rendah. PENYESUAIAN DIRI REMAJA T 25 % ST 5% SR 5% R 30 % S 35 % Gambar 4. Hal ini mengindikasikan bahwa sebagian besar remaja di panti asuhan memiliki penyesuaian diri yang tergolong menengah ke bawah.1 Diagram Penyesuaian Diri Remaja .

93

Dalam mencapai penyesuaian diri secara maksimal, remaja di panti asuhan juga memerlukan dukungan sosial dari orang-orang terdekat di lingkungannya yaitu dari pengasuh dan teman-teman sesama penghuni panti asuhan. Hal ini sesuai dengan pendapat Winnubust dalam Smet (1994:133) yang mengatakan bahwa dukungan sosial tidak terlepas dari hubungan akrab, sehingga dari interaksi tersebut individu menjadi lebih tahu bahwa orang lain telah memperhatikan, mencintai dan menghargai dirinya. Dukungan sosial merupakan hubungan interpersonal yang di dalamnya berisi pemberian bantuan yang melibatkan aspek-aspek yang terdiri dari informasi, perhatian emosi, penilaian dan bantuan instrumental yang diperoleh individu melalui interaksi dengan lingkungan, dimana hal itu memiliki manfaat emosional atau efek perilaku bagi penerima, sehingga dapat membantu individu dalam mengatasi masalahnya. House dalam Smet (1994:136) menyatakan bahwa melalui dukungan emosional, dukungan penghargaan, dukungan instrumental serta dukungan informasi dapat bermanfaat bagi kesehatan dan kesejahteraan psikologis. Hasil analisis data menunjukkan bahwa dukungan sosial yang diperoleh remaja di Panti Asuhan Al Bisri Semarang tahun 2007 termasuk dalam kategori tinggi, terbukti dari 40 orang remaja yang diteliti sebanyak 32,5% atau 13 orang remaja dalam kategori tinggi. Selebihnya 2,5% atau 1 orang remaja memiliki tingkat dukungan sosial sangat tinggi, 30% atau 12 orang remaja memiliki tingkat dukungan sosial sedang, 25% atau 10 orang

94

remaja memiliki tingkat dukungan sosial rendah dan 10% atau 4 orang remaja memiliki tingkat dukungan sosial sangat rendah. Hasil analisis ini memberikan bukti empirik bahwa pengasuh dan teman-teman sesama penghuni panti asuhan telah memberikan dukungan sosial yang dirasakan secara memadai atau cukup kepada kebanyakan remaja di panti asuhan. Dalam penelitian ini, bentuk dukungan sosial yang memonjol pada remaja di panti asuhan adalah dukungan informasi, seperti pemberian nasehat, petunjuk dan saran dari pengasuh dan teman-teman sesama penghuni panti asuhan. Cohen dalam Shinta (1995:40) menyatakan bahwa pemberian dukungan informasi dapat membantu individu untuk merubah situasi dan merubah pemahaman dari situasi, sehingga mempengaruhi penilaian stresnya.

DUKUNGAN SOSIAL
T 32.5 % ST 2.5% SR 10 % R 25 %

S 30 %

Gambar 4.2 Diagram Dukungan Sosial

95

Masalah penyesuaian diri remaja bisa timbul bukan saja disebabkan oleh dukungan sosial kepada remaja, menurut Hariyadi, dkk (1995:110) banyak faktor yang bisa mempengaruhi antara lain : faktor internal seperti motif, konsep diri, sikap, intelegensi, minat, kepribadian dan faktor eksternal seperti kondisi sekolah, teman sebaya dan sebagainya. Jika hal-hal tersebut dibiarkan tanpa ada perhatian dapat meningkatkan masalah dalam penyesuaian diri remaja. Sumbangan efektif dukungan sosial sebesar 32% yang ditunjukkan oleh nilai R-Square sebesar 0,320, berarti masih terdapat 68% faktor lain yang mempengaruhi penyesuaian diri. Dukungan sosial merupakan faktor dominan yang mempengaruhi penyesuaian diri, walaupun demikian terdapat faktor-faktor lain yang perlu dipertimbangkan juga dalam upaya pengembangan penyesuaian diri remaja di panti asuhan. Berdasarkan hasil analisis data diperoleh nilai koefisien korelasi (rxy) sebesar 0,566 (sig = 0,000, p < 0,01). Hal ini berarti ada hubungan positif yang signifikan antara dukungan sosial dengan penyesuaian diri remaja di Panti Asuhan Al Bisri Semarang tahun 2007. Semakin tinggi dukungan sosial maka semakin tinggi pula penyesuaian dirinya, sebaliknya semakin rendah dukungan sosial maka semakin rendah pula penyesuaian dirinya. Dengan demikian hipotesis yang diajukan oleh peneliti diterima. Bagi remaja panti asuhan, lingkungan panti asuhan merupakan lingkungan sosial utama yang dikenalnya dan merupakan sumber

