You are on page 1of 16

PRESENTASI KASUS

KONJUNGTIVITIS

Disusun Untuk Memenuhi Sebagian Syarat Mengikuti Ujian


Program Pendidikan Profesi Kedokteran Bagian Mata
Universitas Muhammadiyah Yogyakarta

Disusun oleh :
Ezra Senna P
2012031 0193

Diajukan Kepada :
dr. M. Faisal Lutfi, Sp.M

BAGIAN ILMU MATA


RSUD KRT SETJONEGORO WONOSOBO
FAKULTAS KEDOKTERAN DAN ILMU KESEHATAN
UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH YOGYAKARTA
2018

i
LEMBAR PENGESAHAN

Konjungtivitis

Telah dipresentasikan:

Oleh : Ezra Senna P


20120310193

Disetujui oleh,
Dosen Pembimbing Kepaniteraan Klinik
Bagian Ilmu Mata
RSUD KRT Setjonegoro Wonosobo

(dr. M. Faisal Lutfi, Sp.M)

ii
KATA PENGANTAR

Assalamualaikum Wr. Wb.


Alhamdulillahirrabbil’alamin, segala puji syukur kehadirat Allah SWT atas
rahmat dan karuniaya-Nya penulis dapat menyelesaikan Presentasi Kasus yang
berjudul, “Konjungtivitis” dalam rangka melengkapi persyaratan mengikuti ujian
akhir program pendidikan profesi kedokteran di bagian Ilmu Mata RSUD KRT
Setjonegoro Wonosobo.
Penulis Presentasi Kasus ini dapat terwujud atas bantuan berbagai pihak, maka
penulis mengucapkan terimakasih yang sebesar-besarnya kepada :
1. dr. M. Faisal Lutfi, Sp. M selaku dosen pembimbing dan penguji
2. Seluruh perawat poli mata
3. Teman-teman dokter muda
Penulis menyadari bahwa laporan kasus ini masih banyak kekurangan, kritik dan
saran yang sifatnya membangun sangat penulis harapkan, guna perbaikan laporan
kasus ini di kemudian hari.
Harapan penulis semoga laporan kasus ini dapat bermanfaat dan menambah
pengetahuan serta dapat menjadi arahan dalam mengimplementasikan ilmu mata di
klinik dan masyarakat.

Wonosobo, Januari 2018

Penulis

iii
DAFTAR ISI
DAFTAR ISI

LEMBAR PENGESAHAN ....................................................................... ii


KATA PENGANTAR .............................................................................. iii
DAFTAR ISI.............................................................................................iv
BAB I ........................................................................................................ 5
STATUS PASIEN ..................................................................................... 5
A. Identitas Pasien ................................................................................................... 5
B. Anamnesis........................................................................................................... 5
C. Pemeriksaan Fisik ............................................................................................... 6
D. Diagnosis Kerja................................................................................................... 6
E. Penatalaksanaan ................................................................................................. 6

BAB II ...................................................................................................... 7
TINJAUAN PUSTAKA ............................................................................ 7
Konjungtivitis ............................................................................................................. 7
A. Anatomi Dan Fisiologi Mata ............................................................................... 7
B. Definisi ................................................................................................................ 9
C. Klasifikasi .......................................................................................................... 9
D. Manifestasi Klinis ............................................................................................. 10

BAB III ................................................................................................... 14


PEMBAHASAN ..................................................................................... 14
BAB IV ................................................................................................... 15
KESIMPULAN ....................................................................................... 15
DAFTAR PUSTAKA .............................................................................. 16

iv
BAB I
STATUS PASIEN

A. Identitas Pasien
Nama : Sdri. W
Usia : 16 tahun
Alamat : Batursari Kledung
Pekerjaan : Pelajar
Tanggal Masuk Poli : 15 Januari 2018

B. Anamnesis
Keluhan Utama :
Bengkak di kelopak bawah pada mata kanan dan kiri.
Riwayat Penyakit Sekarang :
Pasien datang ke poli mata RSUD KRT SETJONEGORO dengan keluhan bengkak
pada kelopak bawah mata kanan dan kiri. Keluhan sudah dirasakan sejak kurang lebih
3 bulan terakhir. Pasien juga mengeluh mata berair, sering muncul kotoran, pegal,
pusing, serta gatal pada kedua mata. Pasien sudah pernah berobat ke puskesmas, tetapi
keluhan belum membaik.
Riwayat Penyakit Dahulu :
Pasien belum pernah memiliki keluhan serupa sebelumnya.
Riwayat Penyakit Keluarga :
Tidak ada anggota yang memiliki keluhan serupa.