dan yang rendah sebanyak 2 orang remaja. Lebih lanjut berdasarkan hasil penelitian tampak bahwa nilai rerata atau mean dari dukungan sosial yang bersumber dari pengasuh (mean=3. Apabila remaja panti asuhan mendapat cukup banyak dukungan sosial dari lingkungannya baik dari pengasuh maupun teman-teman di panti asuhan dalam bentuk apapun akan membuatnya mampu mengembangkan kepribadian yang sehat dan memiliki pandangan positif. yaitu dukungan sosial tergolong tinggi dan penyesuaian diri tergolong sedang. . sehingga dirinya memiliki kemampuan untuk mengadakan penyesuaian diri secara harmonis. Hal ini menunjukkkan bahwa studi pendahuluan dari 5 orang remaja tersebut tidak sesuai dengan hasil penilitian secara umum. tingkat dukungan sosial yang sedang sebanyak 2 orang remaja. Dukungan sosial tersebut remaja dapatkan dari pengasuh dan teman-teman sesama penghuni panti asuhan.8984). baik terhadap diri sendiri maupun lingkungan. Studi pendahuluan menunjukkan bahwa dari 5 orang remaja panti asuhan memiliki tingkat dukungan sosial yang tinggi sebanyak 1 orang remaja. tingkat penyesuaian diri yang rendah sebanyak 3 orang remaja dan sangat rendah sebanyak 1 orang remaja. sehingga dukungan sosial yang dirasakan oleh remaja di Panti Asuhan Al Bisri Semarang lebih cenderung berasal dari pengasuhnya.96 dukungan sosial yang utama.1197) lebih besar dibandingkan dengan nilai rerata atau mean dukungan sosial yang bersumber dari teman (mean=2. sedangkan tingkat penyesuaian diri yang sedang sebanyak 1 orang remaja.

pencemas khususnya saat beradapan dengan orang lain yang masih baru. menarik diri. Penyesuaian diri yang dimiliki sebagian besar remaja secara umum tergolong sedang. Hasil ini menunjukkan bahwa penyesuaian diri yang dimiliki 5 orang remaja tersebut tergolong menengah ke bawah (70 % remaja dengan penyesuaian diri sedang. namun tetap saja mereka seringkali menunjukkan perilaku malu-malu. sehingga 5 orang remaja tersebut lebih berusaha untuk mengembangkan penyesuaian pribadi dibanding penyesuaian sosial. Hal ini menunjukkan bahwa 5 orang remaja tersebut kurang mengembangkan penyesuaian sosial. berbeda dengan apa yang dimiliki oleh 5 orang remaja tersebut yang tergolong rendah dan sangat rendah. Diungkap lebih lanjut berdasarkan wawancara yang dilakukan oleh peniliti bahwa remaja di panti asuhan yang sudah lama tinggal di panti biasanya memiliki relasi yang dekat dengan teman-teman di panti dan pengasuhnya. Terbukti dari hasil penelitian bahwa aspek penyesuaian diri yang lebih dominan pada remaja di panti asuhan adalah aspek penyesuaian pribadi (40 % atau 16 orang remaja memiliki tingkat penyesuaian pribadi sedang). . berbeda dengan apa yang dirasakan oleh 5 orang remaja tersebut yang tergolong sedang dan rendah. rendah dan sangat rendah). Hal ini menunjukkan bahwa dukungan sosial dari pengasuh dan teman-teman sesama penghuni panti asuhan dirasakan kurang memadai bagi 5 orang remaja tersebut.97 Dukungan sosial yang dirasakan sebagian besar remaja secara umum tergolong tinggi.

5% atau 13 orang remaja memiliki tingkat dukungan sosial yang tinggi. 25% atau 10 orang remaja memiliki tingkat penyesuaian diri yang tinggi. 30% atau 12 orang remaja memiliki tingkat dukungan sosial yang sedang. Kesimpulan Berdasarkan hasil analisis data dan pembahasan yang telah dilakukan dapat ditarik kesimpulan sebagai berikut : 1. 2. 98 . Rata-rata remaja di Panti Asuhan Al Bisri Semarang memiliki tingkat dukungan sosial yang tinggi yaitu sebanyak 32% atau 13 orang remaja. Selengkapnya dapat dilihat dari data sebagai berikut : 2.98 BAB V SIMPULAN DAN SARAN A. Rata-rata remaja di Panti Asuhan Al Bisri Semarang memiliki tingkat penyesuaian diri yang sedang yaitu sebanyak 35% atau 14 orang remaja. 32. 25% atau 10 orang remaja memiliki tingkat dukungan sosial yang rendah dan 10% atau 4 orang remaja memiliki tingkat dukungan sosial yang sangat rendah. 35% atau 14 orang remaja memiliki tingkat penyesuaian diri yang sedang. 30% atau 12 orang remaja memiliki tingkat penyesuaian diri yang rendah dan 5% atau 2 orang remaja memiliki tingkat penyesuaian diri yang sangat rendah.5% atau 1 orang remaja memiliki tingkat dukungan sosial yang sangat tinggi. Selengkapnya dapat dilihat dari data sebagai berikut : 5% atau 2 orang remaja memiliki tingkat penyesuaian diri yang sangat tinggi.

Ada hubungan positif yang signifikan antara dukungan sosial dengan penyesuaian diri remaja di Panti Asuhan Al Bisri Semarang tahun 2007 (indeks korelasi rxy = 0.99 3.566. Bagi Remaja di Panti Asuhan Remaja di Panti Asuhan Al Bisri Semarang rata-rata memiliki tingkat penyesuaian diri yang tergolong sedang. B. sebaliknya semakin rendah dukungan sosial maka semakin rendah pula penyesuaian dirinya.01). sehingga mudah menyesuaikan diri dimanapun berada dan mampu mengembangkan semua potensi pada diri secara . Artinya semakin tinggi dukungan sosial maka semakin tinggi pula penyesuaian dirinya. Remaja diharapkan dapat memahami arti penting dari penyesuaian diri dan dapat mengambil nilai-nilai yang positif. p < 0. Penelitian ini juga menghasilkan koefisien determinasinya (R Square) sebesar 0. agar memiliki penyesuaian diri yang baik hendaknya remaja lebih berupaya untuk mengembangkan penyesuaian diri yang baik dalam lingkungannya. bertanggungjawab dan bisa menempatkan diri sebagaimana mestinya. analisis data dan kesimpulan yang telah diambil. maka penulis mengajukan saran-saran sebagai berikut : 1.320 yang berarti bahwa 32% variabel dukungan sosial mempunyai sumbangan terhadap variabel penyesuaian diri dan sisanya sebesar 68% dipengaruhi oleh faktor lain. misalnya tidak menggantungkan diri pada orang lain. Saran Berdasarkan hasil penelitian.