Resume Anamnesis :
Seorang perempuan berusia 16 tahun datang ke poli mata dengan keluhan bengkak
pada kelopak bawah mata kanan dan kiri. Keluhan dirasakan kurang lebih sejak 3
bulan yang lalu. Pasien sudah pernah berobat ke puskesmas, tetapi keluhan belum
membaik.

5
C. Pemeriksaan Fisik
Kesadaran : Compos Mentis.
Pemeriksaan Subyektif :
Pemeriksaan OD OS
Visus 5/5 5/5
Pemeriksaan Obyektif :
Pemeriksaan OD OS

Sekitar Mata
Simetris,distribusi merata Simetris,distribusi merata
Supercilia dan cilia
Palpebra Normal Normal
Gerakan Edema (+) Edema (+)
Margo sup dan inf Nyeri (-) Nyeri (-)
Gerakan Bola Mata N N
Konjungtiva
K palpebra sup et inf Hiperemi (+) Hiperemi (+)
K bulbi Hiperemi (+) Hiperemi (+)
Sklera
Warna Putih Putih
Kornea
Kejernihan Jernih Jernih

D. Diagnosis Kerja
ODS : Konjungtivitis
OD : Konjungtivitis

E. Penatalaksanaan
 Tab Cefadroxil 3 x 500mg
 Tab Metilprednisolon 3 x 8mg
 Tobramycin 0,3% setiap 4 jam
 Dexametason 0,1% setiap 4 jam
 Naphazoline 0,1% setiap 4 jam

6
BAB II
TINJAUAN PUSTAKA

Konjungtivitis
A. Anatomi Dan Fisiologi Mata
Konjungtiva merupakan lapisan terluar dari mata yang terdiri dari membran
mukosa tipis yang melapisi kelopak mata, kemudian melengkung melapisi
permukaan bola mata dan berakhir pada daerah transparan pada mata yaitu kornea.
Secara anatomi, konjungtiva dibagi atas 2 bagian yaitu konjungtiva palpebra
dan konjungtiva bulbaris. Namun, secara letak areanya, konjungtiva ibagi menjadi 6
area yaitu area marginal, tarsal, orbital, forniks, bulbar dan limbal. Konjungtiva
bersambungan dengan kulit pada tepi kelopak (persambungan mukokutan) dan
dengan epitel kornea pada limbus.Pada konjungtiva palpebra, terdapat dua lapisan
epithelium dan menebal secara bertahap dari forniks ke limbus dengan membentuk
epithelium berlapis tanpa keratinisasi pada daerah marginal kornea. Konjungtiva
palpebralis terdiri dari epitel berlapis tanpa keratinisasi yang lebih tipis. Dibawah
epitel tersebut terdapat lapisan adenoid yang terdiri dari jaringan ikat longgar yang
terdiri dari leukosit. Konjungtiva palpebralis melekat kuat pada tarsus, sedangkan
bagian bulbar bergerak secara bebas pada sklera kecuali yang dekat pada daerah
kornea.3
Berikut adalah gambaran anatomi dari konjungtiva 5,6
.
Gambar 2.5. Anatomi Konjungtiva