hendaknya masalah dukungan sosial yang mempengaruhi penyesuaian diri remaja senantiasa diperhatikan oleh pihak panti asuhan. Hal ini dapat ditempuh dengan cara yaitu rasio jumlah antara pengasuh dan jumlah anak asuh hendaknya juga mendapatkan perhatian yang serius. maka hubungan individual secara pribadi dan hangat kurang memungkinkan untuk dijalin. sehingga anak asuh merasa mendapatkan pengganti keluarganya. ekonomi dan lain sebagainya yang kurang menguntungkan. Mengingat latar belakang remaja yang masuk ke panti asuhan adalah remaja dengan latar belakang keluarga. Bagi Pihak Panti Asuhan Remaja di Panti Asuhan Al Bisri Semarang rata-rata memiliki tingkat penyesuaian diri yang tergolong sedang. Panti asuhan sebaiknya menyediakan pengasuh yang dapat meluangkan waktu secara intensif dan memiliki selisih usia yang tidak terlalu jauh dengan remaja agar proporsional dalam mengasuh remaja tersebut. .100 optimal serta diterapkan dan diwujudkan melalui hubungan dalam kehidupan sehari-hari. mengingat ketidakseimbangan antara jumlah pengasuh dan anak asuh yang terlalu besar. sehingga sangat membantu pembentukan diri untuk menuju alam kedewasaan. 2. maka hendaknya panti asuhan sebagai keluarga dapat menciptakan situasi yang menyenangkan bagi anak asuhnya.

teman sebaya dan lain sebagainya.101 3. intelegensi. kondisi sekolah. . misalnya konsep diri. kepribadian. Bagi Peneliti Lain Peneliti yang tertarik melakukan penelitian lebih lanjut yang berkaitan dengan penyesuaian diri hendaknya menggunakan populasi yang lebih luas dan memperhatikan faktor-faktor lain yang mempengaruhi penyesuian diri. sikap.

1995. E. N.. Jakarta : Rineka Cipta Azwar. Jakarta : Erlangga Departemen Pendidikan Nasional. Halaman 214-227 Fahmi. Jakarta (tidak diterbitkan) Effendi dan Tjahjono. E. Halaman 109-118 Hurlock. S. J. Hubungan Antara Perilaku Coping dan Dukungan Sosial dengan Kecemasan pada Ibu Hamil Anak Pertama. Jakarta : Bulan Bintang 1982. 1999.R.H. Penyesuaian Diri. S. 2002.A. Deskripsi Kebutuhan Psikologi Pada Anak Panti Asuhan. 1996.F. Alih Bahasa : Daradjat. Prosedur Penelitian Suatu Pendekatan Praktek. J. S. New York : Mc Graw Hill Dagun. Nomor 2. Yogyakarta: Pustaka Pelajar Offset Calhoun. 2003. Psikologi Suatu Pengantar. Sekolah dan Masyarakat. Hendrarno. Jilid 1. Jakarta: Bulan Bintang Gerungan. Bandung : PT Eresco Gottlieb. Haryono. 1995. Psikologi Perkembangan..102 DAFTAR PUSTAKA Arikunto. S. Suparwoto. Perkembangan Peserta Didik. dan Acocella. 1991. Penyusunan Skala Psikologi. Baverly Hills: Sage Publications Hariyadi. 2001. Deliana. 2001. Psikologi Sosial.. Psikologi Tentang Penyesuaian dan Hubungan Kemanusiaan.M. Volume 14. M. 2002. Jilid 2. Insan Media Psikologi. Semarang : IKIP Semarang Press Hartini. Jakarta: Rineka Cipta Davidoff.M. 2004. Psikologi Keluarga. Departemen Sosial Republik Indonesia. W. Jakarta : Erlangga Press . Kamus Besar Bahasa Indonesia. 1983. S. 1997. Kesehatan Jiwa Dalam Keluarga. Jakarta : Balai Pustaka. Panduan Pelaksanaan Pembinaan Kesejahteraan Sosial Anak Melalui Panti Sosial Asuhan Anak. B. Z. 1977. Edisi ke-3. Social Support Strategies Guidelines For Mental Health Practice. Alih Bahasa : Mari Jumiati. Volume 3. Anima. Nomor 54.