7
Aliran darah konjungtiva berasal dari arteri siliaris anterior dan arteri
palpebralis. Kedua arteri ini beranastomosis bebas dan – bersama dengan banyak
vena konjungtiva yang umumnya mengikut i pola arterinya – membentuk
jaringjaring vaskuler konjungtiva yang banyak sekali. Pembuluh limfe konjungtiva
tersusun dalam lapisan superfisial dan lapisan profundus dan bersambung dengan
pembuluh limfe palpebra hingga membentuk pleksus limfatikus yang banyak. 1
Konjungtiva menerima persarafan dari percabangan pertama (oftalmik) nervus
trigeminus. Saraf ini hanya relatif sedikit mempunyai serat nyeri. 1,3
Fungsi dari konjungtiva adalah memproduksi air mata, menyediakan
kebutuhan oksigen ke kornea ketika mata sedang terbuka dan melindungi mata,
dengan mekanisme pertahanan nonspesifik yang berupa barier epitel, akt ivitas
lakrimasi, dan menyuplai darah. Selain itu, terdapat pertahanan spesifik berupa
ekanisme imunologis seperti sel mast, leukosit, adanya jaringan limfoid pada
mukosa tersebut dan antibodi dalam bentuk IgA 1,2
Pada konjungtiva terdapat beberapa jenis kelenjar yang dibagi menjadi dua
grup besar yaitu 3,4
1. Penghasil musin
a. Sel goblet; terletak dibawah epitel dan paling banyak ditemukan pada
daerah inferonasal.
b. Crypts of Henle; terletak sepanjang sepertiga atas dari konjungtiva tarsalis
superior dan sepanjang sepertiga bawah dari konjungtiva tarsalis inferior.
c. Kelenjar Manz; mengelilingi daerah limbus.

2. Kelenjar asesoris lakrimalis. Kelenjar asesoris ini termasuk kelenjar Krause


dan kelenjar Wolfring. Kedua kelenjar ini terletak dalam dibawah substansi propria.
Pada sakus konjungtiva tidak pernah bebas dari mikroorganisme namun
karena suhunya yang cukup rendah, evaporasi dari cairan lakrimal dan suplai darah
yang rendah menyebabkan bakteri kurang mampu berkembang biak. Selain itu, air
mata bukan merupakan medium yang baik. 1

8
B. Definisi

Konjungtivitis adalah peradangan konjungtiva yang ditandai oleh dilatasi


vaskular, infiltrasi selular dan eksudasi, atau Radang pada selaput lendir yang
menutupi belakang kelopak dan bola mata.1, 3

Konjungtivitis di bedakan menjadi akut dan kronis yang disebabkan oleh


mikro-organisme (virus, bakteri, jamur, chlamidia), alergi, iritasi bahan-bahan kimia.2

C. Klasifikasi 1,2
1. Konjungtivitis Bakteri
Terutama disebabkan oleh Staphylococcus aureus, Streptococcus pneumoniae,
Haemophilus influenzae, dan Moraxella catarrhalis. Konjungtivitis bakteri sangat
menular, menyebar melalui kontak langsung dengan pasien dan sekresinya atau
dengan objek yang terkontaminasi.
2. Konjungtivitis Viral
Jenis konjungtivitis ini adalah akibat infeksi human adenovirus ( yang
paling sering adalah keratokonjungtivitis epidermika ) atau dari penyakit virus
sistemik seperti mumps dan mononukleosis. Biasanya disertai dengan
pembentukan folikel sehingga disebut juga konjungtivitis folikularis. Mata yang
lain biasanya tertular dalam 24-48 jam.

9
3. Konjungtivitis Alergi
Konjungtivitis alergi biasanya timbul pada musim semi dan panas, dan
disebabkan oleh pajanan dengan alergen misalnya polen (serbuk sari). Pasien akan
mengeluh rasa tidak enak dan iritasi yang berlebihan. Terbentuk papilla yang dapat
dikonjungtiva, dan kornea bias terlibat. Konjungtivitis alergi dapat terjadi bersama
dengan reaksi alergi yang lain. Misalnya astma dan “hay fever”.
4. Konjungtivitis Gonore
Konjungtivitis hiper akut dengan sekret purulen yang disebabkan oleh
Neisseria gonorrhea. Sedangkan infeksi gonokokus pada mata pada neonatus (bayi
baru lahir) disebabkan oleh infeksi tidak langsung selama keluar melewati jalan
lahir pada ibu yang menderita gonore, konjungtivitis yang berat disebut oftalmia
neonatorum.
5. Trachoma
Trachoma merupakan konjungtivitis folikular kronik yang disebabkan
Chlamydia trachomatis. Masa inkubasi dari trachoma adalah 7 hari ( 5 – 14 hari ).
Trachoma dapat mengenai segala umur terutama dewasa muda dan anak-anak,
yang akut atau sub akut. Cara penularannya melalui kontak langsung dengan sekret
atau alat-alat pribadi.

D. Manifestasi Klinis

Tanda-tanda konjungtivitis, yakni:1,3

 Konjungtiva berwarna merah (hiperemi) dan membengkak.


 produksi air mata berlebihan (epifora).
 kelopak mata bagian atas nampak menggelantung (pseudoptosis) seolah akan
menutup akibat pembengkakan konjungtiva dan peradangan sel-sel konjungtiva
bagian atas.
 pembesaran pembuluh darah di konjungtiva dan sekitarnya sebagai reaksi
nonspesifik peradangan.
 pembengkakan kelenjar (folikel) di konjungtiva dan sekitarnya.
 terbentuknya membran oleh proses koagulasi fibrin (komponen protein).
 dijumpai sekret dengan berbagai bentuk (kental hingga bernanah).

10
E. Manifestasi Klinis

Konjungtiva yang mengalami iritasi akan tampak merah dan mengeluarkan


kotoran. Konjungtivitis karena bakteri mengeluarkan kotoran yang kental dan
berwarna putih. Konjungtivitis karena virus atau alergi mengeluarkan kotoran yang
jernih. Kelopak mata bisa membengkak dan sangat gatal, terutama pada konjungtivitis
karena alergi. Gejala lainnya adalah:3,4

 mata berair
 mata terasa nyeri
 mata terasa gatal
 pandangan kabur
 peka terhadap cahaya
 terbentuk keropeng pada kelopak mata ketika bangun pada pagi hari.

F. Patofisiologi
Mikroorganisme (virus, bakteri, jamur), bahan alergen, iritasi menyebabkan
kelopak mata terinfeksi sehingga kelopak mata tidak dapat menutup dan membuka
sempurna, karena mata menjadi kering sehingga terjadi iritasi menyebabkan
konjungtivitis. Pelebaran pembuluh darah disebabkan karena adanya peradangan
ditandai dengan konjungtiva dan sclera yang merah, edema, rasa nyeri, dan adanya
secret mukopurulent.Akibat jangka panjang dari konjungtivitis yang dapat bersifat
kronis yaitu mikroorganisme, bahan allergen, dan iritatif menginfeksi kelenjar air
mata sehingga fungsi sekresi juga terganggu menyebabkan hipersekresi. Pada
konjungtivitis ditemukan lakrimasi, apabila pengeluaran cairan berlebihan akan
meningkatkan tekanan intra okuler yang lama kelamaan menyebabkan saluran air
mata atau kanal schlemm tersumbat. Aliran air mata yang terganggu akan
menyebabkan iskemia syaraf optik dan terjadi ulkus kornea yang dapat menyebabkan
kebutaan. Kelainan lapang pandang yang disebabkan kurangnya aliran air mata
sehingga pandangan menjadi kabur dan rasa pusing.1,2,3

11
G. Pathway

Mikroorganisme(bakteri,
virus,jamur)

Masuk kedalam mata

Kelopak mata terinfeksi

Tdk bisa menutup dan


membuka dgn smprna

Mata kering (iritasi)

Konjungtivitis Mikroorganisme,
allergen, iritatif
peradangan
lakrimas
i
Keljr air mata terinfeksi
Dilatasi pembuluh
darah Pengeluaran
cairan meningkat
Fungsi sekresi terganggu
nyeri Sclera merah edem
a
hipersekresi

Granulasi disertai TIO meningkat


sensai benda asing
Resiko infeksi
Kanal schlemm trsmbt
Gangguan rasa
nyaman
Iskemia syaraf optik

Ulkus kornea Gangguan persepsi


sensori

12
H. Penatalaksanaan

Bila konjungtivitis disebabkan oleh mikroorganisme, pasien harus diajari


bagaimana cara menghindari kontraminasi mata yang sehat atau mata orang lain.
Perawat dapat memberikan intruksi pada pasien untuk tidak menggosok mata yang
sakit dan kemudian menyentuh mata yang sehat, mencuci tangan setelah setiap kali
memegang mata yang sakit, dan menggunakan kain lap, handuk, dan sapu tangan baru
yang terpisah untuk membersihkan mata yang sakit. Asuhan khusus harus dilakukan
oleh personal asuhan kesehatan guna mengindari penyebaran konjungtivitis antar
pasien.1