B. 1998. 2002. Nomor 1. Live Span Development (Perkembangan Masa Hidup). Halaman 1-7 Smet.J. D.. Alih Bahasa : Chausairi. Dukungan Sosial Pada Lansia. USA : John Willey and sons Schneiders.103 Hutabarat. Perkembangan Peserta Didik. L. Jakarta : Erlangga Sarafino. Volume 9. A. A. Knoers. 2000. Perkembangan dan Kepribadian Anak..highbeam. Jakarta : Rineka Cipta . K. Volume 1. Z. 2002.S. Anima. 2007. 237-245 Pramudiani. 2004..J.S.com Oktavia. F. A. 2002. dan Basri. 43. Hygiene Mental. T. Kualitas Hidup Penderita Penyakit Jantung Pasca Serangan Jantung Ditinjau Dari Dukiungan Sosial dan Interval Waktu. Halaman 70-81 Kartono. E. Vol. 1989. 1995. Hal. Arkhe (Jurnal Ilmiah Psikologi). www. Hubungan Antara Dukungan Sosial Yang Diterima Secara Nyata Dengan Ada Atau Tidaknya Gangguan Depresi Pasca Persalinan pada Ibu Dewasa Muda. Self Adjustment. Bandung : Mandar Maju Kuntjoro. Jurnal Psikologi Indonesia. Hubungan Antara Kemampuan Penyesuaian Diri Terhadap Tuntutan Tugas dan Hasil Kerja. Jurnal Psikologi Sosial. Jakarta: Gramedia Mu’tadin. Halaman 15-22 Pramadi. Perilaku Coping dan Dukungan Sosial Pada Pemuda Penganggur Studi Deskriptif terhadap Pemuda Penganggur di Perkotaan. Kagan.C.com Monks. XI.com Shinta. Penyesuaian Diri Perempuan Pekerja Seks dalam Kehidupan Sehari-hari. 2002. D.. 1994.W. Haditono. Nomor 2. Huston. Nomor 1.e-psikologi.e-psikologi. 2001. halaman 118-122 Santrock. Z. Nomor 2.B. www.R. Psikologi Kesehatan. Psikodimensia (Kajian Ilmiah Psikologi). P. A. 1996. No. Health Psikologi : Biopsychosocial Interaction.M. www. Penyesuaian Diri Remaja. Conger. Edisi 5. Jakarta : PT Grasindo Sunarto dan Hartono. J. S. Volume 8. A. J. Yogyakarta: Gajah Mada University Press Mussen. 2002.H. J.P.. Alih Bahasa: Meitasari. 1994. Psikologi Perkembangan Pengantar Dalam Berbagai Bagiannya.

Psikologi Remaja.104 Sundari. Kesehatan Mental Dalam Kehidupan. Jakarta : Rineka Cipta . Jakarta : Rineka Cipta Wirawan. 2005. S. 2001.

105 .

106 INSTRUMEN SKALA PENELITIAN SKALA A DUKUNGAN SOSIAL SKALA B PENYESUAIAN DIRI .

sehingga tidak ada jawaban yang dianggap salah. kemudian buatlah tanda silang (X) pada jawaban yang baru. “SELAMAT MENGERJAKAN” .107 Nama Usia Jenis kelamin Pendidikan : : : L/P : SMP / SMU PETUNJUK PENGISIAN SKALA A DAN B 1. 6. Bila anda merasa tidak sesuai dengan pernyataan yang diajukan. Informasi yang anda berikan melalui pengisian skala ini tidak berdampak pada siapa-siapa. 5. Kemudian jawablah semua pernyataan sesuai dengan keadaan atau perasaan anda yang sesungguhnya. kami mengucapkan banyak terima kasih. SS S TS STS Saya suka warna kuning. SS Jawaban S TS STS Bila hendak mengganti jawaban. Dalam hal ini tidak ada penilaian benar atau salah. Semua jawaban adalah benar. Atas partisipasi dan kesediaan anda untuk mengisi skala ini. 3. Pilih salah satu dari 4 (empat) jawaban yang tersedia : SS S TS STS Bila anda merasa sangat sesuai dengan pernyataan yang diajukan. jangan ada satu pernyataan yang terlewatkan. Bila anda merasa sangat tidak sesuai dengan pernyataan yang diajukan. Contoh : No Pernyataan 1. 2. 4. Saya suka warna kuning. baik atau buruk. Berilah tanda silang (X) pada jawaban yang anda pilih. jika anda memberikan jawaban sesuai dengan keadaan atau perasaan Anda yang sebenarnya. berilah tanda sama dengan (=). Baca dan pahami baik-baik setiap pernyataan berikut. Bila anda merasa sesuai dengan pernyataan yang diajukan. Teliti kembali pekerjaan anda. Kami sangat menjaga kerahasiaan jawaban anda. Contoh : Jawaban No Pernyataan 1. 7.

SS JAWABAN S TS STS 2. Pengasuh selalu mendorong saya untuk giat belajar. Pengasuh membiarkan saya walaupun saya pulang terlambat dari sekolah. Pengasuh memberi nasehat agar saya menjadi orang yang berguna. 9. 8. PERNYATAAN Setiap ucapan dan sikap pengasuh menunjukkan kasih sayang. 12. 4. Pengasuh tidak mendukung terhadap tindakan-tindakan saya. Meskipun saya meminta. Jika saya menangis. Pengasuh membelikan buku-buku pelajaran yang saya perlukan. pengasuh selalu mengingatkan saya untuk minum obat. Pengasuh memberikan pujian atas prestasi yang telah saya raih. 11. 10. 7. Pengasuh selalu membedakan saya dengan teman yang lain. 3. Ketika saya sakit. 14. Saya jarang mendapat teguran dari pengasuh atas kesalahan yang saya perbuat. 6.108 SKALA A NO 1. 13. Pengasuh menyediakan ruang untuk belajar yang cukup nyaman. 5. Teman-teman di panti menolak ketika saya ingin meminjam uang untuk membeli buku. teman-teman di panti SS S TS STS mentertawakan saya. pengasuh jarang membelikan SS S TS STS SS S TS STS SS S TS STS SS S TS STS SS S TS STS SS S TS STS SS SS S S TS STS TS STS SS S TS STS SS S TS STS SS S TS STS SS S TS STS .

Pengasuh bersikap tertutup ketika saya meminta nasehat. 18. 23. Saya mendapat keterangan yang cukup tentang cara belajar yang baik dari pengasuh. 16. 19. SS S TS STS SS S TS STS SS S TS STS SS SS S S TS STS TS STS SS S TS STS SS S TS STS SS S TS STS SS S TS STS SS S TS STS SS S TS STS SS S TS STS SS S TS STS SS S TS STS SS S TS STS . Teman-teman di panti mau meminjamkan buku catatan saat saya tidak masuk sekolah. Pada saat saya lalai menjalankan ibadah agama teman di panti mengingatkan. Teman di panti keberatan saat saya meminjam alat tulisnya. 20. Teman di panti selalu menghibur apabila saya sedang sedih. Saat saya kecewa dengan nilai ulangan sekolah. 15. Pengasuh senang jika saya melakukan pekerjaan dengan baik. Saya jarang diberi kesempatan untuk menunjukkan kemampuan saya. Saya tidak mempunyai tempat untuk bertanya tentang cara menyelesaikan masalah. Teman-teman di panti tidak pernah mengucapkan selamat di hari ulang tahun saya. pengasuh justru memarahi saya. Teman-teman di panti selalu mencela kesalahan yang saya lakukan. 25. Teman di panti memberi nasehat bila saya melakukan kesalahan. Semua peralatan tersedia di panti asuhan. 21.109 perlengkapan sekolah. 26. 24. Pengasuh mengajarkan pada saya agar tidak mudah putus asa. 29. 28. 27. 22. 17.

Pengasuh kurang memahami atas kesulitan yang saya alami dalam pelajaran. SS S TS STS . Pengasuh jarang memberi jalan pemecahan bila terjadi permusuhan dengan teman di panti asuhan. SS S TS STS 31. Teman-teman di panti menganggap pendapat saya tidak penting. Pengasuh selalu mengajarkan pada saya mengenai sopan santun. Saya mendapat saran dari pengasuh di saat saya bimbang untuk menentukan suatu pilihan. Saya dan teman-teman di panti saling memberi semangat untuk mencapai masa depan yang lebih baik. tidak ada teman di panti yang memberikan saran. Teman-teman di panti kurang mendukung keputusan yang saya ambil. SS S TS STS 42. teman di panti meminjamkan buku pelajaran. SS S TS STS 39.110 30. SS S TS STS 36. Ketika mendapat nilai yang bagus. SS S TS STS 44. SS S TS STS 43. SS S TS STS 40. SS S TS STS 37. SS S TS STS 33. SS S TS STS 34. Jika saya kesulitan mengerjakan tugas. SS S TS STS 35. Pengasuh sering menanyakan perkembangan prestasi yang saya peroleh di sekolah. Teman-teman di panti turut prihatin bila saya sedang sakit. teman-teman di panti memberi selamat pada saya. Uang saku sekolah saya hanya cukup untuk biaya transportasi saja. Pengasuh menolak saat saya meminta sepatu baru untuk mengganti yang sudah rusak. SS S TS STS 41. SS S TS STS 32. Saat saya bimbang. Teman-teman di panti suka mengabaikan pendapat saya. SS S TS STS 38.