Pengobatan spesifik tergantung dari identifikasi penyebab. Konjungtivitis


karena bakteri dapat diobati dengan sulfonamide (sulfacetamide 15 %) atau
antibiotika (Gentamycine 0,3 %; chlorampenicol 0,5 %). Konjungtivitis karena jamur
sangat jarang sedangkan konjungtivitis karena virus pengobatan terutama ditujukan
untuk mencegah terjadinya infeksi sekunder, konjungtivitis karena alergi di obati
dengan antihistamin (antazidine 0,5 %, rapazoline 0,05 %) atau kortikosteroid
(misalnya dexametazone 0,1 %). Penanganannya dimulai dengan edukasi pasien
untuk memperbaiki higiene kelopak mata. Pembersihan kelopak 2 sampai 3 kali
sehari dengan artifisial tears dan salep dapat menyegarkan dan mengurangi gejala
pada kasus ringan.2,4

Pada kasus yang lebih berat dibutuhkan steroid topikal atau kombinasi
antibiotik-steroid. Sikloplegik hanya dibutuhkan apabila dicurigai adanya iritis. Pada
banyak kasus Prednisolon asetat (Pred forte), satu tetes, QID cukup efektif, tanpa
adanya kontraindikasi.2

Apabila etiologinya dicurigai reaksi Staphylococcus atau acne rosasea,


diberikan Tetracycline oral 250 mg atau erythromycin 250 mg QID PO, bersama
dengan pemberian salep antibiotik topikal seperti bacitracin atau erythromycin
sebelum tidur. Metronidazole topikal (Metrogel) diberikan pada kulit TID juga
efektif. Karena tetracycline dapat merusak gigi pada anak-anak, sehingga
kontraindikasi untuk usia di bawah 10 tahun. Pada kasus ini, diganti dengan
doxycycline 100 mg TID atau erythromycin 250 mg QID PO. Terapi dilanjutkan 2
sampai 4 minggu. Pada kasus yang dicurigai, pemeriksaan X-ray dada untuk
menyingkirkan tuberkulosis.2,3

13
BAB III
PEMBAHASAN

Diagnosis konjungtivitis ditegakkan berdasarkan anamnesis dan pemeriksaan


fisik yang dilakukan. Pada kasus ini pasien diagnosis konjungtivitis berdasarkan:

1. Anamnesis didapatkan :
a. Keluhan bengkak pada kelopak bawah mata kanan dan kiri.
b. Disertai keluhan mata berair, sering muncul kotoran, pegal, pusing, serta gatal
pada kedua mata.
2. Pemeriksaan Fisik didapatkan :
a. Visus yaitu VOD : 5/5, VOS 5/5
b. Hiperemis pada konjungtiva serta edema pada palpebra.

Kemudian pasien diberikan obat antibiotik golongan sefalosporin cefadroxil


yang berfungsi untuk menghentikan pertumbuhan bakteri. Diberikan obat
kortikosteroid yaitu methylprednisolone untuk mengurangi gejala peradangan. Pasien
juga diberikan obat tetes mata tobramycin 0,3%, dexamethasone 0,1%, dan
naphazoline 0,1% yang diteteskan setiap 4 jam.

14
BAB IV
KESIMPULAN

Dari kasus ini dapat disimpulkan bahwa pasien ini didiagnosis konjungtivitis,
yang penegakkan diagnosisnya dari anamnesis didapatkan bahwa pasien
mengeluhkan bengkak mata kelopak mata kanan dan kiri, disertai rasa gatal, pegal,
pusing, mata berair, dan mengeluarkan kotoran. Dari pemeriksaaan fisik didapatkan
visus 5/5, hiperemis pada konjungtiva dan edema pada palpebra. Kemudian pasien
diberikan obat cefafroxil dan methylprednisolone serta obat tetes mata tobramycin
0,3%, dexamethasone 0,1%, dan naphazoline 0,1% yang diteteskan setiap 4 jam.

15
DAFTAR PUSTAKA

1. Ilyas DSM, Sidarta,. Ilmu Penyakit Mata. Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia.
Jakarta. 1998

2. Ilyas, H. Sidarta Prof. dr. SpM. Ilmu Penyakit Mata. Jakarta: FKUI; 2003, hal 2, 134.
3. James, Brus, dkk. Lecture Notes Oftalmologi. Erlangga. Jakarta. 2005
4. PERDAMI,. Ilmu Penyakit Mata Untuk dokter umum dan mahasiswa kedokteran.
Jakarta. 2002

16