pengasuh mengantar saya untuk periksa ke dokter. 47. Teman-teman di panti meyakinkan saya agar saya selalu percaya diri. Pengasuh selalu mendukung saya untuk menjadi pribadi yang mandiri. 55. 59. Pengasuh tidak peduli ketika saya menghadapi masalah. Saat saya sakit. SS SS S S TS STS TS STS 60. SS S TS STS 54. SS SS S S TS STS TS STS 56. Pengasuh menganjurkan agar saya lebih bersabar dalam menghadapi masalah. Di panti asuhan tersedia sarana olah raga yang saya butuhkan. saya kurang ditanggapi oleh SS S TS STS 51. Pengasuh jarang membantu saya memahami hal-hal yang belum saya ketahui. SS S TS STS . Pengasuh jarang memberi uang untuk jajan. Teman di panti mencela bila saya melakukan kesalahan. Panti asuhan menyediakan buku-buku bacaan. Teman-teman di panti enggan berbagi pengetahuan dengan saya.111 45. SS S TS STS 50. SS S TS STS 49. Keluhan-keluhan pengasuh. 57. Teman-teman di panti mennyakan keadaan saya bila terlihat berbeda dari biasanya. SS SS S S TS STS TS STS 58. 46. Pengasuh tidak memberi saya obat ketika saya sakit. SS SS SS S S S TS STS TS STS TS STS 48. SS S TS STS 52. Kelemahan yang saya miliki sering menjadi bahan ejekan teman di panti. SS S TS STS 53. Pengasuh menjelaskan tentang alasan pentingnya saya mengikuti kegiatan keagamaan.

Saya dilahirkan sebagai anak yang kurang beruntung. 6. 16. Saya selalu melakukan sesuatu sesuai dengan SS S TS STS kemampuan yang saya miliki. 12. 8. 7. Saya tidak berani berpendapat di depan umum. saya selalu menyapa terlebih dulu.112 SKALA B NO 1. PERNYATAAN Saya menyukai diri saya sendiri seperti apa adanya. Saya merasa malu karena tinggal di panti asuhan. 11. 9. Saya merasa sedikit sekali teman di panti yang mau membantu saya. 13. Saya turut berbahagia bila ada teman di panti yang berprestasi. Setiap ada kegiatan di panti asuhan. akan saya hadapi apa adanya. Saya sulit menentukan apa yang baik bagi diri saya. Saya jalankan semua peraturan panti asuhan sekalipun SS SS S S TS STS TS STS SS S TS STS SS S TS STS SS S TS STS SS S TS STS SS S TS STS SS S TS STS SS SS S S TS STS TS STS . SS SS SS JAWABAN S S S TS STS TS STS TS STS 4. Saya memilih untuk pergi pada saat pengasuh membutuhkan bantuan saya. Saya sering mencela hasil karya teman di panti yang kurang bagus. 2. 14. Saya seringkali kurang bisa berhati-hati dalam SS SS SS S S S TS STS TS STS TS STS bertindak. 5. Saya menghargai pendapat teman di panti meski tidak sesuai dengan pendapat saya. 3. saya turut berpartisipasi walaupun tidak disuruh. Jika saya sedih saya tidak akan murung. Bagaimana pahitnya kehidupan. 10. Apabila bertemu pengasuh. 17. 15.

25. 21. SS S TS STS SS S TS STS SS S TS STS SS S TS STS . Saya membiarkan teman di panti yang sedang mengalami kesulitan karena saya mengalami hal yang sama. Saya tetap bergaul dengan teman-teman di panti yang memiliki banyak kekurangan. 23. 32. saya berusaha untuk menyelesaikannya. Kekurangan yang ada dalam diri saya sangat SS SS S S TS STS TS STS SS S TS STS menghambat cita-cita saya. Saya kecewa bila teman-teman di panti tidak bersedia membantu saya. 22. Saya tidak tahu apa yang harus saya lakukan setelah keluar dari panti asuhan. Apabila teman di panti sedang sedih. Saya merasa bahwa pengasuh memberi pertolongan karena kasihan. Bila pengasuh memarahi saya. Saya dapat mengungkapkan kemarahan secara wajar. 20. Saya merasa keberatan untuk menerima keputusan yang berbeda dengan pendapat saya. 19. 30. 26. Saya memiliki bakat yang bisa saya kembangkan. Saya ikut menyumbangkan pikiran dalam suatu diskusi. 33. Saya menolak hukuman yang diberikan pengasuh atas kesalahan yang saya perbuat. Meskipun mendapat tugas yang sulit. saya dapat menerima sebagai wujud kasih sayang pengasuh. 27. 31.113 itu berat. saya SS SS S S TS STS TS STS SS S TS STS SS S TS STS SS S TS STS SS SS S S TS STS TS STS SS S TS STS SS S TS STS menghiburnya. 24. 18. Bila saya berbuat salah. 28. 29. Teman-teman di panti suka menceritakan masalahnya kepada saya. saya enggan untuk minta maaf.

SS SS S S TS STS TS STS 40. SS S TS STS 46. Saya merasa frustrasi bila menghadapi tugas yang sulit. SS SS S S TS STS TS STS 37. SS S TS STS 45. Bila ada teman di panti yang mengejek. Saya lebih suka sendirian daripada bermain dengan teman-teman. Saya selalu memaksakan diri untuk meraih sesuatu yang tidak mungkin saya capai. SS S TS STS 43. SS S TS STS 38. Saya merasa sesuatu yang saya kerjakan seringkali gagal. Saya bosan menjalankan aktivitas yang ada di panti asuhan. Bila mengalami kegagalan. Menurut saya. Saya bisa menerima kekurangan yang ada dalam diri saya. 49. SS S TS STS 44.114 34. saya berusaha diam dan tidak membalasnya. Saya langsung marah bila ada teman di panti yang mengejek saya. SS S TS STS 35. SS S TS STS 42. 36. saya memperbaikinya kembali. Ketika menghadapi masalah. SS SS S S TS STS TS STS . 39. SS S TS STS 41. Saya sering berkhayal ingin dilahirkan kembali sebagai anak orang kaya. SS S TS STS 48. Kegagalan merupakan pelajaran berharga bagi saya untuk menjadi lebih baik. semua komentar teman di panti mengenai saya adalah bertujuan membuat saya lebih baik. Saya akan memperbaiki kesalahan yang telah saya perbuat. saya selalu bersikap tenang. Saya merasa bahwa saya orang yang kurang berharga. SS S TS STS 47. Saya minta ijin dahulu jika ingin meminjam sesuatu.

Saya tetap berusaha mendengarkan pembicaraan teman di panti meski membosankan. SS S TS STS 57. SS S TS STS 58. SS S TS STS 56. SS SS S S TS STS TS STS 52. Saya tidak yakin dengan kemampuan yang saya miliki. SS SS S S TS STS TS STS . Saya tidak mentertawakan teman di panti yang sedang menangis. Di panti asuhan. Saya hanya senang bermain dengan teman di panti yang lebih pandai. Peraturan yang ada di panti asuhan membebani aktivitas sehari-hari. Saya lebih senang menghabiskan waktu luang bersama teman-teman di panti. 51.115 50. Saya tidak memberi ucapan selamat bila ada teman di panti yang menjadi juara. SS S TS STS 53. saya hanya bermain dengan teman dekat saja. Saya aktif mengikuti kegiatan keagamaan di panti asuhan. 60. Saya senantiasa melaksanakan piket harian. SS S TS STS 54. SS S TS STS 59. Saya mencari-cari alasan jika ada kerja bakti karena menurut saya hal itu membosankan. SS S TS STS 55.

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful